Baca EPUB: Blokhuis "Benteng": Cerita Indiaan

21 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BLOKHUIS“BENTENG”
  2. CERITA INDIAAN
  3. F. B. SANDERS
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. FASAL PERTAMA
  7. FASAL KEDUA
  8. FASAL KETIGA
  9. FASAL KEEMPAT
  10. FASAL KELIMA
  11. FASAL KEENAM
  12. FASAL KETUJUH
  13. FASAL KEDELAPAN
  14. FASAL KESEMBILAN
  15. FASAL KESEPULUH
  16. FASAL KESEBELAS
  17. FASAL KEDUABELAS
  18. FASAL KETIGABELAS
  19. FASAL KEEMPATBELAS
  20. FASAL KELIMABELAS
  21. FASAL KEENAMBELAS
  22. FASAL KETUJUHBELAS
  23. UNCOPYRIGHT

BLOKHUIS

“BENTENG”

CERITA INDIAAN

F. B. SANDERS


KOLOFON

BLOKHUIS

“BENTENG”


CERITA INDIAAN

oleh

FENIMORE COOPER



TERSALIN KEPADA BAHASA MELAYU

oleh

F. B. SANDERS



TERHIAS DENGAN 3 HELAI GAMBAR



Gebroeders Graauw's Uitgeversmaatskhappij en Boekhandel N. V.

Amsterdam—Surabaia

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: delpher.nl

Gambar sampul: Indian Dance, karya Louis Schanker

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



FASAL PERTAMA

BLOKHUIS¹

Sampai tahun 1783 banyaklah tanah-tanah di-Amerika-Utara di bawah perintah kerajaan Inggris. Dalam pe-rang—dari tahun 1773 hingga tahun 1783—keba-nyakan kolonie² itu dapat membebaskan diri.

Pada masa itu daerah New-York belum sentosa, ke-banyakan tanah masih hutan rimba. Bagian tanah antara sungai Hudson dan sungai Mohawk sampai di-Tanah Penssylvania hutan rimba belaka juga. Akan tetapi da-lam daerah itu sudah ada beberapa banyak kampung yang didiami oleh orang Eropa.

Ada seorang bangsa putih, namanya kapitan Willough-by, berniat juga membeli tanah sebidang di daerah itu. Tuan itu sudah menurut perang sejak beberapa tahun, yaitu di pihak orang Inggris yang sedang melawan orang bangsa Perancis dan orang bangsa Indiaan. Setelah selesai perang itu, Tuan Willoughby berniat tinggal di Tanah Amerika Utara bersama-sama sanak-saudaranya; ia tiada suka pulang ke negerinya. Ia disertai oleh isterinya, nama Harriet. Lain dari itu ada lagi seorang anak perempuan, bernama Alice, yang menyertai dia; ia lah anak piatu. Bapaknya—seorang opsir—telah mati sementara perang. Alice diterima oleh kapitan Willoughby sebagai anak piaranya.

Dalam perang kapitan Willoughby bertemu dengan seorang bangsa Indiaan, yang digelar “Nick Besar Hati”. Orang Indiaan itu kenamaan karena beraninya sementara perang; masa dulu ia dihormati amat sangat oleh orang kaumnya, akan tetapi sebab kelakuannya tiada senonoh, ia terkucil dari kaumnya.

Sesudah itu ia menurut orang bangsa Eropa serta belajar bahasa Inggris. Ia berjasa kepada orang bangsa kulit putih. Nick terlalu cerdik; sebab itu berjenisjenis suruohan yang penting-penting diserahkan kepadanya oleh pembesar balatentera. Suruohan itu dibenarkannya dengan sempurna. Nick dikasihi amat sangat oleh kapitan Willoughby.

Pada suatu hari kapitan Willoughby menyuruh me manggil Nick; setelah menghadap, kapitan mengatakan ke pada Nick:

“Nick, kita berniat hendak membeli tanah sebidang yang letaknya antara sungai Hudson dan sungai Mohawk; kalau-kalau kamu suka berantara akan pembelian tanah itu.“

Jawab orang Indiaan: “Nick hendak menjual tanah kepunyaan sendiri.” Pada mendengar katanya itu, kapitan Willoughby heran, lalu ia mengatakan: “Jangan main gila, Nick!” “Nick tiada main gila; betul, Nick mempunyai tanah; tanah itu hendak dijualnya!” Sesungguhnya kapitan Willoughby heran benar, akan tetapi sudah nyata kepadanya, bahwa Nick berkata benar. Kapitan menyambung lagi, katanya: “Nick, di mana letak tanahmu itu? Berapa luasnya? Dari mana kamu beroleh tanah itu?” “Letaknya? ...... Jauhnya dari Susquehannah perjalan sehari...... Luasnya? ...... Seberapa beruna kepada tuan Kapitan...... Bagaimana kita beroleh tanah itu? ...... Coba, nyatakan kiranya, Tuan, bagaimana ca-ra orang putih memperoleh daeerah Amerika? ...... Dida-pat? ...... Nick juga mendapat tanah itu, tatkala me-nangkap bever³ di situ.” Kapitan tanya: “Berapa luas telaga tempat bever itu?” “Itulah sebuah danau kecil. Luasnya cukup akan mendirikan di situ tempat perusahaan tanah.” “Bagaimana keadaan tanah sekelilingnyia? Adakah tanah itu layak akan ditanami gandum?“ ”“Tentu layak sekali! ...... Yang perlu hanya menanam dan menabur, lain tidak! ...... Lalu tanaman terus ber-tumbuh dengan segar.......” Keterangan Nick ini menyenangkan hati Willoughby; sebab itu terbitlah niatnya akan bermusyawarat dengan Nick tentang pembelian tanah itu. Seorang tukang pengukur tanah disuruhnya memeriksai tanah yang di-maksudkan orang Indiaan. Pendapatan tukang pengu-kur: tanah benar juga seperti perkataan Nick Hati Besar. Telaga dan tanah sekelilingnyia berguna sekali akan mendirikan di situ tempat perusahaan tanah. Tukang pengukur tanah bermusyawarat dengan ke-pala-kepala kaum bangsa Indiaan yang mengediami dae-rah. Lalu tanah itu dibelinya; pembayarannya...... sopi belanda, tembakau, obat bedil dan permadani serta bakal permadani. Nick beroleh pahala akan pembalasan perantaraannya. Willoughby mengirim surat rekes kepada Pemerintah Besar akan memperoleh surat idin, supaya tanah yang dibelinya itu dijadikan miliknya. Anak laki-laki, yaitu Robert, baru masuk balatentera sebagai litnan muda; Harriet dan Alice disuruhnya be-lajar dalam sekolah internaat. Kemudian Tuan Wil-loughby boleh disebut orang kaya; wangnya cukup akan mendirikan sebuah tempat perusahaan (kebun) serta mengaturkan kebun itu dengan sepertinya. Tatkala berangkat ke tempat baru itu, ia disertai oleh budak-budaknya (semua orang bangsa neger, ada yang laki-laki, ada yang perempuan). Lain dari itu ia diiring oleh tukang-tukang dan orang yang pandai mengerjakan tanah. Ada seorang bangsa kulit putih—bekas sersan dibalatentera—bernama Joyce—; ia juga mengiring Tuan Willoughby. Yang terutama dalam pengiringnya, ialah: Joel Strides, asal dari Connecticut; Mikhael O’Hearn, seorang bangsa Ierland; Jamie Allen, seorang bangsa Skhotland; ialah tukang batu.

Antara orang bangsa neger yang mengiring Kapitan, terutamalah dua orang, yaitu seorang laki-laki bernama Plinius dan anak laki-lakinya namanya Plinius juga. Kedua orang neger itu biasa dipanggil “Plin tua” dan “Plin muda”. Lain dari itu ada lagi beberapa orang bangsa Belanda. Sementara beberapa tahun lamanya orang semua bekerja dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian terjadilah di tengah-tengah hutan rimba sebuah kolonie yang sejahtera.

Air telaga dialirkan kepada sebuah sungai kecil. Di tengah-tengah telaga terdapat sebuah batu besar sekali. Di atas batu itu dibangunkan orang sebuah rumah besar; bakalnya pohon-pohon den.⁴

Rumah itu diteguhkan, diserupakan benteng kecil, supaya menjadi tempat perlindungan tatkala diserang oleh orang Indiaan.

Bersambung dengan rumah blokhuis ini ada lagi sebuah gudang besar, diperbuat daripada batang kayu juga. Tinggi dindingnya enam kaki. Rumah blokhuis terdiri di atas bukit batu; sebab lebih tinggi daripada segenap daerah, rumah benteng menjadi tempat peman- dangan yang sempurna. Dinding rumah diberi berjen- dela meriam. Pada sesisi bukit batu itu miring sedikit; bagian itu ditutupi dengan tanah subur, lalu ditanami jenis-jenis pohon berbuah, semak-semak dan rumput. Bagian ini dinamai oleh Tuan Willoughby glacis.

Rumah sebelah terbagi atas beberapa buah bilik, se- muanya dilengkapkan dengan sepertinya.

Pondok-pondok, tempat kediaman budak-budak dan kandang-kandang hewan dibangunkan pada pinggir hu- tan di tepi telaga, tempat pondok-pondok itu diberi ber- pagar akan melindungkan orang isi rumah daripada bahaya diserang oleh binatang liar. Dalam sebuah lembah di daerah dibangunkan tempat penggilingan gandum dan tempat penggilingan akan menggergaji kayu.

Kebanyakan tukang-tukang berbini; isi negeri kolonie sudah lebih dari 100 orang. Di antara ada orang laki-laki yang balig 23 orang banyaknya.

Di tengah-tengah rumput ada sebuah rumah sembah- yang kecil; berdekatan dengan rumah kecil itu terda- patlah tempat kuburan.

Antara orang penduduk kolonie ini ada seorang pen- deta, namanya Tuan Wood. Tuan itu sudah tua be- nar. Ia bekas pendeta dalam balatentera. Pekerjaannya dalam kolonie ini, yaitu mengajar anak-anak. Lain dari itu ia bekerja sebagai pendeta untuk penduduk kolonie.

Dalam pada itu pun, Robert sudah berumur duapeluh tujuh tahun, ia sudah diangkat menjadi mayoor dalam balatentera. Harriet dan Alice sudah tammat belajar disekolahhnya, lalu pulang kemari menyertai orang tuanya kembali di dalam blokhuis. Harriet sudah bertunangan dengan seorang Eropa, namanya Beekman. Tuan itu mempunyai kebun besar yang letaknya tiada jauh dari kebun Tuan Willoughby punya.

¹ Blokhuis = rumah tempat kediaman orang, yang diteguhkan akan melawan penyerangan orang Indiaan.

² Kolonie = kampung (atau daerah) bangsa asing yang tinggal di luar negerinya akan berniaga atau akan mengusahakan tanah. Orang asing itu sendiri dinamai juga kolonie; seseorang disebut kolonist.

³ Bever = binatang yang masuk jenis binatang yang mengerat; kulitnya tebal, layak akan diperbuat pakaian panas.

⁴ Den = pohon bangsa cemara; batangnya lurus benar.


FASAL KEDUA

BOB PULANG KE RUMAH

Sekali peristiwa pada suatu malam—ketika musim zomer—pamili Willoughby duduk di tempat “glacis” (biasanya orang perempuan menamakan tempat itu “rum-put”). Willoughby sedang berbicara dengan tuan Pendeta. Alice dan Harriet sedang bermain bola karet. Ibunya duduk di sebuah bangku di dalam taman, sedang memandang kedua anak perempuan yang bermain bola karet. Jamie Allen—sebetulnya tukang batu—sekarang menjadi tukang kebun; ia sedang memindahkan beberapa batang semak. Dalam pekerjaannya itu ia dibantu oleh seorang perempuan tua bangsa neger. Tiba-tiba orang perempuan itu berteriak nyaring-nyaring!

Kapitan—demi terdengar teriaknya—tanya: “Ada apa?” Jawab orang perempuan tua: “Coba lihat! Ada...... Nick...... ia sedang bergopoh-gopoh kemari!” Sebenarnya yang menghampiri kampung, ialah orang tua bangsa Tuscarora. Sejak beberapa tahun tiada ke-dengaran kabar—sedikit pun tidak!—dari pihak orang Indiaan itu.

Kapitan menyambung, katanya: “Hai, orang itu sudah tua betul, umurnya lima-puluh tahun; Meskipun demikian ia dapat berjalan cepat sekali. Rupa-rupanya ada kabar penting yang dibawanya kemari! Sudah lama Nick tiada datang kemari. Barangkali sebabnya begini: Ia telah ”mendapat“ sebuah telaga tempat bever; telaga itu hendak dijulnya kepada kita. Yang dimintanya akan pembayaran, yaitu sopi rhum sepipa. Akan tetapi permintaannya itu kita tolak. Itu sebab ia kurang senang, lalu tiada datang kemari lagi. Setiap-tiap musim zomer ia ”mendapat“ sebuah telaga, lalu ia berniat menjual telaga itu kepada kita.”

“Barangkali ia mengambil marah, bahwa permintaannya itu kamu tolak! Kalau-kalau lebih baik kamu melus-luskan permintaannya juga!”

“O, kita sudah tahu tingah lakunya, Edith! Ingatlah kita beramah-ramahan dengan dia sementara tigapuluh tahun lamanya. Sudah tiga kali kita terpaksa menabuh-kan cemeti kepadanya.”

“Pada pemandangan kita, orang liar tiada mengampuni orang yang memukul dia.” Itu ditanyakan oleh tuan pendeta.

“Tentang hal itu orang Indiaan tiada berbeda dengan seorang serdadu yang beradabl”

Dalam pada itu pun orang Indiaan sudah dekat, lalu ia menghadap Tuan Kapitan. Tuan Willoughby memberi selamat datang kepadanya. Katanya: “Hai, Nick, tentu kamu sudah berjalan jauh, tentu kamu suka minum apa-apa yang sedap dan sejuk. Di sini ada anggur yang enak.” Jawab orang Indiaan: “Rhum lebih baik dari anggur!” “Baik, Nick, kamu beroleh sopi rhum segelas...... Ada kabar apa?” “Kapitan mempunyai anak laki-laki...... opsir...... panglima besar!” “Ia sungguh, namanya Robert!” Itu dikatakan oleh nyonya Willoughby sedang berdiri dari tempatnya. “Kabar apa tentang anak kita itu?” “Dalam sepuluh menit ia akan sampai kemari...... Nick mendahului dia akan memberi kabar kepada bundanya.” Ta‘ dapat tiada kabar ini menyenangkan orang semua. Harriet dan Alice berhenti bermain bola, lalu keluar hendak menemui saudaranya sampai kepada blokhuis kembali. Demi dilihatnya anaknya, Kapitan Willoughby tiada da-pat menahan air matanya; lalu ia mengatakan: “Hai, Bob, di mana kamu bertemu dengan Nick? Kamu sudah bertambah-tambah besar!” “Bapak, kita bertemu dengan Nick di negeri Canayo-harie; ia sedang berperang. Ialah memandukan kita kemari.” Kapitan tanya pula:

“Adakah ia memperagakan karena beroleh tengkorak musuhnyia?”

“Katanya, bahwa ia sudah memperoleh tiga buah tengkorak...... Orang Indiaan berperang-perangan; nyatalah Nick suka menurut peperangan itu!”

“Bob, pada pemandangan kita, Nick harus disebut orang berani benar! Tatkala kita baru masuk balatena tera, Nick menurut pihak musuh kami. Pada masa itu Nick kena celaka; kitalah yang memeliharakan nyawanya. Pertolongan itu tiada dilopakannya, ...... begitu juga ia tiada lupa...... akan sebat cemeti yang kita hadiahkan kepadanya!”

