SAJAK-SAJAK
S. RUKIAH
KOLOFON
SAJAK-SAJAK
oleh
S. RUKIAH
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Ilustrasi sampul: Cosiddetta Flora, AD 1 karya Unknown, Villa di Arianna
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
Ilham II
Sekali kita berjumpa muka
di tepi jurang.
Bagai kilat
Sekejap kautangkap Aku
Kaubawa aku berlari
di atas kuda citamu yang liar.
Biar —
Biarlah kita terbang mengawang
menari ketawa di ujung jiwa.
Biarlah kita tenggelam di dalam jurang
menjerit mengerang di dasar cita.
Asal saja
Kau dan Aku
tetap bersama berpacu Cita,
tegak berdiri,
meski di atas runtuhan mati!!
Gelombang Zaman, 1946
Tanah Air
I
Hanya senyumanmu sajasuram mendalam.
Selainnya masih gelap berselubung
tak kenal bintang.
Sedang hari baru tiba kepada senja!
haruskah aku nantikan Engkau
dengan bercermin di langit mendung melalui malam kelam
yang belum tentu ia berbulan?!
II
Lihat! Alam tiada semarak lagiLangit tinggal bayangnya saja
melengkung curam! Di situ rupanya penuh bertimbun kekayaan.
Surga! Begitu tiap manusia bilang
tapi bila datang kebinasaan
dari kedahsyatan benci dan pembunuhan
di situ, di situ pula kita terpelanting
ke dalam jurang!
tak ada lagi yang tampak menguak harapan
hanya itu senyumanmu saja
yang suram mendalam.
sedang hari baru tiba kepada senja!
III
kekasihku,di sini, di antara bunga-bunga kuncup yang belum tahu
warna serta wanginya ini
dengan bercermin di kabut mendung ini
akan kunantikan Engkau
sampai hariku satu-satu berlepasan!
Kapan itu selubung gelap pecah terbuka
dan kapan lagi itu
bayangan bulan yang kecut muram jadi ketawa
menyentakkan layar malam bertemu dengan matari
mengulur pagi bercinta?
aku tidak peduli kepada jam mati
yang lupa akan detikan,
Cuma itu saja: senyumanmu!
suram mendalam
bayang kurban kebengisan kubuat jadi pedoman!
Gelombang Zaman, 1946
Buntu Kejaran
Bertemu lagi
Aku dan ilham.
Dia ketawa tergila-gila
Mulut kuat enak mengejek
Cepat kukejar
Ia lari seperti binatang liar...
Tertangkap ia kupegang erat
Menjerit
Terkejut telinga pekak.
Kubantung kembali
Lepas melancar lagi
Menari mengawang tinggi...
Buntu lagi kejaranku
Darah panas melonjak kepala
Dan jiwa geram menghardik:
Aku belum bisa mengalahkan dia...
Pujangga Baru, 1948
Pohon Sunyi
Akarmu rapuh dengan tanah berpegangan
sebagian sudah lepas,
putus berpisahan.
dan pasir sebutir demi sebutir ngeri ia berjatuhan!
dekatmu diam membisu,
daun kering mulai bercerai pergi,
dan jatuh di sungai tenggelam di arus mati.
daun setangkai-setangkai
putus semua.
dan gugur kedasar mencari hidup semula.
tinggal pohon yang rapuh memandang jurang,
sunyi menanti.
dan apa yang akan datang ?!
Pujangga Baru, 1948
Pulasan Hidup
Berdiri aku menghias rupa,
senyuman dibibir membunga cinta,
di bawah listrik yang 'nyorot empat puluh watt!
Putih kubedaki mukaku,
Bibir kumerahi 'nyala,
dan kulilitkan selendang hijau.
tampak itu lukisanku,
dan tampak itu pulasan Manusia ku
Malam ini aku cantik,
kena sorot sinar api bola listrik!
dan Bintang gelit pudar,
pasti aku luntur s'gala.
terkupas habis telanjang mati,
dan senyuman berganti mengembang racun!
pulasan Hidup memalsu diri semata!
Pujangga Baru, 1948
Kamar Tua
kamar sempit sudah tua
berbau apak
mata dua jadi buta
di mana titik sinar?
Gelap!
terus dan terus gelap
warna itu cuma satu
dan kamar menjadi ambruk
hancur ke bumi neraka nyata
biar dan baik
kamar tua roboh hancur
sinar lunak tak berputar
dan merdu nyanyian lagu
mati tak terdengar lagi,
Biar
itu cuma bangunan buat-buatan
cuma suara tiru-tiruan
karena semua ini
mesti berganti.
