BUAH PIKIRAN
DJAMALOEDIN RASAD
KOLOFON
BUAH PIKIRAN
oleh
DJAMALOEDIN RASAD
Diterbitkan oleh Gravenhage: H. Luyendijk
1910
Transcriber: Fitrisia Indah
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Catatan Nusantara
Ilustrasi sampul: The Comet Book: Pertica 1587, karya Unknown
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
PERMULAAN KALAM
Di dalam buku kecil ini kusimpulkan beberapa karangan, buah pikiranku, yang kebanyakan telah gugur — masak tak masaknya — di halaman surat kabar ini atau di kaca surat bulanan itu, antara tahun 1901 dan tahun ini, tahun 1910.
Di antara karang-karangan ini, pasti adalah, yang isinya, di sana sini patut diubah dan diperbaiki. Ini tidaklah hamba lakukan; karena maksudku yang terutama dengan buku ini ialah....hendak menoleh di tangga mana kira-kira kedudukan Bahasa Melayu, dibandingkan dengan Bahasa Belanda, pada masa ini, di abad yang dimasyhurkan abad kemajuan; sambil.... hendak mencoba mengukirkan dengan sedapat-dapatnya bedanya — walaupun tak besar — dengan Bahasa Melayu purbakala, jauh di muka abad ke-XX.
Kedua perkara inilah menyebabkan, maka ingatanku untuk perubahan susunan kalimat dan aturan tulisan-kata-kata — di mana perlu dan betapa sebaik-baiknya, menurut pikiranku sekarang — kujadikan sendi usahaku yang utama.
Hoogeveen, Februari 1910
DJAMALOEDIN
MASA DI TANAH HINDIA 1901—1902 Memperoleh kemajuan1
EROPA
Baiklah kita perbincangkan dulu benua Eropa; karena dari dulu sampai sekarang, bumiputra benua itulah, yang terutama dan senantiasa maju. Ilmu dan pengetahuan bumiputra di benua Amerika dan pada beberapa tanah yang lain, di muka bumi inipun, yang sekarang selalu berkembangan pula dengan kemajuan, ....
asalnya yang terutama, ialah dari benua Eropa.Berpuluh-puluh tahun, ya amat sedikit, tak salah kalau saya katakan, beratus-ratus tahun lalu, tiap-tiap bangsa di benua Eropa itu, telah tahu ilmu tulis menulis. Bukannya terpilih pemerintah saja, tetapi saudagar-saudagar, tukang-tukang, pelajar-pelajar, orang-orang yang bercocok tanam dan orang-orang kuli pun, kebanyakanlah tahu ilmu tulis-menulis itu. Inilah ilmu persekutuan mereka itu, yang bermula sekali, yang dipergunakan oleh mereka itu, seumpama getah, akan pemikat serba jenis ilmu yang amat berfaedah, yang tidak ternilai harganya semasa ini!
Meskipun ilmu itu terlalu picit pada lahirnya, tetapi senantiasa amatlah disyukuri oleh mereka itu. Karena:
1. Sejak tuan-tuan pemerintah itu tahu ilmu tulis-menulis, maka kepandaiannya itu tidaklah dipergunakannya untuk menuliskan aturan yang diperintahkan oleh kepalanya saja; tetapi lain dari itu amatlah perlu padanya, akan menulis beberapa buku peringatan. Dituliskannya umpamanya, apa peraturan, yang kurang baik, yang patut dibaiki; dikurangi atau ditambah. Dan lain-lain hal yang teringat padanya, yang mendatangkan kebaikan bagi anak buahnya atau bagi pemerintah. Singkatnya sekalian hal ihwal, yang dirasanya “boleh menyenangkan bumi dan menjadikan padi” dalam pemerintahannya, semuanya dituliskannya dalam buku peringatan itu.
Bila datanglah waktu yang baik, maka dimusyawaratkannyalah hal itu dengan kepala-kepalanya dan sesamanya. Kemudian segeralah dikembangkan, disiarkan di dalam surat-surat kabar atau surat-surat bulanan; dan ada pula, yang dijadikannya sebuah buku.
2. Akan saudagar-saudagar tidaklah dipergunakannya untuk menuliskan barang-barang, yang dibelinya dan yang dijualnya saja, tetapi selalu pula mereka itu mengisi buku peringatannya umpamanya dengan akal budi supaya barang-barang perniagaannya lekas terkirim, diterima dan terjual, boleh mendapat untung lebih banyak, .... supaya peraturan buku-buku perniagaannya lebih ringkas dan terang dan lain-lain.
3. Akan tukang-tukang seperti tukang kayu, tukang besi, tukang batu, tukang menjahit, tukang menangkap ikan, dan lain-lain, masing-masing adalah pula buku peringatan mereka itu, berisi hal, yang memajukan pekerjaannya.
4. Akan orang pelajar, seperti juru mudi, juragan dan kelasi pun, adalah pula buku peringatannya, tentangan pendapatan masing-masing, dalam hal memajukan jabatannya di laut.
5. Apalagi orang bercocok tanam, tak kuranglah tertulis dalam buku peringatannya, bagaimana daya upaya: menanam pohon ini dan pohon itu, supaya subur tumbuhnya dan mendatangkan hasil banyak.
6. Orang kuli pun amat perlu mencari rupa-rupa ikhtiar, supaya badannya selalu kuat, jauh dari ngilu dan pening, ... supaya pendapatannya tambah lama bertambah banyak.
7. Dan lain-lain.
Jadi segala hal yang tersebut di atas ini, oleh bumi putra benua Eropa, dari dulu sampai sekarang, tidaklah habis di mulut dan terukir di benaknya saja tetapi semua terpatri hitam di atas putih.
Hanya serba jenis ilmu dan pengetahuan, yang dituliskan oleh pemerintah-pemerintah, saudagar-saudagar dan lain-lain, yang bermula sekali itu, itukah saja kiranya, yang diamalkan oleh anak cucu mereka itu di zaman ini?
Silakan kiranya handai tolanku meneruskan pembacaanmu!
Adapun ilmu dan pengetahuan, yang dituliskan oleh mereka itu, yang bermula sekali, adalah semisal sepohon kayu, yang baru ditebang, belum sempurna disiang dahan dan rantingnya.
Bilamana mereka itu meninggal dunia, maka si anak cucu tidaklah menghentikan tangan, melainkan terus berusaha, membuangkan dan memotong dahan-dahan dan ranting-ranting pohon pusaka itu; ditarahnya, hingga menjadi sebuah balok.
Oleh turunan mereka ini balok ini dipotong, dibelah-belah,....dijadikannya tonggak, rasuk, pelancar, dan lain-lain, akan pekayu rumah tangganya.
Menurut misal yang tersebut di atas ini, maklumlah handai tolanku, bahwa ilmu dan pengetahuan orang-orang tua itu, senantiasa dibaiki, bukan disalahi oleh anak cucu dan cicit mereka itu, berkepanjangan dari dulu sampai sekarang; ditambah dan dibersihkannya. Tiap-tiap perubahan selalu di buku, dituliskannya.
Sekarang apakah sebabnya ilmu dan pengetahuan mereka itu banyak benar tukuk tambahnya?
O, itu begini halnya:
Dalam hal si anak cucu itu membersihkan dan memperbaiki bengkalai orang tua, nenek-neneknya itu, bilamana teringat lagi oleh mereka itu, ilmu atau pengetahuan yang baru, selalulah pula dipikirkan dan dikerjakannya dengan sungguh-sungguh; segera dibubuhkannya di dalam buku peringatan, tak adalah bedanya seperti bermula.
Kedua jawab yang tersebut di atas ini, dari dulu, sampai sekarang, menjadi pusaka yang terutamalah kepada anak cucu mereka itu. Ya, jika sehari selembar benang, lama-lama, bukankah mudah menjadi sehelai kain!
Apabila kita hikmati berapa turunan sudah, dengan hal yang demikian, beratus-ratus tahun yang lalu, niscaya yakin dan percayalah kita, bahwa ilmu dan pengetahuan orang Eropa itu sekarang, amat banyak jenisnya, amat teratur dan sempurna serta dalam isinya.
Inilah sebab, maka buku-buku ilmu orang Eropa dewasa ini bertambun-tambun, tak dapat dihitung lagi banyaknya.
Kian kemari penuh sesaklah di Tanah Eropa, berupa-rupa pabrik memperbuat serba-serbi barang-barang, buruk, baik, halus dan kasar; begitupun toko-toko dan gudang-gudang, tempat menjual dan menyimpan barang-barang itu, semuanya siap belaka.
Karena jasa dan faedah buku-buku dan perkakas, yang cukup dan sempurna itu, bilang ribu hamba Allah di sana, yang namanya didahului oleh kata: Professor, Doctor, dan Meester: ada yang tua, ada yang muda.
Sebagai kebanyakan handai tolanku telah mengetahui juga, jikalau ada seorang tuan, di muka namanya tertulis kata “Professor atau Doctor”, itulah tandanya, bahwa tuan itu telah paham atau cukup pengetahuannya, tentang sesuatu atau beberapa ilmu, umpamanya: dalam Ilmu Bintang, Ilmu Tumbuh-tumbuhan, Ilmu Binatang, dan lain-lain.
Dan seorang tuan di muka namanya kata “Meester” itulah tandanya, bahwa tuan itu telah paham dalam hal perkara keadilan.
Tadi kuterangkan, bahwa masing-masing tuan-tuan, yang tersebut di atas ini, bukannya orang tua saja, tetapi kebanyakan juga orang muda!
Orang muda?
Ya, boleh jadi! Sesungguhnya boleh jadi benar!
Tuan-tuan muda itu patut sekali dipuji dan ditiru, tentang rajinnya dan yakinnya!
Dengan kerajinan dan keyakinannya itu, dari kecil ia duduk belajar dan membaca, beberapa jenis buku ilmu, sampai di hari mudanya. Meskipun ilmu itu amat dalam isinya, dari karena telah teratur dengan rapi dan sempurna, apalagi segala rupa perkakas untuk pencoba dan penguji ilmu itu, telah sedia belaka, maka tiadalah aral melintangnya mereka itu masing-masing boleh memperoleh salah satu daripada kata-kata yang tersebut di atas ini, di hadapan namanya yang sejati. Bukankah tajam besi itu, karena betah mengilir!
JEPANG
Hingga ini marilah, kulancarkan penaku memperkatakan sedikit hal yang kedapatan, waktu gerhana matahari di kota Padang tanggal 18 Mei 1901 yang lalu.
Di waktu itu adalah beberapa orang Professor dari Eropa, Amerika dan Jepang pun datang di Padang.
Masing-masing Professor itu memang paham dalam Ilmu bintang, karena maksud masing-masing ialah hendak memaklumi, bagaimanakah hal yang terjadi waktu gerhana itu, pada tanggal yang tersebut, di kota Padang.
Apabila ditilik tentangan umurnya masing-masing Professor itu, mudahlah diketahui, bahwa Professor Jepanglah, yang termuda, kira-kira 20 tahun. Akan perawakan badannya Professor Jepang itu langsing, kulitnya kuning; durja mukanya hening dan jernih, suatu sifat yang menyatakan mudanya; tutur bahasanya lemah lembut, disinari dengan senyum-senyum simpul, alamat hamba Allah telah berilmu dan sempurna terpelajar.
Sudah tentu tuan itu berilmu dan terpelajar, karena ialah, yang dititahkan Pemerintah Jepang, akan memaklumi hal batin dan sulit, yang tersebut tadi.
Cermin mata, yang dipakainya, pada rasaku, ialah suatu tanda juga, bahwa tuan itu terlalu rajin dan usaha membaca berbagai-bagai buku ilmu dan pengetahuan, sehingga rabunlah matanya sedikit.
Betul, ada juga orang muda yang terpaksa memakai cermin mata, meskipun ia jarang sekali rajin membaca; tetapi hal ini ialah karena “lens” matanya amat busung. Akan lens mata Professor ini, pada penglihatanku, tiadalah ubahnya dengan lens mata, kebanyakan orang-orang muda yang lain.
Memandang kedatangan Professor itu, tampaklah suatu tanda, yang terang sekali bagi penduduk kota Padang, bahwa Kerajaan Jepang itu sekarang, suatu kerajaan, yang sebenar-benarnya telah maju pula; bolehlah sudah bertanding dengan Kerajaan Eropa.
Pasti! Beberapa tahun lalu.... akhirnya semasa peperangan Cina dengan Jepang, Kerajaan Jepang belumlah begitu masyhur; tetapi setelah selesai peperangan itu, maka Kerajaan Jepang pun seperti dihembus-hembus masyhurnya.
Bukannya saja bumiputra kerajaan itu gemar menuntut ilmu dan pengetahuan, tetapi selalu pula mereka itu suka menanggalkan adat-adatnya yang bahari dan menukarnya dengan adat yang baru, asal mereka itu boleh mendapat, yang lebih teratur dan sempurna: “Buruk dibuang, baik dipakai”.
O, Kerajaan Jepang boleh benar maju! Kabarnya adalah suatu perkara, yang baik sekali kedapatan di Kerajaan Jepang:
Anak siapa juapun, tak berbeda kaya atau miskin, baik anak orang besar atau anak orang kecil.... bilamana dirasa boleh memajukan pelajarannya, maka anak itu diusahakan benar-benar bagaimana wajibnya, supaya mendapat pengajaran yang sempurna, dengan usaha dan belanja kerajaan.
Jadi dengki khianat bagi sesamanya, luputlah sudah di hati mereka itu. Siapa yang telah berilmu dan berpengetahuan, dengan segala sukacita, segeralah melimpahkan dan menghamburkan ilmu dan kepandaiannya kepada handai tolannya seluruh kerajaan itu.
Bagaimanakah ikhtiar Pemerintah Jepang memajukan bumi putranya, sehingga kerajaan itu menjadi masyhur sebagai sekarang ini?
Kabarnya konon, beberapa tahun, sebelum terjadi peperangan Kerajaan itu dengan Kerajaan Cina, Pemerintah Jepang telah mengirim beberapa orang anak buahnya ke benua Eropa, akan menuntut ilmu dan pengetahuan di situ. Di benua itulah telah terkumpul perbendaharaan serba jenis ilmu dan pengetahuan murah dan sulit, teratur dan sempurna.
Masing-masing mereka itu tidaklah sengaja akan menuntut sejenis ilmu dan pengetahuan saja di situ; tetapi tiap-tiap orang berlain-lainlah tuntutannya. Ada, yang menuntut Ilmu Peperangan; ada, yang Ilmu Obat; ada, yang Ilmu Bintang dan lain-lain. Maksud masing-masing mudahlah didapatnya; karena bumi putra di benua Eropa itu gemar dan suci sekali hati mereka itu melimpahkan ilmu dan pengetahuannya, dengan tidak memilih bangsa, asal saja mereka itu, yang menuntut tiada lupa membayar, mengisi sirih patinya.
Tambahan, meskipun ilmu dan pengetahuannya dilimpahkannya kepada bangsa lain, sekali-kali mereka itu tidaklah khawatir, yang bangsa asing itu kelak, bila berilmu dan berpengetahuan yang sempurna, akan mengurangkan rezekinya, o, tidak, sebab mereka itu telah lama mengetahui: Nan ka de' alang, inda' ka de' musang doh. Artinya rezeki untuk elang, sekali-kali tak akan dapat dipungut oleh musang.
Apalagi mereka itu telah merasai, sambil meyakini dengan seyakin-yakinnya: makin banyak hamba Allah berilmu dan berpengetahuan, yang bersih dan cukup, ....makin banyaklah tukuk-tambah ilmu dan pengetahuan itu akan datang ....dan makin luaslah pintu rezeki diturunkan Allah.
Inilah sebabnya, yang terutama benar, bahwa tabiat kikir akan ilmu dan pengetahuan, telah dilemparkan dan dihapuskan oleh mereka itu masing-masing sejauh-jauhnya dan sebersih-bersihnya dari hatinya.
Beberapa tahun lamanya, dengan rajin dan yakin, belajarlah anak buah Kerajaan Jepang itu di Eropa. Setelah tamatlah pelajarannya, pulanglah mereka itu ke tanah airnya, mengembangkan ilmu dan pengetahuannya dalam Kerajaan Jepang.
Demikianlah dilakukan oleh Pemerintah Jepang berturut-turut, hingga pada masa ini di Tanah Jepang pun telah terdirilah pula beberapa sekolah-sekolah tinggi dan pabrik, yang mengeluarkan bermacam-macam barang.
INSULINDA2
Sementara penaku keputusan upaya akan memperbincangkan kemajuan Insulinda, marilah kita himati benar-benar dulu, apakah kiranya ibu kemajuan bumiputra Eropa, yang tertua sekali Eropa, yang telah diikut, terlalu lekas, oleh Kerajaan Jepang.
Si Bundaanda itu tak lain daripada “kesaktian ilmu dan pengetahuan tulis menulis", yang amat disyukuri dan dimuliakan oleh bumi putra di Eropa. Kesaktian ilmu dan pengetahuan tulis menulis itulah, yang menghasilkan beribu-ribu buku ilmu dan pengetahuan.
Oleh karena buku ini setia dan pandai berkhidmat pada pembaca, yang mengasihinya, tak berbeda tua atau muda, masing-masing bolehlah memetik isinya, sesukanya, sepuas-puas hatinya.
Sayanglah buku-buku itu hanya tertulis di dalam bahasa Eropa saja, satupun tak ada dalam Bahasa Melayu, Jawa, Lampung atau lain-lain Bahasa Hindia.
Insulinda!
Insulinda!
Meskipun saya amat ingin sekali hendak melukiskan kemajuanmu, karena kau, Insulinda, tanah airku, tetapi apa boleh buat; mataku sekonyong-konyong gelaplah pemandangannya.
Ya Allah, Tuhan kami, Engkaulah yang lebih mengetahui hal kami, Engkaulah akan menggerakkan seiya-sekata kami!
Berjalan kaki muda asali,
“Seratus tahun" berkali-kali.
Lihat Eropa maju sekali,
Jepang yang muda lawan sejoli!
Mau tak mau, marilah kupaksa penaku sedapat-dapatnya akan mencuraikan hal yang terjadi, di Insulinda ini:
Sejak Tanah Hindia ini, telah dirawati oleh daulat Gouvernement, berpuluh-puluh tahun sudah lamanya, memang samalah halnya dengan Eropa tua. Artinya, di antara bumi putranya, adalah pula, yang menjadi pemerintah, saudagar, tukang terutama tukang bercocok tanam, dukun, kuli-kuli dan lain-lainnya.
Akan pemerintah, ialah turun-temurun kepada anak cucunya, atau kepada kemenakannya, atau gedang berlegar, atau menurut kehendak Gouvernement.
Saudagar-saudagar: ada saudagar kain, piring-mangkuk, barang-barang makanan dan lain-lain. Tukang-tukang, t.-kayu, t.-besi, t.-menggiling padi, t.-membuat jala dan tikar dan lain-lain. Orang bercocok tanam: bersawah dan berladang. Dukun: mengobat dan menawar. Kuli-kuli: mengerjakan sebarang pekerjaan, yang sanggup dan dapat dikerjakannya.
Terpilih di antara mereka yang tersebut di atas ini, adalah juga yang mengetahui Ilmu langkah melangkah (silat), dan paham perkara adat atau alim dan mursyid.
Cara bagaimana mereka itu menggunakan dan membesarkan pengetahuan masing-masing di masa purbakala, jauh di muka abad ini, tak dapatlah kuperikan. Tetapi marilah kita perkatakan hal ini mulai dari pertengahan abad yang lalu.
Sejak waktu itu, kebanyakan mereka itu, apa lagi dewasa ini, sejak dari pemerintah sampai ke kuli-kuli, dengan usaha daulat Gouvernement jaranglah yang tiada tahu tulis menulis, baik tulisan dalam bahasa masing-masing, baik dengan huruf Belanda atau huruf Arab.
Entahkan karena umurku baru setahun jagung; pendengaranku belum begitu nyaring; dan pelupuk mataku belum begitu terkembang, hal ini kulihat tidaklah dengan besar-hati.
Sepanjang penglihatanku, mereka itu, yang menjadi pemerintah, tinggal hanya memerintah, menjalankan sepanjang peri. Saudagar, hanya berjual beli; tukang-tukang, bekerja; yang bercocok tanam pergi ke sawah dan ke ladang; kuli-kuli menuntut upahan; dan lain-lain. Lain tidak.
Sampai pada waktu mengukir kalam ini dalam Bahasa Melayu umpamanya - belumlah pernah saya memandang, jangankan membaca, suatu “buku”, karangan seseorang pemerintah atau saudagar, tukang, bercocok tanam, dukun, pandai adat, pendekar, kuli-kuli dan lain-lain.... yang mencuraikan muslihat, daya upaya, dalam hal memerintah atau berniaga, memperbuat ini itu, tanam-menanam, obat penawar, seluk beluk adat, bersilat, mencari upahan dan lain-lain. Hanya yang ada, beberapa kitab, karangan guru-guru-agama, dengan tulisan huruf Arab.
