PRAMOEDYA ANANTA TOER
SUKA MAKAN SAMBAL—PENGGUGAT SOSIAL YANG ISTIMEWA—BIKIN GEGER MANUSIA JAKARTA—SATRU TITIEN SUMARNI—PERNAH DITANGKAP PULISI SUSILA
HERMAN PRATIKTO
KOLOFON
PRAMOEDYA ANANTA TOER
SUKA MAKAN SAMBAL—PENGGUGAT SOSIAL YANG ISTIMEWA—BIKIN GEGER MANUSIA JAKARTA—SATRU TITIEN SUMARNI—PERNAH DITANGKAP PULISI SUSILA
oleh
HERMAN PRATIKTO
Dimuat di majalah Minggu Pagi
19 Juni 1955 · No. 12 · Tahun VIII
Transcriber: k-Jank
Editor: Fitrisia Indah, k-Jank
Desain Sampul: k-Jank
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Gambar sampul: Another Day (1936), karya Friedolin Kessler
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
PRAMOEDYA ANANTA TOER
PRAMOEDYA memang doyan sambal. Di rumah makan sambal. Di rumah makan minta sambal. Kalau mertamu, yang ditanyakan buat pertama kalinya, sambal macam apa. Sebab menurut pengalamannya, banyak macam sambal di Jawa ini. Di Jawa urut pantai, sambalnya mentah. Lombok (cabe), trasi, garam, terus dilembutkan sama berambang. Kalau sambal dari Yogya atau Solo, sambalnya digoreng. Kalau sambal Jakarta, rasanya asin dan kecut. Tetapi semuanya ini, dia suka. Tidak peduli sambal Semarang, atau sambal Yogya atau sambal Jakarta. Asal namanya sambal, dia doyan makan. Makannya giat, cekatan, karena sambal itu pula. Dan apabila sudah kenyang, barulah ia merasakan panasnya sambal. Sambil kepedasan ia bilang: “Nah, lihat saja mulutku!—betapa buas manusia ini. Kalau sutradara film sanggup mengclose-up mulut-mulut manusia, yang lagi meretakkan daging, menelan nasi, menggagapi sambal, nampak sekali kebuasan dan keganasan manusia.” Kemudian dia tertawa. Tertawanya kecil beruntun-runtun tinggi merendah. Memang ada keistimewaannya lagu tertawanya. Siapa yang mendengar tertawanya, jadi tresno. Jadi sayang. Jadi cinta. Hal ini banyak buktinya. Kalau dia lagi mencari hutang dan diselingi tertawa, sungguh-sungguh dan melucu di sana-sini, pastilah berhatsil. Gunung Agung, berhatsil. Kawan-kawan, sana-sini, semua berhatsil. Bahkan waktu di Negeri Belanda, dia berhatsil mendapat pinjaman. Dia memang pernah ke Negeri Belanda dua tahun yang lalu, atas beaya Sticusa. Sembilan bulan lamanya. Tetapi baru tujuh bulan, ia pulang. Tidak kerasan katanya. Di sana terlalu banyak gadis-gadis yang keramahan. Dia berani bilang, bahwa 90% tidak ada gadis yang utuh. Kecuali daerah Katholiek di Zuid Nederland. Gadis-gadis kalau sudah duduk di H.B.S. boleh disangsikan. Lapangan-lapangan terbuka, kalau malam berubah menjadi parade dari hati ke hati. Begitulah dia bilang. Sampai sekarang tidak habis-habis herannya, mengapa di salah suatu kompleks di Negeri itu, ada perempuan-perempuan yang menawarkan diri di etalage-etalage. Perempuan-perempuan itu pada berdiri di etalage seperti sebuah reklame. Dia tidak mengerti. Dan tidak habis-habis herannya. Suatu kali ia duduk sendirian di sebuah taman. Ada gadis duduk pula di situ. Ia ingin. Tanya ini itu. Akhirnya kena. Tetapi ia tak jadi, karena gadis itu sakit. Ia ketakutan dan pergi tersipu-sipu. Semuanya ini menyebakan ia tak kerasan. Tetapi menurut Asrul Sani yang di kala itu melawat ke Nederland juga. Bilang: “Wah—Pram terlalu berperasaan. Dia begitu rindu kepada tanah air. Gambar almarhum bapaknya tiap hari dihadapi, dan menangislah dia. Perasaannya terlalu halus.”
