Baca PDF (OCR): Revolusi Angkatan Bersenjata dan PKI (PKI dan AURI II)

24 halaman · 24 halaman diproses dengan OCR· 66377 ms

Daftar isi
  1. 968 16
  2. REVOLUSI, ANGKATAN BERSENDJATA
  3. PARTAI KOMUNIS
  4. D.N.. AIDIT
  5. REVOLUSI,
  6. A2 210
  7. Djakarta, Djuni 1964
  8. Dengan meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninis-~
  9. Rakjat". Ini tidak mempunjai arti lain, ketjuali
  10. prador jang langsung merusak ekonomi sektor
  11. negara dan sektor swasta nasional patriotik. Me-
  12. penghisapa besar di-kota dengan agen² dan kaki-
  13. nja menjokong triprogram kabinet kerdja gaja
  14. djuga berdiri diatas kaki sendiri, dengan per-tamaa melaksanakan landreform jang radikal, jaitu men-
  15. djalankan program agraria PKI, jaitu pensitaan
  16. tanah tuantanah, pembagian tanah sitaan dengan
  17. Dengan demikian tenaga produktif didesa bisa di-
  18. prograı agraria PKI sekarang belum bisa diterima
  19. Tapi jang terdaftar baru kira" seperlima, dan dari
  20. jang tak berhak. Demikian pula keadaannja dengan
  21. gantung terutama pada bantuan Indonesia, tapi
  22. naan prograr sandangpangan, tapi djuga dalaı
  23. masih berperanan dalam kekuasaan politik sehing-
  24. 22723

第:T

968 16

REVOLUSI, ANGKATAN BERSENDJATA

PARTAI KOMUNIS

D.N.. AIDIT

REVOLUSI,

ANGKATAN BERSENDJATA & PARTAI KOMUNIS (PKI dan AURI) II

D.N. Aidit
Menko/Wakil Ketua MPRS/Ketua CC PKI

Jajasan Pembaruan” Djakarta 1964

A2 210

Sekedar Pengantar

Untuk kedua kalinja, pada tanggal 17 Maret 1964, Menko/ Wakil Ketua MPRS dan Ketua CC PKI D.N. Aidit telah memberikan tjeramah dihadapan para perwira AURI — kali ini dihadapan para mahasiswa Sekolah Staf Komando AURI (SESKOAU), Djakarta. Tjeramah jang diberi djudul Pe m b a n g u n- an PKI dan Revolusi Indonesia, dengan seizin pentjeramahnja dibukukan dengan nama Rev o lu si, Ang katan Bersendjata & Partai Komunis. Semoga penerbitan ini bisa sekedar memberikan sumbangan untuk lebih memperkuat tradisi per- satuan jang sudah lama ada antara PKI dan Angkatan Bersendjata umumnja dan AURI chu- susnja guna menjelesaikan tuntutan² Revolusi Agustus 45 dan untuk melaksanakan Triprogram Pemerintah jaitu : a. sandangpangan; b. pengga- njangan Malaysia", dan c. meneruskan pemba- ngunan. Penerbit

Djakarta, Djuni 1964

Int. Inștituut Soc. Geschiedenis Amsterdam

Saja menjambut baik dan menjatakan terima- kasih atas undangan jang diberikan kepada saja, baik sebagai Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia maupun sebagai Wakil Ketua MPRS untuk memberikan tjeramah dihadapan para perwira Sekolah Staf Komando AURI (SÉS-KOAU). Tjeramah saja hari ini bukan tjeramah untuk pertama kalinja dihadapan para perwira Angkatan Udara Republik Indonesia. Pada tanggal 5 April tahun 1963 saja telah memberi tjeramah kepada para perwira AURI, jang ketika itu saja beri djudul : Manipol-Usdek bukan hanja tidak bertentangan, bahkan sesuai dengan Marxisme. Tidak ber-lebih'an kalau saja katakan bahwa saling mengerti dan persatuan makin hari makin bertambah erat antara setiap Angkatan Bersen- djata Republik Indonesia, termasuk AURI, dengan berbagai golongan Rakjat Indonesia, termasuk kaum Komunis. Tradisi persatuan sudah dimulai sedjak berkobarnja Revolusi Agustus 1945 dan kemudian semua orang revolusioner berusaha keras untuk mengembangkannja. Sekarang sudah tidak dirasakan djanggal lagi bahwa pemimpin Komunis berbitjara menguraikan pendiriannja dihadapan perwira' Angkatan Ber- sendjata RÍ. Sebaliknja jang djanggal jalah ang- gapan jang mengira bahwa jang wadjar ini sebagai suatu kedjanggalan. Memang, jang lapuk selama-

nja menentang jang baru, tetàpi tentangan itu tidak menghentikan perkembangan jang baru. Sebaliknja mempertjepat proses pembusukan dari jang lama dan reaksioner itu sendiri. Tjeramah kali ini saja beri djudul: Pembangunan PKI dan Revolusi Indonesia. Sesuai dengan permintaan dalam surat Saudara', tjeramah ini akan mentjakup berbagai masalah seperti masalah sedjarah PKI, hubungan PKI dengan program bersama Manipol dan tugas² urgen PKI. Sudah tentu, mengingat sempitnja waktu, saja akan mem- batasi diri pada beberapa soal jang pokok dan penting sadja. Seperti jang sudah saja tegaskan baik dalam tjeramah saja di SESKÓAD (29 Djuni 1963) maupun di SESKOAL (16 Djuli 1963), satu²nja tjara jang tepat didalam membahas segala soai politik dan sosial haruslah dalam hubungan dengan Revolusi Indonesia. Djuga dalam usaha memahami PKI tidaklah bisa tepat apabila tidak dihubungkan dengan Revolusi Indonesia. PKI dan Revolusi Indonesia adalah dwitunggal jang tak dapat di- pisah²kan. Semakin kita memahami PKI, semakin djelas dan menjeluruh pengertian kita tentang Revolusi Indonesia. Demikian pula, semakin kita memahami Revolusi Indonesia, semakin terang dan mendalam pengertian kita tentang PKI. Lagi pula, hanja dengan demikian orang bisa terhindar dari segala matjam penjakit phobi²an, termasuk Komu

nisto-phobi, dan bisa dengan teguh mendjadi peserta aktif dalam Revolusi Indonesia. Tjeramah ini saja bagi dalam dua bagian: Jang pertama: Tentang Scal² Pembangunan PKI, dan jang kedua, Tentang Soal² Revolusi Indonesia.

I. TENTANG SOAL PEMBANGUNAN
PKI

Sebagaimana halnja dengan partai* revolusioner lainnja, PKI adalah sudah merupakan alat revolusi sebelum Revolusi Agustus 1945 petjah, sebelum kita mempunjai alat* revolusi lainnja seperti jang kita kenal sekarang ini. Walaupun para hadirin bukan arggota PKI. tetapi saja dengan segala senang hati memenuhi permintaan Sdr mengurai- kan tentang pembangunan PKI. Tiap warganegara Indonesia berhak mengetahui segalasesuatu tentang PKl, karena PKI adalah djuga milik nasion, dan bukan hanja milik kaum Komunis Indonesia. PKI adalah Partai klas buruh Indonesia, Partai käum Marxis Indonesia, jang didirikan pada tgl. 23 Mei 1920, sebagai perkembangan lebih landjut dari ISDV (Indische Sociaal Democratische Vere- niging atau PSDH Perhimpunan Sosial Demo- kratis Hindia), jaitu organisasi kaum Marxis jang pertama di Indonesia jang berdiri. dalam tahun