Kitab-kitab yang lain, isinya kebanyakan cerita dan syair saja; umpamanya cerita Cindur Mata dan Putri Bungsu, syair Abdul Muluk, dan Kaharmasyhur, dll
Dan lagi didapati, buku pelajaran untuk sekolah bumi putra; tetapi bukannya karangan guru-guru bangsa bumi putra, melainkan sama sekali ialah usaha orang Eropa!
Meskipun di antara buku-buku pelajaran ini, satu tak ada bangsa bumi putra, rianglah juga hatiku merencanakannya, karena:
Bertambah teranglah sekarang, bahwa bangsa Eropa, suatu bangsa, yang gemar sekali melimpahkan dan mendermakan ilmunya.
Bahasa yang terukir di dalam buku itu, yakni Bahasa Melayu, bahasa persekutuan di Insulinda.
Barangkali bolehlah kiranya menerbitkan suatu hal, yang akan menginsafkan handai tolanku; terutama yang berpangkat guru-guru.
Tuan Pembaca janganlah kiranya lekas bersangka dan menggambarkan di hati, bahwa orang-orang tua, sanak saudara kami, walaupun tak mempunyai buku ilmu, senantiasa berlumur dengan kebodohan.
Sebab sebagaimana dugaanku, masing-masing adalah berilmu dan berpengetahuan, untuk tiap-tiap penghidupannya. Yakin dan percayalah saya!
Kecuali bangsa Eropa, Jepang dan lain-lain bangsa, yang boleh disamakan dengan kedua bangsa itu, bolehlah ilmu dan pengetahuan mereka itu ditandingkan dengan ilmu dan pengetahuan bangsa-bangsa yang lain.
Meskipun sudah sekian lamanya mereka itu telah tahu tulis menulis dan karang mengarang, maka ilmu dan pengetahuannya telah biasa tidaklah dituliskannya, tetapi adanya, senantiasa terukir di hati dan tersembunyi dalam rahasia masing-masing.
Bilamana mereka itu hendak melimpahkan atau mempusakakan ilmu dan pengetahuannya kepada anak cucunya atau sobat handainya, bergugurkan sajalah dari mulut ke telinga!
Adakah ilmu dan pengetahuan pusaka, yang diterima oleh anak cucu itu, dari sehari ke sehari bertambah-tambah?
Ya, itu begini halnya:
1. Memang oleh karena usaha anak cucu itu, acapkali mereka itu memperoleh ilmu dan pengetahuan yang baru, yang tadinya boleh menjadi tukuk tambah. Tetapi sementara menyungguh ilmu yang baru itu, acap kali pusaka tadi bilang lenyap. Jadi: “sementara menyuruk ekor hilang."
2. Adalah lagi di antara anak cucu itu, yang sangat yakin menyelenggarakan pusakanya, setapak pantang dianjak, semiang berpantang hilang. Umpamanya pada handai tolan kami tukang besi dan tukang menggiling padi. Selama kutahu perkakas masing-masing, yang terutama pembusu (penghambus api), terbuat dari 2 buah balok yang berlubang; dan roda kayu besar, yang dijalankan air.
3. Acap kali juga di antara anak cucu itu, lebih-lebih sejak mereka itu tahu tulis menulis, berbimbang hati menerima pusaka, yang ditinggalkan orang tuanya, sungguhpun adalah pepatah orang tua-tua, “anak kambing tak boleh jadi harimau; anak harimau tak boleh jadi kambing.”
Di dalam ketiga pasal yang bertingkah-tingkahan inilah tersimpul jawab yang sebenarnya atas pertanyaan yang di atas ini!
O, mudah-mudahan hingga ini ke atas, terbit pulalah hendaknya kesaktian “Ilmu-tulis-menulis” bagi kami, putra Insulinda!
Lain dari sekolah-sekolah rendah, tempat mempelajari ilmu tulis menulis dan hitung-menghitung, yang didirikan oleh daulat Gouvernement untuk bumi putra Insulinda ini, adalah lagi: Kweekschool, Dokter-Jawaschool, Hoofdenschool, di mana anak bumi putra boleh memajukan ilmu dan pengetahuannya, yang lebih berguna dan banyak memberi faedah.
Meskipun kemajuan Jepang tak sanggup kami turutkan, karena belanja pergi ke benua Eropa itu amat besar, niscaya memadailah sudah bagi kami, bilamana ilmu dan pengetahuan pusaka, yang telah kami terima dari orang-orang tua kami, telah terkumpul dengan sejahtera, bertukuk-bertambah dengan ilmu dan pengetahuan derma daulat Gouvernement, akan menjadi pusaka di hari maut kami untuk anak cucu kami!
Orang-orang tua kami, sanak saudaraku dan handai tolanku, yang kasih akan anak cucunya, tidaklah kubedakan, baik pemerintah, baik saudagar sampai ke kuli, seluruh Hindia-Belanda!
Dengan hormat kupuhunkan, marilah kita usahakan dan sempatkan diri kita, mengumpulkan dengan pertolongan kesaktian ilmu tulis menulis itu, segala ilmu dan pengetahuan pusaka, yang telah kita terima, sambil melanjutkan ikhtiar lagi, akan mendapat tukuk tambahnya.
“Melangkah tidak selangkah sampai; pendapat tidak sekali timbul”; sekiranya ada di antara tuan hamba sukar baginya akan mengaturkan pendapatannya itu, menjadikan sebuah buku, baiklah serba yang terdapat olehmu, tuan hamba kirimkanlah kepada angku Pengarang surat bulanan Insulinde3 ini, supaya boleh dimasukkannya di dalam surat bulanan ini.
Karena surat bulanan inipun samalah halnya dengan sebuah buku, yang mudah disimpan baik dan dipusakakan untuk anak cucu.
Akan tuan hamba, yang sanggup mengarangkan pendapatannya di dalam suatu buku, segeralah tuan hamba mengikhtiarkan, supaya buku itu lekas tercetak dan tersiar.
Tentulah tuan hamba masing-masing telah memaklumi, supaya karangan kita lekas sedianya, bermula mengarang, janganlah hendak dihalusi benar; padalah, untuk penebas jalan, sekedar menyampaikan hajat dulu. Kalau demikian kita kerjakan, niscaya bangatlah kita peroleh alas, landasan pendapatan kita.
Akan penutup rencanaku ini, kutadahkanlah tanganku, memohon rahmat Allah, mudah-mudahan kita sekalian seiya sekata membenarkan dan melangsungkan permohonanku, yang tersebut di atas ini.
Padang, September 1901.
MEMELIHARA ANAK 4
Ikhtiar menjalani:
untung menyudahi.
Walaupun mendengar nasihat dan pituah Alim dan Pandita, apalagi menurut pikiran segala mereka itu yang ahlul akal, budiman, jauhari dan bijaksana, haruslah hamba Allah itu lebih dulu menjalankan tenggang kelakar, sebelum ia menyambut kedatangan untung baik atau untung buruk, yang digerakkan Allah atasnya. Faedahnya akan menjauhkan sesal berkabut, syak dan waham dari kalbunya,... bilamana mereka itu memperoleh bala pustaka; karena lalai dan alpa. Seperti pepatahnya: Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.
Jikalau setiap waktu, selalu kita usahakan diri kita menuju jalan yang lurus dan memberi kebajikan,... kalau untung akan terpisah juga ke jalan yang bengkok dan memberi kejahatan, apa boleh buat! Benarlah seperti kata pantun:
Apa guna diranggung,
bawa ke pulau bilang-bilang;
apa guna dimenungkan,
bawa bergurau boleh hilang
Dalam hal ini sebenarnyalah demikian untung kita. Jadi sedikitpun tak harus kita sesali.
Mahal didapat sukar dicari, dalam seribu jarang seorang,... baik orang besar atau orang kecil, yang kaya cara kayanya, yang miskin cara miskinnya, tak adalah, asal ia manusia, yang benci akan anaknya; ya sealamnya kasih dan sayang pada si Anak. Apakah konon yang jadi sebabnya?
Ya, kebanyakan mereka itu tentulah telah memaklumi, yang si Anak itu asalnya dari segumpal kecil zat cinta kasih sayang, yakni seolah-olah kumpulan dari serba sejarah, segenap bagian tubuh orang tuanya.
Marilah kita benarkan sebagai kata orang melayu, bahwa anak itu ialah: buah hati, sebiran tulang orang tuanya.
Singkatnya, karena badan dan darah daging si Anak itu, ialah badan dan darah daging orang tuanya. Adakah manusia yang benci akan dirinya? - Mustahil!
Siapa yang benci akan anaknya, itulah manusia yang tak sayang pada dirinya! Inilah sebabnya hamba katakan, bahwa segala manusia kasih dan sayang pada anaknya.
Adapun tanda-tanda yang menyatakan, bahwa segala mereka itu kasih dan sayang pada anaknya, yaitu: sejak si Anak itu lahir ke dunia sampai besar, tiadalah puas-puasnya orang tua itu mencari berbagai-bagai ikhtiar memeliharakan anaknya itu, supaya anaknya itu sehat, selamat dan berbahagia baik.
Karena harapan orang tua itu, kalau si Anak itu besar, anak itulah tolan yang terutama sekali, yang boleh dipercayai dengan sesungguhnya, boleh dan berani membantunya, dalam segala hal, baik dan buruk; lebih-lebih di hari tuanya.
Meskipun di antara hamba Allah itu ada yang belum mengetahui bagaimanakah jalan, yang patut memelihara anaknya, tetapi tiadalah seorangpun yang bersengaja mencari ikhtiar, supaya anaknya berpenyakit, berbahaya, dan berbahagia jahat.
Inilah juga suatu tanda: bahwa orang tua itu kasih dan sayang pada anaknya.
Betapa perinya masing manusia memelihara anaknya, berbagai-bagai halnya. Berikut ini hamba terangkanlah bagaimana pendapatanku:
Sepanjang pikiranku adalah 3 perkara ikhtiar, yang terutama, harus diusahakan oleh orang-orang tua bekal memeliharakan anaknya, supaya mudah-mudahan bolehlah kelak ia memperoleh dan mempersuntingkan pengharapannya yang baik itu, bagi anaknya bilamana si Anak itu besar.
A. Haruslah orang tua itu memelihara kesehatan anaknya;
B. Memelihara nyawa anaknya dan
C. Memelihara hati anaknya.
a. Memelihara Kesehatan.
Adapun memelihara kesehatan itu maksudnya, supaya anak itu tiada mudah dihinggapi penyakit, seperti ngilu pening atau seboleh bolehnya selalu tinggal sehat. Ikhtiar ini bergantung atas 3 upaya:
Dijagai makan-minumnya.
Dijagai kebersihan badannya.
Dijagai kebersihan pakaiannya.
1. Adapun makanan dan minuman anak itu hendaklah barang-barang, yang telah nyata memberi faedah, yaitu banyak boleh menjadi darah daging dan kesehatan. Janganlah kiranya orang-tua itu memakankan atau meminumkan pada anaknya sesuatu barang yang tidak diketahuinya khasiatnya.
Berapa kali, dan dalam berapa lama antaranya, patut anak itu diberi makan dan minum tiap-tiap hari, haruslah dengan aturan. Bilamana tidak dilakukan demikian, mudahlah anak itu dihinggapi penyakit; terutama penyakit perut.
2. Adapun menjaga kebersihan badan anak itu maksudnya diikhtiarkan, supaya badan anak itu tidak mudah dilekati barang yang kotor, yang mudah mendatangkan penyakit. Sekurang-kurangnya sekali atau dua kali sehari patut anak itu dimandikan, akan membuangkan kotoran, yang timbul di badannya, sebab pengerakannya sendiri: seperti peluh, daki, dan lain-lain. Sekaliannya itu, bila sampai banyaknya, memudahkan kedatangan penyakit.
3. Akan menjaga kebersihan pakaian; yang dipakai anak itu, hendaklah pakaiannya yang kotor, lekas ditukar dengan yang bersih; sebab pakaian yang kotor itu, ialah pintu penyakit juga.
Kalau anak itu perlu memakai baju dua lapis, maka kebersihan baju yang di dalam, yang bersentuh dengan kulit, hendaklah terutama dijagai.
Supaya mudah mengetahui kekotoran pakaiannya anak-anak itu, baiklah tiap pakaian anak-anak itu, putih atau keputih-putihan warnanya.
Tebal dan tipis pakaian anak-anak itu, terutama pakaian hari-hari, haruslah diperhatikan tentangan dingin dan panas negeri tempat-diamnya. Di negeri yang panas hawanya, patutlah pakaian anak-anak itu tipis; bila dipakaikan pakaian tebal mudahlah pula anak itu didatangi penyakit; sebab panas badannya yang patut keluar dihambat oleh pakaiannya, yang tebal itu. Tetapi di negeri-negeri yang dingin hawanya patutlah anak-anak itu memakai pakaian tebal, supaya panas badannya itu tiada mudah keluar. Kalau dipakaikan baju yang tipis, niscaya panas badannya lekas keluar dan berkurang-kurang, sehingga mudahlah pula mendatangkan penyakit.
Kalau ada pakaian si Anak itu yang mahal harganya, baik karena halus kainnya atau karena ditaburi dengan emas dan intan, lamun terpisah dari yang tersebut itu, kuranglah faedahnya.
Jikalau malang tak boleh ditolak, tiba-tiba si Anak itu dihinggapi juga oleh sesuatu penyakit, patutlah orang tua itu mengikhtiarkan dengan sedapat-dapatnya supaya penyakit anaknya itu lekas lenyap. Janganlah kiranya orang tua melalaikan usahanya atau enggan hatinya mengeluarkan belanja, akan membeli obat, karena dilihatnya penyakit anaknya itu kecil, tidak memberi khawatir. Perbuatan ini terhitung sia-sia. Seperti pepatahnya: Sia-sia utang tumbuh; hibahkan garam yang sececah, boleh terbuang kerbau seekor.
b. Memelihara Nyawa
Adapun memelihara nyawa itu maksudnya, supaya hidup anak itu selamat dan sejahtera; tidak menyukai banyak gaduh, selalu hidup dengan damai. Ikhtiar ini, bergantung atas 3 upaya:
1. Diajar adat sopan santun.
2. Diajar memuliakan janji dan berani.
3. Diajar ilmu dan pengetahuan yang betul.
1. Adat sopan santun itu, maksudnya tahu melakukan dirinya dalam berbagai-bagai perbahasaan. Sebagai kata petuah: Yang tua dihormati, sama besar disegani, yang kecil dikasihi. Selalu bermuka manis, adil dan murah.
2. Memuliakan janji itu maksudnya, apa-apa janji ditepati, tak suka membohong atau mungkir, teguh memegang kebenaran. Baik pada orang tua atau orang muda, walaupun anak-anak. Sesungguhnya takut berbuat salah dan malu akan kedapatan budi.
Dan berani yaitu: berani menuntut ilmu dan membuat sebarang jalan kebajikan dan kebenaran. “Musuh tidak dicari, bersua pantang dihindarkan".
Bila dipakaikan tabiat ini tunggang hilang, tak hilang; berani mati tak mati.
3. Ilmu dan pengetahuan yang betul, yakni: ilmu dan pengetahuan yang boleh memberi manfaat atau rezeki yang halal, dengan jalan yang lurus, benar dan terang. Ilmu dan pengetahuan, inilah yang wajib diajarkan pada anak itu!
Di zaman ini sudahlah menjadi kebiasaan bagai segala mereka itu yang berada dan yang terpelajar, umpamanya penduduk Tanah Belanda, Turki dan lain-lainnya, gemar sekali menghamburkan uangnya akan belanja anaknya, supaya si Anak itu boleh mendapat serba jenis ilmu dan pengetahuan yang betul itu. Karena sebenar-benarnya telah percayalah mereka itu, bahwa ilmu dan pengetahuan yang tersebut itu, halusnya tak dapatlah dibandingkan dengan harta atau emas perak, meskipun berapa banyaknya.
Pikiran mereka itu tentu mudahlah kita uji dan benarkan, yakni melihat dan mendengar “peruntungan” atau “perasaian” anak orang kaya kaya zaman dulu, yang mendapat bertimbun harta pusaka dari orang tuanya. Karena si Anak itu tak ada berilmu dan berpengetahuan yang betul, maka hartanya itulah, yang membawa dan menariknya ke dalam lurah dan lembah berbagai-bagai sengsara dan kesusahan; tetapi si Anak yang mendapat pusaka ilmu dan pengetahuan, kebanyakan dilindungi hidup mereka itu oleh selamat dan sejahtera.
Bahwa sesungguhnya di Tanah Hindia, bolehlah dikatakan sudah mulai beberapa bumi putra, yang mampu dan sanggup memupuk nyawa anaknya dengan pupuk yang betul, sempurna subur; tetapi sayang-sayang baru sedikit saja.
Alangkah besar faedah dan jasanya, kalau kata “sedikit” itu bertukar dengan “banyak” ! Niscaya segeralah segala kita, bumi putra Insulinda yang buta tuli, miskin dan sengsara, sebagai dewasa ini, akan berubah halnya.
c. Memelihara Hati
Memelihara hati maksudnya memelihara kehendak atau kemauan hati. Hati manusia itu boleh dimisalkan dengan seekor harimau yang lapar, kelepasan laba, .... dan terkurung di dalam sebuah sangkar, yang bercelah-celah, di mana ia boleh melihat barang apa, yang ada atau terjadi di luar sangkar itu.
Alangkah buasnya harimau itu!
Bilamana terpandang olehnya sesuatu barang yang boleh dimakannya.... dengan tiada memikirkan, jalan-aniayakah atau tidak, baik kepunyaan siapapun, timbullah sekonyong-konyong gembiranya, menghambur ke sana, menghampas ke mari di dalam sangkar itu, hendak menerkam barang itu. Jikalau sangkar itu kurang kuat, niscaya diperolehnyalah kehendaknya itu; atau, boleh jadi pula.... rusak binasalah ia, karena peluru senapan dan lain-lain senjata.
Pemeliharaan hati manusia, yang tidak sempurna, sungguh samalah halnya dengan sangkar, yang tak kokoh, mudah rapuh. Di sangkar ini si Harimau, hati manusia, mudah membuas, membuta tuli.
Pada bicaraku adalah 3 ikhtiar, yang dapat memelihara hati dengan sempurnanya:
1. Diajar jangan berhati tinggi dan takbur;
2. Diajar jangan berhati dengki dan khianat;
3. Diajar jangan berhati malas dan pemarah.
1. Berhati-tinggi dan takbur itu, maksudnya gemar membesarkan diri dan tak mau mengindahkan sesamanya manusia, lebih-lebih yang terpandang hina atau kurang; karena tinggi derajatnya atau luas kekayaannya atau karena perhiasan dan kebagusannya. Kelakuan ini mudahlah menerbitkan bahaya dan sengsara; baik dilakukan dengan peribahasa atau dengan fi'il pekerti.
Teramatlah besar celakanya, bilamana seorang anak, yang meninggikan dirinya atau takbur, karena derajat atau kemuliaan dan kekayaan orang tuanya. Derajat atau kemuliaan dan kekayaan itu, bukanlah pakaiannya, tetapi pakaian orang tuanya. Ini wajib diketahuinya!
2. Berhati dengki dan khianat itu, maksudnya tiada bersenang hati melihat untung baik seseorang; baik karena derajat atau kesenangan, kekayaan dan kebagusan orang itu. Dicarikannyalah berbagai bagai jalan, supaya orang itu atau “untung baik” orang itu lenyap dan binasa, atau ada 'aibnya. Boleh jadi, karena ia ingin hendak memetik “untung-baik” orang itu atau sekedar hendak merusakkan saja.
3. Berhati malas dan pemarah itu, maksudnya amat berat hatinya akan mengerjakan sesuatu pekerjaan, yang memberi faedah, yang boleh dan patut dikerjakannya. Ia segeralah marah, apabila kemauannya itu ditegur atau dicegah.
Apabila berlaku di atas dirinya sesuatu hal yang lain, kecil atau besar, yang tiada disukainya, segeralah ia memarahkan dirinya dan mengomel-ngomel, atau melakukan hal yang tiada senonoh. Jaranglah dipikirkannya lebih dulu, sebelum ia kan marah dan mengomel, entah barangkali hal, yang berlaku di atas dirinya itu: pahit di luar, manis di dalam.
Padang, December 1901.
KITAB LOGAT MELAYU DAN KAWAN SEJOLINYA 5
Tuan Inspecteur Ch. A. van Ophuijsen, Pemimpin taman “Insulinde” ini, di dalam tahun 1902 ini, telah mengarangkan “Kitab logat Melayu” namanya.
