BPS
RVKRSI
ADJARAN2 BUNGKARNO
BPS Sampul P.I.R. 4/1965
中卡
dC
,BPS"”
aksi reaksi
☆
Penerbit
P.T. RAKJAT — DJAKARTA
Kata awal
PADA permukaannja perdjuangan mempertahankan atau
membubarkan BPS" itu seperti perdjuangan dibidang
persuratkabaran belaka, tetapi pada dasarnja ia adalah
perdjuangan politik jang besar, jaitu antara anti-Manipolisme dan Manipolisme munafik disatu fihak dan Manipolis-
me difihak lain. Kearahan telah diberikan oleh Presiden Sukarno ketika beliau memaklumkan ,,BPS" dan segala koran² serta an- tek²nja harus dibubarkan, tetapi perdjuangan tidak ber achir, malahan baru dimulai sebenarnja dengan permak- luman itu. Sebelum itu, PWI dan koran² jang setia kepa- da garis revolusioner PWI telah melantjarkan perdjuang-
an beberapa waktu lamanja melawan BPS". Harian
Rakjat" ambil bagian aktif didalamnja dan artikel serial
HR" jang menguliti habis2an teori BPS" jaitu Jutiis me" pernah mendjadi pusat perhatian seluruh kehidupan pers ditanahair kita. Argumen² jang diberikan HR" itu
hingga kini tak sedikitpun kehilangan nilainja, dan seka-
lipun untuk sebagian pembatja² diluarnegeri soal²nja mungkin terasa agak terlampau detail, tetapi bagi perdjuangan politik di Indonesia, antara keprogresifan dan reak- si, perang pena ini penting sekali artinja, ketika itu, se- karang, dan di-waktu² j.a.d. Ini adalah pertimbangan utama mengapa artikel serial itu diputuskan dibukukan, bersama dengan pokok² pidato
Presiden Sukarno didepan rapat umum PWI jang terkenal,
rapat madju tak gentar, serta keputusan Menpen Brigdjen
Achmadi tentang langkah pertama penutupan sedjumlah
harian² BPS”. Hingga kini, medio Djuni 1965, perdjuangan memper-
tahankan atau membubarkan",BPS" tetap merupakan sa- lahsatu persoalan pokok dalam perdjuangan politk dine-
geri kita, dan hingga kini membela atan menoh _RPs"
itu tetap merupakan salahsebuah kriterium ma ka
seseorang sesuatu golongan klas, partai itu obwo
ataukah tidak
Tāk ada orang jang bisa mengatākān kapan kōrana dan antek2 ,,BPS" itu akan habis samasekali. Sementara itu bisa dibajangkan, dan kenjataannja memang demikian, muntjul golongan² baru jang kalaupun tidak membela BPS" itu setjara plintat-plintut, mengusahakan sematjam neo-BPSisme dengan pertjobaan menerbitkan koran² BPS" djubah baru. Untuk sementara waktu mereka itu bisa sadja berhasil, tapi dalam djangka jang lebih pan- djang, garis revolusioner pasti menang atas garis reaksioner, garis anti-,BPS" pasti mengalahkan samasekali garis BPS" ataupun neo-,BPS". Malahan, pertjobaan reaksioner atau munafik sekarang ini untuk membela ,,BPS"-newlook atau BPS"-streamline, ada djuga mem- bantu kita kaum revolusioner dalam membikin kemenangan atas ,,BPS" nanti kemenangan jang benar2 stabil, ber- mutu dan langgeng — suatu kemenangan dialektis! Kendati ataupun berkat tingkahlaku kaum reaksioner, front persatuan nasional dinegeri kita kian hari kian luas dan kokoh, dan penjelesaian revolusi nasional-demokratis kian hari kian tampak dipandangan mata. Se-akan² kita ini pelaut jang mulai melihat kakilangit kemenangan di- sendja pagi, dan seperti halnja pelaut itu pemberani, ma- rilah kita dengan berani melandjutkan perdjuangan jang sekali telah kita mulai, dan mari kita achiri BPs" dengan segala antek dan induksemangnja, sebagai bagian da- ri perdjuangan besar kita menghabisi imperialisme dan si- sa® feodalisme! Nioto
BAGAIMANA HARUSNJA TIDAK MEMPE-
LADJARI TULISAN² BUNG KARNO
SEBUAH ulasan kantorberīta AS "Associated Press" baru² ini menjimpulkan bahwa selama ketiadaan Presiden Sukarno didalamnegeri kampanje anti-,,Malaysia" di Indonesia menjepi. Tak meragukan lagi, jang berdjasa bagi keadaan jang menjenangkan kaum imperialis ini adalah ribut² perkara filsafat dan ideologi, jang oleh komplotan reaksi didalamnegeri sengadja ditimbulkan untuk meng- alihkan perhatian dan membelokkan sasaran serta mem- porak-porandakan persatuan. Paling achir didirikan orang apa jang disebut Badan pendukung Sukarnoisme", jang tudjuannja ,,mendukung penjelesaian revolusi". Padahal revolusi sendiri tak mem- butuhkan sekedar pendukung2" revolusi menbutuh- kan penjelesai² itu sendiri! Adapun usahanja — didalam teori mereka mengatakan ,mentjegah pembelokan atau usaha² pengaburan adjaran² Bung Karno", tetapi didalam praktek jang mereka laku- kan adalah djustru pembelokan dan pengaburan itu. Mereka sekarang mendapatkan dalam tulisan serial Sajuti Melik Beladjar memahami Sukarnoisme", jang mulai dimuat ,Berita Indonesia" 5 bulan j.l., tepatnja 8 Djuni 1964, sendjata" untuk membelokkan dan menga- burkan adjaran² Bung Karno itu sambil memetjahbelah persatuan nasional. Tulisan Sajuti Melik jang tipikal Melik itu, jaitu ber- tele2, djika dipeladjari dengan seksama, adalah tjontoh jang baik tentang bagaimana harusnja ti d a k mempe-ladjari tulisan² Bung Karno. Sajuti Melik sendiri pernah mengutip didalam tulisan serialnja pembedaan jang dilakukan ketua dewan re- daksi HR", bahwa ada dua tjara pendekatan tulisan² Bung Karno: pertama jang dialektis revolusioner, kedua, jang pragmatis reaksioner. Tulisan serial Sajuti Melik tsb., jang memakai pandangan tatabahasa sampai fitrah, Surjo- mataraman sampai Drijakoroan pasti sukar sekali digo- longkan pada tjara pendekatan dialektis revolusioner.
涵
masukakal atas djawaban kita. Tapi penjalaligunaan ,,restu Presiden" dalam hal Beladjar memahamn. Sukarnoisme" sudahlah njata. Ini tak bisa ditjoba diringankan atau ditjarikan pengampunan dengan exkus ,,apa jang ditulis (Juti) itu belum tentu benar... ", seperti dikatakan oleh Juti sendiri beberapa hari j.l. WPM Subandrio sudah memperingatkan bahwa hanja ada s a tu interpretasi atas adjaran² Bung Karno, jaitu tulisan² Bung Karno sendiri. Ini sebenarnja diweran jang tak tanggung2 kealamat apa jang menamakan diri Badan Pendukung Sukarnoisme", djeweran jang oleh BI" setjara litjik digelapkan didalam verslagnja! Besok akan kita mulai ulasan kita tentang Beladjar memahami Sukarnoisme". Harian Rakjat" 17-11-64
.,BERITA INDONESIA"LAH JANG MEMULAI
Kita takkan pernah menjinggung pribadi Sajuti Melik sekiranja dia sendiri tidak (sudah dalam seri tulisannja jang ke-5) berbitjara tentang ,,Manusia Juti". Dikatakan- nja bahwa mula² ia ,,Marxis-Leninis" baru kemudian dia mendjadi ,,Sukarnois". Bahkan tgl. 12 November j.b.l., setelah pertemuannja dengan WPM Dr. Subandrio, Juti mengatakan bahwa bagi jang belum mentjetjap salahsatu ideologi lain, Sukarnoisme memang mudah,difahami. .. Tetapi bagi jang lebih dulu sudah mentjetjap salahsatu ideologi tertentu, sebagai pribadi Sajuti sendiri, itu tidak mudah". Kita ingin mentjatat hal² sebagai berikut. Pertama, Juti hanja mengatakan pernah Marxis-Leninis" dan sekarang ,,mlungsungi" mendjadi ,,Sukarnois", tetapi dia tidak menerangkan bahwa dia pernah giat dalam ,Persa- tuan Perdjuangan" Tan Malaka. Kedua, mendjadi perta- njaan banjak orang, mengapa Juti siorang PNI lebih suka menulis di ,Berita Indonesia" sikoran Tan Malakais. Ketiga, utjapannja tentang ,jang iebih dulu sudah mentjetjap salahsatu ideologi tertentu" sangat berbau ,Mer- deka"isme, jang mentjoba mengcxkomunikasikan kaum Marxis-Leninis dari front nasional dengan dalih bahwa ideologi kaum Marxis-Leninis ,,tidak murni". Ada dibanggakan bahwa tulisan Juti Beladjar memahami Sukarnoisme" itu sekarang dikutip oleh ,,50 lebih suratkabar". 50 atau tidak 50, kenjaataannja adalah bahwa jang mengutipnja hanja suratkabar² dari ,,Berita Indonesia" ke k a n a n, sedang jang disebelah kiri ,,BI" tidak satupun jang mengutipnja, termasuk ,,Suluh Indonesia" harian resmi PNI tidak! Lalu dibanggakan bahwa tulisan Juti itu sudah men- dapat restu" Presiden Sukarno. Baiklah tuan" itu men- djawab : k a p a n restu Presiden" itu datangnja ? Dan sesudah restu" itu masih berapa artikel lagi ditulis ? Apakah mau tuan² katakan bahwa tulisan² s e s u-d a hn ja tidak mengandung pembelokan dan pengabur- an, dus tidak menjalahgunakan ,restu" ? Tentang ini akan kita kupas dalam ulasan selandjutnja. Baru² ini ,Warta Berita" menuduh kita menjalahgunakan pensahan PKI oleh Penpres 7 dan Perpres 13, suatu tuduhan jang tak beralasan samasekali dan jang hanja membuktikan ketidak- mampuan ,Warta Berita" memberikan sanggahan jang
DALAM seri tulisannja No. 1 Sajuti Melik menundjuk- kan d a r i m a n a asalnja api jang menimbulkan asap- nja, atau dengan kata" Juti sendiri sangkan paraning dumadi" istilah Sukarnoisme". Katanja: Pada hari dalarn minggu terachir ini 'Berita lndonesia' sering melan- tjarkan penggunaan istilah 'Sükarnoisme' ". Dan BI" itu djugalah jang kemarin menulis tadjuk- rentjana chusus membela Juti dengan memudjinja seting- gi-tingginja, a.l. sebagai seorang jang ta!: punja ambisi apapun Mudali²an Juti djuga tak punja ambisi untuk membelokkan dan mengaburkan tulisan Bung Karno. .. Sementara itu, dalam sudutnja, BI" begitu marahnja terhadap harian partainja" Juti, Suluh Indonesia" tidak, bukan sekedar harian partainja" Juti, tetapi harian jang Juti sendiri salahseorang redakturnja — dengan menuduh Suluh Indonesia" telah membreidel" tuiisan juti. Apa artinja ini? Mengapa Bl" tiba membongkar fakta bahwa harian Juti membreide: Jut:? Kata tadjukrentiana BI" Juti itu sangat setia", lalu kalau beliau sangat setia kepada politik PNI, bagaimana mungkin tulisan²nja
dibreidel oleh koran PNI? Ataukah sangat setia"nja
Juti mengarah kedjurusan lain? Tadjukrentjana BI" lebih landjut hanja mengatakan bahwa Juti itu ,tak pernah membohong selama hidupnja". Sajangnja tak diterangkan oleh ,BI" apakah Juti itu pernah tjeroboh. Kita ambillah seri tulisannja No. 1. Disana ditulis Juti bahwa Bung Karno sendiri menaniakan (adjarannja) 'Marhaenisme', 'Pantjasila', 'Takem', 'Resopim', 'Gesuri' dll. lagi.. ." Djuli 1932 Bung Karno menerangkan bahwa Marhaen itu perkataan politik jang dipakai oleh kaum politik-radikal", dan setahun kemudian, dalam karjautama beliau Mentjapai Indonesia Merdeka" (,MIM") beliau mendje- laskan bahwa Marhaenisme adalah ,,azas perdjoangan dan program jang 100% radikal". Djadi bagaimana'se- luruh azas perdjoangan Bung Karno, Marhaenisme", di- identikkan sadja dengan ,Takem", Resopim", ,Gesuri", jang memang penting sekali, tetapi merupakan p e d o- man pela k s an aan dari tahun ketahun dari azas perdjoangan itu, setelah mendapatkan kristalisasinja dalam suatu Program Umum Revolusi jaitu ,Manifesto Politik RI"! Dalam seri tulisannja No. 3 Juti menjebut dengan pasti tanggal suatu pidato Bung Karno, jaitu 4 Djuli 1957, tetapi hanja bisa menjadjikan maksudnja k.1. demikian". Kuranglebih! Mudah²an tidak lebih kurangnja daripada lebihnja! Dalam seri tulisannja No. 6 dia mengedjek sikap jang menganggap ,,bahwa adjaran² Marxisme-Leninisme itulah jang paling benar didunia ini". Kalaupun bukan Marxisme-Leninisme, mudah²an jang paling benar didunia ini bukan ... Jutisme". Kenapa kita tuliskan ,doa" ini ? Bukan sadja karena Juti menjatakan ,baiklah kini pe- njusun kemukakan sedikit pula soal 'Manusia Juti'... Ini perlu!", tetapi lebih² karena dalam seri tulisannja No. 3 Juti mengatakan bahwa komponen² dari Sukarnoisme itu
sudah tjukup banjak... namun... jang merupakan satu
keseluruhan lengkap dari adjaran²nja... sedikit sekali. Malah seperti belum ada !". Lalu si a p a jang mesti menjusun ,,keseluruhan lengkap" itu ? Kalau Bung Karno dikatakan Juti ,,dengan pe-
tundjuk Tuhan... menemukan adjaran²" beliau, mungkin adalah tak kurang dari Manusia Juti" jang dengan pe tundjuk Tuhan" menjusun ,keseluruhan lengkap itu ! Maka berkatalah Juti : Plato banjak menuliskan adjan an² Socrates, Lenin banjak menuliskan adjaran² Karl Marx dan Friedrich Engels, Stalin banjak menuliskan adjaran² Lenin". Nah, Juti banjak (memang banjak, sam- pai sekarang sudah seri No. 67, belum terhitung tulisan² ,mBah Sodrono" jang adalah pula Sajuti Melik) menuliskan ,adjaran² Bung Karno". Begitulah, peranan historis Manusia Juti" bisa disamakan kira² dengan Plato, Lenin dan Stalin... Sekiranjapun tak ada tadjukrentjana ,BI" jang memudji Juti kemarin, kita sudah akan kagum dibuatnja ! Kita tak pernah menganggap Mentjapai Indonesia Merdeka" itu ,,seperti belum ada", Indonesia Menggu- gat" itu seperti belum ada", Sarinah" itu seperti belum ada" dan (O, Tuhan Seru Sekalian Alam, ampunilah hambamu jang daif ini) Manipol" itu seperti belum ada"! Dan seperti dikatakan Menpen Brigdjen Achmadi se- malam: penafsiran adjaran² Bung Karno lain daripada penafsiran Bung Karno sendiri ,,bisa membahajakan adjaran Bung Karno itu sendiri jang berarti pula membahajakan revolusi kita". Harian Rakjat" 18-11-64
ADJARAN² BUNG KARNO ADALAH MARHAENISME
Rasanja tidak sering kita mendjumpai sikap puasdiri seperti jang dipertontonkan ,,Berita Indonesia" kemarin. Sambil hakekatnja menolak dalil bahwa satu²nja tafsiran bagi adjaran² Bung Karno adalah tulisan² Bung Karno sendiri, harian tsb. menamakan tulisan² Sajuti Melik ,,suk- ses besar" dan menjebut penjebarannja oleh ,,BI"... telah mendekati kesempurnaannja"!
fikirannja". Ini dalam seri tulisannja No. 47 sampai tak kurang dari 3 kali dia njatakan! Maka tak mengherankanlah apabila ,BI" kemarin dalam seluruh tadjukrentjananja tidak ada pernjataan jang menerima dan menjokong keterangan WPM Subandrio dan Menpen Achmadi. Bahkan, seluruh tadjukrentjana itu hakekatnja berisi penolakan atas jang dinjatakan WPM dan Menpen. Apakah tjukup setiap orang diberi sebuah buku adjaran Bung Karno dengan dikatakan: ,Beladjar- lah!", demikian tulis ,BI", jang dengan perkataan lain rupanja mau mengatakan bahwa tulisan² dan pidato² Bung Karno baru ,,tjukup" djika dilengkapi" dengan... tulisan² Juti. Tjukup, tjukup! Besok akan kita mulai dengan menundjukkan di-bagian² mana adjaran² Bung Karno dibelokkan dan dikaburkan. Harian Rakjat" 19-11-'64
,BPS" MENGAKU JUTI TIDAK KEMUKAKAN ADJARAN² BUNG KARNO
Tetapi apa salahnja BI" mempunjai penjakit puasdiri, asaì penjakit inı tak menghinggapi pers kita umümnja! Juti sendiri mengharap agar murid² Bung Karno jang lain akan menguraikan adjaran² Bung Karno setjara lebih sempurna". Rupanja jang Juti punja memang sudah sempurna! Dari tulisan² Juti itu, jang paling masukakal dan maka- itu paling bisa diterima — dari seluruh tulisannja jang sudah lebih dari 150 kolom itu — hanjalah s a t u kalimat, jaitu (dalam seri tulisannja No. 3): ,Oleh Bung Karno sendiri, adjaran"nja itu dinamakan Marhaenisme". Juti rupanja mempunjai voorliefde kepada tatabahasa, sehingga tak kurang dari 10 kali ia menindjau halihwal dari sudut tatabahasa. Olch sebab itu, karena baik kata² maupun tatabahasa kalimatnja dalam seri tulisan No. 3 itu begitu gamblangnja, kiranja tidak ada jang dubius disini, dan hanja satu arti jang bisa diberikan kepadanja : Adjaran² Bung Karno adalah M ar h a e nis m e. Apa jang ditulis oleh Juti? Seri tulisannja No. 1, 2, 3, 4, t id a k berdjudul, tetapi tiba" seri tulisannja No. 5 diberinja berdjudul dan djudul itu serem sekali, jaitu: Pribadi penjusun sendiri", arti- nja, pribadi Manusia Juti", dan baru pada seri No. 50 kita djumpai karangan berdjudul : Dari kata® Bung Karno sendiri". Apakah bagian² lainnja pada umumnja b u k a n dari kata² Bung Karno sendiri? Ini akan kita buktikan nanti, tetapi kalau kita batja djudul² karangan² Juti itu seperti Mengapa kodrat hidup manusia ?" (49), Apakah kodrat hidup itu?" (51), Apakah kodrat mapusia itu ?" (53), Tjiri² tubuh hidup" (56), Bagaimana kodrat manusia itu ?" (57), Apakah persona rochani itu ?" (59), Apa- kan bakat membudaja itu ?" (60), Memasjarakat untuk melakukan pembudajaan" (62), ,Proses pembudajaan dan pemasjarakatan" (66 dan 67) dsb, dsb, orangpun akan bertanja: apa hubungannja hal² ini dengan adjaran² Bung Karno, dengan Marhaenisme ? Juti menjesalkan bahwa oleh sebagian orang tulisannja tidak diteliti benar". Kita m eneliti ben ar tulisan² Juti itu, dan sebagai salahsatu hasil penelitian ini ter- bukti, bahwa Juti ,,beladjar memahani" b u k a n adjaran² Bung Karno itu sendiri, melainkan ,,latarbelakang alam
SIAPA menjangka! Pembenaran pertama atas ulasan kita datangnja djustru dari apa jang menamakan difìnja Badan Pendukung Sukarnoisme"(,BPS")! Semalam Berita Indonesia", dan djuga Warta Berita", memuat statement ,,BPS" itu dengan headline : ,Harian Rakjat mulai bikin heboh". Seperti parapembatja maklum, kemarin kita tundjukkan bahwa Juti lebih dulu berbitjara tentang dirinja sendiri (dan tentang hal² lain) dan ,,baru pada seri No. 50 kita djumpai karangan berdjudul : 'Dari kata² Bung Karno sendiri'." Rupanja kita masih memakai ukuran jang rendah! Sebab menurut statement ,,BPS" tsb, ,,sebegitu djauh", arti- nja sampai seri tulisan Juti No. 67 (l) belu m djuga dikemukakan Sukarnoisme" itu! Kita harus mengutjap- kan terimakasih. H
djari tulisan² Bung Karno" sudah kita djelaskan : ,Paling achir didirikan orang apa jang disebut 'BPS'... Mereka sekarang mendapatkan dalam tulisan serial Sajuti Melik ... 'sendjata' untuk membelokkan dan mengaburkan adjaran" Bung Karno itu sambil memetjahbelah persatuan nasional". Djadi djelas-djemelas : kita 'baru sekarang mengangkat pena, karena BPS"pun 5 bulan j.1. belum lahir dan karena tulisan² Juti belum dipakai aktif untuk memetjahbelah'persatuan nasional. Dari sini djelas djuga djadinja apakah HR" jang mulai bikin heboh", ataukah djustru BPS"! Harian Rakjat" 20-11-'64
PAMRIH UNTUK LEBIH SUKARNOIS DARIPADA SUKARNO
Perhatikanlah kata² statement BPS" itu : ,,Perlu di- ingat, bahwa sebegitu djaui tulisan² sdr. Sajuti itu belum sampai pada adjaran² Bung Karno sendiri"— dan baru mempeladjari tjara berfikirnja dan menganalisa beberapa tjetusannja". Perkataan ,tjetusan" itu sendiri, jang djuga sering dipakai oleh Juti, sesungguhnja penghinaan terhadap adjaran² Bung Karno — se-akan² hal jang belum matang difikir- kan, se-akan² hal jang keluar begitu sadja. Tentu tiap pengarang mempunjai gajanja sendiri². Dan kita tak punja keberatan apapun bahwa ada pengarang jang membikin kata pengantar" sampai 67 seri, dan bahwa dalam ,kata pengantar" itu terlebih dulu dibitjara- kan apa jang oleh statement ,,BPS" disebut ,,tjara berfikir" Bung Karno, atau jang oleh Juti sendiri disebut ,,latarbelakang alam fikirannja", a s a l jang dikemukakan memang tjara berfikir" dan ,latarbelakang alam fikiran" Bung Karno, dan bukan Juti atau jang lainnja. Kita bahkan mengakui hak pengarang2 untuk menganut indivi- dualisme, selama isme ini tidak disugestikan kepada cha- lajak ramai. Kita misalnja tak pernah berkeberatan bahwa Juti pernah memakai namasamaran ,,Saja". Sekarang timbul pertanjaan: Djadi, kalau seri tulisan jang 67 banjaknja itu diakui ,,belum sampai pada adiaran² Bung Karno sendiri" adjaran si a p a jang s u d a h dikemukakan ? Dan-adjaran siapapun dan apapun jang telah dikemukakan itu tidakkah ia djustru bertentang- an dengan adjaran² Bung Karno ? Se-kurang²nja dalam 3 hal pokok tulisan² Juti membelokkan adjaran² Bung Karno, jaitu dalam hal²:
- Filsafat;
- Tahap² revolusi; dan
- Nasakom. Dalam hal² jang tidak pokok banjak lagi pembelokan²
lainnja kita djumpai. Dan disamping menjelewengkan adjaran" Bung Karno, pengarangnja sempat pula menjelewengkan adjaran² Marxisme-Leninisme. ,,Berita Indonesia" mempersoalkan kenapa baru sesu- dah 5 bulan tulisan Juti disebarkannja orang baru mem- bahasnja. Membatjapun ,,BI" tak pandai ? Dalam seri tulisan kita No. 1, Bagaimana harusnja tidak mempela-
BERITA Indonesia" hingga kini t i d a k memberikan pertanggungdjawaban mengapa dikorupnja (vide Bl" 13 November) keterangan WPM Subandrio bahwa hanja ada satu tafsiran adjaran" Bung Karno jaitu tulisan² Bung Karno sendiri. Bahwa disini ada kesengadjaan, tentu tak perlu kita membeberkannja lebih landjut. BI" 17 November ini memuat djuga keterangan WPM Subandrio supaja ,,djangan menimbulkan gerakana baru", dan BI" menambahkar dengan mengatakan BPS... memang tidak menimbulkan gerakan2 baru". Tetapi! Se- hari sebelumnja, jaitu 16 November, ,,BI" masih dengan bangga mengatakan bahwa ,BPS" itu suatu Organisasi". Dan ketika 11 November j.1. B1" mengumumkan
maksud tudjuan" dan usaha" BPS", dengan tegas —
seperti djuga namanja BPS" itu disebutnja suatu ,badan". Djadi: bukan gerakan baru, tjuma badan dan tjuma organisasi? Logika" ini kira" bisa disamakan dengan ,logika" jang mengatakan : ,,ini bukan machluk, tjuma binatang... Sementara itu kita batja dalam .,Suluh Indonesia" ke- marin sebuah sudut: Ada orang jang takut menjebut
SUKARNO-PALSU
adjaran Sukarno itu dengan Marhaenisme. Sama istilab sadja sudah takut ..." Ada pula hal jang menarik dalam gerakan baru BPS" ini. ,BI" entah sudah berapa kali membanggakan bahwa ,sampai kini satu²nja penulis mengenai 'Beladjar me- mahami Sukarnoisme'... adalah Juti atau Sajuti Melik". Tapi tiba2 Juti sendiri mengatakan: »apa jang ditulis (olehnja) itu belum tentu benar.." Djadi, suatu badan, suatu organisasi, suatu gerakan baru diadakan atas dasar sesuatu jang ,belum tentu benar"! Tidakkah ini meriah ? Ini hanja mengingatkan kita kepada Hatta jang melang- sungkan teror-putihnja atas dasar sesuatu jang diakuinja sendiri ,,entah benar entah tidak" ... Lalu dalam tadjukrentjananja 17 November j.l. jang berdjudul pandjang Sajuti Melik, Sukarnois sedjati, ber- djuang tanpa panrih kenjang dengan asab perdjuangan", BI" mengatakan bahwa HR cs... me-nuduh² setjara murah". Apakah kita melantunkan tuduhan²", jang murah" pula, parapembatja bisa menimbang sendiri, dan lebih dari itu, parapembatja bisa membandingkan fakta2, argumentasiz, bahkan nada ulasan² ,,HR" dengan tulisan2 BI”. Bahkan, kalau kita berbitjara tentang djurnalistik, parapembatja bisa mentjatat kengawuran ini dalam sedjarah
djurnalistik kita: tadjukrentjana BI" menulis 17 November j.l. se-akan² HR" telah melontarkan kealamat BPS" tuduhan² dengan kata² kontra-revolusi, subversif... (dan) tuduhan ,dengan kata² Sukarno akan mendjatuhkan nama Sukarno". Semua jang dikatakannja keluar dari ,,HR" ini, sekalipun benar, t id a k a d a ditulis oleh ,HR". Maka terdjadilah ,keadjaiban" dialektis: kengawuran djurnalistik BI" sendiripun bisa memukul ,,BI" setjara kena ! Kita kemarin hanja menulis ini didalam sudut : Baru diteropong sedikit sudah heboh ... dasar barang jang tak tahan "udjī". Dan sesudah ,BI" memulai, baiklah kita tambahkan hari ini bahwa BPS" ternjata tempat berhimpunnja kaum Manipolis-munafik, makaitu mereka² jang tidak munafik dan terlandjur masuk, tjepat atau lambat harus keluar dari gerakan baru munafik itu. Pendekkata, gerakan baru BPS" itu berpamrih lebih Sukarnois daripada Sukarno sendiri. Inilah pokoknja soal- nja! Ini takkan terlalu berbahaja, sekiranja dengan pamrih itu mereka tidak djustru membelokkan dan mengaburkan tulisan² Bung Karno. Mulai Senin j.a.d. akan kita bahas ber-turut² pemalsu- an² Juti atas adjaran² Bung Karno mengenai filsafat, tahap² revolusi, Nasakom, dll. Harian Rakjat" 21-11-’64
ACHIRNJA PENGAKUAN JUTI: MEMANG BUKAN ADJARAN² BUNG KARNO
KITA terpaksa menjisipkan bagian ini kedalam serial kita, mendahulukannja daripada kupasan tentang filsafat, tahap revolusi dan Nasakom, karena Sabtu j.l. Berita Indonesia" terbit dengan pengakuan Sajuti Melik sendiri jang amat kita hargai. Dengan pengakuan Juti itu hampir tak perlu lagi se- benarnja untuk meneruskan serial ini, karena maksud
PEMALSUAN DALAM HAL FILSAFAT
utama kita, jaitu menundjukkan bahwa jang ditulis Juti ,Beladjar memahami Sukarnəisme" itu b u k a n adjaran² Bung Karno, bahkan dalam banjak hal b er t en t ang- an dengan adjaran" Bung Karno, s u d a h tertjapai! Inilah jang dinjatakan Juti : ,Jang saja tulis itu bukan adjaran Bung Karno sendiri, melainkan bagaimana memahami adjaran² tsb. se- bagai hasil perenungan beberapa tahun lamanja". Tentu adalah hak Juti untuk tidak memaparkan adjaran² Bung Karno dan adalah haknja pula untuk memaparkan fikiran nja sendiri. Dan tentang djudul serialnja, Juti selalu bisa kembali kealasan tatabahasa dengan mengatakan ,Jang saja tulis adalah 'Beladjar memahami Sukarnoisme' ". Tetapi, setiap orangpun tahu bahwa ,BPS" boleh djuga ditindjau dari sudut tatabahasa — adalah ,Badan Pendukung Sukarnoisme", dan b u k a n misalnja ,Badan pendukung beladjar memahami Sukarnoisme"... Sementara itu Juti Sabtu j.l. dalam seri tulisannja No. 68 memulai dengan kalimat ini: ,Uraian ini masih lan- djutan uraian No. 67... tetapi lantas diberi djudul lain, hanja supaja tiada mendjemukan". Apakah Juti sendiri sudah mulai merasa bahwa tulisannja sudah mulai mendjemukan? Kalau sesuatu tulisan atau serial tulisan hanja tidak memaparkan adjaran" Bung Karno dan hanja mendjemukan sadja, ini tentu tak mengapa. Dan kita tak akan ambil pusing terhadapnja. Kita mengangkat pena, sekali
lagi, karena tulisan² Juti itu njata2 membelokkan dan
mengaburkan adjaran² Bung Karno, mengemukakan djustru pemalsuan² tertentu atas adjaran² Bung Karno.
