Baca PDF (OCR): HIGHBURY

16 halaman · 7 halaman diproses dengan OCR· 7006 ms

Daftar isi
  1. Vol. 1 Serial Stadion: Highbury
  2. Highbury Jadi
  3. Saksi Masa Kejayaan
  4. Arsenal
  5. Perkembangan Tribun Highbury
  6. Highbury pada Masa Perang
  7. Dunia II
  8. Tahun-tahun Arsenal di
  9. Sisa-sisa Kenangan
  10. Stadion Highbury di
  11. Highbury Square
  12. Penyesalan Arsenal Usai
  13. Meninggalkan Highbury
  14. rumah baru yang nyaman bagi mereka.
  15. Spirit yang Masih Tertinggal di
  16. “Kami membangun stadion baru tetapi kami tidak pernah menemukan jiwa
  17. kami. Kami meninggalkan jiwa kami di
  18. Lebih Sepakbola.

ı

GANTIGOL

Vol. 1 Serial Stadion: Highbury

Tulisan: M Bimo Desain Grafis: Jagal Senyap

Highbury Jadi

Saksi Masa Kejayaan

Arsenal

Sebelum menempati markas megah Emirates Stadium, Arsenal sempat mencetak sejarah dan kenangan manis di stadion lama yang mereka tempati yakni Stadion Highbury. Stadion yang beralamat di Highbury, London ini menjadi sejarah keperkasaan Arsenal periode 1930an dan mencetak rekor invicibles alias tak terkalahkan sepanjang musim pada musim 2003-2004.

Cikal bakal pembangunan Highbury terjadi pada 1910 ketika Henry Norris, Direktur Fulham, mengambil alih klub Woolwich Arsenal. Pebisnis ini awalnya ingin menggabungkan antara Fulham dan Woolwich Arsenal. Namun, proposal

GANTIGOL-Serial Stadion: Highbury

penggabungan ini ditolak oleh Liga Inggris karena dianggap Norris ingin menguasai dua klub sekaligus.

Meski demikian, Norris memilih untuk fokus di Woolwich Arsenal yang kemudian jadi klub profesional pertama asal London. Pada musim 1912-1913 adalah musim terburuk The Gunners. Saat itu mereka terdegradasi dari Divisi Satu yang kemudian jadi degradasi pertama dan satu-satunya sepanjang sejarah klub.

Untuk mengembalikan prestasi The Gunners, sang pemilik kemudian memindahkan kandang Arsenal yang semula bermarkas di Manor Ground ke London Utara. Kemudian Norris menyewa tanah di kawasan Highbury yang dulunya dipakai sebagai tempat rekreasi milik kampus St John’s College of Divinity.

Arsenal membayar 20.000 poundsterling untuk biaya sewa selama 21 tahun. Tanah yang akan disulap jadi stadion ini sempat menuai kontroversi dari penduduk setempat. Sebagai win-win solution, Arsenal sepakat untuk tidak menggelar pertandingan pada hari Natal dan Jumat Agung.

Perkembangan Tribun Highbury

Archibald Leitch menjadi arsitek yang ditunjuk untuk membangun Highbury. Archibald memang satu-satunya arsitek stadion sepak bola pada masa itu yang juga berjasa membangun Old Trafford, Stamford Bridge, Goodison Park dan Anfield. Stadion mulai dibangun pada 1913 dengan skema awal membuat tribun utama di sisi timur stadion yang dapat menampung 9.000 penonton.

Highbury telah dipakai Arsenal ketika stadion belum sepenuhnya selesai dibangun. Pertandingan pertama yang digelar adalah laga melawan Leicester Fosse pada 6 September 1913 ketika Arsenal masih di Divisi Dua. Mereka memenangkan laga tersebut dengan skor 2-1. Pemain Leicester Fosse, Tommy Benfield menjadi pemain pertama yang mencetak gol di kandang Arsenal ini.

