Baca PDF (OCR): Bajinja Kulit Hitam

10 halaman · 10 halaman diproses dengan OCR· 12492 ms

Daftar isi
  1. MOCHTAR LUBIS
  2. Bajinja Kulit Hitam

MOCHTAR LUBIS

Bajinja Kulit Hitam

Kacabenggala Editions

Publisher Note
Cerpen ini dimuat dalam majalah Indonesia, edisi No. 1
Th. XI yang terbit tahun 1960.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
TJOBALAH dengar tjeritaku ini. Ketika aku berusia antara
13 dan 15 tahun aku dan ajah serta ibu dan saudara²ku ting-
gal disebuah kota ketjil di Atjeh. Kotanja terletak dipedala-
man. Karena rakjat Atjeh itu terkenal radjin menikam kulit
putih, maka ditempat ketjil itupun ada satu pasukan ser-
dadu kompeni. Komandannja seorang kapten tua, akan
tetapi wakilnja seorang letnan muda. Namanja Wolf.
Selama Letnan Wolf ini belum datang, hubungan antara
marsose kompeni itu dengan rakjat kita tidaklah begitu
tegang. Memang mereka tidak disukai oleh rakjat, akan
tetapi kedua pihak mengambil sikap—kamu tidak ganggu
kami, kami tidak ganggu kamu.
Akan tetapi setelah Letnan Wolf datang, maka suasana
segera berobah. Pertama sekali Letnan Wolf datang
membawa isterinja jang muda. Dan isterinja sebagai
biasanja perempuan kulit putih kurang memperhatikan
adat-istiadat penduduk. Suka berdjalan kemana-mana
dengan pakaian jang tidak sesuai dengan perasaan² rakjat.
Ditambah lagi dia seorang periang hati, dan seenaknja
sadja keluar masuk kampung. Akan tetapi setelah dia
terbentur pada sikap rakjat jang dingin, maka achirnja dia
djuga terbatas didalam tangsi belaka.
Letnan Wolf tjepat membikin dirinja tidak disukai orang
kampung. Malahan kemudian segera dia djadi kebentjian
orang banjak. Dan banjaklah rentjong jang diasah-asah
oleh orang² jang memutuskan hendak berdjihad mem-
bunuhnja. Letnan Wolf itu rambutnja pirang, badannja
tinggi besar. Dia muda pula. Alangkah sombongnja dia.
Marsose² semuapun tak ada jang suka padanja. Di-
belakangnja marsose² selalu mengutuknja, dan ingin
melihat ada rentjong jang masuk kedalam rusuknja. Tetapi
mereka serdadu² dan karena itu tidak boleh melawan
atasan.
Marsose² itu sering bertjerita antara mereka, betapa Let-
nan Wolf ini seorang jang amat sombong sekali. Djika
dia memarahi serdadu2nja, maka selalu keluar sumpahnja
matjam² seperti babi, andjing, hotverdome, dan disamping
maki-makian jang lain, tidaklah lupa tiap kali dia memaki
djuga menjerukan kutukan: kowe kulit hitam!
Kelakuannja ini tersiar djuga keseluruh kampung hingga
seluruh rakjat jang ikut berkulit hitam seperti marsose²
itu ikut pula merasa terhina oleh Letnan Wolf. Kamipun
kanak-kanak ikut merasa kesal dan djengkel. Seorang
kawan sampai menamakan andjingnja „wolf”, dan kami
suka sekali berlari-lari dengan andjingnja didepan tangsi,
dan ber-teriak² memanggil si andjing: wolf, wolf, wolf!
Apa jang terdjadi didalam tangsi antara Letnan Wolf den-
gan serdadu-serdadunja tidaklah djelas benar keluar. Akan
tetapi ditjeriterakan timbul perkelahian antara seorang ser-
san lawan Letnan Wolf, dan sersan itu dipukul djatuh oleh
Letnan Wolf, dimasukkan kedalam sel, dan entah apa lagi.
Tiada berapa lama kemudian dua orang marsose datang
kerumah Pak Karait. Pak Karait bukan orang Atjeh asli.
Tidak seorang djuga tahu dari mana asalnja. Akan tetapi
selama saja ingat, dia sudah lama tinggal dikampung itu.
Dan dia adalah seorang dukun jang amat disegani, malahan
ditakuti. Orangnja sudah tua sekali. Aku sendiri tidak
pernah berani datang kerumahnja.
Menurut tjeritera bukan sadja Pak Karait mempunjai
