Baca EPUB: Zaman Baru: No. 3 · Juni 1956

19 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. ZAMAN BARU
  2. No. 3 · Juni 1956
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. PATUNG KAYU
  6. SEDIKIT PENGANTAR
  7. MUKADIMAH
  8. SORGA DI BUMI
  9. MUSIK MOZART TAK TERLEPAS DARI ZAMANNYA*)
  10. D. P. R. BARU
  11. RUMAH LIAR
  12. CATATAN PADA DUA PAMERAN
  13. ANYELIR MERAH
  14. UKURAN BAGI KRITIKSASTRA INDONESIA DEWASA INI*)
  15. SAIDJAH DAN ADINDA
  16. TANDA TANGAN PERDAMAIAN
  17. PARTAI DAN PENYAIR
  18. KAMI ADA DI 20 MEI
  19. PROF. DR. A. TEEUW TENTANG LEKRA
  20. CC BY-SA 4.0

ZAMAN BARU

No. 3 · Juni 1956


KOLOFON

Berdasarkan arsip dari: Makaru Makara

ZAMAN BARU

No. 3 · Juni 1956

Redaksi:

RIVAI APIN - A.S. DHARTA

Alamat Redaksi:

Jl. Dr. Wahidin 10, Jakarta

Administrasi:

Pintu Besar 93, Jakarta

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



PATUNG KAYU

Patung Kayu

AMBRUS
Patung Kayu

AMBRUS

SEDIKIT PENGANTAR

“ZAMAN BARU” yang lalu terbit setahun lebih yang liwat. Kami mengakui bahwa kami telah berlaku tidak sopan pada pembaca-pembaca “Zaman Baru”, dan juga bahwa kami telah lalai dalam menghargai diri sendiri dengan segala yang telah dapat dicapai dan dimiliki seperti: harga diri, keyakinan dan pengertian.

Tentu saju dapat dikemukakan berbagai-bagai macam kesukaran, tetapi alasan-alasan ini sebenarnya adalah hanya pencerminan berbagai kesulitan umum yang dihadap oleh bangsa kita dewasa ini. Dan adalah tidak pantas, kalau kesalahan ini kami lemparkan pula kepadanya, dan akan sama saja artinya mengakui ketidak mampuan kita. Persoalannya ialah, bagaimana dalam keadaan yang nampaknya tandus untuk usaha ke-cita-citaan, kita mampu—bukan hanya jatuh-bangun didera berbagai macam ujian, tetapi juga menegakkan kelanjutan suatu keyakinan dan pengertian.

Dengan kesadaran inilah kami teruskan kembali penerbitan “Zaman Baru”, juga dengan penghargaan pada pembaca yang selama ini setia menghidupkan majalah ini.

SEMENTARA itu, juga dengan kesadaran ini, yaitu menegakkan kelanjutan dari keyakinan dan pengertian kita, kami adakan pembaruan dalam orientasi haluan majalah “Zaman Baru”.

Bila dahulu persahabatan antara bangsa-bangsa di dunia untuk membela dan mempertahankan perdamaian yang menjadi haluan, sekarang ia masih tetap jadi dasar daripada haluan. Tetapi di samping itu kita sekarang sangat memerlukan pemusatan kegiatan yang sunguh-sunguh, yang berarti keintensifan dan perkembangan, yang akan mengusahakan pembebasan diri kita dari suatu proses kedangkalan, suatu gejala umum yang sekarang makin nyata menampakkan diri pada hampir semua kegiatan-kegiatan.

Maka itu kami pertimbangkan untuk merobah daerah orientasi “Zaman Baru”, yang sekarang kami khususkan pada kebudayaan, terangnya lagi terutama pada kesenian dan kesusasteraan.

Ini teruama disebabkan karena dalam waktu belakangan ini kita dikagetkan oleh makin kerdilnya atau sama sekali matinya majalah-majalah kebudayaan kita yang tidak seberapa itu, sedang sementara itu penerbitan-penerbitan dan bacaan yang berselara murah seperti komik dan majalah-majalah yang menamakan dirinya “majalah hiburan ringan” atau “majalah hiburan orang dewasa”, makin menjadi-jadi suburnya. Ini kami katakan dengan tidak hendak menyama-rratakan semua majalah ringan; ada juga di antaranya yang baik. Tetapi yang ingin kami sinyalir di sini ialah mayoritetnya, adalah nilai negatifnya yang membuat manusia jadi orang buruan, dari sama sekali mengenyampingkan usaha pembangunan manusia.

Dalam hubungan inilah: membangun manusia ke arah keyakiman dan pengertian kita dan persoalan, satu-satunya tarikan napas, majalah-majalah kebudayaan kita sekarang ini, kami merasa perlu menjuruskan “Zaman Baru”, ke daerah barunya yang lebih khusus ini, yaitu daerah kebudayaan, terutama kesenian dan kesusasteraan.

Akhirnya di samping ini semua seperti pada segala usaha-usaha yang baik usaha itu tidak bisa dikerjakan oleh seorang-seorang, tetapi ia adalah hasil kerja bersama. Begitu juga, “Zaman Baru” kita. Lanjutnya, “Zaman Baru” tidak hanya tergantung pada satu dua orang yang duduk dalam redaksi ditambah dua tiga orang pembantu-pembantu dan kawan-kawan yang mengerajakan administrasi serta distribusi, tetapi pada pokoknya ia lebih banyak merupakan cermin dari kesanggupan kehidupan kita secara kolektif dalam menegakkan kelanjutan dari keyakinan dan pengertian kita.

Inilah sebabnya, maka dengan ini pun kami meminta pada semua kita agar membantu “Zaman Baru” dengan pikiran-pikiran, sumbangan-sumbangan karangan dan juga dengan meluaskan penyebarannya serta kesetiaan membayar uang langganan.

Dan dengan ini kita lanjutkan penerbitan “Zaman Baru”.

Redaksi.


MUKADIMAH

LEMBAGA KEBUDAYAAN RAKYAT

MENYEDARI, bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan, dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia-baru hanya dapat dilakukan oleh rakyat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikanlah Lembaga Kebudayaan Rakyat, disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi di tengah-tengah proses perkembangan kebudayaan yang sebagai hasil keseluruhan daya-upaya manusia secara sedar untuk memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa maju dengan tiada putus-putusnya.

Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa bersejarah ini, seperti halnya di dalam seluruh sejarah bangsa kita, tiada lain adalah rakyat. Rakyat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam masyarakat yang menentang penjajahan. Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri rakyat Indonesia dari penjajahan dan peperangan, penjajahan serta penindasan feodal. Hanya jika panggilan sejarah Revolusi Agustus terlaksana, jika tercipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, kebudayaan rakyat bisa berkembang bebas. Keyakinan tentang kebenaran ini menyebabkan Lekra bekerja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanah air dan untuk perdamaian di antara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berjuta-juta rakyat.

Lekra bekerja khusus di lapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama di lapangan kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan seniman-seniman, sarjana-sarjana serta pekerja-pekerja kebudayaan lainnya. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat. Lekra mengajak pekerja-pekerja kebudayaan untuk dengan sedar mengabdikan dayacipta, bakat serta keahlian mereka guna kemajuan Indonesia, kmerdekaan Indonesia, pembaruan Indonesia.

Zaman kita dilahirkan oleh sejarah yang besar, dan sejarah bangsa kita telah melahirkan putera-putera yang baik, di lapangan kesusasteraan, senibentuk, musik, maupun di lapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kita wajib bangga bahwa kita terdiri dari suku-suku yang masing-masingnya mempunyai kebudayaan yang bernilai. Keragaman bangsa kita ini menyediakan kemungkinan yang tiada terbatas untuk penciptaan yang sekaya-kayanya serta seindah-indahnya.

Lekra tidak hanya menyambut setiap sesuatu yang baru; Lekra memberikan bantuan yang aktif untuk memenangkan setiap yang baru dan maju. Lekra membantu aktif perombakan sisa-sisa “kebudayaan” penjajahan yang mewariskan kebodohan, rasa-rendah serta watak lemah pada bangsa kita. Lekra menerima dengan kritis peninggalan-peninggalan nenek-moyong kita, mempelajari dengan seksama segala segi peninggalan-peninggalan itu, seperti halnya mempelajari dengan seksama pula hasil-hasil ciptaan klasik maupun baru dari bangsa lain yang mana pun, dan dengan ini berusaha meneruskan secara kreatif tradisi yang agung dari sejarah dan bangsa kita, menuju kepenciptaan kebudayaan yang nasional dan ilmiyah. Lekra menganjurkan kepada anggota-anggotanya, tetapi juga kepada seniman-seniman, sarjana-sarjana dan pekerja-pekerja kebudayaan lainnya di luar Lekra, untuk secara dalam mempelajari kenyataan, mempelajari kebenaran yang hakiki dari kehidupan, dan untuk bersikap setia kepada kenyataan dan kebenaran.

Lekra menganjurkan untuk mempelajari dan memahami pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam misyarakat maupun di dalam hati manusia, mempelajari dan memahami gerak perkembangannya serta hari depannya. Lekra menganjurkan pemahaman yang tepat atas kenyataan-kenyataan di dalam perkembangannya yang maju, dan menganjurkan hal itu, baik untuk cara-kerja di lapangan ilmu, maupun untuk penciptaan di lapangan kesenian. Di lapangan kesenian Lekra mendorong inisiatif, mendorong keberanian kreatif, dan Lekra menyetujui setap bentuk, gaya, dan sebagainya, selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya.

Singkatnya, dengan menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial dari kebudayaan bukan-rakyat, dengan menolak perkosaan terhadap kebenaran dan terhadap nilai-nilai keindahan, Lekra bekerja untuk membantu pembentukan manusia baru yang memiliki segala kemampuan untuk memajukan dirinya dalam perkembangan kepribadian yang bersegi banyak dan harmonis.

Di dalam kegiatan Lekra menggunakan cara saling-bantu, saling-kritik dan diskusi-diskusi persaudaraan di dalam masalah-masalah penciptaan. Lekra berpendapat, bahwa secara tegar berifihak pada rakyat dan mengabdi kepada rakyat, adalah satu-satunya jalan bagi seniman-seniman, sarjana-sarjana maupun pekerja-pekerja kebudayaan lainnya untuk mencapai hasil yang tahan uji dan tahan waktu. Lekra mengulurkan tangan kepada organisasi-organisasi kebudayaan yang lain dari aliran atau keyakinan apa pun, untuk bekerjasama dalam pengabdian ini.


SORGA DI BUMI

KEHIDUPAN kanak-kanak setiap orang amat nikmatnya. Seakan mau dilayarkan kembali perahu, menjadi kanak tiada berdosa. Tiada tahu artinya susah, ya pernah susah, tetap ketawa lekas mengintai dari balik awan.

Kelau nenek habis bersembahyang maghrib, dan sudah selesai menghitung tasbih, kami berkumpul di tikar sembahyangnya. Mesti kaki kami harus sudah bersih dicuci. Mendongeng mbah, minta kami tiap malam. Dongeng yang lama diulang berkali-kali pun, tetap indah di telinga kami. Nenek mendongengkan tentang Tuhan, bidadari, malaekat, setan, neraka dan surga.

Orang penuh dosa, akan masuk neraka nanti di akhirat. Akhirat itu di mana, mbah? Tanya kami selalu. Gambaran kami senantiasa, akhirat berada di langit. Mungkin di rembulan, mungkin di bintang yang besar bercahaya itu. Anak yang nakal dan banyak dosa, masuk neraka tentu. Neraka itu panas sekali, melebihi panasnya laut pasir di tanah Arab. Kakek kerap mendongengkan perjalanan hajinya, meliwati padang pasir yang amat panasnya. Tetapi, kata nenek neraka masih seribu kali panasnya. Dan kau tidak akan mati dibakar dalam neraka, diazab terus, hingga lunas dosamu. Malaekat sekali-kali datang, memukul kamu dengan gada (pemukul) besi yang menyala. Tanganmu dirantai dengan rantai besi yang menyala. Di neraka banyak binatang-binatang berbisa, kelabang, kalajengking, ular dan semua menyala. Jeritmu tiada terdengar oleh Ibu Bapamu, kau diazab sampai lunas. Hi, berdiri bulu tengkuk kami, hati menjadi kecut. Malam-malam mata tiada terpicing. Takut dan menyesal mengapa dahulu terlahir di dunia untuk berbuat dosa, dan nanti diazab di neraka.

Anak-anak dan orang yang salah tiada berdosa, nanti naik di sorga. Sorga itu serba indah, tiada siang malam, tiada gelap dan terang. Gelap tiada gelap, terang tida terang. Tiada kenyang dan tiada lapar. Semua sejuk dan segar. Bidadari melayani tiap waktu. Buah-buahan yang ada di dunia ada semua, dan lezatnya menjadi lipat seribu kali. Menetes liur kami, terpandang-pandang saja manggis buah yang manis, tetapi yang kata mbah, bisa bikin mati kalau dimakan dengan gula. Di sorga, boleh makan seenaknya. Di sorga ada wayang, mbah? Tanya adikku laki-laki yang gemar nonton wayang kulit. Embah tersenyum, tidak, wayang itu tidak bagus, tidak boleh naik sorga.

Malam-malam kami mimpi dan kecut hati. Kenapa dulu tidak mati ketika bayi. Kata nenek, bayi tidak berdosa, kalau mati naik sorga. Senang kalau mati dahulu, tentu naik sorga.

Setiap pagi kami saling jadi polisi. Jangan ada yang berbuat dosa, nanti masuk neraka. Ah, betapa kasihan, adikku si gendut yang suka wayang itu, kalau masih saja senakal itu, tentu diazab. Dan kami tidak dapat menolong.

