ZAMAN BARU
No. 2 · Februari 1955
Kolofon
Berdasarkan arsip dari: Makaru Makara
ZAMAN BARU
No. 2 · Februari 1955
Redaksi:
RIVAI APIN - A.S. DHARTA
Alamat Redaksi:
Jl. Dr. WAHIDIN 10, Jakarta
Administrasi:
Pintu Besar 93, Jakarta
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
Pracerita
Melawan Perang Atom
PERANG atom! Apa yang lebih menggerikan, apa yang lebih tak berperikemanusiaan, apa yang lebih biadab daripada ini? Dalam abad kita, abad kedua-puluh, abad di mana umatmanusia berada di tingkat peradabannya yang tinggi, sukar dibayangkan bahwa fikiran tak berperikemanusiaan seperti merencankan perang atom, dianut oleh manusia. Yang sesungguhnya? Suak dibayangkan—tetapi ada di dalam keyataaan!
Pernahkah saudara dengan putusan NATO beberapa waktu yang lalu, yang kecuai menerima Jeraman yang dipersenjatai kembali sebagai salah satu anggotanya. juga berspakat untuk memperkenankan dilantarkanannya perang atom? Rupa-Rupanya agar petualangan ini tak begitu kentara, maka NATO menyelubunginya dengan istilah penggunaan senjata-senjata atom “taktis”.
Senjata “taktis”? Tidak lain daripada suratkabar konservatif Perancis “le Monde” yang memperingatkan: “Perbedaan antara senjata-senjata taktis dan senjata-senjata strategis tidaklah lain daripada pokrol-pokrolan.”
Kemudian “le Monde” menulis: “Kalau ada putusan ‘taktis’, maka inilah dia: ia akan menyebabkan matiniya 3000 serdadu, tetapi sebuah kota yang berpenduduk 50.000 orang akan lenyap dari peta.” “Singkatnya,” kata ahli fisika atom, pemenang Hadiah Nobel dan Presiden Dewan Perdamaian Dunia, profesor Frederic Yoliot-Curie, “putusan NATO baru-baru ini adalah langkah terakhir dalam persiapan untuk melantarkan perang atom, persiapan yang di-dalamnya mengandung—dan saya tekankan kata-kata saya ini—kemungkinan hancurnya umatmanusia.” “Massaalazya,” kata profesor Yoliot-Curie lebih lanjut, “bukanya massalah tingkat—jendral staf, menteri atau peresmuan menteri-menteri, dengan atau tanpa veto—di mana akan diputuskan perang atom. Massalahnya ialah: mauakah umatmanusia menerima puting dan penghancuran, kematiain be-ratus-ratus juta macluk, penderitaan mereka yang tinggal, dan kemungkinan kalahitan macluk-macluk ccad, dan bahkan kemungkinan hancurnya semua kehidupan di atas planit kita?”
Ada fihak-fihak yang merezenkkan akibat-akibat perang atom ini, hanya karena mereka fanatik akan sesuatu maksud: mencegah kemerdekaan bangsa-bangsa, mencegah tiap-tiap perubahan sosial, atau yang sering sekali diberi bentuk melawan komunisme. Tetapi kalau sesuatu bangsa merubah dirinya dari dijajah menjadi mer-deka, kalau sesuatu bangsa merubah nasib sosialinya, kalau sesuatu bangsa memilih komunisme Sekalipun mengapa kita harus hancur ber-sama-sama? Mengapa tidak kita pilih hidup berdampingan, dengan meng-hormati kedaulatan tiap-tiap bangsa untuk memilih su-
sunan sosial negerinya sendiri-sendiri? Pilih lebur bersama daripada hidup bersama?
Anggota Parlemen Perancis, Yules Mokh, harus kita benarkan kalau demikian, ketika beliau mengatakan: “Kegilaan manusia”!
Perang dunia yang lalu membuat kita tidak hanya mengenal Maidanek dan Auskhwitz. petang dunia yang lalu membuat kita juga mengenal Hiroshima dan Nagasaki. Kurang kejam?
Sebagaimana ditegaskan oleh Komite Perdamaian Indonesia: “dijatuhkannya dua buah atom saja di Hiroshima dan Nagasaki 10 tahun yang lalu mengakibatkan kemusnahan, padahal itu belum merupakan perang atom.”
Literatur zaman kita harus menyatati nama-nama Hiroshima dan Nagasaki identik dengan keengerian, kebengisan, kekejaman, kejahatan, kebidadaban, ya, kebinatanang! “Binatang-Binatang sudah menjadi gila,” tulis Yean Paul-Sartre. Apakah kita mesti berpacu untuk secepat mungkin melampauin bintang-bintang dalam keren-dahan dan kebidadabannya?
Stop! Kita mesti menyerukan “stop!” kepada kegilan manusia mempersiapkan perang atom. Perang sonder atom sudah cukup biadab,—sekarang mau perang dengan atom? Dan kita bisa, kita akan menstop persiapan perang atom ini, hanya diyika kita menyatuk kepalan kita, hati kita, sebagai peringatan kepada mereka yang sudah menjadi gila: bahwa mereka ti dakan menhantuyukan umat manusia, karena jumlah kita terlalu banyak! Kekuatan kita terlalu besar!
Jalan penyatuan kepalan dan hati ini? Kita menjumpai tandatangan-tandatangan prof. Frederic Yoliot-Curie dari Perancis, ir. Abdul Rahman Bou-khama dari Aljazairah, profesor Kaoru Yasui dari Jepang, profesor Leopold Infeld dari Polandia, anggota parlemen dan bekas menteri Riccardo Lombardi dari Italia, pendeta Ragnar Forbeck dari Norwegia, penyair Nazim Hikmet dari Turki, pengarang Ilya Ehrenburg dari Sovyet Uni, profesor Heinrikh Brandweiner dari Austria, pendeta Endicott dari Kanada, cineast Yoris Ivens dari Nederland, profesor Kuo Mo-yo dari Tiongkok, pengarang Pandit Sunderlal dari India,—tandatangan-tandatangan mereka ini kita jumpai di bawah “Appel contre la preparation de la guerre atomique”, “Seruan menentang persiapan perang atom”. Di Wina pada hari 19 Januari y.b.l. Seruan ini mereka tandatangan. Juga wakil-wakil Indonesia, Suroso dan Ibrahim Isa dari Komite Perdamaian Indonesia menaruhkan tandatangannya ketika itu, juga tokoh-tokoh yang pernah berkunjung kemari. a.I. ny. Monica Felton dan Ivor Montagu, ke-dua-duanya pengarang, ke-dua-duanya dari Inggris.
“Beberapa Pemerintah”, demikian Seruan itu, “se-oung ber-slap-slap untuk melancarkan perang atom. Mer-eka mencoba agar rakyat menerima sebagai sesua-tu yang tidak dapat dielakkan.” “Digunakannya senjata-senjata atom akan brakhit pada suatu peperangan pembinasaan.” “Kami menyatakan, bahwa Pemerintah mana pun yang melancarkan perang atom akan kehilangan ke-pertiyakaan rakyatnya sendiri dan akan dikutuk oleh rak-yat seluruh dunia.” “Sekarang dan di masa yang akan datang kami akan menentang siapa saja yang mengusahakan perang atom.” “Kami menuntut agar semua persediaan senjata atom dinama pun juga tempatnya dihancurkan dan agar pembuatannya se-lekas-lekasnya dihentikan.”
Tetapi benarkah kita di Indonesia pun berkepen-tingan langsung melawan persiapan perang atom? “Pangkal-Pangkalan perang yang telah melingkari seluruh dunia dan telah menyatuh wilayah kita dibebberapa tempat, tidak memberi kemungkinan kepada bangsa dan tanahair Indonesia untuk menghindarkan diri dari akibat-akibat senjata atom jika perang sampai me-ledak.” demikian diterangkan oleh Komite Perdamaian Indonesia. Sesungguhnya! Kalau saudara habis membata ini, menit-menit akan berlalu, jam-jam akan berlalu. Tetapi jangan lewatkan waktu! Sekarang juga: taruhkan tandatangan saudara di bawah Seruan Wina ini, sebarkan teksna kesanak-saudara, ke-tetangga-tetangga dan handai-taulan, jelaskan isi dan maknanya, dan ajak mereka bersama-bersama memberikan tandatangan. Hanya tandatangan? Bukan “hanya”, saudara! Dulu, ketika dimulai petisyonemen menyerukan diadakaanya konferensi Lima Negara Besar, ada pula fihak yang berkata: ah, hanya tandatangan. Kebimbangan ini sepintas lalu beralasan—ya, bagaimana Amerika yang kapitalis dan Soviet Uni yang sosialis diminta berunding disepat satu meja! Tetapi apa kenyataannya?
Sesudah lebih dari 600.000.000 tandatangan ter-kumpul, Lima Negara Besar terpaksa berkumpul disepat satu meja. Dan sukses! Saudara bukankah belum lupa akan gencatan senjata di Indocina? Juga tandatangan kita hari ini akan memaksu semua fihak yang mempunyai senjata atom untuk tidak menggunakannya untuk peperangan. Ini mung-kin, dan ini akan! Hanya sedikit yang diminta kita sumbangan: tandatangan. Tetapi dengan tandatangan, kita akan menentukan jalan sejarah!
Iramani.
Persahabatan Indonesia-India
SETIAP orang yang tulus ikhlas dewasa ini sudah tidak bisa mengingkari kebenaran, bahwa persahabatan antara bangsa-bangsa adalah salah satu cara yang terpenting untuk memelihara perdamaian, memelihara dunia dari kehancuran.
Di mana-Di mana perkumpulan-perkumpulan persahabatan antara dua bangsa didirikan, seperti Inggris-USSR, Perancis-URSS, Nederland-Polandia, Indonesia-RRT, India-RRT, dan banyak lagi.
Persahabatan antara bangsa Indonesia dan India juga mempunyai satu perkumpulan yang disebut perkumpulan Indonesia-India, yang tiorakna merupakaan persahabatan keilmuan, kerjasama antara dunia ilmu Indonesia dan dunia ilmu India. Ketuanya ialah Prof. Dr. Purbacaraka.
Pernah orang mengatakan, bahwa dasar kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan India dan tentang pendapat ini terdapat sangkalang yang keras, yang mengakibatkan adanya pertentangan yang hebat antara kedua pendapat, yang bisa mengakibatkan tidak jalannya perkumpulan persahabatan itu.
Bukan maksud kita di sini untuk memihak pada salah satu pendapat dari kedua pikiran itu, tetapi kita di sini ingin mengemukakan arti persahabatan antara dua bangsa, yang dewasa ini dalam peryituran dunia ini mempunyai kedudukan yang penting, yang dalam memperyuangkan perdamaian dunia telah mendapat nama yang baik. Dan berhubung dengan ini apakah tidak ada baiknya jika persahabatan antara kedua bangsa, India dan Indonesia, diperkuat dan diperkokoh, bukan saja merupakan persahabatan antara sarjana-sarjana, tetapi persahabatan antara kedua Rakyat negeri itu?
India yang merupakan salah satu negeri yang terbesar di Asia dan Indonesia yang terletak di tempat yang sangat penting dalam persimpangan jalan bangsa-bangsa, mau tidak mau sejak lama telah mempunyai hubungan persahabatan dan kebudayaan. Hubungan persahabatan dan kebudayaan ini hendaknya merupakan hubungan yang saling menguntungkan, hubungan saling mengerti, bukan hubungan dengan isi hendak menguasai salah satu dari kebudayaan tersebut, atau mempengaruhi salah satu kebudayaan dalam arti yang tidak baik.
Kita mengetahui, bahwa salah satu cara yang paling licik yang dijalankan oleh mereka yang tidak ingin persahabatan dan perdamaian ialah mengadu domba dua bangsa, baik dalam lapangan politik Maupun dalam lapangan lain, seperti kebudayaan, ekonomi dan lain-lain.
India dan Indonesia sejak dahulu kala mempunyai nasib yang sama, mengalami bersama masa penjadahan, mengalami bersama masa kemerdekaan. Sungguhpun berlainan jalan mencapainya, terapi Sungguhpun demikian persamaan nasib antara kedua bangsa adalah besar sekali.
Oleh sebab itu maka sudah sepantasnyalah persahabatan antara Indonesia dan India makin diperhebat, agar kedua bangsa ini lebih saling mengenal kebudayaan masing-masing, bukan hanya untuk perkenalan, tetapi guna memperkokoh usaha bersama menciptakan perdamaian antara bangsa-bangsa dan memperkuat persatuan antara kedua bangsa dalam menghadapi bahaya yang mengancum kita.
Perkumpulan persahabatan antara sarjana-sarjana memang sangat berfaedah, terutama di antara dua negara yang ekonominya sangat terkebelakang untuk saling memajukan pengalaman-pengalaman dalam keilmuan yang bisa meninggikan derayat ilmu kedua negeri guna kepenitangan Rakyat banyak. Hendaknya persahabatan semayam itu juga diperluas sampai pada persahabatan antara Rakyat kedua negeri, persahabatan yang akrab, yang'tidak bisa diadu domba oleh siapa pun.