Keterangan ini bisa diterima. Memang akhirnya Pram bilang, aku rindu kepada tanah air. Tidak ada seindah tanah airnya. Kalau orang berada di luar negeri, barulah diketahui, bahwa Indonesia ini adalah sorga. Hanya orang-orangnya yang bermalas-malasan. Dan lagi, orang yang pernah ke luar negeri, akan mencintai tanah airnya dengan kesadaran yang mendalam.
Pram, memang tidak punya bapak lagi. Tidak punya ibu. Bapaknya, meninggal pada tahun-tahun pendudukan Belanda. Ibunya meninggal di Jaman Jepang. Jadi dia anak yatim piatu. Saudaranya semua enam. Tujuh dengan dia. Dan dia yang tertua. Dua yang harus menanggung dia. Sedangah adiknya telah besar-besar. Sudah bisa cari makan. Saudara-saudara perempuannya sudah pada kawin. Yang lelaki sudah bagus sekolahnya. Prawito sudah kerja.
Kusalah Subagyo Toer sudah tamat S.M.A. Si Tjoes yang paling kecil, sudah duduk pula di S.M.A. Dan lainnya yang perempuan seperti diterangkan di atas, sudah kawin. Jadi sudah beres. Dia boleh berlega hati. Boleh menikmati hatsil kerjanya. Tak usah dipotong-potong lagi, buat beaya-beaya ini itu.
Pram waktu nikah dengan isterinya yang baru.
Kini umurnya sudah 30 tahun. Sebab dia lahir pada tanggal 6 Februari 1925, di kota kecil Blora.
Bapaknya, seorang guru sekolah partikelir Budi-Utomo. Ia seorang pergerakan yang konsekwen sejak jaman Belanda. Kepala sekolah partikelir yang didirikan dalam perang dunia pertama. Mendirikan gerakan kepanduan, mendirikan koperasi, bank rakyat dan di samping itu memberikan kursus politik, ekonomi dan pengetahuan umum di rumahnya sendiri. Dan ayah ini pulalah yang tahan empat hari empat malam tidak beralih duduknya kalau lagi main kartu. Pram dulu seperti ibunya tidak senang kepada kebiasaan bapaknya ini. Tetapi sekarang ia cukup mengerti. Bapaknya butuh hiburan karena usaha-usahanya, banyak digagalkan oleh pemerintah kolonial. Sekolah dibikin lumpuh. Buku-buku pelajaran dibeslah. Guru-guru dilarang mengajar. Anak-anak pegawai Gubernemen dilarang sekolah di perguruan partikelir. Bank rakyat dirintangi bekerja. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Tetapi bapaknya seorang nasionalis tulen. Seorang nasionalis yang akhirnya kecewa di waktu Jepang, di mana pada mula-mula mengharapkan perbaikan dari mereka. Di waktu revolusi ia tetap setia kepada pemerintah, tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah. Ia menanggung akibatnya pula. Ia dipenjarakan. Ia dijalankan dari Blora ke Rembang, tatkala dalam sakit. Akhirnya, bapak ini meninggal oleh akibat-akibat penyiksaan.
