Baca EPUB: Zaman Baru: No. 4 · Juli 1956

14 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. ZAMAN BARU
  2. No. 4 · Juli 1956
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. PENILAIAN ADALAH HASIL DARI SUATU SIKAP HIDUP
  6. PATUNG KAYU
  7. SUATU PENAFSIRAN SUBYEKTIF GOETHE
  8. SAIDJAH DAN ADINDA
  9. CREDO
  10. Lagu Malam
  11. KEPENYAIRAN-BERJUANG TIONGKOK
  12. SEMANGAT PEMBERONTAK
  13. HUBUNGAN DENGAN PERJUANGAN
  14. MEMBASMI TERROR-PUTIH
  15. DALAM PERANG PERLAWANAN
  16. UNTUK KEMERDEKAAN NASIONAL
  17. NYANYIAN-NYANYIAN KEHIDUPAN BARU
  18. AKU KENAL SIMBAH
  19. HARIAN RAKJAT
  20. SEGERALAH MEMBELI!!
  21. CC BY-SA 4.0

ZAMAN BARU

No. 4 · Juli 1956


KOLOFON

Berdasarkan arsip dari: Makaru Makara

ZAMAN BARU

No. 4 · Juli 1956

Redaksi:

RIVAI APIN - A.S. DHARTA

Alamat Redaksi:

Jl. Dr. Wahidin 10, Jakarta

Administrasi:

Pintu Besar 93, Jakarta

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



PENILAIAN ADALAH HASIL DARI SUATU SIKAP HIDUP

Bagaimana kuatnya pengaruh pikiran, bagaimana materiilnya pikiran, pikiran yang benar-benar merupakan pernyataan suatu sikap hidup, dapat ditemui dalam lalu lintas pikiran yang bergejolak di kalangan Lekra sendiri. Sebagai contoh saya ambil salah satu pertemuan lingkaran-sastera Lekra cabang Jakarta beberapa bulan yang lalu. Yang saya kira bisa ditemui juga pada cabang-cabang Lekra dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan segala variasi tentunya.

Dalam pertemuan yang dimaksud itu, diketengahkan persoalan, bahwa sajak-sajak para penyair Lekra pada umumnya, ketika itu kita sedang membicarakan kepenyairan, dianggap agitasi, bertendens, dangkal, tidak memenuhi syarat-syarat sajak dan lain-lain dan sebagainya. Pokoknya, ada semacam kesimpulan, bahwa sajak-sajak para penyair Lekra tidak baik, tidak artistik. Jadi bukan sajak, bukan suatu hasil sastera.

Ini diajukan oleh para penyair Lekra sendiri. Tanpa mengungkap dulu penilaian daripada agitasi, bertendens, keartistikan dan lain-lain. Tanpa memberikan argumentasi dulu tentang timbulnya pendapat itu.

Sudah tentu kesimpulan di atas itu, kalau hal ini boleh dikatakan kesimpulan, ada benarnya. Yaitu, kalau kesimpulan itu merupakan suatu hasil penemuan sendiri, kalau disertai motivering ukuran-ukuran yang obyektif tentang nilai dari agitasi, bertendans, keartistikan dan lain-lain. Artinya, dia benar, kalau dilahirkan oleh suatu pengungkapan dengan disertai “way out”-nya. Tetapi dia salah dan murah, kalau hanya berdasar “pendengaran” saja, berdasar membeo saja. Misalnya dari golongan kebudayaan yang berlainan, apalagi yang bertentangan! orientasi dan pandangan kebudayaannya daripada Lekra.

Tidak lalu dengan sendirinya harus berarti, bahwa kita tidak usah gubris pendapat golongan ini. Hanya kita terpaksa, terhadap pendapat golongan ini, dan juga terhadap segala hal dari mana juga datangnya, mengambil sikap kritis. Sebab hanya dengan mempertajam kemampuan sikap yang kritis saja, kita membentuk suasana untuk terus-menerus memperfeksi hasil-hasil kita, maupun selalu memperbanyaknya. Malahan justru dengan mengambil sikap kritis inilah, kita selalu berkesempatan dan berkesanggupan untuk menerima dan menilai segala pendapat dari segala penjuru. Untuk melengkapi dan selalu melengkapi kekurangan kita sendiri.

Terlepas daripada mempersoalkan masaalah kekurangan-kekurangan dalam hasil-hasil kita, untuk hal ini malah saya mengandajurkan supaya setiap kita yang merasa terpanggil dan berkesempatan mengerjakan suatu studi dalam hal ini, saya mau tekankan, bahwa masaalah penilaian adalah pertama-tama hasil dari sikap hidup.

Contoh: kehidupan manusia pergerakan. Bagi orang yang tidak bisa melihat hal ini sebagai pernyataan kebudayaan, bagi orang yang tidak mendasarkan kehidupannya kepada pergerakan, maka adalah sewajarnya dia berpendapat, menilai, bahwa cara dan sikap hidup manusia pergerakan itu adalah sesuatu yang asing baginya, penuh ketegangan, tidak wajar, dibikin-bikin. Sikap hidup demikian dengan sendirinya amat sulit untuk bisa menerima kehidupan pergerakan sebagai suatu kewajaran. Pada umumnya perang berkecamuk antara suatu sikap hidup dengan sikap hidup lainnya. Dan pertentangan antara suatu sikap hidup dengan sikap hidup lainnya adalah suatu proses kebudayaan sendiri.

Kerja dari rapat ke rapat, dari konferensi ke konferensi, dari kongres kekongres, dari mengorganisasi kemengorganisasi, singkatnya kerja yang berkebudayaan untuk menyusun kesatuan pendapat dan tindakan, bagi suatu sikap hidup tertentu adalah suatu kehidupan yang tidak wajar. Bahkan kalau kongkrit dirasa dan diketahui membahayakan sikap hidupnya, lahirlah penentangan yang tajam. Ini adalah wajar.

Begitulah lahirnya penilaian, hasil dari suatu sikap hidup. Dengan demikian bisa diartikan, bahwa penilaian itu sendiri adalah senjata untuk memperkokoh kedudukan suatu sikap hidup dan untuk menyerang sikap hidup lainnya. Juga ini adalah wajar. Sangat wajar.

Begitulah pula kelahiran dari penilaian “agitasi”, “bertendens”, “tidak memenuhi syarat-syarat sajak” dan sebagainya terhadap hasil-hasil para penyair Lekra. Saya kira juga terhadap hasil-hasil para pekerja kebudayaan Lekra lainnya.

Sedangkan, kalau kita melihat dengan kritis, misalnya kehidupan manusia pergerakan, maka kita melihat, bahwa cara hidup demikian itu bukan sesuatu yang dibikin-bikin, bukan karena nafsu untuk hidup dalam ketegangan. Tetapi adalah suatu mentalitet, adalah suatu sikap hidup yang obyektif, yang mempunyai kumandang yang kuat terhadap pikiran dan perasaan bangsa kita, bagian terbesar rakyat kita. Entah kalau dipakai dalil “Rakyat bodoh” dari sk. Keng Po ....

Dalam hubungan konstatasi ini terasa perlunya dan betapa vital fungsinya kemampuan bersikap kritis terhadap segala hal.

Kembali kepada contoh yang saya ajukan di atas tentang peristiwa dalam suatu pertemuan lingkaran-sastera Jakarta. Begitu kuatnya pengaruh pikiran menegakkan ketajaman sikap kritis kita, dengan tak yang didukung oleh suatu sikap hidup, sehingga tanpa sadar kita terseret dan dengan begitu memperkuat penilaian yang menemukan kelahirannya dari suatu sikap hidup yang lain.

Untuk bisa menegakkan sikap kritis kita, pertama-tama disyarati oleh pengetahuan-pengetahuan yang obyektif tentang sesuatu hal berdasarkan sikap hidup tertentu. Usaha penguasaan perbendaharaan pengetahuan ini sendiri adalah suatu jalan pendewasaan.

Hanya dengan begini saja kita mampu mengajukan penilaian-penilaian kita di dalam segala hal yang mencerminkan sikap hidup kita secara tepat. Barulah dengan demikin, penilaian kita itu mempunyai kekuatan yang materiil, sanggup mempunyai kekuatan mengorganisasi dan selanjutnya membuka gelanggang-gelanggang perkembangan.

Banyak orang, termasuk juga pengarang-pengarang, mengacaukan realisme dengan lukisan menurut alam. Mereka pikir bahwa si realis itu menegakkan (schilderezel) papan gambarnya di hadapan matahari terbenam dan lalu mati kerepotan karena ia tidak cukup waktu untuk meniru warna oranye yang sementara itu telah menjadi lembayung. Dengan pendek, mereka tidak seperti saya, berpikir, bahwa realisme itu pertama-pertama dan terutama adalah sikap jiwa seseorang pengarang roman, sikap yang lahir dengan sendiri dari pandangan hidupnya. Kalau tidak tentu mereka akan mengerti bahwa bila ia dalam pandangan hidupnya adalah sosialistis, adalah pula sangat wajar menyebutkan realisme sosialistis, realisme dari seniman yang bersangkutan, tidak perduli ia seorang pengarang roman, pelukis ataupun penari.

ARAGON


PATUNG KAYU

Patung kayu

Ambrus

SUATU PENAFSIRAN SUBYEKTIF GOETHE

Catatan atas tulisan M. A. Badawy (Abadi 11 Mei 1956)

Di dalam tulisannya yang berkepala “Gelora Islam dalam Dada penyair Goethe”, M. A. Badawy berusaha membuktikan bahwa “Goethe percaya kepada ada dan esanya Tuhan Allah, percaya pula bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah Rasul utusannya”.

Demikianlah tugas yang dipikulkan pada diri sendiri, suatu tugas berat untuk membuktikan bahwa “Goethe meskipun ia seorang ahli syair dan filsafat Jerman (Barat) yang pada umumnya terkenal dengan faham kebendaannya ... jiwanya selalu bergelora ruh Islam”.

Adalah salah satu pokok jika seorang hendak menilaikan atau, seperti M. A. Badawy, hendak menafsirkan seorang penyair, filsafat dan sebagainya. ia paling sedikit harus mengetahui zaman dan keadaan yang lahirkan penyair, filsafat itu. Dan jika orang yang hendak ditafsirkan itu adalah seorang penyair asing maka syarat pertama bagi si penafsir itu adalah mengetahui bahasa yang dipergunakan oleh penyair itu.

