Baca EPUB: Angkatan dan Kegiatan

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. ANGKATAN DAN KEGIATAN
  2. S. M. ARDAN
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. ANGKATAN DAN KEGIATAN
  6. CC BY-SA 4.0

ANGKATAN DAN KEGIATAN

S. M. ARDAN


KOLOFON

ANGKATAN DAN KEGIATAN

oleh

S. M. ARDAN



Dimuat di majalah Mimbar Indonesia

No. 5 • Th. X • 4 Februari 1956

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Paper Making (c. 1935-1943), karya Charles Reed Gardner

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



ANGKATAN DAN KEGIATAN

TUPAN tahun 1954 tentang keadaan/krisis dalam sastra menda- pat reaksi hebat; punyak suara yang menentang hal itu merupakan salah satu pokok ayara simposion (fakul- tas) “sastra” 6 Desember tahun 1954. Setelah “simposion ini tiapan kele- suan/krisis itu demi sedikit mengendur untuk akhirnya menghilang sama sekali. Itu memundukyan, bahwa su- dah adanya suatu angkatan lain di luar Angkatan 45 atau se-kurang- nya suatu kegiatan baru dari suatu kelompok dihar golongan Angkatan 45. Kita bukan hendak membang- kitkan masalah angkatan—kita tahu soal Angkatan 45 sendiri belum sesuai!—tapi dengan itu kita mau- tundukyan apa itu angkatan dan apa itu kegiatan serta hubungan antara keduaan.

Satu di antara tiga persoalan yang dibahas dalam simposion (fakultas) sastra 11 Desember 1955 ybl. “Puisi sesudah Khairil Anwar” sebenarnya tidak lain hayalan suatu kehendak lucu dari pelopor-penyelenggara sim- posion sastra Nugroho Notosusanto, untuk mengesyaikan lahirnya se- tuah angkatan sesudah—atau se- tidaknya di luar—Khairil Anwar; tapi bila kita mengingat ayara sim- posion sebelumnya lantas saja kita jiadi mengerti mengapa. Yaitu Nu- groho mau meyakinkan mayarakat (karena adanya sudah tak tersang- kal) tentang memang telah adanya suatu angkatan baru atau lebih te- pat: adena kegiatan lain dari se- rimbolan manusia di luar Angkatan 45, bukan saja di luar bahkan ju- ga lepas tiada sangku‘ paut.

Jadi, esalinya bukan mau mem- perbanyak angkatan, tapi cuha mau meyakinkan umum (lebih kena: se- bagian keci riasyarakat) akan ada- nyu kegiatan dari suatu kelempok baru.

Angkatan memang mendukung suatu tiya yang ditemui, dipukup dan diperjungkan/dipertahankan oleh para pendukungnya. Ditemui‘ dari suatu kegiatan, dipukup dipet- jungkan dengan kegiatan. Dengan lain kata: Angkatan didahului dan eeterusnya dihidupi oleh suatu ke- giatan. Juga penamans/pengaku- atas angkatan berdasarkan dan so- landutnya kegiatan. Jadinya bu- kanlah “Surat Keprcayaan Gelang- gang” atau semayamnya yang mem- bikin angkatan, malah surat kepert- tayaan tersebut: akibat belaka dari suatu kegiatan dan surat tadi makin bertambah artinya oleh suatu kegiatan pulu. Sebaliknya surat ke- percayaan tanpa kegiatan akan hi- lang harganya sebagai ternyata ke- mudian atas “Surat Keprcayaan Gelanggang” diayas. Serupa program kabintang yang tidak dilaksanakan, istapa muluk pun—atau Walaupun ditambah dengan kata merenteg yang baru—“Surat Keprcayaan Gelanggang” itu tak lebih secaria kertas saja. Seakan teks proklama- si kemerdekaan yang tidak disertai perjunganan senjata, yang tidak pula disusui dengan pembangunan negara yang baru saja direbut!

Nyata sekali, balw.. kegiatan jauh lebih penting artinya dari ang- katan berikut kementerangan nama- nyia. Carikan kertas seperti “Surat Keprcayaan Gelanggang” itu baru- lah punya arti dan berlantud serta tergantunglah usianya oleh/pada ke- giatan. Bukanlah surat keprcayaan tersebut diterima dan diharga karena dilahirkan dari suatu kegiatan, karena keharianyaan didahului oleh suatu kegiatan? Adanya dan dukung- an kegiatan itu mementukan sampai ke mana surat secarki itu punya har- ga. Angkatan/Surat Keprcayaan akibat‘ belaka dari suatu kegiatan.

(Penamans Angkatan 45 baru pada 1949 dan Surat Keprcayaan Gelang- gang ditulis pada 18 Februari 1950, sedang kegiatan dari para penduk- ungnya sudah sejak tahun 1942! !!) Bagaianmaseh halinya belakangan ini—sekarang ini? Adakah mereka masih aktif, baik berupa hasil mau- pun cipta tulisan dalam bentuk lain-nya? Prof. dr. Teuw dalam bu- kunya “Pokok dan Tokoh” menulis: “Rupanya Idrus yang cuku sudah li- lang untuk kesusastraan Indone- sia, dia sudah masuk sejarah”. Sedang Khairil Anwar lebih dikne- rang sebagai pelopor yang sanggup menggunyngkan segala.

