DENDAM
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
DENDAM
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Diterbitkan pertama oleh
Jajasan Pembangunan Djakarta (1950)
Transcriber: F. Indah
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Gambar sampul: Battle Field (1907), karya Käthe Kollwitz
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
DENDAM
Ini adalah rangkaian kejadian dalam seminggu. Ini adalah cerita yang betul-betul terjadi tentang kelemahan perasaan seorang manusia. Dan manusia itu ialah diriku sendiri.
Dongeng ini adalah begitu sederhana serta mungkin sekali tak patut untuk diketahui orang. Sederhana! Sederhana kain rombeng atau bangkai kucing di tengah jalan. Tapi untuk manusia lemah rasa itu — untuk diriku sendiri — adalah suatu rangkaian kejadian yang merupakan pancangan pertama dalam sejarah hidupku.
November 1945.
Sebagai pemuda-pemudi lainnya aku pun kena demam peluru. Tidaklah mengherankan kalau aku juga mendaftarkan diri jadi prajurit. Aku diterima. Sebagai prajurit baru lainnya aku belum lagi menerima distribusi pangkat. He, mengapa pangkat? Pangkat! Sama dengan butir-butir peluru pun sama harganya dengan laras owengun. Dan tak adanya pangkat membuat seorang prajurit tak punya peranan apa-apa dalam segala hal, dari pertempuran melalui urusan keamanan kota sampai pun di lapangan asmara.
Empat jam sesudah ditempatkan di pangkalan X, pertama-tama yang memabukkan hatiku ialah satu kompi pasukan jalan yang sedang menghadap ke markas kesatuan. Mereka berbaris di pinggir jalan besar. Gerimis tipis tak dipedulikan. Para penonton pun tak ambil pusing pada hujan tanggung itu. Hari senja. Tak seorang pun bicara satu sama lain. Semua sibuk dengan perhatiannya masing-masing. Para prajurit membetul-betulkan letak senjata, dan para penonton mengamat-amati tontonannya. Pada tiap pinggang prajurit tersangkutkan granat tangan dari berbagai pabrik. Rata-rata terdapat dua karabin di tiap regu. Tiap seksi punya satu senapang mesin. Selain itu semua bersenjatakan bambu runcing. Montir hanya sepucuk. Dan muka para prajurit tenggelam dalam topi-bajanya.
Rakyat jelata — berpangkat atau tidak — menonton dari pinggir jalan raya. Aku, sebagai prajurit, jaga. Dari prajurit-prajurit yang tak kena dinas juga. Di kala itulah perasaanku meluap. Kebangsaan-kebangaanku sudah melalui batasnya menuju ke kemabukan. Dan sesungguhnya aku telah mabuk melihat angkatan perang sendiri, sekali lagi cuma sekelumit dan pula lengkap persenjataannya. Sebentar-sebentar seluruh bulu badanku meremang. Dan aku tahu, orang lain pun demikian pula halnya.
Bukan rahasia lagi, bahwa kompi T itu akan menduduki garis pertahanan yang telah dimajukan tujuh kilometer ke depan. Tetapi di mana pusat-pusat pertahanan itu hanya beberapa orang saja yang tahu. Dan bahwa front tujuh puluh kilometer dari pangkalan X itu semua orang tahu belaka. Di stesen, satu formasi kereta api yang menghadap ke jurusan barat telah sedia. Di gerbong-gerbong terbuka telah dimuatkan orang empat trak, dua sedan dan satu jeep.
Muka para prajurit yang masih sama belia itu nampak suram — kesuraman menghadapi keberangkatan ke front, ke medan mati.
Dan ini sudah kebiasaan. Mereka sedang berunding dengan bayangan otaknya sendiri: angan mendahului pertempuran melawan musuh. Tapi bila nanti pangkalan telah ditinggalkan dan peluru berdesir di angkasa dengan bunyinya yang sebagai desis tahu digoreng, semua kemuraman akan lenyap. Dan lenyap sama sekali sebagai lenyapnya dendeng ke dalam mulut tukang catut. Hal-hal kecil akan musnah. Juga hal-hal besar — sekalipun asmara atau keamanan jiwanya sendiri. Bila pertempuran telah mulai dan dada berdebar-debar kencang, tunggallah perhatian dalam jiwa: Sasaran! Kemudian: tembak! Desak! Usir! Rampas! Akhirnya: bersama nyanyian kemenangan yang riang pulang ke pangkalan.
Hujan merintik-rintik jua. Senja kian kabur jadi malam. Para famili yang ditinggalkan mendoa panjang. Mendoa agar prajuritnya jangan ditembusi oleh peluru musuhnya. Dan jauh nun di sana, di tempat musuhnya, orang mendoa juga memohon pada Tuhan untuk keselamatan familinya yang akan membebaskan rakyat dari terror.
Dan Tuhan yang satu dan tak terpecah-belahkan itu dipinta untuk memenangkan dua pihak yang bunuh-membunuh: puncak kehebatan manusia! Ini yang nyata: kalah-menang, mati-luka, daging manusia jua yang menanggungnya. Doa yang sepanjang-panjangnya tak pernah memberi ketentuan pada kehidupan manusia. Dan bibir mereka sama bergerak-gerak. Hati mereka cemas oleh beberapa patah perkataan yang dibayangkannya sendiri. Terutama para gadis yang buah hatinya ada dalam barisan itu.
Setelah komandan kompi, Kapten T, habis menerima petunjuk dari komandan kesatuan, dan setelah menyampaikan harapannya pada anak buahnya, kompi itu berderap berangkat menuju ke stesen. Dan di depan barisan itu tambur menderam-deram dan trompet menyanyi.
Di antara kecemasan kecil-kecil ada pula nampak kebanggaan pada paras prajurit dan penontonnya: kepercayaan pada kekuatan sendiri. Perasaanku pun cair bercampur dengan perasaan mereka. Dan aku jadi gatal hati ingin serta. Apa salahnya bambu runcing! Dalam perkelahian darurat dia tak terlawan.
Orang-orang preman turut mengiringkan dari belakang dan samping barisan. Dan kanak-kanak bersorak-sorak dan gadis-gadis mengawasi kekasih, bakal kekasih, dan juga kekasih dalam angannya. Dan orang-orang Tionghoa mengikuti dengan mata yang sipit. Di balik mata sipit itu merujak beribu macam pikiran: antara uang dan darah.
Barisan terus berjalan melalui jalan sempit belakang stesen. Para prajurit membungkuk-bungkuk ditindas bawaannya yang berat: ransel, logam, kayu, kulit, dan pikirannya yang berat. Sebagian besar tak bersepatu. Dan sebagian besar dari yang bersepatu mengenakan sepatu-air dari karet.
Tenang saja barisan itu berderap ke stesen. Tanah becak di bawah kaki dilalui sudah.