Dalam statemennja Sabtu j.1. Juti masih mengatakan bahwa ,jang terpenting jalah mempeladjari alam fikiran
Bung Karno jang telah dapat melahirkan adjaran²" be-
liau. Sedang WPM Subandrio menandaskan bahwa jang
harus dipeladjari adalah adjaran² Bung Karno sendiri dari tulisan² dan pidato² Bung Karno sendiri, Juti me- mentingkan alam fikiran", atau seperti dinjatakannja ditempat lain ,latarbelakang pemikiran" Bung Karno. Dari ulasan kita ini akan ternjata apakah jang dikemu-
kakan Juti memang sesuatu .,latarbelakang" ataukah se-
suatu jang terbelakang!
Hartan Rakjat" 23-11-'64
SEPERTI sudah kita tuliskan, sempat djuga Juti me- lakykan peinalsuan² atas adjarana Marxisme-Leninisme. Misalnja dalam menerangkan dalil Lenin tentang sjarata kemenangan revolusi, Juti mengatakan se-akan Lenin mengatakan revolusi akan menang ,,dimana tekanan mata
rantai imperialisme kebetulan kendor". Dalil Lenin jang
sesunggubnja adalah : dimana mata rantai imperialisine paling lemah. Djadi: mata rantai, b u k an ,,tekanan mata rantai", dan jang paling lemah, b u k a n jang kebetulan kendor". Ketjerobohan Juti jang sampai keiodor- an ini apa namanja kalau bukan membelokkan dan mengaburkan teori Marxisme-Leninisme! Kita takkan bitjarakan pemalsuan² Juti lainnja atas Marxisme-Leninisme, karena jang kita bitjarakan sekarang pemalsuan²nja atas adjaran Bung Karno. Dalam hal filsafat, Juti sebenarnja tak ada memper²nja dengan Bung Karno. Pada 16 September 1959, seperti pada sedjumlah kesempatan lainnja, Bung Karno
dengan djelas mengatakan: saja adalah scorang historis
materialis". Dengan sendirinja pandangan Bung Karno akan tempat manusia dalam sedjarah, hubungannja, dengan masjarakat, ,,boodschap sedjarah"nja, dsb. adalah pandangan historis materialis. Sedang Juti, dari serialnja jang berketiakular itu terbukti seorang jang lebih dekat pada mistik daripada pada materialisme, lebih dekat pada Surjomataram dan Drijarkoro daripada pada Marx, lebih dekat pada individualisme daripada pada pandangan his-
toris. Segala tjakapnja tentang dialektis rochanisme"
dan matjam² lagi hanja menundjukkan betapa djauhnja ia tertjampak atau mentjampakkan diri dari historis materialisme. Buat Juti jang paling penting adalah mem": ,membudaja, memasjarakat, memibikin alat, membahasa, mengaku, mengkita, mengkawan, mengkelompok, meng-
ekonomi, mengadat, mengkultur, mengadab, mengilmu,
menseni" dan entah ,,mem-mem" apa lagi! Buat Juti in-
dividulah pusat segala-sesuatu — individu jang bahkan
tidak berbahasa" melainkan membahasa"!'— dan da-
dengan Sukarnoisme" adalah soal tempat-agama dalam Marxisme dan tempat unsur agama dalam nation building. Padahal djelas: nation building harus dengan me- negakkan persatuan Nasakom, dan salahsatu unsur Nasakom adalah A. Bung Karno berpendapat bahwa adanja nasionalisme" dan adanja rasa keagamaan" di Indonesia jang ,,agraris" adalah ,,hal2 jang objektif", suatu pandangan jang sama dengan jang dianut Bung Aidit. Tetapi Juti lebih menjukai paduan kreatif": dia ka- winkan ,mechanisme" dengan vitalisme", materialisme dengan idealisme, dan Marxisme dengan mistik ! Harian Rakjat” 24-11–’64.
PEMALSUAN TENTANG DUA TAHAP REVOLISI
lam seri tulisannja jang terachir (No. 68) dia tambahkan lagi apa jang disebutnja mensikaphidup, mengagama dan memfilsafat". Dunianja berpusing2 diseputar jang di- namakannja ,,kodrat hidup", dan ,filosof" jang chas ini achirnja menjudahi: Bagaimana tjaranja Tuhan men- tjiptakan kodrat hidup tadi tidaklah merupakan persoalan jang pokok". Dia skeptikus dari A sampai Z, dan dalam usahanja menjelundupkan ketidakpertjajaan orang, djuga terhadap historis materialisme, maka dikatakannjalah : Tetapi manakah teori filsafat jang tidak mengandung kelemahan?". Bagaimana membuktikan hal ini? Ah, buat Juti pembuktian ini perkara sepele, maka dituliskannjalah: Djika ada teori filsafat jang tidak mengandung kelemahan, tentulah tidak akan terdjadi ada teori jang matjam²" .. Konsekwensi tjara berfikir ini kira² begini : teori Manipol tentang revolusi nasional-demokratis mengandung kelemahan², sebab djika tidak mengandung keiemahan tentulah tidak akan terdjadi teori jang matjam², a.l. teori Juti tentang ,,langsung kesosialisme" jang atjak²kan itu! Tentang hal ini akan kita tulis besok. Tetapi tidakkah hebat betul kalau a d an j a teori jang matjam" sudah didjadikan ,,bukti" akan lemahnja sesuatu dalil atau teori atau filsafat? Kata Juti: Bung Karno mempergunakan historis materialisme sebagai metode berfikir. Tetapi interpreta- sinja mengenai gedjala² alam-semesta tidak mempergunakan filsafat materialisme". Bandingkanlah tafsiran Juti ini dengan jang sesungguhnja dikatakan oleh Bung Karno sendiri didepan Kongres ke-VI PKI: ,,saja adalah seorang historis materialis. Tetapi saja bukan seorang wijsgerig materialis... Historis materialisrne adalah satu ilmu... Djika sosial-ekonominja pada waktu itu demikian, ideologinja adalah demikian... Ilmu inilah jang di- namakan historis materialisme, dan saja termasuk peng- ikut daripada ilmu ini". Lalu apa jang diartikan Bung Karno dengan wijsgerig materialisme"? Ini tidak se- perti ditafsirkan oleh seorang indoktrinator se-akan² adjaran Marx, melainkan djustru adjaran jang telah di- djungkirbalikkan oleh Marx, jaitu adjaran Feuerbach (lihat Bung Karno ,Tjamkan Pantjasila!" hal. 151). Satu²nja alasan" Juti mempertentangkanMarxisme
MANIPOL jang merupakan kristalisasi adjaran² Bung Karno dan kini diterima oleh segenap bangsa Indonesia sebagai Program Umum Revolusi jang mendjawab setjara tepat Persoalan² Pokok Revolusi Índonesia, dengan tegas menggariskan ada d u a tahap revolusi, jaitu revolusi nasional-demokratis dan revolusi sosialis. Dekon kemudian menegaskan : ,Kita sekarang sedang berada dalam tahap pertama revolusi kita. Kewadjiban kita dibidang ekonomi dalam tahap ini jalah mengikis habis sisa² imperialisme dan sisa² feodalisme dibidang ekonomi, menggerakkan semua. potensi nasional untuk mele- takkan dasar dan mempertumbuhkan suatu ekonomi nasional jang bebas dari imperialisme dan feodalisme sebagai landasan menudju kemasjarakat Sosialis Indonesia". Tavip menegaskan lebih landjut: ,Revolusi selalu pu- nja tahap²nja; dalam hal revolusi kita : tahap nasional-demokratis dan tahap sosialis; tahap jang pertama me- retas djalan buat jang kedua, tahap jang pertama harus dirampungkan dulu, tetapi sesudah rampung harus diting- katkan kepada tahap jang kedua inilah dialektik revolusi" (Hukum keempat revolusi). 1的
Apa ? Teori Juti tidak benar ? Apa boleh buat jang
berbitjara adalah Bung Karno sendiri!
Harian Rakjat"' 25-11-64
PEMALSUAN TENTANG NASAKOM
Tetapi Sajuti Melik menulis : Nah, dalam tahun 1928
dulu Bung Karno telah mengemukakan pendapat, bahwa dari masjarakat feodal, kolonial Indonesia nanti, sesudah kemerdekaan bangsa Indonesia tertjapai, langsung dapat ditudjukan kemasjarakat sosialis. Tidak usah melalui masjarakat burdjuis".
Apakah Juti menjangkal sama sekali perlunja tahapª
revolusi? Tidak, dia tidak menjangkalnja, dia malahan
mengakui perlunja tahap²an", tetapi... hanja s a t u
tahap, dus t a n p a tahap! (Sepintaslalu dari sudut jang disukai Juti, jaitu sudut tatababasa, rupanja memang bukan tak ada artinja dia pakai achiran an" dalam ,,tahap²- an"!). Inilah jang ditulisnja; Sekarang ini kita tidak akan membentuk masjarakat burdjuis. Melainkan langsung hendak membentuk masjarakat sosialis meskipun djuga
memerlukan tahap2an. Jakni tahapan revolusi sosialis !".
Tetapi barangkali Juti toh benar? Toh tidak semba- rangan Juti menjebut tahun 1928? Barangkali Sukarno jang sudah berbalik ? Maka timbullah pertanjaan : Mengapa Juti djustrų diam
mengenai dalil² Manipol, Dekon, dsb. tentang dua tahap
revolusi? Mengapa djustru disebutnja apa jang ,dike-
mukakan" Bung Karno tahun 1928 ? Juti melakukan hal
ini tentunja ada maksudnja, bukan, sebab Juti adaiah se-
orang penulis jang selalu punja maksud? Ataukah Juti
ingin barangkali membuktikan" bahwa Sukarno tidak
konsekwen mengenai tahap" revolusi, bahwa Sukarno
,mengchianati" Sukarno ? Bukankah Juti lebih kenal"
Sukarno daripada Sukarno sendiri? Baiklah kita ikut ,,kembali" ketahun 1928, dan agar
Bung Karno sendiri jang berbitjara, inilah jang dikatakan
Bung Karno didepan sidang Depernas 28 Agustus 1959;
Kita hendaknja djangan masuk didalam golongannja
orang-orang jang berteori evolusi... Sebab njata bahwa teori jang demikian ini adalah salah... Dibalik daripada teori evolusi ini ada lagi teori lain jang didalam tahun 1928 saja namakan teori pelompatan fase, teori fasen-
sprong, jang mengatakan: dari masjarakat agraria kita
bisa melompat kemasjarakat sosialis. Teori jang demikian inipun tidak benar".
MENURUT Sajuti Melik Bung Karno itu dalam banjak hal terbelakang. Kalau dalam Tavip beliau menamakan diri ,,perasan Nasakom", maka menurut Juti Jutilah jang terlebih dulu punja ,penemuan" ini. Djuga kalau Bung Karno melantunkan ide Nasakom, maka ide inipun menurut Juti tidak orisinil Sukarno. Orisinil dari siapa? Tentang ini djawabnja kita tangguhkan sampai bagian penguntji serial kita ini. Setiap orang tahu bahwa ide Nasakom itu awalmula- nja tulisan Bung Karno, 1926, dalam ,,Suluh Indonesia Muda", berdjudul ,,Nasionalisme, Islamisme dan Marx- isme". Didalam Djarek Presiden Sukarno menegaskan:
,djustru karena saja ingin bangsaku menang, maka dulù
dan sekarangpun saja membanting tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner, — Islamkah dia, Nasionalis- kah dia, Komuniskah dia !" Lalu mendjelang keberangkat- an 'delegasi jang dipimpin. Presiden sendiri ke PBB, ter- lahirlah istilah Nasakom", kelandjutan dan sekaligus pe- njempurnaan gagasan 1926 Bung Karno. Tetapi bagaimana soal²nja menurut Juti ? Menurut dia ini Nasakom" adalah bentuk kerdjasama tiga aliran
revolusioner (tepat !), tetapi bahwa bentuk kerdjasama ini
bukan jang terpenting dan adapun jang terpenting bagi
Juti adalah ,,Nasoma" (singkatan ,,Nasionalisme, Sosialis-
me dan Agama") alias ,,orang perasan Nasakom".
Dan karena didalam Tavip Presiden Sukarno menamakan diri beliau perasan Nasakom", maka Juti lalu me-
rasa menang, merasa bahwa dengan sendjata ,,teori pera-
san" ini dia bisa meng-obrakabrik kerdjasama Nasakom
dan merusak serta membubarkannja. Padahal, tidak satu
kalipun Presiden Sukarno mengatakan bahwa Rakjat In-
Nasasos", jang hakekatnja adalah Nasakom-phobi, me- mang tarus kita akui sebagai seorang ahli dalam.. men- dingklangkan revolusi, seorang jang tidak-penuh-revolusioner... Harian-Rakjat' 26-11-64
BAGAIMANA JUTI MENGATJAUKAN KAWAN DAN LAWAN
donesia harus mendjadi perasan Nasakom"! Dan pada- hal, bahwa Bung Karno menamakan diri perasan Nasakom", ini bukan hal baru. Ditahun 1941, dalam tulisan ,Sukarno, .oleh... Sukarno sendiri", beliau menamakan diri ,tjampuran dari semua isme² itu" dan sintese dari tiga hai inilah memenuhi sajapunja dada". Juti, setelah menjebarkan ketidakpertjajaan dan ketju- rigaan umum terhadap Nasakom dengan menuiis Pak Aidit, Pak Idham dan Pak Ali, harus diselidiki lebih dulu, mungkin ada jang bukan Nasakomis" aia menjimpul- kar: djika seseorang tidak dapat mentjakup tiga kom- ponen jang terkandung dalam pribadi Bung Karno... tidak dapatlah mendjadi Sukarnois sedjati". Timbullah pertanjaan : Kalau Aidit, Idham dan Ali- pun diragukan ,kenasakomannja", lalu si a p a jang bisa ,mendjadi Sukarnois sedjati"? Juti seorang diri? Setelah kita kupas tulisan² Juti jang membelokkan dan mengaburkan adjaran² Bung Karno ini, mungkin majorı- tet terbesar Rakjat Indonesia akan berkata: ,,kalau Juti itulah Sukarnois, biarlah kami bukan-Sukarnois. .. Sekalipun Bung Karno menamakan dirinja ,,perasan Nasakom" (beliau berhak menamakan dirinja demikian, karena beliaulah pelantun gagasan Nasakom itu 38 tahun
j.l, sedang semua orang lainnja, termasuk Juti, sekaligus tidak berhak dan tidak punja sjarat untuk menamakan diri demikian!), Bung Karno tidak pernah menjaratkan Nasakom itu sebagai ,,keharusan perasan" pada diri masing² kita, melainkan menjaratkannja sebagai keharusan pe r- s at u an segenap tenaga nasional revolusioner. Didalam Tavip Bung Karno menandaskan : Achiri- lah segala phobi²an, hentikanlah djegal an dan srimpung²- an, tulislah diatas pandjimu 'Nasakom' dan sekali lagi 'Nasakom'... Unsur2 keprogresifan itu terdapatlah dise- mua lapisan masjarakat Indonesia. Ada dikalangan Aga- ma. Ada dikalangan nasionalis. Ada dikalangan sosialis- komunis... Karena itu, maka Nasakom adalah keharusan progresif daripada Revolusi Índonesia. Siapa anti-Nasakom, ia tid a k progresif! Siapa anti-Nasakom, ia se- benarnja adalah memintjangkan Revolusi, mendingklang- kan Revolusi! Siapa anti-Nasakom, ia tidak-penuh-revolusioner... !" Juti dengan segala teori²annja tentang Nasoma" dan
SALAHSATU djasa Manipol jang terutama adalah ditariknja garis demarkasi jang djelas antara kawan dan lawar revolusi. Dalam semua pedoman pelaksanaaa garis besar haluan negara, mulai Djarek sampai Tavip,
hal ini seperti benang merah mendjeludjur disekudjur
"tubuh". Bahkanpun dalam hal jang fundamentil ini Juti menge anut Sukarnoisme" jang istimewa, jaitu Sukarnoisme" jang anti-Manipol, ,,Sukarnoisme" jang anti-Sukarno ! Dalam serial tulisannja No. 31, dibawah djudul ,No medicancy but selfreliance" Juti a.l. mengemukakan dalam kesimpulannja bahwa: Untuk mentjapai tudjuan kita harus mempertjajakan kepada kekuatan sendiri. Tidak boleh minta² kepada orang² lain. Djangan lagi kepada musuh, kepada kawan sendiripun hendaknja tidak di- lakukan". Sepintas lalu nampaknja uraian Juti ini benar sesuai dengan pendirian Bung Karno. Bahwa kita harus pertjaja kepada kekuatan sendiri dalam melawan musuh² revolusi, kita harus berdiri diatas kaki kita sendiri. Tetapi djika isinja didalami sungguh² maka bertentanganlah ia dengan gagasan Nasakom serta Nefo dari Bung Karno. Bung Karno senantiasa mengemukakan betapa pen- tingnja sekutu didalam perdjuangan. Didalam perdjuangan kita harus memperbesar kawan dan memperketjil lawan. Tidak berusaha memperbanjak kawan, apalagi djika menjamakan kawan dengan lawan, achirnja barisan lawan bertambah besar dan ini adalah bunuh diri.
Juti dalam tulisannja mensenafaskan ,musuh" dengan kawan". Sama² djangan diminta bantuannja. Ia bahkan tak tahu bahwa sangat berbeda antara ,musuh" dan »kawan"! Dengan musuh tidak ada persoalan memin- ta", dengan musuh persoalannja hanja memberi", jaitu memberı pukulan²! Sedang kepada kawan tidak sadja kita harus bisa menerima, tetapi djuga harus benar² bisa memberi. Inilah rahasianja persatuan", kata Bung Karno dalam ,Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme". Mensenafaskan musuh" dan kawan" bertentangan langsung dengan hukum revolusi seperti jang dikemukakan Presiden Sukarno dalam Tavip, jaitu bahwa harus di- tarik garis-pemisah jang terang dan harus diambil sikap jang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan Revolusi." Menolak bantuan kawan, mengabaikan peranan bantuan sekutu sama dengan menganggap tidak penting ada- nja front persatuan nasional dalam menjelesaikan revolusi nasional. Seolah-olah Revolusi nasional dan demo- kratis Indonesia bisa diselesaikan oleh satu klas sadja! Bandingkanlah ini dengan sepakterdjang Bung Karno untuk mempcrsatukan semua kekuatan jang bisn diper- satukan guna menghantjurkan imperialisme dan feodalis- me! Djuga setjara internasional mengabaikan peranan sekutu berarti menolak gagasan Nefo, jaitu persatuan in-
ternasional melawan imperialis. Se-olah² perdjuangan kita berdiri sendiri sadja dan tidak mendjadi bagian dari revolusi dunia. Padahal Presiden Sukarno dengan terus- terang berkata dalam karja beliau Sarinah", bahwa ,Partai Nasional Indonesiapun, partai saja sendiri dulu, didalam bentuknja dan politiknja jang dulu, tak akan dapat mentjapai Indonesia Merdeka, oleh karena ia ter- lalu memandang perdjuangan Rakjat Indonesia itu sebagai satu perdjuangan nasional tersendiri, dan kurang memperhatikan kedudukan perdjuangan Rakjat Indonesia itu sebagai satu bagian daripada satu Revolusi Besar Internasional". Dengan melalui tulisannja Juti hendak mengembang- kan sovinisme nasional, sedang didalam ,Lahirnja Pan- tjasila" dengan djelas dikatakan bahwa ,,kebangsaan" kita ,bukan berarti satu kebangsaan jang sempit". Dengan sovinisme nasional ia hendak memetjah front persatuan nasional didalamnegeri dan hendak memetjah persatuan internasional Nefo tidakkah hebat sekali ambisi Juti 'dengan segala Berita Indonesia"nja itu ? Harian Rakjat"27-11-64
BAGAIMANA JUTI MENSABOT FRONT NASIONAL
MENGAPA kita bersikap keras terhadap tulisan² Juti? Kita sekedar mengikuti ,,djalan Juti"! Pada awal serialnja Juti membandingkan keilmiahan Sukarnoisme" dengan Marxisme-Leninisme, dan dia sendiri berpretensi untuk mengupas soal²nja ,,setjara ilmiah". Politik memang ilmu. Bung Aidit misalnja dalam mem- bitjarakan peranan ilmu selalu berkata: ilmu harus meng- abdi kepada politik jang ilmiah. Dalam politik jang ilmiah, tak mungkin ketjerobohan ini atau kesemberono- an itu, apalagi pembelokan dan penjelewengan, ditjoba di- maafkan dengan ,belum tentu semua tulisan saja benar"...
lewati masjarakat burdjuis". Tetapi sia pa burdjuasi nasional itu? Kedalamnja termasuk kaum kapitalis, wa- laupun pakai adjektit djelata", marhaen" atau murba"! Tapi kalau adjektifnja sadja murba", sedang men- djadinja kapitalis dengan menggaet kekajaan negara, dengan machinasi² birokratis, maka ia adalah kapitalis bi- rokrat jang memang harus diganjang. Bersediakah Juti ber-sama² Rakjat mengganjang mereka ini? Apa jang setjara minimum harus kita sebut ketidak- tjermatan Juti dan setjara maximum mungkin harus di- sebut pentjideraan atas adjaran" Bung Karno jang oleh Asnawi Said dikatakan ditulis setjara ber-belit²" rupanja membelit Juti sendiri... ,Harian Rakjat" 28-11-'64.
