Baca PDF (OCR): Aksara Merdeka #3

54 halaman · 5 halaman diproses dengan OCR· 2203 ms

Daftar isi
  1. Tentang mimpi yang kami kepalkan, amarah yang kami kabarkan. Di tengah senjakala pemberontakan harian.
  2. Apa lagi yang tersisa? Hidup yang menolak padam!
  3. Ini adalah manifestasi.
  4. Surabaya. November 2019
  5. HIKAYAT PERADABAN
  6. MODERN
  7. I. PRASASTI
  8. “Optimisme saya berdasarkan kepastian bahwa peradaban
  9. ini akan runtuh. Pesimisme saya terletak pada
  10. hal-hal yang menyeret kita jatuh dalam keruntuhan."
  11. "Sekarang adalah wabah, ketika orang gila menuntun orang buta."
  12. —William Shakespeare
  13. III. PERENCANAAN KOTA &
  14. PERUMAHAN
  15. "Urbanisme (perencanaan kota) adalah metode kapitalisme untuk mengambil
  16. alih alam dan lingkungan hidup manusia. Mengikuti
  17. perkembangan logis menuju dominasi total,
  18. kapitalisme sekarang bisa dan harus mengubah lagi totalitas
  19. ruangnya menjadi hiasan khusus bagi dirinya."
  20. — Guy Debord, Society of the Spectacle
  21. “Karena bukan manusia, tetapi dunia yang telah
  22. menjadi abnormal.” — Antonin Artaud
  23. IV. KOMODITAS
  24. “Komoditas muncul, pada pandangan pertama, pada hal-hal yang sangat
  25. sepele, dan mudah dipahami. Analisis
  26. menunjukkan bahwa, pada kenyataannya,
  27. adalah hal yang sangat aneh, berlimpah metafisik kebatinan
  28. dan berbasis teologis." — Karl Marx, The Capital
  29. “Untuk apa gunanya seorang manusia jika ia
  30. mendapatkan seluruh dunia, lalu kehilangan
  31. jiwanya sendiri?” — Markus 8:36
  32. “Segala sesuatu yang kita miliki pada gilirannya akan memiliki kita."
  33. V. MAKANAN
  34. “Racun untuk beberapa orang, makanan untuk yang lainnya.”
  35. — Paracelsus
  36. "Mereka telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa manusia,
  37. pelanggar terburuk dari semua spesies, adalah penciptaan terbaik.
  38. Semua makhluk lainnya diciptakan hanya untuk memberikan
  39. dia makanan, bulu, untuk disiksa dan dibasmi. "
  40. — Isaac Bashevis Singer
  41. VI. PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
  42. “Ini merupakan sesuatu yang menyedihkan untuk
  43. mempertimbangkan perkataan alam, dan umat manusia tidak
  44. mau mendengarkan.” — Victor Hugo
  45. VII. KERJA
  46. VIII. PENJAJAHAN DALAM SETIAP
  47. SEKTOR KEHIDUPAN
  48. "Manusia dikondisikan untuk memiliki perilaku produktif
  49. dalam organisasi kerja; dan di luar pabrik, ia tetap
  50. mempertahankan kulit dan kepala yang sama."
  51. — Christophe Dejours
  52. IX. SISTEM PERDAGANGAN OBAT
  53. “Obat membuatmu mati perlahan-lahan.”
  54. — Plutarch
  55. X. KEPATUHAN SEBAGAI
  56. KODRAT KEDUA
  57. "Melalui ketaatan, seseorang mengembangkan refleks kepatuhan."
  58. — Anonimus
  59. XI. PENINDASAN & PENGAWASAN
  60. “Di bawah pemerintahan, yang memenjarakan secara tidak adil,
  61. tempat yang benar untuk orang yang benar adalah juga penjara.”
  62. — Henry David Thoreau, Civil Disobedience
  63. XII. UANG
  64. "Apa yang sebelumnya Kita lakukan demi
  65. kecintaan pada Tuhan, saat ini kita melakukannya
  66. demi kecintaan pada uang, yang berarti, untuk cinta
  67. yang memberi kita sensasi kekuasaan tertinggi dan
  68. perasaan yang baik." — Aurora, Nietzsche
  69. XIII. TIDAK ADA ALTERNATIF
  70. ORGANISASI SOSIAL YANG DOMINAN
  71. ”Acta est fabula” “Sandiwara telah usai”
  72. XIV. IMAJI
  73. "Tapi jika tidak, nyatakanlah kepada anda, o raja,
  74. bahwa kami tidak memuja dewa kami tidak akan menyembah
  75. patung emas yang tuanku dirikan itu."
  76. — Perjanjian Lama, Daniel 3:18
  77. XV. HIBURAN
  78. XVI. BAHASA
  79. "Kita pikir kita menguasai kata-kata tetapi
  80. dalam kenyataannya kata-katalah yang
  81. menguasai kita." — Alain Rey
  82. XVII. ILUSI PEMILIHAN SUARA &
  83. DEMOKRASI PARLEMENTER
  84. "Memilih berarti melepaskan tanggung jawab."
  85. — Elysees Reclus
  86. XVIII. SISTEM PERDAGANGAN
  87. TOTALITER
  88. "Alam tidak menciptakan tuan atau budak,
  89. aku tidak ingin memberi atau menerima hukum."
  90. — Denis Diderot
  91. XIX. PROSPEK
  92. "Wahai tuan-tuan, waktu kehidupan sangatlah singkat!
  93. Jika kita hidup, kita hidup untuk melangkahi raja-raja."
  94. —William Shakespeare
  95. *diterjemahkan dari transkrip film ”On Modern Servitude”.
  96. DEKLARASI UNTUK
  97. PEMBANGKANGAN
  98. I. Potret Peradaban: Dominasi dan
  99. Keterasingan
  100. ”The world is a dangerous place, Elliot, not because of those
  101. who do evil, but because of those who look on and do nothing.”
  102. — Mr. Robot
  103. II. Dunia Spektakular: Perbudakan Sukarela
  104. ”The truth is like poetry, and most people
  105. fucking hate poetry.” — Michael Lewis
  106. III. Balada Distopia: Manipulasi Politik
  107. ”Our first work must be the annihilation of
  108. everything as it now exist.” — Mikhail Bakunin
  109. IV. Mempersenjatai Utopia: Dunia Tanpa Budak
  110. ”Rather be forgotten than remembered for giving in.”
  111. — Refused
  112. MELIHAT DUNIA
  113. DARI KACAMATA
  114. TEROR
  115. PROLOG
  116. “Mengapa Tuan meninggalkan istana? Malam masih panjang.
  117. Tidak baik bepergian di malam hari. Lagipula, bukankah tak ada musuh
  118. yang akan menyerang istana?” — tanya Chandaka.
  119. “Ada musuh-musuh dalam dirimu, tidak sadarkah kamu?
  120. Musuh-musuh itu penyakit, ketuaan dan kematian.
  121. Karena itu aku harus pergi mencari jawaban sebelum semua orang
  122. bangun lalu mencariku.” — jawab Siddharta.
  123. “Saya mulai memupuk perkenalan dengan orang-orang beriman dari
  124. kalangan miskin, sederhana, tak berpendidikan, para peziarah, rahib,
  125. kaum marjinal, dan para petani.”
  126. Teror: Tentang Sebuah Fenomena,
  127. Keyakinan & Harga yang Harus Dibayar.
  128. "Kita semua melihat dunia melalui lubang kunci
  129. yang kecil, bukan?" — Jesse Wallace, Before Sunset
  130. Teror: Kontradiksi Sebuah
  131. Toleransi & Perang yang Terlupakan.
  132. “Kita punya cukup agama untuk membuat saling membenci,
  133. tapi tak cukup agama untuk membuat saling mencintai.”
  134. — Jonathan Swift, Thoughts on Various Subjects
  135. Kita hanya terdiam.
  136. “Tidak ada bendera yang cukup besar untuk menutupi
  137. rasa malu akibat pembunuhan orang-orang tak berdosa.”
  138. — Howard Zinn, A People’s History of the U.S.
  139. Teror: Kapitalisme, Negara dan
  140. Kota yang Menuju ‘Kehancuran’
  141. “Karena dunia adalah neraka. Tapi kita masih punya kesempatan
  142. untuk memulainya dari reruntuhan. Tapi harus ada reruntuhan
  143. terlebih dahulu.” — Derek Frost, Source Code
  144. “Ketika Gotham sudah menjadi debu, kau memperoleh
  145. izinku untuk mati.” — Bane, The Dark Night Rises
  146. EPILOG
  147. “Aku mohon kembalikan catatanku,
  148. itu semua tidak berguna bagimu.”
  149. — pinta Al-Ghazali.
  150. “Catatan apa yang kau maksud?”
  151. — tanya Sang Perampok.
  152. “Kertas-kertas dalam keranjang itu, adalah ilmu
  153. yang kucatat dari guruku selama bertahun-tahun.”
  154. — jawab Al-Ghazali.
  155. “Bagaimana bisa engkau mengaku berilmu,
  156. sedangkan kami telah merampas ilmumu ini?”
  157. — cemooh Sang Perampok.
  158. BIBLIOGRAFI
  159. JUKSTAPOSISI
  160. Membalik Logika Atas Pemaknaan Ruang Publik.
  161. RUANG & HAL-HAL YANG TAK SELESAI.
  162. “Parasit apa yang paling tangguh? Sebuah ide.
  163. Satu saja ide dari pikiran manusia dapat
  164. membangun banyak kota. Sebuah ide dapat mengubah
  165. dunia dan menulis ulang segala aturan.
  166. Itulah mengapa aku harus mencurinya.”
  167. — Dominick Cobb, Inception.
  168. “(Social) space is a (social) product […] the space thus produced also
  169. serves as a tool of thought and of action […] in addition to being a
  170. means of production it is also a means of control, and hence
  171. of domination, of power.”
  172. “There is a politics of space because space is political.”
  173. “Di kota ini, setiap orang memiliki label harga.”
  174. — Joyce, Triple Tap.
  175. “Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis,
  176. maka kita menolak untuk menyikapinya dengan tragis.”
  177. — D.H. Lawrence, Lady Chatterley's Lover.
  178. BERMAIN: SEBUAH MANIFESTO.
  179. “Kebenaran ibarat puisi, dan sebagian besar
  180. orang membenci puisi.” — Michael Lewis, The Big Short.
  181. “Dan kehidupan duniawi hanyalah permainan
  182. serta hiburan belaka, maka ketahuilah bahwa akhirat
  183. merupakan hal terbaik bagi orang-orang yang bertaqwa,
  184. tidakkah kalian memahami?” — Surah Al-An’am ayat 32.
  185. BIBLIOGRAFI
  186. Manuskrip Kebahagiaan.
  187. air mata adalah bahagia senyawa warna-warni keriangan
  188. tak lagi mengisyaratkan perih meradang
  189. tak lagi menyembah ilusi karena imaji telah mempersenjatai dirinya sendiri
  190. tak ada lagi yang serasa pasrah serasa mati semua hidup semua bermimpi!
  191. Malang, Juni 2009
  192. 11111

Tentang mimpi yang kami kepalkan, amarah yang kami kabarkan. Di tengah senjakala pemberontakan harian.

Apa lagi yang tersisa? Hidup yang menolak padam!

Ini adalah manifestasi.

Ini adalah sebuah utopia. Ini adalah hasrat yang menuliskan takdirnya sendiri.

Selamat datang dalam dunia di mana kata-kata diletupkan, imajinasi dibebaskan dari kekang, dan segala macam teori dibenturkan, dihancurkan dan ditularkan!

Surabaya. November 2019

aksaramerdeka.blogspot.com
[email protected] @erwindewantoro

HIKAYAT PERADABAN

MODERN

I. PRASASTI

“Optimisme saya berdasarkan kepastian bahwa peradaban

ini akan runtuh. Pesimisme saya terletak pada

hal-hal yang menyeret kita jatuh dalam keruntuhan."

II. PERBUDAKAN SUKARELA

"Sekarang adalah wabah, ketika orang gila menuntun orang buta."

—William Shakespeare

Perbudakan modern bersifat sukarela, disetujui oleh sekumpulan budak-budak yang berkeliaran di seluruh bumi. Mereka sendiri membeli komoditas yang setiap harinya memperbudak mereka. Para budak memperoleh pekerjaan yang membuat mereka terasing bahkan dijinakkan. Mereka sendiri, memilih tuan mereka yang akan mereka patuhi. Karena tragedi tak masuk akal yang sedang dimainkan ini malah menciptakan ketidakpedulian atas eksploitasi dan alienasi terhadap diri mereka sendiri.

Lihatlah modernitas aneh di masa ini. Seperti halnya dengan para budak di masa lampau, budak dari

Abad Pertengahan atau kelas pekerja Revolusi Industri yang pertama, hari ini kita menyaksikan kelas-kelas yang muncul telah benar-benar diperbudak. Perbedaannya adalah bahwa mereka tidak tahu, atau menurut mereka lebih baik memilih untuk mengabaikannya. Mereka gagal untuk mengenali satu senjata yang tersedia untuk melepaskan diri dari perbudakan: pemberontakan.

Para budak menerima tanpa bertanya atas kehidupan menyedihkan yang dibuat atas nama mereka. Sikap apatis dan pasrah adalah sumber kemalangan bagi mereka.

Lihatlah mimpi buruk dari perbudakan modern; di mana satu- satunya aspirasi harus tersapu oleh tarian mengerikan dari mesin alienasi. Penindasan menjadi modern, topik utama kekacauan yang menyembunyikan kondisi mengenaskan atas perbudakan kita.

