Baca PDF (OCR): Akar Zine

24 halaman · 24 halaman diproses dengan OCR· 38891 ms

Daftar isi
  1. Salam Mengakar
  2. 1 // MARET 2020 - SEPTEMBER 2021
  3. HENTIKAN RASISME!
  4. BERI KAMY
  5. KEADILAN MATL
  6. bagt buli't hitar
  7. BUNGA PIKIRAN
  8. terjadinya perang dunia Il terulang
  9. Selain perang dunia II yang
  10. berbagai wilayah yang mengalami
  11. Lor-Loran, Rasisme Yang
  12. Sadar
  13. banyak orang luar daerah yang
  14. kerjaan wong Lor-Loran" yang
  15. Coba Tebak?
  16. ESENS LOKAL
  17. SCON ME
  18. RIMLOL
  19. Musik protes?
  20. album “Demi Masa", yang
  21. tidak relevan lagi, bahwa apa yang
  22. BUAH PIKIRAN
  23. Uraian Atas Ketidakadilan Negeri Ini
  24. bansos yang disediakan untuk rakyatnya sendiri. Sebagai seorang yang
  25. 粉 NEGARA KESATUAN
  26. GHGHLRAN
  27. REPVBLIF INVE STOROMNIBUS
  28. RAKYAT SENDIRI
  29. D KEBIRI
  30. BUAH PIKIRAN
  31. DIPAKSA SEHAT, DI NEGARA YANG SAKIT
  32. Bingung
  33. Dewan Pencari Masalah
  34. "Kita semua disini sudah muak, Pak!
  35. tentram damai sejahtera. Untuk itu,
  36. ini, Betul itu saudara-saudara!."
  37. menunggu satu jam untuk bertemu
  38. "Astaga! Bagaimana bisa kita
  39. lain memilih walk out dari ruang gudang.
  40. kesimpulan dan tujuan yang jelas.
  41. Pentolan dari ujung barat hingga timur
  42. Skuter".
  43. Teruntukmu
  44. Algoritma Hidup
  45. Sejauh pemahamanku, segala yang
  46. 2020
  47. Apa saga Kah y sudah
  48. BUAH PIKIRAN
  49. Jadi gini, Wahana Baca tidak pernah mengklaim menganut ideologi
  50. Singkat cerita, Wahana Baca dibentuk oleh orang-orang iseng yang
  51. AKU MEMBACA MAKA AKU ADA
  52. TeRima kasih
  53. Salam darik Priabersahaja
  54. cinta Anak dan Istri
  55. BANDAR KUD
  56. Untuk marah kamu tidak harusBALA BERAKAR
  57. kamu melampiaskan pada Firdhaus Putra tulisan. Mocheko
  58. Akar Zine menjadi jembatan
  59. tidak berguna menurutmu mari Yusron bergabung:
  60. Narahubung:
  61. Email: [email protected]

ZINE#1

AKAR PENGANTAR Kaum muda sekarang atau yang biasa disebut millennial telah banyak yang beralih ke media YouTube atau podcast untuk menuangkan ide, gagasan, pemikiran, dan karya-karya lainnya. Tentu ini kemajuan yang baik untuk generasi bangsa.

Tapi jalan ninja kami berbeda, cara pandang kami berbeda. Kebocoran-kebocoran yang keluar dari otak kami, agaknya bisa menjadi sesuatu yang menarik dengan dikemas dalam bentuk yang lain, yakni ZINE.

Sudah pernah mendengar zine? Atau sudah sering? Atau malah sudah pernah membuat dan menyebarkannya sendiri? Selamat untuk kamu.

Selamat untuk kami juga, karena Zine yang medak lama, sejak pertengahan tahun 2020 lalu ini, akhirnya tercetak dan tersebar.

Karya ini berasal dari kebocoran sudut pandang dan keresahan kami untuk menegakkan pendirian dan menjaga kewarasan berpikir.

Nama AKAR ZINE dipilih (semoga) mewakili langkah ini, yang akan bertumbuh dari bawah dengan sifatnya yang kuat mencengkram. Kami tidak menuntut pembaca untuk langsung menyukai karya kami ini tanpa syarat, meskipun jika itu terjadi sah-sah saja.

Oh ya, maaf kalau zine ini terbit molor hingga nyaris dua tahun lamanya. Maaf kepada para kontributor yang rela menunggu. barangkali saking lamanya sampai brewokan. Maaf juga bagi para pembaca yang juga menunggu- nunggu karya pertama ini.

Silahkan kritik, cemooh, membombardir, memporak-porandakan ide/ pemikiran kami ini. Atau jika ingin terlibat dalam sindikat sporadis ini pun sangat diperbolehkan. Layangkan saja isi kepalamu itu ke email kami [email protected], atau ke instagram kami @akarzine. Terima kasih telah berkenan menikmati suguhan kami, selamat menikmati.

Salam Mengakar

Redaksi

1 // MARET 2020 - SEPTEMBER 2021

HENTIKAN RASISME!

