SORAK
SORAI
ZINE
VOL.II
MEMBANGKITKANSPIRITKLUB LOKALDIKOTAMU
LOKAL
VOETBAL
GRESIK UNITED PERSIBO
SORAK
SORAI对
ZINE
SORAK-SORAI Gelora Volume.2
LOKAL VOETBAL
Membangkitkan Spirit Klub Lokal Di Kotamu
Sebuah zine dengan rubrik sepakbola, yang mem- persembahkan segala hal berkaitan dengan sepakbola baik lokal, nasional, maupun internasional. Sebagai tujuan agar semua orang dapat membaca hingga mengkritisi, guna mencintai dan merawat sepakbola yang lebih baik.
DAFTAR ISI
1 Menunggu kembali berjayanya Deltras Sidoarjo 4 Artwork Poster 5 Sepakbola Kota Ledre, dan dukungan yang takkan pernah mati 9 Sepakbola Gresik milik siapa (?) Artwork Kolase 12 Madiun lokal football 13
NHENUNGGU KENBAU BERJAYAMYA
DELTRAS SIDOARJO
Berbicara sepakbola di Sidoarjo, Delta Putra Sidoarjo (Deltras) adalah klub yang akan disebut pertama kali olehwarga Kota Delta’. Deltras terbentuk pada 1989.Klub berjuluk The Lobster yang identik dengan warna kebesaran merah ini menjadi kebanggaan tersendiri warga Sidoarjo dalam sepakbola. Pada era-Liga Super Indonesia, eksistensi Deltras mampu bersaing dengan klu-klub besar di JawaTimur macam PersebayahinggaArema, bahkan dengan klub besar nasional lainnya. Merupakan
sebuah sepak terjang yang patut
dibanggakan bagi seluruh masyarakat
Sidoarjo. Sayangnya, setelah terdegradasi dari ajang Liga Super Indonesia pada musim 2011/2012, sepak terjang Deltras semakin terbenam. Puncaknya, tahun ini Deltras harus bermain di Liga 3. Itupun juga harus melalui tahap zona regional JawaTimur lebih dahulu.
Ditahun ini (2019), Deltras berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Klub ini serasa hancur-lebur. Kurangnya support yang diberikan oleh pemerintah daerah pada Deltras, serta masalah internal yakni masih menunggak hutang membuat investor tidak berani mengambil alih pengelolaan Deltras. Alhasil, Deltras kesulitan dana untuk mengikuti kompetisi. Menanggapi kondisi itu, para kelompok suporter Deltras seperti Deltamania hingga
melakukan movement atas
permasalahan yang dihadapi Deltras. Sayangnya, berbagai gerakan yang
diinisiasi oleh suporter The Lobster terbentur oleh berbagai kendala. Manajemen selalu membatasi pihak suporter untuk memberikan kritikan menyikapi kondisi klub kebanggaannya. Puncaknya, mereka melakukan demo secara besar-besaran di kantor bupati jelang bergulirnya kompetisi. Dalam proses seleksi pemain-pun, pihak suporter tidak
pernah dilibatkan untuk memberikan
saran maupun masukan. Pemilihan pemain diambil alih secara menyeluruh oleh pihak manajemen.
Sejauh ini, pendanaan klub dipegang
secara langsung oleh Bupati. Pihak suporter hanya sebatas membantu untuk mengelola klub seperti pengadaan perlengkapan latihan pemain dan lain sebagiannya. Keterbatasan yang dialami oleh para suporter setia Deltras tidak membuat mereka lantas diam saja.
SEKTOR-8
Curva Nord Delta berinisiatif untuk
Melalui acaragigs musik yang diselenggarakan oleh beberapa sub-elemen pendukung Deltras, mereka kerap menyuarakan kepedulian terhadap kondisi klub Deltras. Selain itu, juga membuat mural diberbagai sudut kota Sidoarjo sebagai bentuk keresahan yang dihadapi oleh Deltras. Sebagai pemain ke-12’, tentu kelompok pendukung Deltras berharap tunggakan hutang yang dialami oleh Deltras segera terselesaikan. Terlebih dari itu, Deltras kembali mampu untuk bermain lagi dikasta teratas sepakbola nasional.