Kemudian pamili Willoughby masuk rumah; Robert makan sedikit.

Kata Robert: “Sebenarnya kamu punya cara kehidupan di sini amat bersaja-saja dan lagi sunyi-senyap betul. Cara kehidupanmu ini berbahaya. Ingatlah peperangan antara orang Inggris dan orang kolonie makin lama makin bertambah hebat. Kata Harriet:

“O, perkelahian itu belum boleh disebut hebat. Se-panjang pikiran Evert Beekman perkelahian ini tiada akan berubah menjadi perang betul!”

Kemudian Robert tanya: “Jika kiranya kebetulan terjadi perang, ...... pihak manakah dipilih oleh Evert Beekman?” “Evert Beekman menyebutkan diri orang Amerika! Ja-di tentu ia akan melawan orang Inggris...... Coba, ka-takanlah, Bob! Kamu menurut pihak mana?“ ”Kita? ...... Menurut tempat tumpah darah, kita hares terbilang pihak Amerika, akan tetapi kita patut disebut raiat kerajaan Inggris.“ Kapitan tanya: ”Adakah kamu membawa kabar baru?“ Demi terdengar pertanyaan bepaknya, Robert memandang dulu arah kepada pintu. Tatkala sudah nyata kepadanya, bahwa pintu tertutup, ia mengatakan: ”Sebenarnyalah kita terpaksa menuju kemari!“ Pada mendengar perkataan ini, orang yang hadir semua memandangi Robert, semua orang terkejut juga! ”Orang durhaka yang asal dari negeri Massakhusetts sudah berkelahi dengan balatentera Inggris. Pasukan kita juga menurut peperangan melawan orang durhaka itu!“ Bundanya terkejut, katanya: ”Jadi kamu sudah berperang! Syukurlah kamu terpelihara!“ Kata Kapitan Willoughby: ”Ta‘ dapat tiada pihak balatentera Inggris menang dalam peperangan itu!“ Demi terdengar kata pujian itu, mayoor muda mendapat bera muka, katanya: ”Sebetulnya orang durhaka itu tiada patut disebut orang hina-dina. Sementara kami terpaksa berjalan balik, kami bersusah-payah benar.“ ”Berjalan balik?“ kata kapitan.

“Ia sungguh. Kami terpaksa berjalan balik; kami pulang ketangsi, sebab dari pasukan kami telah mati tiga ratus orang. Kami terpaksa mengambil pengganti orang tigaratus itu!”

Kapitan tiada suka menjawab lagi; mukanya menja di pucat...... Pada akhiirnya dimintanya kepada anaknya keterangan yang sempurna tentang peperangan yang pertama ini. Peperangan ini diriwayat dalam kitab hikayat Tanah Amerika-Serikat, disebut oleh yang empunya hikayat: peperangan di-Lenington. Robert menyambung, kas tanya:

“Nyatalah kami kena claka besar: pasukan Inggris tentu kalah. Ta‘ dapat tiada orang durhaka itu berambah berani; siapa tahu bagaimana kesudahannya!”

“Jadi itu sebabnya kamu pulang kemari?”

“Bukan itu sebabnya juga! Kita disuruh oleh jen deral balatentera Inggris mengantar surat rahasia kepada Tuan gubernur Tryon: ialah temanmu sementara perang, bukan? Sepanjang pikiran Tuan Tryon kamu suka menolong dia; kalau-kalau kamu dapat menyokong pekerjaan tuan gubernur.”

“Jadi kamu berharap akan sokongan dari kita? Ingatlah! orang laki-laki yang mengiring kita di sini hanya sedikit: sebanyak-banyaknya duapuluh orang...... Bob, kita berharap, supaya kamu kembali kepada pasukanmu, biarlah kembali di situ dengan selamat!”

“Terima kasih banyak, bapak, karena katamu ini. Mula mula kita kuatir diajak olehmu...... akan menurut pihak orang durhaka yang melawan sekarang kerajaan Inggris. Kita bersangka demikian dengan mengingat asal kita, yaitu kita lahir dikolonie ini.“

“Bob, sepanjang pikiran kita kewajibanmu bukan akan menolong orang durhaka. Akan tetapi jangan kira, bahwa kita suka melawan orang kolonie (yang kamu sebutkan orang durhaka) hanya...... sebab kita menjadi orang bangsa Inggris jati! Pada pemandangan kita...... kolonie ini berhak akan menjadi merdaheka juga; hak itu tiada boleh dilawan. Kita berniat akan memalumkan kepada orang kebawahana kita segala hal ihwal tentang perselisihan ini. Jika kiranya hal ini kita sembunyikan juga, tentu kelakuan kita harus disebut kurang pa-tut!”

“Coba dengar, bapak! Ingatlah kiranya: orang durhaka itu hampir semua orang bangsa putih yang lahir di Tanah Amerika ini! Kalau kalau kita akan ditawannya atau kita kena khianatnya sedang kita berjalan balik. Dalam hal itu niscaya kita akan diserahkan kepada kepala orang durhaka itu!”

“Itu tiada kita kuatiri, Bob! Jika kiranya...... Nick tiada khianat kepadamu...... tentu kamu tiada mena-kuti orang durhaka!”

Demi terdengar perkataan ini, ibu dan anak perempocean dua orang itu berteriak seketika, katanya:

“Hai, apa itu? Nick akan khianat kepadamu? Mustahil! Nick seorang pandu yang sudah tua, ialah yang memandukan kami sejak lama sekali! Masakan! ia di-sangka demikian!“ Jawab kapitan: ”Tentu Nick sudah tua, tentu juga bahwa ia memandukan dan mengiring kami sejak lama, ...... akan tetapi pada sangka kita...... ia bukan orang kepercayaan benar!“ Setelah berkata demikian, Kapitan Willoughby bersama-sama isterinya dan anak-anaknya keluear dari rumah; se-mua orang penduduk kolonie ini disuruhnyia berhim-pun. Adapun Tuan Kapitan dihormati amat sangat oleh orang kebawahannya. Ada hanya beberapa orang yang tiada mengasihi dia. Tabiatnya: ia tiada suka beramah-ramahan sebarang orang yang menurut dia, kesukaannya mengatas-ataskan dirinya. Sebab itu ia disebut oleh orang songar. Meskipun demikian ia dipuji juga oleh orang itu sebab adil benar! Setelah orang kolonie berhim pun semua, kapitan mu-lai berkata, demikianlah katanya: ”Kita berniat membicarakan suatu hal yang amat penting, baik untuk tanah-tanah kolonie, baik untuk dae-rah kerajaan Inggris di sini di-Amerika.“ Pada mendengar perkataan ini, Joel Strides memasang telinga, seraya berisyarat (cara bermupakat) kepada se-orang bangsa Jerman, bernama Muller. Kapitan menyambung lagi, katanya: ”Kamu sekalian sudah mengetahui bahwa sejak lama perselisihan antara tanah kolonie di sini dan parlement!¹

Strides mengaru, katanya: “Barangkali maksudmu hendak mengatakan bahwa parlement terus menentukan bahwa kami—orang Amerika—harus mengantar berjenisjenis upeti…… dengan tiada bermusyawarat dulu dengan kami!” “Ia sungguh! Kami terpaksa membayar cukai teh dan cukai garam serta upeti akan memeliharakan balatentera Inggris yang sedang berperang diderah ini!” Kemudian kapitan Willoughby memalumkan kabar menyatakan perang antara balatentera Inggris dan orang Amerika sudah mulai, katanya, kalaukalau orang Amerika terpaksa berperang sementara banyak tahun yang akan datang lagi. Strides mendengarkan perkataan kapitan Willoughby dengan hirau benar: orang bangsa Amerika yang hadir memandang seorang kepada seorang. Adapun Mikhael O’Hearn (orang bangsa Ier yang biasa dipanggil Mike) mencapai tongkatnya dengan bermasam muka; rupa-rupanya ia menantikan perintah akan menghantam orang! Jamie (yang bekerja baik sebagai tukang ba tu, baik sebagai tukang kebun) tertenggelam dalam pi kirannya. Orang Belanda sama kali tiada suka menyatakan pikirannya atau perasaannya. Orang bangsa neger yang hadir terlalu amat heran pada mendengar perkataan tadi itu; matanya sebagai kentang besarnya! Hanya Nick tetap hati saja; rupa-rupanya ia sama sekali tiada perduli perbicaraan kapitan Willoughby. Dengan mengingat kelakuan Nick, kapitan menyangkakan bahwa cerita perkelahian di-Lenington sudah diketa- huinyia.

Strides tanya: “Inikah kabar yang dibawa kemari oleh tuan mayoor?” Jawab Kapitan: “Ia sungguh! Pada timbangan kita wajib atas kita akan memalumkan kabar ini kepada kamu sekalian de- ngan segera.”

Kemudian orang yang hadir itu semua cerai-berai. Ada hanya seorang yang tiada pergi, ialah Joyce—bekas sersan balatentera Inggris. Katanya: “Kapitan! Pada pemandangan kita ta’ ada orang Amerika atau orang Inggris! ...... Kita menurut perintah mu jual!”

¹ Pemerintahan Inggris.


FASAL KETIGA

ORANG SEDANG MELENGKAPKAN BLOKHUIS AKAN MELAWAN PENYERANGAN

Keesukan harinya Strides—ia sudah diangkat penjenang—beserta beberapa orang lain dipanggil menghadap tuannya.

Kapitan Willoughby dan anak laki-lakinya berdiri di hadapan blokhuis; maksudnya hendak meneguhkan rumah, supaya sekuat-kuatnya akan menahan penyerangan musuh.

Kata Kapitan: “Yul, kami terpaksa meneguhkan rumah; kalau kalau kami akan diserang musuh!”

Jawab penjenang Yul: “Tuan Kapitan kuatir diserang oleh orang Inggris ……atau oleh orang kolonist?”

“Tidak, Yul! Kalau ada huru-hara di negeri ini, senentiasa orang bangsa Indiaan durhaka juga; mula-mula merekalah yang akan menyerang kami! Perlulah rumah ini diberi berpintu besar; lain dari itu kita berniat akan mendirikan ceracak sekeliling rumah.

Kata Yul:

“Itu berguna sekali! Akan tetapi jangan berlambat lambat! Sekarang bulan Mei; ada kerja lain yang perlu dikerjakan pada waktu sekarang ini, yaitu meluku dan menggaruk tanah perusahaan. Tentu pekerjaan itu makan banyak waktu! Mula-mula kami harus menebang pohon banyak batang, lalu......”

“Sudah, Yul, sekarang timbanganmu sudah nyata ke- pada kita...... Biarlah kita menyatakan kepadamu tim- bangan kita sendiri dulu...... Pintu besar ini harus dipasang pada dinding rumah...... Ceracak harus di- dirikan. Pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam seming- gu juga.”

Robert mengaru, katanya: “Benar, bapak! Pekerjaan tersebut tadi itu dapat di- selesaikan dalam seminggu...... Biarlah peraturan peke- jaan semua diserahkan kepada kita, bapak. Kita berniat tinggal di sini, sehingga pekerjaan itu selesai sama se- kali!”

Tuan Kapitan membenarkan ikhtiar anaknya itu. Se- bentar juga Robert mulai bekerja. Ceracak itu akan didirikan pada sisi rumah yang berbatas dengan lereng bukit berbatu yang miring sedikit. Pada lereng itu Ro- bert menyuruh menggali dulu sebuah parit. Kemudian orang disuruh menebang pohon. Pohon itu panjang kira-kira dua puluh kaki. Batang-batang diruncing- kan pada seujungnyia, lalu ditanam ke dalam tanah. Sebetunlyia ceracak sudah selesai dalam seminggu: hanya belum ada pintu akan menutup tempat masuk ceracak itu.

Dalam pada itu pun Nick sedang mengembara di daerah. Tatkala sampai di-blokhuis, ia terlalu heran karena meli- hat rumah blokhuis diteguhkan. Tiba-tiba Kapitan me- nanyakan kepada Nick, beginilah pertanyaannya:

“Hai, Nick, bagaimana perasaanmu, bahwa kami mene- guhkan rumah ini?”

Jawab Nick: “Apa guna kamu meneguhkan rumah cara begini?” “Tentu gunanya akan melindungkan kami daripada bahaya didatangi orang bangsa kulit merah; kalau-kalau mereka suka mengayau kami! Kalau-kalau mereka hendak mengambil tengkorak kami!”

“Mengapa kamu kuatir begitu? Orang Indiaan su- dah menanamkan tomahawk (kapak)nya.”

“Benar katamu! Tetapi kapak itu mudah sekali di- keloarkan dari tanah...... Adakah kamu sudah menge- tahui, bahwa sudah terbit pula huru-hara di tanah kolonie?”

“Nick tiada suka bercampur perkara huru-hara itu...... Tuan Kapitan meminjamkan seperempat-seperempat dollar kepada Nick?”

“Benar, uang itu tentu kamu belikan rhum, bukan? Jadi uang pinjaman itu hendak kamu kembalikan sekarang?”

“Benar, ...... Nick seorang kepercayaan...... uang itu hendak dipulangkannya sekarang. Nick membenarkan per- janjiannya.”

Kemudian Kapitan menerima mata uang yang ditunjukkan kepadanya oleh Nick.

Kata orang Indiaan: “Nick suka meminjam sekarang lagi sedollar; uang itu akan dikembalikan besukl”

Tetapi permintaan itu ditolak oleh Willoughby; karena sesungguhnya ia sudah tahu, pertolongan itu tiada berguna...... Nick keciwa betul, rupa-rupanya ia marah, sebab pada pemandangannya ia dinista oleh Kapitan. Lalu ia pergi.

Demi terlihat itu, Robert menyatakan keheranaanya, katanya: “Ajaiblah kelakuan orang Indiaan itu. Pada timbangan kita baiklah orang itu dijauhkan dari daerah blokhuis ini, istimewa pula sebab sekarang ada perang.”

Kata Kapitan: “Bagaimana daya-upaya akan menjauhkan atau membuang seorang Indiaan dari dalam hutan rimba? Tentu Nick seorang jahat, kalau tidak begitu, ia tiada terku-cil dari kaumnyya. Orang bangsa Indiaan tiada suka me-ngucil seorang sekaumnyya; ta’ dapat tiada Nick berbuat jahat betul, sehingga dihinakan cara demikian oleh orang sekaumnyya. Tatkala ia mengiring balatentera, Nick dipu-ji oleh kepala balatentera dan opsir-opsir. Mengapa begitu? Ada sebabnya. Ia orang berani dan pantas, ia berjasa kepada orang putih. Orang yang bertabiat demikian tiada usah dikuatiri, ...... asal ia dijagai benar-benar. Kitalah dihormati oleh Nick; sebab itu ia tiada suka mengganggu kita.“

Demi mendengar perkataan suaminya, bunyinya demikian, Nonya Willoughby mengaru, katanya:

“”Pada timbangan kita sangkamu tentang Nick salah juga. Adakah kamu masih teringat bahwa Robert berpenyakit jengkering? Ketika itu orang Indiaan itu berjalan-jalan jauh-jauh di hutan rimba akan mencari daun obat! Sesudah diobati oleh Nick, anak kami Robert sembuh pula. Daun-daun itu bertumbuh hanya pada tempat yang jauhnyia dari sini kira-kira 50 mil! Siapa yang mengambil daun obat itu, kalau bukan Nick?“

Jawab Tuan Willoughby: “Tentu kita masih ingat itu, Edith. Tentu kita suka mengaku bahwa Nick bersifat yang baik juga...... Coba lihat...... Nick sedang datang kemari!”