Semuanya, ini merumun dalam kepala Pram. Dalam tujuh cerita pendeknya yang pertama, “Cerita dari Blora”—ia melukiskan masyarakat waktu jaman kolonial. Jaman pergerakan dan kemajuan masyarakat sebelum perang. Mitsalnya dalam cerita, “Kemudian lahirlah dia”. Dan dalam cerita, “Dia yang menyerah”, terasa sekali Pram menggugat. Gugatan sosial yang lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuatan Pram yang istimewa. Lihat saja, dalam “Keluarga Gerilya”, “Subuh”. Ia menggugat terhadap kemiskinan, kebodohan, pergundikan dan pelacuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusiaan itu baginya lebih penting dari segala-gala, juga dari bentukan-bentukan dan dogma-dogma ideologi. Pram selalu mengampuni bangsanya yang menjadi pengkhianat karena kebodohan dan kemiskinan. Kutukan, “tujuh turunan” bagi dia dianggap suatu perbuatan yang tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk menghukum makhluk yang tidak bersalah?
Humaniteit! Inilah yang menjadi pegangan Pram. Peri- kemanusiaan berada di atas segala. Tentu saja, pendirian Pram tidak selamanya disetujui oleh kawan-kawannya. Ini ternyata, bahwa baru-baru ini dia bikin geger manusia-manusia Jakarta. Geger, karena ungkapan pikiran Pram di symposion Fakultet Sastera. Dia bilang: pengarang sekarang dianggap sebagai domba perahan.
Memang benar. Kebanyakan orang tidak tahu penghidupan pengarang yang tergantung kepada hatsil tulisannya. Di sana dipotong pajak, di sini juga. Di situ juga. Kalau pajak-pajak itu dikumpulkan, samalah halnya memeras keringatnya. Dikiranya orang mendapat honorarium itu sama dengan orang mendapat uang lotre. Uang lotre. Uang hadiah. Jadi boleh dipotong. Jadi tidak apa-apa kalau dikurangi. Kawan situ minta, kawan yang memberi uang minta. Honorarium kan uang hadiah? Honorarium kan uang extra? Tidak tahu, kalau seorang pengarang kempas-kempis mau mati.
Dia memberi contoh. Dia tidak bekerja. Hidupnya melulu mengarang. Sebab ia mau konsekwen seperti bapaknya. Tulis di maalah sana, tulis di majalah sini; tulis di situ. Semua memotong 3 prosen, 3 prosen. Sedang sebuah tulisan hanya Rp. 75,—. Buat menghidupi keluarga harus tersedia uang begroting paling enteng di Jakarta Rp. 750,—. Jadi bikin sepuluh tulisan. Di sana-sini memotong 3%. Dus jumlah potongan 30%.
Karena itu dia jengkel. Karena dia menyesali pemerintah yang tak mau tahu tentang penghidupan seorang pengarang. Kalau seorang pegawai kerja 8 jam satu hari. Kalau seorang pegawai jam dua pulang; Pengarang tidak. Kadang-kadang dia banting tulang sampai 24 jam. 26 jam. Lihat saja Hemingway. Ia kerja 38 jam untuk menyelesalkan sebuah karangan. Tetapi di luar negeri nasib pengarang agak mendingan. Kalau sekali dicetak, oplaagnya ratusan ribu. Tapi di sini hanya 5000 buah. Ini saja bertahun-tahun baru habis. Coba, mana tulisan Pram yang pernah mengulangi cetakan kedua? Tidak ada. Tidak ada. Tapi pajak jalan terus. Menggoroki di sana-sini. Menyembelih di sana-sini. Pernah kejadian, salah sebuah majalah mengumumkan: Pram mau menulis cerita film. Dan esoknya, dia mengungsi. Takut kepada kegamasan tukang-tukang pajak.
Memang Pram pernah menulis cerita untuk film. Satu namanya: Inilah cinta. Jatuh kepada Djokolelono (bukan Djokolelono M.P.!) Dan sebuah lagi: Midah si manis bergigi emas, kepada Titien Sumarni Motion Picture. Scenarionya dibuat oleh Herman Pratikto.