seekor harimau siluman, akan tetapi dikamar tidurnja ada
seekor ular besar. Dan Pak Karait sendiri ditjeriterakan
orang setiap waktu dapat menghilang, dan dia dapat
pergi kemana-mana dengan tjepatnja, dengan mengendarai
harimau silumannja jang terbang diudara amat tjepatnja.
Tjeritera kedatangan kedua orang marsose padanja itu
aku dengar dari tjutjunja jang sekelas dengan aku diseko-
lah. Menurut tjutjunja marsose-marsose didalam tangsi
semuanja sudah bentji sekali kepada Letnan Wolf. Mereka
tidak berani membunuhnja, karena takut akan diberi huku-
man keras oleh kompeni. Tetapi mereka hendak membalas
sakit hati dengan tjara jang halus sekali.
Isterinja sedang mengandung, sudah djalan lima bulan.
Dan marsose² itu bertanja
— dapatkah kiranja Pak Karait membikin dengan ilmu gaib-
nja supaja baji jang akan dilahirkan itu kulitnja djadi hi-
tam?
Tjeritera ini segera djuga tersiar keseluruh kampung, dan
semua orang merasa, bahwa Pak Karait harus memakai ilmu
gaibnja membikin baji itu berkulit hitam.
— Biar dia rasa, tukang maki kulit hitam itu, bagaimana
puja baji jang kulitnja hitam.
Dan semua orang tertawa, amat senangnja melihat olok-
olok jang akan ditimpakan keatas kepala Letnan Wolf.
Kemudian aku dengar dari tjutju Pak Karait, bahwa Pak
Karait telah menjetudjui membuat ramuan untuk menghi-
tamkan baji Letnan Wolf, dan ramu-ramuannja telah di-
tanam oleh marsose dibawah djendela kamar tidur Letnan
Wolf dan isterinja. Tjutju Pak Karait bertjeritera, banjak
djuag Pak Karait menerima bajaran dari marsose-marsose
itu.
Empat bulan menunggu baji itu lahir adalah bulan-bulanan
jang tegang untuk seluruh kampung. Semua orang seakan
mempunjai saham dalam baji Letnan Wolf. Kamipun
anak² sampai berhenti berlari-lari membawa andjing jang
bernama Wolf didepan tangsi, supaja djangan mengganggu
isteri Letnan Wolf.
Semua orang tidak sabar dan dengan gelisah menunggu saat
isteri Letnan Wolf melahirkan.
Waktu baji itu dilahirkan, Letnan Wolf sedang berpatruli.
Pasukan² marsose dimasa itu atjap kali pergi berpatruli.
Dan tiap patruli lamanja sampai satu hingga dua minggu.
Alangkah girangnja dan terkedjudnja seluruh kota, ketika
dari dalam tangsi datang berita, bahwa ramuan Pak Karait
mudjarab sekali: baji jang dilahirkan itu...hitam kulitnja!
Seluruh kota girang, akan tetapi djuga kegirangan jang
bertjampur kedahsjatan. Semua orang dahsjat dan timbul
takutnja sedikit melihat kekuasaan ilmu gaib Pak Karait.
Orang hanja berani berbisik-bisik sadja lagi menjebut
nama Pak Karait. Apalagi aku. Tambahlah aku takut pada
Pak Karait. Djika baji dalam perut orang putih dapat
dihitamkannja...aduh!
Suasananja tegang kembali ketika patruli jang dipimpin
Letnan Wolf berbaris masuk kota, kelihatan letih dan badju
sudah tjompang-tjamping dan penuh lumpur.
Akan tetapi kemudian isterinja dikirimnja pulang, dan kata
orang ditjeritakannja, dan Letnan Wolf sendiri beberapa
bulan kemudian minta pindah dari kota kami.
Beberapa bulan kemudian, ketika dokter jang menolong is-
teri Letnan Wolf datang bertemu makan-makan dengan is-
terinja kerumah ajah, dan aku datang dari dalam mem-
bawakan bir, aku dengar dokter berkata sungguh-sungguh
pada ajah: „Aduh bagaimana tuanku boleh pertjaja pada
ilmu gaibnja si Pak Karait. Saja lihat baji Letnan Wolf
mukanja mirip sekali sama kopral Latuharhary.” Dan dokter
tertawa terbahak-bahak, dan ajahku ikut tertawa, sedang is-
teri dokter menghus-huskan suaminja, menjuruh dia diam.
Kopral Latuharhary seorang muda, budjangan, kulitnja hi-
tam, perawakannja tegak dan mukanja tjakap!