Di stesen para penonton memisahkan diri berbaris kacau di peron. Trompet dan tambur tak kacau. Dan kompi itu memasuki kereta dengan diam-diam. Tiba-tiba suasana berubah dengan cepatnya. Gadis-gadis melambai-lambaikan sapu tangannya pada kekasih dan siapa saja prajurit yang sudi. Kemuraman prajurit lenyap. Mereka melambai-lambai membalas melalui jendela dengan bayonet, dengan bambu runcingnya, dengan kepala, baju, peci atau hidungnya. Dan bergeraklah sesuatu yang hidup. Bukan sesuatu yang hidup antara prajurit yang akan berangkat ke medan mati dengan para gadis di peron. Bukan hidup antara dua jenis yang menuju ke syntesa. Bukan! Ini rasa menyatukan diri dan takkan terpecah-belah oleh meriam gunung.
Nyanyian tentara yang riang tambah mengumandang. Orang-orang yang mengantarkan turut pula menyanyi. Pegawai-pegawai stesen mondar-mandir sigap dan ramah. Dan sebentar kemudian stesen penuh oleh sorak gemuruh bersahut-sahutan. Mengapa bersorak? Aku tak tahu. Hanya kurasai kemabukan membenam, menarik dan mendesak. Orang lain pun demikian pula halnya. Semua bersorak. Semua mabuk. Bersorak untuk bersorak. Bersorak untuk mabuk-mabukkan.
Tiap mata berseri-seri, dan tiap anggota badan menggetar. Kemudian loceng stesen berbunyi berting-tong-ting-tong. Peluit menyusul. Kereta api bergerak pelan menuju ke barat. Nyanyian dan sorak kian meriah. Lambaian tangan kian menggetar. Kereta api telah meninggalkan stesen. Sayup lagu masih terdengar, akhirnya beku — lenyap di malam biru. Orang-orang di peron terdiam dan pulang ke rumah dengan membisu. Dan para gadis berjalan bertunduk kepala — tiada bicara.
Aku masih jua berdiri memandang ke arah barat. Ke sana kereta api tadi berangkat — kereta api yang mengantarkan pemuda-pemuda ke medan mati. Dan mereka itu direngkutkan kejam oleh politik dari lingkungan keluarganya yang aman. Mereka akan melalui daerah luas, di mana penduduk tidur senang — seperti bayi dalam ayunan tangan ibunda. Dan para prajurit itu direnggutkan dengan kejam dari ayunan tangan bunda alam — direnggkutkan dari kelepasan tidur nyenyak. Dan mereka rela mencurahkan darahnya, di kala anak manusia melupakan hidup di malam itu, di kala pengantin baru dalam bulan madu mereka berkecupan rasa dengan amannya; di kala anak manusia lainnya berplesiran di gedung bioskop, dan restoran, dan sandiwara, dan menguji kartu di rumah judi, dan bergumul di gubung-gubung pelacuran. Mereka itu rela. Tapi kelak kalau mereka pulang ke pangkalan dengan membawa kekalahan, orang berkata gampang: "prajurit peuyeum." Dan bila datangnya di atas usungan serta dagingnya sudah mulai busuk, gampang pula orang mengangkat bibir, "pahlawan bangsa", dengan hormat sedikit……"
Perlahan-lahan aku pulang ke tangsi rekrut dengan kepala penuh pikiran. Saatnya akan tiba, saat yang kunantikan; dan nanti aku pun akan berangkat ke medan mati. Malam itu aku tidur sonder mimpi.
*****
Hari ketiga. Senja.
Aku berangkat ke stesen dengan uniform prajurit; kemeja hijau kebesaran, celana panjang seukuran, sepatu kesempitan yang menggigit-gigit tumit serta kepanjangan kesempitan yang menggigit-gigit tumit serta kepanjangan tali. Dan aku bangga pada uniform hijauku buatan penjara Cipinang itu. Aku pun bangga pada pangkatku: prajurit belum berkelas dan berpangkat. Bangga pula pada rambutku: sudah dua bulan belum kena pisau cukur. Bangga! Karena itu aku pergi ke stesen. Stesen adalah pusat pangkalan X. Dan justru dari stesen inilah X menjadi kota kecil yang ternama. Stesen ini pula tempat para pemuda pejuang digiring oleh kebanggaannya: uniform hijau; dan lebih bangga lagi bila bersenjata-api; dan pada miliknya yang mutlak — tampang.
Karena itu aku pun pergi ke stesen. Mengapa 'kan tidak? Selalu dan selalu manusia suka memperhatikan kelebihannya. Apalagi kalau kenyataan yang telanjang itu diberi fantasi sedikit: aku pemuda revolusioner. Terasa segala kebanggaan itu baru terasa bila ada mata jelita memperhatikan. Terutama kalau kereta api malam dari Jakarta sampai. Dan bila hati ini mulut pasti akan terdengar teriak fantasi itu. "Lihatlah — aku juga seorang patriot." Kemudian kalau kereta api malam pergi pula, pergi jualah kebanggaan itu, hati jadi kosong dan kepala hampa. Inilah pengalamanku yang pertama selama tiga hari ini. Sesudah keributan lenyap bertanyalah hati ini dengan semaunya saja. He — apakah yang sudah kau serahkan pada perjuangan? Aku tak tahu. Orang lain pun tidak. Dan setan pun tidak. Rupa-rupanya manusia ini gedung rahasia untuk dirinya sendiri….
Kemarin empat orang dari kawan sepemasukanku menjalani latihan menembak di garis depan — latihan betul-betul dengan peluru logam. Peluru sangat berharga di sini. Dan latihan di sini hanyalah membidik, membuka kunci dan menarik pelatuknya, merayap dan lari.
Tapi di garis depan berlatih betul-betul, menembak orang-orang yang berpakaian hijau dari balik-balik pohon karet, dan menyeludup dalam semak-semak melempari truk hijau dengan granat tangan.
Dan stesen ini akan melenyapkan kekesalan hatiku karena belum juga dipercaya bisa bertempur.
Waktu ada sedang mondar-mandir di peron seperti orang yang terlalu banyak pekerjaannya, datanglah barisan prajurit yang bersenjata lengkap dari jalan belakang stesen. Barisan itu diikuti oleh prajurit sipil dan orang-orang terkemuka. Barisan panjang itu memanjang di peron. Aku tahu apa yang akan diperbuat oleh mereka. Yang nyata mereka takkan dikirim ke garis depan.
Dekat sesudah loceng stesen berting-tong-ting-tong datanglah kereta api luar biasa dari jurusan Jakarta. Waktu kereta api itu berhenti nyatalah bahwa selain gerbong penumpang terdapat juga gerbong palang merah. Dan pasukan yang bersenjata bergerak ke samping gerbong palang merah itu. Aba-aba terdengar. Seluruh pasukan bersiap. Regu bersenjata itu memasang kerabinnya 80° di atas pundak: salvo tiga kali.