Dan jika kita mempelajari tulisan dan terjemahan Badawy tentang Goethe dan beberapa dari sajak-sajaknya, maka kita mendapat kesan, beliau, atau tidak mengerti bahasa Jerman, atau paling sedikit sudah lama meninggalkan bangku sekolah, sehingga pokok-pokok yang paling elementer pun dari bahasa Jerman tidak diketahuinya lagi.

Tentu saja, bukan maksud kita untuk mentertawakan Saudara Badawy. Maksud kita ialah memperlihatkan betapa celakanya jika orang mencoba menafsirkan seseorang dengan tidak mengetahui bahasa, sehingga kesimpulan-kesimpulan yang ditarik oleh si penafsir itu berdasarkan terjemahan-terjemahan yang serba keliru, yang serba dibuat-buat atas sentimen-sentimen yang subyektif.

Malahan, terkadang Badawy “menterjemahkan” perkataan-perkataan yang sama sekali tidak terdapat dalam tulisan Goethe yang asli.

Dan karena cara pendekatan, cara menterjemahkan inilah, Badawy bisa sampai pada kesimpulan di mana ia hendak membuktikan bahwa sepanjang hidup Goethe ada keyakinan dan kecintaan kepada Islam. Dengan kesimpulan yang begitu, Goethe yang memang terkenal karena filsafat kebendaannya hendak dicoret sumbangannya terhadap pikiran progresif umat manusia dan dijadikan seorang mistikus belaka saja.

Atas dasar manakah Saudara Badawy mendasarkan tafsiran yang begitu gegabah itu? Diambilnya sajak Goethe:

Naorisch, das jeder in seinem Falle,

Seini besondere Heinung priest!

Wenn Islam Gott ergeben heiszt

In Islam leben und sterben wir alle

Bait itu memang ditulis oleh Goethe, tetapi bagaimana terjemahannya Badawy?

“Amat gila bahwa tiap manusia

memegang fahamnya sendiri

Padahal Islam berarti menyerah diri kepada Allah

Dalam Islam hidup dan mati kita semua.”

Menurut pengertian kita tentang Bahasa Jerman, terjemahan seharusnya berbunyi:

Amat tolol bahwa tiap manusia

hanya memuji fahamnya sendiri

jika Islam berarti menyerah pada Tuhan

maka dalam Islam kita semua hidup dan mati.

Perbedaan pokok terletak dalam perkataan jika “Andaikata Islam berarti menyerah pada Tuhan!” Terang, yang dimaksudkan oleh Goethe bukan Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai suatu aksi, suatu perbuatan, suatu sikap, yaitu menyerah kepada Tuhan, kepada suatu ide.

Dan bagaimana faham Goethe tentang Tuhan itu? Fahamnya memang sangat berbeda dari faham Tuhan seperti harus dipegang oleh setiap orang yang mengaku diri sebagai orang Islam ataupun Keristen.

Dengarkanlah faham Goethe tentang Tuhan.

“Ich aber bete den an, der eine silche

Produktionskraft in die Welt gelegt hat, dasz, wenn nur der millionste Teil ins leben tritt, die

Welt von Geschoepfen wimmelt, so dasz Krieg. Wasser und

Brand ihr nichts anzuhaben vermoegen.

Das ist Mein Gott.

20 Februari 1831.

“Dari percakapan-percakapan Goethe dengan Eckermann”.

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Akan tetapi saya menyembah pada yang itu, yang meletakkan pada bumi ini daya produksi yang sedemikian rupa sehingga jika seperjuta dari daya itu menjadi hidup, dunia akan penuh dengan makhluk-makhluk sehingga perang, penyakit kusta, air dan api tidak berdaya terhadapnya. Itulah Tuhan saya?

Jadi Goethe, jauh daripada mengakui Tuhan seperti diajarkan oleh agama Keristen ataupun Islam, yang mengatakan bahwa orang jangan bertanya siapa Tuhan, mempunyai syarat-syarat tertentu tentang Tuhannya.

Goethe dengan dua baris pertama dari sajak yang disitir tadi oleh Badawy justeru menunjukkan sifat yang toleran, sikap yang mengatakan bahwa juga yang lain bisa benar. Apakah ini bukan bertentangan dengan agama Katholik, Keristen dan Islam, yang hanya mengakui satu Tuhan untuk semua?

Tentang adanya Tuhan, Goethe pula telah menulis (dan ini justeru dikutin oleh Badawy sebagai alasan pokok untuk membuktikan bahwa Goethe percaya pada Tuhan yang Maha Esa):

Di mana ada kebutuhan, di sinilah ada Tuhan.

Apakah ucapan Goethe ini tidak lebih menyerupai pendapat filsafat Kant bahwa “manusia menciptakan Tuhan?” Jika tidak ada kebutuhan, tidak ada Tuhan. Dan apakah tidak semua agama mengajar bahwa Tuhan dari semula sampai ke akhir dunia selalu ada bahwa Tuhan tidak diciptakan?

Berbicara tentang agama pada umumnya, Goethe, yang pada masa mahasiswanya di Straszburg dicap oleh propesornya sebagai “ein wahnsinniger Religionsveracchter” (seorang penyangkal agama yang gila) menulis bahwa “Zuversicht und Ergebung sind die echten Grundlagen jeder bessere Religion” dan bahwa dalam hal ini “Der Islam und die reformierte Religion sich hirein am naechsten sind”. Menurut kita terjemahannya adalah: “Kepercayaan penuh serta menyerah diri, merupakan dasar-dasar yang betul bagi setiap agama yang lebih baik” dan seterusnya, Islam dan agama reformis (yaitu agama Protestan menurut faham Calvijn-B. S.) dalam hal ini paling dekat satu sama lain“.

Bagaimana terjemahan Badawy?

Imam dan takdir adalah dasar yang benar dari fham agema dan, . Agama Islam itu adalah agama ciptaan baru, adalah lebih daripada yang demikian itu“.

Hal-hal yang sama sekali tidak ditulis oleh Goethe. Saudara Badawy hendak menjadikan sebagai pikiran-pikiran Goethe! Maka tidak mengherankanlah bahwa Badawy dari “terjemahan”nya sendiri bisa menarik kesimpulan: “nyatalah bahwa apa yang terkandung dalam tulisan tersebut di atas, dengan jelas dan kekyakan penuh (Goethe) menyatakan bahwa di dalam jiwanyа bergelora dan berkobar-kobar semangat Islam”.

Ternyata, bahwa segi yang paling kuat dari Saudara Badawy adalah menarik kesimpulan-kesimpulan yang cepat-cepat dari beberapa baris saja. Betapa tidak! Dari dua baris:

Demikienlah! Penyair-Penyair di Timur

adalah lebih besar dari kita di Barat.

Ia menarik kesimpulan: “Demikianlah dengan terang dan jelas telah dilahirkannya rasa kecintaannya kepada Islam dan Timur”. Kita membaca bolak-balik bait tersebut, tetapi bagaimanapun juga perkataan Islam tiada nampak.

Demikian pula dari ucapan Goethe (yang kita memberikan dalam terjemahan Saudara Badawy):

Telah terbenam matahari

namun di Barat ia bercahaya kembali

Sungguhpun demikian aku ingin tahu berapa lama ia bercahaya-cahaya di sana.

kita tidak dapat melihat alasan yang mendorong Saudara Badawy untuk menarik kesimpulan: “Demikianlah seorang yang mempelajari percikan jiwanya (yaitu Goethe-B. S.) dan melihat buah pekerjaannya akan ternyata baginya, betapa kecintaannya kepada Timur dan Islam”.

Benar Saudara. Bcdawy, Goethe memang sangat tiynta pada Timur, akan tetapi haruskah Timur sinonim dengan Islam? Apakah di Timur itu tidak hidup pula berjuta-juta manusia yang beragama Hindu, Keristen ataupun berfilsafat ateis seperti penganut Buddhisme? Kita dapat berkata dengan Goethe “amat gila bahwa manusia berpegang kepada fahamnya sendiri saja!”

Pada permulaan tulisan ini, kita tulis, bahwa untuk mengenal seorang penyair, untuk berani memberi tafsiran tentangnya, si penafsir paling sedikit harus mengetahui zaman mana yang melahirkannya. Bahwa Saudara Badawy tidak kenal Goethe dan zamannya kelihatan dari satu soal kecil. Soal kecil yang menutupi satu pandangan politik. Sangat bertendensi Saudara Badawy menulis bahwa Goethe adalah seorang ahli sair dan filsafat Jerman (BARAT).

Andaikata Badawy mengenal Goethe, maka ia harus tahu bahwa Goethe hidup pada zaman di mana Jerman terpecah belah dalam ratusan kerajaan-kerajaan yang kecil dan besar. Dan ini amat disesalkan oleh Goethe. Goethe, lebih daripada Badawy, mengerti bahwa suatu Jerman yang terpecah merupakan malapetaka bagi Jerman dan Eropa, maka berjoanglah ia “sepanjang hidupnya” untuk persatuan Jerman dan “berkobar-kobarlah jiwa persatuan dalam dada Goethe”. Bagi Goethe, yang pertama kali mempergunakan istilah “kesusasteraan dunia”, tidak ada kebudayaan “Jerman Prusia”, atau “Jerman Bayern”. Apalagi kebudayaan, “Jerman Barat” dan “Jermaan Timur”.

Dan andaikata kita mengikuti jalan pikiran Saudara Badawy, apakah ia tidak mengetahui bahwa Goethe memang dilahirkan di bahagian barat Jerman dan bahwa ciptaannya yang paling mateng diciptakan di Weimar, bahagian Timur Jerman?

Jika orang membaca tulisan Badawy, ia tidak dapat melihat siapa Goethe dan apa peranannya dalam memajukan umat manusia.

Kita tidak berani untuk menulis bahwa Goethe adalah ini atau itu, ateis atau beragama, idealis atau materialis. Segi-seginya terlalu banyak. Ia bukan penyair atau filsuf saja. Ia pula seorang ahli ilmu pengetahuan, buktinya adalah tulisan-tulisan mengeni Ilmu Bentuk, Ilmu Warna, Geologi, Mineralogi dan amat berharargalah sumbangannya terhaadp Ilmu Hayat. Dan jika berkunjung ke museum “Goethe” di Weimar, yakinlah pula kita, bahwa ia seorang pelukis yang berbakat tinggi. Jadi siapa sesungguhnya Goethe itu? Yang terang nampak dari “Faust”, “Prometheus”, “Iphegenie auf Taurus” dan banyak lagi bahwa ia manusia yang besar. Manusia bagi Goethe adalah pusat, kebahagian manusialah yang paling dekat pada hatinya. Kerja, perbuatan, itulah yang dimuliakan oleh Goethe. Barulah Dr. Faust mau menetap di dunia tatkala ia lihat kaum buruh bekerja dan bukankah dalam “Faust” pula Goethe dengan singkat “In der Anfang war der Tat” dan tatkala ia mau menulis “In der Anfang war das Wort” penanya tidak mau menulis lagi? Dan bukkankah Tat itu adalah perbuatan, gerak. Jadi “pada permulaan adalah Perbuatan” dan bukan “Pada permulaan ada Perkataan (= roh)”.

