Selasa, 18 September 1984.-
DARI MEJA REDAKSI :
Danarto dan Ionesso
"LIMAPULUH tahun terakhir ini dunia dilandaobyekuf ilmu, dengan leluasa mereka menyatakan perang terus yang sia-sia," kata Haji Danarto. bahwa karya itu tak ada kaitannya dengan realitas Walu orang sadar bahwa hanya Tuhan sajalah yangdan terpencil dari kenyataan hidup. Tapí di sini saya dibutuhkan sehingga pencarian yang sebaik-baiknyaingatkan apa yang dikatakan Eugene lonesco dua adalah berhubungan langsung dengan Tuhan. belas tahun yang lalu, ketika dunia kita diancam Dengan demikian kita dapat melahirkan karya-pesimisme baru setelah dilanda optímisme pem- karya yang bersumber dari petunjuk Tuhan.' bangunan dan kemajuan ekonomi pada dekade-de-Menurut Danarto inilah salah satu sikap seni Ang-kade sebelumnya. katan 70, angkatan yang disebutnya sebagai "mad-Dulu kita merasa optimis bahwa kita memiliki zab transendental" dalam sastra modern Indonesia. masa depan yang cerah, kata lonesco. Tapi setelah Dengan sikap seni seperti itu, kata Danarto selanjut-revolusi terjadi atas nama kebebasan dan keadilan, nya, dapat diharapkan dari pengarang dan penyairyang ditunjang oleh kemajuan ilmu dan teknologi, kita lahir karya-karya yang dapat memberikanyang terjadi adalah sebaliknya. Revolusi atas nama pesan "pencerahan" atau illuminasi. keadilan, kebebasan dan persamaan itu justru men-Sikap yang melatarí penciptaan Danarto ini se-datangkan tirani dan neraka di berbagai penjuru gera mengingatkan kita pada sikap penciptaan yangdunia. Sementara itu orang berharap problem eko- dimiliki mpu-mpu dan adikawi-adikawi kita di masanomi dapat diselesaikan dengan perkembangan lalu. la adalah sikap yang dimiliki oleh pujangga-industri. Namun sejarah, sebagai kekuatan irrasio- pujangga kita dulu seperti Mpu Kanwa, Sunan Bo-nal, melenyapkan semua harapan kita. Politik lantas nang, Sunan Kalijaga, Yasadipura I dan Il ataupenuh dengan kekerasan dan kebuasan. Setiap Ronggowarsito. Juga sikap penciptaan yang dimilikiorang cemas akan orang lain. Hanzah Fansuri, Bukhari Al-Jauhari, Nuruddin Memang, ujar lonesco, kita punya banyak kaum Arraniri, Syamsudin Al-Sumatrani, Abdurraufcerdik pandai. Namun kesadaran dan hati nurani Singkel dan lain-lain seperti demikian. Pun Rumi,mereka tidur lelap. Malah lebih jauh Ionesco me-Igbal, Fariduddin Attar, Kalidasa dan lain-lainngutuk para filsuf atau pemikir kontemporer yang punya sikap demikian. Lalu apakah dengan begitumenyerukan pembebasan dan pelepasan dari beleng-Danarto bisa kita anggap sebagai pengarang kuno?gu. Namun apa yang dikerjakan oleh kaum pem-Tunggu dulu, bebas yang menamakan diri "anti-borjuis" itu tak Untuk menganggap seorang itu kuno atau tidak,lebih dari destruksi atau penghancuran kebudayaan. kita tidak cuma harus melihat pada síkap dan se-Mereka ingin menghancurkan estetika dan etika mangat penciptaannya. Melainkan juga wawasanyang merupakan dasar kebudayaan, karena itu kemanusiaannya secara menyeluruh dan pancaran mereka ingin menghancurkan kebudayaan. yang terdapat pada karya-karyanya. Colli Wilson Tak ada sistem dan struktur sosial yang ideal lagi pernah menyatakan bahwa dalam banyak hal penga-bagi kita. Agama tak berdaya lagi menghadapi laman estetik itu serupa dengan pengalaman mistik, malapetaka karena kesadaran dan hati nurani sebab ia dapat membuka kenyataan yang lebihmanusianya tidur lelap. Jalan ke India penuh bang- dalam. Dan kenyataan yang lebih dalam dari kenya-kai si miskin. Di antara orang-orang kaya di Skan- taan kemanusiaan kita adalah kenyataan spiritual, dinavía jumlah orang bunuh diri makin berlipat gan- kenyataan trasendental di mana terdapat jendela un-da. Seni kemudian menjadi musium keputusasaan. tuk melihat keagungan Tuhan. Banyak generasi muda tenggelamn dalam narkotika. Colli Wilson menunjuk Dostoyevski dan karya-Yang tua-tua terjerumus dalam berbagaí korupsi karyanya yang relijius. Sebagai novelis Dostoyevskidan kebejatan yang menghancurkan kebudayaan itu banyak membukakan mata pembaca modern akansendiri. Buruh-buruh mual dan benci pada peker- segi-segi kenyataan yang dalam dari kehidupan kita. jaannya, la mengungkapkan hakekat hidup manusia yang Dalam situasi yang demikian, kata lonesco, kita merupakan dasar penghayatan relijius. Ketika ia di-membutuhkan Guru yang dapat memberikan Caha- tuduh bahwa karya-karya tidak mengungkapkanya. Ekonomi dan politik tidak cukup dalam menye- realisme, ja menyatakan bahwa justru yang ia tuang-lesaikan problem kita. Rasa lapar kita jauh lebih kan dalam karya-karyanya adalah suatu realisme.dalam lagi dari soal-soal yang sifatnya permukaan Realisme yang lebih dalam dari realisme menurutitu. Di sinilah sení diharapkan bisa memberikan faham kaum realis, yang mencipta berdasar theoripencerahan dengan kekuatan spiritualnya. Di sinilah imitasi atau nimetik. Realisme Dostoyevski adalah seni diharapkan dapat menolong penderitaan jiwa realisme kesadaran terdalam manusia, realisme spi-kita, bukan untuk menambah penderitaan jiwa kita ritual dan trasedental. yang lapar. Memang sikap semacam ini dalam penciptaan Pernyataan Ionesco ini membuktikan betapa bisa dianggap kuno oleh para ilmiawan, oleh kaumrelevannya apa yang dikatakan Danarto dengan rasionalis. Tapi dalam kenyataan karya-karya sastradunia kita sekarang. Masalahnya sadarkah kita trasendentaltetap relevan dan tak dapat dipungkiri.sekarang bahwa problem kita bukan cuma problem Ia membuka kepada kita segi-segi kehidupan yangekonomi dan poltik,bukan cuma struktur dan sistem selalu ditutup-tutupi olch kaum rasionalis dan sema-sosial, bukan cuma problem kesegaran jasmani dan camnya. olahraga hidup baru? Lalu, karena mereka mengunggulkan kebenaran Abdul Hadi W.M.