Pujangga Baru, 1948
Lukisan di Siang Hari
aneh sekali!
seperti suara manusia.
sebentar lagi malam datang
mungkin segala jadi berhenti
dan aku cinta sekali
akan malam yang sepi tidak berangin!
lupakan tiap suara
dan saban bentukan manusia
biar ia menjadi cair kembali
ditelan keributan yang bengis di siang hari.
malam ini hanya lampu,
seperti cinta menyala Satu!
tinta merah menetes-netes,
dan coba baca itu lukisan aksara:
usia, cinta, perang mengganas,
dan nafsu berkejaran Kebenaran.
membawa hidup jadi bertanya:
Kemana manusia berjalan mencari Tuhan?
Mimbar Indonesia, 1948
Piala Kosong
lapuk tiada bertilaman.
Piala kosong yang dijadikan hiasan
kurus tegang,
berderet kaku di atasnya...
ruangan pun jadi kosong,
dan gelak yang tadi panas berteriak,
dingin tak terpancar lagi,
sepi berhenti:
"bayangan tubuh yang
lesu terhuyung-huyung..."
"dan meja yang telanjang ini digulingkan:
tetap kosong tak ada yang tampak lagi,
cuma lukisan tukang judi.
— dan gadis cantik —
di dinding masih membekas:
"Nafsu!"
sebelum tiba di kerongkongan maut?!
Mimbar Indonesia, 1948
Sahabatku
I
Aku lukiskan Engkau,di sini di atas kertas:
— "Pemuda pergi meninggalkan bekas"—
di malam bulan Purnama,
selalu datang bayangan yang menggelikan:
— "Engkau menyembah kecantikanKu"—
Tapi ini lukisanMu,
tak termasuk anggota daftar,
dan Engkau
hanya jadi korban kerlingan mataku!
engkau pulang tiada harga —
II
Datang revolusi,zaman loncat meningkat cepat,
tapi juga zaman pembubaran ilham,
lukisan Affandi jadi saksi!
pemuda mulai hilang satu-satu
seperti bintang yang jatuh hari kiamat,
dan Engkau pun kemana lagi?!
III
Sekali di malam tidak berbulan,datang lagi bayangan menekan mata:
— Engkau menyembah-nyembah hidupku —
tapi aku sudah tahu,
ini sembahan yang penghabisan.
malam ke satu:
Pernah kucari sewaktu mimpi,
engkau ada lari berlomba,
antara cinta dan pembunuhan!
IV
Sahabatku,tidakkah ini bagimu sama kejamnya,
"kerlingan mata dan pembunuhan?"
sekali engkau kutulis lagi,
dalam gelap coretan rahasiaku:
— "Pemuda pergi meninggalkan bekas" —
Mimbar Indonesia, 1948
Kehilangan Surga
dan lepaskan,
bendungan Rasa di jiwa.
biar kita rombak segala larangan Tuhan!
Hanya segores mimpikan Emas,
pagi berpisah dengan Purnama,
Dan ini satu bentukan,
terpecah loncat menjadi dua —
di tepi kolam membening
menjerit suara kering
dua makhluk menyusun jari di dada...
dari dua tubuh bulat telanjang:
— Adam dan Hawa —
karena sekejap dicelup nafsu,
manusia mulai berjabat tangan,
berkenalan dengan setan...
Mimbar Indonesia, 1948
Adikku Kecil
bikin lingkaran main-mainan,
celana monyet campur ingus,
kadang bersorak
kadang menangis.
Apa kini yang kau perbuat di atas tanah,
adikku kecil?!
bikin cita gunung-gunungan meninggi?
Susun, susunlah adikku,
kurang, kurang tinggi!
Coba perkuat tambah batu-batu kecil,
coba ambil lagi batu-batu!
Ah- Matahari senja hampir datang,
gunung batu belum tinggi,
datang si kawan bikin ribut mau rebut gunung-gunungan,
lihat, terjadi kini perebutan gumul-gumulan,
akhir gunung jadi runtuh kembali rata!
Adikku kecil.
Sebentar bikin lingkaran main-mainan,
sebentar bikin cita gunung-gunungan,
dan sebentar mau juga menang dalam perebutan gumul-gumulan,
tapi sebentar ia nangis,
celana monyet campur ingus.
Tandus, 1952
Pahlawan
Api Suci kau nyalakan
yang berarti:
“Aku bagimu hai Negara”
Di depan sekali kau berdiri
menentang maut
pedang terhunus menikam api
tiada gentar sehembus nafas,
walau musuh
seribu kali tertawa.
Hidup ?
Adakah hidup bahagia,
jika dipaksa hidup menghamba?
Tidak ! Runtuhkan segala --
maju,
walau Ajal ganas mengecap!
Tandus, 1952
Buku Kosong
Kau berikan dulu buku kosong seribu lembar
Dengan mata yang meminta,
Sinarmu lunak berkata:
Masukkan semua isi hidupmu
penuhi ini lembaran kertas seribu
dengan tinta dan tulisan berbunga-bunga
Kutinggalkan rumahmu sunyi,
aku berjalan dinyanyikan matari pagi.
aku datang diiringkan angin malam.