Bagaimana pandangan Goethe terhadap dunia? Jauh sebelum Marx dan Engels menciptakan materialisme dialektika, Goethe dalam “Zur Morphologi” menulis “Jika kita memandang semua bentuk, terutama bentuk-bentuk organis, maka kita mendapatkan, bahwa tidak ada yang tetap, tidak ada yang diam, tidak ada yg selesai, melainkan bahwa semua berada dalam gerak yang terus menerus”. Goethe bukan orang mistikus yang hendak disajikan oleh Badawy. Goethe berdiri dengan dua kaki di atas bumi. “Dan eigentliche Setudium der Menscheit ist der Mensch” berkata Goethe. Artinya mempelajari umat manusia adalah mempelajari manusia itu sendiri. Dan betapa ia percaya pada manusia dapat dilihat dari ucapan Goethe kepada ahli agama Lavater “So ist das Wort der Menschen mir Wort Gottes, es mocgen's Pfaffen oder Huren gesamelt haben (Jadi perkataan manusialah bagi saya perkataan Tuhan, biarpun kata-kata ini dikumpulkan oleh para pendeta atau pelajur)”.

Ya. Goethe adalah seorang yang hanya percaya pada fakta-fakta, seorang yang tidak menghilang diri dalam spekulasi-spekulasi. Jiwa Faustnya selalu mendorongnya untuk menyelidiki dan sekali lagi menyelidiki. Nasehatnya adalah “Der Mensch musz bei dem Glauben verharren, dasz das Unbegrifliche begreiflich sei, er wurde sonst nicht forschen”. Artinya “Manusia itu tetap harus berpegang pada kepercayaan, bahwa yang masih belum dapat dimengerti akan mendidik dimengerti, jika tidak manusia itu tidak menyelidiki”.

Janganlah berspekulasi tentang dunia akhirat, adalah nasehat lain dari Goethe berkata ia: “Die Beschaeftigung mit der Unsterblichkeits Idee ist fuer vornehme Staende und besonders fuer Fruenzimmer die nichts zu tun haben. Ein tuechtiger Mensch aber der schon hier etwas Ordentliches zu sein gedenkt, und der daher taeglich zu streben, zu kaempfen und zu wirken hat, laeszt die kuenftige Welt auf sich beruhen und ist taetig und nuetzlich in dieser.” “Dengan memikirkan dunia akhirat, kata Goethe, ini pekerjaan untuk lapisan-lapisan atas atau perempuan-perempuan yang tidak mempunyai pekerjaan. Bagi orang yang ingin menjadi sesuatu di dunia ini, sebaiknya ia membiarkan dunia akhirat pada dunia akhirat. Orang yang cakap itu berjoang, bekerja, berbuat supaya ia berguna dalam dunia ini.”

Begaimanakah kepercayaan Goethe, Islamkah, Katholikkah? Dengarkan perkataannya yang langsung, yang tidak ditafsirkan oleh orang lain. Waktu ia berumur 82 tahun, datanglah seorang professor dari Zurich yang hendak mengetahui apakah “penyangkal agama yang gila itu” sudah berobah pikirannya. Jawaban yang ia dapat adalah “Ilmu-Ilmu pengetahuan alam idalah satu-satunya yang membawa kita ke dasar yang kuat, atau lebih baik, (adalah satu-satunya) yang tidak menyiua kita”.

Sekali lagi dalam tulisan ini kami tidak hendak memberi sesuatu isme pada Goethe. Segi-seginya terlalu banyak. Ada banyak yang amat jelas dikatakannya, tetapi pula yang membingungkan sebab Goethe pun tidak dapat terlepas dari batas-batas yang ditentukan oleh zaman dan kedudukannya sebagai penasehat pada Pangeran Karl August dari Weimar dan sebagai menteri dalam pemerintahan kerajaan Weimar.

Tapi jika hendak menafsirkan Goethe, baiklah kami dan juga Saudara Badawy mengindahkan peringatan Goethe:

Im Auslegen seid frisch und munter

Legt ihr nicht aus. so legt was unter?

Terjemahan bebas ialah:

Hayo dalam menafsirkan, segar dan bergembiralah.

Jika tidak cocok Saudara boleh tambah saja

Atau dalam perkataan yang lebih sederhana (barangkali ironi Goethe tidak dimengenti), jika menafsirkan orang, apalagi Goethe, tafsirkanlah secara ilmiah, dan jangan tulis menurut kehendak subyektif saja.


SAIDJAH DAN ADINDA

—Gambar sebuah perahu yang berkelahi dengan ombak membalik dari pantai. Perahu berusaha mencapai pantai. Sudah tiba sekarang di pantai Lampung. Kelihatan pelarian-pelarian dari Banten berhasil mengatasi ombak-ombak tadi dan mereka menuju ke pantai dengan cepat. Orang-Orang melompat keluar dari perahu dan berlari masuk semak-semak pinggir laut.

—Gambar pada Saidjah dengan di latar belakang beberapa orang-orang lain. Saidjah melihat ke sekelilingnya ke pemandangan dari Lampung. Dan ia berkata:

SAIDJAH

Ahh ... ini Lampung ....

Kelihatan kini Saidjah berjalan memasuki tanah Lampung.

—Beberapa gambar Saidjah beserta rombongannya lagi jalan di hutan-hutan.

—Lalu gambar seorang petani Lampung lagi mencangkul di ladang. Rombongan Saidjah kelihatan mendatang dari jauh. Suara dari rombongan ini yang berseru-berseru:

ROMBONGAN

Ooooooi ... Ooooooi ...!

Kelihatan petani mengangkat kepala setelah berhenti mencangkul. Dan dia berdiri memandang ke arah mereka yang mendatang.

—Gambar pada petani dengan rombongan Saidjah yang sudah kian berdekatan. Salah seorang anggota rombongan berkata: (semua bicara dalam teriak).

ANGGOTA ROMBONGAN

Pak ... pak .... Numpang tanya, pak.

PETANI

Oi ... boleh saja .... Saudara-Saudara dari mana?

ANGGOTA ROMBONGAN

Dari Banten .... Bapak lihat orang-orang Banten lewat di sini ...?

PETANI

Ooo ... banyak. Tapi hati-hati! Kumpeni lagi mengganas sama orang Banten. Serdadu-Serdadu Kompeni lagi di kampung sebelah wetan sana itu .... Orang-Orang Banten ada di kampung sana ....

SUARA-SUARA DALAM ROMBONGAN

Ayo, ayok ... yok ... kita ke sana ...!

—Lalu rombongan itu jalan pergi meninggalkan petani dan petani yang ditinggalkan masih berteriak lagi kepada mereka:

PETANI

Hati-hati ...! Ambil jalan hutan ...!

—Gambar pada rombongan tadi lagi duduk mengaso di bawah pohon-pohon. Salah seorang di antara mereka berkata:

SEORANG ANGGOTA ROMBONGAN 1

Biar bagaimana kita mesti cari dulu kawan-kawan kita yang sudah duluan di sini ..... Nanti kalau sudah bertemu, baru kita sama-sama cari jalan lebih dalam ke udik ... cari tempat di mana bisa hidup aman.

ANGGOTA ROMBONGAN 2

Tapi bagaimana kalau kita di tengah jalan sudah dicegat kompeni ...?

ANGGOTA ROMBONGAN 3

Kita terpaksa hantam-hantaman .... Kalau saya tidak mau menyerah, biar cuma sama senjata golok ini .... (angkat golok, perlihatkan).

ANGGOTA 2

—Naa ... kalau begitu, boleh ... saya juga setuju .... Biar kita kasi lihat kita juga berani.

ANGGOTA ROMBONGAN 1

Mudah-mudahan ini ndak terjadi ... tapi kalau kodrat maunya begitu mari kita bersama sumpah, kita bela mati-matian diri kita yang lagi cari hidup ini ....

Kelihatan mereka bertiga itu setuju dengan ini.

Close-up pada muka Saidjah. Saidjah lagi memandang dengan kagum kepada orang bertiga ini. Gambar turun ke bawah, ke pinggang Saidjah, di mana goloknya terselip. Kedengaran off scene suara:

SUARA (OFF SCENE)

Saidjah ... ayok, turut ...!

Kelihatan tangan Saidjah lalu memegang goloknya.

—Gambar Saidjah yang lagi angkat goloknya dan melihat golok itu.

—Gambar pada orang rombongan bertiga yang di atas tadi. Mereka jalan di antara pepohonan hutan Lampung. Pada suatu ketika terdengar suara tembakan-tembakan agak jauh dari sana.

—Gambar frontal pada mereka ini. Mereka dengan suara tembakan ini lalu tiba-tiba berhenti lalu memandang waspada ke kiri ke kanan. Golok mereka tarik keluar. Salah seorang berkata hampir berbisik:

ANGGOTA ROMBONGAN 2.

Ei ... di mana itu ...? Di mana kiranya tembakan-tembakan itu?

Lalu salah seorang lagi berkata:

ANGGOTA ROMBONGAN 1

Kalau saya ndak salah kita sudah dekat tempat teman-teman yang kita tuju ... di jalanan mereka ....

ANGGOTA ROMBONGAN 3

Kalau begitu kita jangan tunggu-tunggu lagi di sini ... teman-teman kita ‘kan lagi dibunuh ’tu! ... Mari kita bantu ....

Lalu dengan hati-hati, melihat ke kiri-ke kanan, mereka dengan cepat maju melewati kamera. Kelihatan Saidjah di belakang melangkah juga dengan cepat, masih ragu-ragu tetapi berani.