Aku pun turut bersikap. Orang-orang preman melepas topi dan menundukkan kepala. Kemudian pelahan-lahan diturunkanlah sebelas jenazah dari gerbong palang merah dalam selimutan Sang Dwiwarna. Dan dari gerbong-gerbong lainnya keluarlah prajurit-prajurit dari kompi T. Tiada setangkup mulut bersuara. Diam. Dan waktu jenazah-jenazah sudah terletak di peron, salvo menyusul pula. Seluruh pasukan berangkat ke markas.
Aku pun turut mengiringkan. Trompet dan tambur tak terdengar sebagai kala berangkat ke front. Pasukan yang kalah selalu diam. Yang terdengar hanya suara hati yang berteriak-teriak memperingatkan. Dan semua orang yang takzim mendengarkannya. Di stesen yang menyepi atap zinc berlubang-lubang ditembusi peluru.
Pahlawan-pahlawan yang gugur dianggap mati sahid dan jenazahnya boleh dikubur dengan tidak disucikan, lengkap dengan baju kepangkatannya. Demikian suara yang menyebar di mana-mana. Malam itu kabar tentara kekalahan banyak sekali. Sersan mayor D, mahasiswa Sekolah Tinggi Tabib, gugur pula. Dan orang menceritakan kabar itu selancar menyampaikan berita kenaikan harga beras. Nama prajurit yang harum itu, berkumandang melampaui batas-batas keresidenan, kini samalah harga dengan keenakan penganan restoran. Bila pengantin telah melalui kerongkongan, orang lupa lagi akan rasanya yang sebetulnya.
Dan kini orang lupa lagi bagaimana keharuman mahasiswa itu. Yang orang tahu hanya ini: dia telah gugur — presis sebagai bioskop yang habis permainan, dan dagingnya akan berurai dimakan tanah.
Malam itu yang jadi pembicaraan orang hanyalah kekalahan kompi T. Kehangatan obat penyakit perempuan terdesak oleh kekalahan itu. Dan kapten T, sekaligus kehilangan gengsinya yang selama ini minta darah dan keringat dan otaknya. Khalayak memang semuanya saja mengecap orang. Dan di dalam hati kecilnya mereka meraung kesal: "komandan puejeum." Hanya karena dia tidak pulang sebagai bangkai. Coba, kalau sekiranya dia tewas, mereka akan bilang: "pahlawan sejati." Dan jauh melalui garis markas, pasukan yang menang bersorak-sorak dalam bahasanya dan caranya sendiri — "Kita berhasil menewaskan sebelas pengacau," tak ubahnya dengan seorang ibu yang menyampaikan kabar gembira pada tetangganya: "aku berhasil menangkap sebelas ekor tikus."
Dan di malam itu juga waktu aku gelisah di tikar ketiduran datanglah tegunan pertama dalam hidupku: "alangkah sederhana hidup mahluk ini." Dan masing-masing orang mencoba mengacaukan kesederhanaan itu seperti kacaunya sampah musim kemarau dipusing angin. Dan orang bunuh-membunuh oleh kekacauannya sendiri. Tiba-tiba tegunan itu mengeras; ketentaraan bukan tempatku. Mungkin juga ini timbul oleh ketakutan pada kematian yang tak aman. Timbullah hasratku untuk meninggalkan kemiliteran. Tapi surat yang disadurkan ke bawah mataku itu teringat-ingat jua selalu: "orang yang diterima jadi prajurit - sekalipun sukarela - terikat pada janji yang tak tertulis dan tak dikuatkan oleh kontrak atau sumpah, bahwa mereka telah menaruhkan jiwa mereka pada negara. Jadi aku harus tinggal di sini dan menanti. Dan mungkin juga sampai mati.
Malam itu tiada terdengar patroli menyanyi di sepanjang jalan. Tak terdengar tembakan peluru lepas dari latihan perang malam. Kota X sunyi sepi. Orang berhadapan dengan masalah kematiannya sendiri.
*****
Hari ke tujuh. Senja.
Setelah menjalani latihan merayap, merangkak, membidik, dan mempergunakan senapang mesin, kelelahan badan itu kuhapuskan dengan air mandi. Kemudian aku pergi ke stesen. Jam tujuh kini. Stesen sangat ramai. Terlalu ramai. Tak ubahnya dengan pasar malam bulan tua yang tak kehujanan. Prajurit, berpangkat atau tidak, bersenjata atau tidak, kian membanyak. Dua jam lagi kereta api yang menuju Mojokerto akan sampai. Di sana sini para prajurit dari kompi T mondar-mandir menjaga stesen. Dan di pintu gerbang barisan Srikandi — dan aku tak mengerti mengapa dinamai begitu — lebih giat pengawasannya daripada biasanya. Mungkin nanti ada tangkapan — sebagai kemarin: seorang wanita dari Jakarta memasukan uang — tiga setengah juta uang Jepang. Pangkalan X, tidak saja harus dipertahankan dari serbuan senjata, juga dari serbuan uang. Gudang beras tak boleh berubah sifat jari gudang uang Jepang. Orang sudah mendapat pelajaran pahit kini: duit tak bisa dimakan. Duit tak selalu berkuasa sepanjang masa.
Dan beras maha kuasa di sini di tahun 1945. Orang boleh membantah. Tapi banyak kenyataan terdapat: nafas manusia sisa Jepun bisa panjang disambung oleh kepala-kepalan nasi. Beras! Beras! Dan beras menambahi popularnya kota kecil ini di samping kemasyhurannya tentang ketentaraan. Kota X terus dibanjiri oleh manusia. Karena, Jakarta diblokade. Beras tak boleh masuk ke Jakarta. Dan karena penduduk Jakarta orang Indonesia juga, blokade itu hanya berlaku di atas kertas saja. Penduduk Jakarta boleh memanjangkan nafas. Itulah pula sebabnya, satu-satunya penjagaan yang terkuat ialah di stesen.
Lonceng stesen berting-tong-ting-tong. Kereta api beras dari Jakarta akan masuk. Kereta api inilah yang selalu padat oleh ribuan pedagang beras. Aku melompat dari bangku peron. Juga prajurit-prajurit lainnya. Mata harus dicuci — mencari pergantian pemandangan, sekalipun kebanggaanku tak sebesar tadinya. Aku tak begitu bangga lagi pada uniform dan rambutku. Tapi kehidupan berat sebelah yang keras ini menuntut pergantian pemandangan sebesar-besarnya. Dan wanita Indonesia, sekalipun pedagang beras literan, tidak semuanya buruk rupa.
Hiruk-pikuk di stesen. Dan orang tambahan tak tahu dirinya sendiri. Semua bergerak. Polis tentara tak nampak. Tuhanku itu baru saja mau dibentuk. Desah kereta api mulai terdengar. Kian lama kian menyata. Tak ubahnya dengan rayuan pemuda, pelan lambat tapi pasti — kian detik kian mendekat.
