Baca PDF (OCR): Hanja bangsa dan negara jang menjembah Tuhan bisa kuat-sentausa

20 halaman · 20 halaman diproses dengan OCR· 31238 ms

Daftar isi
  1. HANJA BANGSA DAN NEGARA
  2. JANG MENJEMBAH TUHAN
  3. BISA KUAT-SENTAUSA!
  4. DEPARTEMEN PENERANGAN R. I.
  5. HANJA BANGSA DAN NEGARA JANG MENJEMBAH TUHAN
  6. BISA KUAT-SENTAUSA!
  7. Djadi, waktu tadi Ibu Ketua Umum mendjemput saja, saja
  8. memenuhi undangan untuk ikut memberi amanat dalam pera-
  9. jaan Pantja Windu Wanita Katolik ini dan sajapun sanggup
  10. untuk mengutjapkan sepatah kata dua patah kata.
  11. Saudara-saudara mengetahui, bahwa tahun '14 perang dunia
  12. Indonesia itu samasekali tidak diberi hak apa-apa oleh peme-
  13. Lahirnja djandji-djandji
  14. Nopember (1918)
  15. bangsa jang bisa merebut kemerdekaan.
  16. Sekian.
  17. makmur dan perbedaan agama tidak mendjadi satu sebab

HANJA BANGSA DAN NEGARA

JANG MENJEMBAH TUHAN

BISA KUAT-SENTAUSA!

DEPARTEMEN PENERANGAN R. I.

PENERBITAN CHUSUS 337

HANJA BANGSA DAN NEGARA JANG MENJEMBAH TUHAN

BISA KUAT-SENTAUSA!

Amanat Presiden Sukarno pada peringatan Pantja Windu Wanita Katolik di Istora Gelora Bung Karno", Senajan, Djakarta, pada tanggal 26 Agustus 1964

TIDAK UNTUK DIDJUAL-BELIKAN

DEPARTEMEN PENERANGAN R. I.

Wanita Katolik berdiri 40 tahun jang lalu

Saudara-saudara sekalian,

Saja baru njotjokkan djam saja, agak kendor; djikalau diban- dingkan dengan itu, djam saja sudah setengah sepuluh kurang 2 menit, satu menit, malahan sana pas setengah sepuluh. Djadi pidato, ja, djangan terlalu lama, sebab sudah setengah sepuluh. Tadi pada waktu Ibu Ketua Umum datang ke Istana untuk mendjemput saja, saja pada waktu itu sudah sambat, waduh, saja merasa tjapai; sedjak permulaan bulan Agustus kerdja ke- ras tiap hari dari pagi utuk-utuk" sampai djauh tengah malam mempersiapkan pidato 17 Agustus, kemudian membatjakan pidato itu, menerima tamu agung pula dari Kambodja, kemudian hari-hari ini mengadakan usaha reshuffle kabinet dan nanti djuga sesudah pulang dari sini, kerdja lagi untuk menjelesaikan reshuffle kabinet itu. Rasa badan memang tjapai, hanja saja selalu memohon kepada Tuhan Jang Maha Esa supaja diberi kekuatan lahir dan batin, mengabdi kepada tanah-air dan bang- sa dan mengabdi kepada Tuhan, sebab jang tidak mengabdi kepada Tuhan sebenarnja dia itu bukan manusia.

Djadi, waktu tadi Ibu Ketua Umum mendjemput saja, saja

berkata, jah, saja tjapai, tetapi dengan gembira saja akan

memenuhi undangan untuk ikut memberi amanat dalam pera-

jaan Pantja Windu Wanita Katolik ini dan sajapun sanggup

untuk mengutjapkan sepatah kata dua patah kata.

Pantja windu, 40 tahun; pantja lima, windu delapan tahun, 5 kali 8 tahun, 40 tahun. Empat-puluh tahun jang lalu Wanita Katolik didirikan. Pada waktu itu engkau belum lahir, to, engkau belum, engkau belum, engkau belum, engkau belum, engkau

