pulan sadjak
umambi, Sudismam, Risakolta
INDO-125 9
Bufkit 11
pilihan sadjak2 rumambi sudisman
f.1. risakotta
★
diterbitkan oleh : lembaga kebudajaan rakjat (LEKRA) bogian penerbitan djakarta 1959
rentjana kulit sudono k.
Rumambi
SERULING PAGI DARI TANAH TYOSEN
djka udara telah penuh dengan laguan kerdja
tiap tarikan napas adalah hidup itu sendir udaranja lambaikan tangan dekatnja djarak ribuan mil lapanglah dada ringanlah kaki berpidjak dibumi' jang begini ditanah ini telah terdjalin kisah perdjuangan dan kisah kedjantanan dalam perdjuangan disini mimpi duapuluh djuta manusia (untuk mautpun dihadapi dengan senjum) sedang diukir dibukit-bukit dan lembah2nja o, tanah, dimatahari begitu lembut hatiku sehangat djabatan tanganmu hatiku semesra dekapan senjummu dia jang lahirkan persahabatan lahirkan perdamaian dia jang lahirkan persahabatan dan perdamaian -lahirkankekuatan! siapa jang mau patahkan persahabatan dan perdamaian tangannja patah sendiri! 芸 ※
kau dan aku sama punja tjerita pandjang
tentang manusia jang dibudakkan atas tanahnja
dan kerdjanja dimana ketelandjangan dan kelaparan memburu baji2 sedjak rahim ibunja
kau dan aku samapunja tjerita pandjang sepandjang perlawanan pada rumah2 pendjara dan barak2 pembuangan sepandjang tianggantungan dan mendesing pelor menembus dada o, pandjangnja perlawanan sepandjang barisan nisan jang bertandanama dan tak bertandanama
dan kita djuga sama punja tjerita jang tak pernah membosankan
karena ia adalah air jang membasahi galengan sawah²
dan api jang memanasi dangau2 karena ia mendjumlahkan nama pahlawan
dilekuk mata anaklakilaki dan anakperempuan
karena ia mendjumlahkan pahlawan dengan kemenangannja!
erdjanja
r is dada
danama
sawah²
gemetar rasanja tangan memeluk tubuhmu parutluka2 jang dari telapakkakimu hingga
ubun2mu begitu menjengat tapi, ai, betapa melondjaknja hati
meraba otot2mu begitu dempal mengatasi segala derita
takkutahan sorak hatiku: tyosen mansei! tyosen mansei!1) diladangladang dan dilerenglereng bukit bertebaran lobang2 besar mentjongak langit disini padi takmau tumbuh untuk hari inipun ada kata tanpa suara bom amerika bikin padi tak mau tumbuh bekas2 puing dan reruntukan dari pabrik2 menjeringaikan suatu antjaman pemusnahan bangsa dirangka2 besi dan beton2nja jāng hangus bergelimpangan adakata ingatkan manusia: inilah tugas sutji tentera amerika 2
- Hidup Korea.
ribuan anakjatimpiatu didesa makyungdai menjongsong jang datang dibening sinar matanja ada kata menjala: djangan lupakan ajahbundaku dibinasakan serdadu amerika onggokan 240 abupahlawan dimakam kaesong mengkitmatkan hati menghormat gaung keramat menggema dari perut buminja: kami mati tapi dendam kami terus menepuk2 tiap dada tyosen patria dari sebelah selatan desa panmundyom terdengar djeritan menguakkan sepinja harihari: disini gadis2 tyosen masih terus diantjam perkosaan pemuda2 tyosen masih terus djadi binatang buruan disini bajonet amerika masih basah darah masih bertetesan luka masih menganga ※ *
memekikan
mikun nakara ! 2)
biarkan daku besertamu
bekas2 puing dan reruntukan pabrik2
memekikan mikun nakara ! biarkan daku besertamu
anak2jatimpiatu
memekikan jang bernjala dalam matamu:
mikun nakara!
biarkan daku besertamu dendam pahlawan jang tak mau mendjadi abu memekikan gema keramat: mikun nakara! biarkan daku besertamu duapuluh djuta rakjat jang tegak bertahan bagai duabelas ribu puntjak keumgungsan 3) memekikan kekuatan jang tak terpatahkan: mikun nakara mikun nakara! pekik api takterpadamkan pekikzaman taktertahan
mikun nakara! gita pahlawan.
- Hantjurlah tentera amerika.