Sesudah mengamat-amati pekerjaan meneguhkan blokhuis, orang Indiaan datang menghadap Tuan dan Nyonya Willoughby. Setelah sampai, ia mengatakan: “Nick bekas kepala kaum; banyak kali Nick menurut musyawarat di balai negeri...... Nick ingin sekali mendapat kabar tentang perang!”

Jawab Kapitan: “Adapun perang yang baru terbit sekarang ini, bukan perang antara orang bangsa kulit putih dan orang bangsa kulit merah. Kedua pihak perang itulah bangsa kulit putih; dan lagi orang Perancis—bekas musuh kami pada masa dulu—tiada juga bercampur.”

Nick mengaru, katanya:

“Jadi yang berperang-perangan sekarang, yaitu orang Yankee dengan orang Yankee?¹

“Ia sungguh, Nick, benar persangkaanmu itu. Raja Besar di-Tanah Inggris hendak berperang dengan anak-nya sendiri, yaitu raiatnya yang diam di-Tanah Amerika!”

“Jadi, Kapitan berpakaian serdadu kembali seperti dulu? ...... Jadi...... kami akan berjalan kembali me-nurut serdadu yang meniup suling dan menabuh genderang? Seperti dahulu kala?”

“Tidak, sahabat, bukan cara begitu. Ingatlah, kita sudah berumur! Umur kita sudah melampaui enam puluh tahun, sekarang kita tiada suka berperang lagi, yang kita sukai sekarang itulah damai juga.”

“Kalau begitu...... mengapa mendirikan benteng? Mengapa...... menyediakan ceracak?”

“Ceracak itu gunanya akan melindungkan kami daripada bahaya penyerangan. Kedua pihak orang yang ber-perang itu tiada kita pandang musuh. Tatkala rumah diteguhkan, teringat saja akan bahaya penyerangan. Pada timbangan kita blokhuis ini cukup teguhnyya akan menahan musuh. Seperti kamu mengetahui, kami sudah berlindung dalam blokhuis, yang teguhnyya kurang daripada teguh blokhuis ini.”

Nick menjawab: “Tetapi pagar ceracak tiada berpintu. Apa guna ceracak yang tiada berpintu? ...... Tiada baik begitu...... Ingatlah kiranya...... ada orang perempuan.”

Sedang berkata demikian, Nick menunjuk arah ke- pada Nyonya Willoughby.

Demi terdengar perkataan Nick, Nyonya Willoughby mengatakan kepada Nick:

“Terima kasih, Nick. Nyatalah kamu teringat akan ke- baikan kita. Kita sudah percaya benar-benar, bahwa ka- mu bersahabat betul dengan kita. Kita tiada lupa, bahwa kamu menolong kita tatkala Robert berpenyakit jenke- ring: kamulah yang mengambil daun obat dari tempat yang jauh. Robert sembuh karena pertolonganmu juga...... Akan menggantikan jasamu itu, kita me- ngobati kamu tatkala kena penyakit cecar. Kamu di- suntik oleh kita sendiri. Banyaklah serdadu mati, sebab belum disuntik. Tetapi orang yang kita suntik itu se- mua terpelihara. Kamu juga terpelihara karena per- tolongan kita itu!”

Orang Indiaan masih teringat akan pertolongan Nyonya Willoughby...... Nick mencapai tangan Nyonya, lalu di- letakkan dilengannya, pada tempat suntikan, seraya me- ngatakan:

“Inilah bekas suntikan, ...... tentu kami bersahabat benar, seumur hidul!”

Pada melihat kelakocan Nick, Tuan Kapitan silu hati betul, ia hendak memberi uang sedollar kepada Nick. Tetapi mata uang yang dilemparnya arah kepada Nick, tiada diindahkan oleh orang Indiaan...... Ia pergi saja, entah ke mana.

¹ Penduduk Tanah Amerika.


FASAL KEEMPAT

ROBERT BERANGKAT

Ta‘ dapat tiada perkara yang terlebih dibilicarakan oleh tukang-tukang dan orang lain yang diam di daerah blok-huis, itulah perkara perang yang baru berbangkit itu.

Tiba-tiba Joel Strides mulai berbicara; demikianlah katanya:

“Kabar tentang perang yang kami peroleh di sini kurang terang dan kurang sempurna. Mayoor Willoughby ma-suk bilangan balatentera kerajaan Inggris; nyatalah juga yang dipujinya pihaknya sendiri, yaitu orang Inggris. Kapitan Willoughby—bapaknya—bekas opsir balatentera Inggris juga; menjadi nyata ia suka me-muji juga pihaknya sendiri. Dengan demikian kabar yang kami peroleh kurang terang.”

Kata Muller: “Kalau begitu, ...... baiklah kamu sendiri berangkat akan memeriksakan keadaannya di negeri. Kamulah pandai mengumpulkan keterangan dan kabar. Lain dari itu pekerjaannmu di sini sudah selesai; jadi kamulah ke-sempatan akan berangkat ke negeri Boston.”

Jawab Yul: “Kita berniat demikian; tetapi biarlah kami menantikan kabar dari negeri Boston dulu!”

Sebetulnya Joel Strides ada suatu maksud rahasia. Biarlah maksudnya itu dimalumkan di sini dulu.

Yul berharap kapitan Willoughby terpaksa meninggalkan blokhuis dan kebunnya, karena terpaksa mencari perlindungan kepada pembesar balatentera Inggris. Dalam hal itu blokhuis dan kebun harus diserahkannya kepada mandurnya, Joel Strides—bersama-sama dengan Muller—berniat menjucal kehasilan kebun, yaitu hewan dan buah-buahan. Joel Strides sudah menghitung, bahwa penjualan itu memberi banyak faedah.

Kedua orang itu tiada mengindahkan undang-undang negeri serta kewajibannya. Pada timbangan kedua orang itu tentulah orang bangsa Amerika akan menang dalam peperangan ini. Sepanjang pikiran Muller dan Joel Strides sekalian undang-undang dan aturan lain yang mengusik dia, akan ditidakkkan!

Nyatalah maksud kedua orang ini jahat, akan tetapi pada pemandangannya maksud itu tiada boleh disebut jahat: mereka berbuat demikian, sebab bercinta akan tanah airnya!

Pada timbangan kapitan Willoughby baiklah anaknya—Robert—pulang kepada balatenteranya, jika kiranya Robert tiada suka menurut pihak orang bangsa Amerika.

Robert segan sekali akan khianat kepada balatentera Inggris; berlawanan dengan itu ia masih berharap supaya bapaknya berpaling pikiran; pada timbangan Robert ku rang patutlah bapaknya masuk bilangan pihak orang Amerika. Sebetelnyia kapitan Willoughby belum menyatakan terus terang, bahwa ia berniat menolong orang Amerika; tetapi yang didakwa orang Amerika itu dipandangnya adil dan patut. Lain dari itu ia tiada setuju dengan cara pemerintahan orang Inggris.

Pada permulaan perang kurang banyak orang Amerika yang berniat memerdahekakan diri daripada Pemerintah Inggris. Kebanyakan orang Amerika hanya melawan Pe merintah Inggris, supaya beroleh beberapa jenis hak saja.

Bapak Willoughby menentukan, bahwa Robert akan berangkat keesukan hari. Tangsi, tempat pasukannya, sekarang di negeri Boston. Orang Amerika (kolonist) menyediakan segala peraturan akan mengepung negeri itu. Supaya sampai ke negeri Boston, Robert terpaksa berpa kaian cara pihak orang Amerika. Lalu ia harus menantikan kesempatan akan masuk ke negeri Boston.

Jalan ke negeri Boston tiada diketahuinyia. Sebab itu Nick disuruh oleh bapaknya memandukan Robert ke pada tepi sungai Hudson dulu, yaitu pada tempat su ngai yang terarung.

Kapitan Willoughby menjanjikan pahala kepada Nick. Tetapi pahala itu baru dibayar kepada orang Indiaan sepulangnya kemari, yaitu sesudah mengantar surat ter-tulis oleh Robert, menyatakan bahwa ia terpelihara. Akal itu dilakukan oleh bapak Robert, supaya jangan diti- pu saja oleh orang Indiaan.

Keesukan hari, ketika fajar, Robert bermohon kepada bundanya dan saudaranya; bundanya dan saudaranya ter- lalu iba hati, karena teringat akan bahaya-bahaya yang boleh mendatangi Robert: kalau-kalau Robert tiada pu- lang lagi karena mati dalam perang.

Nick sudah berangkat lebih dulu, yaitu tatkala masih gelap gulita. Ia disuruh menantikan mayoor pada su- atu tempat di tepi sungai. Maksud bapak Willoughby hendak menyembunyikan pemergian anaknya; pada tim- bangannya tiada baik, kalau malum kepada orang pendu- duk bahwa Robert berangkat kepada pasukannya (Bala- tentera Inggris).

Sebab itu Robert membawa bedil perburuan bu- rung, tatkala ia pergi; itu pura-pura saja, supaya orang dapat menyangkakan Robert keluear akan memburu burung juga……

Sesudah liwat dua jam, kedengaran das dua kali: itu alamat yang dijanjikan akan menyatakan bahwa Robert sudah bertemu dengan pandunya Nick.

.............

Panglima polisi berjabat tangan dengan kapitan.

Pada ketika itu juga ada setempuk orang yang ber- senjata sedang menghampiri blokhuis. Demi terlihat itu, Joel Strides senang hati, karena disangkakannya orang yang mendekat itu setempuk orang polisi gubermen, yang disuruh menawan kapitan Willoughby. Sebab itu Joel mendekati rumah besar, hendak melihat kejadian...... Joel terlalu heran pada melihat, panglima polisi berjabat tangan dengan kapitan Willoughby sebagai sahabat. Orang yang baru datang, ...... ialah Evert Beekman, yaitu tu- nangan Harriet. Ia disertai beberapa orang pemburu.

Kata Harriet: “Sayanglah! Mengapa kamu tiada datang lebih dulu: tadi—baru lalu dua jam—saudara (Robert)—berangkat!”

Beekman tersemu betul, katanya: “Kira kita Robert masuk balatentera yang bertempat di negeri Boston!”

Evert Beekman susah hati karena teringat akan un-tung-malang Robert. Akan tetapi hatinya tetap pula, se- telah didengarnya keterangan Harriet, menyatakan bahwa Robert disertai oleh seorang pandu yang kepercayaan benar.

Pada timbangan Evert Beekman perang yang baru ber- bangkit itu terlalu ajaib rupanya: sahabat menyerang sahabatnya; saudara terpaksa melawan saudaranya!

Robert menjadi opsir balatentera Inggris, sedang Evert (bakal-iparnya) baru diangkat komandan pasukan orang Amerika. Jadi Evert terpaksa melawan iparnya!

Adapun niat Evert Beekman hendak bernikah dengan Harriet sebelum mengeluari musuh. Itu sebabnya ia datang kemari sekarang.

Kapitan Willoughby dan isterinya meluluskan per- mintaannya; sesudah liwat beberapa hari Evert dan Harriet dinikahkan oleh pendeta Wood.

Sesudah selesai pesta nikah, baru orang kolonie ini memperhatikan bahwa mayoor Willoughby...... tiada ada!

Pada suatu hari Strides dan Muller minta idin akan pergi ke negeri Mohawk. Pada masa itu maksud Strides dan Muller, yaitu hendak khianat, belum malum kepada kapitan Willoughby.

Kedua orang jahat itu berniat akan mendapatkan mayoor Robert. Jika kiranya maksudnya itu sampai, mereka hendak khianat kepadanya, yaitu memalumkan kepada pembesar pihak kolonist, bahwa Robert berniat memerangi orang Amerika.

Akan tetapi maksudnya itu tiada dapat dibenarkannya: mereka tiada bertemu dengan mayoor Willoughby. Bung-guh pun demikian, tetapi perjalanannya berfaedah kepadanya juga: mereka beroleh keterangan tentang hal ihwal perselisihan antara kerajaan Inggris dan orang kolonist di-Tanah Amerika.

Tatkala bersua dengan orang di tengah jalan, mereka terus menyatakan, bahwa kapitan Willoughby berniat akan melawan orang yang termasuk pihak kolonist (orang Amerika); katanya kapitan Willoughby bekas opsir ba-latentera Inggris.

Mula-mula khianat itu belum berhasil kepada kedua orang jahat itu; akan tetapi berharaplah mereka, supaya khianatnya berfaedah pada yang akan datang!

Evert Beekman tinggal di-blokhuis kepunyan mentu-anya sementara sebulan lamanya, lalu terbitlah niatnya akan meninggalkan blokhuis. Pada malam yang mendahu-lui hari berangkatnya, kaum keluarga Willoughby se- dang duduk di hadapan rumahnya. Tiba-tiba Tuan Wood (pendeta) berteriak, katanya: “Hai, ada orang asing mendekat!” Kata kapitan Willoughby—(yang sudah mengenal orang yang datang itu): “Syukurlah! Orang yang datang, ialah Nick!” Tiada antara lama Nick sudah sampai kepada rumah; takala ia menghadap Tuan Kapitan, ia ditanyai demikian: “Selamat datang, Nick. Di mana Robert?” “Inilah suratnya; tentu surat ini mengandung ke- terangan semua!” Sedang berkata demikian, surat diunjukkannya ke- pada Tuan Willoughby. Jawab Tuan: “Untunglah! Sekalian hal teratur baik betul. Nyatalah kamu orang kepercayaan. Ini hari juga kamu beroleh pahala yang kita janjikan dulu...... Tetapi, Nick, surat ini tertulis pada suatu tempat di tepi sungai Hudson! Dan lagi...... tanggalnya sudah liwat tiga minggu! Me- ngapa surat ini tiada diantar kemari lebih dulu?” Jawab Nick: Kita sampai di pantai laut dulu, lalu baru pergi ke negeri Boston!“ ”Kamu berjalan ke sana bersama-sama dengan Robert? ......Seperti sudah terjangyi, kamu harus pergi ke tepi sungai Hudson?“

“Ada dua jalan yang menuju ke negeri Boston; satu...... untuk Tuan Mayoor; yang lain...... untuk orang Indiaan...... Nick berangkat lebih dulu...... sampai di situ juga lebih dulu.”

“Jadi kamu mendahului anak kita sehingga sampai di negeri Boston lebih dulu juga. Adakah kamu menantikan dia di sana? ...... Atau kamu telah berangkat dari sana, tatkala Robert sampai di negeri Boston?”

Jawab orang Indiaan: “Dalam surat ini ada keterangan semua!” Sedang berkata demikian, orang Indiaan menghadapkan sehelai surat lain, lalu diunjuknya kepada Tuan Kapitan.

Nyonya Willoughby terkejut, katanya: “Bacalah kiranya surat itu dulu di hadapan kami sekalian!”

Jawab Tuan Willoughby: “Surat ini asal dari negeri Boston; coba dengar, apa yang ternyata dalam surat nomor dua ini:

—Kepada ayah dan bunda yang kekasih!—Syukurlah! Kita tiada kena luka. Nick menjadi saksi sementara kejadian ini; biarlah kejadian itu diriwat- kannya!

Bob.

Tuan Kapitan mengguncangkan kepala; isi surat ini kurang terang! Kemudian ia berpaling kepada Nick, katanya:

“Coba, Nick, nyatakanlah kejadian yang kamu lihat itu!”