belum, barangkali ibu jang duduk paling udjung itu baru anak ketjil, barangkali. Ah, engkau belum, engkau belum, engkau belum, engkau belum, engkau belum, engkau belum, kebanjakan wanita jang duduk disini masih muda-remadja, umur kurang dari 40 tahun. Tahun 1964 dikurangi dengan 40, djadi tahun berapa, nak? Ajo djawab! 1924. Wah, pada waktu itu, saja masih ingat, keadaan bangsa dan tanah-air berlainan daripada sekarang. Pada waktu itu gerakan jang dinamakan gerakan nasional Indonesia sedang mulai bertumbuh, berkobar-kobar; mulai lahirnja gerakan nasional Indonesia itu tahun 1908, dengan didirikannja Budi Utomo. Tapi, ja, Budi Utomo, kemudian Sarekat Islam, kemudian N.I.P., Nationaal Indische Partij, jang berdjalan baik, tetapi belum berkobar-kobar seperti djus- tru pada waktu 40 tahunan jang lalu, tahun 1924 itu. Apa se- bab? Sebabnja ialah tahun 1924 itu sedang hebat-hebatnja penindasan pihak imperialisme kepada bangsa Indonesia. Aku berkata, tadinja memang sudah ada gerakan, '08 Budi Utomo, '12 Sarekat Dagang Islam jang kemudian mendjadi Sarekat Islam, '12 djuga, N.I.P., Nationaal Indische Partij, jang dipimpin oleh almarhum Dr Tjipto Mangunkusumo, E.F.E. Dou- wes Dekker, kemudian ganti nama dengan Dr Setyabudhi, Raden Mas Suwardi Surjaningrat, jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara. Ibu jang hadir disini, — siapa itu, sebelah saja tadi itu? —,beliau itu iparnja Ki Hadjar Dewantara. Ja, gerakan-gerakan ini berdjalan, kukatakan tadi belum berkobar-kobar, menjala-njala, sebagai mulai tahun '24. Sebabnja aku katakan, tahun '24 itu pihak imperialis, waduh, sudah mulai benar-benar menindas kepada kita dan sebagai hukum alam, dimana ada aksi tentu ada reaksi. Maka sudah barang tentu penindasan ini didjawab oleh bangsa Indonesia dengan reaksi gerakan nasional jang menghebat. Waktu tahun '08, '12, '15, '16, '17 gerakan mendesak, belum berkobar-kobar seperti tahun '24, kataku, pada waktu itu dumadakan — dumadakan itu, apa ja?; tidak tersangka-sangka — keadaan dinegeri Belanda amat menggenting.

1914 — 1918, perang dunia jang pertama

Saudara-saudara mengetahui, bahwa tahun '14 perang dunia

jang pertama petjah — perang dunia jang pertama itu dari tahun '14 sampai '18. Nah, oleh karena adanja perang dunia jang pertama ini, maka hubungan antara negeri Belanda — hubungan lalu-lintas — dan Indonesia boleh dikatakan terputus, jaitu hubungan lalu-lintas jang dulunja didjalankan dengan kapal-kapal. Kapal-udara pada waktu itu belum banjak seperti sekarang, hubungan lalu-lintas antara negeri Belanda dan Indonesia berdjalan dengan kapal-kapal, kapal dari Rotterdam, kapal dari Amsterdam, Maatschappij Nederland, Rotterdamsche Lloyd dan lain sebagainja. Karena perlalu-lintasan kapal-kapal ini dibahajakan oleh perang, — kadang-kadang ada kapal silam jang mentorpedir kapal-kapal itu —, djadi hubungan antara negeri Belanda dan Indonesia pada waktu itu boleh dikatakan putus sama sekali. Ketjuali itu keadaan dinegeri Belanda demi- kian buruknja, sehingga gerakan kaum buruh dinegeri Belanda, djuga amat meningkat, meningkat menghantam kepada pemerintah dinegeri Belanda sendiri. Dan bukan sadja keadaan dinegeri Belanda, tetapi di Eropa, dinegeri-negeri lain daripada negeri Belanda, karena keadaan peperangan ini, karena keadaan rakjatnja makin lama makin buruk berhubung dengan peperangan, timbullah revolusi-revolusi. Saudara mengetahui, tahun 1917 revolusi petjah di Rusia, 1917; di Djerman, di Austria petjah revolusi, banjak sekali keradjaan-keradjaan djatuh, hendak diganti dengan sistim republik. Djadi pada waktu itu keadaan dinegeri Belanda adalah amat genting, mana dinegeri Belanda sendiri djuga hampir- hampir petjah revolusi, revolusi kaum buruh, dipimpin oleh pemimpin kaum buruh Mr Pieter Jelles Troelstra, manapun se- keliling negeri Belanda itu revolusi-revolusi terdjadi: revolusi di Djermania, Kaisar Wilhelm djatuh, diganti dengan Republik Weimar; revolusi di Austria, diganti dengan republik; revolusi di Hongaria. Pendek, pemerintah dan rakjat negeri Belanda

pada waktu itu bukan sadja mengalami kesulitan-kesulitan dalam negeri, tetapi sekelilingnjapun dilingkungi oleh revolusi-revolusi, ketambahan pula sebagai kukatakan tadi, hubungan lalu-lintas antara negeri Belanda dan Indonesia boleh dikatakan terputus sama sekali. Di Indonesia sendiri, sebagai kukatakan tadi, gerakan nasional bertambah mendesak, mendesak kepada kaum imperialis. Budi Utomo, Sarekat Islam, Nationaal Indi- sche Partij dan partai-partai lain mendesak, minta supaja bangsa Indonesia diberi hak-hak jang lebih luas. Sebab dulu bangsa

Indonesia itu samasekali tidak diberi hak apa-apa oleh peme-

rintah Hindia Belanda jang ada disini.