Hubungan Indonesia dengan India bukanlah hubungan yang baru. Sejak dahulu kala antara Indonesia dan India telah ada hubungan lahir dan batin, hubungan antara dua bangsa tetangga yang saling menghormati. Dan sejak kita bersama mengalami penindasan asing dan sesudah itu mengalami pula bersama alam kemerdekaan, maka sudah sepantasnyalah hubungan itu makin dipererat lagi dengan persahabatan yang kongkrit antara kedua Rakyat. Lembaga Persahabatan Indonesia - India yang bedasarkan persahabatan dan kerjasama dalam lapangan ilmu bisa diperluas menjadi persahabatan yang lebiih besar, yang lebih akrab. Juga demikian halnya dengan persahabatan-persahabatan antara Rakyat Indonesia dengan lain-lain bangsa seperti Pakistan, Perancis, Sovyet Uni dan lain-lain. Dan ini ialah semata-semata untuk menghindarkan kita semua dari peperangan, agar semua kita bisa hidup dalam alam damai dan persahabatan.
Memancing ke Kutub Selatan
Ada orang yang memancing untuk mendapatkan se-ump nasi, ada yang untuk kesenangan se-mata-mata. Yang diceritakan dibawa ini bukan yang demikian te-tapi memancing kekayaan alam yang sangat mahal harganya dan tinggi khasiamya bagi kesehatan manusia, bagi ternak dan juga bagi bahan ketanyikan kaum wanita, yaitu ikanpaus.
Memancing ikanpaus—kalau menangkap binatang raksasa seperti ikanpaus ini masih bisa disebut memancing—“ke ujung” dunia, kekutub selatan bukan pekerjaan gampang yang bisa dilakukan sembarang orang.
Selama beratus-ratus tahun orang memburu ikanpaus tidak sampai sejauh itu; yukuplah di daerah yang berdekatan dengan tempat-tempat yang didiami manusia seperti diteluk, lautan dan pantai-pantai di sekitar Spanyol, Newfoundland, Spitzbergen, Norwegia, Kamyatka dan Cukotka. Tetapi lama-kelamaan, karena tiada peraturan yang mengatur penangkapan ikanpaus ini, persediaannya pun diperairan tadi habislah. Penangkap-Penangkap ikanpaus mulai menyari tempat pemburuan baru, yaitu daerah kutub selatan. Sekarang daerah ini—Antarctic—merupakan daerah penangkapan yang paling besar di dunia. Sebelum perang setiap musim diakir jumlah ikanpaus yang ditangkap di daerah ini beryumlah sampai 40.000 ekor. Dengan eksplotasi yang begini hebat tidak mengherankan bahwa juga di sini jumlah bi- natang itu susut dengan kecepatan yang mengkwatikkan.
Setiap tahun, jika musimnya sudah tiba, kutub selatan yang terliri dari lautan dan es dan yang tidak didiami manusia ini, menjadi ramai dengan kapal-kapal penangkap ikan dari berbagai negeri.
Memancing ikanpaus kekutub selatan adalah suatu pekerjaan yang sangat berat lagi berbahaya dan makan ongkos yang besar. Di samping itu dibutuhkan pula kenaliain yang tinggi dalam soal-soal yang bersangkutan dengan lautan, dan pelayaran, sebab Antarctic ini bukan daerah sembarangan yang bisa dilayari dengan begitu saja. Di sini ada gunung-gunung es yang terapung-apung dan berpindah-pindah dan dataran es yang setiap waktu bisa berubah dan beralih tempat setiap waktu dan bisa menjadi kuburan bagi setiap rombongan yang kurang-kurang pengetahuannya tentang keadaan alam di sana. Maka tidaklah mengherankan jika kapal-kapal yang kekutub selatan ini selalu diperlengkapi dengan alat-alat modern, seperti radar, radio dsb-nya.
Salah satu rombongan kapal penangkap ikanpaus yang datang pada tiap musim kekutub selatan ini ialah “Armada Slawa” dari Sovyet Uni, barangkali yang paling modern dengan hasil tangkap-tangkap yang paling besar.
Armada Slawa terdiri dari suatu kapalinduk yang sekaligus merupakan fabrik tempat memasak gemuk ikanpaus menjadi minyak, dan 15 buah kapal penangkap lainnya. Indukkapal besarnya tidak kurang dari 30.000 ton, panjang 150 meter dan lebar 22 meter. Kecepatannya 22 kilometer sejam. Sedang yang melayani dan bekerya dalam kapal itu ada 370 orang. Kapal penangkap besarnya rata-rata 500 ton dengan anak-buah dari 20 sampai 25 orang. Jalannya yukup ytepat untuk membunuh ikanpaus, yaitu kira-kira 25 sampai 26 km.
Dalam tiap penangkap ada sebuah meriam-tombak. Tombak ini, yang beratnya 70 kg., ditembakkan dengan suatu meriam kesasaranya. Tombak ini diikatkan kepada scutas tali yang dibuat dari nylon dan panjangnya 100 meter; tali nylon ini disambungan pula dengan tali hennap besar yang panjangnya kurang lebih 1 km dan yang diulur jika meriam sudah ditembakkan dan me-ngesai sasaranya. Maksudnya ialah untuk menghitudarkan jang sampai ikan yang kena tenggelam atau melarikan diri.
(Lukisan S. Frolow).
Pada tiap uyung tombak itu dibubuhi bom yang meledak jika ia mengenai sasaran.
Kapal penangkap itu sering-sering meninggalkan induknya sampai 100 atau 150 mil untuk menyari mangsa. Dalam keadaan yang demikian menyeret ikan-ikan yang ter-tangkap ke kapal induk sudah teryang berarti kehilangan waktu yang berharga. Maka sudah menjadi kebiasaan untuk meninggalkan tangkapan-tangkapan yang demikian di tengah lautan sesudah ditanyapkan sebuah bendera dari roti-bengau yang menangkap di badan iran sebagai tanda dan meninggalkannya di situ terapung-apung setelah diberitakan hal itu dengan radio kepada kapal induk untuk diambil oleh rafal-rafal trans-pert lainnya.
Ikanpaus yang ada di Antarctic ini ada bermatian-matian, yang termahal di antara-di antara adalah ikanpaus biru.
Di zaman pra-sejarah ikanpaus ini adalah binatang yang menyu-sukan anak dan tinggal didudanan. Semenjak ia mulai hidup dia lambat laun struktur badannya mengalami berbagai perubahan. Tetapi caranya berkenabang-biak masih tetap seperti semula Meskipun anak-anaknya itu dilahirkan tidak lagi di darat tetapi di laut. Lama sekali orang bingung dan bertanya-tanya bagaimana anaknya tidak mati lemas waktu ia dilahirkan dalam air, sebab ia toh bukan seperti ikan biasa yang keluar dari telor tetapi lahir seperti binatang biasa yang ber-paru-paru dan membutuhkan udara. Tetapi sekarang sudah diketahui bagaimana alam mengarasi kesulitan ini sehingga memang tidak ada alasan kuatir terhadap nasib ikan-ikan paus yang baru dilahirkan. Jika akan melahirkan ikanpaus betina mengangkat ekornya tinggi-tinggi di atas permukaan air sehingga pada saat anak itu keluar ia sudah mempunyai kesempatan mengirup udara dengan paru-parunya sebelum ia menyelam untuk pertamakali-nya ke dalam air.
Ikanpaus betina menusui anaknya di dalam air. Susu ikanpaus mengandung khasiat yang sangat besar, tebalnya seperti susu kental dan mengandung zat gemuk kita-kira 40 sampai 50%. Bandingkanlah ini dengan susu sapi yang zat gemuknya tidak lebih dari 4%!
Anak ikanpaus yang baru dilahirkan besar sekali—dari sepertima sampai setengah panjang ibunya. Tepat tumbuhny pun melebih ketimun. Bayi ikanpaus—diyika raksasa seperti ini masih bisa disebut bayi—minum susu dari ibunya dari 200 sampai 300 liter sehari, dan beratnya pun tambah dari 60 sampai 100 kg. seharianya. Menjelang habis masa menyusu (kira-kira delapan bulan) besarnya sudah berlipat dua. Pada umur dua atau tiga tahun ia sudah sama besarnya dengan orangtuanya.
Makhluk yang paling besar yang dikenal sampai sekangar adalah ikanpaus ini. Berat dari seekor ikanpaus biru sampai 150 ton dan panjangnya dapat menyapai 33 meter. Karena banyaknya penangkapan yang tak semena-mena memang sekangar ini sudah diyarang diketemukan yang demikian besar. Yang biasa dapat tertangkap sekangar adalah 25 meter, jadi Meskipun demikian besarnya masih tetap mengagumkan. Rahang-bawah dan lidah dari ikanpaus ini umpamanya bisa beratna masing-masing rata dua ton dan tengkoraknya hampir 3 ton. Seekor ikanpaus yang seperti ini biasanya dapat menghasilkan dari 14 sampai 23 ton minyak, dagang dan produk-produk lainnya. Ikanpaus biru adalah binatang yang kekuatannya hebat sekali, ditaksir kira-kira sama dengan 1.700 kekuatan-kuda.
Selain daripada ikanpaus yang biru ada lagi dua macam lainnya yang juga merupakan kesukaan pemburu, satu bernama “kasyelot” dan yang satu lagi ikanpaus “algojo”.
Minyak kasyelot berguna hanya untuk bahan-bahan industri dan dagingnya malahan hampir tidak terpakai, jadi berlainan dengan macam lainnya yang dagingnya diamabil karena baik sekali sebagai makanan khewan. Tetapi Walaupun demikian orang senang juga menangkapnya, karena hati dari seekor kasyelot yang beratnya ada 400 kilogram mengandung banyak sekali vitamin A sama dengan vitamin dari 100 ton mentega kwalitet satu atau dengan 5 juta butir telor ayam.
Spermaceti, bahan yang menyeru-pai lilin yang diambil dari kepala kasyelot tadi sangat banyak dipakai untuk membuat kosmetik (bahan kecantikan). Barangkali kaum wanita tidak pernah menduga bahwa banyak dari cream kosmetik (minyak muka) mereka yang bermutu tinggi adalah berkat “jasa-jasa” ikanpaus.
Berlainan dengan ikanpaus lainnya, kasyelot hidup berpoligami. Yang jantang memiliki dari 20 sampai 40 ekor betina dalam “harem”nya. Sereng-Sereng juga terjadi perkelahian yang sangat dahsayat antara pemilik-pemilik harem yang bahagia itu—penangkap-penangkap ikanpaus menamainya sultan—dan jantan-jantan yang membujang. Senjata menyerang dan mempertahankan diri dalam perkelahian ini adalah kepala. Cobalah pembaca bayangkan bagaimana dahsaytaya perkelahian yang terjadi antara ikan-ikan yang cemburu itu: kepala disiapakan, lari dengan kecepatan 24 kilometer dengan seluruh berat badan (60 sampai 80 ton) yang sepanjang 20 meter itu menggempur lawannya yang juga datang dengan kekuatan seperti dia. Dan jangan dilupakan bahwa kepala kasyelot itu sepertiga dari seluruh panjangnya!
Macam “algojo” itu juga interesseran. Berlainan dengan yenis lainnya ia sangat rakus dan jahat. Ia menelan baik ikan mau pun burung atau anjinglaut. Kadang-Kadang algojo ini juga meraka bergerombol berani pula menyerang raja lautan: ikanpaus biru. Di samping yang disebut di atas ada lagi suatu ikanpaus macam lainnya yang juga sangat digemari pemburu, karena lidahnya enak dimakan. Tetapi Walaupun begitu tidak banyak orang yang menikmatinya karena harganya tinggi. Sebab dari satu lidah saja bisa diperas minyak-ikan tidak kurang dari seribu kilogram.
Jumlah ikanpaus susut dengan ceapatna sejak puluhan tahun yang terakhir ini. Tetapi Walaupun demikian tidak ada alasan kwatir bahwa mahluk itu akan tumpas sama sekali karena keserakahan orang yang hanya memikirkan keuntungan. Berkat initiatif dan kerjasama internasional dari sarjana-sarjana progressif sejak beberapa waktu yang lewat telah diadakan suatu konvensi internasional yang mengatur pemburuan ikanpaus. tempat, waktu, jenis dan jumlah yang boleh ditangkap setiap musim.
Gurun Pasir Kara Kum
DI DAERAH Turkmenia, salah satu dari Republik-Republik Sovyet Sosialis yang tergabung dalam Sovyet Uni, ada suatu gurun pasir yang amat luas. Gurun pasir ini warnanya hitam mengerikan, dan namanya Kara Kum. Sudah be-ratus-ratus tahun atau ribuan tahun, gurun pasir ini merupakan daerah maut. Siapa yang berani masuk kedalamnya, pasti akan mengalami ajal. Begitu keadaannya sampai beberapa puluh tahun yang lalu. Ribuan kilometer panjangnya. Kalau saudara umpananya naik unta atau kuda (secandainya bisa!) melalui gurun pasir ini, maka beberapa hari tidak akan menjumpai telaga, tidak menemukan mata air satu pun juga, dan juga tidak akan melihat oasis-oasis (tempat-tempat subur digurun pasir). Tidak adanya air digurun pasir Kara Kum ini menyebabkan daerah ini kering, mati, dan berbahaya.
Baru ada satu dua orang yang berani mencoba untuk memasuki gurun pasir Kara Kum. Dan masih banyak tempat-tempat yang belum pernah diinjak oleh kaki manusia. Kara Kum amat berbahaya.