—Pemandangan pada suatu desa yang lagi kebakaran dua atau tiga rumahnya agak di jauh. Suara tembakan masih terdengar. Hari mulai menjelang senja. Nyala api kelihatan di kejauhan. Kelihatan rombongan dari samping kamera menuju ke tempat kebakaran tetapi beberapa langkah ketika di latar depan mereka berhenti dulu. Salah seorang anggota berkata:

ANGGOTA ROMBONGAN 1

(gemas)

Laknat .... Apa ini cara-caranya kompeni ...? Ayok maju!

Lalu mereka dengan cepat menuju ke desa.

—Gambar orang-orang rombongan ini lagi berlari. Mereka kelihatan amprofiel. Saidjah kelihatan berlari di belakang. Dan kamera menuruti mereka berlari sebentar. Kini kelihatan sementara mereka dituruti ini bahwa mereka telah dekat pada desa. Kelihatan Saidjah berhenti berlari.

—Gambar dari jurusan Saidjah. Kelihatan anggota-anggota rombongan itu lari ke dalam desa tetapi dengan berpencar-pencar. Yang satu ke kiri, yang satu ke tengah-tengah dan satu lagi ke kanan. Lalu Saidjah lari menuju salah satu jurusan tertentu. Di atas desa asap dan api dari rumah-rumah kebakaran yang kelihatan itu.

—Gambar Saidjah lagi berlari masuk desa. Saidjah amprofiel. Gambar menuruti Saidjah yang lari. Kelihatan dia mendekati sebuah rumah yang kosong (desa itu kelihatan kosong).

Saidjah berhenti di depan rumah tersebut, dan masuk ke dalam dengan golok terhunus. Sebentar lagi ia keluar dari rumah itu. Lalu dia jalan terus lagi.

—Gambar Saidjah mendatang. Dekat kamera dia berhenti dan lalu memandang ke arah tanah.

—Gambar dari jurusan Saidjah ke tanah, di mana terlentang mayat seorang desa, yaitu Abdul Ismak, orang Banten dari Badur. Saidjah membungkuk lalu kelihatan kaget. Dan ia berkata dengan suara kaget:

SAIDJAH

Abdul Ismak ...! Ya Allah ...!

Lalu Saidjah berdiri kembali, dan sebentar ia melihat terharu pada mayat itu, kemudian lalu dengan lebih cepat lagi dan hati-hati lagi ia jalan terus.

—Gambar pada Saidjah lagi jalan cepat dan hati-hati di antara pohon-pohon desa dan pagar-pagar. Tiba-Tiba dari semak-semak keluar seseorang yang lari menjerit kalap. Ia lewat depan Saidjah. Jerit orang itu:

ORANG KALAP (PAK ENTOH)

Ampun ... ampun ... ampun!!!

Orang ini lalu lari keluar dari gambar. Saidjah melihat kaget. Ia rupanya kenal itu orang, lalu Saidjah berseru:

SAIDJAH

—Pak Entoh ... pak Entoh ...!!!

Tapi orang ini tak menjawab. Dan Saidjah lalu terpaksa berjalan sendiri ke arah datangnya pak Entoh.

—Gambar pada bagian desa di mana terdapat kebakaran. Agak jauh di latar belakang ada dua rumah yang terbakar hingga daerah latar belakang itu agak terang. Di depan rumah itu kelihatan serdadu-serdadu kompeni, infanteri, dengan pedang terhunus dan mereka ini berjalan dengan mencari-cari “musuh”. Sesudah mereka lewat tiba-tiba kelihatan seorang letnan Belanda naik kuda lewat rumah kebakaran itu menuruti serdadu-serdadu tadi (6 atau 7 serdadu-serdadu).

Sesudah mereka lewat sebentar tiba-tiba Saidjah muncul di antara batang-batang pohon di latar depan. Dia berjalan dengan hati-hati dari pohon ke pohon. Kamera menuruti Saidjah. Gambar pada Saidjah di depan rumah itu. Dia berhenti kaget di depan mayat seseorang, yang terlentang di depan rumah. Mayat itu ialah pak Adinda yang kena tembak mati. Saidjah sambil menjatuhkan diri dan memegang mayat pak Adinda berseru kaget terharu:

—Gambar pada sebuah rumah. Bagian depan rumah itu kena cahaya dari kebakaran, hingga kelihatan terang. Saidjah masuk dalam gambar di latar depan, lalu dengan membungkuk-membungkuk berjalan hati-hati menuju rumah itu.

SAIDJAH

Masaallah ... bapak Adinda ...!

Sebentar ia dekapkan kepalanya pada bahu pak Adinda lantas kepalanya ia angkat kembali dengan sentak dan kelihatan wajahnya terkaget lagi.

—Gambar pada bagian bawah pintu rumah di mana di hadapan pintu tergeletak mayat si Entong dan mayat si Kandar terlentang setengah di dalam rumah setengah di luar pada ambang pintu.

Saidjah melompat ke dalam gambar ini dari arah samping kamera pada si Entong dan Kandar dengan melontarkan ucapan:

SAIDJAH

Entong .... Kandar juga ...!! Aduhhh ....

Saidjah bangkit lagi, lari ke dalam rumah.

—Gambar pada Adinda. Kelihatan mukanya dan satu tangannya mendekap dada, menggenggam sepotong kain (ikat kepala Saidjah). Adinda terbaring di lantai dengan rambut terurai lepas.

Lalu kamera ditarik mundur dengan agak cepat sehingga kelihatan seluruh tubuh Adinda yang terbaring di atas tanah.

Adinda berpakaian kebaya dan kebaya ini telah koyak-koyak. Lengan yang terlentang di tanah sobek sama sekali. Dadanya berlumuran darah. Kainnya terbelit lepas dan hanya menutup sampai dengkul sedang sebelah pahanya kelihatan.

—Gambar wajah Saidjah memandang Adinda terlentang dengan penuh sedih. Dia mengeluh:

SAIDJAH

Adinda ....

—Gambar seluruh kamar. Di satu sebelah terbaring Adinda dekat balai-balai, di sebelah lainnya berdiri Saidjah dekat pintu. Saidjah kelihatan nanar dengan penuh kesedihan yang tak bisa dikeluarkan dengan kata-kata lagi. Ia lalu membungkuk dan berlutut mendekati Adinda. Lantas ia gapaikan tangannya ke kepala Adinda dengan penuh kasih.

Lalu tiba-tiba ia merebahkan dirinya ke tanah dan kepalanya ia dekapkan pada kepala Adinda.

Tangannya satu lalu menggapai ke kain yang tergenggam dalam tangan Adinda pada dadanya Adinda yang berlumuran darah.

—Gambar kepala Saidjah dan kepala Adinda serta tangan Saidjah yang lagi pegang kain ikat kepala yang dulu ketika Saidjah mau pergi meninggalkan Badur ia berikan pada Adinda. Sebentar ia pegang kain itu lalu tangannya pindah ke muka Adinda dan ia belai muka itu.

Tiba-Tiba kamera ditarik mundur sedang sementara itu Saidjah menyentak bangun dengan pasti.

—Gambar dari jurusan Adinda ke Saidjah dan di latar belakang kelihatan pintu. Saidjah memandang sebentar ke arah Adinda dengan sedih dan lalu ia jalan mundur langkah demi langkah menuju ke pintu.

—Gambar pada Saidjah berdiri di pintu. Gambar dari jurusan luar di halaman, Saidjah memandang keluar. Ia kena cahaya sinar dari rumah terbakar.

—Gambar pada Saidjah melompat lari dari pintu keluar rumah. Saidjah dituruti sebentar. Saidjah lagi lari dengan golok terhunus, ke arah:

—Gambar pada serombongan serdadu Kompeni (marechaussee?) yang jalan di depan rumah terbakar. Bersama mereka seorang kapten Belanda naik kuda. Tiba-Tiba Saidjah masuk dari samping kamera berlari dengan golok terhunus ke tengah serdadu-serdadu sambil memukulkan goloknya ke kiri-kanan. Serdadu kacau dengan ribut dan lari terpencar.

—Gambar pada Saidjah yang berdiri sendiri di tengah-tengah kelilingan serdadu-serdadu. Ia berdiri seketika dan lantas mulai mengamuk. Serdadu-Serdadu sekelilingnya berdiri dalam berbagai sikap berkelahi dengan pedang tetapi keadaan mereka masih dalam terkejut.

Antara Saidjah dan rumah yang sedang terbakar kelihatan kapten Belanda tadi di atas kudanya. Saidjah melompat ke atas belakang kapten di atas kuda dan seketika itu juga ia bacok kapten itu. Dengan menarik jatuh kapten itu kedua mereka jatuh ke tanah. Serdadu-Serdadu yang kelihatan dalam gambar ini melihat dengan kaget, garang dan masing-masing dengan klewang yang terhunus di tangan. Salah seorang daripada mereka yang melihat berseru:

SERDADU

Kapten Westman mati!

Sementara itu dalam kejap itu juga salah seorang yang lain lagi lari ke latar belakang.

—Gambar pada 3 orang opsir Belanda di atas kuda. Yang di tengah ialah jenderal. Satu di sampingnya ialah ajudannya dan seorang lagi letnan yang datang lapor.

LETNAN (yang datang lapor)

De linkerflank heeft de Oostzijde van het dorp schoon geveegd.

Sementara ini masuk dengan tiba-tiba serdadu dari tadi. Dia kasih hormat (salvo). Ia berseru melapor:

SERDADU LAPOR (bumiputera)

Generaal. Kapten Westman mati.

Semua Belanda di atas kuda terkejut. Jenderal berkata:

JENDERAL

Godverdomme! Ajudant, kapten Westman is gesneuveld op het veld van eer .... Onderzoek de zaak!

AJUDAN

Tot Uw dienst, generaal!

Ajudan ini berkata sambil hormat. Prajurit yang melapor kematian kapten Westman masih terus dalam sikap hormat. Ajudan yang selesai memberi jawaban pada generaal tadi terus menjalankan kudanya dalam pacuan. Cut.

—Kuda kapten Westman lari dan Saidjah yang jatuh bersama kapten Westman itu, kini dengan cepat bangun sedang kapten Westman terus tergeletak di kakinya. Tekanan gambar pada Saidjah. Lalu Saidjah melangkah satu dua langkah ke muka. Dari off scene kedengaran suara-suara serdadu-serdadu Kompeni:

SUARA-SUARA SERDADU

Bunuh dia!

Itu bangsat!

Bunuh dia!

—Gambar pada Saidjah. Kamera di belakang Saidjah yang melangkah seperti orang mabuk (gerak dalam trance) bergerak perlahan menuju ke rumah Adinda tadi. Tiba-Tiba dari kedua sampingnya serdadu-serdadu tadi berlompatan dengan ganas membacok Saidjah. Saidjah lalu jatuh dengan tiada suara.