Kuketuk pintu rumahmu,
tampak di dalam:
Engkau tenang berdua dengan pelita,
bercahaya satu!
Tanganmu mengulur meminta buku yang dulu!
Aku gemetar,
Kau buka selembar demi selembar.
aku tunduk!
di tanganmu buku nampak
kosong merata tiada isi
hanya garis mati dan coretan hampir pudar,
tak berarti!
Dengan mata yang meminta.
Sinarmu lunak berkata-kata:
Buat apa
Ini garis-garis mati tiada guna!
Tandus, 1952
Sebagian Pertemuan
kedengaran dalam bisikan mengap-mengap:
"aku mau lepas dari rahasia
bungkusan dunia!"
Aku pergi
tapi tampak pula di tengah sebuah rumah,
yang terang benderang
Berteriak orang mabuk berkeliling,
dengan suara gila meriah:
"Ini kelezatan dunia,
bukan impian
tapi untuk makanan hidupmu semata"
Aku melengos pergi lagi!
apa pula ini dalam semak,
hitam merah pinggir jalan?!
Kutemui dua tubuh menggeletak,
satu mati! satu lagi masih hidup samar-samar
Ketika kutanya, keluar suara ngeri terputus-putus:
"aku dan dia tadi bertempur,
berebutan kebenaran."
Dikatakan saja ini tiga pertemuan,
keramaian hukum alam dan manusia,
tapi ... mau kemana sebenarnya,
itu orang-orang yang berkeliaran,
ta' ketahuan betapa ujung pangkalnya?!
Tandus, 1952
Jalan Sementara
dan telan jeritan katanya yang berderet berbelit-belit
jangan tidur!
sebelum lampu mati sendiri.
Sebaris demi sebaris
selembar demi selembar
makin lama suara makin mengiris
jauh mengabur
anak kecil mulai ngantuk depan pelita
mata letih masih lemah rangkap cahaya.
Ah, engkau ini menyuruh dia mencari?
sedang engkau tidak tahu
mencari bukan paksaan yang membelenggu
tapi keinsafan dalam kembali
yang lolos ringan merdeka.
Itu deretan huruf yang kecil berbelit-belit
cuma jalan dan mainan sementara
seperti buah yang berbiji mau pecah
kita ini mencari masih
di mana
pisau kupasan kebenarannya?
berkeliling sementara
berjalan bertanya-tanya
tapi — bila buah terpecah sudah
itu biji cuma satu!
Lekat melilit dalam bentuk kebenaranMu.
Tandus, 1952
Patung Sembahan
hawa dan rasa sama kosong tak menentu
kubuka tabir berdebu di sudut
secetus api mengkilat:
"patung sembahan!"
Bau dupa mulai penuh sekitar
api nyala seperti kedipan mata
dan aku tunduk bersimpuh memuja.
Berdetik. Bermenit. Berjam,
berhari, bertahun!
Tabir patung kubuka dan kututupkan
api setanggi kutiup dan kunyalakan
tapi patung tetap masih bentuk patung
bau setanggi tak berganti.
Kesan perputaran hidup
gelap berdebu mengosong.
Ini hidup mulai meminta isi
jiwa haus kekeringan
mata hati jemu melihat bentukan patung
dan tubuhku seperti yang dilingkari
asap dupa tanda tanya:
"Inikah pujaan yang berisi Kebenaran?!"
Ketika aku meminta diri
berhenti pergi dari pujaan
sekali tabir pernah kubuka dahulu
bayangan tetap masih semula:
"menyeringai patung sembahan"
Ini penglihatan penghabisan
dari kamar yang berpatung kekosongan
dan aku pergi mencari isi jawaban!
Tandus, 1952
Pancaran Dipersimpangan
ada kulihat pengemis lalu berbaju debu
seperti kerangka setengah nyawa
dan sudah biasa mereka:
hidup menanti dan menerima!
Ini sebagian orang dekatku begini.
Di jalan simpangan lain:
gembira orang dalam mobil-mobilnya melancar
sambil ketawa merasakan enak mimpinya sebentar
dan sudah biasa mereka
hidup menelan korban yang lain
dan ber-Tuhan kepada dirinya!
Ini bagiku tiada bedanya
dengan anjing yang menggonggong di gedung-gedung
hanya sekedar jadi pengekor tuannya
mereka hidup menumpang di kecurangan.
Tapi yang aneh bagiku,
di tengah dua kepincangan ini
banyak juga mayat suci yang pergi menghadap Tuhan
disirami banjiran air mata pertanyaan.
Cuma semakin lama
bagiku segala makin biasa
dan memang sekali ini tak kupedulikan lagi
ini penyakit.
Hanya satu!
aku ingin menjadi setetes obat yang pahit
bagi penyembuh ini dunia
dari beribu penyakit kelancungan manusia!
Tandus, 1952
Cerita Malam
pada rumah-rumah tua menggeletar cahaya bulan
dan malam itu aku masih berlari
meloncati parit-parit gelap
di mana kucari, inilah bekas kakimu menginjak?!