Cerita ini pernah bikin geger antara Pram dan penulis scenarionya. Kesalahannya kepada Titien Sumarni. Titien bilang: cerita harganya Rp. 7.500. Dan scenario Rp. 6000.—. Tapi setelah jadi, Titien bilang: cerita harganya Rp. 1500.—dan scenario Rp. 6000,—. Wah celaka. Sedang mereka berdua sudah ambil persekot Rp. 4000,—. Mau tidak mau mereka menyerah. Habis mereka lebih miskin daripada Titien. Mau dikembalikan tidak kuat. Uang sudah habis. Ini sebabnya Pram satru sama Titien. Sebab yang kedua perkara motor sepeda. juga menimpa orang berdua itu.
Pram mau beli sepeda motor. Titien punya baru, Herman Pratikto yang membelikan. Tapi tak tahu, kalau sepeda motor Titien sebenarnya tidak jalan. Habis kedua-duanya tidak punya pengertian tentang motor. Akhirnya kedua-duanya sama maki-maki saja. Dan Titien kegirangan karena untungnya.
Kasihan juga dia. Habis, orang baru senang-senangnya beli sepeda motor. Baru manja-manjanya. Tapi yang dibeli sepeda rusak. Maki-maki dia. Menyumpah. Dan dia satru lagi.
Sekolah Pram tidak tinggi. Hanya sampai di Sekolah Taman Dewasa. Kemudian meloncat ke sekolah teknik radio. Kursus stenografie. Setelah itu jadi wartawan Domei. Mondar-mandir ke sana kemari. Tulis cerita. Tapi tidak dapat dimuat. Kurang baik. Tata-bahasanya kurang sempurna. Tapi nyatanya, sekarang tidak ada salahnya. Seorang kawan bilang. Dulu di sekolah kita diberi pelajaran: padang itu penuh semak-semak belukar. Tapi Pram pakai bahasa yang enak dan hidup: petang itu penuh semak membelukar. Coba di mana letak kesalahannya? Bahasanya benar. Bahkan hidup dan padat. Kalau orang mempergunakan kalimat berhelai-helai tentang sesuatu masalah, dia hanya satu kalimat saja. Contohnya yang gampang. Seorang hendak menganalisa perkara agama. Bahwa agama ini begitu. Bahwa agama itu begini. Bahwa agama itu—bahwa agama ini—. Tapi dia cukup satu baris saja yang cukup pendek. Katanya: Ah—agama yang banyak janji.
Lihatlah padatnya, Kalau dia hendak melukiskan rasa kecewa. Lihatlah hebatnya, Kalau dia lagi menggugat. Waktu hendak melukiskan keadaan yang tidak tertahankan, ia cukup memakai dialoog yang pendek: Biarlah semua itu terjadi. Kita harus bisa menghilangkan diri. Kita anggap saja diri kita ini tak ada. Dan semua akan berjalan dengan lancar.—(dari “Dia yang menyerah”).
Dan waktu memilih kalimat perjuangan sengit antara bajingan dan yang baik, di mana yang baik tidak kuasa untuk menaklukkan ia bilang:
Biarlah bajingan-bajingan tetap jadi bajingan. Biarlah yang baik tetap baik. Kita berlima menyerah kepada keadaan. Ya, kita menyerah. Dan tiada gunanya lagi kita memberontak (dari “Dia yang menyerah”).
Terasa sekali kehebatannya. Terasa sekali kepadatannya. Mendirikan bulu roma. Mengerikkan. Seolah-olah di belakang perkataannya ada beraneka perasaan yang merayup. Memang kehebatan dialoog dan kalimat Pram tidak ada taranya. Tidak ada bandingannya. Dalam sepuluh tahun lagi, barangkali belum ada yang kuasa menandingi.
Kalau Pram melukiskan alam lain lagi dengan apa yang pernah kita baca: Air hanya beberapa desimeter saja di tempat-tempat dangkal. Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matahari tak juga muncul dalam empat puluh atau lima puluh jam air yang kehijau-hijauan itu berubah rupa kuning, tebal, mengandung lumpur. (dari “Yang sudah hilang”).