“DELTRAS TETAP
ADA DAN TAKKAN
PERNAH
PADAM"
ASLI KULTUA LOKAL TRADISILAMA YANG MASIH ADA DAN TETAP SAMA
ESTAFET-ESTAFET-ESTAFET-
OLD VS NEW
VOTMAH
PERSIBO
SEPAKBOLA KOTA LEDRE, DAN DUKUNGAN YANG TAKKAN
PERNAH MATI
Embrio sepak bola di Jawa Timur sangatlah besar, tiap kota setidaknya memiliki lebih dari dua klub baik yang berlabel “plat merah” maupun swasta. Tanpa terkecuali klub sepak bola asal “Kota Ledre” yang lahir pada tahun 1949, yakni Persibo Bojonegoro. Persibo merupakan klub kebanggan kabupaten yang terkenal sumber daya alamnya yaitu migas. Saat mencapai masa kejayaannya, klub ini sangat ditakuti,
- dan cukup disegani oleh klub-klub di
Indonesia jika akan berhadapan dengannya, tanpa kecuali klub-klub dari kasta tertinggi di liga Indonesia. Prestasi yang pernah diraih cukup membanggakan salah satunya adalah gelar juara Piala Indonesia 2012. Gelar tersebut membuat Persibo tampil mewakili Indonesia dalam ajang AFC Cup. Tentu sebuah hal yang membanggakan jika dibandingkan dengan beberapa kabupaten
yang ada disekitar Bojonegoro. Hal ini
membuat Persibo dijuluki sebagai "The Giant Killer". Rasanya pantas jika Persibo menjadi identitas yang kuat bagi masyarakat Bojonegoro khususnya bagi para penggemar sepak bola di kabupaten ini.
Penggemar sepak bola saat ini meyakini, bahwa kesuksesan sebuah klub sepakbola harus memiliki komponen-komponen yang baik dan sehat didalamnya. Salah satu komponen tersebut adalah keberadaan suporter. Suporter berasal dari kata support
yang berarti dukungan, memberikan
dukungan dalam bentuk apapun baik moril maupun materil. Menjadi pendukung bukan berarti harus jadi pemain kedua belas yang selalu berdiri dipinggir lapangan sambil bernyani dan berteriak lantang untuk kebangaan mereka. Juga ada pula pendukung yang hanya bisa membeli tiket dan hanya duduk didalam stadion sembari menikmati jalannya pertandingan. Adapula yang justru lebih memilih untuk menonton pertandingan
klub yang mereka banggakan dari rumah dengan siaran televisi.
Diawal tahun 2000-an klub ini mempunyai pendukung setia yang sangat fanatik bernama Boromania. Hingga kini, eksistensi mereka sebagai kelompok mempertahankan culture mania juga masih terlihat di sisi selatan gawang serta tribun bagian timur kandang Persibo, Stadion Letjen. H. Soedirman. Seiring berjalannya waktu, masuknya berbagai terraces culture dari negara-negara Eropa lambat-laun menjadi infulence dunia suporter dikota ini. Semakin majunya teknologi hari ini mempermudah untuk mengakses berbagai hal yang ingin diketahui termasuk dalam
dunia sepakbola. Kita bisa langsung
mengetahui tentang klub favorit, hingga apa saja yang dilakukan oleh pendukungnya mulai dari perilaku hingga ke pergerakannya.