3. nama sebuah pegunungan batu karang jang mendjadi
kebanggaan rakjat korea.
lembutnja matahari tanah tyosen dedaunan dan rerumputan menghiasdiri
dalam sribuwarna martabat kerdja dikembalikan pada jang empunja
klas pekerdja
dia jang takmenjajangkan darahnja menetes membela tanah airnja taksajangkan djuga keringatnja bertjutjuran membangun tanah airnja djika palu telah berdentam indahnja binar lelatu
gemuruh mesin² dan kepulan hitam dari tjerobong asap
adalah napas raksasa
enjahkan segala kemalasan dan penjerahan padanasip
di-ladang2 dan sawah²
karena dibumi ini tuantanah telah silam
dan kini hanja ada panen bagi jang
menanam dan memanen
majang2 pagi dan tangkai2 gandum sama berlomba
dalam kerundukannja buah2 apel dan peer mengangguk-angguk memamerkan keranumannja.
dan bila panen telah berachir ai, genitnja tangan bertjumbu lenggang semua menari, semua berdendang:
eh..... eh ..... eh, ong heya 4}
ong heya; ong heya! lumbung2 penuh ternak lohdjinawi ongheya! rerumputan hidjau gemeretjik air pematang
4. bait pertama dari sadjaknjanjian.dan tarian .massal jang termasjhur dikorea, artinja kira2: panen djadi (ka-
ta seru).
ong heya! budjang dan gadis senjum berbisik melihat kelana ke-malu²an ongheya! ong heya! bulan penuh langitpun biru
ongheya! ong heya! ong heya!
menandjaklah tjenlima 5) dipunggungnja sianak djantan tyosen meniup serulingpagi meraju tanah kekasih:
arum daun nenara......6)
Phyongyang, RDRK, 27 Oktober 1958.
5. sembojan pembangunan di korea jang dibaratkan tje-
patnja sebagai kudaterbang.
- o, tjantiknja tanah airku.
Sudisman
PYONGYANG BERDJIWA 1211"
Wilajah sempit berbentengkan bukit 1211
menghidupi warga sekitar sepuluh djuta
berkain putih-rose-hitam perawakan ketjil lagi pendek, tapi, mengagumkan semangat kepahlawanannja tinggi djiwa djuangnja agung deras mengalir dari puntjak sumber Pyongyangdjantunghati Korea. Pyongyang, djantung berdetak sampai udjungdjari bukit 1211 jang bertahan, takbisa hangus lagi. Bom Amerika berdjubah sekutu membrondong haus membakar kebeningan alam mendjadi hangus ngeri dipandang ada jang mampus takberdosa, tapi, mengagumkan bukit 1211 bukan tunduk menekuk malahan menemukan kelahiran hidupbaru beropera digua dalam hudjan bom lebat membangun setiakawan menstop bom takberhati. Taktakut agresi, djiwa 1211 djiwa luhur Korea.
Pyongyang, 31 Desember 1957.
F.L. Risakotta,
SUNGAITAY DONG mula kudatang mula kau bisikan bahwa bumi baru ditanahmu segera mendjelang bila kudjenguk kau dimula.djunpa tanahmu begitu murni, air mengilir menjepi sendiri dan tanganmu begitu kasih serta bisikan kehatiku kembali bahwa gedung, djalan melurus, dan djiwa baru segerahadir Tay dong, kau berada djarak dariku tapi mula kudatang kau tanamkan diriku kehatimu kau tanamkan diriku kedarahmu dan kita serempak madju kedunia baru dan seiring djalan kebumi damai Tay dong, bagai teman abadi dalam hati bisikan, bisikan keseluruh pendjuru bumi bahwa rakjatmu begitu bahagia bahwa rakjatmu berdjuang untuk damai didunia. Phyongyang, 7 Oktober 1958.
KARANG BERDARAH
disini dia dibunuh
ketika masih sangat muda tak seorang djua mengenal namanja
tapi semua tahu perdjuangannja
disini dia dikebumikan tapi matanja tetap terbuka dan hatinja bertanja dikematiannja bilakah bunga sosialisme merekah dibumi tanah airku dia bangkit menentang kelaliman dia bangkit menentang ketidakadilan dan disini dia dibunuh pada bentjak-bentjak tangan jang berlumur darah tapi matanja masih terbeliak karena ia tahu bahwa bunga sosialisme mekar dipagi tjerah Telaga Tigahari, 11 Oktober 1958.