Dan karena Juti begitu suka akan perbandingan² se- djarah, baiklah Juti tak usah berketjil hati dan mengingat bagaimana Engels dulu memperlakukan Herrn Dühring dan bagaimana Lenin memperlakukan gospodin Kautsky! Dalam seri tulisannja No. 30, Dari Buku Sarinah", dinjatakan Juti bahwa "prinsip revolusioner dasarnja adalah ketjintaan dan kesetiaan pada golongan lemah". Adakah ini sesuai dengan adjaran Bung Karno ? Presiden Sukarno dalam banjak tulisannja, termasuk dalam ,Sarinah" dan jang terachir dalam Tavip menjata- kan, bahwa ... siapapun jang melawan imperialisme adalah objektif seorang revolusioner ... selama mereka melawan imperialisme, selama itu mereka adalah revolusioner". Tegas bahwa menurut Presiden Sukarno semua kekuat- an jang berdjuang melawan imperialisme, baik kaum buruh, tani, burdjuasi ketjil, maupun burdjuasi-nasional adalah revolusioner. Dengan tidak mempersoalkan apakah mereka setjara subjektif tjinta dan setia pada golongan lemah atau tidak! Kenjataannja sekarang burdjuasi nasional di Indonesia dewasa ini ikut berdjuang melawan imperialisme. Adakah mereka melawan imperialis karena tjinta dan setia" kepada golongan lemāh"? Bukankah karena tjinta dan setia kepada golongannja sendiri, klasnja sendiri jang djuga dirugikan oleh imperialsme ? Klas mereka bukan golongan lemah"! Mereka berdjuang melawan imperialisme mungkin malahan dengan tudjuan supaja dapat lebih be- bas menghisap kaum buruh dan Rakjat pekerdja lain, jang ekonominja memang lemah. Ini kalau kita bitjara perkara hal² jang subjektif tetapi soalnja adalah soal objektivitet! Djika diikuti logika Juti bahwa prinsip revolusioner itu dasarnja ,tjinta dan setia" pada golongan lemah", maka burdjuasi nasional, karena tidak revolusioner, ten- tunja harus disingkirkan dari front anti-imperialis.. Dan kalau ini terdjadi, maka berlangsunglah sabotase jang litjik terhadap front nasional! Ataukah Juti menginginkan bahwa burdjuasi nasional harus disamakan dengan imperialis dan karena itu harus diganjang? Kita rasanja berhak mengadjukan pertanjaan ini karena Juti mau langsung kesosialisme", tanpa me-
BAGAIMANA JUTI MENJUNGLAP DIALEKTIKA
ADA sebuah pepatah Italia : kalau tak bisa memasuk- kan babi kelobang dari kepalanja, masukkan ia dari pan- tatnja. Ini bukan dialektika — ini pragmatisime murni! Djuga dialektika" diartikan setjara seenaknja sadja oleh Juti. Dia memberikan batasan jang terpisah sama- sekali dari h u k u m ² objektif dialektika. Inilah tulisannja dalam arikelnja Bagaimana setjara dialektis itu ?": Setjara dialektis ialah setjara serba-terhubung satu sama lain, pengaruh-mempengaruhi dan tentu-menentukan, di- namis dan bergerak me-ningkat²". Seperti biasa tentu Juti mulai dengan tatabasaha, bahwa asal dialektika itu dari bahasa Junani, bahwa ada dialektika klasik" dan dialektika modern", bahwa jang pertama berarti ,menindjau sesuatu persoalan dari be- berapa sudut", dan bahwa jang ,,modern" berarti ,,me- nambah tjara berfikir klasik tadi dengan hukum perkem- bangan ditindjau dari pengertian dialektika tadi" Tidakkah fantastis semua ini? Terhadap dialektika idealis jang berdiri-diatas-kepala (setjara kiasan maupun
harfiah) itu, Marx dan Engels telah mendjungkirbalik- kannja, tetapi menurut Juti soalnja hanja menambah" jang lama. .. Kekisruhan Juti tidak berhenti disini. Apa itu dialektika modern"? Menurut Juti: ini adalah dalektika Hegel dan Marx". Ja, olehnja disenafaskannja jang dua ini: raksasa idealisme dan raksasa materialisme ini! Barangkali Juti tak pernah mendengar kata² Lenin bahwa Marx telah menjelamatkan dialektika" dari idealisme dan kata² Marx sendiri bahwa dialektikanja bukan sadja berlainan, melainkan ,lawan langsung" metode Hegel ? Djuga disini kekisruhan Juti belum berachir. Mari kita ikuti lagi apa jang ditulis siarifbidjaksana ini: Dialektika itu sebenarnja adalah suatu metode berfikir, suatu tjara untuk mendekati (mengapproach) gedjala2 alam". Inilah idealisme dari kaki sampai keuban! Marx me- lakukan extraksi" dan abstraksi" dialektika itu d a r i alam, tetapi Juti m u l a i dari ,dialektika" dan mau me- maksakannja k e p a d a alam, untuk mendekati"nja. .. Djadi: menjamakan dialektika modern dengan jang lama, menjamakan pula Marx dengan Hegel. Rupanja filsafat serba sama" inilah jang memberi kejakinan pada diri Juti bahwa isme"nja (jang oleh ,Bintang Timur" di- sebut Jutiisme") ,,sama" dengan Sukarnoisme"... Tak usah kita terangkan lagi bahwa orang takkan tahu ABC-nja dialektika apabila orang tak kenal akan hukum² dialektika, jang disimpulkan Engels dalam 3 hukum : pe- rubahan kwantitet kekwalitet, interpenetrasi, dan negasi daripada negasi. Kemudian Juti djuga mengadjukan definisinja tentang manusia : ,Manusia adalah pribadi Kromodongso murni (Das Uebelch) jang mengenal hakekat pribadinja, jaitu kemanusiaan dan perikemanusiaan, dan jang memiliki kekuatan terpendam untuk setjara dialektis mengolah dan mengembangkan pribadinja tadi, supaja mendjadi manusia sedjati, guna melahirkan matjam² kemadjuan jang sangat diperlukan bagi kesedjahteraan hidup lahir batin, serta jang memikul pertanggungan djawab segala kar- manja, terhadap lain² Kromodongso, terhadap pentjipta- nja, dan djuga terhadap pribadinja sendiri". Dari definisinja jang ber-belit2 sesungguhnja tertjermnán
pandangan Juti jang bertentangan langsung dengan materialisme historis jang diterima oleh Bung Karno. Juti selaiu menondjolkan apa jang ia namakan pribadi manusia dengan kekuatan terpendamnja", tipikal pandangan sedjarah idealis jang menganggap pahlawan2" dan ,manusia² istimewa" sebagai pentjipta sedjarah. Sedang- kan Marxisme mengadjarkan Rakjat pekerdjalah pentjipta sedjarah jang sesungguhnja. Bung Karno pun selalu menjatakan, bahwa tanpa Rakjat beliau bukan apa². Idealisme Juti adalah idealisme subjektif. Ini tertjermin dalam definisinja tentang manusia jang sangat menekankan pada ,aku", ,bakat", potensi", ,kekuatan terpendam", ",Kromodongso murni". Juti menekankan dalam definisinja tentang manusia pada pengenalannja" terhadap ,,hakekat pribadi"nja se- hinggu djika ada manusia jang tidak mengenal nakekat pribadinja maka ia bukan manusia lagi... Definisi Juti tentang manusia bahkan menggambarkan se-olah² manusia bisa ada tanpa adanja masjarakat ! Harian Rakjat" 30-11-’64.
JUTI MINTA ,,DIGANTUNG"?
KETIKA kita tundjukkan watak reaksioner ,BPS" dari kenjataan bahwa penjokong² pertama dari apa jang dise- but Sukarnoisme" adalah Soksi" dan HMI, koran² ,,BPS" naik pitam. Tetapi sekarang. .. Lagi" Juti sendiri jang memberikan pembenarannja. Setelah dia berbitjara didepan Soksi", dia menurut ,BI" semalam berbitjara didepan HMI. Kata pepatah Belanda soort zoekt soort" (djenis mentjari djenis), bukan? Dalam tjeramahnja itu Juti mengatakan bahwa ,semua golongan sudah menerima adjaran² Bung Karno, ,,tapi ketika dinamakan Sukarnoisme, lalu ada jang rame²". Ini sama dengan argumentasi" BI" jang berkata kenapa tulisan serial Juti sudah 5 bulan dibiarkan, kenapa 5 bulan kemudian baru ada jang menentangnja Menurut pan-
tun kuno: Sudah gaharu, tjendana pula! Kitapun berhak bertanja : kenapa 5 bulan lamanja tuan2 tidur, dan baru 5 bulan kemudian ribut² bikin BPS"?! Soalnja b uk a n soal ideologi atau filsafat — soalnja soal politik praktis, politik anti-komunis dan anti-Nasakom! Lalu Juti memberi keterangan kenapa dia menuliskan tulisan²nja: ,,karena banjak jang mempunjai tafsiran sendiri² terhadap adjaran Bung Karno". Amboi, bukankah keadaan sesungguhnja sebaliknja ? Bukankah majoritet Rakjat Indonesia memahamkan adjaran² Bung Karno se- bagaimana adanja, termasuk kaum Komunis, dan bukankah hanja minoritet reaksioner jang berhimpun didalam BPS" jang punja tafsiran sendiri, jaitu tafsiran ke-juti²- an ? ,,Bahkan ada jang senang men-tjukila adjaran Bung Karno," kata Juti kemudian. Amboi, siapakah jang selalu memakai istilah tjetusan"? Bung Karno selalu berpesan "djangan ambil abunja, ambil apinja", tapi mengenai adjaran² Bung Karno sendiri Juti rupanja t a k m a u ambil abunja dan t ak bisa ambil apinja. Djadi? Dia tjuma menangkap peletik²nja, ,tjetusan”nja... Kenapa Juti menamakannja Sukarnoisme"? Inilah pendjelasan Juti : ,,Menganut adjaran Bung Karno dengan nama suatu isme jang lain, masih bisa njeleweng2". Amboi, sedarkah Juti bahwa jang dia serang dengan ini bukan lagi orang lain, melainkan... Presiden Sukarno sendiri, tak kurang dan tak lebih? PNI menamakannja Marhaenisme" dus masih bisa njeleweng² ! Partindo menamakannja ,Marxisme-Sukarnoisme", dus masih bisa njeleweng2 ! Dan aduhai, Bung Karno sendiri menamakannja b u k a n ,Sukarnoisme'" melainkan ,,Marhaenisme", dus... Bung Karno masih bisa njeleweng²! Lalu perhatikanlah kegagahan Juti ini: ,,kalau kita se- ngadja hendak mengelirukan adjaran tsb, kita bisa setiap saat ditundjuk disalahkan, bahkan digantung, karena Bung Karno sekarang masih ada dan berkuasa". Amboi, Juti jang begitu djagoan dan sudah katam, tamat dan hafal Sukarnoisme" rupanja tak tahu bahwa Bung Karno (se- perti a.1. dinjatakannja pada pertjobaan kudeta 17 Okto- ber) ta k m a u djadi diktator? Tidak, Bung Karno se- kalipun punja wewenang sebesar apapun takkan pernah menggantung Juti. Hanja sadja, dengan gerakan BPS"nja
sekarang ini Juti dan BI" dan segenap kliknja hanja memasang djerat dileher sendiri... Teori" Juti tentang Nasoma" dan nonsense lainnja akan kita kupas lagi agak lebih luas lusa. Sementara ini baik kita tjatat apa jang ditulisnja tentang Bung Karno dan Marxisme. Marxisme menurut Juti ,,digunakan Bung Karno dalam bentuk pure science dan bukan applied science". Pure nonsense, indeed ! Juti dengan pernjataannja ini hendak mensutjikan Marxisme, membakarinja kemenjan, dan mengubahnja mendjadi ,ilmu"nja sendiri: ilmu klenik! Sebab, a p a pendjelasan Bung Karno sendiri? Seperempat abad j.I. Bung Karno sudah menegaskan bahwa Marxisme ,,adalah satu²nja teori jang saja anggap kompetent buat (spasi dari kita, HR) m e m et j a h k an soal² sedjarah, soal² politik, soal² kemasjarakatan". Mustahil bukan bahwa seorang Juti tak tahu arti memetjahkan" ? Kalaupun tidak dalam arti teori, dalam arti (hobby Juti) tatabahasapun kata ini toh tak mungkin disalahartikan ? Harian Rakjat" 1-12-'64.
NASAKOM BUNG KARNO DITJOBA DITAN-DINGI ANTIKOM ,,BPS"
· BERSITEGANG adalah pula watak Juti. Demikianpun BPS", Soksi", HMI". Watak ini tak asing bagi kita. Kalau tak karena d i b u b ar k an, mana Masjumi-PSI akan pernah bubar! Djuga Liga Demokrasi", djuga Manikebu"! Dalam tjeramahnja didepan ,HMI" Juti bersitegang pada ,,teori"nja : ,,Kalau ada golongan jang hanja menerima ideologi Nasoma (Pantjasila), tetapi menolak ker- djasama Nasakom... maka golongan itu bukan pengikut adjaran Bung Karno. Demikian pula kalau ada jang mau bekerdja sama Nasakom, tetapi hanja menerima Pantjasila sebagai alat pemersatu tok. Golongan itu djuga bukan pengikut adjaran Bung Karno".
Kita tak mempersoalkan berhak-tidaknja BI" setjara juridis mempermasalahkan Pantjasila (kendati Bintang Ti- mur" pernab dibreidel hanja karena menjinggung Pantjasila), tetapi teori²an Juti tentang Nasoma" jang tak ada bau²nja adjaran Bung Karno ini begitu disenangi mereka rupanja, sehingga kitapun senang melajaninja. Per t a m a, mengapa Juti mengetengahkan rumus- an, Nasoma". Diatas se-gala nja untuk m e n g h i n d a r i istilah ,Kom", karena menentangnja terang an tak mung- kin lagi (kaum soska pernah mendesas-desuskan ,Nasä- sos"). Djangankan membitjarakan hariini atau hariesok, bahkan membitjarakan zaman baheula Juti menjunglap Kom" mendjadi Sos"! ini djelas dari tulisan serialnja jang terbaru (baru seri ke-72 !) jang muia menebut zaman-mula itu ,,Komunisme purba", Konunsme primitif", Komunisme ashi" lalu kemudian memodulisasinja mendjadi ,,masjarakat sosialis/komunis jang masih primu- tif" (ini batu lontjatan untuk menudju ke ... nopla) achirnja mendjadi masjarakat ,sosialisme primitif". Ja, buang segala istilah Komunis, tukar ia dengan istilah ,,Sosialis", biar tidak-populer Komunisme biar kabur Nasakom, dan biar hidup... Komunisto-phobi atau anti-Komunisme alias Antikom, bukan begitu mBah Sodrono, maaf bung Juti ? K e d u a, setelah menghindari istilah Nasakom, tudju- an Juti dan segala BPS", Soksi" dan HMI"nja acalah untuk m e n g h in d ar k an kerdjasama Nasakom itu sendiri! Bolakbalik Juti mengatakan bahwa Nasakom itu hanja bentuk kerdjasama" dan bahwa jang terpenting, teriebat dan terdahsjat adalah ,Nasoma", kareņa ını ada- lan ideologi". Tetapi ideologi adalah expresi terkonsen- trası dari kepentingan sesuatu klas maka bertanjälah kita : k l a s a p a jang diwakili oleh ideologi Nasoma" itu ? Juti selalu merasa menang, karena Bung Karno di- dalam Tavip menjebut diri perasan Nasakot Padahal, bahwa bung Karno menganggap dirinja demıktat., ını bukan hal baru, dan beliau tak per n a h mengandjur- kannja bagi oranglain ! Oranglain, dalam pendapat kita, bahkan tidak berhak dan tidak punja sjarat untuk me- namakan dirinja demikian. Dalam pidatonja ketika me- lantik menteri² baru, 14 Septembcr 1964, Presiden Su- karno berkata:
REALISME、 BUNG KARNO KONTRA MISTIK JUTI Sajapunja rahasia jalah, saja bisa ngrangkul, bekerdja- sama dengan semua tenaga2 revolusioner. Sajalah, misal- nja, jang dapat gieten prinsip Nasakom, Nas-A-Kom... Saja adaiah Nas, adalah A, adalah Kom .. Nah, saja min- ta kepada sdr2, saja andjurkan kepada sdr² dalam sdr² men- djalankan sdr² punja kewadjiban ... supaja sdr-pun bisa bertindak, bersikap, berlaku demikian itu, ngrangkul semua tenaga² revolusioner, ngrangkul, mempergunakan segenap tenaga² jang ada didalam Revolusi kita ini".
Bisakah Juti dan segala BPS", Soksi" dan HMI"-
nja membatia permintaan, andjuran Presiden Sukarno ini dengan tidak keliru atau tidak dikelirukan ? Sjarat jang di- letakkan Presiden Sukarno bagi kita sekalian adalah b u-k a n supaja mendjadi perasan Nasakom", melainkan supaja bisa ngrangkul semua tenaga² revolusioner". Ja, kalau Tavip menjerukan Tulislah diatas pandjimu Nasakom dan sekali lagi Nasakom", maka mulai hari ini mari kita segenap kaum revolusioner serukan ber-sama² ,Enjahkan dari pandjimu 'Nasoma' dan sekali lagi enjahkan 'Nasoma'." Kepintaran Juti adalah jang dalam bahasa Djawa di- sebut : pinter keblinger. Perhatikanlah logika"nja jang berantakan ini: mcnurut dia setudju kerdjasama Nasakom harus Nasoma, dan Nasoma harus setudju kerdjasama Nasakom. Tapi, tuan Juti, kalau sudah djadi Nasoma" semua kepala-somah dan isi-somah, s i a p a lagi jang harus di-,,kerdjasama Nasakom"kan! Dus, untuk berterus- terang — maksud kalian adalah menghindarkan Nasakom, ja, menghapuskan Nasakom, membunuh Nasakom, djadi mensabot habis²an adjarana Bung Karno. Kita akan tetap mati²an membela azas Nasakom dan dengan demikian membela adjaran² Bung Karno, dan kita akan terus mela- wan ,BPS" dengan Sukarnoisme"-nja jang palsu karena soalnja soal hidup-matinja adjaran² Bung Karno. Seperti di-katakan Shakespeare: "To be, or not to be: that is the question"! Harian Rakjat" 3-12-'64.
LAGI² Juti membikin pertanggungdjawaban atas djudul tulisan²nja dan mengapa djudulnja dibikin matjam²" (baik para ahli tatabahasa memperhatikan hal ini: ma tjam2" dan bukan ber-matjam2" !) dikatakannja ,Hanja supaja tiada mendjemukan". Apakah disini bukan bawah- sadar jang berbitjara jang beranggapan mempeladjari adjaran2 Bung Karno itu bisa ,mendjemukan"? Tapi jah, soalnja tak akan mendjemukan, djika jang dipeladjari adjaran Bung Karno, tetapi. kalau jang harus ditelan dan ditjernakan tulisan² Juti. .. memang lain perkara! Juti dalam serialnja No. 34, dibawah djudul Djiwa Penggali dan Pentjipta" telah ,menguraikan" bagaimana tjaranja Bung Karno mendapat ,ilham" untuk mentjiptakan karjanja, ,Pantiasila". Dikatakan Juti bahwa malam mendjelang 1 Djunı 1945 itu Bung Karno terlebih dulu ,bertafakur". Juti dengan begitu hendak membajangkan bahwa Bung Karno dalam menjiapkan pidato Lahirnja Pantja Sila" tidaklah aktif meneliti tentang keadaan nasion Indonesia: jang terdiri dari banjak sukubangsa.. berbagai aliran politik... berbagai matjam kejakinan agama dsh" tetapi hanja setjara pasif ,mengharapkan" datangnja ,ilham". Padahal Bung Karno dengan pisait Marxisme telah menganalisa keadaan masjarakat Indonesia, dimana dida- lamnja terdapat perbedaan", telapi satu djua" (Bhineka Tunggal Ika). Karena adanja perbedaan² itulah maka di- perlukan alat untuk mempersatukannja dan alat pemer- satu itu jang dapat didjadikan dasar negara. Ini adalah sesuai dengan apa jang dikatakan Bung Karno dalam tulisannja Mendjadi Pembantu Pemandangan", bahwa Marxisme itu satu²nja teor jang.. kompetent buat memetjahkan soal² sedjarah, soal politik, soal² ke- masjarakatan" (Dibawah Bendera Revolusi, hal. 510-
511). Tentang aktifnja Bung Karno untuk mentjiptakan karjanja Pantjasila" itu dapat dilihat dari Amanat beliau pada resepsi pembukaan Kongres ke-X PNI di Purwoker-
to. Presiden Sukarno dengan tegas menjatakan: Saja gali, gali, gali... terdapatlah lima mutiara jang amat indah dan lima mutiara itu adalah Pantjasila, jang kemudian saja persembahkan kembali kepada Rakjat Indonesia", (Penerbitan Chusus Deppen RI No. 282, hal. 7). Inilah realisme Bung Karno. Bung Karno dapat mengenal ini dan sifat masjarakat Indonesia dan berdasarkan pengenalannja itu menentukan djalan jang harus ditempuh, sesuai pemetjahan menurut metode Marxis. Ini djugalah sebabnja maka Presiden Sukarno senantiasa meng-andjur²kan agar orang baladjar Marxisme untuk mengenal kondisi² Indonesia, situasi Indonesia, problim² Indonesia untuk memetjahkannja. Juti mentjoba memistikkan" hasil karja Bung Karno, tetapi mana usaha begini akan berhasil ! Lebih dari itu: Juti djuga mentjoba memistikkan perkembangan sedjarah, seperti terbukti dari dua tulisannja jang terachir (No. 72 dan 73). Tentang ini kita tulis besok. Harian Rakjat"4-12-'64.
terdjadi tanpa melalui kesadaran manusia". Saudara tidak kagum akan pemvulgeran Juti atas Marxisme ini? Kita sudah tak bisa kagum lagi! Kita sudah terbiasa memba- tja pemvulgeran jang demikian, tetapi bukan dari seseorang jang memakai merk ,,murid baik Sukarno", melain- kan dari siaran² (maaf, para pembatja) Sendenbu, RVD dan USIS! Entahlah kalau Juti pernah sempat memungut tjara² baru, sinar baru" dalam propaganda antikom seperti dizaman pendudukan Djepang... Kalau Juti ber- sungguh² dan tidak bermaksud berseloro, kita undang be- liau untuk menundjukkan dimana dan kapan Marx dan Engels ataupun kaum Marxis umumnja berpendirian me- remehkan kesedaran manusia itu! Kata Juti kemudian: perkembangan masjarakat itu djika menurut analisa historis materialisme... terdjadi sebagai akibat dari penemuan alat² produksi baru", tetapi (dan inilah pendirian Juti jang sesungguhnja) ,analisanja menurut kodrat hidup manusia... mengapa masjarakat sosialis primitif jang begitu bagus berkembang mendjadi masjarakat perbudakan jang begitu djelek... karena jang mendapat kesempatan berkembang lebih banjak pada
waktu itu adalah bakat kebinatangan. .."
Lalu dalam serial tulisannja No. 73, ,,Berontaknja rasa peri-kemanusiaan", diperikanlah oleh Juti. peri peri-kemanusiaan dan peri-kebinatangan itu, begitu meng- asjikannja, sehingga tak terperikan lagi... Tapi baiklah kita dengarkan agak sedikit: ,Ada kalanja bakat kebinatangan jang unggul, dan ada kalanja bakat kemanusiaan jang unggul".. Baik penguasaannja didalam kehidupan masjarakat, maupun penguasaannja didalam kehidupan manusia seseorang". Jang tidak diterangkan Juti adalah berapa prosen pada tiap² ketika peri-kemanusiaan atau peri-kebinatangan itu berkuasa, berapa prosen pada diri masing? orang dan berapa prosen dalam kehidupan masjarakat, berapa prosen di-tiap² negeri dan berapa prosen diseluruh dunia, maka peri tentang bakat dan nafsu dan peri² itu menentukan djalan sedjarah! Djuga tidak diterangkannja, mengapa wong sama² peri-kebinatangannja jang berkuasa kok ma- sjarakatnja sekali tempo bisa perbudakan", sekali tempo feodalisme" dan sekali tempo lagi kapitaiene"i Se- dang apa jang diterangkan Bung Karno? Dalam seri
MATERIALISME HISTORIS DILAWAN JÚTI DENGAN .,TEORI NAFSU"
BAHWA Bung Karno menganut materialisme historis, tak perlu ini didjelaskan lagi. Djika benar Juti seperti di-
lukiskan BI" seorang murid baik" Bung Karnb, tentu
tak mungkin Juti tak menganut, apalagi menolak materialisme historis. Tapi apa kenjataannja? Dalam serial tulisannja No. 72, Dari Komunisme purba sampai Komunisme modern" Juti menerima pem- babakan zaman mendjadi 5 : ,zaman komunisme purba",
zaman perbudakan", zaman feodal, zaman burdjus
dan masjarakat sosialis dan komunis modern". Bagai- mana Juti menerangkan perubahan dari satu zaman ke- zaman lain ini? Kita dengarkanlah apa jang dikatakannja : Djika me-
nurut analisa historis materialisme, jang demikian tadi
kursus Tjamkan Pantjasila", djustru ketika mendjelas- kan sila Ketuhanan jang maha esa" Bung Karno mene- rangkan : Alam pikiran manusia disegala djaman itu di- pengaruhi oleh tjara hidupnja, oleh tjara ia mentjari ma- kan dan minum". Djadi dimana memper²nja tulisan² Juti dengan adjaran² Bung Karno ? Dimana mirip nja ? Dimana bau²nja ? Harian Rakjat" 5-12-'64.
