Baca EPUB: Sajak-Sajak

39 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SAJAK-SAJAK
  2. S. RUKIAH
  3. KOLOFON
  4. Table of Contents
  5. Ilham II
  6. Tanah Air
  7. I
  8. II
  9. III
  10. Buntu Kejaran
  11. Pohon Sunyi
  12. Pulasan Hidup
  13. Kamar Tua
  14. Lukisan di Siang Hari
  15. Piala Kosong
  16. Sahabatku
  17. I
  18. II
  19. III
  20. IV
  21. Kehilangan Surga
  22. Adikku Kecil
  23. Pahlawan
  24. Buku Kosong
  25. Sebagian Pertemuan
  26. Jalan Sementara
  27. Patung Sembahan
  28. Pancaran Dipersimpangan
  29. Cerita Malam
  30. Satu Bunga
  31. Kenangan Gelita
  32. I
  33. II
  34. III
  35. IV
  36. Mencari Lagu
  37. Dengan Satu Bacaan
  38. Lagu Buat Saudara
  39. Engkau dan Nafsu
  40. Kemungkinan
  41. Pelajaran
  42. Kehilangan Lampu
  43. Antara Menunggu
  44. Mau Ke Penghabisan
  45. Cerita Laut
  46. Tanda Tanya
  47. I
  48. II
  49. III
  50. IV
  51. V
  52. Cahaya Mau Mati
  53. I
  54. II
  55. III
  56. Aku Sendirian
  57. Layar Hitam
  58. RUJUKAN
  59. CC BY-SA 4.0

SAJAK-SAJAK

S. RUKIAH


KOLOFON

SAJAK-SAJAK

oleh

S. RUKIAH

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Ilustrasi sampul: Cosiddetta Flora, AD 1 karya Unknown, Villa di Arianna

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



Ilham II

Kau ada

Sekali kita berjumpa muka

di tepi jurang.



Bagai kilat

Sekejap kautangkap Aku

Kaubawa aku berlari

di atas kuda citamu yang liar.



Biar —

Biarlah kita terbang mengawang

menari ketawa di ujung jiwa.

Biarlah kita tenggelam di dalam jurang

menjerit mengerang di dasar cita.



Asal saja

Kau dan Aku

tetap bersama berpacu Cita,

tegak berdiri,

meski di atas runtuhan mati!!

Gelombang Zaman, 1946


Tanah Air

I

Hanya senyumanmu saja

suram mendalam.

Selainnya masih gelap berselubung

tak kenal bintang.

Sedang hari baru tiba kepada senja!
Ini aku tidak tahu

haruskah aku nantikan Engkau

dengan bercermin di langit mendung melalui malam kelam

yang belum tentu ia berbulan?!

II

Lihat! Alam tiada semarak lagi

Langit tinggal bayangnya saja

melengkung curam! Di situ rupanya penuh bertimbun kekayaan.

Surga! Begitu tiap manusia bilang

tapi bila datang kebinasaan

dari kedahsyatan benci dan pembunuhan

di situ, di situ pula kita terpelanting

ke dalam jurang!
Jika begini

tak ada lagi yang tampak menguak harapan

hanya itu senyumanmu saja

yang suram mendalam.

sedang hari baru tiba kepada senja!

III

kekasihku,

di sini, di antara bunga-bunga kuncup yang belum tahu

warna serta wanginya ini

dengan bercermin di kabut mendung ini

akan kunantikan Engkau

sampai hariku satu-satu berlepasan!

Kapan itu selubung gelap pecah terbuka

dan kapan lagi itu

bayangan bulan yang kecut muram jadi ketawa

menyentakkan layar malam bertemu dengan matari

mengulur pagi bercinta?
Dalam kemestian melalui malam ini

aku tidak peduli kepada jam mati

yang lupa akan detikan,

Cuma itu saja: senyumanmu!

suram mendalam

bayang kurban kebengisan kubuat jadi pedoman!

Gelombang Zaman, 1946


Buntu Kejaran

Di jalan panjang,

Bertemu lagi

Aku dan ilham.

Dia ketawa tergila-gila

Mulut kuat enak mengejek

Cepat kukejar

Ia lari seperti binatang liar...
Di jalan buntu

Tertangkap ia kupegang erat

Menjerit

Terkejut telinga pekak.

Kubantung kembali

Lepas melancar lagi

Menari mengawang tinggi...
Di jalan buntu

Buntu lagi kejaranku

Darah panas melonjak kepala

Dan jiwa geram menghardik:

Aku belum bisa mengalahkan dia...

Pujangga Baru, 1948


Pohon Sunyi

Engkau sudah tua

Akarmu rapuh dengan tanah berpegangan

sebagian sudah lepas,

putus berpisahan.

dan pasir sebutir demi sebutir ngeri ia berjatuhan!
Batu-batu,

dekatmu diam membisu,

daun kering mulai bercerai pergi,

dan jatuh di sungai tenggelam di arus mati.
Akar itu satu-satu

daun setangkai-setangkai

putus semua.

dan gugur kedasar mencari hidup semula.

tinggal pohon yang rapuh memandang jurang,

sunyi menanti.
Kapan lagi engkau ini mesti pergi,

dan apa yang akan datang ?!

Pujangga Baru, 1948


Pulasan Hidup

Depan cermin:

Berdiri aku menghias rupa,

senyuman dibibir membunga cinta,

di bawah listrik yang 'nyorot empat puluh watt!