Serangkaian pengembangan dan renovasi dilakukan pada awal 1930an. Arsenal tidak lagi memakai jasa Archibald

Leitch dan menggantikannya dengan Claude Waterflow dan William Binnie untuk pembangunan tribun barat yang rampung pada 1932. Pada zaman itu, tribun Barat Highbury ini telah memiliki tribun berkursi yang bisa menampung

4.000 penonton. Beberapa renovasi dan pembangunan lain yakni seperti digusurnya tribun utama rancangan Archibald Leitch untuk kemudian dibangun tribun timur yang baru pada 1936. Di bawah tribun ini terdapat fasilitas-fasilitas utama stadion seperti kantor tim, fasilitas pemain dan pintu masuk utama yang dikenal bernama Marble Halls. Pada Marble Hall ini kemudian didirikan patung Herbert Chapman, mantan pelatih Arsenal yang legendaris yang meninggal pada 1934. Sementara itu, tribun utara Highbury dikenal dengan nama North Banks Stand dan tribun selatan diberi nama The Clock End karena di tribun itu, ada jam yang dipasang di sana.

Highbury pada Masa Perang

Dunia II

Stadion banyak dijadikan bangunan massal yang dipakai pada Perang Dunia II. Jika Old Trafford dijadikan gudang senjata militer oleh Angkatan Darat, maka Highbury dijadikan sebagai barak pengungsian dan pertolongan pertama bagi korban perang. Bangunan stadion ini juga sempat jadi korban ketika atap tribun North Banks runtuh karena bom. Kemudian atap tribun ini baru direnovasi pada 1956.

Meski demikian, nasib Highbury tidak separah Old Trafford yang harus melakukan renovasi besar-besaran. Setelah pemboman tersebut, tidak ada kejadian dampak dari perang yang terjadi di Highbury. Namun stadion ini masih menjadi pos pertolongan pertama pada masa itu.

Highbury pertama kali dipasangi lampu stadion pada pada 1951. Klub asal Israel, Hapoel Tel Aviv menjadi klub pertama yang berkesempatan bermain di Highbury pada malam hari ketika menghadapi Arsenal pada tahun itu. Arsenal juga mulai melengkapi fasilitas stadion seperti penghangat rumput pada

  1. Pada 1980an, puncak hooliganisme terjadi di Inggris. Beberapa peristiwa kekerasan suporter membuat beberapa stadion menambah fasilitas pagar pembatas antar tribun dan lapangan. Namun, pemilik Arsenal saat itu ogah memasangnya di Highbury. Padahal saat itu aksi hooliganisme sedang gila- gilanya. Keputusan ini membuat Highbury dicoret dari kandidat stadion tuan rumah semifinal FA Cup karena tidak memenuhi persyaratan keamanan.

    Tahun-tahun Arsenal di

Highbury

Selama menjadi kandang Arsenal, Highbury telah menyaksikan tim ini menjelma sebagai Big 4 Liga Inggris. Highbury menemani The Gunners sejak mereka berada di Divisi Dua musim 1913-

  1. Namun semenjak itu, Arsenal selalu konsisten dan tidak pernah terdegradasi lagi. Highbury juga jadi saksi ketangguhan Arsenal pada era 1930an. Selama satu dekade, Arsenal berhasil meraih lima

disimpan di museum atau dipajang di stadion tersebut.

Rekor-rekor Pertandingan Selama Highbury Berdiri

gelar trofi Liga Inggris dan dua gelar juara FA Cup.

Selain itu, kenangan paling indah Arsenal semasa masih bermarkas di Highbury tentu saja ketika mereka juara Premier League musim 2002-2003. The Gunners yang masih dilatih oleh Arsene Wenger tak sekadar juara. Mereka mampu mencetak rekor The Invincibles alias tak terkalahkan baik di kandang maupun tandang sepanjang musim.

Hanya ada dua klub yang sukses meraih rekor ini sepanjang Liga Inggris bergulir. Selain Arsenal, Preston North End juga pernah meraihnya pada Liga Inggris musim 1888-1889.

Raihan tersebut menjadi gelar Premier League terakhir yang pernah Arsenal menangkan hingga hari ini, dan itu terjadi di Highbury. Sementara sebelum benar- benar pindah kandang, Arsenal masih sempat mempersembahkan gelar FA Cup pada musim 2004-2005.