Tiap bulan Puasa kami berlomba puasa. Si gendut yang nakal itu dan tidak tahan lapar, berkali-kali putus di tengah hari. Sering terang-terangan, tetapi tak jarang-jarang mencuri-curi. Pergi ke tempat kawan, memanjat belimbing, dan cepat-cepat sembunyi dimakannya sebuah. Akan kumarahi kasihan juga. Perutnya besar sperti karung tentu saja tak tahan lapar.

Tetapi kata nenek, tidak apa. Gendut belum wajib berpuasa, ia belum dewasa. Kalau sudah dewasa harus ia puasa.

Bujang kami tidak puasa. Ia sudah dewasa, tentu, sebab sudah janda. Saya tanya, mbok mengapa tidak puasa. Den, katanya, kalau mbok puasa tidak kuat mencuci dan menyapu kebon. Kalau sore lemas tidak bisa setrika. Tetapi mbok, kataku penuh iba. Nanti masuk neraka. Mbok hanya tersenyum. Habis Den, kalau dipaksa puasa juga pekerjaan tidak selesai dan ibunya marah-marah. Kalau ibunya marah-marah puasanya tidak syah. Biar saya saja tidak puasa. Kasihan, pikirku. Kenapa banyak betul cucian mbok ini, habis adikku ada enam orang, dan sapihan Ibu suka ngompol saja.

Tetanggaku sebelum juga tidak puasa. Heran juga, dia kan bukan bujang, tentu tak takut dimarahi. Aku tanya, Wak kenapa tidak puasa, nanti tidak naik sorga. Wah, manis, jawabnya. Kalau Wak puasa tidak kuat mengangkat alu, tidak bisa menumbuk padi. Tidak kuat menggendong bakul ke pasar. Manis saja yang puasa, Uwak titip. Kawan-kawanku sepermainan pun tidak ada yang berpuasa. Dan kalau kutanya mengapa, dijawab: Kau puasa sekali setahun, tetapi saya saban hari puasa. Tap hari hanya makan sekali saja.

Sampai di rumah sedih hatiku. Malam-malam aku memohon kepada Tuhan, agar mbok tidak banyak cuciannya supaya bisa ikut puasa, uwak banyak berasnya, tidak usaha menumbuk tiap hari sesudah ikut panenan, si Tamrin dan Minah bisa makan kenyang tiap harinya. Biar semuanya ikut puasa, dan bersama-sama mendapat pahala sorga.

Sore hari Djimin, anak bujang kami diikat d tiang. Ia mencuri uang Ibu, hanya satu sen. Tetapi biar jera, kata bapak. Djimin menangis minta ampun, tetapi mesti harus menjalani hukuman. Iba hati saya, Djimin saya dekati. Katku: “Min, jangan suka mencuri ya, nanti kau masuk neraka. Mencuri itu perbuatan dosa. Untuk apa to, hanya uang satu sen saja, kan? Daripada nanti dibakar di akhirat?” Disambung suara dalam hatiku: “Sekarang sudah sakit, badan diikat, nanti memetik dosa pula.”

“Habis den, saya ingin sekali membeli layang-layang,” jawabnya sambil menangis.

“Mintalah kepada Emakmu dong, jangan mencuri.”

“Mak tidak punya uang lagi. Sudah habis, kemarin membayar utang kepada Tionghoa mindring, pembeli kainnya Lebaran dahulu.”

Malam-malam, saya berdoa lagi, agar anak-anak semua dapat membeli layang-layang dengan tidak usah mencuri. Bisa minta kepada Ibunya sendiri. O—ya, dan Ibunya selalu mempunyai uang, jangan habis dimakan hutang. O—ya, dan jangan ada tukang mindring (lintah darat), sebab lintah darat itu perbuatan dosa. Ya, ya pendeknya, orang tidak usah mempunyai hutang, tidak usah, ingin membeli dapat membeli, jadi anaknya tidak berdosa (terpaksa mencuri karena inginkan layang-layang), melahirkan lintah darat banyak (habis orangnya tak punya uang).

Bukankah Ibuku tidak mengutang kepada lintah darat? Begitu pikirku, dan kami tidak perlu mencuri. Tetapi ... ya, aku ingin, pernah pada satu malam aku terbangun mendengar Ibuku menangis terisak-isak, dan bapa menggeram keras-keras. Aku terbangun, mataku nyalang terbelalak. Bapak marah-marah kepada Ibu, dan Ibu hanya menangis, sekali-kali menjawab dengan marah. Ya, dengan kata-kata yang jelek, yang aku tidak boleh mengucapkan, karena itu tidak sopan. Bapa rupanya tidak sabar lagi, terdengar suara: blug, dan Ibu agak keras menangis, Ibuku dipukul. Mau saya menjerit, tetapi takut kepada Bapak. Ibuku berkata: “Digadaikan, digadaikan, kapan bisa diambil. Kalau tidak cepat tentu hilang tak boleh ditebus lagi. Orang laki-laki tidak dapat cari uang. Kalau subangku hilang di pegadaian, kau tentu tidak bisa membelikan lagi. Bapak menjawab: “Itu kan salahmu sendiri. Saya sudah berkata, uang kas tidak boleh dipakai, kalau saya mesti menyetorkan atau ada inspeksi sewaktu-waktu, barangmu mesti masuk rumah-gadai!”

“Gajimu tidak cukup, tidak cukup,” tukas Ibuku.

Aduh, tidak terasa air mataku meleleh. Bapak Ibu membuat dosa. Nenek berkata, orang harus rukun, tidak boleh berselisih, tidak boleh mendendam, tidak boleh berkelahi, tidak boleh mencuri, ya pokoknya serba salah.

O, Tuhan Maha Pengasih, berilah kepada Bapak Ibuku gaji yang cukup; agar tidak harus selalu mencuri uang kas, tidak harus bertengkar malam-malam kalau kami sedang tidur. Dan kepada Bapak Ibu semua kawanku, juga Ibunya Djimin berilah uang cukup supaya tidak kekurangan, dan dapat hidup rukun. Berilah uang banyak-banyak kepada ibu Djimin supaya Djimin dapat sekolah seperti saya, nanti jadi orang pandai, dan tidak jadi pencuri.

Ketika mataku hampir terlena, saya ingat benar pada waktu itu, saya berdoa, agar Tuhan memberkahi sorga di bumi, supaya kami tidak perlu berbuat dosa, dan nanti kami dapat semua naik sorga, di akhirat.

Ketika saya sudah besar dan dapat berfikir, saya mengerti bahwa doaku itu dan doa semua Bapak dan semua Ibu, bukan doa yang salah. Tuhan berkahilah sorga di bumi, agar kami tidak berbuat dosa.

Sekarang, saya tidak hanya berdoa saja, tetapi saya dan semua anak kecil yang dulu berdoa di sudut-sudut gelap di tempat tidurnya karena takut azab neraka, berbuat. Berbuat, berjuang, untuk terciptanya sorga di bumi.

Dipetik dari ruang kebudayaan “Harian Rakjat”.


MUSIK MOZART TAK TERLEPAS DARI ZAMANNYA*)

Wolfgang Amadeus Mozart

Seluruh dunia dewasa ini berada dalam suatu suasana kesibukan sebagaimana jarang-jarang terdapat dalam kehidupan seni musik. Kesibukan ini adalah berkenaan dengan peringatan hari dan tahun kelahiran salah seorang pencipta yang terbesar, yakni Wolfgang Amadeus Mozart. Pusat dan sentrum dari segala usaha peringatan itu adalah Salzburg di negra Austria, yakni kota tempat kelahiran Mozart. Dari sanalah usaha peringatan itu mulai menggelombang ke seluruh penjuru di dunia ini, demikian derasnya hingga juga sampai ke Indonesia kita ini nyata dalam kegiatan-kegiatan tertentu di berbagai kalangan.

Saudara-saudara sekalian, bukanlah maksud saya di sini menguraikan rawayat hidup dari Mozart mulai dari kecilnya sebagai anak yang mempunyai bakat musik yang luar bisa sampai mendapat pujaan-pujaan dan bintang anugerah di seluruh benua Eropa, sampai ia meninggal dunia baru saja berusia 36 tahun, sebagai komponis yang hampir-hampir dilupakan orang sama sekali. Ini tentunya sudah pernah saudara-saudara baca dalam salah satu buku atau majalah. Adapun saya menyimpang dari sebagaimana tercantum dalam acara saudara-saudara yang terhormat, tak lain melainkan dengan maksud hendak mempersoalkan hal-hal yang menurut pandangan saya lebih penting dan lebih aktuil dalam keadaan kita sekarang ini. Dalam pada itu terlebih dulu saya hendak minta maaf kepada saudara-saudara dari panitia dan kepada para hadirin.

Yang hendak saya usulkan hendak kita persoakan di sini sekarang ialah, mengapa usaha peringatan ini demikian hebatnya sampai meliputi seluruh dunia dan sampai di manakah rupanya arti musik ciptaan Mozart itu untuk (hidup) manusia? Keduan pertanyaan ini bertalian erat-erat satu sama lain. Mempersoalkan yang satu berarti juga menggugat yang lain. Oleh karena itu baiklah kita meneliti hal-hal di sekitar persoalan: di manakah letaknya arti musik ciptaan Mozart untuk (hidup) manusia? Saudara-Saudara yang terhormat, musik ciptaan Mozart tak mungkin dapat kita pandang terlepas dari keadaan zaman dan “spiriutil background” dari hidupnya sendiri waktu itu. Persoalan sekitar latar belakang ini meminta kita kembali ke-abad XVII bagian kedua. Dalam sejarah kebudayaan musik di Jerman periode ini lazim mendapat penamaan periode Klasik. Periode ini dalam kebudayaan Barat menunjukkan gejala-gejala yang nyata hendak bercermin pada hasil-hasil sebagaimana menurut kebudayaan Yunani dari zaman purbakala. Dalam masalah musik hal ini umpamanya nyata dalam opera-opera ciptaan dari Ghristoph Willibald Cluck, yang justeru untuk mencapai maksudnya mengadakan sebuah pembaharuan yang radikal dalam masalah opera waktu itu, mengambil contoh-contoh cerita dari Yunani. Akan tetapi dalam ciptaan musik yang tidak berbentuk opera duduk perkaranya adalah lain pula Kalau pun dalam opera pencerminan kepada kebudayaan Yunani itu dapat terlaksana dalam lahirnya, yakni dengan mengambil cerita-ceritanya, maka dalam musiknya sendiri pencerminan itu hanyalah mungkin dengan usaha memiliki “innerlijke orde”-nya. Secara stilistas sudah dengan sendirinya Mozart tidak terlepas dari keadaan kebudayaan sekitarnya. Akan tetapi pelaksanaannya jelas masih menghendaki hal-hal kemampuan dan keluhuran jiwa yang istimewa. Untuk dapat menciptakan musik yang berkwalitet klasik dalam arti yang sebenarnya, kemampuan dan kenyataan saja adalah belum cukup. Yang masih kurang itu pada hakekatnya adalah sesuatu yang sulit dapat kita nyatakan dan kita tangkap dengan kata-kata biasa. Hal-Hal semacam ini adalah sesuatu yang hanya dapat kita rasakan dan kita alami. Di lingkungan keluarga Mozart itu terdapat suasana kedamaian sebagai pembawaan jiwa yang harmonis, jiwa yang mengetahui dirinya bernaung di bawah suatu kekuasaan dan kemurahan yang maha pengasih. Keretakan dalam hidup geestelijk sebagaimana banyak sekali kita temukan dewasa ini di sekitar kita sendiri, sama sekali tidak dikenal oleh Mozart sekeluarga itu. Mereka masih utuh dalam keyakinannya terhadap Tuhan yang dipujanya. Maka rasanya keseluruhan pandangan hidup dan dasar-dasarnya yang dimiliki oleh Mozart itu, niscaya tak mungkin dapat dilepaskan sedikit pun dari kehidupan sebagaimana dijalankannya dalam ciptaan-ciptaan musiknya. Di situlah pula harus kita cari pokok-pokok dan dasar-dasar utama yang memungkinkan Mozart itu menjadi komponis yang klasik dalam arti yang sedalam-dalamnya dan setinggi-tingginya. Ia memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan untuk itu, dan demikian segala pembawaan klasik dari buah-buah ciptaannya tak lain melainkan adalah ungkapan langsung dan mutlak keluar dari hati dalam bentuk-bentuk dan cara-cara yang sederhana, namuntegas dan lengkap harmonis dalam keseluruhannya, inilah di antara lain pembawaan-pembawaan dari ciptaan-ciptaan Mozart itu tak akan pernah ada kita rasakan sesuatu hal yang tak perlu ataupun tak usah sekalipun. Segalanya berada pada tempatnya dan pada saatnya yang tepat, tak pernah ada sesuatu yang terasa janggal atau berlebih-lebihan. Dalam pada itu akan kita rasakan pula dalamnya suatu pembawaan manusia yang mempunyai jiwa besar, dalam mana telah tercapai dan telah terbentuk keseimbangan gaya yang harmonis-sempurna. Maka daya-cipta yang berhasil melahirkan sesuatu yang dapat diberi penamaan klasik, di situlah keseluruhan sifat-sifat dan pembawaan manusia sudah mencapai penjelmaan bentuk dan keadaan yang harmoni dan luhur.