Jawab Nick: “Nick ta‘ kena bahaya! Hari panas! ..... Tengkorak seribu buah! !! ...... barang semua kena darah! .....” “Kalau persangkaan kita tiada salah, ...... yang kamu lihat itu, ...... perkelahian yang kedua kalil!” Nick menyambung lagi, katanya: “Orang Yankee bertempat di atas bukit! ..... Serdadu yang berpakaian merah¹ menumpang perahu! ..... Mereka tiba di darat...... kemudian berjalan di tepi cara parade²...... meriam berbunyi bum, bum, bum, ...... bedil berbunyi pif, paf! Serdadu yang berpakaian merah itu...... lari!”

Kapitan Willoughby hampir tiada dapat percaya perkataan orang Indiaan; sebab itu dimintannya keterangan lebih luas. Ia tanya: “Lari? ...... Siapa lari?” “Yang lari, ...... yaitu serdadu yang berpakaian merah!” Kabar ini menerbitkan dahsyat kepada orang yang hadir semua! Kapitan mengulangkan pertanyaannya, katanya: “Jadi, ...... yang lari, ...... ialah orang bangsa Inggris? Coba teruskan ceriteranya! Di mana terjadi perkelahian itu?” “Pada tepi lain...... di negeri Boston lain.”

Demi terdengar perkataan itu kapitan menerangkan kepada isterinya bahwa orang Indiaan biasa mengatakan negeri Boston lain usahkan negeri Kharlestown. Negeri Boston terletak pada sebuah jazirah, negeri Kharlestown terletak pada lain jazirah di daerahnya. Jadi...... orang Amerika bertempat di negeri Kharlestown.

Kapitan meneruskan perkataannya. “Nick, adakah kamu menurut perkelahian itu juga? Adakah kamu melihat kejadiannya semua?” “Kita berdiri di belakang tembok batul!” Nyonya mengaru, katanya: “Adakah anak kita—Robert—menyertai peperangan itu juga? Tentukah ia tiada kena luka?” “Hai, kekasih Edith, jangan sangka bahwa Robert hendak menipu kamu.” Kemudian Kapitan Willoughby tanya pula: “Nick, adakah kamu melihat juga anak kita ada di medan peperangan. ”Tentu kita dapat melihat dia! ...... Rupanya sebagai pohon eik³. Ia tiada mau tunduk kepala...... semua orang Yankee yang bertempat sekellilingnya itu dibunuhnya! Tetapi ta‘ ada orang Yankee, yang dapat melukakan dial!“ ”Nick, berapa orang mati tengah perang ini? ...... adakah kamu tinggal di situ sampai kesudahan peperangan itu?“...... ”Kita melihat semua dengan mata sendiri! ...... Ada banyak benda-benda terhambur di muka tanah...... Benda-benda itu kita pungut.“

Sedang berkata begitu, orang Indiaan membuka su-atu bungkusan yang dibawanya! Dalam bungkusan itu tersimpan...... cincin, barang hiasan pakaian opsir, perbuatan perak, kait-kait d.l.l. s.b. Benda-benda itu dirampasnya dari tubuh orang yang telah mati dalam perang.

Willoughby tanya: “Rampasanmu itu asal dari orang Inggris atau dari orang Amerika?”

“Orang yang berpakaian merah lebih dekat. Dan lagi... hanya orang itu mempunyai benda-benda bagus!”

“Yang mana banyak orang ketinggalan di medan peperangan, orang yang berpakaian merahkah atau orang bangsa Amerika?”

Pada menjawab pertanyaan ini, Nick mengangkat ta-ngannya, seraya dipasangnyia jari empat buah, katanya: “Orang berpakaian merah begitu!”...... Orang Amerika begini!“

Sedang berkata begitu dipasangnyia jari sebuah juga. Nick menyambung lagi, katanya: “Sesudah selesai peperangan, digali orang lubang besar akan menguburkan mayat. Serdadu berpakaian merah lebih dari seribu orang banyaknyal”

Beginilah cara memerikan orang Indiaan tentang perkelahian yang dilihatnya; yaitu perkelahian dekat negeri Bunkershill.

Demi terdengar cerita Nick, Evert Beekman memutus akan berangkat ke medan peperangan. Keesukan hari ia bermohon kepada isterinya dan kaum keluarganya, hendak menyampaikan pasukannya.

¹ Serdadu yang berpakaian merah = serdadu kerajaan Inggris.

² Parade = upacara balatentera (upama: pada hari kelahiran maharaja di tanah lapang).

³ Eik = bangsa pohon; rupanya sebagai pohon kayu jati.


FASAL KELIMA

ORANG BANGSA INDIAAN

Sesudah perkelahian di negeri Bunkershill sementara setahun lamanya, ta‘ ada perkelahian lagi antara pihak orang Amerika dan pihak kerajaan Inggris.

Robert diam ditangsi di kota Boston. Negeri itu dike-pung oleh balatentera orang kolonist; Evert Beekman menurut balatentera yang mengepung kota itu.

Ketika musim zomer pada tahun yang berikut, baik Robert, baik Evert mengirim surat kepada kaum kelu-arga di tempat perusahaan Willoughby punya. Surat itu buninya, bahwa pasukan Robert berniat berkumpol dengan balatentera besar yang dikirim dari Tanah Inggris. Balatentera Inggris itu sudah tiba di-New-York, sedang pasukan orang Amerika bermaksud menahan belatentera Inggris itu.

Dalam pada itu pun orang kolonist (orang Amerika) memalumkan kabar, bahwa mereka tiada suka taaluk lagi kepada kerajaan Inggris, mereka memandang dirinya merdaheka juga.

Akan tetapi kabar itu belum malum kepada Kapitan

Willoughby dan orang kebawahannya yang diam di daerah blokhuis. Orang penduduk tempat perusahaan di situ bersangka kedua pihak sudah berdamai! Sebab itu orang itu tiada meneruskan meneguhkan blokhuis dan ceracaknya; pintu dalam pagar ceracak belum terpasang.

Sesudah Nick mengantar surat Robert, ia pergi, entah ke mana. Ia tiada pernah kembali di blokhuis.

Alice Maredith—begitulah nama anak piara Tuan Willoughby—amat suka besar di daerah blokhuis, di hutan sekelilingnya. Alice ta‘ boleh disebut penakut; berlawanan dengan itu Alice harus disebut orang yang berani betul. Dihuetan rimba ta’ ada binatang buas lagi; semuanya telah diburu oleh penduduk kebun Willoughby.

Sekali peristiwa pada suatu hari dalam bulan September, Alice keluar akan besar. Tatkala berjalan, ia menuju lorong yang menuju kepada puncak bukit. Di situ ada pemandangan yang permai; ituliah tempat kesenangan orang yang diam di kebun. Ada juga sebuah bangku besar.

Tempat itu jauh dari blokhuis, di daerah ta‘ ada rumah lain...... Alice duduk di bangku sedang melihat tamaesya permai. Kelihatanlah dari situ orang sedang bekerja disawahladang; anak-anak bermain dinaung poohon-pohon.

Tiba-tiba terdengar kepada Alice teriak, rupa-rupanya teriak itu asal daripada orang yang kena dahsyat. Tiada antara lama lagi kedengaran juga bunyi hirushara-

Kelihatanlah orang laki-laki, orang perempuan beserta anak-anak berlari, nyatalah orang itu didatangi dahsyat besar. Kapitan Willoughby sudah berkuda, sedang memui orang yang berlari itu. Alice gemetar pada seluroh tubuhnya, karena disangkakannya bapaknya kena bahaya. Tetapi Kapitan Willoughby tetap hati; jadi nyata ta‘ ada musuh didaeerah!

Pada akhirnya bapak berbalik, lalu bergopoh-gopoh berlari arah kepada blokhuis. Di halaman rumah berhimpunlah orang pelari banyak; antara orang pelari itu ada juga orang laki-laki yang bersenjata. Mereka menemui kapitan tatkala baru dilihatnya. Alice melihat juga, bahwa bapaknya masuk ke dalam rumah, tiada antara lama ia kembali membawa bedilnya. Rupa-rupanya Willoughby memberi perintah; sejak ketika itu gaduh berubah: orang kolonie semua diam serta tetap hati.

Pada ketika itu di kolonie diamlah orang balig tiga puluh tiga orang. Di antara orang itu ada seorang yang bekas korporaal; Joel Strides bekas sersan; orang tua Joyce bekas ajudant. Ada lagi beberapa orang perempuan yang pandai memakai bedil.

Orang yang bersenjata itu diajari perkara perang oleh Kapitan Willoughby.

Setelah orang pelari semua sampai kepada blokhuis, Joyce beserta duapuluh orang lain berdiri di mulut ceracak. Tuan Kapitan menghimpunkan orang lain akan memasang pintu di dalam pagar ceracak itu.

Di mana Nona Alice? Setelah dilihatnya kejadian di daerah blokhuis, terbitlah niatnya akan meninggalkan tempatnya di atas bukit. Tiba-tiba dilihatnya ada setempuk orang Indiaan, kira-kira limapuluh orang banyaknya!

Antara tempat Alice dan blokhuis mengalirlah sebuah sungai kecil, yang berjambaran. Orang Indiaan bertempat berdekatan jembatan itu; sebab itu Alice tiada dapat meliwa jembatan itu curi-curi. Terpaksalah ia tinggal pada tempatnya dulu, menantikan kesempatan akan lari.

Tumpuk orang kulit merah itu rupa-rupanya tiada berniat akan meneruskan perjalanannya. Makin la'ama ma'kin bertambah juga banyak orang Indiaan! Pada akhiranya mereka menembak bedilnya, membedek arah kepada blokhuis, kalau-kalau mereka berbuat demikian akan mencobakan bedilnya atau akan menaksirkan jauhnya dari tempat blokhuis atau akan menyatakan kepada mu-suhnya bahwa mempunya'i bedil.

Alice dapat melihat, bahwa orang perempocean dan anak-anak disuruh oleh Kapitan berhim pun di halaman; Alice menyangkakan ada peluru jatuh dekat pada blokhuis; rupa-rupanya ta‘ ada orang yang kena. Orang laki-laki mundur menuju keceracak, lalu pintu dipasang-nya.

Terlihat juga kepada Alice pintu sebuah telah dipasang orang, lalu orang mula'i memasang pintu yang lain. Pada sa'at itu juga ada seorang Indiaan sedang ber-gopoh-gopoh di tanah datar menuju ke tempat blokhuis. Dalam tangan terpegang dahan pohon kayu setangkai, alamat orang yang datang itu seorang sahabat, bukan musuh serta berniat bermusyawarat dengan orang putih.

Demi terlihat itu, Kapitan Willoughby menemui peseruh itu; tatkala sudah bertemu dengan orang Indiaan, Kapitan berbicara kepada pesuruh itu sementara beberapa menit lamanya. Kemudian Kapitan bermohon kepada orang Indiaan itu...... Sesudah itu orang kebawahan Willoughby bertempik-sorak: orang berlaku demikian pada menyatakan kesenangannya karena pintu nomor dua sudah terpasang didinding ceracak. Lalu Tuan Kapitan dan orang Indiaan pergi.

Alice tiada teringat akan halnya sendiri. Ia senang hati juga karena memperhatikan pintu-pintu ceracak itu sudah terpasang dua-duanya.

Adapun ceracak itu dapat ditempuh oleh musuh, akan tetapi pekerjaan itu tiada boleh berfaedah kepadanya jika kiranya dicobakannya pada siang hari; jika kiranya musuh kebetulan dapat masuk ke dalam ceracak, ...... tentu ia seolah-olah terpenjara di dalamnya, sebagai di dalam kurungan besar. Dalam hal itu mereka dapat ditembak dengan mudah oleh orang yang bertempat di dalam blokhuis.

Hal itu ternyata kepada Alice karena acapkali keadaan itu dibicarakan oleh Kapitan dan Robert.

Baru sekarang Alice memikirkan, bahwa halnya berbahaya betul. Pada timbangannya baiklah ia tetap pada tempatnya juga; menantikan waktu hari sudah malam. Maksudnya hendak pulang kepada blokhuis, tatkala sudah gelap gulita!

Pada sa'at itu juga kedengaranlah bunyi batu yang bergelung pada lorong. Batu itu berhenti bergelung tatkala sudah dekat kepada tempatnya! ..... Tiada antara lama lagi terdengar kepada Alice bunyi orang yang se- dang berlangkah dibelukar! Alice terkejut; hatinya ber- debar-debar dengan deras karena dahsyatnya. Tetapi Alice bersungguh-sungguh akan diam betul; hampir tiada berani bernapas; takutlah ia, orang yang datang itu dapat mendengar kegerakannya atau bunyinya. Makin lama, ma- kin bertambah nyaring juga bunyi orang yang mendekati dia. Pada akhirnya...... kelihatanlah...... ada orang laki- laki yang membawa bedil. Mula-mula orang itu tiada dapat melihat Alice. Baru Alice tampak kepadanya, baru juga bedilnya disandarkan pada batang pohon, lalu tangannya diangkat tinggi serta berlumpat arah kepada tempat Alice.

Alice menutup matanya; sangkanya ia akan dikayau oleh orang Indiaan...... dengan tomahawknya.¹

¹ Kapak.


FASAL KEENAM

ALICE TERPELIHARA!

Orang laki-laki berteriak, katanya: “Alice, saudara yang kekasih! Kamu tiada mengenal kita lagi?” Sedang berkata demikian, orang laki-laki menunduk-kan dirinya di atas tubuh anak perempuan. Alice merasa diri seolah-olah bermimpi; tiba-tiba ia mengatakan: “Bob! ..... kamu di sini? Bagaimana? Mengapa kamu datang kemari kebetulan pada sa’at ini...... kamu tiada memperhatikan, bahwa orang liar sudah datang?” Jawab Robert: “Alice, kamu ada di sini diri sendiri? Jadi, kamu tiada kesempatan akan pulang karena teralang penyerangan musuh?” “Ia sungguh!” Kata Robert: “Coba terangkanlah, adakah tempat ini tampak kepada orang Indiaan?” Sedang berkata demikian, diambilnya teropong, lalu teropong itu ditujukannya kepada rumah blokhuis.

Jawab Alice: “Pada persangkaan kita tempat kami ini tiada tampak pada orang Indiaan. Didaeerah bukit ini gelap gulita, pakaian kami hitam warnanya. Coba pandangi blokhuis: periksailah kalau pintu-pintu sudah terpasang dalam kota ceracak!”

“……Benarlah! Pintu sudah terpasang; rupa-rupanya orang di-blokhuis senang hati karena pintu itu sudah terpasang. Adakah kamu memperhatikan bahwa bapak terus tetap hati juga, ia tiada bingung, Walaupun ada huruhara sekelilingnya…… Sayanglah, Alice, ia tiada masuk kembali dalam balatentera sebagai panglima besar, supaya ia dapat menolong akan menalukkan orang dur-haka itu!”

“Barangkali kamu, Bob, datang kemari akan mengajak bapak, supaya ia menurut balatentera Inggris?”

“Ia sungguh! Sebetulnya itulah maksud kita! Kita disuruh oleh pembesar balatentera Inggris membawa surat ini kepada bapak; kalau bapak setuju ia akan diangkat komandan suatu pasukan (regiment). Bagaimana pikiranmu, Alice? Bapak suka menurut pihak kerajaan Inggris?”