BERI KAMY

KEADILAN MATL

AFRIXA C0 Bangen TIKUS

arti headi'lem

bagt buli't hitar

BUNGA PIKIRAN

Kita yang Tumbuh Besar Diasuh Rasisme Oleh: Ambivalensii

Tentu kita semua menolak

terjadinya perang dunia Il terulang

lagi, karena pembunuhan oleh Jerman (Nazi) terhadap jutaan orang Yahudi dan orang-orang Gipsi. Itu dilakukan karena dilatarbelakangi sebuah keyakinan bahwa ras tertinggi derajatnya di dunia, satu- satunya adalah ras Arya (orang-orang Nazi). Dianggapnya, ras lainnya rendahan dan patut dilenyapkan dari bumi. Karena anggapan itu, orang-orang Nazi jadi penganut rasisme akut sampai pada level di mana seorang pemimpin yang ingin mengatur negara seenak jidatnya. Dan nyawa orang dianggap barang biasa. Negara pengen apa, ya rakyat harus nurut. Gak setuju? Siapkan liang lahatmu!. Singkat cerita, Jerman ingin menjadi negara yang kuat dengan cara membasmi orang-orang Yahudi dan Gipsi.

Selain perang dunia II yang

didasari rasisme, dalam sejarah, di

berbagai wilayah yang mengalami

penindasan di muka bumi ini, penyokongnya adalah rasisme. Mulai dari jaman kolonial Belanda terhadap Indonesia, hingga yang saat ini adalah, Indonesia menjajah Papua.

Mereka yang menjajah itu, memiliki cara berpikir dan bertindak buruk terhadap kelompok lain yang mempunyai ciri fisik maupun budaya yang berbeda. Padahal tidak ada golongan yang paling superior atas golongan lain. Itulah sebabnya, kenapa seseorang harus menghindari rasisme. Bahaya laten! Diasuh Rasisme Yap, lingkungan kita banyak orang rasis, Iho. Sejak kecil pun, rasisme menyelinap pada otak para orang tua. Dan kita diasuh oleh rasisme. Cara mendidik misalnya. Kalau main

luar terlalu lama, jurus pamung kas yang selalu keluar dari mulut para orang tua selalu dengan cara rasis. "Nak, jangan main terus, lihat wajahmu itu buluk, gosong, j e l e k seperti mereka

(orang kulit hitam), cepet masuk rumah!." Padahal apa salahnya punya kulit warna gelap? Di sekolahan pun begitu, kalau ada teman yang berbeda ras atau bahkan cuma logat aja yang berbeda, rasisnya minta ampun. Sampai anak yang mengalami rasisme ini menahan diri dan irit bicara saat berkomunikasi saking takutnya ditertawakan. Sungguh selera humor yang rendahan dengan tema rasisme. Rasisme di sekolahan seperti itu terus diwajarkan dan senantiasa diwariskan hingga sekarang.

Lor-Loran, Rasisme Yang

Tak Tampak di Pelupuk arah yang buruk seperti menghina,
mengejek, menyindir, dan
Ngomongin sebagainya.
soal rasisme sebenarnya Jika ditelusuri akarnya, sebutan
juga terjadi Pasuruan itu lor-loran itu muncul untuk
sendiri, Lurd. Yap, di memisahkan mana orang Pasuruan
negara kita tercinta ini.Yang tanpa kita sadari, asli dengan mana orang Pasuruan
selagi kita mengecam migran. Pasuruan Utara, dianggap
rasisme, di saat bersamaan kita menetap dan beranak-pinak,
melakukan rasisme. kebanyakan suku Madura dan suku
Ibarat kata, semut di lainnya. Hal itu didukung letak

Mata

Kota Pasuruan, orang-orang tinggal di Utara seringkali mendapat perlakuan rasis dengan sebutan "Lor-Loran" atau dalam bahasa Indonesia berarti orang-orang Pasuruan yang tinggal di bagian Utara. Wilayahnya diidentifikasi dengan batas rel kereta sebagai penanda Lor-Loran. Sebenarnya dalam arti bahasa jika dipahami secara naïf memang tidak ada yang salah. Oke memang tinggalnya di bagian Utara Pasuruan kok. Namun karena bumbu rasisme itu, kata Lor-Loran mengalami peyoratif atau penurunan nilai. Yakni mengalami penurunan makna ke

sebrang pulau tampak, gajah di depan mata taktampak.

Sadar

atau tidak,

banyak orang luar daerah yang

geografis Pasuruan Utara yang berbatasan dengan selat Madura. Orang Madura yang tinggal di Jawa sering mengalami diskriminasi. Itu karena stereotipe (anggapan)

rupanya ini yang sudah melanggeng sejak lama.
telah melekat Orang Madura dibilangnya suka
sejak dahulu. Di dengan kekerasan, orang Madura

suka berbuat kriminal, dan stereotipe negatif lainnya. Kalau ada kriminalitas, orang Pasuruan kurang lebih berkata seperti "Iku pasti

kerjaan wong Lor-Loran" yang

artinya “Itu pasti kerjaan orang-orang Pasuruan Utara”. Benarkah itu? Apakah kekerasan hanya dimiliki orang Lor-Loran? Nyatanya orang siapapun bisa melakukan kekerasan. Orang Jawa, orang Sunda, orang Bali, orang Papua, dan suku lainnya juga bisa menggunakan kekerasan. Bahkan kekerasan juga bisa menjadi alat siapapun. Ustaz, Pastur, Polisi, seorang nasionalis, kaum konservatif, dan masih banyak lainnya. Kita harus menyudahi persoalan beda suku dan ras ini. Karena sudah nggak penting dan ketinggalan ilmu pengetahuan modern. lan Tattersall dalam "Human Origins: Out of Africa" menjelaskan bahwa Afrika menjadi sumber utama populasi manusia modern di seluruh dunia. Orang yang mengaku asli Pasuruan belum tentu secara gen adalah asli Pasuruan. Karena dari studi yang dilakukan oleh peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika yang telah mengalami 4 periode gelombang migrasi global. Yang semua asalanya dari Afrika.