DARI PENDJARA KEPENDJARA" JUTI
PEMBAKTlAN hidup menurut kodratnja" adalah djudul tulisan Juti jang paling belakangan (tentu belum jang terachir). Tetapi apa isinja? Para pembatja tak usah- lah terperandjat : kalau menurut Bung Karno seorang historis materialis itu seorang jang tahu diapunja historische taak" dan maka itu ,dedikasi"nja tertjurah kepada his- tórische taak" itu, maka menurut Juti seorang historis materialis itu lebih rendah daripada... seekor ajam betina! Kita tidak meng-ada² : itulah jang ditulis Juti 5 Desem- ber kemarindulu. Dalam tulisannja itu Juti — rupanja sudah djadi kesukaannja — banjak berbitjara tentang dirinja sendiri. Bahwa dia pernah masuk pendjara di- zaman pendjadjahan", bahwa ini ber-kali2, tidak hanja satu kali sadja", bahwa pengembaraan dari pendjara kependjara" itu mengalami pendjara jang dikuasai oleh pendiadjah Belanda... Inggeris.. Diepang", bahwa di- sana dia merenungkan.. pengalaman sendiri" (Juti diatas se-gala²nja merenungkan dirinjà sendiri, b u k a n misalnıs nasib Rakjatnja atau adjaran" Bung Karno, dan Juti hanja bertjerita tentang pernah masuk pendjara ini pendiara itu, tapi tidak mentjeritakan b a g a i m a o a sikapnia dipendjara, misalnja setelah keluar pendjara Djepang apa polahnja disisa zaman Djepang itu) dan bah- wà mempeladjari pengalaman/pengamatan sendiri" itu lantas ditiotjokkan dengan adjaran2 Bung Karno" Kita banja ingin nompang tanja dari sudut tatabahasa : apakah ditjotjokkan" itu dalam arti disamakan" ataukah di- 自
tusukkan"? Nah, jang terpenting sekarang a p a hasil perenungan Juti dari pendjara kependjara itu ? Juti ber-tanja² meng- apa banjak orang suka membaktikan hidupnja ttasekali kepada masjarakat dan perikemanusiaan". Dengan historis materialisme... djalan fikiran malah tjenderung me- nudju kearah jang agak sebaliknja", kata juti kemudian. Tjenderung kemana? Inilah menurut Juti ketjenderung- an pengertian, bahwa tiap hidup itu per-tama² memikir- kan/berdjuang untuk kepentingan sendiri terlebih dulu"... Lalu kata sifilosof jang luarbiasa itu, mas Juti : Dan setiap orang tentu sudah menjaksikan, bahwa ajam betina jang sedang mengasuh anak²nja, bersedia membaktikan hidup untuk keselamatan anaknja itu"! Juti memang punja teori" jang istimewa : historis materialis hanjalah untuk kepentingan sendiri terlebih dulu". Agama ? Menurut Juti ada jang setiap kali me-njebut nama Tuhan, tetapi perbuatannja se-hari² hanja memikir- kan kepentingan diri sendiri sadja". Djadi ? Marxisme mesti ditambah" dengan agama. Dua hal jang djelek di- gabungkan mendjadilah satu kebaikan? Two wrongs make one right ? Tidakkah sederhana rumusan Juti ini? Mung- kin Juti menarik kesimpulan ini dari praktek bahwa oranga PKI jang tak beragama ternjata memperkaja diri dan bahwa murba2" jang menambahkan" agama pada Marxisme" ternjata tidak memperkaja diri.? Prof. J.B. Haldane pernah mengatakan bahwa kaum materialis historis itu ternjata ,lebih idealis daripada kaum idealis". Karena setiap orang tahu bahwa historis mate- fialisme adalah suatu pengertian filsafat, sedang dalam pengertian achlak, moral, kaum ini djustru jang termasuk
paling idealis", jang termasuk paling besar dedikasi"
nja. Bung Karnopun sudah pernah memperingatkan djangan dua pengertian ini di-tukar2. Dua faham ini", kata beliau dalam tulisan terkenal beliau ,,Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme", oleli musuh²nja Marxisme di Eropah, ter- utama kaum geredja, senantiasa di-tukar-lah, dan senantiasa dikelirukan satu sama lain. Dalam propagandanja anti-Marxisme, mereka tak ber-henti" mengusahakan ke- keliruan faham itu.,. tak ber-henti mereka menamakan kaum Marxis suatu kaum jang menjembah benda, suatı
kaum jang ber-Tuhankan materi...". Ini ditulis Bung Karno ditahun 1926. Rupanja kema- djuan" kaum anti-Marxis selama 38 tahun ini adalah bahwa mereka sudah sampai kepada puntjak menanakan kaum historis materialis itu lebih rendah kodrat"nja dari-pada. .. ajam betina! Tidakkah sudah terlampaui propa- ganda Sendenbu disini? Tapi apa mau dikata : Juti mengakui sendiri dia tju- ma mcmakai ,,sedikit pengetahuannja tentang historis ma- terialisme, dan sedikit tentang Darwinisme... djuga dengan adjaran² agama... jang djuga se-dikit² pernah (Juti)
peladjari... " Sedikit ... njelekit. Tapi biarlah kitatetap
mendjaga diri djangan merosot ikut²an membandingkan BPS", Soksi, ,,HMI" dan sebangsanja dengan binatang, betina maupun djantan, dan biarlah tentang tempat ,,BPS", Soksi" maupun ,HM1" didunia fana ini kita serahkan kepada Rakjat dan diachirat nanti kita serahkan sepenuhnja kepada Malaikat Nungkar wa Nangkir... Harian Rakjat" 7-12-’64.
0 keradjaan Prusia adalah suatu kenjataan apakah Feuerbach menerimanja ? Sekarang Juti mengatakan bahwa sedjarah adalah,, perkembangan kenjataan", tanpa sesuatu hukumpun. Setiap kenjataan? Dan berkembang bagaimanapun dan kearah manapun ? Kalau suatu waktu Kabinet Ali Sastroamidjojo digantikan oleh suatu kabinet Burhanuddin Haharap suatu perkembangan kenjataan"! maka menurut Juti ini adalah sedjarah", dan barangkali inilah ,sedjarah"... Harian Rakjat" ketika kabinet-badut itu berdiri, menu- lis bahwa ia takkan berumur pandjang, karena ia anti-historis", berlawanan dengan arus-pokok sedjarah, dengan hukum sedjarah. Tapi kita bisa berbuat apa : Juti punja ,,teori" tersendiri. Ketika ,Liga Demokrasi" berdiri, sebagai perkembangan kenjataan" tentulah ia itu sedjarah". Begitupun ketika Manikebu" berdiri. Begitupun ketika baru² ini orang bikin klub reaksioner ,BPS". Untunglah hukum sedjarah tak bisa ditiadakan, atau menurut kata Bung Karno tak bisa dibunuh", maka h u k u m itupun selalu menang atas ,,kenjataan" Juti, selalu mengatjau-balaukan, mengatasi dan mengalahkan kenjataan" Juti. Tenslotte beslist de mens", kata Bung Karno selalu. Ini serasi dengan adjaran Marxis bahwa sesungguhnja ma- ausia itu membuat sedjarahnja sendiri. Baik Bung Karno maupun Marx berbitjara djustru mengenai sedjarah, dan bukan tambo seorang-seorang". Dalam Manipolpun di- tegaskan, bahwa sekalipun djawaban atas persoalan² pokok revolusi sudah tersedia, ,,tetapi realisasinja sangat tergantung pada orang? jang diberi tugas untuk melaksa- nakannja". Tapi apa kata Juti? Menurut tafsiran dia ,bukan manusia jang membikin sedjarah". Lalu ditambah- kannja : ,masing individu memang djuga membikin sedjarah, jakni sedjarahnja sendiri. Bukan membikin sedjarah masjarakat". Ini bukan kekeliruan, bukan kesalahan, tju- ma... terdjungkirbalik! Dalam arti tertentu masing2 individu" itu djustru tid ak membikin sedjarahnja sendiri", karena ia tergantung pada hukum perkembangan masjarakat. Sebalik- nja, dalam artian sljarah manusia itu tidak seperti jang dilukiskan Juti hanjalah merupakan alat", melainkan
",ANTI-HISTORISME" JUTI
KALAU mau berenang dilautan, orang harus tahu hukumnja laut! Orang bisa bunuh diri dengan menentang hukumnja laut, tetapi orang tidak bisa membunuh hukumnja laut ! Orang tak bisa membunuh hukum Sedjarah, orang tak bisa membunuh hukum Revolusi!", demikian kata Bung Karno dengan baiknja didalam Tavip, Tetapi apa dongeng Juti didalam tulisannja Mengikuti djalan sedjarah"? Juti tidak menghilangkan terlalu banjak dari pendapat Bung Karno. Dia ,,hanja" menghilangkan djustru h u- kum sedjarah itu! Kita batjalah tjerrat2 apa jang ditulisnja: Sedjarah tidak lain adalah perkembangan kenjataan itu pula, perkembangan kenjataan didalam masjarakat". 6 Ketika suatu peristiwa Feuerbach menjatakan dia bisa menerina setiap kenjataan, Engels menundjukkan bahwa
aktif mendjadi perombaknja. Juti lagi² mentjoba menje- lundupkan salahtafsir, untuk menjesatkan orang dan untuk membikin orang pertjaja se-akan² menurut materialisme historis tak ada peranan kesedaran subjektif. Dan per- tjobaan memfitnah materialisme historis ini dilakukan dengan taraf ilmiah jang bukan main tingginja, inilah katanja : ,Djika hendak dinjatakan 'manusia membikın sedjarah' djuga boleh, tetapi... membikinnja tadi bukannja dengan kesedaran". Untuk mendjadi dungu dan tak faham apapun tentang materialisme historis memang bisa tak sedar, tapi untuk memfitnah materialisme historis, ini hanja bisa dilakukan d en g a n sedar! Ataukah Juti barangkali bewust... •bewusteloos ? Lalu katanja pula : Manusia (orang-seorang) adalah alat sedjarah. Sudah barang tentu alat itu ada jang baik dan ada jang tidak baik. Jang baik adalah jang revolusioner, jang tidak baik adalah jang kontra-revolusioner !". Lihatlah eklektisisme ini: jang revolusioner ja alat sedjarah", jang kontra-revolusioner djuga alat sedjarah". Kesimpulannja? Sedjarah itu bisa revolusioner, bisa djuga kontra-revolusioner... Opo ora hebat?! Harian Rakjat" 8-12-'64.
JUTI MENOLAK BUNG KARNO PRESIDEN SEUMUR HIDUP
Dan klub reaksioner BPS" boleh menghibur diri dengan kenjataan bahwa perkeinbangan dialektis ini terdjadi ber- kat pokal BPS" sendiri! Di Surabaja terdjadi heboh karena Sukarni Kartodiwirjo menjatakan sesuatu jang djelas bernada anti-Sukarno. Ada golougan naif jang terperandjat oleh kenjataan ini, tetapi barangsiapa mengikuti perkembangan politik di- tanahair kita seperempat abad terachir ini, terutama sedjak 1945 hingga sekarang dengan tjermat, tak ada jang meng- herankan dari kenjataan tsb. Melalui Berita Indonesia" pagi kemarin Sukarni telah mentjoba memberikan bantahan, tetapi bantahan itu sangat lemah dan samasekali tidak mejakinkan. Soalnja tak bisa dinilai sebagai sesuatu jang berdiri sendiri, jang lepas dari fakta dan peristiwa² lain- nja. Fakta baru jang sekarang tak terbantah oleh siapa- pun adalah, bahwa baik Sajuti Melik maupun Sukarni Kartodiwirjo dibela mati²an oleh ,Berita Indonesia". Dan kalaupun orang masih me-nimbang" apakah keputusan Komisi Politik Musjawarah Daerah Angkatan '45 Djatim dan Trompet Masjarakat" serta Djawa Timur" jang benar ataukah Sukarni dan BI", tetapi orang takkan bisa membantah kenjataan bahwa di BI" djuga Juti sekali peristiwa menulis dengan se-djelas²nja m e n ol a k pe- netapan Bung Karno oleh MPRS sebagai Presiden seumur hidup. Apakah fakta ini akan ditjoba dibantah oleh BI"? Apakah tak tjukup kesopanan politik pada kaum klub ,BPS" itu untuk mengakui tulisan Juti ini dan apakah kita akan terpaksa harus memuat reproduksi dari dari tulisan Juti jang menolak Bung Karno itu ? Pendjelasan" Sukarni kepada BI" jang mengutip Manipol bahwa autoriteit tertinggi ini bukan orang, bukan Presiden, bukan Pemerintah, bukan dewan" djustru mémbuktikan bahwa h a k e k a t n j a dia bertahan pada sikapnja jang anti-Sukarno. Lalu versinja atas pi- lato-Surabajanja jang berbunji Pimpinan sekarang diper- onifikasikan pada Bung Karno" dan pimpinan dari revolusi adalah mendjuruskan kearah satu djurusan, jaitu tätu idee jang diamanatkan oleh Rakjat" membuktikan rekatjaubalauan fikirzn jang lebih² lagi. Kenapa spesial dia tekankan pimpiuan ,sekarang"? Dan kalimatnja bahwa ,pimpinan dari revolusi adalah mendjuruskan ke- rah.. ." hanja membuktikan, bahwa disamping meno-
KINI tuntutan² datang dari mana² agar ,BPS", b a- dap penjerimpung Sukarno itu "dibubarkan. Kaum Nasionalis revolusioner, kaum Agama revolusioner maupun kaum Komunis menuntut hal tsb. Watak anti-Nasakom, anti-Komunis, anti-Rakjat dan terutama anti-Sukarno dari BPS" kian hari kian njata. Adjaran" Bung Karno jang sesungguhnja, jang mudah dapat dibatja, di- peladjari, ditelaah dan diendapkan dari tulisan² dan pi- dato² beliau sendiri, kini makin terang dan djelas. Dialek- tika sedjarah telah memenuhi kewadjibannja : sekaligus di- tjapai dua hal — kian djelasnja adjaran Bung Karno sebagai sesuatu jang pr og re sif dan@kian djelasnja ,Su- karnoisme BPS" sebagai sesuatu jang re a ksioner.
BUNG KARNO .,PUNTODEWO"? lak Sukarno diapun ternjata menolak Amanat Penderita- an Rakjat se-akanº kita sekarang belu m dipimpin oleh Ampera, se-akan² kita baru mendjurus" kearah "idee jang diamanatkan Rakjat"! Singkatkata, baik dari heboh di Surabaja maupun dari tulisan Jufi djelas penolakan kiub BPS" &Co terhadap diri Sukarno. Dulu atasnama demokrasi" menolak demokrasi, lalu atasnama kebudajaan" menolak kebudajaan, sekarang kaum reaksioner atasnama Sukarnoisme" menolak Sukarno. Tak ada jang orisinil! Harian Rakjat"9-12-'64.
BAHWA tulisan Juti jang menolak Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup maupun pidato-Surabaja Sukarni tidak berdiri sendiri, ini djelas dari suatu kedjadian di Madiun seperti tersebut dibagian achir tulisan ini. Berita Indonesia" kemarin, sambil ,,menjangkal" bahwa BPS" itu sematjam PWI tandingan", terus mengetjam apa jang disebutnja ,sikap mengotot PWI", dus menempatkan diri dilu ar PWI, dus berkonfrontasi terhadap PWI, dus benar menempatkan diri sebagai ,PWI tandingan". Lalu dikisahkannja hal ini : Sifat dan tugas BPS itu mula² menolong kesulitan² technis Sajuti Melik untuk melajani suratkabar² dan madjalah² mengenai bahan² jang harus disebarkannja. Pembatja sendiri dapat membajangkan bagaimana seorang diri seperti Sajuti Melik itu harus men-supply bahan² kepada lebih dari 50 buah suratkabar/
madjalah diseluruh Indonesia ...... dengan banjak per-
tolongan dan bantuan dari BPS itulah maka Sajuti Melik bisa memusatkan perhatiannja terhadap penulisan 'Beladjar memahami Sukarnoisme'..." Djadi siapa menolong siapa ? Ada kisah versi lain, jang mengatakan bahwa Juti itu bukan anggota" dari ,,BPS", bahwa dia hanja dianggap sebagai tukang ideologi" jang menolong" hidup BPS", sedang menurut versi BI" diatas BPS"lah jang, »penolong" Juti. Djadi siapa dalangnja dan siapa wajangnja? Beberapa waktu j.l. Juti sesumbar, mengatakan bahwa »partainja" (kira sambut ketika itu : partai jang m a n a !) ,,tidak melarang" dia menulis untuk koran2 BPS". Tetapi sekarang setiap pembatja koran mendjadi tahu (ketjuali pembatja koran² klub BPS") bahwa Front Marhaenis menuntut BPS" dibubarkan ! Adalah sangat menarik untuk menjaksikan si k ap a p a jang akan diambil Juti pada hari² ini, atau, seperti suatu mulut usil memh: kkan : siapa jang kali ini akan dichianatinja — BPS" atau PNI? Sementara itu BI" kemarin mengumumkan ,hasil
kolektip para notulis" mengenai pidato Surabaja Sukarni. Ini adalah n otu len, dan b u k an tjatatan stenografis! Djadi, apa² jang tidak ditulis didalam notulen ini masıh bisa diutjapkan oleh Sukarni ketika di Surabaja ! Lagıpula, bagian jang mengenai Bung Karno jang menimbulkan heboh itu, I a i n didalam interviu BI" kemarindulu, l a i n lagi didalan notulen jang diumumkan BI" kemarin Kitapun lalu bertanja: ,BI" Selasa atau ,,BI" Rabu jang benar ? Suatu hari ditahun 1945, disuatu tempat didekatGedung Proklamasi di Pegangsaan Timur Djakarta, Juti pernah mengusulkan supaja Sukarno sebagai Presiden diganti sadja
dengan ...... (tentang ini baru pada achir serial kita ini
akan kita umunkan, Red. HR). Tetapi orang bisa mengata-
kan: itu 'kan 19 tahun j.l. ..... O, baiklah, kalau tak
mau mendengar peristiwa 19 tahun j.l., bagaimana tentang peristiwa s at u tahun j.l.? Waktunja 1963. Tempatnja rumah walikota Madiun. Ketika itu, seorang sahabat dekat Karni-Juti mengatakan bahwa Bung Karno sudah invalid", politis djuga sudah invalid", lebih baik Bung Karno seperti dalam wajang
ditempatkan seperti Puntodewo"..
Ini bukan soal kepleset-tidaknja lidah atau soal tjermat- tidaknja notulen — ini soal sikap jang sesungguhnja dari golongan Karni-Juti terhadap Presiden Sukarno! 0 Harian Rakjat" 10-11-'64. ADJARAN² BUNG KARNO DITJOBA DIDJAUHKAN DARI RAKJAT
Inilah sambungannja: ,,Tetapi didalam pendjara tahun 1937 ini penjusun menjaksikan suatu kebenaran dalam adjaran 'ilmu bahagia' tsb, dengan pengalaman hilupnja sendiri... Oleh karena itu tidak perlu ditakutkan" Satu lagi pembenaran tambahan diberikan Juti atas tulisan² kita! Parapembatja djangan ter-gesa2 : sabarlah agak sedikit, dan pembenaran² lebih landjut akan berda- tangan dari Juti sendiri ... Sementara itu amat menarik perhatian bagaimana Juti meletakkan ,sjarat", bahkan sjarat mutlak" jang menurut dia harus dimiliki seseorang untuk memahami adjaran² Bung KarneSjarat mutlak" itu menurut dia adalah ke- tangguhan seseorang berpidjak pada dinamika masjarakat". Kata Juti kemudian, apabila orang ,,tangguh", orang akan selamat", dan bila tidak, orang akan terpelanting" Kita tak ingin membitjarakan tangguh-tidaknja dan terpelanting-tidaknja Juti, tetapi dengan disatu fihak menon- djol-nondjolkan pengalaman sendiri, dipendjara dan di- mana², dan difihak lain meletakkan sesuatu ,sjarat mutlak" bagi oranglain, Juti rupanja benar mau mendjadi ,,djagoan Sukarnoisme", bahwa ,Sukarnoisme" itu sudah diketahui- nja diluar kepala, sedang oranglain ... oranglain djangan
main2, harus ,tangguh .... berpidjak pada dinamika
masjarakat". Adalah satu hal berpidjak pada dinamika masjarakat, hal lain lagi dipid ja k oleh dinamika masjarakat!Setelah keputusan PNI jang melarang anggota²nja mendjadi anggota BPS", kitapun ingin tahu sekarang seberapa dinamisnja mas Juti ... entah dinamis dalam kesetiaan pada Mar- haenisme", entah dinamis dalam... ber-balik" haluan! Djadi apa jang dimaui Juti dengan klub BPS"nja ? Pertama, mereka membatasi adjaran² Bung Karno hanja untuk mereka jang tangguh", jang mampu", jang ,sang- gup" jang tjakap", dan entah jang apa² lagi; Kedua, mereka dengan demikian mau mendirikan tembok tebal jang memisahkan adjaran² Bung Karno Jari massa Rakjat; Ketiga, mereka dengan demikian mau memisahkan Bung Karno sendiri dari Rakjat; Keempat, mereka dengan ,menjcbarkan" adjaran² Bung Karno memaksudkan memonopoli"nja.
10 Desember kemarin Juti menulis : Achir tahun 1933 dulu waktu baru dikembalikan ke Djawa dari Digul-Atas, penjusun (Juti) menentang ilmu bahagia' (ngelmu Jegdja) adjaran K.A. Surjomataram, karena menganggap adjaran nja itu melemahkan perdjuangan". Kita kira Juti memberi sangkalan terhadap tulisan² kita, kita kira Juti menjanggah pembuktian kita bahwa dia bukan-,,Sukarnois" melainkan
Surjometaramis, kiranja ..... Kalimatnja itu masih ber-
sambung!
Tetapi karena jang mereka monopoli" hanjalah Sukarnoisme" jang b u k a n adjaran2 Bung Karno jang sesung- guhnja maka monopoli itu memang tepat dan baik ! Akan tjelaka dunia ini kalau banjak orang mengikuti djedjak BPS", suatu hal jang takkan pernah terdjadi! Harian Rakjat"11-12-'64. ,KETJAKAPAN" & ,KEBERANIAN" UNTUK APA?
SEDJAK kita kembali ke UUD '45, jang fasal 17-nja menjatakan bahwa ,Presiden dibantu oleh Menteri² Nega- ra" dan dengan demikian semua menteri disebut pembantu Presiden", ada gedjala² buruk jaitu mau dapat nama djika pekerdjaannja berhasil, walau sedikit sadja, sebaliknja, tidak mau memikul tanggungdjawab dan buru² menjatakan diri ,,saja 'kan tjuina pembantu Presiden" djika pekerdjaannja gagal, walaupun gagal total. Tetapi ini hanja mengenai menteri2 jang djelek. Menteri² jang baik tentu tidak ber- sikap demikian. Dalam tulisan serialnja No. 33, dibawah djudul Buang- kanlah penjakit ndjelimet" Juti menjatakan a.l. bahwa Bung Karno ,,memberikan kepertjajaan kepada murid² dan pembantunja", dan bahwa ,oleh karena itu tiap murid dan pembantu Bung Karno harus mempunjai ketjakapan dan keberanian untuk melakukan kebidjaksanaan sendiri, jang disertai dengan pertanggungan djawab". Kita setudju sadja dengan pernjataan Juti bahwa pembantu2" Bung Karno harus mempunjai keberanian untuk bertindak sendiri dan bertanggungdjawab". Tetapi praktek selama ini membuktikan bahwa ada dua matjam murid" atau pembantu" Bung Karno. Ada murid jang sungguh² berusaha memahami dan memperdjuangkan pelaksanaan adjaran² Bung Karno, tetapi ada pula ,,murid" jang dalam kata2 sadja mengaku murid" Bung Karno, tetapi dalam perbuatan merusaknja. Demikian djuga pembantu": ada pembantu jang sungguh² membantu memperdjuangkan garis² politik jang ditetapkan Bung Karno, tetapi ada pula jang mengaku pembantu", tetapi jang ,,bantuan"nja
malahan merusak dan menjabot ketetapan? politik Bung Karno. Untuk bisa mengetahui mana mund atau pemtu jang sungguh² setia kepada adjaran² Bung Karno dan mana pula murid atau pembantu jang munafik harus ada pegangannja. Dewasa ini pegangannja adaiah Manipol dan pedoman2 pelaksanaannja. Karena ini adalah kristaisasi daripada adjaran² Bung Karno. Dan djustru pegangan Manipol dan pedoman² pelaksanaannja ini jang ojarang sekali, ja, hampir² tak pernah dikemukakan Juti! Juti atas nama Beladjar memahani Sukarnoisme" me- ngemukakan Driarkoro-isme dan Surjoncntaramisme sebagai Sukarnoisme! Dan Juti daripada membeberkan Manifesto Politik" membeberkan sematjanManifes Pribadi"...Ini dilakukannja dengan penuh ketjakapan" dan keberanian" serta pertanggungan djawab". ,Keberanian", ketjakapan" serta pertanggungan djawab jang entah diabdikan kepada siapa.. Sekali.peristiwa, telah ada ,pembantui" Bung Karno jang penuh dengan ketjakapan", keberanian" serta ,pertanggungan djawab" membikin.. 14 peraturan 26 Mei, jang mentorpedir Dekon, dan bahkan Manipol: Sekarang Juti dan orang munafik ,,BPS" (jang mengaku ,murid" atau ,pembantu" Bung Karno, dengan segala ketjakapan", keberanian" dan ,,pertanggungan diawab" terus menjerimpung adjaran² Bung Karnc! Harian Rakjat" 12-12-'64.
,,HUMANISME UNIVERSIL" JUTI
PEMALSU² adjaran² Bung Karno paling gemar mem- bual se-akan² Bung Karno menjangkal perdjuangan ktas. Bualan begini tentu tak sukat didjual kepada k ang awam, tetapi barangsiapa suka membatja tulisan Bung Kamno selama hampir 40 tahun ini dia akan tahe: bahwa Bung Karno samasekali ti d a k menjangkaì nerdjuangan klas, Bung Karno bahkan bukan hanja mengakui perdjuangan klas itu sebagai suatu kenjataan objektil, tetapi memahami hukum² pokok perdjuangan klas. Jang selalu ditekan-
memperlakukan pembatja²nja, jang dipamerinja selalu
dengan logika" dan penemuan" jang ... kuruskering
dan putjatpasi!
"Sukarnoisme BPS" memang sematjam Manikebuisme
atau humanisme universil, sedang BPS" sendiri adalah sematjam ,Liga Demokrasi", apa hendak dikata! Harian Rakjat" 14-12-’64.
,ILMU KLENIK" SEBAGAI PENGGANTI
PERDJUANGAN REVOLUSIONER
kan oleh Bung Karno dalam hubungan revolusi nasional, artinja revolusi anti-imperialis adalah, bahwa perdjuangan klas itu hendaknja ditundukkan kepada perdjuangan nasional. Ambil sadja kenjataan ini: Bung Karno merestui perdjuangan kaum tani melawan tuantanah dan perdjuangan klas buruh melawan kaum kapitalis bi- rokrat — apa ini kalau bukan perdjuangan klas? Dalam serial tulisan Juti perdjuangan klas itu dihapus- kan samasekali dan ditukar dengan sematjam — djangan kaget — ,humanisme universil". Kita peladjarilah persoalan² pokok revolusi" (Manipol) dan hukum² revolusi" (Tavip), maka djelas disana bahwa hukum perdjuangan dalam pemahaman Bung Karno adalah hukum objektif perkembangan masjarakat jang sesuai dengan materialisme historis, d e n g a n perdjuangan klas, bukannja tanpa. Tetapi dalam Sukarnoisme"-nja Juti perdjuangan klas lenjap entah kemana, dan digantikannja perdjuangan klas itu dengan segala matjam tjeritera tentang kodrat hidup",
perikemanusiaan lawan peri-kebinatangan" dan matjam²
lagi. Lalu dikatakannja : Bakat kemanusiaan tidak pernah mati samasekali dalam kehidupan manusia". Apa bedanja ini dengan dalil Manikebu bahwa se-djelek² manusia masih memantjarkan tjahja Hlahi"? Saudara tak usah merasa diperlakukan seperti anak ketjil oleh Juti, kalau dia tampil dengan logika® jang me- ngagumkan sekali. Dalam kesibukannja mengotak-atik pertarungan sendiri antara dua kekuatan.. bakat kebinatangan dan bakat kemanusiaan", Juti berhasil ,,me- nemukan" sesuatu jang hebat sekali, jang saudara barang- kali belum pernah mendengar sebelumnja. Inilah kata Juti : Bung Karno itu manusia, seperti kita semua ini". Juti gemar sekali tampil dengan ,,logika²" jang krempeng seperti ini! Ada sebuah kisah: seorang orang Eropa, jang mengira bahwa Indonesia ini hutan belantara belaka, tanpa peradab- an dan tanpa kemadjuan teknik, datang ke Indonesia
dengan membawa gramofon untuk dipamerkan disini....