—Gambar dari rumah Adinda tadi ke jurusan Saidjah yang kini tersungkur di tanah. Seorang serdadu Kompeni berdiri dekat di sampingnya terbaring. Serdadu ini dengan kelewang teracung ke udara dengan latar belakang rumah yang tengah nyala. Tiba-Tiba dari samping rumah yang bernyala itu masuk berkuda ajudan Belanda yang bersama jenderal tadi. Kudanya ketika dekat pada serdadu berhenti. Ia berkata:

AJUDAN

Ei spandri .... Itu binatang amok sudah dibunuh ...?

SPANDRI (yang berdiri dengan kelewang teracung tadi)

Demi mahkota Belanda .... Itu bangsat sudah mampus!

AJUDAN (memuji)

Bagus! Spandri berjasa untuk Raja dan mahkota Belanda. Spandri naik pangkat jadi kopral.

SPANDRI

Terima kasih ajudan! Hidup mahkota Belanda!

—Gambar pada Spandri dengan latar belakang rumah-rumah yang bernyala tadi. Ia turunkan kelewangnya dan melihat ke tanah. Gambar lantas turun menuruti kelewang ke bawah. Saidjah kini tidak lagi di samping kaki Spandri itu. Muka Spandri kelihatan kusut dan kaget.

—Gambar lantas mundur memperlihatkan tempat Saidjah tadi tersungkur. Yang kelihatan hanya tumpukan darah bekas Saidjah. Gambar lantas kini menurut bekas tetesan darah, jejak yang menunjukkan ke mana perginya Saidjah. Kamera dalam jalannya itu menangkap mayat-mayat dari ayah Adinda dan saudara-saudara. Adinda masuk ke rumah dan lantas melewati badannya Saidjah. Saidjah kelihatan luka-luka parah. Pada saat gambar menangkap kepala Saidjah, kelihatan Saidjah menghembuskan napas yang terakhir. Kepalanya jatuh ke tanah.

—Gambar terus menjalari tangannya yang terentang dan akhirnya kelihatan tangan ini memegang tangan Adinda. Gambar lantas ditarik mundur sedikit sehingga kelihatan dua tangan yang bersilang dan bergenggaman.

Di sini mulai Multatuli berkata: (off scene).

MULTATULI (off scene)

Mungkin sementara orang akan berkata, bahwa Saidjah dengan cintanya ini cuma khayalanku belaka. Tetapi pada mereka izinkan saya ajukan pertanyaan: darimana mereka tahu tentang peristiwa ini.

Dan aku mau didengar. Bahwa di sini lebih dari 300 juta rakyat dianiaya dan ditindas atas nama mahkota Belanda!

Saya protes terhadap serbuan terus-menerus dan kegagahan-kegagahan atas rakyat yang menjijikkan, terpaksa berontak karena terlebih dahulu diperkosa.

Saya protes terhadap kerendahan budi yang menjijikkan, meminta bantuan dari rakyat Belanda guna korban-korban untuk pembajakan terus-menerus atas nama mahkota ....

Memang benar pemberontak-pemberontak itu adalah tengkorak-tengkorak yang kelaparan dan pembajak-pembajaknya adalah orang kuat bersenjata.

Tetapi camkan! Di semua negara akan dikumandangkan

Lagu dengan ucapan ini:

Di pesisir laut sana

antara Oostfriesland dan de Schelde

menempel suatu negara penyamun ....

Dan ceritaku ini akan dikisahkan dalam berbagai-bagai bahasa. Juga dalam bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Maluku, Batak dan Bugis.

Dan saya akan sebarkan, mantap ke dalam semangat rakyat yang disiksa perih ini. Juga berdendang dengan lagu berundang-undang klewang. Karena padamu, saya telah serahkan segala kemampuan saya, saya MULTATULI.

Kira-kira di tengah ucapan-ucapan Multatuli ini kamera terus track back lagi, hingga kini ke dalam beeld kelihatan di tengah-tengah tangan Saidjah dan Adinda yang bertemu dan di samping kiri-kanan kepala Saidjah dan kepala Adinda dengan sedikit bagian badan.


CREDO

Ketika lemah rebah
kuletakkan kuping hatiku di tanah
terdengar segar jantung rakyat hidup berdegup
tenaga pulih
hidup begitu indah masih
harapan belum terkatup.
Masih merontak detak-detak
tenaga ‘dalam pembuluh darah.
Aku tegak
pandangan terarah
pada hari kelak
kikis tangis ditelan gelak.
Kawan, pinta kita
hanya sebuah dunia diliputi cinta
di mana hidup penuh arti
dan hati penuh bakti.
Hati diberkati kurnia setia
pada kesatuan ummat manusia
kuat muat segala beban
tak retak dilanda cobaan.

Boejoeng Saleh


Lagu Malam

Terlempar dari rumah, terdampar ke jalan raya
megap-megap mengharap seteguk napas
kegelisahan mengoyak hingga ke hulu jantung
meruyak dada manusia-kota.
Terkapar penyair di sudut malam
kena tikam dari belakang
seribu sajak tak jadi lahir
harapan dikubur di bawah bintang.
Beribu dara dari desa
melangkahkan hati penuh janji
terkapar antara gerbong-gerbong kereta
tempat berpaut melawan maut.
Beribu pemuda dari gunung
turun menyabung untung
kena landa segala bencana
terpulau antara terali besi
Rakyat
antara derita dan duka
hati membesi menyambut tantangan
lantang pandang terhala ke muka
hari esok tergenggam di tangan.
Penyair tak jadi mati
hidup ini begini indah
derita hanya lempiran
maut boleh menanti
sia-sia.
Ciliwung mengalir tenang
di airnya keruh bintang membayang
angin malam semilir mendesir
menyegarkan harapan di hati penyair.
Dinda, cinta bukan kata hampa
dia bertuah sepanjang abad
di tangannya hidup ditempa
penuh khidmat.
Cinta akan menaklukkan dunia
dia berkuasa di hati manusia.

Boejoeng Saleh


KEPENYAIRAN-BERJUANG TIONGKOK

KEPENYAIRAN baru Tiongkok menyatakan kehadirannya pada akhir perang dunia yang pertama, dalam masa “Gerakan 4 Mei”. Ia dilahirkan oleh pasang kegeraman rakyat Tiongkok terhadap agressi imperialis dan pemerintahan korrup kaum jendral perang feodal, dalam waktu kebangunan pesat politik dan kebudayaan, dari kekecewaan yang semakin meningkat terhadap liberalisme yang reformis, dari peralihan ke revolusi.

Semangat pemberontak, dibangkitkan selama tahun-tahun peperangan, meledak pada detik 4 Mei, 1919. Hari itu mahasiswa Peking dengan sukses menyelenggarakan massa-demonstrasi menentang pemerintahan jendral-perang Tiongkok ketika itu yang menandatangani Perjanjian Perdamaian Versailles. Negeri-Negeri Barat yang menang perang mengkhianati tujuan perang yang telah digembar-gemborkannya untuk “menyelamatkan dunia demonstrasi” dan “pemerintahan sendiri bagi bangsa-bangsa” mengusulkan untuk meng-oper-kan bekas kekuasaan-kekuasaan kolonial Jerman di propinsi Shantung kepada Jepang, bukan sebaliknya memulihkannya kepada Tiongkok. Tindakan ini membadaikan kegeraman seluruh bangsa. Mengikuti demonstrasi di Peking, maka mahasiswa, buruh dan pedagang menyatakan setiakawannya dalam pemogokan-protes umum di seluruh negeri. Dalam waktu yang kemudiannya klas buruh Tiongkok dan banyak lagi dengan-dengan lainnya, bertekad bulat untuk membuka jalan ke kemerdekaan dan kemajuan negeri, mengarah kepada Marxisme dan mencontoh Revolusi Oktober di Russia.

Di kalangan kebudayaan terdapat suatu gerakan selama beberapa tahun untuk penghapusan wen yen, bahasa kesusasteraan yang kuno yang pada mulanya dianggap sebagai satu-satunya alat yang tepat untuk menulis. Tujuan gerakan tersebut adalah menggantinya dan pai hua, bahasa sehari-hari, dengan demikian mengeratkan kesusasteraan kepada rakyat. Meskipun tentangan sastrawan feodal, yang memegang semacam monopoli atas kehidupan menulis sebagai akibat cara yang kuno itu, pai hua mendapat sokongan di mana-mana.

SEMANGAT PEMBERONTAK

SEJAK permulaannya sendiri karena itu kepenyairan baru mempunyai hubungan yang era dengan kenyatan, semangat yang memberontak dan keinginan untuk berbicara kepada rakyat dalam bahasa mereka. Mulanya fikiran-fikiran yang dinyatakan agak mengabut: humanisme pada umumnya, kesucian kerja, kebenaran yang abstrak dan lain-lain. Suara baru yang tajam dilontarkan dalam sajak-sajak seperti Diserang Jendela-kertas, ditulis tahun 1919 oleh Liu Panung.

Dalam rumah api menyala tegas,

Tuan menyuruh hambanya membawa buah,

Karena takut Tuan jadi kepanasan,

“Iklim ini” dia nguap, “terlalu panas untuk api”.



Bawah jendela pengemis merangkak

Katupkan gigi melawan angin yang menggigil

Hanya kertas tipis dinding jendela

Memisahkan kehangatan di dalam dari dingin di luar.

Para penyair “Ampat Mei” agaimanapun tidak lama terhenti dalam tingkat simpati saja terhadap yang miskin dan tertindas. Mereka segera melewatinya ke cita perjuangan revolusioner untuk perobahan mesyarakat. Keyakinan baru berhembus oleh kenyataan, bahwa kaum buruh di Russia telah meruntuhkan kekuasaan yang kejam dan bisa tegak membela negerinya terhadap intervensi asing. Chu Tzu-ching, seorang penyair termasyhur, kritikus dan essay's, menyamakan Sovyet-Uni yang muda dengan “awan merah”. Dia menulis sebuah sajak untuk seorang sahabatnya yang revolusioner “Melihat Han Pe-hua menuju Russia”:

Bekerjalah tekun, pelajar pelukis!

Belajarlah dari awan merah

Segala rahasia alam semesta

Dan rekamkan dalam lukisanmu

Kau tahu, kita semua menunggu!

LIHWA: di bawah pemerintahan Kuomintang.