  1. Lahirnja PKI bukanlah gedjala kebetulan,

tetapi geijala objektif. PKI lahir dalam zaman imperialisme jang melahirkan klas buruh di Indonesia, PKł lahir sesudah ada serikatburuh² di Indonesia, lebih² sesudah ada ISDV, dan sesudah dunia terbelah mendjadi dua kubu, kubu sosialis dan kubu kapitalis dengan menangnja Revolusi Sosialis di Rusia tahun 1917. Ia merupakan pro- duk jang wadjar dari perkembangan perdjuangan klas ditanahair kita, dari perkembangan sedjarah masjarakat kita. Oleh karenanja kaum Komunis Indonesia sering mengatakan bahwa PKI adalah anak zaman jang lahir pada waktunja. Di-waktu* jang lalu ada orang* jang suka men- fitnah bahwa PKI adalah ,,barang import" atau ,,tidak asi". Pandangan sedemikian bukan hanja tidak benar menurut kenjataan sedjarah, tapi djuga samasekali tidak ilmiah. Kalau setjara objektif dan ilmiah klas burdjuis ketjil dan burdjuis nasional Indonesia memerlukan adanja partai² politik guna memperdjuangkan kepentingan politiknja, maka adalah djuga objektif dan ilmiah djika klas buruh Indonesia memerlukan PKI untuk memelopori perdjuangan bagi kepentingan politiknja. Dapat- lah kita bajangkan betapa terbelakangnja gerakan buruh dan gerakan Rakjat pekerdja Indonesia seandainja tidak ada PKI jang memelopori gerakan ini. PKI termasuk partai politik jang tertua diantara 10 partai politik jang ada dan sah sekarang ini. č

Sudah sedjak lahirnja PKI selalu merupakan ba- gian jang takterpisahkan dari gerakan kemerdeka- an nasional, dan selalu mengintegrasikan diri dengan gerakan Rakjat Indonesia. Apakah jang demikian itu ,barang import"? Tidak, PKI adalah anak kandung daripada tingkat tertentu perkembangan sedjarah Indonesia. Ini adalah kenjataan, betapapun disangkal, ia tetap kenjataan. Ketika kaum Komunisto-phobi jang kita kenal sekarang ini masih ingusan dan mungkin diantaranja ada jang sedang asjik menjembah pemerintah kolonial, atau mungkin belum lagi lahir, PKI sudah ber- djuang matian melawan kolonialisme untuk Indonesia jang merdeka dan berdaulat. Adjaran Marxisme-Leninisme jang mendjadi pedoman PKI adalah universil. Sebagaimana se- mua adjaran universil ia bisa mendapat tempat dimanapun didunia ini. Tetapi sebagaimana pula halnja dengan adjaran universil lainnja, ia hanja bisa berakar disesuatu negeri djika ia menginte- arasikan diri dengan pendurduk negeri itu. Dalam hal ini, mengenai PKI seudjung rambutpun tidak bisa diragukan. Bukan hanja dengan klas buruh. tetapi djuga dengan massa kaum tani dan Rakjat pekerdja lainnja, dan bahkan dengan seluruh na- sion, PKI sudah dan sedang mengintegrasikan dirinja. Dalam rangka pengintegrasian ini, PKI sudah dan sedang dengan berhasil meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, mewudjudkan kebe-

naran universil Marxisme-Leninisme mendjadi ke. benaran kongkrit dan kenjataan kongkrit di Indonesia. Perkembangan PKI hingga kini, pada pokoknja dapat dibagi dalam 4 periode sbb.: Periode I: periode pembentukan Partai dan perdjuangan melawan teror putih pertama (1920

1926). Periode II : periode perdjuangan dibawah ta- nah dan front anti-fasis (1926 1945). Periode III: periode Revolusi Agustus 1945 dan perdjuangan melawan teror putih kedua (1945
- 1951). Periode IV: periode front nasional dan pembangunan Partai (1951 sampai sekarang). Saja tidak bermaksud untuk menguraikan perkembangan PKI periode demi periode, tapi hanja akan menjebut beberapa soal jang penting. Selama Partai masih dalam masa kanak², Partai belum dapat memahami keadaan masjarakat Indonesia dan soal dari Revolusi Indonesia, dan djuga belum dapat menarik peladjaran dari pengalamannja sendiri. Makaitu ketika Revolusi Agustus 1945 petjah, PKI masih belum berhasil mendorong revolusi mentjapai kemenangan penuh. Tetapi sesu- dah PKI mengindjak mendjadi dewasa sedjak pembangunannja kembali dalam tahun 1951, dan terutama sekali sedjak Kongres Nasional Ke-V
PKl dalam bulan Maret tahun 1954, maka PKI berkat pandangannja jang tepat sudah mulai me- ngenal sifat masjarakat Indonesia dan dapat me- metjahkan setjara tepat soalª pokok Revolusi Indonesia sertà mulai menjimpulkan pengalamannja tentang front nasional, perdjuangan revolusioner bersendjata dan pembangunan Partai. Tahun 1951 telah mendjadi titikbalik bagi kehidupan PKI. Sedjak itu PKI telah dibangun kembali berdasarkan Konstitusi baru dan berdasarkan gerakan per- luasan organisasi dan anggota, jang disertai dengan pendidikan tentang Marxisme-Leninisme dan tentang soal° pokok Revolusi Indonesia. Ketjuali sebagai periode pembangunan Partai, periode sekarang ini bagi PKI adalah djuga periode pembangunan front nasional.

1) MENGENAI FRONT NASIONAL
Sedjarah gerakan kemerdekaan nasional Indonesia sendiri telah menundjukkan tentang mutlak perlunja persatuan nasional atau front nasional. PKI jakin, bahwa salahsatu faktor jang menentu- kan akan kemenangan perdjuangan pembebasan nasional Indonesia jalah adanja persatuan nasional revolusioner. Makaitu PKI dengan gairah menjam- but tulisan Bung Karno dalam tahun 1926 dengan djudul Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme" jang dimuat sebagai tulisan pertama dalam buku Dibawah Bendera Revolusi" dimana ditekankan tenitang perlunja persatuan antara kaum Nasional-

ıs, kaum Agama, chususnja Islam, dan kaum Marxis. Tahun 1926 tidak hanja telah dikenal sebagai tahun Pemberontakan Nasional bulan November 1926, tapi djuga sebagai tahun dirumuskan ide kegotong-rojongan dari 3 aliran besar di Indonesia, jaitu aliran* politik Nasionalis, Islam dan Marxis, embrio gagasan Nasakom. Kalau mau tahu akar sedjarah Pantja Sila, inilah permulaanmja! Ide gotongrojong jang menjatupadukan 3 aliran politik jang besar itu terus mendjiwai gerakan ke- merdekaan nasional. Hal ini tidak hanja terbukti dalam perdjuangan anti-fasis jang dipelopori oleh Gerindo (Gerakan Rakjat Indonesia) mendjelang perang dunia kedua, tapi djuga selama pendudukan Djepang. Djuga dalam masa perang dunia kedua dan masa bekerdja dibawah tanah, perdjuangan bangsa kita tetap berdasarkan persatuan nasional jang berporoskan Nasakom. Hal ini nampak dengan djelas pada waktu Bung Karno mengusulkan ide Pantja Sila sebagai alat pemersatu bangsa dan dasar daripada Republik Indonesia. Tentang inti Gotongrojong ini dikata- kan oleh Bung Karno sbb. : Djikalau saja peras lima mendjadi tiga dan jang tiga mendjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia jang tulen, jaitu perkataan Gotongrojong! Alangkan hebatnja Negara gotongrojong !" (Tubapi, hal.

29).
Gotongrojong jang mendjadi perasan dari Pantja Sila adalah terang Gotongrojong berporoskan Nasakom, karena Pantja Sila itu sendiri adalah alat jang mempersatukan 3 aliran besar, jaitu aliran Nasionalis, Islam dan Marxis sebagaimana jang dinjatakan Bung Karno dalam tahun 1926, atau 3 aliran besar seperti jang kita kenal seka- rang, jaitu Nasionalis, Agama dan Komunis. Djika golongan Nasionalis dalam Pantja Sila terutama diwakili oleh Sila Kebangsaan, golongan Agama terutama diwakili oleh Sila Ketuhanan Jang Maha Esa, maka golongan Komunis terutama divzakili oleh Sila Keadilan Sosial atau Sosialisme. Tetapi, seperti sering dikemukakan oleh Presi- den Sukarno Pantja Sila adalah alat pemersatu! Pantja Sila bukan alat pemetjah-belah! Dengan Pantja Sila kita djuga mempersatukan tiga aliran besar jang bernama Nasakom itu. Djadi djangan mempergunákan Pantja Sila untuk mengadudomba antara kita dengan kita. Djangan mempergunakan Pantja Sila untuk memetjah-belah Nasakom, mem- pertentangkan kaum Nasionalis dengan kaum Agama, kaum Agama dengan kaum Komunis. kaum Nasionalis dengan kaum Komunis". (Re- sopim). Kaum Komunis Indonesia menjatakan dengan tegas .siapa setudju Pantja Sila harus setudju Nasakom, dan sebaliknja siapa setudju Nasakom harus setudju Pantja Sila". (Laporan Politik ke- pada Sidang Pleno II CC PKI).

