ISLAMISME & KOMUNISME
HAJI MISBACH
KOLOFON
ISLAMISME & KOMUNISME
oleh
HAJI MISBACH
Medan Moeslimin, No. 2-6, 1925
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari Marxist.org
Ilustrasi sampul: H. Misbach (Haji Merah) karya Unknown
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
الحكمة الحكمة ضالة المؤمن حيث وجدها التقطها
(AL-HIKMAH DHALATUL MUKMIN HAITSU WADJADAHA ILTAQOTHOHA)
artinya:
"Kebijaksanaan itu seumpama barang yang hilang bagi orang mukmin, sekira mereka menjumpainya maka ambillah akan dia."
BAGIAN I
Sebelum saya menguraikan maksud, saya akan menerangkan apa yang dikandung dalam tulisan yang menjadi kepala karangan ini, lebih dahulu saya minta maaf kepada sekalian tuan-tuan kita kaum Komunis, terutama kepada segenap kawan kita kaum Muslimin di seluruh dunia akan kesalahan saya tidak lekas menetapi sanggupan saya yang termuat dalam Medan Muslimin No. 14 keluar pada 15 Juli 1924. Adapun yang menyebabkan telat itu baik saya terangkan kepada saudara-saudara sebagai berikut,
Sesudah saya habis menulis verslag perjalanan saya dari Jawa sampai Manokwari yang telah saya kirimkan, (Yaitu yang termuat dalam M. M. No. 18-24 Red.), ada sedikit halangan, yaitu anak saya laki-laki yang besar (Masdoeki) kena penyakit panas dalam yang keras, empat hari empat malam tidur, tidak ingat kepada papa dan emaknya dan lain-lainnya. Banyak teman-teman di kampung sana mau mengobati, tetapi obat-obat dan omongannya itu hanya tahayul saja. Sesudah saya periksakan dokter dan diobati tidur lalu bisa tidur.
Saya punya anak itu sembuh, maka emaknya kena penyakit mengeluarkan darah yang lebih dari batas, sesudahnya periksakan dokter dan diobatinya maka Alhamdulillah sekarang sudah baik dan banyak senang.
Dari itu harapkan kawan-kawan kita terutama pembaca M. M. menjadikan tahu.
Sesungguhnya karangan saya hal Islamisme dan Komunisme itu adalah penting bagi orang yang dirinya mengaku Islam dan komunis yang sejati, yakni suka menjalankan apa yang telah diwajibkan kepada mereka oleh agama Islam dan komunis; sebaliknya untuk orang yang paling mengakuinya, seperti Muhammadiyah dan S.I Tjokro, mesti saja keterangan hal ini dianggap sebagai racun saja. Kedua golongan ini (M. D. dan S. I. Tjokro) bukannya mereka menggerakkan agama Islam yang sejati, betul mereka senantiasa menunjukan keislamannya, tetapi sebetulnya cuma di atas bibir saja, betul mereka menjalani aturan agama Islam, akan tetapi dipilih aturan yang disukai oleh hawa nafsunya saja, perintah yang tidak disukai mudah dibuangankan saja tegasnya mereka melawan atau menentang perintah Tuhan Allah Samiun'alim dan takut dan cinta kepada kehendak Syaitan yang dipengaruhi dalam Kapitalisme pada waktu sekarang ini (La'natullah Red.) yang telah terang kejahatannya.
Begitu juga sekalian kawan kita yang mengakui dirinya sebagai seorang komunis, akan tetapi mereka masih suka mengeluarkan pikiran yang bermaksud akan melenyapkan agama Islam, itulah saya berani mengatakan bahwa mereka bukannya Komunis yang sejati atau mereka belum mengerti duduknya komunis; pun sebaliknya, orang yang mengaku dirinya Islam tetapi tidak setuju adanya Komunisme, saya berani mengatakan bahwa ia bukan Islam yang sejati, atau belum mengerti betul tentang duduknya agama Islam.
Pergerakan rakyat yang memang menetapi kewajibannya mengubur fitnah-fitnah yang semata-mata menghina, membikin permainan kepada jiwa manusia seperti yang sudah terjadi di Eropa, maka pergerakan rakyat itu tentu sama memandang musuh (reaktie) kepada fitnah tersebut.
Oleh karena itu mudah-mudahan kawan-kawan kita tersebut suka membaca dengan teliti dan hati-hati sampai mengerti akan keterangan saya sebagai yang tersebut di bawah.
Pada zaman dahulu kala sebelum tuan Karl Marx masuk dalam lapang pergerakan rakyat, di dunia belum ada perkataan dan bahasa Komunis, akan tetapi tindasan-tindasan dan fitnahan yang merajalela di atas bumi ini telah berhambur-hamburan, fitnah mananyalah yang timbulnya dari kaum Feodal (kaum-kaum bangsawan ningrat) dan kaum kapital, akan tetapi rakyat masih tertutup pikirannya, tidak mengerti betul-betul sebab-sebab yang menimbulkan kesengsaraan dalam ini dunia, hanya saja manusia sudah memberasa tertindas dan membikin perlawanan, tetapi perlawanan pada waktu itu belum dapat mengetahui organisasi yang betul-betul sebab mereka belum mengetahui dengan sungguh-sungguh akan pihak yang menjadi sebabnya membikin rusak pada dunia.
Waktu tuan Karl Marx memegang pimpinan jurnalis beliau memperhatikan betul-betul akan nasibnya rakyat, beliau tertarik sekali pada adanya soal-soal tentang Ekonomi dan duduknya kaum miskin; dari itu tuan Karl Marx dapat tahu dengan terang pokok atau sumber-sumber yang menimbulkan kekalutan dunia. Sebab atau sumber kekalutan itu sebagai berikut.
-
Dunia kemiskinan disebabkan adanya Kapitalisme. Kapitalisme ialah ilmu mencari keuntungan bersama hanya menjadi hak miliknya (kepunyaannya) sedikit orang. Kemiskinan sebab adanya isapan dan tindasan yang keluar dari kapitalisme. Manusia yang miskin menjadi rusak badannya, dan mudah dihinggapi rupa-rupa penyakit yang tumbuh dari badannya. Manusia yang telah menjadi miskin tersia-sia hidupnya sebab tidak mempunyai rumah pakaian dan makanan yang mencukupi sebenar-benarnya secara manusia, yang sudah terlalu rusak semuanya mereka bergelandangan mondar-mandir di tengah-tengah jalan, bertempat tinggal di pasar-pasar, di bawah-bawah pohonan, bawah jembatan dan lain-lain sebagainya.
Kejadian juga mereka yang terlalu miskin (kéré) yang tak mendapat pertolongan lantas dipegang oleh polisi lalu dimasukkan ke dalam bui yang seterusnya bekerja paksa 14 hari lamanya, karena mereka tak mempunyai tempat tinggal yang tetap.
Mereka-mereka yang miskin ada juga yang lalu timbul kejahatan, seperti: menipu, mencuri, membegal, merampok dan lain-lain sebagainya. Orang-orang perempuan lalu banyak yang merusak dan menjual kehormatannya, ialah menjadi orang pelacuran (sundel) dan lain-lain sebagainya.
Timbulnya semua itu sukar sekali ditolong, kecuali kalau kapitalisme dilenyapkan dari dunia. Keadaan yang tersebut itu sebabnya tak mempunyai penghidupan dan mencarinya tak dapat juga.