Mengungkapkan kenyataan, sebagaimana adanya dan bukan sebagai kekuatan yang merepresentasikan hal tersebut, merupakan subversi paling otentik. Hanya kebenaran dalam revolusi.

sistem ini adalah untuk mengubah
segala pencitraan (imaji): setiap hari dunia sesuatunya ke dalam
menjadi kotor ribut, seperti

III. PERENCANAAN KOTA &

PERUMAHAN

"Urbanisme (perencanaan kota) adalah metode kapitalisme untuk mengambil

alih alam dan lingkungan hidup manusia. Mengikuti

perkembangan logis menuju dominasi total,

kapitalisme sekarang bisa dan harus mengubah lagi totalitas

ruangnya menjadi hiasan khusus bagi dirinya."

— Guy Debord, Society of the Spectacle

Para budak membangun dunia mereka dengan kekuatan yang teralienasi dari pekerjaan mereka, dunia didekorasi menjadi penjara dan mereka dipaksa untuk menghuninya, sebuah dunia kumuh yang kurang rasa dan aroma— sebuah tempat untuk kesengsaraan yang melekat dalam modus dominan produksi.

Dekorasi ini dalam keadaan konstruksif yang abadi, di dalamnya tidak ada yang konstan. Desain ulang yang tiada henti terhadap ruang yang mengelilingi kita dibenarkan oleh amnesia umum dan ketidakamanan penduduk yang harus hidup dengannya. Tujuan

dan pabrik. Setiap inci tanah di dunia ini adalah milik negara atau individu. Pencurian sosial ini terjadi melalui akuisisi lahan yang kemudian termanifestasi oleh hadirnya dinding, pagar, pembatas dan rintangan. Ini merupakan tanda-tanda yang terlihat atas kesenjangan yang telah menyerang segalanya.

Penyatuan ruang untuk tujuan komersial, bagaimanapun, adalah tujuan utama zaman menyedihkan kita ini. Dunia harus menjadi jalan raya yang besar dan efisien dalam rangka memfasilitasi pengangkutan barang dagangan. Setiap hambatan, manusia atau alam, harus dimusnahkan. Konsentrasi tidak manusiawi terhadap perbudakan modern adalah dikuranginya ruang publik dalam kehidupan mereka dan pada akhirnya membangkitkan kandang, penjara dan gua. Tetapi berbeda dengan budak atau tahanan, budak modern justru membayar untuk kandangnya sendiri.

“Karena bukan manusia, tetapi dunia yang telah

menjadi abnormal.” — Antonin Artaud

IV. KOMODITAS

“Komoditas muncul, pada pandangan pertama, pada hal-hal yang sangat

sepele, dan mudah dipahami. Analisis

menunjukkan bahwa, pada kenyataannya,

adalah hal yang sangat aneh, berlimpah metafisik kebatinan

dan berbasis teologis." — Karl Marx, The Capital

Di tempat sempit dan menyedihkan yang mereka tinggali, para budak menumpuk komoditas berdasarkan janji dari iklan-iklan yang menjamin bahwa semua ini akan membawa kebahagiaan dan pemenuhan hidup. Sayangnya, semakin banyak komoditas yang mereka kumpulkan maka akan semakin sulit untuk memahami bagaimana kebahagiaan itu.

“Untuk apa gunanya seorang manusia jika ia

mendapatkan seluruh dunia, lalu kehilangan

jiwanya sendiri?” — Markus 8:36

Komoditas, terideologi secara alami, bahwa ia menjauhkan para pemroduksinya dari pekerjaannya, dan memisahkan para konsumennya dari kehidupannya. Dalam sistem ekonomi yang dominan, permintaan tidak lagi menentukan persediaan; persediaanlah yang menentukan permintaan.

Kebutuhan-kebutuhan baru terus diproduksi secara berkala dan karenanya dianggap penting oleh kebanyakan orang: hal ini dimulai dengan radio, kemudian automobile, selanjutnya pesawat televisi, komputer dan sekarang telepon genggam. Semua komoditas ini, didistribusikan secara massal dalam waktu singkat, dan sangat mengubah relasi antar manusia; mereka memisahkan manusia dari makhluk sesamanya sementara pada saat yang sama mereka menyebarkan pesan-pesan yang dominan dari sistem:

“Segala sesuatu yang kita miliki pada gilirannya akan memiliki kita."

V. MAKANAN

“Racun untuk beberapa orang, makanan untuk yang lainnya.”

— Paracelsus

Ini adalah bentuk di mana perbudakan modern memberi makan dirinya sendiri yang pada akhirnya menggambarkan seberapa besar level kerusakannya. Dengan sedikitnya waktu luang untuk mempersiapan makanan, ia tereduksi untuk selalu mengonsumsi makanan cepat saji yang diproduksi oleh industri agrokimia. Ia mengembara melalui supermarket mencari makanan yang sebenarnya menawarkan kelimpahan palsu. Sekali lagi, pilihannya tidak lain hanyalah ilusi.

Kelimpahan makanan sebagai komoditas adalah bukti dari degradasi dan pemalsuan. Hal ini tidak lebih dari rekayasa genetika

adalah adanya bukti di segala tempat, di banyak hal.

Bagaimanapun juga, hal ini terlihat ketika dihadapkan dengan mayoritas ketidakwajaran yang membuat masyarakat Barat dapat bersukacita dalam posisinya terkait hak istimewa dan ingar-bingar konsumsi. Sebagai konsekuensinya, kesengsaraan ada di segala lini kehidupan masyarakat totaliter merkantil (perdagangan). Kelangkaan merupakan wajah lain dari kelimpahan koin palsu. Meskipun sesungguhnya banyak pasokan yang dihasilkan oleh industri agrokimia, namun dalam sebuah sistem di mana ketimpangan berarti kemajuan, maka kelaparan tidak boleh melenyap.

terhadap organisme, campuran
pewarna dan pengawet, pestisida,
hormon lainnya. Kepuasan instan merupakan motivasi dibalik bagaimana seorang dan penemuan modern
budak memilih untuk memberi
makan dirinya sendiri—ini adalah
faktor pendorong semua
bentuk konsumsi. Konsekuensinya

bagi

"Mereka telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa manusia,

pelanggar terburuk dari semua spesies, adalah penciptaan terbaik.

Semua makhluk lainnya diciptakan hanya untuk memberikan

dia makanan, bulu, untuk disiksa dan dibasmi. "

— Isaac Bashevis Singer

Konsekuensi lain dari kelimpahan makanan diduga merupakan pengalihan "konsentrasi" pabrik-pabrik dan pemusnahan

besar-besaran dan biadab terhadap spesies lainnya demi kelangsungan perbudakan. Itulah esensi dari modus dominan produksi: kehidupan dan umat manusia tidak dapat menahan rasa haus akan profit.

VI. PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

“Ini merupakan sesuatu yang menyedihkan untuk

mempertimbangkan perkataan alam, dan umat manusia tidak

mau mendengarkan.” — Victor Hugo

Penjarahan sumber daya planet, produksi besar-besaran energi atau komoditas, produksi limbah konsumsi yang mencolok, dan berpotensi membahayakan kelangsungan hidup bagi planet kita sekaligus spesies yang menghuninya. Namun, dalam rangka untuk memberikan jalan kepada kapitalisme brutal, pertumbuhan ini harus terus berlanjut. Memproduksi, memproduksi dan terus memproduksi.

Mereka yang mencemarinya justru telah keliru dengan menganggap diri mereka sebagai

penyelamat planet saat ini. Hal ini menunjukan lawakan dalam bisnis, yang disponsori oleh perusahaan- perusahaan multinasional, yang mencoba meyakinkan kita bahwa perubahan sederhana dalam kebiasaan-kebiasaan kita akan cukup untuk menyelamatkan planet ini dari bencana. Dan sementara mereka menyalahkan kita, mereka justru terus mencemari lingkungan dan jiwa kita. Pandangan palsu dan buruk tentang keberlangsungan ekologi ini juga diulang-ulang oleh para politisi korup yang membutuhkan slogan iklan. Merekalah yang seharusnya bertanggung jawab namun selalu bersusah payah untuk menghindari perubahan signifikan dalam sistem produksi, dan seperti biasanya, perubahan yang terjadi hanyalah setengah hati dan dangkal, hal-hal yang pada akhirnya akan tetap seperti semula.

VII. KERJA

Kerja (dalam bahasa Perancis berarti travail atau penderitaan), dari bahasa Latin adalah tri palium yang artinya "tiga batang", "instrumen penyiksaan‛. Untuk berpartisipasi dalam kehidupan konsumsi yang ingar- bingar ini maka seseorang harus

memiliki sarana dan keharusan, yaitu kerja, dengan kata lain, kita harus menjual diri kita sendiri.

Sistem dominan yang menjadi pemenang berperan sebagai nilai yang paling dihargai; para budak harus bekerja lebih keras untuk membeli secara kredit hidup mereka yang sengsara. Para budak ini kecapekan di tempat kerja, mereka membuang kekuatan vital mereka dan harus menanggung penghinaan terburuk. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan melakukan tugas melelahkan untuk kepentingan beberapa orang. Dan sesungguhnya, pengangguran modern diciptakan sebagai sebuah taktik untuk menakut-nakuti dan untuk memaksa para budak agar mensyukuri kemurahan hati para elit yang berkuasa.

Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tidak harus menderita dalam penyiksaan yang disebut bekerja ini? Kegiatan yang mengalienasi diri ini malah disebut- sebut sebagai pembebasan. Sebuah degradasi dan kemalangan!

Selalu tertekan oleh waktu atau cambuk; setiap pergerakan dari para budak dirancang untuk meningkatkan produktivitas. Organisasi ilmiah pekerja ada di

dalam hati pekerja dan dibebaskan dari dirinya sendiri, hasil tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki— disalahgunakan dalam produksi otomatis komoditas atau jasa. Buruh pekerja diperalat sebagai mesin di pabrik-pabrik, atau komputer di kantor. Waktu yang dibayarkan tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Setiap pekerja diberi tugas berulang- ulang, baik fisik atau intelektual. Pekerja adalah spesialis di bidangnya sendiri. Spesialisasi ini dapat dilihat pada skala global dalam rangka pembagian kerja internasional. Dirancang di Barat, diproduksi di Asia dan digunakan di Afrika.

VIII. PENJAJAHAN DALAM SETIAP

SEKTOR KEHIDUPAN

"Manusia dikondisikan untuk memiliki perilaku produktif

dalam organisasi kerja; dan di luar pabrik, ia tetap

mempertahankan kulit dan kepala yang sama."

— Christophe Dejours

Sejauh kita ketahui bahwa sistem produksi telah menjajah setiap sektor kehidupan, para budak modern membuang waktu luangnya dalam kegiatan liburan dan perencanaan liburannya. Tidak ada

bagian dari hidupnya yang terlepas dari jangkauan sistem. Setiap saat dalam hidupnya telah dipengaruhi. Ia adalah budak sepanjang waktu.

IX. SISTEM PERDAGANGAN OBAT

“Obat membuatmu mati perlahan-lahan.”

— Plutarch

Degradasi umum pada lingkungan yang ia tinggali, dari udara yang ia hirup, dari makanan yang ia konsumsi; tekanan dalam lingkungan kerja dan kondisi sosialnya merupakan asal-muasal penyakit baru yang menimpa para budak modern. Sikap kepatuhannya adalah sakit yang tidak akan pernah ada obatnya. Hanya aksi emansipasi yang menyeluruh terhadap kondisi sekarang ini yang akan memungkinkan para budak modern untuk pulih dari penderitaannya.

Pengobatan Barat hanya mengetahui satu cara untuk menyembuhkan penyakit budak modern: mutilasi. Di bawah kondisi perdagangan obat-obatan, pasien menjadi sasaran operasi, antibiotik atau kemoterapi. Asal-usul rasa sakit tidak pernah ditelusuri, hanya konsekuensinya, sebab sebuah

pencarian total atas hal tersebut pasti akan menimbulkan kecaman dari struktur sosial.

Sama halnya seperti sistem sekarang ini yang mereduksi segala hal di dunia ini menjadi komoditas belaka, sehingga apakah akan mengubah tubuh kita menjadi seperti itu; menjadi objek studi dan eksperimentasi bagi para pembuat kebijakan dalam komersialisasi obat dan biologi molekular. Para penguasa dunia diatur untuk mematenkan setiap makhluk hidup. Urutan lengkap dari informasi DNA manusia merupakan titik tolak dari strategi baru dalam kekuasaan. Pemecahan genetika tidak mempunyai tujuan lain selain untuk memperluas dominasi dan kontrol.

Seperti banyak hal lainnya, tubuh kita tidak lagi menjadi milik kita.

X. KEPATUHAN SEBAGAI

KODRAT KEDUA

"Melalui ketaatan, seseorang mengembangkan refleks kepatuhan."

— Anonimus

Bagian terbaik dari kehidupan para budak tergelincir

berkuasa. Kekuatan mereka tidak datang dari polisi melainkan persetujuan dari kita semua. Kita membenarkan sikap pengecut kita terhadap kekuatan yang menindas melalui wacana yang sarat moral humanisme. Penolakan atas kekerasan revolusioner mengakar dalam semangat mereka-mereka yang menentang sistem namun mempertahankan nilai-nilai yang diajarkan oleh sistem.