Putih kubedaki mukaku,

Bibir kumerahi 'nyala,

dan kulilitkan selendang hijau.
Depan cermin:

tampak itu lukisanku,

dan tampak itu pulasan Manusia ku

Malam ini aku cantik,

kena sorot sinar api bola listrik!
Tapi bila Bulan telah kabur,

dan Bintang gelit pudar,

pasti aku luntur s'gala.

terkupas habis telanjang mati,

dan senyuman berganti mengembang racun!
Lambang dunia,

pulasan Hidup memalsu diri semata!

Pujangga Baru, 1948


Kamar Tua

Aku meraba dalam gelap

kamar sempit sudah tua

berbau apak

mata dua jadi buta

di mana titik sinar?

Gelap!

terus dan terus gelap

warna itu cuma satu

dan kamar menjadi ambruk

hancur ke bumi neraka nyata
Tapi biar

biar dan baik

kamar tua roboh hancur

sinar lunak tak berputar

dan merdu nyanyian lagu

mati tak terdengar lagi,

Biar

itu cuma bangunan buat-buatan

cuma suara tiru-tiruan

karena semua ini

mesti berganti.

Pujangga Baru, 1948


Lukisan di Siang Hari

Angin bergema

aneh sekali!

seperti suara manusia.
Memang buat apa memikirkan angin

sebentar lagi malam datang

mungkin segala jadi berhenti

dan aku cinta sekali

akan malam yang sepi tidak berangin!
Usir segala bayangan,

lupakan tiap suara

dan saban bentukan manusia

biar ia menjadi cair kembali

ditelan keributan yang bengis di siang hari.
Dan temanku,

malam ini hanya lampu,

seperti cinta menyala Satu!
Kertas lukisan mulai membuka,

tinta merah menetes-netes,

dan coba baca itu lukisan aksara:

usia, cinta, perang mengganas,

dan nafsu berkejaran Kebenaran.
Ini lukisan di siang hari,

membawa hidup jadi bertanya:

Kemana manusia berjalan mencari Tuhan?

Mimbar Indonesia, 1948


Piala Kosong

Meja itu sudah telanjang,

lapuk tiada bertilaman.

Piala kosong yang dijadikan hiasan

kurus tegang,

berderet kaku di atasnya...
Piala ini sudah kosong,

ruangan pun jadi kosong,

dan gelak yang tadi panas berteriak,

dingin tak terpancar lagi,

sepi berhenti:
Hanya sekilas berlalu depan pandangan:

"bayangan tubuh yang

lesu terhuyung-huyung..."
Bila kilat terang dicetuskan,

"dan meja yang telanjang ini digulingkan:

tetap kosong tak ada yang tampak lagi,

cuma lukisan tukang judi.

— dan gadis cantik —

di dinding masih membekas:

"Nafsu!"
Inikah hidup,

sebelum tiba di kerongkongan maut?!

Mimbar Indonesia, 1948


Sahabatku

I

Aku lukiskan Engkau,

di sini di atas kertas:

— "Pemuda pergi meninggalkan bekas"—
Di pagi mengembun rasa,

di malam bulan Purnama,

selalu datang bayangan yang menggelikan:

— "Engkau menyembah kecantikanKu"—

Tapi ini lukisanMu,

tak termasuk anggota daftar,

dan Engkau

hanya jadi korban kerlingan mataku!
Zaman romantik yang celaka,

engkau pulang tiada harga —

II

Datang revolusi,

zaman loncat meningkat cepat,

tapi juga zaman pembubaran ilham,

lukisan Affandi jadi saksi!
Manusia banyak terbawa

pemuda mulai hilang satu-satu

seperti bintang yang jatuh hari kiamat,

dan Engkau pun kemana lagi?!

III

Sekali di malam tidak berbulan,

datang lagi bayangan menekan mata:

— Engkau menyembah-nyembah hidupku —

tapi aku sudah tahu,

ini sembahan yang penghabisan.
Malam ini,

malam ke satu:

Pernah kucari sewaktu mimpi,

engkau ada lari berlomba,

antara cinta dan pembunuhan!

IV

Sahabatku,

tidakkah ini bagimu sama kejamnya,

"kerlingan mata dan pembunuhan?"
Malam ketiga:

sekali engkau kutulis lagi,

dalam gelap coretan rahasiaku:

— "Pemuda pergi meninggalkan bekas" —

Mimbar Indonesia, 1948


Kehilangan Surga

Makan ini buah khuldi!

dan lepaskan,

bendungan Rasa di jiwa.

biar kita rombak segala larangan Tuhan!
— Ini suara dari Hawa —

Hanya segores mimpikan Emas,
mengapa siang mendadak malam,

pagi berpisah dengan Purnama,

Dan ini satu bentukan,

terpecah loncat menjadi dua —
Di tempat manusia

di tepi kolam membening

menjerit suara kering

dua makhluk menyusun jari di dada...
"Tuhan!"
Ini suara kering terus mendengking

dari dua tubuh bulat telanjang:

— Adam dan Hawa —
Karena segores mimpikan Emas,

karena sekejap dicelup nafsu,

manusia mulai berjabat tangan,

berkenalan dengan setan...

Mimbar Indonesia, 1948


Adikku Kecil

Dalam matahari menjerit panas,

bikin lingkaran main-mainan,

celana monyet campur ingus,

kadang bersorak

kadang menangis.



Apa kini yang kau perbuat di atas tanah,

adikku kecil?!

bikin cita gunung-gunungan meninggi?