Di dunia diadakan bui dan polisi untuk menjaga jangan sampai ada kejahatan dan lain sebagainya, akan tetapi ikhtiar itu tidak berhasil, tandanya lama dunia ada bui, tidak mengurangkan kejahatan atau lainnya, ternyata bui dan polisi tidak makin disusut tetapi senantiasa tambah-tambah.
Kuburlah kapitalisme!
- Manusia dalam zaman kapitalisme menjadi rusak moralnya (Budinya) atau Humaniteitsgevoel (Kemanusiaannya) walaupun mereka mendapat pengajaran yang tinggi. Sebab kerusakannya mudah sekali mereka dipermain-mainkan oleh kapitalisme untuk perkakasnya, apa-apa yang diperintahkan oleh kapitalisme kepada mereka, mereka lantas merasa wajib menjalaninya meskipun perintah itu membikin hina dan celaka kepada dirinya. Bukti yang terang di Eropa bermiliaran manusia jiwanya melayang sebab dibuat permainan oleh kapitalisme, dibuat korban memuliakan dan menyokong kejahatannya kapitalisme yang senantiasa Concirentie guna meluaskan kemurkaannya yang tidak berbatas itu, kemurkaan mana mereka merebut Ekonomi dan beberapa Industri (beberapa pabrik yang menghasilkan barang-barang bermacam-macam seperti barang guna keperluan pakaian, rumah tangga dan alat-alat yang lain yang menjadi keperluan dan kesenangan manusia) dan sebagainja.
Kapitalistisch: Watak mencari keuntungangan yang hanya mementingkan kemauannya dan keperluannya sendiri.
Kapital: Barang-barang yang guna mencari atau mengadakan keuntungan.
Kapitalis: Orang yang mempunyai barang-barang perkakas untuk menghasilkan keuntungan itu hanya bagi sedikit orang saja, dan dia yang bisa menentukan semua harga (diturunkan atau dinaikkan).
Pekerjaan-pekerjaan tangan yang pada zaman dulu atau sekarang senantiasa kurang atau hilang sama sekali, sebab terdesak adanya mesin-mesin yang membikin barang tadi yang diadakan oleh kapitalis untuk menyangkut keuntungan dengan mudah dan lekas.
Mesin-mesin yang dibuat untuk menghasilkan apa saja yang ada pada zaman sekarang mudah saja lihat itu tidak tetap saja modelnya, tetapi senantiasa dibaik-baikkan, disempurnakan supaya menghasilkan barang banyak mengurangkan pegawainya. Mesin yang pertama umpama menghasilkan 10,000 potong barang sehari dikerjakan 100 orang, tetapi datangnya mesin yang kedua lebih sempurna bisa menghasilkan 50,000 potong barang dengan cukup dikerjakan 50 orang saja. Sebab itu maka pegawai yang 50 terpaksa dipecat, mereka menjadi orang yang tak mempunyai penghidupan lagi dan terpaksa menyerahkan dirinya ke perusahaan dan lalu concurrentie (bersaing) tentang buruhannya, lama-lama kaum buruh menjadi turun upahnya. Keadaan begitu terus menerus sampai orang hampir menjadi kaum buruh yang teranglah penghidupannya hanya tergantung pada kaum modal (Kapitalis). Mereka disebut "Proletar".
Kapitalis yang mempunyai mesin model pertama itu bisa jatuh alias mati karena terdesak datangnya yang kedua. Jatuhnya membawa beberapa orang tak mempunyai makan lagi; pedagang yang kecil yang biasanya dibeli barang dagangannya oleh kaum buruh mesin model pertama tadi pun mati juga.
Kaum-kaum buruh dan pedagang kecil tadi sengsaranya tidak hanya seorang diri saja, tetapi membawa beberapa nasib anak bininya, beberapa orang yang menjadi tanggungannya.
Sebab adanya kemiskinan itu maka timbullah beberapa macam keadaan yang melanggar kemanusiaan atau agama.
Kaum modal (kapitalis) dengan kemampuannya membikinnya barang-barang tadi terus menerus tak mengukur keperluan penduduk negerinya, sebab itu maka barang-barang yang dibikinnya melebihi keperluan, beberapa barang-barang bertimbun-timbun tak laku dijual dalam antero negerinya, karena orang-orang tidak mesti tiap-tiap hari membeli baju dan lain-lain perkakas yang lain-lain. Sebab keadaan begitu terpaksa pabrik-pabrik (mesin-mesin) yang mengeluarkan barang-barang tadi tutup, dan beberapa ratus kaum buruhannya mesti dilepas dan tiada mempunyai penghidupan lagi. Inipun tentu menambahkan rusaknya kemanusiaan orang dan banyak orang melanggar pantangannya agama.
Cita-citanya kaum modal tiap-tiap hari supaya terus menerus, tambah keuntungannya, tidak mau rugi sedikitpun. Dari itu kapitalis mesti senantiasa menghendaki mengurangi pegawainya dan menyusut belanja mereka, terutama mereka mencari negeri buat pasar untuk menjual barangnya yang bertimbun-timbun tadi dan barang-barang yang dibikin baru lagi. Pun berhubung dengan mencari bakal-bakal (barang-barang yang diperbuat dalam pabriknya) kapitalis perlu mencari bakal itu ke lain negeri. Supaya kaum modal menjualnya barang-barang itu lulus tak yang menghalang-halangi, perlulah negeri yang dibikin pasar itu ditaklukkan sama sekali menjadi jajahan (koloni) dengan damai atau kekerasan dengan perang (bunuh-membunuh).
Sebab datangnya barang-barang yang dibikin dari mesin-mesin yang baik rupanya, halus wujudnya, murah harganya, maka matilah perusahaan anak-anak bumi yang pembikinannya hanya dari pekerjaan tangan saja, pun kemerdekaan anak bumi terlalu kurangnya atau hilang sama sekali; kemelaratan di negeri jajahan tambah tahun tambah hebatnya. (Rasakan dan ingatlah Indonesia Red.)
Mencari jajahan untuk pasar memasukkan barang dagangannya atau kapitalnya itulah yang mudah sekali mengadakan bunuh-bunuhan (perang) antara kaum modal satu dengan lainnya karena berebutan.
Peperangan inilah bukan kaum modal yang menjadi makannya meriam, berang dan beberapa bom-bom, tetapi rakyat yang melarat-melarat yang menjadi korbannya.
Maka kita mengetahui bahwa kaum modal itu yang menjadi cita-citanya hanya menambahkan keuntungannya dengan tidak mengingat beribu-ribu orang lain menjadi sengsara, dari itu segenap waktu, segenap tenaganya kaum buruh terpaksa dihabiskan untuk mencarikan keuntungannya kaum modal sebab sudah terikat oleh peraturannya kaum modal.