Garisbawahi ya, ingat global. Artinya tidak ada yang namanya kemurnian ras. Orang dari mana pun bisa jadi melebur dan beregenarasi menciptakan manusia-manusia baru yang beragam budaya dan ciri fisik. Maka dari itu, setiap orang harus sadar bahwa tidak ada ras maupun suku yang paling unggul di dunia ini. Pun tidak dibenarkan menyibir vulgar perbedaan fisik

Menyudahi Rasisme Yok dari sekarang kita sudahi rasisme ini. Berantas kebiasaan yang menjadikan rasisme adalah hal yang “normal”. Stop menggunakan istilah Lor-Loran. Semua orang tidak ingin didiskriminasi. Mari menghargai sesama manusia. Bahwa rasisme tumbuh dalam diri kita dari kecil, maka perlu dikoreksi juga bagaimana cara kita memberikan edukasi kepada anak- anak sejak di bangku sekolah. hadirkan bentuk pengasuhan yang tepat dan berkemajuan. Generasi kita yang terlanjur diasuh rasisme, yang saat ini sadar bahwa rasisme adalah kekeliruan jangan menganggap ini adalah budaya yang tidak bisa digugat. Tidak ada yang tidak mungkin. Karena menggugat rasisme berarti usaha bersama merobohkan dinding kehidupan yang berkalang stigma dan prasangka.

BUNGA BIBIR

Coba Tebak?

Oleh: Ilham Afrizal

Aku temukan kata berserakan Aku biarkan, lalu kata berdiri sendiri tanpa ku bantu

Sebelum kamu memikirkan sesuatu di kepalamu, hatimu sudah tahu

Caba tebak apa itu?

Mu menmika ladnl

ESENS LOKAL

CHORD AMARAH by The Laksono

Am Dm Em
Terdengar bising manusia riuh meronta, semakin marah.
Am Dm Em
Am Dm Em
Am Dm Em

SCON ME

Ataukah memang dunia smakin bahaya, tanpa cinta?

Haruskah ini terjadi mereka sudah saling mengadili,

Mengapa harus menjadi diam dan bungkam diri sendiri? GDm *Tak terlihat riang, G E dendam datang dan hancurkan semua Reff: Dm Em Am Redam amarah, damaikan jiwa

Am Dm Em
Tanamkan di hati, cinta dan nurani
Am Redam semua, hati yang terluka Dm Dm Em Em

Am Tanamkan di hati, cinta dan nurani

RIMLOL

Musik protes?

Oleh: Iqbal Fahrio

"Lagu ini merupakan bentuk protes/keresahan kami terhadap blablablaa..“

mungkin seperti itu latar belakang yang biasa tertulis di fanspage sebuah band. Jadi, kalau buat saya itu, tidak ada yg dinamakan musik protes. Jikapun ada mungkin itu hanya penamaan buat kita hari ini yang kadang tergagap dengan musik yg punya pesan atau makna yang beririsan dengan kawan-kawan diluar sana ketika berhadapan dengan perubahan sosial-politik. Musik protes juga bukan soal lirik. Anda bisa coba dengarkan

album “Demi Masa", yang

dilantukan Morgue Vanguard x Doyz tanpa lirik. Namun energi yang keluar cukup bisa menjungkirbalikkan kantor satgas penanganan bencana. Ini tidak eksklusif musik MV dan Doyz saja. Soal lirik, mungkin Prophets of Rage. Mengapa Prophets of Rage

tidak relevan lagi, bahwa apa yang

mereka katakan dan apa yang mereka buat itu ketika suasana di luar (politik, ekonomi, sosial, budaya) sudah sama sekali berbeda dan mereka masih tetap memainkan itu. Relevansi itu penting. Setidaknya musik dan

BUAH PIKIRAN pelakunya berhasil menangkap satu peristiwa politik tertentu. Tahun '92 Rage Against the Machine sudah membawakan itu dan itu luar biasa. Kemudian dengar Prophets Of Rage yang justru Zack De La Rocha diganti dengan Chuck D (Public Enemy). "Pekerjaan utama kami adalah musisi dan keahlian untuk menghibur kalian adalah sesuatu yang kami anggap serius!," begitu mungkin ujar Tom Morello, sang gitaris. Jarak itu yang membuat kenapa Prophets Of Rage berbeda dengan Public Enemy atau Rage Against the Machine. Musik tidak harus politis dalam pesan untuk berbicara banyak di luar sana, tapi bukan berarti buat musik yang punya pesan itu tidak penting. Paling tidak ya buat diri sendiri atau kawan kanan kiri, bukan buat rakyat. Bahkan meskipun enggan berbunyi. Yang cukup keras menyalak juga hanya terbata bicara soal omong kosong peradaban. Musik yang baik juga bukan yang bisa membuat kita membalik meja atau turun ke jalan. Membaca buku mungkin lebih cepat punya efek. Musik yang berhasil adalah yang membuat pendengarnya berfungsi sebagai manusia dengan segala macam perangkat rasa yang dimilikinya. Membuat orang berfikir, berbicara dan beraksi.