Sepanjang malam ini aku terus melalui mimpi
dan engkau tak usah tahu
sampai di mana habisnya
dan sampai kapan ini tiba di perhentian impian
sesudah puas memilih-milih
malam keberapa
dan malam mana yang penuh bintang keemasan?
bulan merayap perlahan tenggelam
dan perlahan aku berdiri di atas jembatan tua
kutengok bayang-bayang di air
sudah hilang tiada lagi
Lihat! Bila bayang-bayang tiada lagi
dan cahaya bulan sudah pergi
aku rasa, impian hampir selesai
parit-parit yang gelap hampir berlalu
dan pasti akan kucari jiwamu
yang berat berkata-kata: mari, bangunlah!
akan tampak di mata kita
ini sepotong dunia yang sakit pucat telanjang
menjadi dunia yang satu bulat selesai
dan mayat-mayat yang sudah merangka di kubur
akan bangun kembali penuh bernyata!
Tandus, 1952
Satu Bunga
daun-daun sudah kering
dan ranting bergeletakan merindu hujan dipagi hari
Musim bunga tiada lagi
tapi ditanganku masih ada
satu bunga berwarna dua:
“merah nyala
dan putih semurni kasih”
bagai mayat pergi kekubur
tinggal bungaku yang terlepas dari akar
nantikan hudjan sebelum warna menjerit pudar
yang tak mau meninggalkan hari
ini bunga jang satu tak mau mati
dan akupun hilang warna
bila bunga ini mati
masih menggeletar ditanganku
satu bunga berwarna dua:
Lindungi Ia
dari jajahan matahiri!
Tandus, 1952
Kenangan Gelita
I
Malam ini aku mau lagi bercerita,dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku
buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan
Seperti juga kita di hari kini
di mana batas sampai tepi langit di jauhan
di mana segala anak-anak manusia
terima satu perintah jangan melanggar ini batas
di sini kita berpisah
antara dinding penjara dan pegunungan
Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini
engkau diburu macam hantu pelarian
jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan
di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang
sedang aku di balik terali dingin
tergolek mau bermimpi malam kenangan.
II
Biar sekali ini aku tak ada melihat lautkapal-kapal juga semua sudah berlayar
angin lari dan bintang tidur satu-satu
tapi aku tak kepergian suaramu
meski malam selalu warnanya hitam
sebab lantai dingin dan tembok putih ini
sekali-sekali ia mau memberikan jalan
buat angin pagi dari suara pegunungan.
Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati
akan kupinta satu pena kuno yang runcing
serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering
dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang
atau menulis sajak yang banyak
meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan!
III
Tapi pernahkah melintas di tempatmumalam kenangan di malam gelita pegunungan?
Pabila ada juga padamu
di antara rintik-rintik hujan senja
atau bunga-bunga hutan yang berserakan
tak 'kan kuhabiskan kenangan ini
biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi
tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara
karena sekali kenangan ini akan berakhir
kita bertemu di antara meja dan bunga merah
sambil minum air yang bergula manis-manis.
Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk
dan aku akan ketawa dan ketawa!
hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan.
IV
Tapi bila dalam satu pagibulan ini masih tampak seperti gambar sabit emas
atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil
inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang
atau aku bacakan sajak penjara yang dulu
dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka.
Cuma di sini
Masih ada yang mau aku katakan:
Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian
aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan.
Kita bukan orang pelarian yang
masing-masing tidak punya satu dunia.
Tapi Eska!
Kenanglah sekali cerita kenangan ini
bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan
atau telah benci mendengar cerita darah
atau cerita maut, dan cerita busukan manusia
engkau akan tulis di satu buku harian:
kita dua manusia yang cinta kepada cinta!
Zaman Baru (1958)
Mencari Lagu
aku dengar angin seperti mengeluh
gemerisik melanda hutan kesakitan
sedang daun-daun berhamburan kering melewati bunga-bunga
kuncup yang berat berdebu.
Bila hari setengah sendja
aku lihat gambaran dilangit hidjau
mega buruk melukiskan kepala binatang kasar,
bila kutanya mereka menggeleng: tidak tahu!
sedang kemudian terdengar nyanjian gemetar
dari manusia seribu matjam
yang mencari lagu-lagu kebesaran.
Terasa dada penuh memukul-mukul
aku menCoba lari dari ini bayang kemustahilan
kucari dari seribu macam lagu manusia
satu lagu kepastian yang mengikat tiang-tiang kehidupan!
ini kepercayaan berat yang dilagukan dari seribu suara
matahari pudar setengah mati
dan burung-burung bergelaparan membawa berita lama
aku lihat lagi manusia mencari daun lebih jauh :
Siapa, dimana dan betapa letak tinggi kemanusiaan
yang mengikat tiang-tiang kehidupan ?!