Kaum modal memeras kaum buruhnya tidak memandang bangsa dan agama dan tidak ambil pusing wet-wet (hukum tertulis) agama yang mesti dijalani orang-orang beragama. Misalnya beberapa ribu kaum buruh sepur dan tram (+/- 60,000 orang kaum buruh di Jawa, Red). Itu terpaksa mereka meninggalkan rukun-rukun agama Islam, salat, puasa, dan lain-lain karena, waktu-waktu untuk salat itu dihabiskan diperas oleh majikannya. Begitu juga kaum buruh dalam pabrik-pabrik bengkel, pelabuhan-pelabuhan, tambang, dan lain-lain yang puluhan ribu banyaknya itu pun terpaksa juga mereka meninggalkan salat puasa karena terpaksa mengejar rezeki untuk mengisi perutnya; mencari lain sudah tidak ada, kalau tidak menjalani begitu akan menjadi korban mati kelaparan seanak bininya, dan sebagainya.
Kaum-kaum buruh di mana-mana saja selain mereka sudah mengorbankan tenaganya, pikirannya, dan lain-lain pun mengorbankan agamanya dirusak juga oleh kapitalisme.
Maka oleh karena hal-hal yang tersebut di atas itu hingga bisa menarik pikiran tuan Karl Marx bahwa kapitalisme itu jahat, ia bisa membusukkan kapitalisme dengan historische materialisme. Pada waktu itu tuan Karl Marx lalu mengarang buku yang dinamai "Kommunische Manifest" pada tahun 1847 di kota Paris.
Dalam Manifest kita bisa mengatakan sendiri bagaimana duduknya Komunis itu.
Tuan Karl Marx menerangkan bahwa timbulnya Komunisme itu biji dari kapitalisme yang tertanam dalam sanubarinya rakyat, terutama pada kaum buruh-buruh.
Bagaimanakah tuan Karl Marx bisa menyebut bahwa Komunisme itu dari bibit Kapitalisme? Itulah karena terambil dari budi kapital saja, karena kejahatannya budi kapital hingga bisa menanam bibit kebencian dan keberanian yang dibikin oleh kapitalisme sendiri dan suruh melawan semata-mata.
Bibit kebencian dan keberanian yang dibikin oleh kapitalisme tersebut yaitu yang dinamakan "Komunis" oleh tuan Karl Marx.
Adapun Komunisme disebut orang "hantu" atau "memedi" yakni yang menakuti. Pendapat begitu sudah semstinya, karena kita bisa menyatakan sendiri apabila kita menanam kebaikan itu akan memungut kebaikan-kebaikan juga, kalau kita menanam kebusukan (menindas, memeras, menghina...) pun akan merasakan buahnya yaitu "Perlawanan."Kapitalisme selainnya terang kejahatannya sebagai yang disebut di atas, pun kapitalisme senantiasa membenci satu sama lainnya manusia yang berbuah perang-perangan.
Zaman kapitalisme uang yang menjadi pokok hidup manusia, dari itu maka orang-orang kebanyakan menjadi tercintanya kepada uang sehingga boleh disebut cinta buta, maka yang dibutakan oleh mata uang sampai melupakan kemanusiannya, badan dan jiwanya diserahkan ke uang saja.
Segala yang menjadi sulapannya Kapitalisme kita kommunisten telah mengetahuinya sehingga tak bisa menjadi permainannya kapitalisme, karena komunisme memang hantu yang keluar dari kapitalisme; akan tetapi selain komunis mereka mudah menjadi perkakas dan permainan kapitalisme, kapitalisme dianggap baik, benar, penolong dan dipuji-puji.
Memang! Kita tahu juga bahwa kapitalisme itu cerdik, beberapa daya upaya dan teori cerdik beberapa daya upaya dengan teori dan taktik yang luas dan halus sehingga bisa memutar masing-masing agama menjadi perkakasnya.
Hai kawan-kawan kita kommunisten terutama kaum Muslimin, lihatlah dan pikirlah yang betul-betul akan budi dan sikapnya masing-masing pergerakan yang katanya memakai asas agama yang saya tulis di bawah ini:
I. Sarekat Islam (S.I) putih of S.I Tjokro
II. P.P.K.D (yang digerakkan oleh kaum Kristen)
III. Muhammadiyah Jogja
V. Jamiatul Hasanah
V. Dan lain-lain sebagainya yang sikapnya sebagai tersebut
BAGIAN II
فبشر عبادى الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه اولئك الذين هداهم الله واولئك هم اولو الالباب
Fa basyiri 'ibadalladzina yastami'unal qaula fayattabi'una ahsanah. Ula'ikalladzina hadahumullahu wa ula'ika hum ulul albab.
(Surat Az-Zumar ayat 18)
artinya:
"Berilah kesenangan kepada sekalian hambaku yang mendengarkan qaul-qaul mana yang baik diturut. Merekalah yang terima hidayat dari Allah dan mempunyai akal."
Sebelum saya menerangkan perintah-perintah agama Islam yang terhadap kepada Komunis dan Komunisme, lebih dahulu saya menerangkan duduknya agama Islam yang sejati, agar supaya kita yang sama memeluk masing-masing agama lantas bisa mengerti, begitu juga kita lantas bisa mengetahui dengan terang antara masing-masing manusia ampunya pendapatan tentang kebenarannya hidup dalam dunia, maupun mereka itu yang memeluk sesuatu agama di dunia ini atau tidak memeluknya.
Mudah-mudahan kawan-kawan kita sekalian manusia segenap dunia ini mendapat penunjuk jalan yang besar hingga bisa menarik keselamatan kita selama-lamanya. Aamin-Yaa-robbal a'lamin.
Ketahuilah Saudara
Sebagian besar dari manusia isi dunia ini sama memeluk agama, agama-agama itu bertautan yang diakui benar, sampailah mereka kejadian perang antara masing-masing pemeluk agama guna mengejar atau merebut kebenaran yang diakui. Kejadian semacam itu sesungguhnya bukan yang dimaksudkan agama, tetapi hanya keluar dari manusia yang berpikir menasar; keterangannya sebagai berikut:
Agama itu bermaksud: penunjuk dari Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia isi dunia. Adapun Tuhan yang bersifat kuasa itu hanya satu saja, dari itu sesungguhnya agama yang sejati itupun juga cuma satu. Tidak ada Tuhan itu dua tiga atau lebih, pun sebenarnya tak ada dua tiga agama yang benar.
Tersebut dalam Al-Qur'an karim Surat: Ali 'Imran ayat 19.
ان الدين عند الله الاسلام
(Innaddina 'indallohil islam)
Artinya: "Agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam saja".
Adanya ayat itu kebanyakan orang lantas merasa bahwa agama Islam itu hanya yang dibawa oleh junjungan kita Wamaulana Muhammad S. A.W. saja, oleh sebab itu orang Islam ada yang besar hatinya merasa benar sendiri dan menimbulkan lain pemeluk sama terpaksa menjunjung agamanya masing-masing, dan mementingkan pimpinannya sendiri-sendiri Concurrentie bersaing) atau, pendapat yang semacam itu sesungguhnya gelap gulita, adapun terangnya begini:
Agama berarti penunjuk dari Tuhan.
Islam berarti Selamat.
Menjadi Agama Islam itu penunjuk jalan yang menuntut keselamatan. Itulah yang agama diakui oleh Tuhan. Adapun asal mulanya agama menjadi bermacam-macam namanya itu begini:
Sesungguhnya Tuhan menurunkan agama itu tidak diberi nama: dahulu mula-mulanya Tuhan menjadikan manusia itu hanya satu saja, itu manusia bernama "Adam". Kedua kalinya nama "Hawa" sekarang baru ada sebutan "laki dan perempuan". Kumpulan Adam dan Hawa lalu menyebakkan adanya beberapa anak dan cucu, anak-beranak-anak-beranak sampai sekarang ini. Menjadi teranglah bahwa asalnya manusia itu hanya satu saja.