Makaitu kalau ada tindakan* jang berusaha memrétéli Pantja Sila se-enaknja sendiri, menurut selera sendiri", seperti perbuatan orang jang kepalanja sinting", untuk memindjam kata Bung Karno, maka tindakan demikian adalah kontra- revolusioner dan harus ditentang dan ditindak! Pengalaman menundjukkan, bahwa djika kita setia pada UUD 1945, termasuk djuga setia pada Pantja Sila, maka adjaran gotongrojong jang berporoskan Nasakom bisa dipertahankan, diperdju- angkan dan dilaksanakan. Tapi djika kita meninggalkan UUD 1945, dan mengchianati Pantja Sia termasuk mengchianati kegotongrojongan nasional jang berpəroskan Nasakom, maka persatuan nasional bisa petjah dan dajadjuang Rakjat anti-imperialis dan anti-feodal untuk menjelesaikan tuntutan* Revolusi Indonesia mendjadi dapat di- patahkan. Dalam sedjarah gerakan revolusioner hal ini dibuktikan oleh Peristiwa Madiun tahun 1948, jang ditjiptakan oleh kaum imperialis dan partaia pembantunja, ketika itu Masjumi dan PSI, jang didalangi oleh Hatta, Natsir, Sjahrir dan antek*nja jang telah lama meninggalkan UUD 1945, meninggalkan kegotongrojongan nasional, dan berusaha dengan melakukan pukulan terha- dap kaum Komunis dan gerakan revolusioner umumnja, untuk memudahkan kòmpromi. Sedang- kan kaum nasionalis dan kaum agama jang dju- djur tidak diuntungkan oleh Peristiwa Madiun

tersebut. Perlu saja tegaskan, bahwa djika sean- dainja ketika itu UUD 1945 berlaku sebagaimana mestinja, terutama sekali djika kekuasaan penuh ada dalam tangan Presiden Sukarno, Peristiwa Madiun tidak akan terdjadi. Sedjak kita kembali ke UUD 1945 dalam tahun 1959 dan sedjak Manipol mendjadi Garis Besar Haluan Negara RI, maka terdapat dasar jang lebih kokoh bagi perkembangan persatuan nasional. PKI akan terus bergiat memperluas front persatuan nasional baik lewat Front Nasional, lewat kegiatan-kegiatan persatuan nasional berporoskan Nasakom, maupun lewat pengokohan persekutuan buruh dan tani, jaitu basis dari front persatuan nasional atau sebagaimana dikatakan Presiden Sukarno: sokoguru Revolusi Indonesia. Kaum Komunisto-phobi sering sok-tahu dan memfitnah: bahwa kaum Komunis jang berfilsafat materialis tidak mungkin ménerima Pantja Sila, karena sebagai materialis, kata mereka, tidak mungkin menerima sila Ketuhanan Jang Maha Esa. Pertama: kaum Komunisto-phobi itu berusaha memrétéli Pantja Sila dengan hanja mengambil satu sila sadja, jaitu sila Ketuhanan Jang Maha Esa. Padahal kalau dibiarkan setiap golongan memrétéli Pantja Sila, ia bukan lagi alat pemersatu. Kaum Komunis menentang pemrétélan atau pe- misahan sila² Pantja Sila. Pantja Sila harus dite- rima sebagai kesatuan, dan hanja djika -demikian

la tidak bisa lain daripada alat pemersatu. (Meng- ingat sila Ketuhanan J.M.E. dalam Pantja Sila, kaum Komunis Indonesia setjara sukarela menerima ketentuan bahwa berdasarkan Pantja Sila tidak boleh dilakukan propaganda anti-agama di Indonesia. Difihak lain, berdasarkan 4 sila lainnja. sudah selajaknja pula fihak kaum agama menerima ketentuan bahwa berdasarkan Pantja Sila di Indonesia tidak boleh dilakukan paksaan beragama. Kedua: Kaum Komunis, jang berfilsafat materialis, berpandangan dunia jang bertitiktolak dari kenjataan objektif, tidak dari fikiran atau ide sub- jektif. Tidak bişa dimungkiri bahwa lima sila dari Pantja Sila itu mentjerminkan kenjataan objektif, mentjakup kepentingan semua golongan Rakjat Indonesia, seperti sila Ketuhanan Jang Maha Esa ātau monotheisme, sila Perikemanusiaan atau In- ternasionalisme, sila-Kebangsaanatáu Nasionalis- nie/Patriotisme, sila Kerakjatan atau Demokrasi dan sila Keadilan Sosial atau Sosialisme. Dalam proses sedjarah gerakan nasional di Indonesia silaª ini mentjerminkan kenjataan objektif dan jang setjara keseluruhannja sebagai kesatuan harus di- terima dan didjadikan alat pemersatu dalam perdjuangan revolusioner. Makaitu kaum Komunis jang berfilsafat materialis, jang bertitiktolak dari kenjataan objektif, bisa menerima dan memper- djuangkannja dengan gigih sebagai alat pemersatu kekuatan nasional jang revolusioner.

2) MENGENAI PEMBANGUNAN PKI
Berbitjara tentang pembangunan PKI tidak bisa terlepas dari kemadjuan front persatuan nasional. Pembangunan Partai dan front persatuan nasional erat berhubungan satu sama lain dan saling mem- pengaruhi kemadjuannja, lebih' setelah PKI mem- punjai Konstitusi jang tepat sedjak tahun 1951 dan program jang tepat jang disahkan oleh Kongres Nasional V PKI tahun 1954 dan terus-menerus disempurnakan sesuai dengan perkembangan ke- adaan. PKI telah berkembang dalam perdjuangan melaksanakan programnja jang konsekwen anti-im- perialis dan anti-feodal jang senantiasa disertai dengan gerakan², baik gerakan tentang perluasan anggota maupun gerakan pendidikan Marxisme-Leninisme dalam Partai. Salahsatu pengalaman penting dalam pembangunan PKI jalah pengalaman bekerdja dengan Plan, jang sedjak tahun 1951 telah mendjadi kebiasaan dalam tjarakerdja Partai. Pengalaman kami menundjukkan bahwa bekerdja -dengan Plan bukan hanja mungkin, tapi djuga harus, bekerdja dengan Plan mendjauhkan kita dari tjarakerdja spontan dan mendjamin kesiapsediaan Partai melaksanakan tugasnja. Plan mendjamin bahwa kita selalu melakukan pekerdjaan se-hari* dan membikin aktivitet Partai tidak mungkin ter- henti oleh sebab* apapun. Pada waktu di-daerah meletus pemberontakan kontra-revolusioner .PR-

RI-Permesta" dalam tahun 1958, banjak orang Komunis jang ditangkap dan dibunuh, seperti di Sumatera Barat, tapi organisasi PKI tidak patah, ia melakukan perlawanan jang gigih terhadap kaum pemberontak bersama dengan alat" negara dan meneruskan pembangunan Partai dengan ber-Plan. PKI telah menjelesaikan dua kali Plan jang berdjangka pandjang, jaitu Plan Tiga Tahun Per- tama mengenai Organisasi dan Pendidikan (1956 —1959) dan Plan Tiga Tahun Kedua mengenai Pendidikan dan Organisasi (1960 1963). Pendidikan Partai telah dilakukan dari tingkat Central sampai keorganisasi-organisasi basis, sedangkan pendidikan itu digabungkan dengan tugasª Partai pada masa tertentu serta dengan tugas penelitian (research). PKI menekankan-bahwa pembangunan organisasi adalah penting, tapi pembangunan ideologi adalah lebih penting lagi. Disemua tingkat Sekolah Partai diberi pendidikan tentang prinsip fundamentil Marxisme-Leninisme terutama lewat matapeladjaran Materialisme Dialektik dan Histori (MDH) dan Ekonomi Politik Marxis (EPM) jang bertudjuan untuk membentuk dan-memper- kokoh pendirian, pandangan dan metode klas bu ruh, memperkuat ideologi klas buruh. Disamping MDH dan EPM, pada semua tingkat sekolah Partai diberi peladjaran tentang Gerakan Buruh Internasional (GBI) jang bertudjuan untuk mem-