Lahirnja djandji-djandji

Nopember (1918)

Nah, karena keadaan jang sulit bagi pemerintah Belanda itu, saja ulangi, negeri Belanda sendiri dikatjau, sekeliling negeri Belanda revolusi-revolusi, hubungan antara negeri Belanda dan Indonesia putus lalu-lintasnja, gerakan nasional di Indonesia makin tumbuh, dalam keadaan jang demikian itu maka pemerintah Belanda mengutjapkan djandji-djandji kepada bangsa Indonesia, jang terkenal dengan nama djandji-djandji Nopember, November-beloften; bulan Nopember 1918 diutjapkan djandji-djandji oleh pemerintah Belanda kepada kita bangsa Indonesia: Ja, bangsa Indonesia, engkau nanti akan kuberi hak-hak jang lebih luas, ja bangsa Indonesia, engkau nanti akan kuberi parlemen, ja bangsa Indonesia, nanti engkau akan kuberi keadaan ekonomi jang lebih baik.

Tapinja, nah ini tapinja, sesudah peperangan dunia jang per- tama ini berachir, tahun 1918, sesudah keadaan dinegeri Belanda sendiri selamat, sesudah keadaan di Eropa gestabilliseerd, sesudah lalu-lintas antara negeri Belanda dan Indonesia bisa pulih kembali, djandji-djandji muluk jang diutjapkan oleh pemerintah Belanda pada bulan Nopember itu samasekali bukan sadja dilupakan, tetapi ditelan kembali. Bukan sadja ditelan kembali, tetapi malahan disini diadakan satu pemerintahan oleh

Belanda jang menindas habis-habisan kepada gerakan nasional. Dikirim misalnja ke Indonesia seorang gubernur-djenderal, jang amat terkenal dalam ingatan kita sebagai gubernur-djenderal penindas kita, jaitu Mr Dirck Fock, D. Fock, dan Mr Dirck Fock ini malahan, bukan apa jang didjandjikan bulan Nopember itu diberikan, meskipun sedikit-sedikit, tidak, malahan gerakan nasional ditindas habis-habisan, dibikinkan artikel-artikel penin- dasan baru dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana bagi kita, misalnja diadakan artikel 153 bis-ter. Kitab Undang-undang Hukum Pidana, 153 bis-ter. Didalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana artikel 153 bis-ter itu ditulis, siapa jang njindir sadja, belum mengutjap- kan terang-terangan lho, siapa jang njindir sadja kepada peine- rintah Hindia Belanda bisa ditangkap, dimasukkan pendjara sampai enam tahun. Njindir sadja, malahan tidak ditulis njin- dirnja itu harus dimuka umum, tidak. Tidak ditulis, siapa jang njindir kepada pemerintah Hindia Belanda dimuka umum, bisa dihukum dengan enam tahun, tidak. Siapa jang njindir pemerintah Hindia Belanda bisa dihukum enam tahun, sehingga aku pernah mengedjek, ini artikel, wah, artikelnja bukan main ini. Wong njindir tok sadja sudah enam tahun. Tidak perlu njindir- nja itu dimuka umum, misalnja saja duduk didalam gua sen- dirian, ndak ada orang dengar, kira saja ndak ada orang dengar, saja njindir pemerintah Belanda: pemerintah itu djahat sekali, pemerintah ndak baik; kebetulan ada orang jang mendengar sindiran saja ini, sindiran didalam gua itu, dilaporkan kepada polisi, saja bisa ditangkap dan kemudian bisa diseret dimuka hakim dan kemudian bisa dihukum dengan enam tahun. Diadakan artikel 161 bis, disitu dengan terang-terangan dikatakan, siapa jang mengadakan pemogokan, hukum enam tahun. Pendek kata, Saudara-saudara, bukan djandji Nopember itu diluluskan, tetapi malahan kita ditindas habis-habisan. Tapi sebagai kukatakan tadi, sebagai kukatakan pula didalam pidato Tavip, Tahun Vivere Pericoloso", dasar kita itu bukan bangsa tjatjing, Saudara-saudara, dasar kita itu bangsa jang berkepri- badian banteng, kita tidak diam, kita tentu melawan, melawan

