BRUNO FILIPPI
TAWA GELAP SANG PEMBERONTAK
DIOGENES
Buku The Rebel's Dark Laughter: Writings of Bruno Filippi yang versi terjemahannya baru saja akan kalian baca ini merupakan kumpulan tulisan Bruno Filippi, berisi esai, cerita pendek, dan puisí-puisi yang mencerminkan pemikran Filippi sebagai seorang anarkis, individualis, dan anti-otoritarian. Bahkan mencerminkan posisi-posisi Filippí yang hampir tak terkatakan. Filippi sering kali dianggap asing, sebagai seorang pemikir anarkis namanya obskur dan terlupakan. Tapi buku ini akan memberikan akses kepada semua orang (kalian para pembaca) untuk pelan-pelan mengenal siapa Bruno Filippi melalui tulisan-tulisannya yang, tentu saja, jarang sekali dipublikasikan. Buku ini tidak hanya mengajak kalian untuk mengenal sosoknya, namun turut memprovokasi kalian untuk memahami semesta pemikirannya, pemikiran yang Filippi sendiri sangsikan dapat dipahami dan diterima orang lain, apa lagi oleh mereka yang memelihara betul nilai-nilai kebaktian, kesetiaan dan ketaatan terhadap sesuatu. Dalam buku ini Filippi secara terbuka dan terang-terangan me- nantang/menyerang kehidupan modern dan kapitalis yang telah me- renggut kebebasan individual dan menciptakan kondisi-kondisi yang meraibkan sang Aku. Filippi menyerang semuanya dengan sinis, puitis, kadang kala dengan humor gelap yang menunjukkan kejijikan men- dalamnya terhadap kehidupan. Ia menentang segala bentuk otoritas dan hierarki, yang datang dari seluruh elemen kehidupan, termasuk lingkungannya sendiri. la memperkenalkan dirinya sebagai musuh bagi semuanya, sebagai dosą dan kejahatan yang membanggakan! Saat pertama kali dimintai untuk menjadi penyunting buku ini, terang saja saya senang, scnang karena:
1). Akhirnya ada yang tertarik untuk mengerjakan, mempublikasi
dan mencetak buku yang sejak awal kemunculannya hingga saat ini tepat disebut sebagai antologi hasutan dan penghinaan paling serius terhadap kehidupan modern daripada buku kumpulan tulisan kritik.
2). Telah sejak lama, sebagai seorang yang menulis puisi saya me
yakini bahwa “penyair adalah ia yang menyangsikan dan menyerang segalanya" dan buku ini mempertebal keyakinan saya akan hal ter sebut. Filippi, bahkan menunjukkan kepada saya apa itu yang dimak sud dengan “puisi yang hidup", ia dengan tindakannya berhasil men transformasikan dirinya dari seorang penyair anarkis menjadi puisi itu
Rsendiri. Bagi saya, Filippi dalam buku ini tidak sedang menunjukkan kepada pembacanya bahwa dirinya adalah seorang penyair yang pen- ting dalam tradisi anarkis, tapi sedang memberitahu pembacanya, bahwa dirinya adalah puisi! Ini tentu saja sesuatu yang selama ini saya renungkan dan berusaha saya capai.
3). Dan tidak ada lagi yang lebih membanggakan bagi saya selain
dapat terlibat membidani kelahiran buku terjemahannya ini. Terimakasih untuk Diogenes Sinope dan penerjemah yang telah mengupayakan terbitnya buku ini ke dalam bahasa Indonesia. Meski- pun sudut pandang Filippi mungkin kontroversial dan menyinggung beberapa pihak (bahkan kalangan anarkis sendiri), tidak bisa di- sangkal bahwa penerbitan buku Filippi ini akan memberikan kontri- busi berharga bagi gerakan anarkis dan pemikiran politik yang ada di Indonesia. Semoga buku ini dapat memperkaya wawasan; menjadi renungan bagi pembaca untuk mempertimbangkan ide-ide Filippi dalam kehidupan pemberontakan sehari-hari yang menggairahkan dan tentu saja, puitis! Selamat membaca, long live anarchy! Rifki Syarani Fachry (Ed.)
Bruno Filippi
Tawa Gelap sang Pemberontak:
Kumpulan tulisan dari Bruno Filippi
1916/1918
Tawa Gelap sang Pemberontak: Kumpulan tulisan dari Bruno Filippi Bruno Filippi (1916/1918)
Diterjemahkan dari The rebcl's dark laughter: the writings of Bruno Filippi (Lulu.com, 2002).
Penerjemah: Tomas Editor: Rifki Syarani Fachry Desain sampul: Fahmi Fikri Salman Tata letak: Reyhard Rumbayan
Diterbitkan oleh Diogenes Sinope, 2023 75 hal, 14.8 x 21 cm
Instagram: @diogenes_sinope Akses bacaan: archive.org/details/@diogenes sinope
Tidak ada aturan yang melindungi ini, hak cipta itu mitos bagi kami, dan kalian
semua dianjurkan untuk menyebarkan, membajak dan menggandakan teks ini,
untuk keperluan apa pun termasuk untuk bertahan hidup! Lakukan sesukamu!
Daftar Isi
Introduksi Penerjemah 7 Siapakah sosok Bruno Filippi? 9
Dalam Lingkaran Kehidupan
Mengenang Bruno Filippi oleh Renzo Novatore
Seni Bebas dari Jiwa yang Bebas
19 Bab Penutup 37
Kebiasaan para Tikus dan Para Pemberani39
Le Chateau Rouge 46
Sebuah Pembelaan terhadap Mata Hari
52 Ikonoklastik 55
Pahlawan atau Pembunuh?
58 Federasi Duka Cita 62
Il Me Faut Vivre Ma Vie*
66 Hari Libur 70 Dinamit Berbicara 73
“Masyarakat berbau busuk seperti bangkai manusia." -Bruno Filippi
n
Introduksi Penerjemah¹ Tulisan-tulisan Bruno Filippi menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di berbagai tulisan anarkis — yakni sastra yang benar-benar indah. Saya berharap hal ini dapat muncul di sepanjang terjemahan yang Saya kerjakan ini — kalau pun tidak demikian, maka kesalahan itu ada di pihak Saya selaku penerjemah. Filippi mulai memasuki periode kehidupan pemberontakannya sejak usia 15 tahun, di tengah masa Perang Dunia I, dengan terlibat dalam beragam aktivitas anarkis anti- militer. Beberapa karya ringkasnya merefleksikan beragam pengaruh yang tidak manusiawi dari kehidupan militer, serta keterlibatannya dalam pembantaian yang secara signifikan berbeda kualitasnya dari perang mana pun pada saat itu, karena kapasitas kehancurannya yang luar biasa. Sulit bagi seseorang untuk membahas secara akurat mengenai "kebiadaban" terkait pembantaian ini sebab daya destruktif yang dihasilkan olehnya seçara presisi merupakan hasil dari kemajuan peradaban teknologi. Dan pada masa ini, beberapa orang mulai serius mempertanyakan kemajuan dan peradaban itu sendiri. Di antara mereka terdapat para anarkis seperti Bruno Filippi dan Renzo Novatore. Mengingat betapa mengerikannya bencana sejarah tersebut, maka tidak mengherankan jika sejumlah tulisan Filippi seringkali bercorak sangat gelap dan diwarnai dengan sinisme. Berbagai esai, cerita, dan prosa puitis yang ditulis olehnya
tidak menunjukka sedikitpun rasa belas kasihan terhadap dominasi maupun kepatuhan dalam bentuk apa pun, dan día juga memiliki penilaian yang sama tegasnya terhadap budak yang menyerah pada perbudakan dan majikan yang telah mengeksploitasi serta menindas mereka. Dia bisa saja keliru, seperti Renzo Novatore, karena kekurangannya dalam hal analisa kelas. Namun ketika melihat masyarakat miskin dan para pekerja saling membantai satu sama lain tanpa protes sama sekali terhadap perintah dari majikan mereka, rasanya akan sangat sulit bagi beberapa orang yang menolak pembantaian ini untuk tidak muak terhadap perilaku mereka yang pasif dan patuh layaknya domba. Pada tahun 1919, ketika terjadi sebuah pemberontakan di Italia, Filippi tengah bertempur di luar sana bersama para insurgen tereksploitasi, yang dapat melihat dengan jelas siapa musuh mereka yang sesungguhnya. Tulisannya ini pastinya menyinggung beberapa pihak yang hanya mampu membaca lewat lensa kebenaran politik semata. Itulah māsalah mereka sesungguhnya. Segala bentuk moralitas puritan yang sebenarnya justru memiskinkan eksistensi mereka. Meskipun tulisan Filippi bercorak gelap dan seringkali terkesan sinis, namun di tengah segala sinisme dan
hinaan tersebut terdapat pula unsur humor, kesenangan dan
kecintaan atas hidup. Kebenciannya terhadap dunia
sesungguhnya berasal dari kecintaannya terhadap hidup dan
impiannya terhadap dunia yang bebas dari segala bentuk
dominasi.
Siapakah sosok Bruno Filippi?
Sangat sedikit yang dapat diketahui mengenai sosok Bruno Filippi. Ia lahir pada tahun 1900 di Livorno, Italia, menjadi anak pertama dari 6 bersaudara, dan ayahnya adalah seorang juru ketik. Keluarganya memutuskan untuk pindah ke Milan saat ia masih kecil. Di tahun 1915, pihak kepolisian telah mengenalnya sebagai "ancaman". Pada tahun yang sama, dia ditangkap ketika demonstrasi anti-militer terjadi, ia membawa sebuah senjata yang masih hangat tanpa peluru dan karena itu ia mesti menghabiskan waktu beberapa lama di dalam penjara. Setelah masa perang, yang terjadi di tahun 1919, kerusuhan sosial pecah di seluruh bagian negara tersebut. Di Milan, seringkali terjadi bentrokan dengan polisi dan Filippi adalah salah satu bagian dari para pemberontak tersebut. Pada musim panas, sekelompok anakis muda, termasuk Filippi, mulai melancarkan serangan terhadap musuh mereka. Sebuah bom meledak tepat di gedung pengadilan; terjadi pula upaya untuk melukai salah satu tokoh kapitalis yang paling
berkuasa di Italia pada saat itu, yaitu Giovanni Breda, sebuah
bom yang disertai sulfuric acid meledak di rumahnya; sementara
bom yang lain meledak di rumah kediaman seorang senator yang
kaya raya pada masa itu. Pada 7 September 1919, Bruno Filippi memanjat menaiki
tangga ke sebuah gedung yang menjadi tempat berkumpulnya
para bangsawan. Dia membawa sebuah bom dan berharap dapat
menghancurkan tempat pertemuan para elit kota tersebut.
Namun, secara tiba tiba, bom yang Filipi bawa meledak dan
mene waskan dirinya. Bruno Filippi adalah kontributor tetap di sebuah koran
anarkis yang bernama Iconoclasta! Pada tahun 1920, seorang
editor dari koran tersebut menerbitkan sebuah buklet bersama dengan berbagai artikel lainnya yang diberi judul Posthumous Writings of Bruno Filippi.
Dalam Lingkaran Kehidupan Mengenang Bruno Filippí oleh Renzo Novatore Orang-orang yang ingin menjadi diri sendiri tak pernah tahu kemana tujuan mereka. Kesimpulan akhir yang dapat diambil dari pengetahuan dalam bahwa hakikat jiwa manusia adalah sesuatu yang tak dapat diketahui. Tanpa harus menjadi peniru dari sinisme ala Papinian fanatik (Papini merupakan seorang penulis Italia, yang dikenal karena sinisme-nya) atau pun pengabdi kesenangan sensual yang dangkal dan wangi seperti Guido Da Verona; Tanpa sedikit pun merasakan skeptisisme ironis dan kesedihan yang pahit dari Mario Marian di bibirku; Aku merasakan dan menegaskan bahwa hidup sama sekali tak layak dikatakan berharga jika kita tidak menjalaninya layaknya para seniman, pemberontak, atau pun pahlawan. Schopenhauer, dalam volume bukunya tentang metafisika yang sangat kuat dan menakutkan, sangat ingin menunjukkan kepada kita bahwa Hidup adalah kesedihan dan untuk alasan ini pula hidup tidak layak untuk dijalani dengan susah payah.
Namun, sni yang beraal dari kesdian aling mendalam dan
lins dapat menghasilkan keindahan heroik yang menceminkan
mampu memperlihatkan pada kita keganasan yang begihu mumi, yang memancarkan cahayanya pada jiwa yang terkasih,
yang mengajarkan pada kita untuk menjalani hidup dengan ganas (penuh gairah). Jika politik, sosialisme, kristianitas, humanisme, logika, koherensi, hak, ke wajiban, keadilan dan ketidakadilan, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan keadilan, sudah menjadi hal yang membosankan, menjadi sesuatu yang kosong dan tertidur, menjadi hantu-hantu yang perlahan meredup dan menghilang ke dalam mentari antroposentris dari segala penentang yang unik; parodi-parodi dari sebuah peradaban sekarat yang membuat rasa mual, muak dan menjijikan dalam diri kita; Seni mengajarkan pada kita tentang kecintaan atas hidup yang terhebat. Kita memiliki kebutuhan untuk mencintainya "hingga segala bentuk kehidupan ini musnah". Duka Cita dan Kesedihan mendalam adalah mata air murni dari Keindahan Seni yang berdenyut. Dalam celah retakan dari kesedihan itu pula Seni menancapkan akarnya yang bercahaya agar dapat melemparkan kebahagiaan dari dahannya yang kehijauan di tengah-tengah hempasan angin yang beradu secara misterius, dalam tarian Matahari dan Cahaya di mana mimpi-mimpi, harapan dan Keindahan ditemukan pada senandung kebahagiaan dan Kebesaran yang tragis. Ya! Segala puncak yang ditutupi oleh salju yang menyanyikan simfoni polifonik dari musik dan puisi, cinta dan keindahan, di tengah ketinggian kemurnian cahaya yang begitu halus dan dekapan mentari yang keemasan, masih terbit dari jurang yang teramat dalam. Inilah cara kami Hidup! Duka Cita adalah jurang sumber kreativitas kami, sedangkan Kesenangan dan Kebahagiaan adalah mimpi terhebat kami! Sekalipun Duka sama sekali tak membuat kami lebih baik,
Bagiku' Nietzsche berkata — "hal itulah yang menjadikan kita
jauh lebih mendalam.' Dan di kedalaman misterius dari
keberadaan kita, ada teka-teki yang tak diketahui berupaya
keras untuk/serta menyembunyikan dirinya. Jam demi jam.
melesat pada kemurnian, pada puncak keunguan dari wahyu
pengetahuan.