Tetapi tanah gurun pasir Kara Kum ini amat subur dan mengandung kekayaaan yang tidak sedikit, kalau dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Kalau tanah ini mendapat ai sedikit saja, maka terus muncullah kebun-kebun buah-buah-an yang subur, juga anggur dan kapas akan tumbuh dengan amat hebatnya. Kalau Kara Kum ini diairi, maka kekayaan Republik Sovyet Sosialis Turkmenia akan berlipatganda banyaknya. Inilah yang sudah menjadi impian Rakyat Turkmenia sejak ratusan tahun yang lewat. Tetapi impian ini baru dapat terwuyud sekarang ini.
Pada waktu sekarang ini, sedang dibangunkan sebuah kanal yang panjangnya 1.500 km. melalui gurun pasir Kara Kum ini. Pembangunan kanal yang paling besar di seluruh Sovyet Uni ini, dilakukan serentak dari dua jurusan. Ujungnya dimulai dari sebelah Selatan gurun pasir Kara Kum, yaitu di sebelah kiri sungai Amu-Darya.
Segala macam mesin-mesin raksasa yang perkasa dari Sovyet Uni membantu mengalahkan gurun pasir yang besar ini. Macam-Macam mesin dan alat-alat teknik modern dikerahaan ke daerah ini, dan te- rus mengalir dengan tidak ada hentinya. Alat-Alat ini ada yang di-angkut dengan kapal-kapal, tetapi se-bagian besar diangkut dengan kereta-api. Umpamanya excavator (mesin penggeruk), bulldozer (penghancur tanah), pengcruk lumpur, traktor-traktor dan banyak lagi lainnya. Pemerintah Sovyet me-nundukkan perhatian yang amat besar terhadap pembangunan Kanal Kara Kum yang besar dan dahsyaat ini. Kota-Kota baru dan tem-par-par tinggal penduduk tumbuh di sepanjang garis kanal itu dengan keyeputan yang seperti dalam dongeng saja. Amat tepat dan amat banyak! Belum lama berselang, hauya pasir-pasir yang ke-ting dan hitamlah yang menge-lilingi sesetion Zakhmiet. Sekarang ini daerah sekellilingnya itu sudah tidak dapat dikenal lagi. Di-mana-mana yang kelihatan diseti-lanya rumah-rumah yang bagus-bagus. Tem-pat tinggal penduduk ini mem-punyai pabrik roti, tempat gunting rambut, pemandian, toko dan gedung pelemutan.
Kalau malam sudah mulai turun ke bumi, dan hawa dingin sudah mulai mengembus dari sekeliling padang pasir itu, para pemain kesenian amatir mengadakan latihan-latihan di gedung pertemuan. Tempat tinggal penduduk yeng baru ini mempunyai aliran listrik. Pohon-Pohon buah-buahan, dan tumbuh-tumbuhan perhiasan kota, tumbuh di mana-mana. Desa-Desa Kara Kum, segera berubah menjadi kota-kota modern, kalau para pembangun kanal Kara Kum itu sudah datang.
Bercerita tentang pembangunan kanal Kara Kum ini terpaksa menyebutkan hal-hal yang aneh, yang mengherankan, karena cetap, besar dan bagusnya. Setiap bulan, pembangunan kanal ini maju dengan pesat dan keadaan bero-bah sama sekali. Sebentar-Sebentar berditi setasiun-setasiun pembangkit listrik yang baru, jembatan-jembatan yang baru dan desa-desa baru. Pada waktu malam hari, pemandangan sepanjang kanal ini amat indahnya. Kege-lapan yang menghitam itu ditusu oleh cahaya terang-benderang dari ribuan lampu-lampu listrik, yang menundukkan letak tempat-tempat pembangunan, rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung yang penting.
Pada waktu sekarang ini ada lebih dari 230 mesin pengeruk raksasa yang bekerya dikanal ini. Mesin-Mesin pengertuk lumpur yang besar dan juga sebuah setasiun listrik yang mengapung—dengan kekuatan 1.500 KW—sudah mulai bekeryda siang ma-lam. Lalulintas kereta-api dengan kekuatan yang besar-besar menghubungkan satu tempat dengan lainnya. Pabrik-Pabrik dan bengkel-bengkel pembetulan dan malahan ju-ga pabrik yang mengapung, sudah diditikan untuk melayani segala macam kesibukan pembangunan kanal setiara besar-besaran ini.
Bagaimanapun juga sulitnya keadaan, tetapi para peubangun-nya, yakin dan pasti akan hasil-nya yang gilang-gemilang. Kira-Kira 100 Km bagian atas kanal itu sekarang sudah selesai. Sekarang ini, sudah banyak didirikau daun-daun baru, dan telaga-telaga yang besar-besar sudah dihubungkan dengan kanal.
Telaga Kelif Usboi, yang besar itu, sudah ditambah airnya se-hingga makin luas dan dalam. Telaga ini sebetulnya tadinya ha-nya sebuah padang pasir yang se-jak be-ratus tahun yang lalu ke-ring dan tandus. Sekarang dide-pan mata orang kelihata sesuatu yang ajaib: muncul suatu telaga baru buatan manusia. Airnya yang mempunyai kekuatan rahasia itu, sekarang menghidupi tanaman-tanaman sekitarnya, dan menyeburkan ta-nah yang sudah lama me-nunggu-nunggu air.
“Kita mempunyai banyak sekali mesin-mesin”, kata C. Aun, direktur pembangunan di Kerki. “Kalau mesin-mesin kita itu kita bariskan, maka panjangnya lebih dari 20 km”.
Dua tahun akan lewat, dan air sungai Amu-Darya yang besar itu akan mengari daerah sekitar kanal seluas 20.000 HA. Dan dalam tahun 1960 daerah yang bisa diairi ini akan berlipatganda lima kali. Didaher kering dan tandus yang maha luas itu akan tumbuh kapas, anggur dan buah-buahan, yang semuanya itu akan makin membikin makurnya Rak-yat Turkmenia, yang dalam zaman Tsar merupakan daerah terkebe-lakang dan melarat.
Pembangunan secara raksasa Kara Kum ini sudah pasti akan meluaskan kemungkinan-kemungkinan untuk perkembangan ekonomi nasional Rakyat Turkmenia. Aliran listrik akan melimpah-limpah. Asap akan membubung dari ribuan ce-robong daerah industri yang baru ini.
Gurun pasir itu akan disulap oleh manusia, manusia-manusia pekerjaa Sovyet Uni, dari daerah yang membikin maut dan menge-rikan menjadi daerah industri yang makmur. Inilah akibat dari kekuatan air. Air yang amar berharga bagi gurun pasir.
Petani-Petani Turkmenia suka ber-kata: “Di padang pasir setetes air sama harganya dengan berlian”.
oleh: A.
Konferensi Kalkuta
PADA tanggal 15 Februari 1948 dua pemuda Indonesia datang di Kalkuta. Dua orang itu adalah Otto Rondonuwu dan saya. Kita diutus oleh Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia untuk menghadiri Konferensi Pemuda Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Gabungan Pemuda Demokrasi Sedunia di kota tsb. Sebelum kita berdua datang, sudah lebih dahulu Francisca Fanggiday berada di Kalkuta sebagai wakil BKPRI dalam Komite Persiapan Konferensi tsb. Saudara ini pada awal tahun 1947 bersama a.l. Suripno almarhum pergi ke Praha untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan GPDS. Waktu ia harus pergi ke Kalkuta ia berangkat dari ibukota Cekoslowakia itu.
Kita berdua berangkat tanggal 21 Desember 1947 yam setengah dua malam dengan pesawat udara Auri RI 002 dari lapanganterbang Maguwo. Karena ketika itu keadaan masih sangat berbahaya karena Belanda masih menguasai udara Indonesia, kita terbang secara darurat. Artinya: harus sangat ber-hati-hati. Dalam pesawat terbang tak ada sebuah lampu pun yang diyualakan. Pada yam 7.30 kita dengan selamat mendarati di lapanganterbang Pakanbaru. Dari tempat ini peryalanan semakin menjadi sukar. Ke Bukittinggi dengan kendaraan setengah bis setengah truck. Kemudian kejurusan Taluk (karesidenan Riau) dengan sebuah truck yang penuh barang. Jalan melewati rimba-rimba yang lebat dan karena musim huyan dan jalan yang dilalui lebih banyak merupakan jalan berbau daripada jalan raya, kita lebih banyak mendorong truck daripada menaikinya. Sampai-Sampai untuk menyapai Taluk itu kita di tengah jalan terpaksa meninggalkan kendaraan itu dan pindah dalam perahu ketiyl di atas sungai Lematang yang arusnya sangat de- tas karena banjir. Kemudian peryalanan disambung lagi dengan truck dan sesudah itu ganti lagi dengan perahu. Di Rengat—sesudah mengaso beberapa hari lamanya—kita dapat tempat dalam sebuah kapal kayiu yang hendak berlyar secara gelap pula ke Singapura. Beberapa hari lamanya kita menghilir sungai Indragiri dan akhinyia sampailah di pantai Selat Malaka. Nasib menjadi lebih buruk. Baru 4 jam belayar…… dtaugkap kapal peronda Belanda. Avontur ini dilanjutkan dengan penahanan atas diri kita berdua selama 5 hari di Tanjungpinang. Untung PID tidak dapat mengetahui siapa kita berdua sebenarnya, ia hanya membaut-bau saja rupanya. Dengan tiada sepuituk surat identiteit karena surat-surat berharga itu kita lempar dalam laut ketika kapal kita diserobot kapal peronda Belanda, kita memasuki pelabuhan Singapura. Sesudah mengalami banyak pahit-getir di pusat pangkalan penjadahan Britania di Asia ini kita menuyu ke Kalkuta, dengan semangat yang tetap besar.
Sedikit uraian itu kiranya perlu diketengahkan sekedar sebagai perbandingan bepergian di waktu revolusi itu dengan di waktu sekarang ini. Yang kita alami itu tidak berbeda dari apa yang dialami oleh delegasi pemuda-pemuda Vietnam yang dengan rasael di punggung meninggalkan front pertempuran menuyu kempat konferensi. Delegasi Indonesia yang terdiri dari 3 orang itu kemudian diperkuat dengan datangnya Syamsu Anwar (APPI Sumatera) dengan kapalterbang dua yahar sesudah kita berdua tiba.
Konferensi Kalkuta dihadiri oleh wakil-wakil dari 39 organisasi pemuda yang semuanya mewakili 7 juta anggota dari India, Pakistan, Burma, Malaya, Vietnam, Sailau, Tiongkok dan Indonesia dengan peninjau-peninjau dari Nepal, Filipina, Mongolia, Korea, Sovyet Uni, Australia, Inggetis, Perancis dan Yugoslavia. Konferensi ini ditandai oleh suatu pergolakan yang sengit dari kekuatan-kekuatan nasional melawan intervensi asing. Kita menyaksikan ketika itu revolusi Rakyat Tiongkok mencapai sukse-sukse yang besar, klik Ciang Kai-shek sudah makin terdesak, tidak saja dari daerah-daerah juga dari kota-kota yang besar. Dengan suatu analisa yang dalam delegasi Tiongkok dalam taporan-nya menyatakan, bahwa sc-lambat-lambatna akhihr th. 1949 kekuatan-kekuatan reaksioner sudah dapat dikalahkan dan Revolusi Rakyat Tiongkok dapat dinyatakan me-nang. Rakyat Vietnam pada saat itu masih sibuk dengan pertempuran-pertempuran yang ter-pisah-pisah terhadap pasukan-pasukan kolonial Perancis yang masih menguasai pangkalan-pangkalan penting dan kota-kota besar. Kita yang di Indonesia sangat sedikit sekali mengetahui keadaan di Vietnam, tetapi sesudah mendengar laporan delegasi Vietnam terbukalah di depan mata kita, betapa sukarnya keadaan di sana dan betapa gigihnya Rakyat melawan musuh-musuhnya yang lengkap dengan senjata-senjata modern. Yang mempergunakan caru-caru yang kediaman dan keji untuk menindas semangat Rakyat. Namun, kemayuan pembangunan di daerah yaug telah dibebaskan sangat menggungkam. Bagi Indonesia sendiri Konferensi Kalkuta ketika itu ditandai oleh Perjanjian Renville dan telepasnya kekuasaan negara dari tangan Rakyat sehingga Revolusi Indonesia dengan tepat menuyu ke arah kegagalanannya.