kepada penindasan jang demikian itu. Malahan aku berkata pada tahun itu, djanganpun manusia, tjatjingpun djikalau diindjak, tentu reaksi keloget-keloget melawan. Ja, gerakan mulai, Saudara-saudará, menjala-njala tahun '24 itu tadi, lho. Tahun '23 ada gerakan staking, staking, pemogok- an kereta api, tahun '23, '24 gerakan mulai berkobar, menjala-njala; didalam tahun itulah Wanita Katolik didirikan. Saja tadi mentjeritakan pemimpin kaum buruh dinegeri Belanda jang bernama Mr Pieter Jelles Troelstra. Mr Pieter Jelles Troelstra didalam parlemen negeri Belanda, dia pernah meng- gugat pemerintah Belanda: Ja, tatkala engkau didalam bahaja, tatkala hubungan dengan Indonesia hampir putus, tatkala kita dinegeri Belanda dilingkungi, dikurung oleh revolusi-revolusi, pada waktu itu engkau mendjandjikan kepada bangsa Indonesia perluasan daripada hak-hak. Tetapi manakala bahaja itu sudah hilang, engkau telah aman kembali, malahan engkau durhakai djandji-djandjimu itu. Kalimat jang diutjapkan oleh Mr Jelles Troelstra didalam parlemen saja tidak bisa lupakan, kalimat jang hebat. Ja, het was het hoogtepunt van het wereldgebeu- ren toen de splinters van stuk geslagen tronen het volk van Nederland om de oren vlogen en de donder van buitenlandse revoluties over zijn velden rolde. Pada waktu itu engkau mengadakan djandji-djandji. Het was het hoogtepunt van het we- reldgebeuren toen de splinters van stuk geslagen tronen het volk van Nederland om de oren vlogen en de donder van buitenlandse revoluties over zijn velden rolde. Pada waktu petjah-petjahan singgasana, singgasananja Hohenzollern, jaitu Wil- helm ke-II hantjur-lebur, singgasananja Kaisar Austria hantjur-lebur, hantjur-leburnja petjah-petjahan singgasana ini beterba- ngan dikeliling telinganja bangsa Belanda, dan bukan sadja itu, tetapi keliling bangsa Belanda itu dimana-mana timbul revolusi-revolusi, jang menggelegar diatas bumi ini, pada waktu itulah engkau mengadakan djandji-djandji jang muluk kepada bangsa Indonesia, tetapi sesudah bahaja itu hilang, engkau telan dan durhakai djandji-djandji itu.

Hanja persatuan Indonesia bisa menjelamatkan kita

Tetapi sjukur, Saudara-saudara, aku telah berkata, kita bukan bangsa tjatjing, kita adalah bangsa jang berkepribadian banteng, kita mengadakan reaksi jang sehebat-hebatnja, malahan pada tahun 1926 pemberontakan jang pertama diadakan oleh bangsa Indonesia untuk menggugurkan imperialisme Belanda di Indonesia itu. Nah, sebelum itu, Saudara-saudara, gerakan nasional Indonesia itu boleh dikatakan gerakan golongan-golongan, ada gera- kannja orang Djawa sendiri, — Budi Utomo itu kan gerakan orang Djawa, pemudanjapun begitu, Jong Java, pemuda Djawa —, ada gerakan orang Timor sendiri, Timors Verbond, ada gerakan pemuda Sumatera sendiri, Jong Sumatranen Bond, ada gerakan orang Minahasa sendiri, Perserikatan Minahasa, gerakan ketjil-ketjil, Saudara-saudara. Aku pada waktu itu men- dapat kejakinan: Neen, zo komen we er niet, tidak ini, djalan salah ini, kalau kita mengadakan gerakan-gerakan ketjil-ketjil- an, Sumatera sendiri, Djawa sendiri, Minahasa sendiri, Timor sendiri, Maluku sendiri, Dajak sendiri, sehingga sendiri-sendiri, sendiri-sendiri, bahkan dikalangan agamapun, ini sendiri, ini sendiri, ini sendiri, ini sendiri. Neen, zo komen we er niet, artinja kita tidak mentjapai hasil jang sebaik-baiknja. Pada waktu itulah, didalam tahun 1924, 1925, buat pertama kali dengan karunia Tuhan, saja tjanangkan: Hanja persatuan Indonesia bisa menjelamatkan kita ini. Hai orang Djawa, hai orang Sumatera, hai orang Kalimantan, hai orang Sulawesi, orang Bali, orang Lombok, hai orang Sumbawa, orang Flores, orang Timor, hai orang Maluku, hai orang seluruh Indonesia, bersatulah mendjadi satu! Hanja bangsa jang bersatu bisa mendjadi bangsa jang kuat, hanja bangsa jang bersatu bisa mendjadi satu

bangsa jang bisa merebut kemerdekaan.

Malahan kemudian, pikiranku ini, Saudara-saudara, timbul lebih tinggi lagi, karena kita bertjita-tjita mengadakan satu negara jang merdeka dan djalannja untuk mengadakan satu

negara jang merdeka hanjalah persatuan bangsa, maka aku berpikir, negara ini harus bagaimana? Tjaranja untuk men- tjapai negara itu, tjaranja untuk mengenjahkan imperialisme, tjara untuk menghantjur-leburkan imperialisme di Indonesia ialah dengan palu-godam persatuan Rakjat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, tetapi negara ini sendiri, negara ini sendiri, bagaimana, harus negara jang bagaimana?