Di Bojonegoro sendiri jika berbicara mengenai passion serta gairah dalam sepak bola, tentu tidak diragukan lagi. Karena sepak bola merupakan hiburan yang paling ditunggu untuk ditonton setiap akhir pekan. Generasi baru pendukung Persibo juga terus tumbuh tanpa harus “membunuh” para pendahulu yang mulai rapuh. Berbagai terraces culture yang ada mulai ultras, casual, maupun mania bisa jalan
berdampingan meski terkadang ada sedikit pandangan yang berbeda. Namun, semua itu adalah proses mereka untuk mencintai daerahnya lewat sepak bola. Suporter memiliki daya tarik tersendiri, membuat orang yang tidak suka sepakbola menjadi lebih suka, jika sudah suka akan dibuatn semakin jatuh cinta, terutama cinta pada
chant suporter didalam tribun kerap kali
dipertunjukan, diringi tabuhan pemain perkusi ditambah kibaran bendera yang besar, belum lagi jika psywar sudah terlontar, membuat seluruh stadion bergemuruh, dan permainan dilapangan semakin menggebu. Sebut saja Drago Tifoso, mereka adalah kelompok suporter berpaham ultras berisik dan atraktif yang berada di plengkung sebelah utara belakang gawang Stadion Letjen H. Soedirman. Anggotanya lumayan banyak, berasal dari distrik (baca: wilayah) penjuru Kabupaten Bojonegoro. Selain menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Italy dalam setiap chants yang dinyanyikan, mereka juga menggunakan Bahasa Jawa. Meski culture aslinya berasal dari Eropa, mereka masih bangga dengan kearifan lokal mereka sebagai orang Jawa. Diluar
pertandingan mereka juga sering mem-Persibokan’ masyarakat. Dengan membuat gigs musik, forum diskusi, hingga membuat mural tentang persibo disudut kota hingga ke pelosok desa. Diantara kelompok ultras dan mania juga terdapat kelompok lain pendukung setia Persibo. Mereka tidak pernah mengklaim dirinya sebagai casual, ultras
mereka "football isn’t just a life style, but its a way of life" bebas dalam menggunakan gaya apapun baik saat mendukung Persibo didalam stadion maupun ketika menjalani kehidupan diluar hal sepakbola. Style yang berbeda membuat banyak orang tertarik untuk berkumpul dengan mereka secara lambat-laun. Namun sekali lagi, tiada niatan untuk mencari sebuah eksistensi dari kelompok yang umumnya mengangkat chants ala hooligan Inggris ini. Bagaimana- pun yang utama adalah mendukung Persibo dengan loyalitas dan totalitas mereka bagi kebangaan mereka.
Semua masyarakat kota ini masih memiliki angan dan keinginan EELOER yang sama, melihat Persibo
POLRES BOJONEGO PSSIJATIM sebuah klub. Koreo dan atau mania. Menurut
Lkembali berjaya dan ditakuti seperti dulu lagi ketika berlaga. Walaupun bermain dikasta manapun. Tidak peduli lagi darimana kamu berasal dan bagaimana gaya dukunganmu, akhirnya hanya ada sebuah kalimat yang pantas untuk diucapkan.
COME ON
YOU
ANGLING
LEDRE*FINEST
DHAAHA'
SEPAKBOLA GRESIK
MILIK SIAPA [?]
Sepakbola merupakan hiburan bagi masyarakat kita, tak lepas kota dari ujung utara jawa timur. Gresik salah satu kota kecil serta memiliki tren sepakbola yang luar biasa, banyak kita kenal seperti Petrokimia Putra yang pernah mendapatkan gelar juara Liga Indonesia saat mengalahkan Persita Tangerang dengan skor 2-1. Dengan istilah kota Industri, pekerjaan masyarakat Gresik masih bisa dikatakan sebagai buruh pabrik. Mereka dipaksa untuk bekerja tanpa henti demi bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Layaknya masyarakat kota/kabupaten lain
F1HTLORY
FOR,
yang juga membutuhkan hiburan tatkala penat dan jenuh melanda akibat kesibukan pekerjaan, masyarakat kota ini-pun sama. Ya, sepakbola merupakan salah satu hiburan yang mendominasi di kalangan masyarakat Gresik. Sama halnya dengan masyarakat Inggris pada umumnya, sepakbola sudah menjadi hiburan dikala mereka penat dengan segala aktivitas pekerjaan mereka.