2006 menjadi tahun terakhir Highbury eksis sebelum namanya tinggal sejarah. Pertandingan Arsenal di Highbury yaitu pada ajang Premier League yang mempertemukan dengan Wigan Athletic. Pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Arsenal, Thierry Henry, mencetak hattrick dan gol terakhir pada pertandingan resmi yang digelar di Stadion Highbury.

Pada tahun yang sama, Stadion Highbury digusur, kemudian dijadikan kawasan perumahan yang diberi nama Highbury Square. Lapangan stadion dijadikan ruang terbuka hijau, sementara properti stadion dijual melalui lelang. Beberapa barang yang memiliki sejarah seperti jam yang ada di tribun selatan dan beberapa barang lain dibawa ke Emirates Stadium, markas baru Arsenal, untuk kemudian

Jumlah penonton terbanyak: 73.295 orang ketika Arsenal menghadapi

Sunderland pada 9 Maret 1935.

Jumlah penonton paling sedikit:

4.554 saat The Gunners berhadapan dengan Leeds United pada 5 Mei
1966.
Kemenangan terbesar Arsenal di Highbury: 11-1 ketika menjamu

Darwen pada 9 Januari 1932

Kekalahan terbesar Arsenal di Highbury: 0-5 oleh Huddersfield Town di ajang Liga Inggris pada 14 Februari 1925 dan 0-5 atas Chelsea di ajang Piala Liga pada 11 November

1999.

Sisa-sisa Kenangan

Stadion Highbury di

Highbury Square

Sangat disayangkan ketika Arsenal memilih untuk pindah kandang dari Highbury ke Emirates Stadium pada

  1. Namun tak bisa dipungkiri, Emirates Stadium merupakan stadion yang ideal untuk dijadikan markas. Mulai dari kapasitasnya yang lebih besar, kelengkapan fasilitasnya dan faktor-faktor lain yang tentu tidak dimiliki Stadion Highbury. Dulunya Highbury disohor sebagai stadion dengan arsitektur yang indah. Ini terjadi ketika arsitek Claude Waterflow dan William Binnie membangun tribun timur dan barat pada 1932. Kedua arsitek
    ini mengusung konsep art deco, konsep yang sangat stylish pada zamannya bahkan jika dilihat di masa sekarang.

Stadion Highbury digusur pada 2006 dan tanahnya dibangun menjadi area apartemen mewah yang kemudian disebut Highbury Square. Tanah bekas stadion The Gunners ini berada di wilayah strategis dan dekat dengan stasiun kereta bawah tanah. Sehingga membangun area pemukiman menjadi keputusan yang tepat.

Meski wujudnya sudah berubah, namun wajah Stadion Highbury masih bisa terlihat di Highbury Square. Jika dilihat dari foto udara, Highbury Square yang letaknya tak jauh dari Emirates Stadium ini hampir terlihat mirip stadion lama Arsenal. Tanah yang dulunya dijadikan lapangan kini diubah menjadi taman. Taman ini dikelilingi oleh bangunan apartemen-apartemen mewah dan juga perumahan. Maka jika dilihat dari udara, apartemen-apartemen ini terlihat bak tribun yang mengelilingi lapangan. Sangat mirip dengan wajah Stadion Highbury.

Seperti yang dibahas di atas, stadion ini terkenal akan arsitektur art deco yang

sangat indah. Ini terlihat sekali pada tribun timur Highbury yang bahkan, bangunannya didaftarkan sebagai landmark lokal serta warisan budaya Grade II. Gaya bangunan yang sama masih terlihat sampai sekarang, meski saat ini bangunan itu bukan lagi tribun timur Stadion Highbury melainkan sudah menjadi bangunan apartemen. Namun, gayanya masih sama persis.

Untuk desain bangunan apartemennya sendiri dibuat bervariasi. Namun, kebanyakan ruangannya memiliki pemandangan langsung ke lapangan yang kini menjadi taman bersama. Sementara di sisi lain Highbury Square, dibuat juga wilayah perumahan dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi.

Secara total, Highbury Square memiliki 725 unit apartemen dan perumahan dengan 25 tipe hunian berbeda. Mulai dari hunian duplex, triplex hingga penthouse ada di tempat bekas stadion yang pertama kali berdiri pada 1913 ini.