Dan kemudian, layaknya untaian bintang berkilauan yang
berkeliaran di jernihnya malam tak berawan yang memantulkan cahayanya pada kedalaman laut biru yang tenang, sehingga kebahagiaan yang diciptakan oleh dan untuk diri kita sendiri dapat tercermin, tersenyum, dalam lautan kesedihan atas duka cita kita; atas duka yang telah memberikan Hidup kepada kita! Kita tak boleh berhenti melepakan pemahaman kita dari kesedihan kita, dan memberikan segalanya secara keibuan (penuh kaih) pada segala yang terkandung dalam diri kita baik
itu darah, hati, api, kesenangan, hasrat, pengetahuan, takdir,
atau pun kematian. 'Bagi kami, hidup berarti mengubah segala sesuatu yang ada dalam diri dan di sekitar diri kita menjadi cahaya dan api, sebab kita tidak dapat melakukan hal yang sebaliknya." Inilah lingkaran kehidupan — yang mungkin terlampau terbatas — di mana kita terus menerus ditumbangkan tanpa pernah bisa meloloskan diri kecuali melalui jalan kematian yang senyap! Namun kematian sama sekali bukan hal yang menakutkan atau pun teror bagi kita. Sebaliknya! Kita sebagai orang-orang yang terus berjalan keluar dari Ketidaktahuan yang abadi dan melangkah menuju keabadian yang tak diketahui telah belajar memandang Kematian layaknya momen seperti biasanya dalam
hidup kita. Dan inilah misteri yang paling indah dan agung
dalam hidup kita! Inilah kata terakhir dari pengetahuan. Yang
tak diketahui! Dan dari singularitas yang tak diketahui tersebut lah
suara-suara kita yang sangat kuat dan kejam membangkitkan
menginginkankesenangan, seruan jiwa yang terengah
tembok misteri abadi, lagu-lagu kejayaan dan dionysian atas hidup terlihat samar dari kegilaan mimpi, sebuah mimpi yang tersusun dari Seluruh kehilangan dan penjelajahan di dalam kehampaan. Dan dalam kehampaan, Kematian tengah menunggu kita. Kematian ini adalah milik kita seperti halnya Kehidupan kita. Sebuah kematian yang kita cintai! Tetapi seseorang harusnya tidak diturunkan ke dalam kubur dengan hati yang membengkak oleh kesedihan dan tangisan. Hal pertama yang penting untuk dilakukan ialah menjalani hidup secara intens layaknya para Seniman, Pemberontak, sebagai Pahlawan, tanpa pernah memandikan diri ke dalam deras sungai kepahitan dari penyesalan yang mengalir di aliran sungai kristianitas. Pendosa yang sejati serta bersemangat tak boleh mati tenggelam di dalam pusaran lumpur penyesalan yang begitu berlumpur, namun mesti menyelimuti dirinya dengan merahnya kobaran api dari dosa yang terhebat. Sebelum kematian itu tiba, kita harus menghabiskan percikan api terakhir dari pemikiran kita yang subur, membuat pesta dunia dan kesenangan dalam bertindak yang tak berbatas. Sebelum mati, adalah penting — sebagaimana yang dikatakan oleh Emerson — untuk merasakan segalanya menjadi familiar bagi kita, setiap peristiwa jadi berarti, setiap hari adalah suci, setiap orang adalah indah. Lalu? "Lalu rasa mual pun datang, kejijikan, kebencian, "demikian kata Bruno Filippi, dan
kemudian muncul seorang yang "berani" dan dengan keberaniannya ia bergerak menembus keheningan alam
kematian berbekal jiwa yang tenang dan terang, menuju tempat di mana pemikiran erpecah dalam kehamaan yang teramat
suny dan matr un terurai gar daat menghidupan bentuk
mampu hidup sebagai Pemberontak dan Pahlawan akan menghendaki kebebasan untuk terbakar di dalam kobaran api yang indah, yang tersulut oleh dosa terhebat sehingga permulaan kematian tak lain hanyalah puisi manis dan melankolis yang mencium fajar mentari yang kemerahan di mana suara Orpheus berpadu dengan isak tangis Promotheus dan raungan, tawa pemujaan ala Yunani kepada Dionysus kembali dinyanyikan. Aku mengagumi Corrado Brando (Sebuah karakter di dalam novel karya Gabrielle D'Annunzio.) dengan segenap antusiasme ikonoklastik dan keimanan ateistik, sekali pun jika sang penulisnya belum mengetahui bagaimana dapat mati tepat pada waktunya dan telah membiarkan hujan sang waktu yang berlangsung begitu lama berjatuhan dalam pikirannya hingga secara ajaib itu mengnguras dan mengeringkannya; meskipun perlu untuk mabuk di air mancur Zarathustrian yang murni dan berbahaya yang semburan airnya berasal dari puncak kesunyian Nietzschean yang ceria dan menyenangkan; meski jika Catos (Cato adalah seorang orator di masa kerajaan, dikenal karena moralismenya yang kaku) yang kecil dan menyebalkan dari Thais yang busuk (perempuan Yunani yang hidup dan selalu menemani Alexander Agung), atau pun Circe yang yang penuh kebencian dan menyebutnya Moralitas, berlari ketakutan di
hadapannya. Sebab Corrado Brando tidak mengagungkan
kejahatan sebagaimana yang diklaim oleh para idiot yang gemuk
dan kurus, melainkan — dengan tanda-tanda seni tragis yang sesuai — kemanjuran dan kehormatan dari kejahatan dipahami
sebagai sebuah kebajikan promothean yang termanifestasikan.
atal atas fajar berdarah yang brilian, beserta
dengan ledakan bom' dan menjalani hidup seraya menjerit layaknya dewa atas perumpamaan Rynerian: "Aku mencintaimu dan bebas menghasratimu, oh Kehendakku!" Itulah Bruno Filippi! Jiwa telah menciptakan Pikiran bagi dirinya, Pikiran telah membuat Daging bagi dirinya agar dapat muncul kembali sebagai simbol. Sang Pahlawan tragis telah melakukan tindakan yang menjadikan dirinya sebagai seniman atas Hidup(-nya sendiri) sehingga ia dapat mengubah dirinya menjadi Puisi dengan perbuatan (Poet of the deed), sekuat dan sekeras kepala layaknya fatalitas atas Takdir. Layaknya Pahlawan D'Annunzian. la juga berkata dengan tindakannya: "Bukti atas kehormatanku berada di dalam keajaiban yang tak terlihat." Dan seperti halnya di dalam Corrado Brando, mabuk akan kehendak telah berakumulasi dalam dirinya sebagai kegilaan Dionysian. Serupa protagonis dari More than Love, ia juga mengajarkan pada kita amarah dan badai (fury and the whirlwind), sebab di dalamnya pula 'badai telah membangkitkan seluruh kekuatan jiwa dan, melemparkan padanya, menghantamkannya pada tembok granit padat," Layaknya seluruh kelompok kecil para pecinta Hidup, ia adalah puisi heroik dalam perbuatan yang dalam penghancuran diri dan kemalangannya menciptakan nyanyian tragis bagi 'kemenangan kehendak yang kekal", bagi kultus Kesenangan dan Keindahan yang abadi. Ia menawarkan seluruh kobaran gairahnya yang merusak'dan menyala, beserta kesedihan dan pikirannya yang tersiksa. Dia, Bruno Filippi, dalam dorongan/impuls tergilanya akan pembinasaan, hendak menyatakan dosa yang paling intim dan luhur. la kemudian
bengkak oleh benih-benih yang subur." Dan semenjak ia adalah seorang penyair, Bruno Filippi mendengarkan suara ini. la mendengarnya dan Dia pun menjawab: "Oh bumi yang penuh kebajikan! .. Aku akan datang, Aku akan datang pada hari yang agung dan kau akan menyambutku di dalam dekapanmu, dalam kebajikan, bumi yang semerbak, dan engkau dengan begitu malu-malu memberi bunga lembayung di kepalaku." Kini Bruno Filippi telah mengambil seluruh bunga dan pemikiran yang bertunas di dalam taman berwarna merah yang dihembuskan oleh angin musim semi menuju ke dalam kuburannya, begitu riang dalam kekuatan dan usia mudanya, dalam kehendak dan misteri, "Oh bumi, ambillah kembali tubuh ini dan sadarkan kembali apa yang menjadi kekuatan bagi para pekerjamu di masa mendatang." Sebab dalam dirinya Aku juga melihat sebuah 'keharusan akan kejahatan yang dipikul oleh sang manusia teguh hingga pada akhirnya mengangkatnya ke sebuah kondisi serupa titan." Siapakah dirinya sesungguhnya? Kemana ia telah melangkah? Tolol! Dan kemana kau telah menjelajah? Kemana gerangan kau pergi? Dia telah hancur saat ia menghancurkan rantai belenggu yang telah, dalam beragam kualitas kepengecutan dan kebencian bersepakat menyebutnya sebagai orang gila yang berbahaya, menancapkannya secara logis maupun moral ke pergelangan tangan sang pemberontak berusia 20 tahun itu agar dapat menghancurkan Keunikannya, misteri dalam dirinya, karena ia
adalah sosok yang sulit kalian pahami,lebih tepatnya pemikiran
rumit dari seorangyang tentunya merasa lengkap secara kedirian. Bruno rmerupakan sosok yang dibenci. Namun kekuatan· dari tersebut sama sekali tidak Cinta dalam Dirinya. Dia menghancurkan
i dengan memeluk hangat kematian sebab ia
dikatakan pahlawan DAnnunzian: bahwa para budak dí pasar
berbalik arah dan mengingat!
Seni Bebas dari Jiwa yang Bebas
Barisan dari orang-orang konsumtif baik secara moral maupun fisik, barisan orang tolol, pincang, orang bungkuk, buta; wajah- wajah yang dipahat dengan keburukan, oleh sipilis, oleh alkohol. Seluruh kebencian yang mendenguk di dalam kerongkonganmu itu, membentuk dua anak sungai air liur yang mengalir keluar dari sudut-sudut mulutmu, sama sekalí tak membuatku goyah dari sikap tak peduli. Engkau masih saja menggetarkan kepalan tangan, yang telah terlatih untuk melemparkan kotoran. Dan kalian para wanita juga menghinaku dengan cara yang sama, kalian yang di dalam rahimnya mengabadikan duka cita manusia. Kalian semua busuk, busukl Makhluk tercela, layak untuk dicambuk! para reptil merayap, pencari kerak roti busuk, anjing-anjing yang menjilati tangan siapa pun yang memukul kalian! Apakah untuk dirimu, sesungguhnya untuk dirimu, yang membuatku akhirnya bangkit berontak? Untuk kalian, demi anak-anak dan ibu-ibu kalian? Bangkai yang membusuk dalam kepasrahan, para mumi yang dimakan oleh cacing masyarakat dekaden, kalian telah menipu diri kalian sendiri. Aku tak akan memberikan tetesan sekecl a pundemikalian, bahkan tidakpula sepuntungrokok
pun. Pergilah dengan keturunanmu ke dalam lumpur. Ketika
gembira.
Hari demi hari, dahimu kin menyusut. mulutmu kian
terlihat dibalik kulitmu yang menguņing. Dan Aku tertawa, Aku tertawa! Betapa menyenangkannya hadir di tengah keruntuhan dunia, untuk melihat darah, mayat -mayat, membusuk di mana- mana! Sementara itu para borjuis dan orang-orang saling menipu dan saling membantai satu sama lain. Aku di sini, begitu kegirangan dengan semua ketergesaan ini. Ada Kaisar di síni, terdapat pula Wilson dan di setiap tempat terdapat orang-orang yang tengah merintih kesakitan tetapi mereka hanya pasrah (tak melakukan apa pun). Masuklah ke dalam lumpur, para reptil! Aku tak ingin bersatu dengan gelombang orang-orang yang menyanjung proletariat, yang memaafkan mereka, memuja mereka, menghiasi mereka dengan senyuman. Tidak, oh golongan tercela, semangat kalian tidak menyamarkan apa pun. "Orang-orang" tersebut selalu hadir di sana, idiotik, yang secara pengecut, memutuskan berhenti. Dan Aku, yang menganggap diriku superior, dikehendaki untuk demikian, dan baik para borjuis mau pun proletariat akan membayar demi superioritasku. Kalian menimbang dalam kelaparan dan kesukaran, kalian bervegetasi, dengan serampangan menyuburkan rahim dengan kawanan anak nakal yang kasar, kotor, berpenyakitan, dan kerdil. Paksaan! Engkau dengan pengecutnya melantangkan ratapan berulang-ulang! Engkau berkata bahwa kau sedang kelaparan. Engkau meregangkan tanganmu di depan jendela
menempatkannya di situ!Tetapi Aku menjauh dari
kotor, yang tunduk pada gembalanya. Aku akan menjelajahi
dunia sendirian sambil membawa kebencian dan caci-maki ini ke segala penjuru. Sendirian di dalam perjuangan. Seorang diri di dalam kemenangan dan dalam kekalahan. Gagasanku akan menjadi racun yang merusak dan meracuņi dirimu, dan engkau akan bergetar ketakutan, sama seperti bagaimana kau takut kepada sang Raja, yang tertingi... Dan sementara itu, Aku menertawakan kerumunan orang- orangmu yang sangat anch dan berdarah-darah itu, Aku tertawa begitu hebat sebab aku tak lagi melihat siapa pun, dan tampak bagiku bahwa kemanusiaan merupakan penyakit gangren yang terus menerus memuntahkan nanah kental. Dan rasa sakitnya bergerak, gemetar, tertutupi oleh keropeng yang kemudian menghilang agar dapat memberi jalan bagi muntahan kebusukan lainnya. Dan Aku pun tertawa dan terus tertawa!..