Tapi ketika kekuasaan harus mempertahankan hegemoninya, ia tidak akan pernah ragu-ragu dalam menggunakan kekerasan.

melalui jari-jarinya, tetapi hal ini tetap berlanjut sebab ia selalu mematuhi. Ketaatan telah menjadi sifat kedua darinya. Ia tidak tahu mengapa mematuhi, hanya karena ia harus melakukan itu. Patuh, memproduksi dan mengonsumsi, lihatlah jalan yang mengatur hidupnya. Ia menaati orang tuanya, guru dan tuannya, para tuan tanah dan pedagang. Ia mematuhi kekuatan hukum dan ketertiban, ia mematuhi semua kekuatan karena ia tidak tahu yang lebih baik dari semua itu. Tidak ada yang lebih menakutkannya daripada pembangkangan, karena hal ini dapat mengecilkan resiko, petualangan maupun perubahan. Bagaikan anak-anak yang panik ketika ia kehilangan tuntunan orang tuanya, para budak modern akan merasakan kehilangan jika sistem kekuasaan yang menciptakan dirinya telah melenyap. Oleh karena itu, ketaatannya terus berlanjut.

Ketakutan telah membuat kita seperti budak dan karenanya tetap mempertahankan kita dalam kondisi tersebut. Kita tunduk pada penguasa dunia—kita menerima hidup dalam penghinaan dan kesengsaraan, jauh dari rasa takut.

Namun demikian, kita dapat mengandalkan jumlah yang lebih besar dibandingkan kelas yang

XI. PENINDASAN & PENGAWASAN

“Di bawah pemerintahan, yang memenjarakan secara tidak adil,

tempat yang benar untuk orang yang benar adalah juga penjara.”

— Henry David Thoreau, Civil Disobedience

Meskipun demikian, terdapat beberapa individu yang melarikan diri dari kontrol mental, tetapi mereka tetap berada di bawah pengawasan. Setiap pemberontakan atau tindakan perlawanan dianggap sebagai perilaku yang menyimpang atau tindakan terorisme. Kebebasan

hanya diperuntukkan bagi mereka yang membela kepentingan komersial. Selanjutnya, oposisi nyata terhadap sistem dominan menjadi benar-benar terselubung. Untuk para pelakunya, penindasan adalah hukum. Kebungkaman dari mayoritas budak dalam menghadapi penindasan merupakan hasil kampanye politik dan media yang selalu menyangkal adanya konflik yang nyata ini.

XII. UANG

"Apa yang sebelumnya Kita lakukan demi

kecintaan pada Tuhan, saat ini kita melakukannya

demi kecintaan pada uang, yang berarti, untuk cinta

yang memberi kita sensasi kekuasaan tertinggi dan

perasaan yang baik." — Aurora, Nietzsche

Seperti halnya semua manusia tertindas sepanjang sejarah, para budak modern membutuhkan ilmu kebatinan dan kekuatan dewa untuk melawan kejahatan yang menyiksa dirinya serta penderitaan yang menguasai dirinya. Tapi ‚Tuhan‛ baru yang ia sembah ini tidak lain hanyalah ketiadaan—

secarik kertas, sederet angka, yang disepakati bersama dan memperoleh nilai-nilai artifisial.

Atas nama ‚Tuhan‛ inilah orang-orang yang bekerja, belajar, berjuang dan menjual diri mereka sendiri. Dan demi ‚Tuhan‛ yang satu inilah, manusia meninggalkan nilai-nilai alaminya dan siap untuk melakukan apapun. Ia percaya bahwa semakin banyak uang yang dimilikinya maka ia akan semakin terbebas dari semua kendala, seolah-olah kepemilikan dan kebebasan saling bergandengan tangan. Tetapi kebebasan adalah renungan yang datang dari pengendalian diri, dari keinginan serta kemauan untuk bertindak. Untuk menjadi, tidak untuk memiliki. Seseorang harus memutuskan untuk tidak melayani dan mematuhi dalam kondisi apapun. Tetapi untuk menjadi bebas, kita perlu melawan kebiasaan-kebiasaan di mana tidak semua orang berani menantangnya.

XIII. TIDAK ADA ALTERNATIF

ORGANISASI SOSIAL YANG DOMINAN

”Acta est fabula” “Sandiwara telah usai”

Saat ini para budak selalu diyakinkan bahwa tidak ada alternatif lain terhadap aturan-aturan yang ada di dunia. Ia sudah berhenti untuk mencarinya sebab ia percaya sudah tidak ada jalan lain dalam kehidupannya. Di dalam semua ini terdapat kekuatan dari dominasi hari ini—yang memelihara ilusi dari sistem yang telah menjajah seluruh bumi, inilah akhir jaman. Hal ini meyakinkan beberapa kelas bahwa ideologi ini merupakan kebenaran hakiki dari sifat dasar umat manusia, dan sebagai kondisi yang logis. Impian atas dunia yang berbeda telah dianggap sebagai kejahatan yang dikutuk oleh persatuan media dan seluruh entitas kekuasaan. Padahal dalam kenyatannya, penjahat adalah orang yang menyumbang, secara sadar atau tidak, pada kekakuan dari struktur sosial yang dominan. Tidak ada yang lebih gila lagi daripada sistem saat ini.

Dalam kehancuran dunia, sang sistem perlu menaklukkan hati nurani para budak. Pada masa lampau, penindasan mengambil bentuk pencegahan yang digunakan untuk pengorganisiran para budak. Untuk alasan inilah sistem telah difokuskan, pada masa awal, sebagai pencegahan terhadap pelajaran utama untuk budak-budak yang tak terdidik. Mereka harus melupakan kondisi perbudakan mereka, penjara dan juga kehidupan mereka yang sengsara. Pandangan massa yang telah terhipnotis, terhubung menuju layar yang menyertai kehidupan sehari-hari mereka merupakan sebuah bukti yang cukup. Mereka menyamarkan ketidakpuasan permanennya melalui imaji-imaji impian kehidupan yang telah terdistorsi, yang terbuat dari uang, kemuliaan dan petualangan. Tapi sesungguhnya mimpi mereka sama menyedihkan seperti halnya hidup mereka yang sengsara.

Terdapat imaji untuk segala sesuatu dan untuk semua orang. Imaji-imaji tersebut merupakan pesan ideologis dari masyarakat modern dan berfungsi sebagai sarana penyeragaman dan propaganda. Meskipun umat manusia telah ditelanjangi dari dunia dan kehidupannya tetapi imaji-imaji ini akan terus berkembang. Anak-

XIV. IMAJI

"Tapi jika tidak, nyatakanlah kepada anda, o raja,

bahwa kami tidak memuja dewa kami tidak akan menyembah

patung emas yang tuanku dirikan itu."

— Perjanjian Lama, Daniel 3:18

frustrasi di dalamnya. Ideologi perdagangan berulang kali disampaikan melalui penggunaan imaji-imaji. Tujuannya selalu sama: untuk menjual, baik itu gaya hidup atau produk, perilaku atau komoditas, tidak peduli apapun, jual.

anak merupakan target pertama dari imaji-imaji tersebut. Mereka harus dibuat bodoh, kehilangan pemikiran reflektif dan kritis. Semua ini terjadi dengan keterlibatan yang membingungkan dari orang tua mereka, yang telah menyerah kepada alat komunikasi modern. Mereka sendiri membeli komoditas yang memperbudak keturunan mereka. Mereka melepaskan peran atas pendidikan anak-anaknya dan justru mempercayakan kepada sistem ini.

Terdapat imaji untuk segala usia dan untuk semua kelas sosial. Para budak modern keliru menafsirkan imaji tersebut sebagai imaji yang merefleksikan kebudayaan, dan diwaktu yang lain, sebagai seni. Pasar bergantung pada insting dasar untuk menjual segala komoditas. Adalah para perempuan, yang mengalami dua kali perbudakan dalam masyarakat saat ini, merekalah pembayar terbaik. Di dalamnya, perempuan direduksi

cermin, mereka gagal untuk
membodohi diri mereka sendiri.
Mereka mencuri waktu mereka

menjadi objek konsumsi.

Citra pemberontakan juga telah melepaskan potensi subversif tersebut. Imaji saat ini merupakan bentuk yang paling sederhana dan paling efektif dari komunikasi. Hal ini menciptakan model panutan, melemahkan semangat massa, ketergantungan, dan melahirkan

XV. HIBURAN

Para budak malang ini menghibur diri mereka sendiri, tetapi hiburan tersebut hanya berfungsi sementara untuk mengalihkan perhatian mereka dari penyakit- penyakit akut yang mengganggu. Para budak telah menyerahkan hidup mereka di tangan orang lain untuk melakukan apapun yang mereka inginkan dan berpura-pura untuk mendapatkan kebanggaan di dalamnya. Mereka berpura-pura mengalami kepuasan, namun tidak ada yang mempercayainya, bahkan refleksi dirinya sendiri di hadapan

dengan menonton idiot-idiot yang membuat mereka tertawa, menyanyi, bermimpi ataupun menangis.

Media olahraga, menjadi saluran utama di mana para budak merasakan kesuksesan, kegagalan, usaha dan kemenangan, mereka

tidak mengalaminya melalui dirinya sendiri. Mereka hidup melalui representasinya dalam kumpulan acara televisi. Dahulu, Kaisar Romawi Kuno membuai masyarakatnya agar tunduk melaui janji "roti dan permainan", namun saat ini persetujuan diperoleh melalui hiburan dan konsumsi kekosongan.

XVI. BAHASA

"Kita pikir kita menguasai kata-kata tetapi

dalam kenyataannya kata-katalah yang

menguasai kita." — Alain Rey

Dominasi terhadap kesadaran merupakan hasil dari rekayasa bahasa kelas penguasa sosial dan ekonomi. Sebagai penguasa dari semua alat komunikasi, kaum elit menyebarkan ideologi pasar yang saklek, parsial dan mengarang makna atas kata-kata tersebut.

Kata-kata diketahui sebagai hal yang netral dan definisinya merupakan bukti atas sesuatu— namun ketika dikendalikan oleh kekuasaan, kata-kata tersebut

dimaknai sangat berbeda dengan realitas kehidupan. Hal ini dikenal sebagai kepasrahan dan impotensi bahasa. Hal ini merupakan penerimaan pasif atas bahasa terhadap segala macam hal yang sebagaimana adanya. Kata-kata merupakan antek dari sistem dominan kehidupan, penggunaan kita atas kekuatan bahasa untuk mengutuk diri kita sendiri ke dalam impotensi.

Resolusi terhadap isu bahasa merupakan inti dari perjuangan untuk emansipasi umat manusia. Ini bukan bentuk tambahan atas dominasi, tetapi inti dari proyek sistem totaliter perdagangan yang memperbudak.

Dengan cara mengulang bahasa yang tepat dan cara komunikasi di antara orang-orang maka perubahan radikal dapat terjadi. Melalui cara ini revolusi dan hal-hal yang puitis dapat bersatu. Di dalam keberagaman kolektivitas, kata-kata yang diucapkan kemudian diciptakan kembali oleh berbagai macam kelompok. Kreativitas spontan ada di dalam kita semua dan merupakan kekuatan untuk persatuan.

XVII. ILUSI PEMILIHAN SUARA &

DEMOKRASI PARLEMENTER

"Memilih berarti melepaskan tanggung jawab."

— Elysees Reclus

Kendatipun terikat, para budak modern meyakini kewarganegaraannya. Ilusi tentang pemilihan umum dan kebebasan dalam menentukan pilihan telah diperkuat oleh kemampuan untuk memilih secara bebas para pejabat yang akan duduk dalam pemerintahan. Ketika muncul kesempatan untuk menentukan masyarakat di mana kita ingin hidup di dalamnya, apakah benar-benar ada perbedaan mendasar antara Sosial Demokrat dan Hak Kerakyatan di Prancis, antara Demokrat dan Republik di Amerika Serikat, antara Buruh dan Konservatif di Inggris? Tidak ada oposisi, karena partai-partai politik utama setuju pada satu hal penting: perlindungan komunitas masyarakat perdagangan saat ini.

Tak satu pun dari partai politik yang masuk ke dalam kekuasaan mempertanyakan dogma komoditas. Dan kemudian orang- orang partai politik yang dibantu oleh keterlibatan media telah memonopoli gelombang isu. Mereka

bertengkar tentang hal-hal basi untuk memastikan status quo tetap terjaga. Mereka berkelahi tentang siapa yang akan memegang kursi yang ditawarkan para pedagang parlementer. Perselisihan kecil itu disebarkan oleh media sebagai sarana penganggu terhadap perdebatan kritis tentang pemilihan masyarakat yang sesungguhnya kita ingin hidup di dalamnya. Penampilan dan bayang-bayang keremahan konfrontasi ide. Tidak satu pun dari ini menyerupai, bahkan jauh, dari demokrasi.

Demokrasi yang benar didefinisikan sebagai, pertama, dengan partisipasi seluruh warga terkait pemerintahan dan urusan masyarakat. Hal ini bersifat langsung dan partisipatif. Perkumpulan populer dan dialog yang permanen tentang pengorganisasian kehidupan umum merupakan ekspresi demokrasi yang paling otentik. Sebaliknya, perwakilan dan parlemen bentukan pemerintahan telah merampas nama demokrasi, membatasi kekuatan warga ke dalam pemungutan suara sederhana, hanya itu, tak berpengaruh apapun. Memutuskan antara abu-abu yang terang maupun abu-abu yang gelap bukanlah pemilihan nyata. Dan kursi-kursi parlemen biasanya akan ditempati oleh kelas ekonomi

dominan, baik di kanan atau sosial demokrat di kiri.

Kekuatan tidak untuk ditaklukkan, tapi untuk dihancurkan. Tirani semacam ini terjadi secara alamiah, baik yang dilakukan oleh seorang raja, diktator atau seorang presiden terpilih. Satu-satunya perbedaan dengan "demokrasi" anggota parlemen adalah bahwa para budak modern memiliki ilusi untuk memilih penguasa yang akan ia patuhi. Pemungutan suara telah membuat dirinya menjadi kaki tangan dalam tirani yang menindasnya. Ia bukanlah budak karena adanya penguasa— sesungguhnya, penguasa ada karena ia dipilih oleh para budak.