Susun, susunlah adikku,

kurang, kurang tinggi!

Coba perkuat tambah batu-batu kecil,

coba ambil lagi batu-batu!



Ah- Matahari senja hampir datang,

gunung batu belum tinggi,

datang si kawan bikin ribut mau rebut gunung-gunungan,

lihat, terjadi kini perebutan gumul-gumulan,

akhir gunung jadi runtuh kembali rata!



Adikku kecil.

Sebentar bikin lingkaran main-mainan,

sebentar bikin cita gunung-gunungan,

dan sebentar mau juga menang dalam perebutan gumul-gumulan,

tapi sebentar ia nangis,

celana monyet campur ingus.

Tandus, 1952


Pahlawan

Dimasa runtuh dan bangunnya dunia, jiwamu hidup kembali,

Api Suci kau nyalakan

yang berarti:

“Aku bagimu hai Negara”

Di depan sekali kau berdiri

menentang maut

pedang terhunus menikam api

tiada gentar sehembus nafas,

walau musuh

seribu kali tertawa.

Hidup ?

Adakah hidup bahagia,

jika dipaksa hidup menghamba?

Tidak ! Runtuhkan segala --

maju,

walau Ajal ganas mengecap!

Tandus, 1952


Buku Kosong

Sewaktu kita mau berpisah

Kau berikan dulu buku kosong seribu lembar

Dengan mata yang meminta,

Sinarmu lunak berkata:

Masukkan semua isi hidupmu

penuhi ini lembaran kertas seribu

dengan tinta dan tulisan berbunga-bunga

Kutinggalkan rumahmu sunyi,

aku berjalan dinyanyikan matari pagi.
Sewaktu kita berjumpa pula,

aku datang diiringkan angin malam.

Kuketuk pintu rumahmu,

tampak di dalam:

Engkau tenang berdua dengan pelita,

bercahaya satu!

Tanganmu mengulur meminta buku yang dulu!

Aku gemetar,

Kau buka selembar demi selembar.

aku tunduk!

di tanganmu buku nampak

kosong merata tiada isi

hanya garis mati dan coretan hampir pudar,

tak berarti!
Seperti biasa:

Dengan mata yang meminta.

Sinarmu lunak berkata-kata:

Buat apa

Ini garis-garis mati tiada guna!

Tandus, 1952


Sebagian Pertemuan

Suara kecil dari sudut kamar gelap,

kedengaran dalam bisikan mengap-mengap:

"aku mau lepas dari rahasia

bungkusan dunia!"

Aku pergi

tapi tampak pula di tengah sebuah rumah,

yang terang benderang

Berteriak orang mabuk berkeliling,

dengan suara gila meriah:

"Ini kelezatan dunia,

bukan impian

tapi untuk makanan hidupmu semata"

Aku melengos pergi lagi!

apa pula ini dalam semak,

hitam merah pinggir jalan?!

Kutemui dua tubuh menggeletak,

satu mati! satu lagi masih hidup samar-samar

Ketika kutanya, keluar suara ngeri terputus-putus:

"aku dan dia tadi bertempur,

berebutan kebenaran."

Dikatakan saja ini tiga pertemuan,

keramaian hukum alam dan manusia,

tapi ... mau kemana sebenarnya,

itu orang-orang yang berkeliaran,

ta' ketahuan betapa ujung pangkalnya?!

Tandus, 1952


Jalan Sementara

Coba buka lagi buku ajian ini

dan telan jeritan katanya yang berderet berbelit-belit

jangan tidur!

sebelum lampu mati sendiri.



Sebaris demi sebaris

selembar demi selembar

makin lama suara makin mengiris

jauh mengabur

anak kecil mulai ngantuk depan pelita

mata letih masih lemah rangkap cahaya.



Ah, engkau ini menyuruh dia mencari?

sedang engkau tidak tahu

mencari bukan paksaan yang membelenggu

tapi keinsafan dalam kembali

yang lolos ringan merdeka.



Itu deretan huruf yang kecil berbelit-belit

cuma jalan dan mainan sementara

seperti buah yang berbiji mau pecah

kita ini mencari masih

di mana

pisau kupasan kebenarannya?



berkeliling sementara

berjalan bertanya-tanya

tapi — bila buah terpecah sudah

itu biji cuma satu!

Lekat melilit dalam bentuk kebenaranMu.

Tandus, 1952


Patung Sembahan

Kamar ini kecil biasa tak berjendela

hawa dan rasa sama kosong tak menentu

kubuka tabir berdebu di sudut

secetus api mengkilat:

"patung sembahan!"



Bau dupa mulai penuh sekitar

api nyala seperti kedipan mata

dan aku tunduk bersimpuh memuja.



Berdetik. Bermenit. Berjam,

berhari, bertahun!



Tabir patung kubuka dan kututupkan

api setanggi kutiup dan kunyalakan

tapi patung tetap masih bentuk patung

bau setanggi tak berganti.

Kesan perputaran hidup

gelap berdebu mengosong.



Ini hidup mulai meminta isi

jiwa haus kekeringan

mata hati jemu melihat bentukan patung

dan tubuhku seperti yang dilingkari

asap dupa tanda tanya:

"Inikah pujaan yang berisi Kebenaran?!"



Ketika aku meminta diri

berhenti pergi dari pujaan

sekali tabir pernah kubuka dahulu

bayangan tetap masih semula:

"menyeringai patung sembahan"



Ini penglihatan penghabisan

dari kamar yang berpatung kekosongan

dan aku pergi mencari isi jawaban!