Ilham mengenai dasar negara: Pantjasila Aku pernah berpidato disini, pada waktu aku hendak diharus- kan mengeluarkan pendapat-pendapatku tentang bagaimana negara ini, tjaranja negara ini berdiri, atas dasar apa negara ini harus didjalankan, pada waktu itu aku pernah berkata, pidato disini, aku berdiam di Pegangsaan Timur nomor 56, jang sekarang disana itu berdiri Gedung Pola, tengah malam djam 12, aku keluar dari rumah; aku keluar dari rumah, oleh karena di- dalam rumah kurang bisa berpikir, tidak bisa orang memberi petundjuk kepada saja, ketjuali Tuhan sendiri jang harus men- djadi penundjuk! Aku keluar dari rumah, pergi kebelakang rumah, aku menengadahkan mukaku kearah langit, aku melihat bintang gemerlapan, bukan satu-dua bintang, tetapi puluh-ribu- an bintang diangkasa raja dan disitulah, Saudara-saudaraku, aku memandjatkan permohonan kepada Tuhan Jang Maha Esa: Ja Tuhan, besok pagi aku harus membuat pidato jang berisikan dasar-dasar negara jang hendak kami dirikan, berilah petundjuk, ja Tuhan Jang Maha Esa, berilah petundjuk. Dan pada waktu itulah aku mendapat pikiran baik, aku mendapat apa jang dikatakan dalam ilmu agama, ilham; ilham berkata kepadaku: Hé Sukarno, usulkan, usulkan kepada bangsamu, bahwa dasar negara jang akan datang haruslah lima, Pantjasila: Ketuhanan Jang Maha Esa, Kebangsaan jang bulat, Peri-kemanusiaan, Kedaulatan Rakjat, Keadilan Sosial. Inilah djawaban jang aku dapat dari Tuhan Jang Maha Esa, sebagai ilham pada waktu itu.

Ja Allah Jang Maha Kuasa, ja Allah Jang Maha Kuasa, hanja bangsa dan negara jang bisa mempersatukan umatnja mendjadi satu dan hanja bangsa dan negara jang umatnja menjembah kepada Tuhan, bisa mendjadi satu negara jang kuat. Tuhan seru sekalian alam, Tuhanku, tetapi djuga Tuhanmu, djuga Tuhanmu, djuga Tuhanmu, djuga Tuhanmu, djuga Tuhanmu, djuga Tuhannja Romo Agung jang duduk disana, bahkan djuga Tuhannja bintang beribu-ribu jang gemerlapan diangkasa raja, Tuhannja matahari jang besok pagi akan terbit, Tuhannja bulan purnama, Tuhannja lautan jang bergelora membanting dipantai, Tuhannja hutan jang bergelora tertiup oleh angin, Tuhannja gunung-gunung jang membiru, Tuhannja mega putih jang berarak diangkasa, Tuhannja semut-semut jang ketjil- ketjil jang berdjalan diatas bumi, Tuhannja rumput-rumput jang Saudara indjak, Tuhan seru sekalian alam. Maka oleh karena itulah, Saudara-saudara, keesokan harinja aku pidatokan kepada dewan, kepada sidang, jang hendak membitjarakan dasar-dasar negara ini, Pantjasila, dan sjukur kepada Tuhan Jang Maha Esa, Pantjasila ini diterima baik oleh seluruh hadirin dan hadirat, dan Pantjasila ini sekarang, Saudara-saudara, mendjadi mertju-suar daripada umat manusia didunia ini. Bukan sadja mertju-suar bagi umat Indonesia, tetapi mertju-suar bagi umat manusia diseluruh muka bumi. Pantjasila adalah satu dasar universil, bisa dipakai dan harus dipakai oleh bangsa Indonesia, tetapi djuga bisa dipakai dan harus dipakai oleh umat manusia didunia ini, djikalau umat manusia didunia ini ingin hidup selamat, damai, makmur, sedjahtera. Dan ini telah kukatakan pula, Saudara-saudara, dalam pidato-pidatoku diluar negeri, antara lain pidatoku diha- dapan P.B.B. di New York, dan sekarangpun jang dunia ini hidup didalam marabahaja, aku ulangi bahwa dunia tidak akan bisa selamat, djikalau dunia ini tidak didasarkan atas Pantjasila. Jang tidak pertjaja kepada Tuhan, tjelaka! Pantjasila jang bisa menggabungkan seluruh umat manusia didalam satu gabungan, menggabungkan seluruh umat Indo-