Dan kereta api pun sampailah. Gerak manusia tambah jalang. Dan tiap bulu menggetar. Kereta api berhenti. Bunyi asap lok mengatasi teriak pekik semua kerongkongan. Orang berlompat-lompatan turun ke peron. Penumpang-penumpang yang duduk di atap gerbong menuruni dinding kereta api dengan sengsaranya.
Para prajurit yang sedang dinas sibuk. Barisan Srikandi mengatur dan menggeledahi para wanita yang antre mau keluar sampai pada sanggul dan sudut-sudut badan lainnya. Dan aku juga sibuk — sibuk mencari-cari yang tiada kucari.
Dengan kepala kosong kuperhatikan barisan penumpang bagian lelaki yang sedang menantikan giliran penggeledahan. Kemudian tampak olehku sebuah serban kuning tebal. Di bawahnya: muka yang ketakutan dengan sepasang mata yang jalang. Di bawahnya lagi kemeja putih yang disilangi sarung kotak-kotak ungu dan merah dan kuning. Dan ia selalu mencari bayangan untuk melindungi mukanya.
Di sana-sini para penjaga yang menggeledahi mendapati bagiannya: Phillips Morris, Capstan, Zipper, keju, roti. Kadang-kadang juga cubitan pada pipi yang manis. Atau yang lebih dari itu: janji yang disuarakan amat pelannya. Ini perputaran beras. Beras punya kuasa. Dan para penumpang itu adalah pedagang beras. Dan pedagang beras yang tahu diri berhadapan dengan penjaga stesen. Harus tahu diri prajurit penjaga sampai di dekat serban kuning tebal itu ia memekik nyaring: "ini dia orangnya."
Dan haji itu jadi gugup, mukanya pucat tapi ia bisa menguasai dirinya dan tersenyum.
Prajurit-prajurit lainnya yang datang merubung. Aku juga. Kemudian haji itu ditarik-tarik keluar dari barisan. Karungnya tetap terjinjing di tangan kiri. Ia ditarik-tarik terus masuk ke kantor penjagaan stesen, dekat pada kantor tuan sep. Dan lampu dari seratus watt menyinari mukanya yang sudah agak berkeriput.
Aku prajurit yang tak berkelas — tak punya rol apa-apa dalam lapangan apa pun juga. Karena itu aku berdiri di depan jendela kantor melihat apa yang akan terjadi dengan penjaga serban kuning tebal itu. Tampak olehku komandan jaga berdiri cepat dari kursinya. Dengan langkah panjang-panjang dan muka merah padam ia menghampiri orang tangkapan yang didudukkan di bangku kayu ini.
Ia berteriak murka: "anjing Inggeris. Tertangkap juga, keparat! Gua nggak bisa lupa sama tampang lu. Gua kenal lu."
Dan orang tangkapan itu jadi gugup lagi dan mukanya yang pucat, kena sinar lampu berseri hijau. Ia menunduk lemah sebagai gadis dirayu. "Kagak, pak," katanya.
Prajurit-prajurit di luar berteriak ngeri. "Emang. Itu dia orangnya. Betul itu, pak."
Sebentar tangkapan itu mengawasi jendela dan pintu yang penuh sesak dan menunduk kembali.
Komandan jaga meradang garang. Dan orang kian banyak berjejalan di tiap lubang. Satu-dua orang pegawai jawatan kereta api datang menjenguk, tapi segera pergi. Pegawai memang bukan serdadu. Dan serdadu harus berani bertindak dalam segala hal.
Komandan itu bertolak pinggang dan membentak menuduh. "Mata-mata, lu!" dakwanya.
Sebentar haji itu memandang penuduhnya, kemudian cepat menunduk lagi. "Kagak, pak," ulangnya. Suaranya berat dan ketakutan.
“Babi Inggeris, lu! Akui 'aja!" Dan komandan itu mengangguk-angguk cepat. Kemudian suaranya agak mengendur. "Terus terang 'aja, 'dah." Tangkapan itu tak menjawab. Dan kembali muka komandan itu jadi hitam merah oleh murka. "Akui," teriaknya kasar.
“Kagak, pak," ulang tangkapan itu. Dan ia tetap menunduk.
“Akui, atau —" tinjunya melayang. Dan serban yang kuning tebal itu terbang jatuh di pojok kantor. Kepalanya botak, mengkilat kena sinar lampu. Tiba-tiba datanglah perubahan. Haji itu kehilangan gemetarnya. Kepalanya ditegakkan. Dan matanya berkedip-kedip tajam.
Kemudian tinju bertalu-talu. Mukaku kutenggokkan ke samping. Aku tak bisa melihat keadaan sebagai itu. Aku tak tahu mengapa. Mungkin juga karena aku prajurit baru. Mungkin juga aku lebih penakut daripada yang kusangkakan. Aku tak punya syaraf baja, syarat pertama untuk seorang prajurit. Aku harus pergi. Aku tak tahan. Tapi ada yang menahan maksudku: keinginan mau tahu. Dan aku berdiri saja di depan jendela.
Di sampingku berdiri seorang prajurit yang tiada hentinya mengerutkan gigi oleh kesakitan hati.
“Ngapain dia?" tanyaku padanya.
“Ngapain? Zihh!" desisnya seperti menghalau anjing. Ia memandang daku. "Haji babi dia." Kemudian ia menunduk dan hati-hati meludah dekat sepatunya — menghinakan. "Mata-mata Inggeris. Dia kagak boleh dikasih ampun. Coba 'aja pikir." katanya cepat, "waktu pasukan kita jaga di depan, é, Inggeris menyerang 'gitu 'aja di tengah-tengah pertahanan. Pasukan kita kucar-kacir dibuatnya." Ia menunjuk pada haji itu dan berkata pula, "Tu dia mata-mata. Haji apa 'tu! Serbannya 'aja yang tebal."
“Gimana bung bisa tau?" tanyaku kosong.
“Gimana?" sahutnya cepat. Ia memandang aku sebagai guru. "Gua tahu semuanya. Begini, jadinya dia datang minta jadi kok. Kita terima dia. Apa jadinya? Haji babi! Dia lantas lari. Lantas dia datang dan berteriak-teriak, “Pak, musuh datang — musuh datang." Kita lari-lari keluar dari pertahanan. Apa jadinya? Kita udah kekurung. Zihh, haji babi dia. Diam-diam 'aja. Coba, kita ngelawan mati-matian masih rugi aja. Dan kita ngamuk —," ia memandang kejam pada haji itu, kemudian ia meneruskan bicaranya dengan penuh pikiran. "Kalau dia-orang 'udah 'nguasain tempat penting — kedesak 'aja kita. Untung 'aja kita masih bisa lolosin diri. Satu senapang mesin kerampas. Dua truk. Satu sedan komandan front. Sebelas gugur. Lima puluh stel uniform abis kebakar." Ia mengerutkan gigi — "Iii-hhh, kagak bisa dikasih ampun lagi dia," katanya gemas. Mau ia memukul tempurung otak yang mengkilat itu sampai pecah.