Saudara-saudara pendengar yang terhormat, kiranya dari ini semua jelaslah, bahwa ungkapan musik itu pada hakekatnya adalah pernyataan manusia dalam keseluruhannya. Perkenankanlah saya sebentar menarik persoalannya ke dalam keadaan sebagaimana kita dapatkan di sekitar kita sendiri. Berkenaan dengan usaha-usaha pembangunan kehidupan musik di Indonesia kita ini, kita harus insyaf, bahwa hal itu selain menghendaki bakat dan kecakapan-kecakapan yang cukup kuat, pun memerlukan pembentukan manusianya sendiri. Musik itu adalah ungkapan pernyataan dari keseluruhan manusianya. Maka jelaslah, bahwa hanya manusia yang memiliki jiwa yang luhur dapat melahirkan ciptaan-ciptaan yang luhur. Kita harus lebih banyak mempunya “kritische zin” yang tajam, dan kita hendaknya jangan sampai terus terbenam dengan adanya hasil-hasil materiil yang pada hakekatnya hanyalah bersifat sementara. Akan tetapi saudara-saudara hadirin yang hormat, baiklah kita kembali pada persoalannya.

Kini kita berada dua ratus tahun sesudah Mozart itu. Suasana telah banyak berobah. Cara-cara hidup telah mempunyai bentuk yang lain, dan begitu pula halnya mengenai pandangan hidupnya. Berkenaan dengan ini orang tentunya akan berpendapat, bahwa fungsi musik ciptaan Mozart dari zaman dua ratus tahun yang lalu itu niscaya telah berobah pula dalam waktu kita sekarang ini. Sesuatu hal yang mempunyai arti yang lain dalam zaman kita sekarang ini, atau mungkin juga tak mempunyai arti lagi sama sekali. Akan tetapi mengenai musik ciptaan Mozart harus kita akui, bahwa sekali-kali tidaklah demikian halnya. Mozart pada instansi pertama adalah pencipta yang mempunyai fungsi tertentu dalam hidup manusia. Arti Mozart adalah jauh lebih banyak dari hanya seorang tokoh komponis yang mempunyai arti historis. Ia tidak pernah menganut teori-teori yang pelik-pelik seperti halnya umpamanya dengan Richard Wagner dan Arnold Schonberg. Dengan cara-cara yang senantiasa terasa natuurlijk, kita dalam buah-buah ciptaannya dibawanya secara langsung ke tempat sumber-sumber segala yang indah dan murni. Mozart adalah pencipta yang membawakan kita keindahan dan kemurnian yang abadi. Oleh karena itu Mozart mempunyai arti untuk seluruh ummat manusia dan untuk selama-lamanya. Alam keindahan dan kemurnian adalah sesuatu yang mempunyai arti bagi setiap manusia dengan taida pandang ataupun keyakinan agama. Kiranya dapatlah kita mengerti sekarang, mengapa sampai demikian hebatnya usaha peringatan Mozart itu sampai meliputi seluruh dunia.

Saudara-saudara yang terhormat, adanya malam peringatan ini dengan sendirinya adalah sesuatu yang menggembirakan. Usaha ini menunjukkan, bahwa kita mengetahui kedudukan kita dalam hidup peradaban internasional. Akan tetapi persoalannya mengandung konsekwensi yang harus kita insyafi. Kalau kita mengadakan sesuatu malam peringatan seperti ini, tak dapat tidak usaha demikian menunjukkan suatu pengakuan, bahwa masalah yang diperingati itu mempunyai arti dan fungsi dalam hidup kita. Maka pertanyaannya sekarang yang timbul ialah: Adakah Mozart telah cukup dikenal oleh masyarakat kita? Adakah taraf keadaan kehidupan musik kita telah mencapai tingkatan ini? Kalau tidak demikian halnya, akan timbul kekhawatiran, kalau-kalau adanya usaha peringatan ini hanya karena terbawa-bawa karena melihat dunia internasional, sehingga adalah sesuatu yang kosong tak berarti. Hal ini perlu sekali kita insyafkan saudara-saudara yang terhormat. Akan tetapi bagaimanapun juga kita yakin, bahwa usaha peringatan Mozart ini setidak-tidaknya menunjukkan suatu hasrat untuk berusaha agar bangsa kita lebih mengenal Mozart dan ciptaan-ciptaannya. Dengan ini saudara-saudara yang terhormat, rasanya penyelenggaraan malam peringatan Mozart ini mempunyai dasar yang cukup kuat.

Sekian dan terima kasih!!

*) Karangan ini ialah ceramah yang diucapkan berkenaan dengan peringatan Mozart 200 tahun hari lahirnya, Balai Budaya, 26 Januari 1956.


D. P. R. BARU

Kalung bunga ini untukmu
amanat harapan bangsa.
Biarkan saja
kegetiran yang masih kami lalui
hadapkan dada
ke taman bunga kasih dan harga diri.
Jadikan saja
dirimu dan diri bangsa sekali lagi
‘Gustus patlima
kenikmatan satu dalam hidup dalam mati.
Kalung bunga ini untukmu
amanat harapan jaya.

Klara Akustia


RUMAH LIAR

Kepada DPKS Jakarta.



Redup dalam caya terang bulan
berkaparan mayat kami yang rindu damai.
Kami dinafasi nyawa manusia desa
yang lari dari neraka mencari sorga
bunga harapan dan bunga cinta
tempat hidup menyambung cita
bagi bangsa dan keluarga.
Kami ‘rang desa yang miskin segala
bayi koreng dalam estitika kota
titip badan dan titip nyawa
ratu estitika ketika ini
meski kami kenal suling dan kecapi.
Demi estitika kata ‘rang kota siapa
berhati dingin kepada derita bangsa
berguguran kami bagi ‘rang desa
dalam musim bunga hijau abadi
menantang kelahiron pesta mengerti.
Redup dalam caya terang bulan
berkaparan mayat kami yang rindu damai.

Klara Akustia


CATATAN PADA DUA PAMERAN

Burung

SIAUW DJANG

Di Jakarta telah diadakan dua pameran berentetan. Pameran perseorangan dari pelukis Harijadi S di Balai Budaya dari tanggal 25 April sampai dengan 5 Mei 1956, dan pameran bersama dari para seniman seluruh Indonesia yang diadakan dari 2 Mei sampai dengan 10 Mei 1956 di Gedung Pemuda. Maksud pameran yang kedua ini adalah untuk menyongsong Kongres Pemuda Rakyat.

Pada Pameran Harijadi tercatat 54 lukisan cat air dan cat minyak Harijadi keluar dengan seluruh koleksinya dari mulai ia melukis hingga sekarang. Ia mulai melukis tahun 1941, tapi lukisan tertua dalam pameran ini adalah yang dibuat pada tahun 1946.

Harijadi adalah seorang impressionist. Dengan pameran ini ia menunjukkan, bahwa dalam usaha melukis ia hingga sekarang telah melalui tiga fase. Fase pertama adalah fase yang sewajarnya sebagai seorang impressionist. Masa ini diwakili oleh lukisan-lukisan yang menumbulkan suasana dan kesan yang elok, serta bentuk dan strukturnya pun sempurna. Contoh untuk ini adalah lukisan-lukisan “Depot es di Malioboro” dan “Sudiardjo menggambar”.

Dalam menggunakan cat ia amat lancar dan kenes. Dengan gampang hal ini dibuktikan olehnya dengan pelukisan bahan (stofuitdrukking), misalnya membuat baju, mantelnya pada lukisan “Gambar sendiri” dan warna-warna muka dan badan dalam figur-figurnya.

Tapi dari lukisan studi “Telanjang” bisa kita lihat, bahwa Harijadi dalam soal fondamentil yakni design dan anatomi belum selesai. Lukisan ini memberi penjelasan pada kita mengapa ia dalam banyak lukisan-lukisannya masih menemui kelemahan pada penyusunan struktur dan bentuk.

Justru pada fase kedua di mana ia banyak mengambil alam sebagai tema lukisannya kelemahan dalam struktur dan bentuk ini menghambat hasil usahanya, sebab dalam lukisan pemandangan yang penting ialah mengutarakan segala-galanya dengan warna. Dengan warna harus dibangkitkan suasana, dengan warna harus diadakan perspektip dan dengan warna harus pula diwujudkan bentuk-bentuk. Dan hampir dalam seluruh lukisan pemandangan apabila ia harus membuat perspektip suasana itu menjadi hambar, tidak mempunyai struktur dan bentuk lagi. Semua ini hanya merupakan pulasan cat belaka sebagai pengisi bidang. Dan kekenesan dan kelancaran dalam Gunung-Gunung dan benda-benda yang letaknya di latar belakang menggunakan cat tanpa pengendalian membawa ia pada permainan warna yang menghasilkan barok saja. Terutama dalam fase kedua ini, di mana ia memperkaya kebendaan lukisannya dengan mengoper warna-warna dari selendang pelangi untuk mengedar iklim keIndonesiaan, tidak dapat ia mengungkapkan iklim pelangi tersebut ke dalam pengolahan struktur dan bentuk. Dan warna-warna jelita ini hanya menempel saja secara ornamentik.

Pemandangan

ALIMIN

Dalam fase ketiga kelancaran yang tidak dikendalikan oleh bahan pemikiran membawa ia lebih lanjut dalam alam barok. Dalam fase yang akhir ia mencoba melukiskan masalah-masalah kemasyarakatan seperti “Pemilihan Umum”, “Raykat dan Cukai”, “Traktor mulai datang” dan lain-lain lagi. Appresiasi temanya baik sekali, menunjukkan bahwa ada hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Tapi pengungkapan tema ini sehingga merupakan lukisan adalah suatu usaha dari si senimannya jangan sampai ucapannya tetap tinggal pada gambaran kejadian suatu peristiwa yang hanya mengesankan suatu anekdote pada penonton. Lukisan di samping indah dalam pandangan serta berisi penuh perhatian terhadap masalah-masalah komposisi, masalah irama gerak dan masalah perwujudan bentuk, harus dapat mengesankan penonton sesuatu yang karakteristik dari hal yang digambarkan.

Hari jadi dalam lukisannya lebih banyak mencer-takan kejadian-kejadian yang kecil (remeh) daripada melihat peristiwa itu dari segi potensi kehidupan, misalnya ekspressi perasaan perikemanusiaan, daya tahan dari rakyat, cinta keindahan alam, bangsa dan sebagainya.

Dan satu hal lagi yang harus menjadi perhatian Harijadi ialah bahwa untuk menggambarkan sesuatu menurut kenyataannya tidak diharuskan menggambarkan semua seperti bagaimana yang kita lihat secara lengkap satu persatu dan teliti. Langkap dan detailering adalah dua perkataan yang satu sama lainnya mempunyai pengartian yang jauh berbeda. Itulah persoalan-persoalan yang ada pada pameran Haryadi.

Sekarang kita melihat pada pameran bersama. Pameran ini diselenggarakan oleh Panitia Kongres Nasional ke 11 Pemuda Rakyat.

Uluran tangan dari pihak Pemuda terhadap kegiatan kesenian mempunyai arti penting. Penting, karena melalui saluran pemuda tersebarlah pengaruh hasil seni dan semangkin luas hubungannya dengan masyarakat. Tidak heran bahwa pameran ini amat menarik bagi para seniman terbukti ia diikuti oleh 81 pelukis-pelukis dengan jumlah lukisan 161 buah. Sebagian besar dari pelukis-pelukis yang ikut serta adalah mereka yang tergabung dalam badan-badan perkumpulan seni lukis seperti: Matahari, Pelukis Rakyat, Seniman Indonesia Muda, Lembaga seni lukis Tionghoa, Gabungan Pelukis Indonesia, Tunas Muda, dan juga beberapa perseorangan yang berada di Jakarta, Jogja dan Madiun.

Koleksi dalam pemeran ini bersifat luas, artinya hampir semua aliran yang berlaku dalam perkembangan seni lukis dapat dilihat dan banyak nama-nama baru dari lingkungan yang muda tampil ke muka. Keseluruhan pameran belum merupakan hasil puncak dari peserta-pesertanya. Pada umumnya lingkungan yang muda masih dalam tingkat belajar dan mencari kepada kepribadiannya. Sekalipun kesempurnaan pada mereka masih jauh, tapi terasa kesungguhan dan ketekunan dalam usaha masing-masing, sehingga warna-warna dan bentuk yang mereka sugukan sudah membawa kesegaran dan tidak ada seorang pun yang bisa menyatakan bahwa pameran ini menunjukkan ketiadaan bakat.

Selenjutnya dalam meninjau pameran bersama ini dapat kita melihat sikap dari para pelukis yang menunjukkan gambaran kedudukan seni lukis Indonesia.

Pada umumnya para pelukis masih sedikit sekali, yang melangkah pada tingkatan pengolahan diri dalam seninya dan hanya beberapa orang saja yang telah sanggup menunjukkan, bahwa kehadiran mereka telah memberi pengikliman Indonesia.

Untuk kelangsungan usahanya pengertian yang harus dimiliki mereka, adalah, bahwa bakat tidak akan berkembang tanpa tehnik yang tinggi dan ucapan seninya tidak akan berbicara jika tidak dibarengi pengertian dan pengetahuan yang luas.

Inilah catatan pada pameran ini. Selanjutnya tidak banyak lagi yang bisa dikatakan tentang pameran ini, selain perkembangan seterusnya yang akan menentukan apakah bakat-bakat ini dapat menimbang dengan jujur pengolahan dirinya pada usaha pengungkapan seninya.


ANYELIR MERAH

DARI jurusan mana pun memandang, Pyreneen Timur adalah pegunungan: orang harus memanjatnya.

Untuk sampai ke pedataran tingginya orang harus seberangi anak sungai-anak sungai pegunungan, harungi curaman penuh semak-semak yang hijau dan segar, panjati tebing-tebing jurang, harus berjalan di jalan yang sempit, jalan pegunungan yang berkelok-berkelok, dan selalu harus memanjat. Baru setelah itu orang akan sampai di puncak-puncaknya yang kelihatan dari jauh, punggung-punggung gunung yang menjelma jadi garis penghubung yang biru antara dua puncak.