Betapa pun berbeda-berbedanya laporan yang diadukan dalam Konferensi itu, satu hal yang menundukkan persamaan. Yaitu, bahwa dalam perlawanan terhadap musuh-musuh Rakyat, selalu imperialisme Amerikalah yang pertama-tama berdiri di belakang kekuatan-kekuatan reaksioner itu. Ini dapat disaksikan di Tiongkok, dapat disaksikan di Vietnam, dapat disaksikan pula di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa salah satu resolusi yang diambil oleh Konferensi berbunyi “Amerika Serikat sekarang ini merupakan kekuasaan imperialis yang paling agresif di dunia.” Karena setiap tindakan ke arah kemayuan di Asia ini mesti berhadapan dengan tanganbesi imperialis Amerika, maka satu-satunya jalan untuk mematahkan rintangan ke arah kemayuan itu ialah persatuan yang kokoh di antara Rakyat se-Asia termasuk pemuda-pemudanya. Sikap ini dirumuskan dalam bentuk resolusi yang berbunyi “Peryuangan kita untuk kemerdekaan nasional yang penuh dan demokrasi dan peryuangan pemuda di seluruh dunia untuk demokrasi dan perdamaian. Untuk menentang perang dunia ke III adalah satu dan sama dan kedua-duanya dituduhkan terhadap musuh yang sama.” Lima hari lamanya pemuda-pemuda yang berkumpul di Kalkuta itu mendiskusikan nasib bersama dan harikemudian yang penuh cahaya gemerlapan. Konferensi ditutup pada tg. 21 Februari. Pada hari penutupan semua utusan berdiri dan dengan khidmat berjangyi: “Kita akan memperhebat peryuangan melawan imperialisme Amerika dan bahu membahu kita menentang kolonialisme dalam segala macam bentuknya.”
Tekad yang bulat dari pemuda-pemuda se-Asia yang ditadukan terhadap imperialisme Amerika di benua ini sudah barangtentu diterima dengan kemarahah oleh silah reaksi. Kontan pada akhir konferensi Kalkuta, pers asing ber-terek-terek: “Konferensi Pemuda di Kalkuta konferensi Komunis dan merencanakan pembertonakan-pembertonakan”. Sudah barangtentu terekan itu tidak mempunyai dasar dan hanya merupakan kebohongan yang besar. Yang benar ialah, bahwa para delegasi cok paginyga meninggalkan Kalkuta dengan hati yang lebih besar karena yakin bahwa kita tidak beryuang sendiri-sendiri dan bahwa di luar tanahair kita sendiri-sendiri kita mempunyai ber-juta-juta teman dalam peryuangan kita yang berat: menuyu ke arah haridepan yang gemilang melalui kemerdekaan nasional yang penuh. Konferensi Kalkuta menyebar benih-benih yang subur. Setiap tahun pada tanggal 21 Februari pemuda di seluruh dunia mengulangi Sumpah Kalkuta dan menyatakan solidaritet bersama untuk menghancurkan kolonialisme.
Seni Rupa di Jogja dan Seniman-Senimannya
Dengan hasil inilah kami jemput kasih dan perlutian Paduka Yang Mulia terhadap seni dan kehidupan nya.
di tempat kami hidup berjejal
di tempat kami sesak bekerja
di tempat hati dan cita membusur arah.
Hendra.
(dalam catalogus pameran^2 di Jogja dari hasil kerja:
“Pelukis Rakyat”
“Akademi Seni Rupa Indonesia”
“Seniman Indonesia Muda”
pada kunjungan P. Y. M. Presiden tanggal 1 Februari 1955).
BENAR bahwa pada tg. 1 Febr. ‘55 di Jogja telah diadakan pameran seni rupa yang meriah sekali yang mendapat kunjungan dari bapak Presiden beserta rombongan wartawan^2 dari Jakarta bapak Menteri PP & K. Bapak Menteri Pertahanan, K. S. A. D. , Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah Istimewa Jogjakarta dan lain^2 pembesar pemerintahan daerah. Bagaimana tidak meriah sedang pameran tsb. diadakan ditiga tempat sekaligus.
Lagi bukan suatu hal yang janggal bila Hendra atas nama seluruh teman^2nya menyambut Kepala Negara dengan kata^2 yang tsb. di atas. Hendra dan teman^2nya mengerti benar bahwa bung Karno sangat memperhatikan kehidupan seni rupa bukan saja tetapi juga cabang^2 kesenian lainnya. Pada tubuh bung Karno mengalir darah seni yang sangat derasnya.
Kunjungan tombongan bung Karno pada pameran^2 seni rupa di Jogja ini sangat berkesan sekali sebab bukan saja tombongan ini dapat menyaksikan hasil kerja dari seniman^2 seni rupa di Jogja, tetapi juga dapat melihat sendiri tempat mereka hidup dan bekerja sehari-hari sebab dua di antara tiga pameran itu diadakan disanggar di mana seniman^2 itu berkumpul. Di tempat-tempat pameran itu tombongan bung Karno disambut oleh seluruh keluarga seniman^2 lengkap dengan isteri dan anak^2 mereka. Sungguh suatu sambutan yang mempunyai bentuk tersendiri.
Sanggar Pelukis Rakyat terletak di desa Sentul, pinggir sawah. Halaman sanggar itu penuh dengan arca^2 batu besar kecil, yang sudah jadi dan yang belum. Dekat pada dinding sanggar yang terbuka sebelah kiri, di bawah pohon yang tidak besar dibuatnya kolam dengan airyua yang jernih yang membuat suasana sanggar itu menjadi sediyuk, sedang pada bibir kolam ditarulukannya arca^2 yang menambah keindahannya. Di tepi kolam yang teduh itu anggauta^2 Pelukis Rakyat membuat lukisan^2 dan patung^2.
Pada sanggar S. I. M. di Bangiredoyo terdapat sebelah kirinya se-macam pergola yang dirambati daun hiyau berbunga kuning, teduli. di bawahnya terdapat kursi^2 tempat duduk. Dekat dari situ terdapat sebuah kolam dan taman bunga yang menyadikan halaman itu dalain keseluruhun yang menarik.
Dua di antara pameran^2 ini diadakan di kedua sanggar tsb. se-dang pameran A. S. R. I. diadakan di Sonobudoyo. Pameran^2 itu meliputi tiabang^2 seni lukis, patung dan relief, ukiran, dekorasi, ilustrasi dan reklame. Yang terba-nyak mengenai cabang seni lukis, tidak kurang dari 197 buah luki-sian, selain cat minyak beberapa diantaranya terdiri dari lukisan cat air, etsa, aqua tinta, cat plakat, pena, potlod, guakhe, pastel, cukilan kayu dll.
Pada pameran ini selain diper- tundukkan hasil kerya dari para pengikut-pengikut latihan tampak juga hasil kerya dari para pelatih-pelatihnya yang dalam dunia seni rupa Indonesia bukan asing lagi seperti Hendra, Sudarso, Trubus, Hariyadi S. , Suromo Surono, Abdulsalam, Affandi, S. Sujoyono dll/yna.
Tentu bidaksama sekali andai-kata Jawatan Kebudayaan Kemen- terian PP & K di Jogja pada waktu itu suka lebih merialikan pameran tsb. dengan jalan misalnya meminjamkan (mem- merikan bersama-sama) koleksi lukisan-lukisannya yang tidak sedikit itu Sebab bagi Jawatan Kebudayaan, pameran-pameran seperti di atas bekun- lah tidak ada hubungannya yang erat-erat dengan kewayibannya.
Oleh Akademi Seni Rupa Indonesia kecual dipamerkan hasil-hasil keryanya dlga kepada rom- bongan diperlihatkan walut pengikut-pengikut latihanyna sedang praktek membuat lukisan, patung dll-nya digedungnya di Bintaran yang ter- diri dari pemuda-pemuda dan gadis-gadis. Pimpinan A. S. R. I. ini ada dita- ngan R. Y. Katansi.
Disanggar Pelukis Rakyat ber- diam lebih dari 20 orang ang- gautanya. Kalau ada pesanan pe- keryaan dari luar mereka kerya- kan bersama-sama, pendapatun- nya mereka makan bersama-sama.
Banyak pesanan-pesanan yang telah mereka selesaikan misalnya tug Muda di Semarang, sebuah tugu yang terbaik di Indonesia sejak Republik Indonesia berdiri. re- lief-lief fragment buruh Kereta Api di gedung S. B. K. A. Jakarta, arca dan relief-relief pada gedung Museum C. P. M. di Jakarta, relief arca Airlangga untuk Universitas Air- langga di Surabaya, simbul dan relief dekorasi hiasan gedung CC PKI di Jakarta, patung Jen- dral Sudirman dll-nya. Banyak pula usaha-usahanya diilah negeri.
Oleh Seniman Indonesia Mu- da telah juga dikerjakan pe- kerjaaan-kerjaaan besar seperti pem- buatan lukisan-lukisan dokumentasi perdoyoangan pada aksi militer pertama atas biaya Biro Perdoyoa- ngan. Lukisan-Lukisan ini umumnya ber- ukuran besar-besar, beryumlah 61 buah, tetapi seluruhnya hilang pada waktu tentara Belanda me- nyerbu Jogja.
Sesudah Jogja kembali oleh S. I. M. dikerjakan lagi pembuatan lukisan-lukisan dokumentasi selana aksi militer kedua atas biaya Ke- menterian Penerangan. Beberapa antaranya lukisan-lukisan ini digantung- kan di Istana Presiden.
Oleh S. Sujoyono, ketua S. I. M. telah dibuat sebuah buku besar mengenai Seni lukis Indo- nesia yang sekarang sedang dalam penyelasan penerbitannya.
Kalau tidak ada pekerjaan da- ri luar tiap hari mereka bekerya menurut kesenangannya masing-masing. ada yang melukis ada pula yang memahat, sebagai hasilnya seperti yang terlihat dalam pameran-pameran ini.
Oleh karena pameran-pameran ini meliputi hasil kerya dari pengi- kut-kut latihan bersama-sama pela- thih-thih mereka, maka dalam pame- ran ini pun terdapat hasil-hasil kerya yang ternilai masih memerlukan adanya latihan-latihan dan hasil-hasil kerya yang memang sudah matang. Meskipun demikian sangat mengem- birakan sekali bahwa pada pe- ngikut-ngikut latihan umumnya nampak kesungguhan mereka, juga un- tuk membentuk lukisan-lukisannya se- perti apa yang mereka lihat pada obyeknya. Berlatih secara begin- akan berpengaruh pada pengu- saan tehnik yang baik. Tergesaga- gesa kepedean dengan jalan mempersingkat syarat-syarat yang pent- ing, atau sengaja meyakin- yakinkan orang dan dirinyya sendiri bahwa lebih baik syarat-syarat itu tidak penting saja, akan men- yadi tertawaan.
Salah satu syarat yang penting ialah menguasai tehnik dengan baik.
Tergesa-gesa ke depan dengan bekal kekurangan tehnik yang baik sangat berbahaya. Paling mujur kalau dia misalnya bisa menggambar pemandangan dengan “begitu saja”, pada waktu membuat portret terpaksa sambung dua kacamata. Yang lebih ciIaka lagi lantas mengangkat dirinya sendiri ke trotoir dengan pasang merk: modern.
Di antara pengikut-pengikut latihan yang turut dalam pameran ini Gambiranom yang dengan kesabaranya telah menyelaskan lukisanya “Ember” dengan berhasil baik sekali.
Di antara pelatih-pelatih maka lukisan S. Sujoyono “Reklame film Hollywood” (belum selesai) sangat menarik perhatian. Sangat menarik perhatian sebab diyustru yang menggambar orang yang bernama S. Sujoyono, salah seorang tokoh pelukis Indonesia yang kenamaan dan penting jaman sekarang. Dialah dahulu yang melukis dengan ciarak modern dan pembicara utana dari ciarak seni lukis modern di antara pelukis-pelukis Indonesia yang akhirnya banyak orang-orang—yang—kemudian menjadi “pelukis modern”.
Kenlataan yang dapat dilihat dengan mata kepala menundukkan bahwa pada ciarak modern itu tidak presis betul atau sangat berbeda sekali bentuk-bentuknya atau letak bendanya dengan obyek yang sebenarnya dapat dilihat dengan mata. (Saya ta‘ menyebut tentang isi pikiran dan perasaan di dalamnya). Sedang lukisan-lukisan S. Sujoyono dalam pameran-pameran ini—ju- ga lukisan-lukisannya dekat sebelum itu—sama sekali bentuknya ti- dak berbeda bahkan presis seka- li dengan benda-benda yang digambar- nya. Dengan perobahan ini dikatakan orang Sujoyono mundur kembali.
Ditilik dari isi pikiran dan perasaan pada gambar-gambarnya sesudah mengalami perobahan itu seperti: “Mengungsi”, “Kampung”, “Model” Ataupun “Reklame” film Hollivood“ ini dan dibanding- kan dengan gambar-gambarnya sebelum perobahan ini seperti ”Rahwana“, ”Suasana“, ”Kalinyamat“ dll-nya ti‘ dapatlah dikatakan Sujoyono mundur. Jadi kata mundur kembali yang dialamatkan kepada Su- joyono itu rasanya karena ciarak lukisan-lukisannya saja yang sekarang mengambil bentuk-bentuk yang realistis.
Tetapi dari sudut ini pun ta‘ dapat dibenarkan. Tidak benar bahwa bentuk-bentuk yang realistis dari lukisan-lukisan sekarang adalah cuatu kemunduran. Bahkan kalau menurut dasar dari Pelukis Rakyar yang tentantum dalam catalogus pameran itu yang berbunyi: “De- ngan dasar bukan seni untuk se- ni, tetapi ”Seni untuk Rakyar“ yang hidup dan matinya ada pada kalangan besar rakyar dan per- joanganraya.” maka bentuk-bentuk lu- kisan yang realistis adalah suatu ciarak yang sesuai benar dengan panggilan jaman sekarang. Bu- kankah ciita-ciita yang realistis me- merlukan pelaksanaan-pelaksanaan yang rea- listis pula?