Betapa kerasnya Pram melukiskan keganasan alam. Ia tidak pernah percaya kepada alam. Bahwasanya alam itu cantik. Bahwasanya alam itu indah. Lemah gemulai. Damai. Tidak! Ia tidak percaya. Di balik kedamaian. Di balik kecantikan ada ancaman yang bakal mendatang. Dan pembaca yang lagi dibawa kepada keindahan alam tiba-tiba disentakkan oleh kengerian dan kehebatan alam. Ia mengingatkan. Ia memberi nasehat, bahwa dalam hidup ini tiap orang berkelahi terus-menerus melawan kesengitan.
Cara Pram lagi yang lain dari yang lain, kalau lagi melukiskan kecantikan gadis. Katanya: Ia bayi juga dulu. Lambat-laun ia jadi besar, jadi perawan yang cantik pada perasaannya sendiri. Ia tahu benar kalau dirinya perawan, sekalipun ia tak tahu sama sekali bahwa dalam hati para pemuda yang menaruh minat padanya ada terdapat kesangsian tentang keperawanan (dari “Hadiah kawin”).
Pada setiap kali, lukisan Pram pasti merupakan kontra dari kalimat-kalimat pertama. Ia tidak membiarkan pembacanya mengelamun keenakan. Ia tidak mau membohong pembacanya. Apa yang dikatakan adalah jujur. Diusahakan kebenarannya. Dan memang Pram terkenal kejujurannya.
Java-Post kagum. Bahrum Rangkuti kagum. Dr. Teeuw kagum. Dokter Belanda inilah yang mengusulkan supaya Pram diakui sebagai pengarang Internasional waktu ada kongres bahasa di Medan. Di mana-mana dokter ini bilang begitu.
Tulisan Pram dimuat untuk pertama kali oleh usaha Prof. Reesink. Diselundupkan dari penjara. Dimuat. Akhirnya mendapat pengakuan sebagai hatsil sastera Indonesia yang tidak memalukan, kalau dipamerkan di luar negeri. Pengakuan ini, katanya ada alamatnya pula.
Malam sebelum mendapat pengakuan dia mimpi. Katanya dia terbuncang oleh sinar surya dan dibanting di bawah arca di tepi pantai. Ia geragapan bangun. Sebagai orang Jawa, ia masih ada bekas-bekas kepercayaan perkara mimpi. Hari dan pasarannya dihitung-hitung. Tapi ia tetap tidak mengerti. Sewaktu ia mendengar kabar tentang pengakuan itu, barulah dimengerti. Mimpi itu, mimpi baik.
Mimpi itu datang di penjara. Sewaktu ia dihukum dua tahun. Karena dia orang Republik. Karena dia seorang Letnan koresponden perang. Karena dia melawan kehendak Belanda. Dihukum dia pada waktu terpecahnya aksi Belanda kesatu. Dipindah dari penjara sini ke sana. Dari Cipinang ke Bukit duri, Dari Bukit duri ke pulau Edam. Pulau yang penuh ular. Pulau yang penuh tengkorak di waktu jaman Jepang. Kadang ia merasa iri hati, kalau melihat noniek-noniek Belanda pada roman-romanan di tengah laut. Di tepi pantai. Dan semuanya ini dikembalikan dalam buah karangannya, dan jadi buah pembicaraan. Yakni: “Mereka yang dilumpuhkan”.
Prof. Dr. A. Teeuw bilang: Saya anggap, bahwa Pramoedya Ananta Toer hingga sekarang adalah pengarang prosa terpenting yang terdapat dalam kesusasteraan Indonesia. Kehebatan, kejujuran dan kemajenunannya mengarang buku-buku itu, menghilangkan keragu-raguan saya.