"memproduksi, menjual, mengonsumsi, dan mengumpulkan". Sistem dominan telah mereduksi semua interaksi manusia untuk melakukan hubungan perdagangan dan menganggap planet kita sebagai sebuah komoditas belaka. Tugas kita hanyalah untuk menjadi budak. Hak yang diakui hanyalah hak milik pribadi. Hanya satu tuhan yang disembah, yaitu adalah uang.

Hak untuk berperan aktif dimonopoli oleh mereka yang berkuasa. Panggung disediakan untuk para lelaki dan pidato-pidato yang menjunjung tinggi ideologi dominan. Pemikiran kritis telah tenggelam dalam lautan media yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang bisa dan tidak bisa dilihat.

Ideologi hadir di manapun, penyembahan uang, bias media, tidak adanya pluralisme demokratis, kurangnya oposisi yang terlihat, keinginan untuk mentransformasikan umat manusia dan seluruh dunia ke dalam sebuah imaji, dan penindasan dalam segala bentuknya. Lihatlah wajah sebenarnya dari totalitarianisme modern. Mayoritas menyebutnya "demokrasi liberal", sekarang saatnya untuk menyebutnya dengan benar sebagai: sistem perdagangan totaliter.

XVIII. SISTEM PERDAGANGAN

TOTALITER

"Alam tidak menciptakan tuan atau budak,

aku tidak ingin memberi atau menerima hukum."

— Denis Diderot

Sistem dominan ditegaskan oleh kehadiran ideologi perdagangan. Hal ini menempati setiap ruang dan sektor kehidupan. Ia memanggil kita untuk

Manusia, masyarakat dan seluruh planet melayani ideologi ini. Sistem perdagangan totaliter telah mencapai apa yang sistem totaliter lainnya tidak bisa mencapainya: hegemoni dunia melalui ideologi. Hari ini, pengasingan adalah hal yang mustahil.

XIX. PROSPEK

Ketika penindasan telah diperluas ke dalam setiap sektor kehidupan, pemberontakan harus mengambil bentuk perang sosial. Kerusuhan berkembang terus menerus dan menyambut datangnya revolusi. Penghancuran masyarakat perdagangan totaliter bukanlah soal pilihan, ini merupakan kebutuhan mutlak. Penyerahan kekuasaan dan pencapaian, harus ada dimanapun dan akan selalu diperebutkan.

Penciptaan kembali bahasa, revolusi permanen dalam kehidupan sehari-hari, pembangkangan dan resistensi, merupakan elemen kunci dari pemberontakan melawan tatanan yang telah mapan. Tetapi untuk menicptakan revolusi dari pemberontakan ini, kita harus mengumpulkan semua resistensi

individu ke dalam sebuah front persatuan.

Kita harus bekerja untuk menyatukan semua kekuatan revolusioner. Hal ini dapat dicapai dengan tetap menyadari kegagalan kita di masa lalu. Baik reformisme steril maupun birokrasi totaliter dapat menjadi cermin atas ketidakpuasan kita. Ia datang untuk menciptakan bentuk-bentuk baru dalam organisasi dan perjuangan. Aksi swadaya para pekerja dan demokrasi langsung di tingkat komunal merupakan pondasi dari organisasi baru ini, di mana harus bersfiat anti-hirarki dalam bentuk maupun isinya.

Kekuasaan tidak untuk ditaklukkan, tapi untuk dihancurkan.

XX

"Wahai tuan-tuan, waktu kehidupan sangatlah singkat!

Jika kita hidup, kita hidup untuk melangkahi raja-raja."

—William Shakespeare

*diterjemahkan dari transkrip film ”On Modern Servitude”.

DEKLARASI UNTUK

PEMBANGKANGAN

I. Potret Peradaban: Dominasi dan

Keterasingan

”The world is a dangerous place, Elliot, not because of those

who do evil, but because of those who look on and do nothing.”

— Mr. Robot

Kita hidup di jaman modern, dan tampaknya tak ada lagi yang bisa menandingi kedigdayaan Amerika Serikat—tanah kebebasan bagi para pemimpi dan pemberani. Tetapi apa yang menyebabkan kredo ‚American Dream for Success‛ secara fundamental berbeda dari setiap masyarakat yang telah eksis sebelum kita? Jawabannya adalah konsumerisme massa, atau sering disebut komodifikasi.

Sederhananya, komodifikasi adalah proses yang menjadikan segala sesuatu sebagai sebuah komoditas—produk barang/jasa yang dapat diperjualbelikan. Meskipun transaksi pasar dan uang telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, tetapi selalu hanya didominasi segelintir orang dari keseluruhan tatanan masyarakat. Bahkan hingga abad ini, dimana sistem ekonomi pasar dibangun dari pilar-pilar yang terdiri atas segala

aspek kehidupan manusia. Sekarang, ditunjang dengan berbagai inovasi teknologi, seringkali tak ada lagi hubungan yang nyata antara produksi suatu barang dengan kegunaannya. Sebab tujuannya hanya satu: akumulasi laba bagi pemodal.

Apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan atau tidak? Sesungguhnya kita tahu jawabannya, tetapi selama sistem ini terus saja rakus mengeruk laba, transaksi jual- beli akan selalu dikaitkan dengan alasan kontribusi sebuah produk bagi peningkatan ekonomi sosial masyarakat. Bahkan, realita berjalan lebih buruk dari kengerian yang dapat kita bayangkan.

Demi menciptakan produk yang harus laku dijual, kita dipaksa menjadi komoditas. Didoktrin sejak dini, dipupuk dengan ilusi, dicetak secara massal lalu dikompetisikan demi penawaran tertinggi. Tentu saja, pekerjaan yang layak membutuhkan investasi pendidikan yang juga tidak murah. Itulah mengapa pendidikan hari ini lebih berfungsi sebagai ’industri manufaktur’ dalam menghasilkan robot-robot pekerja yang siap menerima perintah tanpa perlu banyak mempertanyakan apapun yang terjadi di dalam lanskap hidup keseharian.

II. Dunia Spektakular: Perbudakan Sukarela

”The truth is like poetry, and most people

fucking hate poetry.” — Michael Lewis

Sebagaimana yang kita alami, perbudakan hari ini disepakati, dijalani, dan sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah problem nyata, sehingga nyaris tidak pernah dikritisi—oleh diri kita, budak-budak yang berkeliaran di segala penjuru bumi.

Kita memulai hari dengan menciptakan komoditas, bekerja keras dengan upah tak seberapa, lalu pulang untuk berbelanja, dan komoditas yang kita beli hanya berakhir sebagai tumpukan barang bekas. Padahal komoditas itulah yang nyatanya menyita kebebasan dan waktu luang yang kita miliki. Alih-alih meminimalkan, semakin tua kita malah semakin memperbesar eksploitasi dan alienasi terhadap diri kita sendiri. Semakin hari kita semakin memupuk kemalangan di atas bangkai ketidakpedulian. Setiap hasrat dan aspirasi yang kita miliki harus tergilas oleh roda-roda perbudakan yang kita rakit sendiri.

Di dalam benak para budak, pemenuhan kebutuhan hidup adalah jalan mutlak menuju kebahagiaan. Sayangnya, kebutuhan-kebutuhan baru terus saja diproduksi, lalu didistribusikan dalam sekejap, dikonsumsi, dan dengan cepat pula mengubah relasi antar manusia, dan pada akhirnya segala sesuatu yang kita miliki akan memiliki kita.

Para budak menghuni dunianya sendiri serupa penjara, sebuah tempat dimana ketertindasan adalah harga mati. Ruang-ruang yang tersisa dikapitalisasi, dikapling dan didesain sedemikian rupa untuk mengubah segala sesuatunya ke dalam pencitraan—sebuah imaji tentang keamanan, kenyamanan, kemudahan ataupun kebebasan—yang ironisnya, berkubang di tengah kesenjangan. Sebab setiap inci tanah di dunia ini adalah milik negara dan kapital. Perampasan adalah keniscayaan, perlawanan adalah kejahatan.

III. Balada Distopia: Manipulasi Politik

dan Negara

”Our first work must be the annihilation of

everything as it now exist.” — Mikhail Bakunin

Politik praktis, dalam komando partai-partai politik yang manipulatif, tak ubahnya komoditas serupa hal-hal yang dijabarkan sebelumnya. Pemilihan umum, mulai dari level nasional hingga daerah, dipasarkan layaknya produk kosmetik, elektronik, dan sebagainya. Tentu saja setiap orang, tak terkecuali para budak, tahu bahwa iklan-iklan politik komersial adalah kebohongan rutin yang terus menerus direproduksi.

Mengapa seperti itu? Mengapa politik terlihat tidak jauh berbeda? Karena orang-orang hanya mencurahkan sedikit perhatiannya pada hal tersebut, dan mereka akan memilih siapapun calon perwakilan yang paling sering muncul dan terlihat lebih baik di berbagai pemberitaan media massa.

Perlindungan, atau hukum, yang disediakan oleh institusi-institusi negara sama sekali tidak

memadai. Keadilan memiliki label harga, sehingga kesengsaraan adalah satu-satunya yang dimiliki para budak. Potensi dan kekuatan masing-masing individu akan direduksi ke dalam sebuah arena jual-beli untuk membayar hakim atau pengacara. Para budak yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok paling bawah dalam hirarki pelayanan hukum yang ada. Di bawah kondisi tersebut, potensi swadaya komunitas akan lebih disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas.

Satu-satunya bagian dari hidup yang benar-benar selalu dipertimbangkan dari semua rutinitas keseharian adalah keluarga.

Jaman dulu, keluarga adalah sebuah pondasi fundamental dari tatanan masyarakat. Saat ini, keluarga adalah pengingkaran dari masyarakat—keluarga adalah tempat dimana kita dapat melarikan diri dari kekacauan dunia di sekeliling kita, keluarga adalah tempat dimana kita dapat meluapkan kekecewaan pada orang yang kita cintai tanpa perlu menciptakan perubahan nyata dalam relasi sosial. Maka tak perlu heran mengapa banyak politikus-politikus

konservatif sangat mencintai keluarga mereka, sehingga mampu mengutamakan kepentingan keluarga di atas kepentingan masyarakat, dan akhirnya mendorong praktek-praktek korup tiada henti. Sejujurnya, tidak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan ketertarikan yang kita miliki—kita hanya akan mendapatkan kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan melibatkan diri secara langsung ke dalam proses penghancuran sekaligus penciptaan kembali tatanan yang kita hidupi.

IV. Mempersenjatai Utopia: Dunia Tanpa Budak

dan Majikan

”Rather be forgotten than remembered for giving in.”

— Refused

Momen-momen terindah dari kehidupan para budak telah terlepas sebegitu mudahnya dari genggaman, bahkan semenjak melangkah keluar dari pagar rumah, kepatuhan tak ubahnya seragam sosial yang siap dikenakan setiap saat. Para budak mengutuk dan mengeluh, namun ia tetap saja mematuhi sang majikan, hanya karena ia merasa harus melakukan

itu. Para budak mematuhi kekuatan hukum dan ketertiban, ia mematuhi semua kekuatan yang telah eksis hari ini, karena ia tidak tahu apa yang lebih baik dari semua yang telah ia jalani. Tidak ada yang lebih menakutkan para budak daripada sebuah pembangkangan, karena hal ini dapat meruntuhkan kemapanan semu yang ia miliki. Bagaikan anak- anak yang panik ketika kehilangan tuntunan orang tuanya, para budak akan merasakan ketakutan luar biasa jika sistem dominasi yang menciptakan dirinya ini telah melenyap.

Para budak selalu diyakinkan bahwa tidak ada alternatif lain terhadap nilai-nilai maupun aturan-aturan yang berlaku hari ini. Imajinasi tanpa batas, utopia paling liar, impian atas dunia yang berbeda telah dianggap sebagai kejahatan terkutuk oleh seluruh entitas kekuasaan.

Tidak ada yang lebih gila daripada sistem saat ini.

Pertimbangkan bahwa kapitalisme, negara dan seperangkat institusinya telah eksis sedemikian lama tanpa terus menerus dipertanyakan. Padahal dominasinya membuat hidup kita hanya sekadar berhenti pada bagaimana upaya bertahan hidup dalam mekanisme

untung-rugi. Apalagi yang tersisa untuk merayakan hidup penuh gairah dan kegembiraan?

Pertimbangkan bahwa hirarki sosial telah mengerdilkan kapasitas kita untuk membangun komunitas mandiri yang terjalin melalui relasi-relasi sehat dan dinamis tanpa ketertundukan.

Semenjak kebahagiaan adalah adopsi dari gaya hidup di televisi, semenjak imajinasi adalah kurikulum yang ditanamkan di sekolah, semenjak kemanusiaan adalah berbagi sedikit uang kepada

sesama, maka kita telah menciptakan tragedi sejak di dalam kepala. Apalagi yang tersisa untuk perjuangan pembebasan bersama orang-orang yang kita cintai?

Karenanya, aktivitas pembangkangan harus dimulai dengan menghancurkan belenggu pada diri kita sendiri.

** tulisan ini juga dimuat*
dalam zine ”Sisa Kertas #3”.

MELIHAT DUNIA

DARI KACAMATA

TEROR

PROLOG

“Mengapa Tuan meninggalkan istana? Malam masih panjang.

Tidak baik bepergian di malam hari. Lagipula, bukankah tak ada musuh

yang akan menyerang istana?” — tanya Chandaka.

“Ada musuh-musuh dalam dirimu, tidak sadarkah kamu?

Musuh-musuh itu penyakit, ketuaan dan kematian.

Karena itu aku harus pergi mencari jawaban sebelum semua orang

bangun lalu mencariku.” — jawab Siddharta.