Di sini syukur sekali tak ada hotel-hotel yang megah, etalage-etalage yang mewah. Yang ada hanya desa-desa orang-orang gunung, pondok-pondok kecil di mana di muka pintu-pintu dan jendela-jendelanya kelihatan orang-orang yang ramah.

Departemen Pyreneen Timur berakhir pada satu titik di pedataran tinggi itu, di bawah lindungan dari Font—Romeau, tidak berapa jauh dari provinsi Andora.

Sebenarnya pedataran yang tinggi ini adalah seperti panci besar, yang dari segala penjuru dikelilingi oleh punggung-punggung gunung.

Di punggung-punggung pegunungan dan di dalam panci itu terletak desa-desa terdiri dari rumah-rumah penuh dengan gurlandes yang hijau, pohon-pohon dan mozaik, dari pandang-pandang gandum yang bermatangan sekaligus pada satu ketika.

Saya berada di Odeillo. Odeillo adalah kota kecil yang tinggi 1.500 meter itu terletak dengan aman dalam sebuah lekuk gunung. Jalan-jalannya ditakik di dalam batu-batu kerang, setiap sungainya adalah jurang dan setiap rumahnya bermandikan sinar matahari atau didera oleh badai topan.

Di bawah langit yang tak kenal kasihan burung-burung terbang meliwati mereka liwat dan menjerit-jerit ....

Di sini, di Odeillo ini, orang berbicara bahasa Catalan. Juga di seberang, pada punggung gunung yang lainnya. Tetapi jauh di bawah, sebatang anak sungai yang kecil meliku-liku dengan lincah, dan dia berkewajiban sebagai garis-garis lintang 38 derajat antara Spanyol dan Perancis, antara orang-orang Catalon dari Catalonia dan orang Perancis dari Pyreneen Timur, dan mereka berbicara baik dalam bahasa Perancis maupun bahasa Catalan.

Dulu dengan liwat Catalonia ini orang-orang Roma Arab masuk menyerbu: dalam tahun 1640 orang-orang Catalonia menggabungkan dirinya ke Perancis, disebabkan benci mereka pada raja Spanyol dan pada tahun 1808 ketika Bonaparto mendesakkan raja lain mereka berjoang menantangnya.

Batang air yang berkewajiban sebagai garis lintang 38 derajat sekali-sekali tidak merobah tanah dan iklim, adat istiadat dan bahasa dan cita-cita akan kemerdekaan: penghuni-penghuni pedataran yang seperti panji itu kelihatan serupa, seperti saudara.

Di Odeillo saya berjumpa dengan Madeleine dan Felix. Ketika itu sinar-sinar terakhir dari matahari melemperkan gemerlapan kuning belirang kepada kekacauan dari batu-batu karang.

Memang benar bahwa hari segera akan sangat dinginnya: “Tutup bajumu rapat-rapat,” kata Felix pada Madeleine, “kalau tidak, masuk angin kau nanti.”

Hotel dari Odeillo, “Ayam Jago yang Gagah”, hanyalah sebuah hotel kecil sederhana dan bersih. Kamar Madeliene tidak besar tetapi karena dia tidur beberapa tahun di alam terbuka ketika di “maquis” untuk bila perlu menembak dan merawat orang-orang luka, baginya kamar itu sangat cukup. Dia, Madeleine, pernah alami hal yang lebih dari itu. Orang-Orang Nazi pernah melemparkannya ke dalam bak yang penuh air es untuk memaksakan pengakuan-pengakuan.

Sesudah itu penyakitnya dengan curang menyelinap sampai pada paru-parunya: penyakit baru berkurang setelah diobati berbulan-bulan lamanya, tetapi bila hari buruk demam kembali berdegup pada saluran nadinya. Cuaca yang buruk dan kegelisahan membuatnya capai.

“Tutup rapat-rapat bajumu,” kata Felix, “di sini sebennya terlampau dingin buatmu. Saya akan cari sudut yang lebih baik buatmu.”

Felix adalah seseorang yang aneh, cepatnya sebagai tupai, kuat seperti pohon-pohon eik: mukanya seperti sesuatu pahatan pada batu granit gunung-gunung itu dan kulitnya dibakar matahari, bila ia tersenyum kelihatan lubang-lubang pada giginya, disebabkan pukulan orang-orang Nazi dalam perkelahian mereka kaum maquis.

Di tempat ini Felix mengenal semua orang dan semua orang kenal pada Felix: orang-orang gunung itu sayang padanya dan musuhnya menyegahinya. Ini disebabkan karena waktu pendudukan ia telah mempertaruhkan nayawanya: tak ada satu kampung atau satu jalan pegunungan pun yang tidak membuat Felix terkenang pada jaman perlawanan yang perkasa.

Felix menjagai Madeleine. Apa dia berada di sampingnya ataupun tidak. Madeleine selalu merasai tangan Felix di dalam rawatan, di dalam perhatian yang diberikan orang padanya, di dalam kasih dengan mana mereka mengelilinginya.

Dari antukan yang perih antara dia dengan paru-paru Madelene lupa akan kelemahannya: di dalam keinginannya yang tidak mengenal sabar untuk mencurahkan dirirya pada Partai, jantungnya memukul lebih cepat dari paru-parunya, dan ini menyebahkan kesulitan-kesulitan dan Felix mengusahakan supaya ia kembali pada keberesan: “Jangan kau bingung-bingung, makan, tidur dan beristirahatlah.”

Terdapat banyak ragam persahabatan, tetapi di dalam hal ini seperti juga pada banyak lain-lain lagi, ia melampaui kesanggupan mengerti dari jiwa yang telah busuk dari klas yang mendapat hak istimewa, karena ia asing dari perasaan dari rakyat, penderitan dan perjoangan, disebabkan mereka kerdil, serakah, tidak punya moral dan kejam.

Anggota-Anggota dari klas ini, seperti juga hidup kekeluargaan mereka, pecah belah karena nafsu mereka. Mereka benci dan hidup hina masing-masing di balik topeng belagak hormat dan yang satu-satunya menghubung mereka itu ialah solidaritet dari suatu ketakutan dan dari kejahatan.

Garis penuntun yang memungkinkan seseorang mengerti watak dan keindahan dari perasaan-perasaan tertentu, terdapat di dalam jiwa rakyat, meskipun terdapat beragam penggabungan dan perbedaan kebudayaan. Ia adalah keinginan akan kemerdekaan, pada kebebasan dan keadilan. Ia adalah persaudaraan dari tenaga-tenaga produktip menghadapi penghisapan kapitalis.

Bila ia tumbuh menjadi kuat ia menuju pada komunisme, dengan merangkum segala yang berkenaan dengan kesadaran klas, cinta pada rakyat dan kebencian pada musuh, penghindaran kepentingan diri sendiri, hormat terhadap masing-masing, kesetiaan, kasih dan jiwa yang sedia berkorban diri bagi kemenangan dari suatu persoalan yang besar dan suci.

Bahwa dari persahabatan yang tak kunjung kering ini lahir banyak keakraban yang aneh adalah suatu soal yang lain, dan ia adalah suatu bab dari peradaban yang baru dan pandangan hidup yang baru.

Tetapi apakah bab ini akan tertuli-tulis sesuai dengan keinginan setiap orang atau tidak, sumber keindahan dan pernilaiannya tidak dapat dipungkiri, bila telah tercapai taraf yang tertentu

Dan mana anyelir merah? saudara bertanya. Benar saya hampir lupa tentang anyelir merah ini.

Felix membawa kami meliwati sebuah jalan pada jurusan gunung sampai pada dataran tinggi yang kecil, darimana orang-orang beroleh pemandangan yang luas ke dalam lembah. Jauh di dasarnya kami melihat kali yang menjadi garis lintang 38 derajat bagi bandit-bandit imperialis supaya dapat membagi rakyat di sini ini jadi dua bagian.

Dataran tinggi ini, yang bagaikan sebuah pulau terletak di bumi Perancis adalah kepunyaan Spanyol. Dilindungi oleh bayangan balok kerang batu graniet, yang gemerlapan oleh hijau daun-daun muda yang halus. Dia di sana sendiri dan merah api, tetapi saudara-saudaranya berada di mana-mana. Pada punggung gunung di belakang kami, punggung gunung di hadapan kami. Meskipun sungai kecil itu bertindak sebagai garis liintang 38 derejat.

Anyelir itu merah, sama merahnya dengan merahnya darah pejuang-pejuang kemerdekaan, yang pada seberang menyeberang batang air itu memperjuangkan hal yang sama dan mati dalam perang Spanyol atau untuk Republik, melawan Franco.

Anyelir merah itu adalah lambang.

Bila gerombolan Amerika telah diusir dari Paris, bila rezim Franco telah runtuh, bila pada masing-masing seberang Pyreneen telah dibangunkan pemerintahan buruh dan petani, maka berpestalah orang di pedataran tinggi, orang-orang dari seberang menyeberang batang air itu akan berpeluk-pelukan.

Dan itulah yang dinamakan orang batas ....

Demikianlah persaudaraan dan persahbatan antara rakyat dan rakyat di dalam perang Korea menentang penjajahan dan persahabatan dari pejuang-pejuang untuk sesuatu yang adil, menjangkau meliwati batas-batas.

Matahari untuk kesekian kalinya di dalam kelangsungan yang beribu-beribu tahun ini tenggelam. Malam putih susu mengendap dengan keheningan yang dalam di pedataran tinggi itu: lampu-lampu di semua desa-desa dari jendelanya telah berkerlipan seperti kelip-kelip bintang-bintang pada langit yang rendah.

“Mari kita pulang, Madeleine,” kata Felix. Diambilnya jas dan dikenakannya hangat-hangat pada Madeleine, dengan sangat hati-hati dengan tangannya yang sudah berkopal, seakan-akan ia takut akan menyakti paru-paru Medeleine.

Diterjemahkan oleh Rivai Apin.


UKURAN BAGI KRITIKSASTRA INDONESIA DEWASA INI*)

Saya bukan seorang kritikus sastera. Saya seorang penyair. Terpisah dari berhasil-tidaknya sajak-sajak saya. Saya terima acara ini dari Panitya—Simposion atas dasar pengertian, bahwa juga seorang yang bukan kritikus sastera ada baiknya diberi kesempatan mengemukakan pandangennya mengenai kritik sastera. Ditambah lagi dalam kedudukan saya sebagai Sekretaris-Umum, Sekretariat Pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) saya kira ada kebutuhan dari simposion ini untuk mendengarkan pendapat seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritik sastera berdasarkan pandangannya kebudayaan untuk rakyat. Saya sendiri menganggap kesempatan yang diberikan Panitya Simposion ini berguna untuk mengemukakan pandangan seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritik sastera.

Jadi saya mengharap dicatat betul-betul oleh Saudara-Saudara, bahwa pandangan mengenai acara ini adalah pandangan saya perseorangan, bukan pandangan Lekra sebagai organisasi. Selanjutnya saya berpendapat, bahwa kesempatan ini mengintensifkan relasi antara kita sama kita yang begitu heterogeen, bahkan kadang-kadang linea recta berlawanan, pikiran dan pandangan kesusasteraannya. Ini mengurangi, kalau tidak dikatakan menghabiskan, pendapat-pendapat salah, kadang-kadang prasangka-prasangka, antara kita sama kita. Untuk meminjam istilah politik internasional, bukanlah kita hidup dalam zaman gemuruh semboyan koeksistensi, atau dalam istilah politik nasional dalam zaman bhineka tunggal ika?

Dalam hubungan inilah pada tempatnya saya menyatakan penghargaan kepada Panitya Simposion.

Akhir-akhir ini kita dipekakkan oleh perkataan krisis. Krisis ini dan krisis itu. Juga kesusasteraan ada yang mengatakan krisis, ada yang tidak.—Ini salah satu acara simposion saudara-saudara tahun yang lalu. Sedikit menyimpang, saya herankan mengapa di samping krisis tidak terlihat sesuatu yang tidak krisis, sesuatu yang bangun? Barangkali apa boleh buat, kalau perkataan krisis sedang menjadi mode, sesuatu yang bukan atau tidak krisis tidak masuk hitungan, didaulat saja dimasukkan dalam lingkungan perkataan krisis atau dianggap sesuatu yang tidak wajar. Misalnya, kesusasteraan yang tidak krisis dianggap saja bukan kesusasteraan. Semacam propaganda misalnya, seperti ada penamaan orang terhadap karangan-karangan penulis-penulis Lekra.

Maaf Saudara-Saudara, ini agak menyimpang dari pokok acara. Begitulah dalam hubungan ada dan tidak ada krisis inilah, menurut penjelasan Saudara Ketua Panitya Simposion kepada saya, dianggap perlu adanya penjelasan ukuran kritik-sastera dewasa ini.

Bila kita mengungkap kembali referat-referat simposion Saudara-Saudara tahun yang lalu, maka dalam referat Saudara Pramoedya Ananta Toer terdapat kalimat-kalimat yang mengkritik kritik sastera atau para kritikus sastera. Berkata dia, bahwa dia menolak apa yang disebutnya kritikus-kritikus musiman, cap “gua-hajar-lu” atau “gua-jangan dilupain”, yang di dalam kritik-kritiknya hanya bicara tentang dirinya sendiri dan bukan tentang obyek yang harus digarapnya. Untuk mereka ini sampai-sampai Saudara Pramoedya berikan nasihat percuma, atau segera menginsyafi kewajiban kritikusnya, atau segera meninggalkan pekerjaanya yang tidak sehat itu.