nesia didalam satu gabungan, dan sebagai nomor satu, gabungan pertjaja kepada Tuhan Jang Maha Esa. Kita semuanja harus beragama, kita harus, semuanja harus pertjaja kepada agama, kita semuanja harus menjembah kepada Tuhan Jang Maha Esa, bahkan negara kita harus didasarkan atas pertjaja ini. Tjelaka manusia jang tidak pertjaja kepada Tuhan, tjelaka! Aku pernah pidato mendjelaskan tjaranja manusia mentjari kepada Tuhan, mentjari kepada satu Zat, jang ia harus sembah. Aku pernah tjeritakan, bankan tatkala auu, ribu-ribu-ribu, ribuan tahun jang lalu, umat manusia itu masih hidup digua- gua, dirimba-raja, tatkala manusia itu tiap hari, tiap djam takut kepada taufan, takut kepada petir, takut kepada geledek dan guntur, pada waktu itu manusia mengira, Tuhan adalah berupa geledek dan guntur, pada waktu itu geledek dan gunturlah jang disembah oleh manusia, pada waktu itu Tuhan ada jang dinama- kan Thor, misalnja. Rakjat-rakjat di Skandinavia zaman dahulu menjembah Thor, malah menjebutnja Thor itu sebagai radja. Thor itu geledek, Saudara-saudara. Malah mereka menjebut Thor ini Radja Thor, jang didalam bahasa mereka radja adalah Kung, Inggeris bilang King; king, radja, Mereka di Skandinavia mengatakan Kung, Kung Thor, Radja Thor. Mereka berkata Kung Thor, kita berkata guntur. Tahu hubungannja perkataan Kung Thor dengan guntur? Ja, saja tidak main-main gila, begitu memang, Saudara-saudara. Rakjat Skandinavia jang dulu menjembah kepada Kung Thor, uh, uh, uh, kalau didalam sua- sana gelap, sendja raja, angin menderu-deru dan mereka men- dengar geledek, guntur mengguruh-guruh, mereka mengira, Kung Thor sedang mengendarai ia-punja kendaraan jang hebat, turun dari satu awan kelain awan dan tiap-tiap ia melintasi satu awan, terdengarlah suara gelindingnja itu, mengguntur diawan. Kung Thor sedang lewat, jaitu guntur sedang menggeledek, Saudara-saudara. Dan saja tjeritakan didalam pidato itu djuga, bahwa kemu- dian manusia itu hidup dari, bukan lagi dalam gua-gua, Saudara-saudara, tetapi hidup berternak, kataku, dan pada waktu manusia hidup berternak, Tuhan jang ditjarinja itu berobah;

didalam tjiptaan mereka itu, Tuhan sudah lain lagi, bukan lagi Kung Thor, bukan lagi guntur, bukan lagi geledek, bukan lagi angin taufan, bukan lagi lautan jang menderu-deru, Saudara-saudara, tetapi berupa ternak, berupa ternak, berupa lembu. Saudara-saudara mengetahui, masih ada dulu, bangsa-bangsa jang menjembah kepada lembu, misalnja bangsa Mesir duiu, menjembah kepada lembu Osiris, Tuhannja berupa lembu. Bangsa India mengagungkan lembu Nandi, Tuhannja berupa lembu Nandi. Dan kemudian, sesudah manusia naik lagi setaraf hidupnja, Saudara-saudara, bukan hidup dari peternakan, tetapi hidup dari pertanian, Tuhan jang ditjarinja itu berobah lagi, berobah mendjadi Tuhan jang berupa Dewi Sri, Dewi Pohatji, dewi pertanian, dewi jang memberi ekonomi, rezeki kepada manusia, via pertanian. Dewi Sri ditanah Djawa masih disebut-sebut, Dewi Pohatji sampai sekarang masih disebut-sebut di Djawa Barat dan demikian seterusnja, Saudara-saudara. Kemudian naik lagi bangsa manusia ini setaraf, bukan lagi hanja pertanian, tetapi manusia beladjar membuat alat-alat, perindustrian rakjat timbul, manusia hidup dari perindustrian rakjat, pada waktu itu manusia berkata: Tuhan, Tuhan, Tuhan ndak kelihatan. Tadinja Tuhannja itu kelihatan, kelihatan katanja seper- ti Kung Thor, jang menggeledek dari awan satu keawan lain. Tadinja ia mengira bahwa Tuhannja itu berupa sapi, berupa lembu, kemudian ia berkata, bahwa Tuhan-nja itu berupa dewi jang tjantik, Dewi Sri, Dewi Sari Pohatji, tetapi didalam alam jang kemudian, jang manusia banjak sekali memakai, memper- gunakan ia-punja akal, akal untuk membuat alat, akal untuk membuat gelinding, akal untuk membuat roda, akal untuk membuat martil, akal untuk membuat patjul, akal untuk membuat segala alat-alat, — akal adalah maha-radja-diradja, dan akal tidak bisa diraba, Kung Thor bisa diraba, kelihatan, Sari Pohatji bisa diraba, kelihatan didalam tjiptaannja, lembu Nandi atau lembu Osiris bisa kelihatan didalam tjiptaannja, tetapi akal, gaib; gaib itu artinja tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, tidak bisa ditjium—, Tuhan katanja, adalah gaib, Tuhan jang