Sebagian besar akar dari sentimentalisme telah berakhir, mengapa kau masih bersikeras memaksakannya dalam gagasanmu yang usang? Bukankah kau di sini untuk merasakan derap kehidupan yang mengejar dan mengajarkanmu? Terserap pada masa saat ini dalam mimpi akan kedamaian yang menenangkan, dalam masa depan yang bersinar terang, dengan cara inilah engkau bertarung, dengan mata yang tersesat di dalam khayalanmu sendiri. Namun kini kita tengah
berhadapan dengan masalah, dan engkau harus memiliki
keberanian untukmenghadapi dan membahasnya. Menurutmukita sedang menghadapi persoalan: Untuk menjadi ataukah tidakk menjadi. Hingga kini, mimpimu adalah
altruisme, berkorba demi kemanusiaan, demi masa depan. Dan
gorbankan seluruh keberadaan dirimu di
Mengapa engkau mesti peduli terhadap
dari orang orang? Semenjak dirimu, yang menyebu diri sebagai seorang anarkis. begitu yakin untuk terlibat di dalam pertempuran yang sesungguhnya telah mengalahkan dirimu sendiri bahkan jauh sebelum perang itu dimulai, semenjak engkau tentunya tidak akan melihat tatanan masyarakat yang kau mimpikan, dan bahkan jika orang-orang mulai berontak, kondisi-kondisi sosial tidak akan berubah bagimu dan pemberontakanmu akan masih saja terus berlanjut. Jadi apalah gunanya tenggelam dalam kerumunan massa yang sama sekali tidak akan pernah memahami dirimu dan kondisi-kondisimu yang sejak awal hanya akan mengubahmu menjadi sosok yang tak dapat dipahami bagi mereka? Jika dirimu adalah seorang pemberontak jenius sebagaimana yang engkau tegaskan, maka engkau harusnya tidak akan mengganti bentuk pengingkaran diri ala Kristen dan perbudakan patriotik dengan bentuk altruisme seorang anarkis yang mengorbankan dirinya sendiri demi masa depan yang tak akan pernah dilihatnya dan demi orang-orang yang tidak pernah memahami dirimu. Engkau mesti mengenali bahwa, sebagai orang yang terlahir di dalam tatanan masyarakat yang membahayakan, kita sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah budak-budak yang terbaik. Menjadi budak-budak atas evolusi, dengan bersumber dari pengorbanan diri, kita telah mengizinkan kemanusiaan untuk mengambil alih sebuah langkah kecil. Jika saja hal
tersebut cukup memadai, namun semenjak kemajuan takkan
pernah berakhir dan, oleh karenanya, adalah kesia-siaan, sebab
sekali tatanan masyarakat tersebut mencapai bentuk tatanan
sosial yang selama ini kita perangi maka hal tersebut takkan pernah berakhir, akan tetapi justru menuju ke arah yang takkan
perah terbayangkan oleh kita saat ini, kita harus mengakui
kemanusiaan.
terjadi saat ini.
individual. Orang-orang pada dasarnya adalah konservatif: mereka merasa puas dengan tatanan masyarakat yang mereka temukan. Mereka yang minoritas sebaliknya adalah pembaharu dan oleh karena itu mereka berontak. Massa mengendalikan aksi revolusioner dengan bobotnya yang kasar dan menjadi bagian darinya. Hal tersebut turut menumbuhkan kebiasaan terhadap beragam kondisi yang baru. Dia tetap membusuk di sana hingga yang minoritas melakukan pemberontakan untuk kesekian kalinya. Dan apakah Aku mesti menjalani penderitaan untuk melewati seluruh babak keseimbangan ini? Aku, yang memiliki gigi sosial yang besar. atanan masyarakat telah menindas menghalangi kebebasanku dalam n segala senjata untuk memerangi itu. g juga turut menjadi, keburukan, dll. alkohol, akibat kematian Kejayaan
berarti apa-apa bagiku sebab hal itu tak menyentuhku.
Aku, Aku hanya mempertahankan diriku sendiri dan
segala serangan. Dan jikalau Aku harus gugur di dalam perjuangan yang tak
sepadan ini,pastinya ku tidaksendirian [*Aduh,ternyata harus
gugur sendirian! (Catatan tambahan dari editor edisi bahasa
Italia)], Aku akan memiliki kepuasan yang luhur karena telah bangkit untuk melawan dunia dan menang secara intelektual jika bukan secara material. Para kaum berpendidikan tinggi, penyair, novelis, pelukis, inilah sebabnya mengapa kejeniusan kalian menjadi sesuatu yang tidak bernilai dihadapanku. Kalian adalah refleksi dari kehidupan, Aku adalah esensinya. Dan kalian tentu saja, merasakan rasa sakit yang luar biasa di jantung kalian saat melihat kastil-kastil retoris itu runtuh, dan di samping semua itu kalian terus menerus tetap mendukung mereka ke luar dari kebencían terhadap segala yang baru. Dan, pada akhirnya, kalian melakukannya dengan baik. Kalian terlahir untuk merangkak, sementara Aku untuk terbang. Bagimu adalah lumpur, bagiku adalah puncak tertinggi. Bagimu adalah penghancuran secara pengecut, bagiku adalah sublimasi dari keberadaan diri. Dan tentu saja jika hidup ditujukan bagi orang-orang yang terkuat, maka Aku akan mendapatkannya. Aku akan meraihnya dengan kekuatan dan dengan kekuatan pula Aku akan mencurinya — menjadikan dan menikmatinya. Dan kalian, para parodi dari umat manusia, teruslah
Aku telah
bermimpi Aku Hidup. Bukan kalian; melainkan Aku.
menyelesaikan Kalian persoalan.
menggonggongi diriku dari belakang.
Aku ingin berbaring pada ranjang yang dipenuhi bunga
Semenjak duri-duri itu tidak kekurangan sesuatu pun dalam
hidupnya, Aku lebih menyukai bunga-bunga mawar yang
memberiku kesenangan melalui rasa sakit."
Dan tak masalah. Kalian yang tengah membaca ini bisa mengatakan bahwa prosa ini gila, abnormal, sebagaimana kalian telah menyebut segala tindakanku sebagai kegilaan dan abnormal. Namun penilaian kalian sama sekali tidak menarik perhatianku bahkan juga tidak membuatku memohon untuk itu. Aku hanya menghasrati pemikiran-pemikiran superior agar dapat mengetahui mengapa Aku melemparkan diriku ke dalam kegelapan di tengah perasaan yang tak terlukiskan; Aku ingin menantang pena para prajurit upahan agar namaku sulit untuk tertutupi oleh sampah yang ada di dalam koper mereka. Aku adalah reporter bagi diriku sendiri: Aku menerbangkan para perantara yang, dalam keyakinan baik atau pun buruk, akan
membentuk gagasanku. Dan semenjak Aku mungkin tak akan
mampu mengungkapkannya, Aku menghendakinya setelah diriku lenyap, seseorang dapat mengetahui bagaimana cah
diturunkan. ***
Apakah kekaburan dari alam semesta ini akan membatku bersedih karena kabutnya? Apakah takdir kegelapan
mengancam diriku? Aku tidak tahu alasan apa yang membuat
kemurungan ini membuatku tertekan, bergembira dalam menyiksa diriku, merenggut seluruh hal yang mengelabui diriku
dalam mencintai dan meyakini. Oh! Sang takdir atas waktu yang menyenangkan betapa cepatnya berlalu saat Aku begitu gembira bertempur demi pertarungan hebat atas gagasan, tanpa disertai rasa takut, tanpa keraguan. Kini, bagaimana pun juga, semua itu nampak sia-sia bagiku; Di mana pun Aku merasakan kepadatan dan kegelapan yang tak dapat ditembus. Aku telah menghancurkan segalanya, segalanya, dan kini Aku pergi bersama pandangan-pandanganku yang menyedihkan, meragukan semuanya, Seluruh darinya. Dan Aku merasa bahwa keinginan untuk menyebarkan pandangan-pandanganku pada alas kosong yang belum gemetaran ketika mempelajari badai, itulah perasaan yang menyiksaku. Siapakah 708 yang akan membaca baris-baris kalimat ini? Mungkin tidak seorang pun. Mereka akan tetap tidak diketahui seperti halnya tak ada yang mengetahui mereka yang akrab dengān keletihan pemikiranku.
Malam ini, seperti biasanya, Aku sedang membaca, lalu tiba-tiba saja sebuah bagian kalimat membuatku terhenti dan Aku pun berhenti membaca lalu membayangkannya. Aku hanya termenung, mengalihkan tatapan kosongku ke ruangan yang sedang kutatap, dan di saat yang sama Aku melihat, lebih dari sekedar itu, Aku melihat diriku tengah duduk di ranjang. Itu bukan Aku, namun itu masih diriku, sebab ia tentu saja serupa denganku. Begitu takjub, Aku menatap dalam kesunyian, dan ia, sosok lain dariku (aku yang lain), juga tengah menatapku, namun dengan senyuman yang tentunya ironis.
Ayo kita berdiskusi, kalau begitu, balasku. 'Begini: mengapa engkau menjadi seorang anarkis?"
Mengapa, karena saat ini kita mengalam eksploitasi
dinjak-njak ole para penguasa. Retoris, retoris, sayangku. Dengarlah: Engkau menjadi
pembaharuan apa pun, yang dipenuhi leh indidual apa pn itu, akan terjadi begitu lama setelah kematian individual tersebut. Dan inilah yang akan terjadi pada kalian para anarkis. Engkau akan mati tanpa pernah melihat satu pun dari cita-cita kalian terwujud, dan generasi setelahmu, yang mungkin saja hidup dalam sebuah tatanan masyarakat anarkis, akan menunggu begitu lama demi cita-cita yang paling tinggi dan pada gilirannya juga akan mati tanpa pernah meraih hal apa pun. İtulah lingkaran setan, sebuah pengejaran abadi.
Saat ini seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, bayangan-bayangan itu mengelilingi diriku. Dan tentu saja itu terjadi setelah menghabiskan heberapa lama dikelilingi oleh hangatnya matahari, ketika ia mencapai gerhana, salah satunya digetarkan oleh udara dingin yang mendadak muncul. Dingin itu telah merasuki pikiranku yang memimpikan masa depan yang menghangatkan dan melihatnya dari kejauhan, sn nd
jangun. apa dina raaan i mengaakan pd
kencang. Aku akan kuat. Akukan mencapainya. Layaknya kafilah
Arab yang bersiap melintasi Sahara dan mengamati luasnya
bentangan pasir yang akan mereka lalui bersama ketakutan,
dengan kecemasan akan tersesat sepanjang perjalanannya, yang
masih terus berlanjut lagi dan lagi, di bawah nyala matahari, di
tengah amukan simoom (angin padang pasir yang kencang), kehausan, kelaparan, lelah, di sebelah unta-unta membungkuk
yang melebarkan lubang hidungnya agar dapat mencuri sedikit
kesejukan dari udara yang kering, dalam desakan, penglihatan yang tetap dari mesjid putih nan ramping di mana sang muadzin memberikan penghormatan kepada Mekkah pada malam hari, atas kesejukan desa yang menjadi tempat beristirahat. Demikian pula diriku, Aku pun akan terus berjalan lagi dan lagi dengan fokus pada pandanganku, yang merupakan satu-satunya hal yang kulihat di mataku. Tak kenal lelah, Aku berjalan, tercekik oleh seluruh prahara di dalam diriku. Jikalau apa yang kurasakan dapat berubah menjadi angin, Aku akan berlalu layaknya badai yang menghancurkan, menghancurkan segalanya dengan tiupanku yang keras. Dan Aku terus berjalan, Aku terus berjalan. Pikiranku menderita, kelopak mataku tertutup; Aku merasa butuh akan kedamaian, untuk beristirahat, Bujukan masih tet ap berbekas di pasir, untuk lenyap, untuk menghilang di bawah mentari, untuk berbalik menuju pada kehampaan. Sang serigala hendak datang dan berpesta dengan tubuhku, hingga hanya menyisakan tulang-tulang putih tubuhku sebagai ejekan bisu atas kehidupan. Tetapi Aku bangkit, Aku membunuh kuman penyakit dari kedamaian dan terus berjalan. Aku akan mencapainya sebab Aku menghasratinya. Dan jika Aku belum juga sampai? Maka sang gurun pasir akan mengambil alih diriku. ** *
Aku terjatuh sakit dengan penyakit yang sama seperti Nietzsche alami dan tidak menyenangkan bagiku untuk mengakui adanya kesamaan antara diriku dengan dunia ini
maupun dengan yang lainnya. Aku gclisah dan Neurasthenic
(gangguan neurosis yang membuat lclah secara fisik dan
mental). Aku memiliki gelindingan baja dikepalaku yang
menghancurkan tengkorak kepalaku, dan kedua mataku
berdenyut di dalam rongganya, membengkak dan berdarah,
kelelahan dengan mimpi-mimpi. Aku ditakdirkan untuk melintasi dunia ini, mengembara seperti meteor yang tak terlihat. Lebih tepatnya karena Aku adalah superior, Aku mesti mengosongkan seluruh cangkir duka cita dan menderita tanpa sedikit pun kesenangan yang menghibur diriku. Namun mabuk keras terhadap minuman yang berașal dari cawan suci duka cita adalah kenikmatan luar biasa dan hanya seseorang yang menangisi jiwanya hingga teriris, dengan tangannya sendiri, yang dapat merasakannya. Terkadang Aku masih saja mendambakan cangkir yang lainnya, cangkir dari kesenangan yang lain, agar dapat membasahi bibirku yang haus dengannya, namun hal itu telah lenyap dan kini, hari demi harí, celah yang memisahkan diriku darí yāng lainnya membuatku ketakutan. Siapakah yang akan ikut denganku? Siapakah yang akan memiliki keberanian untuk terbang melintasi teluk agar bisa endengarkan kebenaranku, agar dapat sedikit menyingkirkan kesedihanku? Siapa?... Kemarin pada puncak keletihanku, Aku menerima' sebuah kartu pos dari seorang wanita tak dikenal. Tiga buah bunga violet yang membuatku sedikit bergembira bersama keriangan pemikiranku serta simbol: dari dua belas kata yang membuatku bermimpi bahagia. Aku berterima kasih pada wanita yang tak dikenal itu atas pemikirannya dan terhadap kemisteriusan dirinya yang membuatku bangkit untuk terbang dengan kuda angan-angan bersayap. Wanita lembut yang tak dikenal, di manakah dirimu? Mungkin di Andalusia yang menggairahkan ataukah di Perancis
yang meriah? Siapa yang tahu? Adakah seseorang yang tahu
bahwa ia, sang wanita tak dikenal, merupakan sinar cahaya!.