Ukuran kritik sastera Saudara Pramoedya adalah, bahwa kritik sastera berkewajiban untuk mempermudah sampainya cita pengarang ke dalam hati masyarakatnya. Perlunakan kritik dengan sengaja tidak akan membawa kebaikan, bahkan merupakan biang keladi kesalah fahaman tentang pengarang dan karangannya.

Jadi, menurut Saudara Pramoedya, mempermudah tidak berarti memperlunak, sampainya cita pengarang kepada pembacanya.

Selanjutnya Saudara. H. B. Jassin, saya kenal dia sebagai tokoh kritik sastera, dalam karangannya, “Selamat tinggal tahun 1952” dalam majalah “Zenith” almarhum no. 2, tahun 1953, menyampaikan beberapa bahan-pikiran yang menurut saya berguna baik untuk para pengarang, maupun para kritikus sastera. H. B. Jassin mengkritik, bahwa tanggung-jawab terhadap diri sendiri dalam ciptaan seni masih kurang diperhatikan kaum seniman kita. Ini disebabkan karena tanggung-jawab mereka pertama-tama ditujukan kepada publik, yang kebanyakannya dipergunakan sebagai topeng untuk memaksakan pendapat-pendapat dan tanggapan-tanggapan yang tidak benar. Suatu seni yang rendah mutunya, berbentuk yang tidak mendukung isi, suatu bentuk yang kosong, atau bentuk yang diketahui isinya palsu. Sebab hemat Jassin, suatu tanggung-jawab yang sesuai dengan tanggung-jawab kepada diri sendiri, adalah suatu tanggung-jawab yang murni luar dan dalam

Juga dikritiknya seniman yang tidak kuat pribadinya dan yang lari dari kewajiban-kewajibannya terhadap masyarakat. Baginya justeru soal-soal masyarakat inilah yang harus dihadapi seniman, diatur dan diselesaikan.

Dalam hal inilah timbulnya ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, yang mendapat penyelesaiannya dalam hasil-hasil ciptaan. Sebab, hasil kesusasteraan yang berarti di mana ada pertikaian antara pengarang dan dunia sekelilingnya.

Redaktur-Redaktur majalah-majalah dan surat-surat kabar juga dikritiknya, yang menggampangkan orang jadi penyair dengan memuat sajak-sajak yang tidak ada keaslian sama-sekali. Bertanya Jassin, sampai di mana perbendaharaan kata penyair dan pengarang sekarang ini. Bagsimana luas daerahnya, mengenai pengalaman dan pengetahuannya yang diletakkan dalam hasilnya. Baginya ternyata betapa miskinnya dalam hal jumlah ciptaan, perbendaharaan kata, pengalaman dan pengetahuan penyair dan pengarang kita, tidak bisa diharapkan menciptakan sesuatu yang monumental. Masyarakat Indonesia harus dibikin masak dengan hasil-hasil yang berat, hasil-hasil pengalaman yang sungguh, dikarang dengan penguasaan tehnik dan studi keilmuan tentang estitika. Karena itu, menurut Jassin, sudah waktunya pengarang-pengarang kita dituntut pertanggungan-jawab pengetahuan modern. Tidak bisa lagi cuma tunggu-tunggu ilham dan siliran angin lalu. Dia tidak setuju kepada pendapat, bahwa seniman tidak perlu punya perbendaharaan ilmu pengetahuan.

Jadi, satu ukuran kritik lagi. Yaitu pengarang perlu punya perbendaharaan ilmu-pengetahuan. Ini akan makin lebih jelas lagi, kalau dihubungkan dengan ucapan Jassin, bahwa tidak semua aktivitet berarti kreativitet.

Kritiknya lagi terhadap dirinya sendiri, jadi terhadap kritikus sastera. Yaitu berdasarkan teori-teori yang dipelajarinya menggolong-golongkan kesusasteraan Indonesia dalam aliran-aliran dan gaya-gaya yang telah mempunyai sejarah di negeri-negeri yang telah maju kesusasteraannya. Ukuran-ukurannya tidak mendukung sepenuhnya isi apa yang diukurnya dan lebih merupakan impian keinginan bagaimana harusnya kesusasteraan Indonesia.

Suatu kritik terhadap subyektivisme kritikus sastera.

Kritik-kritik ini Jassin kemukakan atas tujuan, menyapu bersih mentalitet yang kotor, supaya diadakan koreksi-diri. Bukan untuk membunuh, tapi untuk menghidup-suburkan.

Dari sifat saya dari referat Saudara Pramoedya dan karangan Saudara. H. B. Jassin bisa disimpulkan ukuran-ukuran kritik sastera sebagai berikut:

  1. mempermudah, bukan memperlunak, sampainya cita pengarang.
  2. adanya tanggung-jawab terhadap diri sendiri dalam sesuatu karangan. Dengan kalimat saya, adanya individualitet, hilangnya jarak antara subyek dan obyek.
  3. adanya konflik antara pengarang dengan dunia sekelilingnya.
  4. adanya dasar sesuatu cabang pengetahuan di dalam obyeknya.
  5. adanya subyektivitet Indonesia di dalam mengkritik hasil-hasil pengarang Indonesia.

Daripada apa yang saya bisa simpulkan untuk ukuran kritik sastera dari pikiran-pikiran Pramoedya dan Jassin, secara kelakar lima pasal ini bisa juga saya katakan pancasila ukuran kritik sastera.

Saya harap Saudara-Saudara bisa memaafkan saya agak panjang membawa saudara-Saudara ke sifat-sifat Pramoedya dan Jassin. Memang ini jauh daripada orisinil. Hanya bagi saya soalnya bukan orisinil atau tidak. Apa yang saya simpulkan dari pikiran-pikiran Pramoedya dan Jassin itu dapat saya setujui sepenuhnya.

Apa yang akan saya tambahkan untuk ukuran kritik sastera, hanyalah merupakan atau pengluasan atau variasi dari apa yang sudah saya simpulkan ini.

Berbicara tentang kesusasteraan Indonesia dewasa ini, pada hemat saya mayoritetnya adalah kesusasteraan majalah. Artinya hasil-hasil sastera yang terutama dipublisir di majalah-majalah dan surat-surat kabar. Sejalan dengan itu, maka para kritikus sastera juga berkewajiban untuk melancarkan kritiknya kepada para penerbit yang mempersulit terbitnya hasil-hasil sastera dalam bentuk buku-buku, kepada para redaksi majalah-majalah, yang dengan kalimat Jassin menggampangkan sekali jadi penyair, semacam ada krisis penyair, memuat sajak-sajak, yang tidak ada keasliannya sama sekali, kepada pengarang-pengarang ini, yang mengarang tanpa ada kepribadian, merenggutkan mereka dari semacam dunia-impian, bahwa adalah tidak semudah yang disangkakan untuk mengarang tanpa melalui proses pengalaman dan usaha pemilikan sesuatu pengetahuan.

Selanjutnya pada hemat saya sebagai orang Lekra, yang perlu dicatat untuk kritik sastera, adalah apa yang dinamakan dalam istilah orang-orang Lekra, baik di dalam karangan, maupun dalam kritik sastera, perjuangan terhadap formalisme.

Kalau Saudara Jassin dalam karangannya itu ada menyatakan, bahwa ukuran kita harus satu kebulatan usaha dan hasil untuk bisa menghargai sesuatu ciptaan sewajarnya, maka rumusan saya harus adanya kebulatan antara bentuk dan isi di dalam sesuatu karangan.

Formalisme adalah suatu faham kesusasteraan yang membombardir bentuk menjadi seni, tanpa memusingkan isinya. Dalam beberapa film negara-negara Barat hal ini sangat menonjol. Meskipun di dalam kesusasteraan kita gejala formalisme ini belum kuat menampakkan dirinya, saya rasa ada baiknya untuk berteriak “Awas!” dari sekarang. Terutama untuk para kritikus sastera.

Sebagaimana Saudara-Saudara ketahui, Lekra pertama-tama berorientasi kepada kehidupan pergerakan. Pergerakan buruh dan tani. Soalnya sekarang, kita bisa tolak atau terima hasil-hasil kesenian yang bertemakan kehidupan pergerakan ini. Tetapi hendaknya sikap menolak atau menerima ini berdasarkan argumentasi, tidak atas apriorisme.

Pokok soalnya di sini adalah kenyataan atau pemalsuan kenyataan. Bagi saya karangan yang mengandung kebenaran adalah suatu kriterium yang tertinggi. Dan karangan begini selamanya bersyarat hubungan pengarang dan kenyataan. Kita berada dalam keadaan waktu di mana setiap manusia didesak untuk berhadap-hadapan dengan kenyataan. Dalam hal ini pengarang mesti berdiri di depan. kritik sastera berkewajiban membantu pengarang dalam kedudukan ini. Tugas pengarang jadinya, menghubungkan sifat-sifat kenyataan ini kepada pembaca, dan dalam pekerjaannya inilah letak kesenian dan keagungan pengarang. Karena sifat pekerjaannya mendesakkan kemungkinan kepada pengarang untuk mengsarikan harapan dan ketakutan, derita dan kemenangan manusia.

Dengan lain perkataan, mengembangkan perasaan, mempertinggi keinginan-keinginannya serta memperkayanya dengan pikiran-pikiran baru. Karangan yang demikian harus memenuhi syarat-syarat ditemuinya pribadi pengarang mengharukan (hal ini sangat subyektif), kepadatan setiap kata dan kalimat mengandung idee dan formulasi baru.

Di dalam kritik sastera yang formalis, maka mudah sekali menghamburkan tuduhan propaganda atau politik terhadap karangan-karangan yang bertendens kenyataan ini. Sebaliknya, membisu terhadap propaganda formalis untuk memalsukan kenyataan. Sebab seorang formalis sudah membeku dalam tafsiran, bahwa arti propaganda-propaganda adalah membongkar perimbangan-perimbangan masyarakat, menggambarkan kemenangan-kemenangan kaum buruh dan tani untuk memperbaiki kehidupannya. Sebaliknya, pembuangan perimbangan-perimbangan masyarakat dan pemutarbalikkan fakta-fakta bagi mereka bukan suatu propaganda. Oleh karena itu kritik sastera bukan henya bersyarat pengetahuan keahlian tentang sesuatu karangan yang dikritiknya, tetapi juga pengetahuan tentang perimbangan masyarakat. Dengan begini formalisme dalam kritik sastera bisa dihindarkan.

Tidak formalis dalam kritik sastera ini adalah suatu ukuran tambahan kepada ukuran-ukuran yang tadi sudah saya sebutkan.

Jədi ada persamaannya syarat-syarat untuk pengarang dan kritik sastera, sebab memang yang dua hal ini adalah satu. Syarat pertama bagi kritik sastera adalah pengakuan terhadap syarat-syarat untuk pengarang. Dan adalah spesifik kewajiban kritik sastera untuk menjaga terlaksananya dan dipenuhinya. Syarat-syarat untuk pengarang dan karangannya. Saudara Itamani salah seorang pengarang Lekra dalam karangannya “Kewajiban kritik seni” yang dimuat dalam brosur “Lekra menyambut kongres kebudayaaan” Bandung 6 s/d 11 Oktober 1951, mengajukan ukuran kritik untuk isi dan untuk bentuk. Semua yang menentang kemunduran, semua yang membantu kemajuan, yang mengembangkan persatuan nasional, adalah baik. Semua yang anti-nasional, yang menentang ilmu pengetahuan, yang menentang kepentingan-kepentingan rakyat, harus dikritik sekeras-kerasnya. Ukuran ini bukan pembatasan yang sempit, sebaliknya lautan yang luas, tetapi bukannya tak bermata-air dan tak bermuara. Untuk bentuk dinyatakannya, bahwa semua yang secara artistik lebih baik, yang mengandung elemen-elemen keindahan yang lebih kuat, adalah baik bukan pembatasan yang sempit. Kritik seni harus membuka pintu selebar-lebarnya untuk aliran seni yang bagamanapun, tetapi sedikit pun kritik seni tak boleh mengalah atau menyerah.

Kesimpulan Saudara Iramani adalah, bahwa adalah dua perpaduan ukuran inilah yang akan menentukan nilai keseluruhan sesuatu hasil ciptaan. Isi dan bentuk adalah tak dapat dipisah-pisahkan. Ia harus satu, merupakan totalitet yang harmonis. Harmonis bagi perasaan, kepentingan cita-cita rakyat. Dan kesenian kerakyatan tidak lain adalah kesenian realis.

Sampai kepada perkataan realis ini, maka tambah lagi ukuran kritik sastera, yaitu mencegah jangan sampai realisme disinonimkan dengan naturalisme pemotret, menurut istilah Gorki “kesenian kenyatan” (art of facts). Menurut Saudara Iramani realisme bukan hanya menunjukkan telunjuknya kepada “inilah yang sekarang”, tetapi juga menunjuk kepada ke akanan “ke sana kita akan pergi”.

Kritik seni berkewajiban, termasuk kritik sastera, membimbing pembaca, pendenger, penonton, ya membimbing seluruh rakyat. Agar tiap-tiap individu, menurut ucapan Profesor Ladislav Stoll, menteri kebudayaan Cekoslowakia, mengikis habis kebanggaan burjuis yang mengatakan “aku yang mempunyai”, dan agar tiap-tiap individu itu tidak hanya mengatakan “aku melihat, aku mendengar, aku mencium, aku meraba, aku merasa”, tetapi juga “aku bekerja, aku belajar, aku mengagumi, aku mencinta, aku berjuang untuk hari esok yang lebih bahagia”.

Terima kasih.

*) Pidato pada simposion Fakultas Sastera Jakarta bulan Januari 1956

Bacaan:

  1. H. B. Jassin. “Selamat tinggal tahun 1952” Majalah “Zenith” No. 2 tahun 1953.
  2. Pramoedya Ananta Toer. “Hidup dan kerja sastrawan Indonesia modern”, simposion fakultas Sastera 5-12-1954.
  3. Iramani “Kewajiban kritik seni” brosur “Lekra menyambut Kongres Kebudayaan”. Oktober 1951.