ditjari itu lantas hilang Dia-punja bentuk. Jang tadinja bentuk Kung Thor, jang tadinja bentuk lembu Osiris, jang tadinja bentuk Dewi Sri, Tuhan jang ditjarinja itu, katanja, Tuhan jang tidak kelihatan, Tuhan jang gaib, Tuhan jang tidak bisa diraba. Tuhan mendjadi barang jang tidak kelihatan, karena akal tidak bisa kelihatan. Tetapi, Saudara-saudara, manusia ini naik lagi setaraf, bukan lagi ia membuat alat-alat dengan dia-punja akal, membuat gelinding, membuat roda, membuat martil, membuat we- luku, membuat gergadji, membuat ini, membuat itu, akal, akal, akal, tetapi akalnja itu begitu ber-revolusi, begitu makin lama makin tadjam, sehingga manusia itu boleh dikatakan bisa membuat apa sadja jang ia kehendaki.

Timbulnja aku jang maha kuasa" Membuat petir bisa, membuat gempa bisa, membuat hudjan bisa. Aku pada waktu masih sekolah, memba- tja kisah daripada seorang professor Italia, yes, Excel- lency, Italian professor —, Dr Nicola Tesla, Nicola Tesla. Nicola Tesla ini bisa membikin petir, Saudara-saudara, dia membuat antenne tinggi, dipihak sana bikin antenne jang tinggi djuga, kosong antara dua antenne ini, Saudara-saudara, tetapi lantas ia isi antenne ini, satu antenne dengan voltage dan listrik, jang bukan ribuan, bukan puluhan ribu, tetapi djuta- djutaan volt. Dan djikalau ia menggerakkan dia-punja handle, dari puntjak satu antenne melompatlah petir keantenne jang lain. Nicola Tesla menebah dia-punja dada: Aku telah membuat petir. Dan memang, Saudara-saudara, dari putjuk dua antenne itu kita melihat petir menjambar-njambar. Aku bisa membuat petir. Orang kemudian lantas bisa membuat radio. Uhh, kirim sua-
ra, gampang, djanganpun suara dari sini ke ......... mbakju
jang duduk disana, tidak, suara dari sini keudjung dunia jang lain. Mau apa, manusia bisa. Djanganpun mengirimkan suara,

Saudara-saudara, sekarang ini mau pergi kebulan, bisa; kirim manusia didalam stratosfeer, lihat, daripada stratosfeer itu, outer-space, bisa mendarat dibulan, bisa mendarat di Jupiter, bisa mendarat di Mars. Manusia ini sekarang ini adalah maha kuasa. Aku, aku manusia maha kuasa, aku, aku, Tuhan tidak ada, Tuhan tidak ada, aku jang ada, manusia jang ada. Itu adalah manusia djaman sekarang, Saudara-saudara, manusia jang tidak lagi pertjaja kepada adanja Tuhan, karena ia-punja ke- pandaian sudah demikian tingginja, sehingga ia mengira bahwa dia bisa membuat apa sadja, tidak perlu kepada Tuhan, tidak perlu mohon kepada Tuhan, tidak perlu menjembah kepada Tuhan. Aku, aku, aku, sekali lagi aku jang maha kuasa. Kita bukan manusia buta jang tjebol Tetapi aku dan kita, Saudara-saudara, berkata, tjelaka manusia jang demikian ini, mengira bahwa Tuhan tidak ada, mengira bahwa Tuhan adalah nonsens. Tjelaka manusia jang demikian ini. Aku pernah didalam satu pidato menggambarkan manusia-manusia itu sebagai lima manusia jang buta, Saudara-saudara. Ada, pada satu hari lima manusia buta. Lima manusia buta ini kepingin tahu gadjah. Ja, kita bisa melihat gadjah, engkau bisa melihat gadjah, engkau bisa melihat gadjah, engkau bisa melihat gadjah, tetapi lima orang buta ini kepingin tahu, bagaimana toh rupanja gadjah, bagaimana? Didatangkan seekor gadjah dan lima manusia itu boleh meraba gadjah ini. Kalau sudah diraba, boleh berkata gadjah ini bagaimana. Manusia A raba, raba, raba, ia dapat belalai gadjah; ditanja, bagaimana rupanja gadjah? Oo, gadjah itu seperti ular besar. Karena dia me- megang belalai. Manusia B dipanggil, buta djuga; tjoba, raba- lah gadjah! Dia dapat telinga gadjah. Pegang telinga gadjah dan ia berkata, gadjah kok seperti daun keladi. Karena telinga- nja jang dia pegang. Manusía C dipanggil; ajo, boleh meraba gadjah ini. Ia itu agak pendek, Saudara-saudara, agak, jang ia bisa raba, dia bisa rangkul, kaki gadjah; ditanja kepadanja,