pertebal pendidikan patriotisme revolusioner dan internasionalisme sesialis. Mata peladjaran jang paling pokok jalah tentang Soal Revolusi Indo nesia (SRI) jang sesuai dengan Manipol. Semua matapeladjaran adalah vntuk membantu.memahami setjara tepat Soal Revolusi Indonesia, agar dapat dengan lebih baik lagi mengabdi pada Revolusi Indonesia. Hasil terbesar dari pembangunan Partai hingga kini jalah kebulatan fikiran Marxisme-Leninisme dikalangan· kaum Komunis Indonesia. Kebulatan fikiran ini tidak hanja mengenai soal* Revolusi Indonesia, tetápi djuga mengenai semua politik dan kebidjaksanaan jang didjalankan oleh CC, mengenai soal* politik dalamnegeri dan soal politik luarnegeri, termasuk soala Gerakan Komunis Internasional. PKI telah mendjadi Partai Marxis-Leninis jang beranggotakan lebih dari duasetengah djuta, dan merupakan Partai Komunis jang terbesar diluar kubu sosialis, Partai Komunis nomor tiga besarnja diceluruh dunia, salahsatu partai besar didalam-negeri, sudah tersebar diseluruh negeri serta ter- konsolidasi dibidang politik, organisasi dan ideologi. Pada umumnja para anggota PKI kini telah terdidik dalam pandangan, pendirian, metode dan semangat Marxis-Leninis. Dengan pimpinan kaum Komunis Indonesia telah diorganisasi lebih dari 312 djuta kaum buruh dalām serikatburuh² revo- lusione: dan lebih dari 7 djuta kaum tani didalam

organisasi massa tani revolusioner (BTI). Dengan demikian pada pokoknja PKI telah berhasil meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme jang pada hakekatnja mengintegrasikan PKI. jang Marxis-Leninis dengan kaum tani. Sedjak 17 Agustus 1963 PKI sedang melaksanakan Plan Empat Tahun mengenai Kebudajaan, Ideclogi dan Organisasi, jang mentjakup tugasa jang mendesak di-bidangª tsb. bagi pembangunan Partai dan tentu akan memberi pengaruh jang besar bagi kemadjuan gerakan revolusioner di Indonesia. Demikianlah dengan singkat tentang soala pembangunan PKI, jang sesuai dengan permintaan Sdr., dengan segala senang hati telah saja urai- kan. Djika ingin tahu lebih banjak tentang pembangunan PKI, para Sdr. saja persilahkan mem- peladjari dokumen' PKI. Djika dibanding dengan partai politik lain, PKI adalah. Partai jang paling banjak mengeluarkan dokumen jang menerangkan kehidupan internnja. Ini tidak bisa lain, karena PKI disamping Partai kader, adalah Partai massa, oleh karena itu segalasesuatu harus tjepat dike- tahui oleh massa anggota jang luas dengan djalan mengumumkannja. II. TENTANG SOAL REVOLUSI INDONESIA Revolusi Agustus 1945, meskipun merupakan revolusi jang tuntutan²nja belum selesai, telah mem-

beri peladjaran² penting kepada Rakjat Indonesia. Ia telah menundjukkan bahwa adalah sangat penting bagi kita untuk mengenal baik sifat ma- sjarakat Indonesia agar mengenal baik pula soalª pokok revolusi Indonesia, jaitu sasaran revolusi, tugas° re olusi, kekuatan revolusi dan kekuatan² pendorong revolusi, sifat revolusi dan perspektif atau haridepan revolusi. Indonesia. Begitu banjak peladjaran jang diberikannja. Sungguh benarlah utjapan Lenin, bahwá ,,setiap bulan dari masa se- demikian adalah sama dengan seluruh tahun per- kembangan 'damai', 'konstitusionil'." Revolusi Agustus '45 djuga memberi petundjuk tentang mutlak perlunja front persatuan nasional jang berbasiskan persekutuan buruh dan tani dan jang dipelopori oleh klas buruh, tentang mutlak perlunja Partai Marxis-Leninis, jaitu PKI, jang erat berhubungan dengan massa, tersebar diseluruh negeri dan terkonsolidasi dilapangan organisasi, politik dan ideologi, dan bahwa dalam revolusi per- djuangan bersendjata Rakjat adalah bentuk per- djuangan jang terpenting dalam mengalahkan im- perialisme dan kaum kontra-revolusioner. Salahsatu peladjaran jang terpenting dari revolusi Agustus jalah bahwa djika revolusi nasional dan demokratis di Indonesia hendak mentjapai kemenangan, maka PKI-harus mampu memadukan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, PKI harus

meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme. Proses meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme sudah berdjalan sedjak PKI berdiri (1920), dan bahkan sedjak ISDV (1914), tetapi pemahkotaannja baru dalam tahun 1954 (Kongres Nasional ke-V PKI) dan proses ini masih berdjalan terus.

Dengan meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninis-~

me, klas buruh dan Rakjat pekerdja Indonesia mendapat sendjata ampuh ditangan dalam per- djuangannja untuk Indonesia jang merdeka penuh dan demokratis melawan imperialisme dan sisa feodalisme sebagai landasan untuk menudju ke Sosialisme. Dalam bukunja The National-Liberation Mo- vement in the East", W.I. Lenin djuga pernah "menekankan dihadapan para Komunis negeria Timur, bahwa mereka dengan bersandarkan teori dan praktek umum Komunisme ,harus menjesuaikan diri pada sjarat* chusus jang tidak ada di-negeri* Eropa dan harus tjakap mentrapkan teori dan praktek itu pada sjarat* dimana djumlah jang sa- ngat terbanjak dari penduduk adalah kaum tani". Kaum Komunis, di-negeri Timur, demikian Lenin selandjutnja, harus ,meniterdjemahkan adjaran
Komunis jang sedjati .... kedalam bahasa tiapª

Rakjat". Ini tidak mempunjai arti lain, ketjuali

bahwa kaum Komunis Indonesia harus meng-Indonesia-kanMarxisme-Leninisme.

1) TENTANG SIFAT MASJARAKAT INDONESIA DAN SOAL POKOK REVOLUSI INDONESIA Memahami sifat masjarakat Indonesia berarti memahami kenjataan² objektif mengenai susunan ekonomi, politik dan kebudajaan negeri kità. Mes- kipun Republik Indonesia sudah berumur hampir 19 tahun, ada Kabinet Kerdja susunan, baru, ada MPRS dan DPRGR jang berporoskan serta dengan pimpinan Nasakom, ada Angkatan Bersen- djata jang- anti-imperialis, kita senantiasa bisa mempersoalkan apakah dalam politik RI sudah sepenuhnja berdaulat, apakah dalam ekonomi RI sudah sepenuhnja berdiri diatas kaki sendiri, apakah dalam kebudajaan RI sudah sepenuhnja ber- kepribadian nasional. Tidak bisa dibantah bahwa kenjataan² dibidang ekonomi di Indonesia menundjukkan bahwa kaum imperialis terutama imperialis Amerika Serikat, masih bertjokol ditanahair kita, masih menguasai kehidupan ekonomi kita, terutama dibidang perminjakan. Dengan mentjengkramnja kapital mono- poli AS dalam bentuk lama, terutama dibidang perminjakan, maupun dalam bentuk baru seperti pensalahgunaan prinsip° production sharing", ter~ selenggaranja -,,joint venture" dsb., mereka me- nguras kekajaan alam kita, memeras tenaga kerdja Rakjat kita dan mempertahankan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan sebagai pasar bagi barang dagangan imperialis, jang kesemuanja ini