Tandus, 1952
Dengan Satu Bacaan
jangan kita samakan lagi dengan hari yang sudah lepas
tapi jangan dulu kita sambungkan
dengan hari yang belum datang di tangan.
Hari ini kita hadapi satu buku saja
dimana tertulis tentang hidup kebengisan
dan kepahitan perjuangan
dimana cermin tentang tuntutan kemanusiaan pecah-pecah
dan ini pula yang menjadikan dunia kita
berkerut kecil kembali
terkurung dalam batas lingkaran buta!
Begitu saja — kawan
jangan bosan dulu dengan ini satu bacaan
sebelum meloncati segala koma dan tanda-tanda penyeru!
kita belum bebas dari permintaan bermain
setiap malam
dalam satu pertunjukan sandiwara
dan jangan ngeri, jangan ngeri!
Diar berturut-turut cuma mendapat penderitaan!
Hari ini kita hadapi satu buku saja
bilamana ikatan hidup terasa kendur berkurang
kita akan lihat hantu-hantu pulang ketakutan
melalui gang-gang di gelap malam
dan cepat-cepat mereka menyudahkan hari kenangannya
bersama dengan meninggalkan
segala guntingan bayang-bayang ketiadaan
dan akan membekaslah di belakang kita macam-macam persoalan:
ke-Tuhanan-keagungan pengadilan penghabisan
tapi juga pengertian kesetanan!
Pabila sudah begini:
renungkan, renungkan sekali perjalanan ini hari
dan katakan tentang permintaan bermain
setiap malam
berakhir bebas tak jadi ikatan lagi
sebab manusia hidup sama dengan ini nyanyian:
— siapa punya permulaan, punya penghabisan juga —
dan coba tanya sekali lagi:
adakah nikmat bila hidup pernah merasakan
berat beban percintaan?
Tandus, 1952
Lagu Buat Saudara
atau tidak kenal akan cahaya dalam hari-hari gembira
engkau biasa mengajak aku
pulang saja ke tempat yang dulu
meninggalkan rumah dan kamar yang koyak-koyak
dan berkata:
bereskan saja, lipat saja ini segala pakaian!
Ia tiada arti, meski berdandan setiap malam!
Aku bertanya: Engkau ini habis kepalingan cita-cita?
dan betapa, sekali lagi ini betapa
satu kekalahan yang tak berarti
sudah dapat membunuh perjuangan kemenangan?!
atau bila hari panas telah lewat
dan sekalian warna hilang-hilang dalam kabut musim hujan
engkau juga akan hilang tiada rupa?
Bagaimana, sekali lagi bagaimana
kita belum tiba kepada penyelesaian persoalan!
Lebih baik tunggukan saja — saudara,
cerita ini belum selesai!
dan aku juga berada dalam cerita —
duduk dulu, dan coba perhatikan
ini patung-patung juita dan tempat bunga di meja
ia telah merupakan gambar manusia tua
yang sudah lupa kepada dongeng lama!
dan lihat lagi itu lukisan pahlawan di dinding
perhatikan warna cat dan coretannya
sebentar lagi ia pudar serta bentuk minta diganti!
Nantikan dulu — saudara
coba buka ini jendela dan pintu yang sudah koyak
lihat manusia itu manusia yang sama-sama kekalahan
rasakan ini satu derita dalam seribu pembunuhan
dan kita mesti belajar. Bagaimana
cara menghunus pedang serta menyapukan
darahnya sekali di baju kita?
Tidak — saudara
tidak akan lebih pendek hidup ini
atau tidak akan hilang pertemuan dengan
jalan terakhir dan teriak kemenangan
bila kita melupakan dulu gedung indah
dengan bunga-bunganya segar merah
atau lukisan bidadari yang tidak tahu kena debu.
Tapi kini harus kenal dulu bujukan maut
permainan iblis dengan anak-anak Adam
serta rumah koyak, kamar gelap, langit buta!
Ah, belum lagi — jangan pergi!
rumah dan kamar ini masih berdiri
jangan ditinggalkan dengan kosong tiada bekas sekali.
Tandus, 1952
Engkau dan Nafsu
Buat gadis M.
memang banyak permainan gerak dan warna berganti-ganti
juga permainan tipu dan kecewa
membual penuh kenafsuan!
Engkau cuma menerima hanya
sedang bunyi-bunyian bertukar menjadi perintah kata-kata:
petiklah sekali tali kecapi angan-angan
hingga keluar bujukan halus dan nyanyi pelbagai lagu.
Sekarang waktunya kita mengeringkan isi piala
sampai kering sekering-keringnya!
Sedang gila kemabukan
Engkau terima ini permintaan buta
lalu datanglah mabuk dari tari yang mendahsyatkan
tangan selalu mengangkat piala nyala
yang berkata: Beri minumlah aku!
Aku haus! Aku haus!