KUBUR DIATAS BUKIT
disisimu pohon-pohon pina menguning bukan karena laju
disisimu pasir-pasir menutup wadjahmu dan wadjahku
aku pengembara jang tak mengenal rupamu aku manusia jang tak melihat djuangmu sunji malam dalam kuburmu sepi diatas bukit orang lalu memasirkan kaki tak mengenal siapa namamu namun sebelum kau pergi kepembaringanmu kau berikan hatimu padatumimu
kautantjapkan bendera kesajangan dinegaramu
kini kukenal perdjuanganmu kubur diatas bukit
aku pengembara jang tak mengenal rupamu
dengan pinsil dan kertas ini
kutitipkan salam tanahku pada perdjuanganmu
虽 云
kulihat kau berdiri kembali
sebagai pengawal ibumu
peluru begitu laju disendjatamu seperti saldju dimusim dingin
hari demi hari pergi hudjan djatuh titik-titik pasir-pasirmembasah hatimu selalu berlagu njanji kemerdekaan tanahmu teriakan kepahlawanan rakjatmu seperti matahari jang tak henti berseri kaubuka matamu kaungangakan pintu hatimu dan kulihat kau berdiri abadi sebagai pengawal ibumu dibahumu sendjata begitu laju
o, kubur jang abadi kubur dari manusia jang tak kan mati kubur dari pahlawan jang tak terlupa
. dengan sepotong sair ini kutitipkan salam tanah airku.
Telaga Tigahari, 13 Oktober 1958.
MADAH DIBUMI KOREA akulah jang menjendiri menemui dirimu dikegelapan akulah jang mendekatimu ketika kehanjutan tjuma seberkas pernah terdengar njanji ketika sawah2 harus berlubang karena peluru dan bom menjelesaikan hidup jang satu ini rumput tiada lagi mendjadi teman penghidjau padang dan bukit djadi ungu karena mesiu begitu menghangus dipadang jang kering, matahari bersinar tidak sehangat dichatulistiwa dimana bumiku terhampar lepas daunnja kering membeling, kuning meranggas bukan karena rindu pada air dan matahari bukan karena tjinta hidup tiada terbagi tapi tidakkah nestapa pada diri bila kehantjuran tidak menemani kehidupan abadi
matahari naik-naik tinggi meninggi
bih tinggi dari pohon-pohon pina dikaki bukit
lebih tinggi dari suara kekuningan padi dan
mesin penjabit
tapi kalah tingginja dari derita dan airmata
karena nista tiada bitjara dengan kedamaiannja
matahari hangat membakar pada ladangdan belukar hangatnja menjengat diri lebih hangat dari segala namun tiada djua sehangat rindu kedamaian
ila tanah disekitarku menjanji tentang keparahan hidup dan bekas-bekas pabrik luruh karena api bermukim atasnja an karatan memisahkan wadjah dari hati ibumi begini tjinta selalu membara tjinta selalu menerawang puda keakanan dan kemuliaan ditebing-tebing batu kudengar njanjian baji terlahir diluar udara kelam karena mesiù dan peluru beradu desing dan membakar inilah kehantjuran dan wadjah sementara djustru karena tjinta dan hati bersatu tidak mungkin bumi teralah
kudengar air danau dibukit penghabisan tjeritanja sepandjang tahun tiada dusta
diatas pasir dan karang dikedjauhan ombak menari
jang menemani sepandjang hari karena disisinja setumpukan tanah tempat dia berbaring selama oh, pohon pina jang menguning ketika saldju akan tergelintjir dan musim bertukar wadjah kenalilah mereka jang tiada bertanja, karena mereka petani biasa kenalilah mereka jang tiada bernama, karena mereka begitu setia o, bukit jang mengarang dan membatu begitu keras tanahmu ketika menguburkan djasat ini
tidakkah terluka pada dada bila hati sampai
menjiksa mata o, segala jang rindu dibukit ini
kenallah tanah pengasingan tempat tjita-tjita menjala
kenallah damai kepandjangan tempat rupa
bertukar tangkap
akulah jang berdjalan menjendiri
atas tanahmu jang begitu asri pantaimu jang lepas-lepas dan ombak jang bermain bebas antarkan dan tautkan segala jang ada pada dada pada bumiku seberang sana akulah jang menjepi diatas tanah pembangunan ini bila disegala sisi dan kehidupan tjuma nestapa dan keperihan kutatap djauh membukit, keair jang menghidjau kesegala lembah jang mendalam teriakkannja tjuma satu menjusur djalan hatiku pada bumi jang akan datang kami njanji matahari pagi tanda kemenangan pada diri oh, bukitkarang karang berdarah, kaulah orangnja jang pertama. Phyongyang, 31 Oktober 1958.