Baca PDF (OCR): From the Editor's Desk: As Told by Danarto

1 halaman · 1 halaman diproses dengan OCR· 4875 ms

Daftar isi
  1. Selass, 29 Nopember 1983.-
  2. DARI MEJA REDAKSI :
  3. Demikian Kata Danarto
  4. "Faust seelah bergulat menyelami dirinya sendiri moyang kita. Milik para seniman kita sekarang ada-

BERITABUANA

Selass, 29 Nopember 1983.-

DARI MEJA REDAKSI :

Demikian Kata Danarto

SETIAP seniman harus sanggup mencari dirinyamencari dan mencari, sehingga menemukan dirinya sebelum menciptakan karya-karya besar, kata se-dan melahirkan Ihya Ulumuddin-nya? Bagaimana orang penyair suatu ketika dalam suatu pertemuan seandainya Goethe cuma berkaca pada tradisi, ada-sastra. Kembali kepada diri, katanya lagi, adalahkah ia bisa melahirkan karya seagung dan seasl jauh lebih penting bagi seorang seniman daripadaFaust-nya? Bagaimana seandainya Amir Hamzah merujuk dirinya agar kembali ke tradisi. Sebab, hanya sibuk mengelus-elus tradisi sastra Melayu tradisi itu lebih mudah dipelajari daripada mem-Lama, tanpa mencari dirinya pada saat yang sama, pelajari díri. Mempelajari diri jarang sekali bisa di- dapatkah ia menciptakan Nyanyi Sunyi-nya? Dapat- lakukan dengan bimbingan seorang guru. Malah kah Armijn Pane melahirkan Belenggu yang mem-Socrates, Rumi dan guru-guru besar leinnya yang buat namanya kokoh dalam sastra Indonesia, jika mengutamakan pelajaran menemukan diri kepada hanya bertolak dari tradisi? Pun dapatkah Chairil murid-muridnya, tidak secara mendadak menghasil-Anwar melahirkan karya-karyanya yang meng- kan murid-murid yang mampu menemukan dirinya. goncangkan tanpa menemukan dirinya? Tidak sedikit malahan dari murid-murid mereka itu Bahwa betapa pentingnya peranan penemuan yang berhasil menemukan dirinya setelah lepas dari atau pencarian diri untuk menghasilkan sesuatu asuhan sang guru, melalui jerih payah dan jalan yang besar dan abadi itu dapat kita lihat dalam ke- yang berkelok berliku. pustakaan sastra Jawa atau Melayu. Kitab Dewa Karena itu Iqbal, penyair yang banyak meng-Ruci misainya adalah kisah pencarian diri Bima me- anjurkan pembacanya supaya mencari diri sebagai-lalui upaya yang berliku-liku dan ditantang oieh ber- mana sufi-sufi yang lain, mengatakan dalam sebuah bagai kesukaran. Karena ítu tidak aneh apabila sajaknya, bahwa, untuk menjadi Rumi, Imam Jasadipura dalam Serat Cebolek-nya menjadikan Ghazali atau Razi tak mudah. Ia harus menemukan cerita Dewa Ruci ini sebagai sumber wacana mistis- dirinya setelah melalui upaya yang tak kunjung hen- ismenya. Pun karena pentingnya upaya pencarian ti, keraguan, penelitian yang mendalam terhadap diri inilah maka Sunan Bonang dalam Suluk Wijil- filsafat, tasawuf dan ilmu pengetahuan. la punnya menganjurkan pembacanya bercermin pada harus belajar dari seorang guru ke seorang gurudirinya sendiri untuk mendapat bacaan yang suci yang lain, mengembara dari suatu tempat ke tempat dan agung. Suatu hal yang juga amat ditekankan lain, meneliti berbagai kepustakaan yang sulit-sulit. dalam filsafat Hamzah Fansuri dan Iqbal. Hasilnya memang tak kepalang tanggung. Yang Karena pentingnya pencarian diri ini pulalah kesohor lalah buku uraian tasawufnya yang berjilid-maka Danarto mengabaikan anjuran agar seniman jilid "Thya Ulumuddin" yang tetap dibaca orang kembali ke tradisi, kembali ke akar kebudayaan sampai sekarang. Seorang Goethe juga berhasilnenekmoyangnya. "Kita memang hanus memberi- memberikan kepada dunia sebuah karya agung yang kan penghargaan yang patut pada tradisi, tapi menggambarkan fenomena manusia modern betapa pun luhurnya tradisi itu, ia tetap milik nenek-

"Faust seelah bergulat menyelami dirinya sendiri moyang kita. Milik para seniman kita sekarang ada-

sebagai manusia cerminan zamannya. lah lain. Gejolak jiwa mereka sekarang lain, padahal Bagaimana seandainya Imam Ghazali henya me-justru gejolak jiwa mereka sendiri itulah yang harus rujuk dirinya supaya kembali kepada tradisimereka ekspresikan. Bila tidak maka mereka itu pemikiran keagamaan yang ada waktu itu? Bagai-akan mengada-ada, sedang seni adalah realisasi diri mana seandainya dia tidak gencar mengajukan per-sepenuhnya," demikian kata Danarto. tanyaan-pertanyaan radikal kepada dirinya mengenai fisafat dan ilmu? Mungkinkah ia tergerakAbdul HadI W.M.