Di dalam kitab itu telah terkumpullah sekalian kata-kata Bahasa Melayu dan kata-kata asing pun, yang telah lazim dipakai di dalam Bahasa Melayu.
Faedah kitab itu ialah tempat bertanya, cara bagaimana tiap-tiap kata yang tersebut, harus dituturkan dan bagaimana aturan tulisannya dengan huruf Belanda.
Sesungguhnya kedatangan kitab itu suatu nikmat besarlah bagi segala guru-guru bangsa bumi putra di Tanah Hindia ini; karena sekaranglah baru mereka itu dapat membulatkan pikiran, tentang logat dan hukum tulisan tiap-tiap kata-kata itu, yang wajib diajarkannya pada muridnya.
Akan faedah Kitab Logat Melayu itu, bukanlah bagi guru-guru saja, bahkan untuk segala mereka itu, yang berjinak-jinakan dengan Bahasa Melayu. Sekali-kali tiada dibedakan bangsa melayu, kulit kuning dan bangsa-bangsa yang lainpun. Supaya segala mereka itu sama rata memakai satu aturan.
Ya, tetapi adalah suatu perkara, yang boleh jadi!
Keadaan kitab itu, boleh jadi menerbitkan keluh dan cinta di hati pembaca, karena ketiadaan kawannya sejolinya:
1. Kitab Logat Melayu, yang tertulis dengan huruf Arab.
2. Kitab Arti Kata-Kata yang terkumpul di dalam Kitab Logat Melayu itu, yang diterangkan dengan Bahasa Melayu.
Bolehkah diunjukkan: kewajiban siapakah itu dan apakah gerangan sebabnya Maleisch Woordenboek6 itu, sampai sekarang belum juga terbit-terbitnya?
Kabarnya konon tak kurang tuan-tuan yang alim, bangsa kulit putih, yang selalu memperhatikan dan menyelidiki Bahasa Melayu itu. Kabar itu memang boleh dipercayai, apabila diperhatikan berjenis-jenis Maleisch-Hollandsch Woordenboek dan lain-lain kitab pun, perihal seluk beluk Bahasa Melayu itu, yang sudah bertahun-tahun telah lahir ke dunia, umpamanya, karangan tuan Dr. J. Pijnappel, Dr. J. J. de Hollander, H. C. Klinkert, J. L. van der Toorn, dan lain-lain.
Faedah sekalian kitab itu hanya untuk bangsa Belanda atau mereka, yang mengerti Bahasa Belanda.
Apakah halnya di dalam sekian banyaknya tuan-tuan, yang alim itu, rupanya seorang pun tiada yang mempunyai ingatan mengarangkan Malaisch Woordenboek itu, yang boleh dipungut faedahnya oleh bangsa melayu?
Tiada perlukah gerangan, karena kurang faedahnya pada bangsa kulit putih? Atau karena pada persangkaan tuan-tuan itu “kami, si Melayu” pasti telah paham akan arti kata-kata bahasa kami? O, sekalian hal itu tiadalah hamba mengerti.
Betul sukarlah kiranya oleh anak bumi putra bangsa melayu akan menghilangkan jasa dan usaha tuan Inspecteur Ch. A. van Ophuijsen, yang telah mengarangkan Kitab Logat Melayu itu!
Karena itulah yang sebenarnya pada sangkaku, suatu tangga, akan mempermulia Bahasa Melayu.
Dalam hal itu nyatalah lagi, bahwa bukannya Tanah Melayu saja, serta segala jenis isinya, kentara boleh diagak agihkan oleh bangsa kulit putih, tetapi sampai kepada bahasa anak bumi pun sama ada halnya. Anak bumi tak ubahnya seperti manusia yang sakit terbaring, tak dapat bergerak lagi; hanyalah tinggal menyerah, menurut kehendak dukun.
Meskipun di antara mereka yang sakit itu, ada yang berhajat hendak mencoba bergerak, tetapi karena lemah, dan tenaganya tak cukup, pasti tak sampailah gerakan itu.
Alhasil, aduhai segala handaiku yang bersifat lemah! bilamana ketiadaan, yang terwarta di atas ini atau ketiadaan lainpun, yang kita ingini hendak memperolehnya,... baiklah kita serukan beramai-ramai kepada daulat Gouvernement. Kita sendiri bergerak sia-sia, tak kan sampai!
Sekiranya sifat daulat Gouvernement itu sebenarnya boleh diyakini sebagai tabiat dukun yang santun dan adil pada anak obatnya, tentulah ketiadaan kita itu, tak lama antaranya akan bertukar dengan keadaan.
Pastilah daulat Gouvernement lebih maklum, bahwa, apabila segala mereka yang sakit terhantar itu hilang nyawanya, sebab merana menanggung sakit,... maka obat mujarab yang disimpan oleh dukun itu serta dukun itupun tak bergunalah bagi si sakit.
Padang, April 1902.
PENGAJAR DAN PENGAJARAN7
Pada awal bulan September 1900, waktu itulah mulai terhambur wartanya kian ke mari, bahwa tuan Ch. A. van Ophuijsen Inspecteur van het Inlandsche onderwijs di Padang, dianugerahi oleh J. m. m. Koningin der Nederlanden bintang: “Officier in de orde van Oranje Nassau”.
Bersama-sama dengan tuan Inspecteur yang tersebut, tuan J. L. van der Toorn, sekarang pensiun di Tanah Belanda dahulunya Directeur aan de Kweekschool voor Inlandsche onderwijzers di Fort de Kock, memperoleh bintang: “Ridder in de orde van Oranje Nassau".
Hal ini sungguh banyak memberi girang dan sukacita bagi penduduk Pulau Perca, terutama bagai guru-guru bangsa bumi putra!
Dengan kata ”semufakat” pada 8 September 1900, jam pukul 5 petang, sekalian guru-guru bangsa bumi putra di kota Padang, datanglah bersama-sama menjalang tuan Inspecteur Ch. A. van Ophuijsen di rumahnya, mengucapkan “selamat” dan “memperlihatkan sukacita” di hadapannya, laki is ri, anak-beranak!
Hari penjalangan itu, bagi guru-guru itu, tentulah menjadi suatu peringatan yang susah terlupa. Dan “keriangan masa itu”, niscaya selalu terukir-ukir di hatinya; karena,... sesudahnya tuan inspecteur menyerukan “banyak terima-kasih" bagai guru-guru itu, waktu itulah juga ia berkabar sebagai berikut ini:
a. Bahwa dengan ikhtiar tuan-besar Directeur O. E. en N.8 yang sekarang, daulat Gouvernement telah berjanji pula, siapa juapun, di antara guru-guru bangsa bumi putra, yang lebih rajin dan berusaha menjalankan jabatannya, kelak, akan dihiasi juga dadanya dengan “bintang", akan pembalas jasanya.
b. Tuan-besar Directeur yang tersebut, telah mengikhtiarkan lagi, supaya gaji guru-guru bangsa bumi putra, tidak berapa lamanya lagi akan dinaikkan oleh daulat Gouvernement!
Sepanjang timbanganku, tentu sukarlah kiranya bagai masing-masing guru y. t., akan memperoleh bintang itu!... 2 tahun sudah lamanya hamba perhatikan: “Di dalam beratus-ratus guru, berlipat ganda lebih banyak daripada pegawai yang lain, pada-pada tidak, hanya seoranglah baru guru di Jawa Tengah, pada tahun yang silam, yang telah mendapat bintang. Sedang Pegawai Gouvernement yang lain seperti: Inlandsche Hoofden, Jaksa-Jaksa, Menteri-Menteri d. l. l., selalu saja ada, yang mendapat “bintang", lebih-lebih bumi putra di Tanah Jawa.
Kecuali guru yang tersebut itu, semenjak pangkat guru untuk bangsa bumi putra diadakan, sampai sekarang, bertahun-tahun sudah lamanya, tak adalah seorangpun di antara mereka itu di seluruh Hindia-Belanda ini, yang pandai menjalankan pekerjaannya, hingga terhitung lebih rajin dan berusaha!
Tentu!... alangkah baiknya dan besar pahalanya, apabila tuan-tuan Pengarang Taman Pengajar9 sudi menaburkan di halaman “Taman Pengajar”, beberapa nasihat, cara bagaimana benar hendaknya guru-guru bekerja; mengusahakan dirinya menjalankan jabatannya, supaya menimbulkan sifat yang dinamai: lebih rajin dan lebih berusaha.
Sesungguhnya pada 1 Maret 1902 yang lalu telah datanglah aturan perubahan gaji guru-guru. Waktu itulah dapat diketahui seterang-terangnya: bukanlah sekalian guru-guru Hoofdonderwijzers10, Candidaat-onderwijzers11, Hulponderwijzers12 dan kweekelingen diadakan perubahan gajinya, tetapi hanyalah untuk Hoofdonderwijzers dan Candidaat-onderwijzers saja!
Dengan hal yang demikian, meskipun perubahan gaji, sebagai yang dikisahkan oleh tuan Inspecteur Ch. A. van Ophuijsen, telah datanglah,....jangankan akan menimbulkan sukacita dan keriangan bagai segala guru-guru di Hindia Belanda ini o tidak,... sekedar akan meneruskan sukacita sekalian guru-guru yang pergi menjalang tuan ini, pada tanggal yang tersebut, tak cukuplah; karena di antara mereka itu adalah yang berpangkat Hulponderwijzer. Sukacita mereka ini, tiba-tiba telah bertukarlah dengan dukacita!
Ya, dalam hal ini pasti segala keriangan dan sukacita atas perubahan ini, kepada guru-guru kepalalah terhimpunnya! Karena masing-masing, masih panas-panas, telah dapatlah merasai keenakannya.
Akan Candidaat-Onderwijzers, mendapat rasa kehilanganlah halnya, lebih-lebih C. O. yang telah 10 atau 12 tahun lamanya dengan kesempitan dan selalu berdukacita, menjalankan jabatannya, karena melihat untung baik angku-angku Hoofdonderwijzers itu!....3 tahun lagi kalau hamba Allah yang peranak, bolehlah menambahi anaknya 2 orang lagi, barulah boleh merasai kelak tambahan gaji f5 banyaknya; sama banyak dengan tambahan gaji Candidaat-Onderwijzers, yang baru. Alangkah kecut hatinya!
Sebenarnyalah, bahwa bagai hamba Allah, yang di puncak gunung jualah, yang mudah mendapat angin! Dan sukarlah jua bagai hamba Allah, yang di dalam lurah!
Aduhai, angku-angku Hulponderwijzers dan Kweekelingen! sabarlah angku-angku. Allah, maha kuasa. Daulat Gouvernement sampai adil dan murah!
Menulis Bahasa Melayu dengan Huruf Belanda.
Pada sangka kami sudahlah maklum kepada kebanyakan guru anak negeri di Hindia Belanda, bahwa sekarang telah dikarangkan oleh tuan Van Ophuijsen atas titah Gouvernement, sebuah kitab bernama “Logat Melayu”, pada menyatakan dalamnya, hukum menulis Bahasa Melayu dengan huruf Belanda, dan ada tertulis pula dalamnya, segala perkataan Melayu menurut eja, yang telah terpaku dalam hukum itu adanya; supaya diturut pada segala sekolah-sekolah anak negeri dalam Hindia Belanda.
Adapun yang terutama terkunci dalam hukum menyurat itu, ialah awalan “ka” dan “sa” ditulis “ke” dan “se”, dan selalu terhubung dengan kata-kata yang mengiringi dia; demikianlah juga halnya dengan kata “di”. Misalnya “kedalam”, “kenegeri”, “ketahui””, “serupiah”,”seorang”, “seribu”, di bawah, di hutan", dimakan" d. s. b. Hanya jikalau diiringi oleh huruf besar, maka dipergunakan tanda penghubung [-], seperti “ke-Semarang”, “se-Hektoliter”, di Yogyakarta” d. s. b. (Ajaib dalam hukum itu tiada ditentukan hal menulis kata si seperti sifulan, si-Hamzah!
Maka sebab ditulis orang ketahui" dan keluar", wajiblah ditulis orang juga „mengetahui" dan mengeluarkan".
Syahdan adalah terpaku pula dalam hukum menyurat itu eja segala kata yang bersalah-salahan ditulis orang, seperti “pun, mohon, pohon, buluh, daun d. s. b." Maka supaya berketentuan dan setuju tulisan orang, baiklah segala yang menulis melayu membeli Kitab Logat Melayu itu pada percetakan Gouvernement di Weltevreden.
“Taman Pengajar.”
Sengaja hamba petikkan rencana ini dari Taman Pengajar tahun IV, No. 2-1902 untuk s. b. Insulinde ini, moga bertambahlah jua masyhur dan faedah Kitab Logat Melayu itu, kian ke mari, baik di dalam atau di luar Tanah Hindia!
Seringkali kita dengar pitua dari orang-orang tua kita di Minangkabau, yang gemar memberi pengajaran kepada anak-cucunya: Melangkah tak selangkah sampai; manangbe' tak sakabe' are'.
Dan lagi: Indak ado gading nan tak ratak. Kalau ada gading yang tidak retak, .... .. gading itu konon bukan gading bertuah.
Pada hari yang dimuliakan, yakni hari lahir J. m. m. Koningin der Nederlanden, 31 Agustus 1902 ini, tuan D. Grivel, Inspecteur van het Inlandsch Onderwijs di Probolinggo, dulunya Directeur aan de Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers di Fort de Kock, telah mendapat anugerah pula dari J. m. m. Koningin, bintang Officier in de orde van Oranje Nassau.
Karena hal ini, niscaya ramailah guru bangsa bumi putra, baik di Jawa, baik di Sumatera yang turut bersukacita dengan tuan itu. Sekarang telah, tiga oranglah guru bangsa kulit putih, guru oleh anak bumiputra di Sumatera, yang mendapat bintang.
Padang, September 1902.
MASA DI TANAH BELANDA 1903-1910
BASO MINANGKABAU13
Maucu'-mahimbau kawan
Kan lah jadi mamang di Minangkabau: “Ko' basuo jo kecek lama', amuh ilang ribu jo ratuih”. Dimamang tulah nyato de' kito: kecek tulah ruponyo nan lama', nan disukoi urang didunie 'ko.
Ko' sama' pikiran, ko' risau hati, dapek dirintang, bulih dilipua jo kecek lama'. Sudaga mudo banyak tautang de' lama kecek. Iyo bana kecek lama' 'tulah nan aco' menyanyu'-mamabu'kan hati, maragukan kiro, manabi-kan cinto-kasih-sayang: kasih sabana kasih, dari mului' sampai di ati: kasih ditijo alai bulu.
De' bangso nan mamuliakan basonyo, kecek lama' 'tulah hiyasan baso". Dihiyasinyo kecek nan banyak: ba cincin mahiyasi jari, ba bungo mahiyasi sanggua.
Makin banyak urang pandai, mangkin banyak hiyasan-baso 'tu: bamacam, barupo-rupo. Bulih dipilih ma nan elo', ma nan buru'. Sia nan pandai mangecek lama', inyolah jadi juaro-pandai-bakato": 'ka pananti ale' datang, 'ka mambaleh patun urang, nan 'ka maangke' manjunjung sambah.
Ko' lawan nan datang, jo kecek-tajam disambui'nyo. Tajam keceknyo malukoi ati, maange'kan rumpun talingo; sabab tajam-kecek 'tu sabana tajam: tajam pado padang jinawi. Indak mamutuih kaki jo tangan, 'tapi hati jo jantung dihirih-disigainyo;
makan nan tida' tantu raso, tidua inda talalo'kan; tapaca' de'nyo paluh sani.
'Kamandape' urang nan pandai mangecek lama', tajam di tanah-kito, dalam saratuih maha sorang; tapi di tanah-tanah basa 'lah banyak, 'lah bulih ditunju'-dikako' kan.
De' bangso 'tu, sadonyo bulih dicuraikannyo dalam basonyo. Itulah mungko baso urang 'tu, mangkin lamo mangkin mulie.
Jaman kini - de' bangso nan 'lah mulie basonyo - 'lah taraso dinyo lama' idui'. Masui'nyo sampai. Citonyo lapeh. A juo ilimunyo, a juo kapandaiannyo, indak ado nan sio, baguno, bapaidah. Tio'-tio' bangso asing 'tu kini balomban-lomban na' mangambangkan basonyo. Sabab mangkin banyak urang pandai mangecek jo basonyo, mangkin murah sampai sagalo masui'nyo.
Ba' nantunlah pulo masui-sangajo angku Rivaï, salamo tingga di Belando. Dimuliakannyo Baso-Malayu, ba manating minya panuah; ba' manyangka balam tongga. Burua' kato urang, elo' katonyo, labih ranca' pado nan ranca'. Ko' tumbuah kecek tantang nantun, ba' cando lupo beliau ruponyo: awa' jauh dirantau-urang.
Beliau parajai Baso-Belando, Baso-Parancih, Baso-Jereman, Baso-Inggirih, na' mamparanca' Baso-Malayu... baso nan lanca dilama'-ditajamkannyo, baso inyi'-muyang-kito, baso pusako-kito-basamo di Alam-Tanah-Minangkabau.
Ba' usaho angku Rivaï 'tu ukannyo na' labih maanca'-anca', 'tapi: ba' mancancang lai balandasan, patul ditiru-dituladan.
Lie'lah sure'-kaba, sure'-carito bangso asing.... tio' hari, baturui' pakan, bakapanjangan kian kumari, pai mangabe'-mambuhua bangso. Di tapi awan langi' ijau, di punca' alun laui' lapeh, disigai-dicarinyo jua. Saroman, kato-nyo basamo-samo: namun baso manunju kan bangso.
Kito, ana-minangkabau, patui pulo ba' nantun. Iyo caro malayu-rian 'tu, aco' kito pakai, kito gunokan, 'tapi kecek nan manjadi darah-daging, nan 'ka paminta aie jo nasi, iyolah Caro-Minangkabau.
Amsterdam, December 1903.
BAHASA INDONESIA
Mak Uncu14 Memanggil Kawan15
Karena sudah menjadi mamang di Minangkabau: “Jika bertemu dengan cakap-cakap yang enak, bisa hilanglah ribu dan ratus”. Di mamang itulah nyata oleh kita: cakap-cakap itulah rupanya yang enak, yang disukai orang di dunia ini.
Jika suntuk pikiran, jika resah hati, dapat ditangani, bisa dilupakan dengan cakap-cakap yang enak. Saudagar muda banyak terutang dikarekakan cakap-cakap yang enak. Iya betul cakap yang enak, itulah yang sering menyanjung memabukkan hati, meragukan kira-kira, menerbitkan cinta kasih sayang: kasih yang sebenar-benarnya, dari mulut sampai ke hati: kasih yang dituju ke helaian bulu.
Karena bangsa yang memuliakan bahasanya, cakap-cakap enak itulah “hiasan bahasa”. Dihiasnya cakap yang banyak: bercincin menghiasi jari, berbunga menghiasi sanggul.
Makin banyak orang pandai, makin banyak hiasan bahasanya itu: bermacam, berupa-rupa. Bisa dipilih yang mana yang baik, mana yang buruk. Siapa yang pandai bercakap enak, dialah yang jadi “juara pandai berkata”: ke penanti pesta datang, akan membalas pantun orang, yang akan mengangkat menjunjung sembah.
Jika lawan yang datang, dengan cakap tajam disemburnya. Tajam cakapnya melukai hati, memanaskan rumpun telinga; sebab tajam cakap itu benarlah tajam: tajam daripada pedang jenawi. Tidak memutus kaki dan tangan, tapi hati dan jantung diiris disigainya; makan yang tidak kenal rasa, tidur tidak terlelapkan; terpecah olehnya peluh seni.
Mendapat orang yang pandai bercakap enak, yang pandai bercakap tajam di tanah kita, dalam seratus hanyalah satu orang; tapi di tanah-tanah bahasa telah banyak, sudah bisa ditunjuk dicekokkan.
Oleh bangsa itu, semuanya boleh dicurahkannya dalam bahasanya. Itulah sebabnya bahasa orang itu, makin lama, makin mulia.
Zaman sekarang, oleh bangsa yang sudah mulia bahasanya, telah terasa olehnya enaknya hidup. Maksudnya tersampaikan. Cita-citanya lepas. Apapun ilmunya, apapun kepandaiannya, tidak ada yang sia-sia, berguna, berfaedah. Tiap-tiap bangsa asing itu sekarang berlomba-lombaan ingin mengembangkan bahasanya. Sebab makin banyak orang yang pandai berbicara bahasa mereka, makin mudah sampai segala maksud mereka.