Siddharta Gautama adalah putra seorang raja, bernama Suddhodana. Semenjak dilahirkan, takdirnya adalah dilayani, hidupnya dicukupi. Tumbuh besar dengan kesenangan duniawi, oleh ayahnya, Siddharta dijauhkan dari kenyataan dunia luar yang penuh kemalangan. Namun, seberapa lama kegundahan hati bisa dibungkam? Siddharta muda mulai menyadari bahwa di sekeliling istananya, hidup adalah kubangan penderitaan, ada maut yang mustahil dilawan. Di umur dua puluh sembilan, Siddharta meninggalkan tahta yang telah menjadi haknya, menanggalkan

kekuasaan yang ada di genggaman, dan memulai petualangan untuk mencari kebenaran. Kelak kita tahu di bawah pohon Bodhi di Hutan Gaya, ia menuntaskan pertapaannya, mencapai ‘pencerahan sempurna’ dan menjadi Buddha.

Jauh pada suatu masa selanjutnya, salah seorang putra keluarga bangsawan di Rusia, pergi meninggalkan rumahnya. Lyof Nikolayevich muda memutuskan untuk ikut dinas militer, dan terlibat beberapa misi peperangan Krimea. Berawal dari pengalaman inilah ia mulai gelisah terhadap doktrin patriotisme ala negara yang memaklumatkan perang untuk berebut koloni jajahan. Apa yang menjadi puncak kemarahannya ialah, ternyata agama, berperan besar sebagai alat untuk melanggengkan politik-politik kotor demi dalih kesejahteraan nasional. Akhirnya ia kembali ke tanah kelahirannya, Yasnaya Polyana, mengumpulkan petani, menolak dipanggil ‘Tuan’, lalu berladang bersama, mendirikan komunitas dan kelas-kelas belajar untuk kaum papa.

“Saya mulai memupuk perkenalan dengan orang-orang beriman dari

kalangan miskin, sederhana, tak berpendidikan, para peziarah, rahib,

kaum marjinal, dan para petani.”

Begitulah sikapnya memulai revolusi harian, tanpa kekerasan dan tetap berpegang teguh pada ajaran Kristen yang ia yakini sampai akhir hayat. Akibat kritik kerasnya terhadap Gereja Ortodoks Rusia, ia juga dikucilkan, namun filsafat moralnya yang dipengaruhi spiritualitas ke-Timur-an, ajaran Buddha hingga agama Islam, masih memengaruhi banyak orang, terutama melalui puluhan karya kanon-kanon sastranya. Dialah seorang anarkis-religius yang hari ini kita kenal dengan nama Leo Tolstoy.

Teror: Tentang Sebuah Fenomena,

Keyakinan & Harga yang Harus Dibayar.

Menelusuri denyut aktivitas perkotaan selaku arena menjamurnya praktik-praktik intoleran, tidak bisa tidak, ingatan saya segera melaju pada film-film besutan industri Bollywood. Iya, film-film yang hampir separuhnya berisi tarian dan nyanyian yang biasa kita caci maki itu—padahal kenyataannya ia bernasib serupa film pornografi— dibenci sekaligus dicintai. Jika tidak, nama

mengapa sederetan artis
kawakan Bollywood begitu
melegenda lintas Tentu

generasi?

saja karena kita mengakrabinya sedari remaja.

Beberapa tahun belakangan, dari pengalaman tontonan saya, film-film Bollywood mulai menyuguhkan aneka rupa tema, tak jarang mengundang ketakjuban karena keberanian mereka mengeksplorasi ranah sosial- politik dan memotret semangat perubahan zaman. Daftarnya bisa diawali dari kejujuran ‚Taare Zameen Par‛ dan ‚3 Idiots‛ yang menguak tabir kelam dunia pendidikan; kisah asmara satir ala ‚My Name is Khan‛ yang menangkal stigmatisasi teroris oleh masyarakat Barat; kegelisahan ‚PK‛ yang mempertanyakan eksistensi Tuhan; drama keluarga semacam ‚No One Killed Jessica‛, ‚Pink‛ maupun ‚Toilet: Ek Prem Katha‛ yang mengisahkan kepedihan dan jatuh bangun perjuangan perempuan India menghadapi ketertindasan. Dan yang belum lama ini saya tonton sampai menitikkan air mata, ‚Bajrangi Bhaijaan‛, film yang mempertegas keyakinan bahwa hati nurani dan rasa kemanusiaan mampu menerabas batas negara, melampaui kepicikan otoritas, menghancurkan sekat kesukuan dan menyingkirkan fanatisme sempit beragama.

Jalinan cerita film-film Bollywood, entah mengapa terasa

lebih subtil dibanding kreasi Hollywood atau studio-studio sinematik mentereng lainnya, mungkin karena dihadirkan dengan kesederhanaan, atau karena memiliki citra emosional yang berkelindan erat dalam keseharian kita. Mulai dari roman picisan ala kaum urban sampai budaya korupsi aparatur negara, terutama ketegangan atas nama politik identitas—mengingat India memiliki demografi yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu penduduk berjumlah besar, skala pertumbuhan ekonomi yang saling berkejaran, sejarah tradisi dan kebudayaan berusia tua, ketangkasan menyerap modernisasi, destinasi populer bagi turisme spiritual serta dinamika kesukuan, aliran kepercayaan dan agamanya.

warga Syi’ah di Madura, serangkaian teror bom di beberapa kota besar hingga kerusuhan mengerikan yang terus membekas di ingatan seperti kasus Ambon, Poso dan Tolikara. Perluasan konflik tersebut umumnya akibat perilaku agresi kolektif, ketegangan massa, atau gesekan ideologis. Sesungguhnya bukan kecenderungan baru, tapi sebuah brutalitas yang mampu mewujud dalam beraneka wajah beragam jubah, dan berlangsung sepanjang sejarah peradaban manusia. Seperti pengikut Kristen yang menyembelih ribuan kaum Pagan; Raja Nero yang membantai penduduk Kristen di era kekaisaran Romawi; fasisme Hitler yang melumat jutaan orang Yahudi; nasionalis Hindutva yang membunuh ribuan minoritas Islam dan Kristen di India; zionis Israel yang melenyapkan masa muda anak-anak Palestina; ekstrimis Buddha yang menghancurkan populasi Islam di Myanmar; hingga kekejaman ISIS yang meluluhlantakkan setiap jengkal kehidupan di Suriah. Bahkan kebiadaban militan Taliban terhadap sesama muslim di Afghanistan yang berani melanggar aturan pendidikan bagi perempuan, ditembak mati.

Tiap bahasa di muka bumi, berakar dari budaya-budaya kuno yang pernah ada, dituturkan lewat mitos, diriwayatkan secara lisan,

"Kita semua melihat dunia melalui lubang kunci

yang kecil, bukan?" — Jesse Wallace, Before Sunset

Sejak dua dasawarsa lalu, Indonesia mengalami intensitas kekerasan bernuansa agama di banyak wilayah, mulai dari sengketa pendirian rumah ibadah seperti GKI Taman Yasmin di Bogor, tragedi pembunuhan warga Ahmadiyah di Cikeusik, insiden penusukan pendeta gereja HKBP di Bekasi, pengusiran

dikisahkan melalui artefak dan harta- harta peninggalan prasejarah. Bahasa memiliki kerapuhan, tidak selalu eksplisit, justru terkadang ambigu dan mengandung kesesatan. Bahkan menteri propaganda partai Nazi, Joseph Goebbels, memperkenalkan formula ‚jika dusta terus menerus diulang, bisa berubah jadi kebenaran‛, terciptalah hegemoni. Artinya, kebenaran adalah bahasa konsensus, tak luput dari kehendak penguasa, juga tak kebal dari gugatan rakyat. Kita berharap bahasa dapat menginterpretasikan kebenaran, sebaliknya, bahasa dapat pula memelesetkan kebenaran itu sendiri. Oleh karenanya, gambaran tentang tuhan, imajinasi atas mitologi dewa- dewi, tafsir terhadap agama, doa yang dirapalkan, eksplorasi ilmu pengetahuan, telaah kitab suci, prasasti maupun kutipan risalah para nabi, akan silang sengkarut di antara keragaman fantasi dan gagasan manusia. Paradoks lainnya, keyakinan juga berbicara tentang konstruksi, bangunan, berhala dan simbologi. Ada barisan menara masjid dan monumen-monumen dengan sejarah agung penaklukannya; kedigdayaan basilika, gereja, katedral dan kemasyhuran senimannya; pun keindahan patung, pahatan dan relief-relief meditatif yang melukiskan refleksi atas fase

kehidupan. Sehingga mempertentangkan satu sama lain seringkali hanya berakhir sebagai pentas duel yang banal.

Seperti halnya nasib— meminjam frasa puitis Chairil Anwar—pengalaman religius adalah kesunyian masing-masing, selalu menghasilkan warna yang tidak sekadar hitam putih, jadi tidaklah mengherankan jika iman ataupun laku spiritual bisa menjelma jadi uluran tangan penuh welas asih, atau bahkan mesin pembunuh. Sebuah ambivalensi, ada cinta kasih, tapi juga menyimpan benih-benih maut dan destruktif.

Teror: Kontradiksi Sebuah

Toleransi & Perang yang Terlupakan.

“Kita punya cukup agama untuk membuat saling membenci,

tapi tak cukup agama untuk membuat saling mencintai.”

— Jonathan Swift, Thoughts on Various Subjects

Di kotaku sendiri, menjelang Ramadan, satu keluarga meledakkan bom di tiga gereja dalam tempo hampir bersamaan.

Disusul hari berikutnya di kompleks rusunawa dan markas kepolisian. Sekejap saja, Surabaya gusar, jajaran birokrat panik, pengurus masjid dikumpulkan, sekolah-sekolah diliburkan, pengamanan gedung dan pusat keramaian diperketat, kampung-kampung dihinggapi aroma kemarahan, spanduk dengan nada-nada pembakar nyali dipajang di berbagai penjuru kota.

‚Kami tidak takut! Cuma sedikit ndredeg (gemetar).‛ ujar sebagian warga.

Bagaimana tidak gentar, jika beberapa golongan jihadis ternyata menerjemahkan aksi bunuh diri sekaligus membunuh yang

dan pabrik-pabrik yang dianggap
biang masalah industrialisasi, tanpa
perlu mencabut satupun nyawa.
Namun, ada satu kesamaan,
ketakutan ultimatum terhadap khalayak. Itulah adalah fungsi teror,
mengapa media sosial menjadi senjata ampuh media massa maupun
untuk menyebar teror, sebab
kengerian bisa dengan cepat
meracuni isi kepala melampaui

berseberangan sebagai sikap keteguhan iman—darah dan nyawa bisa jadi tiket menuju surga. Padahal bagi para pemeluk agama, iman ibarat cahaya bagi kegelapan, amanah kebajikan. Tapi memang iman adalah kebenaran yang hanya bisa diterawang, diimpikan, dimanifestasikan melalui kepatuhan atas titah dan sabda. Seumpama labirin, kebenaran harus ditemukan melalui perjalanan rumit yang dipenuhi kebuntuan, dan teror adalah jalan yang niscaya.

Terorisme adalah taktik, demi tegaknya panji-panji keyakinan. Jadi, teror bisa dilakukan siapa saja,

bukan hanya monopoli kaum agamis. Ada militan Marxis Baader-Meinhof di Jerman, barisan komunis Nihon Sekigun di Jepang, geng anarkis Weather Underground di Amerika, aliansi rasis kelompok-kelompok White Supremacist di Eropa, daftarnya teramat panjang, semua hadir bersama etos dan muatan ideologisnya masing- masing. Tidak selalu yang dituju adalah warga sipil, tidak selalu korban acak. Seperti halnya primitivis Theodore ‚Unabomber‛ Kaczynski yang khusus menyasar institusi, bos atau para inovator teknologi modern yang berpotensi merusak alam, atau kelompok Earth Liberation Front yang hanya membakar laboratorium

kemampuan kita untuk tetap tenang menjaga kewarasan.

Saya parafrasekan salah satu bagian dari buku ‚Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek‛.

yang paling jamak dikhotbahkan
seperti kredo ‘pembangunan dan
kemajuan’ untuk mendongkrak
semangat generasi sekaligus
mengamini kerakusan pemerintah.
Maka, tidak bisa tidak, kita
membutuhkan ‚tinta merah‛ sebanyak mungkin untuk menuliskan
tentang kesaksian, apa-apa yang
tidak patut didengar menurut
penguasa—untuk kesadaran. menggugah

‚Seorang buruh Jerman mendapat kerja di Siberia. Sadar bahwa semua surat bakal diperiksa sensor, ia memberitahu kawan-kawannya: ‚Ayo kita bikin sandi: kalau suratku memakai tinta biru, itu artinya benar; kalau tinta merah, itu artinya bohong.‛ Lewat sebulan, kawan-kawannya menerima surat pertama dengan tinta biru: ‚Segalanya menakjubkan di sini, toko-toko dengan makanan berlimpah, apartemen besar dan hangat, gedung bioskop memutar Teror tidak selalu film Barat, banyak cewek cantik siap bersembunyi di balik kegelapan, ia diajak kencan—satu-satunya yang bisa dilacak, ia juga kerapkali tidak ada hanya tinta merah.‛ berparas ramah. Bahkan teror hari ini, yang kita temui semenjak kaki Lewat guyonan satir ala melangkah keluar dari pagar rumah, Republik Demokratik Jerman Timur adalah teror-teror paling berbahaya, tersebut, Zizek sedang karena kebanyakan dari kita tidak mengilustrasikan tentang kondisi mengenali, mempelajari, apalagi

masyarakat hari ini—tidak mampu
mengaitkan simpul-simpul
kebenaran. Kita merasa memiliki
‚kebenaran‛ justru karena kita tidak
memiliki kapasitas untuk
menjelaskan ‚ketidakbenaran‛ itu
sendiri. Ketiadaan ‚tinta merah‛
sama halnya dengan situasi saat kita
dijejali istilah untuk menceritakan
kebohongan yang sedang
berlangsung, merasa familiar? Iya,
kita mengenal slogan ‘perang
melawan teror’ hasil propaganda
Amerika, di negeri sendiri kita juga
sudah lama dininabobokan dengan
ilusi ‘demokrasi dan pemilu’, atau

melawan balik. Relasi sosial kita dipertaruhkan. Peradaban sejalan seiring dengan pembinasaan. Kabar tentang kematian hanya akan berakhir sebagai angka.