SAIDJAH DAN ADINDA

(Fragmen Skenario film)

ORANG-ORANG desa kini jalan berkelompok-kelompok meninggalkan halaman depan pendopo kewedanaan. Mereka ini tadi berkumpul di sana dipanggil pundutan untuk mendengarkan Adipati. Adipati ini tadi telah menerangkan kepada mereka, bahwa rakyat harus menyumbangkan padi hasil sawah mereka dengan alasan bahwa padi rakyat itu perlu untuk kas distrik Parang-kujang. Pemerintah sangat memerlukannya. Kalau ada rakyat yang sokongannya tidak mencukupi maka kerbonya pun bisa diambil, ataupun barang-barang lain kepunyaan rakyat itu.

Demikianlah sekarang ini orang-orang desa itu kini keluar meninggalkan halaman kewedanaan dengan perasaan kesal, tetapi pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kelihatan wajah mereka suram-suram dan muram.

Pak Saidjah, Pak Adinda dan seorang desa lain lagi sedang jalan. Di belakang mereka ada kelompok lagi. Semua mereka kelihatan suram dan muram, dan mengatakan komentar-komentar yang memaki pundutan di kabupaten tadi.

MAKIAN-MAKIAN

—Minta ampun .... Sebentar-sebentar barang-barang kita diambil ....

—masak terus-terus kurang aja ....

—Kas distik apa ...?

Tiga empat orang desa yang lagi ngomong:

OMONGAN

—Panen lagi rusak begini lagi

—Belum lagi kerja rodi ....

—Duuh ... sekarang kerbo kita tentu yang diambil ... begimana nanti kita nandur ....

—Sebentar-sebentar barang kita diambil belum lagi kerja rodi ... bisa mampus kita ....

Gerobak di depan sebuah rumah, baru sedikit berisi padi. Dari dalam rumah keluar masuk pembantu lurah dan orang desa yg punya rumah bawa padi. Lurah berdiri di luar dekat kamera. Lantas sudah beberapa lama tuan rumah berdiri depan pintunya dan bikin gerak bahwa padinya sudah habis. Lurah lantas masuk ke dalam, lantas keluar lagi membawa satu gedeng padi. yang dia lempar ke dalam gerobak. Gerobak jalan. Tuan rumah berdiri ke tempat gerobak, melihat gerobak pergi keluar gambar. Lantas keluar perempuan dari dalam rumah bawa anak nangis, tuan rumah melihat ke perempuan.

Gambar dalam rumah yang lain lagi di mana kelihatan tempat menyimpan padi di loteng. Tuan rumah dan pembantu lurah lagi turunkan padi dan bawa keluar melalui pintu yang terbuka, di mana kelihatan sebagian gerobak. Setelah habis, lurah pungut rontokan-rontokan padi di lantai, yang dibawanya keluar kegerobak.

Pemandangan di desa di mana gerobak jalan dengan padinya yang mulai penuh diikuti lurah atas kuda. Kerbo yang diambil dari rakyat diikatkan pada belakang gerobak berjalan menurut. Kusir gerobak pembantu lurah.

Serambi sebuah rumah, kelihatan sebagian. Di bagian belakang masuk ke dalam gambar gerobak. Tuan rumah yang lain keluar membawa keris. Pak Lurah masuk beeld, yang punya rumah berikan keris.

TUAN RUMAH

—Padi saya cuma sedikit .... Perlu buat makan keluarga .... Ini saja ambil (sambil serahkan keris).

Pak Saidjah. Di latar belakang Mak Saidjah yang menggendong anak dan Saidjah di sampingnya, lagi diusap-usap oleh maknya. Saidjah menangis. Kamera frontal.

Ketiga mereka tadi amprofiel dengan mak Saidjah dan Saidjah di muka. Di latar belakang gerobak masuk gambar dan lalu terus jalan menjauh dengan pada belakangnya terikat 3 kerbo. Salah satu antaranya kerbo Saidjah.

PEMANDANGAN di luar desa dengan jalan. Kelihatan di jalan itu gerobak penuh berisi padi dan 3 ekor kerbo di belakangnya. Lurah yang mengiring naik kuda.

Saidjah yang sudah besar di belakang kerbo, lagi meluku. Di latar belakangnya ada kerbo lain yang juga lagi kerjakan sawah.

Saidjah lagi meluku sawahnya dengan di latar belakang pak Saidjah yang sudah tua sedang macul bekas lukuan.

Dalam gambar ini mesti kelihatan kesukaran Saidjah dengan kerbonya yang kurang nurut, (dicambuki dan lain-lain).

Malam hari di serambi rumahnya Adinda. Berkumpul duduk martandang pemuda-pemuda desa. Ada yang main suling ada yang main kecapi.

Latar belakang kelihatan pintu yang terbuka dengan di dalam kamar kelihatan Adinda diterang lampu lagi nganyam tikar.

Lagu berhenti dan ada yang bertanya:

PEMUDA DESA (yang main kecapi)

—Ah, sekarang lagu apa lagi ni ...?

SAIDJAH

—Lagu A ....

ADINDA (dari dalam)

—... yaya ... lagu itu ....

SUARA RAME-RAME PEMUDA-PEMUDA

—Aa ... sudah cocok ni, yang dua ni ....

Yang main kecapi terus melagukan lagi tadi. Suara dari dalam Adinda yang menyanyi.

Nyanyian menjadi agak pelan dan suara menggoda anak-anak muda:

PEMUDA

—Achggggh ... tu Saidjah ... bagaimana ni ...? Tunggu lama-lama buat apa lagi ...?

Muka Saidjah setengah berfilsafat.

SAIDJAH

—Ah ... masih susah begini .... Punya kerbo, kerbo sewaan .... Bagamana kita bisa ngasil padi yang cukup ...?

PEMUDA LAIN (menggoda)

—Sabar aja ye neng di dalam ....

Adinda yang melongok ke pintu lalu melempar pintu itu. Pintu itu tertutup.

Anak-Anak muda pada kaget melihat ke pintu, cut.

Saidjah, bapaknya dan adiknya perempuan lagi nyekar di kuburan ibunya.

Tukang tongtong menyerukan kenja rodi. Desa pada malam hari.

TUKANG TONGTONG.

—Oooi ... ooi ... orang kampung .... Maklumat dari kanjeng Gubernemen .... Maklumat dari Kanjeng Adipati .... Besok ada kerja rodi ....

Mandor yang lagi menuju suatu rumah. Ia mencari orang yang tidak kerja rodi.

MANDOR

—Hei ... mana si Ujang ....

PEREMPUAN

—Tahu ... tadi dia pergi ....

Dua orang pemuda pada malam hari tergopoh-gopoh datang pada suatu rumah meminta diri karena mau lari meninggalkan Badur.

SEORANG ANAK MUDA ITU

—Mak .... Kita pergi juga .... Tidak bisa lain ....

PEREMPPUAN TUA

—Ya ... kalau begitu .... Kita yang tua-tua cuma bisa doa .... Biar selamat .... Hati-hati jaga diri .... Ini buat bekal .... (memberi bekal).

PEMANDANGAN sawah. Di latar depan Saidjah dan bapaknya. Di latar belakang, dari kampung keluar mandor dan beberapa orang yang digiring akan dibawa kerja rodi di sawahnya Adipati.

SAIDJAH

Pak ... itu mandor kemari .... Bapak ngumpet saja .... Biar saya yang menghadapi ....

Pak Saidjah lari keluar gambar.

Mandor menuju ke Saidjah. Dekat Saidjah ia berkata:

MANDOR.

—Kemarin sudah dikasi tahu ... ada kerja rodi ... di sawahnya adipati .... Mau mangkir, yaa ...? Ayoh! Ikut, sama kerbonya ....

Saidjah menurut saja.

Orang-Orang digiring masuk ke sawah Adipati. Mereka digiring seperti orang tahanan. Terdapat juga kerbo di antara mereka. Sementara itu d'sawah Adipati sudah ada beberapa orang yang bekerja.

GAMBAR melukiskan semak melati yang ada bunganya. Masuk gambar muka Adinda dan tangannya yang memetik kembang melati.

Adinda duduk di muka semak amprofiel.

Saidjah berdiri bersandar pada pohon ketapang. Adinda yang duduk bangun berdiri. Kedua mereka amprofiel.

Gambar Saidjah dan Adinda. Adinda memberikan melati kepada Saidjah.

ADINDA

—Saidjah ....

Saidjah dan Adinda kini kelihatan dalam gambar yang lebih besar (MS).

SAIDJAH

—Adinda .... Apa ini ...?

ADINDA

—Ndak ah ... pegang .... Simpan, simpan saja ....

Adinda lari. Saidjah pegang melati.

Saidjah sendirian hanya kelihatan kepala. Ia tersenyum, lalu menyelipkan melati ke dalam ikat kepalanya.

Saidjah jalan keluar beeld dengan meninggalkan pohon ketapang. Sebentar hanya pohon ketapang dengan semak melati.

Pok Saidjah dalam rumah lagi ambil buntalan dari balai-balai. Saidjah frontal melihat kebapaknya. Dan dikatanya yang perempuan di samping pak Saidjah.

PAK Saidjah.

—Sudah Saidjah ... bapak pergi sekarang .... Baik-Baik sendri ....

Saidjah ikut keluar dengan bawa semua barang-barang ini.

Pagi yang masih kelam pada subuh hari. Pak Saidjah, adik Saidjah dan Saidjah jalan dijalanan. Saidjah yang membawa semua barang. Sampai tengah gambar, mereka berhenti. Saidjah serahkan barang-barang itu pada bapaknya dan satu buntelan pada adiknya.

Pak Saidjah dan adiknya jalan terus. Saidjah tinggal berdiri memandangi mereka pergi. Ketika kedua orang sudah hilang dari gambar, Saidjah berbalik jalan pulang.

Orang-Orang yang lagi kerja rodi di kali ambil pasir.

Lukisan-lukisan kekejaman dengan mandor (insert).

Pengontrolan oleh Adipati dan Kontrolir (insert).

Di pendopo kewedanan di mana ada orang lagi didorong oleh mandor dan pembantunya. Latar belakang orang-orang desa berjongkol.

Seorang desa lagi dipukuli. Tangannya diikat.

Beberapa orang-orang desa lari lagi meninggalkan Ba-dur pada malam hari.

SAIDJAH dan Adinda di dapur rumah Adinda. Saidjah duduk bersandar amprofiel dan Adinda latar belakeng berjongkok. Saidjah berkata:

SAIDJAH

—Teman-Teman sudah banyak yang buron. Sarkawi sudah ke Krawang. Sukro ke Bogor ... Madja sama Djaja, katanya pergi ke Lampong .... Memang kalau dipikir ... ndak tahan tinggal di sini .... Sawah ndak sempat dikerjakan, karena sebentar-sebentar kerja rodi ... mana kerbo ndak punya .... Karena itu saya niat mau pergi ke Betawi ....

Adinda yang memandang Saidjah dengan wajah bertanya.

Gambar Saidjah yang lagi berkata:

SAIDJAH

—Saya nanti di Betawi mau kerja jadi kusir .... Perkara duit saya ndak mau boros. Saya mau celengi. Kalau sudah banyak, cukup buat beli kerbo barang dua, ada bekal buat kawin ... baru saya pulang.

Gambar Adinda. Kelihatan ia bertanya:

ADINDA

—Di Betawi darimana dapat kerja, kak ...?

Gambar Saidjah dengan latar belakang Adinda agak di bawah.

SAIDJAH

—Ah, itu gampang .... Orang bilang, kalau mau jadi kusir, tuan-tuan Belanda banyak yang minta .... Bayarnya banyak .... Begini deh, kapan saya pulang ... kita sudah bisa kawin ....

Gambar Adında.

ADINDA

—Kalau begitu niat kakak, biar dah .... Saya di sini mau prihatin .... Rajin-rajin nyulam ... nenun ....

Gambar Saidjah.

SAIDJAH

—Kelau saya temui kau sudah kawin ... bagaimana ...?

ADINDA

—Memangnya kita ndak pandang orang tua .... Kapan dia orang sudah mupakat .... Situ berani sumpah ndak ...?

SAIDJAH

—Pasal saya jangan kuatir. Kapan saya pulang nanti, dari kejauhan saya sudah memanggil-memanggil ....

ADINDA

—Kalau saya lagi numbuk bagaimana saya bisa dengar kakak ....

Saidjah frontal dengan dilater belakang kelihatan Adinda amprofiel.

SAIDJAH

—Benar juga .... Begini saja sudah .... Tunggui saya di pohon ketapang (diambilnya melati dari lipatan ikat kepalanya dan sambil main-main menunjukkan melati pada Adinda katanya). Ini ... yang dikasi waktu di sana, saya masih simpan-simpan ....

ADINDA

Gambar wajah Adinda yang malu ketawa.

—Tapi bagaimana tahunya kapan kakak datang ...?

Gambar Saidjah frontal dengan latar belakang kelihatan Adinda.

SAIDJAH

—... yaah ... tapi begini ... saya pergi kira-kira tiga tahun. Tandai di lesung saban ada bulan baru .... Hitungi ... kapan sudah 3 X 12 bulan, itu sudah pol tiga tahun. Na .... Pagi besoknya kakak sudah pasti ada di pohon ketapang ....

ADINDA

—Kalau begitu, Adinda juga sumpah .... Adinda ndak bakal nyalahi janji ....

Gambar Saidjah yang terharu.

Saidjah mengambil ikat kepalanya dan menyobek dua kain itu, lalu berikan satu bagian pada Adinda.