Kepalan komandan jaga itu terus saja meninjui. Kiri. Kanan. Kiri. Kanan. Persis sebagai sodokan lengan roda, kereta api. Dan kepala haji itu montang-manting. Tiba-tiba komandan itu melompat ke pintu menerobosi orang banyak. Pada mukanya tergambar kesakitan.
Di luar, peron, mulut anak kolongnya berteriak memaki: "bangsat, sakit benar tangan gua." Kemudian hilanglah ia dari pemandangan.
Kini wakilnya bergilir masuk. Dan prajurit di sampingku itu mendengus seperti kucing. "Babi itu kagak boleh dikasih 'ati." Kemudian berteriak ke dalam kamar jaga, "Beresin 'aja, pak."
Tapi kopral wakil komandan jaga itu tak mau mendengarkan. Sopan ia duduk di bangku kayu di samping haji itu dan berkata merayu-rayu. "Jangan ambil marah sama bapak tadi, pak haji. Memang ia marah lantaran seksinya rusak empat hari yang lalu. Maafi dia, pak haji."
Dan haji itu tersenyum senang. Dan kepala botaknya yang mengkilat turun-naik memaafkan sebagai burung dara mencumbu betinanya. Kemudian ia menentang para penonton dengan bangga. Aku menarik nafas lega.
“Saya kenal juga sama pak haji. Kan pak haji dulu kok kita? Bukan?" Haji itu mengangguk mengiyakan. Menyusul pula suara kopral itu, sopan dan menyeret-nyeret hati. "Kita di sini kekurangan prajurit, pak haji. Barangkali pak haji mau masuk tentara?"
Mata haji itu bersinar-sinar. "Tentu 'aja," katanya senang.
"Tapi, takut betul kita sama mata-mata."
“Jangan takut," ujar haji itu sombong.
"Kalau begitu pak haji ada pengalaman jadi mata-mata?"
“Ngapain tidak?!" Susulnya cepat gampang. "Saya sudah pernah membikin kucar-kacir satu kompi —." Tiba-tiba ia terdiam kaget. Selintas ia memperhatikan kopral yang telah membujuknya dengan curiga.
Tenang wakil komandan itu mengeluarkan martil besi dari sakunya. Bibirnya tersenyum dingin. Berkata tenang, "Kompi yang setengah minggu yang lalu ada di garis depan?"
Haji itu batuk sekali. Tak menjawab. Kepalanya ditundukkan. Ia isyaf — ia sudah kena tipu.
“Kira pak haji, buatan mana martil ini?"
Haji itu kehilangan kekagetannya. Kepalanya diangkat pula. Dan matanya mengawasi martil itu. "Cap mata — Jerman punya," sahutnya ramah.
Kemudian cepat terdengar bunyi berdetak dan martil itu telah berayun pula akan memukul rongga mata untuk kedua kalinya. Dan pandangku jadi gelap. Namun masih tertampak-tampak jua dalam ingatan kepala botak itu bergemam sebentar setelah kena pukul kening kirinya.
Dan dari sampingku terdengar raung yang melengking tinggi. "Paakkk! biarin saja beresin!!"
Waktu mataku melihat lagi, aku lihat — aku lihat, haji itu tak luka. Ia masih duduk di bangku kayu. Aku tak melihat darah. Aku tak mendengar aduh. Dan aku heran. Mungkin dialah orang kebal yang pertama kali kulihat dalam hidupku.
Dan prajurit yang berdiri di sampingku terus meraung kepanasan-hati. "Babi itu yang membunuh abang gua." Dengan tiada menunggu izin lagi ia melompati jendela dan meninjui haji itu. Kembali kepala yang botak itu montang-manting. Dan mangsa itu tetap tersenyum aman. Tak salah lagi — dia tersenyum senang. Sebentar kemudian prajurit itu melompati jendela dan berdiri di sisiku, merintih malu. "Sakit benar tangan gua." Waktu kedua tangannya diamat-amati dibendul jendela nampak merah seperti habis terpukul besi. Dan dipandangnya aku dengan kemalu-maluan. "Kali kebal dia," katanya menyembunyikan kemalu-maluannya.
Kemudian prajurit-prajurit yang berjubal di depan pintu dan jendela berebut membanjiri kamar jaga. Dan haji itu ditangani dan ditendangi beramai-ramai! Ribut. Sorak kegilaan. Aku tinggal sendirian dengan beberapa orang lagi. Mukaku sembunyikan dalam bayangan daun jendela. Tegunan datang pula mengacau jiwaku: ini bukan tempatku. Timbullah anak tegunan yang membantah: aku telah berjanji menaruhkan jiwa pada negara. Kalau cinta itu ada, aku cinta pada negaraku. Dan kalau cinta ada, pastilah ada lagi yang lebih kucintai daripada negara. Ini bukan lapanganku. Aku harus meninggalkan ketentaraan. Aku harus menjauhi senjata. Dan di kala haji itu montang-manting oleh tinju tendang, aku montang-manting juga dengan tegunan-tegunan itu. Aku tak tahan melihat. Tapi mau saja aku ingin tahu. Barangkali hatiku sudah meraung-raung. Mungkin juga mulut sudah berteriak, tapi tak terdengar oleh kuping. Perang memang perang, di mana-mana saja — siksa menyiksa dan bunuh-membunuh. Sekalipun dengan semboyan setinggi pohon kelapa. Ini bukan tempatku. Tapi janji itu! Sesungguhnya di depanku mengawang ujian susila. Atau barangkali masih ada setitik kemanusiaan dalam diriku? Apakah ini perasaan seorang prajurit baru? Aku tak tahu.
Dan di sela-sela tubuh-tubuh yang diragi kemabukan itu tampak lenyap badan haji itu. Ia masih jua tersenyum. Tak ada tanda-tanda kesakitan tergambar pada parasnya. Mengapa ia tersenyum? Adakah ia menyenyumi orang-orang yang panas kepala? Ataukah ia sedang teringat pada masa pengantin barunya, dan bininya takut-takut-malu-malu didekatnya? Ataukah ia ingat pada negeri Kurma waktu ia naik haji dan banyak kesenangan yang boleh didapatnya di sana? Semua itu mungkin. Bukankah orang yang hampir melayang jiwanya kadang-kadang terkenangan akan cintanya yang pertama?