Kekuasaan tampak mengecil di bawah kulit kakimu
tapi Engkau jadi gemetar!
dalam telinga menderu angin topan
terbang berputar di langit kosong
Engkau gila mencari lagi cahaya yang sudah pudar
tapi tak bertemu dengan hubungan antara hari dengan malam!
Sebentar ketikanya akan datang
kini sudah ada!
Aliran hidup menjadi berwarna-warna
Engkau sukar mencari warnamu yang dulu
Sedang piala yang kering habis kau minum
kini ia pecah-pecah
tinggal beling berserakan di kakimu
dan di hadapan sunyi senyap meliputi jurang!
Bila mimpi sudah turun di gelap malam
atau api sudah dingin padam begini
abu beterbangan ke mana-mana
Sedikit padamu tak ada satu yang tinggal
Tandus, 1952
Kemungkinan
musim hujan
ini teriakan manusia, pecah penuh
menjadi bentuk jelma perjuangan
yang meminta hidup mengembang sampai jauh
tak mati-mati!
Tapi musim hujan cepat mengering
kupu-kupu hilang beterbangan di udara
sunyi tak ada lagi main kecupan
di atas bunga-bunga menyala
Tinggal panas membisu! Hanya di mana-mana
masih ada lagu kemenangan yang dinyanyikan.
Begini, begini perjuangan sekelompok manusia
berani nyala-cinta ketawa
antara kawan-kawan sepanjang hari kehausan
naik turun penuh keluhan
hasrat menunggu
di mana kata-kata keemasan hanya pergi melalui
langit tinggi
sedang cinta semakin tua mendalam.
Begini, begini perjuangan sekelompok manusia
merah padaku menggores, seperti cetusan
api berkilat: Keras!
Tapi mungkinkah ini bertemu dengan
kata-kata keemasan
sebelum datang waktu bertobat
pada penghabisan pengadilan hari kiamat?!
Tandus, 1952
Pelajaran
kapal ke laut dilepaskan
di mana satu hari pertemuan kita rancangkan
di tepi langit yang ramai berpesta warna,
untuk hidup kembali sambil menghitung-hitung
berapa bintang yang sudah jatuh?!
Selagi aku masih hijau, kau tutup mataku
dengan berpura-pura membuta
engkau pergi berpisah menyimpang
dari rancangan satu hari pertemuan sejak semula.
Kini aku masih suram
samar-samar melihat bulan,
Aku tidak tahu, kapal siapa tampak menggelap
dan laut mana yang seperti kaca mengkilap?
Dulu memang aku cinta kepada mimpi
yang dusta cuma mengembang dikenang!
Hanya sekarang, sekarang aku duduk sendiri dalam kapalku
Sedang engkau jauh membayang
buta semua – tuli bila kupanggil
dan memang semula aku bermohon: jangan lari!
Tapi sekarang, sekarang aku duduk sendiri dalam kapalku!
Bila pagi merah dan bintang-bintang pucat berlarian
ini tanda tepi langit hampir tiba.
Aku lebih suka, bila engkau terus hilang meninggalkan
dan tidak bertemu lagi –
Biar satu hari pertemuan yang dulu kita rancangkan
disimpan lagi dalam tambatan tali mimpimu!
Tandus, 1952
Kehilangan Lampu
kita kesesatan gila tak ada penunjuk jalan
tenaga menjadi setengah mati
hanya hati digerakkan oleh satu cita-cita
hingga lupa kepada perintah yang berkuasa
atau tak peduli akan izin satu pendeta!
Bila kita sekali periksa lagi:
keindahan sudah rusak pergi menyerahkan badan kepada penyamun dan keganasan
kebenaran dilarikan dengan paksa
hilang diseret gelap gelita
sedang karangan bunga, pesta-pesta dan tarian
hanya penuh dikelilingi pengemis
kurus telanjang!
Tapi. Meski begini:
dunia tidak kan karam karenanya,
dan manusia pun tidak!
Memang jalan lorong sempit menuju dunia luar
selalu penuh angin taufan
Biarlah kita turut menindas
segala pembinasaan serta ini kekejaman
dan jangan selalu meminta izin sebelum kita merampas!
Jika begini
meski lampu masih padam
kita terus digerakkan oleh satu angan-angan.
Tandus, 1952
Antara Menunggu
pada garis langit yang merah kuning itu
juga tidak ada lagi kekuatan penghabisan
pada dahan-dahan retak dan daun kering yang bergantungan.
Semua cuma menunggu:
antara kepanasan dan kedinginan
juga antara kulit-kulit manusia yang sudah kusut
dan tangan yang lesu gemetaran mau membelai
sedang semua jari-jari hampir patah kelemahan.
antara semua ini kita tinggal punya dua mata
dimana kenangan kepada sanggulku dulu
yang bersuntingkan satu kembang merah muda
yang bersih di langit cerah
atau kenangan kepada lagumu jauh
kini ia hilang-hilang kena angin.
biarlah kita masih punya satu harapan:
kita ingin, mata itu jangan pecah cahayanya
atau jari-jari yang lesu dan gemetaran
jangan sampai patah kelemahan.