“Kita syak akan itu! Kemarin dulu dimalumkannya keputusannya: ia tiada suka bercampur perselisihan ini, katanya: yang terpenting, yaitu kewajibannya akan melindungkan anaknyia dan isterinya. Cukuplah bahwa anak laki-lakinya yang tunggal itu menurut pepera-ngan. Jika kiranya ia sendiri keluear akan berperang, ten-tu kelakuannya dipandangnya bengis sekali, sebab ter-paksa meninggalkan isterinya dan anaknya serta membuang nyawanya.“

Jawab Robert: “Pada timbangan kita tampa bapak benar juga. Kita segan mengajak bapak akan menurut peperangan; ta‘ dapat tiada dahsyat ibu bertambah lagi jika kiranya ba-pak keluear akan berperang. Hai, sudah cukup betul, bahwa kita......”

Robert tiada dapat menyudahkan kalimatnya; tiba-tiba dilihatnya ada gaduh didaeerah blokhuis: orang perem-puan semua keluear dari dalam rumah, nyonya Wil-loughby dan Harriet berjalan di hadapan, lalu cerai-berai di dalam ceracak. Tuan Kapitan beserta orangnya menanggalkan pekerjaannya. Rupa-rupanya orang itu dahsyat seraya mencari apa-apa; Walaupun orang Indiaan tiada bergerak!

Alice tanya: “Ada apa, Bob?” “Adakah bunda sudah tahu, bahwa kamu keluear akan besar?”

“Pada persangkaan kita, itu tiada diketahui bunda! Ketika kita keluear, bunda dan Harriet ada di dalam ka-mar sedang bapak ada di kebun.”

Kata Robert: “Nyatalah baru sekarang ini mereka memperhatikan ka-mu tiada ada di rumah!” “Ia sungguh! Bukan heran, kalau orang kena dah-Benteng syat serta berjalan ke sana-kemari! Apa persangkaannya?“‘

Sebenarnya baru pada sa'at itu orang memperhatikan, bahwa Alice ta‘ ada di rumah; itulah sebabnya kejadian gaduh di situ. Makin lama, makin bertambah kuatir orang di situ. Sekalian orang isi rumah mencari Alice dengan tiada berkeputusan, di dalam rumah dan seke- lilingnya.

Kemudian mayoor Robert memasang pula teropong- nya; hendak mengamat-amati perbuatan orang di rumah blokhuis sekali lagi. Kelihatlanlah ada orang yang sedang turun dari dalam jendela: tempat jendela itu kebe- tulan di atas batu besar, yang tingginya empat puluh kaki. Jendela itu tiada dapat dipanjati dari sebelah luar, tetapi mudahlah orang dapat turun dari dalam jendela dengan memakai tali.

Bagian rumah sebelah di situ tiada tampak kepada orang Indiaan; jadi orang yang turun dapat menyam- paikan hutan curi-curi juga, tiada tampak kepada orang Indiaan.

Setelah terpandang itu, Robert mengatakan kepada Alice, demikianlah katanya:

“Sepanjang pikiran kita, kapitan Willoughby berniat menyuruh orang cari kamu, Alice. Jika kiranya pada sisi rumah itu orang Indiaan tiada menempatkan orang pengawal tentu suruhan itu boleh berhasil juga.”

Kata Alice:

“Orang Indiaan tiada tahu keadaan lembah; dengan mengecualikan Nick, tanah lembah itu jarang didatangi orang Indiaan...... Orang Indiaan, yang sudah datang di situ...... itulah kaum Indiaan yang bersahabat dengan kami.“

Kata Robert: “Kalau kalau tumpuk orang bangsa Indiaan ini diantar kemari oleh Nick. Sebetulnya kita tiada percaya akan Nick...... tetapi sejak lama ia bersahabat dengan kaum keluarga kami: tentu ia tiada suka berbuat jahat yang begitu rupa...... Coba lihat, Alice: ada orang yang turun dari dalam jendela...... Ialah O’Hearn, orang bangsa Ier itu!”

Jawab Alice: “Ialah orang yang berperangai baik...... Hai! ...... ada seorang lain lagi, sedang mengikut Mike!” “Betul! Ialah Joel Strides...... Sekarang kedua orang itu sudah turun; mereka membawa bedilnya.” “Tiada baik, bahwa Joel Strides menyertai Mike. Pada persangkaan kita Joel Strides seorang yang tiada keperca- yaan; haraplah kita, supaya ia jangan bertemu dengan kamu, Robert, sedang bertempat di sini!” “Itu heran! Joel Strides sudah lama mengikut bapak; bapak percaya akan dia.” “Barangkali benar perkataanmu itu...... Meskipun de- mikian, biarlah kamu bersembunyi supaya jangan tampak kepada orang lain, bahwa kamu menyertai kita......”

Robert mengaru, katanya: “Coba lihat, Alice! Sekarang mereka meninggalkan bukit batul!”

Robert dapat melihat kedua orang itu sedang menga-rung sungai, lalu lenyap di dalam hutan. Mereka me-nuju kepada tempat Alice.

Robert berniat hendak menemui kedua orang utusan itu bersama-sama dengan Alice; tetapi Alice segan membenarkan niat itu, katanya bahwa Joel Strides ialah seorang yang tiada kepercayaan. Pada timbangan Alice baiklah tunggu di sini sahaja, supaya dapat menghintai perbuatan orang Indiaan serta bahwa sudah malum kepada Mike, inilah tempat kegemaran Alice. Ta’ dapat tiada kedua orang itu terus menujui tempat ini; tetapi jauhnya dari blokhuis lebih daripada setengah jam berjalan kaki: dalam setengah jam sudah gelap betul. Menurut nasihat Alice, baiklah Robert membunyikan diri tatkala terdengar langkah orang yang mendekat. Sesudah itu Robert harus mengikut kedua orang itu arah kepada blokhuis.

Robert setuju dengan niat saudaranya. Sampai sekarang belum ternyata kalau orang Indiaan berniat menyaring blokhuis: belum juga ada kebakaran disebabkan orang Indiaan membakarkan kemah-kemah didaeerah blokhuis, Walaupun adat orang Indiaan berbuat demikian sebelum mulai menyerang.

Pada akhirnya matahari sudah terbenam. Orang yang bertempat di dalam blokhuis makin bertambah kuatir, karena kehilangan Alice. Orang tengah memasang pintu nomor dua diceracak; tiba-tiba orang menanggalkan pe-kerjaannya, hendak mencari Alice. Pintu sudah sedia, tetapi belum terpasang pada tempatnya.

Tiba-tiba Alice berteriak, katanya: “Awaslah! Kita dapat membedakan suara Mike yang sedang berkata-kata. Tentu orang mendekat sekarang.” Jawab Robert: Dalam hal itu baiklah kita menyembunyikan diri juga. Tetapi kita terus tetap berdekatan tempatmu, Alice; ji- ka kiranya ada bahaya, kita akan keluar dari dalam tempat sembuni.“ Kata Alice: ”Bob, jangan lupa: kalau kamu sudah sampai di- blokhuis, kamu harus tunggu di bawah jendela!“ ”Ia sungguh!“ Lalu Robert pergi ke sebelah belakang bukit batu, Alice tetap juga pada tempatnya, menantikan kedatangan kedua orang yang sedang mendekat. Tiba-tiba Alice mendengar suara orang bangsa Ier, ka- tanya demikian: ”Biarlah iblis mengambil orang Indiaan yang diam di- segenap Tanah Amerika! Jika kiranya orang perempuan muda tiada kedapatan di sini, ...... kita putus asa! ...... Hai, Syukurlah! Ada juga! Coba lihat! Alice duduk dibangkunya yang kita buat di situ untuk nona Alice!“ Kemudian Alice berdiri, lalu menemui kedua orang laki-laki, katanya: ”Hai, Mike! Bagaimana keadaan dalam blokhuis? ibu dan saudara ada dalam kebaikan?“ ”Semua teratur baik! Kami kuatir hanya akan hal kamu! Biarlah orang jahat itu menyerang blokhuis: tentu orang liar itu diterima dengan sepertinya!“ ”Syukerur! Itu baik! Sekarang kami harus bergopoh-gopoh. Majulah! Yul! Kamulah berjalan di hadapan, kita akan mengikut kamu!“ Kemudian orang berangkat menuju ke rumah kembali. Supaya jangan terlihat oleh musuh, orang berjalan di bawah pohon-pohon. Pada akhirnya sampailah kepada pinggir hutan; tampaklah rumah blokhuis! Joel berhenti hendak menghintai dulu, kalau-kalau ada orang Indiaan atau bekasnya, katanya: ”Ta‘ ada apa-apa yang harus dikuatiri. Sekarang pa-tut kami menurut tepi sungai, sedekat-dekatnya dengan hutan belukar.“ Alice menyuruh kedua orang laki-laki berjalan di-hadapan...... lalu ia berisayaran kepada Robert. Alice ber-bisik-bisik pada telinganya, ...... sesudah itu ia bergopoh-gopoh mengikut Joel dan temannya. Robert tinggal ke-belakang sedikit, sedang duduk dibatang pohon ter-tumbang. Alice sampai kepada kaki bukit, lalu menujui ce-racak. Baru masuk ke dalam ceracak itu, barulah di-peluk oleh bundanya. Harriet dan kapitan Willoughby memberi selamat datang kepadanya, seraya menangis ter-sedu-sedu. Alice berteriak, katanya: ”Bapak! Ibu! Masuklah! lekasalekas! Kita sudah ber-oleh kabar yang penting!“


FASAL KETUJUH

ORANG JAMU YANG DATANG KETIKA TENGAH MALAM

Kaum keluarga Willoughby lalu masuk ke dalam rumah; setelah pintu kamar terkunci, Alice mulai meriwa'yat hal ihwal pertemuan dengan Bob.

Nyatalah orang tua terlalu senang mendengar kabar bunyinya bahwa Robert ada di daerah.

Alice menyatakan niatnya: bapaknya diajak=ajaknya sekuat=kuatnya, supaya maksud Alice itu dibenarkan pada sa'at itu juga. Tetapi kapitan Willoughby tiada mengerti apa sebabnya Robert bersembunyi di daerah; dan juga ta‘ terang kepadanya apa sebabnya hadirat Robert tiada boleh dimalumkan kepada Joel Strides. Hal itu diterangkan oleh Alice, katanya demikian:

“Sepanjang kita punya pikiran Joel Strides seorang yang tiada kepercayaan: matanya selalu sedia akan menghintai, ia tiada berani memandang orang sedang berkata; seakan-akan ia malu. Lain dari itu ia senentiasa mengembara di daerah. Kelakuannya mengadakan cemburan kita. Mengapa Robert berangkat ke negeri Boston cara curi-curi? Tentu bapak kuatir kalau Robert akan didatangi celaka......“

Jawab kapitan: “Pada masa itu banyak perisau berkembara di dalam lembah...... Niatmu ini kita timbang juga. Biarlah Robert berseombunyi di sini; kalau kiranya bahaya akan datang, Robert tiada dapat tertahan di sini, lalu musuh mendapat tahu bahwa ia menyertai pihak hami usahkan pihak kerajaan Inggris.”

Dalam kamar di sebelah, lampu dipasang orang; itulah alamat untuk Robert yang artinya: dekatlah juga! Nyonya Willoughby dan anak perempuan duduk dijen-dela, hatinya berdebar-debar dengan deras, sedang mende-ngar-dengarkan bunyi dilua; tiada antara lama kede-ngaran bunyi orang berlangkah mendekati blokhuis. Da-lam pada itu pun sudah gelap gulita!

Tuan kapitan mengelur tali, lalu diturunkan dari dalam jendela. Robert mengikat ujung tali itu pada pinggangnya, tali dirintaknya, alamat dapat dinaikkan.

Kata Tuan kapitan: “Kami berdua saja: tuan Wood dan kita tiada cu-kup kuat akan menaikkan beban yang sekian berat.”

Kata Alice, seraya tertawa: “Hal itu kita pikirkan juga. Ada tiga orang di kebun ini yang boleh dipercaya benar-benar, yaitu kedua orang bersaudara Plin dan Mike. Orang ketiga itu kita panggil kemari.”

Kemudian Alice kelua dari dalam kamar, tiada antara lama pulanglah ia, diiring oleh orang bangsa neger duа orang dan seorang bangsa Ier.

Kata Alice: “O’Hearn, kamu menjadi sahabat kita, bukan?” “Ia sungguh, Nona Alice; kamu kita kasihi lebih daripada diri kita sendiri.”

Lalu Alice berpaling kepada orang neger, katanya: “Bagaimana kamu, Plinius? ...... Bagaimana anakmu? Kamu sudah mengenal kaum keluarga kami sejak kecil...... Bolehkah kita percaya akan kamu, supaya jangan kamu menaruh khianat? ...... Kemarilah! He- lalah tali ini. Awaslah, supaya tali jangan putus!”

Lalu orang laki-laki mulai menghela tali; pada akhir- nya beban yang bergantung pada tali itu sampai dijen- dela.

Mike berbisik-bisik, katanya: “Rupa-rupanya yang dinaikkan itulah seekor sapi ge- muk; tentu akan perbekalan sementara blokhuis dise- rang musuh!”

Pada sa’at itu tampaklah kepala...... orang yang dinaik- kan...... Demi terlihat itu, Mike melepaskan tangannya dari tali serta menabuh orang itu...... untunglah! Ka- pitan dapat berantara!

Mike berteriak, katanya: “Yang terikat pada tali itu...... seorang Indiaan. Tentu sapi yang terikat pada talinya mula-mula dilepaskan oleh orang Indiaan, lalu dirinya sendiri dikebat pada tali, su- paya dapat terhela ke atas!”

Jawab Kapitan:

“Bukan! ...... Inilah...... Robert! Mike, permintaan kita supaya hadirat Robert jangan dimalumkan kepada orang lain!”

Baru Robert berdiri di dalam kamar, ibunya bergopoh-gopoh menemui dia serta memeluk anaknya. Mike beserta kedua orang bangsa neger senang hati juga karena me-lihat tuan muda sudah kembali di rumah. Setelah orang neger dan Mike meninggalkan kamar, Robert mulai meriwayatkan hal ihwal pendapatannya tentang orang Indiaan diluear.

Kata Kapitan: “Sekarang orang Indiaan diam juga; jika kiranya orang terus menurut adatnya, tentu mereka belum mulai menyerang kami. Orang itu sudah memasang api di tempat petentaraannya. Tadi kita bersua dengan seorang suruhan, katanya orang Indiaan setempuk itu tiada bersetru dengan kami: mereka sedang berjalan ke sungai Hudson, maksudnya hendak beroleh kabar tentang perang yang baru terbit. Tetapi katanya itu tiada kita percaya; sudah beberapa kali kita bersua dengan orang Indiaan yang memakai muslihat serupa itu...... Biarlah kami diserang oleh orang Indiaan; kami punya perbekalan cukup akan menahan penyerangan yang lama.”

Jawab Robert: “Ingatlah: ada penggilingan gandum, ada tanam-taman di kebun dan ada rumah-rumah tempat kediaman tukang; semua itu tiada dapat dilindungkan. Jadi: barang itu harus diserahkan juga kepada musuh!”