Tandus, 1952


Pancaran Dipersimpangan

Di jalan yang bersimpangan

ada kulihat pengemis lalu berbaju debu

seperti kerangka setengah nyawa

dan sudah biasa mereka:

hidup menanti dan menerima!



Ini sebagian orang dekatku begini.



Di jalan simpangan lain:

gembira orang dalam mobil-mobilnya melancar

sambil ketawa merasakan enak mimpinya sebentar

dan sudah biasa mereka

hidup menelan korban yang lain

dan ber-Tuhan kepada dirinya!



Ini bagiku tiada bedanya

dengan anjing yang menggonggong di gedung-gedung

hanya sekedar jadi pengekor tuannya

mereka hidup menumpang di kecurangan.



Tapi yang aneh bagiku,

di tengah dua kepincangan ini

banyak juga mayat suci yang pergi menghadap Tuhan

disirami banjiran air mata pertanyaan.



Cuma semakin lama

bagiku segala makin biasa

dan memang sekali ini tak kupedulikan lagi

ini penyakit.

Hanya satu!

aku ingin menjadi setetes obat yang pahit

bagi penyembuh ini dunia

dari beribu penyakit kelancungan manusia!

Tandus, 1952


Cerita Malam

Angin selatan berdesing lembut di pohon-pohon

pada rumah-rumah tua menggeletar cahaya bulan

dan malam itu aku masih berlari

meloncati parit-parit gelap

di mana kucari, inilah bekas kakimu menginjak?!

Sepanjang malam ini aku terus melalui mimpi

dan engkau tak usah tahu

sampai di mana habisnya

dan sampai kapan ini tiba di perhentian impian

sesudah puas memilih-milih

malam keberapa

dan malam mana yang penuh bintang keemasan?
Kembali berdesing angin selatan di pohon-pohon

bulan merayap perlahan tenggelam

dan perlahan aku berdiri di atas jembatan tua

kutengok bayang-bayang di air

sudah hilang tiada lagi

Lihat! Bila bayang-bayang tiada lagi

dan cahaya bulan sudah pergi

aku rasa, impian hampir selesai

parit-parit yang gelap hampir berlalu

dan pasti akan kucari jiwamu

yang berat berkata-kata: mari, bangunlah!
Bila bayang-bayang dan impian tiada lagi

akan tampak di mata kita

ini sepotong dunia yang sakit pucat telanjang

menjadi dunia yang satu bulat selesai

dan mayat-mayat yang sudah merangka di kubur

akan bangun kembali penuh bernyata!

Tandus, 1952


Satu Bunga

Musim bunga tiada lagi

daun-daun sudah kering

dan ranting bergeletakan merindu hujan dipagi hari

Musim bunga tiada lagi

tapi ditanganku masih ada

satu bunga berwarna dua:

“merah nyala

dan putih semurni kasih”
Bunga lain sudah gugur

bagai mayat pergi kekubur

tinggal bungaku yang terlepas dari akar

nantikan hudjan sebelum warna menjerit pudar
Tapi seperti manusia

yang tak mau meninggalkan hari

ini bunga jang satu tak mau mati

dan akupun hilang warna

bila bunga ini mati
Dimusim panas sebengis ini

masih menggeletar ditanganku

satu bunga berwarna dua:

Lindungi Ia

dari jajahan matahiri!

Tandus, 1952


Kenangan Gelita

I

Malam ini aku mau lagi bercerita,

dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku

buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan

ketika malam kosong berpisahan dengan bulan

Seperti juga kita di hari kini

di mana batas sampai tepi langit di jauhan

di mana segala anak-anak manusia

terima satu perintah jangan melanggar ini batas

di sini kita berpisah

antara dinding penjara dan pegunungan

Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini

engkau diburu macam hantu pelarian

jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan

di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang

sedang aku di balik terali dingin

tergolek mau bermimpi malam kenangan.

II

Biar sekali ini aku tak ada melihat laut

kapal-kapal juga semua sudah berlayar

angin lari dan bintang tidur satu-satu

tapi aku tak kepergian suaramu

meski malam selalu warnanya hitam

sebab lantai dingin dan tembok putih ini

sekali-sekali ia mau memberikan jalan

buat angin pagi dari suara pegunungan.

Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati

akan kupinta satu pena kuno yang runcing

serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering

dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang

atau menulis sajak yang banyak

meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan!

III

Tapi pernahkah melintas di tempatmu

malam kenangan di malam gelita pegunungan?

Pabila ada juga padamu

di antara rintik-rintik hujan senja

atau bunga-bunga hutan yang berserakan

tak 'kan kuhabiskan kenangan ini

biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi

tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara

karena sekali kenangan ini akan berakhir

kita bertemu di antara meja dan bunga merah

sambil minum air yang bergula manis-manis.

Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk

dan aku akan ketawa dan ketawa!

hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini

ketika malam kosong berpisahan dengan bulan.

IV

Tapi bila dalam satu pagi

bulan ini masih tampak seperti gambar sabit emas

atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil

inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang

atau aku bacakan sajak penjara yang dulu

dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka.

Cuma di sini

Masih ada yang mau aku katakan:

Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian

aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan.

Kita bukan orang pelarian yang

masing-masing tidak punya satu dunia.

Tapi Eska!