Tak diketahuinja bahwa di Indonesia bukan sadja ,bina- tang gramofon" sudah lama dikenal, tapi bahkan piring- hitampun sudah diproduksi sendiri! Begitulah kira² Juti
JUTǐ dalam serial tulisannja No. 44 dibawah djudul: Banjak berbitjara dan banjak bekerdja" menulis a.l. dalam kesimpulannja : Dengan banjak berbitjara dan dengan ketjakapannja berbitjara itu Bung Karno berusaha untuk menanamkan pengertian didalam kalangan Rakjat djelata. Bukan banjak-
nja pengikut jang diutamakan, melainkan banjaknja pe-
ngertian serta besarnja kesanggupan jang harus dimiliki
oleh para pengikutnja".
Tentu sadja benar bahwa Bung Karno banjak berbitjara
dan bekerdja sekaligus untuk menanamkan pengertian di- kalangan Rakjat, supaja Rakjat bangkit berdjuang menga- lahkan musuh²nja. Tudjuan dari banjak bitjara dan bekerdja adalah untuk menghimpun sc-massal²nja, se-besar2nja kekuatan jang berpengertian tentang mutlaknja mengguling- kan musuh, untuk mentjapai masjarakat adil dan makmur. Banjaknja pengertian mcmang penting, tetapi lebih penting lagi banjaknja djumlah orang, atau luas massanja jang mempunjai pengertian jang banjak itu, jang mempunjai kesanggupan untuk memikul segala konsekwensi perdjuangan. Bandingkan uraian Juti jang menjatakan bahwa Bung Karno tidak mengutamakan banjak pengikut" itu dengan adjaran Bung Karno sendiri jang dikemukakan dalam Sarinah" : Buatlah Rakjat djelata itu bergelora dalam semangatnja dan tindakannja, buatlah revolusi kita se- massal²nja, buatlah Rakjat djelata itu basis sosialnja revolusi"!
Kita lihatlah betapa Juti dan seluruh klik BPS'nja berusaha mensterilkan, mensalonkan, mengebiri adjarans Bung Karno! Usaha Presiden Sukarno untuk tergalangnja FPN jang berporoskan Nasakom di Indonesia dan usaha Presiden Sukarno untuk memperkuat persatuan Nefo setjara inter- nasional menundjukkan dengan seterang-terangnja bahwa harus ada kekuatan jang besar guna memenangkan revolusi. Revolusi tidak bisa dimenangkan oleh hanja sekelompok ketjil, kader jang berpengertian". Revolusi kita seperti dinjatakan dalam Tavip, bukanlah revolusinja pemimpin², tetapi adalah Revolusinja Rakjat. Tafsiran Juti tentang dalil banjak bitjara dan banjak kerdja" dari Presiden Sukarno bukan sadja mengaburkan adjaran Bung Karno dan memperketjil tudjuan jang hendak dikedjar Bung Karno, tetapipun mentjoba mengubah per- djuangan revolusioner aktuil dengan omongkosong inteiek-
DOo5
tualis dengan bumbu² ilmu-klenik. Tudjuan Juti dan klub BPS" rupanja jalah agar revolusi Indonesia djangan revolusi Rakjat, tetapi revolusi pemimpin² sadja .. Atas nama Sukarno-isme" ditjoba dikuburnja adjaran² Sukarno! Harian Rakjat’ 15-12-64.
JANG DIDJADJAKAN: KWASI ILMU
LIGA DEMOKRASI
"MANIKEBU" JUTI gemar sekali tampil dengan definisi2, batasan.
Tetapi atjapkali jang kita djumpai daripadanja adalah batasan² jang tak tampak batas²nja ! Pernah Juti menamakan Bung Karno seperti ,dokter jang pengalaman" (sedikit tentang tatabahasa : pengalaman atau berpengalaman ?). Dalam dunia ketabiban labil sadja
batas antara ,ahli obat" dan ,,tukang obat".... althans
bagi siawam. Sama halnja didunia politik dan ilmu. Susab- nja bagi si tukang2 obat" (atau radja gigi" seperti di Medan) bahwa pembeli²" sudah kritis, dan aspirin jang
R.34terletak tenang2 diapotik toh tetap mudjarab daripada
SEDIKIT TENTANG TIMUR DAN BARAT gobat" jang didjadjakan dengan ributnja oleh si tu- kang"... Kita ambillah satu-dua definisi jang didjadjakan tuti. Apakah m a n u s i a itu ? Menurut Juti : Manusia adalah sematjam binatang berkakidua, jang djika berdjalan tubuhnja tegak berdiri" (O, pemvulgeran, adakah Juti namamu?). Ditempat lain Juti menulis bahwa menurut filsafat materialisme" manusia itu hakekatnja adalah mesin" (dari meterialisme" mana kedangkalan, kesembe- ronoan dan kengawuran ini dipungut ?). Setelah ber-tcle2 berbitjara tentang pemasjarakatan", »pembudajaan" dan ,pem?" lain lagi, tanpa sedjenakpun meninggalkan Drijarkoro dan Surjomentaramnja. Juti mengatakan (lagi suatu definisi ber-siap²lah !) : ,Supaja dapat langsung hidup, per-tama² supaja dapat mentjukupi kebutuhan hidupnja, manusia harus memasjarakat, harus mendapatkan bantuan masjarakat, hidup ber-sama² dengan manusia2 lainnja." Tak banjak jang dilupakan Juti disini hanja" satu faktor jang esensiil, jaitu: kerdja produktif! Memasjarakat" atau tidak, mendapatkan bantuan masjarakat" atau tidak, namun diatas se-gala²nja manusia harus (kita ikuti Juti dengan gudang ,,mem"nja) m e m- pr o'd u k s i. Sebab, dasar kehidupan masjarakat adalah produksi materiil, dan tak ada tjerita tentang langsung. hidup" djika manusia tidak memproduksi, tidak b e k e r- dj a. Djika batasan Juti diatas diterima setjara ber-kabur²
batas setjara abstrak tampaknja memang tidak apa²",
tidak begitu punja arti". Tapi tjobalah kita berpindah dari alam abstrak kealam kongkrit, maka muntjullah watak re- aksionernja. Reasioner? Ja, sekali lagi ja! Buat apa tuantanah dan kapitalis birokrat di-ganggu², buat apa landreform dan hukummati buat koruptor² be- sar... Bukankah tuantanah dan kapitalis birokrat itu manusia"? Bukankah sebagai manusia" mereka itu ,harus mençapat bantuan masjarakat"? Kerdja atau tidak kerdja tidaklah soal, jang soal adalah ,manusia" jang memasjarakat" dan membudaja" .. Dalam serial tulisannja no. 2 Juti mendjandjikan tidak akan menulis ,awur²an". Tapi sedjak kapan kwasi-ilmu itu tidak awur²an? Harian Rakjat" 16-12 '64.
MANUSIA Timur itu berbeda dengan manusia Barat", tulis Juti, jang meneruskan kemudian : manusia Barat adalah manusia² Eropa dan Amerika. Djuga manusia Aus- tralia (kulit putih) sekarang ini. Singkatnja orang berkulit putih pada umumoja. Sedang jang dinamakan manusia Timur adalah manusia Asia dan Afrika, orang kulit berwarna pada umuninja". Manusia Amerika Latin tak digolongkan ke-mana² oleh Juti. Apakah mereka manusia Barat", karena tinggalnja dibenua Amerika, ataukah mereka manusia Timur", karena kulit mereka berwarna" ? Djelaskan dong, mas Juti! Ada baiknja diingatkan kebenaran ini: djika seseorang berdiri diibukota Irian Barat, maka dunia Barat itu ada disebelah Timurnja dan dunia Timur ada disebelah Barat-
nja.... Tapi baiklah: kita bukannja berkeberatan atas
penamaan² Timur dan Barat; jang kita berkeberatan adalah terhadap metode" Juti! Kali ini Juti tak tinggal mengurung diri pada Drijarkoro- isme dan Surjomentaramisme, dan dia memperkaja"
dirinja dengan .... Agus Salimisme! Inilah katanja: orang
Barat mendjawab bagaimana tjaranja hidup", orang Timur mendjawab ,,apakah tudjuan hidup". Lalu Juti sendiri menambahkan bahwa ,kodratnja manusia Barat dan manusia Timur itu sama sadja", bahwa jang menjebabkan perbedaannja, adalah perkembangan- nja". Lalu kembalilah dia kepada dalil kegemarannja tentang manusia itu mempunjai kodrat membudaja" dan sesudah itu sampailah dia kepada kesimpulannja, dengan se-akan² bersorak : Nah, perkembangan pembudajaannja itulah jang berbeda,antara manusia Barat dan manusia Timur; Dan inilah jang menjebabkan perbedaan... Lalu? Juti mengabarkan kepada kita bahwa perbedaan itu makin lama makin ketjil, dan achirnja dapat lenjap pada garis besarnja". Semua ini diterangkannja setelah dia memberitahukan kepada kita bahwa (terutama para ibu baik memperhatikan hal ini): membudaja mengandung arti mengolah. Maka
selandjutnja kebudajaan berarti ,olahan' atau ,masakan'. Sedang pembudajaan artinja pengolahan atau pemasa- kan.. Parapembatja barangkali meng-geleng2kan kepala ber- tanja² : Apa hubungannja semua itu dengan adjarana Bung Karno ? O, djangan kuatir, hubungannja tentu sadja ada, sebab Juti bukan penjeleweng, bukan pendurhaka, makaitu selalu didapatkannja sesuatu dari Bung Karno, dan imilah
dia: "Mankind is one! ... Kemanusiaan... adalah
satu". Beberapa waktu j.l. sudah kita tundjukkan humanisme universil Juti, Manikebuismenja. Uraiannja tentang Timur dan Barat" jang ngalor-ngidul itu membuktikan lagi tentang kebenaran konklusi kita. Kita ikutilah betapa dahsjatnja Jutiisme ini: manusia itu pada dasarnja sama, tjuma dia mendjadi ber-beda² ka- rena pembudajaannja, tetapi perbedaan itu makin lama makin keijil dan achirnja akan lenjap... Kitapun bortanja djadinja : barangkali perbedaan² didunia ini bisa diienjapkan dengan... tukar-menukar kebudajaan (atau pcrkawinan kebudajaan" seperti dikatakan Juti). dengan kirim-mengirin misi kesenian? Tai: dizubungkannja, sedikitpun soal-soalnja itu dengan imperialisme, dengan pendjadjahan ja, ka- lau mau djuga dengan k a p it a lis me, setan jang selalu disorot dan disemprot Bung Karno! Dipedjamkannja sadja matana ditalikannja sadja telinganja dan dibisukannja sadja milutnja tcrhadap kenjataan bahwa sistim kapitalis- ne. kunadian inperialisme itulah jang membikinperbeda- an keinbangan dan perbedaan nasib" antara Timur dan Barat". So-akan² tak ada kapitalisme dan tak ada imverialisme didunia ini... Diuga impian Juti tentang ,dunia satu", dalam anggapan- nie bisa ditiapai tanpa mengusik2 atau menjentuh2 kapital- isn d impcrialisme... Perbedaan makin lama makin ket dan achirnjə dapat lenjap...", kata Juti. Sunoguh ! Perbedaan makin lama makin ketjil, dan achirnja depsi {ap antara Juti dan Jassin, antara BPS" dan Manikebu"!
ACHIRNJA DIBUBARKANLAH ,,BPS"
HARIAN Berita Indonesia" mengatakan bahwa Sajuti Melik menulis setjara ,lugu". Istilah Djawa jang sukar diterdjemahkan ini kiraa berarti lurus, sederhana, biasa". Maka teringatlah kita akan jang pernah ditulis Friedrich Engels, bahwa oportunis jang djudjur" adalah oportunis jang paling berbahaja! Presiden Sukarno telah turun-tangan dan membukarkan BPS" jang memetjahbelah persatuan dan membahajakan revolusi itu. Seperti pertentangan didalam dialektika: pen- dukung2 BPS" g e l a, Rakjat banjak l e g a ! Sampai ulasan ini kita tulis, kita belum tahu lagi apa sikap kaum klub reaksioner BPS" terhadap keputusan Presiden itu. Mungkin mereka akan katakan, bahwa keputusan itu ,melanggar hak2 azasi warganegara". Djika demikian, maka semakin njatalah bahwa mereka itu ,,demokrat²" jang djelek! Adapun Juti sendiri mungkin dia akan mengatakan bahwa ,jang dilarang 'kan BPS-nja,bukan tulisan2 saja". Djika demikian, maka semakin njatalah bahwa dia itu pokrolbambu jang djelek! Tetapi mungkin pula mereka akan melakukan lipservice baru: kami taat kepada keputusan Presiden". Djika demikian, maka semakin njatalah bahwa mereka itu sesung- guhnja kaum neo-Manikebuis ! Presis begitulah sikap kaum Manikebuis, ketika Manikebu dilarang tempohari. Bagi mereka ,taat" berarti m u n a f i k, tak lebih dan tak ku- rang! Masih banjak sebenarnja jang bisa kita kupas dari tulisan2 Juti dan pernjataan2 BPS" jang begitu disokong oleh segala kaum reaksioner mulai Soksi" sampai ,HMI" itu, tetapi setelah larangan Presiden terhadap BPS" kita pikir tak ada gunanja lagi melandjutkan serial ulasan kita. Ke- tjuali, djika Juti dan BPS"nja akan tetap mengotot dan membandel. Kepada parapentjinta ,HR" jang telah mendorong dan membantu kita dalam menjelenggarakan serial ulasan ini kita utjapkan diperbanjak terimakasih. Harian Rakjat" 17-12-64
Hendaklah segala pengalaman dengan Liga Demokrasi III" ini (Liga Demokrasi" adalah ,Liga Demokrasi I", ,Manikebu" adalah ,Liga Demokrasi II" dan ,BPS" ada-Blah ,Liga Demokrasi III") mendjadi peladjaran bagi siapa sadja jang mau beladjar! Dibungkus dengan apapun, barang busuk tetap bau! Dibungkus dengan apapun, aksi reaksioner tetap berbau busuk! Atau pepatah Djawa ini, mengingat barangkali mas Juti akan lebih faham: Betjik ketitik, ala ketara. Untuk kesekian banjak kalinja terbukti bahwa bumi Indonesia tidak subur bagi Komunisto- dan Nasakomo- phobi dan bahwa bumi Indonesia hanja subur bagi persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom! Harian Rakjat"18-12-'64.
Djawaban untuk Merdeka" : DJANGANLAH MEMONOPOLI KEPANDAIAN BERFIKIR HARIAN Merdeka" pagi kemarin tampil lagi menjerang,Harian Rakjat" dengan tuduhan korupsi" atas adjaran² Bung Karno. Tuduhan ini tuduhan berat, dan karena Merdeka" merasa berhak menjerang HR" maka iapun rasanja berhak atas djawaban kita. Djudul tulisan oleh Pimpinan Redaksi Merdeka" kemarin itu Sukarnoisme untuk Rakjat Indonesia", jang berpikir setjara Indonesia, tetapi berpikir setjara Indonesia"nja ,Merdeka" ini rupanja setelah ber-pusing² berpokok hanja pada satu hal, jaitu jang teiah ditulis HR" 17 Nopember j.l. mentjoba mengexkomunikasikan kaum Marxis-Leninis dari front nasional dengan dalih bahwa ideologi kaum Marxis-Leninis ,tidak murni'". Hal ini 17 November j.l. sebagai selingan kita sebut Merdekaisme" dan ternjata harian — jang kalau hanja Kepala Exekutif Dewan Pimpinan Umumnja berada di Indonesia tidak banjak bikin ribut tetapi apabila Ketua Pimpinan Umum Redaksinja berada ditanahair selalu bikin gara2 — ini diam membenarkan definisi jang kita berikan atasnja dan sedikitpun tak membantahnja. Merdeka" dalam tulisannja kemarir. membela bukan sadja apa jang dinamakan ,Sukarnoisme", tetapi djuga BPS" dan Sajuti Melik. Rupanja setelah Sajuti Melik kewalahan menghadapi ulasan kita, dirasakan perlu oleh kaum BPS" untuk menampilkan lagı Merdeka" sebagai djuruselamat"... Baiklah, dengan segala senang hati kita lajani serangan² Merdeka" jang memetjahbelah persatuan nasional berporoskan Nasakom itu dan jang dengan demi- kian mengchianati adjaran² Bung Karno. Bertjeritalah Merdeka" dalan tulisannja itu tentang kaum jang tidak pernah mengchianati Revolusi Agustus kita, baik ditahun 1945, atau 1947, atau 1948, atau 1952.
atau 1955 dan seterusnja". Ingin kita katakan ini kepada
Merdeka": Berchianat memang tak perlu tahun 1955,
berchianat bisa djuga tahun 1964! Ini baik ditjatat oleh semua sadja jang, seperti dikatakan WPM Subandrio, me- mahamkan adjaran² Bung Karno dari Bung Karno sendiri, dan tidak membuat tafsiran2 sendiri2.
Dengan tak mengerutkan kening sedikitpun Merdeka"
melemparkan tuduhan korupsi" kealamat HR", hanja karena kita menulis seminggu j.l. tentang sepakterdjang Bung Karno untuk mempersatukan semua kekuatan jang bisa dipersatukan guna menghantjurkan imperialisme dan feodalisme". Apa alasan" jang diadjukan Merdeka" ? Tulisnja : Apa jang dikorup disini ? Perkataan revolusioner". Se-olah² bukan ,Merdeka" jang pernah mengkorup perkataan revolusioner itu ketika dalam polemik-besarnja dengan kita dibelanja dalil penggabungan ,segala kekuatan jang ada"! Se-akan² dalam kehidupan modern ini tak ada lagi arsip dan dokumentasi jang exakt jang bisa membukti- kan segala sesuatu dengan tepat dan tidak lantjung! Tapi apa mau dikata : kita s u d a h menerbitkan seluruh polemik ,Merdeka-Harian Rakjat" itu dalam bentuk buku jang bertanggungdjawab dan dengan demikian memenuhi djandji kita, sedang Merdeka" jang mendjandjikan hal jang sama kepada pembatja²nja ternjata hanja bisa djual djandji di- mulut sadja... O, terang bulan terang dikali .. Apa jang salah dari jang kita tulis ? Kata pengritik kita karena tak ada perkataan revclusioner". Tapi bisakah pengritik itu membatja kalimat bahasa Indoncsia dengan betul ? Mari kita ulangbatja dengan tjermat dan per-lahan2 : ,sepakterdjang Bung Karno untuk mempersatukan semua kekuatan jang bisa dipersatukan guna menghantjurkan imperialisme dan feodalisme". Lalu apa komentar Merdeka"? Katanja : Kita tidak bermaksud mempersatukan segala kekuatan jang bisa dipersatukan sadja, karena itu berarti bahwa djuga kekuatan² kontra-revolusioner dipersatukan dengan kekuatan² revolusioner..." Aha, ternjata sipengritiknjalah situkang korup ! Apa jang dikorup disini ? Perkataan guna menghantjurkan imperialisme dan feodalisme"! Tidak, tuana Merdeka", kritik tuan² jang, dengan segala hormat kepada sekalian kaum pokrolbambu harus kita sebut seperti pokrol-
bambu itu t i d a k menimpa kami, karena pukulannja tidak
kena dan memukulkannja agak bodoh, dan sebaliknja pu- kulan itu — untuk memakai kiasan dari dunia tindju gaja Muangthai — ibarat tendangan kaki sudah diajunkan tetapi karena dihindari lawannja maka berachir dengan kedjatuh- an jang menjedihkan dan kakipun patahlah Mempersatukan semua kekuatan jang bisa dipersatukan
guna menghantjurkan imperialisme dan feodalisme — ini-
lah sepakterdjang Bung Karno, inilah sepakterdjang sege- nap kekuatan revolusioner Indonesia, karena menurut adjaran Bung Karno sendiri, setiap orang jang melawan imperialisme dan feodalisme a d a l a h revolusioner ! Kita tjukup kenal akan tjara Merdeka" berpolemik kalau tak tahu mendjawab maka sederhana sadja djawaban tak diberikannja dan beralih dia ke-soal lain --, maka kali ini dengan segala hormat kita minta, ja, kita mohon kepada Merdeka" untuk mendjawab setjara kategoris djawaban kita ini, berdasarkan fakta² dar, dengan argumen- tasi² jang rasionil, kalau masih ada rasio tertentu jang men- djadi miliknja. Merdeka" menuduh (menuduh s i a p a ?) ,mau memo- nopoli politik, kepandaian berfikir dan bersiasat" dan menjangka... satu²nja ahli dalam penelaah seluruh mas- alah kenegaraan, politis, ekononis, spirituil dan materiil setjara ilmiah.. ." Kita chawatir bahwa kali inipun tuduh- annja hanja menimpa dirinja sendiri! Ini kesan jang mau tak mau didapat orang dari membatja gaja tulisan Merdeka", gajanja jang otoriter, jang dulu (18 Djuni 1964) mengatakan Kita terang pro Manipol" dan kemarin (3 Desember 1964) mengatakan ,,kita pendukung Sukarnoisme berada didjalan jang benar" serta ,kejakinan Bung Karno" kita djadikan djuga kejakinan, konviksi kita". Bahwa anti-Komunisme Merdeka" dan djuga anti-Komunisme BPS" dengan segala Juti, Soksi" dan HMI"nja itu suatu konfeksi, ıni djelas, tapi konviksi. ? Konviksi Bung Karno, seperti kita tuliskan kemarin adalah Nasa- kom, sedang konviksi tuan" Sukarnois" itu adalah Anti- kom! Merdeka" membanggakan apa jang disebutnja kekuatan nasional revolusioner jang digabungkan oleh pendukung Sukarnoisme". Dibanggakannja pula bahwa Di- mana²gerakan untuk mempeladjari dan memahami ol
Sukarnoisme itu tumbuh di-pelosok² Indonesia". Rupanja Merdeka" agak silap dan selip : jang ,tumbuh" dikira gerakan memahami adjaran² Bung Karno, kiranja tjuma gerakan memahami tulisan² Juti. Ini bahkan diakui sendiri oleh ,,BPS" dan oleh Juti : bahwa jang mereka sebarkan b u k a n adjaran² Bung Karno ! Djadi apa itu ,kekuatan² nasional revolusioner jang digabungkan oleh pendukung² Sukarnoisme"? Seperti sudah pernah kita tuliskan : hanja dari Berita Indonesia" k e k a n a n, jaitu ,Soksi" (jang begitu dikutuk kaunı buruh tetapi begitu di-pudji² B.M. Diah dalam pidatonja di Bandung baru ini), HMI" (jang sudah divonis oleh praktis semua organisasi mahasiswa lainnja) dan kaum avonttris, anarchis, nihilis, profitor, parvenu dan sebangsanja jang impiannja tjuma ,,bubarnja Partai²", dus bubarnja kekuatan2 penting revolusi kita, dus sabotase terhadap revolusi. Dalam pada itu baik ditjatat bahwa pandangan Merdeka" tentang dua tahap revolusi sama katjaunja dengan pandangan Juti. Merdeka" sementara itu djuga tak se-Partai² dus bubarnja kekuatan² penting revolusi kita, dus sabotase terhadap revolusi. Harian Rakjat" 4-12-'64.