dinamika Berbicara mengenai sepakbola Gresik, tak lepas dari peran Petrokimia Putra dan tim Perserikatan Persegres Gresik. Petrokimia Putra lahir pada
tahun 1988 sedangkan Petrokimia Putra dan Persegres Persegres Gresik lahir Gresik melebur menjadi satu. pada 1963, terlihat bahwa
PerjalananGU sampai Persegres lah yangsekarang tidak berjalan mulus seperti
menjadi klub tertua di yang dibayangkan, banyak
Kota Gresik. Akan teapi, permasalahan yang muncul dari
perlu diketahui bahwa mmwmco.com dalam Internal Klub. Permasalahan performa Petrokimia lah itu muncul ketika pihak dari Internal klub yang paling mendominasi di sepakbola merubah nama Gresik United menjadi Indonesia Semua itu tidak berjalan lancar, Persegres GU. Banyak ketidak sepakatan dari Performa tersebut harus berakhir di akhir kalangan suporter GU dengan perubahan tahun 2003 dan petrokimia harus puas nama tersebut. pada akhirnya mereka terdegradasi ke divisi utama liga Indonesia. menyuarakan keresahan mereka dengan Pada akhir tahun 2005 keresahan yang memasang spanduk-spanduk yang dimiliki oleh para pecinta sepakbola Gresik bertuliskan kritikan kepada manajemen dan diluapkan dengan aksi turun jalan ke kantor pada pemiliki klub. Banyak elemen suporter Bupati. Aksi tersebut akhirnya menuai hasil yang memiliki keresahan tersebutb dan yang positif, sepakbola Gresik sudah kembali diutarakan dengan gaya dan cara mereka lagi dengan tampilan yang baru. Gresik masing-masing. United menjadi simbol dari sepakbola Gresik, hal tersebut di sepakati bahwaHal tersebut mencapai titik terendah klub dalam dua tahun terakhir langsung terjun bebas ke kasta ketiga sepakbola Indonesia (Liga 3 pra Nasional). Performa yang menurun dari klub Persegres GU membuat suporter semakin menjadi-
Keputusan itu membuat semua masyarakat pecinta sepakbola Gresik bersujud syukur yang menandakan rasa bersyukur kepada tuhan yang maha esa, telah
jadi. Kritikan semakin kencang disuarakan
oleh pendukung kepada klun dan
management. Pada titik akhir para suporter akhirnya menggelar aksi pertama, yaitu turun kejalan ke kantor DPRD untuk menjadi jembatan para suporter kepada management dengan permasalahan yang ada di klub. Aksi pertama, tidak menuai hasil
yang memuaskan, mereka
pulang dengan rasa kecewa karena selalu tidak diberi kepastian dari management mengenai kondisi tim yang semakin hari semakin memburuk. Dengan tidak adanya kepastian dari management mengenai aksi yang pertama, para suporter membuat aksi jilid dua dengan sasaran yang sama dan tuntutan yang sama yaitu mengembalikan GU kepada masyarakat Gresik (?). Aksi berjalan lancar, mediasi dilakukan oleh DPRD dengan mempertemukan suporter dan juga pihak management dengan tuntutan yang di bawah oleh kawan-kawan suporter. alhasil telah menunggu lama keputusan sudah bulat, bahwa sepakbola Gresik kembali ketangan masyarakat Gresik kembali.
mengembalikan hiburan masyarakat tersebut kepada masyarakat. Penantian yang lama akhirnya terbayar sudah. Tidak berhenti disana, para suporter pun harus tetap mengawal proses yang akan dilakukan oleh Pengurus yang baru. Karena pada dasarnya semua harus transparan dan jelas, jika dua hal tersebut saya sudah tidak dimiliki maka bisa dibilang sama saja. sepakbola Gresik masih dimiliki segelintir orang, hanya saja dengan orang yang berbedah.
Merdeka!!
BANYAK CARA DALAM MENDUKUNG TIM KEBANGGAAN
KAMU YANG MANA?
ULTRAS
MANIA
Hekekenk
Heinel
CASUAL
HOOLGAN
MADIUN
LOKAL FOOTBALL
Di kota ini, pusat industri kereta api nasional dibuat. Jikalau mengerti mengenai silat, tentu dikota ini pula berbagai macam perguruan berdiri. Beberapa yang kondang ditelinga masyarakat seperti PSHT, Winongo, maupun Kera Sakti didirikan disini. Dalam segi kuliner, keberadaan pecel seolah melekat menjadi identitas kental untuk kota ini.