menghambat perkembangan ekonomi Indonesia dan membikin ekonomi Indonesia mendjadi sangat ter- gantung pada sistim dunia kapitalis. Pada tahun 1952 penanaman modal AS ditaksir berdjumlah $ 350 djuta. Kemudian ditambah dengan penanaman modal AS di-perusahaan* minjak bumi (me- liputi Shell, Stanvac, Caltex) tak kurang dari $ 171 djuta, dan apa jang disebut ,,bantuan ekonomi" AS sedjumlah $ 639 djuta (keterangan duta- besar AS, H. Jones), merupakan bentuk neo- kolonialisme AS dibidang ekonomi. Selandjutnja sekarang sudah diketahui umum bahwa peraturan 26 Mei 1963", jang bertentangan dan bahkan terangan mensabot Dekon, sebagai akibat politik reaksioner dari unsur* anti-Rakjat dalam Kabinet Kerdja susunan lama, akibat politik tunduk pada program stabilisasi ekonomi" a'la Amerika Seri- kat, menurut keterangan WPM I Dr. Subandrio dimuka DPRGR pada tgl. 11 Desember 1963, telah díkeluarkan dengan harapan akan bantuan dari luarnegeri beberapa ratus djuta dollar". Disamping itu kekurangadjaran kaum imperialis AS untuk terus menggerowoti ekonomi Indonesia dan meng- antjam kedaulatan RI, a.l. dengan memasukkan Armada ke-VII AS kedaerah perairan Samudera Indonesia, dan tjampurtangan imperialis AS dalam perdjuangan Indonesia mengganjang Malaysia", membenarkan pendirian kita, bahwa imperialis AS telah mengganttkan imperialis Belanda sebagai

musuh nomor satu dan paling berbahaja dari Rakjat Indonesia. Disamping imperialisme jang mengangkangi ke- hidupan ekonomi Indonesia berlangsung pula ke- giatan kaum kapitalis bírokrat dan burdjuasi kom-

prador jang langsung merusak ekonomi sektor

negara dan sektor swasta nasional patriotik. Me-

rekalah OKBª (Orang² Kaja Baru) dan OKM? (Orangª Kaja Mendadak) jang tampil sebagai

penghisapa besar di-kota dengan agen² dan kaki-

tangan-kakitangannja di-desa. Sedangkan kenjataan di-desa* menundjukkan bahwa hubungan agraris disamping pengaruh imperialis jang menguasai perkebunan (karet, tem- bakau, kopi, kopra, dsb.) masih terdapat hubungan-hubungan ekonomi jang bersifat feodal, dan kaum tani, terutama kaum buruhtani dan tanimis- kin, hidupnja dalam keadaan melarat dan tergan- tung pada tuantanah feodal. Kenjataan ini dise- babkan berhubung dengan masih adanja hak mo- nopoli tuantanah atás milik tanah jang dikerdjakan kaum tani jang tak bertanah, pembajaran sewatanah dalam udjud barang hasil panen kepada tuantanah, adanja sistim sewatanah dalam bentuk kerdja ditanah tuantanah. dan adanja tumpukan hutang jang menempatkan kaum tani dalam ke- dudukan budak terhadap pemilik tanah dan terhadap lintah darat. Djadi, sisaa feodalisme tídak identik dengan sisa* kaum ningrat, seperti jang

sering disalahartikan."Penghisapan setjara feodal bisa dilakukan, dan dilakukan dengan ganas, oleh seseorang tuantanah-jang setetespun tidak mem- punjai darah ningrat". Meskipun aksi massa revolusioner kaum tani dan perdjuangan kaum revolusioner dalam DPRGR telah menghasilkan UUPA dan UUPBH, namun pelaksanaan undang' tsb, mengalami banjak sa- botase dan realisasinja sangat lambat atau matjet samasekali. Sebenarnja UUPA baru membatasi dan belum sampai menghapuskan sistim tuantanah dan penghisapan feodal di-desa". Kenjataan-kenjataan di-bidang ekonomi tsb. djuga tertjermin dibidang politik dan kebudajaan. Tidak bisa dibantah bahwa kaum imperialis dengan keras berusaha untuk tjampurtangan dalam urusan politik, seperti dalam politik konfrontasi dengan Malaysia", dalam pembebasan Irian Ba- rat, dalam penjelenggaraan Asian Games dan Ganefo, dalam politik pembangunan dsb., dsb. Disamping itu djelas, bahwa pengaruh kaum imperialis dan kaum feodal dibidang kebudajaan masih tjukup besar di Indonesia, sepenti terbukti dari persentase jang tinggi (sampai 90%) dari pemutaran film² AS di Indonesia, beredarnja penerbitan-penerbitan dan lagu' jang membawa pan- dangan, pendirian dan selera imperialis, dsb., dsb. Berdasarkan kenjataan* tsb. dapat diambil ke- simpulan bahwa siat masjarakat Indonesia masih

belum merdeka penuh dan masih setengah-feodal. Kata‘ ,,belum merdeka penuh" menundjukkan bahwa disatu fihak Indonesia bukan negeri jang tidak merdeka, tetapi difihak lain menundjukkan bahwa Rakjat Indonesia masih harus berdjuang untuk merebut kemerdekaan jang penuh baik dilapangan ekonomi, politik maupun kebudajaan, untuk penje- lesaian revolusi nasional dan demokratis. Dengan demikian mendjadi djelaslah tentang soal pokok reolusi Indonesia sbb.: tentang sa- saran revolusi, jaitu imperialisme dan feodalisme beserta pembantunja kaum kapitalis komprador dan kaum kapitalis birokrat, sedang musuh nomor satu revolusi jalah imperialisme ÀS jang djuga merupakan musuh Rakjat sedunia; tentang tugas revolusi, jaitu melawan dengan gigih dan menum- bangkan kekuasaan imperialisme " dan feodalisme untuk mendirikan kekuasaan Rakjat; tentang kekuatan revolusi, jaitu semua golongan Rakjat jang dirugikan imperialisme dan feodalisme, jaitu klas Suruh, kaum tani, burdjuasi ketjil dan burdjuasi -asional; tentang kekuatan pendorong revolusi, jaitu klas buruh, kaum tani dan burdjuasi ketjil jang konsekwen melawan imperialisme dan feodalisme; tentang sifat revolusi, jaitu revolusi nasional dan demokratis, sebagai tahap pertama revolusi Indonesia; dan tentang perspektif revolusi Indonesia, jaitu Sosiálisme, sebagai realisasi tahap ke- dua revolusi Indonesia.

Mengenal soal* pokok revolusi Indonesia dengan sederhana dapat dirumuskan: 1, 1, 2, 3, 4, atau do, do, re, mi, fa, jaitu: 1 jang pertama = satu-kekuatan pelopor, jaitu klas buruh; 1 jang kedua = satu kekuatan pokok revolusi, jaitu kaum tani; 2 = dua kekuatan jang mendjadi basis front persatuan nasional, jaitu klas buruh dan kaum tani; 3 = tiga kekuatan pendorong revolusi, jaitu klas buruh, kaum tani dan burdjuasi ketjil; 4 = empat kekuatan revolusioner front nasional, jaitu klas buruh, kaum tani, burdjuasi ketjil dan burdjuasi nasional.

2) TENTANG MANIPOL DAN PROGRAM PKI Manifesto Politik RI atau Manipol, jaitu Pidato
Presiden Sukarno pada tgl. 17 Agustus 1959, dengan perintjiannja oleh DPA beserta pedoman pelaksanaannja, seperti pidatoª Djarek, Resopim, Takem, Dekon, dll., telah disahkan sebagai Garis Besar Haluan Negara RI oleh Sidang pertama MPRS. Manipol haruslah diartikan keseluruhannja, jang djika diringkas tertjakup dalam ,,9 Wedjangan" Bung Karno mengenai: 1) Revolusi; 2) Pantja Sila dan Progresiisme; 3) Kepribadian Indonesia jang berpusat kepada gotongrojong, musjawa- rah dan mufakat; 4) Persatuan nasional revolusioner; 5) Memberantas Komunisto-phobi; 6) Mu- tlak-perlunja poros Nasakom; 7) Djahatnja libe- ralisme: 8) Perlunja satu pimpinan nasional; dan