Memang benar. Memang betul. Memang tidak salah. Pram tidak bisa meninggalkan kemajenunan menulis. Ia sering bilang: aku yakinkan diriku sendiri, bahwa aku ini adalah penulis.
Orang tak habis-habis memuji kehebatan bukunya “Keluarga gerilya”, sekalipun ada di antara para mahasiswa yang berkeberatan. Pram mempunyai sifat seorang reporter yang baik. Bukunya merupakan penyaksian serta jeritan-jeritan manusia di tengah-tengah kekacauan dan kekejaman. Bacalah kembali! Telanlah kalimatnya sebaris dan sebaris. Akan terasa keagungannya.
Memang ada yang bilang: Pram menggunakan bahasa bombas. Bahasa yang membusung. Lihat saja kalau dia menulis aspek-aspek. Dengar saja ceramahnya di symposion Fakultet Sastera.
Ini tidak betul. Atau mungkin setengah betul. Tapi di balik itu semua, sebenarnya kalimatnya mewakili sesuatu perasaan tertentu. Dia bilang: aku selalu mengarah-arah ke pada dialoog dan prosa dalam wayang. Alangkah hebatnya percakapan-percakapan wayang. Alangkah kuatnya.
“Majuo! Dak sabetake ku wandamu ing pertabang, go grog balungmu! (Majulah! Aku patahkan badanmu pada landasan batang pohonan, akan retaklah balungmu!) Ini contohnya. Lagi: nepak dirgantoro, rikat kadi tatit (Terbang seperti kilat cepatnya). Begitulah katanya. Perkataannya ini dapat dibuktikan juga kalau dia mengarah-mengarah kepada dialoog dan prosa wayang. Saya kutipkan dari cerita pendeknya “Yang sudah hilang”:
Cerita nyi Kin yang ta‘ kurang-kurang menarik ialah tentang makhluk setengah dewa atau setengah jin yang berkeliaran di malam dan di siang hari di kala manusia kosong dari segala perhatian. Ia pun dapat bercerita tentang awan yang berarak—ia mendongeng sebuah petikan dari Ramayana—dan di balik awan itu pula Dasamuka yang mencuri Sita berkelahi melawan Jatayu yang menghalang-halangi pencurian itu. Dan ia mendongeng sambil memandangi awan putih di atas.
Begitulah, Dan terasa sekali kegagahan prosa itu. Prosa dan dialoog wayang memang hebat. Memang kuat. Baik wayang Sunda, Bali atau Jawa. Pendek, menarik, indah, kuat dan hebat. Ia sering bilang. Ia sering memakai.
Pram sudah mempunyai anak tiga. Perempuan semua. Ia mencintai anaknya seperti bapak-bapak lainnya. Kadang-kadang di antara kesedihannya dia membanggakan diri: biarlah. Aku tidak punya apa-apa. Tapi bukuku kelak akan menjadi pusakaku.
Isterinya yang pertama gagah—anak Jakarta aseli. Aku katakan isteri pertama, karena baru-baru ini mereka bercerai. Yah, nyata sekali bahwa keadaan yang tenteram ini tidak ada kekekalan. Semua berubah. Yang damai jadi geger. Yang bersatu jadi berpisah. Yang cantik jadi kirut mirut. Yang gagah jadi bongkok pada akhirnya. Dan kini ia kawin lagi dengan anak Jakarta pula. Diharapkan mudah-mudahan perkawinannya ini bahagia sungguh, seperti yang diidam-idamkan.
Nama sebetulnya adalah Pramoedyo. Panggilannya (di-tengah-tengah keluarga) Muk. Tapi sekarang nama ayahnya Tur, dirangkapnya. Jadi Pramoedya ananta (anak) Tur. Pinter juga ia pilih nama. Nama itu sedap bunyinya. Kuat lagi.