Mau Punya Rumah di Highbury Square? Segini Uang yang Harus

Disiapkan

Stadion Highbury digusur tidak untuk dijadikan tempat sembarangan. Highbury Square ini merupakan kawasan penduduk mewah dan salah satu yang terpadat di London Utara. Gak sembarang orang yang bisa tinggal di sini, karena untuk mendapatkan unitnya diperlukan kocek yang cukup dalam.

Melansir Football London, Sabtu (11/7), salah satu penthouse di Highbury Square yang dijual di situs Zoopla dihargai sebesar 1.1 juta poundsterling. Jika dikonversi saat ini adalah sekitar Rp 20 miliar. Sementara itu unit apartemen yang paling murah dibanderol mulai 435.000

poundsterling atau setara dengan Rp 7,9 miliar. Untuk penthouse, unit paling mahal di Highbury Square, terletak di lantai paling atas bangunan tribun timur yang ikonik. Penthouse ini memiliki dua lantai dengan dua kamar tidur berukuran besar, dua kamar mandi, dua balkon serta interior ruangan yang luar biasa mewah.

Pemandangan yang disuguhkan pun gak main-main. Apalagi kalau bukan Highbury Gardens alias taman yang dulunya dipakai untuk punggawa Arsenal berjuang memperebutkan gelar. Taman ini sengaja dibangun di tanah yang sama dengan lapangan Highbury dalam upaya untuk melestarikan bagian-bagian stadion lama. Tak hanya lapangan, patung pelatih legendaris Herbert Chapman, Marble Hall dan lorong pemain juga masih dipakai jadi bagian Highbury Square.

Bagian yang paling menarik dari wilayah pemukiman ini tentu saja tamannya. Highbury Gardens menjadi satu-satunya taman terbuka yang terpisah dari taman terpadu yang ada di Downing Street nomor 10. Taman ini gak cuma boleh dipakai oleh penghuni apartemen saja, tapi orang umum juga boleh jika ingin berjalan-jalan atau sekadar bersantai di Highbury Gardens.

Taman yang didesain oleh Bradley Hole ini dibangun tanpa menghilangkan ciri khas dari lapangan lama Arsenal. Lapangan sepak bola berbentuk persegi panjang ini kini dipenuhi oleh tanaman- tanaman yang memiliki struktur cukup rumit. Di taman ini juga terdapat bagian yang tanahnya sengaja ditumbuhi rumput sama dengan yang dipakai pada Stadion Highbury dulu.

Bagi suporter Arsenal, Highbury Square bukan cuma sekadar area pemukiman mewah saja. Bayang-bayang Stadion

Highbury masih bisa terlihat meskipun samar. Ini juga bukan akhir cerita yang menyedihkan bagi mantan markas The Gunners yang telah berdiri sejak 1913 itu. Meskipun kegunaan bangunannya sudah berubah, namun sudut-sudut Highbury Square masih menggambarkan kenangan lama suporter Arsenal akan indahnya stadion lama mereka.

Bagaimanapun, bangunan yang ada di tikungan Avenell Road ini masih menyimpan bayangan, energi dan emosi yang pernah menjadi bagian stadion berdinding putih kala itu.

Penyesalan Arsenal Usai

Meninggalkan Highbury

Tak ada yang menyangka Arsenal bakal meninggalkan Stadion Highbury. Stadion sarat sejarah yang menyaksikan perjuangan Arsenal jatuh bangun sejak

  1. Namun, perkembangan Arsenal sebagai salah satu klub yang disegani di Premier League membuat klub asal London ini harus terus berkembang. Kemudian Highbury tidak dapat menampung lagi suporter Arsenal yang tiap musim mengalami lonjakan. Tanah yang terbatas membuat stadion ini tak mungkin lagi untuk diperbesar dan diperluas. Ini yang kemudian menjadi alasan utama Arsenal untuk membangun stadion anyar yang penamaannya bekerja
    sama dengan maskapai penerbangan terkemuka asal Uni Emirat Arab, Emirates.