9) Sosialisme. Sembilan wedjangan ini adalah pe- rasan daripada semua bahan pokok indoktrinasí dan harus mendjadi milik bersama Rakjat Indonesia, termasuk milik Angkatan Bersendjata. Disamping program pemerintah dan program angkatan bersendjata, Manipol djuga program partai", ormas dan perseorangan, pendeknja program dari front nasional. Tiap partai dan ormas mempunjai programnja sendiri, tapi semua harus melaksanakan program bersama, Manipol. Selandjutnja Manipol djuga menegaskan sifat dan program revolusí Indonesia, jang terdiri dari 2 tahap jaitu pertama, tahap mentjapai Indonesia jang merdeka penuh, bersih dari imperialisme dan sisa* feodalisme. Tahap ini masih harus diselesai- kan dan disempurnakan, kedua, tahap mentjapai Indonesia ber-sosialisme Indonesia, bersih dari ka- pitalisme dan dari exploitation de l'homme par l'homme. Tahap ini hanja bisa dilaksanakan dengan sempurnà setelah tahap pertama sudah di- selesaikan seluruhnja". (..Djarek", dalam Tubapi halaman 171-172). Dari uraian tsb. djelaslah bahwa Manipol jang lahir pada tahun 1959, 5 tahun jl., lahir dari kan- tjah perdjuangan Rakjat Indonesia melawan imperialisme dan feodalisme. Program PKI jang telah disahkan oleh Kongres Nasional ke-V tahun 1954, sepuluh tahun jang lalu, dan disempurnakan dalam Kongres Nasional ke-VI dan ke-VII adalah program jang konsekwen anti-imperialis

dan anti-feodal. Karena itu ada hubungan jang sangat erat antara Manipol dengan program PKI, Pangkal persamaan jalah mengenai strategi umum revolusi Indonesia. Baik program PKI maupun Manipol mengakui adanja 2 tingkat atau 2 taha revolusi Indonesia, tahap revolusi nasional-dem kratis dan tahap revolusi sosialis. Makaitu kaum Komunis Indonesia mengatakan bahwa melaksanakan Manipol setjara konsekwen adalah sama halnja dengan melaksanakan program PKI, kaum Komunis Indonesia harus senantiasa konsekwen dan mendjadi teladan dalam melaksanakan Manipol. Hanja kaum Manipolis-munafik dan kaum reaksioner jang berusaha menghambat dan mensabot Manipol. Tidak bisa dibantah, bahwa semakin baik pelaksanaan program PKI, semakin lantjar pelaksanaan Manipol, dan semakin konsekwen Manipol dilaksanakan, semakin lantjar pelaksanaan prógram PKI. Tetapi antara program PKI dengan Manipol djuga ada perbedaannja. Manipol adalah program bersama dari Rakjat untuk penjelesaian revolusi Indonesia, program Front Nasional, sedangkan program PKI adalah program klas buruh untuk penjelesaian revolusi Indonesia pada tingkat sekarang. Perbedaan terpenting jalah dalam hal pimpinan vevolusi. Program PKI menundjukkan dengan tegas bahwa pimpinan revolusi harus berada ditangan klas buruh bila ingin mentjapai tudjuan-

nja. Tentu tidak dapat diharapkan adanja peru- musan demikian dalam Manipol. Tentang ini kaum Komunis dapat memahami sepenuhnja. Tetapi, walaupun demikian, dalam Manipol di- njatakan perlunja ada satu pimpinan nasional jang berdjiwa Manipol, dan bahwa kaum buruh dan kaum tani adalah sokoguru revolusi. Ada orang jang menuduh, se-olah² PKI tidak mengakui adanja satu pimpinan nasional dengan mengadjukan pimpinan klas buruh". PKI sebagai partai klas buruh tentu mengadjukan ,pimpinan klas buruh", jaitu pimpinan ideologi klas buruh, ideologi revo- lusioner anti penghisapan atas manusia oleh manusia. Sedangkan jang diartikan pimpinan nasional jalah pimpinan jang berdjiwa Manipol. Karena pelaksanaan Manipol setjara konsekwen adalah sama halnja dengan pelaksanaan program PKI, maka pengadjuan masalah pimpinan klas buruh tidaklah bertentangan dengan penerimaan PKI terhadap perlunja ada satu pimpinan nasional dan pimpinan Bung Karno jang Manipolis. Demikianlah keterangannja, mengapa kaum Komunis Indonesia dalam melaksanakan program Manipol harus berdiri dibarisan depan dan sungguh-sungguh bertekad untuk mendjadi teladan.

3) TENTANG PKI DAN PROGRAM KABINET
KERDJA Mendjelaskan tema ini sekaligus berarti setjara singkat mengutarakan taktik² PKI sekarang, baik

dalam menghadapi politik dalamnegeri maupun politik luarnegeri Pemerintah RI. Dalam Sidang Pleno II CC PKI achir tahun jang lalu sikap PKI sudah dikemukakan se-terangª-

nja menjokong triprogram kabinet kerdja gaja

baru: a) Sandangpangan; b) pengganjangan Malaysia", dan c) meneruskan pembangunan.

a). PKI sudah lama berpendirian bahwa untuk
memetjahkan masalah sandangpangan, kita harus

djuga berdiri diatas kaki sendiri, dengan per-tamaa melaksanakan landreform jang radikal, jaitu men-

djalankan program agraria PKI, jaitu pensitaan

tanah tuantanah, pembagian tanah sitaan dengan

tjuma* kepada kaum tani penggarap dan anggota keluarganja seorangª sebagai milik perseorangan.

Dengan demikian tenaga produktif didesa bisa di-

bebaskan, dan produksi bisa ditingkatkan. Tapi

prograı agraria PKI sekarang belum bisa diterima

oleh burdjuasi nasional. Karena itu dilahirkanlah UUPBH (Undangª Perdjandjian Bagi Hasil) dan UUPA (Undang² Pokok Agraria), jaitu undang jang membatasi milik tanah tuantanah. Tapi pelaksanaan kedua Undang* ini sangat lambat dan matjet. Fihak resmi menjatakan bahwa berdasar- kan UUPA sebanjak 1 djuta ha harus dibagikan.

Tapi jang terdaftar baru kira" seperlima, dan dari

jang seperlima baru 9% jang dibagikan, dan dari jang 9% ini lebih dari separoh djatuh ketangan

jang tak berhak. Demikian pula keadaannja dengan

pelaksanaan UUPBH. Makaitu adalah adil apa- bila kaum tani melaksanakan gerakan aksi-sefihak, jaitu melaksanakan UUPBH dan UUPA tanpa menunggu-nunggu kesediaan tuantanah jang terus-menerus mensabot pelaksanaan kedua undang² tsb. PKI berpendirian bahwa pelaksanaan UUPBH dan UUPA setjara konsekwen adalah tindakan revolusioner jang menguntungkan pemerintah, ti- dak hanja dapat mempertjepat pelaksanaan undang-undang jang semestinja di Djawa sudah se- lesai dalam tahun 1963, tapi djuga memberi dasar kepada pemerintah untuk dapat mensukseskan program sandangpangan Kabinet Kerdja. Dalam pada itu PKI menjokong tuntutan kaum tani sbb. : 1) Panitia Landreform supaja berporos- kan Nasakom, 2) Rituling Personalia Djawatan Agraria; 3) Pengadian Landreform supaja diben- tuk dengan ikutsertanja kaum tani.

b). Dalam melaksanakan program pengganja-
ngan "Malaysia" PKI berpegang teguh pada pendirian bahwa mengganjang Malaysia" adalah ,,a matter of principle" dan bahwa konfrontasi total dengan ,Malaysia" meneguhkan kedaulatan R.I. menghantjurkan intervensi neo-kolonialisme Ing- gris jang disokong oleh imperialisme AS. PKI menentang pendirian reformis dalam menghadapi Malaysia", jang buru bersikap sedia mengakui apa jang dinamakan Malaysia". Me- reka berdalih se-olah" kalau terus berkonfrontasi

dengan ,Malaysia" Indonesia akan ambruk ka- reņa kesulitan² ekonomi dalamnegeri. PKI djuga menentang pendirian avonturis dalam menghadapi ,Malaysia", jaitu pendirian kaum Bonapartis jang mau buru* menjerbu daerah Kalimantan Utara untuk mengobarkan peperangan didaerah ini dan siap' keluar sebagai pemenang dan pembebas Kalimantan Utara. Perdjuangan kemerdekaan Rakjat Kalimantan Utara tidak ter-

gantung terutama pada bantuan Indonesia, tapi

terutama tergantung pada Rakjat Kalimantan Utara sendiri. PKI berpendirian bahwa perdjuangan mengganjang Malaysia" harus dilaksanakan terus setjara re:olusicner dan dengan penuh kejakinan bahwa Indonesia tidak akan ambruk karena kesulitan ekonomi, tapi Indonesia akan keluar dari konfron- tasi dengan kemenangan, djika kita :

  1. terus mengkonsolidasi· front anti-,,Malay-
    sia" didalamnegeri dengan djalan setjara konsek- wen melakukan perdjuangan anti-imperialis dan anti-feodal, melaksanakan landreform, meneruskan pengambilalihan perusahaan² Inggris, memperkuat ekonomi negeri, melawan neo-kolonialisme disemua bidang ekonomi dan melaksanakan kegotongro- jongan nasional berporoskan Nasakom disegala bidang.