Zaman di saat sekelompok orang menabrakkan dua pesawat terbang pada simbol keangkuhan kota New York yang merenggut sedikitnya tiga ribu nyawa, adalah juga zaman di saat kita mempertontonkan keangkuhan ketika di depan mata ada penindasan terhadap pedagang kaki lima, ketika buruh pabrik diperah

sementara kaum kaya makin jumawa, ketika nelayan terusir akibat pesisir laut direklamasi, ketika petani dituding sebagai penjahat karena mempertahankan tanah garapannya sendiri, ketika nama-nama seperti Marsinah, Udin, Munir, Salim Kancil, Yu Patmi dan Porodukka harus meregang nyawa, ketika Tukijo, Sugianto, Budi Pego, dan ratusan pejuang lainnya harus dikriminalisasi karena percaya bahwa hidup tidak bersinonim dengan kata menyerah, pasrah.

Kita hanya terdiam.

“Tidak ada bendera yang cukup besar untuk menutupi

rasa malu akibat pembunuhan orang-orang tak berdosa.”

— Howard Zinn, A People’s History of the U.S.

Saya pikir, kesalahan tidak hanya patut ditudingkan pada kelompok jihadis, tapi juga pada semua umat beragama yang selama ini luput meniscayakan kesalehan dalam relasi sosial sembari mengenakan atribut toleransi dengan penuh kontradiksi. Karl Marx menyebut ‘agama adalah candu’, karena realitasnya, alih-alih dimaknai sebagai kekuatan teologis pembentuk tatanan baru, para

pemeluknya sebatas memakai agama serupa opium yang mengalihkan keruwetan hidup dari aneka permasalahan. Sebagaimana Ludwig Feuerbach juga pernah mengecam bahwa agama, yang tentunya didasari kepasrahan atas takdir dan kuasa ilahiah, menjadikan pemeluknya pasif—sebuah ‘proyeksi atas kelemahan manusia’. Lebih celakanya, apa yang relevan hari ini adalah agama terlihat makin vulgar menjadi ‘proyeksi atas keserakahan manusia’. Agama dikemudikan selayaknya aksi manuver dan manipulasi partai politik, bahkan acapkali para pemuka agama makin menjauhkan umat dari pembacaan kritis atas momen-momen krusial. Contohnya, fatwa haram MUI terhadap ‚golput‛, didukung ceramah ustadz selebritis tiap mendekati ajang pemilihan umum, padahal golput adalah taktik protes terhadap problem demokrasi perwakilan, juga salah satu indikator kemuakan dan ketidakpercayaan warga atas tata kelola pemerintahan, maka golput harus dimaknai sebagai titik pijak awal untuk mendorong kritisisme publik terhadap oligarki politik, senjata pemantik perubahan. Agama justru mengerdilkan daya perlawanan tersebut. Perspektif tumpul (non-holistik) semacam inilah yang terus melahirkan kebebalan— ibarat kita tahu iklan adalah

kebohongan, tapi kita tetap merelakan diri untuk terpikat.

Sejatinya, setiap agama mengandung tuntunan yang baik terhadap kehidupan. Semisal Islam yang mewajibkan konsep amar ma’ruf nahi munkar—menyeru kebaikan memerangi kebathilan. Sayangnya, mayoritas muslim hanya mengimplementasikan rutinitas agama dalam koridor aturan personal (shalat, puasa, infaq, zakat, dsb) sementara esensi dari fiqih tersebut tidak terimplementasikan dalam pranata sosial sebagai sistem aqidah-akhlaq yang menginspirasi keseharian. Sejalan dengan konsep hablu minallah hablu minannas— seorang muslim selain menjalin hubungan baik dengan Allah, juga perlu menciptakan keharmonisan dengan sesamanya. Setiap mereka yang mendaku dirinya beriman secara kaffah seharusnya juga mengambil peran aktif membela mustadh’afin (kaum tertindas). Itulah sebabnya mayoritas pengikut awal Nabi Muhammad berasal dari kalangan miskin dan lemah, karena selain menumpas tatanan jahiliyah (kebodohan, kebobrokan) di jazirah Arab, Islam juga dibawa untuk menjamin kesetaraan mereka di hadapan Allah. Jadi bisa dimaknai, kehadiran agama semestinya selalu relevan terhadap fenomena sosial- politik di setiap zaman.

Di titik inilah, terminologi ‘radikal’ (berasal dari bahasa Latin ‘radix’) bisa mengambil peran. Selama ini ia dijadikan kata antagonis, dilekatkan untuk melabeli kelompok jihadis yang mengacaukan kerukunan umat, padahal ia berarti acuan bahwa esensi agama adalah perawat kehidupan, rahmatan lil’ alamin (rahmat bagi seluruh alam), sebab ‘radikal’ berarti ‘akar’. Maka praktik agama yang radikal bukanlah gagasan pendorong kebencian, tapi fitrah perlawanan terhadap ketidakadilan. Agama yang radikal bukanlah teror terhadap kelas-kelas tertindas, tapi upaya partisipatif untuk menghantam thaghut-thaghut yang menjelma dalam moda kapitalisme hari ini.

Teror: Kapitalisme, Negara dan

Kota yang Menuju ‘Kehancuran’

“Karena dunia adalah neraka. Tapi kita masih punya kesempatan

untuk memulainya dari reruntuhan. Tapi harus ada reruntuhan

terlebih dahulu.” — Derek Frost, Source Code

Pembacaan kritis atas kapitalisme dapat dimulai dari mengenali beberapa karakter utamanya, seperti akumulasi profit, pembagian rantai kerja, maksimalisasi teknologi, efisiensi sirkulasi komoditi, alienasi dan pengetatan relasi sosial. Gamblangnya, untuk menjaga keberlanjutan pasar bebas, kita sering melihat ada relokasi pabrik- pabrik yang berusia lanjut, evaluasi sektor-sektor yang tidak kompetitif, pemecatan pekerja yang dianggap tidak produktif dan menghabiskan banyak biaya, revisi undang-undang demi lancarnya investasi bisnis, perampasan lahan warga yang dibekingi mafia dan birokrat, serta eksploitasi habis-habisan terhadap kekayaan alam. Tak ubahnya naskah film, kapitalisme memiliki beragam aktor yang memainkan beragam peran. Dan yang paling bertanggung jawab terhadap pelbagai kejahatan ekonomi-politik yang menimbulkan krisis sosial-ekologis sepanjang abad ini adalah komplotan bandit yang terdiri atas korporasi lokal- multinasional, bank-bank komersial, lembaga-lembaga teknokrat, organisasi non-pemerintah yang kaya raya, laskar, ormas atau paramiliter bayaran, dan tentu saja, negara beserta aparaturnya. Mereka bekerjasama saling menjaga, sebab kita tahu, kemiskinan selalu

dibutuhkan untuk menyangga kemakmuran bagi segelintir orang.

Menurut data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), di tahun 2017 terjadi 659 konflik agraria di lahan seluas 520.491,87 ha dan melibatkan sedikitnya 652.738 kk, dengan rincian sektor berikut: -perkebunan 208 kasus (32%) -properti 199 kasus (30%) -infrastruktur 94 kasus (14%) -pertanian 78 kasus (12%) -kehutanan 30 kasus (5%) -pesisir dan kelautan 28 kasus (4%) -pertambangan 22 kasus (3%)

Sedangkan data yang dilansir situs pemerintah (presidenri.go.id) menyebut bahwa sepanjang 2004-2015 terjadi 1772 konflik agraria akibat ketidakjelasan status tanah dan tumpang tindihnya regulasi di lapangan. Kasus-kasus ini melibatkan sekitar 1,1 juta warga dengan luasan lahan sebesar 6,9 juta hektar. Fakta tersebut diperkuat publikasi ELSAM yang memaparkan bahwa modus operasi monopoli kapital di Indonesia terjadi hampir di semua kawasan hidup rakyat, yaitu 71% dikuasai korporasi kehutanan, 16% korporasi perkebunan, 7% konglomerat, dan sisanya rakyat kecil. Dampaknya, 1% orang terkaya

di Indonesia bisa menguasai 50,3% kekayaan nasional, dan 10% orang terkaya berikutnya bisa menguasai 7% kekayaan nasional.

Bukankah ini semua serentetan fakta mencengangkan nan mengerikan? Artinya, pergi saja ke satu wilayah di manapun di Indonesia, maka kita akan menemukan jejak-jejak konflik agraria akibat makin mengganasnya ekspansi kapital.

“Ketika Gotham sudah menjadi debu, kau memperoleh

izinku untuk mati.” — Bane, The Dark Night Rises

Di Surabaya, tak ubahnya kota-kota metropolitan lainnya, ruang-ruang dikomodifikasi demi memperlancar sirkulasi kapital. Sederhananya, ruang adalah milik pemodal, kaum tak berpunya wajib angkat kaki. Akibatnya kota tumbuh tak terkendali, bukannya menyediakan ruang hidup dengan sistem sosial memadai, komodifikasi ruang membuat laju pembangunan tak ubahnya sebentuk ‘kepercayaan’ untuk menaklukkan alam.

Mentalitas dominasi yang diterapkan manusia selama berabad- abad ini bermula dari pandangan

terhadap alam (nature) sebagai entitas yang harus dijinakkan. Alhasil, sejarah membuktikan bahwa manusia adalah lakon penakluk heroik yang mampu mencapai peradaban maju dengan semangat kompetisi dan kebutuhan aktualisasi diri, contohnya, perkembangan sistem agrikultur, akselerasi teknologi modern dan eskalasi pembangunan lewat kecanggihan teknik arsitektur. Semenjak itulah krisis sosial-ekologis makin marak terjadi. Pasalnya—merujuk pemikiran Murray Bookchin—dominasi manusia terhadap alam berakar dari dominasi manusia yang satu terhadap manusia lainnya.

Disadari atau tidak, kebijakan dan strategi pengembangan kota yang ditumpukan pada mekanisme pasar menyebabkan kualitas hidup kita memburuk semakin cepat. Dampak paling kentara dari tata kelola Surabaya yang bercorak kapitalistik, di antaranya adalah, kepadatan kota memaksa warga pindah ke kawasan pinggiran demi hunian dengan harga realistis—di saat puluhan permukiman mewah dan superblok di Surabaya Barat justru dibangun dengan menimbun lahan resapan air; pembukaan ruang-ruang terbuka hijau dan jalur-jalur pedestrian yang sekilas nampak rapih, apik dan nyaman ternyata harus dibayar

dengan maraknya penggusuran; proyek-proyek mega infrastruktur menghabisi kampung-kampung kota yang tersisa; krisis tahunan akibat konversi liar sumber-sumber air bersih dan kawasan lindung; pasar modern dan pusat-pusat perbelanjaan berebut titik strategis untuk mempercantik diri sembari menawarkan big sale tahunan. Akhirnya di ruang-ruang komersial seperti itulah penduduk kota pergi bermain, rekreasi. Hakikatnya adalah laku konsumtif, pelampiasan atas energi dan pikiran yang dikorbankan selama jam-jam kerja-upahan. Sebab bagi penghuninya, kota sekadar menjadi tempat bertahan hidup— bukan tempat saling menghidupi. Tak heran kita bisa kehilangan rasionalitas untuk mengkritisi tata kelola kota.

Respon sosial untuk menolak perusakan sekaligus pemulihan ruang hidup bukanlah gagasan abstrak, bisa diupayakan siapa saja di ruang hidupnya masing-masing. Kita bisa menengok kegigihan warga kampung Waduk Sepat Lidah Kulon melawan ketamakan Pemkot Surabaya dan Ciputra Group selama bertahun- tahun, atau upaya perbaikan kampung oleh warga strenkali Jagir-Semampir untuk menangkis penggusuran. Bagi mereka, kampung bukan sekadar penanda

tempat, tapi memiliki muatan budaya, ikatan batin sekaligus kumpulan cerita tentang pelaku sejarah yang hidup di dalamnya. Apa fungsi waduk bagi keberlangsungan hidup warga? Mengapa sebuah kampung berdiri di sepanjang kali? Jika kita bisa memahami konteks sosial semacam itu, kita juga bisa mengerti sistem pendukung kehidupan seperti apa yang harus dipertahankan mati-matian di situ— Hendro Sangkoyo menyebutnya sebagai kesatuan sosial-ekologis menyejarah (historical socio- ecological entity).

Sebuah bangunan tidak serta merta menjadi arsitektur karena ia megah atau mahal. Arsitektur menjadi bermakna ketika ia menghadirkan nilai manfaat bagi manusia, bukan sebaliknya. Nyatanya, ibarat tubuh tanpa jiwa, arsitektur kota sejenak memanjakan mata namun tidak mampu membuat kita mengolah rasa. Padahal, bukankah hidup adalah tentang mengalami—bukan sekadar mengamati.