masih harus diperdjuangkan lagi. Ini bahkan diakui oleh Sajuti Melik dalam tulisannja 1 Desember j.b.l. : Masjarakat sosialis adalah... masjarakat jang sudah adil, meskipun belum makmur. Sedang masjarakat komunis adalah masjarakat adil dan makmur, karena produksi telah me-limpah² dan untuk kepentingan masjarakat se- luruhnja". Tetapi kalau seperti ditulis Mereka" terlebih dulu mentjapai masjarakat adil dan makmur", maka buat apa selandjutnja... menudju kepada sosialisme Indonesia"? Hal tahap2 revolusi ini bukan hal sepélé, karena ini adalah salahsatu saripati Manipol dan karena tidak memahami ini berarti — memindjam istilah Merdeka" — tidak kena pada djantunghatinja". Tetapi inti daripada inti soalnja adalah bahwa ,Merdeka" tetap pada sematjam Ariaisme" jang menganggap dirinja dan kliknja sadja jang asli Indonesia", ,murni Indonesia", ,,berpikir setjara Indonesia", sedang kaum jang lain daripada diri dan kliknja ditjoba diex-komunikasikan- nja, diasingkannja, dengan dalil begini : Kita berkejakinan bahwa sesuatu gerakan atau partai jang sudah mempunjai landasan ideologi asing, jang bukan chusus Indonesia, tidak mungkin menerima Sukarnoisme ini". Pernahkah Merdeka" memikirkan betapa djauh kon- sekwensi dari pendalilannja ini? Mari kita kadji soal²nja. Di Indonesia dewasa ini ter- dapat 10 partai politik, 4 tergolong Nas, 5 tergolnog A, dan 1 Kom. PKI partai ini menurut Merdeka" sudah pasti tak bisa termasuk ,,kekuatan² nasional revolusioner" dan ,tidak mungkin menerima Sukarnoisme", karena partai ini meng- anut Marxisme-Leninisme; PARKINDO— partai ini ,berazaskan firman Tuhan jang termaktub dalaim Kitab Sutji (Alkitab)", dan karena Indjil, djuga Perdjandjian Baharu, bukan asli dan bukan chusus Indonesia, maka partai ini ,,tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; PARTAI KATOLIK partai ini ,bertindak menurut azas² Katolik", dan karena azas² ini bukan asli dan bukan chusus Indonesia, bahkan mempunjai pusatnja di Vatikan partai inipun tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; PERTI — partai ini berazaskan Agama Islam; dalam i'itiqad menurut Madzhab Alhussunnah wal Djama'ah dan
Djawaban untuk Merdeka" (2):
WATAK ANTI-TANI & ANTI-BURUH ,,BPS"
- ,SOKSl" - HMl"
TENTANG tahap² revolusi ,Merdeka" menulis begini: ,,mentjapai masjarakat adil dan makmur, melenjapkan im- perialisme, feodalisme, kolonialisme dan nco-kolonialisme dimana sadja didunia ini dan kemudian mentjapai dasar² perdamaian dunia jang kekal dan abadi. Selandjutnja Revolusi Indonesia ... menudju kepada sosialisme Indonesia". Kita lihatlah betapa katjaunja: masjarakat adil dan makmur" dulu, baru kemudian sosialisme Indonesia". Sedang setiap orang tahu bahwa masjarakat Sosialis barulah masjarakat tanpa exploitasi oleh manusia atas manusia, djadi masjarakat jang adil, tetapi bahwa kemakmuran
dalam sjari'at dan ibadat menurut Madzhab Imam Sjafii Rahimahullah", jang djuga tak asli dan tak chusus Indonesia,djadi djuga tidak mungkin menerima Sukarnoisme": NU partai ini berazas Agama Islam" dan bertudjuan menegakkan Sjari'at Islam" dan mengusahakan berlaku- nja hukum2 Islam dalam masjarakat", dan karena ini tidak asli dan tidak chusus Indonesia maka partai inipun djadinja "tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; PSIl — partai inipun seperti halnja Perti dan NU dan sebagai partai Islam azasnja tidak asli dan tidak chusus Indonesia, makaitu tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; Bagaimana sekarang dengan partai² Nasionalis ? PN1 — azas partai ini adalah Marhaenisme" dan ini adalah Marxisme jang dilaksanakan di Indonesia", djadi djuga tak asli dan tak chusus Indonesia djadi djuga tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; PARTINDO — azas partai ini Marxisme-Sukarnoisme", pun tak asli dan tak chusus Indonesia, dus tidak mungkin menerima Sukarnoisme"; Tinggal sekarang IP-KI dan Partai Murba. IP-KI — menjatakan bahwa azasnja Proklamasi 17 Agustus 1945", tapi apa presisnja azas ini menurut IP-KI tentu partai ini masih harus mengelaborasinja dan didalamn praktek ia harus membuktikan amalnja dalam suatu kom- petisi Manipolis; sebab, apakah warganegara jang bernama Polan lebih baik daripada warganegara jang bernama Basalamah atau Liem atau Avé, amallah jang menentukan- nja: PARTAI MURBA — menurut Adam Malik jang baru² inı berbitjara atasnama pimpinan partainja maka partai inı menerima ,Sukarnoisme"; tctapi mengapa? Karena banjak persamaannja dengan Tan Malakaisme", djadi, Tan Malakaisme"lah titiktolaknja, sedang penerimaannja atas jang disebut Sukarnoisme" itu k a r e n a ,,banjak persamaan"nja dengan azasnja sendiri; dan apakah ,,Tan Malakaisme" itu sesuatu jang asli dan chusus ataukahi sesuatu tjangkokan, sesuatu tjampuraduk atau sesuatu jang asing, inipun harus dipersoalkan (djika perlu kita sanggup memaparkan perbedaan²nja, ja, pertentangan²nja antara Tan Malakaisme" dengan adjaran? Bung Karno, Red. HR)
Djadi kekuatan a p a dan m a n a jang digolongkan Merdeka" kedalam kekuatan² nasional revolusioner" jang dibanggakannja itu ? Praktis tinggai kekuatan restan² ! Dan ini memang sesuai dengan sikap politik kaum avon- turir dan anarchis itu jang dari kukukaki sampai kebuntut- rambut mati2an anti-partai² politik, anti kehidupan kepar- taian dan bernafsu membubarkan partai2, dus anti Manipol. Merdeka" kemudian dengan tak tahu menahan diri lagi me-maki² mentalitet mereka", artinja mentalitet kaum tani (berhubung aksi sefihak" peristiwa Indramaju") dan mentalitet kaum buruh ("loc maut") serta mentalitet pem- bela² kaum tani dan kaum buruh. Dalam sudutnja harian tsb. bahkan meminta Djaksa Agung turuntangan terhadap pers jang berfihak kepada kaum tani dan kaum buruh. Hal ini bagi kita adalah hal jang baik. Belum tentu ,HR" dan segenap pers patriotik dan demokratik akan sanggup dalam waktu sangat singkat menjingkap watak anti-tani dan anti-buruh Merdeka" dan segala BPS"nja, tetapi dengan tulisannja jang sekalipukul itu maka sekaligus Rakjat Indonesia, ja, segenap Rakjat Indonesia melihat sendiri, menjaksikan sendiri dan mengalami sendiri watak anti-tani dan anti-buruh, djadi watak anti-sokoguru²- revolusi dari harian Merdeka", BPS", ,Soksi", HMI", dsb. dengan tokoh²nja jang, demi menghormat mereka, baiklah kita sebut penjusun ,,Jutiisme", Diahisme", Su- mantoro-Sukarniisme". Disamping mengotjeh kembali tentang ,herordening", ,tirani fikiran", tirani phisik" dsb. jang semuanja telah kita djawab dalam polemik-besar j.l., Merdeka" agak ber-hati² sedikit mengenai Nasakom dengan menjinggung- nja sekali, jaitu menjatakan menjetudjui"nja (bukannja aktif menggalangnja, bukannja aktif mengusahakannja), dan agak ber-hati² pula terhadap Marxisme dengan berbitjara tentang Marxisme seperti jang ditrapkan oleh Bung Karno didalam masjarakat kita, dengan kejakinan²- nja bagaimana sę-baik²nja mentrapkan fikiran² asing ini". Kita hanja sedikit bertanja : djadi toh diakui jang ditrapkan Bung Karno itu ,fikirana asing"? Kalau begitu, menurut ,,logika Merdeka", Bung Karnopun djadinja tidak mungkin menerima Sukarnoisme"? Dengan tambahan tjatatan tentang betapa Diahisme" se- laku djuruselamat Jutiisme" itu berusaha memetjahbelah
persatuan Nasakom dengan mentjoba meng-hadap2kan
»partai² Nasional atau Againa" dengan jang lain, jang ten- tunja terutama PK1, mnaka baiklah kita achiri sekedar djawaban kita untuk Merdeka" ini dengan sebuah kutipan dari Friedrich Engels, jang dalam salahsebuah suratnja kepada Sorge pernah mengupas kaum ,,burdjuis ... jang mau membebaskan proletariat dari atas" karena beranggap- an bahwa massa jang kasar, tak berpendidikan" itu ,,tak bisa membebaskan dirinja sendiri dan tak bisa mentjapai sesuatu apapun tanpa berkah pokrolbambu² jang pandai... dan njai2 tua jang sentimentil. .." Tapi soalnja sudah klop : mereka rupanja tak membutub- kan kaum buruh dan tani, terbukti dari maki²an mereka terhadap sokoguru revolusi ini, dan memang kaum burub dan tani tidak membutuhkan mereka ! Persetan BPS" & Cc1 Harian Rakjat” 5-12-’64.
QUO VADIS .,SUKARNOIS² BPS"? WPM Menlu Subandrio mencgaskan bahwa hanja ada satu Interpretasi mengenai adjaran® Bung Karno, jaitu tulisan² Bung Karno scndiri. Peringatan ini, jang setjara litjik dikorup dan tidak disebutkan dalam berita Berita Indonesia", diberikan oleh WPM Subandrio kepada apa jang menamakan dirinja Badan Pendukung Sukarnoisme" (,BPS") dan ,,Soksi". Tak ada fakta jang lebih penting akan watak kereaksi- oneran BPS" selain kenjataan bahwa jang per-tama" me- njatakan mendukung Sukarnoisme" itu adalah... Soksi" dan HMI"! Bahwa ada sebuah badan Keristen ikut² dalam gerakan ini, kita hanja ingin mentjatat kenjataan sedjarah bahwa tempoharipun ada badan Keristen jang ikut² ,Liga Demo- krasi" dan Manikebu" jang ke-dua²nja kemudian dilarang itu. Mudah²an mereka tidak terlambat beladjar dari peng- alaman. Ribut² belakangan ini tentang filsafat dan ideologi, jang hanja bertudjuan dan berakibat membelokkan kegiatan dari mempersatukan potensi konfrontasi mendjadi meme- tjah potensi front nasional, membelokkan sasaran dari
terfauap Malaysià" mendjadi terhadap Nasakom, seka- rang ini ditjoba orang untuk diberi badju baru jaitu dengan mentjatut, dan dengan demikian menodai, nama Sukarno. Kita hanja ingin bertanja : Quo vadis Sukarnois² BPS" ? Mau mengikuti djedjak Liga Demokrasi" dan Manike- bu"? Bajangkanlah betapa fantastisnja nama baik Sukarno digabungkan dengan nama tjemar Soksi" dn HMI"! Hanja djika semua patriot dan demokrat, semua Manipolis bersatupadu melawan penodaan nama Kepala Negara dan membongkar kereaksioneran BPS" dengan terusterang, maka kaum reaksi akan bisa dibendung dan dikalahkan. Djelas bagi Rakjat bahwa dalam keharusan Manipolis de- markasi antara kawan dan lawan revolusi, kaum BPS" itu berada diseberang sana garis perbatasan. Kesalahan terutama dari BPS" adalah bahwa mereka meremehkan kesedaran politik Rakjat dan menjangka bahwa Rakjat bisa dikaburkan pandangannja sehingga tak bisa lagi menapis emas dari ampas. Rakjat boleh dipengapakan sadja, tetapi begitu Rakjat diremehkan, maka Rakjat itu achirnja akan meremehkan tuan² ! Editorial Harian Rakjat" 16-1-64 人 Instruksi CC PKI : GANJANG TERUS 'SUKARNOISME-BPS'! Pada tanggal 10 Desember 1964 Ketua CC PKI, D.N. Aidit telah mengeluarkan instruksi dengan tilgram kepada semua Comite Daerah Besar dan Comite Pulau PKI jang bunjinja sbb.: Sesudah mempeladjari dengan lebih teliti maka CC PKI memperkuat kesimpulan jang sudah pernah diambilnja tentang Sukarnoisme-BPS", Sukarnoisme" jang didja- djakan BPS" tidak lain adalah Manikebuisme dibidang politik sedangkan ,BPS" adalah ,,Liga Demokrasi" Gaja Baru. CC PKI menjerukan kepada semua Komunis Indonesia untuk ber-sama² dengan kekuatan Manipolis lainnja mengganjang terus Sukarnoisme-BPS". Demikian diberitakan oleh Biro Informasi CC PKI. Harian Rakjat 11-12-'64. 6&
",DEKLARASI BOGOR" Dalam suatu pertemuan jang historis 10 partai politik kita jang bermusjawarah dibawah pimpinan Presiden Sukarno telah bermufakat memaklumkan suatu Pernjataan Kebulatan Tekad" jang historis. Ini membuktikan dajahidup jang luarbiasa dari sistim Demokrasi Terpimpin, kehidupan kepartaian kegotongro- jongan nasional revolusioneor berporoskan Nasakom, dan kompetisi Manipolis. Ketika Tavip diumumkan, sudah terbajang bahwa perdjuangan akan bertambah intensif. Dan Tavip benar² berpandangan djauh dengan membajangkan, bahwa perdjuangan terutama akan berlangsung antara kaum Manipolis dan kaum munafik, antara kaum jang lurus dan jang menjeleweng. Terdjadinja sedjumlah ketegangan didalam negeri pada waktu-waktu belakangàn ini adalah pen- tjerminkan perdjuangan ini. Jang dibulan September jl. diusulkan Ketua CC PKI D.N. Aidit jaitu tatakrama Nasakom, jang disambut oleh Asmara Hadi dan Ali Sastro- amidjojo, jaitu bahwa antara kawan harus ditempuh konsultasi, dan terhadap lawan konfrontasi, kian dirasakan ketepatan dan keperluannja. Deklarasi Bogor" adalah teladan jang se-baik²nja tentang bagaimana harusnja mengurus masalah² jang timbul didalam front persatuan nasional. Dengan ini tak ada jang kalah, selain musuh, dan semua menang, selain musuh! Setelah Bogor" ini tak meragukan lagi bahwa konfrontasi mengganjang ,Malaysia" akan menghebat. Dengan menunda komentar kita atas isi Pernjataan itu sampai besok, kita sampaikan salam bahagia kita kepada semua sadja, Presiden Sukarno, Presidium Kabinet Dwi- kora, partai² politik dan pers serta Rakjat jang telah mem- bantu lahirnja kemenangan Bogor jang historis itu ! Editorial Harian Rakjat" 14-12-64.
",DEKLARASI BOGOR"
Deklarasi" bersedjarah jang lahir dari ,,KTT Bogor" itu selengkapnja berbunji seperti dibawah ini.
Kami, pemimpin² 10 Partai Politik jang merupakan
poros Nasakom, jaitu : 1. PNI, 2. NU, 3. PK1, 4. Perti, 5.
Partindo, 6. PSII, 7. Partai Katholik, 8. Murba, 9. Parkin-
do, 10. IP-KI, jang bermusjawarah di istana Bogor pada
tanggal 12 Desember 1964, dibawah pimpinan Pemimpin
Besar Revolusi/Presiden/Panglima Tertinggi Sukarno, setelah menindjau sedalam-dalamnja berbagai persoalan
penting jang dihadapi oleh Rakjat dan Negara Republik Indonesia dewasa ini, menjatakan sebagai berikut:
Pertama: Demi suksesnja Revolusi indonesia, kami sei- ja sekata dan bertekad bulat untuk lebih memperhebat
pengganjangan terhadap projck Neokolonialisme ,Malay-
sia" untuk lebih memperhebat lagi pelaksanaan Dwikora,
jaitu membantu perdjuangan Rakjat2 Malaya, Singapura
dan Kalimantan Utara; chusus mengenai bantuan kepada perdjuangan Rakjat Kalimantan Utara kami akan memperhebat gerakan sukarelawan dan memperbesar sokongan ke-
pada Negara Kesatuan Kalimantan Utara dibawah pimpin-
an PM Azahari. Kedua: Dalam rangka mempcrhebat ketahanan revolusi Indonesia kami bertekad bulat untuk memupuk dan memelihara persatuan Nasional jang progresif revolusioner berporoskan Nasakom untuk lebih baik rmengamalkan Pantjasila, Manipol/USDEK dan pedoman2 pelaksanaan- nja. Kami akan terus mengembangkan massa-aksi revolusioner, terus mengganjang Nekolim dan kontra-revolusi serta subversi. Kami akan saling mendjaga untuk tidak me- ngadakan interpretasi² tentang adjaran golongan lain jang berakibat merugikan golongan lain jang sudah menerima Pantjasila dan Manipol/USDEK itu. Ketiga: Untuk melaksanakan hal² tersebut diatas dan untuk menjelesaikan problim² nasional, misalnja masalah² jang menjangkut pelaksanaan UUPA dan UUPBH, maka kami akan mengutamakan sistim konsultasi dan musjawa- rah jang didjiwai oleh semangat kegotongrojongan Nasional revolusioner berporoskan Nasakom, baik diantara Partai² maupun antara Partai² dan Pemcrintah, baik dipusat maupun di Daerah². Chusus dalam menjelesaikan sengketa tanah, kami berpendapat, bahwa pedjabat dan kaum tani djuga wadjib bermusjawarah, tanpa menggunakan insinuasi. iptimidasi dan sendjata.
Keempat : Kami membantah se-keras²nja berita bohong dari fihak Nekolim jang mengatakan, bahwa Pen!mpin Besar Revolusi Bung Karno akan meletakkan dabatan. Rakjai Indonesia lewat MPRS telah mengangkai Bung Karno sebagai Presiden se-umur hidup dan sebagai Peinim- pin Besar Revolusi Bung Karno tidak pernah minta nieletak- kan djabatan, dan Rakjat Indonesia pun tidas akan meng- izinkan Bung Karno meletakkan djabatan, baik sebagai
Presiden Panglima Tertinggi, maupun sebagai Pemimpin
Besar Revolusi. Demikianlah kebulatan tekad kami jang keluar dari hati sanubari kami dan berdasarkan kejakinan kami masing. Semoga Tuhan memberikan usia jang pandjang kepada Bung Karno dengan lindungan taufik dan ndaiat-Nja dan semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir batin kepada kami sekalian untuk melaksanakan kebulatan tekad kami ini.
Istana Bogor, 12 Desember 1964. KAM1:
PNI : 1. Hardi SH (Ketua 1), 2. Ir. Surachman (Sek-
djen); 2. NU : 1. K.H.Idham Chalid (Ketua Umum), 2. Aminudin Aziz (Sekdjen); 3. PKI : 1. D.N. Aidit (K.etua),M.H. Lukman (Wakil Ketua D); 4. Perti: 1 K.H. Siradjudin Abbas (Ketua Umum), 2. Sofian Sirad| (Wakil Ketua Umum); 5. Partindo: 1. Adisumarto (Sekdjen B),
- Phoa Thoan Hian SH (Anggota Dewan Harian); 6. PSII:
- Arudji Kartawinata (Ketua L.T.), 2. Anwar Tiokroami noto (Ketua DP); 7 Partai Katolik : 1, 1.J. Kasimo (Wakil Ketua), 2. F.C. Palaun Suka (Wakil Ketua); 8 Murba : 1, Wasid Suwarto (Ketua Umum), 2. Sukarn: Kartodiwirjo (Ketua I); 9. Parkindo: 1. M. Siregar (Waki Ketua Umum I), 2. Sabah Sirait (Sekdjen); 10. {P-KI Achmad Sukarnadidjaja (Pd. Ketua Umum).
SEBUAH PENILAIAN HANJA empat fasal termaktub dalam Deklarasi Bogor", tetapi empat fasal jang bagaimana Fasal pertamanja, jang mengenai perhebatan konfron
tasi terhadap Malaysia" dengan perhebatan gerakan sukarelawan dan sokongan kapada PM Azahari, berbitjara untuk dirinja sendiri. Begitu ganblangnja fasal ini, sehingga setiap usaha membelokkan usaha dan kegiatan Rakjat dari konfrontasi kepada ribut2 seperti ribut² soal Pantjasila", Sukarnoisme" jang hanja memetjah persatuan itu, benar² chianat adanja. Fasal kedua mengandung kebulatan tekad untuk lebih baik mengamalkan Pantjasila, Manipol, Usdek, dengan mengutamakan persatuan Nasakom dan mengutamakan aksi massa. Ini berarti pukulan bagi kaum munafik dan kaum lipservice, djuga bagi kaum jang massa-phobi, buruh- phobi, tani-phobi dan aksi-phobi. Kebulatan tekad untuk tidak saling menginterpretasi adjaran golongan lain jang berakibat merugikan golongan lain, penting sekali arti praktisnja. Dengan ini dihentikanlan hendaknja, sekali dan se-lama²nja, misalnja ,,tafsiran" oleh HMI", Soksi" dan BPS" atas Marhaenisme, atau ,tafsiran" golongan Katolik misalnja terhadap Marxisme, dsb, dsb. Fasal ketiga menggolongkan pelaksanaan UUPA dan UUPBH sebagai problim nasional dengan memberikan tekanan pada perlunja konsultasi dan musjawarah. Hukum- an dalam fasal ini atas insinuasi, intimidasi dan sendjata", jang terang ditarik a.l. dari pengalaman penembakan jang terkutuk dari sebagian alat negara terhadap kaum tani baru² ini, akan bisa menjehatkan iklim politik ditanahair kita. Fasal keempat sekaligus berarti hantaman bagi kaum imperialis jang membual achir2 ini tentang pengunduran diri Presiden Sukarno" dan hantaman bagi kaum munafik bumiputera jang, sekalipun setjara samar² mulai menanam- kan ketidakpertjajaan terhadap kepemimpinan Bung Karno. Hanja empat fasal termaktub dalam Deklarasi Bogor", tetapi empat fasal jang bagaimana! Masalah² paling urgen dalam kehidupan politik ditanahair kita telah mendapatkan djawabannja didalam Deklarasi" itu, dan dengan dokumen itu scbagai sendjata, dapat- lah kita sekalian, dari aliran politik dan kepertjajaan agama apapun, berkompetisi dalam amal Manipolis kita. Editorial Harian Rakjat" 15-12-’64.
.,BPS" DIBUBARKAN Presiden/Panglima Tertinggi ABR1/KOT1 dengan keputusan No. 72/KOTI/1964 tgl. 17 kemarin membubar- kan dan melarang adanja organisasi Badan Pendukung/ Penjebar Sukamno-isme" (,,BPS"). Dalam keputusan Presiden itu disebutkan bahwa apa jang dinamakan Badan Pendukung/Penjebar Sukarno-isme dalam kenjataannja telah menimbulkan gedjala-gedjala perpetjahan diantara kekuatan nasional progresif revolusioner, sehingga dapat membahajakan kelantjaran usaha mentjapai tudjuan Revolusi dalam tingkatan dewasa ini. Keputusan jang ditandatangani oleh Bung Karno sendiri itu selengkapnja adalah sbb. : Menimbang:
Bahwa untuk memperhebat dan meningkatkan pe-
laksanaan Dwikora dewasa ini, harus ditjegah adanja perpetjahan diantara kekuatan Nasional jang progresif-revolusioner, dan harus dipupuk kesatuan dan persatuan seluruh Bangsa.Bahwa apa jang dinamakan Badan Pendukung/
Penjebar Sukarnoisme dalam kenjataannja telah menimbulkan gedjala² perpetjahan diantara kekuatan Nasional Progresif-Revolusioner, sehingga dapat membahajakan kelantjaran usaha² mentjapai tudjuan Revolusi dalam ting katan dewasa ini;Bahwa berhubung hal² tersebut diatas perlu mem-
bubarkan dan melarang Organisasi Badan Pendukung/ Penjebar Sukarnoisme". Mengingat:Penetapan Presiden Republik Indonesia No. 4
Tahun 1962 Lembaran Negara tahun 1962 No. 97 tentang Keadaan Tertib Sipil;Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 226
tahun 1963. Mendengar: Ikrar Bersama sepuluh Partai Politik di Bogor pada tanggal 12 Desember 1964.
MEMUTUSKAN: Menetapkan: Keputusan Presiden tentang Pembubaran dan larangan adanja organisasi ,Badan Pendukung/Penjebar Sukarno-isme". Pasal 1. Organisasi Badan Pendukung/Penjebar Sukarno-isme" dibubarkan dan dilarang. Pasal 2. Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkan. "MERDEKA" Ditetapkan di Djakarta pada
DIAH
tanggal 17 Desember '64.
DITAMPUNG KOTRAR Selandjutnja dengan keputusan No. 73/KOTI/1964 Presiden menugaskan kepada KOTRAR untuk menam- pung segala persoalan jang timbul sebagai akibat dari keputusan pembubaran dan larangan adanja ,,BPS" itu. Harian Rakjat" 18-12-1964.
PADA PEMBUBARAN ,,BPS" MAKA tamatlah riwajat ,BPS" sebagai bentuk terbaru dari kemunafikan dan pendurhakaan Manipol. Kenjataan bahwa sedang Manikebu" dulu dibubarkan oleh Presiden Sukarno begitu sadja, dan BPS" sekarang ini dibubarkan dengan suatu Keppres, membuktikan bah- 2n wa kadar bahaja bagi persatuan dan revolusi adalah lebih besar pada diri BPS" daripada pada Manikebu". Kenjataan lain, jaitu bahwa Keppres ini diambil dengan mendengar Deklarasi Bogor" membuktikan bahwa Ke-
putusan Presiden ini memang-suatī-kebidjaksanaan jang
se-demokratis²nja. Sukses perdjuangan Rakjat revolusioner membubarkan BPS" sekarang ini untuk kesekian banjak kalinja mem- buktikan, bahwa tak ada perdjuangan jang sia2, dan bahwa setiap tuntutan jang adil bisa dan pasti tertjapai apabila didukung oleh kekuatan massa jang besar. Salahsatu kebulatan tekad 10 partai dalam Deklarasi Bogor" berbunji: Kami akan terus mengembangkan massa-aksi revolusioner". Setelah BPS" dibubarkan sekarang ini, kebulatan tekad ini harus lebih? lagi ditunai- kan oleh setiap partai, ormas, golongan, perorangan jang tidak munafik. Salut kita atas Keputusan Presiden Sukarno! Editorial Harian Rakjat" 18-12-’64.
KEBANDELAN KEMARIN sudah kita bajangkan, bahwa seperti halnja kaum Manikebuis tempohari segera setelah Manikebu dilarang — menjatakan ,taat" kepada keputusan Presiden, demikianpun ,,BPS". Kalau kita batja Pengumuman pembubaran BPS" jang ditandatangani Sumantoro dan Asnawi Idris, disana ti d a k a d a sedikitpun pengakuan akan kesalahan² mereka. Dan kalau kita batja editorial² koran² utama BPS" maka kita djumpailah, bahwa Berita Indonesia", menulis ,tudjuan utama dari BPS untuk menjebar-luas- kan Sukarno-isme dengan Keppres tsb. mendjadi lebih ter- djamin", sedang Warta Berita", mengatakan bahwa BPS telah sedikit banjak ada hasilnja". Ini adalah kebandelan jang tjukup diluar batas, ke- ngototan jang tak tahu malu, kenekadan jang mengagum- kan, ja, kebrutalan dalam artikata jang se-sungguh²nja! Setiap orang bisa membatja didalam Keppres penegas- an bahwa BPS" dibubarkan karena menimbulkan per- petjahan dan karena membahajakan revolu- si. Adapun jang mengenai penugasan kepada Kotrar, setiap orangpun bisa membatja bahwa jang harus ditam- pung adalah b u k a n pekerdjaan BPS", seperti jang di- gambarkan ,BI" dan ,Warta Berita", melainkan aki-
b at dari pembubaran BPS. Orang toh tak usah mendjadi ahlihukum untuk mengerti, bahwa akibat dari pembubaran BPS" dan kenjataan bahwa jang diserahi mengurus- nja Kotrar, adalah terutama keharusan rituling dari kaum ,BPS" dari berbagai badan dan instansi. Djadi, kalau pembubaran Manikebu" tempohari tidak disertai keharusan rituling, dan rituling baru terdjadi setelah massa menuntutnja, maka pembubaran ,BPS" sekarang ini d i- sertai keharusan rituling itu, sehingga rituling dari kaum BPS" mendjadilah k e w a d ji b an alat² negara! Seperti sedjak Manipol dimaklumkan selalu dibajang- kan oleh Presiden Sukarno: kaum reaksioner itu biasanja tak mau minggir setjara sukarela mereka harus dipinggirkan ! BPS" sudah dipinggirkan, maka datanglah sekarang giliran korana dan orang BPS". Ini adalah konsekwensi jang paling logis dari Keppres 72 dan 73! Editorial Harian Rakjat" 19-12-'64.