Mungkin haji itu tak berdosa. Mungkin juga ia mengakui dosanya karena ia ingin jadi prajurit — ingin mendapat kesempatan membela negaranya. Mungkin. Tapi aku tak tahu. Perang memang perang. Ganti berganti orang binasa-membinasakan. Dan pohon tak bergerak begitu saja kalau tak da yang menggerakkan. Dan manusia tak begitu saja jadi buas kalau tak ada yang membuaskan. Perang! Dan orang membuat senjaya untuk membunuh musuhnya. Musuh ada di mana-mana. Tapi jarang sekali yang mau mengerti — ini: diri sendiri musuh pertama dan terutama. Ini sebahagian kecil dari kebiasaan di mana-mana.
Tiba-tiba seorang opsir masuk. Semua prajurit mundur. Di luar stesen gelap. Dan opsir itu memekik tinggi. "Ini dia!" Gemas bercampur gembira seperti matros mendapat dakapa dicerocok ia memekik lagi: "Mata-mata Inggeris, keparat!" Cepat ditariknya pistolnya. Laras pistol itu dipukulkannya pada jidat korban itu.
Dan haji itu tenang jua. Akhirnya ia tertawa aneh: ia menentang.
“Lu ketawa? Babi!" maki opsir itu kesal. Memekik geram. "Babi lu! Boleh main-main sama gua." Dan berbareng orang menggeroyok.
Kembali mukaku kusembunyikan dalam bayangan daun jendela. Pekikanku meraung lagi — pekikan yang tak bersuara. Perlukah manusia disiksa? Memang manusia perlu mati. Dunia tak boleh kepadatan. Dan waktu aku melihatnya kembali, haji itu telah diikat erat-erat. Kedua tangannya berbelenggu di belakang badan. Juga lehernya. Tangannya berbelenggu di belakang badan. Juga lehernya. Ia digiring keluar. Bambu runcing sangkur telanjang di ujung bedil melawal — berpuluhan-puluh prajurit. Haji itu tak melawan. Ia menyerah.
Aku tak mau melihat. Tapi keinginan mau tahu sampai akhir kejadian ini membuat aku jadi pengikut arak-arakan revolusi. Tampak olehku paras para prajurit merah hitam oleh kemabukan. Juga dari barisan Srikandi ada yang bersorak tinggi dan dadanya penuh oleh daging susu kembang kempis kepayahan sebagai ikan di darat. Dan di saat itu tiba-tiba terbayang olehku: seluruh keluargaku. Apa akan kataku kalau sekiranya yang dibegitukan kakakku? Dan di saat itu aku merasa kaya karena masih punya setitik kemanusiaan dalam diriku. Dan bantahan datang pula. Ini bukan kemanusiaan. Ini perasaan prajurit baru. Ini disebabkan karena aku tak dikenai pengkhianatannya. Dan kesombonganku pun lenyaplah.
Sebab — kalau sesungguhnya ada setitik kemanusiaan, pasti aku melompat di tengah arak-arakan dan melindungi haji itu sekalipun benar-benar ia mata-mata. Tapi aku tak berbuat apa-apa. Dan aku diam saja. Hanya mataku mengawasi. Ini bukan caranya kemanusiaan bekerja. Aku tak berani. Apa yang kuperbuat hanya melindungi mukaku dengan bayangan. Dan nyatalah padaku kini — aku penakut. Aku pengecut. Dan penakut sama dengan pengkhianat. Aku turut mengkhianati haji itu. Dan sesungguhnya, kemanusiaan itu tak ada guna dan harganya bila tak bertandingan dengan keberanian.
Seorang sersan melompat ke sampingku. Nafasnya pendek-pendek kecapaian. "Bung kagak ikut?" Aku menggelengkan kepala dan terus jua berjalan lambat-lambat. Ia berkata mengejek:"baikan blokade." Dan aku berhenti menjauhi — beberapa meter di belakang arak-arakan. Ia mengancam. "Awas kalau bung mata-mata." Perkataannya tak diteruskan. Ia lari menggabungkan diri dengan arak-arakan.
Tambah jauh dari kamar jaga, cahaya lampu kian lemah. Akhirnya arak-arakan melalui pintu gerbang stesen. Aku terus juga mengikuti dari belakang.
Orang lebih mabuk. Dan haji itu kian montang-manting berindenkan pada pantatnya yang tipis, oleh tendang dan tinju. Orang tak hentinya bersorak. Dan kota X yang kecil sepi itu dibangunkan oleh tontonan revolusi.
Orang tambah banyak merubung. Haji itu hilang dalam kerumunan tubuh-tubuh yang mabuk. Yang nyata kelihatan olehku: lentera jalan, dan pipa celana yang menggetar, dan betis dan sepatu, dan ujung bambu runcing yang turun naik.
Sampai di depan stesen kaki haji itu diikat erat-erat. Ia tak bisa jalan lagi dan disandarkan pada tiang lentera. Dan ujung pengikat kaki itu diikatkan pada pantat truk kecil. Kini semua orang tahu: ia harus diumpankan pada batu dan aspal dan tanah jalan raya tanah airnya — putusan pengadilan orang mabuk. Dan orang-orang berebut kesempatan: mengasah senjata pada daging haji itu.
Kini aku bisa melihat badannya nyata-nyata. Ia berdiri lurus bersandaran tiang lentera listrik. Kepalanya yang botak tak mengkilat lagi, tak kena sinar. Dan aku lihat — aku lihat — aku lihat sama sekali ia belum terluka. Ia tetap tersenyum senang. Persis seperti gadis mendapat mimpi bagus. Atau mataku salah lihat? Mata memang tak bisa dipercaya dalam segala hal. Tapi sungguh, haji itu belum lagi luka. Ia tetap selamat dalam lingkungan hakim dan algojonya.
Seorang prajurit melompat ke tengah-tengah gelanggang. Sepucuk bambu runcing ada di kedua tangannya. Ia siap akan membobolkan perut haji itu. Dan ia meraung teguh sebagai Jepun menyangkur karung pasir di lapangan singa. Ujung tombaknya mengendap hilang, menyelinap ke dalam perut haji. Dan aku tak melihat apa-apa lagi. Pandangku gelap. Dengan tiada kusadari aku telah berpegangan pada palang pagar stesen dari bekas rel. Mataku menolak disuruh melihat. Dan sekali ini kualami anggota panca indera yang belot pada perintah pusat otak. Gelap. Gelap. Aku tak melihat apa-apa lagi. Dan aku mendengar barang berbunyi ngeri. Sorak terhenti mengejut. Beku. Terdengar olehku nafas terengah-engah. Waktu sorak menggila pula, pandangku terang lagi. Aku lihat ujung bambu itu menembusi kemeja putih — sobek. Kemudian: senyum manis. Kemudian lagi: kepala botak. Bambu itu ditarik cepat. Sorak beku lagi. Ujung bambu itu meliuk sedikit dan tetap kering. Aku tak melihat darah yang hitam oleh malam. Kunantikan isi perutnya keluar. Tak keluar. Ia tetap tersenyum sabar. Dan ia tak luka. Ia masih haji yang tadi juga.