Di tahun 1921, Kuo Mo-jo menerbitkan “Para Dewa”, sebuah buku sajak yang segera dapat merebut kumandang rakyat oleh optimismenya yang berani dan semangat pemberontaknya. Dia menyanyikan lagu-lagu pujaan kepada pemberontak semua negeri, pemberontak dalam sejarah dan pemberontak sekarang. Orang-orang seperti Marx, Engels dan Lenin, Whitman, Rodin dan Tolstoy. Api kemarahan dinyalakan dalam rangkaian ini pada diri Terence McSwiney, walikota Cork dan seorang pahlawan gerakan kemerdekaan Irlandia yang tewas setelah mogok-lapar dalam penjara Inggris di tahun 1920:

McSwiney, panglima kemerdekaan.

engkau telah pamerkan keagungan

cita kemanusiaan kita.



Terima kasih untukmu, kunyanyikan pujaanmu!

Karena kemerdekaan adalah abadi.

Meski tirai malam turun

Betapa gemilang bulan purnama!

Ini adalah dari sekumpulan 4 buah sajak dalam buku yang diberi nama Mati Kemenangan Kuo Mo-jo membikin catatan pada akhir bukunya itu bagaimana sajak-sajaknya itu “dikiristalkan dari air mata menyala aku cucurkan di hari-hari itu”.

HUBUNGAN DENGAN PERJUANGAN

Setelah pembentukan Partai Komunis Tongkok di tahun 1921, maka ideologi Marxisme makin berpengaruh di kalangan penulis. Adalah seorang komunis Teng Chung-hs'a namanya, yang di tahun 1923 menegakkan ukuran bagi penyair revolusioner dia mesti menciptakan pekerjaan yang bisa menunjukkan kebesaran semangat bangsa dan melukiskan kenyataan kehidupan dalam masyarakat hari ini, dan dia mesti siap sedia ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan revolusioner.

Konsepsi ini dinyatakan dalam sebuah sejak di tahun 1924 oleh Liu I-sheng, bernama “Sumpah”:

Lantangkan suaramu kepada yang menderita,

Menyanyikan revolusi adalah tugas agung penyair!

Curahkan darahmu kepada kemerdekaan ummat.

Memeluk revolusi adalah kemuliaan penyair!

Gerakan klas buruh dan demokrasi pada permukaan tahun 1920 memuncak dalam Perang Saudara Revolusioner yang Pertama di tahun 1926-1927, dengan semboyan-semboyannya, “Hancurkan Imperialisme!”, “Hancurkan Jendral-Jendral-perang!”, dan “Usirlah kekuatan-kekuatan Feodal!”. Itulsh sokongan rakyat kepada pasukan-pasukan revolusioner, di mana terhimpun Partai Komunis dan Kuomintang, yang membadai dari Canton ke sungai Yangtze dalam 6 bulan. Kuo Mo-jo dan banyak penyair lainnya ikut serta secara aktif dalam perstiwa ini. Kekuatan dan pengalaman yang membersit dari peperangan revolusioner menancapkan kedalaman kepada kepenyairan mereka, yang sebelumnya belum pernah mereka alami. Chiang Kuang-tze, yang sajak-sajaknya pada permulaan meskipun gairah, agak sering bersifat abstrak, sekarang menghasilkan kepenyairan yang benar-benar mempunyai kesanggupan untuk menggerakkan:

Ketika musuh memasang senapan mesin

kita mesti hadapkan pula senapan mesin

Kemerdekaan kita, pembebasan keadilan—

akan dilahirkan oleh perjuangan

Kalau kita berpeluk tangan

dan ngobrol tentang “perdamaian dan ketertiban”

Ah korban! Kita akan tetap selamanya

dan selamanya budak!

Di tahun 1927 revolusi dikhianati dalam selimut oleh komplotan Kuomintang dikepalai Chiang Kai-shek. Dimulai dengan “Panjagalan 12 April” yang terkenal di Shanghai, Chiang dan komplotannya menyembelih beribu-ribu kaum buruh, tani dan intelektual revolusioner. Kemudian mereka membentuk pemerintahan fasis, disokong imperialis asing. Pasukan-pasukan revolusioner untuk sementara waktu tercerai, tetapi tak terpatahkan, menghimpun dirinya kembali sekitar Partai Komunis untuk memukul kembali. Tentara Merah kaum buruh dan tani Tiongkok dengan pimpinan revolusioner yang bulat, pelan-pelan menjelmakan dirinya. Kepenyairan baru sekarang menyatakan tekad mereka yang tak teruntuhkan. Chiang Kuang-tze menulis di tahun 1927:

Angin kering bertiup

dan hujan getir menangis sepanjang sungai Hsiao-hsiang,

menangisi mayat geletakan menutup tanah

Makam tak terhitung

di luar Wusheng-Pass mengancam akan meledak

karena jutaan korban tanpa salahlah terbakar ....

Sekarang aku bangun, kawan,

kita mesti pegang senapan di tangan kita.

Percayalah, peluru hanya

yang bisa menjamin kemenangan kita.

Kita akan jadi tentara,

jadi tentara, jadi tentara!

dan pegang senapan erat,

erat di tangan kita.

MEMBASMI TERROR-PUTIH

Golongan intelektuil yang tidak menyertai Tentara Merah, tetapi menetap di kota-kota, menghilang di bawah tanah, melanjutkan kegiatan-kegiatan politiknya meskipun terror yang terus-menerus dan berdarah. Adalah dalam zaman di bawah tanah inilah kepenyairan Yin Fu yang masih remaja dan tegar bersemi dan mekar. Hanya orang yang telah ikut serta dalam perbuatan-perbuatan yang berbahaya saja, seperti menyebarkan pamplet-pamplet ilegal bisa menuliskan kalimat-kalimat seperti ini, dari sajaknya yang panjang 1 Mei ‘29

Shanghai bangkit dari mimpinya

Dan di langit berkumandang

kuap besar permulaan hari.

Dengan tanganku didesak dalam di kantongku

Aku berjalan di tengah kesibukan orang.

Ujung segenggam pamplet

Berbisik mencium di antara jariku

Yin Fu, yang juga menulis sajak-sajak percintaan yang segera, dengan kesedarhanaan yang indah, ditangkap dan dibunuh bersama penulis-penulis revolusioner lainnya oleh polisi Chiang Kai-shek di tahun 1931. Pada waktu matinya dia baru berumur 32 tahun.

Di tahun 1932, meskipun amukan terror, sekumpulan penulis revolusioner dikenal sebagai Himpunan Penyair Tiongkok mulai menerbitkan majalah-majalah kepenyaliran di Shanghai, Canton dan propinsi Hopei. Kejadian ini mencreminkan dan merangsang hasrat rakyat untuk memerangi imperialis Jepang, yang menduduki propinsi-propinsi Utara-timur di tahun 1931, yang melancarkan serangan terhadap kota Shanghai dan mulai mendesak di bagian-bagian lainnya Tiongkok. Segala kepenyairan lainnya, juga yang mendapat kepopuleran dalam waktu cepat telah kehilangan pengaruhnya ketika perang Perlawanan Menentang Jepang meletus di tahun 1937. Lu Hsun seorang tokoh kesusasteraan dalam semua kurun waktu, adalah sama sekali benar, ketika dia mengatakan pada tahun 1931, bahwa kesusasteraan proletariat adalah satu-satunya gerakan kesusasteraan yang mempunyai hari esok di Tingkok.

DALAM PERANG PERLAWANAN

Bagian peitoma dari Perang Perlawanan adalah zaman kebangkitan optimisme yang besi. Sebelum pecahnya peperangan ini semua patriot Tiongkok merasa terhina dan geram terhadap sikap tiadanya perlawanan Ching Kai-shek atas penyerbuan Jepang. Sekarang bahkan juqa pasukan-pasukan Chiang terpaksa mesti menerima tuntutan rakyat untuk menadakan perlawanan yang total. Lebih banyak lagi kepenyairan yang maju ke muka dan dia menayatakan keyakinan yang baru dan militan, lebih daripada masa sebelumnya “Kemenangan terakhir adalah kemeuangan kita” tulis Kuo Mo-jo.

Dan kita tak punya keterqesaan, tiada ketakutan

Kita akan berkelahi di bawah jeritan bom

Untuk kemerdekaan penuh negeri kita.

Para penyair sekarang bisa membawa sajak-sajak mereka kepada rakyat. Mereka mendeklamasikannya di sekolah-sekolah, pabrik-pabrik, di medan-medan pertempuran dan dalam pertemuan-pertemuan massa. Kebutuhan akan pertempuran menuntut penyair menjadi agitator. Tien Chien dikenal sebagai “penyair genderang”, sebab sajaknya memiliki ritme dan kekuatan genderang, memulai sebuah corak baru—“sajak-sajak pojok jalan” dan “sajak-sajak selebaran”. Inilah salah satunya:

Kalau kita tak kelahi

Musuh membunuh kita dengan bayonetnya

Dan menusuk tulang kita berkata:

“Lihatlah mereka adalah budak!”

Dalam sebuah sajak yang panjang bernama Dia mati kedua kalinya, ditulis tahun 1939. Ai Ching menggambarkan seorang tani-prajurit yang baru sembuh, berpakaian masih pekaian rumah sakit, berjalan-jalan di keramaian kota, disilaukan sinar lampu-lampu listrik, deretan mobil-mobil sedan yang mewah, wanita-wanita cabang atas berpakaian indah:

Betapa miskin pakaiannya berbicara!

Tetapi sekonyong ditegakkan langkahnya

Pakaiannya adalah pakaian kemenangan

Dia yakin bisa menjelajah dunia dengan bangga

Dan hanya orang yang seperti dia jalan dengan bangga.

Orang-orang kaya yang lalu lalang bermacam-macam. Mereka sama sekali tidak memperhatikan orang yang baru sembuh dari lukanya. Tetapi adalah haknya sepenuhnya, kata penyair, untuk berjalan dengan bangga, dan begitulah mestinya semua rakyat.

Marilah kita di jalan

yang berlantaikan cita-cita manusia

Marilah kita di jalani jalan

yang memimpin dunia kini ke dunia esok

Jalan yang mengingatkan setiap orang

kepada harga diri manusia

Dengan dada membusung ke muka

melangkah terus melangkah

Dengan tiada pikiran, selain kesediaan

mati dalam menuju harapan cemerlang

Sajak kepahlawanan kaum buruh industri Tiongkok yang pertama. Kelahiran Batalion Gerilya Buruh Kereta Api Pina-Han, juga ditulis dalam waktu ini oleh Ke Chung-ping.