BUAH PIKIRAN

Uraian Atas Ketidakadilan Negeri Ini

Oleh: Putra Firdhaus

Hukum adalah sebuah aturan yang berisi norma-norma serta sanksi yang dibuat dengan tujuan menciptakan keteraturan serta keadilan sosial. Dasar utama adanya hukum adalah agar tercapainya keadilan sosial. Meski dalam tatanan masyarakat terdapat berbagai macam kelas yang tercipta, misalnya karena adanya kesenjangan ekonomi, perbeda an ras, budaya, bahkan agama. Di dalam sebuah negara, hukum harus andil di tengah berbagai macam perbedaan itu untuk menjamin adanya keadilan sosial guna menciptakan keteraturan dalam berwarga negara. Dengan dasar itu, saya berani menilai bagaimana penegakan hukum yang ada di Indonesia. Uraian ini saya buat atas dasar kekhawatiran saya pribadi melihat ketimpangan hukum di negara ini. 22 April 2020 lalu, saya dikagetkan dengan adanya penangkapan 3 teman dari teman saya di Malang Jawa Timur dengan tuduhan vandalisme, yang di jerat dengan pasal 14 & 15 UU nomor 1 tahun 1946 pasal 160 KUHP tentang penghasutan dengan ancaman 10 tahun penjara. Tiga teman dari teman saya yang bernama Alfian, Saka Ridho, dan Fitron ini ditangkap dengan berbagai kejanggalannya. Koalisi masyarakat sipil yang terdiri YLBHI, LBH Surabaya, dan LBH Pos Malang menyebut ada sejumlah kejanggalan dalam penangkapan ketiga teman dari teman saya ini. Jika dirunut, polisi hanya butuh sekitar satu hari untuk menangkap dan menetapkan ketiga teman dari teman saya itu sebagai tersangka. Koalisi memandang hal itu bisa terjadi karena polisi tak mengindahkan proses hukum yang ada. Polisi semestinya memanggil ketiga teman dari teman saya itu untuk dimintai keterangan sekaligus memberi kesempatan untuk membantah. Yang kedua, Direktur LBH Surabaya Lukman Hakim, mengaku tidak mendapat salinan berita acara pemeriksaan terhadap ketiga tersangka setelah pemeriksaan pada Selasa (21/4/2020). Menurut Lukman, polisi berdalih perlu surat permohonan. Itu sudah dipenuhi pada Selasa sore, tapi salinannya tak kunjung didapat. Karena itu penyidik telah melanggar Pasal 72 KUHAP, yang berbunyi "atas permintaan Tersangka atau Penasihat Hukumnya, pejabat yang bersangkutan memberikan turunan berita acara pemeriksaan untuk kepentingan pembelaan." Untuk sekedar informasi ketiga teman dari teman saya ini aktif sekali dalam giat sosial, mereka seringkali ikut menyuarakan pelanggaran

HAM masa lalu di aksi kamisan malang, mereka juga melakukan advokasi di desa tegal rejo yang terlibat sengketa lahan dengan PTPN, dan mirisnya mereka malah mendekam dipenjara dan belum menemui kepastian hukum karna pembelaannya terhadap warga tegal rejo itu. Belum lagi akhir-akhir ini juga terjadi kriminalisasi terhadap tahanan politik (tapol) papua yang membuat ketujuh aktivis papua yang menyuarakan isu rasialisme itu terjerat 5 hingga 17 tahun penjara. Di bulan yang sama beredar berita di media pelaku penyiraman air keras terhadap novel baswedan hanya dituntut 12 bulan penjara oleh jaksa penuntut. Nyarinya aja butuh waktu 2,8 tahun anjir... Dituntutnya cuma 12 bulan. Fakta-fakta terjadinya ketimpangan hukum itu juga bisa dilihat dengan membandingkan kasus dan masa hukuman. Dalam kasus nenek asyani tahun 2015 di situbondo misalnya yang dihukum 1 tahun penjara karna sekedar mencuri 2 batang kayu, dengan ketua DPRD Bengkalis yang korupsi 31 miliar dana bansos yang hanya dituntut 18 bulan masa kurungan pada tahun 2019. Hukum di negara ini dengan jelas mempertontonkan ketidakadilan yang kontra dengan tujuan dibentuknya hukum itu sendiri. Dari beberapa kasus itu saya berani menyimpulkan terjadinya ketimpangan hukum di Indonesia, dari beberapa kasus itu saya memberanikan diri menulis uraian ini, setidaknya dengan harapan bahwasanya tulisan ini juga mampu membuat pembaca sedikit melek atas ketimpangan hukum yang terjadi. Bagaimana jika hukum yang dasarnya untuk menciptakan keadilan sosial malah berbalik menciptakan malapetaka dan menjadi alat kriminalisasi? Tajam kebawah tumpul keatas. Tentu saya menaruh harapan besar terhadap teman-teman mahasiswa untuk berani kembali membuka kebebasan mimbar akademis, tidak selayaknya diskusi-diskusi di kampus di batasi oleh birokrasi yang dibuat universitas. Beberapa kali saya terpaksa menahan kecewa karena terpecahnya teman teman mahasiswa yang lebih banyak melakukan kontestasi kepahlawanan organisasi daripada menyatukan tujuan untuk mendukung kepentingan masyarakat. Di masa pandemi seperti ini beserta ancaman krisisnya saya juga tidak lagi berharap banyak pada pemerintah, malah lebih sering saya merasa iba melihat gerak-gerik oknum pemerintah yang kelaparan sampai ngambil

bansos yang disediakan untuk rakyatnya sendiri. Sebagai seorang yang

masih percaya adanya surga dan neraka, paling tidak saya masih memberanikan diri untuk membela apa yang menurut saya benar.

BUNGA BIBIR

Indonesia Yang Malang Oleh: Gamar

SETERU TERUS BERKUMANDANG KOBARAN API MEMBARA DI TENGAH JALAN TOA-TOA, TERUS BERSAUTAN MAHASISWA TAK LAGI DAPAT DIKENDALIKAN

BEBERAPA HARI SELANJUTNYA, ANCAMAN MULAI MENEROR DI SETIAP KELUARGA BIROKASI TETAP BERKELAKAR DI DEPAN MATA KORBAN JIWA BERJATUHAN SIA SIA

TIDAK BERGUNA, TETAP SAJA KEADILANNDI NEGERI KITA SULIT SEKALI DIJANGKAU SEKALIPUN RAKYAT BERTUMPAH DARAH ANGGOTA DEWAN ADALAH PEMILIKNYA

BARANGSIAPA YANG MENENTANG NISCAYA AKAN HILANG MEMALUKAN, MEMANG BEGITU ADANYA AH INDONESIAKU YANG MALANG KOTA PASURUAN

粉 NEGARA KESATUAN

ATAS NAMA

GHGHLRAN

INVESTASI

REPVBLIF INVE STOROMNIBUS

RAKYAT SENDIRI

D KEBIRI

BUAH PIKIRAN

DIPAKSA SEHAT, DI NEGARA YANG SAKIT

Bingung

Oleh: Mocheko

Saat ini seluruh Negara sedang kacau, ta terkecuali Indonesia. 2019-nCoV, begitu WHO menamai Virus. Virus dituding sebagai penyebab segala kekacauan. Semua orang membicarakannya, di warung-warung, di jalanan yang ada warungnya, di rumah yang ada warungnya, di kantor yang ada dalam warung, di musholla deket warung, di masjid dekat warung, di gereja dekat warung, semua ruang tanpa terkecuali, bahkan di toilet warung pun ta luput dari pembahasan itu. Eh lupa, zine ini juga ngerasani virus iku hehe.. Itu semua ku tahu, karena sebagai kurir sepeda pancal yang selalu hinggap dari warung ke warung, menyaksikan betul perbincangan sengit yang terjadi. Dari dikiranya senjata biologis sampai agenda konspirasi elit global. Entahlah, pastinya setiap hari ribuan orang selalu terpapar di Indonesia.

Semua muak. Bukan hanya kepada virus ini, dan bisa jadi yang paling takut adalah para masyarakat silit, eh elit (piss). Mereka gupuh karena pasti menghambat proyek yang sedang di jalankannya. Gagal deh dapat duit banyak buat pesta, hmmm. Di sudut lain, masyarakat kecil juga muak oleh tingkah pejabat Negara ini. Plin-plan mengambil keputusan, bantuan lamban dan tidak efektif, semua orang tahu. Orang-orang disuruh di rumah aja, tapi tanpa ada jaminan "pekok ancen". "Ah sudahlah," kata Ibu yang hidupnya ta jelas yang kutemui saat bersepada pancal. Entah dapat uang darimana, tidur seadanya di depan teras toko bangunan milik orang kaya di daerah alun-alun. Tiap shubuh harus pergi, tak tahu kemana. Pergi saja pokoknya, sebelum pemilik toko atau orang yang berlalu lalang menuju pasar mulai terganggu olehnya. Luluh hatiku, jatuh air mataku, Tuhan, aku memohon padamu, kuatkan kami, negara kami subur, negara kami kaya, tapi Kami kesulitan menikmatinya.

BUAH PIKIRAN

Dewan Pencari Masalah

Oleh: Fahmi Smith

Di negeri Halunesia semua orang hidup dengan sejahtera makmur sentosa. Semua kebutuhan terpenuhi oleh sumber daya alam yang berlimpah. Tidak seperti negeri pada umumnya, di negeri ini semua orang berlomba-lomba mencari masalah. Terdengar jelas suara keributan di salah satu gudang mewah yang terletak di pusat kota itu. "Woiya jelas, sudah sehari lebih satu jam tiga puluh detik ini kita kehabisan stok masalah, dan hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja! bisa-bisa rakyat nanti menganggap kita tidak bekerja," celetuk salah satu anggota Dewan Pencari Masalah (DPM) yang hadir dalam rapat gudang itu. Seluruh rakyat di negeri Halunesia sangat mengeluh-eluhkan dan mencintai setengah mati DPM ini. Ya, bahkan di usia balita pun sudah dididik fanatik kepada DPM oleh orang tua nya masing-masing. Saking mencintainya, nama anggota DPM selalu disebut-sebut dalam setiap acara yang diselenggerakan bersama.

Bahkan, gambar pose-pose DPM ini tidak pernah luput dari billboard jalanan, halte bus, pasar, dan tempat umum lainnya. Saking penuhnya sudut kota dengan pose DPM, sampai-sampai menurut pengakuan Joni, anak berusia 10 tahun yang tidak mau sekolah karena merasa sudah sejahtera dan pendidikan formal tidak penting lagi ini, sampai hapal guratan ekspresi wajah setiap anggota DPM. "Jika saja anda kemari melihatnya sendiri, anda tidak akan menemukan sudut negeri yang luput dari pose-pose indah DPM dengan ciri khas jas putih glossy blink-blink nya." Bukan tanpa alasan rakyat Halunesia sangat mencintai DPM. lya benar, karena setiap ada masalah yang menyangkut soal rakyat Halunesia selalu saja diselesaikan dengan tuntas dan adil tanpa drama-drama menurut versi mereka. "Mari Pemuda-Pemuda! Bapak-Bapak! Kita bantu dewan yang kita cintai dan kita agungkan ini untuk mencari masalah

sebanyak mungkin," ujar Pak Luhuy, selaku “orang dalam" yang diberi amanat oleh DPM untuk menjaring masalah rakyat bagian Timur negeri. la menyampaikan pada diskusi harian yang rutin di gelar 1x24 jam bersama pentolan-pentolan dan juga organisasi pemuda karesidenan wilayah paling ujung timur negeri ini.

"Kita semua disini sudah muak, Pak!

Setiap hari kita sudah merasakan hidup

tentram damai sejahtera. Untuk itu,

kami menginginkan DPM untuk mencarikan masalah buat kami! Jika tidak, lebih baik kita tiadakan saja DPM

ini, Betul itu saudara-saudara!."

Perkataan tegas itu langsung disahuti suara "Setuju itu! setuju!" oleh seluruh pentolan yang sudah diundang hadir di gudang mewah pusat kota. Setelah diskusi selesai, Pak Luhuy langsung bergegas menemui anggota DPM di depan gudang yang sedang memberikan pelukan hangat ke setiap pentolan yang sudah hadir dalam rapat itu. Seperti biasanya, Pak Luhuy harus

anggota dewan. Ya, sudah menjadi rutinitas anggota DPM setiap selesai rapat pentolan untuk memberikan pelukan hangat dan menyalaminya satu persatu. Sehabis acara peluk-pelukan itu, Pak Luhuy langsung bergegas menghadap ketua dewan untuk menyampaikan hasil rapat tadi.

"Astaga! Bagaimana bisa kita

mencarikan masalah untuk rakyat, lah wong kita juga di sini butuh masalah

kok," ujar Pak Joko selaku Ketua DPM negeri Halunesia yang sudah menjabat sebanyak 5 periode itu. Setelah berdebat panjang soal mencari masalah, Pak Joko dan pimpinan dewan

lain memilih walk out dari ruang gudang.

Ya, hal seperti ini sudah wajar dilakukan pimpinan dewan dan anggota lainnya, karena selalu saja berakhir tanpa

kesimpulan dan tujuan yang jelas.

Selang satu bulan dari rapat itu, Para

Pentolan dari ujung barat hingga timur

sepakat untuk bergerak bersama-sama menuju gudang mewah pusat kota untuk meminta pertanggungjawaban. Dengan parade yang sangat meriah, mulai dari anak-anak hingga lansia berjalan menuju gudang bersama-sama. Tak lupa pula, orang-orang berlomba- lomba membawa sound system dan menyalakan satu lagu favorit seluruh rakyat yang berjudul "Bingung-Iksan

Skuter".

Sesampai di gudang, parade itu dilanjut dengan hajatan dan makan bersama anggota dewan. Sehabis rangkaian acara selesai, wakil-wakil dari rakyat tadi yaitu pentolan-pentolan menyampaikan niat baiknya untuk meminta pertanggungjawaban sikap DPM yang mendiamkan permintaan rakyat untuk mencarikan masalah. "Ngapunten, nuwun sewu nggeh, Pak, kami di sini ingin meminta pertanggungjawaban sikap DPM yang mendiamkan permintaan kami," ujar salah satu pentolan tadi. Pak Joko langsung kelabakan tidak bisa menjawab pernyataan itu dan

melemparkan hal itu ke Pak Luhuy. Pak Luhuy hanya diam saja, lah wong memang bukan wewenang Pak Luhuy menanggapi hal semacam itu. Setelah ngobrol santai panjang lebar dan tidak kunjung menemui ujungnya. Salah satu pentolan rakyat dengan bahasa Jawa campursari-nya berkata, "Pripun, Pak? Kadospundi menawi misal awak dhewene kabeh iki sareng-sareng sepakat mbubarke DPM menika? Iha tinimbang kaya ngene kuwi malah mengko tambah dino mbingungke awakdhewe kabeh". Para anggota lain sedang kelabakan mencerna omongan pentolan tersebut, karena memang sedari kecil mereka tidak membiasakan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari. Langsung Pak Sarni yang memang kebetulan Jawa tulen mulai ingat perlahan-lahan bahasa -ibunya sendiri- yang sudah lama tidak ia gunakan semenjak duduk menjadi ketua dewan berdiri dari kursinya secara mengejutkan bereaksi mendengar perkataan itu. "Tidak bisa, Pak! DPM ini salah satu komponen yang harus ada untuk menjaga stabilitas negeri ini agar berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. jadi, bagaimanapun caranya, bagaimanapun jadinya, bagaimanapun situasi dan kondisinya. kita ini harus tetap ada!." Jawaban tersebut langsung disambut sorakan gembira oleh seluruh rakyat yang hadir di situ. Tanpa pikir panjang, Pak Jok0 menyuruh seluruh anggota dewan yang masih nyangkruk bareng rakyatnya di depan gudang untuk

mematikan rokoknya secara dini dan menghabiskan kopinya lalu masuk kembali serta menutup rapat-rapat pintu gudang. Sehabis tanggapan yang tidak meng- enak-kan itu, langsung saja para pentolan mengajak rakyatnya untuk kembali ke kediamannya masing-masing dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Setelah kejadian itu, negeri Halunesia menjadi negeri yang paling banyak masalah diantara negeri-negeri lainnya. Bahkan menurut catatan sumber riset global, bahwa indeks masalah negeri Halunesia meningkat secara dramatisir. Para DPM sudah terlanjur ngambul kepada rakyatnya sehingga membiarkan masalah satu yang terjadi di masyarakat untuk beranak-pinak menjadi masalah lainnya. Timbul sikap skeptis yang amat mendalam pada seluruh lapisan masyarakat Indosinasi kepada DPM. Sejak saat itu, hafalan nama-nama DPM dihapuskan dalam kurikulum pendidikan orang tua pada anak. Seluruh gambar pose-pose kebesaran DPM di sudut kota diturunkan dan dijadikan tutupan tenda pedagang kaki lima, karya seni yang mengagung- agungkan DPM dihancurkan, bisa dibilang ini adalah tahap de-DPMisasi. Keadaan negeri Halunesia menjadi awur-awuran, antar komponen masyarakat saling ricuh menjadikan negeri Halunesia hendak 'koleps'dengan negeri Papuma Barat yang menurutnya lebih sejahtera.

Teruntukmu

Oleh: Akbar Ragil

Kau harusnya mengucap terima kasih. Untuk semuanya, Indahnya, Baiknya, Jahatnya Sakitnya,

Temukan kebahagiaan dan kedamaian di hidup kalian yang baru. Tolong, jalani hidup untuk diri kalian sendiri, bukan untuk orang lain lagi.

Dan minta maaflah atas keterbatasanmu karena belum bisa mengikhlaskan dia dan memaafkan diri sendiri karena kesalahan atas dia.

Ilust: Agiz

BUAH PIKIRAN

Algoritma Hidup

Oleh: Mocheko

Sejauh pemahamanku, segala yang

terjadi dan berlaku di dunia ini sudah ada ketetapannya, Sunnatullah atau syariat Allah.

Semisal, bahwa kalau air pasti mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah, benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh kembali ke bawah karena sistem gravitasi, bahwa hewan pemakan daging berada di atas rantai makanan karena ekosistem, dan tata surya bergerak sesuai Tapi kemudian ketika remaja bisa orbitnya sehingga tidak mungkin sangat sholeh, dan ketika tua berbenturan kecuali memang akan menjadi orang yang sangat alim, di musnahkan, dan lain sebagainya. atau kebalikannya, ketika anak-anak sungguh pendiam, remaja Iblis dan Malaikat adalah makhluk masih saja pendiam, ketika tua Tuhan dengan ketetapan yang pasti. rusaknya minta ampun. Itulah Bahwa jika malaikat pasti patuh dan manusia. Pagi hari bisa saja menjadi baik. Sedangkan Iblis pasti akan malaikat siang harinya bertindak selalu bernilai jahat dan buruk. seperti iblis kemudian malam hari Manusia dan Jin adalah makhluk bersujud layaknya malaikat. kemungkinan, makhluk semoga, Kemudian bagaimana dengan tidak pasti. Misalnya ada seorang pernikahan? Apakah pernikahan anak ketika dia kecil sungguh super adalah hal mutlak yang memang nakal, sampai-sampai si Ibu lupa menjadi syariat Tuhan? Atau bahwa itu adalah anaknya, dengan manusia boleh memilih untuk tidak mengatakan, "Duh, anake sopo seh menikah, tanpa atau karena hal-hal cek nakale," Padahal sudah jelas, bahwa itu adalah hasil dari dia dan yang menjadi sebab di suamiya. belakangnya.

Hari apa yang ingin kalian Bagiku saat-saat sendiri adalah hari lakukan? yang paling tepat untuk melakukan kegiatan.

Saat seperti itu. kita Bisa berfiker dengain Dan busa fersenyum baisa melihat fenomena bepas kapan pun tanpa Kehoupan rasa takut

Karena kita tanu bahwa narus ada waktu saat kita ingun sendiri

2020

  1. alean arti
    ssat 1ni larcuan

Apa saga Kah y sudah

BUAH PIKIRAN

Tentang Kelompok Afinitas. Setengah Radikal. dan Awut-Awutan Oleh: Ambivalensi

Tulisan ini akan membahas sebuah kelompok yang paling tidak jelas di Pasuruan. Kalau di hari Sabtu kamu berjalan-jalan di Taman Kota (Tamkot) Pasuruan, pasti akan menemui mereka. Meskipun begitu, mereka hanya bisa ditemui di jam-jam tertentu. Biasanya sore hingga malam. Sebab, kalau pagi sampai siang, beberapa dari mereka tengah menjual tenaganya untuk di tukar dengan upah. Sebagian dari mereka, disandera kasur. Sebagian lainnya sibuk sekolah karena masih percaya dengan institusi sekolah. Ya, tulisan ini tentang Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Mereka ini semacam perpustakaan yang menggratiskan buku-bukunya untuk dipinjam siapapun. diselenggarakan oleh warga biasa. Buku digelar seperti lapak loak di lantai taman kota. mulai dari buku spiritual, politik, budaya, dan anak-anak semuanya tersedia. Total buku hingga ratusan eksemplar.

KegiatannyaApa? Seperti namanya, kegiatan utamanya tentu membuka perpustakaan dong. Tapi gak hanya itu, banyak lagi. Biasanya mereka adain nobar film, bedah buku, diskusi, dan gabung di jejaring aksi-aksi gitu. Selain itu, juga adain kelas menulis, ciptain ruang bermain, dan terlibat dalam zine ini tentunya, hehehe.

Ini Kelompok Penganut Ideologi Terlarang Ya? Waduh, mencekam banget pertanyaannya, Lur. Bikin merinding.

Jadi gini, Wahana Baca tidak pernah mengklaim menganut ideologi

tertentu, kok. Bahkan didalamnya, memiliki banyak latar belakang pemikiran dari kiblatnya masing-masing yang diyakini. Mereka ini seperti semacam kelompok afinitas, yang artinya ada pandangan yang sama yang membuat para pegiatnya bersatu. Yakni percaya, dengan mendirikan Perpustakaan Jalanan akan tumbuh juga medium-medium baru terciptanya gagasan maupun tindakan sebagai kreativitas. Untuk diketahui, Wahana Baca tidak memiliki hirarki. Semua orang yang ada di dalamnya setara. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk berkembang.

Emang Gimana Sejarahnya? Sejarah terbentuknya itu di tahun 2017. Tahun yang sama, dengan

dirilisnya karya sastra paling megah di Indonesia. Yakni kisah fiksi drama Ketua DPR RI, Setya Novanto kepalanya benjol karena nabrak tiang listrik.

Singkat cerita, Wahana Baca dibentuk oleh orang-orang iseng yang

berlangganan ngopi di Warung Mantan, Utara Tamkot Pasuruan. Saking gabutnya, sambil melihat kondisi Tamkot yang waktu itu teronggok sepi tanpa manusia, tiba-tiba kepikiran untuk membuat lapak baca gratis di sana. Dan keterusan hingga sekarang.

Apa tipsnya Agar Konsisten? Setiap kumpulan orang pasti pernah mengalami konflik internal. Namun tips untuk meminimalisir konflik, para pegiat selalu terbuka menerima kritik dan saran masing-masing. Tentunya disokong dengan iklim yang cocok juga. Sepeti yang telah dijelaskan di atas, Wahana Baca tidak memiliki hirarki. Itulah iklim yang sangat membantu dalam mengelola kelompok afinitas seperti ini. Karena setiap orang tidak memiliki kuasa untuk mengontrol manusia yang lain. Wahana Baca dibangun di atas pondasi semangat kolektif. Sehingga itu yang membuat konsisten.

Wahana Baca Tidak Memiliki Tujuan Suci Tidak ada tujuan suci dibentuknya Wahana Baca. Pokoknya berkegiatan aja. Kalau bermanfaat ya syukur, kalau tidak, bodo amat.

PERPUSTAKAAN JALANAN

AKU MEMBACA MAKA AKU ADA

WAHANA BACA PASURUAN

TeRima kasih

sudah membaca

Salam darik Priabersahaja

cinta Anak dan Istri

BANDAR KUD

kaos baca.id

Pustaka Api Bookstore

nirmana

Untuk marah kamu tidak harusBALA BERAKAR

meluapkan pada tembok atau Kontributor tulisan: jika kamu jatuh cinta bisa saja Ambivalensi

kamu melampiaskan pada Firdhaus Putra tulisan. Mocheko

Gamar Fahmi Smith

Akar Zine menjadi jembatan

Ilham Afrizal untuk segala keriuhan idemu Akbar Ragil dalam bentuk tulisan atau gambar bahkan jika hal itu Layouter:

tidak berguna menurutmu mari Yusron bergabung:

Sampul depan: Agiz Arjuna Laras luapkan! lampiaskan! Artworker: Yusron

Narahubung:

Agiz Arjuna Laras Mocheko 087822169388 Aan

Email: [email protected]

Ilham Afrizal

Pelindung: Tuhan YME Akal Sehat Aparat Desa Konoha Pemuda Pancaindra Kelompok Pemuja Kerang Ajaib Naga Shen Long Lord Luput Pakdhe Ir. Dark Jok

Disclaimer: Setiap konten karya yang termuat di Akar Zine menjadi tanggung jawab individu pembuat konten