Ketika hidupnya "Adam" dan anak cucunya Tuhan sudah menurunkan agama Adam diangkat menjadi penyuruh Tuhan, agama itu supaya disiarkan kepada antero anak cucunya. Semua anak cucunya yang telah menurut perintah atau memeluk agama, mereka sama menyebut agama itu agama Adam, nama itu disebabkan dari namanya yang memimpin saja, seperti lain-lain agama ialah:
- I: Penyuruh nabi Ibrahim, nama agamanya "Ibrahim"
- II: Buddha Gautama, nama agamanya "Buddha"
- III: Konghucu, namanya "Konghucu"
- IV: Penyuruh Nabi Musa, namanya "Yahudi" sebab nabi Musa dilahirkan di tanah Yahudi, menjadi nama agamanya itu diambilkan dari nama tempat kelahirannya yang memimpin.
- V: Penyuruh Nabi Isa, nama agamanya "Nasrani", sebab nabi Isa dilahirkan di Nazareth. Sesudah ada keyakinan dari manusia pada zaman itu bahwa nabi Isa mati di salib, maka nama agama menjadi dua, I: disebut agama "Nasrani" diambilkan dari tempat kelahirannya, II: Disebut agama "Kristen" diambilkan dari nama perkakas yang dibuat membunuh. Kris ==+
- VI: Penyuruh nabi Muhammad, nama agamanya "Muhammad" atau "Islam". Nama Islam ini bukan mengambil dari tanah kelahiran nabi yang membawa agama itu, karena nabi Muhammad dilahirkan di tanah Arab, akan tetapi nama itu diambilkan dari maksudnya atau menurut dari perintah Tuhan.
Nama agama diambilkan dari maksud agama atau kehendak Tuhan, karena Tuhan menurunkan agama itu supaya bisa manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang busuk, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Tuhan menyuruh menjalani kebaikan dan melarang menjalani kebusukan, agar supaya semua manusia mendapat keselamatan. Dari belas kasihan dan kecintaannya Tuhan kepada manusia, maka Tuhan memerintah kepada manusia supaya mereka sama menjalani kebaikan waktu hidup dalam dunia dan nanti akan diberi pahala lipat ganda di akhiratnya beberapa kesenangan dan kenikmatan, agar supaya mereka sama mudah suka menjalani kebaikan.
Tuhan melarang kepada sekalian manusia jangan sampai menjalani kebusukan, siapa yang menjalaninya diancam nanti di akhirat akan disiksa berat, atau sakit, ancaman itu menarik orang takut memperbuat kejahatan atau kebusukan.
Di atas sudah saya terangkan bahwa agama yang betul itu hanya satu, ialah yang bermaksud atau menjadi penunjuk kepada jalan keselamatan manusia hidup dalam dunia sampai di akhiratnya. Dari itu kalau kita pikir dengan sungguh-sungguh akan adanya Tuhan menurunkan agama kepada manusia itu, adalah pertolongan Tuhan yang besar sekali untuk keselamatan manusia.
Tuhan menurunkan agama ialah pertolongan yang amat besar bagi manusia itu sesungguhnya telah cukup, beberapa kali dan berpuluh-puluh orang yang diangkat menjadi pesuruh Tuhan (Nabi Rasul).
BAGIAN III
Tuhan Allah mempunyai sifat kuasa (qodrat), dari kekuasaannya maka jadilah ini dunia dan isinya yang bermacam-macam warna, bangun dan lain-lain sebagainya kekuasaanNya ini kita tak dapat membantah lagi. Pertama kali Tuhan Allah membikin Nabi Adam ditempatkan di Surga dengan mengetahui keadaan Surga dan Neraka dan beberapa malaikat.
Nabi Adam (a. s.) dijadikan lebih dulu dan mulia sendiri antero titah Tuhan meskipun dengan malaikat-malaikat itu.
Malaikat-malaikat itu disuruh oleh Tuhan takluk kepada Nabi Adam, malaikat-malaikat tadi sama menurut kecuali seorang Iblis tidak suka takluk kepada Adam; sebab tidak suka takluk itu maka terima murka dari Tuhan dengan ancaman siksa berat.
Nabi Adam diberi tahu oleh Tuhan bahwa seorang Iblis itu menjadi musuh Adam dan anak cucunya selama-lamanya.
Nabi Adam zamannya itu telah menerangkan kepada semua anak cucunya akan semua perintah Tuhan, keterangan itu dipercaya atau tidak itu hanya tergantung yang menerima.
Beberapa Nabi pesuruh Tuhan mereka sama menerang-nerangkan kepada manusia apa yang diterima dari Tuhan dengan bukti-bukti yang cukup tetapi banyak juga manusia yang tidak turut percaya.
Tuhan Allah menjadikan Nabi utusan mulai Nabi Adam a. s. terus menerus sampai Nabi kita Mohammad s.a.w. guna menerangkan kepada segenap manusia akan segala hal yang menjadi gelap gelitanya bagi mereka dan jangan sampai memungkiri keadaan yang gaib (cerita yang umumnya manusia tidak tahu, atau memang tidak mengetahui sebelum mereka mati).
Dari sebab adanya Iblis atau manusia berpikiran syaitan, maka agama yang benar hanya satu itu lantas pecah-pecah, ialah mulai zaman feodal yang manusianya selalu berebut ketinggian, berebut kuat dan besar (derajat) timbulnya yang semacam itu lalu mengadakan kerusakan dalam agama, perintah-perintah agama yang tidak menyetujui budinya syaitan mudah dibuangkan saja, mereka pilih menjadi munafik saja ialah dalam mulutnya mengaku agama, dalam hatinya menurut syaitan. Hal ini bisa dinyatakan dalam keterangan saya di bawah ini.
(Komunisme dalam Islam)
Tuhan Allah menitahkan manusia itu teratur dengan organisasi yang cukup yang tiap-tiap orang hidup telah mengetahui keadaan manusia yang sudah praktis aturannya, sebabnya tidak lain melainkan karena Tuhan adalah bersifat kuasa, semua yang dikehendakiNya tentu jadi, kekuasaan Tuhan itu telah nyata adanya keadaan isi dunia ini, ialah:
- Beberapa macam sifat manusia dengan berbahasa yang rupa-rupa
- Beberapa macam pohon-pohonan besar kecil
- Beberapa bunga-bunga daun-daun dan buah
- Beberapa macam bintang di langit yang besar kecil itu
- Beberapa macam burung-burung dan bunyinya pun beda-beda
- Beberapa macam yang hidup di dalam air sungai, laut dan lain-lain sebagainya
Adanya tanah-tanah dan seisinya, langit matahari, bulan, bintang, air dan lain-lain sebagainya dan semua keadaan yang ada di dalamnya dan semua itu mempunyai tabiat sendiri-sendiri, mempunyai rasa dan faedah sendiri-sendiri, itulah manusia tidak bisa membikinnya, sedangkan membikin keterangan asal usulnya, sebabnya pun tidak bisa. Yang demikian itu kalau kita suka memikirkan sampai jauh tentu tidak mungkir lagi bahwa barang itu dari adanya yang menjadikan yang tidak boleh kita ungkiri; bukankah semua itu dari kekuasaan Tuhan Allah?