Begitulah pula maksud sengaja angku Rivai, selama tinggal di Belanda. Dimuliakannya Bahasa Melayu, seperti menenteng minyak penuh; seperti menjangkau balam tangga. Buruk kata orang, baik katanya, lebih bagus daripada yang bagus. Jika tumbuh cakap tentang itu, seolah lupa beliau rupanya: kita jauh di rantau orang.
Beliau pelajari Bahasa Belanda, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, tidak memperbaiki Bahasa Melayu… bahasa yang lancar dienak dan ditajamkannya, bahasa nenek moyang kita, bahasa pusaka kita bersama di Alam Tanah Minangkabau.
Seperti usaha angku Rivai bukannya lebih mengancang-ancang, tapi: seperti mencincang dengan landasan, patut ditiru taulandankan.
Lihatlah surat kabar, surat cerita bangsa asing,...setiap hari, berturut pekan, berkepanjangan kian kemari, pergi menngikat membuhul bangsa. Di tepi awan langit hijau, di puncak alun laut lepas, disigi dicarinya jua. Serupa, katanya bersama-sama: namun bahasa menunjukkan bangsa.
Kita, anak Minangkabau, patut pula seperti itu. Ini cara melayu-riau itu, sering kita pakai, kita gunakan, tapi cakap yang menjadi darah daging, yang menjadi peminta air dan nasi, ialah Cara Minangkabau.
Amsterdam, Desember 1903.
I. KEMAJUAN16
Tiap-tiap manusia yang sempurna pikirannya berkehendak akan “kemajuan". Ia percaya, yakin, ya, setengahnya telah merasai sendiri atau telah melihat dengan mata kepala, bahwa “kemajuan" itu untuk “hidup bersama" besar harganya; jasa dan faedahnya sukar dinilai. Sebab dalam kemajuan itu tidak saja tersimpul kesempurnaan memerintah, berdagang, berhutan tanah, tetapi tersimpul dalam kesempurnaan itu segala hal, segala perkara apa juapun, yang bertali dengan hidup bersama-sama.
Kekuatan, yang berguna akan menimbulkan sesuatu kemajuan, tak lebih dari satu, yakni “sama-sama bekerja", baik dengan otak, baik dengan anggota.
Kekuatan sama-sama bekerja ini, bila sempurna terjadi, amat berkuasa. Memang “ialah" yang berhak dan sanggup memiliki dan mengandung kemajuan dengan baiknya.
Celakanya: bila kekuatan sama-sama bekerja itu cerai-berai, kemajuanpun, seketika itu juga, pecah belah, berurat-berakar dalam lumpur silang-selisih; terjerumus dalam lembah kemunduran.
Pembaca tentu tahu, bahwa daulat Gouvernement senantiasa berusaha memajukan Tanah Hindia. Sayang usaha yang tersebut, karena ketiadaan kekuatan sama-sama bekerja dengan anak bumi, acap kali hilang di tengah, tak sampai ke tempat yang ditujui, yaitu: padang kemajuan.
Sayang! Kebanyakan anak bumi tak tahu, tak dapat melihat, tak dapat mudah mempercayai, karena tak cukup atau sama sekali tak mendapat keterangan, yang daulat Gouvernement berusaha memajukannya. Hal ini wajib terang bagi anak bumi.
Akan memajukan Tanah Hindia wajib sekali “usaha gouvernement + usaha anak bumi = satu haluan”, artinya sama-sama bergerak, ulas mengulas, bantu membantu, menuju kemajuan yang dimaksud. Hanya kedua usaha inilah, yang cakap melahirkan kekuatan perlu, yang boleh membangunkan kemajuan. Dan mustahillah kemajuan itu akan timbul, bilamana tiap usaha itu bekerja nafsi–nafsi.
Daulat Gouvernement yang selalu berusaha memajukan Tanah Hindia, walaupun usahanya terkadang jauh dari berkat, sekarang tentu bersukacita, karena melihat gerak anak bumi, yang sekonyong-konyong sadar mencari jalan kemajuan, dan mengerti maksud daulat Gouvernement. Di sana sini anak bumi sekarang mulai sadar dari tidurnya, ingat akan dirinya, yang ia manusia dan wajib mengikhtiarkan hidup sedapat-dapatnya, sebagai hidup manusia: berpikir, berusaha, dan bekerja, supaya hidupnya boleh terjauh dari sebagai selama ini: sia-sia, kurang berharga.
Siapa manusia yang sempurna akal, yang tidak menggelengkan kepalanya, bila membaca Tambo Zaman Kompani, memperhatikan betapa wujud Kompani dan betapa hal anak bumi masa itu?
Wujud Kompani tak lain daripada hendak memiliki hasil Tanah Hindia lebih lekas, lebih banyak, - lebih baik.
Hal anak bumi,... anak bumi wajib bekerja sekuat-kuatnya. Makan, minum, kesehatan bagi anak bumi, bukan perkara yang terutama; tetapi bekerja, bekerja, supaya hasil untuk Kompani dari sehari ke sehari berlipat ganda;... ini, perkara yang perlu.
Yang Zaman Kompani ini, untung telah menjadi tambo, dan berganti dengan Zaman Gouvernement, tak salahlah bila kita, anak bumi, membakar kemenyan membacakan doa selamat.
Bila Zaman Kompani masih hidup dan umurnya belum berkesudahan, niscaya tak pernahlah Tanah Hindia akan memperoleh kemajuan. Sebab hidup kompani dalam hidup bersama-sama dengan anak bumi memakaikan “taji tajam sebelah", memikirkan dan mengusahakan untung, “untuk diri sendiri"; sambil anak bumi tungkut telentang disuruh bekerja.
Siapa cakap berkata, hidup seperti hidup anak bumi yang tersebut., hidup seperti manusia!
Orang tani di Tanah Belanda tak pernah lupa lebih dulu memberi makan, minum dan memperhatikan kesehatan kuda-kudanya, sebelum binatang ini dibawanya ke ladang, disuruh bekerja.
Bila sebenarnya di sana sini kita, anak bumi, sadar, bangun, dari “tidur 300 tahun” yang lalu, wajiblah oleh si Bangun, tinggi dimuliakannya sukacita daulat Gouvernement yang tersebut di atas ini, dan disisipkan di hati kecil.
Sementara itu si Bangun janganlah bosan menjagakan sesamanya, yang masih tidur. Tak mau sekali, dua kali, tiga kali, sampai bangun. Kita, anak bumi, wajib bersama-sama dengan gouvernement berpikir, berusaha dan bekerja menuju “padang kemajuan”, dengan yakin dan setia, tulus ikhlas, terjual terbeli.
Bersama-sama dengan gouvernement kita, anak bumi, wajib berikhtiar, wajib maklum, bahwa akan memperoleh kemajuan Tanah Hindia bukannya perkara kecil, bukan perkara nafsi-nafsi; tetapi suatu perkara besar, perkara bersama, perkara anak bumi dan gouvernement. Sebab, supaya boleh timbul senang dan sentosa wajib tersimpul dalam “kemajuan" ini, kebajikan untuk dua pihak:
a. untuk anak-bumi;
b. untuk gouvernement.
Walaupun perkara itu sekian besarnya, niscaya boleh menjadi ringan, bila kita, anak bumi dan pegawai-pegawai gouvernement, putih dan hitam, pandang memandang17 sama-sama memikulnya. Kita, anak bumi dan pegawai gouvernement dalam hal ini, wajib sama berhak, menanggung berat dan ringan, sandar menyandar seperti aur dan tebing, sama-sama boleh memetik dan memakan hasil,... hasil yang dihamburkan “padang kemajuan.”
II. PERUBAHAN
Mari kita perhatikan bersama, suatu perubahan, yang telah terjadi di Perca Barat. Perkara rodi kopi. Akan jadi teladan. Siapa yang telah membaca karangan tuan mr. J. van Bosse hal tanaman kopi di P. Barat, tentu maklum, bahwa tanaman kopi seperti adanya, sebelum rodi kopi datang amat subur. Hasilnya sempurna dan mendatangkan aman bagi anak bumi.
Anak bumi masa itu bekerja dan berusaha dan berpikir, akan menyempurnakan hidupnya dan hidup kaumnya. Hidup mereka itu dengan hal begini... sungguh sentosa. Anak bumi mengerti sendiri, dengan tiada diperintah, bila ia wajib pergi ke kebun kopi, ke sawah, ke ladang pisang. Ia tahu bagaimana waktunya patut dibagi-baginya untuk pergi ke kandang kerbau dan sapi; ke sangkar ayam dan itik; ke tebat-ikan d.l.l.
Hal orang tani di Tanah Belanda sungguh seperti orang tani di Minangkabau, di masa itu. Kecuali, ia membayar belasting; tetapi si Tani Minangkabau, tidak. Ia tahu sendiri, bahwa ia berhak dan menanggung beban bagi tanaman dan ternaknya. Si Tani tahu, yang ia bersama-sama isi rumahnya akan dilanggar kelaparan, bila ia melupakan kewajibannya: berhuma, berternak.
Pikiran usaha dan kerja untuk tanaman dan ternaknya, semua terkandung dalam kebiasaannya, kemauannya; sekalian dapat dimajukannya sebagai citanya. Pemerintah ingatlah akan Departement van Landbouw, Handel en Nijverheid18 - cukup dengan kelengkapan dan pegawai-pegawainya senantiasa sedia membantunya dengan daya upaya, bilamana ia berkehendak bantuan. Sekalian ini diterimanya dengan percuma.
Rupanya percuma; sebetulnya tidak. Sebab, pemerintah maklum, memberi nasihat si Tani begini begitu, supaya ia maju dalam usahanya. Ini, suatu kewajiban bagi pemerintah untuk si Tani. Balasan pada si Tani, karena ia membayar belasting19. Inilah, suatu tanda yang anak bumi dan pemerintah nyata pandang memandang, bantu membantu menuju padang kemajuan
Belasting ialah tali tambatan yang kokoh, yang selalu wajib tinggal kokoh antara anak bumi dan pemerintah. Itulah sebabnya si Tani tak enggan membayar belasting, masing menurut kekuatannya, gedang kayu, gedang bahannya; kecil kayu, kecil bahannya.
Belasting perlu bagi tiap kerajaan. Cara bagaimanapun belasting dipungut, tak usah kita bicarakan. Yang harus kita ketahui, yakni mustahillah sebuah kerajaan boleh berdiri dengan selamat, dengan tiada memungut belasting. Mustahil! tak boleh jadi.
Belasting di zaman ini telah menjadi 'adat dunia, wajib diturut. Belasting sungguh bukan sedikit perlunya; tetapi amat besar, tidak saja untuk kerajaan-sendiri, tetapi juga untuk pemerintah serta kelengkapan dan pegawainya. Semua ini perkara uang, bukan sedikit. Uang ini wajib dikeluarkan dari perbendaharaan-negeri".
Dengan ringkas boleh kita pastikan maksud belasting terutama dua perkara:
a. pengisi perbendaharaan-negeri;
b. akan membebaskan dan memudahkan anak bumi dalam pekerjaan dan usahanya.
Inilah sebabnya si Tani Belanda tak pernah terikat dengan rodi jalan, rodi jaga d.l.l. Mata Pisau belasting telah memutuskah segala ikatan rodi ini dari leher si Tani. Si Tani berusaha sekarang bebas di ladang dan di kandang ternaknya. Inilah gunanya ia wajib membayar belasting. Ini adil dan patut.
Mari kita kembali ke perubahan di Perca Barat. Sekarang datang perubahan, perubahan no. 1, rodi kopi. Sekarang semua perkara tanaman ini diaturkan, dijaga, diperintahkan, tidak oleh anak bumi, tetapi oleh pegawai pemerintah.
Anak bumi sekarang tak perlu lagi berpikir dan berusaha; hanya wajib menurut perintah: bekerja; ini yang perlu. Berpikir dan berusaha, semua pulang maklum kepada pemerintah. Pemerintah aturkan dengan sempurna: apabila anak bumi merambah rimba, dijadikan kebun kopi; apabila menanam kopi; apabila membersihkan kebun kopi; apabila memetik buah kopi; apabila menjual kopi ke gudang-gouvernement; berapa ditetapkan harga kopi no. 1 dan no. 2; si Tani tak boleh menjual kopi, lain daripada kepada pegawai gouvernement yang tertentu d.l.l.
Sekalian aturan ini tak lain daripada suatu susunan muslihat akan penarik belasting dari anak-bumi. Tidak dengan jalan pendek seperti di Tanah Belanda umpamanya; tetapi dengan jalan panjang. Panjang dan singkat wujudnya belasting. Jalan panjang biasanya lebih banyak mengandung halangan daripada jalan singkat. Susunan muslihat yang tersebut pun tak luput banyak berhalangan. Pemerintah lebih baik memaklumi hal ini daripada anak bumi.
Tiap-tiap perubahan kalau baru-baru, semua baik lalunya. Demikian juga halnya dengan rodi kopi, perubahan no. 1. Mula-mula sebagai angin dari belakang: menteri atau opzichter der cultures tak lalai menjalankan perintah pegawai besar.
Sementara itu lahir pula rodi yang lain, yaitu: rodi sawah, rodi jalan, rodi jaga, heerendienst. Tiap-tiap rodi ini memang sempurna diaturkan oleh pemerintah sebagai rodi kopi. Dengan hal begini anak bumi rupanya amat senang, tak usah berpikir, berusaha; padalah, kalau terus menurut perintah, bekerja.
Rodi kopi yang tersebut telah dijalankan bertahun-tahun lamanya. Keadaan yang didapati oleh pemerintah dan anak bumi tiap tahun tak sama, tak kekal. Halangan ini dan itu akhirnya bertelanjang menontonkan dirinya, membelintang di tengah jalan, jalan ke padang kemajuan.
Sekarang bagaimana wajibnya lagi. Patutkah perubahan no. 1 terus dimajukan?
- Tidak.
Sesudahnya melihat keadaan yang tersebut, barulah pemerintah mengetahui, bahwa perubahan no. 1 tak baik, tak boleh dikekalkan. Sebab perubahan no. 1 terang sekarang, bukannya “kemajuan”. Terutama untuk anak bumi sekali-kali tidak, jauh daripada itu.
Pastilah demikian. Sebagai perubahan no. 1 itu memang tak baik, tak boleh kekal; sebab perubahan, yang demikian, merusakkan kewajiban manusia. Manusia tak berbeda: putih, kuning, hitam, hitam berkilat tidak saja hanya wajib tahu bekerja, tetapi wajib juga tahu menggunakan otaknya: berpikir; wajib tahu berikhtiar, berusaha.
Karena rodi kopi tak baik, sekarang diubah lagi oleh pemerintah. Rodi kopi dimatikan, diganti dengan perubahan no. 2, yaitu: anak bumi bebas menanam kopinya, seperti sediakala, tetapi membayar belasting.
Tatkala membicarakan “Indische begrooting voor het jaar 1909” di majelis tweede kamer tahun yang lalu, terutama oleh anggota kamar yang tersebut, tuan mr. C. Th. v. Deventer ramai dibicarakan perkara “heerendienst”20. Heerendienst terpandang jadi “suatu halangan” bagi anak bumi, yang mau hidup dengan kemajuan.
Sayang sekali, sampai sekarang heerendienst itu belum dapat dimatikan.
Perubahan no. 2 ini boleh jadi lebih baik daripada perubahan no. 1; asal heeredienst itu tak mengganggu; asal nyawa pikiran, nyawa usaha dan nyawa suka bekerja anak bumi masih menyala, masih hidup sebagai di masa yang lalu; tak padam, tak mati selama dalam himpitan, dalam tekanan perubahan yang pertama.
Bilamana ketiga nyawa ini bagi anak bumi masih sehat, pastilah perubahan yang kedua baik dan boleh kekal. Tiru teladan didapati di sana sini segenap dunia.
Sungguh sayang benar, bilamana ketiga nyawa itu sakit, tak mudah sembuh, apa lagi kalau lenyap dari bangsaku. Betapa keadaan yang akan diperoleh, tak lama waktunya boleh dilihat. Akan melihat buruk dan baik keadaannya, ini hanya perkara beberapa tahun: sungguh seperti perubahan no. 1, barangkali lebih lekas.
Terutama bila memperhatikan perubahan no. 1 cukuplah terangnya bagi kita, bahwa tiap manusia, bila bermain dengan sesuatu perubahan, wajib hati-hati. Jangan lekas dikira, disangka dipercayai: Perubahan itu suatu kemajuan. O, tidak selamanya. Perubahan boleh melahirkan salah satu dari dua perkara besar; yang satu dengan yang lain, berbeda seperti langit dan bumi.
Pertama boleh dilahirkannya: tambah-kerusakan; bila dengan lembut disebut: kemunduran.
Kedua boleh dilahirkannya: tambah kebajikan; bila dengan gembira disebut: kemajuan.
O, die verandering; wees voorzichtig er mee!21
III. VERBETERING
Verbetering, artinya tambah kemajuan.
Penulis ini bukannya sobat baik dari perubahan. Karena sepanjang tiliknya: perubahan acap kali “pepat di luar pancung di dalam”. Penulis terutama gemar kepada verbetering, sebab verbetering jauh lebih dipercayai, diyakini, dimuliakan daripada perubahan.
Verbetering dan kemajuan: seiring tak bertukar jalan. Kedua perkara ini tak berganggang; tetapi senyawa.
Tiap-tiap perbaikan bersandikan hal yang ada. Naik ke atas berjangjangkan hal-yang-ada. Hal yang ada inilah suatu hal yang sekarang dapat dilihat, boleh direnungi keadaannya. Hal yang-ada ini dinamai: “hal bermula”, yakni... “hal bermula", yang terpandang berat mengandung kebajikan = belum sempurna. Artinya hal bermula ini rusaknya, terang tak berat; dapat, boleh dibaiki. Dan bilamana kerusakan ini menjadi baik, disebutkan hal bermula tadi bertambah baik.
Lihat sekarang baik-baik:
Pada verbetering itu tumbuh sekarang kemajuan.
Demikianlah halnya bagi tiap-tiap verbetering. Jadi hasil verbetring bilamana verbetering sungguh terjadi tak lain daripada kemajuan. Inilah sebabnya, maka penulis ini tak berdua hati, gemar akan perbaikan.
Sekarang mari kita ambil suatu umpama. Sesuatu hal, yang hendak dibaiki, yang akan menimbulkan kemajuan.
Penulis ambil akan jadi umpama tak jauh dari capaiannya: hal landbouw di Perca Barat. Perkara landbouw, sebab ia sekarang dalam menuntut Ilmu orang tani. Di P. Barat, sebab ia anak minangkabau. Hal ini kuambil, hanya akan jadi umpama saja. Bila umpama ini baik, tentu mudah diajukan, didudukkan oleh masing pembaca dengan hal lain, baik di P.-Barat, baik di luar P.-Barat.
Wujud penulis dengan umpama ini hanya satu: menguraikan buah pikirannya, yang terasa dihatinya, kepada bangsanya, anak hindia. Lain tidak. Baik dipakai, buruk dibuang.
Sebelum kumulai dengan landbouw-perbaikan22 di P.-Barat, baik kuuraikan dulu dengan ringkas arti landbouw dan Departement van Landbouw di Betawi.
Landbouw yakni tanaman + ternak.
Beberapa tahun yang lalu, belum ada Departement van Landbouw di Insulinda, artinya pusat jala pumpunan ikan, tempat anak bumi bertanya, meminta pengajaran perkara tanam tanaman dan ternak, masa itu belum ada. Sebelum departement ini terdiri pemerintah maklum, bahwa perdiriannya suatu keperluan yang terutama untuk Tanah Hindia.
Sekarang Departement van Landbouw telah didirikan. Pendirian departement ini artinya Tanah Hindia diperbaiki, bukan diubah. Sebab apa yang ada di Tanah Hindia selama ini tinggal ada. Sekalian ini, sekarang bertambah dengan Departement van Landbouw.
Tambah kebajikan ini memang suatu kemajuan bagi Tanah Hindia. Ingatlah wujud departement ini betul sesuai dengan wujud Departement van Landbouw di Tanah Belanda; pembantu anak bumi dalam hal tanam menanam dan beternak.
Departement van Landbouw selalu berikhtiar memajukan tanaman dan ternak anak-bumi. Ini ikhtiarnya yang terutama. Demikianlah boleh dibaca suatu tanda yang terang dalam het koloniaal verslag van 1908:
“Ten einde gezonde denkbeelden omtrent den landbouw in Nederlandsch-Indië ingang te doen vinden, wordt vanwege het departement van landbouw, onder den titel "Beknopte gegevens over cultuurgewassen, hunne behandeling en ziekten", eene reeks artikelen bewerkt, die, zoowel in het Nederlandsch als in de inlandsche talen, ter landsdrukkerij te Batavia worden gedrukt.”