Madiun, sebuah kota di wilayah selatan Jawa Timur (Mataraman). Lantas, bagaimana dengan dinamika sepakbolanya
(?). Terbagi dalam dua wilayah administratif (kota dan kabupaten), membuat sepakbola
Madiun ikut terbelah. Jika di kabupaten terdapat Persekama, maka Madiun Putra FC dan PSM Madiun sebagai klub representasi kota. Kiprah ketiga klub inipun juga berbeda. Persekama tahun ini tidak berkompetisi. Sementara PSM Madiun -salah satu klub pendiri PSSI- kembali hidup dan berkompetisi dalam Liga 3 Jawa Timur tahun ini. Untuk Madiun Putra sendiri tahun ini juga tidak berkompetisi setelah beberapa tahun kebelakang selalu menjadi wakil Madiun di kancah sepakbola nasional. Memang secara histori, PSM lebih dikenal oleh para pecinta sepakbola nasional. Namun, Madiun Putra-lah yang justru dalam
| beberapa tahun selalu membawa nama | “pemain ke-12’. The Mad Mania dan Great | |
|---|---|---|
| Madiun ketika berkompetisi. Secara prestasi, | Bull Boys adalah dua kelompok suporter setia | |
| antara | yang selalu hadir ketika Madiun | |
| dengan Madiun | Putra berlaga. Secara culture, |
PSM
Putra-pun sangat
timpang. Walau merupakan klub pendiri federasi, sayangnya tidak ada prestasi yang dapat diraih oleh klub ini. Sebaliknya, meski terkenal sebagai klub yang terbentuk tahun 2009, tidak sedikit prestasi yang telah diraih. Keberhasilan promosi ke Divisi I tahun 2010 diikuti pula raihan gelar Piala KONI Jatim ditahun yang sama. Bahkan tampil membawa nama Madiun dalam Divisi Utama membuat klub ini tidak lagi dapat dipandang sebelah mata.
dan style keduanya memang berbeda, tetapi rasa cinta dan setia pada klub kebanggaan takkan pernah terganti. Terbukti ketika Madiun Putra tahun ini tidak mengikuti kompetisi. GBB dengan lantang bersuara menyikapi kondisi klub ini. Layaknya Kota Manchester di Inggris yang memiliki dua klub dalam satu kota, Madiun- pun demikian dengan adanya PSM dan Madiun Putra. Kembalinya PSM direspon baik oleh warga Madiun, demikian pula GBB dan The Mad Mania. Tetapi, disayangkan sekali ketika dukungan dari berbagai kalangan hanya ditujukan kepada satu klub saja. Tentu hal yang tidak adil rasanya, dan itu yang dirasakan bagi suporter Madiun Putra. Alangkah baik jika kedua klub ini bisa saling berjalan berdampingan guna mengikuti kompetisi.
Kondisi ini membuat banyak pendukung Madiun Putra dengan sekejap beralih pada PSM. Memang, setelah sekian lama vakum PSM layak untuk diperjuangkan kembali agar bisa berkompetisi. Namun jangan lupakan Madiun Putra. Ya, ketika tidak ada kehadiran Madiun Putra yang membawa
Keberadaan sebuah klub tentu ditunjang
pula dengan kehadiran suporter sebagai
nama Madiun di sepakbola nasional tentu tidak akan pernah ada pula The Mad Mania hingga GBB. Takkan ada pula dinamika sepakbola di Madiun. Terbentuknya Madiun Putra menjadi titik awal para pendukung sepakbola Madiun belajar, serta memahami arti mencintai sepakbola sesungguhnya. Cinta mereka tak akan pudar, bahkan terganti!!!
Madiun Putra adalah cinta pertama’ The Mad Mania dan GBB dalam sepakbola. Bagi GBB sendiri, klub ini telah menjadi sebuah kebanggan kota’. Kebanggan Kota Madiun dalam hal sepakbola khususnya. Setidaknya itulah yang mereka tanamkan pada para generasi muda penerus dimasa yang akan datang. Ketika tahun ini tidak berkompetisi, tidak serta-merta mereka juga tertidur lelap tanpa dukungan.
Dukungan tetap mereka dengungkan, membuat forum diskusi, membuat mural Madiun Putra di berbagai sudut kota, hingga acara gigs musik sebagai wujud rindu mereka yang tidak tertahankan melihat kondisi klub hari ini. Mural sebagai pertanda jika Madiun Putra belum mati dan gigs musik bertajuk GFM yang rutin diadakan tiap tahun menjadi
cara GBB dalam merawat dan menjaga
kebanggan mereka, Madiun Putra. Yang lebih penting, menyadarkan warga Madiun untuk tidak melupakan Madiun Putra!!!. Madiun Putra bukanlah klub kemarin sore, namun Madiun Putra merupakan sebuah kebanggaan. Baik The Mad Mania maupun Great Bull Boys masih memiliki angan yang sama, melihat kembali Madiun Putra berlaga di kompetisi nasional. Bahkan bisa menembus kasta teratas liga seperti yang telah dilakukan klub-klub lain.
MATARAMAN
IS BLUE
TERIMA KASIH
@SORAKSORAI.ZINE