Kita mungkin telah menerima semua kegilaan ini dengan lapang dada, ataupun jika sedikit terpaksa, kita tidak tahu harus mempertanyakan apa lagi, bahkan untuk sekadar berbagi cerita tentang romantisme masa lalu kepada

generasi masa depan. Semuanya sudah terlalu terlambat untuk berubah, kota-kota telah dikutuk dengan kemacetan, kriminalitas, korupsi dan polusi. Kota-kota berdiri angkuh, kekayaan bersanding erat dengan kemelaratan. Kota-kota adalah arena pertarungan yang perlahan menggerus sisi manusiawi kita. Hingga pada satu titik degradasi paling parah—seperti prediksi Lewis Mumford—satu- satunya tempat di mana hidup kita tidak diinterupsi adalah toilet privat.

EPILOG

Tahun 1058 Masehi, di wilayah Khurasan, perkampungan Ghazalah di Thus, seorang bayi dilahirkan dengan nama Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali. Di dekat daerah asalnya, ada satu lokasi yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, Naishabur. Seperti halnya penduduk Thus lainnya, Al-Ghazali muda juga menempa ilmu di sana, belajar pada imam besar dan orang-orang bijak. Ia mencatat semua ilmu dan petuah yang didapatnya, ia mencintai jerih payahnya ini. Setelah bertahun-tahun, Al-Ghazali memutuskan pulang sambil membawa kumpulan catatannya. Ia menumpang kafilah yang juga searah menuju kampung

halamannya. Alkisah, di tengah perjalanan mereka dirampok.

“Aku mohon kembalikan catatanku,

itu semua tidak berguna bagimu.”

— pinta Al-Ghazali.

“Catatan apa yang kau maksud?”

— tanya Sang Perampok.

“Kertas-kertas dalam keranjang itu, adalah ilmu

yang kucatat dari guruku selama bertahun-tahun.”

— jawab Al-Ghazali.

“Bagaimana bisa engkau mengaku berilmu,

sedangkan kami telah merampas ilmumu ini?”

— cemooh Sang Perampok.

Semenjak itu, kesadaran Al-Ghazali serasa digedor. Sepanjang hidupnya ia belajar dengan keras dan produktif menghasilkan ratusan tulisan dengan beragam metodologi. Karyanya banyak melampaui diskursus normatif pada masanya, dimensi pengetahuannya terentang di segala bidang. Tak pelak, pemikir yang mendapat julukan ‚hujjatul

Islam (pembela Islam)‛ ini sering memandang hidup dengan pula dianggap sebagai ‘ensiklopedia kacamata adil sejak dalam pikiran. berjalan’. Tapi yang paling menarik tentang kontroversi kehidupan Al-Ghazali tentu saja adalah

BIBLIOGRAFI

dualitasnya, kecenderungan untuk [1] Arsitektur yang Lain. Avianti ‘hidup di dua dunia’. Di dirinya, ada Armand. dua penyikapan atas iman, yakni [2] Bayang Bayang. Antonius tasawuf etis dan filosofis. Selayaknya Sudiarja S.J. penyair yang piawai, ia mampu [3] Catatan Akhir Tahun 2017. mengguncang kaidah keimanan Konsorsium Pembaruan melalui kekuatan puitis sekaligus Agraria (KPA). prosais. Kedalaman ilmunya, [4] Hendro Sangkoyo: Tentang membawa Al-Ghazali menuju SDE dan Gerilya Pemulihan pergulatan batin tiada henti. Selepas Krisis. Yusni Aziz. meninggalkan jabatan akademik di [5] Jurnal Dignitas Vol. VII No. 2 pusat pendidikan Al-Nidzamiah, ia Th. 2011. ELSAM. [6] Jurnal Masyarakat Vol. 20 No. mengembara, menyendiri, memeluk 1 Th. 2015. LabSosio, Pusat keheningan. Ia berjanji untuk Kajian Sosiologi FISIP-UI. menjauh dari kekuasaan politik dan [7] Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek. perdebatan tentang kebenaran. Ia Audun Mortensen. tak ingin lagi bertikai perihal

[8] Mendiami Negeri Tak Layak
Huni, Catatan Hidup 2016. WALHI Jatim. Lingkungan
[9] Jo Santoso. Menyiasati Kota Tanpa Warga.
[10] ROAR Autonomous Media. Magazine Summer 2017. Foundation for Issue #6,
[11] The Ecology Murray Bookchin. of Freedom.

kesahihan tentang Tuhan dan agama.

Sekembalinya ke Thus, Al-Ghazali mendirikan pondok sufi. Ia memberi teladan perlunya hidup zuhud, sederhana, bahkan di batas kemiskinan. Melalui salah satu karyanya, ‚Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad‛, Al-Ghazali merumuskan bahwa kita tidak akan pernah mampu menyingkap batas antara keimanan dan kekufuran jika hati masih ** tulisan ini juga dimuat* terkontaminasi ambisi duniawi. Ihwal dalam ”SUBZine.zip tentang kebenaran akan bisa sebagai rilisan cetak resmi terengkuh saat kita mulai Surabaya Zine Fest 2018.

JUKSTAPOSISI

Membalik Logika Atas Pemaknaan Ruang Publik.

RUANG & HAL-HAL YANG TAK SELESAI.

“Parasit apa yang paling tangguh? Sebuah ide.

Satu saja ide dari pikiran manusia dapat

membangun banyak kota. Sebuah ide dapat mengubah

dunia dan menulis ulang segala aturan.

Itulah mengapa aku harus mencurinya.”

— Dominick Cobb, Inception.

Perkembangan diskursus tentang ‘ruang’ selalu sarat dengan perdebatan, begitu pula praktik seni arsitektural yang beraneka rupa guna menerjemahkan fungsi ruang ke dalam aktivitas manusia. Imajinasinya kompleks, tafsirnya berlapis. Namun, saya akan mengambil logika ruang (space) dari Henri Lefebvre untuk mengelaborasi keberadaan ruang dengan formasi sosial masyarakat. Sebab krisis sosial-ekologis, terutama di lanskap perkotaan, dapat ditelaah melalui proses refleksi kolektif tentang pranata dan prasarana sosial yang sedang dibangun hari ini.

Sosiolog Marxis asal Prancis tersebut memberikan definisi berikut:

“(Social) space is a (social) product […] the space thus produced also

serves as a tool of thought and of action […] in addition to being a

means of production it is also a means of control, and hence

of domination, of power.”

Melalui teori produksi ruang (production of space), Lefebvre menegaskan bahwa ruang adalah produk sosial, terikat realitas sosial, artinya, setiap bentuk masyarakat menghasilkan ruang sejalan dengan kebutuhan. Di abad pertengahan, produksi ruang di bawah sistem feodalisme berupa manor-manor yang dihuni para petani kecil dan dikuasai para tuan tanah. Di abad ini, wujud ruang coraknya lebih beragam, jejaring infrastruktur yang tidak lepas dari agresi investor ataupun penetrasi lembaga keuangan demi terwujudnya pusat- pusat ekonomi yang memudahkan siklus perputaran uang. Perencanaan ruang yang selaras dengan monopoli kekuasaan tersebut sesuai dengan argumentasi lain dari Lefebvre, yaitu:

“There is a politics of space because space is political.”

berlandaskan pada modus ‛tata uang‛. Diwujudkan dalam pendirian bangunan megah, permukiman mewah, areal industri, pusat perbelanjaan, superblok modern, jaringan transportasi, ruang terbuka hijau, ruang publik, ataupun bermacam infrastruktur lainnya. Proses tersebut menggambarkan relasi kuasa antar pelbagai aktor yang berada dalam lingkaran kontinuitas konflik dan kepemilikan masif atas lahan-lahan kota.

Ruang tidaklah netral, pasif dan alamiah, ruang beserta keseluruhan artefaknya merupakan instrumen utama bagi transformasi sosial-politik-ekonomi suatu perkotaan. Dan dalam sejarahnya, kota adalah arena pertarungan kelas, sehingga praktik politik perkotaan tidak pernah bebas dari keberpihakan aktor yang membuat regulasi tentang tata ruang. Relasi yang terbangun adalah perjudian di dalam arena politik pseudo- demokrasi, ia yang bertahta adalah ia yang membongkar-pasang sekaligus mengendalikan pemaknaan atas ruang, bahkan membentuk imajinasi dan perilaku warga. Sehingga dalam menganalisa tata ruang kota berarti perlu mengamati arah pembangunan kota tersebut. Pembacaan mengenai regulasi tata ruang—khususnya implementasi Peraturan Daerah (Perda) atau Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW)—dapat menghasilkan penemuan bagaimana ruang-ruang kota sengaja dirancang dan dikonfigurasikan sedemikian rupa demi satu narasi besar yang di dalamnya memuat agenda tertentu.

Secara gamblang, dapat dilihat bahwa selama ini desain ruang-ruang kota dikontrol oleh birokrasi, akademisi dan praktisi, selanjutnya saling dikontestasikan oleh para konglomerat—aliansi yang

“Di kota ini, setiap orang memiliki label harga.”

— Joyce, Triple Tap.

Sebelum melangkah lebih jauh, untuk memahami konstelasi politik perkotaan, sebaiknya kita membongkar terlebih dahulu konsep ‚warga‛ sebagai bagian dari struktur ekonomi-politik suatu masyarakat. Menurut Martin Suryajaya, warga harus diposisikan sebagai kaum marjinal, kaum yang tertindas akibat tata kelola ekonomi-politik yang berlaku. Warga bukanlah kategori yang bersifat homogen, ia terlahir dari latar belakang dan kebutuhan yang berbeda, jadi warga harus dipahami sebagai kategori politik, jika tidak, perspektif kita untuk memaknai ruang publik sebagai bagian integral dari ruang hidup

hanya akan kembali pada ‚business as usual‛.

Lalu bagaimana jika eksistensi suatu masyarakat ternyata tidak terkoneksi dengan keberadaan maupun perencanaan ruang dalam kondisi terkini?

Ruang publik adalah tempat di mana konflik kepentingan tersebut seringkali menampakkan dirinya secara eksplisit, vulgar, tanpa tedeng aling-aling. Seperti halnya kasus ’pengambilalihan’—saya memakai kata ini, ’revitalisasi’ atau ’renovasi’ cenderung menihilkan peran para penguasa yang bermain di dalamnya—alun-alun Gresik dari tangan warga demi terpenuhinya arogansi satu kelompok berupa pembangunan Islamic Center. Artinya, sebuah ruang telah menjadi sarana pernyataan politis, atau propaganda religius. Bangunan tersebut adalah simbol untuk mendefinisikan rumah ibadah, atau apapun sebutannya demi menginjeksikan dakwah agama dalam kehidupan warga.

Namun, adakah Tuhan di rumah baru itu?

Padahal kita tahu, tentunya juga memiliki pengalaman personal, bahwa ada tempat-tempat dan momen-momen tertentu yang bisa

menggugah jiwa untuk bersujud dan menyebut nama-Nya dalam kepasrahan yang tak terkatakan— ikhlas mengakui-Nya sebagai Allah Maha Besar. Kita bisa saja menemukan Tuhan dalam cinta dan pengorbanan sepanjang hayat seorang ibu, dalam ketidakberdayaan menyusuri batas hidup-mati di atas kasur pesakitan rumah sakit, dalam ketakjuban saat memandang gugusan awan dan pesona mentari dari puncak gunung, atau dalam keindahan mata sang kekasih.

Pada dasarnya, bangunan yang kini membuat alun-alun menjadi sekadar kenangan itu, berupaya menghadirkan momen-momen ketakutan, keterkejutan, kekaguman pada kuasa Tuhan dalam wujud ruang publik, padahal tidak semua warga bisa bebas atau merasa perlu mengaksesnya. Saya rasa, keagungan Tuhan tidak serta merta bisa dihadirkan seperti itu, sebab hidup adalah rangkaian peristiwa, sekumpulan kisah di dalam kepala, dan pintu hati tidak bisa diketuk melalui kebenaran yang dipaksakan.

Mengutuki pembangunan secara serampangan juga tidak tepat, tapi nyatanya, degradasi akibat gempuran proyek-proyek pembangunan sudah tidak

positif dengan kesibukan tiap-tiap penghuni kota? terkontrol, sehingga kritisisme juga perlu dipertajam. Melihat pembangunan semata sebuah produk, bukan sebuah proses, hanya akan mereduksi nilai-nilai dari pembangunan itu sendiri. Berdirinya Islamic Center akan dilihat sebagai sekadar tempat, gedung baru— bukan fungsi ruang yang berubah, poros kewargaan yang tergusur, keriangan anak-anak yang terenggut, interaksi komunitas yang tersingkirkan. Ada harga-harga yang tidak bisa dihitung dan diganti: kehidupan sehari-hari yang hilang. Maka, kebijakan pemerintah daerah yang memicu protes dari beragam kalangan ini akhirnya juga memunculkan banyak pertanyaan, setidaknya bagi saya sendiri yang sejak kecil cukup mengakrabi alun- alun Gresik.

Bagaimana seharusnya kita memaknai ruang publik pada masa kini? Apakah ada pergeseran fungsi? Apakah kehadiran ruang publik harus menjadi identitas suatu kota? Bagaimana caranya kita membangun persepsi atas kepentingan yang lebih kompleks, misalnya penyediaan ruang bagi kaum difabel, atau kelompok-kelompok lainnya yang terpinggirkan yang mungkin memiliki pengalaman berbeda atas kepemilikan ruang? Apakah perlu kita meredefinisi konsep ruang agar lebih substantif dan memiliki korelasi

“Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis,

maka kita menolak untuk menyikapinya dengan tragis.”

— D.H. Lawrence, Lady Chatterley's Lover.