Artinya:
“Akan menunjukkan teladan yang sempurna tentangan landbouw di Tanah Hindia Belanda, dengan usaha Departement van Landbouw, sekarang disiapkan bukan sedikit karang-karangan, yang dinamai ”Keterangan ringkas tantangan tanam-tanaman, daya upaya dan penyakitnya”. Karangan-karangan ini dicetak di percetakan gouvernement di Betawi; tidak saja dalam Bahasa Belanda, tetapi juga bahasa-bahasa anak bumi."
Kita kembali lagi membicarakan umpama yang tersebut di atas: landbouw-verbetering di P. Barat. Mula-mula kita perhatikan tanam tanaman, kemudian baru ternak.
Tanaman di P.-Barat, yang terutama perlu bagi anak bumi ialah: padi. Di seluruh P.-Barat boleh dikatakan anak bumi rata bertanam padi, baik di sawah, baik di ladang. Tanaman padi bagi anak bumi suatu tanaman biasa, tanaman pusaka, turun temurun dari nenek moyang kepada anak cucu; telah berpuluh, ya telah beratus tahun. Dari dulu sampai sekarang.
Nasi bagi anak bumi di sini sama artinya dengan roti bagi anak bumi di Tanah Belanda umpamanya. Kekurangan, ketiadaan padi menyebabkan anak bumi P.-Barat tak cukup makannya, kelaparan. Nasi menjadi makanan anak bumi yang terutama, tak heran. Dengan padi seakan-akan anak bumi sehidup semati.
Sekian ratus tahun lamanya anak-bumi telah bertanam padi,.... sekian ratus kali pula anak-bumi telah “mengerjakan sawahnya, menggunakan padi buat tampang, memungut hasil sawahnya”.
Bila kita perhatikan bagaimanakah halnya anak bumi:
No. 1. mengerjakan sawahnya;
No. 2. menggunakan padi buat tampang;
No. 3. memungut hasil sawahnya pada tahun ini;
pada tahun yang lalu; pada tiga tahun yang lalu; pada sembilan tahun yang lalu; pada sebelas tahun yang lalu; pada 25 tahun yang lalu; pada 52 tahun yang lalu; ya, pada 53, 54,... 100 tahun d.l.l.; d.l.l. tahun yang lalu? Berikut ini jawabnya.
Pertama: hal mengerjakan sawah “senantiasa sama halnya;
Kedua: hal menggunakan padi buat tampang “senantiasa sama halnya”;
Ketiga: hal memungut hasil sawah “senantiasa sama halnya".
Sekian lamanya “senantiasa sama halnya”, artinya sekian lamanya hal itu:
a. tak pernah dibaiki;
b. tidak diubah.
Tidak diubah, baik. Ini lebih beruntung kalau dibandingkan dengan “diubah”. Sebab anak bumi dan padi, seperti diterangkan tadi, seakan-akan sehidup semati. Bilamana tanaman padi ini tiba diubah oleh anak bumi dengan tanaman lain, tanaman teh umpamanya, sesuatu tanaman baru, yang pasti boleh dikerjakan oleh anak bumi, kalau ia mau, karena mendengar pidato (lezing) tuan A atau tuan B, yang mengabarkan dengan nyata, bahwa tanaman baru ini boleh mendatangkan banyak untung = uang..... niscaya segala uang pendapatan anak bumi segera masuk tercurah ke dalam kantong “saudagar beras datang". Sebab, anak-bumi 2 - 3 kali sehari wajib mengenyangkan perutnya dengan nasi, beras dibeli, bukan padi sawahnya; tidak dengan kina dan teh. Kina dan teh boleh mendatangkan uang bagi anak bumi. Tetapi padi, kesentosaan.
Perubahan yang demikian wajib dijaga, dihikmati sungguh oleh anak bumi, yang sungguh bangun, sadar akan dirinya, cinta akan diri sesamanya. Di sini lebih perlu lagi diingat petuah nenek moyang kita, jangan yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berciciran.
Tanaman padi, ini no. 1, ini yang terutama. Selama padi dan anak bumi masih sehidup semati, wajib tanaman padi, tanaman terutama dan tinggal senantiasa terutama bagi anak bumi. Anak bumi mudah mendapat kesukaran, kalau tiba diubah, digantinya dengan tanaman lain.
Karena tanaman padi bagi anak bumi tanaman perlu, wajib tanaman ini, selalu halnya dibaiki, dimajukan menurut jalan perbaikan.
Tanaman padi di P.-Barat berkehendak tambah kebajikan. Telah lama, telah bertahun-tahun di muka tahun ini, tahun 1909. Sayang tanaman ini tak pandai berkata! sebab itu anak bumi tak tahu, tak merasai hal ini. Anak bumi tak melihat. Tetapi pemerintah,... pemerintah telah lama tahu, telah bertahun-tahun sampai sekarang. 't Koloniaal verslag menerangkan hal ini tiap-tiap tahun. Demikian umpamanya disebutkan dalam verslagen23 1907 & 1908.
| Tahun | Beras asing masuk di P. Barat |
|---|---|
| 1905 | 14467042 K.G. |
| 1906 | 9539698 K.G. |
| 1907 | ......... K.G.24 |
Angka-angka ini, pun dalam karangan tuan Dr. Kamerling, tiap-tiap tahun menunjukkan kebesarannya, senantiasa beribu-ribu.... beribu-ribu K.G. beras asing beras datang masuk di P. Barat.
Lihat lagi harga beras:
Tahun 1906, di P. Barat f 2.50 - f 12 sepikul.
Tahun 1907, f 3 - f 11 sepikul
f 2.50 atau f 3 tidaklah sekian mahal untuk anak bumi. Tetapi f 11 dan f 12, ini suatu adzab, suatu sengsara baginya.25
Perhatikan, baca sekali lagi keadaan yang terwarta dalam karangan ini. Bila pembaca mengerti baik, terang seperti 2 x 2 = 4, apa yang terurai dalamnya, niscaya penglihatan tuan, sungguh sama dengan pemandanganku, yakni anak bumi bersama-sama dengan pemerintah wajib, lebih lekas, lebih baik, memaklumi, meyakini, bahwa tanaman padi di P. Barat sungguh-sungguh berkehendak, dahaga, lapar, akan tambah kebajikan.
Tentu dengan maksud, supaya beras asing, beras datang berkurang, tak masuk lagi; dan harganya--harga beras--jangan sampai "semahal tuba"!
Tidak padi saja, yang terutama ditanam oleh anak bumi. Ada dua tiga lagi tanaman yang lain, meskipun tak sama utamanya dengan padi: di sana sini di Perca Barat ditanam kopi, tembakau, kelapa d.l.l. Masing-masing tanaman inipun, bila ditilik sebagai “keadaan tanaman padi”, belum sempurna. Masing-masing dahaga akan "verbetering".
Yang kurang lagi utamanya daripada tanaman-tanaman no. 2 ini, lebih banyak, bermacam-macam umpamanya kacang tanah, bijan d.l.l., sekalian ini masuk “usaha no. 3”.
Mula-mula wajib diusahakan "verbetering" tanaman padi; kemudian kopi, tembakau d.l.l. Kemudian baru no. 3.
Tanaman kacang tanah, bijan d.l.l. umpamanya, tak sedemikian besar faedahnya. Sekarang di waktu ini belum. Jauh kurang faedahnya daripada tanaman padi.
Padi bagi penulis: gajah dipelupuk mata; tanam-tanaman yang lain: tuma di seberang lautan.
Sekarang “verbetering”, hal apa bagi tanaman padi di Perca Barat wajib dibaiki, yakni akan memperoleh “hasil” lebih sempurna, supaya anak bumi boleh terjauh dari bahaya kekurangan beras.
Padi ditanam di Perca Barat, di sawah dan di ladang. Kedua tempat ini ialah lapangan tanah. Bila tanah itu tak baik tak baik karena ini atau karena itu, kurang sempurna dibeginikan atau dibegitukan niscaya hasil tanah itu tak kan sempurna; jauh kurangnya daripada yang diharap. Inilah sebabnya anak-bumi wajib tahu mengerjakan sawah ladangnya dengan sempurna, makin lama bertambah baik; jangan senantiasa sama halnya.
Akan menyempurnakan hal tanah untuk menanam tanam-tanaman tidak padi saja adalah tiga muslihatnya:
no. 1 grondbewerking (ini wajib).
no. 2 grondverbetering (ini kalau perlu).
no. 3 grondbemesting (ini kalau tanah tak subur).
No. 3 grondbemesting artinya “tanah berpupuk”. Penulis uraikan ini dulu, supaya anak bumi lekas tahu, bahwa untuk P. Barat "bemesting" sampai sekarang belum terlalu perlu.
Dengan ringkas penulis sisihkan grondbemesting ini atas 2 macam:
a. Tanah dipupuk dengan tahi-tahi, sampah-sampah daun dan ranting-ranting yang telah rapuh, telah tua.
b. Tanah dipupuk dengan pupuk bantuan (hulp-meststoffen), yakni beberapa jenis pupuk, yang dikerjakan, disiapkan di pabrik.
Pupuk macam A mudah disediakan, dikerjakan, digubalakan oleh anak bumi. Akan memperolehnya boleh dengan menghematkan uang di pinggang. Anak bumi pun telah biasa menggunakan; sudah teradat.
Sekarang bilamana anak bumi hendak tahu “tambah kebajikan” tentangan mempergunakan pupuk macam A ini, ingatlah, bertanyalah kepada Departement van Landbouw atau kepada gouvernements-landbouw-adviseur. Dari masing-masing boleh didapat keterangan-keterangan yang sempurna.
Keterangan-keterangan untuk macam B pun boleh dapat. Tetapi bagi anak bumi Perca Barat belum perlu, sekarang belum perlu. Sebab:
Pertama. Perca-Barat tanahnya dengan ringkas dikatakan "subur". Artinya tanah P.-Barat masih banyak mengandung berjenis-jenis zat, makanan tanam-tanaman; selama zat-zat ini masih cukup dalam tanah tak perlu anak bumi mengeluarkan uangnya akan membeli “pupuk bantuan”. Uang ini, kalau ada, lebih baik digunakan untuk pembeli beberapa macam perkakas mengerjakan tanah, yang boleh melekaskan dan meringankan pekerjaan.
Kedua, bila anak-bumi menggunakan “pupuk bantuan” ini, wajib anak bumi sendiri sampai cerdik dan paham:
a. dalam hitung-menghitung "pupuk" yang digunakan untuk tiap-tiap bidang tanah; harganya; mengetahui berapa banyak zat ini dan berapa banyak zat itu dalam pupuk itu; mengetahui lebih hasil-kira, yang didapatnya karena pupuk itu; harga hasil ini adakah jauh lebihnya dari harga pupuk; harga kepayahan; d.l.l.
Semua ini wajib dilakukan dulu di proefvelden artinya: kebun, atau sawah percobaan; beberapa kali; beberapa lamanya, bertahun-tahun; oleh mereka itu yang paham, oleh.... ya, oleh “ikan”, tidak oleh segala yang bersisik.
b. cakap mengetahui buruk baiknya atau sejati palsunya “pupuk bantuan” itu. Masa ini tidak intan saja yang palsu dibuat, tetapi “pupuk bantuan” pun mengandung penyakit ini. Akan mengetahui ini, berguna beberapa pengetahuan.
c. macam tanah; jenis tanaman.
Bagi ketiga perkara ini berguna timbangan halus, timbangan mereka itu, yang berpengetahuan, yang telah seringkali menjalani.
Ketiga, sebelum anak bumi bermimpikan menyingsingkan lengan bajunya, siap akan menaburkan "pupuk-bantuan", wajib anak-bumi sadar, percaya akan dirinya sendiri — bukan calak-calak ganti asah — yang tanahnya telah dikerjakannya dengan baik, sepanjang-panjang tali, sekenjang-kenjang banting.
Akan mengetahui ini wajib anak bumi paham betapa muslihat:
No. 1 grondbewerking artinya "kerja tanah". Tanah untuk tanaman wajib dipangkur, dibajak, dibalik d.l.l.; sekian dalamnya, sedemikian halnya, sehingga "teellaag = lapis tanah, tempat tanaman tumbuh tidak terpadat, te hard dan tidak berderai, te los; masing-masing urat, terutama urat halus, mudah menjalar kian kemari mencari makanannya dalam teellaag itu. Air, udara dan panas, warmte, yakni tiga perkara yang amat perlu bagi kesempurnaan hidup tanam-tanaman,..... ketiganya wajib sempurna, sedia, dalam lapis itu. Inilah faedahnya yang terutama sekali pada "grondbewerking".
Sekalian ini baru boleh sempurna, bila kerja tanah baik dilakukan. Akan mendapatnya, lain dari pengetahuan, berguna beberapa macam perkakas pemangkur, pembajak, pembalik, penggiling, penyikat d.l.l., yang baik, kokoh dan sigap.
Masa ini, baik perkara mengerjakan tanah; keterangan macam-macam tanah; baik rupa perkakas yang sigap, yang kurang sempurna dipakai; sekalian ini, boleh didapat sekarang keterangan-keterangannya pada pemerintah, pada Departement van Landbouw di Betawi, asal anak bumi sudi memintanya.
No. 2 grondverbetering artinya "tambah-kebajikan-tanah".
Tadi sudah diterangkan, bahwa dalam tanah adalah bermacam-macam zat, makanan tanam-tanaman. Diterangkan juga, yang teellaag wajib dikerjakan dengan baik, supaya lapis tanah itu mudah ditembusi air, udara dan panas. Ketiadaan makanan dalam tanah dan kekurangan salah satu dari 3 perkara ini, menyebabkan tumbuh tanaman merana. Bilamana salah satu dari 3 perkara ini berlebih-lebihan pun tak baik; tumbuh tanaman menjadi sengsara. Jadinnya terkurang tak baik, terlebih tak elok.
1. Misalkan air dalam tanah terbanyak. Hal ini menyebabkan:
a. udara dalam tanah terkurang;
b. panas dalam tanah terkurang.
Akan menjauhkan bahaya ini wajib dicari akal, supaya air yang lebih, jangan tergenang dalam tanah itu, tetapi lekas hanyut. Ini sebab diadakan pada tanah itu bandar, parit atau drainage — pemboloh dalam tanah, d.l.l., supaya air yang lebih itu mudah hanyut dan menghilir.
2. Misalkan lagi air kurang. Hal ini menyebabkan:
a. udara dalam tanah terbanyak;
b. panas menunjukkan kuasanya, sehingga tanah di sana sini rengkah.
Bahaya ini wajib dihambat, jangan sampai datang. Ini sebabnya diadakan pada tanah itu bevloeiing = air dari tempat jauh dihilirkan dengan pemboloh, atau dengan bandar ke tanah kering itu.
Bilamana tiap-tiap upaya, yang tersebut di atas ini dilakukan dengan sempurnanya, disebutkan tanah itu, telah bertambah baiknya.
Gangguan air, udara, panas, walaupun teellaag telah dikerjakan dengan sebaik-baiknya, acap kali didapati; terkadang sesuatu halangan besar.
Bagi grondverbetering tidak saja berguna 'ilmu, tetapi juga pikiran-tajam, akan mencari upaya yang ringkas, tak mahal dan baik.
Pada Departement van Landbouw keterangan-keterangan hal ini boleh juga diperoleh.
Wujudnya grondbewerking, grondverbetering, dan grondbemesting akan menyempurnakan hasil tanah, …. demikian sempurnanya hingga mudah diperoleh sebanyak-banyaknya boleh didapat.
Bila ini oleh anak bumi di P.-Barat didapati, niscaya jumlah hasil tanahnya lipat ganda daripada yang sudah. Beras asing segera kan hilang lenyap. Beribu-ribu K.G. beras P.-Barat boleh dijual ke tanah lain. P.-Barat, kalau demikian, tak mudah akan dilanggar oleh bahaya kelaparan, bahaya besar.
Bilamana lagi padi yang ditaburkan di kweekbedden = pesemaian, tidak diambil sembarang saja, tetapi dipilih, dihindang, ditampis, menurut keterangan dari Departement van Landbouw, niscaya padi yang diperoleh kelak, tidak saja cukup banyaknya, tetapi macamnya pun, macam baik, macam no. 1.
Jadi, peri menggunakan padi untuk pesemaian, bila anak bumi hendak "tambah-kebajikan", janganlah: senantiasa sama halnya.
Di sini, umpama tanaman padi di P.-Barat kutamatkan. Dengan ringkas dapat penulis berkata sekarang: sebagaimana segala sesuatu yang terurai tentangan tanaman padi, usaha mencari verbetering, sedemikian juga wajib, dapat dilakukan pada tiap-tiap tanaman lain; masing-masing pastilah menurut layaknya.
Sekarang kita bicarakan lagi:
Veeteelt = ternak.
Akan jadi umpama, penulis ambil: ternak kuda, di P.-Barat. Umpama ini penulis uraikan dengan seringkas-ringkasnya.
Dalam koloniaal verslag 1907 dan 1908 hanya boleh kita pungut, bahwa pemerintah ada mengusahakan "kemajuan ternak kuda jawi", di sana sini, di Tanah Hindia. Tempat-tempat ini belum banyak.
Usaha pemerintah buat membaiki ternak kuda dan jawi, ialah dengan menggunakan binatang jantan dari tanah asing: a. kuda Sandelhout, kuda Arab, kuda Australis, b. sapi Benggala. Ternak sebagai ini, nyatalah binatang jantan dan betina tak sama asalnya; bila diperoleh anaknya, dinamai kruisingsproduct.
Kruisingsteelt ialah sesuatu dari usaha-usaha, akan membaiki ternak. Usaha yang lain: "de teelt in eigen ras" artinya ternak, yang binatang jantan dan betina sama asalnya. Dengan jalan ini boleh juga didapati kebajikan kemajuan ternak. Ternak begini belum diusahakan oleh pemerintah untuk anak bumi.
Departement van Landbouw di Tanah Hindia sampai sekarang, terutama mengusahakan kebajikan tanam-tanaman; penyakit binatang. Kebajikan untuk ternak, meski di Tanah Jawa masih sedikit; apalagi di tanah-tanah di luar Tanah Jawa, tentu bertambah kurang.
Kewajiban "veeteelt" di Tanah Hindia terserak kepada tuan-tuan dokter binatang. Tetapi di Tanah Belanda terserah kepada tuan-tuan landbouwleeraar26, yang kewajibannya boleh disamakan dengan tuan-tuan landbouwadviseur27 di Tanah Hindia.
Kepada tuan adviseur ini tak dapat anak bumi di Tanah Hindia memperoleh keterangan perkara ternak, sebab bukan jabatannya. Tuan-tuan landbouwadviseur ini hanya, menurut keterangan yang penulis terima dari ambtenaar bij het Ministerie v. Koloniën, afdeeling landbouw, di Tanah Belanda, mengusahakan perkara cultures = tanam-tanaman saja.
Veeteelt dan cultures terpandang di Tanah Hindia dua perkara nafsi-nafsi; tetapi di Tanah Belanda keduanya terhitung satu dengan nama: landbouw.
Sebab perkara ternak amat sedikit diusahakan di Tanah Hindia, baik oleh anak bumi, baik oleh pemerintah, tak heranlah, yang ternak di Tanah Hindia belum ada kemajuannya.
Marilah kita perhatikan sekarang ternak-kuda di P.-Barat; akan jadi umpamanya.
Barangkali lebih baik dulu penulis salin buah pikiran tuan N. van Wingen:
"Men mag gerust zeggen dat een Javaan of Maleier" geen flauw idee heeft wat een paard is, wat het toekomt en nooit dit dier zal leeren begrijpen; men zou geneigd zijn om op te merken, dat daarvoor beider karakter te veel uiteenloopen. Verstand van paarden, in den zin dien wij daaraan hechten, heeft hij niet. Haarkringen of haarwervels op 't voorhoofd, den buik, de heupen, in 't kort op alle lichaamsdeelen, zijn de teekens waaraan het voortreffelijke paard is te herkennen. Het geloof aan deze teekens is vrij wel door geheel Indië verspreid. Waarom zouden de paarden ze hebben, als het niet was om hunne deugden en gebreken te doen uitkomen? En zoo ziet men het verschijnsel, dat een Inlander meer geld zal geven voor een knol met een gunstig teeken, dan voor een werkelijk goed gebouwd paard, dat in zijn oog een slecht kenteeken draagt" en hem dus zou blootstellen aan allerlei onheil. (a)
Het paard is er dus volgens den Inlander om den mensch te dienen, maar om in ruil voor deze diensten eenige zorg aan het dier te besteden, daarvan wil hij niets weten. (b)
De paarden voor de karretjes gespannen, de rijtuig paarden dus, worden ook al niet beter gereden en behandeld. Van voorafgaande dressuur is geen sprake. Een goed koetsier is de Inlander al even weinig als een goed ruiter. Zweepslagen, rukken aan teugels moeten ook hier de bedoelingen van den heer en meester duidelijk maken". (c)
Siapa tahu barangkali karangan ini dibaca juga oleh orang tani Minangkabau; ini sebabnya buah-pikiran tuan luitenant ini saya terjemahkan dengan Bahasa Minangkabau:
(a) “Toempoe tapé boelih dikatokan, oerang-djawo atau oerang-malajoe inda' sapindji' djoeo mangarati doh, a nan dinamokan koedo, dan bagimano kawadjipannjo. Sakaliannjo 'toe inda' 'ka panah oerang 'toe tahoe doh. Kalakoean oerang-djawo djo oerang-malajoe, bake koedo, hanjo roeponjo sadjo nan banja' balainnjo.