Highbury berdiri bukan hanya sekadar sebagai stadion. Bangunan yang dibangun bergaya art deco ini didaftarkan sebagai warisan budaya Grade II kepada pemerintah Inggris. Bahkan hingga bangunannya diubah jadi kawasan apartemen, konsep bangunan Grade II yakni tribun timur Stadion Highbury tersebut masih dipertahankan hingga kini.

Sebelum berpindah ke Emirates Stadium, Arsenal memberikan kado yang cukup indah kepada stadion ini. Kala itu, Thierry Henry dan kawan-kawan menjuarai Premier League musim 2003-2004 dengan rekor tak pernah kalah dalam semusim. Pada 2004-2005, satu musim sebelum The Gunners benar-benar pindah, Arsenal juga mempersembahkan gelar FA Cup terakhir kalinya ketika masih bermarkas di Highbury. Barulah pada 2006 pasukan Meriam London ini mulai meninggalkan rumah lama mereka.

Di Emirates Stadium, Arsenal terlihat semakin gagah. Desain bangunan stadion yang mewah dan mampu menampung 60.704 penonton menjadikan Emirates Stadium sebagai

rumah baru yang nyaman bagi mereka.

Tapi sejak pindah, Arsenal belum pernah sama sekali menyabet trofi kejuaraan prestisius. Prestasi mereka paling bagus adalah juara FA Cup dan Community Shield saja. Gelar juara Premier League terakhir kali mereka dapatkan saat masih menjadi klub The Invincibles. Sementara di kompetisi Eropa, dari dulu hingga sekarang Arsenal memang tidak pernah punya sejarah prestasi yang bagus.

Spirit yang Masih Tertinggal di

Highbury

Belum lama ini, mantan pelatih yang menangani Arsenal selama 22 tahun, Arsene Wenger, menyadari ada yang masih tertinggal di rumah lama Arsenal. Menurut Wenger, ada jiwa dan spirit yang masih belum bisa Arsenal bawa dari Highbury ke Emirates Stadium. Ini yang membuat Arsenal selama di stadion baru itu kesulitan meraih prestasi.

“Kami membangun stadion baru tetapi kami tidak pernah menemukan jiwa

kami. Kami meninggalkan jiwa kami di

Highbury” kata Arsene Wenger.

Stadion Emirates mungkin memiliki kapasitas yang lebih besar. Sementara Highbury hanya punya kapasitas 38.000, kapasitas Emirates bisa mencapai 60.000 lebih. Ini tentu saja menguntungkan klub karena setiap pertandingannya kini Arsenal mampu meraup untung lebih banyak.

Di Premier League, Manchester United merupakan tim yang paling besar mendapat keuntungan dari hasil penjualan tiket pertandingan. Setan Merah harus berterima kasih kepada Old Trafford karena memiliki kapasitas hingga

75.000 penonton. Nah, semenjak Arsenal pindah ke Emirates, klub asal London Utara ini menapaki peringkat dua sebagai klub terbanyak yang menghasilkan uang dari penjualan tiket pertandingan. Pada data 2019 lalu, pendapatan rata-rata Arsenal dari penjualan tiket pertandingan mencapai angka 100 juta poundsterling atau setara dengan Rp 1,8 triliun. Sementara Manchester United rata-rata bisa meraup hingga 110 juta poundsterling atau hampir setara Rp 2 triliun. Namun, peningkatan kapasitas stadion bukan jawaban dari teka-teki seretnya prestasi Arsenal. Penambahan jumlah penonton tidak serta merta membuat dukungan moral ke pemain ikut meningkat. Jurnalis Layth Yousif dalam cuitannya mengatakan, ia tidak merasakan atmosfer luar biasa saat stadion Emirates diisi oleh 59.000

suporter Arsenal pada laga kontra Manchester City.

Tapi jurnalis ini merasakan atmosfer yang berbeda ketika menyaksikan laga yang sama di Highbury pada 1983 silam. Atmosfer yang dirasakan Layth Yousif ini adalah atmosfer kemenangan. Atmosfer yang bisa meningkatkan moral pemain tuan rumah untuk mendominasi atas tamunya di kandang.