Nanti kita tahu, kita tahu:
dimana itu pegangan yang tinggal berada.
Tandus, 1952
Mau Ke Penghabisan
dan jarumnya jatuh di lantai
waktu untukku sudah berlalu.
Tapi sebelum itu, aku lupa pada perjanjian
juga tidak tahu bahwa bayang-bayang kepunyaanku
sekali ia akan berhenti tertinggal!
dan aku cuma tahu minum madu
sambil tertawa dengan orang-orang asing
di mana kulihat satu pemuda kesayuan
menggeletak ditinggalkan kekasihnya.
Dan sebentar ia bertanya:
masihkah hatiku didiami patungmu?!
Aku lupa perjanjian
aku cuma tahu tentang minum air madu
dan ketika jam mati terbanting
dan jarumnya jatuh di lantai
waktu untukku sudah berlalu!
Sekarang nasib penghabisan mendatang
dengan tidak mendukung cinta kekasih
seperti asap dan kabut turun
bermain antara
antara tanah hitam dan langit berkerut:
aku dengar teriakan panjang-panjang:
berilah setetes darah! berilah.
Cinta yang diucapkan dari bibir perempuan
atau lagu ketiduran buat adik-adik manis
hilang seperti tadi jam mati yang tak berbunyi
hanya itu terdengar teriakan panjang-panjang
dan ada lagi bunyi kuda yang berlari
di angin panas yang menggiringkan garis-garis penghabisan.
Tapi sebelum ini tidak tahu,
bahwa bayang-bayang kepunyaanku,
sekali ia akan berhenti tertinggal.
Juga aku tidak tahu
bahwa janji akan meminta setetes darah.
Tandus, 1952
Cerita Laut
dengar, dengar itu gedebur ombak galak
dalam suaranya melagu muda
sudah mulai menggerakkan hati
mengalun
akhirnya aku turut berlagu meninggi!
Ketinggian lagu ini
benci akan mati yang gelap
cinta jadi membulat! Menari mengelilingi aku
berdiri di tepi.
Ada kulihat di sini
bekas perahu kandas tenggelam ke dasar.
Aku juga pernah waktu dulu di sini
kapalku seperti yang satu itu tenggelam
menggelap. Aku terbentur batu karang,
itu karena percampuran kelemahan
dari kemauan buat berjuang!
Kapalku seperti yang satu itu tenggelam
dalam tidur di dasar, aku tiada diberi mimpi
bila siang matahari tak gemerlapan
sunyi dari terang cahaya yang menghidupkan.
Tapi – tapi datang lagi kapal lain waktu itu
pecah ke atas teriakku:
inikah cahaya pertama
dari gantungan bintang yang jauh meninggi?!
Sepanjang laut –
datang lagi kapal membangunkan
keruntuhan nyawaku
Aku lepas dari mimpi yang tak berbentuk
hariku diberi corak cahaya
aku cari kawan-kawan dan berpesta!
Aku sekarang bangun sekali lagi
bersiap. Akan kubawa kemenangan ini
sampai umurku memanjang tua.
Biar bekas perahu kandas ini
jadi kenangan ketika datang percampuran kelemahan
menindas kemauan buat berjuang!
Jangan, jangan ditekan jua
ini aku turut mencari suara
dari ombak galak melagu muda!
Tandus, 1952
Tanda Tanya
I
Suara piano itu mendengung masih
mesra berseni
mengenangkan kepada dua manusia:
– Engkau dan Aku –
Kala itu masih juga belum mengenal dirinya:
apa manusia itu
dan apa hidup yang sebenarnya?
Sumadi,
Pena ini menari masih
di atas kertas
mengenangkan kepada dua manusia:
— Engkau dan Aku —
pergi tak kembali lagi.
Kala itu sedang cinta melukiskan keindahan
semesta Alam.
II
Meski Panji itu tinggal sebagian
berkibar masih
tapi mengenangkan juga kepada dua manusia:
— Engkau dan Aku —
Kala itu mulai bangkit meloncat
kejam merampas "arti hidupnya":
mesra berseni
inikah Revolusi?!
III
Suara piano lepas menghilang
tarian pena bengis berhenti
Cuma sekali-sekali datang membayang
mata liar dan rambut panjang
lukisan hidup: “laskar galak”
Tapi lukisan ini pun, Sumadi
berlalu menghilang jua
pergi tak kembali lagi.
IV
Lembaran muka buku hidupmu
kini tertutuplah sudah
Hanya bila kulihat warna baju si Achjati
yang merah berapi,
aku terkenang kepada warna merah darahmu
menyembur panas
ketika lehermu tertebas putus.
V
Engkau kurban Revolusi!
Ini kenangan pena masih menari
di bawah lampu
sedang hidupku
kembali dilingkari tanda tanya!