Tidak. Mustahill Dalam diriku terdapat kegelapan yang tebal Aku tidak berpikir, Aku tidak berbicara, namun Aku
Aku mengembara melewati kota yang rakus,
berkembang dalam diriku. Aku mengembara tanpa tujuan dan
parade dar wajh-wajah yang sea dan acuh tak auh yang
terus berlanjut. Wanita yang sangat mencolokpun melintas, dan
di dalam seluruh gerakan dan gestur mereka yang paling sederhana engkau dapat melihat suatu upaya, lagu-lagu, yang ditujukan hanya kepada hasrat yang terbangkitkan. Dan pria
pun berhenti, mengikuti tampilan mencolok, arca kecil nan
montok dengan tatapan rakus dan mengeluarkan komentar yang begitu vulgar. Inilah kerumunan anak yatim, yang diisi serampangan ke dalam pakaian yang tampak mengenaskan. Mereka berjalan dengan diiringi oleh para pendeta vulgar, yang pendek sekaligus gemuk. Sungguh bayi-bayi yang malang! Dibesarkan dalam kefanatikan, dalam atmosfir buruk dari asrama sekolah, mereka berhenti, para helot (Hellot merujuk pada Sebuah kelompok yang digambarkan oleh sarjana Yunani abad kedua Jullus Pollux memiliki status antara 'orang bebas dan budak) hari esok. Aku melihat Gereja. Seorang pastor kasar berbicara dengan seorang wanita pengabdi yang mendengarkannya, penuh penyesalan dan penuh perhatian, dan tangan pendeta tersebut menjabat tangan-tangan berbulu dan mengalihkan tatapannya melemparkan sekilas lirikan matanya. Seorang yang makan berkecukupan berada di dalam bayangan kuil kebohongan mendengarkan. raungan kerja dan kesengsaraan yang tampak menunggu di atas kota yang agung dengan kemarahan. "Uang kecilnya, pak," demikian rintihan seorang yang berpenampilan kasar dan koto. "Uang kecilnya,
pak.. Dan kerumunan pun terus berlalu, mengabaikannya.
memikirkan soal sup di malam hari, kedai minuman, serta permainan bowling. Dan panggilan si pengemis terus berlanjut, mengganggu dan keras kepala, membuat kepalaku terhantam, membuat otakku berdenyut. Aku mempercepat langkahku; Aku berada di dalam distrik yang kaya raya. Kereta kuda, mobil, para pelayan berpakaian dinas dengan wajah tololnya membuka pintu-pintu mobil dan menunduk. Aku melihat perempuan sedang memakai riasan wajah dan parfumnya, para pesolek dengan sarung tangan anak- anaknya, monocle (Kaca mata berlensa satu), tongkat-tongkat berjalan, lencana-lencana tiga warna. Orang-orang ini saling bertabarakan dan bercampur: mereka berbicara tentang makan malam dan para penari. Aroma memuakkan menyeruak hingga meraihku dengan kerongkongan dan mencekikku. Namun Aku tetap menunggu, nyaris terpesona, mendengarkan desiran lembut, kicauan lemah lembut wanita. Catatan dari nyanyian patriotik datang mengombak di luar cafe: ada seorang pincang yang berdiri didekatku, bersandar pada tiang penopang, mengamati arus sungai kecil dengan kekaguman. Aku pun menghilang.
AS月Aku berjalan sendirian, di jalanan yang setengah
bercahaya: Aku keluar di alun-alun, di sebuah jalan kecil. Acak-acakan, anak-anak yang dekil, perempuan hamil, orang-orang yang menghitam karena asap dan puntung- puntung rokok yang berbau tengik. Tempat sampah yang busuk, pemukiman yang hancur, sudut-sudut yang berbau kencing, kedai minuman yang dipenuhi pemabuk, serta para pelanggan yang bersorak. Inilah para tentara: dengan langkah beratnya, dalam ritme, keringat, berdebu, wajah-wajah yang berkerut, punggung yang membungkuk. Orang orang keluar, melihat, berkomentar, menunjukkan rasa simpatinya dan kemudian kembali minum, berteriak, bernyanyi. Sekali lagi Aku menghilang. Di sebuah sudut Aku meliat
pengumuman tentang beragam operet dan Chanteuses cafe: Aku
mendengar kerumunan pria berusia muda berbincang tentang
bangkit!
Aku meningalkan jalan, Aku bergerak lebih dalam
Kemari, kau akan memberikan 30 sen untukku!
Aku bermimpi tentang dunia yang dipenuhi nyala api,
berputar-putar tanpa batas dan melontarkan meteor-meteor
merah menyala serta memercikkan melalui ruang-ruang
berbintang.
Aku memiliki tuhan layaknya orang lain; namun tuhan itu adalah diriku sendiri. [Dalam bahasa Italia permainan kata ini tidak diterjemahkan. Dalam bahasa Italia, 'tuhan' adalah 'dio' dan 'Aku" adalah "io". Terjemahan harfiah dari kalimat tersebut akan menjadi: "Aku memiliki tuhan (dio) layaknya orang lain; namun itu tidak memakai huruf 'd".]
Dekadensi. Kini beragam bangsa menandukkan kepala mereka bersama-sama layaknya biri-biri besar, masing-masing menghendaki supremasi di atas bangsa yang lain. Tanah-tanah Latin yang romantis dan merkantilis Inggris (Albion) berhadapan dengan kerajaan Jerman disaat tanah-tanah Balkan yang kecil mengejar dari belakang dengan koper koper indah dari dat istiadat timurnya yang erbelakang. Dan Rusia erkobr a ka anit tka mmkise bau dari
kehidupannya.
Di wilayah timur, peradaban diperbaharui dan diperkuat kembali oleh tampilan energi-energi segar hingga ke wilayah
utara di mana bau busuk yang sangat tajam dari kumpulan
mayat dapat tercium, dan anak-anak kecil dari mentari berharap dapat menyebarkan populasi berlebihnya di sini dalam bentuk ekspansi peradaban asiatik yang telah diperbaharui. Dan tontonan ini, pemborosan energi yang menggila,
perjuangan hidup yang tak mengenal belas kasihan ini,
mengungkapkan bahwa tak ada semangat dan kekuatan
kesadaran yang nyata sama sekali bagiku. Apa yang terlihat bagiku hanyalah kerusakan yang kian membesar, sebuah bentuk penghancuran terhadap kastil-kastil, tabrakan mematikan di antara bangsa-bangsa, disaat bumi yang acuh tak acuh membuka dadanya untuk menerima daging muda yang akan membuahinya. Dekadensi yang kerusakannya kian sempurna ini terjadi dalam cahaya besar dari api kolosal, yang sesuai untuk meruntuhkan peradaban ini. Aku melihat hal ini telah membelit banyak orang, Aku melihat kematian karena alkohol, tuberkolosis, dan meriam. Aku melihat kepincangan, sifat konsumtif, para idiot, para penjahat. Literatur, seni, ilmu pengetahuan, gelombang invasi yang mengerikan ini telah menggantikan segalanya. Dunia secara keseluruhan tak lain hanya disesaki oleh munculnya proses pembusukan, bangkit dan menginvasi segalanya serta itelan olehnya. Kemanusiaan menganggap dirinya mulia. Ia berbicara tentang heroisme, tentang kemajuan dan tidak menyadari infeksi yang dibawa olehnya. Jurang dalam telah terbuka dan kemanusiaan jatuh di dalamnya sembari bernyanyi, melolong, berselisih, dengan tuhan-tuhan-nya, dengan tanah airnya, peradabannyayangmematikan,bersama proses degenenerasinya yang elegan. Segalanya telah jatuh, segalanya telah runtuh. Moralitas lapuk, filosofi-filosofi yang dipelintir dan penuh kebohongan,
retorika usang pun tak mampu menyelamat kan situași tersebut.
Penyakit ini telah berkembang dan tidak ada jalan lagi untuk
mencegahnya. Informasi menarik yang menghiasi struktur lama telah menjadi rumah bagi mikroba-mikroba menular. Segalanya telah dikutuk untuk menghilang, hancur di bawah tumpukan besar sampah yang telah lampau. Sejarah telah menutup fase yang aneh iņi, yang menghadirkan tontonan kelembaman yang tak dapat dipahami kepada para anggotanya yang mengabdi kepada gerombolan beragam hantu yang tak eksis, dan yang terus menerus memandang konstruksi konyol untuk kemudian dihancurkan, penderitaan terus menerus dari gelombang pasien dan pesta pora bagi sebagian orang, segalanya telah menciptakan sebuah ansambel kepengecutan, pembalikan, kejahatan yang hendak mereka coba tunjukkan sebagai heroisme, segala mentalitas lemah yang mereka sebut sebagai sesuatu yang menginspirasi. Demikianlah jaman ini berakhir. Sebuah pembebasan yang menyenangkan. Di hadapan reruntuhan semacam itu, Aku menyanyikan bencana, sebuah Nero yang baru. Aku bersukaria saat melihatnya. Lalu di atas reruntuhan ini, Aku akan membangun bangunan-ku, peradaban-ku, dunia-ku, Oleh karenanya, Aku pun bernyanyi...
'DIA' Orang bodoh itu adalah teka-teki yang hidup. Engkau takkan pernah tahu apa yang ada di dalam tengkoraknya.
Buruk, dengan rambut kepala yang menyerupai Absalom
(putra ketiga dari Daud), ia memandang layaknya Rasputin yang
baru saja mandi. Dua matanya yang jernih tidak pernah
tertentu
mengedip,namun padamomen momen
menghembuskan angin yang sedingin es.
Jika kau ingin mengetahui lebih banyak mengenai dirinya.
pergilah ke dalam terowongan. Engkau akan melihat selendang
lebar dari wol dengan sebuah topi di atasnya. Itulah dirinya Hentikan dia. Sambutlah dirinya. Meskipun jika dia tak mengenali dirimu, dia takkan terkejut melihatmu. Tawarkan padanya sebatang rokok (jika tidak, dia akan meminta satu
darimu!) dan ia akan berbicara denganmu dengan penuh
keindahan. Setelahnya, jika engkau membayarnya dengan sebotol darah Yudas [Judas Blood, Sebuah nama bagi sejenis
anggur merah di Italia-penerjemah], kemudian ia akan
membersihkan beberapa paradoks yang mengganggumu. Tetapi
jangan membodohi dirimu sendiri dengan berpikir bahwa
engkau memahami gagasannya. Dalam seperempat jam, ia akan menjadi anarkis, borjuis, aristokrat, ahli ilmu gaib, futuris, dll.,dll. Dia akan merusak gendang telingamu dengan kata-kata yang ia semburkan; Dia akan mengejek setiap dari kalian dengan udara keseriusan. Dan jangan pula sakit hati, sebab, setelah semuanya, pada momen tersebut dia akan merasa suka denganmu. Ia bahkan mungkin akan mencium dirimu. la merupakan Neurasthenia (gangguan saraf yang membuat lelah secara fisik maupun mental) yang mengerikan. Jika kau melihat bahwa ia telah menjadi diam dan merokok dengan kemarahan, engkau hanya berhasil mendapatkan kata-kata yang tidak meyakinkan dari mulutnya. Pada momen tersebut dia menghendaki dua orang; Salah satu yang paling diinginkan adalah sesuatu yang tidak engkau perhatikan, yang satunya lagi adalah kebodohan kecilnya yang tersayang. Jika ia menemukannya, jika ia memeluknya dalam dekapan, jika ia pergi bersamanya. Maka pembantaian macam apa yang terjadi! Mereka dapat memecahkan jendela-jendela di dalam rumah, mencoba untuk menggelincirkan trem, meludahi mantel para orang tua... Hei Makhluk dari dunia lain, Kukatakan padamu... hei bajingan luar biasa. Inilah "dirinya"!
Bab Penutup
Tugas sedih seorang penulis obituari adalah milikku. Betapa
sedihnya menuliskan sebuah halaman dengan hati yang bertanya-tanya: dan kemudian apa? Namun, kita berdedikasi pada perjuangan: atau agar berhasil menghilang. Itu adalah hal yang tak bisa dihindari, dan kita semua tahu bahwa suatu saat nanti, salah satu dari kita pasti akan lenyap. Uh! Dan bagaimana para orang tolol itu akan melolong: anarkis keras kepala! Siapakah yang dapat memahami badai yang meraung di dalam kepala kita? Siapakah yang mampu memahami rasa lapar kita akan kesenangan, akan kehidupan? Siapakah yang dapat memahami kekalahan kita oleh karena kepengecutan manusia? Kita sendirian. Kita tidak menemukan kelompok pemberani yang siap untuk berpartisipasi dalam perjuangan demi menaklukkan hidup. Oleh karena itu, kita dikalahkan. Dan salah satu dari kita telah lenyap. Yang lainnya masih
tetap menatap pada horizon. Ia takkan bisa, ia tak boleh pergi.
Inilah takdir kita. Akankah kita menemukan para kamerad?