Sementara menurut Wenger, salah satu yang mempengaruhi hal itu adalah Emirates Stadium memiliki jarak antara tribun dan lapangan yang cukup jauh. Jarak ini dibuat karena alasan keamanan dan juga untuk jalur ambulans yang dibutuhkan masuk ke stadion ketika keadaan darurat.

Situasi yang berbeda di Stadion Highbury. Stadion ini memiliki konsep seperti Anfield. Yakni ciri khas stadion Inggris tua yang jarak antara tribun dan lapangan tidak begitu jauh. Semakin dekat jarak maka semakin nyata juga para pemain merasakan dukungan dari suporter. Juga tentu saja membuat pemain lawan merasa dekat dengan teror dari suporter tuan rumah.

Sebelum pindah, Wenger telah mengantarkan Arsenal tiga kali juara Premier League, empat FA Cup serta mencapai final Champions League. Namun sejak 2006, Arsenal tampak sulit meraih juara. The Gunners baru bisa mengangkat trofi lagi baru pada 2014 saat menjuarai FA Cup.

Sementara itu, Arsenal juga berada di posisi dua Premier League hanya tercatat sekali yakni pada musim 2015-2016. Ketika itu tim promosi Leicester City yang berhasil mengamankan trofi juara Premier League.

Keputusan pindah ke stadion sebenarnya bisa saja jadi pelecut semangat. Lihat saja di belahan sisi Eropa lain seperti Juventus misalnya, mereka meninggalkan Delle Alpi ke Juventus Stadium justru malah membuat prestasi tim asal Turin ini meningkat. Sejak pindah pada 2011, belum ada klub yang bisa menghentikan dominasi Juventus di ajang Serie A hingga musim lalu.

Penambahan kapasitas stadion juga bukan keputusan yang buruk. Selain berdampak positif untuk keuangan klub, pemain juga harusnya merasa bersyukur ketika bisa didukung oleh lebih banyak suporter dari sebelumnya. Lihat saja Barcelona, Real Madrid, Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund yang punya stadion yang memiliki kapasitas

68.000 hingga 99.000. Mereka dikenal sebagai klub yang memiliki dukungan dan atmosfer luar biasa ketika bermain di kandang. Tentu saja karena penonton yang mendukung lebih banyak daripada klub-klub lainnya. Tapi masalah yang sedang dihadapi oleh Arsenal ini cukup pelik. Soal menyelesaikan masalah jiwa dan spirit yang tertinggal di stadion lama tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Mau kembali ke Highbury juga sangat tidak mungkin. Arsenal butuh satu momentum yang bisa jadi batu lompatan kesuksesan mereka suatu hari nanti.

mmmmm

Sebagaimana media, Gantigol diciptakan dengan serius serta menggodoknya dengan serius. Namun dengan penyajian tulisan yang jauh dari kata berat dan serius. Ibarat hidangan, kami memposisikan diri sebagai dessert. Anda sudah melahap semua informasi yang tersedia, tinggal mau menutupnya dengan kami atau tidak. Bisa saja Anda makin puas dengan hidangan hari ini, atau malah merasa refresh dan siap kembali menikmati hidangan yang belum Anda rasakan dari yang tersedia itu.

Selayaknya hiburan, Gantigol disajikan dengan mengedepankan sisi keriaan dan kerayaan sebuah hiburan. Kemenangan, kejenakaan, Kontak kami: kekonyolan hingga satir di sepakbola akan kami sajikan dengan menghibur. Website: gantigol.com Drama, tragedi,kesedihan dan getirnya Email: [email protected] sepakbola pun, menurut kami, Instagram: gantigol_id juga perlu diriakan dan dirayakan. Twitter: gantigol Sepatutnya online store, Gantigol juga menyediakan merchandise sepakbola. Bukan hanya kualitas terjamin –ini tentu saja- setiap produk kami akan bertema dan bercerita. Tak cuma collectible item dengan kemasan yang menarik, produk kami tetap mengambil irisan kepatutan untuk dapat dikenakan sebagai kebanggaan. Kemudian daripada itu, semuanya tergantung kedewasaan dan kebijaksanaan Anda menyikapinya. Kami hanya ingin mengajak untuk ‘Budayakan dan Rayakan Sepakbola’!

Lebih Sepakbola.