SETELAH PEMBUBARAN ,,BPS" SETELAH BPS" dilarang dan dibubarkan, sebagai tindakan susulan jang pertama dikeluarkan ,Pengumuman Presiden" jang ditandatangani djendral Yani jang a.l. me- larang ,tafsiran2 dan tulisan² jang bertentangan dengan se- mangat keputusan² (Keppres 72 & 73) tsb." Jang tidak bertentangan, dan jang bahkan mendukung dan merupakan materialisasi Keppres 72 & 73, tentu sadja diperkenankan dan bahkan diperlukan. Demikianlah mi- salnja tindakan PWI Djakarta Raya memetjat-sementara 12 orang anggotanja (Sumantoro & Co) adalah tindakan jang diperkenankan dan bahkan diperlukan, dan makaitu terpudji. Tetapi bagaimana dengan koran² klub reaksioner BPS"? Mereka bukan sadja tidak sedikitpun mengakui kesalahan dan pengchianatannja, tetapi bahkan menulis tadjukrentjana² jang djustru bertentangan dengan sema- ngat keputusan² Presiden. Mereka bahkan, tanpa merasa berdosa sedikitpun, memutarbalikkan persoalan dengan seenaknja sadja. Bajangkanlah: Berita Indonesia" dalam tadjukrentjana jang tjuma 35 baris pandjangnja menuduh Menko D.N. Aidit membahajakan persatuan", mera-
tjuni persatuan", meretakkan persatuan", membahajakan kebulatan tekad", berfikir se-wenang2" dsb, dsb. Kenjataan bahwa setelah BPS" dibubarkan BI" & Co masih begitu mengotot dalam memetjahbelah dan begitu kaja akan maki²an tetapi begitu miskin akan alasan², membuktikan betapa tepatnja sudah Keppres 72 dan 73. Ini membuktikan pula sekaligus, bahwa pembubaran BPS" sadja tidaklah tjukup, dan bahwa pembubaran itu harus disusul oleh tindakan² rituling oleh KOTRAR atas koran² dan orang BPS". BI" menuduh Aidit melanggar, tidak perdulikan samasekali pada peringatan... KOTI". Padahal apa jang dinjatakan Aidit ? Bahwa BPS" merupakan sambung- an kegiatan kaum imperialis untuk melemahkan potensi nasional kita sehingga membahajakan Dwikora dan penje- lesaian revolusi". Apa jang salah disini? Batjalah Keppres 72, dan disana djelas dikatakan bahwa BPS" itu dalam kenjataannja telah menimbulkan gedjala2 perpetjahan diantara kekuatan nasional progresif revolusioner, sehingga dapat membahajakan kelantjaran usaha mentja- pai tudjuan revolusi", Djadi ap a jang ,dilanggar" dan a p a jang Aidit tidak perdulikan"? ,,BI" menuduh Aidit se-wenang2" karena kata mereka Aidit mau keadaan ,harus nurut" kepadanja. Taruhlah, sekali lagi taruhlah jang dikatakan BI" ini benar, raaka kita djumpailah konsekwensi fikiran sematjam ini: Aidit
bersama kekuatan progresif lainnja menghendaki BPS"
dibubarkan, ternjata kemudian Presiden Sukarno ,,nurut", padahal Aidit itu se-wenang", dus... Presiden Sukarno ",se-wenange"? Tuduhan BI" jang lain adalah bahwa Aidit meng- ingkari kebulatan tekad nasional jang ditelorkan di Bogor sebagai pernjataan 10 partai politik". Padahal, Keppres 72 dikeluarkan setelah mendengar Deklarasi Bogor", dus pembubaran ,,BPS" itulah jang sesuai dengan Bogor", dus ketjaman Aidit terhadap BPS"pun sesuai dengan ,,Bogor", djadi... bagaimana bisa BI-BPS", jang djustru dihukum oleh Keppres, me-njalah2kan orang jang menjam- but dan mendukung Keppres ? Ah, sebenarnja tak ada jang aneh disini — baik tadjukrentjana BI" Djumat maupun Sabtu adalah bukti hidup bahwa sesungguhnja ,BI" itu a n ti-Keppres. BI" konsekwen dalam menimbulkan
perpetjahan, konsekwen dalam membahajakan revolusi, konsekwen dalam kereaksioncrannjatidakkah kita harus angkattopi kepada ,,BI" & Co? Adalah ,BI" jang memulai heboh tentang Pantjasila", dan dengan demikian memetjah persatuan, adalah BI" jang memprovokasi amarah Rakjat dengan membela film² AS dan kenaikan harga beras, adalah BI" jang anti aksia pendobrakan kematjetan landreform, adalah ,,BI" jang lagi² memetjah persatuan dengan gara² ,Sukarnoisme", dan djika semua ini dihubungkan dengan kegiatan agen² pro- vokator jang menjebarkan Dokumen PKI" jang palsu jang sudah dikupas di ,KTT Bogor", maka lengkaplah kreak- sioneran kaum BI" & Co. Tadjukrentjana BI" Sabtu j.b.l. ini seperti mau berkata begini: Kami menghalangi kemauan Aidit, ini kami be- ritahukar kepada chalajak ramai, kenapa kami dilarang ?". Tetapi bagaimanapun d u a hal sekaligus dibikin makin djelas oleh BI": kerevolusioneran PKI dan kereaksioner- an BI-BPS" & Co. Suatu hal jang terpudji, dan makaitu terpudji djugalah tuntutan² untuk meritul koran² dan orang² "BpS"! Editorial Harian Rakjat" 21-12-’64. SEDIKIT TENTANG PODJOK RUANG podjok atau sudut adalah salahsatu tjiri chas suratkabar Indonesia, atau, salahsatu tjiri kepribadiannja djika para pembatja mau menjebutnja demikian. Djawoto dalam Djurnalistik dalam praktek" menjata- kan bahwa podjok² suratkabar² kita sering baik, balikan kadang² baik sekali, jaitu dalam bentuk h u m or atau paling djauh scherts", tetapi kata bekas Ketua Umum PWI dan Pemimpin Redaksi ,Antara" itu, djuga sering digu- nakan tidak sebagaimana mestinja diwaktu memuntjak- nja pertentangan2 politik", ,,sinis". Kita jakin akan rasa-humor sebagian amat terbesar para pembatja kita, maka itu kita jakin bahwa para pembatja tid a k akan bisa ketawa membatja misalnja podjok koran BPS", Warta Berita" 18 Des. jl., jang a.l. memuat kata² jang ditudjukan kepada kita kaum anti-BPS" — Maaf untuk pengutipan ini! pantat", keparat", badjingan
tengik", setan bedebah", ,berak", buaja", batjot",
dekil", dsb, dsb, dan kalau djuga kita batja harian itu tertanggal 21 Des., maka akan dilengkapiiah chazanah tjatjimaki itu dengan bulus", monjet, don.ba", tjin- dil", kutjitja". Sekalipun kita mengakui hak akan voor- liefde kepada segala kotoran dan binatang itu pada koran² BPS", chususnja Warta Berita", tetapi sebagai Rakjat jang beradab, jang sedang membina pers jang beradab pula, rasanja kita tak bisa tak mengindahkan gedjala“ jang miring itu. Tetapi satu hal harus kita akui, bahwa koran" BPS" memang pemegang rekord dalam s e g a- la hal: bahkan dalam kerendahan mutu podjoknja di- lampauinja prestasi Mochtar Lubis! Kita tak tahu apakah redaktur² klub reaksioner BPS" sendiri masih punja rasa-humor, tetapi sebuah koran di Surabaja, jang pertama jang membongkar Gerakan Anti Sukarno", jaitu Djawa Timur", memuat awal bulan ini sebuah podjok sbb. : Djangkrik ngerik ngisore boto Udan gerimis budal nang gaden Betjik ketitik, olo ketoro Djare Sukarnois" kok anti-Presiden! Ada dikatakan orang bahwa lelutjon itu tak mungkin diterdjemahkan, maka kitapun tak menterdjemahkannja. Tetapi tentulah tidak semua klik ,BPS" faham bahasa Djawa, maka barangkali Pedes-gemes"nja Mang Tju- bit" dari Harian Ekonomi Nasional" — berhubung dengan utjapan Prof. Dr. H. Dj. Roeslan Abdulgani ini lebih bisa mereka tangkap: Karena ketangkap basah 'Merdeka' tjoba bela diri: Kalau jang tidak disetudjui penumpang gelapnja, turunkan sadjalah dan kereta toh djalan terus,
katanja....
Jang berabenja, kan masinisnja jang gelap !" Bagaimanapun orang bisa membandingkan antara humor² begini dan maki²an atasnama podjok" oleh koran² BPS", jang nota bene belakangan ini saling podjok-me- modjok di-halaman2 mereka sendiri... Sudah dari dulu kita peringatkan : ber-hati²lah membe- rikan izin kepada petualang pers. Sekarang memang nasi sudah mendjadi bubur. Barangkali hanja KOTRAR jang bisa mengganjang bubur ini ... Editorial Harian Rakjat" 22-12-'64.
TJATATAN ATAS' TJATATAN (1) BERITA Indonesia" kemarin memuat Noot Redaksi" atas editoriai kita 21 Desember Setelah penibuiarao BPS". Ada jang sangat baik dalam tjatatan ,Bi" itu, jaitu : pengakuánnja membela film² AS dan membela kenaikan harga beras. Bajangkanlah ,harian pelopor prokama- si" jang membela kebudajaan imperialis dan meimbel pe- njengsaraan Rakjat! Voila! Diakuinja pula bahwa BI" telah membotjorkan bahan Pekarev. Rupanja begitu terpisahnja BI" dari soal Pekarev, sehingga sedikitpun tak diketahuinja aturan Pekarev. Bahan Pekarev, terutama jang tjeramah, bolen di- umumkan apabila jang melakukannja pentjeramahnja sendiri. Sedang dalam hal BI", diselundupkannja warta- wannja jang b u k an Karev kedalam Pekarev dan dibo- tjorkan dan dihebohkannja ,,Pantjasila". Adalah sangat menarik perhatian bahwa editorial HR" 19 Desember tidak diberinja ,noot". ,HR" menundjuk- kan ber-kali² dan ini tak pernah disangkał cieh Bi" & Co; bahwa baik ,,Pengumuman pcmbubaran BpS" mau- pun komentar2 koran2 klub reaksicner BPS" tid ak sedikitpun mengakui kesalahan ,BPS", dan bahkan dengan tak tahu malu menganggap BPS" dan segala kerdja ,,BPS" itu benar", bahkan lagi — o, brutalitet! — menganggap bahwa KOTRAR akan melandjutkan" kegiatan BPS". Harus kita namakan apa sikap begini ini kalau bukan brutal, — maaf parapembatja atas pemakaian istilal ini kurangadjar? Lalu ,BI" menjatakan lagi ,,tidak bisa membenarkan" tafsiran Aidit atas Deklarasi Bogor" tentang persatuan nasional Tentu sadja! Aidit menghendaki dan membela persatuan dari semua tenaga revolusionet sedang- kan BI" dan BPS" & Co dengan teriak². persatuan"- nja menghendaki dan mengimpikan persatuan anara te- nagaa revolusioner da n tenaga2 reaksionet pS" — kira² dong, bung! Editorial Harian Rakiat" 23.12-64.
sendiri dengan menganggap bahwa kerdja BPS" itu benar" dan bahkan diteruskan" oleh Kotrar, ini menurut ,BI" tentulah tidak menjerang" politik Pemerintah.. Barangkali kutub utara sudah diselatan dan jang selatan diutara? Dalam podjoknja pada hari jang sama, BI" memba- jangkan bahwa setelah BPs" dibubarkan, mungkin korannja ditutup, partai² dan menteri² pendukungnja akan dapat giliran". Kali ini podjok ,BI" mengandung humor jang dalam! Editorial Harian Rakjat" 29–12-64.
TJATATAN ATAS TJATATAN (II) UNTUK kedua kalinja parapembatja kita persilahkan menikmati kenjataan betapa sikoran pelopor BPS", ,Berita Indonesia", benar² teguh dalari membela film² AS dan membela kenaikan harga beras. Bravo! BI" dalam Not redaksi"nja jang kedua kalinja 24 Desember j.b.l., djadi mendjelang Natal,-menuduh kita dengan memilih kata jang kasar jaitu dakwaan ,se-wenang" sampai dua kali: se-wenang2" dalam ,berfikir" dan dalam memaksakan kehendak". Kita tak tahu apa maksud" BI" bahwa kita ,,se-wenang2" dalam memaksakan kehendak". Barangkali bahwa kita mengandjurkan BPS" dibubarkan lalu benar² ia oleh Presiden dibubarkan? Tentang se-wenang" dalam berfikir" entahlah apakah ini hasil pemikiran jang amat luarbiasa arifnja dari ,BI" sibidjakbestari, tetapi, kalau BI" begitu rindu untuk terserah kepada kita sendiri", lalu apa jang dimaksudkannja dengan berfikir se-wenang2"? Tentu kita punja fikiran jang bebas, terserah kepada kita sendiri,
a.1. untuk membongkar sifat palsu BPS", untuk meng- upas tulisan² Juti, djuga untuk mengandjurkan ,BPS" dibubarkan. Tidakkah djalannja kedjadian djustru membe- narkan kita? BI" mem-bongkar² lagi soal Pekarev, tanpa menjang- kal bahwa ia benar telah membotjorkan bahan²nja setjara tidak sah. Tapi pengungkatannja kali ini dilakukannja se- akan² tak pernah ada transkripsi dari pidato D.N. Aidit jang tape-recorded itu diumumkan. Pengabaian akan fakta²
- lihatlah sifat djurnalistik BPS" ini! Menurut BI" kemudian, menolak film² AS dan menen-
tang kenaikan harga beras itu ,menjerang" politik Pemerintah. Apa sadjalah jang BI" katakan, tapi kita t i d ak menjerang Rakjat dan kita difihak Rakjat! Daß amatlah djenakanja bahwa menjokong boikot atas film AS jang sampai sekarang berlangsung terus, dus toh dibenarkan oleh Pemerintah, dikatakan ,menjerang" Pemerintah. Lalu orang Pemerintah mana jang kiranja begitu gairah menjetudjui kenaikan harga beras ? Sebalik- nja, sedang Keppres 72-73 tegas2 mengatakan ,BPS" me- nimbulkan perpetjahan dan membahajakan revolusi, dan BI" menafsirkan Keppres ini menurut pas badannja B2
RASIALISME ,,BERITA INDONESIA" TAK salah perhitungan kita bahwa setelah ,,BPS" dibubarkan, pasti kaum BPS" itu mentjari gara² lain untuk meneruskan politik petjahbelahnja. Sampai sebegitu djauh belum lagi djelas tema apa jang akan mereka pilih dan tjara apa jang akan mereka tempuh. Tetapi dasar situasi ditanahair kita situasi revolusioner, maka segala sesuatu berdjalan tjepat, djuga terbukanja rentjana² kaum ,,BPS"! Tadjukrentjana Berita Indonesia" 5 Djanuari kemarin sungguh teramat. penting untuk dilewatkan begitu sadja. Kita andjurkan kepada semua orang Indonesia jang ber- minat kepada masalah² politik untuk membatja, mem- batjaulang, mempeladjari, menganalisa dan menjimpulkan tadjukrentjana BI" itu. BI", bukan hanja untuk kesekian banjak kalinja membela kenaikan², atau lebih tepat pen aikan2 harga² barang, tetapi bahkan setjara lebih tak terkendali lagi menundjukkan wataknja jang anti-Rakjat. Dia begitu membetji delegasi dan demonstrasi2 Rakjat jang menun- tut penurunan harga, dan dalam sangkanja akan dapat mendiskreditkan demonstrasi² itu, maka discbutnjalah aksi² itu permainan politik golongan tertentu" jang alangkah kasarnja" dalam mentjatut nama Rakjat". Rupanja urusan jang dibela, BI" itu sudah begitu djauh berdjalin dengan tjatut-mentjatut sehingga tak bisa lagi difahaminja alam fikiran jang diluar tjatut-tjatut dan tak bisa difahaminja bahwa fikiran dan perasaan Rakjat me- mang menghendaki supaja harga² barang2 turun. Sean-
sama jang baik. Oleh karena itu semua jang berkepentingan hendaknja mendjauhi sesuatu tindakan jang dapat merugikan iklim' kerdjasama itu". Sengadja kita kutip Manipol agak pandjang, agar djelás bagi parapemibatja bahwa djutsru merugikan iklim kerdjasama" itulah jang kini dilakukan oleh BI" & Co! Apa namanja ini kalau bukan sabotase terang²an terhadap Manipol ? Rupanja kaum rasialis tak bosan² untuk meng-ulang² tema usangnja. Baiklah, kitapun dan segenap Rakjat jang progresif takkan bosan" untuk ,meng-ulang" perlawanan dan hantaman² kita terhadap kaum rasialis! Editorial Harian Rakjat" 6-1-65
dainjapun benar ada soal ,,mentjatut nama Rakjat", ra- sanja Rakjat tak keberatan namanja ditjatut" asal untuk memperbiki keadaan ekonomi umumnja dan chususnja untuk penurunan harga² barang! Jang terang tidak men-
tjatut nama Sukarno....
Lalu BI" menjarankan supaja Pemerintah bertindak menguasai seluruh peredaran uang rupiah". Tahukah BI" apa jang dimaksudkannja dengan kalimatnja ini? Siapa doktor ekonominja maka tampil ia dengan saran jang tak ada sangkutpautnja dengan teori dan praktek ekonomi apapun selain teori dan praktek ckonomi... fasis ini? Ja, BI" & Co sudah punja tema baru, dan tema pilih- annja kali ini adalah djiplakan dari teroris² 10 Mei" jang ajah-rochaninja tidaklah lain daripada Adolf Hitler, jaitu: rasialisme! Teori" jang dikemukakan BI" sangat sederhana: Pemerintah hanja menguasai 40% dari peredaran rupiah, sedang jang 60% berada ditangan masjarakat" dan se- bahagian besar berada ditangan modal asing-domestik". Lalu BI" mendjandjikan akan memberikan segala so- kongan apabila Pemerintah berani bertindak tegas mengu as ai" modai itu semuanja. Djuga tudjuan BI" djadinja sederhana : menindas kaum kapitalis asing-domestik, apakah ia berbangsa Arab, India, Pakistan, Tionghoa, atau lain², dan dengan demikian memberikan djasa jang amat luarbiasa sctianja kepada Stanvac, Caltex, BPM-Shell, Unilever, dll, pendeknja, djasa jang tentu akan sangat diterimakasihi oleh kaum modal imperialis! Dan seperti galibnja, semua usaha reaksioner selalu di- mulai dengan pemalsuan atas Manipol. Djuga BI" kali ini! BI" melukiskan se-akan² sarannja untuk menindas modal asing-domestik itu sesuai dengan .,semangat Manipol" Padahal betapa huruf dan djiwa Manipol tentang bal ini akan bisa disunglap ! Inilah bunji Manipol: s e- gal a tenaga dan seg a la modal jang terbukti progresit akan kita adjak dan akan kita ikut-sertakan dalam pem- bangunan Indonesia. Dus djuga tenaga dan modal bukan- asli jang s u d a h menetap di Indonesia... akan mendapat tempat dan kesempatan jang wadjar... Untuk melaksana- kan maksud itu maka perlu adanja iklim kerdja-
PARTAI ,,MURBA" DILARANG
Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI dalam surat keputusannja ttg. 6 Djanuari 1965 menetapkan, melararig untuk sementara waktu Partai Politik Murba" baik pim- pinan pusatnja, daerah², tjabang? dan sebagainja, maupun anggota²nja termasuk pula organisasi² massa dan lembaga² lainnja jang berinduk dan bernaung pada Partai Politik Murba, melakukan kegiatan apapun. Pelangaran terhadap keputusan ini, diantjam dengan tindakan² berdasarkan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1963 tentang kegiatan politik, Penetapan Presiden No. 11 tahun 1963 tentang pemberantasan kegiatan subversi dan ketentuan² hukum lainnja jang berlaku. Keputusan Presiden/Panglima ABRI/KOTI itu, disam- paikan hari Rabu djam 14.00 kepada para wartawan Ibu- kota, oleh Kepala Penerangan KOTI Kol. M. Ng. Sunarjo dalam suatu konperensi pers dikantor pusat penerangan KOTI di Djakartà.0 Keputusan selengkapnja sbb. :
KEPUTUSAN PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ABRI/ KOTI No. 1/KOTI/1965 KAMI, PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/ KOMANDO OPERASI TERTINGGI Menimbang :
bahwa untuk meningkatkan pelaksanaan Dwikora
dewasa ini dibutuhkan adanja kesatuan dan persatuan seluruh kekuatan Nasional jang progresif revolusioner.bahwa adanja kedjala² perpetjahan diantara kekuat-
an Nasional jang progresif revolusioner jang timbul dewasa ini perlu ditjegah dan dihindarkan;bahwa demi berhasilnja pelaksanaan Dwikora de-
wasa ini, segala kegiatan dari seluruh masjarakat termasuk organisasi² massa dan partai-politik harus diarahkan dalam rangka pengganjangan projek Nekolim Malaysia";bahwa berhubung dengan hal2 tersebut diatas, per-
lu untuk sementara waktu melarang kegiatan partai politik Murba; Mengingat :Penetapan Presiden Republik Indonesia No. 4 tahun
1962 Lembaran Negara tahun 1962 No. 97 tentang Ke- adaan Tertip Sipil;Keputusan Presiden Republik Indonesia No 226
tahun 1963; Memperhatikan : Ikrar Bersama Sepuluh Partai Politik di Bogoı pada tanggal 12 Desember 1964; MEMUTUSKAN: Menetapkan : Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Komando Operasi Tertinggi tentang Larangan untuk sementara waktu partai politik Murba melakukan kegiatan apapun.
Pasal 1. Untuk sementara waktu partai politik Murba baik pim- pinan pusatnja, daerah², tjabang dan sebagainja, mau- pun anggota²nja termasuk pula organisasi2 massa dan lembaga² lainnja jang berinduk dan bernaung pada partai politik Murba dilarang melakukan kegiatan apapun. Pasal 2. Pelanggaran terhadap ketentuan jang tersebut dalam pasal l, dapat diambil tindakan berdasarkan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1963 tentang Kegiatan Politik, Penetapan Presiden No. 11 tahun 1963 tentang Pemberan- tasan Kegiatan Subversi dan ketentuan² hukum lainnja jang berlaku. Pasal 3. Keputusan ini mulai berlaku pada ları ditetapkan. Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 6-1-1965 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/ KOMANDO OPERASI TERTINGGI ttd. SUKARNO Harian Rakjat" 7-1-1965.
MURBA SEBAGAI PARTAI TERLARANG KALAU Keppres 72-73 tahun jang silam membubar- kan ,,BPS", maka Keppres 1 tahun ini melarang untuk sementara waktu Partai Murba jaitu untuk meningkatkan pelaksanaan Dwikora dan berdasarkan Deklarasi Bogor", sedang pelanggaran² terhadapnja digolongkan kegiatan subversif. Kiranja tak ada seorangpun jano taktahu akan hubung- annja antara BPS" dan Partai Murba. Dan sekali kegiat-
an Murba dilarang, tentulah tindjauan kita tak bisa diba-
tasi pada hubungan BPS"-Murba sadja, tapi harus di- luaskan pada kegiatan² Partai Murba lainnja.
Mereka dalam politik praktis bukan hanja ikut giat me-
metjahbelah persatuan klas buruh (Pandu Kartawiguna
misalnja adalah salah seorang pelopor Soksi"), tetapi mereka djuga menghalangi aksi² anti-imperialis (dengan
a.l. membela agar film² imperialis AS diputar kembali) dan mengatjaukan perekonomian Rakjat (dengan meng- andjurkan diperbanjaknja uang beredar dengan 200 mil- jard rupiah dan membela kenaikan harga beras, harga bensin). Mercka bahkan giat menjebarkan Komunisto- phobi (dengan a.l. menjebarkan pendapat bahwa PKI adalah musuh paling berbahaja"), menentang Keppres 72-73 (dengan a.1. mendirikan Pusat Penerangan" sebagai penerus ,,BPS") dan berusaha mengganti Presiden Sukarno (jang tanda²nja kentara a.l. dari pidato-Surabaja Sukarni). Djuga dalam hal² jang boleh dikatakan prinsipiil-ideo- logis Partai Murba selalu bersikap negatif. Didalam Kons- tituante tempohari mereka menolak Pantjasila, dan bela- kangan ini mereka praktis djuga menjabot Nasakom, dengan a.1. menggolongkan diri mereka sendiri kadang² dalan ,Nas", kadang2 lagi dalam ,Kom". Dan paling achir mereka mau menaburkan lagi rasialisme. Djika pada kenjataan ini ditambahkan kenjataan lain, bahwa diantara tokoh Murba ada jang — sedang Rakjat banjak menderita akibat kesulitan? ekonomi — meng- gaet kekajaan negara, menggendutkan perut sendiri dan mendjadi kapitalis? birokrat -jang kaja-raja, maka lengkap- lah nentjidcraan mereka. Kita sepcnuhnja dapat memahami, dimaklumkannja Kenpres 1, dan kita kira mendjadilah kewadjiban kita se- kalian kaum Manipolis untuk membantu terlaksananja n:djuan Keppres tsb. dengan se-baik²nja, demi keselamat- an dan perkembangan front persatuan nasional revolusi- oner berporoskan Nasakom, anti-,,Malaysia", anti-impe- rialisme dan anti-fcodalisae umumnja.
Editorial ,Harian Rakjat" 8-1-'65.