Jika tidak demikian, masing-masing menempuh caranya
sendiri, kita akan menghilang, diam ataukah bergemuruh, dari
panggung dunia. Bab telah ditutup.
Bab tentang sebuah perjuangan, harapan, atau pun ilusi. Namun akhir belum menjelang. Saat kehidupan yang aneh dan tak biasa ini mencapai titik akhirnya, kita akan mulai memahami bahwa akan lebih baik jika mereka tidak pernah dilahirkan. Dan hanya itu semua yang dapat kukatakan. (Musim panas 1918)
5-1
Kebiasaan para Tikus dan
Pemberani Itu terjadi di kedai minuman Black Cat. Saat itu adalah malam berbadai, dipenuhi dengan kilat dan
petir; Aku tidak mengingat musim apa saat itu, mungkin musím
gugur. Mereka tengah duduk di sebuah papan kayu yang telah
terlepas dari sandaran kursinya karena entah telah berapa banyak pertarungan mabuk yang terjadi. Pemilik penginapan, yakni seorang wanita gemuk dan berminyak yang meneteskan lemak dari setiap pori-pori kulitnya, memandang peristiwa- peristiwa singular ini dengan takjub. Dan wanita itu memiliki alasan bagus! Orang-orang aneh semacam itu tentu saja tidak dapat ditemukan di tempat lain. Berlumuran lumpur, dengan mantel hitam besar dan topi yang berderai, mereka akan membuat takut para borjuis dingin dan membangkitkan rasa curiga para polisi yang waspada. Dan kemudian, pembicaraan pun terjadi... Dia tetap mendengarkan dan bersorak. "Hey! sang pembuat bakso beracun, bawakan kami anggur!" Anggur pun disajikan, mereka membayar dan meminumnya. "Dengarlah, orang tolol kecil yang terkasih, Jika mereka belum membuka S kita. Martino bergegaslah, takkan ada kekotoran di sana." "Kau benar. Sudah tiga bulan lamanya sejak Aku mendapatkan biji pinus. Aku putus harapan." Yang lainnyā hanya mendengarkan dan mengangguk: 'Bulan sedang bersembunyi.
"Namun kita adalah bayangan. 'Sebut saja daftar namanya."
Daftar panggilan pun dimulai; seorang kawan yang
disebut Maggot dengan rambut dikepalanya yang menakutkan
itu menyebutkan nama-nama tersebut.
"Little Numbskull (Orang bodoh yang kecil...
"Aku sudah terbangun." "Tooth (Gigi)" "Aku tengah menunggu." "Spike (paku)" "Aku sedang minum." 'Doll (Boneka)." "Aku sedang mengisap jemariku." "Glass-Eye (Kaca mata)." "Aku menguap." "Worm wood (Apsintus)." (worm wood atau apsintus, sebuah bintang besar atau ada yang menafsirkannya sebagai malaikat dalam cerita Alkitab). Doll berhenti menghisap jemarinya dan berkata: "Dia berada di dalam penjara." Maggot menulis dan setelah itu bertanya" "Aku melihat dua yang lainnya di sini, siapakah mereka?
002Siapa yang memperkenaİkan mereka?"
Tooth pun maju: "Maggot yang termasyhur, Aku berani mengusulkan bahwa kedua tikus mondok yang baru jadi sebagai bagian dari persaudaraan kita. Kualifikasi akademik mereka adalah: "#1 Mereka minum layaknya orang Rusia. Majelis pun mendengkur dengan puas. #2 Mereka membenci kerja." Dengkuran pun menjadi jelas sekaligus ramah. #3 Merekà telah menghabiskan 20 tahun di dalam penjara. Mereka hidup di malam hari. Mereka tak memiliki rasa takut. Mereka siap untuk segala kemungkinan, jika saja mereka dapat hidup berkecukupan dan bertahan. Cukup itu saja. Aku
mera terhormat dapat meminta sang Maggot yang temasyhur
agar dengan ramah menerima mereka dengan mengetuk hidung
mereka. Bagi dia dan dewan majelis, sang hakim. Aku telah
selesai." Lalu Maggot berkata:
"Engkau sudah mendengarnya, Para pemberani
(*Gallants); akankah kau menerima mereka?" Sorakan yang begitu hebat menjadikan langit-langit kedai yang telah usang itu semakin retak. "Baiklah, kalian berdua, maju ke sini. "Keduanya pun berinisiatif untuk maju. "Kalian lihat bahwa anggur favorit kami adalah darah Judas. Kalian berada dalam kumpulan orang-orang berbahaya. Waspadalah jangan pernah menangis." Setelah mengatakan ini, ia memberikan mereka ketukan seperti biasa di hidung. "Engkau akan tergores, dan Gridirion, kembalilah ke tempatmu dan rayakanlah." Terjadi kegaduhan di sana. Nyanyian-nyanyian, teriakan, lompatan liar. Gelas gelas dan botol-botol berdansa dari tangan ke tangan dalam kekacauan yang memusingkaņ. Dalam ledakan kegembiraan, si orang bodoh kecil beranjak untuk memeluk si penjaga penginapan yang nampak ketakutan melindungi dirinya. Kemudian dengan satu isyarat paduan suara pun berdiri: Hari ini kita adalah kegelapan Besok kita akan adil Dan kelihatan muda untuk kesekian kalinya Hal itu takkan menjatuhkanku
Untuk Aku...Aku...Aku...Aku.
Maggot melolong layaknya serigala dan kesunyían pun
tercipta untuk kesekian kalinya. 'Perhatian," katanya, "rokok."
Setiap orang mengambil rokoknya dan mulai merokok.
Gumpalan asap pun mengelilingi mereka.
Para pemberani, ada situasi yang menyedihkan, rantai
telah membatasi dunia. Di mana pun yang kau lihat adalah mangkuk bermuka masam, di mana-mana, dasi-dasi diikat secara hati-hati. Di mana pun kau memandang yang terlihat adalah jambang melengkung dan topi-topi Derby. Buku-buku, koran, singkatnya, segalanya adalah abu-abu/kelabu, berkabut. Orang-orang berbicara mengenai berita-berita hangat dan rahasia politik. Orang-orang berjuang menentang alkohol dan bertepuk tangan pada para anggota parlemen. Adalah penting untuk membunuh para tiran yang telah menghadirkan semua hal tersebut. Agar dapat tertawa pada dunia, pada kesenangan, kebebasan dari kecemasan, dari kebodohan, kita harus menyingkirkan bau busuk yang membawa penyakit ini. Para pemberani. Adalāh penting untuk membunuh Gravitasi' Sebuah seruan "bravo" bergema dengan lantangnya. Dalam waktu yang sama, pintu terbuka dan individual pun masuk setelah meninggalkan seekor kuda hitam pada kisi jendela. Ketika mendengar kata-kata terakhir itu, ia maju mendekat dan berkata: "Aku berdiri bersamamu dalam hal apa pun juga." "Siapakah dirimu?" tanya mereka. "Tak usah mencemaskan hal itu selagi Aku hadir di sini." Maggot berbunyi: "Engkau setidaknya mesti menyebutkan namamu." Si orang asing tampak ragu-ragu beberapa saat dan kemudian berbisik pelan ke telinga Maggot. Maggot menghormatinya dengan takjub dan menjabat tangannya. Lalu ia pun beralih ke orang lainnya: 'Dia bisa ikut. Aku tak bertanggung jawab. Ayo kita
lanjutkan.'
Mereka semua pun pergi. Badai telah berakhir dan langit
dipenuhi dengan bintang. Kelompok itu berbris menuju sunyi,
mengikuti langkah Maggot dan si orang asing. Ketika mereka sampai di penyeberangan, Maggot berbalik
dan berkata:
'Setiap orang akan mengembara mengikuti jalannya dan
memungut potongan-potongan gravitasi. Kita akan bertemu
kembali pada tengah malam di tanah pekuburan dan keadilan akan diselesaikan." Setiap orang pergi untuk menjalankan bagiannya masing- masing. Maggot dan si orang asing tetap sendirian. "jadi, apakah anda sungguh-sungguh Kristus?" "Apakah hal ini mengejutkanmu?" "Sedikit, Harus Aku akui." Kristus menghela nafas panjang dan berkata: "Apa yang kau inginkan? Aku menginginkan manusia yang baik dan Aku mendapati si munafik. Aku menginginkan manusia yang alamiah dan Aku mendapati yang rusak. Aku sebagai orang yang meyakini kebaikan dalam diriku sendiri dan hidup dalam harapan semacam itu, telah melihat lahirnya sang idiot. Lalu Aku pun mengatakan: Ayo rasakanlah kegilaan, semenjak setiap orang adalah gila dan kemudian manusia akan berpadu dengan lingkungannya. Aku telah bertemu denganmu dan Aku akan membantumu. Mereka membuat pekuburan menjadi sunyi. Ketika mereka tiba, mereka pun masuk dan menunggu, duduk di atas kuburan. Tengah malam pun menyambar perlahan, perlahan. Mendadak bayangan-bayangan bergerak di setiap sisi. Maggot bersiul dan setiap orang pun berkumpul mengelilingi dirinya. Mereka semua memiliki bawaan dan tak seorang pun di antara mereka yang mengetahui bagaimana mereka bisa membawa semua itu ke dalam sana. Mereka pun mulai membuat api. Dan dengan bahan bakar apa mereka membuatnya? Dengan buku-
buku filsafat, sejarah, ilmu pengetahuan dan seterusnya Berbagai instrumen astronomi, lukisan-lukisan patung
seragam-seragam militer serta jubah para pendeta, perabot.
perabot rumah tangga, museum, rumah sakit, sekolah,
universitas.
Singkatnya, segala hal yang menjadi warisan dan
membentuk zaman kita aat ini,sebab semua itu adalah hal yang serius. Tumpukan raksasa telah disiapkan dan seseorang telah bersiap mendekatinya dan memantikkan nyala api ketika si orang asing mendadak menghentikannya dan berkata: "Berhenti! Apa yang telah dilakukan kemanusiaan padamu hingga engkau memilih untuk membebaskannya? Tidak ada! Apa yang akan diberikan olehnya ketika engkau membebaskannya? Tidak ada! Mari biarkan ia membusuk dalam kesedihan. Mari pikirkan diri kita sendiri. Setiap dari kita memiliki sedikit gravitasi dalam dirinya. Biarkanlah itu keluar. Aku akan memberi kalian contoh." Dan sembari mengatakan ini, dia menarik keluar sebuah buku dan melemparkannya ke tanah. Beberapa dari mereka hanya memandang. itulah pewartaan injil (gospel). Setiap orang pun mulai mengeluarkan sesuatu, dan sebuah tumpukan kecil pun mulai meninggi di samping tumpukan raksasa yang satunya. Api pun dihidupkan. Ketika semuanya telah terbakar, Setiap dada dari mereka yang hadir tidak lagi merasakan tekanan. Mereka semua bergembira dan tertawa sepenuh hati. Dan sembari tertawa, mereka pun menghilang dalam kegelapan malam begitu pun dengan suara nyanyian mereka yang bergema di dalam kesunyian. Namun Kristus masih tetap berada di belakang. la berlari begitu tergesa- gesa layaknya orang gila membelah tubuhnya tawa. Kemudian ia membuka sebuah makam dan bersembunyi di dalamnya, sembari berkata: *Sepertinya Aku ingin mengerjai sang penggali kubur!"
Seperti inilah gravitasi di tempatkan pada kematian dalam pekubr kdan sb Keluar dr edalamn (D Profud..
Lc Chateau Rouge (Kastil Merah)
Mercka telah melihat wanita itu di satu pagi saat ia Meningalkanbungalodan brscmbunyidiantarasemak-semak bunga mawar dan bergegas menuju jalan ecil pegunungan yang lembap karena embun dan lembut karena lumut. Dan mereka mengikuti dia, digerakkan oleh kekuatan mantra dan kecantikannya. Mereka berjalan beriringan, bernyanyi lembut, di tengah pancaran sinar matahari yang membuat rambutnya tampak bersinar dan mengelilinginya layaknya lingkaran cahaya. Dilihat seperti ini, bercahaya, dengan seluruh emas mengelilingi kepalanya, ia tampak seperti penglihatan dari sebuah mimpi, namun mustahil dalam kenyataan. Setelah berjalan jauh, wanita itu mendapati dirinya sekali lagi berada tepat di depan bungalo. Dalam perenungannya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa keberadaan mereka sudah teramat dekat. Jadi wanita tersebut memandang sekilas ke arah mereka, melihat para pría tersebut tampak begitu unik dalam kepribadian dan pakaian mereka, dia berhenti sejenak terkaget. Lalu dia mendadak tertawa dan menghilang di antara bunga mawar.
Mereka semua tak bisa berkata-kata, dengan visi akhir
berupaemasdanwarnaputih,dandisertaisuaratawayangterus berdering di telinga mereka. ***
Bunga maar L Ct Roug berada di tempat terbuka
yang benar-benar sepi di pegunungan. Tempat itu sudah menjadi reruntuhan kuno, indah seperti dalam lukisan dan melankolis. Dia tampak indah dalam keruntuhannya, ditutupi oleh tumbuhan menjalar dan lumut dengan semak belukar yang tebal sebagai latar belakangnya, begitu tebal hingga meluas sejauh mata memandang. Para pendaki gunung dari sekitar daerah pedalaman menghindari tempat-tempat tersebut dan biasanya karena ketakutan terhadap hantu-hantu, sehingga kesunyian dan keheningan menguasai tempat tersebut. Saat itu adalah malam hari. Bulan menerangi kastil dengan permainan bayangan yang indah. Salah satunya memperlihatkan ruang yang gelap, peperangan yang mengancam, pintu gerbang besi yang sangat besar; dan telinga menunggu suara mandolin atau peringatan bagi para pengawal. Tiba-tiba, raut muka yang aneh tersapu pasir dalam keadaan setengah gelap. Suara peluit pun terdengar, derap langkah kaki, dan kemudian hening.