Tandus, 1952
Cahaya Mau Mati
I
Kita memang berdiri antara pagi dan malamPula kadang-kadang lihat juga bintang di langit seribu,
atau perempuan busuk hati,
yang nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki
Katakan saja dunia ini penuh gula,
dan orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran,
tidak tahu bila tubuh tinggal tulang,
serta cahaya sudah mati di hujan malam,
atau hari pahit-pahit minta janji,
dalam Bibel kita baca satu kalimat
“Tuhan itu memang besar,
tapi sampai besok kita tidak mengerti kepadanya.”
II
Marah-marah kita kembali ke jalanan penuh debu,di mana banyak pengemis cari uang harga satu sen,
atau ada anak kecil berebutan permainan,
sedang matahari pada tanah
bikin bayangan panjang-panjang,
dan kita masih dalam kesangsian:
“apa malam nanti ada bulan sama bintang?!”
III
Bila cinta mau berhenti,darah yang panas menjadi dingin,
kita hentikan juga ini jalanan ke malam hari,
biar lama bermain di tanah bayangan yang panjang-panjang,
dan kita rasakan ini hati pahit-pahit minta janji,
sebab kita memang berdiri antara pagi dan malam,
tapi lupakan dulu teriakan menjulang langit:
“besok malam cahaya mati,
besok malam cahaya mati!”
atau orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran
tapi perempuan busuk hati,
masih terus nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki.
Tandus, 1952
Aku Sendirian
membawa aku jadi berjalan sendirian
dan aku tidak peduli
apa ada bintang, ada bulan,
atau ada gadis dan bujang sedang gila berpeluk cinta?!
Ini aku tidak tahu,
bahwa mungkin sauh-sauh sudah dibongkar
dan kapal-kapal bertolakan di atas laut
sebab aku cuma tahu
bahwa kini ada malam dengan aku sendirian
yang tak lama aku dan malam akan pergi berpalingan!
Bila lampu yang nyala di meja ini
aku besarkan apinya mengelupas dinding gelap
bayang-bayang di sana ikut juga jadi membesar
tapi mereka cuma berani menari dalam gelap warna hitam
dan aku dengar ada suara bercerita:
“di kuburan banyak manusia yang bajunya tinggal tulang”
Aku mengerti cerita ini
katakan saja aku dilarang jangan hidup sendirian
aku juga mesti ikut jadi bayang-bayang manusia tinggal tulang.
Tapi semua ini jangan dibikin penyerahan
juga tak perlu lari pada tajam keliaran hidup
bandingkan saja ada benda cair beku
atau api: Panas dingin lalu hitam
Apa tiap penolakan ini masing-masing punya kuasa?
Aku tak ingin jawaban di malam yang menyendiri ini
cuma biarkan aku berjalan sendirian panjang-panjang
dan jangan dulu diberi soal begini:
buat apa kamu baca bolak-balik Krishnamurti?!
Ah, aku baru tahu sampai sini
bahwa kini cuma ada malam hitam dengan aku sendirian
dan tak lama aku dan malam akan pergi berpalingan!
Tandus, 1952
Layar Hitam
di daunan dan kembang-kembang merah di bajuku,
juga sekali pernah cinta pada akar-akar
dan kulit-kulit pohon beringin
Tapi apa guna itu semua,
bila cuma sekilas hilang karena tindasan kasih?
"Pada malam sunyi bintang!"
ada katamu romantik begini.
Tapi sekarang bintang sudah retak berpecahan.
Kasih hancur sebab revolusi pembunuhan,
entah ke mana pabila pergi?
cuma layar hitam kau kibarkan
kapal kosong, langit gelap, laut merah,
dan ikan cucut di balik karang patah-patah:
Selamat jalan mengembang tangan!
Tidak perlu itu lamunan ke kejauhan,
apa itu idealis buat idealis pula,
apa itu Benar buat Kebenaran?
Tapi apa pula itu artinya kasih pertama
dan kasih yang penghabisan?
Sedang bujang dan gadis yang bertunangan
itu jangan disebut kebenaran.
Tapi aku sudah dibunuh masyarakat
aku sudah pernah bergaul tarik-menarik
juga tiang-tiang kelihatan mau condong
cuma aku masih belum mau membunuh kasih sendiri,
sebab sekali toh kita kembali
pada asal; bayi bersih manusia semula.
Dan kita tentu sekali lagi masuk gedung museum
kita dengar lagi musik-musik lagu klasik,
kita ingat lagi pada soal ke kejauhan,
atau: kita bikin bintang tepi kolam tanah Bali.
Ke mana lagi itu layar hitam dan laut merah,
bila bukan tangan kita yang merobeknya?
Jangan bikin pertanyaan,
bilamana masih dikatakan:
"Mati itu bukan lagi kewajiban".
Tandus, 1952
RUJUKAN
Tandus (Balai Pustaka, 1952)
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.