SIKAP ,,MERDEKA"
DIPERSEMBAHKAN KEPADA TJAKRAWARTI
(Oleh: Pimpinan Redaksi ,,Merdeka")
SEDJAK Koti melarang dan membubarkan ,,Badan Pendukung dan Penjebar Sukarno-isme", dengan pertim- bangan untuk ,,memperhebat dan meningkatkau pelaksa- naan Dwikora dewasa ini" dan ,,harus ditjegah adanja per- petjahan diantara kekuatan nasional jang progressif revo- lusioner" serta ,harus dipupuk kesatuan dan persatuan seluruh Bangsa", sudah banjak air Tjliwung mengalir kelaut. Besama air jang mengalir kelaut u ikut serta
pula mengalir kotoran, fitnahan, segala hasutan² dan
utjapan kedji dilemparkan kepada suratkabar Merdeka" ini sebagai suratkabar, dan djuga kepada pemimpin²nja serta anggauta² stafnja sebagai manusia. Mereka ini, senantiasa dapat membuat kesalahan karena berani berbuat, berani berdjuang, jah, berani berkorban untuk kejakinannja dan kepertjajaannja kepada tjita² Revolusi Bangsa dan Negara jang tersusun dan terdjalin dengan tepat-tegas dalam adjaran? Bung Karno jang dengan singkat kami sebutkan selama ini dengan satukata : ,Sukarno-isme". Saban hari sedjak tanggal 11 Des. 1964 sampai hari ini s.k. ini dan pengasuhnja dituduh kontra-revolusi, di- intimidir, dipaksa supaja mengaku bersalah, diganjang me- lalui tirani fikiran dan segala tjara fasistis oleh golongan² tertentu agar kita hantjur sendiri atau dihantjurkan, akan tetapi sjukurlah sampai hari ini kita masih tegak dan ber- diri, berdjuang dengan tidak sempat menghela nafas, tetapi dengan kejakinan bahwa terhadap Revolusi, terhadap Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, terhadap bendera Sang Saka Merah Putih serta Tanah-air dan Rakjat jang kita tjintai kita tidak ada ingatan, pikiran atau pertim- bangan sedjenakpun untuk mengchianatinja! Gołongan² dengan siapa kita berkompetisi Manipol dalam melaksana- kan tjita-tjita Revolusi dari atas dan dari bawah, boleh
menuduh kita bertubi-tubi ..... dengan sembojan hantam
terus, gasak terus, ganjang terus ..... dia pasti patah dan
Djika Tjakrawarti"nja Revolusi mengatakan bahwa Merdeka" adalah penentang Revolusi Agustus, adalah penjeleweng Revolusi, adalah pengchianat Revolusi, maka sa'at itu djuga kami pengasuhnja serta suratkabar ini sendiri sedia menerima hukuman se-berat²nja jang dikenakan kepada seorang pengchianat Revolusi: hukuman mati ...! Kami tidak akan meminta ampun, bahkan djuga tidak meminta kemungkinan selfkorreksi karena mungkin kita telah dibawa hanjut oleh angin badai politik beraneka muka, atau sesat ditaman bunga jang mengembangkan be- ribu kembang fikiran, tetapi patuh dan tunduk atas putus- an Tjakrawarti itu, karena bagi pengchianatan sejogjanja tidak ada lain pilihan atau lain hukuman! Inilah sikap Merdeka"i Inilah sikap seluruh pengasuhnja. Inilah persembahan kita kepada Tjakrawarti. ,Merdeka," 17 Pebruari 1965.
… kepada para pembatja itu kita madjukan dalil ini untuk diketahuinja. Sedjak Merdeka" ikut serta aktip dan tidak pernah absen dalam Revolusi Agustus, harian ini berpedoman de mikian : Bagi harian Merdeka" perdjuangan dalam Revolusi hanjalah dapat berachir dengan menang, hidup adil dan makmur atau musnah, mati dengan tulang berserakan. Sebagai Revolusioner kita tahu bahwa djalan tengah tidak ada, pilihan lain tidak ada. Dengan kejakinan inilah kita berdjuang dan akan berdjuang terus. Didalam masa ini ada kekuatan-kekuatan revolusioner lain jang ingin mem- bantu kita, ingin memberikan kepada kita ajoman, ingin melindungi kita. Maksud baik itu tentulah sangat kami hargai, mengingat bahwa tenaga® Revolusioner inipun tidak enggan² ingin berdiri menjokong kita, jang kita artikan bahwa dengan ini kita tetap merupakan kekuatan revolusioner. Disamping itu perlulah kita djelaskan pula, bahwa lan- dasan kita berpidjak ini kita batasi dengan djelas. Suratkabar .Merdeka" akan terus kami hidupkan, terus kami pupuk sebagai tenaga revolusioner progressif, jang mengakui akan kemutlakan persatuan segala kekuatan² revolusioner dan progresif jang ada didalam masjarakat kita untuk mentjapai tjita² Revolusi Indonesia. Tidak ada satu butir manusiapun berhak mengatakan kita mengchianati Revolusi. Golongan² tertentu jang gigih jang hendak meng- aku dia berhak berbuat demikian, berbuat demikian atas dasar kesombongan, keangkuhan bahwa jang menentuk- kan berhasil atau gagalnja Revolusi dan siapa Revolusioner adalah mereka se-mata². Apabila tuduhan* ini, jang telah bersifat provokasi, tidak kita djawab, maka akan masuklah Merdeka" dan pengasuh²nja dalam sedjarah Revolusi sebagai memang bersalah, sebagai pengetjut, sebagai orang lari malam. Kita tidak berdiam diri terus dan dengan keinsafan akan kedjudjuran kita pada Pemimpin Besar Revolusi dan Revolusi itu sendiri kami susun ke- terangan ini. Bagi Merdeka" ia hanja mengakui hukum Revolusi seperti jang tertjantum dalam Manipol Usdek, Ia hanja tunduk pada Tjakrawartu"-nja Revolusi Indonesia.
TENTANG SIKAP ,,MERDEKA" HARIAN BPS" ,,Merdeka" Sabtu kemarin terbit dengan tulisan ,Pimpinan Redaksi Merdeka" berdjudul Sikap 'Merdeka' — dipersembahkan kepada Tjakrawarti". Tiga hal amat menarik perhatian dari tulisan itu : pensaatannja, tjaranja, isinja. Pensaatannja : Tulisan itu sendiri dibuka dengan kalimat
Sedjak Koti melarang dan membubarkan BPS ....
Djadi teranglah, bahwa tulisan itu sengadja dibuat berhu- bung larangan dan pembubaran ,BPS", dan djustru di- saat usaha penertiban pers mendekati realisasinja. Rupanja Merdeka", punja djuga rasadosa (schuldbewust) sehingga tak usah kita djelaskanpun parapembatja tentu maklum bahwa Merdeka" kini tengah berdjuang untuk survival (kelangsungan hidup)nja. Tjaranja: Kalau dikuti seluruh tulisan itu maka se- akan² tjuma ,Merdeka" jang benar dan semua golongan lainnja salah. Oranglain ,membodohi, menipu, menginti- midir" Rakjat, sedang Merdeka" (amboi!) alat pe- njambung lidah Rakjat". .Tidak sadja itu ! Oranglain berbuat atas dasar kesombongan, keangkuhan", sedang
Merdeka" atas dasar kedjudjuran". Parapembatja toh ma-
sih bisa membedakan antara dua sifat itu, dan apakah na- manja hal² berikut ini kalau bukan kesombongan, ke- angkuhan : Merdeka" menamakan dirinja bukan bunglon", ,berani berkorban". mendapat ,,restu Rakjat", dan (dengarkanlah baik2 !) darah Revolusi Agustus ada- djatuh. Tudjuan mereka sudah terang: membinasakan sk. Merdeka" sebagai niass-media atau alat penjambung lidah rakjat dengan segala daja, agar tidak ada suara lain se- lain daripada suaranja sendirilah jang terdengar. Mereka rupanja menganggap rakjat tidak tahu akan siasatnja itu. Tidak, rakjat tahu darimana angin bertiup, dan karena itu mengetahui pula apa jang mendjadi per- soalan sesungguhnja. Rakjat mengenal ,Merdeka" dan pengasuhnja selama hampir duapuluh tahun, hampir sama dengan usia- nja Revolusi. Bagi rakjat jang mengerti, darah Revolusi Agustus adalah darah Merdeka, daging Revolusi adalah dagingnja, tjita2 Revolusi adalah tjita²nja dan nafas serta djiwa Revolusi adalah nafas dan djiwanja sk. Merdeka". Suratkabar ini bukan bunglon, bukan pula ia promotor daripada segala provokasi sampai peristiwa² jang banjak dalam sedjarah kita jang bertudjuan menghantjurkan, se- kurang²nja menjelewengkan Revolusi Agustus, tidak! Se- baliknja, Mereka" dalam sedjarahnja adalah pengha- lang bagi sekalian avonturir2 politik ini jang bertudjuan mula² mengkonstitusionilkan Pemimpin Besar Revolusi ataupun menghalangi perdjalanan Revolusi, dan kemudian mengambil alih Pimpinan Revolusi. Tentulah ada jang nje- letuk menentang tesis kita ini dan datang"dengan dialek- tika tiranikanja, dengan mengatakan : ja bung, dulu Revolusioner, sekarang kontra-revolusioner ..
Kita akan bertanja kepada mereka, akrobat² dalam Re-
volusi ini, dari manakah hak mereka untuk berkata demi- kian?
Barangkali akan didjawabnja : Hak .... hakku kudapat
dari Rakjat. Kita akan bertanja lagi: Rakjat jang mana ? Jang kau
bodohi, jang kau tipu dengan segala tipu muslihatmu?
Jang kau intimidir?
Kepada para pembatja jang mendjadi kekuatan sk. Merdeka" selama dia boich hidup diatas persada Tanah- air Indonesia dan dengan restu Rakjat jang meminta di- bebaskan daripada penderitaan dari tindakan² kolonialis- me, feodalisme, kapitalisme, fasisme, olichargisme, nepot- isme, tiran² fikiran dan naga² jang haus akan darah rakjat lah darah 'Merdeka', daging Revolusi adalah dagingnja, tjita® Revolusi adalah tjitanja dan nafas dan serta djiwa Revolusi adalah nafas dan djiwa sk 'Merdeka'
Harian itu kemudian menolak dirinja dise-
but pengetjut", dia bilang tidakkan lari malam", dan djika, Tjakrawartinja Revolusi" (dibubuhkan disana gam- bar Presiden Sukarno sebesar 240 cm² dan djudul tulisannja ditjetak merah !) mengatakan bahwa Merdeka" itu penjeleweng" atau pengchianat Revolusi" maka kami pengasuhnja serta suratkabar ini sendiri sedia menerima hukuman se-berat²nja jang dikenakan kepada seorang pengchianat Revolusi: hukuman mati". Tetapi, disamping itu Merdeka" karena djangan lupa ia itu mass-media" atau alat penjambung lidah Rakjat — memohon djangan- lah ia dibinasakan". Sebabnja? Ah, adakah parapembatja lupa bahwa darah, daging, tjita2, nafas serta djiwa Revolusi. semuanja, adalah punja ,Merdeka"? Kalau Merdeka" misalnja dibinasakan (tentunja oleh kon- sekwensı larangan dan pembubaran ,BPS" oleh Presiden/ PBR/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI) maka akan bina- salah Revolusi. Isinja: Seantero tulisan Merdeka" itu dengan pernjataan ,tidak akan meminta ampun" sebenarnja dari A sampai Z suatu pertjobaan meminta ampun belaka. Rakjat mengenal 'Merdeka' dan pengasuhnja selama hampir duapuluh tahun, hampir sama dengan usiania Revolusi", tulis Pemimpin Redaksi Merdcka". Benar. benar sekali, kata kita. Karena ,Merdeka" tidak menjokong tulisannja dengan fakta² dan bukti² dan membatasi diri pada pernjataan² umum jang serba kabur sadja, maka kitapun kali ini be- lum merasa perlu untuk tampil dengan misalnja kutipan² dari harian Merdeka" sendiri (kalau perlu sikap²nja jang karakteristik selama 20 tahun ini kesemuanja) dan kita-
è pun membatasi diri pada fakta² jang pokok² dan jang achir² ini sadja. Bahwa Merdeka" adalah salahsatu penjebar apa jang disebut ,,Sukarnoisme", ini diakui oleh harian itu kemarin. Bahwa Merdeka" pendukung, kalau bukan promotor Manikebu", ini adalah fakta. Bahwa Merdeka" pendukung, kalau bukan promotor ,Soksi", ini adalah fakta. Bahwa Merdeka" pendukung, kalau bukan promotor BPS", ini adalah fakta. fakta² ini bisa ditambah dengan
Bahwa, bahwa .....
sederetan lainnja lagi. Misalnja, berbitjara tentang pengasuh" harian Merdeka", siapa jang tak ingat bahwa harian itu pernah untuk waktu jang lama diserahkan asuhannja kepada seorang Harris Sitompul, seorang jang pernah mengabdi kepada pemerintah pendjadjah Belanda diwaktu Rakjat sedang melangsungkan revolusinja? Merdeka" menuduh orang lain mendjalankan ,tirani fikiran", tetapi kalau dia sendiri tak hendak disebut mendjalankan tirani itu, se-kurang²nja harus dipertanggung- djawabkannja segala sikapnja diatas sebelum dia menjom- bongkan diri se-olah² sebagai satu²nja jang revolusioner". Ini kita tegaskan, karena kesombongan Merdeka" memang sudah asing samasekali dari segala sifat djudjur dan rendahhati, sehingga bukan sadja darah Revolusi adalah darah 'Merdeka'", tapi sebagai revolusioner" dia sadja- lah jang ,,berdjuang dan akan berdjuang terus", sedang kekuatan2 revolusioner lain" hanja membantu kita me- njokong kita". Merdeka" mengatakan ,,tidak ada ingatan, pikiran atau pertimbangan sedjenakpun untuk mengchianati" tanahair, tetapi bagaimana kalau tanpa ingatan, pikiran atau pertimbangan ada t i n d a k a n mengchianati- nja? Merdeka", seperti senantiasa, dengan mengatakan ,Rakjat tahu dari mana angin bertiup", mentjoba meng- gambarkan bahwa ketjaman2 terhadap ,Merdeka", pa- ling achir mengenai pembelaannja jang ber-kobar2 atas BPS", datang hanja dari satu-dua golongan jang ketjil. Tetapi kalau PWI, FN, bahkan DPA dan ormas serta partai2 jang tak sedikit-djumlahnja menuntut -rituling ko-
ran² BPS" itu dan tuntutan ini datang dari segenap pen- djuru negeri siapa jang minoritet dan siapa jang majoritet dan mana jang sesungguhnja (bukan dalam pernjataan, tapi dalaın kenjataan) iidah Rakjat"? Merdeka" djengkel benar bahwa dirinja seperti ,dipak- sa supaja mengaku bersalah". Tiap orang tahu bahwa jang memaksanja tak ada dan tak perlu. Tapi sekiranja ,Merdeka" kali ini agak rendahhati sedikit dan mau meng- akui kesalahan²nja, mungkin orang masih akan memper- timbangkan sesuatu pengampunan. Akan tetapi, sesudah tulisannja Sabtu kemarin itu, air sungai sudah terlandjur masuk lautan dan mendjadi asin dan tak mungkin tawar
kembali ....
Tidak satu butir manusiapun berhak mengatakan kita mengcianati Ręvolusi" kata Merdeka". Kalau satu butir memang tidak dan takkan ada jang menghiraukannja. Tetapi bagaimana kalau jang mengatakannja ,puluhan djuta butir" ? Dan Rakjat bukannja pasir, Rakjat adalah mutia- ra! Harian Rakjat" 15 Pebruari 1965
PERINTAH BUNG KARNO: SEMUA ALAT JANG DJADI ANTEK² ,,BPS" SUPAJA DIBUBARKAN Presiden Sukarno di-tengah² rapat raksasa peringatan genap 19 tahun usia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) jang dilangsungkan Selasa malam di Gelora Bung Karno telah memerintahkan kepada Menteri Penerangan Major Djenderal Achmadi agar supaja segera membubarkan segala alat² jang mendjadi antek²nja ,BPS", jaitu gerakan subversif dan kontra revolusi jang telah dibubarkan oleh Bung Karno. Sudah njata2 saja telah membubarkan ,,BPS". Sudah njata² pula BPS" itu sudah saja larang. Djadi sekarang ini saja perintahkan kepada Menteri Penerangan Major Djenderal Achmadi agar membubarkan surat2 kabar apapun djuga, organisasi² apapun djuga atau alat² apapun djuga
jang mendjadi antek²nja ,BPS", kata Kepala Negara be- berapa kali meng-ulang²i isi perintahnja itu jang disambut oleh massa rakjat jang memenuhi Istana Gelora Bung Karno dengan gegap gempita dan gembira. Djangan dikira saja plintat-plintut. Saja sudah tegas² membubarkan gerakan ,BPS" itu. Apapun jang djadi antek²nja BPS" harus dibubarkan. Kita harus bersihkan revolusi kita ini dari segala matjam penghambat dan rin- tangan. Kita harus bersihkan revolusi kita ini dari segala matjam gerakan jang bertudjuan memetjahbelah kekuat- an² progresif-revolusioner, kata Bung Karno jang mense- 国 djadjarkan BPS" itu dengan gerakan² Kartosuwirjo, Kahar Muzakkar dan Partai Masjumi. Saja sekarang ini sengadja tidak menjebut² surat² kabar mana, organisasi" apa dan nama² orangnja jang mendjadi biangkeladi BPS" tersebut, halmana agar tidak mendja-
MURBAdikan Menteri Achmadi kewalahan, kata Bung Karno
Alasan bubarkan BPS" Pernjataan², sikap dan resolusi² PWI sungguh² tegas C3D agar antek² BPS" dibubarkan. PWI sekarang ini benar² mendjadi alat revolusi jang tangguh dan terpertjaja. BPS" sudah saja bubarkan dan pembubaran itu sudah tentu pula punja alasan² jang kuat. Kaum imperialis dan Central Intelligence Agency", jaitu 'Pusat Dinas Rahasia
+URBE
AS telah menunggangi BPS" itu untuk didjadikan mereka alat melawan Komunisme. Apa jang paling ditakuti oleh kaum imperialis dan CIA itu ialah Komunisme. Segala apa sadja jang dapat mereka pergunakan sudah tentu akan mereka pakai untuk me-
CBERa
laksanakan maksud² mereka itu. Mereka itu telah mempergunakan ,Islam-nja Kartosuwirjo" untuk menentang Komunisme. Islam-nja Kartosuwirjo" mereka dukung. Demikian djuga Islam-nja Kahar Muzakar", demikian pula Islam-nja Masjumi" dan baru²
NUPRS ini gerakan ,,BPS" mereka tunggangi untuk melaksanakan
maksudª mereka menentang Komunisme jang mereka paling takuti itu. Demikianlah Islam-nja Kartosuwirjo" telah digempur oleh rakjat Indonesia. Islam-nja Kahar" telah digempur
CILM
oleh rakjat Indonesia pula, sedangkan Islam-nja Masju-
mi" telah dibubarkan oleh Presiden Republik Indonesia. Berbitjara tentang Islam" itu, demikian Bung Karno, sama sekali bukanlah saja maksudkan Agama Islam jang kita semua dan saja tjintai itu. Tetapi tegas² Islam-nja Kartosuwirjo-Kahar dan Masjumi", ditandaskan oleh Kepala Negara agar masjarakat djangan salah mengerti. Ternjata kaum imperialis telah gagal dalam mempergunakan gerakan² kontra-revolusi itu dalam usaha mereka menentang Komunisme. Setelah gagal raaka lalu mereka mempergunakan ,BPS". Gerakan ,BPS" telah mereka tunggangi dan mereka pergunakan, karena ,,BPS" itu anti-Nasakom. Saja mendapat info, bahwa BPS" adalah gerakan untuk membunuh Sukarnoisme dan membunuh Sukarno", kata Kepala Negara, jang menurut tjatatan para warta- wan inilah untuk pertama kalinja Bung Karno membuka tabir alasan pembubaran ,BPS" itu dimuka umum setjara luas. Dikatakan oleh Kepala Negara, bahwa dalam praktek- nja BPS" itu memang anti-Nasakom; lalu BPS" ia bubarkan. Sesudah BPS" dibubarkan, maka PWI adakan tuntut- an pada Menteri Penerangan Achmadi supaja surat² ka- bar antek2 BPS" itu ditjabut idjinnja dan dibubarkan. Revolusi punja musuhª Dikemukakan pula oleh Bung Karno, bahwa setiap revolusi sudah tentu mempunjai musuh²nja. Kalau tidak punja musuh maka itu bukan revolusi namanja, karena revolusi itu berarti pembongkaran dari akar²nja. Musuh² revolusi sudah tentu akan mempertahankan diri- nja agar supaja pembongkaran² itu tidak diadakan. Setiap revolusi tentu ada musuhnja. Revolusi Indonesia sudah tentu pula mempunjai musuh²nja. Dalam tingkat revolusi nasional-demokratis sekarang ini, maka musuh kita jang paling pokok ialah imperialisme, feodalisme dan kakita- ngan²nja. Djadi kewadjiban kita semua ialah membersihkan se- gala penghambat jang merintangi djalannja revolusi kita itu", kata Bung Karno.
Tidak ada pers-bebas" Ditegaskan oleh Kepala Negara bahwa didalam suatu revolusi sudah tentu tidak ada ,pers-bebas". Jang diper- bolehkan ialah pers jang membantu dan mendukung sepe- nuhnja pelaksanaan revolusi. Pers jang tidak mendukung dan tidak membantu serta pers jang mengantjam djalannja revolusi harus tegas2 kita njatakan sebagai musuhnja revolusi", kata Kepala Negara ketika membantah pikiran² pers Barat jang selalu meng- agung2kan istilah² pers bebas". Revolusi Indonesia harus kita bersihkan dari pers jang djadi penghambat revolusi kita itu", kata Bung Karno jang kemudian menambahkan, bahwa dalam revolusi Indonesia pers jang diidjinkan ialah pers jang mendukung pelaksanaan revolusi. Mana² jang menentang revolusi, mana² jang merugikan revolusi, dan mana² jang menghambat revolusi harus kita gempur habis²an. Djalan terus dan madju terus, pantang mundur, seru Presiden Sukarno kepada warga PWI chususnja dan kepada seluruh rakjat Indonesia dan Nefos. ,Aņtara," 24-2-1965.
SURAT KEPUTUSAN MENTERI PENERANGAN
REPUBLIK INDONESIA No. 17/S.K/M/65
TENTANG
PENTJABUTAN IDJIN TERBIT SURAT² KABAR/
MADJALAH PENDUKUNG EX B.P.S.
MENTERI PENERANGAN REPUBLIK INDONESIA
MENIMBANG:
Bahwa dalam rangka pelaksanaan perintah Presiden R.I./ Pemimpin Besar Revolusi dalam Rapat Umum Madju Tak
Gentar", jang diselenggarkan oleh P.W.I. pada tanggal 23
Pebruari 1965, untuk membubarkan Surat² Kabar, Orga-
nisasi² serta alat² apapun jang mendjadi antek² B.P.S.,
maka perlu segera diambil tindakan pentjabutan idjin² terbit atas Surat² Kabar/Madjalah jang mendjadi antek²
B.P.S. tersebut.
MENGINGAT:
- Penetapan Presiden R.I. No. 6 tahun 1963. 2. Surat Keputusan Presiden R.I. No. 72 dan No. 73 tahun 1964.
MEMPERHATIKAN :
Saran² jang diadjukan oleh Dewan Pembantu Menteri Penerangan dalam Pembinaan Pers dan Dewan Pertim-
bangan Pers.
MEMUTUSKAN:
MENETAPKAN:
Pertama :
Mentjabut idjin terbit dari Surat² Kabar Harian/
Mingguan sebagai berikut :
A. Untuk daerah Djakarta Raya :
1. Harian Semesta, Izin Terbit 4/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 27-6-1963. Penanggung Djawab : T. Sjahril Alamat : Djl. Kemakmuran no. 31, Djakarta.
2.Harian Berita Indonesia, Izin Terbit 17/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 27-6-1963, Penanggung Djawab : Muljono, Alamat : Djl. Kemakmuran no. 31, Djakarta.
3.Mingguan Berita Indonesia Sport dan Film, Izin terbit 104/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 1-7-1963, Penanggung Djawab : Muljono Alamat : djl. Kemakmuran no. 31 Djakarta.
4.Harian Merdeka, Izin terbit 23/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 27 6-1963, Penanggung Djawab :
1. Hiswara Darmaputra
2. Anhar Tanuwidjaja
3. Asnawi Idris.
Alamat : Djl. Hajamwuruk No. 9, Djakarta.
- Indonesian Observer, Izin terbit 25/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 27-6-1963,
Penanggung Djawab: Sutomo Satiman, Alamat: Djl. Hajamwuruk no. 9, Djakarta.
6.Warta Berita, Izin terbit 27/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 27-6-1963, Penanggung Djawab : Junus Lubis, Alamat. Djl. Gadjahmada no. 146, Djakarta.
7.Revolusioner, Izin terbit 47/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 28-6-1963, Penanggung Djawab :
1. Hidàjat Rahardjo
2. A.R. Saleh.
Alamat : Djl. Kramat Pulo Dalam no. 9 Djakarta.
- Garuda, Izin terbit 166/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 3-7-1963, Penanggung Djawab: Suhartono, Alamat : Djl. Kramat Raya no. 45, Djakarta.
9.Karyawan, Izin terbit 49-b/SK/UPPG/SIT/64, Dikeluarkan tgl. 10-6-1964, Penanggung Djawab: Sjamsul Basri, Alamat : Djl. Tanah Abang II/23, Djakarta. Gelora Minggu, - Izin terbit 310/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 8-8-1963, Penanggung Djawab : W. Djapar. Alamat: Djl. Pidali no. 93, Djakarta.
11.Suluh Minggu, Izin terbit 944/SK/UPPG/SIT/64, Dikeluarkan tgl. 5-11-1964, Penanggung Djawab : Imam Halilintar B.A., Alamat : Djl. Wedana Dalam 12/A Djatinegara.
B. Untuk Daerah Medan. Indonesia Baru, Izin terbit 128/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963. Penanggung Djawab : M.I. Rangkuty, Alamat: Djl. Djend. Sudirman no. 2.
Izin terbit 130-a/SK/UPPG/SIT/64, Dikeluarkan tgl. 5-1-1964, Penanggung Djawab : Achmad Dahlan, Alamat : Djl. Sei Kera no. 37.Tjerdas Baru, Izin terbit 34/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab : Naruda Pasja, Alamat : Djl. Kebudajaan no. 36.
- Mimbar Umum, Izin terbit 135/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab :
- Bustaman
- Sjamsuddin Manan
Alamat : Djl. Sutomo no. 305.
5.Waspada, Izin terbit 138/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab : Ani Idrus, Alamat : Djl. Pusat Pasar 126 P.
6.Duta Minggu, Izin terbit 142/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab : Dharmawan, Alamat : Djl. Sutomo 626.
7.Suluh Massa, Izin terbit 147/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab : S. Ridwan Siregar, Alamat : Djl. Balai Gedung Olah Raga.
8.Mimbar Teruna, Izin terbit 153/SK/UPPG/SIT/63, Dikeluarkan tgl. 2-7-1963, Penanggung Djawab : Amir Hasan, Alamat : Djl. Berastagi no. 3.
9.Genta Revolusi d/h Warta SOKSI, Izin terbit 680a/SK/UPPG/SIT/64, Dikeluarkan tgl. 3-1-1964, Penanggung Djawab : Kapten Baharuddin, Alamat : Djl. Pemuda no. 9.
- Resopim, Izin terbit 895/SK/UPPG/SIT/64, Dikeluarkan tgl. 6-8-1964, Penanggung Djawab : Sjamsul Bahri Rangkuti. Alamat: Sei Deli no. 17.
Kedua : Surat Keputusan ini mulai berlaku sedjak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Djakarta Pada tanggal 24 Pebruari 1965 MENTERI PENERANGAN R.I.
t.t.d.
(ACHMADI) Major Djenderal T.N.I.