Pada lukisan-lukisan yang bentuk-bentuknya realistis terdapat suatu keuntungan yang bukan ketil, bahwa orang banyak ta‘ usah bingung-bingung dalam melihat bentuk-bentuknya, ta’ akan orang mengatakan gambar ku- cing terbalik pada sebuah lukisan gunung batu. Terang tukun suatu kemunduran kalau kita dapat memaki bahasa yang dapat di- mengerti orang banyak. Bahasa yang dimengerti lebih mendekat- kan orang kepada maksud isinya.
Pameran Gambar Anak-Anak
Dari tg. 16 sampai tg. 24 Februari 1955 bertempat di Gedung Pertemuan Umum Jakarta telah diadakan pameran gambar anak-anak terdiri dari kira-kira 600 gambar yang terpilih dari 7000 gambar. Semua gambar ini dibuat oleh murid-murid sekolah rakyat dari Kotapraja Jakarta Raya mulai dari kelas I sampai kelas yang tertinggi.
Sifat pameran. Menilik jumlahnya gambar-gambar yang dipertunjukkan, maka pameran ini termasuk pameran yang besar dan untuk memilih sekian banyak gambar dari seluruh gambar yang masuk untuk dipertunjukan adalah suatu usaha yang tidak bisa dikatakan enteng. Dari keterangan yang tertulis dalam katalogus dapat kita menarik kesimpulan bahwa pemilihan gambar-gambar tersebut didasarkan atas keaslian dan kemampuan tanggapan sianak serta diperhatikan juga daerah lingkungan yang banyak menarik perhatian atau mempengaruhi sianak itu.
Segi kemasyarakataninya. Dari tema atau pokok gambar-gambar terbukti bahwa sianak banyak memperhatikan kehidupan masyarakat. Dalam soal olahraga tampak gambar kesayangan bintang hijau Jamiaat. Dan dalam soal tehnik, gambar-gambar gedung, kereta-api dan lain-lain lagi, dapat mereka ketemui sebagai perbendaharaan kehidupan. Begitu juga soal tanda gambar pemilihan umum menjadi perhatian anak-anak. Dan juga soal mode, keagamaan sampai keperistiwa sejarah dan pahlawan nasional, seperti Diponegoro dan Imam Bonjol. Gambar sejarah dan pahlawan ini adalah suatu bukti bahwa sianak di samping memperhatikan kehidupan lingkungannya masih bernafas rasa romantik dan fantasi yang nantinya bisa merupakan daya pembangkit bagi suatu titik.
Selain dari tema gambar yang diamblinyai dari kehidupan sehari-hari, daerah lingkungannya juga memberi pengaruh pada anak. Misalnya iklim gambar dari anak-anak yang bertempat tinggal dipertataan berbeda dengan mereka yang berada dalam kota. Yang pertama lebih bebas dalam rasa untuk menggambarkan sesuatu bentuk. Mereka belum begitu terpengaruh oleh iklim kota yang memaksakan manusia utk. hidup setara tepat dan praktis. Anak-Anak dalam kota lekas lari pada yontoh yang praktis, memindam bentuk mode dan gambar reklame yang mulah dimengerti oleh umum.
Kekurangan hubungan dengan alam membawa mereka pada keceringan tanggapan, karena diuar alam mereka hanya hidup dari pengertian-pengertian dan hukum-hukum yang memberi batasan pada jiwanya, maka menghubungkan anak-anak dengan alam secara bertasmasya adalah sangat perlu bagi perkembangan jiwa dan pembangkitan rasa tanggapan.
Jiwa anak
Sebagian besar dari gambar-gambar dapat memperlihatkan pada kita keaslian dan kesederhanaan anak-anak. Keaslian si anak ini terletak dalam cara melukiskannya secara optis, ya'ni menurut apa dan bagaimana dilihatnya. Memang si anak belum melukis secara orang dewasa yang sudah mempunyai keinginan untuk menyataken diri dengan bentuk.
Pada anak yang meningkat pada umur 7 tahun hingga selanjutnya mulai kelihatan tangkapan-tangkapan yang kritis. Ia mulai berfikir dan timbul pengetian seperiti, jarak, indah, serta lain-lain lagi. Mulai ia meniru dari gambar-gambar yang pernah dilihatnya, meniru garis perspektif d.l.l.
Sekalipun ada gambar-gambar tiruan masih dapat kita menirup kese- garan jiwa anak. Misal: ra gambar Bung Karno dan Bung Hatta ditirunya dari foto-foto, tapi meniru nyia ini tidak dengan kehendak memindahkan jiwa gambaran Sukarno dan Hatta dengan gar1:2 yang ditiru ke atas kertas yang digambari. Jiwa anak-anak ini masih sederhana, belum dipengaruhi oleh pengertian-pengertian dan hukum-hukum yang membatasi. Mereka masih inampu menangkap barang sesuat tu di luar dirinya.
Di sinilah rasa enakuyi melihat gambar anak-anak. Terasa perbedaan antara fantasi si anak yang bebas dengan orang dewasa yang hanya merumuskan pengertian-pengertian dan hukum-hukum menjadi suatu kesimpulan. Mungkin orang dewasa lebih lin- cah dan lancar, tapi tidak dapat keluar dari hukum-hukum yang memba- tasi mereka semayam Piet Mondriaan, Salvador Dali dan lain-lain tokoh dari surrealisme dan modernisme.
Pendetenggaraannya.
Dalam penyelenggaraannya hendaknya lebih banyak kita titik beratkan pada perkembangan jiwa si anak serta segi kemasyaraka- tannya daripada membawa anak ke dalam pengertian indah, bagus dan jelek.
Kita harus berpangkal pada ke- yujuran jiwa anak yang belum mempunyai keinginan atau sesua- tu efek untuk mengejar kein- dahan. Jadi jika ada pemberyan hadiah hendaknya hadiah itu di- dasarkan atas pemeliharaan ke- yujuran dan tanggapannya.
Usaha ini hendaknya diikuti oleh lain-lain kota, karena lebih banyak lagi pameran-pameran gambar anak-anak diadakan lebih baik, kare- na pameran-pameran semayam ini amat berguna selain untuk si anak sendiri juga untuk orang tua dan para guru supaya mendorong ke- padanya untuk lebih banyak ke- sempatan kerya kreatif diberikan kepada sang anak yang merupa- kan faktor penting bagi perkem- bangan jiwa
Film Soviet tentang Indonesia
BULAN INI, penduduk kota-kota besar di seluruh Sovyet Uni, Moskow, Leningrad, Stalingrad, Kiev, Minsk, Ufa, dll. ber-bondong-bondong menonton sebuah film baru: Indonesia.
Entah berapa puluh kali sudah cineast-cineast asing berdatangan ke Indonesia. Ber-mayam-mayam tujuannya. Ada yang men-cari-cari “keisti-mewaan” di Bali, ada yang hanya mengambil gambar Presiden Sukarno. Ketika di Jakarta berlangsung Pekan Raya Ekonomi Internasional, dua orang cineast Soviet datang ke Indonesia: W. Mikosya dan I. Sokolnikov. Mereka tidak mencari exentrisitet, mereka ingin memperkenalkan kepada Rakyat Sovyet dan Rakyat dunia—negeri Indonesia. Republik Indonesia, bangsa Indonesia.
Mereka pergi ke Bandung, Jokyakarta, Bali, dan tempat-tempat lain, mengopname kehidupan universiter, sekolah-sekolah, kantor-kantor, jalan-jalan, tonil, tar12an, nyanyian. dan sudah tentu alam—alam “negeri yang indah—Indone-sia”, sebagaimana dinyatakan oleh Mikosya. Indonesia sekarang terlihat di atas layarputih di-teater-teater Sovyet dengan berwarna!
Dan film ini diriringi oleh lagu populer:
Tanahairku Indonesia. Tanahtumpahdarahu yang mulya......
Lagu yang menjadi “Leitmotiv” di dalam film tsb.
Di dalam suratkabar “Sovyetskaya Kultura” (Kebudayaan So-Soviet) tertanggal 22 dan 25 Januari y.b.l., ber-turut-turut cineast Mikosya menuliskan kesan-kesannya tentang Indonesia. Disertai ilustrasi foto tentang Pekan Raya, pemandangan pantai, pematurg Bali, tarian Jawa, pelukis-pelukis Afanji dan Hendra, dan sebuah candi. Mikosya menulis tentang Indonesia, Jakarta, Pekan Raya, Pencak, Hendra, game-lan, tarian-tarianan, Borobudur dan Prambanan, Bali, dan lagu Nyiur Melambai.
Gambar yang terlihat pada halaman ini adalah sebagian dari ilustrasi pada artikel Mikosya di dalam “Sovyetskaya Kultura” itu.
Dengan rasa simpati dan persahabatan Mikosya menulis tentang kehidupan dan perjuangan Rakyat Indonesia yang tidak beryuduan lain kecuali kemerdekaan yang penuh.
Kita ingin benar tahu bagaimana simpati dan rasa persahabatan itu dituangkan oleh Mikosya dan Sokolnikov di dalam filmnya!
Kecuali Rakyat Sovyet, barangkali perlu juga kita sendiri. Rakyat Indonesia ini melihat Indonesia kita dari film berwarna “Indonesia”.
Tidakkah Kementerian Penetrangan atau PPK misalnya mengambil inisiasi untuk mengimportnya?
Ataukah dalam hal ini pun Panitia Sensor akan menjadi perintang?
Bahasa persahabatan sudah diucapkan oleh kata-kata layarputih. Tidakkah kita bisa meningkat ke produkti bersama Indonesia-Sovyet?
Film India
BANYAK wanita yang mentiyurkan air mata waktu melihat film “Dil e Nadaan” (Pengorbanan Asmara), dan banyak pula orang mendapat kepuasan waktu melihat film berwarna India yang pertama kali, yaitu A-an. Sudah ber-puluh-puluh yang didatangkan dan diputar di Indonesia, namun, sedikit sekali orang yang mengetahui tentang industri film India.
Tidak begitu banyak orang yang tahu bahwa negeri besar dan kuno ini, yang mempunyai penduduk lebih dari 350 yuta orang, merupakan negeri Asia yang paling besar industri filmnya. Di seluruh India sekarang terdapat 60 studio film besar dan kecil. Ke- enam puluh studio ini setiap tahunnya menghasilkan rata-rata 300 film, suatu yumlah yang amat besar kalau dibandingkan dengan negeri-negeri Asia lainnya.
Studio-Studio itu sebagian dipunyai oleh kapitalis-kapitalis India yang besar, sebagian lagi oleh raja-raja yang ingin mengembangkan kekayaannya. Malahan di India ada sematlam cemooh: “Kalau mau lekas kaya, masukkan uangmu diindustri film”. Betapa besarnya industri film India ini dapat dilihat dari besarnya uang yang tertanam di situ, yaitu di sekitar Rs 400.000.000 (Rupee = uang India). Untuk menyalurkan seluruh produksi film itu, di India sekarang ada 3.250 gedung bioskop (Amerika 20.000, Inggris 5.000.).
Kekayaan India memang besar, semuanya serba besar, sampai-sampai kepada kemelaratan dan kemiskinan Rakyat. India juga bukan main besarnya. Meskipun sekarang tidak lagi banyak orang yang mati kelaparan seperti dalam zaman penjadahana Inggris, tetapi tidak sedikit yang masih terpaksa makan satu kali satu hari. pengangguran banyak, sebagian besar masih tinggal dalam gubuk-gubuk sederhana, dan sebagian besar lagi masih tidak tahu membata dan menulis.
Itulah di antara banyak sebab, mengapa film di sana menduduki tempat yang penting dan menda- pat sambutan yang begitu hebat dari Rakyat. Dalam kemelaratau yang mencekek itu mereka membutuhkan hiburan, dan satu-satuya hiburan yang murah ialah: film. Ada untungnya lagi, Meskipun tidak dapat membata dan menu- lis, mereka dapat menikmati film itu dengan sempura, sebab film itu semuanya berbitiyara.
Tetapi kemelaratan dan kebutuhurufan penduduk ini dipakai oleh kapitalis-kapitalis film India untuk mengeduk keuntungan lebih ba- nyak lagi, yaitu dengan membuat film-film murah yang menggiurkan, penuh nyanyian dan tar12an, isinya tidak ada, pendek kata: asul di- sukai oleh orang banyak. (Dalam beberapa hal ada persamaannya dengan Indonesia!). Begitulah, maka sampai beberapa lama film India ini tidak mendapat perhati- an sama sekali dari “kalangan atas”, dan juga dari luar negeri.
Tetapi, zaman baru datang bagi dunia film India. Fajar mulai muncul dan menerangi ja- lan-lan mana yang harus ditempuh oleh film India. Zaman baru itu, fajar baru itu, dimulai dengan munculnya film “Do Bigha Zamin” atau dalam bahasa Indonesia “Dua acre tanah” (satu acre = kira-kira 1/3 HA).
Film ini memblikin gempar se- luruh India, dan di-mana-mana di- sambut dengan penghormatan yang luarbiasa. Pemerintah India menghadiah film ini dengan suatu tanda penghargaan, karena di- anggap baik. Film ini kemudian diakui sebagai film terbaik dalam Festival Film Internasional di Cannes. Juga dalam Festival Film Internasional di Karlov Vary (Cekoslowakia) film ini mendapat diploma penghargaan yang tertinggi!