Kita berada di dalam jalur bawah tanah kastil; sebuah pertemuan yang melibatkan sekumpulan orang sedang diadakan di sana. Salah satu dari mereka berbicara demikian: "Kamerad, Aku perhatikan sepertinya anda merasa terganggu. Aku melihat ketakjuban di matamu. Wanita ini adalah simbol bagi kami, dia harus menjadi milik kami, dan itu akan terjadi. Namun, kamerad, apakah kau yakin bahwa takkan ada keegoisan individual yang mulai terbangun, dan bahwa tak
ada satu pun di antara kalian yang menghendaki ia menjadi
milikmu sendiri? Sebab dunia kecil kita ini akan dipaksa untuk menghilang demi perempuan. Pikirkan hal itu, kamerad." Semuanya hening. Rasa ngeri melanda para pria. Suara isakan tangis terdengar. Suara isak tangis itu berasal dari anggota yang paling muda di antara mereka. Tidak seorang pun
yang merasa terkejut dengan hal tersebut, Mereka semua
merasakan sedikit kesedihan didalam diri mereka sendiri. Sosok yang menangis itu pun melangkah maju: 'Dengarkan aku, Maggot; Dengarkan aku, kamerad. Aku adalah makhluk yang kotor. Aku telah membiarkan diriku terpesona oleh sosok perempuan ini dan Aku merasa bahwa Aku akan melakukan hal apa pun demi dirinya. Aku bahkan rela untuk mengkhianati kalian. Kamerad, hukumlah aku." Ia pun berdiri di sana sembarí menunggu. Emosi yang mendalam melanda mereka semua. Tak seorang pun yang berani untuk mencela. Kata-kata dan kesedihan mendalam itu hadir dalam benak mereka semua. Maggot pun berdiri dan mengatakan: "Engkau harus membiarkan aku melakukan hal ini. Pertimbangkan hal ini, bagaimana pun, Aku akan menguncimu di jalan kecil ini sampai Aku kembali." Mereka semua menggenggam tangan penuh keprihatinan dan ia pun berangkat. Mereka terduduk melamun dalam kesedihan diiringi kilauan obor yang perlahan-lahan menghilang. ** * Dua minggu telah berlalu, dan di dalam jalur kecil bawah tanah, ketegangan tengah menggerogoti setiap orang. Mereka bolak-balik melangkah dengan gugup, sambil tetap memasang pendengaran.Ketakutan,kecemasan dan ketegangan memunculkan keributan di dalam pikiran setiap orang. Namun sekitar pukul 8 malam, mereka mendengar kunci berdecit. Setiap orang melompat. Maggot pun masuk. Dengan bantuan cahaya dari obor, setiap orang menyadari perubahan dalam dirinya. Dia tampak jauh lebih bungkuk dari sebelumnya, disertai lingkaran hitam di bawah matanya dan kesedihan serta lengkungan ironi pada bibirnya Setiap orang menggenggam tangannya dalam
keheningan. 'Kamerad, semua sudah selesaí. Aku berupaya mengenalí dirinya dan mengikuti wanita itu hingga ke dalam kota yang tengah berkecamuk karena telah kita buat bergetar. Dan Aku telah mencari tahu siapa wanita itu sesungguhnya... Dia adalah seorang pelacur. Seorang pelacur tersohor, yang memiliki hak istimewa dikalangan para borjuis. Ya, kamerad, kecantikan itu menjadi alat tukar bagi uang kertas. Ketika Aku mengetahui tentang hal ini, Aku begitu terkejut. Seperti halnya kita semua Aku tak berprasangka apa pun, namun simbol kecantikan yang selama ini kita kejar itu memiliki sesuatu yang murni, sesuatu yang superior... *Sekali lagi, realitas adalah pemenang. Aku melihat wanita itu di sebuah jalan besar sedang bergandengan tangan dengan seorang pemodal angkuh yang bodoh, tersenyum dengan ketololan berlapis gula yang seolah menggulung pada lidahnya. Aku melihatnya setengah telanjang pada kehebatan dan kegaduhan, membangkitkan birahi di acara pesta makan. 'Dan Aku dipenuhi dengan rasa jijik saat Aku mengetahui bahwa kekasih dari wanita ini merupakan kengerian yang berubah bentuk karena sosok wanita yang gila itu! 'Bayangkanlah, kamerad, perubahan bentuk alamiah kecabulan pada payudara suci dari wanita itu... Begitu tajam, suara keras kepala yang menempa kata-kata dengan kebencian dan kedengkian. Mereka yang mēndengarkan itu pun gemetara. Dia lalu melanjutkan: 'Aku melihat semua ini, dan pada momen itu Aku ingin menjadi tuhan agar dapat menyerang masyarakat menjijikkan yang telah menodai ilusi kita dengan cara seperti ini. Aku bukanlah tuhan, namun Aku bisa bertindak dengan cara yang sama. Tiba-tiba wanita itu pun menghilang. Kekasihnya ditemukan terbunuh di tempat tidurnya. 'Seisi kota menjadi gempar, lalu pada peristiwa yang menggemparkan itu segalanya dilupakan.
cukup kecil melewati wilayah yang sedang dikembangkan. a
adalah tawananku." Suara itu terdengar begitu gembira, dengan nada kemenangan; yang lainnya hanya mendengarkan dengan nafas tersiksa. 'Wanita itu adalah tawananku. Aku melihatnya dengan seluruh kecantikannya, telanjang, dengan rambut pirangnya yang panjang menjuntai pada bahunya. Suatu malam ketika ia sedang tertidur dan Aku terus mengawasinya, Aku melepaskan seluruh pakaiannya dan menciumi seluruh bagian tubuhnya dalam pemujaan yang begitu liar "Wanita itu pun terbangun dengan menyiratkan kemenangan pada matanya. "Namun, itu masih tentang ciuman-ciuman tentara sewaan yang sebelumnya telah mendarat pada tubuhnya sebelum aku, sang puisi pun berontak, ia berontak dan Aku membunuhnya." Suara itu meneriakkan kalimat terakhir ini dengan begitu tragis. Para pendengar yang tak bergerak itu melihat segalanya seolah sedang bermimpi dan menghela nafas. Suara kubur itu melanjutkan: Aku membunuhnya dengan racun yang bereaksi cepat. Aku melihat wanita itu menggeliat dan mati... Itulah yang kemudian Aku menangkan. Dan kini wanita itu adalah milik kita. Kalian akan melihatnya." la pun pergi dan bersiul. Dua orang pría masuk dengan membawa kotak di bahu mereka. Mereka membaringkan wanita itu di bawah. Tanpą melepaskan selubung yang menutupi tubuhnya, Maggot melanjutkan: Kamerad, Aku berikan kepada kalian hadiah yang terbaik Kecantikan sejati tak lain adalah yang feminim. Aku telah memurnikan si pelacur dengan puncak pemikiranku.' Mendadak, ia menyobek kain yang menutupi tubuhnya.
Daribalik kaca, tbuhtelanjang wanita itu masihtampakhidup.
Setiap orang berlutut dan menatap ke arahnya, berbisik tak jelas, mata mereka dipenuhi dengan cahaya baru. Maggot melafalkan kata-kata terakhir dengan penuh kemenangan, kegembiraan, disertai irama melodius dari suaranya: "Kamerad, inilah wanita itu, abadi, murni, milik kita. Mata kita akan dapat disandarkan padanya tanpa sedikit pun kejijikan sebab ia kini menjadi bagian dari mimpi dan hidup di dalamnya. Dia hadir di antara Pasukan Tentara Ilusi!"
Musim silih berganti tanpa henti di pegunungan itu, sementara angin kencang dan badai menderu di sekitar La Chateau Rouge. Bungalo yang dipenuhi bunga mawar dihuni oleh para borjuis yang hidupnya tenang, dan sang wanita muda nan cantik, demikian para pendaki gunung menyebutnya, kini terlupakan. Dari waktu ke waktu, tak peduli musim apa pun itu, individu-individu asing memanjati karang terjal menuju ke kastil. Kita dapat menyebut mereka sebagai Tikus-tikus Mondok dan para Pemberani yang datang untuk melupakan mangkuk- mangkuk bertepung dan vulgar yang mereka lihat di dalam kota, untuk menghargai kecantikan yang sejati, kecantikan tak bertubuh, kecantikan yang hidup di dalam mimpi.
Sebuah Pembelaan terhadap
Mata Hari
'Kemarin, di halaman yang dikelilingi tembok di Caponiere, di
dalam hutan Vincennes, seorang yang dahulunya adalah penari, yakni Mata Hari telah dieksekusi mati." Singkatnya, kata-kata jahat dari telegram telah memenuhi hatiku dengan kesedihan. Oh, Mata Hari. Oh, Mata Hari, engkau tentu saja tak pernah membayangkan akhir menyedihkan semacam itu. Tentunya, disamping skeptisisme dalam dirimu, engkau masih sulit untuk mempercayai bahwa sosok pria yang begitu tergila-gila padamu dapat berbuat sekeji itu. Tak seorang pun yang mencoba untuk membela dirimu, tak seorang pun yang ingin mengambil resiko terhadapmu. Para pria terhormat yang jatuh di kakimu layaknya buah busuk, mereka yang telah membuka semua dokumen paling rahasia di depan matamu, yang tanpa keraguan menghancurkan keluarga dan tanah air agar dapat memiliki dirimu, para pria terhormat itu begitu takut untuk melakukan hal apa pun bāgi dirimu. Dan seperti itulah mereka membiarkan regu tentara umum membunuhmu layaknya anjing gila di halaman yang dikelilingi tembok lembab, dengan mengosongkon timah merah menyala masuk ke dalam tubuhmu yang suci. Dan mungkin beberapa dari Catos bernada tinggi akan,menunjukkan kegembiraannya secara umum di hadapan kerasnya para hakim. Phew! Mata-mata! Pengecut! Mereka yang tidak memiliki keraguan untuk
membuat ribuan pekerja mati dalam kelaparan, semata-mata
demi keuntungan/profit; mereka yang sanggup mengambil
resiko mengorbankan kemakmuran atas seluruh populasi
mereka sendiri dengan emas; mereka yang dengan seketi
mampu mengkhianati apa yang selama ini mereka sebt tanah air demi kepentingan mereka sendiri; mereka berpura-pura merasakan kengerian ketika permulaan investigasi membuka apa yang selama ini mereka ketahui sejak lama. Phew Mata-mata! Agar dapat menguasai dirimu, mereka membuka rahasía negara yang paling ringan; agar dapat menguasai dirimu, mereka menyajikan perencanaan, sebuah perencanaan mengenai benteng yang paling kuat bagi kalian; agar bisa menguasai dirimu, mereka memberimu hidup dari ribuan manusia layaknya sebuah hadiah. Kini kareņa engkau telah mati, mereka pun akan menginjak-injak dirimu dengan rasa jijik, menghina dirimu dan mencuci tangan-tangan mereka dari darahmu. Mata Hari telah dieksekusi! Mata yang sungguh malang! Siapa yang dapat mengira bahwa engkau akan menemui akhir yang biadab seperti itu? Disaat sebuah mobil mewah membawamu menuju jalanan besar kota Paris, yang nampak mempesona dengan gaun mahalmu, siapa yang pernah berpikir bahwa sebuah sel tahanan kelas rendahan suatu saat nanti akan menjadi rumahmu. Ketika engkau telanjang, berdenyut, dengan tubuh rampingmu, tubuh seorang penyihir, yang membangkitkan bisikan dan birahi dari ribuan sosok pria terhormat dengan mantel berbuntut serupa burung walet dan monocles (Kacamata berlensa satu) dalam salon-salon aristokrat tingkat tinggi, siapa yang pernah berpikir bahwa engkau akan jatuh ke dalam lupur kotor di halaman benteng, tubuhmu dilubangi dengan peluru- peluru kesedihan, tak ada lagi pilihan? Mata yang malang!
Aku tidak mengasihani para tentara yang mati karena
dirimu.
Massa kejam yang membiarkan diri mereka dişeret menuju
kerumahenjagalantanpaseikitpunimpuluntukmelakukan
dengan cara seperti itu tanpa alasan apa pun, untuk meninggalkan segala yang paling berharga dalam hidup mereka semata-mata demi menaati perintah dari surat selebaran yang ditempelkan di dinding, itulah kekejian: itulah yang pantas mati, pantas untuk berhadapan dengan mata pisau sang algojo. Tetapi engkau, Mata yang malang, engkau sangat cantikl Dan supremasi kecantikan adalah sesuatu yang melampaui baik dan jahat. Sekarat karena wanita yang mengagumkan adalah selalu jadi kematian yang terbaik. Beristirahatlah dalam damai, Mata yang malang! Seseorang yang tak pernah mengenalmu telah bersumpah untuk menuntut balas atas kematianmu. Dan memori dari matamu yang basah oleh darah akan menggerakkan belatinya; visi tentang tubuhmu yang termutilasi akan membuat bom yang dibuat olehnya menjadi jauh lebih efektif.
Ikonoklastik
ditegaskan oleh para kanibal sebagai karakteristik dari para
kriminal.
Maka dengarlah. Pada suatu malam Aku tengah bertugas.