Pemandangan desa pada malam hari.

Dinding rumah Adinda malam hari yang diketok oleh Saidjah. Sambil berseru: “Pak ...Pak ....”

Dari dalam suara pak Adinda: “Siapa ....”

Pintu lantas terbuka, dan muncul bapak Adinda dan Adinda. Bapak: “Mau pergi sekarang?”

Saidjah mengangguk.

Bapak Adinda: “Ialah, kalau begitu ... biar selamat ... jaga diri ...”

Adinda mengulurkan sebuah buntelan kecil yang terus diterima Saidjah. Saidjah lalu pergi.

Saidjah sedang berdiri depan pohon ketapang. Duduk sebentar di sana pegang semak melati. Berpaling ke pohon ketapang, melihat taikan pada pohon ketapang dan dipegang-pegangnya, lalu melanjutkan perjalanannya.

Saidjah berjalan memanjat bukit pada malam hari. Latar belakang langt yang menjelang subuh. kelihatan garis pagi.

Pemandangan jlan di tepi sawah. Saidjah lagi jalan. Jalannya jalan kecil, bukan jalan umum. Saidjah jalan menuju kamera. Kelihatan ia mulai lesu.

Saidjah. Kedengaran sajak diucapkan sebagai latar belakang. Suaranya suara Saidjah sendiri, tetapi pada gambar Saidjah tidak kelihatan mengucapkannya. Hanya menggambarkan suasana pikirannya.

Di mana gerangan aku akan meninggal ....

Saidjah masih terus berjalan. Sajak terus kedengaran:

Di lautan luas di pesisir selatan.

Di mana dulu ayah dan aku menguap garam ....

Gambar Saidjah.

Di laut barangkali aku mati ...?

Gambar Saidjah.

Ataukah ... dalam api ....

....

ataukah ...

Seperti si Unah-cilik yang jatuh dari pohon kelapa ...?

Saidjah jalan dalam alam pemandangan yang luas. Wajah Saidjah, sajak terus.

Jika demikian kumati

Mayatku akan terlentang

....

Tapi tak ada air mata ibu ....

Ibuku tak ada lagi ....

Saidjah jalan menjauh membelakang kamera, lalu duduk.

Gambar Saidjah duduk. Sajak terus.

Tapi jika di Badur kumati ....

Wajah Saidjah.

Mayatku akan dikubur jauh di luar desa Di wetan lereng bukit, di mana rumput subur meninggi .... Adinda akan lalu berjalan atasnya Tepi sarong. Adinda menepis sayang. Rumput-rumputku akan dibelainya ....

Saidjah sehabis ini, duduk seketika lamanya lantas berkata:

SAIDJAH

—Yah ... itu akan kudengar ....

Lalu ia berdiri dengan segera dan meneruskan jalannya.

Gambar Saidjah jalan menjauhi kamera dengan pemandangan yang jauh dan di latar belakang kelihatan sudah banyak rumah. Rumah-rumah itu rumah-rumah Betawi (Jakarta).


TANDA TANGAN PERDAMAIAN

Ada bayi di bawah jantungku
Meminta hidup, tawa—dan cinta
Merindukan langit membentang biru
Dan menatap mekar bunga musim semi.
Merenungkan malam langit berbintang
Dan tidur dengan teman, di bukit—lembah
Mengenal hidup bertubur suka-derita
Dan caya hangat mata bercinta.
Rapuh masih anakku dalam kandungan
Tangannya kecil tidak bisa bicara;
Lemah menentang orang yang mencari
Tammat hidup dengan bom yang gempita.
Dia miskin suara juru selamat engkau aku.
Sedang setiap malam anti aman tiada henti.
Kepadaku dia berkata: inginkan perdamaian.
Begitulah 'ku ambil pena dan tanda tangan.

LEN FOX

diterjemahkan untuk SVETLANA oleh Klara Akustia


PARTAI DAN PENYAIR

Ke dalam mataku Partai menyalakan caya.
Padaku terhapus seakan untuk abadi
kebenaran yang sederhana: Merah itu darahku
dan bagi Perancis hatiku berdetik. Hanya malam yang kulihat.
Ke dalam mataku Partai menyalakan cana.
Kepadaku Partai mengembalikan cinta cerita.
Jeanne d'Arc menenun untukku dan kudengar terompet Roland
zaman pahawan dilahirkan di dada Vercors
turun naik kata-kata cambukan pedang.
Kepadaku Partai mengembalikan cinta cerita.
Kepadaku Partai mengembalikan pesta warna Perancis.
Partai, guruku, terima terimakasihku!
sejak itu segala untukku jadi nyanyian
marah dan cinta, keindahan dan kekuatan.
Kepadaku Partai mengembalikan pesta warna Perancis.

LOUIS ARAGON

terjemahan Klara Akusia


KAMI ADA DI 20 MEI

kepada Michael Karaolis



adalah cerita besar di bumi pada
mei semi dan matahari.
malamnya sepi penjara, bila nyawa
kalah tak juga cinta ada putusnya.
seberapa jauh jarak dijulurkan—kerja
adalah hati kemanusiaan dan merdeka nyanyi kami
kembang melodi dalam
taufan asia-afrika, nada-nadanya angin di pantai siprus
meraba hati kami di malam-malam sebelum tidur,
hijau daun dari jendela nyanyi pula lagunya
anak-anak di pelataran; merenungkan michael digantung
pada umurnya yang kedua puluh tiga.
dia belum punya anak, tapi dia hendaki anak-anak siprus
bebas bermain, gadis dan yang muda bisa tumbuhkan
kembang-kembang dirinya di dalam hidup.
betapa sakitnya di bumi ini, tapi betapa pula
kebesaran dan keindahan yang dia tinggalkan kepada kami,
wangi-wangi arumdalu, wangi-wangi melati.
bila bisa kutaburkan di kubur michael.
malam sebelum tidur kami ingat kisah
kepahlawanan dan pertawanan dalam derita
miskin pula menjebak di desa-desa dan perkampungan,
tapi mimpi kami kegairahan, senyum egom
di kamar siksa dan matinya digantung pula—
nanti bila pohon randu pada kembang malam dingin
kehangatan telah kembang di hati kami, sampai,
sampailah buah randunya pecah-pecah.
Mei akan pergi akan datang tapi
adalah cerita besar di bumi, yang tak pergi-pergi lagi—
semula hanya bisik angin rendah meninggal
di gunung-gunung berkobar dan
meraba hati di malam-malam sebelum tidur,
sehalus-halus mimpi kemerdekaan dan kemanusiaan.
bila pohon randu kembang-kembang malam dingin
mei akan datang akan pergi
di hati kami tertinggal semi dan matahari.

S. Anantaguna


PROF. DR. A. TEEUW TENTANG LEKRA

Mula Aoh K. Hadimadja memasukkannya, ke dalam persoalan Angkatan 45, dalam bukunya, “Beberapa paham Angkatan 45” (1952). Aoh tidak sampai membuat satu analisa-pandangan tentang apakah Lekra, selain dari memasukkan pandangan Klara Akustia dan pidato-preadpis Bakri Siregar, “Fungsi Tugas Kesusasteraan Indonesia” dan polemiknya dengan Bakri Siregar. Baik dicatat, bahwa pokok persoalan polemik bukanlah konsepsi Lekra, “Seni untuk Rakyat”, tapi ... Chairil Anwar dengan Nietzsche. Demikian juga pidato Bakri Siregar terlampau umum, dan sayang sekali tulisan Bakri Siregar, “Mengapa Seni untuk Rakyat”, yang lebih menjalankan soal justru tidak dimuat dalam buku itu.

Kemudian H. B. Jassin dalam bukunya “Kesusasteraan Indonesia modern dalam kritik dan essay” (1954) dalam karangannya, “Gema Tanah Air” menyatakan Lekra sebagai satu golongan baru. Karangan H. B. Jassin ini adalah kata-pendahuluan untuk bunga rampai, “Gema Tanah Air” cetakan ketiga, yang dimasukkan ke dalam kumpulan kritik dan essay H. B. Jassin. Pada kata pendahuluan, “Gema Tanah Air” cetakan kesatu Lekra tidak disebut, sedang keterangan pada kulit buku adalah prosa dan puisi 1942—1948. “Gema Tanah Air” cetakan kedua mengalami pemangkasan, meskipun masih tetap antara 1942—1948. Batas 1948 pada cetakan ketiga rupanya dihapuskan, dan dengan ini ... Lekra bisa masuk.

Keterangan H. B. Jassin yang hampir satu halaman mengenai Lekra dengan keterangan satu golongan baru timbul dengan berdirinya Kebudayaan Rakyat di Jakarata tanggal 17 Agustus 1950, disingkatkan jadi Lekra, memberikan kesan-kesimpulan, bahwa H. B. Jassin menganggap, bahwa golongan baru (Lekra) ini golongan sesudah Angkatan 45, sedang dalam surat-suratnya kepada Aoh (dimuat oleh Aoh dalam “Beberapa paham Angkatan 45”), yang juga sebagian besar merupakan replik terhadap Klara Akustia, dia lebih suka bicara tentang orang-orang Lekra (antaranya M. S. Azhar, Boejoeng Saleh dan Bakri Siregar yang juga menulis di “Mimbar Indonesia” dan “Siasat”!) sebagai pelaksanaan dari “Bhinneka Tunggal Ika” dalam Angkatan 45. Apakah ini karena kekaburan interpretasi tentang Angkatan 45, ataukah merupakan pengakuan Lekra sebagai kenyataan lain dari golongan “Gelanggang”, yang menurut interpretasi Jassin (via pleidooinya “Angkatan 45”) identik dengan Angkatan 45? Atau dalam suratnya kepada Aoh yang bersipat semi-polemis itu Jassin maju ke gelanggang dengan satu siasat tidak menghadapi Lekra, tapi semata-mata menghadapi Klara Akustia?

Dalam pada itu Prof. Dr. A. Teeuw dalam bukunya “Pokok dan Tokoh dalam kesusasteraan Indonesia Baru”, yang dalam cetakan pertama dan kedua sama sekali tidak bicara tentang Lekra, dalam cetakan ketiga telah memberikan lebih dari 7 halaman dari bukunya untuk Lekra. Meskipun dalam halaman nama buku sesudah buku Teeuw ini dibagi menjadi 2 jilid ada dicantumkan keterangan “kesusasteraan setelah 1942”, tetapi kenyataannya seluruh jilid II dalam uraiannya membicarakan semata-mata kesusasteraan Angkatan 45, termasuk Lekra.

Juga pada Teeuw bisa dikemukakan pertanyaan yang sudah dikemukakan pada Jassin, meskipun tentang Jassin harus dicatat, bahwa “Gema Tanah Air”-nya pertama kali keluar tahun 1949, jadi sebelum Lekra timbul, sedang “Pokok dan Tokok”-nya Teeuw sesudah Lekra timbul. Dan beda dengan Jassin yang menamakan Lekra suatu golongan baru, Teeuw melihat Lekra sebagai gejala tidak homogennya sipat Angkatan 45. Dalam hal ini rupanya Teeuw sepakat dengan Aoh, yang seperti ternyata tidak pernah bikin analisa-pendapat tentang apakah Lekra, tapi memasukkan karangan-karangan orang Lekra dan autoriteit Jassin dalam bukunya “Beberapa paham Angkatan 45”.

Persoalan sebab tidak adanya Jassin dan Teeuw mula-mula bicara tentang Lekra jelas beda, meskipun seperti dinyatakan di atas, pertanyaan yang sama bisa diajukan. Kalau kita terima interpretasi Jassin Angkatan 45 identik dengan golongan “Gelanggang”, dengan sendirinya golongan Lekra memang golongan baru. Tapi jelas, bahwa penamaan bergara-gara Jassin, “Bhinneka tunggal ika” dalam suratnya kepada Aoh, yang kemudian menjadi pegangan Aoh sendiri, yang kemudian ternyata juga menjadi pendapat Teeuw, tidak lebih dan tidak kurang hanya merupakan siasat Jassin menghadapi lawan. Kenyataan, bahwa pleidooi Angkatan 45 tetap menjadi pegangan Jassin dalam “Gema Tanah Air”-nya cetakan ketiga—meskipun dalam temperamen yang berlainan—membenarkan kesimpulan ini.

Bagaimana dengan Teeuw?

Pada kata pengantar cetakan ketiga, yang dimuat dalam jilid I, tapi yang (dianjurkan dan) dinyatakan juga berlaku untuk jilid II, Teeuw bicara tentang perkunjungan ke Indonesia. Yang dimaksud adalah datangnya Teeuw menghadiri Kongres Bahasa Indonesia di Medan (bersama Prof. Dr. C. C. Berg) atas undangan Pemerintah Republik Indonesia. Dalam kesempatan perkunjungan inilah Teeuw rupanya mendapat beberapa bahan baru, yang memungkinkan dia menulis 7 halaman lebih tentang Lekra, yang sebagian didapatnya dari publikasi akhir serta majalah “Indonesia” dan perkenalan sepintas lalu dengan kalangan orang-orang Lekra di Medan.

Kita sukar menerima, bahwa usaha-usaha Lekra di Medan itu melebihi usaha-usaha Lekra di tempat-tempat lain di Indonesia ini. Karena itu sukar kita membuang kesan, bahwa Prof. Dr. A. Teeuw selama itu, sebelum perkunjungan kilatnya ke Indonesia itu, tidak atau belum mengikuti perkembangan Lekra, kecuali dari bahan-bahan bukan-Lekra, yang membuat dia tidak bicara tentang Lekra.