Kata bapaknya: “Apa boleh buat? Jika kiranya kami hendak melindungkan itu semua, kami terpaksa mengeluari musuh akan menyerangi dia di medan peperangan. Tetapi tum-puk kami hanya sedikit orang; ta’ cukup akan mengusir musuh. Lain dari itu dalam hal itu banyak orang pihak kami akan dibunuoh; ingatlah: hampir semua orang laki-laki ada bininya dan anaknya…… Coba, terangkanlah, Bob, apa kabar dari medan peperangan?” “Sekarang ini pasukan kami ada di negeri New-York. Balatentera kami berpindah ke sana, sesudah panglima Washington yang mengepalai orang durhaka itu terusir kepada pulau Long-Island.” “Terusir ke pulau Long-Island! Bagaimana, Negeri New-York tercerai dari pulau Long-Island oleh teluk yang lebarnya lebih dari semil! Bagaimana orang bangsa Amerika yang kalah dalam peperangan itu dapat menyeberangi teluk itu? Heranlah pasukannya tiada ditidakkan sama sekali! Itu kurang terang. Kita tiada mengerti!” Pada mendengar perkataan itu, tuan mayoor bera muskanya, ia memandang saudaranya Harriet seraya tertawa saja, katanya: “Tentu panglima Washington kami alahkan, pasukan kami mengusir dia dari negeri New-York.” “Tetapi, …… terangkanlah, Bob; betapa peri ia dapat menyeberangi teluk yang lebar itu?” Robert mengelak pertanyaan bapaknya, katanya (kepada Harriet):

“Suamimu (Evert Beekman) amat gagah berani dalam peperangan itu, Harriet.”

Kapitan Willoughby berteriak, katanya: “Kita bertanya sekali lagi, Bob: betapa peri Washington dapat menyampaikan tepi di seberang teluk, sedang mu suh ada bertempat tiada jauh daripada tempatnya?”

“Sebenarnya perjalanan balik balatentera yang di bawah perintah panglima Washington itu patut dipuji, segala perbuatan diaturnya sendiri; ta‘ ada seorang serdadunya yang mati sementara penyeberangan itu. Panglima-panglima pihak kami juga harus mengaku Washington punya nama menjadi masyhur karena penyeberangan ini! Kepujian itu tiada terhapus lagi!”

Demi didengarnya keterangan itu, tuan kapitan menggenggami meja seraya mengatakan: “Hai, kalau Tanah Amerika mempunya'i seorang jen deral yang pandai begitu tentu kuasa orang Inggris di tanah kita ini mesti akan lenyap!”

Robert meriwayat lagi panjang-lebar perbuatan jen deral Washington, lalu orang bermusyawarat tentang hal menyembunyikan mayoor Robert. Di dalam rumah blok huis ada sebuah kamar yang sederhana lusnya. Kamar itu diserahkan kepada mayoor untuk tempat kediaman nya. Setelah orang kolonist semua masuk tidur, tuan kapitan beserta tuan Wood bermaksud keluar akan melihat dan menghintai daerah; rupa-rupanya perjalan nan keluar ta‘ boleh berbahaya sebab gelap gulita. Ke dua orang itu menutup jendela semua, supaya te rang lampu di dalam kamar jangan kelihatan kepada musuh.

Kata Kapitan: “Selama kami bertempat di sini, di dalam rumah blok huis, kami boleh disebut terpelihara adanya! Semua pintu—kecuali sebuah—telah terpasang. Pintu yang sebuah itu sudah ditempatkan dalam ibu pintunya; ta’ boleh jatuh sebab tersokong betul. Besuk pagi pintu itu akan dipasang juga.

Sementara malam kita hendak menempatkan pengawal duabelas orang; sembilan orang di dalam benteng dan tiga orang diluear. Jika kiranya hendak penyerangan ru-panya, orang pengawal harus meletupkan bedilnya, lalu mereka harus mundur; serta pintu-pintu dan jendela akan ditutup. Sementara musim zomer yang baru lalu kita sudah membangunkan sebuah langkan. Langkan itu bertempat di atas atap rumah berkeliling rumah sama sekali. Dari tempat langkan itu kami dapat membedil musuh sebelum ceracak dipanjatinya. Jika kiranya orang Indiaan melemparkan panah berapi akan membakarkan atap rumah, kami dapat memadami apinya se- dang bertempat dilangkan itu.“

Dalam pada itu pun Robert sudah makan; ia menyediakan diri akan menyertai bapaknya dan Tuan Wood akan menghintai perbuatan musuh diluear benteng. Robert berganti pakaian supaya jangan dikenal orang. Ca-ra menyamarkan diri nyatalah sempurna juga; Tuan Wood tiada mengenal dia.


FASAL KEDELAPAN

DI MANA MUSUH?

Orang kolonist sudah tidur lelap. Tuan kapitan, anaknya Robert beserta Tuan Wood bersenjata; seseorang mempunyai bedil sebilah dan pistol beberapa bilah. Mereka berjalan di halaman rumah sebelah hadapan, lalu melalui pintu ceracak. Di situ berdirilah seorang pengawal.

Di atas bukit yang berbatu—yaitu di belakang penggilingan gandum itu—kelihatanlah api yang terpasang oleh orang Indiaan. Orang itu tiada mendiami kemah kemah kepunyaan orang kolonist. Itulah mengherankan tuan kapitan! Tempat petentaraan orang Indiaan hanya ternyata karena api besar; tetapi di situ ta’ ada pengawal, seorang pun tidak! Kata Tuan Kapitan:

“Itu heran sekali! Rupa-rupanya orang kulit merah tiada menempatkan pengawal di sini! ...... Adatnya...... jangan memasang api berdekatan petentaraan! Ta’ dapat tiada dengan demikian tempatnya malum kepada musuoh!”

Jawab mayoor Robert: “Kalau kalau perbuatan itu sejenis muslihat! Sepan-jang persangkaan kita petentaraan itu sudah diting- galkannya...... Jika bapak memberi idin, kita berniat akan memeriksai keadaan dekat-dekat; lain dari itu kita hendak mengamat-amati keadaan kemah-kemah!“

“Maksudmu itu baik jugal Marilah! Kami meme- riksai keadaan kemah-kemah dan kandang kuda. Barang- kali kuda-kuda kekurangan air minum. Yang terlebih penting, yaitu menentukan tempat musuh serta apa maksudnya.”

Kemudian Willoughby menyambung lagi, katanya: “Tuan Wood! baiklah kamu jangan turut; ja- ngan malumkan juga maksud kami kepada barang siapa jupaun! Hanya orang pengawal boleh diberi ta- hu, bahwa kami sudah keluar. Katakanlah kiranya ke- pada orang itu baiklah mereka terus membuang-buang mata arah kepada kami tatkala kami pulang kemari kelak!”

Tuan Wood tanya: “Kalau kalau berbahaya juga kamu meninggalkan ce- racak ketika malam. Boleh jadi orang pihak kami me- nembak kamu.”

“Akan mengalang itu, baiklah kami menjanjikan su- atu alamat, supaya orang pengawal dapat mengenal kami.”

Kemudian kapitan dan anaknyia berangkat, cara ber- jalannya ati-ati benar. Mereka tiada menurut jalan raya yang menujui penggilingan gandum. Di daerah yang dilaluinya orang semua sedang tidur. Ta‘ kedengaran bunyi. Pada akhirnya sampailah kepada kebun pokok buah-buah, yang tempatnya berdekatan pinggir hutan-

Di sini letak juga kemah tempat kediaman orang pen- jaga kuda. Tetapi rumah itu telah kosong. Dibela- kang rumah itu terdapatlah kandang-kandang kuda. Pa- da timbangan kapitan baiklah kuda-kuda diusir ke- luar. Dengan demikian kuda boleh mendapat makan dan minum seberapa berguna. Kapitan masuk ke dalam kandang, lalu kuda dilepaskannya dari tali kebatannya serta diusir keluar.

Kemudian orang menujui pokok berbuah appel; dari situ ada pemandangan luas; kelihatanlah...... api petentaraan musuh, tetapi musuh sendiri ta’ ada! Se- dang berdiri di situ, tiba-tiba terdengar bunyi...... seolah- olah ada orang yang mendekat curi-curi. Kedua orang menyediakan bedilnya...... lalu didapatnya ada orang yang mendekati pokok buah appel.

Kapitan berteriak, katanya: “Siapa di situ?” Sesudah berkata demikian, ia menemui orang asing itu, lalu tangannya diletakkannya pada bahu orang asing. Rupa-rupanya orang yang baru datang itu terkejut sekali...... lalu ia berseru: “Hai, kamu di sini, kapitan!” Kata itu disebutkan oleh orang yang suaranya su- dah terkenal oleh kapitan. Orang asing menyambung la- gi, katanya: “Apa sebab kamu keluar dari dalam ceracak?” “Baiklah pertanyaan itu kita tanyakan kepada kamu sendiri...... Strides!”

Adakah tempat ini tampak kepada orang Indiaan?

Kapitan Willoughby tersemui benar karena memperhatikan bahwa Strides keluar dari rumahnya; kapitan menyambung lagi, katanya:

“Karena sesungguhnya terlaranglah kepada sekalian orang akan meninggalkan rumah!”

Jawab Strides: “Benar katamu, kapitan, ...... tetapi...... perlulah kami berbisik-bisik saja pada tempat ini...... jangan berkata-kata nyaring, kalau-kalau ada musuh didaeerah! ...... Sia-pakah orang yang menyertai kamu? Itukah tuan Wood?”

“Itu tiada kamu indahkan, Strides. Orang yang menyertai kita ini, ada di bawah perintah kita: jadi ia beridin akan datang kemari. Akan tetapi kamulah bersalah, karena melanggar perintah kita. Coba terangkan, ...... apakah maksudmu datang kemari?”

Jawab Strides: “Kiita tiada pernah membohong: sekarang juga kita suka berkata benar juga: maksud kita datang kemari, beginilah: tatkala kami disuruh meninggalkan kemah-kemah sebab kedatangan orang Indiaan, kita lupa mengambil uang simpanan kepunyaan kita. Uang itu—kira-kira dua ratius dollar banyaknya—kita ambil sekarang dari dalam kemah. Kita berlaku demikian, sebab pada persangkaan kita orang Indiaan berniat merampas nanti malam.”

“Jika kiranya benar katamu, ...... tentu kamu su-dah mengambil uang itu! Di mana wangmu itu?”

“Adal!”

Sedang berkata demikian, Strides menunjukkan ke- pada tuan kapitan sehelai lenso yang berisi mata uang. Pada melihat itu, kapitan sudah rela. Kemudian ka- pitan bertanya lagi; demikian bunyi pertanyaannya: “Strides, bagaimana daya=upayamu akan keluar dari dalam ceracak? Kamu tiada tertahan oleh orang pe- ngawal?” Jawab Strides: “Ceracak pada sisi sebelah dalam, mudah terpanjat, tuan Kapitan!” Sementara perbicaraan ini Robert bertempat tiada jauh dari kedua orang yang sedang berkata itu; perbuatannya demikian, supaya jangan terkenal oleh Strides. Tuan kapitan sendiri juga kuatir, kalau=kalau Joel dapat me- ngenal anaknyia Robert; sebab itu ia berpikirkan ikhtiar akan menjauhkan dia. Kapitan menanyakan kepada Stri- des, kalau ia sudah beroleh kabar tentang perbuatan orang Indiaan; ia tanya: “Lain daripada api besar yang dipasang oleh orang Indiaan itu, kami tiada mendapat bekas orang Indiaan! Apa pendapatanmu, Strides?” Jawab Yul: “Kita tiada bersua dengan orang Indiaan; rupa=ru- panya mereka sudah berangkat dari sini kembali. Tetapi pada timbangan kita, orang itu tentu akan kembali ke- mari; orang itu tiada kepercayaan.” “Baik! Yul. Pulanglah kiranya sekarang, akan tetapi jangan malumkan bahwa kamu bertemu dengan kita beserta......“

Yul mengaru, katanya: “……Beserta siapakah?”…… Kapitan bergopoh-gopoh membaiki kalimatnya; demi kianlah katanya: “Jangan malumkan bahwa kami bertemu seorang dengan seorang. Perbuatan kita di sini patut kamu pandang sebagai rahasia.”

Sesudah berkata demikian kapitan meneruskan perjalanannya; Robert mengiring dia pada jarak beberapa langkah. Tiba-tiba Robert terpegang pada lengannya: Joel berlumpat kepada sisi Robert, katanya berbisik-bisik: “Hai, kamu di sini, Daniel?”

Yul menyangkakan ialah tukang penggilingan. Jawab mayoor (bersuara yang merengus): “Baiklah kamu pergi dari sini juga selekas-lekasnyal!” Perintah mayoor itu terus dibenarkan juga oleh Joel Strides. Sedang berjalanan menuju kepada blokhuis Joel bertanya dalam dirinya: Siapakah gerangan orang itu? Ta‘ dapat tiada ialah orang asing! Baiklah kita menyelidiki hal itu betul-betul!

Hal itu dipikirkannya dengan tiada berkeputusan. Sebab tertenggelam dalam pikirannya, tiada diperhatikannya bahwa ia sudah sampai kepada ceracak dan lagi tiada teringat bahwa di situ berdiri seorang pengawal. Tiba-tiba ia teringat juga akan keadaan itu karena terdengar kepadanya bunyi das: ada peluru meliwat telinganya dekat-dekat.

Orang di dalam blokhuis memandang bunyi das itu sebagai alamat. Kejadianlah gaduh besar di hadapan rumah. Gaduh itu baru teduh, setelah Joel menyatakan ia bukan musuh, melainkan menjadi orang yang di bawah perintah tuan kapitan. Lalu Joel beroleh idin akan masuk. Setelah sampai di dalam rumah, ia ditanyai oleh orang semua tentang pendapatannya. Jawabnya, baha wa benteng ini ditinggalkannya atas perintah tuan kapitan.

Tuan Wood tanya: “Kamu tiada melihat apa-apa? Tiadakah kamu bersua dengan orang?” Jawabnya: “Tuan Wood, kita bertemu dengan tuan kapitan, yang disertai oleh......”

Sesudah berkata demikian, Joel pura-pura berbatuck, seraya mengulangkan kata “oleh”...... Tentu haraplah ia, supaya Tuan Wood meneruskan kalimat, menyatakan nama orang yang menyertai tuan kapitan!

Jawab Tuan Wood demikian bunyinya: “Jadi, kamu sudah bertemu dengan tuan kapitan. Adakah kamu bertemu juga dengan orang Indiaan?” “Tidak! Nyatalah orang itu bersembunyi benar-benar! Kalau-kalau orang itu sudah meninggalkan lembah. Te tapi...... kapitan disertai oleh siapa? Katamu tadi itu tiada kita dengar betull”

“Kita tiada menyatakan apa-apa! Strides, baiklah kamu pergi juga bertemu dengan binimu; ta‘ dapat tiada binimu dahsyat karena kamu belum pulang! Ati-atil

Jangan malumkan pendapatanmu kepada barang siapa pun tidak!“

Dalam pada itu pun kapitan beserta anaknya menerus- kan perjalanan akan menghintai musuh. Tatkala ter- dengar kepadanya bunyi das yang asal dari blokhuis, me- reka sudah mengerti apa sebabnya pengawal meletupkan bedilnya.

.............

Sekarang jauhnya dari tempat api, kira-kira seratus langkah juga...... Tatkala kedengaran bunyi das, tiada kejadian gaduh di daerah tempat api itu...... Orang terus mendekati api, yang nyalanya sudah mulai padam. Ta‘ ada orang Indiaan, bekasnya pun tiada dapat.

Kemudian kedua orang itu menuju arah kepada penggilingan, kemah-kemah serta kepada beberapa tempat lain lagi yang hendak diperiksainya dari dekat. Rupanya sebagai kampung yang penduduknya mati habis belaka.

Pada timbangannya: orang liar sudah meninggalkan pe- tentaraan—barangkali mereka berniat kembali kemari kemudian hari. Sebab tiada didapatnya apa-apa yang me- nerbitkan syaknya, opsir dua orang itu berbalik, hendak pulang. Setibanya diceracak tuan kapitan bertapak ta- ngan; pintu dibuka orang; kapitan dan anaknya Robert diterima oleh Tuan Wood.