Orang bersorak lagi. Lebih riuh daripada sebelumnya. Bambu runcing berloncat-loncatan sebagai tadi lagi. Dan di kala itu tak ada satu Dewa pun yang kuasa mencegah pengdaulatan itu. Dan bayonet jalang menggila. Dan pikulan pedagang beras. Haji itu terguncang-guncang mempertahankan tegak badannya. Aku lihat ujung tombak bambu masuk ke dalam matanya dan dengan tiada meninggalkan bekas.
Bajunya tersobek-sobek.
Kemudian rebahlah ia ke belakang di samping tiang. Dan samurai yang putih menari-nari sigap di atas kepalanya. Tubuh korban itu hilang tiada nampak. Yang kelihatan hanya punggung dan kaki yang gelap oleh bayangan dan basah oleh keringat. Dan ujung bambu runcing yang papaklah yang kini turun naik di udara. Orang meraung-raung oleh mabuknya sendiri. Sorak-raung diam lagi. Dan senjata mati tak menari lagi. Orang bergerak mengelilingi kurbannya. Mata berkilat-kilat terpusat ke bawah tiang lentera. Empat-lima orang mendirikan haji itu pada tiang lentera. Dan ia tetap belum luka sebenangpun. Ia sudah setengah telanjang. Pakaiannya hancur oleh derasnya tikaman. Hanya ikat pinggangnya yang dari kulit masih utuh. Sorak gemuruh pula. Kemudian beku.
Aku lihat senyum haji itu tiba-tiba hilang. Kedua tangannya yang terikat ke belakang bergerak-gerak. Dan tali pengikat, yang telah rantas-rantas kena samurai, putus. Orang-orang yang mabuk itu tiba-tiba insyaf akan keselamatannya. Kecemasan tergambar pada muka mereka. Pelan-pelan orang mundur ke belakang. Kedua tangan korban itu telah bebas. Bisik desus ketakutan terdengar.
Orang berteriak nyaring, "Truk sta — ter. Truk, bu-u-ung."
Diam seketika. Tangan haji itu mulai menggerayangi kakinya. Dan tali pengikat kaki itu telah dipegangnya. Orang kian jauh bersiap-siap. Diam tenang. Tampak haji itu memusatkan tenaganya. Dan matanya kejam melihat tanah di bawahnya. Kemudian terdengar kereta api malam. Jakarta-Mojokerto bersuling meneruskan perjalanan.
Tiba-tiba truk menderu. Sekejap tubuh haji itu melayang di udara, kemudian jatuh di tanah terbalik-balik. Truk dipolgas. Dan tubuh itu melompat ke depan dengan kaki tertarik ke atas. Ia berguling terseret-seret di aspal jalan raya. Bergegaran orang bersorak pula. Tepuk tangan riuh membarengi. Dan lentera jalan tetap menyala damai. Hilanglah ia ke gelapan. Dan orang-orang berlari-larian mengejar. Perlahan-lahan aku berjalan mengikuti. Kini uang telah ribuan. Dan yang terasa olehku hanya suasana mabukan yang menggetar kembali. Truk melalui lentera dua di belikan jalan. Kini jalannya pelan sekali. Namun haji itu bisa mempergunakan tangannya yang telah merdeka. Dan aku sudah dekat pada tubuh yang terseret-seret itu.
Siksaan adalah satu-satunya yang bisa mereka kerjakan. Tak ubahnya dengan penjajah dengan penjajahannya. Dan tukang copet dengan pencopetnya. Dan pokrol dengan putar lidahnya. Dan kasir dengan penyimpanannya. Dan doktor dengan pengobatannya. Dan ini putusan pengadilan orang mabuk dengan pemabuknya — pengadilan orang yang benci pada polis yang selama itu tak pernah melindungi keselamatannya dan keibodan1 yang selalu merampoki bahan makannya. Selama itu mereka tak tahu kegunaannya ada hakim — di masa-masa yang sudah lalu.
Ini sekarang macamnya: pengadilan orang mabuk. Dan kebodohan manusia mempunyai sejarahnya sendiri — sejarah yang amat panjang.
Waktu para prajurit lelah, orang preman menggantikan. Dan mereka berteriak-teriak mabuk: "Kutu mula harus dibasmi."
Aku memberanikan diri melihat dekat-dekat. Haji itu terbalik-balik.
Ia masih nampak tenang jua. Dan ia belum lagi mendapat luka berat oleh asahan batu dan aspal jalan raya.
Para prajurit maju pula. Kembali senjata menari-nari berebutan sasaran. Iring-iringan berjalan terus. Mereka tak ingat lagi pada kereta api malam yang membawa wartawan-wartawan luar negeri dan gadis-gadis kota yang cantik.
Seorang prajurit yang baru datang menguak-nguak dengan tangannya.
Dan sampai di persimpangan jalan kereta api, di bawah lentera, ia memekik, "Ai! Ini dia! Sambil mengikuti korban yang diseret truk ia mencabut samurai dari pinggangnya: samurai harakiri Jepun. Pedang pendeknya diamang-amangkannya di muka haji itu. Berteriak lagi, "Lu kenal 'ni?"
Sorak mengejut terdiam. Semua memperhatikan haji itu. Dan haji itu terus jua dengan senyumnya. Matanya berkedap-kedip lucu kakek mendapat cintanya remaja puteri.
Serdadu itu jadi penasaran, berteriak kesakitan hati sambil memukul-mukulkan senjatanya pada tanah. Memekik kuat. "Kembali jadi tanah." Dan derum tetap teratur. Kemudian pedang pendek itu terayun ke atas, dipegangnya dengan dua tangan.
Tiba-tiba mata haji itu berkilat-kilat ketakutan. Garis mukanya kaku mengawat. Bola matanya hampir keluar. Dan aku lihat mulut korban itu mau meraung. Tapi dagingnya seluruhnya telah kejang oleh ketakutan. Dan sebelum ia sempat mengejapkan mata lagi, samurai pendek itu telah bersarang melintang dalam perutnya. Sebentar kekakuan raut-mukanya mengendur, kemudian lenyap sama sekali. Perutnya belah. Aku lihat usus putih. Kemudian darah menyeliputi. Kemudian daging yang mengangga. Bau busuk menerawang di udara. Usus dan isi perut terbuang-buang. Truk menderum terus. Nafas pendek dan terburu-buru terdengar. Tapi segala bunyi dan suara itu kemudian hilang dalam sorak riuh yang bergegaran gegaran.