Diatas telah saya terangkan yang Tuhan Allah menjadikan manusia itu dengan Organisasi secukup-cukupnya, ialah manusia hidup dalam dunia ini diberi akal dan pikiran, dengan akal pikiran itu manusia bisa maju, kemajuannya dengan perkakas itu apabila telinga bisa mendengar, mata bisa melihat kepada semua kejadian-kejadian di dalam dunia yang kejadian-kejadian itu sesungguhnya menjadi penunjuk jalan kemajuan, kemajuan mana teratur dari sedikit ke sedikit, lama-lama menjadi sempurna, bagaimana teraturnya anak-anak sekolah, anak-anak kelas I tidak bisa dipelajari semua pelajaran kelas II, pun begitu anak kelas II tidak bisa apabila dipelajari pelajaran kelas III, dan sebagainya
Manusia zaman dahulu waktu dipimpin oleh Nabi Adam a. s. budi pekertinya masih banyak yang seperti hewan, anak beranak, didiknya mendapat dari satu sama lain, didikan mana mestinya masih sebagaimana budi pekertinya orang yang biasa saja menurut bagaimana perkumpulan mereka. Dari itu Tuhan mengadakan Nabi Adam a. s. itu guna memberi pelajaran atau menunjuk jalan kepada anak cucunya, penunjuk itulah pemberian dari Tuhan, penunjuk itulah yang disebut Agama. Menjadi arti agama itu ialah penunjuk yang dari Tuhan.
Waktu zaman Nabi Adam a. s. semua anak cucunya menyebut agamanya dengan sebutan agama Adam, yakni menurut perintah Allah yang disiarkan oleh Nabi Adam.
Sesudah Nabi Adam a. s. wafat dan berjalan jauh, maka Tuhan mengadakan seorang suruhan lagi, orang itu dari anak cucu Adam juga dipilih orang yang senantiasa menjalankan keadilan dan suci hati dari semuanya yang jahat.
Pemimpin yang kedua, Tuhan Allah subhanahu wata'ala mengubah syariat yang agar supaya menambahi kemajuan manusia kepada hal apa saja yang manfaat. Sebab keadaan yang begitu dan berjalan langsung, maka manusia makin majunya (Intellek).
Kebanyakan manusia pada zaman sekarang ini menerima semua kemajuan itu ada baik saja dengan tiada diperiksa dengan baik-baik akan buahnya, sesungguhnya pengakuan baik yang semacam itu ada salah belaka, sebab yang nama kemajuan itu berarti meninggikan pengetahuan dan kepandaian, tentang pengetahuan dan kepandaian itu sesungguhnya hanya tergantung pada budi pekerti manusia, bila mana berdasar budi pekerti busuk atau jelek maka kemajuan itu tidak bermanfaat bagi manusia tetapi menambahkan busuk kecelakaan terusnya bisa menjadi kerusakana, bahkan lebih berbahaya bagi keselamatan dan ketertiban dunia; tetapi kemajuan yang berdasar baik dan benar, buahnya juga menambahi baik dan kebenaran dunia.
Hal keadaan yang demikian itu kita tak dapat memungkiri lagi. Sebab dalam al-Qur'an Tuhan telah firman yang bermaksud orang yang berilmu tetapi tidak suka mempergunakan ilmunya, yakni sudah mengetahui antara mana yang benar dan yang salah, antara busuk dan baik, akan tetapi tidak suka menggunakan kebenaran dan membuang kebusukan atau kesalahan Tuhan lantas membendu kepadanya supaya merasakan siksa yang berat baginya; hal ini dapat diselidiki sikap Muhammadiyah dan Sarekat Islam Tjokro yang mengaku berasas islam dan Qur'an, kedua perkumpulan yang lamisan ini makin maju semakin tampak jahatnya, itulah bendu Tuhan mulai kelihatan. Lihat dan awaskan saja akhirnya nanti menggali kuburnya sendiri: Dan Semua kemajuan yang berdasar kebaikan dan kebenaran, dia makin tambah maju makin tambah ketampak kebenaran dan kebaikannya, sebab Tuhan membuka pintunya untuk mengeluarkan maksudnya yang mulia itu.
Bermula terbuka pikiran manusia, alas dari pimpinan Nabi yang kedua atau ketiga, selain dari menerang-nerangkan hal kepercayaan takut dan bakti kepada Tuhan, pun juga menerangkan sifat-sifat Tuhan, bahwa duduknya Tuhan itu, sebagi Raja yang bersifat kemurahan, adil, belas kasihan kepada sekalian manusia, dari itu maka Tuhan membikin surga, neraka, adapun gunanya Surga untuk mengganjar manusia yang berjalan baik dan benar, menurut bagaimana perintah Tuhan begitu juga Neraka, untuk mengancam manusia yang berbuat busuk dan jahat, kedua tempat Surga dan Neraka itu untuk menuntun pikiran manusia juga, agar supaya manusia dengan mudah dan senang memperbuat kebaikkan menurut perintah perintah Tuhan, dan jauh memperbuat busuk dan melanggar perintah Tuhan, hal ini pun juga berhubung dengan cinta dan belas kasihan Tuhan kepada manusia.
Tuhan membikin sekalian malaikat itu sebagai pegawai dari Tuhan, untuk melaksanakan perintah Tuhan yang diwajibkan oleh mereka, seperti mendatangkan perintah Tuhan kepada manusia yang dibenum menjadi penyuruh Tuhan, ada yang diwajibkan mengamat-amati hal-hal yang diperbuat oleh manusia, ada yang diwajibkan memecat jiwa manusia, menjaga Surga Neraka, dan lain-lain sebagainya. Keterangan yang demikian itu selalu diberi tahu kepada sekalian manusia oleh sekalian penyuruh-penyuruh Tuhan (Rasul) mulai Nabi Adam hingga Nabi yang akhir sendiri.
Tentang Tuhan membikin beberapa penyuruh (Rasul) itu, selain dari menyambung hal kepercayaan yang berguna bagi manusia, jangan sampai manusia menjadi gelap dapat tergoda oleh setan, pun juga berguna bagi penuntun kemajuan manusia, dari itu maka ganti berganti Rasul, juga ganti berganti syariat (peraturan keselamatan dunia) hal untuk kesetiaan kepada Tuhan.
Tuhan memilih manusia yang terbenum menjadi pemimpin dan penyuruh (Nabi dan Rasul) itu bukan sedikit tetapi berpuluh atau beratus orang manusia dan penyuruh itu dengan berjanjian sumpah yang berat kepada Tuhan, adapun sumpahnya sekalian Nabi dan Rasul saya kutip seperti di bawah ini, Al-Qur'an, juz 3 ayat 75 (Surat Ali Imran ayat 81), begini artinya.