Sedang duduk di sebuah kursi tanpa sandaran, pikiranku kosong menatap dinding-dinding barak, yang disinari dengan
cara yang unik oleh lampu yang remang. Aku memikirkan dirimu. Aku menatap dalam pada air penuh memori berwarna biru kehijauan dan segera menarik nafas panjang dalam lamunan. Aku mengambil fotomu dari dalam dompetku dan mulai menatapnya seraya bercerita padamu tentang berbagai hal manis melalui pikiran dan mataku. Aku memanggil namamu saat itu, dan tentunya, jika engkau datang, kejahatan itu takkan pernah terjadi. Namun engkau tidak datang. Aku menarik diri dari kontemplasi ini, mendengarkan plebeian (golongan rakyat jelata dalam masyarakat Romawi kuno) mendengkur dari dalam barak, irama langkah kaki dari patroli di jalanan, dan segala hal ini seperti percikan air yang dingin. Aku menyalakan rokok dan tiba-tiba saja, entah kenapa, Aku merasakan kebencian yang begitu intens, sebuah kebencian kasar, terhadap diriu. Rentetan keburukan, pemikiran permusuhan yang mengikuti ledakan yang semula. Sembari merokok dengan gugugp, Aku menghancurkan tanpa ampun seluruh bangunan
kesenangan dari mimpi-mimpi kita Ugh! pondok berwana
diketahui bahwa suster telah keliru. Apa yang mereka katakan
tentang kecemburuan adalah sesuai, namun ketika ia nyaris
menghempaskan dirinya pada kakiku, menangis, memohon
padaku untuk mempercayai dirinya.. Dan hingga pada akhimnya
ia menyebutkan nama.. Meskipun begitu, Aku dengan bodohnya mengusirnya pergi, sambil berkata "Jangan bermain ala Lydia Borelli denganku!' [Lydian Borelli(22 maret 1884 – 2 Juni 1959) Seorang aktris sinema dan teater asal Italia] Dan kemudian mode pakaian! Selalu saja bercerita padaku tentang itu, bercerita padaku soal topi-topi, kerah pita, pita-pt.. Betapa membosankannya. Semua ini jelas merupakan tanda sikap yang berubah-ubah. Apakah ia sungguh mencintaiku hingga akhir? Dapatkah seseorang mengatakan dengan pasti bahwa wanita pernah mencintai? Mungkin itu lebih berasal dari ambisi, agar ia dapat bercerita kepada kawan-ka wannya: "Kamu tahu Tuan ini dan itu, yang terkenal ataukah hal lainnya." — "ya, dan...?" — "Begini, dia menyukaiku!" Sebuah fenomena yang umum terjadi dikalangan wanita. Apakah Aku belum sering melihat hal semacam ini? Lalu kasih sayang yang begitu intens itu, pemujaan yang ia lingkarkan kepadaku, mungkin semua itu hanyalah pura-pura. Membayangkan ia bertanya padaku jika Aku ingin dia mati! Betapa menggelikan! Apakah ia menilai aku dengan sedemikian kerdilnya hingga Aku rela jatuh di hadapannya demi frase-frase melodramatiknya? Puntung rokok ini telah membakar jariku. Aku melemparnya dengan marah dan mulai berjalan. Ya, ya. Tanpa keraguan, adalah lebih baik untuk mengakhirinya, untuk hidup sendirian tanpa sosok wanita yang menjadi penghalang... Bebas, Bebas, Aku bosan dengan pikiran yang diperbudak Aku menyalakan korek dan membakar potret wajahnya.
pengurus penginapan, minuman apa yang akan kau berikan padaku?"
Pahlawan ataukah Pembunuh?
Komandan dari kapal selam yang menembakkan torpedo ke 'Lusitania'
berbicara: Baiklah, sekarang Aku telah terkenal, tetapi kesan itu juga buruk. Ketika Aku berjalan melewati jalan -jalan di wilayah kota Jerman mana pun, ribuan wanita gemuk dengan wajah merajuk seperti anjing bulldog menatap padaku dengan penuh cinta, sementara, sebaliknya, jika Aku memberanikan diri untuk melakukan ini di wilayah ibu kota Eropa lain hampir bisa dipastikan akan ada pot gantung yang turun menimpa kepalaku! Dan itulah yang paling baik! Dan Aku masih belum bisa mengerti dengan kebencian yang mereka limpahkan kepadaku. Sebaliknya, dalam opiniku, jutaan orang seharusnya berterima kasih kepadaku. Mengapa?.. Aku melihat sebuah kapal kecil yang kondisinya menyedihkan melaju dengan dipenuhi oleh banyak orang. Áku melakukan sebuah pengorbanan heroik dan meluncurkan sebuah torpedo yang bernilai beberapa ribu dollar tepat di haluan kapal. (Sialan, betapa hatiku serasa menangis saat meluncurkannya dengan cara seperti itu! Aku bisa mabuk dengan bir yang enak! Cukup, apa yang terjadi biarlah terjadi.) Oleh karena pengorbanan ini, setiap orang menumpahkan penghinaan mereka kepadaku! Aku tidak memahami itu sedikit pun! Dalam pikiranku, Aku telah membantu pemberitaan koran di seluruh dunia, membuat mereka dapat menjual prosa yang paling bisa eneteska air mata. Berkatku, mereka dapat mencetak jutaan lampiran, dan oleh karena hal ini mereka pula tentunya menghina diriku. Ribuan orator telah membuat pidato-pidato mereka bercahaya dengan panasnya pembacaan tentang diriku yang sepertinya cukup berhasil. Namun mereka
bakan tak memiliki kesoanan untuk mengirimkan kar ps
kepadaku.
Dan soal pelayaran masyarakat? Aku telah mencantumkan
kompetitor yang berbahaya; Aku hendak mengisinya dengan
pembagian keuntungan yang kecil, tetapi tidakl Apakah kalian
tidak memperhatikan? Hal yang sam terjadi di sini. Di sini kita dapat melihat bagaimana perniagaan benar-benar memacu jantung. Lusitania ini, Lusitania itu! Semua orang yang tak pernah tahu apa yang harus dikatakan membicarakan hal tersebut selama enam bulan, mereka masih membicarakan itu dan akan terus berbicara soal itu untuk waktu yang lebih lagi! Dan mereka masih saja menjadi orang yang tak tahu berterima kasih, tidak tahu berterima kasih.. Dan orang-orang yang berhasil selamat? Mereka tak memiliki emosi, Aku mendapatkan satu untuk mereka dan Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Mereka membaca, mereka mulai merasakan, mereka bermimpi buruk dan kegirangan di dalamnya. Aku menghidangkan itu bagi mereka, secara langsung, berdenyut. Adakah tepuk tangan di sana? Tentu saja tidak! Mereka mengharapkan kesialan menimpaku, Sialnya mereka justru naik menuju surga. Saya menerima warisan, pembayaran-pembayaran asuransi jiwa, Saya juga melakukan hal ini. Akan tetapi posisiku sama sekali tidak berubah. Sebagai contoh, ada pengunjung yang datang bertanya. Dan bagaimana kondisi ibunya? Oh sungguh wanita yang malang, dia adalah salah satu dari penumpang Lusitania, dia telah mati, oh tuhan! Tidaķ adakah kepuasan apa pun dí sana ketika mendapati orang tua, kawan, mati akibat serangan torpedo? Engkau dapat bercerita pada siapa pun, itu nyaris seperti mengetahui anggota parlemen, namun tidak seorang pun yang berterima kasih padaku soal ini. Ahh! sungguh benar bahwa dunia memang bodoh dan mementingkan diri sendiri.
Seseorang setidaknya dapat berkata padaku bahwa
mereka menikmati tontonan serangan torpedo. Ya, dan sungguh
pertunjukan yang indah! Kapal itu tenggelam dengan cara yang
aneh, memercik seperti anjing laut. Lautan dipenuhi dengan
kapal layaknya para penumpang yang basah dan berteriak
sepeti orang gila, dan orang-orang yang tenggelam membuat
wajah yang tolol seperti seseorang yang habis meminum minyak
jarak. Aku yakinkan padamu bahwa Aku sama sekali tidak tertawa geli karena apā pun. Di atas semuanya, Aku seorang filsuf dan menyerahkan diriku; kepada mereka yang tidak ingin mangakui jasaku, Aku hanya menanggapi seperti ini: kapal-kapal dibuat untuk tetap mengapung dan torpedo dibuat untuk menenggelamkan mereka. Berhentilah membuat kapal dan tidak akan ada lagi torpedo. Itu logis! Dan, setelah semuanya, pada titik tertentu ataupun lainnya Lusitania akan menemui ajalnya. Aku hanya mempercepatnya. Segalanya dipertimbangkan, semenjak orang-orang Jerman jatuh cinta padaku, Aku puas dengan hal ini: masa depan dihidupkan kembali dari nama baikku sebagai pria terhormat, sebagaimana yang biasanya dikatakan. Tetapi hanya jika ini juga bukan kebohongan.. Bah, Aku lahir di bawah naungan bintang yang buruk! Dan, sesungguhnya, nama ibuku adalah Stella ["Stella" merupakan kata Italia untuk bintang — penerjemah] dan Aku yakinkan padamu bahwa dia memukul pantatku tanpa rasa kasihan! Sungguh nasib yang sial, eh? Sang Kaisar seringkali menghormatiku dengan pujian. Dia berkata bahwa Aku adalah seorang pahlawan, dll. Aku sabar menghadapi semua ini dengan kesenangan yang bisa ditemukan ketika memakan lemon. Jauh lebih baik, jangan merusaknya! Namun sesungguhnya Aku telah salah dimengerti. Mereka menghinaku sebagai seorang pembunuh, dan mereka menghormați diriku sebagai seorang pahlawan. Tetapi tak satu pun yang benar. Mereka tidak memiliki pandangan yang sempurna tentang apa yang telah kulakukan,
Betapa bodohnya dunia ini! Hal paling utama adalah bahwa pihak Inggris tidak membawaku. Jiwa-jiwa yang terkutuk ini begitu arah bukan karena orang-orang yang mati, namun karena kapal uap yang telah Aku tenggelamkan, dan jika mereka menangkapku, mereka akan menggantungku. Mereka sangat iri terhadap kepentingan mereka sehingga Aku sangat yakin bahwa mereka akan menyematkan dasi jerami yang bagus bahkan tanpa membiarkanku memberi penghormatan kepada 'sang pencipta, jikalau mereka memiliki kesempatan. Namun Aku percaya pada kebaikan. Keturunanku akaņ menegakkan keadilan dalam cara apa pun. Memang benar bahwa Aku akan mati, tapi ini selalu menjadi kehormatan... Saatnya untuk pergi? Selamat tinggal. Ya, ya, terima kasih dan demikian pula denganmu! 8O
Federasi Duka Cita Aku mengumpulkan seluruh penderitaan yang ada di dunía. Siapa pun yang memiliki cacing yang menggerogoti di dalam dirinya, siapa pun yang berpakaian dalam perkabungan untuk cita -cita tertinggi, siapa pun yang tertawa penuh ejekan pada reruntuhan pemikiran, dibolehkan untuk datang. Aku ingin duka cita ini menjadi banjir, menjadi badai; Aku ingin mendengarkan jerit penderitaan, rintihan keputusasaan. Karena ada gelak tawa di dalam dunia, dan Aku tak dapat mendengarkan tawa. Saudara-saudaraku dalam belenggu, para kamerad di dalam penderitaan, pertempuran ada di depan mata. Segera kita akan melancarkan serangan kita, mabuk dengan balas dendam; musuh-musuh akan. melarikan diri, sebab Federasi Duka Cita adalah hal mengerikan.
Sejak Aku dilahirkan, Aku telah memikul beban berat. Dan
punggungku membungkuk dan mataku menjadi cekung.
Cacing-cacing menggerogoti dan terus menggerogoti; itu telah menghancurkan diriku. Cukup, demi tuhan! Aku lelah.
Aku menyingkirkan beban dan berhenti; Aku telah merasa
cukup dengan semua ini di dalam hidupku. Aku tidak mampu
menjalani hidup, namun Aku tahu bagaimana cara membalaskan
dendamku. Aku akan berteriak dengan suara parau di atas trotoar, dengan penghujatan terakhir dari bibirku dan sorotan kebencian terakhir di mataku.
meracuni iiku Aku ernah begitu uat!
Satu cinta, satu harapan, satu tindakan, dan kemudian
datanglah kejjikan, kekosongan, keputusasaan.
Suatu harimereka membawaku menuju perang. Kemudian Aku bermimpi diriku kembali menjadi anak-anak. Berondongan pertama dari senapan mesin dengan kejamnya membuat urat sarafku berderit; Aku membuka mataku dan Aku melihat darah, dan tidak ada hal lain lagi. Aku ingat dengan nyala api yang sangat besar, guntur yang terus bergemuruh..kematian, kematian... dan bau busuk, bau busuk
dari mayat-mayat....
Aku tak pernah memahami bagaimana hawa menjijikkan dari bau busuk ini masih tertinggal di dalam tenggorokanku. Pemandangannya seperti Aku tengah berada di dalam tanah pekuburan yang sangat luas... kayu salib, peti jenazah, bau busuk. Masyarakat berbau busuk seperti bangkai manusia. ** *
Telingaku begitu sakit. Meriam telah menyebabkan hal ini. Hewan buas yang bergemuruh membuat goresan pada otakku. Aku selalu mendengar tangis dari kejauhan, seperti
raksasa putus asa yang tengah terisak Namun siapakah
gerangan yang menangis di dalam dunia? *** Perang telah membangunkan kembali makhluk buas dalam diriku. Rahangku berkontraksi dengan tegang, mataku terbuka lebar, dan tanganku hendak mencengkram, ingin menggenggam... Ketika Aku menatap seseorang, Aku terkejut dengan hasrat aneh yang ingin merobeknya hingga menjadi potongan terpisah. Mengapa Aku memiliki dorongan untuk membunuh dan merobek seseorang menjadi potongan terpisah? Tiada lagi orang Jerman yang dapat dibunuh; jadi siapakah yang mesti kubunuh?
Mungkin Aku telah gila. Namun Kegilaanku adalah rasionalitas yang paling mengerikan. Aku melihat lebih lanjut, Aku merasakan hidup jadi lebih jelas. Aku tak tahu mengapa, tetapi pastinya Aku sedang sangat menderita, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Sebelum ini? Untuk memikirkan hal itu sebelum ini, Aku masih anak-anak!
RIR Tetapi meņgapa hal ini? Apa yang telah Aku lakukan? Aku melihat bunga-bunga aster tumbuh begitu damai; burung-burung walet datang dan pergi terbang melintasi langit. Aku juga adalah bunga aster atau burung layang-layang. Sang embun dan sang biru yang membuka turut menyenangkan diriku. Dan bukannya... dibelenggu, diceburkan di dalam lumpur, kelaparan. Tanpa kasih sayang, tanpa kebebasan.