bagaimana rupanja gadjah? O, gadjah itu seperti pohon kelapa. Karena dia pegang kaki gadjah. Manusia D dipanggil, buta dju- ga, pegang gadjah, dia dapat ekor gadjah; bagaimana gadjah? Gadjah itu seperti petjut, katanja, karena dia bisa pegang ekor. Manusia E, nomor lima, buta, manusia tjebol, Saudara-saudara, maklum ia ketjil, tjebol. Sini, sini Bung, tjoba raba gadjah. Ia itu saking tjebolnja, dibawah gadjah, mentjoba memegang gadjah; karena dia orang ketjil dan tjebol, tidak terpegang, dia tidak bisa memegang belalai, tidak bisa memegang kaki, tidak bisa memegang telinga, tidak bisa memegang ekor, maklum ketjil dia. Ditanja, bagaimana rupanja gadjah? Gadjah tidak ada, gadjah itu seperti hawa, katanja. Nah, manusia jang berkata bahwa Tuhan tidak ada, adalah seperti manusia tjebol jang tidak bisa melihat gadjah itu. Tetapi, lagi sjukur, sjukur kepada Tuhan Jang Maha Esa, kita bukan manusia-manusia tjebol, kita adalah manusia jang besar kita-punja djiwa, kita pertjaja kepada Tuhan. Dan didalam usaha kita untuk mendirikan satu bangsa didalam satu negara jang ber-Pantjasila, kita semua bangsa Indonesia bersatu, meskipun agama kita berbeda-beda; meskipun engkau Islam, meskipun engkau Kristen, meskipun engkau Katolik, meskipun engkau Buddha, meskipun engkau apapun, asal pertjaja kepada Tuhan, marilah kita bersatu didalam negara Republik Indonesia jang berdasarkan Pantjasila itu. Hanja dengan djalan de- mikianlah, Saudara-saudara, kita bisa kuat, kuat, sekali lagi kuat! Hanja bangsa dan negara jang menjembah Tuhan, bisa kuat-sentausa! Saudara-saudara, Wanita Katolik sekarang merajakan 40 tahun usianja. Dan sebagai dikatakan oleh Ibu Subandrio tadi itu, — Ibu Subandrio jang menurut Ibu Amiruddin tidak pernah kehilangan mudanja —, Wanita Katolik tidak pernah

absen didalam Revolusi Indonesia ini; dan aku tempo hari berkata, bukan sadja Wanita Katolik, tetapi aku berkata, saja tidak pernah ragu-ragu akan patriotisme umat Katolik selu- ruhnja. Karena memang, Saudara-saudara, perdjoangan kita adalah perdjoangan seluruh Rakjat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, perdjoangan kita adalah perdjoangan selurub bangsa Indonesia, dari suku apapun, dari agama apapun, se- muanja menjusun masjarakat jang adil dan makmur dan per- bedaan agama tidak mendjadi satu sebab petjah-belah. Tahu- kah Saudara-saudara, bahwa aku sendiri, sebagian daripada anak-anak kandungku, anak-anakku sendiri aku masukkan sekolah Katolik? Ja, sebagian daripada anak-anakku sendiri mengundjungi sekolah Katolik, oleh karena aku mempunjai kejakinan, bahwa semua adalah bangsa Indonesia, semua mengabdi kepada Tuhan jang satu, Tuhannja orang Islam, Tuhannja orang Katolik, Tuhannja orang Protestan, Tuhan kita sekalian, Tuhan seru sekalian alam. Dan hanja bangsa jang menjembah kepada Tuhan, hanja negara jang menjembah kepada Tuhan, hanja bangsa dan negara jang demikian itulah bisa mendjadi bangsa dan negara jang kuat, kuat-sentausa, ke- kal-abadi. Nah, Saudara-saudara, saja tadi mulai pidato setengah sepu- luh, saja sebetulnja mesti lekas pulang untuk terus bekerdja. meskipun barangkali sampai hampir fadjar pagi, hal reshuffle Kabinet itu tadi —, sebab telah aku umumkan, bahwa besok akan diumumkan susunan daripada Kabinet jang telah direshuffle itu. Djadi sampai sekian sadja, Saudara-saudara, saja tutup dengan doa, moga-moga seluruh umat Katolik Indonesia hidup didalam sedjahtera, bisa mengabdi kepada Tuhannja dengan tjara jang sebaik-baiknja.

Sekian.

mmmmnm

P.J.M. Presiden Sukarno:
....... bukan sadja Wanita Katolik, tetapi aku
berkata, saja tidak pernah ragu-ragu akan patriotisme umat Katolik seluruhnja. Karena memang, Saudara-saudara, perdjoangan kita adalah perdjoangan seluruh Rakjat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, perdjoangan kita adalah perdjoangan seluruh bangsa Indonesia, dari suku apapun, dari agama apapun, semuanja menjusun masjarakat jang adil dan

makmur dan perbedaan agama tidak mendjadi satu sebab

petjah-belah". mmmm

FERTJETAKAN NEGARA-DJAKARTA - 248/B-'64 (15.000 bk.) P.C. 397.