"Hai Muhammad engkau ceritakanlah di waktu Allah minta perjanjian kesanggupannya sekalian Nabi, (Tuhan perintah begini) Segala hal yang telah saya perintahkan padamu ada dalam kitab, dan kebijaksanaan yang telah diberikan padamu harus engkau menjalankan dengan kesetiaan, di hari kemudian pun juga ada penyuruh yang akan datang padamu cocok dengan kitab yang engkau jalankan, itu engkau harus percaya dan menguatkan kepada penyuruh tadi (Tuhan bersabda lagi) bagaimanakah engkau ada sanggup atau tiada kepada perintah saya tadi?" (dan sekalian Nabi sama menjawab) "Hamba sanggup menjalankan dengan setia (Allah bersabda) Jikalau demikian, engkau harus membuktikan kesetiaan dengan kaum-kaummu adapun saya juga menjadi temanmu sebagai saksi.
Tuan-tuan pembaca saya ada mengira, sekarang telah mengerti, bahwa nama Agama itu hanya cuma satu, yaitu penunjuk dari Tuhan, tidak ada Agama bermacam-macam, atau terpecah-pecah, seperti yang telah kejadian sekarang ini, carilah yang sungguh-sungguh, yang membikin rusaknya Agama sampai kejadian begini ini. Pada pendapat saya yang menyebabkan tidak lain hanya dari budinya kaum kebangsaan, feodal, dan kapitalisme, yang berbudi menyimpang dari kebenaran itu, sehingga kitab-kitab dibikinnya mendidik kepada kita yang berjauhan dengan kebenaran Agama yang sebenarnya.
Di atas telah saya terangkan, bahwa perbedaan nama Agama, ialah dari kemauannya satu persatu dari golongan kaum saja diambil dari namanya rasul dan dari tanah kelahirannya, lantaran nama-nama Agama yang telah kejadian itu, lantas menimbulkan rasa kebangsaan, hingga sampai menjadi kekuatan dalam hati, lantas tidak suka menerima nasehat kebenaran pada lain bangsa; dari itu, Tuhan, perintah kepada rasul yang paling akhir, yaitu Nabi Muhammad s. a. w. harus dinamakan ambil dari maksud Agama saja; Agama berarti penunjuk dari Tuhan, Islam, berarti menuntut keselamatan umum pada manusia, selamat dunia hingga sampai akhirat. Nama itu saya kumpulkan jadi "Agama Islam."
BAGIAN IV
Arkian maka diceritakan hal penghidupan manusia waktu masih dalam pimpinannya Nabi Allah Adam a. s. selain mereka mengambil buah-buahan dari pohon-pohon yang tumbuh sendiri, juga sudah dipimpin menanam cucuk sekedarnya dari apa-apa yang menjadi makanan manusia.
Adapun yang dibikin menutup aurat hanya mengambil dari daun-daunan dan kulit pohon-pohonan itu.
Hal perkawinan masih dikenakan saudara mengawin saudaranya sendiri yang masih liabawein (sebapa dan seibu) sebab jiwa manusia masih sedikit.
Pada waktu itu sudah ada manusia yang tidak suka menurut penunjuk dari Tuhan mereka tak beragama. Pada waktu itu sudah ada pembunuhan yang disebabkan karena perempuan. Oleh karena itu lalu mengadakan manusia menjadi berpisah-pisah antara saudara dengan saudaranya yang lain.
Makin lama jalannya tahun makin tambahlah kemajuannya penghidupan manusia, seperti perkakas tanam cucuk memasak-masak, alat-alat berburu hewan-hewan di hutan atau di laut dan lain sebagainya. Begitu juga alat memperbaiki pakaian-pakaian. Dan pada waktu itu belumlah ada aturan jual beli, karena belum ada uang, semuanya dijalankan dengan tukar menukar dari satu macam barang ke lain barang yang disukai oleh masing-masing orang. Semua itu dipimpin oleh masing-masing Nabi suruhan Tuhan.
Jiwa manusia tambah tahun tambah banyaknya, dari itu tempat tinggalnya tidak menjadi satu seperti tatkala masih sedikit, tapi sudah berkaum-kaum, berkampung-kampung, lama-lama berhubungan orang semakin jauh, sebab itu hilanglah perasaan manusia persaudaraan atau persatuan, kecuali orang-orang yang mendapat pimpinan dari Nabi Rasul a.s, mereka masih tetap dalam rasanya bahwa semua manusia itu masih famili, asalnya dari seorang jalah Nabi Allah Adam a. s.
Syahdan lantaran budi syaitan senantiasa bermaksud menghendaki rusaknya manusia, terutama halnya kepercayaan kepada Tuhan Allah dikejar-kejar supaya berubah, timbullah pikiran manusia yang menuju kejahatan, ia menunjukkkan kekuatan dan keberaniannya, menaklukkan satu sama lain dari familinya sendiri yang setempat atau lain tempat, mereka berjalan begitu sebab dari adanya kemurkaan tentang penghidupan dan mengetahui hewan-hewan yang kuat menindas dan merampas kepunyaannya hewan-hewan yang lemah; mulai waktu inilah terangnya orang menghendaki hak milik.
Kejadian-kejadian seperti yang tersebut di atas itu, maka menyebabkan adanya pemuka atau kepala dari kaum-kaum atau dusun-dusun dari pecahan dari orang-orang yang sebenarnya masih famili tadi, satu persatu dari golongan yang ada kepalanya itu juga berpengaturan sendiri-sendiri yang pengaturan itu kebanyakan hanya mencari pengaruh. Orang-orang yang menjadi kepala tadi ialah orang yang terkuat sendiri melebihi dari lain-lainnya. Masing-masing golongan itu pun beda-beda adat dan keyakinannya tentang kepercayaan, ada yang menyembah berhala, matahari, bulan, bintang, lembu dan lain-lain sebagainya. Sebab-sebab yang begitu sampai perpecahan antara golongan satu dengan lainnya senantiasa tebal dan kuat, dan pada itu waktu mulailah ada kebangsaan.
Oleh karena perpecahan itu pun senantiasa timbul memusuhan, berbentusan dan perkelahian yang hebat, akhirnya mengadakan Raja-raja. Dalam zaman raja-raja ini aturan pemerintahan disebut "Absolietemonarschie", ialah berarti dalam pemerintahan, itu terlalu tak ada halangan sama sekali, yakni semua kekuasaan ada tangan raja, semua kemauan rakyat tak ada yang menghalang-halangi, meski kemauan itu merebut anak orang, bini orang, kepunyaan lain orang, membunuh orang pun lolos saja. Semua tanah yang mempunyai hanya raja saja, semua orang hanya buruh pada raja.
Peraturan-peraturan dan beberapa kemauan yang dikehendaki oleh raja-raja itu makin lama makin dalam terasa di dalam perasaan rakyat, kedalaman rasa yang tidak enak itu maka menimbulkan kemauan rakyat perlu melawan raja-raja dan pengikutnya, lalu jadilah pemberontakan menghancurkannya.
Lenyapnya pemerintahan raja (Absolute monarchie), maka berdirilah pemerintahan Feodalist, yaitu kaum-kaum ningrat (pangeran). Keadaan pada zaman ini pun tidak menyenangkan pada rakyat, lama-lama rakyat bisa berkumpul menjadi satu dan lalu mengadakan pemberontakan menjatuhkan pemerintahan feodal yang sesuka-sukanya itu. Jatuhnya pemerintahan feodal ini lalu pemerintahan mengadakan wet-wet (hukum tertulis) yang menghilangkan sesuka-sukanya kaum ningrat kepada rakyat. Akan tetapi wet-wet itu tidak menyenangkan juga kepada umumnya rakyat, sebab wet-wet yang bikin oleh pihak ningrat-ningrat itu tidak lain hanya menguntungkan dan menyenangkan mereka, tidak mengurangkan ketinggian dan kebesarannya yang semua itu bisa mengaburi mata rakyat.