Orang berlompatan dan menari-nari gila. Arak-arakan membelok ke kanan. Rel kereta api telah terlintasi. Terdengar olehku: nafasnya yang besar pendek terburu-buru. Dan bibirya menggetarkan suara yang tak terdengar: air, air. Suara yang putus-asa. Tertampak-tampak olehku: daging, darah, usus dan isi perut. Sekalipun mukaku telah kusembunyikan dalam bayangan dan hitamnya malam. Aku terus juga berjalan mengikuti, berjalan di tepi — aku takut kena darah dan isi perut yang mengecat aspal. Dan di atas, bintang-bintang berkedipan damai. Tiap mata senjata ambil bahagian dalam menghancurkan tubuh itu: dari muka bumi, dari kenang-kenangan, dari tanah air, dari perjuangan. Aku tak tahu lagi perasaan apa yang bermain dalam diriku. Aku tak mengerti. Hanya ini yang pasti: haji itu menghadapi ajalnya. Kemudian bersatu dengan prajurit-prajurit yang tewas oleh pengkhianatannya dalam perut bumi.
Matilah korban itu. Dan tubuhnya yang pernah mengembara separuh jagat itu diseret terus. Jauh nun di sana, di sebuah pondok adalah seorang ibu yang menunggu kedatangan suaminya pulang membawa beras dan ikan asin. Dan anak-anaknya tidur nyenyak di bale bambu yang penuh tembila.
Aku baru sadar lagi kala seorang prajurit menegur, "Ngapain diam 'aja? Bung mabuk liat darah?" Aku mengangguk.
Ia berkata lagi penuh kebanggaan. "Gua yang mberesin dia. Kalau bung baru saja jadi prajurit, mesti mabuk. Gua dulu juga gitu. Kalau orang lama kagak akan sampai begitu."
Ia membersihkan mata pedang-pendeknya dengan daun bekas pembungkus yang dipungutinya dari tepi jalan. "Kalau bung lihat sendiri sebagaimana kawan kita
sendiri dijagal... senang juga kita balas dendam." Ia diam dan melompat ke depan, menghilang ke dalam arak-arakan.
Badan haji itu terseret terus. Waktu itu bukanlah ia manusia lagi. Apalagi warga negara negara demokrasi — sama sekali tidak. Ia buah permainan yang indah. Dan seindah permainan kata penjajah pada jajahannya. Seindah bola karet untuk kucing. Dan di kantor-kantor besar jauh di belakang garis demokrasi sana, ini dinamai praktik fasis atau teror nazi atau warisan Jepun. Yang nyata: haji, hakimnya, algojonya dan aku sendiri bodoh. Buruknya pula semua orang suka jadi hakim. Dan hakim yang bodoh adalah secelaka-celakanya keadaan. Kebodohan ini pula yang sudah membunuh Socrates dan Guardiano Bruno, dan Galilea, dan Jesus.
Karena, hakim-hakim itu sangat suka pada yang dicintainya sendiri. Dan hakim-hakim di sini sangat cinta pada tanah airnya. Dan dendam di masa revolusi dalam makannya. Mereka yakin: bakti di tanah air.
Waktu arak-arakan revolusi sampai di jalan besar Jakarta-Cirebon, penonton makin banyak lagi. Dari tiap gang yang gelap laki-wanita datang.
Nafsu selamanya main rol di mana-mana. Juga nafsu mata. Para wanita segera melarikan diri melihat manusia tersiksa itu. Anak-anak kecil bersorak-sorak dan memukuli kaleng di belakang arak-arakan. Dan senjata terus menari-nari riang.
Kian lama gerak dan suara kian lesu. Arak-arakan menipis. Sampai di depan tangsi rekruit orang sudah lelah. Bangkai haji itu dilepas dari ikatannya dan truk yang terus meluncur tak peduli, pulang ke kandangnya: ia telah menjalankan kewajibannya menyeret manusia yang sedang dinantikan oleh anak-bininnya. Dan bangkai itu — tetap menyelampah sendirian di tengah-tengah jalan raya.
Malam itu stesen pangkalan X sunyi saja. kereta api malam tak menyaksikan opsir dan laskar berkeliaran di peron. Dan bini haji nun di sana masih jua menantikan lakinya pulang membawa rejeki dalam karung serat nanas: beras dan ikan asin.
Ada sepuluh menit aku duduk di palang pagar tangsi, melihatkan bangkai yang tersia-sia itu — telanjang bulat. Dan malam kian mendalam. Bulan mulai timbul. Orang-orang yang datang dari jurusan barat, bila sampai di tempat itu terdiam sebentar, melompat dan melarikan diri. Tak jadi mereka meneruskan perjalanan ke pasar. Mendapati bangkai di tengah jalan akan mendapati kesialan kalau berdagang. Mereka balik pulang. Jam malam sampai. Pangkalan X sunyi-senyap.
Pelahan-lahan aku masuk ke dalam tangsi. Kawan-kawan telah nyenyak tidur oleh kelelahan. Sayup terdengar nafas lok masuk ke dalam kandangnya.
Dan mau tak mau kejadian tadi merajalela dalam ingatanku. Tegunan datang pula: bukan tempatku. Tapi janji itu — hemm — dapat pelajaranlah aku kini: janji selamanya mengikat. Masa yang kelam mengawang di depanku: apa akan kuperbuat kalau aku mendapat perintah membunuh orang? Dan orang itu orang yang sangat kukasihi? Aku ketakutan. Aku harus pergi. Ini bukan lapanganku. Sesungguhnya ini bukan pikiran prajurit. Ini pikiran manusia. Dan tiap manusia ingin kebebasan, juga dalam otaknya.
Dan kala itu, untuk pertama kali dalam tiga tahun ini aku berdoa: moga-moga hanya sekali saja ada terjadi hal sebagai ini. Aku tertidur.
Apa yang kuimpikan dalam sepotong malam itu aku tak ingat. Salak berpuluh-puluh anjing membangunkan tidurku. Jam setengah empat pagi kini. Pelahan-lahan aku berjalan keluar tangsi membawa tongkat untuk mengusir binatang-binatang itu.
Bulan sudah tinggi menyinari genteng rumah-rumah orang Tionghoa sepanjang jalan raya. Waktu itu semua tangsi di pangkalan X belum mendapat rumahmonyet2 dan belum diharuskan berjaga. Angin mati. Alam mati. Sampai di dekat pagar tangsi kulihat berpuluh-puluh anjing ribut menggonggong-gonggong. Sebanyak besar menunduk ke tanah dan yang lain memandang bulan. Dan di tengah-tengah binatang-binatang itu: bangkai haji.
Sekali ini anjing orang Tionghoa makan daging manusia.
Cepat-cepat aku lari menghindari sandiwara alam yang ngeri itu. Aku masuk ke dalam tangsi. Mukaku kusembunyikan pada punggung bantal tikar. Kemudian loceng tangsi bertalu-talu. Semua prajurit bangun dan bergegas mengenakan pakaian dinas. Lari. Apel di depan tangsi. Pengumuman: jam itu juga berangkat ke garis depan. Aku menggigil.
Sekali ini pergi jualah aku — pergi untuk dibunuh, pergi untuk membunuh. Badanku bergemam sebentar. Seperempat jam kemudian barisan berangkat. Dan pembunuhan berjalan terus.
*****
FOOTNOTES
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.