Dan seperti itulah keadaannya, semenjak engkau menghendaki cara seperti ini Engkau telah mengubahku menjadi serigala, dan serigala itu membuatk bertahan. Namun hingga kini, Aku hanya mencakar dadaku; Esok Aku menginginkan darah yang lain. Maka janganlah memohon ampun. Engkau telah menuliskan di dalam otakku:pembunuhan Dan pembuņuhan pula wujudnya. Mungkin kemanusiaan adalah kekotoran. Ia perlu membersihkan dirinya sendiri, dan mandi dengan darah. Mungkin setelah pembersihan dan penghancuran.. Mungkin kemudian kita akan menjadi seperti sang bunga aster dan sang burung walet.. Betapa indahnya hal itu.
Jiwa-jiwa yang berduka bagi dunia, karena itulah Aku memanggilmu untuk berkumpul bersama. Sang bendera telah melambai. Warnanya hitam; bendera itu berdiri untuk berkabung. Maka majulah, Promcthei yang liar. [Bentuk jamak dari Promotheus, sosok dewa Yunani yang menantang penguasa Olympians untuk membawa api kepada umat manusia. — catatan penerjemah] Jeritan pembalasan adalah musik yang manis dan berharga. Saat ini yang diperlukan adalah membunuh, untuk menghancurkan.. Esok kita akan menjadi bunga aster.. Bergerak Maju, Federasi Duka Cita! dari Iconoclasta!
Il Me Faut Vivre Ma Vie*
[* “Adalah penting bagiku untuk menghidupi hidup*— jules Bonnot, seorang perampok bank anarkis] Aku tidak percaya dengan hak. Hidup, yang secara keseluruhan adalah manifestasi dari kekuatan-kekuatan yang tidak koheren, tidak terketahui dan tidak dapat diketahui menolak kepalsuaņ manusia tentang hak. Hak lair ketika hidup dirampas dāri diri kita. Sesungguhnya, mula-mula, kemanusiaan tak memiliki hak. Ia hidup dan itulah segalanya. Kini, sebagai gantinya, terdapat ribuan hak; seseorang dapat secara tepat mengatakan bahwa segala yang hilang dari hidup kita dapat kita sebut sebagai hak. Aku tahu bahwa Aku hidup dan bahwa Aku berhasrat untuk hidup. Hal yang paling sulit adalah untuk menempatkan hasrat ini ke dalam tindakan. Aku dikelilingi oleh kemanusiaan yang menginginkan apa yang diinginkan oleh orang lain. Afirmasi yang terisolasi dalam diriku adalah kejahatan yang sangat serius. Huķum-hukum dan moral, berkompetisi, mengintimidasi dan membujuk diriku. Sang "rabbi berambut pirang" [yakni Kristus atau nilai- nilai Kristiani — catatan penerjemah] telah berjaya. Satu doa, satu permohonan, satu kutukan, namun satu tak memiliki keberanian. Pengecut, dipeluk oleh kristianitas, menciptakan moralitas, dan ini membenarkan kerendahan hati
dan memperanakkan penolakan.
kejujuran dan ketulusan. Engkau menawarkan dirimu kepada
siapa saja yang membayar, tak pemah memberi atau pun
menerima ilusi. 'Masyarakat, pada sisi yang lain, rendah hati dan bersih dalam tampilannya, namun terinfeksi parah dengan ganggren di sekujur tubuhnya, membuatku muntah, memenuhi diriku dengan kengerian dan kebencian, itu membunuhku."
Aku iri dengan orang-orang yang liar. Dan Akù akan menangisi mereka dengan isak yang keras: "Selamatkan dirimu, peradaban telah datang. Tentu saja: peradaban terkasih yang kita banggakan. Kita telah meninggalkan kebebasan dan kehidupan bahagia atas hutan demi moral yang menghebohkan dan perbudakan material ini. Dan kita adalah para maniak, neurasthenic (gangguan neurosis), membunuh diri sendiri. Mengapa Aku mesti peduli bahwa peradaban telah memberi sayap pada kemanusiaan agar dapat terbang untuk menjatuhkan bom ke berbagai kota, Mengapa Aku mesti peduli jika Aku mengetahui setiap bintang di angkasa atau pun setiap sungai yang ada di bumi?
Pada masa lalu, adalah benar, bahwa tak ada undang
udang hukum, dan tamaknya eadilan ditegakkan dengan
cepat.
Sungguh masa-masa yang iadab, Kini, sebaliknya, orang
orang terbunuh di kursi listrik kecuali jika kedermawanan Beccaria [seorang aristokrat abad ke-18 yang karyanya berjudul On Crimes and Punishment (1764)' telah menginspirasi terjadinya reformasi di dalam sistem peradilan Italia. — penerjemah] hanya menyiksa mereka di dalam penjara selama sisa hidup mereka. Tetapi Aku meninggalkanmu pada pengetahuan dan undang-undang peradilanmu; Aku meninggalkanmu pada kapal selam dan bom-bom kepunyaanmu. Engkau masih menertawakan kebebasanku yang indah, ketidaktahuan diriku, kekuatanku. Kemarin langit begitu indah dalam pandangan; mata dari sosok yang tak mengetahui ini memandang padanya. Kini, kolong langit penuh bintang adalah selubung kelam yang kami upayakan secara sia-sia untuk dilewati; kini itu bukan lagi jadi hal yang tak diketahui, ia kini tidak lagi dipercaya. Seluruh filsuf ini, seluruh ilmuwan ini, apa yang mereka lakukan? Kejahatan lebih jauh seperti apa yang mereka rencanakan terhadap kemanusiaan? Aku sama sekali tidak peduli dengan kemajuān mereka; Aku hanya ingin hidup dan menikmati. "Monyet di hutan Kalimantan, Darwin telah memfitnah dirimu!" *** Sementara itu, seluruh bagian diriku menjerit: "Aku ingin hidup!" Aku menyobek duri atas penolakan kristen dari keningku dan meminum parfum bunga mawar. Aku sehat sekarang. Äku gebira menjalani hidup. Suara sirine berbunyi dan kerumunan yang berbahagia pergi menuju rumah penjagalan. Dan demikian pula dirimu, oh pemberontak, engkau memanjati Calvary (bukit Golgota), engkau juga telah membusuk!
Beta Aku iri dengan sang Bonnot yang hebat!
"Il me faut vivre ma vie!"
berubah menjadi persembunyian manusia.
Ak berharap ba A daat mengbah dirk menjadi
perut dar tatanan masyarakat ini dalam sebuah pesta por
penghancuran.
Hari Libur
Aku adalah makhluk buas yang aneh. Aku hídup d tengah-
tengah kutu dan diberi makan ikan kod yang kering. Aku
mendekam penjara kotor dan menyesakkan yang disebut sebagai 'barak' dan Aku belajar untuk membunuh. Sepanjang tahun yang dipenuhi keburukan dan pembunuhan kejam, Aku telah kehilangan nuraniku sebagai manusia. Sehingga Aku pun pergi dengan kesedihan menuju kota dengan pakaian zaitun yang sobek dan sepatu besar berduriku.
Siapa yang memanggilku "tentara yang mulia" sungguh kemenangan besar, demi tuhan! Sebab Aku hidup selama empat tahun di antara mayat-mayat dan darah, sebab Aku telah menyerang begitu terburu-buru ribuan kali dan mabuk dengan kebencian yang sesungguhnya bukan lah kebencianku, engkau menyebutku "mulia". Ambillah kemuliaan yang keji ini dariku! Aku takkan bisa melupakan kematian dari tatapan yang sangat besar itu; luka-luka menganga begitu lebar, genangan darah yang telah menodai tangan dan pikiranku.
Masih dapatkah Aku mencintai? Masih bisakah Aku memeluk anak kecil dalam dekapanku? Tidakkah kau lihat bahwa Aku memiliki paņdangan pembunuhan yang tiada habisnya di mataku? Apakah seseorang yang hidup selama empat tahun di antara tubuh tak bernyawa masih bisa mencintai?
bersama kekosongan di dalam otak dan saraf yang lemah. ***
Perang telah berakhir. Tetapi Aku masih menjaditahanan; Aku masih mondar-mandir di jalanan yang diterpa sinar mentari dengan tas punggung yang berat dan senjataku yang terkutuk Perintah dan terompet panggilan masih bergema dan layaknya hewan buas Aku menaatinya. Ibu? Bayi-bayi? Tapi dapatkah mereka kumiliki? Kini Aku adalah sesuatu yang lain. Aku telah menjadi "tentara yang mulia". Oh bumi yang baik! Takkan pernah lagi anakmu ini menggali parit di dadamu dan bernyanyi di bawah matahari. Aku akan datang, Aku akan datang pada hari yang besar itu dan engkau akan memeluk diriku, bumi yang harum, dan menyebabkan bunga ungu yang pemalu bermekaran di atas kepalaku. ***
Dan masih... Aku mengingat amukan serangan yang begitu terburu-buru. Mengapa Aku bertempur dan membunuh? Mengapa Aku tidak mengakui terror di dalam urat nadiku?
Senapan kemarin masih kusimpan, sebab kemarin
jantungku berdegup kencang. Mengapa Aku tidak
memperaa an aangalig dan
paling jahat? Mengapa Aku menjadi begitu pengecut?
Suara penarikan pasukan terdengar. Aku kembali ke barak
dalam kesedihan dan menjatuhkan diriku di kasur sembari menantikan tidur yang damai. Aku melihat sang mentari binasa. Langit terlihat seperti bercak darah yang sangat luas, luka mengerikan terbuka lebar dalam perut ketidakterbatasan. Dan bumi berbicara padaku. Ia membisikkan kata-kata penyemangat yang manis. Berani.. demikian katanya. Dan angin mengulangi Berani dan dedaunan pun berdesir. Dan bahkan teriakan terompet terakhir seolah mengatakan, dengan penuh kemenangan: Berani, berani! Kapan pun itu Aku akan tahu apa itu keberanian! dari Iconoclasta!
Dinamit Berbicara
cukup luas dengan nama yang sama. Dia bersil meloloan dii dari suur acd da bom yang meldak tepat di Vlla miliknya Lal giliran Senator Ponti. Dia adalah seorang presiden dari perhimpunan pengusaha mesin Lombard. Sebuah bom juga dilemparkan ke rumahnya. Namun ledakannya tidak cukup kuat dan merusak beberapa bagian rumah. Nasib baik telah menolong para penghasut perang! Bom yang lainnya ditemukan tidak meledak di stasiun pusat. Bom yang dihantarkan itu tampil dengan hasil kerajinan tangan! Bom itu dikerjakan di rumah. Adalah hal yang alamiah jika ribuan rumor tentang motif dibalik serangan-serangan ini akan menyebar luas. Kenyataan bahwa para pembawa dinamit tak diketahui itu yang memilih target besar dari metlurgi industri mendukung gagasan bahwa ini adalah persoalan balas dendam kepada arogansi menjijikkan para majikan. Pada saat para penghasut perang itu bersenang- senang di Cova dan Biffi, para penyerang nan miskin itu menelan sedikit nasi dan mengencangkan ikat pinggang mereka. Mereka yang kelaparan tidak bertempur melawan kapital berbekal tangan-tangan terlipat dan harapan; itu adalah penderitaan perlahan. Namun sang tuan menginginkan cara seperti ini, dan,
dilindungi oleh senjatasenjata pembunuh kavaleri sang Raja,
mereka meraup keuntungan dari kesengsaraan. Sementara itu, dari sisi pers reaksioner, perburuan
penyihir terhadap para anarkis telah dimulai, dan undang- undang biasa menuntut hukuman mati. Kita bukan bagían dari jumlah kursi kaum subversif palsu yang dengan cepat menyangkal kerahasíaan karena takut terhadap penjara. Naun bagi siapa pun yang menuduh kami telah meprovokasi berbagai serangan ini, kami merespon dengan gambaran atau pun pertanyaan secara langsung: Siapa yang menycbarkan kebencian dan rasa sakit sepanjang empat tahun pembunuhan besar-besaran ini? Itu adalah beragam Gratians (Kaisar Romawi dari 367 sampai 383, dia menjadikan agama kristen sebagai agama Romawi tradisional, orang orang kotor dan para pembunuh yang berhias. Terlepas dari 507, 193 kematian dikorbankan untuk kepercayaan dan bank, ketika perang berakhir, para hewan buas borjuis yang haus darah ingin dan masih berkeinginan untuk membunuh. Sejak 13 April hingga sekarang (pertumpahan darah di Lainate, 3 orang mati), 54 orang telah terbunuh oleh peluru-peluru kerajaan. Ini adalah propaganda untuk kebencian! Mereka yang selama ini memonopoli telah menghilangkan makanan kita, dan para industrialis menempatkan kita pada persimpangan antara eksploitasi paling keji dan kelaparan. Dan seseorang menjerit: "penting untuk memproduksi!" Aku membaca pada hari yang lain bahwa seorang pria muda membunuh dirinya karena ketiadaan pekerjaan. Aku katakan: "Apa yang harus diproduksi? Peti-peti mati untuk mereka yang mati?" Demikianlah provokasi datangnya dari atas. Ada beragam Bredas yang dilindungi oleh sang negara camorra [camorra adalah RIA organisasi kriminal yang melancarkan teror dan pemerasan — penerjemah]; ada Centannis yang sinis yang dihiasi dengan kegilaan; terdapat pula petinggi militer, yang kotor karena darah dan gila akan hawa nafsu
Reaia
sesungguhnya tetap bertahan di sana.
dari Iconoclasta!
Sang bendera telah melambai. Warnanya hitam: Bendera itu berdiri untuk berkabung. Maka majulah, Promethei yang liar. [Bentuk jamak dari Promotheus, sosok dewa Yunani yang menantang penguasa Olympians untuk membawa api kepada uma manusia.- catan penerjemah] Jeritan pembalasan adalah musik yang manis dan berharga. Saat ini yang diperlukan adalah membunuh, untuk menghancurkan.. €sok kita akan menjadi bunga aster..