Ruang adalah sesuatu yang bernilai, sesuatu yang juga tidak akan pernah selesai. Ia tidak pernah abadi, untuk bisa dikonstruksi, ia perlu terlebih dahulu melalui proses destruksi. Pengembangan kota berjalan seiring dengan lenyapnya sebagian besar ekosistem alam, situs bersejarah, kampung kota, permukiman kumuh, atau apa saja yang dianggap tidak layak sebagai representasi visual ruang-ruang masa kini.

Di kawasan padat penduduk, ruang-ruang diperebutkan, dan dalam sekejap disulap menjadi aset-aset komersial. Nyatanya, keberadaan ruang publik juga tak terelakkan dari kelaziman tersebut. Ada jejak kekuasaan, ada pula hentakan perlawanan. Padahal, sudah menjadi konsepsi bersama, jika menyandang kata ‘publik’ maka seharusnya ruang publik bebas dari kepentingan segelintir pihak, atas

nama apapun. Ruang publik selayaknya tidak diprivatisasi, sebab di sanalah pondasi keadilan ditegakkan untuk melindungi kebebasan warga.

Tapi persoalan tidak sesederhana itu. Kekejian peradaban modern terjadi bukan karena kebutuhan yang universal telah hilang, atau persepsi tentang kesetaraan sudah dihapuskan, tapi justru karena pembangunan dipercepat, hingga hidup harus dipacu gila-gilaan. Setelah terpapar krisis sosial-ekologis tak berkesudahan, bahkan makin membesar, kini kehidupan warga kota diperparah dengan eskalasi krisis planologis. Dan akhirnya, semua imajinasi atas ruang yang layak diperjuangkan melenyap bersama debu-debu jalanan.

Narasi tentang ruang publik tidak bisa dilepaskan dari segala dimensi yang melingkupinya. Terutama ia adalah hasil formulasi kebijakan, skema dan metode yang mempunyai dampak besar bagi seluruh penghuni kota, ia mengandung alunan denyut ratusan peristiwa bersejarah, ia menjadi detak jantung sebuah zaman. Oleh karenanya, praktik pemanfaatan ruang publik bisa menghasilkan diferensiasi nilai guna dan makna bagi masing-masing penghuni kota.

Tapi melalui kesadaran entitas kolektif, pembacaan baru terhadap dinamika ruang publik bisa jadi melahirkan lintasan gagasan serta gugatan baru terhadap esensi ruang publik.

Ruang-ruang kota (urban space) terdiri dari kelindan ruang privat dan ruang publik di mana masyarakatnya memiliki konsepsi urbanitas dan tujuan yang sama. Dalam artian, bagaimana ruang-ruang tersebut diorganisasikan adalah manifestasi dari sistem nilai yang dianut masyarakat. Proses pembelajaran hidup sebagai warga kota dimulai ketika terbentuk konsensus guna mengatur penggunaan ruang-ruang komunal. Pada proses inilah—laku kewargaan yang terlihat di ruang-ruang publik—kita bisa membongkar seperti apa konsepsi fundamental suatu masyarakat untuk hidup bersama dalam satu wilayah.

Kompleksitas kehidupan urban tentu melahirkan keragaman pendekatan guna memantik perdebatan tentang ruang publik, namun saya membayangkan, sederhana saja, menciptakan ‘ruang untuk publik’ berarti memberikan ruang sepenuhnya bagi kebebasan warga untuk berkreasi. Dan salah satu bentuk proses dialektis untuk mengenali eksistensi maupun

potensi kreatif tiap-tiap individu adalah melalui aktivitas ‚bermain‛.

BERMAIN: SEBUAH MANIFESTO.

“Kebenaran ibarat puisi, dan sebagian besar

orang membenci puisi.” — Michael Lewis, The Big Short.

Saya akan memulainya dari satu kata: kapitalisme.

Semenjak segala aspek keseharian dikalkulasi berdasarkan seberapa besar untung-rugi yang terakumulasi, hidup juga harus dimaknai sejalan logika tersebut. Logika ini selanjutnya melahirkan jutaan kemungkinan, menciptakan gejolak kepentingan. Ketika logika tersebut sudah mulai merasuki alam pikiran manusia, ia memancing gagasan, menular ke banyak kepala, menjelma doktrin, menjadi konsensus. Selanjutnya, kita tidak lagi mampu mengimajinasikan ‘sesuatu yang lain’ dari kerangka berpikir yang telah menjadi pondasi khalayak tersebut. Perlahan segala dimensi kemanusiaan yang kita miliki menjadi miskin makna, dan hidup tak lagi penuh kebebasan, melainkan keterasingan (alienasi).

Begitulah komodifikasi bekerja—titik berangkat kapitalisme.

Perkembangan urbanisme modern akibat dominasi kapital terhadap ruang melalui kecanggihan arsitektural, sejatinya, adalah upaya untuk memperkuat reifikasi, yaitu kondisi di saat kualitas hidup manusia (baik itu relasi antar manusia maupun pola pikir dan tindakan rasional individu) diukur sebatas pencapaian kebendaan belaka. Jati diri manusia yang utuh makin kehilangan kreativitasnya, ia tidak lagi mampu mengeksplorasi kegairahannya atas hidup jika tak memiliki banyak benda, banyak uang. Dalam kasus arsitektur dan tata ruang misalnya, kapitalisme telah sedemikian rupa membentuk logika fundamental bahwa manusia sekadar membutuhkan atap besar untuk menutupi kepala, jalan lebar untuk kemudahan mobilitas, atau lingkungan hijau untuk kenyamanan, meskipun sesungguhnya relasi sosial yang terbangun penuh kepalsuan, terasing satu sama lain, saling sikut satu sama lain. Ibarat kehadiran televisi, kita dibiasakan seolah-olah membutuhkan informasi dan hiburan selama sehari penuh, padahal efek adiktifnya justru menumpulkan segala potensi individual sekaligus mengikis etos makhluk sosial yang kita miliki.

Jadi, hidup adalah komoditas. Dan aktivitas manusia yang paling sering menjadi sasaran bagaimana hidup harus dibaca lewat kacamata profit adalah ‚bermain‛.

Bermain, dianggap sebagai penanda kemalasan. Bermain adalah kebiasaan yang tidak efisien, tidak produktif, menghabiskan waktu yang berharga. Bermain adalah ketidakseriusan, karena tidak menghasilkan nilai yang dapat menambah pundi-pundi pendapatan—bahkan dituding pemborosan. Bermain, dengan sendirinya dikesampingkan dalam reproduksi kehidupan harian. Padahal bermain memiliki karakter primordial manusia: spontanitas.

Sebagai laku spontanitas, bermain serupa perlawanan terhadap belenggu dominasi. Sebuah daya kreativitas yang seharusnya mampu menolak sekaligus melampaui logika kapital— konsep kebahagiaan semu yang disodorkan kapitalisme, yang dibentuk sedemikian rupa demi kelancaran sirkulasi modal. Bermain, artinya terus menerus menciptakan pilihan dan pengalaman- pengalaman baru sesuai hasrat individual, sebab bermain bukan tindakan yang dihasilkan dari menunggu perintah, kendali, intimidasi ataupun paksaan. Dengan

sendirinya, bermain harus terbebas dari aturan atau hukum yang bersifat koersif, yang dibuat dan dikontrol oleh segelintir orang, bermain harus terlepas dari kekangan hirarkis.

Bermain adalah sikap otonom, inisiatif sang pemain, demi pembebasan yang diterjemahkan ke dalam kesenangan yang didambakan, tentu saja, tidak lantas lepas dari tanggung jawab— kebebasan dan pertanggungjawaban berada dalam kepingan moral yang sama. Bermain, artinya proses mengaktualisasikan diri. Sehingga dalam suatu permainan tidak ada kegagalan.

Intensitas bermain hanya membutuhkan satu prasyarat: keberlanjutan.

Keberlanjutan adalah kehidupan itu sendiri. Maka, untuk memahami dinamika persoalan keseharian, bermain harus menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan, sebab ia berbicara tentang sesuatu yang intrinsik dalam kehidupan. Di tengah kepentingan kekuasaan dan logika kapital, bermain adalah upaya pemenuhan kebutuhan non-material, keluar dari corak akumulatif untung-rugi. Bermain hanya mengejar kepuasan dan kebebasan dalam permainan itu sendiri, oleh karenanya, bermain

adalah pernyataan sikap bagaimana mendekonstruksi pola relasi masyarakat hari ini.

Dan pada akhirnya, bermain membutuhkan siasat untuk menyikapi aturan-aturan permainan, mengukur kapabilitas lawan, mencari celah untuk kemenangan— bukankah serupa dengan cara manusia bertahan hidup?

“Dan kehidupan duniawi hanyalah permainan

serta hiburan belaka, maka ketahuilah bahwa akhirat

merupakan hal terbaik bagi orang-orang yang bertaqwa,

tidakkah kalian memahami?” — Surah Al-An’am ayat 32.

Keberadaan ruang-ruang kota bukan saja merefleksikan pemahaman masa lampau, namun juga sebagai katalis untuk mengimajinasikan, mengantisipasi, dan menciptakan upaya-upaya partisipasi aktif setiap warga. Kota kosmopolitan yang dibangun melalui kampanye estetikanisasi (substansi dikalahkan oleh visualisasi) seperti kebersihan, keindahan, efisiensi dan penghijauan, tidak bisa dianggap sudah memberikan ruang hidup yang adil dan setara yang dapat

mengakomodasi aspirasi warga sekaligus subsistensi komunitas— sebuah otonomi politik. Kewargaan (citizenship) bukanlah komoditas yang bisa dipoles lalu dikemas secara seragam oleh penguasa. Bentuk hegemoni penguasa kepada masyarakat terjadi ketika kebiasaan warga yang menjadi sumber identitas primordial dicabut begitu saja, dan selanjutnya, memaksa mereka untuk menjalani modus sosial-ekonomi-politik di luar habitat dan kultural yang dikenalnya.

Johan Huizinga, seorang teoritisi dan sejarawan asal Belanda, menyatakan bahwa manusia, mulai anak-anak hingga dewasa, sejatinya adalah seorang homo ludens— makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Bahkan ia lantang menyebutkan ‚play is older than culture‛, permainan itu lebih tua daripada kebudayaan. Terlepas dari kontroversi argumennya, faktanya, dalam setiap kehidupan komunal primitif maupun modern selalu terdapat aneka jenis permainan sebagai bagian dari kebudayaan manusia.

Pilar-pilar peradaban seperti bahasa, filosofi, ritual kepercayaan, hukum, konvensi, adat istiadat, seni dan teknologi dihasilkan dari daya intelektual dan kecerdasan instingtif manusia. Dan aktivitas bermain

adalah proses adaptasi seseorang

BIBLIOGRAFI

terhadap segala sesuatu di luar dirinya; ada orang lain, alam raya [1] Menyiasati Kota Tanpa Warga. dan fenomena sosial. Hakikat Jo Santoso. [2] Basic Program of the Bureau manusia adalah mampu mengenali of Unitary Urbanism. diri sekaligus lingkungan sekitarnya, Situationist International. mampu mengambil sikap untuk [3] Arsitektur yang Lain. Avianti menjawab krisis yang sedang Armand. berlangsung. [4] Everyday Life in the Modern World. Henri Lefebvre. Jika mengacu pada tesis [5] Homo Ludens, A Study of Play Huizinga, setidaknya kita bisa mulai Element in Culture. Johan menangkap ironi dan kegetiran Huizinga. bahwa ketiadaan permainan dalam [6] Jurnal Ruang. Tim Redaksi kehidupan modern berpotensi Membaca Ruang. menghasilkan ‘ruang-ruang kosong’ [7] Tantangan Arsitektur kebudayaan. Partisipatoris. Martin Suryajaya. [8] The Production of Space. Artinya, kita sedang Henri Lefebvre. menggali kubur sendiri!

** tulisan ini juga dimuat*
dalam ”Grezine #1” sebagai respon warga kota terhadap proyek revitalisasi Alun-Alun Gresik.

Manuskrip Kebahagiaan.

I

voila! di mana langit sesak dengan irama musik tanpa dawai dan jemari yang memetik

c’est la vie! di mana kedamaian dan perih rasa sakit menemukan eksistensinya di tiap jiwa-jiwa yang menyala

semoga duka-lara tersapu badai sebelum pagi datang terlalu terlambat dan ruang-ruang hampa kembali terisi oleh isak tangis ratapan

saat aroma harapan terbawa angin mengebiri jantung-jantung keserakahan memenjarakan pengkhianat riwayat peradaban menjelma panji-panji kemenangan

II

mendung penyesalan mendapati dirinya sendiri teronggok busuk di liang penghakiman menuai kehancuran

ketika lentera dimensi hati menemukan makna renungan di sela persetubuhan yang merayap dan membasahi getar nyali dengan ekstase gairah imajinasi

dan di sanalah putus asa hanya akan berbaris serupa nisan usang mati tercampakkan karena tiap raga yang bernyawa tak lagi perlu diziarahi tamu-tamu yang bernama kekalahan

III

siang malam serasa satu dan tiap pintu-pintu rela terbuka untuk pengelana yang tersesat membuang dan mengubur sunyi sendiri masing-masing menepi ke dalam selimut birahi

tak ada lagi berisik rengekan yang menggoda amarah atau ciprat genangan darah di setiap pinggiran jalan atau di tikungan kelam pojokan perempatan yang menggantang tangisan menghanguskannya dengan letup kebencian

IV

air mata adalah bahagia senyawa warna-warni keriangan

tak lagi mengisyaratkan perih meradang

tak lagi menyembah ilusi karena imaji telah mempersenjatai dirinya sendiri

tak ada lagi yang serasa pasrah serasa mati semua hidup semua bermimpi!

Malang, Juni 2009

11111 11 I1

11111

www.aksaramerdeka.blogspot.com