Teringat pula oleh kita usaha para pelopo: Angkatan Pujangga Baru yang pada tahun 1948 menerbiktan kembali mayarakat merek-, Pujang- ga Baru. Ini maksudnya mau memun- dukyan, bahwa kaum Pujangga Baru masih hidup dan masih bisa berhatan, dan bahwa apa yang dis- but Angkatan Khairil Anwar itu omong kosong cuha. Tapi sudah somenjak terbitnya telah nampak keimpaingan padanya, yalu baik susunan dewan redaksinya Maupun lebih‘ tulisan’ yang dimuat, bahkan membuktikan, bahwa Kaum Pud- yongga Baru telah lampau nasanya. Hingga akhirnya dikuburlah mayar- lah “Pujangga Baru” pada tahun 1952, yang memang kentara sejak diterbitkan.kembali, bahwa mayar- dalah itu tinggal nama saja lagi, isinya sudah lepas dari namanya dan lepas pulu dari idee yang dikandung namanya. Begitulah pula nasnbya ruangan kebudayaan “Gelanggang” samai ini yang secarki bulan September 1955 malah hanyi keluar sekali so-bulan, serta diawal 1954—menurut Htai. Apin yang sudah exit sekara- rang—Gelanggang tidak lagi (hanya) memuat tulisan-tulisan yang sesuai atau bersamaan dengan idee Gelanggang sendiri. Ya, karena soalnya memang kegiatan dari orang-orang Gelanggang sendiri hampir sama sekali hilang, sedang sementara itu kegiatan baru dari lain golongan yang—sekali lagi!—di luar dan lepas dari Angkatan 45, mulai mengembang dan menyatakan diri.

Tadi dibilang, bahwa kegiatan jaun lebih berarti dari nama angkatan dan suatu kepertayaaannya, artinya suatu angkatan ditentukan m: “hidurnya o”: prva pendukung- nyya, masalah aktip dia ataup telah impotentkah? Di samping itu memang... musti disakui, bahwa belum ada tulisan-tulisan yang menyampulkan kegiatan kmi; penguraian tentang apa dan betapa angkatan paling baru ini; pembahasan mengenai sejarah, lingkungan, laterbelaka ng, dasar-dasar pokok dan tokoh-tokoh dari gerombolan baru yang muntul seyak 1950 itu; punyakah mereka kesadaran, adakah padanan programma tertontu yang baru Ataupun yang lain sama sekali dari angkatan yang baru lalu? Di sinilah letak kekurangan mereka, artinya kegiatan yang bogitu hobyat tidaklah mereka serta dengan suatu (rangkaian) bhasaan yang merumuskan apa-apa yang telah/sedang/ mau mereka cpai. Di samping itu (sebagai dikatakan prof. Teewu)*“.........rupunya seluruh soal tentang krisis dalam kwalitet kesusastraan itu dapat disimpulkan pada soal tak adanya tokoh istimewa yang menguasai suazsna seperti Khairil Anwar dahulu”. Jadi, bertambah dibutuhkanlah pengupasan masalah-masalah sebagai disebut di atas; yaitu menengat: iatar belaksang, sejarah, dasar-dasar pikiran, kesadaran dan tokoh-tokoh dari kegiatan sekelompok manusia—yang notabene lepas dan di luar Angkatan 45—; satu keyadian yang sujak atau tersendirikah dalam se-galaany?

“Yang sudah tak terelakkan lagi, bahwa pembaharuan itu ada”,—demikian kata A. T. Effenj dalam simposion 11 Desember 1955. Pertanyaan selanyutnya: Sudah lainkah kegiatan kini dengan Angkatan 45? Kalau “ya” dinzna bedanya, jika “tidak” apalah pulu buktinya? Rentetan ta- nya sejak permulaan tulisan ini ti- dah cukup hanya dijawab dengan teriakan “tidak ada krisis”, “sudah ada angkatan baru”, “kami lain, lain”, dst.; tapi harus ada penguraian yang yuas dan mendalam ten- tang apa, betapa dan bagaimana, hingga siapa pun o'sa betul-betul yakin dan membenarkan. Sebab akan ada- nya kegiatan yang lepas dan di luar Angkatan 45 serta punya se-gala yg tersendiri, sudahlah yama dibenarkan orang, hanya yang belum isai‘ perumusan tentang semua itu.

Kegiatan sekarang ini memang tak ada mempunyai surat kepertayaaan Ataupun penamaan angkatan, tapi biarlah kegiatan ini tidak padam da- ripada lahunyya surat kepertayaaan hanyi akan mematikan kegiatan itu. Lebih baik kegiatan tarpa nama/ surat kepertayaaan daripada nama/ surat kepertayaaan yang tanpa kegi-atan sebagai halnya Angkatan 45 masa ini. Kegiatan sekarang ini sayangnya tak disertai pembahasan-pembahasan yang merumuskan sekitar dasar pokok dan tokoh-tokohnya, yang karenanya diyadi tidak/kurang jelas bagi orang lain, Walaupun mereka percaya, bahwa tentunya kegiatan itu bukannya tidak mempunyai dasarpikiran/to- koh-koh. Di samping mereka puas dengan kegiatan dengan tokoh-tokohnya ys akotip (!) mereka pun menagih karena memang perlu—adanya satu tulisan yang merumuskan tentang apa yang dikandung kegiatan ini serta serba-segala daripadanya.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.