Sejak kecil, memang dia gemar menulis. Pada tahun 1942, bukunya terbit. Buku kanak-kanak: Maka runtuhlah Majapahit. Dan sekarang bukunya yang paling banyak jumlahnya. Di samping menterjemahkan buku Tolstoi, John Steinbeck, buku-buku Keristen. Apa saja, jadilah. Asal dapat memberinya makan. Mengharap pemerintah seperti yang diharapkan, tidak juga-juga ada. Menterjemahkan saja. Asalkan halal.
Pram seorang peramah. Tertawa mengandung tresno. Suaranya kecil seperti klarinet. Banyak kawannya. Lucu. Tingkah lakunya lincah. Perawakannya sedang. Tidak tinggi, tidak pendek. Tidak gemuk, tidak kurus. Sedang. Cukupan. Pengalamannya rupa-rupa. Bisa nukang (tukang kayu). Bisa bikin dapur. Bisa bikin meja kursi. Bisa bikin celana. Celana anak-anaknya, dia semua yang bikin. Meja kursi, dapur, dia sendiri yang bikin. Ini sportnya satu-satunya. Sport otaknya—skhaak. Pinter skhaak dia. Oomnya, ahli skhaak. Pernah dikerubut sepuluh orang, masih menang juga.
Pram kalau lagi skhaak tidak mau kalah. Kalau kalah, satu malam tidak bisa tidur. Esoknya nantang lagi sampai menang. Begitu juga, Kalau naik sepeda motornya Sparta. Tidak mau kalah. Kalau didahului orang, panas hatinya. Ia kejar terus sampai sepedanya pontang-panting. Sampai ia pernah tergelincir di tengah perempatan Harmoni. Sampai yang diboncengkan kakinya masuk becak. Sampai isterinya menutup mata. Memang dia tidak mau kalah. Inilah sifatnya. Dalam kesusasteraan tidak mau kalah pula. Hanya dalam rumah, menurut pengakuannya sendiri, kalah dari isterinya. Jadi hambanya. Lekas berkobar kalau dibakar isterinya. Terus melabrak. Tanpa pikir siapa lawannya. Tanpa pikir, apa akibatnya nanti.
Suatu kali ia pernah boncengkan seorang wanita ke Cilincing pada senja hari. Karena Cilincing tempat yang tidak beres, ia ditangkap pulisi susila. Cilaka, pikirnya. Kejadian ini dikabarkan kepada kawan-kawannya. Tapi, dengan bilang-bilang isterinya. Nanti bikin neraka saja. Dimakinya pantai Jakarta itu. Dikutuki tiada habis-habisnya.
Sewaktu ia kawin, ia kangen anaknya. Anaknya dicuri dari isterinya yang dulu. Isterinya terus melabrak dia. Kebetulan dia tidak ada di rumah. Anaknya dibawa kembali. Dan mesin tiknya dibawa. Dia minta ampun. Minta ampun. Gimana, kalau seorang penulis kehilangan mesin ketik. Aduh! Aduh!
Seterusnya penulis tidak tahu, bagaimana kabarnya tentang mesin tiknya. Apa dia beli lagi. Apa dia minta kembali. Apa dia damai. Tapi belakangan hari ini, isterinya memberi kabar kepada penulis. Aku tidak pedulikan Pram lagi. Aku sudah kerja di N.V. anu.
Selamat! Selamat! Selamat pulalah Pram! Mudah-mudahan perkawinannya mendapat bahagia!
Pram memang lucu. Kalau dia lagi sebal, memang dia bisa bikin gara-gara. Bisa bikin geger.
Inilah Pram! Inilah Pramoedya Ananta Toer sebagai penulis dan sebagai manusia. Sebagai manusia, ia lucu, perasa, suka menangis. Sebagai penulis dia tidak terlawan kehebatannya. Ia kehilangan mesin tik, tapi masih punya sepeda motor Sparta. Mondar-mandir setiap hari. Ke sana kemari. Hilir mudik. Cari makan. Kapankah pemerintah memperhatikan nasib penulis-penulis seperti dia?
H.P.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.