Mio Tun, pengarang novel yang terkemuka di seluruh negeri, menulis tentang waktu Perang Anti-Jepang (1937—1945):

Dalam selama 8 tahun ini para penyair kita maju ke muka dengan cepatnya, dan melakukan usaha-usaha yang tegar untuk penciptaan baru. Mereka membacakan sajak-sajak mereka dengan lantang, mereka membacakannya untuk rakyat di pojok-pojok jalan. Mereka mengambil lagu-lagu rakyat dan mengadaptasinya menulis sajak-sajak kepahlawanan yang panjang dengan beribu-ribu garis dan melekatkan pakaian kepada kepenyairan dengan pakaian yang baru seluruhnya. Di antara semua cabang kesusasteraan kepenyairan berlaku sebagai yang paling ningrat. Para penyair kita melemparkan sajak-sajaknya dengan pekikan dan tereakan ke tengah-tengah jalan di antara rakyat yang telanjang, kaki berlumpur dan sandal-sandal .... Kita harus bersorak atas percobaan yang berani ini, penciptaan baru yang tegar ini.

Kalau kepenyairan pai hua dalam waktu Gerakan Ampat Mei adalah gerakan kemerdekaan melawan kepenyairan kuno, maka kepenyairan dalam waktu perang adalah pembebasan yang baru dari kepenyairan pai hua sendiri, suatu gerakan kemerdekaan yang pada umumnya mengarah lanasung kepada rakyat.

UNTUK KEMERDEKAAN NASIONAL

Di dalam menghubungkan semua kesusasteraan kepada rakyat, maka “Pembicaraan tentang seni dan sastera di Yenan” karangan Mao Tje-tung yang termasyhur itu, diterbitkan di tahun 1942, menandai suatu kemajuan yang jauh. Pembicaraan itu menyorot perkembangan dan realisme di Tiongkok dan menjelaskan prinsip-prinsipnya di dalam istilah-istilah yang terang dan tidak meragukan. Untuk bisa mengabdi kepada rakyat dengan baik, maka seniman mesti menerima pendiran klas buruh, artinya dia mesti belajar mengerti dan mencintai rakyat dengan jalan memasuki secara bulat ke dalam kehidupan rakyat dan mengambil bagian dalam segala perjuangannya.

Dalam masa sesudah perang setelah tahun 1945, setelah Kuomintang melancarkan perang-saudara dan beralih ke terror fasis terhadap rakyat, maka para penyair di daerah yang dikuasai Chiang Kai-shek beralih ke satire politik yang tajam. Dengan senjata ini mereka menelanjangi politik anti-rakyat Chiang Kai-shek, percobaan-percobaannya untuk berdemagogi dan sikap membudaknya kepada Amerika Serikat, yang mengintensifkan intervensinya di Tongkok.

Di bawah ini adalah Kucing-Kucing, karangan Yuan Shui-po dengan nama samarannya Ma Fan-po, yang begitu terkenalnya sehingga menjadi nama untuk satire dalam gaya nyanyian rakyat:

Dalam zaman jendral-perang penyembur api dan pisau

Kint, dengan janji-janji demokrasial: bedil dan meriam.

Menindas mahasiswa mereka kurang ajar dan haus darah

Tetapi di hadapan majikan asing mereka kucing

Ngeong, ngeong ... mohon, mohon, mohon dikasih!

Dalam pada itu para penyair yang bekerja di daerah pembebasan mengambil bagian yang langsung dalam perjuangan berjuta-juta manusia membangun dan membela kehidupan baru. Seluruh kejiwaan mereka berobah karena kegiatan mereka dan pekerjan mereka mewangi bumi.

Tien Chien dalam sajak kepahlawanannya Kusir gerobak, diterbitkan tahun 1946, mengungkap perasaan kaum buruh tani. Dia lukiskan kemarhan seorang tani pemaro Shih Pu-lan, dipaksa menyerahkan anak perempuannya kepada tuan tanah sebagai pengganti bayar sewa yang dia tidak bisa bayar.

Shih Pu-lan terus berjalan

Adakah dia mengendarai gerobak?

Tidak, dia mengendarai bencana besar

dan dendam yang membakar.

Adakah dia mengendarai gerobak?

Tidak, dia mengendarai kehidupan!

Adakah dia mengendarat gerobak?

Tidak, dia mengendarai bola api!

Wang Kuei dan Li Hsiang-hsiang buah tangan Li Chi, sebuah sajak laporan yang panjang tentang sejoli tani yang berkasih-cinta, ditulis dalam waktu yang bersamaan, merebut kepopuleran yang luar-biasa. Sajak ini menceritakan dalam gaya cerita rakyat. Penyair ini menulis tentang rakyat, di mana dia hidup dan berjuang:

Ketika jerami menjilat api

dan ketika menjilat nyala,

Begitu si miskin menjadi merah

ketika bendera merah datang.

NYANYIAN-NYANYIAN KEHIDUPAN BARU

Setelah Republik Raykat Tongkok dibentuk, para penyair kita menyanyikan perjuangan untuk pembebasan dan untuk perobahan tanah yang mengakhiri feodalisme. Mereka lukiskan dengan kata-kata kegembiraan kemenangan rakyat pekerja yang pada akhirnya menjadi tuan atas negerinya sendiri. Mereka benamkan dirinya dalam tugas raksasa pembangunan negerinya. Mereka menyanyikan keperwiraan yang sepi ing pamrih pasukan Sukarela Tiongkok, yang meninggalkan tanah airnya, membantu rakyat tetangga Korea, menentang kaum penyerbu imperialis dengan kekuatan dahsyat: Tidak! dari rakyat Asia, yang bertekad bulat tidak sudi dijajah lagi.

Kenyataan-Kenyataan hari ini adalah lebih merangsang daya bayang penyair daripada segala pandangan kesusasteraan yang abstrak. Dia bisa menyanyikan—dalam semangat realisme sosialis-prestasi-prestasi raksasa kerja, kemekaran dorongan yang kreatif manusia untuk kemerdekaan. Demikianlah Ho Chi-fang menyambut rakyat Wuhan, yang dengan bantuan seluruh bangsa, memerangi bencana banjir tahun 1954 dan menyelamatkan kota dari malapetaka:

Kudengar geram gemuruh gelombang

Ketika mereka hantamkan kepalanya dengan rambut air mengalir

Lagi dan lagi terhadap tanggal yang kokoh

Mengaum seperti binatang buas yang putus asa ....

Banjir meninggi, mengatasi atap-atap sisi tanggul

Dan di sana sepanjang jalan mawar kembang tak gentar

Dan rencana produksi dipenuhi pada waktunya

Di bawah asap biru-putih corong-corong pabrik.

Lebih tinggi lagi air lapar merangkok

Tetapi di gedung pertunjukan “Penggembala Sapi-Sapinya”) mempesona pencinta drama

Dan di rumah sakit bayi-bayi selamat melihat dunia

Dengan pekikan gembira memandang caya.

Adakah suatu keajaiban tak bisa kita bikin?

Adakah musuh-musuh tak bisa kita kalahkan?

Melihat 120 nama sajak dalam kumpulan pilihan (seleksi) beberapa penyair terkemuka di tahun 1953—1955 yang diterbitkan bulan Februari oleh Persatuan Pengarang Tiongkok, orang bisa mempunyai pandangan betapa kayanya inspirasi bisa ditemui para pengarang dalam kehidupan baru yang sedang berkembang mekar. Dibanding dengan mereka yang menulis lebih dulu, kita sekarang mempunyai penyair-penyair dari berbagai macam, dari tingkatan buruh, tani dan prajurit. Beberapa antaranya adalah anggota suku bangsa-suku bangsa minoritet, yang kebudayaannya dulu dihina dan dianggap sepi. Sekarang ini menerima penghargaan dan cinta yang semakin meningkat.

HENK NGANTUNG

AKU KENAL SIMBAH

Hampir 20 bulan yang lalu aku kenal dia. Waktu itu di dalam suatu rapat pembentukan PAP P.K.I. di kampung kami. Orangnya sedang. Dahinya lebar dengan rambut putih keriting, bagian pusat kepala jarang hampir botak. Tubuhnya nampak kukuh. Kutaksir paling sedikit 45 tahun. Dia bertindak sebagai pengantar setelah pimpinan rapat yaitu Bung Pardjo menyilakan.

Hampir lupa aku. Sebelum itu pimpinan rapat menerangkan bahwa yang hadir 18 orang dari 20 orang yg diundang. Yang seorang lagi tak enak badan, seorang lainnya tidak ada keterangan. Olehnya, yaitu pengantin tadi, dijelaskan panjang lebar tentang betapa perlu dan pentingnya PAP segera dibentuk.

“Dalam pemilihan umum nanti rakyat harus menang. Untuk ini menjadi kewajiban orang-orang maju ikut aktif memenangkan Rakyat. Jalannya ialah dengan berorganisasi.” Setelah berhenti sejenak sambil mengerutkan dahinya dia menyambung lagi, “P.K.I. merasa berkewajiban tampil ke depan untuk mengorganisasi mereka demi kemenangan rakyat. P.K.I. dan golongan demokratis lainnya harus kita menangkan sebagai pembela-pembela Rakyat.”

Bicaranya tidak lancar. Pelan-Pelan dengan tekanan-tekanan suara di mana perlu penuh gairah dan semangat. Lagunya dialek Yogya. Bahkan tidak jarang diselingi bahasa Jawa. Kelihatan sabar dan hati-hati.

“Siapa nama bapak tua tadi itu?” Tanyaku kepada kawan di samping waktu sidang disekors. Maklumlah aku termasuk orang baru di kampung.

“Mbah Singo!” jawabnya.

Ah, ini cucunya, pikirku. Aku belum puas. Ada seorang pengikut sidang lebih tua dari dia. Suka humor, nampak selalu sibuk, suka tertawa keras-keras. Kutanyakan padanya. Dijawabnya pula sama. Kutanya lagi: Apakah itu tidak gurau?

Ia menjawab dengan kesungguhan, dan kemudian me-manggil-manggil: “mbah Singo! mbah singo!” Orang tersebut memberi isyarat sambil menunjuk ke arahku. “Lo, kan betul to nak! Itu dia menyahut!” katanya lagi padaku.