Kenanglah sekali cerita kenangan ini

bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan

atau telah benci mendengar cerita darah

atau cerita maut, dan cerita busukan manusia

engkau akan tulis di satu buku harian:

kita dua manusia yang cinta kepada cinta!

Zaman Baru (1958)


Mencari Lagu

Bila hari setengah senja

aku dengar angin seperti mengeluh

gemerisik melanda hutan kesakitan

sedang daun-daun berhamburan kering melewati bunga-bunga

kuncup yang berat berdebu.

Bila hari setengah sendja

aku lihat gambaran dilangit hidjau

mega buruk melukiskan kepala binatang kasar,

bila kutanya mereka menggeleng: tidak tahu!
Tapi ini bayang kemustahilan

sedang kemudian terdengar nyanjian gemetar

dari manusia seribu matjam

yang mencari lagu-lagu kebesaran.

Terasa dada penuh memukul-mukul

aku menCoba lari dari ini bayang kemustahilan

kucari dari seribu macam lagu manusia

satu lagu kepastian yang mengikat tiang-tiang kehidupan!

ini kepercayaan berat yang dilagukan dari seribu suara
Bila hari setengah senja

matahari pudar setengah mati

dan burung-burung bergelaparan membawa berita lama

aku lihat lagi manusia mencari daun lebih jauh :

Siapa, dimana dan betapa letak tinggi kemanusiaan

yang mengikat tiang-tiang kehidupan ?!

Tandus, 1952


Dengan Satu Bacaan

Hari ini — kawan

jangan kita samakan lagi dengan hari yang sudah lepas

tapi jangan dulu kita sambungkan

dengan hari yang belum datang di tangan.



Hari ini kita hadapi satu buku saja

dimana tertulis tentang hidup kebengisan

dan kepahitan perjuangan

dimana cermin tentang tuntutan kemanusiaan pecah-pecah

dan ini pula yang menjadikan dunia kita

berkerut kecil kembali

terkurung dalam batas lingkaran buta!



Begitu saja — kawan

jangan bosan dulu dengan ini satu bacaan

sebelum meloncati segala koma dan tanda-tanda penyeru!

kita belum bebas dari permintaan bermain

setiap malam

dalam satu pertunjukan sandiwara

dan jangan ngeri, jangan ngeri!

Diar berturut-turut cuma mendapat penderitaan!



Hari ini kita hadapi satu buku saja

bilamana ikatan hidup terasa kendur berkurang

kita akan lihat hantu-hantu pulang ketakutan

melalui gang-gang di gelap malam

dan cepat-cepat mereka menyudahkan hari kenangannya

bersama dengan meninggalkan

segala guntingan bayang-bayang ketiadaan

dan akan membekaslah di belakang kita macam-macam persoalan:

ke-Tuhanan-keagungan pengadilan penghabisan

tapi juga pengertian kesetanan!



Pabila sudah begini:

renungkan, renungkan sekali perjalanan ini hari

dan katakan tentang permintaan bermain

setiap malam

berakhir bebas tak jadi ikatan lagi

sebab manusia hidup sama dengan ini nyanyian:

— siapa punya permulaan, punya penghabisan juga —

dan coba tanya sekali lagi:

adakah nikmat bila hidup pernah merasakan

berat beban percintaan?

Tandus, 1952


Lagu Buat Saudara

Bila hidup sudah tidak tahu lagi kemenangan

atau tidak kenal akan cahaya dalam hari-hari gembira

engkau biasa mengajak aku

pulang saja ke tempat yang dulu

meninggalkan rumah dan kamar yang koyak-koyak

dan berkata:

bereskan saja, lipat saja ini segala pakaian!

Ia tiada arti, meski berdandan setiap malam!



Aku bertanya: Engkau ini habis kepalingan cita-cita?

dan betapa, sekali lagi ini betapa

satu kekalahan yang tak berarti

sudah dapat membunuh perjuangan kemenangan?!

atau bila hari panas telah lewat

dan sekalian warna hilang-hilang dalam kabut musim hujan

engkau juga akan hilang tiada rupa?

Bagaimana, sekali lagi bagaimana

kita belum tiba kepada penyelesaian persoalan!



Lebih baik tunggukan saja — saudara,

cerita ini belum selesai!

dan aku juga berada dalam cerita —

duduk dulu, dan coba perhatikan

ini patung-patung juita dan tempat bunga di meja

ia telah merupakan gambar manusia tua

yang sudah lupa kepada dongeng lama!

dan lihat lagi itu lukisan pahlawan di dinding

perhatikan warna cat dan coretannya

sebentar lagi ia pudar serta bentuk minta diganti!



Nantikan dulu — saudara

coba buka ini jendela dan pintu yang sudah koyak

lihat manusia itu manusia yang sama-sama kekalahan

rasakan ini satu derita dalam seribu pembunuhan

dan kita mesti belajar. Bagaimana

cara menghunus pedang serta menyapukan

darahnya sekali di baju kita?



Tidak — saudara

tidak akan lebih pendek hidup ini

atau tidak akan hilang pertemuan dengan

jalan terakhir dan teriak kemenangan

bila kita melupakan dulu gedung indah

dengan bunga-bunganya segar merah

atau lukisan bidadari yang tidak tahu kena debu.

Tapi kini harus kenal dulu bujukan maut

permainan iblis dengan anak-anak Adam

serta rumah koyak, kamar gelap, langit buta!