Oleh karena adanya wet-wet itu tidak menyenangkan kepada rakyat, maka kira-kira tahun 1764 di Paris Revolusi, menghilangkan fitnah-fitnah dari hamba-hamba wet yang mencelakakan rakyat, sesudah itu maka berdirilah di Paris pemerintahan (Republik) ialah yang diatur oleh rakyat, yakni golongan rakyat bisa mengadakan wakil atau mengirim wakilnya ke Parlemen, dalam parlemen hanya minister-minister raja yang memutus semua hal yang hal-hal itu nanti dijalani oleh antero rakyat.
Akan tetapi parlemen itu pun tidak menyenangkan pula, sebab pihak yang kuat dan kuasa saja yang mendapat teman baik, wakil-wakil dari rakyat yang sesungguhnya mengemukakan keperluan rakyat tidak seberapa mendapatnya seteman bahkan tidak di anggap sama sekali.
Meskipun Volksraad di Indonesia itu hanya bayang-bayangnya parlemen atau parlemenan, yakni bukan parlemen karena tidak bisa memutus sesuatu hal yang dibicarakan di dalamnya, kita orang sudah mengetahui sendiri bagaimana berat sebelah yakni suara rakyat tiada sama sekali.
Lid-lid yang memihak rakyat dengan keras, tidak pula dipilih menjadi lidnya sampailah sekarang ini penuh di dalamnya P. E. B. belaka. Pendek kata kalau aturan negeri dengan parlemen itu baik, tidaklah dunia menjadi seperti sekarang ini (kalut, rusak, penduduknya dari bangsa dan agama apa saja menjadi sengsara).
(Kalau ingin mengetahui hal ini dengan sedjelas-jelasnya, bacalah kitab "Parlemen atau Soviet?" yang dikarang oleh Saudara Datuk Ibrahim Tan Malaka. Red. M. M.)
Sampai di sini kembalilah ke bahasan tentang Tuhan Allah Subhanahu wata'ala mengganti-ganti pesuruhnya untuk mengatur dunia supaya menjadi baik, pesuruh-pesuruh itu mengambil dari golongan-golongan yang banyak yang masyhur dan sekira mendapat menuntut kebenaran, supaya mereka mudah menurut, apa yang dikehendaki oleh Tuhan Allah. Umat-umat yang tidak menurut pimpinan yang benar, maka rusaklah mereka, setengah dari mereka yang tidak menurut pimpinan yang baik dan mereka menjadi rusak, di bawah ini saya terangkan dengan sederhana menurut bagaimana yang sudah diterangkan dalam wet (hukum tertulis) kita Al-Qur'an yang mulia.
BAGIAN V
Tuhan Allah memberi penunjuk kepada sekalian manusia itu, supaya jangan sampai ada manusia yang memperbuat apa-apa dengan semacam-macam sendiri dengan dari alasan kebenaran. Hal ini cocok dengan perintah Tuhan seru sekalian alam kepada nabi kita Muhammad S. a. w. dalam Qur'an juz 5, ayat 106 (An-Nisa ayat 105) yang demikian artinya:
Saya (Tuhan) sudah memerintahkan dengan kitab dengan nyata, supaya digunakan memberi kebenaran kepada semua manusia yang sama berkelai, dengan beralasan semua perintah yang sudah diberikan padanya dari Tuhan, dan janganlah membantah orang yang sesungguhnya bersih, karena hanya menurut dari omongnya manusia yang sesungguhnya cedera.
Adapun keterangan ayat di atas itu tidak perlu saya komentari, karena tuan-tuan tentu telah bisa mengerti sendiri bahwa kita ini harus berpandangan yang luas and berdebatan mencari kebenaran dengan alasan yang benar juga.
Di atas telah saya terangkan bahwa Tuhan mengutus utusan (Nabi utusan) kepada masing-masing golongan manusia itu supaya memberi penunjuk kepada mereka ke jalan yang benar, jauh dari penasaran, agar supaya manusia-manusia itu mendapat keselamatan dalam dunia sampai akhirat.
Segala penunjuk dari Tuhan Allah yang diberikan kepada segala manusia dengan beralasan kebenaran yang juga cukup kepada akal pikiran manusia, dan sesungguhnya bahwa Tuhan yang maha mulia ada, tak mamang lagi.
Perintah perintah itu sebagai yang tersebut dalam Al-Qur'an juz 8, ayat 57 (Surat Al-'Araf ayat 59-6) padanya:
(Tuhan telah bersabda begini) Saya menyuruh nabi Allah Nuh datangkan perintah yang benar kepada teman-temannya (Begini kata Nuh kepada teman-teman saya semua) Tiada ada Tuhan Allah melainkan Tuhan selain-Allah, jika engkau menemui Tuhan selain Allah, saya khawatir akan datang hari kiamat kepada kamu (Dan pemimpin mereka sama menjawab) Pada pendapat saya, teranglah engkau itu terjerumus dalam penasaran.(Nabi Nuh mengulat bicara lagi) Saya tidak sekali-kali terjerumus dalam penasaran, ketahuilah, saya ini penyuruh atas dari pengerannya sekalian alam dari kita punya Tuhan untuk engkau semua dan memberi nasehat baik kepadamu; saya lebih terang kepada segala hal perintah-perintah dan larangan-larangan yang engkau sama belum mengetahuinya.
[NOTE: sebagian teks hilang, penggalan arti ayat ini disadur dari ayat yang dirujukkan penulis, bukan tulisan sebenarnya.]"Apakah engkau sama keheranan diberi penunjuk dari kau punya Tuhan dengan berlantaran manusia laki-laki dari engkau punya teman sendiri, agar supaya orang laki-laki itu menerangkan hukuman siksa padamu, yang supaya engkau lantas takut kepada Tuhan".
Takut di sini berarti setia menjalankan perintah Tuhan, yang menuntut kepada keselamatan manusia hidup dalam dunia sampai akhirat; takut kepada Tuhan pun berarti jangan sampai takut kepada sesama manusia yang mestinya hidup bersama ini.
Penunjuk dari Tuhan Allah yang dibawa oleh nabi Nuh dibohongkan oleh sebagian dari teman-temannya sendiri, Tuhan Allah itu sesungguhnya selalu belas kasihan kepada hambanya, sebab dari kasihannya maka Tuhan membikin bukti-bukti yang nyata supaya orang-orang yang tidak percaya supaya sama tertarik kepada perintah-perintah Tuhan yang perintah itu sesungguhnya membikin kepada mereka supaya selamat dalam dunia sampai ke akhirat.
Arkian maka sesuatu waktu nabi Nuh mendapat perintah dari Tuhan supaya membikin Perahu untuk penumpang nabi Nuh dan teman-temannya, sesudah itu Tuhan lantas mendatangkan air besar (bah yang amat besarnya), yang disebut banjir bandang; semua orang yang mendustakan kepada perintah Tuhan sama mati sebab karena air bah itu, tetapi nabi Nuh sekawannya sama selamat semua.
Tuhan Allah mendatangkan bahaya kepada manusia buat meyakinkan kebenaran itu bukan sekali itu, tetapi sudah berulang-ulang sebagai keterangan di bawah ini:
Qur'an juz 8 ayat 62 (Surat Al-A'raf ayat 64).
"Orang mendustakan kepada perintah Allah itu sama orang yang buntu hatinya semua sama lenyapkan, saya tenggelamkan dengan banjir yang nama topan, hanya nabi Nuh dengan teman-temannya yang sama turut naik dalam perahu itu yang saya selamatkan."
Waktu Tuhan merintahkan agama yang dipimpin oleh nabi Saleh orang-orang yang sama membohongkannya juga didatangi bahaya, sebagaimana tersebut dalam Qur'an juz 8 ayat 75 (surat Al-A'raf ayat 75-78) yang begini maksudnya:
"Orang-orang yang sama besar kepalanya sama melanggar larangannya Tuhan, dengan berkata begini: "Hai nabi Saleh, bila engkau benar orang pesuruh dari Tuhan, marilah, datangkan ancaman dari Tuhan yang engkau katakan". Seketika itu di situ datanglah bala dari Tuhan lindu (bumi bergoyang, yang besar dan beberapa petir yang menyambar kepadanya, mereka sama jatuh kerungkap (pingsan) dan lalu matilah mereka di situ juga."
Begitu juga ketika nabi Luth. Sebagai yang tersebut dalam Qur'an juz 8 ayat 81 (surat Al-A'raf ayat 83-84):
"Saya (Tuhan) telah menyelamatkan Nabi Luth dan teman-temannya yang sama percaya, kecuali isteri Luth yang mengikut saya siksa, siksaan mana dengan saya beri hujan batu, dan saya balik tanahnya. Dari itu engkau lihatlah, sebagaimana kejadiannya orang yang sama memikul dosa."
Amsal-amsal yang tersebut di atas itu untuk memperingatkan kepada manusia agar jangan sampai terjerumus kedalam perbuatan yang menyasar berbudi Syaitan dan sebagai binatang, yakni hanya cuma memikirkan badan sendiri jauh dari tolong bertolongan mereka yang menyasar itu hanya berpokok asal mendapat makanan atau keuntungan tidak memandang kesalahan atau mana yang benar, maka yang memberi makan itulah yang ditakuti sedalam-dalamnya takut.
Pimpinan yang mana dikehendaki oleh Tuhan. Mulai zaman yang awal sampai datang masa itu orang-orang uang sama percaya kepada Tuhan dan pesuruhnya sama selalu berhubung-hubungan dan menambah pengajarannuya dan berkemanusiaan juga.
Adapun manusia yang belum mendapat pimpinan dari Nabi-Nabi (alaihimusalam) mereka bermacam-macam budi dan tabiatnya, adalah mereka seperti tabiat binatang di hutan, yakni berebutan rampas merampas tentang barang yang menjadi makanannya dan tentang perempuan dengan memakai kekuatan dan keberanian, ada juga yang bersenjata akal kepandaian. Pada masa kalau ada orang yang mati sebagian dari mereka ada yang berpendapatan kejam, ialah memotong lehernya simati diambil kepalanya guna perhiasan dalam rumahnya, agar supaya disebut oleh lain orang daripadanya bahwa ia seorang yang gagah berani, lebih-lebih yang sudah mempunyai banyak mebel kepala sesama orang dalam rumahnya.
Ada juga manusia yang beraturan secara agama yang sudah diketahui, akan tetapi mereka mungkir kepada Tuhan Allah sami'un alim dan kepada Nabi-nabi pesuruh Tuhan, dari itu mereka ada yang mengakui berkuasa seperti Tuhannya Nabi-nabi, ia mengatur keadaan dan duniawinya mengadakan pegawai-pegawai sebagai perkakasnya.
Timbul aturan begitu pun setengah dari sebab yang mengadakan aturan kerajaan. Adapun sifatnya kerajaan pada zaman dulu dengan zaman sekarang tidak seberapa jauh tafautnya tentang kemurkaanya, yakni kerajaan itu sama mengakui tanah-tanah, hutan-hutan, gunung-gunung dan lain-lain sebagainya.
Apabila dilihat betul-betul keadaan kerajaan zaman dulu dengan zaman sekarang inipun ada bedanya, ialah disebabkan dari makin tambah-tambahnya kemajuannya manusia; kerajan pada dulu kala dijalankan dengan tidak ada batasnya, sedang kerajaan zaman sekarang telah terhatur memakai wet (hukum tertulis). Agar supaya saudara-saudara bisa memikirkan betapa kerajaan pada zaman purbakala dan terbanding dengan yang menurut aturan agama maka baiklah di bawah ini saya, ambilkan percontohan akan adanya kerajaan pada zaman purbakala yang tersebut dalam Al Qur'an.
[NOTE: Tulisan ini tidak dilanjutkan, Haji Misbach terserang malaria dan meninggal dunia di tempat pembuangannya di Manokwari pada tanggal 24 Mei 1926]
PENUTUP
Innalillahi wainna ilaihi rodji'un.
Pada hari SELASA PAING (25-5-26) kira djam 11.10 m. siang, waktu saya duduk di meja penyuratan untuk mengerjakan pekerjaan buat umum, dengan sekonyong-konyong datanglah opas post datang kepada saya dengan memberikan surat Telegram. Sesudah saya terima, dengan lekas saya buka dan saya baca. Dengan terkejut and duka cita, di sini saya kabarkan kepada saudara-saudara semua, bahwa isi telegram itu bunyinya begini:
Haroenrosjid Solo papa meninggal.
Soimatoen
Soimatoen itu anak perempuan dari ketua kita H. M. MISBACH di Manokwari. Dari itu teranglah bahwa yang meninggal itu ketua kita H. M. MISBACH.
Dengan pendek:
H. M. MISBACH meninggal dunia di tempat pembuangan MANOKWARI.
Dia wafat datang usia kurang lebih 50 tahun.
Mudah-mudahan roh ketua kita itu di akhiratnya ditempatkan dalam tempat yang nikmat (Surga).
Amin. Amin. Amin. Ya robba'l'alamin
Haroenrosjid.
N. B. Telegram dari Manokwari jam 7.5 m. sampai di Solo 10.35 and sampai di tangan saya jam 11.10 m.
Ketua kita wafat meninggalkan 3 orang anak:
- SOIMATOEN kurang lebih umur 16 tahun.
- MASDOEKI kurang lebih umur 10 tahun
- KAROBET kurang lebih umur 7 tahun
Tiga anak ini sekarang masih tinggal di tempat pembuangan ayahnya di Manokwari. Tidak berbapak dan tidak beribu.
Almarhum H. M. Misbach dan familinya.
Gambar di atas itu diperbuat di Solo pada hari akan berangkatnya Al-Marhum H. M. MISBACH dari Solo ke pembuangan (Manokwari) 3-7-'26.
- H. M. Misbach pakai topi wafat pada 24-5-1926.
- Ibu kita H. M. Misbach wafat pada 10 Juli 1925.
- Perempuan duduk: Soimatoen anak H. M. Misbach yang sulung.
- Anak lelaki yang besar: Masdoeki.
- Yang kecil Karobet.
Apabila gambar itu diperbuat sekarang, harus tinggal 3 anak, tak ada papa dan ibunya. Kasian....
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.