  2. terus memperkuat front anti-,Malaysia"
    didaerah Malaja, Singapura dan Kalimantan Uta-

ra, mengakui Pemerintah NKKU dibawah pimpin- an Perdana Menteri Azahari dan membantu perdjuangan sukarelawan² melawan kekuasaan neo-kolonialisme Malaysia".

  1. terus menggalang front internasional anti-
    Malaysia" dengan menarik kekuatan NEFO lainnja mengganjang ,Malaysia", dengan terus meningkatkan solidaritet internasional membantu Rakjat Kalimantan Utara dan memboikot ,Malaysia". Hal ini bisa dikembangkan antara lain dengan melaksanakan Konferensi Bandung ke-II. Dari uraian diatas djelaslah bahwa perdjuangan mengganjang Malaysia" tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaan program sandangpangan dan program pembangunan. PKI menjambut hangat seruan Presiden Sukarno kemarin (16-III-64) untuk mengadakan gerakan sukarelawan guna mengganjang lebih hebat .,Malaysia". Dalam tjeramah saja dihadapan Univer- sitas Indonesia semalam, saja djuga telah menje- rukan agar pemudaa dan mahasiswa" berdujun- dujun mendaftarkan diri sebagai sukarelawan.

c). Dalam menghadapi program meneruskan
pembangunan, PKI berpendapat bahwa kuntjinja terletak djuga pada pelaksanaan landreform, pada pembebasan tenaga produktif di-desa, sehingga dapat mensukseskan tidak hanja dalam pelaksa-

naan prograr sandangpangan, tapi djuga dalaı

pembangunan. Dalam hubungan dengan ini djuga penting masalah penetapan titikberat pembangunan, jaitu mengutamakan pembangunan dibidang jang vital, jang langsung dapat memberi sumbang- an pada pengembangan sektor pertanian dan per- kebunan, pendeknja pada pelaksanaan Dekon setjara konsekwen. Menaikkan produksi adalah ke- harusan, dan ini hanja mungkin djika ,,setjara prinsip mengembangkan tenaga produktif daripada buruh dan tani" (Gesuri). Sjarat utama untuk melaksanakan pembangunan jalah mengachiri penjelewengan 26 Mei 1963", menggantinja dengan peraturan ekonomi jang sesuai dengan Dekon, sesuai dengan tugas revolusi nasional dan demokratis sekarang ini. Hanjalah dengan teguh* berdiri diatas kaki sendiri, maka barulah Indonesia dapat setapak demi setapak menggerowoti ekonomi kolonial jang masih ber- tjokol di Indonesia, dan melepaskan diri dari ber- bagai bentuk neo-kolonialisme dibidang ekonomi. Tindakan ini dapat dilaksanakan dengan sukses apabila dengan segera dilakukan keputusan' PB Front Nasional 5 September 1963 mengenai pe- rubahan peraturan² ekonomi 26 Mei 1963, rituling aparatur negara, terutama sekali membentuk Kabinet Gotongrojong berporoskan Nasakom. Kabinet Gotongrojong berporoskan Nasakom bukan suatu wasiat, akan tetapi pasti lebih baik daripada jang tidak gotongrojong dan tidak Na-

sakom, se-kurang'nja ia membuka kemungkinan* jang lebih baik bagi penjelesaian masalah dalam- negeri maupun internasional.

4) TENTANG PKI DAN ANGKATAN BERSENDJATA R.I. CHUSUSNJA AURI
Seperti sudah saia sebut pada permulaan tjera- mah ini, antara PKI dan Angkatan Bersendjata sudah terdapat tradisi persatuan jang lama, dan jang senantiasa terus dipelihara, dipupuk dan di- kembangkan. Memang masih ada djuga sementara orang jang merupakan kekuatan gelap, jang masih hidup dalam alam fikiran bahwa PKI dengan alat" negara chususnja Angkatan Bersendjata, harus bentrokan. Djika menggunakan kata Presiden Sukarno, me- reka sebenarnja ,orang" jang otak dan hatinja telah berdaki-berkarat tak dapat menjesuaikan diri dengan Manipol-Usdek". (Tubapi, hal. 211). Tidak bisa disanqkal, bahwa adanja orangª revolusioner dalam Angkatan Bersendjata, baik AURI maupun Angkatan lain adalah sangat membantu PKI dalam mengubah pandangan Rakjat terhadap Angkatan Bersendjata, dan djuga untuk mengubah pandangan Angkatan Bersendjata terhadap gerakan revolusioner, termasuk PKI. Untuk memahami watak Angkatan Bersendjata RI adalah sangat penting menjedari, bahwa kekuasaan politik Indonesia atau kekuasaan RI mempunjai 2 aspek, jaitu aspek pro-Rakjat jang

mewakili kepentingan² Rakjat dan aspek. anti-Rakjat jang mewakili kepentingan² musuh² Rakjat. Kenjataan² menundjukkan bahwa dalam kekuasaan negara RI tidak hanja ada kaum komprador, kaum kapitalis birokrat, kaum tuantanah, tapi djuga ada orang jang pro-Rakjat, jang disokong kaum buruh, kaum tani, inteligensia revolusioner dan elemen demokratis lainnja. Aspek pro-Rakjat telah menempati kedudukan memimpin dalam kontradiksi itu pada waktu sekarang. Hal ini dibuktikan oleh semakin banjaknja politik revolusioner jang disahkan oleh kekuasaan negara R.I. seperti Manipol, Dekon, Ganjang Malaysia, Nefo kontra Oldefo, UUPA, UUPBH, dsh. Aspek anti-Rakjat sudah merupakan aspek jang tidakpokok, tapi aspek ini masih meuempati kedudukan ber-dominasi dan masih bisa mentjela- kakan Rakjat. Hal ini dibuktikan oleh kenjataan masih adanja politik jang reaksioner janq didja- lankan atasnama negara, seperti misalnja ..Sob tanpa Sob", Peraturan2 ,26 Mei 1963" atau peng- gantinja jang sama djeleknja, instruksi paarangan ambilalih perusahaan² Inggris, matiam² per- undangan jang melindungi kepentingan* imperialis dan tuantanah, dsb. Makaitu pula sering kita se- mua mendengar seruan Bung Karno sebagai Pre- siden/Panglima Tertinggi supaja Rakjat memban- tu beliau mengganjang dan meritul mereka jang anti-Nasakom, jaitu elemen anti-Rakjat jang

masih berperanan dalam kekuasaan politik sehing-

ga merupakan perintang besar bagi pembentukan Kabinet Gotongrojong berporoskan Nasakom. Tanpa memahami adanja dua aspek dari kekuasaan politik dinegeri kita sulitlah untuk benarª memahami berbagai peristiwa di Indonesia dewasa ini, sehingga mudah terdjerumus pada hanja menilai kulit belaka dan tidak menilai isi (hakeka:) peristiwa² jang terdjadi. Angkatan Bersendjata Republik Indonesia, ter- masuk AURI, sebagai alat negara jang dilahirkan oleh revolusi Agustus 1945 mempunjai tjiria seperti jang pernah saja sebutkan dalam tjeramah SES-KOAD, sbb.: 1) anti-fasis, demokratis, anti-imperialis dan ber-tjita Sosialisme Indonesia, alat untuk mengabdi pada penjelesaian Revolusi Indonesia; 2) alat untuk mengabdi pada perdjuangan besar NEFO kontra OLDEFO; 3) alat pembela keutuhan wilajah dan kesatuan nasion Indonesia. Mengingat akan kechususan kedudukan geogra- fis Indonesia, AURI merupakan potensi jang sa- ngat penting untuk bersama Rakjat setjara sedar mendorong dan-memperkuat aspek pro-Rakiat daripada kekuasaan politik sekarang dan mengganjang aspek anti-Rakjat, mengganjang mereka jang Nasakom-phobi, jang Komunisto-phobi, dan jang membela kepentingan imperialis dan tuantanah. Dalam perdjuangan ini AURI telah memain- kan peranan penting dan saja jakin, bahwa ha- rapan Rakjat tidak akan sia, jaitu agar AURI

tetap setia pada Rakjat dan Revolusi Indonesia.