Itu masih belum seberapa. Be- lum lama berselang, “Do Bigha Zamin” telah dipertundukkan di Moskow, Leningrad, dan semua ibukota Republik-Republik Soviet deng- an serentak, yaitu pada tanggal 23 September 1954. Madlalah “Literaturnaya Gazeta” memberikan komentar yang amat baik tentang “Dua acre tanah” ini. Selain itu, di kota-kota besar yang penting di Eropa, film ini menarik perhatian banyak orang.
Apakah yang begitu hebat dalam film ini? Tidak lain karena film ini jujur, sederhana, dan menggambarkan apa yang sesung- guhnya tentang Rakyat. “Do Bigha Zamin” berdasarkan realisme, malahan orang-orang India sendiri menamakan realisme dalam film ini begitu hebatnya sehingga mereka sebutkan “down- to-earth realism” (realisme sampai ke tanah). Apakah memang begitu?
Memang, memang begitu. “Do Bigha Zamin” merupakan protes kaum tani melarat di India, yang karena tindakan se-wenang-wenang tuan-tuan tanah menjadi seungsara hidupnya, dan kehilangan tanah- nya karena dirampas oleh tuan- tanah (zamindar). Didalannya penuh dengan pemandangan-pemandangan yang menyedihkan dari kesengsa- raan kaum tani India, tetapi juga bagaimana kalanya jwa mereka. Cerita sedih, tar12an dan nyanyin-nyanyin Rakyat India menghiasi “protes” kaum tani ini, sehingga merupakan film yang betharga untuk dilihat.
Terutama sekali, isi yang dalami dari film “Dua acre Tanah” ini ialah perlawanan terhadap keti- dakdilan oleh keluarga petani yang bernama Sambhu terhadap tuantanh. Waktu disuruh me- nyerahkan tanahnya kepada tuan- tanah, Sambhu dengan garang berkata “Tanah adalah ibu saya, bagaimana saya sampai hati me- nyerahkan ibu saya”. Dari kalimat ini sudah bisa kita ukur bagai- mana film ini......
Sejak munculnya “Do Bigha Zamin”, yang mendapat sambutan begitu hebat itu, maka timbullah suatu aliran baru dalam dunia industri film India. Banyak sekali film yang kemudian dibuat menu- rut cara-cara Do Bigha Zamin ini, yaitu berdasarkan cerit-cerita yang berhubungan dengan kehidupan Rakyat se-hari-hari. (Untuk jelas- uya: dari 180 film yang dibuat setahun sesudah munculnya “Do Bigha Zamin”, lebih dari separo- nya meniru “Do Bigha Zamin” ini).
Sejak waktu itulah di India mulai zaman baru yang dianut oleh sebagian besar dari studio-studio film India, yaitu zaman realism. Suatu zaman yang kalau difikuti dengan setia dan jujur, tentu akan membawa film India ke- tingkatan yang tinggi.
United Fruit Company
UNITED Fruit Company, atau kalau diteryemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi “Maskapai Persatuan Buah-Buahan”, bagi Rakyat Indonesia sebenarnya bukan lagi nama yang asing, dalam arti kata, bahwa Rakyat Indonesia mengenal akan kejahatan-kejahanan dari maskapai ini. Setiap kali, kalau kita mendengar sesuatu “kejadian” di Amerika Tengah, maka kita tidak akan salah jika mengatakan, bahwa itu adalah perbuatan United Fruit Company.
Berbicara tentang United Fruit Company, maka mau tak mau kita harus juga berbicara tentang campurtangan langsung asing dalam masalah-masalah dalam negeri Amerika Tengah. Dan campurtangan asing ini ialah tidak lain daripada campurtangan Amerika Serikat dalam masalah-masalah dalamnegeti, yakni politik, ekonomi, keuangan dan militer. Jika kita mendengar, bahwa di-jatuhkannya pemerintah yang sah di Guatemala dan dibeyainya serangan terhadap Guatemala oleh United Fruit Company, dan bukan oleh Amerika Serikat, maka ini membuktikan, bahwa yang menyalankan peranan untuk pemrintah AS adalah United Fruit Company. Karena, pengusaha-pengusaha dari United Fruit Company ini scbagian terbesar adalah orang-orang yang duduk dalam pelbagai cabang pemerintahan Amerika Serikat.
Sejak habisnya perang dunia II pemerintah Amerika Serikat berusaha sekerja-sekeranya untuk menanam sebanyak-sebanyaknya modal di Amerika Latin. Menuut departemen perdagangan Amerika Serikat, angka-angka itu ialah sebagai berikut:
| Tahun | Jumlah |
|---|---|
| 1897 | $ 300 juta |
| 1919 | $ 2.000 juta |
| 1943 | $ 2.800 juta |
| 1950 | $ 4.700 juta |
| 1952 | $ 5.700 juta |
Untuk Amerika Tengah, yakni negara-negara Guatemala, el Salvador, Venezuela, Republik Dominica, Honduras, Nicaragua, Costa Rica dan Panama, yang berkuasa penuh dari modal Amerika Serikat ini adalah United Fruit Company. Maskapai ini bukan saja mempunyai onderneming-onderneming pisang dan lain-lain di negara-di negara tersebut, tetapi juga mempunyai pelabuhan-pelabuhan sendiri, sehingga maskapai ini tidak tergantung pada peraturan-peraturan dari negeri itu dan menguasai secara langsung segi-segi ekonomi Amerika yang terpenting yakni export dan pengangkutan. Dengan demikian maka UFC ini bisa menyalankan peranan yang penting dalam usaha-usaha campurtangan AS di negara-di negara Amerika Tengah.
Cobalah bayangkan, setiap kapal AS bisa mendarat di Amerika Tengah tanpa pengetahuan, pemerintah yang bersangkutan, dan apa yang dibawa oleh kapal-kapal ini pun tidak diketahui oleh pemerintah-pemerintah yang bersangkutan!
Dan bayangkan pulalah kejadian-kejadian ini, yakni intervensi secara terang-terangan oleh Amerika Serikat di negara-di negara Amerika Tengah: 1906—Cuba, 1907—Honduras, 1909—Nicaragua, 1912—Nicaragua, 1912—Cuba, 1912—Honduras, 1914—Mexico, 1914—Haiti, 1915—Haiti, 1916—Mexico, 1916—Republik Dominica. 1917—Cuba.
Semua ini adalah kudeta-kudeta yang dijalankan secara langsung atau tidak langsung oleh Amerika Serikat di Amerika Tengah melalui kekuasaan ekonominya yang dipegang oleh United Fruit Company. Karena, United Fruit Company ini menguasai bagian yang terpenting dari ekonomi seluruh Amerika Tengah, yakni export dan pengangkutan.
skets: pelukis Amerika Rafradgear.
Sejak habisnya perang dunia II, maka kudeta-kudeta yang dijalankan oleh AS melalui United Fruit Company ini ialah di Venezuela dalam tahun 1945, di Costa Rica dalam tahun 1948, sekali lagi di Venezuela dalam tahun 1948. Di Guatemala yang pemerintahnya menentang kekuasaan United Fruit Company ini, antara tahun 1946 sampai tahun 1950 tidak kurang dari 30 komplotan diketemukan yang bernaksud untuk menjatuhkan pemerintah Guatemala. Usaha-Usaha ini yang langsung dipimpin dan dibeyaai oleh United Fruit Company “berhasil” dalam tahun 1954 dan pemerintah terpilih Yacobo Arbenz Guzman terpaksa jiatuh.
Melihat kejadiand-kejadiand seperti kita gambarkan di atas, maka kekuasaan United Fruit Company itu di Amerika Tengah merupakan kekuasaan monopolii. Kekuasaan monopolii United Fruit Company ini bukanlah semata-semata dituyukan untuk menyari untung bagi kaum modal Amerika Serikat, tetapi juga merupakan sebagian dari persiapan perang yang sedang di persiapkan di seluruh dunia oleh fisk AS, dan justru inilah kita anggap penting untuk menulis sedikit tentang United Fruit Company ini di dalam tulisan ini.
Politik Amerika Serikat mengenai negara-negara Latin pada umumnya, dan negara-negara Amerika Tengah pada khususnya berkisar pada Doktrin Monroe yang dilahirkan pada tahun 1823. Resminya tuyuan dari Doktrin Monroe ini ialah untuk menghalangi negara-negara kerajaan Eropa cumpartangan dalam urusan-urusan dalammegeri seluruh Amerika, tetapi secara tidak resmi Doktrin Monroe ini berarti memberi jaminan pada Amerika Serikat untuk menjadi negara yang terkuat di Amerika, memberi hak monopolii pada AS untuk mengadakan intervensi dalam masalah-masalah dalammegeri Amerika seluruhnya. Politik ini hingga sekarang masih dijalankan, malahan diperhebat lagi dengan menjalankan, seperti kita tulis di atas, kudeta-kudeta di negara-di negara tersebut guna menjamin monopolii intervensi itu.
Dan justru ini pulalah yang kita rasa penting untuk diperhatikan pada Rakyat Asia, bahwa dalam ucapan-ucapannya pembesar-pembesar Amerika Serikat mengatakan, bahwa AS juga hendak menjalankan Doktrin Monroe Asia, antara lain melalui Seato. Ini berarti secara tidak resini, bahwa Amerika Serikat mau menjamin kedudukannya sebagai negara yang terkuat di Asia dan hak monopolii untuk mengadakan intervensi dalam urusan-urusan dalammegeri Asia sendiri.
Dan di Asia dewasa ini memang luanyak maskapai-maskapai semacam itu sedang bekeryaa, maskapai-maskapai yang membeyaai dan memimpin tindakan-tindakan subversif, seperti halnya United Fruit Company di Amerika Tengah. Oleh sebab itu maka kita sedikit pun tidak boleh lengah terhadap tindakan-tindakan “United-United Fruit Company” Asia yang ingin menyampingkan kekuasaan nasional dan mengoperinya dalam tangan-tangan yang a-nasional. Rakyat-Rakyat Asia tidak boleh membiarkan “United Fruit Company - United Fruit Company” itu menjalankan rolnya seperti di Amerika Tengah!
Memperkenalkan:
Mode dari Eropa Timur
WANITA-WANITA yang tidak mau ke-tinggalan mode, selalu memperhatikan tiptaan-tiptaan baru dari “raja-mode-mode” yang berpengaruh di Eropa Barat dan Amerika. Juga di tanah-air kita kreasi-kreasi baru dari “raja-mode-mode” Barat mempunyai pengikut-pengikutnya. Untuk memperkaya pengetahuan penggemar-penggemar mode kita, di “Zaman-Baru” nomor ini kita sadiykan beberapa soal dari Eropa-Timur.
Demikianlah kita bahwa saudara-saudara wanita kita ke mode-show (pameran mode) di ibu-kota Hongaria—Budapes—yang diadakan untuk ketiga kalinya dalam tahun 1954. Yang ikut da-lam mode-show internasional ini ada 5 negara, ialah Sovyet Uri Polandia, Cekoslowakia, Rep Demokrasi Jerman dan Hongaria.
Yang sangat menarik dalami mode-how di Budapes ini, ialah keistimewaaninya dalam kesederhanaan potongan, keahlian meta-pergunaan motif nasional yang digemari oleh Rakyat, dan mempergunakan dengan cakap sekali dalam memilih macam iyita untuk suatu model.
bawah: model pakaian anak-anak Sovyet Uni.
Sovyet Uni memperlhatikan mode yang yeugdig dan fris (segar), menyerminkan kesenian Rakyat, tapi tidak lepas dari tradisi pakaian nasional. Tidak haya mengenai hiasan-hiasan pakaianinya saja, diyuga dalam mentiyiptakan motif kain. Pakaian-Pakaian ini semua praktis dan sesuai dengan kese- nangan Rakyat.
Cekoslowakia yang kaya dengan pengalaman itu memper- tundukkan perkembangan baru. Dalam hal memilih warna sangat harmonis dan menyenangkan, da- lam beberapa hal hingga terlalu menghemat.
Polandia, yang untuk pertama kali ikut dalam pameran interna- sional, dengan industri-besar pa- kaian yang muh muda, sudah berang tentu be m dapat mema- dai mode dari Sovyet-Uni atau Cekoslowakia. Yang sangat mena- rik ialah pakaian-pakaian kostum, pakaian-pakaian olah-raga dan bekerja serta pakaian-pakaian yang dirajiut.
Dalam koleksi dari R. D. D. yang sangat bagus ialah pakaian-pakaian untuk wanita muda dan gadis-gadis dan beberapa pakaian dari kain polos yang sangat indah. Usaha industri pakaian R. D. D. menyolok sekali dalam menghidangkan bahan-bahan pakaian yang paling modern, terutama bahan pakaian tipis-tipis yang indah dan kuat untuk pakaian malam.
Koleksi pakaian Hongaria memundukkan pakaian yang indah, di mana dapat dipenuhi syarat-syarat estetika mode internasional, tapi tidak meninggalkan tradisi pakaian nasional Hongaria sendiri. Yang sangat mendapat perhatian ialah sebuah pakaian-rumah berwarna biru-tua, dihiasi dengan motif-motif nasional berwarna putih yang ditenunkan di dalamnya, berserta skhort berwarna putih dengan hiasan motif yang sama da-pakaian malam, berwarna biru-lam warna biru. Juga sebuah tua dengan kraag putih dari kant, yang mengingatkan akan pakaian zaman kuno, mengharukan para penonton. Dalam tahun-tahun belakangan ini, “Kuli-Kostum”—suatu model pakaian untuk bekerja di kantor—telah kehilangan “kekuasaan-tunggal”nya, dan orang mulai menaruh minat lagi terhadap pakaian kostum Inggris.
Pada umumnya pakaian-pakaian yang sesuai dengan sifat kewanitaan-yang mendapat persetuyuan yang paling besar. Banyak rok-rok dengan plisse diperlihatkan. Pakaian sore dan pakaian untuk kesempatan istimewa mempunyai rok yang sangat lebar dan pinggang yang pas.
Kesungguhan bekerja industri-industri pakaian dari negara-negara yang ikut serta, menjamin suksesnya pameran internasional yang diadakan belakangan ini.
Demikianlah, dengan modeshow internasional ini, negara-negara yang ikut serta dapat tukar-memukar model.
Dari H ke A
PERKEMBANGAN senjata untuk perang berjalanan dari A ke H, dari Atom ke Hidrogin. Perkembangan mode untuk kaum wanita, dipelopori oleh tuan Dior siahli dari Paris yang terkenal: berjalanan dari H ke A.
Ada laki-laki yang mengatakan: wanita-wanita ini macam-macam saja, modenya tak bisa dipegang ekornya! Sekali roknya memanjang, lalu memendek, untuk kemudian memanjang lagi dan memendek lagi. Sekali ping- gangnya menyenipit, lalu melebar, menyempit, melebar. Sekali lengannya penuh, lalu separo, lalu tigapertiga, lalu seperempat, lalu sepertiga, lalu penuh lagi. Sekali dilipat di sini, dilobangi di sana, diluruskan di sini, dibengkokkan di sana...
Wanita-Wanita tentu banyak yang tak setuju akan pen- dapat laki-laki ini. Kami adalah manusia, kami menyukai keindahan, demikian pembelaan diri kaum wanita.
Antara Eropa dan Amerika terus-menerus berlang- bung pertempuran: Paris mengutamakan “elegansi”, New York mengutamakan “glamour”. Tak diperlukan lagi penjelasan bagaimana Amerika memusatkan mode-modena pada penimbulan “sex-appeal”. Dan kalau banyak ahli mode membutuhkan etalase-etalase, reklame-reklame dan modeshow atau concours d'elegance untuk mempamerkan penemuan-penemuan barunya. Amerika hampir tak membutuhkannya samasekali: Amerika punya Hollywood, dan Hollywood juga berfunksi seperti etalase mode......
Baru-Baru ini suratkabar-suratkabar Paris memenuhi halaman-halaman mukanya dengan sensasi-sensasi tentang mode: tuan Dior merubah garis-H menjadi garis-A. Atau, kalau kita mundur ke tahun 1945 perjalanannya sebetulnya begini: dari A ke H ke A kembali. Perhatikanlah gambar pada halaman ini: paling kiri, garis-A pada tahun 1945, yang di tengah garis-H pada tahun 1954, dari atas sampai kebawa lurus sehingga pinggang tak tampak, dan paling kanan garis-A untuk tahun 1955 ini; semuanya dari atas sampai ke bawah tertutup rapat kecuali...... pinggang dan perut. Mendengar garis-A yang baru ini mungkin kita cept-cept memegang perut kita, jangan-jangan terus kontan masukangin...... Tetapi tuan Dior mempunyai pendapat tersendiri.
Wanita umumnya, sebagaimana halnya manusia pada umumnya, sangat menyuakai warna dan bentuk, suara dan irama—dan ini digunakan (atau di salah-gunakan) oleh pengusaha-pengusaha mode kapitalis untuk “mengexploitasi” kaum wanita. Tujuan kaum kapitalis mode itu adalah, agar wanita-wanita membeli pakaian yang lebih daripada yang dibutuhkanyya. Sudah tentu, yumlah yang bisa melakukan ini tidak banyak. Massa wanita yang luas, keinginannya untuk mempunyai dua-tiga potong pakaian pun seringkali tak terpenuhi......
Kita tak tahu apa lagi yang akan menggemparkan dunia mode pada tahun 1956, 1957, 1958. Semen-tara itu perusahaan-perusahaan mode, yang besar Maupun yang sedang, tak henti-hentinya menghitung keuntungan.
Inrat.
Pesta di Desa Bersalju
JAM menundukkan angka 10, malam. Kami berdua, aku dan Marie Morvan gadis utusan dari Perancis terpaksa meninggalkan kota Yamagata yang sedang dili-puti suasana malam suka-ria. Pembagian pekerjaan. Kami ting-galakan tiga kawan angota delegasi GgPDS lainnya menikmati tari dan nyanyi ber-sama-sama pemuda-pemudi Yamagata dalam resepsi yang diselegarkan malam ini. Sedangkan kami berdua, diantar oleh pemimpin-pemimpin semua organisasi pemuda dan pelajar menduju lurr kota, ke Yamamoto. Satu sedan dan tiga buah bus penuh. Tentu, kami mendapat kehorma-tan duduk dalam sedan. Walikota Yamagata telah bermurah hati meminjamkan sebuah Khrysler kepada kami. Kami berlima dalam sedan beserta bunga-bunga. Se-orang sopir, ketua panitia, dua orang profesor yang bertindak se-bagai penteryemah-penteryemah Inggris dan Perancis dan kami berdua.
Malam ini adalah malam kami. Salju yang membukit di sana-sini, dingin yang mengigit daun teli-nga serta huyan kecil yang mulai turun tak menghalangi penduduk Yamagata untuk keluar dari ru-mah-mahnya mendemonstrasikan rasa solidariteta-solidaritetan kepada kami, dis-e-panjang jalan yang dilalui rom-bongan kami menuyu keluar ko-ta. Kupaksan tanganku yang sete-ngah beku keluar jendela mobil, untuk menyambut lambaan ta-ngan mereka. M'ski pun cuaca tak memungkinkan pengelihatanku menemui segala-galanya, tetapi masih dapat kutangkap lambaan bendera-bendera merah-putih di antara hiasan selamat-datang yang me-wah ini. Yah, dalam malam di-ngin ini pulalah juru-kamera-kamera mencurahkan segala kesanggu-pannya untuk mengabadikan se-mua yang terjadi dalam perja-lanan ini, membikin film.
Tiga puluh lima menit kemudian tibalah kami disatu tempat di pinggir kota. Rombongan ber-henti di sini. Beratus obor yang mengelilingi mobil-mobil kami meng-gantikan kelam yang membasa. Di bawah obor-obor ini, wajah-wajah gembira dari pemuda-pemuli ta-ni di sekitar tempat ini menyata-kan selamat datang dengan se-nyumna yang manis mesra. Segera kami turun mendapatkan mercka. Seorang yang setengah lanjut umurnya menggontang tangan kami berdua. Saya camat (son-kho) Yamamoto, ia memperkenalkan diri. Inikah Yamamoto? Tanyaku segera. Bukan, jawab-nya, Yamamoto masih jauh, di-sana di atas bukit-bukit yang memuliti.
Rasa penatku yang sangat, telah mendorongku untuk kecewa, setelah kudengar bahwa tempat yang kami tuju masih jauh. Begitu juga dengan temanku Marie. Di-dekapan lenganku keras-keras, sambil bisikiku: Beberapa hari yang lalu se-hari-harian aku bersama-sama pe-muda-pemudi Paris me-mekik-mekik di depan National Assembly me-ntentang manuver Mendez France untuk mempersenjatai kembali Jerman. tetapi tak sepentar ini... Sssst! Kupotong gerutuan ini de-ngan senyumku menghibur. Mak-lumlah, sejak kami turun dari kereta-api pagi-pagi buta ini hari hingga sekarang belum pernah menikmati istihat semeni pun.
Lain halnya dengan orang-orang di-sekeliling kami ini. Entusiasme mereka yang terlalu besar untuk menyambut kami, tak mengambil pusing kepenatan kami. Senera ditariknya kami kepinggir jalan, di mana telah tersedia sebuah me-ja basah dengan pengeras-suara di atasnya. Seorang pekerya radio, dengan tape-recorder di pinggang-nya, sambil mengatungkan alat penangkap suara jongkok dide-pan kami. Camat Yamamoto ber-diri di antara kami berdua. Se-orang pemuda tegap, tampil ke-depan mengucapkan pedato se-lamat-datang. Sebelum kami le-paskan saudara-saudara meneruskan per-jalanan berilah kami semangat dengan satu dua kata, demikian ia menutup pedatonya. Kuminta Marie memenuhi permintaan ini. Lantang juga suara Marie mal-am ini, dan tiap-tiap penteryemha-nya cukup memanaskan udara yang dingin. Sebentar orang-orang ini ia bawa berkenalan dengan pe-tani-tani haus-damai di daerah perba-tasan Saar. Perancis timur, dan sebentar lagi ia temukan mereka dengan pemuda-pemuda tani Tiongkok yang sedang belajar mempergu-nakan traktor. Riuh rendah aplaus mengikut akhir pedato Marie. Be-lum cukup dengan ini, mereka minta juga aku tahu pasti bah-wa malam ini di Yamamoto ba-hagianku berbicara panjang. Terlintas dalam kepalaaku, aku berbicara sedikit saja. Aku ber-bicara dalam bahasa mereka:
“Heiva to yuzo no tameni, mi-nasama ganbarimasho! !! !” (Mar-ilah kita bekerya keras untuk perdamaian dan persahabatan!). Reaksi pertama adalah tangan penteryemah menggontlang ta-nganku, aku berbicara. Sdr. Camat yang berdiri disampingku memaksaku juga. Tapi aku beristirahat katanya.
Sambutan: “Indonesia minzoku dokuritsu banzai!‘ menggegap dari beratus mulut memecah Sambutan: ”Indonesia minzoku angkasa. Lagi, bunga-bunga menghuyani kami, tangan-tangan kasar dan halus meriah minta bersalaman. Sekali, tepat kusentak tanganku kesakitan, ketika seorang gadis menggigit ibujariku dengan gemas. “Heiwa toyuzo no tameni”, kata sdr Camat dengan senyum-nya menyiram mataku yang sontak liar marah. Hilang marahku, ada-ada saja!
Kami tinggalkan kumpulan manusia-manusia yang sangat memberikan ilham ini, menuju Yamamoto. Tidak dengan sedan atau bus-bus, tetapi dengan slee (kereta peluncur es) yang ditarik oleh kuda. Aku dengan Marie mengambil slee yang paling tengah, karena angin pun mulai menderu dari jurusan Yamamoto. Angin dingin yang menyalat dah me-niksa perasaanku yang sedang mengagumi keindahan malam lepas bersaju. Gemercik air-jatuh dari bukit-bukit di sekeliling kami serama dengan gemercingnya pakaian kuda bersentuh dengan boom pasangan. Perjalan be-rat ini memakan waktu hampir satu jam. Jam 12 malam kami tiba di Yamamoto.
Obor-Obor lagi dengan gadis-gadis bernompe. Bersalam-tangan bukan adat mereka, tetapi sekali kumulai, sekejap saja merah-merah tanganku dibikinrifya. Langsung kami dibawa kesalah satu ruangan besar dari salah sebuah gedung SMP. Ruangan besar yang berisi tidak kurang dari 3000(tiga ribu) orang tua dan muda duduk dilantai. Makan nanti saja, ber-temu dengan manusia-manusia lebih penting daripada makan, bisikku pada Marie. “d'Accord!” sahutnya pelan. Kami serombongan naik kemimbar, dilikut dengan tempik sorak ramai memecah malam. Juru-kamera-kamera memilih moment-moment baik dari kedladian ini. Sdr Camat yang selama ini mengikut kami, sekarang bertindak sebagai kepala tuan-rumah. Ia memperkenalkan kami berdua kepada se-genap hadirin, dan baru di sini ia memperkenalkan namanya sendiri. Nama saya Yoshida, katanya, te-tapi saya tak ada sangkut-paut dengan politik bekas perdana-menteri Yoshida yang celaka, tambahnya melucu. Ia menerus-kan pedatonya, oleh karena itu saya bisa bersama-sama dengan rakyat di desa ini, yang setahun yang lalu berhasil mengalahkan maksud laksamana Redford men-yadikan sawah-ladang kami seba-gai pangkalan udara militer. Ke-mudian ia mempersilahkan aku berbitiyara.
Aku, di-seling-seling oleh aplaus panjang di sana-sini, berbitiyara panjang dalam kesempatan ini. Dua jam, termasuk penterde-mahannya. Aku berbitiyara tentang perjuangan kaum tani di Wates dan Tanjungmorawa, aku berbi-tiyara tentang perjuangan kemer-dekaan Indonesia. Pula aku me-yakinkan mereka, bahwa persatuan rakyat sedunia akan memenangkan satu dunia, di mana tidak akan meledak bom-bom atom dan zat air. Bersamaan dengan akhir pembiti-yaraanku, serombongan pemuda dan gadis-gadis merenggutkanku dari mimbar. Mereka mendukungku ke tengah-ke tengah kumpulan manusia-manusia hangat, dan ber-ulang-ulang melem-parkan diriku ke atas, dianggap bola saja. Mereka mengembalikanku kemimbar, setelah kurasa-kan patah-patah tulangku. Lonceng memukul tiga kali, tapi sdr Camat masih mempersilahkan Marie ber-bitiyara. Maaf, kata Marie, saya tak berbitiyara, saya menyanyi saja. Dengan sambutan meriah, Marie menyanyikan “Commune de Paris”. Hujan bunga-bunga meng-akhiri pesta dan ceramah malam di desa Yamamoto.