Ah, belum lagi — jangan pergi!

rumah dan kamar ini masih berdiri

jangan ditinggalkan dengan kosong tiada bekas sekali.

Tandus, 1952


Engkau dan Nafsu

Buat gadis M.



Antara Engkau dan kepunyaan Engkau

memang banyak permainan gerak dan warna berganti-ganti

juga permainan tipu dan kecewa

membual penuh kenafsuan!



Engkau cuma menerima hanya

sedang bunyi-bunyian bertukar menjadi perintah kata-kata:

petiklah sekali tali kecapi angan-angan

hingga keluar bujukan halus dan nyanyi pelbagai lagu.

Sekarang waktunya kita mengeringkan isi piala

sampai kering sekering-keringnya!



Sedang gila kemabukan

Engkau terima ini permintaan buta

lalu datanglah mabuk dari tari yang mendahsyatkan

tangan selalu mengangkat piala nyala

yang berkata: Beri minumlah aku!

Aku haus! Aku haus!



Kekuasaan tampak mengecil di bawah kulit kakimu

tapi Engkau jadi gemetar!

dalam telinga menderu angin topan

terbang berputar di langit kosong

Engkau gila mencari lagi cahaya yang sudah pudar

tapi tak bertemu dengan hubungan antara hari dengan malam!



Sebentar ketikanya akan datang

kini sudah ada!

Aliran hidup menjadi berwarna-warna

Engkau sukar mencari warnamu yang dulu

Sedang piala yang kering habis kau minum

kini ia pecah-pecah

tinggal beling berserakan di kakimu

dan di hadapan sunyi senyap meliputi jurang!



Bila mimpi sudah turun di gelap malam

atau api sudah dingin padam begini

abu beterbangan ke mana-mana

Sedikit padamu tak ada satu yang tinggal

Tandus, 1952


Kemungkinan

Seperti seruan halilintar pada permulaan

musim hujan

ini teriakan manusia, pecah penuh

menjadi bentuk jelma perjuangan

yang meminta hidup mengembang sampai jauh

tak mati-mati!



Tapi musim hujan cepat mengering

kupu-kupu hilang beterbangan di udara

sunyi tak ada lagi main kecupan

di atas bunga-bunga menyala

Tinggal panas membisu! Hanya di mana-mana

masih ada lagu kemenangan yang dinyanyikan.



Begini, begini perjuangan sekelompok manusia

berani nyala-cinta ketawa

antara kawan-kawan sepanjang hari kehausan

naik turun penuh keluhan

hasrat menunggu

di mana kata-kata keemasan hanya pergi melalui

langit tinggi

sedang cinta semakin tua mendalam.



Begini, begini perjuangan sekelompok manusia

merah padaku menggores, seperti cetusan

api berkilat: Keras!

Tapi mungkinkah ini bertemu dengan

kata-kata keemasan

sebelum datang waktu bertobat

pada penghabisan pengadilan hari kiamat?!

Tandus, 1952


Pelajaran

Dulu bersama-sama kita berlayar

kapal ke laut dilepaskan

di mana satu hari pertemuan kita rancangkan

di tepi langit yang ramai berpesta warna,

untuk hidup kembali sambil menghitung-hitung

berapa bintang yang sudah jatuh?!



Selagi aku masih hijau, kau tutup mataku

dengan berpura-pura membuta

engkau pergi berpisah menyimpang

dari rancangan satu hari pertemuan sejak semula.



Kini aku masih suram

samar-samar melihat bulan,

Aku tidak tahu, kapal siapa tampak menggelap

dan laut mana yang seperti kaca mengkilap?



Dulu memang aku cinta kepada mimpi

yang dusta cuma mengembang dikenang!

Hanya sekarang, sekarang aku duduk sendiri dalam kapalku

Sedang engkau jauh membayang

buta semua – tuli bila kupanggil

dan memang semula aku bermohon: jangan lari!



Tapi sekarang, sekarang aku duduk sendiri dalam kapalku!

Bila pagi merah dan bintang-bintang pucat berlarian

ini tanda tepi langit hampir tiba.

Aku lebih suka, bila engkau terus hilang meninggalkan

dan tidak bertemu lagi –

Biar satu hari pertemuan yang dulu kita rancangkan

disimpan lagi dalam tambatan tali mimpimu!

Tandus, 1952


Kehilangan Lampu

Lampu kota sudah padam

kita kesesatan gila tak ada penunjuk jalan

tenaga menjadi setengah mati

hanya hati digerakkan oleh satu cita-cita

hingga lupa kepada perintah yang berkuasa

atau tak peduli akan izin satu pendeta!



Bila kita sekali periksa lagi:

keindahan sudah rusak pergi menyerahkan badan kepada penyamun dan keganasan

kebenaran dilarikan dengan paksa

hilang diseret gelap gelita

sedang karangan bunga, pesta-pesta dan tarian

hanya penuh dikelilingi pengemis

kurus telanjang!



Tapi. Meski begini:

dunia tidak kan karam karenanya,

dan manusia pun tidak!

Memang jalan lorong sempit menuju dunia luar

selalu penuh angin taufan

Biarlah kita turut menindas

segala pembinasaan serta ini kekejaman

dan jangan selalu meminta izin sebelum kita merampas!



Jika begini

meski lampu masih padam

kita terus digerakkan oleh satu angan-angan.

Tandus, 1952


Antara Menunggu

Tidak ada lagi satu kekayaan yang tinggal

pada garis langit yang merah kuning itu

juga tidak ada lagi kekuatan penghabisan

pada dahan-dahan retak dan daun kering yang bergantungan.