5) TENTANG PKI DAN TUGAS INTERNASIONAL
REVOLUSI INDONESIA Revolusi Indonesia merupakan bagian jang tak- terpisahkan dari revolusi dunia, jaitu revolusi so- sialis dunia. Tiga kerangka Manipol jang mendjadi program pemerintah dan Rakjat Indonesia menun- djukkan hubungan antara revolusi Indonesia dengan gerakan re olusioner Rakjat semua negeri untuk membentuk satu dunia baru jang bersih dari imperialisme dan kolonialisme. Tugas internasional Revolusi Indonesia sekarang pada hakekatnja jalah memperkuat front internasional anti-imperialis, jaitu KBST (kekuatan baru jang sedang tumbuh) untuk melawan KLMB (kekuatan lama jang masih bertjokol). Gerakan revolusioner Rakjat Indonesia dapat menunaikan tugas ini, apabila ia mengintegrasikan diri dengan revolusi-revolusi Rakjat semua negeri, jang anti~ imperialis, anti-kolonial dan, anti-neo-kolonial. Tidak bisa disangkal bahwa pengintegrasian revolusi Indonesia dengan revolusi dunia sangat tergantung pada sikap PKI terhadap gerakan revolusioner sedunia dan chususnja terhadap GKI (Gerakan Komunis Internasional). Didunia dewasa ini terdapat kontradiksi² dasar sbb.: 1) antara kubu sosialisdengan kubu imperialis, 2) antara klas proletar dengan klas bur- djuis di-negeri² kapitalis, 3) antara nasionª tertin-

das dengan imperialisme, 4) antara imperialisme dengan imperialisme. Kontradiksi dasar itu men- tjirii dunia dewasa ini. Diantara kontradiksi“ tsb., dua merupakan kontradiksi pokok, jaitu kontradiksi-kontradiksi jang dewasa ini mempunjai peranan memimpin kontradiksi lainnja, adalah 1) dan 3). Tetapi pada dewasa ini, diantara kontradiksia itu jang merupakan kontradiksi terpokok; kontradiksi jang tidak hanja memimpin kontradiksi lainnja tapi djuga menuntut penjelesaiannja jang segera, jaitu: Kontradiksi antara nasion² tertindas dengan imperialisme. Negeria Asia, Afrika dan Amerika Latin -membuktikan dengan tegas bahwa kontradiksi antara nasion² tertindas dengan imperialisme, jang dikepalai oleh imperialis AS, terus menghe- bat. Di-benua' itulah kaum imperialis mendapat pukulan* jang semakin keras dan disitulaà pula terdapat situasi revolusioner jang terus menandjak dan mematang. Asia Tenggara merupakan salahsatu titikpusat didaerah kontradiksi terpokok. Situasi revolusioner di Asia Tenggara djuga terus menəndjak dan mematang dan perdjuangan melawan imperialisme, dengan menggunakan berbagai matjam bentuk, termasuk perdjuangan bersendjata, tidak pernah berhenti di Asia Tenggara. Misalnja sekarang perdjuangan Rakjat Indonesia mengganjang Ma- laysia", telah memberi sumbangan pula dalam perdjuangan anti-imperialisme di Asia Tenggara,

sebagaimana halnja perdjuangan Rakjat Vietnam Selatan melawan imperialisme AS. Dalam perdjuangan melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme itu tidak bisa kita bersikap atjuh-tak-atjuh terhadap revisionisme modern, jang merupakan ratjun untuk melumpuh- kan perdjuangan revolusioner anti-imperialis. Pengalaman* kaum revisionis modern Jugoslavia misalnja, tjukup dikenal umum di Indonesia. Dalam kasak-kusuknja mereka menjebar-njebarkan pandangan garis djalan-tengah atau garis non-blok jang membikin kabur perdjuangan anti-imperialis, jang bertentangan dengan garis NEFO kontra OLDEFO. Kaum revisionis dan. kakitangan imperialis lainnja menjebar-njebarkan pandangan humanisme universil dikalangan tokoh* Indonesia, terutama dikalangan inteligensia dan seniman, untuk mengendorkan semangat perdjuangan revolusioner. Kaum revisionis Jugoslavia malahan sampai tjampurtangan dalam urusan dalamnegeri Republik Indonesia, menentang gagasan NASAKOM dengan menuntut supaja Pemerintah RI mengambil tindakan terhadap PKI jang dengan gigih mene- landjangi revisionisme modern. Revisionisme modern pada hakekatnja adalah perwudjudan ideologi burdjuis jang tumbuh dalam gerakan klas buruh internasional dewasa ini, jang mengchianati perdjuangan revolusioner klas buruh dan meninggalkan adjaran revolusioner Marxisme-

Leninisme. Pada hakekatnja revisionisme modern ingin merevisi tekad revolusioner Rakjat, ingin merevisi djalan revolusioner dan menggantikannja dengan djaálan evolusioner, reformisme dan bahkan kontra-revolusioner. Makaitu perdjuangan melawan revisionisme modern bukanlah soal kaum Komunis Indonesia se- mata², tetapi soal semua orang revolusioner. Dan perdjuangan melawan revisionisme djuga bukan hanja soal kaum Komunis sedunia sadja, tetapi djuga soal seluruh kekuatan baru jang sedang tumbuh, jang melawan imperialisme. Menurut pengalaman Rakjat Indonesia, seperti halnja dalam GANEFO jl, djika kaum revisionis itu dilawan dengan keras mereka pasti mundur dan perdjuangan anti-imperialis bisa kokoh. Tapi djika tidak dilawan, perdjuangan anti-imperialisme mendjadi tidak berdaja dan kaum imperialis mendjadi makin ganas. Hal ini djuga dibuktikan oleh perdjuangan Rakjat negeri lain jang anti-imperialis dalam menghadapi kasak-kusuk kaum revisionis modern. Mengenai perbedaan’ pendapat dalam Gerakan Komunis Internasional (GKI), seperti jang sudah diketahui umum, PKI berpendirian untuk tetap mempertahankan azas kebebasan dan haksama. Sikap ini bukan sikap netral, tapi sikap jang men- djundjung tinggi Marxisme-Leninisme dan melawan revisionisme, baik jang klasik maupun jang

modern. PKI djuga menentang dogmatisme baik jang. klasik maupun jang modern. Sikap jang mempertahankan azas kebebasan dan haksama

22723

sering dituduh oleh kaum revisionis sebagai sovinis, jang terang tidak beralasan. Sebaliknja kaum reak- sioner dalamnegeri djustru mendesak-desak supaja kami melepaskan azas kebebasan dan haksáma, maksudnja supaja kami mengekor kaum revisionis dan berdjalan seiring dengan kaum imperialis. Kaum Komunis Indonesia suka difitnah sebagai agen Moskow", agen Peking", dan djuga ,,agen Moskow dan Peking", dsb. Semuanja ini adalah lagu lama dan sudah mulai dibųngkám oleh fakta dan bukti² njata dalam usahaª PKI jang berhasil meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, meng- abdi diri lebih banjak kepada revolusi Indonesia dan kepada internasionalisme proletar. Keadaan ini pula jang membikin PKI tetap segar dalam perdjuangan untuk seleksi, kristalisasi dan konsolidasi dalam Gerakan Komunis Internasional. Dari seluruh uraian diatas djelaslah, bahwa perdjuangan melawan imperialisme dan feodalisme serta revisionisme modern bukanlah se-mata* tugas kaum Komunis Indonesia, tapi tugas setiap patriot Indonesia. Perdjuangan ini merupakan bagian* terpenting daripada perdjuangan Rakjat Indonesia untuk membikin Indonesia benarª berdaulat dalam politik, berdiri diatas kaki sendiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudajaan.