Baca PDF (OCR): Underwears, politics, etc.

2 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 17 ms

Daftar isi
  1. Lihat Galeri
  2. Sabtu, 15 Februari 1975
  3. PHOTO STOCK PDAT FORUM BLOG
  4. Celana Dalam, Politik, Dsb Celana Dalam, Politik, Dsb
  5. CELANA DALAM
  6. YANG PENTING: LULUS

Lihat Galeri

Sabtu, 15 Februari 1975

Keluar Langganan Cari Profil Selamat Datang, Grace Start Date: 00 0000
Samboh End Date:
TEMPO.CO ENGLISH EDITION KORAN TEMPO Deposit: Rp 148.500,-

PHOTO STOCK PDAT FORUM BLOG

Tempo Media

Like 102,661

NasionalHukumSainsGaya HidupOpiniSeniTokohEkonomiLaporan Khusus Pendidikan Sabtu, 15 Februari 1975

Celana Dalam, Politik, Dsb Celana Dalam, Politik, Dsb

ABAS Alibasah di tengah sorotan. Pelukis dan Direktur Sekolah rrini Seni Rupa Yogyakarta ini dianggap sebagai yang bertanggungjawab atas diskornya 5 mahasiswa sekolah tinggi senirupa itu. Ada yang menilai tindakan skors itu tidak mendidik para pelukis muda untuk mencari sendiri ekspresi mereka. Ada yang memandang tindakan itu juga menunjukkan kurang akrabnya lagi hubungan mahasiswa dengan Direktur sekolah mereka, yang terlalu banyak merangkap kerja di Jakarta daripada di Yogya.

Benar tidaknya penilaian itu, untuk adilnya di bawah ini hasil wawancara dengan Abas Alibasah-yang kini adalah juga Sekjen pada Ditjen Kebudayaan Dep. P & K, anggota Dewan Kesenian Jakarta, anggota Badan Sensor Film dan anggota Dewan Film Nasional, di samping Direktur STSRI:

CELANA DALAM

Kelima mahasiswa itu diskors karena telah melakukan kegiatan yang tak sesuai dengan peraturan yang berlaku di sekolah tinggi tersebut. Dulu pernah mereka mengadakan pameran di Aula Sekolah

Tinggi Seni Rupa. Yang mereka pamerkan lucu-lucu, dari mulai patung yang bengkok sampai dengan celana dalam yang sudah dipakai. Kalau sekedar celana dalam yang dilukis tentu tak apa-apa, itu 'kan punya nilai artistik. Nah, kalau celana dalam yang sudah dipakai dipamerkan, mana lagi nilai artistiknya?

Kejadian seperti itu sudah lama berlangsung dan apa yang mereka lakukan di Jakarta dengan turut serta mengeluarkan pernyataan "Desember Hitam" itulah klimaksnya. Hal ini pulalah yang memaksa saya untuk mengambil tindakan Apalagi sudah banyak keluhan yang disampaikan para dosen tentang banyaknya tindakan mereka yang tak sesuai. Tak sekedar itu. Dengan adanya "Desember Hitam" itu kami sampai dipanggil Pak Ali Sadikin. Desakan dari berbagai fhak inilah yang menyebabkan saya mengambil kebijaksanaan untuk menangguhkan pendaftaran mereka.

POLITIK

Walaupun begitu sebagai Dekan saya tak gegabah menindak mereka. Saya pan mereka agar memberi penjelasan tentang apa maksud mereka seb enarnya mengeluarkan pernyataan itu. Anehnya, tak seorang pwl di antara mereka yang mampu menjelaskan apa sebenarnya maksud dari pernyataan tersebut.

Pernyataan "Desember Hitam" menyatakan harus berorientasi pada politik, ekonomi dan sosial, ini 'kan katakata yang harus keluar dari mahasiswa Sosial dan Politik -- dan bukan dari Mahasiswa Seni Rupa. Mencampurkan hal ini dengan masalah politik, sangat berbahaya Catatan Redaksi: Kalimat dalam "Desember Hitam" adalah: "Kita para pelukis terpanggil untuk memberikan kearahan rohani yang berpangkal pada nilai-nilai kemanusiaan dan berorientasi pada kenyataan kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi".

YANG PENTING: LULUS

Peraturan yang mengharuskan setiap mahasiswa untuk berkonsultasi lebih dulu sebelum mengadakan pameran, itu sesuai dengan SK Menteri yang.mengharuskan setiap kegiatan mahasiswa harus setahu Rektor/Pimpinan Akademi. Dan ini penting, sebagai pejabat saya juga melaporkan segala sesuatunya kepada atasan saya.

Mahasiswa selama belajar lebih baik belajar sajalah, jangan bikin ribut-ribut. Nanti kalau sudah jadi dosen boleh keluarkan semua idea-idea yang tersimpan itu. Yang penting 'kan harus lulus.

Nasib kelima nlahasiswa itu sekarang masih dalam penelitian. Saya tak tersinggung oleh pernyataan "Desember Hitam" itu.

0 Arsip Maret Cari!

Tweet Tweet