Semua cuma menunggu:

antara kepanasan dan kedinginan

juga antara kulit-kulit manusia yang sudah kusut

dan tangan yang lesu gemetaran mau membelai

sedang semua jari-jari hampir patah kelemahan.
Ya, kekasih,

antara semua ini kita tinggal punya dua mata

dimana kenangan kepada sanggulku dulu

yang bersuntingkan satu kembang merah muda

yang bersih di langit cerah

atau kenangan kepada lagumu jauh

kini ia hilang-hilang kena angin.
Ya, antara kesemuanya ini

biarlah kita masih punya satu harapan:

kita ingin, mata itu jangan pecah cahayanya

atau jari-jari yang lesu dan gemetaran

jangan sampai patah kelemahan.

Nanti kita tahu, kita tahu:

dimana itu pegangan yang tinggal berada.

Tandus, 1952


Mau Ke Penghabisan

Ketika jam mati terbanting

dan jarumnya jatuh di lantai

waktu untukku sudah berlalu.



Tapi sebelum itu, aku lupa pada perjanjian

juga tidak tahu bahwa bayang-bayang kepunyaanku

sekali ia akan berhenti tertinggal!

dan aku cuma tahu minum madu

sambil tertawa dengan orang-orang asing

di mana kulihat satu pemuda kesayuan

menggeletak ditinggalkan kekasihnya.

Dan sebentar ia bertanya:

masihkah hatiku didiami patungmu?!



Aku lupa perjanjian

aku cuma tahu tentang minum air madu

dan ketika jam mati terbanting

dan jarumnya jatuh di lantai

waktu untukku sudah berlalu!



Sekarang nasib penghabisan mendatang

dengan tidak mendukung cinta kekasih

seperti asap dan kabut turun

bermain antara

antara tanah hitam dan langit berkerut:

aku dengar teriakan panjang-panjang:

berilah setetes darah! berilah.



Cinta yang diucapkan dari bibir perempuan

atau lagu ketiduran buat adik-adik manis

hilang seperti tadi jam mati yang tak berbunyi

hanya itu terdengar teriakan panjang-panjang

dan ada lagi bunyi kuda yang berlari

di angin panas yang menggiringkan garis-garis penghabisan.



Tapi sebelum ini tidak tahu,

bahwa bayang-bayang kepunyaanku,

sekali ia akan berhenti tertinggal.

Juga aku tidak tahu

bahwa janji akan meminta setetes darah.

Tandus, 1952


Cerita Laut

Sekali ini aku ingin cerita laut!

dengar, dengar itu gedebur ombak galak

dalam suaranya melagu muda

sudah mulai menggerakkan hati

mengalun

akhirnya aku turut berlagu meninggi!



Ketinggian lagu ini

benci akan mati yang gelap

cinta jadi membulat! Menari mengelilingi aku

berdiri di tepi.

Ada kulihat di sini

bekas perahu kandas tenggelam ke dasar.



Aku juga pernah waktu dulu di sini

kapalku seperti yang satu itu tenggelam

menggelap. Aku terbentur batu karang,

itu karena percampuran kelemahan

dari kemauan buat berjuang!



Kapalku seperti yang satu itu tenggelam

dalam tidur di dasar, aku tiada diberi mimpi

bila siang matahari tak gemerlapan

sunyi dari terang cahaya yang menghidupkan.



Tapi – tapi datang lagi kapal lain waktu itu

pecah ke atas teriakku:

inikah cahaya pertama

dari gantungan bintang yang jauh meninggi?!



Sepanjang laut –

datang lagi kapal membangunkan

keruntuhan nyawaku

Aku lepas dari mimpi yang tak berbentuk

hariku diberi corak cahaya

aku cari kawan-kawan dan berpesta!



Aku sekarang bangun sekali lagi

bersiap. Akan kubawa kemenangan ini

sampai umurku memanjang tua.

Biar bekas perahu kandas ini

jadi kenangan ketika datang percampuran kelemahan

menindas kemauan buat berjuang!



Jangan, jangan ditekan jua

ini aku turut mencari suara

dari ombak galak melagu muda!

Tandus, 1952


Tanda Tanya

I

Sumadi!

Suara piano itu mendengung masih

mesra berseni

mengenangkan kepada dua manusia:

– Engkau dan Aku –

Kala itu masih juga belum mengenal dirinya:

apa manusia itu

dan apa hidup yang sebenarnya?



Sumadi,

Pena ini menari masih

di atas kertas

mengenangkan kepada dua manusia:

— Engkau dan Aku —

pergi tak kembali lagi.

Kala itu sedang cinta melukiskan keindahan

semesta Alam.

II

Sumadi,

Meski Panji itu tinggal sebagian

berkibar masih

tapi mengenangkan juga kepada dua manusia:

— Engkau dan Aku —

Kala itu mulai bangkit meloncat

kejam merampas "arti hidupnya":

mesra berseni

inikah Revolusi?!

III

Sumadi,

Suara piano lepas menghilang

tarian pena bengis berhenti

Cuma sekali-sekali datang membayang

mata liar dan rambut panjang

lukisan hidup: “laskar galak”

Tapi lukisan ini pun, Sumadi

berlalu menghilang jua

pergi tak kembali lagi.

IV

Sumadi,

Lembaran muka buku hidupmu

kini tertutuplah sudah

Hanya bila kulihat warna baju si Achjati

yang merah berapi,

aku terkenang kepada warna merah darahmu

menyembur panas

ketika lehermu tertebas putus.

V

Sumadi,

Engkau kurban Revolusi!

Ini kenangan pena masih menari

di bawah lampu

sedang hidupku

kembali dilingkari tanda tanya!

Tandus, 1952


Cahaya Mau Mati

I

Kita memang berdiri antara pagi dan malam

Pula kadang-kadang lihat juga bintang di langit seribu,

atau perempuan busuk hati,

yang nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki

Katakan saja dunia ini penuh gula,

dan orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran,

tidak tahu bila tubuh tinggal tulang,

serta cahaya sudah mati di hujan malam,

atau hari pahit-pahit minta janji,

dalam Bibel kita baca satu kalimat

“Tuhan itu memang besar,

tapi sampai besok kita tidak mengerti kepadanya.”

II

Marah-marah kita kembali ke jalanan penuh debu,

di mana banyak pengemis cari uang harga satu sen,

atau ada anak kecil berebutan permainan,

sedang matahari pada tanah

bikin bayangan panjang-panjang,

dan kita masih dalam kesangsian:

“apa malam nanti ada bulan sama bintang?!”

III

Bila cinta mau berhenti,

darah yang panas menjadi dingin,

kita hentikan juga ini jalanan ke malam hari,

biar lama bermain di tanah bayangan yang panjang-panjang,

dan kita rasakan ini hati pahit-pahit minta janji,

sebab kita memang berdiri antara pagi dan malam,

tapi lupakan dulu teriakan menjulang langit:

“besok malam cahaya mati,

besok malam cahaya mati!”
Katakan saja dunia ini penuh gula,

atau orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran

tapi perempuan busuk hati,

masih terus nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki.

Tandus, 1952


Aku Sendirian

Malam yang menyendiri ini

membawa aku jadi berjalan sendirian

dan aku tidak peduli

apa ada bintang, ada bulan,

atau ada gadis dan bujang sedang gila berpeluk cinta?!



Ini aku tidak tahu,

bahwa mungkin sauh-sauh sudah dibongkar

dan kapal-kapal bertolakan di atas laut

sebab aku cuma tahu

bahwa kini ada malam dengan aku sendirian

yang tak lama aku dan malam akan pergi berpalingan!



Bila lampu yang nyala di meja ini

aku besarkan apinya mengelupas dinding gelap

bayang-bayang di sana ikut juga jadi membesar

tapi mereka cuma berani menari dalam gelap warna hitam

dan aku dengar ada suara bercerita:

“di kuburan banyak manusia yang bajunya tinggal tulang”

Aku mengerti cerita ini

katakan saja aku dilarang jangan hidup sendirian

aku juga mesti ikut jadi bayang-bayang manusia tinggal tulang.



Tapi semua ini jangan dibikin penyerahan

juga tak perlu lari pada tajam keliaran hidup

bandingkan saja ada benda cair beku

atau api: Panas dingin lalu hitam

Apa tiap penolakan ini masing-masing punya kuasa?



Aku tak ingin jawaban di malam yang menyendiri ini

cuma biarkan aku berjalan sendirian panjang-panjang

dan jangan dulu diberi soal begini:

buat apa kamu baca bolak-balik Krishnamurti?!



Ah, aku baru tahu sampai sini

bahwa kini cuma ada malam hitam dengan aku sendirian

dan tak lama aku dan malam akan pergi berpalingan!

Tandus, 1952


Layar Hitam

Engkau juga pernah mengakui ada warna hijau

di daunan dan kembang-kembang merah di bajuku,

juga sekali pernah cinta pada akar-akar

dan kulit-kulit pohon beringin

Tapi apa guna itu semua,

bila cuma sekilas hilang karena tindasan kasih?



"Pada malam sunyi bintang!"

ada katamu romantik begini.

Tapi sekarang bintang sudah retak berpecahan.

Kasih hancur sebab revolusi pembunuhan,

entah ke mana pabila pergi?

cuma layar hitam kau kibarkan

kapal kosong, langit gelap, laut merah,

dan ikan cucut di balik karang patah-patah:

Selamat jalan mengembang tangan!



Tidak perlu itu lamunan ke kejauhan,

apa itu idealis buat idealis pula,

apa itu Benar buat Kebenaran?

Tapi apa pula itu artinya kasih pertama

dan kasih yang penghabisan?

Sedang bujang dan gadis yang bertunangan

itu jangan disebut kebenaran.



Tapi aku sudah dibunuh masyarakat

aku sudah pernah bergaul tarik-menarik

juga tiang-tiang kelihatan mau condong

cuma aku masih belum mau membunuh kasih sendiri,

sebab sekali toh kita kembali

pada asal; bayi bersih manusia semula.



Dan kita tentu sekali lagi masuk gedung museum

kita dengar lagi musik-musik lagu klasik,

kita ingat lagi pada soal ke kejauhan,

atau: kita bikin bintang tepi kolam tanah Bali.

Ke mana lagi itu layar hitam dan laut merah,

bila bukan tangan kita yang merobeknya?



Jangan bikin pertanyaan,

bilamana masih dikatakan:

"Mati itu bukan lagi kewajiban".

Tandus, 1952


RUJUKAN





Tandus (Balai Pustaka, 1952)

Ilalang.depram.com

Pustaka Massa ID

Sepenuhnya.com


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.