FASAL KESEMBILAN

PENGANTARA

Setelah mayoor baru sampai di rumah, ia masuk tidur dalam kamar yang disediakan untuknya.

Niat mayoor Robert hendak menolong bapaknya, tatkala blokhuis diserangi musuh. Tetapi yang penting sendiri, bahwa mayoor Robert tiada terkenal orang (Sebab sebe-tulnya mayoor termasuk bilangan balatentera Inggris). Itu sebabnya sebagian rumah diserahkan kepadanya su-paya bagian itu diteguhkan seboleh-bolehnya. Kamar temapat kediaman Robert terletak kebetulan di atas batu besar yang terjal sekali tebingnya. Tentu sukar benar me-masuki rumah blokhuis pada sisi itu. Sungguhpun demikian, Robert mengingat, bahwa batu dapat dipanjati orang; percobaan musuh akan memanjati tebing batu patut ditidakkam!

Mike beserta orang neger dua orang, diserahkan kepada mayoor Robert akan menolong dia pada pekerjaaan menegohhkan rumah.

Pada hari itu juga kapitan Willoughby beroleh kabar menyatakan bahwa orang Indiaan sudah datang kem-bali pada petentaraannya, yaitu berdekatan penggilingan. Kata bapak pada Robert: “Apakah gerangan maksud orang Indiaan? Sepanjang persangkaan kita, orang Indiaan disertai banyak orang ku-lit putih. Persangkaan kita ini sudah kita malumkan kepada Joel Strides; katanya ia setuju persangkaan itu.” Kata Robert: “Ikhtiar kita, baiklah Strides dipanggil kemari. Kita ma-suk ke dalam kamar di sebelah, sedang pintu dibiarkan berenggang, supaya perbicaraanmu dengan Strides ter-dengar kepada kita.” Kemudian Mike disuruh memanggil penjenang Stri-des; tiada antara lama ia menghadap tuannya. Seperti telah diperkatakan dulu, kapitan percaya akan penjenangnya: lakunya tentang Strides buta-tuli saja-Itu sebabnya Willoughby tiada memperhatikan tingkah laku Strides kurang lurus adanya. Sudah beberapa kali Strides menanyai orang semua akan beroleh keterangan tentang “orang asing” yang ber-sembunyi dalam sebuah kamar di dalam blokhuis. Sudah ternyata kepada Strides bahwa orang segan memalumkan keterangan tentang orang jamu itu...... Tiadalah ia bersangka bahwa orang asing...... ialah mayoor Robert. Persangkannya: jamu itu seorang penghintai pihak Ing-geris. Jika kiranya sah persangkaannya itu, tentu kapitan Willoughby dapat dituduh kepada orang Amerika. Kata kapitan: “Dulu kita sudah memalumkan kepadamu persang-kaan bunyinya: bahwa ada banyak orang bangsa putih bercampur dengan orang Indiaan. Mereka menyamarkan diri cara orang liar. Jika kiranya tumpuk orang itu hanya mengandung orang bangsa Indiaan, tentu kami sudah diseranginya sejak lama. Adat orang Indiaan berlainan sekali dengan adat orang Eropa. Mereka tiada suka berlambat-lambat jika hendak menyampaikan maksudnya.“

Strides mengaru, katanya: “Suruhan yang disuruhnya kemarin akan menghadap tuan, rupa-rupanya seorang bangsa Indiaan jati, barangkali ia termasuk bilangan kaum Mohawk.” “Benar katamu, Strides; orang itu kita amat-amati benar-benar...... pada persangkaan kita maksudnya tiada baik; kalau-kalau ia berniat menghintai di sini, kita kuatir orang itu hendak khianat.” “Betul, Tuan! Khianat itulah perkara buruk! ...... Jika kiranya rumah diserangi musuoh pada hari ini, ...... dapatkah kamu melindungkan rumah bersama-sama orangnyna?” Kapitan berteriak, katanya: “Pertanyaanmu itu heran benarl Adakah kamu menyangkakan kita suka main gila saja, tatkala rumah ini kita suruh meneguhkan serta membangunkan ceracak itu? Kamu dipanggil kemari supaya kita beroleh timbanganmu: apa maksud orang yang petentaraannya ada berdekatan penggilingan?” “Jika kiranya ada orang gagah berani, yang berani mem-benarkan pesanan tuan, yaitu berangkat kepada petenta-raan itu sebagai utusan...... tentu kami boleh menda-pat keterangan.“

Demi terdengar perkataan Strides itu, berteriaklah Mike, begini katanya:

“Kitalah berani pergi ke sana (Mike tetap tinggal di kamar sementara perbicaraan). Kitalah menyerahkan diri kepada mu, kapitan. Kita tiada menakuti iblis merah itu, baiklah iblis merah jati, baiklah iblis merah yang tersamar!”

Jawab tuan kapitan: “Kita tiada menaruh syak, tentu kamu orang gagah berani. Akan tetapi orang yang akan disuruh membenar-kan pesanan demikian rupa, harus bersifat lain lagi. Kalau kalau lain orang gagah berani juga.”

Jawab Yul: “Rupa-rupanya tuan sudah mendapat orang yang pa-tut disuruh membenarkan pesanan sedemikian.”

Sedang berkata begitu, Joel memandangi tuannya. La-lu ia menyambung, katanya:

“Barangkali orang yang hendak disuruh...... ialah orang yang menyertai kamu tadi malam! Tentulah ia seorang yang kepercayaan benar!”

“Baiklah kita memalumkan sekarang kepadamu, siapa kita maksudkan: kamulah akan menjadi pengantara, Strides!”

Demi terdengar perkataan ini, Strides tersemui, tetapi tiada antara lama Strides tetap hati pula, lalu ia men-jawab, demikianlah katanya:

“Kapitan, kita sedia akan membenarkan pesananmu, ... asal kita disertai oleh orang asing sebagai pengantar.”

“Baik juga! kita berjanji begitul!” kata itu disebutkan oleh orang yang bertempat dalam kamar disebe- lah itu; setelah berkata begitu, Robert Willoughby ke-luar dari dalam kamarnya.

“Permintaan kita kepadamu, supaya jangan mungkir perjanjianmu tadi!”

Pada mendengar perkataan Robert, kapitan tersemui benar, bimbang hati ia; baiklah atau tidakkah perbuatan anaknya? ...... Strides terus memandangi kapitan punya anak. Ta‘ dapat tiada ia terus mengenal dia, akan tetapi Strides pura-pura berbuat sebagai orang yang tiada mengenal Robert. Katanya:

“Sebetulnya kita ta‘ mengenal tuan ini, tetapi orang itu mesti kepercayaan, karena kamulah, kapitan, per-caya akan dia! Kita bersedia akan menuruti dia!”

Bapak kuatir, kalau kalau anaknya kena bahaya, tatkala keluar bersama-sama Strides. Pesannanya tentu boleh ber-bahaya. Akan tetapi pada akhirnya ia setuju juga. Ke-median Kapitan Willoughby masuk ke kamar sebelah bersama-sama Robert, di situ bapak dan anak bermusya-warat beberapa waktu lamanya, lalu kembali ke kamar tempat Strides. Kata kapitan:

“Orang yang akan mengantar kamu ke sana sudah ber- oleh pesanan, Yul. Setelah keluar dari dalam ceracak, kamu harus menunjukkan bendera putih ini. Jika kiranya musuh itu orang yang tahu bahasa, tentu kamu tiada diusiknya.“

Kemudian ketiga orang keluear bersama-sama. Setibanya dipintu ceracak kapitan berjabat tangan dengan anaknya. Mayoor Robert meliwat orang pengawal, yang tiada mengenal dia.

Adapun tumpuk pengawal blokhuis di bawah perintah sersan Joyce. Setelah dilihatnya ada orang membawa bendera putih, orang pengawal bertanya-tanya seorang ke- pada seorang; apa maksud itu?

Jawab sersan Joyce: Seorang antara orang pengawal tanya: “Sudah nyata ialah seorang pengantara!” “Jika kiranya Joel beserta pengantara itu dikayau oleh musuh...... apa kejadian?” “Ta‘ dapat tiada kami akan membalas pembunuhan itu. Pada masa dahulu kami perbuat demikian juga, setelah seorang jenderal balatentera kami terbunuh. Panglima kami serangi: sesudah penyerangan itu kira kira dua ribu orang pihak kami mati!”

“Yang kamu maksudkan itulah kealahan Braddock; sementara peperangan di negeri ini kami dikalahkan oleh balatentera Perancis.” Itu dikatakan oleh tuan kapitan yang sudah mendekati tumpuk orang pengawal itu.

Serdadu tua seorang mengaru, katanya: “Pada kita punya timbangan belum tentu kami dialah- kan, kapitan. Sesungguhnya kami terpaksa mundur dan lagi kehilangan senjata beberapa bilah, beserta perbes- kalan sedikit, akan tetapi panji-panji balatentera kami tiada terampas musuh. Sementara berperang di dalam hutan rimba sukar sekali memeliharakan panji-panji.“

“Joyce, ta‘ dapat tiada kamu masih teringat bahwa tumpuk kami menderita susah-payah yang tiada terkata. Untunglah kami beroleh pertolongan dari suatu tumpuk orang kolonist, sehingga kami dapat menahan orang Perancis yang bersekutu dengan orang Indiaan.”

“Benarlah, kapitan! Kita masih teringat nama komandan yang mengepalai orang kolonist itu. Ialah obrus Washington.”

“Adakah kamu tahu, bagaimana pada masa sekarang hal ihwal obrus Washington.” Sedang berkata demikian, kapitan Willoughby tertawa saja.

Jawab sersan Joyce: “Tidak, kapitan! Kalau-kalau sekarang ia sudah naik pangkat, menjadi komandan suatu brigade!”

“Taksiranmu salah, Joyce, pangkatnya sekarang jauh lebih tinggi: sekarang ia menjadi panglima besar, ia mengepalai balatentera Amerika sama sekali.”

Sersan Joyce berteriak, katanya: “Astaga! Alangkah tinggi pangkatnya! Jadi sekarang ia di bawah perintah Congres¹, yaitu Majelis pemerinhan orang Amerika.”

“Sersan, kamu di bawah perintah siapakah sekarang?” Sersan Joyce—yang amat pintar—menjawab: “Tentu...... di bawah perintah kapitan Willoughby!” Pada mendengar jawab itu, kapitan terlalu amat senang; ia menemui Joyce, lalu ia berjabat tangan dengan sersan Joyce, seraya mengatakan: “Kalau kiranya orang semua setuju tampamu itu, tentu kami tiada usah menguatiri orang liar.” Jamie Allen—orang bangsa Skhot—mengatakan: “Kita sendiri setuju juga dengan perkataan tuan kapitan. Selama kami sedang melindungkan rumah dan orang isi rumah tuan kapitan Willoughby, ...... kami tiada boleh dikalahkan dalam peperangan ini.” Orang Amerika yang bekerja di kebun kepunyaan kapitan Willoughby diasout oleh Strides dan Muller. Rupa-rupanya mereka tiada setuju dengan tampa Joyce dan Jamie Allen. Kapitan Willoughby sudah memperhatikan itu, tatkala memandangi tingkah laku orang Amerika itu. Kemudian suruhan dua orang berangkat. Mereka menujui batu: orang Indiaan tiada dapat melihat kedua orang. Setelah jauhnya dari petentaraan orang Indiaan kira-kira dua ratus langkah, ada dua orang ku-lit merah menemui dia. Kapitan memakai teropongnyia; nyata kepadanya Robert dan Strides diantar oleh orang Indiaan itu arah kepada api besar. Di situ Robert dan Strides disuruh menghadap kepala tumpuk. Sesudah lima menit perbicaraan telah selesai, lalu suruhan dua orang—disertai kepala ka-um—meninggalkan bukit, menujui penggilingan. Lalu orang itu tiada tampak lagi kepada kapitan. Kata sersan Joyce:

“Rupa-rupanya tiada ada alangan!” Sedang berkata demikian, sersan Joyce mengamat-amati muka kapitan Willoughby; dicobakan menentukan apa yang dipikirkan oleh Willoughby.

Kata kapitan: “Hati kita belum tetap benar, karena anak kita diberi perintah…….”

“Diberi perintah kepada siapakah, kapitan?”

Semua orang hadir tersemui. Kata “anak” yang disebut oleh kapitan, ta’ boleh ditidakkannya lagi! …… Lain dari i.tu tiada berguna juga akan menyembunyikan hadirat mayoor Robert, karena sesungguhnya Strides tiada tertipu.

Sebab itu kapitan mengatakan (dengan suara yang menyatakan ketetapan hati): “Benarlah, pengantara yang baru berangkat itu, ialah anak kita, mayoor Willoughby. Kita menjanjikan dengan dia alamat dua rupa: 1. jika ta’ bersua dengan alangan, alamtnya: mengangkat topi; 2. jika ada alangan, alamtnya: menggerakkan lengan sebelah kiri.”

Joyce tanya: “Bolekah kami mendapat tahu alamat mana dimalum-kan oleh anakmu tadi?”

“Alamat belum dinyatakannya!”

Tatkala Robert bertemu dengan kepala kaum tiga orang, rupa-rupanya ia berniat hendak menyatakan alamat dengan memakai topi, tetapi alamat itu ditahannya, entah apa sebabnya. Sebelum lenyap di belakang bukit batu, tangan kiri digerakkannya, akan tetapi cara kegerakan itu tiada sesucai dengan cara yang terjanji itu. Hai, orang Indiaan tiada kepercayaan, mereka harus disebut orang jahat!“

Sedang berkata demikian, kapitan Willoughby berkeluh kesah, lalu ia pulang. Kata seorang Amerika kepada Joyce:

“Baiklah kamu menanyakan betapa peri mayoor Willoughby dapat masuk ke rumah blokhuis!”

Jawab sersan: “Adapun adat kita, yaitu menerima perintah saja; tiada patut seorang yang berpangkat sersan menanyai opsir yang berpangkat lebih tinggi.”

Orang bangsa Amerika itu menyambung lagi, katanya: “Kalau kalau Tuan muda, mayoor Willoughby hendak menjadi komandan benteng ini? Tetapi pada persangkaan kita orang isi kota ini segan menuruti perintah seorang opsir pihak musuh, yaitu balatentera Inggris.”

Joyce menjadi marah, berteriaklah ia senyaring-nya# ringnya; katanya: “Perkataanmu itu rupanya sebagai kata ”durhaka“.” “Ingatlah! Orang isi kota ini yang berani melawan perintah, ...... alangkah keras hukumannya! Kitalah, ser# san Joyce, mengatakan itu!”

Ada seorang lain, bangsa Amerika juga, katanya: “Jadi kami terpandang serdadu biasa joca. Jika kita termasuk bilangan suatu pasukan (regiment), ten-tu kita berhak mengetahui pasukan manakah itu serta pemerintahan mana yang berkuasa atas pasukan.“

Rupa-rupanya perbicaraan ini akan berubah menjadi perbantahan; tetapi tiada jadi, sebab kebetulan pada sa'at ini kedengaran tempik-sorak orang Indiaan.

Orang pengawal semua dipanggil berhim pun oleh Joyce; sersan Joyce menyangkakan bahwa orang Indiaan berniat menyerang blokhuis; sebetulnya tidak begitu: musuh berjalan menujui penggilingan, lalu tiada kelihatan lagi.

Sementara setengah jam lamanya sersan menantikan kedatangan orang Indiaan. Tetapi mereka lenyap juga. Ke-mudian Joyce pergi menghadap kapitannya, yang sedang duduk di dalam rumah. Orang isi rumah semua ter-lalu kuatir akan hal ihwal Robert.