Aku jadinya tambah malu oleh kelakuan kakek periang itu. Sebab semua anggota sidang mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berkesimpulan, mungkin namanya itu nama penghormatan massa. Karena semua orang tua muda memanggil simbah. Sedang nama Singo mungkin nama tua. Atau mungkin juga nama samaran waktu dulu-dulu. Atau mungkin sekali nama penghormatan massa itu yang benar. Indahlah kalau benar demikian.

Ah, tapi biarlah tentang nama ini kusudahi sekian saja

Rapat selesai tengah malam dengan mengambil keputusan penting dan keputusan praktis yang segera bisa dilaksanakan. Antara lain mengadakan ceramah-ceramah untuk menjelaskan program P.K.I., istimewa untuk menjelaskan politik persatuan P.K.I., yaitu Front Persatuan Nasional. Dalam usaha keuangan antara lain putuskan untuk mengumpulkan koran-koran tak terpakai dari setiap rakyat yang bersimpati pada P.K.I. untuk dijual, selain usaha keuangan lainnya yang sah.

Sejak peristiwa pembentukan PAP itulah aku menjadi sering bertemu muka dengan si mbah dalam melaksanakan keputusan-keputusannya. Dalam melakukan tugas PAP tersebut aku memperoleh petunjuk-petunjuk berharga dari si mbah. Dia berpesan padaku, “sebaiknya dalam melakukan pekerjaan dikerjakan bersama-sama atau secara kolektif, terutama dalam memecahkan masaalah-masaalah yang sukar.” Pesan ini kuingat-ingat benar.

Ayahku sering bilang padaku, bahwa orang komunis itu penjahat-penjahat, bajingan-bajingan, pendek kata yang seram-seram diceriterakan. Tapi mengherankan, si mbah tidak! Dia sopan, peramah, dan yang lebih menarik lagi ialah tentang kesederhanaannya, tapi tertib.

Selang beberapa lama kemudian ada sesuatu hal yang aneh mengenai diri si mbah. Tapi aku belum sempat menguji kebenarannya mengapa sampai bertindak begitu. Yang terang bagiku menjengkelkan.

Begini! Pada suatu sore—seperti biasanya—Malioboro ramai. Aku bersepeda bersama kawanku sesekolah. Berjumpa dia. Kutanya, diam! Juga tak mengangguk. Mungkin tidak dengan.

Lagi! Ketika aku di kantor inspeksi pengajaran dekat si mbah kerja, aku berjumpa dengannya. Kuberi anggukan beserta lambaian tangan, dia tambah melengos! Pura-pura tak tahu. Mungkin lupa, sesalku dalam hati.

Kejadian begini tidak sekali dua. Terutama apabila kebetulan lagi banyak orang, atau bila kebetulan aku dengan beberapa kawan pelajar. Baiklah! Nanti kubalas! Ancamku dalam hati.

Siang hari. Panas menjilat bukan main. Haus tak tertahankan rasanya. Aku pulang dari sekolah. Disambut adikku Semi dengan sesampul surat di tangan kanannya.

“Ini surat untukmu, kak!”

“Dari siapa?”

“Entah, kak! Bacalah sendiri!” Jawab adikku pelan-pelan dengan sikap yang menunjukkan cintanya kepadaku.

Surat itu tak beralamat. Hanya tanda tangan, dan ini sudah cukup bagiku. Dari si mbah!

“Kalau tak berhalangan, kami mengharap kedatangan anakanda di rumah nanti sore. Terima kasih!” Begitulah bunyinya, tak lebih tak kurang.

Jam lima lewat sedikit kumasuki rumah si mbah. Rumahnya di pusat kampung menghadap ke Selatan. Dinding muka sebelum kiri pintunya dibuka buat perperancangan emak Singo. Ada untung sedikit-sedikit untuk menambah belanja hidup, sebab melulu gaji si mbah tidak mungkin memenuhi beaya hidup sehari-hari sekeluarga. Ruangan tamu tersedia sebuah meja panjang dengan dua buah bangku. Di atas meja inilah tak pernah kosong surat kabar H.R. Di sudut lain terdapat gulungan bekas poster-poster, spanduk-spanduk dan tiga datang tiang bendera. Selebaran tempelan kecil-kecil bertumpukan, di antaranya bisa kubaca:

“Perkuat Front Persatuan Nasional!

“Hidup perdamaian!

Tanah untuk yang mengerjakan!” Ditulis dengan warna merah yang tajam sekali di atas kertas merang kekuning-kuningan.

Seperti biasanya si mbah menanyakan tentang kesehatanku, sekolahku, ibu-bapak, adik-adikku, dan jga sudah tentu tentang pekerjaanku sebagai anggota PAP.

“Mengapa lama tidak datang kemari, nak?”

“Ya, mbah!” Jawaban satu-satunya yang pasti benar. Alasan apa mesti kuberikan selain ya?

“Anu nak! Saya—kalau tak salah—mengerti!”

“Tentang apa, mbah?”

“Harap anak bersabar. Memang begitu orang yang belum tahu benar sikap saya dalam pergaulan. Hendaknya anak jangan menyesal terhadap sikapku yang seolah-olah kurang memperhatikan anak, demi kepentingan anak sendiri dalam pergaulan ramai.”

“Saya malah tidak bisa mengerti, mbah! Itu bertentangan dengan perasaan kami.”

“Anak tahu bukan, bahwa saya komunis? Dan begitu pula kebanyakan orang sudah tahu.” Dia menyambung rokoknya lagi, kemudian “silahkan minum tehnya nak. Si Partisan yang bikin ini. Ibunya sedang mengunjungi cucunya.”

(Partisan adalah anak bungsu si mbah, lahir ketika revolusi Agustus sedang berkobar-kobarnya).

“Terima kasih! Anu mbah, yang tadi itu. Apa peduli orang tahu si mbah komunis, maka si mbah acuh tak acuh kepada kami?”

“Benar! Tapi bagi anak di depan saya merupakan persoalan. Sebab orang mudah berprasangka terhadap komunis. Juga terhadap seseorang yang sering bergaul atau berhubungan dengan komunis tak luput dari perbuatan prasangka yang menjijikkan itu. Seperti anak sendiri misalnya. Itulah sebabnya mengapa di tempat umum saya pura-pura tak kenal anak agar jangan menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.”

“Ya, mbah! Atas keterangan simbah kami sangat berterima kasih.” Selintas kilas pikiranku teringat pada ayahku sendiri yang amat berprasangka terhadap orang-orang komunis, atau yang disangka orang komunis. Untunglah ayahku tidak tahu kalau aku bersahabat dengan komunis. Andaikan ayahku tahu pasti mengambil tindakan terhadapku.

“Sekarang beralih ke soal lain, nak!?”

“Soal apa mbah?”

“Ada kabar gembira!” Dengan muka berseri-seri simbah melanjutkan, “kawan CC mau datang ke Yogya untuk berbicara di dalam suatu rapat umum.”

“Kapan mbah? Lebih cepat baik. Kami ingin sekali melihat dan mendengar dari dekat.”

“Permulaan bulan depan. Tapi anak harus ingat bahwa yang menyelenggarakan rapat umum di alun-alun utara nanti bukan kawan CC, melainkan Rakyat sendiri. Termasuk kampungnya anak sendiri. Begitu bukan?”

“Tak jadi apalah! Kami akan berusaha mengerahkan orang-orang kampung kami untuk menyambutnya secara meriah.”

“Ya! Kita harus segera mengadakan rapat PAP untuk membicarakan hal ini. Saya mempunyai saran sebaiknya besok minggu. Anak prei sekolah!”

“Kami setuju, mbah!”

Dengan tak terasa hari sudah malam, jam 7 lewat. Segera aku berpamitan.

“Mbah, sudah malam kami mohon diri. Nanti adik selalu menunggu-nunggu kami. Dan lagi kami telah mendengar banyak uraian si mbah yang berharga bagi kami. Selamat malam, mbah!”

“Terima kasih, nak! Terima kasih atas kedatangan anak. Anak muda seperti anak begini cekatan-cekatan! Selamat malam!”

Hatiku lega sesudah mendengar uraian si mbah. Ada kabar gembira lagi. Kawan CC akan datang di Yogya. Di kampung terdengar kanak-kanak pada sibuk belajar, mengaji, ada pula yang menangis keras-keras dan ibu sibuk menenteramkannya, ada lagi menangis minta makan. Hampir dekat jalan raya terdengar kanak-kanak menyanyi:

Sorak-sorak bergembira, bergembira semua.

Pasti bebas negeri kita, Indonesia ....

Itulah kenanganku menjelang pemilihan umum tahun yang lalu. Indah juga!

Yogya, 13 Mei 1956.




HARIAN RAKJAT

Pintu besar 93 Djakarta

bukan hanya harian yang terbesar dan tersebar tetapi pertama-tama harian Saudara yang sejak terbitnya sampai kini setiap mingguya memuat Ruang Kebudayaan.


SEGERALAH MEMBELI!!

PERSEDIAAN SUDAH SANGAT TERBATAS

1. Laporan CC PKSU Kepada Kongres ke-XX Partai Rp. 7.50
2. Bintang Merah nomer 2-3/1956 .. 4.—
3. Anarkisme atau Sosialisme .. 5.—
4. Cara Memimpin .. 1.50
5. Tentang Perjuangan Intern Partai .. 4.50
6. Laporan Kepada Kongres Partai ke-XIX Tentang Pekerjaan CC PKSU .. 5.—
7. Membangunkan Hari Kedua .. 7.50
8. Ibunda .. 17.50
9. Komunisme “Sayap-Kiri” Suatu Penyakit Kanak-Kanak .. 6.—
10. Sejarah Partai Komunis Sovyet Uni (B) I-II .. 22.50
11. Sedjarah Pergerakan Nasional Indonesia .. 5.—
12. Tentang Ajaran-Ajarannya Karl Marx .. 1.—
13. Tentang Tugas Wakil Rakyat Dan Kaum Pemilihnya .. 1.—
14. Tentang Musuh-Musuh Negara, Partai Dan Rakyat .. 1.—
15. Tentang Hakekat Demokrasi Rakyat .. 1.—
16. Materialisme Dialektika Dan Histori .. 3.—
17. Apakah Tentara Pembebasan Itu? .. 5.—

Pesanan melebihi jumlah harga Rp. 15.—harus disertai ongkos kirim 10% dan Rp. 15.—ke bawah Rp. 1.50 Pesanlah beramai-ramai langsung ke:

Yayasan “PEMBARUAN”

kotak pos 2522 Jakarta


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi kontak yang tercantum di kolofon untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.