Karena itu pula tidak mengherankan, kalau dalam mengemukakan hasil-hasil Lekra Teeuw, kecuali bahan-bahan buku-Lekra, cuma bisa mengemukakan harian “Pendorong” yang baru kira-kira 2 tahun menjadi ruangan orang-orang lekra di Medan. Dalam hal ini Teeuw nyata ketinggalan dari Jassin, yang sudah lebih dahulu mengikuti dari Harian Rakyat di Jakarta, majalah Zaman Baru dan Demokrasi di Surabaya, dan harian Kerakyatan Medan, yang ketika ini sudah mati. Pada kok dan menentukan bagi Teeuw waktu itu, malah harian “Pendorong” yang merupakan bahan posama sekali belum lahir.

Sayang sekali harus dikemukakan, bahwa kita tidak berhasil mendapat karangan Prof. Dr. A. Teeuw dalam bahasa aslinya, karena terjemahan yang diselenggarakan oleh Angku Raihul Amar gelar Datuk Besar ini tidak meyakinkan kita, oleh karena susunan kalimat yang samar-samar artinya.

Sepanjang pengetahuan kita Lekra dalam konsepsinya, yang di dahului oleh suatu “Mukaddimah” sama sekali tidak ada menyebut istilah “komunis” atau “marxis”. Titik pokok adalah pada semboyan “Seni untuk Rakyat”. Seperti kita katakan, Aoh ada memuat beberapa karangan tentang ini.

Dalam pada itu H. B. Jassin dalam karangannya, yang telah kita sebut lebih dahulu, memberikan keterangan, bahwa Lembaga Kebudayaan Rakyat ialah gerakan apa yang di luar negeri disebut “progressive writers”, lebih tegas lagi Jassin berkata pengarang-pengarang yang mempunyai ideologi marxistis dan dalam seni menganut realisme sosialis.

Apa kata Teeuw?

Tepat dalam bagian keterangan ini kita menghadapi kalimat yang menurut kita sendiri tidak betul, dia disebut penamaan social-realisme(?), dan meskipun Teeuw tidak terlalu mendapat kepastian dengan cap komunis, yang selalu dipakai oleh orang-orang bukan-Lekra, Teeuw sendiri dengan membaca tulisan Klara Akustia sukar mencari nama lain (hal. 22). Rupa-rupanya tulisan-tulisan lain yang memberikan dia tidak kepastian itu.

Tentang konsepsi Lekra itu sendiri, antara lain melalui mulut Bakri Siregar, Teeuw berpendapat, bahwa hal itu mudah disebut daripada dilakukan. (hal. 25).

Kita tidak menyalahkan pendapat Teeuw, tetapi kita ingin mencari alasan Teeuw yang merasa perlu menyatakan ucapan ini, yang memang tepat sekali, sekiranya konsepsi Lekra itu semata-mata rencana-program di atas kertas belaka. Tapi kalau satu a dua halaman sesudah itu Teeuw bicara tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh orang Lekra dengan macam-macam cara, yang diakui oleh Teeuw sendiri penting untuk memperhadapkan seni dengan rakyat (hal. 26), kita merasa ucapan Teeuw ini adalah ucapan yang dilontarkan begitu saja, asal saja.

Apalagi Teeuw mengaku, tidak banyak yang dilihatnya itu (hal. 25), sesuai dengan keterangan pada karangan yang lalu.

Dalam pada itu menarik hati kita munculnya pendapat Boejoeng Saleh berkali-kali, yang seakan-akan dikonprontasikan dengan orang Lekra seorang-seorang. Sumbernya adalah karangan Boejoeng Saleh, “Ke arah seni berisi” dalam majalah “Indonesia” no. 6/7 tahun 1953. Tetapi satu demi satu konprontasi ini tidak ada yang mengemukakan pertentangan visi, meskipun cara dan gaya mungkin berlainan. Pada golongan Angkatan 45 a la Jassin dikemukakan gaya yang sama, tapi visi yang mungkin berlainan, yang menurut Teeuw kurang jelas dan tak homogin sifatnya (hal. 21).

Konprontasi Boejoeng Saleh dengan seorang demi seorang tadi tidak sampai mengemukakan perentangan visi, kata kita, karena Teeuw sendiri mengakui kemungkinan adanya bermacam-macam perbedaan dalam golongan ini, hal yang sama sekali tidak perlu lama-lama kita pikirkan, karena yang perlu adalah apa yang pada pihak Lekra dipandang sebagai tugas dan kaidah kesusasteraan (hal. 22).

Tugas dan kaidah kesusasteraan Lekra ini rasanya sudah cukup terang dan jelas, sebagai diakui oleh Teeuw sendiri dalam karangannya itu. (hal. 23).

Bahwa namun demikian cita-cita Lekra tidak juga amat meyakinkan Teeuw (hal. 23) juga, adalah hak Prof. Di. Teeuw yang sama sekali direlakan dan tak akan diganggu-gugat oleh “orang-orang Lekra”.

★

Dari kalangan Lekra, yang dikemukakan oleh Prof. Dr. A. Teeuw kita sebut Boejoeng Saleh, Jogaswara, Klara Akusia, Bakri Siregar, Hr. Bandaharo, Bachtiar Siagian, A. S. Dharta, M. S. Ashar, Agam Wispi, dan ... dengan tidak diketahui sendiri oleh Teeuw: S. Rukiah, yang sebuah hasilnya dinyatatakannya sebagai terbitan yang penting antara siaran-siaran dari pihak wanita dalam tahun-tahun yang akhir (hal. 153).

Boejoeng Saleh di sini diwakili oleh pidato-ceramahnya yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Sastera, 5 Desember 1953, “Latar belakang kemasyarakatan Kesusasteraan Indonesia”, dan “Ke arah seni berisi” yang sudah disebut lebih dahulu. Sebagai sudah dikatakan dia dikonprontir dengan orang-orang Lekra sendiri. Pertama-tama dengan ucapan Bakri Siregar, yang dianggap oleh Teeuw merupakan bahaya, bahwa seniman itu akan segera juga melepaskan funksinya sebagai sasterawan (hal. 25), yang telah diperingatkan oleh Boejoeng Saleh. Kemudian utilitarisme, yang dilihat oleh Teeuw dalam lakon “Lorong Belakang” Bachtlar Siagian, yang nyata, menurut Teeuw, bertentangan dengan apa yang disyaratkan Boejoeng Saleh kepada para seniman (hal. 26). Seperti telah kita katakan, antara Boejoeng Saleh dengan Bakri Siregar dan Bachtiar Siagian, kita tidak menangkap ada perbedaan visi konsepsi, malah dia bisa penuh memenuhi dengan perbedaan-perbedaan cara pengutiapan dan pelaksanaannya, yang tidak sama pengemukaan dan tarapnya.

Bahwa Boejoeng Saleh kemudian dikonprontasikan dengan Takdir Alisjahbana, adalah hal yang di luar rangka pembicaraan ini.

Sanjak-Sanjak Boejoeng dinyatakan oleh Teeuw tidak meyakinkan (hal. 25).

Tiga nama yang disebut oleh Teeuw dan dianggap sebagai tiga orang, ialah: Jogaswara, Klara Akustia dan A. S. Dharta. Dari ketiga nama ini paling banyak dibicarakan Klara Akustia, yang diwakili oleh essaynya “Kepada seniman universal” dan “Kita adalah anak zaman kini”, dengan sekali lagi menyiter ucapan komunisnya dan sanjak-sanjaknya yang menurut Teeuw tidak meyakinkan.

Jogaswara dibicarakan dengan “Angkatan 45 sudah mampus”-nya sedang tentang A. S. Dharta dinyatakan tak ada kesan karena kurang bahan (hal. 25).

Sepanjang pengetahuan kita nama Jogaswara sudah “mampus” dengan tulisannya “Anqkatan 45 sudah mampus”. Dan kalau kita ketahui, bahwa ketiga nama itu adalah punya satu orang, ada hal yang bagi Teeuw mestinya menjadi lebih jelas lagi.

Nama yang banyak pula disebut Teeuw adalah Bakri Siregar, yang banyak sekali diwakili. Konprontasi dengan Boejoeng Saleh rasanya tidak perlu dilakukan oleh Teeuw, kalau dia pernah membaca esai-esai Bakri Siregar lain dari yang dimuat oleh Aoh dalam “Beberapa paham Angkatan 45”-nya dan bahan-bahan yang didapatnya dalam perkunjungan kilatnya ke Indonesia. Kita sebut saja antaranya “Mengapa seni untuk Rakyat”, yang kita sayangkan tidak sempat dimuat oleh Aoh.

Kumpulan cerita pendek, “Jejak Langkah” bukan menjadi ukuran Bakri Siregar—Teeuw sendiri tahu, bahwa dia ditulis dalam masa muda pengarangnya, antara 1942—1945, sedang pengarangnya lahir akir tahun 1922—tapi sekurang-kurangnya bisa memberikan keterangan tentang jejak pengarangnya sampai kepada konsepsi Lekra, yang kenyataannya menurut Teeuw sendiri tidak hanya terbatas pada teori dan program. Akirnya Teeuw ada menyebut drama-drama sosialnya, yang sayang tidak ada dibacanya, dan usaha pendidikan rakyat. Tentu saja dalam hubungan Aoh nama orang Lekra yang di Medan ini tidak dilupakannya.

Satu tokoh Medan lain ialah Hr. Bandaharo. Meskipun pendapat Teeuw yang menyatakan, bahwa sanjak-sanjak Hr. Bandaharo amat lemah dan kurang meyakinkan adalah pendapat subyektip yang souverein yang selayaknya kita hargai, kita tidak luput dari kesan, bahwa bahan-bahan tentang Bandaharo yang terbatas sekali, yang seperti majalah dan harian, “Pendorong” yang didapat Teeuw dari satu dua diakui Teeuw sendiri dalam bagian lain dari bukunya dalam membicarakan Pramoedya berdasarkan cerita-cerita di sana-sini mungkin membuat kekeliruan yang amat menyedihkan, sebab di samping cerita-cerita yang utama ada pula dia menyiarkan bacaan yang tidak berharga benar (hal. 53—54). Dan kalau Teeuw bisa menyebut, “Jejak Langkah” untuk Bakri Siregar rasanya penyebutan, “Sarinah dan Aku” Hr. Bandaharo memberikan penjelasan yang baik.

Apa yang kita hargai dari Teeuw ialah, bahwa dia tidak terlampau buru-buru melontarkan penyamaan Bandaharo dengan Herman Gorter, yang dengan enaknya dicaplok oleh W. A. Braasem dalam “Moderne Indonesia Literatuur” dan “Agenda Seni Sastera” yang diusahakan oleh Kementerian P. P. dan K.

Bachtiar Siagian dengan “Lorong Belakang”-nya sudah dikonprontasikan dengan Boejoeng Saleh tentang bahaya utilitarisme. Suatu bahaya yang juga kita rasa sendiri, tapi yang juga tidak pernah luput dari diskusi kalangan Lekra. Bisa dimengerti, kalau lakon Bachtiar Siagian 4 tahun sesudah itu, “Antara Kasih” (1954) dianggap oleh Teeuw lebih berhasil dan lebih positif.

M. S. Azhar ada disebut, meskipun sama sekali tidak dibicarakan, sedang Agam Wispi ada dua kali disebut, sekali dalam bagian puisi, sekali lagi dalam bagian cerita pendek, yang sementara dianggap Teeuw baik didiamkan saja.

Tapi seperti dikatakan di atas Teeuw sama sekali tidak menduga, bahwa juga S. Rukiah adalah orang Lekra, yang diberikannya tempat kira-kira 4 halaman tersendiri.

“Kejatuhan dan hati” sudah dinyatakan penting, meskipun dalam “Tandus” dia tidak terlalu menghargai S. Rukiah sebagai peryair, yang kita anggap tidak akan menjadi desavouage untuk para anggota juri B. M. K. N., yang mengangkat “Tandus” sebagai kumpulan puisi terbaik, karena sebagai diketahui B. M. K. N. tidaklah memberikan hadiah untuk kumpulan puisi terbaik dalam sastera Indonesia, tapi kumpulan puisi terbaik yang diterbitkan pada tahun 1952.

Kehati-hatian Teeuw yang sering terlalu menonjol, adalah dalam kalimat-kalimat seperti pengarangnya dapat melukiskan konflik itu bukan tidak secara meresapkan dan meyakinkan (hal. 155).

Meskipun dalam novel “Kejatuhan dan hati” S. Rukiah terang-terangan bicara tentang konsekwensi yang seradikal-radikalnya dari perjuangan gerilya, peperangan, komunisme, perceraian dengan segala yang bernama konvensi, upacara dan burjuis (hal. 155), Teeuw di sini tidak melihat bahaya, yang ada dilihatnya pada orang-orang Lekra.

Apakah dengan mengetahui bahwa S. Rukiah adalah orang Lekra, penghargaannya pada S. Rukiah akan lebih turun, atau penghargaannya pada Lekra lebih naik?

Sambil lalu kita catat, bahwa S. Rukiah adalah juga satu tokoh yang tidak dilupakannya dalam ceramahnya “Penghargaan dunia terhadap kesusasteraan Indonesia” dalam perkunjungan kilatnya.

Dengan membicarakan ini semua, kita gembira, bahwa Prof. Dr. A. Teeuw bisa keluar dari gelanggang filologinya semata-mata meskipun bukan tidak dengan purbasangka dan ke-takut-takutan yang bukan tidak bisa dipertanggung-jawabkannya sendiri, tapi yang baiknya layak disingkirkan, untuk mendapatkan pandangan yang wajar dalam sastera Indonesia.

Bersama dengan Teeuw kita mengharap Lekra bisa lekas berbuat jasa untuk sastera Indonesia, dengan mengeluarkan bunga rampai prosa dan puisi dari golongan aliran ini.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.