“Ingétan bake koedo, saroepo kito inda' ado dinjo doh. Poesa-poesa di kapalo, di paroei', di paho, pendeknjo: di sagalo anggoto, tando-tando 'kolah nan manoendjoekkan bakenjo koedo nan sarantja-sarantja-njo. A paidahnjo moengko disimpannjo koedo, ko' inda' 'ka manantoekan toeah-tjilakonjo? Ikolah sababnjo moengko panah boelih dilihé anak-boemi labih soeko mamaïkan pitihnjo pambali koedo-patah-pinggang, asa laï elok poesa-poesanjo, daripado pambali koedo nan sabana njo elo' badannjo, tapi batando boeroek; koedo nan batando boeroek 'ko bakenjo mamboeka'kan pintoe sangsaro roepo-roepo.”
(b) “Dalam pikiran anak-boemi, koedo paidah njo'hanjo 'ka diratja' manoesia; tapi mamiarokan-njo aga' saketé, 'ka pambaleh djaso koedonjo, aloen katjang 'ka amoeh anak-boemi doh.”
(c) “Aloen kedjadi koedo-padati, koedo-bendi, balabihan bana dipagosnokannjo, indak sanonoh didjagonjo doh. Koedo baroe, 'ka dipakai, diadjanjo moelo2, indak panah. Koesia atau si Paratja'-koedo nan bahati santoen, djarang basoeo.
Bacamboei’ inda’ bahinggo, baranggoei’kan tali-kakang, goenonjo ‘toe ‘ka pambari tahoe kahanda’ si Koesia atau si Paratja.
Terjemahan Bahasa Indonesia:
(a) "Tumpu tepat boleh dikatakan, orang jawa atau orang melayu tidak seinci jua mengerti, apa yang dinamakan kuda, dan bagaimana kewajibanya. Sekaliannya itu tidak akan pernah orang tersebut tahu. Kelakuan orang jawa dan orang melayu seperti kuda, hanya rupanya saja yang banyak bedanya.
Ingatan mengenai kuda, seperti kita28 tidak ada pada diri mereka. Pusar-pusar di kepala, di perut, di paha, pendeknya: di segala anggota, tanda-tanda inilah yang menunjukkan rupa kuda yang sebaik-baiknya. Apa manfaatnya sehingga disimpannya kuda ini, jika tidak untuk menentukan tuah celakanya? Inilah sebabnya maka pernah bisa dilihat anak bumi lebih suka menggunakan uangnya membeli kuda patah pinggang, asal baik pusar-pusarnya, daripada membeli kuda yang sebenar-benar baik badannya, tapi bertanda buruk; kuda yang bertanda buruk ini rupanya membukakan pintu sengsara rupa-rupa.
(b) “Dalam pikiran anak bumi, kuda faedahnya hanya untuk diraca manusia; tapi memeliharanya agak sedikit, untuk membalas jasa kudanya, belum ada terniat oleh anak bumi”
(c) “Belum terjadi kuda pedati, kuda bendi, berlebihan sekali dipakainya, tidak senonoh dijaganya. Kuda baru, akan dipakai diancanya mula-mula, tidak pernah. Kusir atau si Peraca kuda yang berhati santun jarang ada."
"Bercambuk tidak berhingga, direnggutkan tali kekang, gunanya untuk memberi tahu kehendak si Kusir atau si Peraca."
Memperhatikan buah pikiran tuan N. van Wingen ini, dapatlah pembaca mengira-ngirakan berapa jauhnya kemajuan ternak kuda, tidak di P.-Barat saja, tetapi di Tanah Hindia.
Penulis suka membenarkan, bahwa sebagian besar “buah pikiran” itu sungguh benar. Penulis berbesar hati dan tak kurang terima kasih kepada tuan yang tersebut, karena ini menunjukkan dengan nyata dan benar, tidak kemajuan, tetapi kemunduran bangsaku.
Kita, anak bumi, tak usah malu, tak usah memerahkan rumpun telinga mendengarnya. Ini tidak berguna, tidak menolong, tak dapat membawa anak bumi ke jalan yang baik; sedang yang benar tinggal benar, tetap benar.
Yang lebih berfaedah bagi anak -bumi menyisipkan buah pikiran itu dalam hatinya; sambil berusaha dengan sabar, sedapat-dapatnya akan membuang segala sesuatu yang buruk, yang hina, yang menjatuhkan bangsa kita. Bila demikian kita, anak bumi, berusaha, bantu-membantu dengan pemerintah, niscaya kehinaan ini dalam beberapa lamanya dapat dihilangkan. Tuan N. van Wingen - mau tak mau - pasti akan menarik buah pikirannya kembali, yang mengatakan: "dat een Javaan of Maleier.... nooit dit dier (kuda) zal leeren begrijpen".29
Penulis harap, yang ia kelak akan berkata: “Tot mijn genoegen zie ik nu, dat ik mij, in mijn jongeren tijd, ter beoordeeling van den inlander vergist heb. Een Javaan of een Maleier kan het dier (kuda) wezenlijk leeren begrijpen, mits hij zóó opgevoed is als zijn blanke broeder.”30
Bangsaku yang terhormat, sekalian ini perkara usaha dan pengetahuan. Sekalian ini biarpun tak mudah; tetapi dapat dipelajari, dilakukan.
Hal landbouw di Tanah Belanda sekarang sekian majunya, masyhur ke mana-mana, terjadi hanya dalam 25 tahun, seperempat abad. Dalam 25 tahun itu apa lagi sekarang, sebab faedahnya telah memancar terang benderang anak bumi dan pemerintah berpikir, berusaha, bekerja, sama sungguh-sungguh, seperti aur dengan tebing. Masa 25 tahun yang lalu, hal landbouw Tanah Belanda, tak banyak selisihnya dengan hal landbouw anak bumi di Tanah Hindia masa ini. Ini sendinya harapanku, "dat de heer N. van Wingen zich vergist zou hebben."31
Kruisingsteelt32, masa ini ialah suatu jalan yang terutama baik akan memajukan sesuatu ternak. Ternak menurut jalan ini sepanjang pikiran penulis tak dapat dikembangkan dengan mudahnya di mana-mana saja di Tanah Hindia, di mana anak bumi berkehendak kemajuan ternak. Tetapi boleh terjadi pada beberapa tempat, di mana menurut kehendaknya pemerintah; umpamanya di Bandung, Payakumbuh d.l.l.. Untuk tempat ini sebab sedikit cakaplah pemerintah mengadakan sekian banyaknya kuda sandelhout33 atau sapi benggala dan dokter binatang, yang akan jadi penunjuk jalan.
Tetapi di segala tempat, di mana-mana saja di Tanah Hindia, di mana anak bumi berkehendak kemajuan ternak..... mustahil, tak boleh jadi; sebab:
a. Pemerintah wajib mengeluarkan uang pembeli kuda sandelhout dan sapi benggala amat banyak, berlipat ganda daripada sekarang.
b. Penjagaan, keharusan bagi kruisingsteelt ini bukan sedikit, tak mudah dikerjakan anak bumi, kalau tidak dengan bantuan dokter binatang.
c. Jumlah dokter binatang di Tanah Hindia wajib dilipat gandakan. (Tanah Hindia, yang sekian besarnya mempunyai dokter-dokter binatang amat sedikit. Jumlah dokter binatang di Tanah Hindia sekarang, kira sama banyaknya dengan jumlah dokter binatang di provincie Gelderland, di Tanah Belanda).
Ketiga perkara ini bukannya halangan kecil.
Sebab itu sepanjang pikiran penulis, supaya perkara ternak lebih mudah dimajukan sama rata di mana-mana pun di Tanah Hindia, jangan dilupakan mengajar anak bumi berusaha dengan: de teelt in eigen ras, memperternakkan binatang yang ada bagi anak bumi sendiri, yang mudah diperolehnya dengan tidak mengganggu uang dari kas negeri.
Untuk menyempurnakan hal ini, terutama bagi anak-bumi, berguna bermacam-macam keterangan:
1. Tanda ternak yang baik dan buruk;
2. Maksudnya binatang itu diternakkan, umpamanya:
I. Kuda:
a. akan jadi kuda tunggang;
b. akan jadi kuda kereta, bendi d.l.l;
c. akan jadi kuda beban
II. Jawi (Sapi):
1.vleeschkoe (sapi menghasilkan daging);
2.melkkoe (sapi menghasilkan susu);
3.vleesch-melkkoe (sapi menghasilkan daging dan susu);
4. werkkoe (sapi penarik-beban)
III. Kerbau: D.l.l
3. Di mana dan bagaimana ia patut berusaha;
4. Dan lain-lain keterangan yang perlu.
Sekalian ini sungguh sama halnya sebagai untuk tanam-tanaman, cultures.
Bangsaku yang terhormat! bilamana kepentingan karanganku ini tuan renungi baik, mengertilah tuan, bahwa hal landbouw anak bumi di P.-Barat, belum ada kemajuannya; banyak yang boleh dibaiki, dibawa ke padang kemajuan.
Penulis kira, tidak saja perkara landbouw, tetapi perkara, yang lain pun, demikian juga boleh dikatakan.
Hanya suatu perkara yang dapat penulis pastikan:
Anak bumi sekarang mulai sadar, bangun dan dengan usaha pemerintah telah berdiri di muka pintu kemajuan!
Sebab itu tetap sadarlah kita sekalian; marilah kita bersama-sama dengan pemerintah berpimpin tangan memajukan tanah air kita!
Bilamana datang waktunya kelak, yang kemajuan, kita peroleh dengan sempurnanya, barulah boleh kita lihat apa faedahnya. Niscaya, akan berjasa; tidak saja untuk anak bumi, tetapi tak kurang untuk daulat Gouvernement. Sebab itu, lebih lekas sesuatu kemajuan diperoleh, lebih baik; inilah wajib cita kita, yang terutama.
Wageningen, Maret 1909.
EEN NOODZAKELIJKE VERBETERING VOOR DEN INLANDSCHEN LANDBOUW IN NED.-INDIE34
De Indische Regeering weet heel goed, dat de bevolking van geheel Insulinde hartstochtelijk verlangt naar verbeteringen in haar landbouwbedrijf, welke, naar zij hoopt, door de bemoeienis van het gouvernement aangebracht zullen worden.
Door het telkens van verschillende kanten hooren spreken over hare vele tekortkomingen in dit bedrijf, begint de inlandsche bevolking nu eindelijk te gelooven, dat de methoden, die reeds eeuwen lang door haar in het landbouwbedrijf in de sleur toegepast worden, thans stellig verbetering behoeven.
Mocht aan haar verlangen in deze voldaan worden, dan zal zij ontegenzeggelijk op den duur een beter resultaat van haar werk op landbouwgebied bekomen dan nu helaas het geval is.
De bevolking ziet met haar kalm-nadenkend oog glashelder in, dat de landbouw, zooals die door europeanen gedreven wordt, zich openbaart als één van de voornaamste bedrijven, die er in de wereld bestaan. Men kan zeggen, dat alle andere bedrijven afhangen van den landbouw gaat deze gestadig vooruit, dan volgen de andere van zelf.
Voor iedereen dient m. i. het landbouwbedrijf daarom op den voorgrond te staan; want goed ter hand genomen, is het een "louter-geluk-brengend-bedrijf"
In het belang van de bevolking" niet alleen, maar ook van het gouvernement", moge de Indische Regeering steeds meer aandacht schenken aan 't inlandsche landbouwbedrijf, in elk gewest van het zoo schoone en vruchtbare Insulinde! Want aan dit bedrijf valt daarginds nog enorm veel te verbeteren.
Hiervoor zijn "juist denkende en bekwame personen", zoowel voor de practijk als voor de theorie, gezamenlijk in "harmonie" werkend, hoog noodig.
Alleen deze combinatie is naar mijne meening in staat het landbouwbedrijf op een hooger peil te brengen.
Reeds sinds een paar jaren is bij mij herhaaldelijk de vraag gerezen:
Hoe kan men den inlandschen landbouw in Indië op de juiste wijze verbeteren en vooruit helpen?
Met den "inlandschen landbouw" bedoel ik den landbouw, die door den inlander op zijn eigen-primitieve manier, ten zijnen behoeve, gedreven wordt.
En met de "juiste wijze" is de directe, rechtstreeksche wijze bedoeld, m. a. w. geen schoolsche methode, waarbij zij die zich willen bekwamen in landbouwzaken, het hun op eene landbouwinrichting gedoceerde onderwijs in dictaat met een pen of potlood even opteekenen, neen zoo is mijne bedoeling niet. Ik bedoel daarmee de practische methode, d. i.: dat de landbouwer, hetzij sawah-man of veehouder, het hem practisch gedoceerde onderwijs wenken en voorbeelden dus direct op het land of in de veehouderij, niet met pen of potlood, maar met passende werktuigen, die hem aangewezen zijn, als het ware neerschrijven kan dat Si Orang-tani dadelijk zelf toepast, wat hij van zijn raadgever gehoord heeft.
Geachte lezer, begrijp me goed, dat ik absoluut niet tegen de bovengenoemde schoolsche methode ben. Integendeel. Gaarne verzeker ik u, dat ik overtuigd ben, dat deze voor allen, die daardoor werkelijk met gezond verstand het goede van den landbouw inzien en voelen, bijzonder goed is. Want de vooruitgang van den landbouw zal stellig van hen afhangen. Alleen, in hen is opgesloten de sluimerende kracht voor den toekomstigen vooruitgang van den landbouw, niet in het binnenste van een gewonen orang-tani, die door de practische methode moet aangemoedigd worden.
De grens tusschen de door mij bedoelde schoolsche en practische methode is dus zeer scherp en toch kan stellig geen van beide door de Regeering gemist worden. Ze zijn, ieder met haar afzonderlijk doel even nuttig en belangrijk.
Hetzelfde kan men eenigszins vinden bij het leger: op de Krijgschool kweekt de Regeering officieren; in en om de kazerne soldaten, juist door middel van de eersten, dus door deskundigen.
De schoolsche methode, bestemd voor de a.s. landbouwkundigen, uiteen te zetten, ligt niet in mijn bedoeling; dus ga ik nu over tot het bespreken van het antwoord op mijn hierboven gestelde vraag.
Zoo de Indische Regeering geneigd mocht zijn den inlandschen landbouw langs den directen weg vooruit te brengen dan zal zij zeker goed doen met het oprichten van gouvernements-landbouwhuizen, die rechtstreeks onder het Departement van Landbouw te Buitenzorg staan, en gelegen moeten zijn in de centra van een zeker aantal gewesten, hier en daar, overal in geheel Indië.
Ik meen een huis, welks inrichting natuurlijk aan bepaalde eischen moet voldoen en waar de bevolking kosteloos alle mogelijke inlichtingen betreffende den landbouw kan verkrijgen, namelijk over:
I. hooglandcultures;
II. laaglandcultures;
III. veeteelt;
IV. mest en bemesten;
V. zuivelbereiding.
Zooals een kazerne vol van het benoodigde oorlogsmateriaal is, zoo moet ook bovengenoemd landbouwhuis goed voorzien zijn van alle bekende practische landbouwbehoeften, t. w.:
1. werktuigen voor grondbewerking;
2. werktuigen voor onderhoud en oogst van cultures, die in de streek, waar het huis gevestigd is, uitgeoefend worden;
3. werktuigen voor veehouderijen, die daar aanwezig zijn;
4. practische instrumenten voor het laboratorium, waar men een of ander bepaald onderzoek kan verrichten;
5. kunstmeststoffen bestemd als monsters en voor de proefvelden.
Elk werktuig kan dan aan twee doeleinden beantwoorden, n.l. te dienen: a. als monster, ter aanschaffing; b. om aan de bevolking te laten zien hoe men met zoo'n werktuig omgaat. Daarom moeten de werktuigen zóó gekozen worden, dat ze werkelijk practisch nut hebben. Dat elk huis ook van een paar proefvelden voorzien moet zijn, spreekt wel van zelf.
Wat het personeel van zoo'n landbouwhuis betreft zou:
A. het huis onder beheer moeten staan van een directeur, die niet alleen van alle bovengenoemde vakken en werktuigen, zoomede van de meest gewenschte onderzoekingen goed op de hoogte dient te zijn, maar ook de landstaal machtig is. Bovendien moet hij een bepaalden tijd in de landbouw-practijk geweest zijn;
B. er minstens vier assistenten zijn, waarvan één voor hooglandcultures, één voor laaglandcultures, één voor veeteelt en één voor laboratorium-werk. Dezen kunnen gekozen worden uit de manteri's der cultures en uit de inlandsche veeartsen;
C. één assistent voor de administratie;
D. bedienden voor de proefvelden, de stallen enz.
Bovendien zou de directeur van het landbouwhuis in zijn dienst - zoo noodig bijgestaan moeten worden door den gouvernements-veearts en door de ambtenaren van het Binnenlandsch Bestuur in het gewest.
Naar mijne berekening zullen de resultaten van een dergelijk landbouwhuis in drie perioden waarneembaar zijn:
1. Het begin-resultaat na een driejarig bestaan.
2. Na zijn zesjarig bestaan zullen de resultaten grooter en duidelijker zijn.
3. Eerst in den loop van zijn tienjarig bestaan zal men met beslistheid de rijpe en blijvende, vrucht-afwerpende resultaten er van kunnen zien.
De aanvangswerkzaamheden van den directeur van zulk een gouvernementslandbouwhuis stel ik mij als volgt voor:
Zoodra het landbouwhuis met toebehooren in orde is, moet hij dagelijks met zijn assistenten een der landerijen in de hem aangewezen gewesten doorkruisen. Hij bezoekt den "orang-tani", ondervraagt dien over de wijze waarop hij zijn grond "bewerkt" en "beplant"; hoe hij "oogst"; hoe hij met zijn vee "omgaat" en dit onderhoudt". Hij moet tevens een scherpen blik hebben om alle mogelijke merkwaardige dingen, het bedrijf betreffende, waarvan de boer hem de oorzaak niet kan zeggen, op te merken, in alle bijzonderheden in zich op te nemen. Al het gehoorde en opgemerkte teekent hij dan nauwkeurig op in de "boerentermen" en de "landstaal", om dit alles allereerst thuis zijnde in studie te nemen.
Bij zijne studies moet hij vooral letten op die zaken, welke het ergst haperen aan het bedrijf, en daartegen middelen bedenken, die de eenvoudige orang-tani onmiddellijk ter verbetering kan toepassen, want, zooals alle boeren, is deze in den beginne meer vatbaar voor raadgevingen tot het aanbrengen van verbeteringen, dan voor een totaal keer in het uitoefenen van zijn bedrijf, al moge dit laatste uit een wetenschappelijk oogpunt nog zoo gewenscht zijn. Zijne oude omgeving en gewone werkwijze ziet hij niet gaarne ineens verdwijnen.
Groote veranderingen schrikken ook den europeeschen boer vaak af en maken hem lusteloos. Alles, wat de directeur bij den inlandschen landbouw noodig vindt te veranderen, moet hij zeer langzaam-aan doen.
Ons spreekwoord zegt:
"Sari selembar benang, lama-lama sehelai kain."
Eerst wanneer de boer langzamerhand de vele goede resultaten van het werk van den directeur leert inzien en er zelf van overtuigd raakt, is de tijd rijp voor den grooten sprong tot de noodige algeheele verandering in de werkwijze.
De boeren, wier bedrijf door den directeur bezocht is, laat hij op een bepaalden tijd komen op het landbouwhuis. Hier worden zij met raad en daad bijgestaan ter verbetering van hun bedrijf, zooveel mogelijk volgens hun eigen inzichten.
De directeur moet zóó lang alles inspecteeren in afwisseling met zijn aanwezigheid op het landbouwhuis - totdat hij in de hem aangewezen streek geheel op de hoogte is, van alles, het land en de...
bevolking betreffende. Hiermede zullen minstens 2 jaar gemoeid zijn. In dien tijd kunnen echter ook reeds vele verbeteringen krachtig door hem bevorderd zijn.
Is hij eenmaal voldoende op de hoogte, dan gaat hij er niet meer zoveel op uit en kan het bezoeken der boeren veelal aan zijn assistenten overlaten, die intusschen daartoe ook voldoende bekwaamheid verworven hebben, na al dien tijd met hun chef in de praktijk werkzaam geweest te zijn.
Daar het landbouwhuis onder toezicht en steun van het Departement van Landbouw te Buitenzorg zal moeten staan, kan de directeur elk jaar aan dat departement verslag uitbrengen over hetgeen zijne inrichting voor den inlandschen landbouw in zijn gewest gedaan heeft. Deze verslagen zouden later door tusschenkomst van het departement gepubliceerd kunnen worden, zowel in Indië als in Nederland, om deze beide zoo nauw met elkander verbonden volken, die, naar ik hoop, steeds meer sympathie voor elkander zullen gaan gevoelen, te overtuigen van het nut dezer landbouwhuizen, en van de noodzakelijkheid om voortdurend de aandacht gevestigd te houden op den toestand van den inlandschen landbouw in Ned.-Indië.
Zou dit niet een eenvoudige oplossing kunnen zijn van het vraagstuk: hoe van het bestaan van het Departement van Landbouw in Indië, door tusschenkomst van de door mij beschreven gouvernements-landbouwhuizen, geprofiteerd zou kunnen worden door de millioenen, thans zeer karig levende inboorlingen van het zoo vruchtbare, altijd groene land?
Dat dergelijke landbouwhuizen in ons zoo dierbaar vaderland, door de Indische Regeering spoedig opgericht mogen worden, is dan ook mijn vurigste wensch.
Mede namens zoovele hulpbehoevende "nederlandsch-indiërs", wier levensbestaan dikwijls in hooge mate onzeker is, vertrouw ik, dat de vervulling van mijn wensch nabij is!
Wageningen, Mei 1909.
LANDBOUWLEERAREN TEN BEHOEVE VAN DEN INLANDSCHEN LANDBOUW IN NEDERL.-INDIË35
Langzamerhand — langzaam gaat zeker — neemt de Regeering maatregelen, om zich ten bate van Ned.-Indië en zijn bewoners ook te verzekeren van de medewerking van ontwikkelde nederlandsch-indiërs, inlanders. Geleidelijk wordt voor hen de mogelijkheid opengesteld betrekkingen te bekleeden, die eene algemeene ontwikkeling en een uitgebreide studie vorderen.
In deze richting zal ten behoeve van den inlandschen landbouw ook véél gedaan kunnen worden.
De uitnemende resultaten, die zoowel in Nederland als elders bereikt zijn door de werkzaamheden van Land-en Tuinbouwleeraren, van Vee en Zuivelconsulenten, en van Landbouwscheikundigen wijzen vanzelf den weg aan, welke, behoudens de noodige wendingen, ook voor Ned.-Indië te volgen zou zijn.
In het belang van diegenen mijner landgenooten, die zich in deze richting wenschen te bekwamen, zou ik enkele punten aangaande opleiding en werkkring van den landbouwleeraar willen bespreken.
Opleiding: Waar hier van landbouw sprake zal zijn, wordt die in den ruimsten zin bedoeld, met inbegrip van Tuinbouw, Veefokkerij enz. Het Boschwezen blijve echter buiten beschouwing.
Een voor Indië bestemd landbouwleeraar moet beschikken over een zekere mate van algemeene ontwikkeling en kennis, nagenoeg gelijk met die van een landbouwleeraar in Nederland. Vereischt wordt een grondige kennis van de hoofd- en hulpvakken, die te zamen de "landbouwwetenschap" uitmaken.
Verder een uitgebreide kennis van de economische toestanden, met den landbouw samenhangende, in de streek, waar de leeraar zijn werkkring zal vinden.
Hij is dan in staat door eigen onderzoek en proefnemingen, ook door het bijhouden van de desbetreffende literatuur, op de hoogte te blijven van de hoofdzaken, op dit gebied voorvallende, terwijl zijn vertrouwdheid met taal, land en volk hem in staat zal stellen zijn kennis daar goed toe te passen en dienstbaar te maken aan de bevordering van den landbouw in zijn gewest.
Een ontwikkeling en een opleiding als bovenbedoeld, kunnen, zooals de ervaring hier te lande en elders geleerd heeft, slechts verkregen worden aan eene inrichting voor "Hooger-Landbouw-onderwijs".
Voor Nederland en zijn koloniën: de Rijks Hoogere Land-, Tuin en Boschbouwschool te Wageningen.
De omvang van de studie komt ongeveer hierop neer:
Na het met goed gevolg afgelegd eindexamen eener H. B. S. met 5-jarigen cursus, zijn 3 tot 4 jaar noodig voor de studie der eigenlijke landbouwwetenschap, waarbij de vakken, behoorende tot den kolonialen, tropischen landbouw, een voorname plaats innemen.
Na afloop dezer studie zou het aanbeveling verdienen den toekomstigen, voor Indië bestemden landbouwleeraar in de gelegenheid te stellen zich nog een tijdje zelfstandig te bekwamen en voor te bereiden voor de hem wachtende betrekking. Aangezien dit in Indië niet mogelijk is — ambtenaren, als hier bedoeld, bestaan er nog niet — zou het bizonder nuttig voor hem zijn, bij een landbouwleeraar in Nederland toegevoegd te worden. Hij is dan in staat waar te nemen, op welke wijze hier te lande samenwerking gezocht en verkregen wordt tusschen landbouwpraktijk" en "landbouwwetenschap", welke ondervinding hem later in Indië zeer te stade zal komen.
Werkkring: Het tot heden nog zeer gebrekkige, onvoldoende onderwijs van het gros van het volk in Ned. Indië brengt van zelf een groot verschil in toestand met Nederland op dit gebied te weeg. De verspreiding van nuttige en noodige kennis onder den inlandschen landbouwersstand rechtstreeks door den landbouwleeraar, wordt er grootendeels door belet.
Rechtstreeksche onderzoekingen en proefnemingen door den landbouwleeraar ten bate van den inlandschen landbouwer, zullen als regel thans geenerlei resultaat kunnen opleveren. Ook zou het gebied van een landbouwleeraar in Indië te groot, de verschillen van natuurlijken en economischen aard in zijn district te omvangrijk zijn, dan dat in korteren tijd, door hem alléén, veel verbetering zou zijn aan te brengen.
Aanvankelijk zal dus de landbouwambtenaar zich voor een groot deel moeten bewegen op een ander terrein. Er zal begonnen moeten worden met aan de jeugd, de toekomstige landbouwers, nuttige kennis van het vak bij te brengen, opdat deze later ook in staat zal zijn proefnemingen op de juiste waarde te schatten en proefvelden voor de praktijk te beoordelen.
Zou dit doel niet het best bereikt kunnen worden door aan de bestaande "Kweekscholen" voor inlandsche onderwijzers" een landbouwleeraar te belasten met het geven van landbouwonderwijs aan de toekomstige onderwijzers, hem daarbij tevens de beschikking gevend over terrein en hulpmiddelen voor proefnemingen van landbouwkundigen aard, ter instruering der a.s. onderwijzers. Dit zou het dubbele voordeel hebben: vooreerst, dat later de jeugd hiermede kennis kan maken; ten tweede, dat bij het aanleggen van proefvelden, het nemen van proeven, de landbouwleeraar overal deskundige personen aantreft, die met het toezicht enz. belast kunnen worden.
Geleidelijk zal zoodoende de landbouwleeraar in de verschillende deelen van zijn district proefnemingen kunnen doen, verbeteringen en veranderingen kunnen aanbrengen.
Voor de onmiddellijke en voortdurende aanraking van den landbouwleeraar, als hier bedoeld, met inlandsche onderwijzers en inlandsche landbouwers, is het natuurlijk strikt noodig, dat hij volkomen op de hoogte is van de landstaal en gebruiken, van de economische en andere toestanden in zijn gebied. Het is dan ook om die redenen, dat deze betrekking het best zal worden vervuld door indiërs, inboorlingen van algemeene ontwikkeling, die voldoende kennis op landbouwgebied hebben verkregen.
Het behoeft wel niet in het bizonder te worden vermeld, dat de aard der betrekking medebrengt, dat aan den landbouwleeraar, gelijk als aan den directeur van het in mijn vorig artikel beschreven "gouvernementslandbouwhuis", een groote mate van zelfstandigheid worde toegekend. De landbouwleeraar en de directeur moeten dan ook éénzelfde opleiding hebben gehad.
Het aantal landbouwleeraars, uit de indiërs te recruteren, zal in de eerste jaren niet groot kunnen zijn, de opleiding duurt daarvoor te lang. Aangezien in de Buitenbezittingen geen H. B. S.-Scholen zijn, zouden bovendien buitenbezittingers" uitgesloten zijn, hetgeen natuurlijk noch door de Regeering, noch door de indische bevolking gewenscht wordt.
Als overgangsbepaling zou ter voorziening in de dringende behoefte aan voorlichting op het gebied van inlandschen landbouw wellicht kunnen vastgesteld worden, dat iedere indiër, die met goed gevolg eenige jaren Hooger-landbouwonderwijs" genoten heeft, voor bovenbedoelde betrekking in aanmerking zou kunnen komen.
Op deze wijze zullen zeker meerdere mijner landgenoten zich aangetrokken gevoelen tot deze studie en dezen werkkring, hetgeen niet alleen ons land en volk, maar ook Nederland zeer zeker ten goede zou komen.
Wageningen, Juni 1909.
VOLKSBELANG36
Uit het verslag van eene te Leiden gehouden lezing door Prof. Dr. H. Kern, geplaatst in de N. R. Courant, 25 Februari 1909, las ik o. a.:
"Spreker zal nu eindigen. Hij constateert, dat Indië, het Stamland37, grooten invloed in onze Nederlandsche bezittingen heeft uitgeoefend.... dat 't al zijn schatten aan kunst, intellect en godsdienst, aan den Archipel gegeven heeft. Als wij, Nederlanders, hetzelfde doen, dan zullen wij, in spijt van onze tekortkomingen in 't verleden, kunnen rekenen op de dankbaarheid van millioenen in het overzeesche koninkrijk der Nederlanden."
Ja, Prof. Kern wist al lang, overtuigd als hij is, dat Nederland voor Indië ontzettend veel had kunnen doen.... hoe Nederland Indië behandelen moest, moet, moeten zal en... zal moeten.
De volle wensch van den Groot-man, vooral in het verleden, kon onmogelijk vervuld worden, want de oendang-oendang o. a. in Indië is precies als 't hollandsche weer.... als de hollandsche temperatuur, zoo veranderlijk.
Men denke b.v. aan de hollandsche les, die indertijd op de kweekscholen voor inlandsche onderwijzers gedoceerd werd en voor een tijdlang ophield, nu weer onderwezen wordt; zoo ook aan het bestaan en aan het opheffen van de kweekschool te Padang Sidempoean!
Gelukkig dat m. i. nu, de geestverwanten van den Professor, onder de nederlanders, de overheerschers, die voor Indië, voor overheerschten dus, warme belangstelling voelen, in talrijkheid toenemen. En zoo ligt het dan voor de hand, dat de billijke wensch van Prof. Dr. H. Kern vroeg of laat zal vervuld worden.
Dit zal des te eerder geschieden, indien wij, indiërs, door ontvankelijkheid, in de zelfde richting met hart en ziel meewerken.
In het koloniaal weekblad Oost en West, 1 Juli 1909:
"de jong-javanen verzuimen geen enkele gelegenheid om te doen blijken van hun belangstelling in alles, wat met den vooruitgang des lands verband houdt."
't Spreekt van zelf, dat dit een goed verschijnsel is. Niet alleen de jong-javaan behoort dit te doen, maar 't is de plicht van ieder jong indiër.
Wanneer wij, indiërs, onzen plicht verzuimen, dan zal het gouvernement moeilijk, ja onmogelijk, Indië vooruit kunnen brengen. Het geldt hier een gemeenschappelijk belang: het belang van Regeering en Bevolking beiden.
In de Jav.-Courant, 1 Juli 1909:
"Geplaatst aan de te openen Hollandsch-Chineesche school te Padang, als hoofd: de herbenoemde onderwijzer 1e klasse, W. J. Gerards."
Ik wist wel, dat er tegenwoordig in Indië Hollandsch-Chineesche scholen bestaan. Het lezen der benoeming deed echter bij mij onwillekeurig de vraag rijzen:
Zou 't niet mogelijk zijn, dat op deze moderne scholen een paar van de vele duizenden inlandsche kinderen toegelaten worden, gelijk op de europeesche lagere scholen?
Wat 'n bescheiden vraag," zult u zeggen, "'n paar maar van de 1000-den inlandsche kinderen!"
Met die vraag wil ik alleen dit zeggen... dat die duizenden inlandsche kinderen diep te beklagen zijn, daar zij verstoken blijven van lager-europeesch onderwijs,... wijl de hollandsch-onderwijs-deur voor de inlandsche joggies in Indië, door de Regeering slechts op een kiertje gezet wordt.
Werkelijk kasihan!
Er zijn nu in Indië, behalve de reeds bestaande Opleiding-, Docter-Djawa- en Landbouwschool, scholen opgericht voor Inlandsche Rechtskundigen en Inlandsche Officieren.
' Is een verblijdend verschijnsel!
Maar van waar zal de Regeering de a.s. leerlingen voor al die scholen krijgen?
Daar er hier en daar slechts een paar inlandsche jongens, op de europeesche lagere school zijn, spreekt het van zelf, dat deze niet het benoodigde contingent voor de bovengenoemde onderwijs-inrichtingen kunnen leveren!
Bestaat er harmonie tusschen deze scholen en de lagere scholen ter opleiding van inlandsche kinderen? Om tot gewenschte doeltreffend-betere maatregelen te geraken, zou het wellicht niet kwaad zijn, dat men, behalve de europeesche deskundigen, ook de ontwikkelde indiërs, de belanghebbenden in deze, raadpleegde.
Rotterdam, Augustus 1909.
EEN PAAR OPMERKINGEN BETREFFENDE HET NUT VAN HET KENNEN DER NEDERLANDSCHE TAAL VOOR DEN MALEIER38
Een treurig bewijs van kortzichtigheid is het, dat de Hollanders in Oost en West eeuwen lang verzuimd hebben de kennis onzer taal te verbreiden, niet natuurlijk om de landstalen te verdringen, maar ook aan de hoogere standen onder de inboorlingen het middel te verschaffen tot hooger ontwikkeling. Men zag er niet tegen op in Ambon en de Minahassa eene vreemde taal, het Maleisch, in te voeren, maar den inboorling gelegenheid te geven zich in het Nederlandsch te bekwamen, dat achtte men niet aanbevelenswaardig, omdat onze taal, naar het heette, voor de inlanders te moeilijk was. Als men nu weet, dat ondergetekende onder zijn leerlingen een Javaan gehad heeft, die in 't idiomatisch gebruik onzer taal uitmuntte; als men verder weet, dat men van Javanen en Maleiers te Batavia hetzelfde opgemerkt heeft; dat meermalen een inlander op de scholen primus is: dat schrijver dezes brieven van Javaansche dames, Minahassische jonge meisjes en Rotineesche schoolmeesters gezien heeft in echt, beschaafd, sierlijk Hollandsch — dan kan men de diepte peilen van de onnoozelheid dier snuggere lieden, die het Hollandsch des te moeilijker voor den inlander oordeelen, naarmate zij zelven minder vatbaarheid bezitten, om zich in eene inlandsche taal behoorlijk uit te drukken.
Prof. Dr. H. Kern, Leiden.
Naar aanleiding dezer woorden (de spaticeringen zijn van mij) uit de brochure "Het Nederlandsch in Nederlandsch-Indië", als feestgave aangeboden aan de leden der Vereeniging "Oost en West" bij gelegenheid van haar tienjarig bestaan, voel ik me, ook als lid van het "Algem. Nederl. Verbond", gedrongen van onzen kant nogmaals de algemeene aandacht er op te vestigen, welk een prachtig groot te exploiteeren terrein "Insulinde" in deze biedt; hoe noodig het is, dat inboorlingen daar zooveel mogelijk het Hollandsch leeren spreken en schrijven, ook om de gewenschte aanraking en waardeering tusschen Hollanders en Indiërs meer en meer te bevorderen.
Dit terrein is niet alleen groot, maar ook om 't duitsch-landbouwkundig uit te drukken "gaar", d. w. z. het voldoet thans aan alle eischen om van zaad — het Hollandsche taal-zaad — dus voorzien te worden.
Nu is men ook verplicht om het beste zaad op de juiste manier uit te kiezen, en zoo spoedig mogelijk uit te zaaien, wil men den gunstigen tijd voor dien arbeid niet voorbij laten gaan en... van een goede opbrengst verzekerd zijn.
De kennis der Nederlandsche taal kan den inboorlingen tevens van dienst zijn bij wijze van een vlijmscherp snoeimes, dat zij gebruiken moeten om de doode, ziekelijke en verdrukte takken en twijgjes van hun eigen moedertaal behoorlijk — precies zooals een goed snoeier zijn werk verricht — te verwijderen.
De hooggeachte Prof. Ch. A. v. Ophuijzen te Leiden zal het met mij eens zijn, waar ik hier een ongunstig oordeel uitspreek over de z.g. Abdoellah bin Abdoel-Kadir Moensji, de Sadjarah-Melajoe- en de Pandjatanderan-stijl. Deze behooren m. i. tot het verleden... in een antiquiteiten-boekerij.
De aanhoudende, totaal onnoodige "alkesah", "arkian", "hatta" e. d., de langdradige geestdoodende zinnen met hunne vele omwegen en herhalingen maken de taalstudenten suf..., "bingung", en de leerlingen der indische scholen, ongevoelig, dikhuidig voor indrukken, betreffende de schoonheid der Maleische taal.
En wat erger is: de "lesgevers" worden op den duur nog gevoelloozer dan hun trouwe leerlingen. Worden echter bovengenoemde hinderpalen door hen zelfs wel als zoodanig gezien? Zoo ja, dan zouden zij toch reeds lang meer geschikte boeken, tot het onderwijzen der Maleische taal gebruikt hebben.
Boeken als de Pandjatanderan, Sadjarah e. d. zouden dan door deskundigen, mannen, die niet alleen volkomen op de hoogte met taalregels zijn, maar vooral ook taalgevoel bezitten, verbeterd moeten worden.
Dit zijn immers geheel ouderwetsche boeken geworden; de daarin voorkomende "boekentaal" staat ver, hemelsbreed van de ware, alledaagsche spreektaal af, van die taal b.v. welke a.s. ambtenaren van het B.B. hebben te leeren, willen zij behoorlijk een gesprek in de landstaal met Maleiers kunnen voeren.
Zinnen, als de volgende, voorkomende in het Maleische blad "Tjahaja Sumatra", No. 34, van 10 Mei 1909, zijn ongenietbaar:
"Tetapi apa boleh buat, setengah controleur Bahasa Melayu pun tidak pandai, apalagi adat orang Minangkabau yang sangat sukar dipahamkan; sedangkan bagi orang Minangkabau sendiri, bukan patut susah mengetahuinya: lebih-lebih lagi, bagi lain bangsa. Bagi orang Belanda pengetahuan ini bukan pekerjaan setahun, dua tahun, tetapi pekerjaan berpuluh-puluh tahun."
Dergelijke taal moest in een lobang begraven kunnen worden, waar zij nimmer meer uit te voorschijn kwam.
Wie de artikelen in de vroegere Bintang-Hindia, onder redactie van onzen landgenoot Abdul Rivai, thans Doctor-arts, met kennis van zaken gelezen heeft, zal ongetwijfeld opgemerkt hebben, dat deze niet alleen in voortreffelijk, eenvoudig Maleisch geschreven waren, maar ook door smaakvollen stijl uitmuntten, de vrucht van een volmaakt taalgevoel.
Dat alles nu heeft Dr. Abdul Rivaï zonder twijfel te danken gehad aan zijn grondige kennis van de Nederlandsche taal, waarvoor hij als belooning een "scherp maleische-taal-snoeimes" rijk werd, dat hij zoo goed weet te hanteeren, dat wij, Maleiers, hem gerust den eerenaam van "Maleische taal-snoeier" mogen geven.
Rotterdam, September 1909.
SUATU JAWAB
Kedua karangan di halaman 67 (Een Noodzakelijke…) dan 76 (Lanbouwlreeraren Ten..) dalam buku ini, kujadikan satu dan kunamai:
"Noodzakelijke verbeteringen voor den Inlandschen Landbouw in Ned. Indië."
Dalam bulan September 1909, kuminta karangan ini dicetak dalam s. b. Ceres, orgaan der studenten aan de Rijks Hoogere Land-, Tuin- en Boschbouwschool te Wageningen.
Inilah sebabnya, maka dalam s. b. Ceres, no. 12, yang terbit pada 1 Januari 1910, didapati suatu jawab seperti berikut ini:
Antwoord aan den Heer Djamaloedin bin Mohamad Rasad.
Wat is wel het voornaamste voor de verbetering van den Inlandschen Landbouw in Ned.-Indië? Ik stel voor mijzelf, voorloopig de praktijk.
De voorwaarden van bewerking van grond, van zaaizaad enz. zijn nog te veel uiteenloopend door bodemverschillen en hoeveelheid beschikbaar bevloeiingswater en de weinige moeiten van de bevolking voor zaaizaad-afzondering: om dadelijk met de theorie ook te beginnen.
De praktijk wil directe voordeelen en deze kunnen verkregen worden door de huidige wijze van bewerking steeds degelijker en beter te doen zijn.
De grootste vereischte is vooreerst meer gelijkheid in planttijd, de plagen zullen dan niet zoo gevoeld worden. De inlandsche bevolking heeft nog niet voldoende een zelfden tijd van zaaien en planten in verband met invallende regens en beschikbaar bevloeiingswater.
Zeer zeker de Orang-tani heeft zijn tellingen en maanden waarin het goed is te beginnen met bewerking en zaaien, maar deze tellingen zijn willekeurig, en er bestaan nog te groote verschillen.
De Javaansche landbouwer kan dieper ploegen, waarom doet hij dit niet?
De Javaansche landbouwer kan zijn beplante velden beter wieden, éénmaal, soms tweemaal, is voldoende, waarom?
De Javaansche landbouwer kan zijn bevloeiingswater op verschillende tijdstippen en op verschillende plaatsen van het veld binnen doen stroomen, waarom doet hij dit niet?
De Javaansche landbouwer kan zijn rijpende rijst scherp waarnemen om zaadplanten uit te zoeken, waarom doet hij dit niet?
De Javaansche landbouwer kan ongemengde aanplantingen hebben, waarom komt er altijd verschil uit variëteit voor?
De Javaansche landbouwer juicht als hij rijst kan eten en doet dit verbazend goed zoolang er voorraad is, maar stelt zich ook tevreden wanneer die voorraad op is, met ketella-soorten: hij kan toch beter verdeelen, waarom doet hij dit niet?
De praktijk moet verbeterd worden en dit kan doordat in de desa-scholen door een vooruitstrevend persoon, liefst iemand, die invloed heeft door een titel, het jonge volkje opmerkzaam gemaakt wordt op deze slechte wijzen van bewerking en behandeling van den aanplant.
Ja, later wanneer de Orang-tani wel mee wil werken tot deze eerste verbeteringen, ja, dan zijn landbouwleeraren en veeconsulenten van pas.
In de desa-school moet den jeugd gewezen worden, herhaaldelijk, en vaak, zeer vaak, op de slechte en minder goede methoden. De jongens helpen mee, juist deze moeten onderwezen worden. De desa-school is de plaats waar voorloopig heil te verwachten is, en door groote uitgebreide voorbeelden brengt men beweging in den orang tani.
Het ligt op den weg van Boedi Oetomo om het onderwijs in de desa-school zóó te leiden, dat den jeugd reeds spoedig het verkeerde onder begrip gebracht wordt.
De desa-school moet onderwijs geven in de eerste beginselen van landbouw, later kunnen er centrale scholen komen uitsluitend ten doel om het landbouwonderwijs in zijn groote uitgebreidheid te bestendigen en leeraren te vormen met theoretische opleiding.
Klaten, 24-11-09. W. A. HORST.
BALASAN39
Antwoord aan den Heer W. A. Horst.
Allereerst acht ik uw schrijven in zijn geheel zeer te waardeeren: want het geeft den lezer opnieuw een zonneklaar bewijs, dat de inlandsche landbouw tot nu toe werkelijk nog zeer, zéér laag staat, dat daarin veel verbeteringen, zoowel door de Regeering als door de bevolking-zelf, zoo spoedig mogelijk aangebracht moeten worden, wil men het land niet zienderoogen ten gronde laten gaan.
Uw persoonlijkheid is me bovendien des te meer respectabel, waar u, Nederlander zijnde, door uw pennevrucht "terang" aangetoond hebt, dat u met onzen "orang tani" meêleeft en deelneming betoont met zijn treurig beoefend bedrijf. Ik gevoel mij verplicht u, namens ons volk, daarvoor hartelijk dank zeggen.
Wat uwe voorstellen betreft, die zijn en blijven evenals de mijne, hoe rooskleurig het moge schijnen, zoolang ze niet in "daden" omgezet zijn, slechts denkbeelden. Geen sprake dus van ervaring. Daarom zal ik er niet verder op ingaan! Het is me echter onverschillig of men de uwe gaat toepassen of de mijne. Want mijn verlangen is nu doen, niet redeneeren en nogmaals redeneeren. Doch, zoo het kan, was me het liefste, dat beiden werden toegepast. De beginselen op school, theoretisch laten zien en daarnaast op mijn manier practisch aantoonen. Dan zal de tijd leeren wat het resultaat zal zijn.
Ten slotte kom ik tot uw vragenreeks. Niettegenstaande ik bewust genoeg voel, welk antwoord erop te geven, wenschte ik het toch liever verschuldigd te blijven; want mijn oplossing zou meer denkbeeldig dan werkelijk zijn, daar ik practisch niet kan toonen wat ik wil. Maar dat die door geziene... "onpractische dingen", die trouwens niets nieuws voor mij waren, wel op te ruimen, kan ik u wel verzekeren: echter niet met groote stappen, doch langzaam-aan en niet alleen op de door u voorgestelde wijze door de desa-scholen.
Hoogeveen, Januari 1910.
SEDIKIT ILMU BAHASA
"Di" dan "di" wajib kita bedakan seperti tepung dan kapur.
Wajib... karena segala "di", yang mengubah Bahasa Melayu tak sama harganya!
a. Ada "di", yang wajib kita pandang sama tinggi duduk-tegaknya dengan kata biasa, seperti: jalan, kaya, cis, puteri, d. l. l. Tiap kata ini bukanlah sesuatu sambungan, tetapi sebenar-benarnya kata tunggal, sanggup dan wajib berdiri sendiri.
Demikianlah hal tiap "di", yang berikut ini:
di Padang = te Padang;
di sekolah = op school;
di dinding = aan de wand;
di rumah-sakit = in ziekenhuis.
Masing "di" ini, kata tunggal. Jadi — walaupun ia kecil, hanya terjadi dari dua huruf tak patut dikurangkan haknya seperti sesamanya, kata lain.
Mengingat hak ini, wajiblah kita tuliskan di Padang umpamanya sedemikian.... tidak: di-Padang.
b. Ada "di", yang seolah-olah tak sanggup berdiri sendiri; tetapi biasanya tolong menolong, berkongsi, ber-iya-iya dengan kata lain, pergi menampuh padang kata-kata. "Di", yang demikian wajib kita tuliskan serangkai, sekumpul dengan kongsinya. Umpamanya:
| dimakan | = | gegeten worden; |
| dipikir | = | gedacht worden; |
| dibaca | = | gelezen worden; |
| disana | = | daar; |
| disitu | = | daar; |
| disini | = | hier; |
| didalam peti | = | in de kist; |
| diatas meja | = | op de tafel; |
| diluar perkara | = | buiten de zaak; |
| diantara mereka itu | = | onder hen. |
ke.
“Ke” boleh dikatakan hampir senasib dengan "di". Acap kali dilumuri oleh salah tampa Keadilan wajib mengubah hal ini seperti berikut.
a. Ke seperti kata tunggal, umpamanya:
| ke Bukittinggia | = naar Fort de Kock; |
| ke gereja | = naar de kerk; |
| ke sini | = naar hierheen; |
| ke mari | = naar hierheen; |
| ke sana | = naar daarheen; |
| ke situ | = naar daarheen; |
| ke dalam | = naar binnen. |
Masing-masing "ke" ini wajib kita tuliskan sedemikian... jangan diserangkan dengan kata, yang mengikutinya; demikianpun... jangan dipakai tanda hubung (-). Tak perlu.
b. "Ke" berkongsi dengan kata lain, umpamanya:
| kepada | = aan; |
| kehadapan | = aan; |
c. "Ke", yang bertempat umpamanya pada kata yang berikut ini, bukan kata ... tetapi suatu sambungan dimuka, voorvoegsel. Ia memang wajib dituliskan serangkai dengan asal kata:
| kedua | = ten tweede; |
| ketiga | = ten derde; |
| kerajaan | = koninkrijk; |
| kekayaan | = rijkdom; |
| kerugian | = verlies; |
| kekuning-kuningan | = geelachtig. |
si.
Di dalam buku kata karangan tuan H. C. Klinkert diterangkan:
"si, voorvoegsel, dat men voor eigenamen en bijnamen plaatst in de geringschattende beteekenis, van ons die, b.v. si Ali, die Alie: si pandjang, die lange: si pentjoeri, die dief."
Keterangan tuan Klinkert ini, ialah suatu keterangan kira-kira... bukan keterangan perasa.
"Si" tak rendah harganya dan bukanlah sambungan dimuka; tetapi suatu kata tunggal, sungguh seperti kata biasa.
Kedudukan "si" dalam Bahasa Melayu sepangkal dengan kata: tuan, angku, sinyo, nona d.l.l.
Bukankah lukisan, yang seolah-olah tergambar di otak pembaca tak berbeda, bila orang berkata:
“Didalam kereta itu duduk empat orang, yaitu tuan Dijkstraat, angku Abdul Djalil, sinyo Anton dan nona Marie.” Atau:
“Didalam kereta itu duduk empat orang, yaitu si Dijkstraat, si Abdul Djalil, si Anton dan si Marie.”
Memang lukisan yang digambarkan oleh kata "tuan", pada A dan oleh kata "si" pada B, di otak kita, sungguh sama. Artinya sama terang, sama tunggal dan sama tinggi kedudukannya.
Inilah sebabnya, maka "si" tak patut kurang haknya daripada sesamanya... dan tiap kata yang datang mengikutinya wajiblah kita tuliskan seperti kata, yang mengikut kata: tuan, angku, d.l.l., yakni:
si Amin;
si Fatimah;
si Panjang;
si Pencuri d.l.l.
Maksud susunan (kongsi) kata.
Sebagai maksud kongsi manusia, yaitu:
A. Berkumpul beramai-ramai menunjukkan suka cita, dan putih hati masing, satu pada yang lain.
B. Bekerja bersama-sama, beriya berbukan, akan menyampaikan sesuatu maksud, yang baik, adil, wajib, bagi anak bumi untuk keselamatan dan kesempurnaan hidup bersama-sama.
Sungguh demikianlah juga maksud susunan kata itu:
Sengaja dua, tiga atau lebih kata-kata dengan tanda (-) dikumpulkan dalam sesuatu susunan kata:
a. supaya senang dan merdu bunyinya melancar di telinga;
b. supaya jejak lukisan, arti susunan kata itu di otak pembaca terang dan sempurna.
Kedua hal ini tidak saja berfaedah untuk kita, orang Melayu, tetapi lebih besar gunanya bagi bangsa asing, yang asyik mempelajari bahasa kita.
Perhatikanlah isi surat kecil, yang berikut ini:
Saudaraku yang dicinta!
Marilah kurencanakan padamu, betapa hal-ku dewasa ini, selama tinggal di negeri-orang, jauh dari tanah air kita.
Surat ini, tidaklah sedemikian merdunya, bila kurencanakan seperti dibawah ini:
Saudara aku yang dicinta!
Marilah aku rencanakan pada kamu, betapa hal aku dewasa ini, selama tinggal di negeri orang, jauh dari tanah air kita.
Celanya surat kedua ini:
1. bahasanya tak merdu, ya kasar.
2. Aku, yang tersimpul di dalamnya... ada, yang artinya: ik... ada, yang: mijn. Mana ik dan mana mijn, tak lekas terpandang.
Tanah dan air di sini tidak artinya: grond dan water. Demikianpun kita bukanlah maknanya wij, tetapi ons.
Sekalian ini bagi kita, orang Melayu, tak besar halangannya; pengrasa bahasa kita menerangi kita di jalan yang gelap. Tetapi bagi bangsa asing tak mudah dilipur susahnya.
Cela-cela ini tidaklah didapati pada surat pertama: sebab jejak lukisan tiap kata, dan jejak lukisan tiap susunan kata cukup terangnya:
| saudaraku | = mijn broeder; |
| kurencanakan | = ik deel mede; |
| Negeri orang | = vreemd land; |
| Tanah air kita | = ons vaderland. |
Dengan cita-cita, supaya segala "was-was" dan "bimbangan" seperti didapati dalam surat kedua itu hilang lenyap, kurasa, baik kita turut seperti aturan di bawah ini:
| Orang tuaku | = mijne ouders; |
| Orang tuamu | = uwe ouders; |
| Orang tuakau | = hare ouders; |
| Orang tuanya | = zijne ouders; |
| Orang tua kami | = onze ouders |
| Orang tua kita | = onze ouders |
| Orang tua mereka itu | = hunne ouders. |
sambil:
| saya, hamba, aku, -ku | = ik |
| engkau, kamu, kau | = gij |
| ia, dia | = hij, zij |
| kami, kita | = wij |
| kalian | = gijlieden; |
| mereka itu | = zij. |
Dan:
| padaku | = aan mij; |
| padamu | = aan u. |
| padanya | = aan hem, aan haar; |
| pada kami | = aan ons. |
| pada kita | = aan ons. |
| pada kau sekalian | = aan u allen. |
| Tanah Belanda | = Holland; |
| Tanah Hindia | = Insulinde; |
| Bahasa Belanda | = 't Hollandsch; |
| Bahasa Melayu | = 't Maleisch; |
| Orang Eropa | = 'n europeaan; |
| Orang Belanda | = 'n hollander; |
| Orang Hindia | = 'n indiër; |
| Orang tani | = 'n boer; |
| Orang kulit putih | = 'n blanke; |
| Buku kecil | = boekje; |
| Anak manis | = kindje; |
| d.l.l. |
Orang yang berilmu dalam sesuatu bahasa, Professor Ini atau Doctor Itoe umpamanya, artinya ialah mereka itu, yang telah menghimati dan tahu seluk beluknya, cara bagaimana bahasa itu teratur dan dituturkan oleh bangsa, yang senantiasa menggunakan bahasa itu. Ilmu mereka itu mustahillah sekian besarnya, hingga dapat mereka itu menimbulkan sesuatu perubahan pada bahasa itu, sebagai kehendak hatinya!
Perubahan ini – bila tumbuh – hanya disanalah terbebar, di mana bahasa itu dilahirkan, yakni di binbir dan pengrasa anak-bumi. Inilah umpamanya, yang jadi mata air perubahan kata-kata yang tersebut di bawah ini:
| Ditulist seperti dituturkan sekarang | Ditulis, bila dipakai tanda | Ditulis dengan secukupnya | Artinya dalam Bahasa Belanda |
|---|---|---|---|
| saja | - | sahaja | ik |
| tadi | - | tahadi | zoo even |
| baroe | - | baharoe | pas, nieuw |
| basa | - | babasa | taal |
| tjaja | - | tjahaja | licht |
| doeloe | - | dahoeloe | vroeger |
| pabila | 'pabila | apabila | waneer |
| bila | bila | apabila | indien |
| ankoe | 'ankoe | tuanku | mijnheer |
| koe.... | 'koe... | aku | 'k, ik |
| kau.... | 'kau.... | engkau | gij |
| kan.... | kan'.... | akan | om...te |
Hoogeveen, Februari 1910.
CATATAN KAKI
Catatan penulis: Buah pikiran ini kukarang, tatkala hamba jadi Pembantu (s)urat-(b)ulanan "Insulinda"↩︎
Insulinda adalah stilah historis untuk menyebut wilayah kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda. Di lain konteks, Insulinda juga merupakan majalah pendidikan yang terbit awal tahun 1900 di Jawa dan Sumatra.↩︎
Catatan penulis: Sayang surat bulanan ini sekarang tak hidup lagi.↩︎
Catatan Penulis: Kukarang untuk surat berita Insulinde↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk surat bulanan “Insulinde”↩︎
Semacam kamus referensi bahasa Melayu - Belanda yang diterbitkan pada masa kolonial Hindia Belanda↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk surat kabar “Insulinde”.↩︎
Catatan Penulis:Tuan Mr. J.H. Abendanon↩︎
Catatan Penulis: Surat kabar “Taman Pengajar” terbit di Tanah Jawa↩︎
Hoofdonderwijzers = Kepala Guru↩︎
Candidaat-onderwijzers = Calon Guru↩︎
Hulponderwijzers = Asisten Guru↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk surat kabar “Bintang Hindia”, tatkala saja jadi Penolong Hoofd-redacteur surat kabar itu, di Amsterdam↩︎
Mak Uncu: saudara laki-laki termuda dari pihak ibu, sering diumpamakan sebagai posisi terhormat tempat berkeluh kesah/penasehat utama bagi para kemenakan↩︎
Terjemahan dibuat oleh transcriber MasasilaM↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk surat kabar “Cahaya Sumatra”, tatkala saya belajar di Hoogere Land, Tuin -en Boschbouwschool, di Wageningen.↩︎
Catatan Penulis: tidak maksudnya “tiba di perut dikempiskan, tiba di mata dipicingkan”; tetapi seperti kata pantun: “kandang sapi, kandang kuda; pandanglah kami supata kami pandang pula.”↩︎
Di Tanah Hindia seperti pembaca tahu, telah diadakan pula “Dep. v. Lanbouw”, Wujud pendirian department ini sungguh seperti department di Tanah Belanda, pembantu anak bumi.↩︎
Belasting = pajak, bea, atau cukai↩︎
Heerendienst = sistem tanam paksa tanpa upah↩︎
“Oh, perubahan itu; berhati-hatilah dengannya!”↩︎
Catatan Penulis: Pembaca wajib segera mengerti bahwa landbouw-verbetering, yang akan diuraikan oleh penulis bukannya keterangan, bagaimana umpamanya menanam kopi, bijan, dll, atau bagaimana memperternakkan kuda, sapi, dll –tidak,
Keterangan-keterangan ini sekarang boleh diminta oleh anak bumi kepada Department van Landbouw di Betawi atau kepada Gouvernementslandbouw-adviseur.
Maksud penulis ialah hal apa keadaan apa dalam bertanam dan dalam berternak, patut dibaiki dan diperhatikan oleh anak bumi.↩︎
Verslagen = laporan↩︎
Catatan Penulis: Tahun 1907 “belangrijk kleiner” jauh susut tetapi angkanya tidak disebutkan. Siapa pembaca hendak mengetahui banyak beras asing masuk di P.-Barat dalam 25 tahun di muka tahun 1905, lengkap dengan keterangan-keteragannya serta hal tanam-tanaman yang lain, bacalah: “De toekoms van Sumatra” door Dr. Kamerling i/h “Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch Indie” - Deel LXXI, 2e halpf-jaar 1905.↩︎
Catatan Penulis: Tak heranlah bila didengar adalah di antara anak bumi yang tak sempurna pikiran, putus asa, di masa beras mahal gemar mencari-cari salah, melanggar politik, supaya ia ditangkap, dihukum dan dikurung dalam tangsi. Wujudnya memanjangkan hidupnya: hendak nasi dan sedikit sambal, yang diperolehnya “prodeo”.↩︎
Landbouwleeraar = guru pertanian↩︎
Landbouwadviseur = penasehat pertanian↩︎
Catatan Penulis: ‘kita’ : orang-orang Belanda↩︎
“bahwa orang Jawa atau orang Melayu tidak akan pernah benar-benar memahami hewan ini, yaitu kuda.”↩︎
"Dengan senang hati saya sekarang melihat bahwa saya telah keliru, pada masa muda saya, dalam menilai penduduk pribumi. Seorang Jawa atau seorang Melayu sungguh dapat belajar memahami hewan itu (kuda), asalkan ia dididik sebagaimana saudara kulit putihnya."↩︎
“bahwa Tuan N. van Wingen telah keliru.”↩︎
Kruisingsteelt = pembiakkan silang↩︎
Sandelhout = kayu cendana↩︎
Catatan Penulis: kukarang ini untuk het Koloniaal Weekblad “Oost en West”↩︎
Catatan Penulis: kukarang ini untuk het Kolonial Weekblad “Oost en West”↩︎
Catatan Penulis: buah pikiran yang berikut ini kukarang, tatkala saja sebentar di sini, sebentar di sana, di practijk, di Tanah Belanda.↩︎
Tanah hindu, di Hindia Inggris↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk het Koloniaal Weekblad “Oost en West”↩︎
Catatan Penulis: kukarang untuk surat kabar “Ceres”↩︎
Catatan Penulis: huruf awal nama ini ditulis dengan huruf besar sebab Tanah Belanda hanyalah satu↩︎
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.