Malam ini tidurku harus berpisah dengan Marie. Aku tidur di rumah keluarga tani, bapak dari pemimpin organisasi pemuda desa Yamamoto. Sedangkan Marie ditempatkan di rumah sdr Camat. Sebelum tidur, keluarga tuan-rumah mengayakku makan dulu. Perutku yang sudah berkeroncongan tak dapat membedakan lagi makanan Jepang yang serba dengan ikan mentah ini dengan aku sempat memejamkan mata-nasi rendang di Senen. “Meskipun beras di sini masih harus dibeli secara ransum, kata seorang ibu tua, dengan segala jalan kami dapat menyadian beras lezat kepada saudara, bukan beras ku. Dengan tak kusedari, juru-kasanggup beraksi dalam kesempa-tan ini, dan tukang-tukang tape-recor-der tak bosan-bosannya memetik knop untuk menangkap segala yang Dlam setengah lima tepat, seorang gadis keluarga tani ini mengatakan bahwa tempat-tidurku nging beracum yang diimpor Amerika dari Siam!“ Aku hanya me nganguk dan menyup ceapat-ceapat. mera-mera yang aktif it pun masih telah siap. Setelah kunyatkan: oyasumi nasai, kepada semua, kuhempaskan ba1anku di atas ti lam tebal dingin. Di luar huyan saldu makin besar saja. Sebelum ku, penterjemahku berbisik, besok jam delapan kita sudah harus berada di setasiun Yamagata bersuara dari mulutku.
Ditangkap
LENIN kembali dari pembuang an. Pembesar Tsar melarang nya tinggal di kota besar atau b iasa di mana ada banyak fabrik. Ini adalah karena mereka hendak menempatkan Lenin sejauh mung kin dari kaum buruh.
Wladimir Ilyitsy memilih kota Pskov dan tinggal di sana. Dia mengambil Pskov karena dengan kereta-api kota ini tidak jau dari Sint Petersburg, dan dia su dah menetapkan dalam hati un utuk mengundungi ibukota itu, Walaupun dia tahu bahwa jika polisi mencum jejaknya di sana, mereka akan menangkapna kem ball.
Dua kali Wladimir Ilyitsy da tang ke Sint Petersburg, dan se muanya beryalan lancar. Tidak seorang pun polisi yang dapat me ngenal dia.
Ketiga kalinya ia pergi lagi ke sana dengan adiknya, Dmitri Il yitsy. Mereka berdua membawa berans sama sebuah keranjang berat. Keranjang ini berisi bu ku-ku Bolsyewik untuk kaum buruh. Buku-Buku ini diselundupkan ke dalam negeri karena pemerintah tsar melarangnya.
Wladimir Ilyitsy tidak ada me lihat sesuatu yang menturiqakan balk di stasion Maupun dalam ke retaapi. Tampaknya tiada seorang pun yang mengikut mereka.
Tetapi Walaupun begitu ia memutuskan diyuga untuk bertukar keretaapi di tengah jalan, sehling ga mereka akan tiba di Sint Peters burg di suatu staslon yang pa ling sedikit diduga akan mereka datangf.
Keretaapi ini melewati Tsars koye Selo. Ia datang dari Tsarskoye Selo ke Sint Petersburg. Semuanya beryalan dengan aman. Tetapl yang terpenting dari semuana itu, mereka berhasil menyerahkan ke ranjang kepada seorang yang terpetayya. Dan Wladimir Ilyitsy menghabisi malam itu pada beberapa kawan lama.
Pagi-Pagi benar keesokan harinya, begitu Lenin muncul disetrat, begitu dua polisi menangkapna. Seorang memegang tangan kan nanya erat-erat-erat-erat, yang lain kirin ya. Mereka kwatir Lenin mendan pat kesempatan melenyapkan be berapa kertas yang berisi rahasia yang diharap polisi akan dapat dipergunakan untuk membuang Lenin kembali ke Siberia.
Dan memang mereka menemukan secark kertas yang demikian dalam kantongnya.
Tampaknya kertas itu seperti rekening biasa saja. Tetapi di antara angka-angka rekening itu ada tulisan rahasia dengan tinta yang tak kelihatan.
Untuk dapat melihat tinta kertas itu harus dipegang di atas nyala api.
Kedua polisi itu membawa Wladimir Ilyitsy kegadu polist. Di sini ia digeledah dan polisi mengambil semua kertas-kertasnya, ter masuk kertas rekening, tetapi me reka tidak memperhatikannya.
Wladimir Ilyitsy diseapk dipen jara dua minggu dengan alasan ia mendatangi Sint Petersburg dengan tiada izin. Lain daripada ini tiada lagi yang dapat dituduh kan kepadanya. Jadi polisi tidak mengetahui samasekali keran jang yang berisi buku-buku terla rang atau kertas yang ditulis ra hasia dengan tinta yang tak kell hatan itu.
Walaupun demikian seorang dari polisi itu mau membuat su sah juga pada Wladimir Ilyitsy. Pada waktu itu Wladimir Ilyitsy sedang mengadakan persiapan un tuk pergi keluarnegeri. Ia mau mulai menerbitkan suratkabar Bolsyewik dari sana. Seorang pun tidak boleh meninggalkan negeri dengan tiada paspor, dan Wladimir Ilyitsy dengan susah payah telah berhasil mendapatkan se buah.
Ketika polisi mengeledeh dia, pasport itu diambil diyuga dari dia, dan polisi yang mau bikin susah Lenin sudah menetapkan dalam hatinya untuk tidak mengembalikannya. Dimasukkannya paspor ke dalam laci dan berka ta pada Lenin:
“Kau boleh pergi”.
“Saya tidak mau pergi dengan tiada pospor itu”, jawab Le nin.
“Dan saia tidak akan mengembalikannya!”, bentak polisi dengan berlagak.
Wladimir Ilyitsy menjadi marah.
“Ini pelanggaran terhadap un dang-dang! Saya akan mengadukan nya”.
Dan ia berjalan keluar ceapat cenat.
Melihat ini polisi itu meneriak kan dari belakang:
“Dengar dulu...........ini ambil paspornmu!”
Di jalan Lenin ngomel marah marah pada dirinya sendiri. Ketika mengingat polisi itu ia berka ta dalam hatinya: “Alangkah, bo dohnya orang itu! Maling betul!
Dengan dilepaskannya ia kem ball, maka Lenin tabulah pasti bahwa polisi sama sekali tidak mengetahui keranjang itu dan ia teringat kembali pada paspor yang ada dalam kantongnya.
Ia tertawa sendiri dan berkata lagi:
“Ia memang betul-betul orang tolol”.
Kesan-Kesan tentang
Olahraga di Sovyet Uni
Untuk memenuhi undangan Jawatan Memajukan Jasmani dan Olahraga Kementerian Kesehatan Rakyat Sovyet Uni, baru-baru ini telah berkundung satu delegasi wartawan-wartawan olahraga Italia ke Sovyet Uni.
Delegasi itu belajar kenal selama perlawatan 20 hari di Sovyet Uni dengan pekerjaan-pekerjaan dari pelbagai badan-badan olahraga di Moskow; mereka itu berkundung ke Leningard, Kiev, Tbisli dan Stalingrad.
Mereka itu pesiar pula sepanyang Terusan Wolga-Don, yang bernama “Lenin”. Pada malam sebelum mereka bertolak kembali ke Italia, anggota-anggota delegasi Italia itu telah menyatakan kesan-kesan mereka itu selama pesiar di Sovyet Uni. Sedangkan atasnama delegasi Italia, pemimpinnya, L. Tarocci meberikan keterangan sembaga berikut:
“Sebelum kami berangkat balik ke negeri kami, para wartawan dan pemuka-pemuka olahraga Italia, yg 3 minggu lamanya menjadi tamu di Sovyet Uni, dengan ini menyatakan terimakasih kami yang tidak terhingga untuk kesempatan-kesempatan yg tidak diberikan kepada kami untuk mengenal dari dekat susunan dan organisasi olahraga Sovyet dan sistem pendidikannya dan metode-metode dari ajaran-ajaran olahraganya. Di mana-mana kami disambut dengan simpati dan kegembiraan, dan segala pertanyaan kami mendapat jawab yang penuh mengandung ilmu pengetahuan. Ribuan dan sekali lagi ribuan pemain-pemain olahraga, priya dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, yang kami persaksikan distadion-distadion, dikolam-dikolam-renang dan di lapangan-lapangan sport waktu berlatih dan bertanding, membuktikan ada nya dahayhidup yang besar dan ce-patnya kemayuan gerakan olahraga di negeri itu dan menjelas kan pula hasil-hasil gemilang yang telah pernah ditipai oleh olahraga Sovyet di lapangan internasional.
Kami sangat kagum kepada disiplin. ytra saling hormat-meng-hormati dan sikap yang terkendali (correct) dari pemain-pemain olahraga Sovyet, baik semasa di lapangan, Maupun oleh pendidikan olahraga yang tersusun sampai kepada seluk-beluknya.
Kami dapat menerangkan, bahwa olahraga di Sovyet Uni se-sungguhnya suatu alat yang berkuasa dalam mendidik pemuda-pemuda dan kaum buruh dan bahwa olahraga itu mempunyai pengaruh yg baik sekali atas pelajaran pemuda-pemuda dan pekerjaan kaum tsb.
Kami mengharapkan dari hati kecil kami, agar perhubungan soprt antara Italia dan Sovyet Uni hendaknya bertambah rapat lagi dan lebih menghasilkan buah yang baik, sehingga kemayuan sport dan pengokohan keryasama antara kedua bangsa itu semakin menjadi baik hendakna.
20 tahun lamanya—kata anggota delegasi yang tertua, Pozzo Vittorio, aku menjadi pemimpin dari Kesebelasan Pilihan Italia dan aku dapat menanggil sekalian pemain dari seluruh pelosok Italia.
Pemain-Pemain dari Kesebelasan yang kupimpin itu masih ada yang bermusuhan, kadang-kadang beberapa ofang di antara mereka itu mem-bikin kegaduhan, sehingga akhirnya mereka berbantah dan ber-obah yadi musuh. Pengalaman praktis pada kerya ini telah me-yakinkan aku, bahwa sebab tidak sehatnya perhubungan antara 2 orang manusia pada banyak hal adalah karena kekurangan pengertian, Ataupun karena adanya orang ketiga yang diyahat.
Untuk menyoba mendamaikan 2 orang yang bermusuhan, aku selalu memaksakan mereka berdua menginap dalam sebuah kamar dan selalu memberikan hasil yang bagus, sebab mereka akrhinya bl-sa sama-sama makan dan sama-sama tidur.
Biasanya kedua orang yang bermusuhan itu sesudah menjalan diyangka waktu yang singkat akan menjadi sahabat karib yang tidak berpisah-berpisah pula. Sewaktu aku berhubungan dengan orang-orang Sovyet, aku yakin, bahwa adalah karena purbasanga dan kurang pengertian tentang perlunya perhubungan yang erat-erat dan tidak adanya kepentingan-kepentingan politik yang sama merupakan sebab-musabab, maka beberapa orang Italia bersikap bermusuhan terhadap orang-orang Sovyet.
Dalam percakaan dengan orang-orang Sovyet, dengan seorang pekerya, seorang employe, atau direstoran, selalu aku meman-
... teks lanjutan tidak tersedia dalam sumber asli ...
-
“Musikmu juga!” (Regards)
Hakim: “Dari mana berita yang dimuat diluaran tuan ini?”
Wartawan: “Dari kalangan yang mengetahui”.
Hakim: “Siapa itu kalangan yang mengetahui?”
Wartawan: “Sumber yang boleh dipercaai...”
Hakim: “Siapa itu sumber yang boleh dipercaai?”
Wartawan: “Kalangan yg mengetahui...”
Polisi: “Kalau tidak ada saya siapa yang menjaga kau?”
Maling: “Kalau tidak ada saya siapa yang kau jnga...”
Guru: “Di mana letaknya negara Turki?”
Murid: “Di Atlantik Utara”
Guru: “Salah. Turki letaknya di Timur Tengah”
Murid: “Itu disamai dulu, tetapi sekurang-sukh masuk Nato”
“Masya tuan-tuan yang begitu gagah takut melihat anjing saya yang begitu kecil!”
Di dalam salah satu bioskop diadakan peraturan di mana tentara yang membawa tanda keanggotaannany mendapat potongan 50%.
Seorang yang memaki scr-ban yang rupa-rupanya buta-huruf antre diloket tentara.
Opsir yang paling depan me-naruh uang: “Satu untuk kap-ten...”
Belakangnya: “Dua Letnan”
Remidian: “Mayor...”
yang paling belakang: “Haji...”
(London Opinion)
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.