Joyce memalumkan kepada kapitan apa yang dilihat nya tadi. Demi terdengar kabar itu, kapitan mengatakan:

“Joyce, hal itu memberi sangka kepada kita, yang ti ada senang. Rupa-rupanya orang Indiaan berniat meraih kami supaya kami keluar dari dalam benteng akan mengejar dia. Kalau-kalau kami terjatuh dalam tempat pengadangannya!”

“Boleh jadi begitu, barangkali benar katamu itu, kapitan. Tetapi boleh jadi juga...... orang Indiaan sedang berjalan balik. Ingatlah kiranya; mereka sudah menawan dua orang bangsa kulit putih; pada pemandangannya perbuatan menawan dua orang bangsa putih itulah perbuatan...... orang berani!”

Kapitan berpaling kepada isterinya dan anaknya dua orang, katanya: “Jangan kuatir! Jika kiranya Bob ditawan orang Indiaan, niscaya ia diperbuat baik, sebab ia berpangkat mayoor. Lain dari itu kalau kalau musuh suka menu kar orang tawanannya. Barangkali orang Indiaan berhim pun di belakang penggilingan akan bermusyawarat.” Tuan Wood mengaru, katanya: “Maksud kita akan memeriksakan keadaannya dengan nyata betul. Kitalah seorang yang harus disebut ”orang damai“. Jika kiranya kita menujui orang Indiaan akan menanyai dia tentang niatnya, tentu kita tiada dia# niayanya.” Kapitan tanya: “Bagaimana, sahabat baik; adakah kamu menyangka# kan kamu diperbuat baik oleh orang itu?” Lalu sersan Joyce bercampur percakapan, katanya: “Kapitan! Apalah kiranya jangan ambil marah! Sepan# jang pengetahuan kita orang Indiaan tiada pernah me# nganiaya seorang pendeta bangsa orang putih.” Kapitan mengguncangkan kepala, alamat ia tiada setu# ju pikiran sersan Joyce; lalu ia meninggalkan kamar, diiring oleh sersannya. Tuan Wood juga keluar dari kamar; tetapi tiada antara lama pulanglah ia. Tuan Wood sudah bersalin pakaian: cara pakaiannyya sebagai cara pendeta yang lazim pada masa itu. Nyonya Willoughby dan nona kedua orang menerima kasih kepada Tuan Wood karena hendak mengantara dalam hal ini. Untunglah Tuan Wood tiada bertemu lagi dengan kapitan: jika kiranya bersua dengan dia, niscaya Tuan Wood tertahan olehnya.

Dalam pada itu pun kapitan bermusyawarat dengan sersannya: yang dibilicarakannya, yaitu daya-upaya yang akan dilakukan sekarang. Tatkala kedua orang itu ke-luar, ...... kelihatanlah tuan Wood sudah jauh dari blokhuis, sedang menujui penggilingan.

Demi terlihat itu, kapitan bergopoh-gopoh menuju kepada orang pengawal, yang bertempat dipintu. Lalu kapitan tanya kepada pengawal, beginilah katanya: “Apa sebab kamu memberi idin kepada Tuan Wood akan keluare? Nyatalah kamu melanggar perintah kita!”

Jawab pengawal (Jamie Allen): “Kapitan! Tuan Wood menyuruh kita membuka-kan dia pintu; kita tiada berani melawan perintahnya itu.”

Kapitan tiada menjawab, diambilnya teropong serta ditujukannya kepada tuan Wood: kelihatanlah tuan pendeta sedang mendaki bukit batu, lalu tiada keli-hatan lagi, karena lenyap di belakang penggilingan.

¹ Pemerintah Tanah Amerika, yaitu majelis rakyat.


FASAL KESEPULUH

MAYOOR ROBERT TERTAWAN

Orang isi rumah Willoughby terusik amat sangat karena hal tiada tentu. Maksud nyonya Willoughby berangkat menuju kepetentaraan orang liar akan mencari anaknya Robert. Susah payah benar akan menahan dia, supaya niatnya itu jangan dibenarkannya juga.

Tiba-tiba datanglah Joel Strides; berdirilah ia di hadapan pintu besar seraya minta diberi idin akan masuk. Orang isi rumah tiada mengerti betapa peri Strides dapat mendekati blokhuis: tanah yang letaknya di antara penggilingan dan rumah blokhuis diamat-amati dengan tiada berkeputusan oleh kapitan dengan memakai teropong! Meskipun demikian tiada terlihat oleh orang isi rumah orang yang sedang mendekati blokhuis.

Strides terus diberi idin akan masuk; sesudah masuk, Strides menemui kapitan, yang sedang bercakap dengan serdadunya.

“Adakah kamu berkehendak berbicara kepada kita, muka dengan muka, Strides?”

Sedang berkata demikian, kapitan bersungguh-bung-guh akan menahan bingungnyia; kemudian ia menyam-bung lagi, katanya: “Atau bolehkah orang pengawal yang hadir ini mende-ngar juga perkataanmu?” Jawab Strides: “Sesukamu juga, kapitan! Tetapi pada pemandangan kita orang semua berhak akan beroleh keterangan ten-tang perselisihan ini.” Kapitan mengatakan lagi, demikian katanya: “Jadi, Strides, kamu sudah berbicara dengan orang asing itu?” “Benarlah, kapitan! Orang asing itu harus disebut orang jahat. Belum pernah kita bersua dengan orang jahat sebagai tumpuk ini, yaitu orang Indiaan kaum Mohawk dan kaum Opondega.” “Apa maksud orang itu datang kemari?” Jawab Strides: “Yang menjadi maksudnyia, yaitu...... menawan ka-mu, kapitan, bersama-sama kaum keluargamu semua atas nama pemerintah koloniel!” Sedang berkata demikian Strides memandang arah ke-pada serdadu yang hadir, rupa-rupanya hendak menda-pat tahu kalau katanya makan dalam hati orang itu. Kapitan tiada tersemui karena perkataan Strides. Demi terdengar perkataan itu, kapitan tertawa tersenyum sa-ja. Kapitan tanya: “Adakah orang setumpuk itu disertai orang mulia?” “Orang setumpuk itu disertai beberapa orang bangsa

Eropa. Adapun orang kulit putih itu mengatakan, bahwa mereka berkuasa akan melindungkan penduduk Tanah Amerika.“ Sedang berkata demikian, Strides memandang pula ser- dadu yang hadir. Kata kapitan: ”Jika kiranya orang itu datang kemari atas perintah orang yang berkuasa di sini, ...... mengapatah gerangan orang itu terus datang kemari, ke rumah blokhuis? Bas rang siapa datang kemari atas titah orang yang berkuasa, niscaya orang itu tiada usah menguatiri perlawanan dari pihak kami.“ Demi terdengar perkataan ini, Strides tertawa, seraya mengatakan: ”Pada masa sekarang ada hanya dua jenis hak yang laku, yaitu hak maharaja Inggris dan hak raiat. Adapun tumpuk orang yang bertempat berdekatan rumah blokhuis di situ menjadi wakil hak penduduk kolonie; barangkali kamu tiada mengaku hak itu, kalau-kalau sepanjang tampamu, kapitan, hanya hak maharaja yang laku.“ ”Bagaimana hal orang yang mengantar kamu ke sana? Barangkali kamu sudah dapat menentukan siapakah ia!“ ”Astaga, tatkala kita baru mengenal dia, yaitu anak-mu mayoor Robert, kita menjadi terlalu amat bingung. Sayanglah! Ia masih ada di sana, bercampur dengan orang liar itu. Jika kiranya mereka datang kemari akan me-nawan bapaknya, niscaya mereka ta‘ mencelakan menawan anakmu juga.“

“Tetapi, bagaimana orang liar itu mendapat tahu bahwa orang yang mengantar kamu, ...... ialah...... anak kita?”

Rupa-rupanya Strides tersemui karena pertanyaan begini rupa! Kuatirlah ia, kalau kalau kapitan menaruh syak kepadanya. Sudah diketahuinyia, bahwa ia akan dihukum mati digantung, karena khianatnya dan lagi sudah nyata juga kepadanya, bahwa sersan Joyce amat suka melakukan hukuman itu.

Strides menyambung lagi, katanya: “Biarlah kita meriwayat sekalian hal ihwal saja!” “Tentu itu baik sekali. Supaya kami jangan disusik, biarlah kami menuju ke kamar saja.”

Kemudian Strides mengikut kapitan ke kamarnya; setibanya di situ Strides mulai meriwayat ceriteranya.

“Tatkala sampai kepada tempat petentaraan orang liar, tuan mayoor serta Strides diterima dengan hormat oleh kepala kaum tiga orang. Tiba-tiba orang Indiaan mea ninggalkan tempat petentaraan itu, hendak makan. Kepala kepala kaum itu mengantar kami kepada tempat penggilinggan. Ada seorang bangsa kulit putih berjawatan juru bahasa. Mayoor Robert menanyakan kepada juru bahasa, apa maksud orang asing datang kemari. Jawab juru bahasa, bahwa niatnya memaksakan kamue akan menyerahkan benteng kepadanya atas nama pe-merintah kolonie. Mayoor Robert bersungguh-sungguh akan menerangkan bahwa ia tiada masuk bilangan pihak orang kolonie dan juga tiada masuk bilangan pihak balatentera Inggris...... Tetapi orang itu tiada mau percaya perkataan mayoor Robert itu. Orang putih itu tertawa pada mendengar keterangan itu, seraya mengatakan: Mustahil! Kamulah...... mayoor Willoughby! Ta‘ dapat tiada bapakmu menurut juga pihak kerajaan Inggris, sebagai mayoor Willoughby, yaitu anaknya. Heran sekali orang putih mengetahui bahwa mayoor bertempat juga dalam blokhuis. Itulah heran sekali: kita sendiri juga tiada tahu itu!“

Kapitan tanya: “Adakah anak kita mengaku, benar, ia anak kita, yaitu mayoor Willoughby?”

“Ia sungguh, anakmu mengaku ialah mayoor Willoughby. Katanya ia datang kemari akan melihat sanak-saudaranya juga serta bahwa niatnya hendak pulang ke negeri New-York, sesudah bertemu dengan orang tu-anya...... Akan tetapi nyatalah sekali orang putih tiada percaya akan keterangan mayoor Robert itu...... Mayoor Robert ditawan, dimasukkan ke dalam sebuah rumah, lalu rumah itu disuruh dijagai oleh seorang bangsa Indiaan. Sesudah itu kitalah ditanyai oleh juru bas hasa itu.”

Kemudian Strides meriwayatkan, bahwa ia berlaku seolah-olah menurut pihak orang kolonist. Itulah sebab ia terpandang sebagai orang sekutu; ia tiada di penjara oleh orang Indiaan. Sebab itu ia sempat lari. De ngan menurut jalan-jalan simpangan dapatlah ia me nyampaikan blokhuis.

Kapitan tanya lagi: “Kamu belum meriwayatkan hal ihwal tuan Wood, Strides!” Jawabnya: “Tuan Wood? Hal ihwal tiada kita ketahui. Pada persangkaan kita, Tuan Wood tetap di sini!” Boleh jadi Strides telah meninggalkan petentaraan orang Indiaan, ketika tuan Wood sampai di situ. Demi ter- dengar kabar, bahwa tuan Wood sudah berangkat ke- petentaraan musuh, Strides bingung sedikit, tetapi Stri- des menyembunyikan bingungnyya, sehingga tiada ternyata kepada kapitan. Kemudian kapitan menuju kepada isterinya dan anaknya akan memalumkan kabar-kabar, yang baru di- terimanya itu, kepadanya. Rupa-rupanya isteri dan anak- anak tiada terusik karena kabar ini. Pada hari itu tiada kelihatan orang yang berjalan di lembah, seorang pun tidak. Sebab itu kapitan ber- sangka bahwa musuh sudah senang karena menawan seorang opsir balatentera Inggris, lalu berangkat saja- Pada malam hari itu—kira-kira pukuI sembilan—tiba-tiba sersan Joyce menghadap kapitannya hendak me- nyatakan kepadanya suatu kabar yang penting. Kapitan tanya: “Ada apa, Joyce?” “Kapitan, dari orang sepuluh yang gilirannya menga- wal, ...... kehilangan lima orang! Kita kuatir...... orang itu...... lari belut!”

“Lari belut? ...... Hai, itu memberi sangka kepada kita! Suruhlah serdadu semua berhim pun!”

Tiada antara lama serdadu semua berhim pun diha- laman sebelah hadapan: sersan Joyce berdiri di hadapan orang itu, pada tangannya terpegang sebuah lantera dan sehelai daftar yang menyebutkan nama orang isi benteng. Menjadi nyata ada banyak orang yang tiada hadir, jauh lebih banyak dari yang tersangka mula-mula. Kehilangan- lah...... separuhnya! Yang hilang, yaitu Muller beserta orang Amerika hampir semua; lain dari itu ada juga beberapa orang bangsa Welanda yang tiada hadir.

Kata Joyce: “Orang itu lari belut, ...... boleh juga orang itu lari saja dengan meliwat hutan.” “Adakah mereka membawa bininya dan anaknya atau bininya dan anaknya ditinggalkannya juga?” “Orang itu lari bersama-sama bininya dan anaknya. Yang ketinggalan, hanya Mike, Jamie Allen, tukang kayu dua orang, orang bangsa neger tiga orang, Joel Strides, orang Welanda tiga orang dan lagi dua orang yang di- antar kemari oleh Strides pada awal tahun ini. Banyak orang ini hanya cukup akan melindungkan rumah, akan tetapi ta'cukup akan melindungkan kebun dengan kemah-kemahnya. Jadi kebun dan rumah di luar ses- mua harus diserahkan kepada musuoh juga.” “Yang ketinggalan ialah orang yang setia benar. Mike, Jamie dan orang hitam itu semua kepercayaan betul; Joel Strides bersifat gagah berani juga: ia boleh dise-but sersan yang pandai benar.“ Kata Joyce: ”Benarlah! Joel Strides pandai betul, akan tetapi be-lum tentu...... bagaimana kelakuannya sementara kami terpaksa menyerang musuh! ...... serta bagaimana kela-kuannya tatkala kami ditempuh oleh orang Indiaan di-dalam benteng ini. Kapitan! banyak orang pengawal patut sekarang diku-rangkan sampai setengahnya dari dulu juga.“ ”Memang perlu begitu, Joyce! Patutlah serdadu di-beri kesempatan akan membuang kelelahannya...... kamu harus berkawal sampai pukul satu, sesudah jam satu kitalah mengganti kamu berkawal...... Sekarang ki-ta berniat berbicara beberapa patah kata kepada serdadu-serdadu.“ Lalu kapitan berpaling kepada serdadunya, katanya: ”Sahabat-sahabat! Beberapa orang temanmu sudah la-ri, kalau-kalau sebab segan dikepung oleh musuh. Ten-tu orang itu tiada tetap hati; jika maksudnya itu dipikirkannya dulu, niscaya niatnya yang buruk itu tiada juga dibenarkannya. Kalau-kalau orang pelari itu akan ditawan oleh musuh; kalau bukan begitu, mereka terpaksa berjalan lama-lama meliwat hutan rimba, su-paya sampai kepada salah suatu tempat perlindungan-Bininya dan anaknya terpaksa menderita kesiksaan dahaga dan lapar; lain dari itu mereka tentu didatangi bahaya lain lagi...... Kamilah patut tinggal tetap pada tempat ini, serta melakukan kewajiban dengan kesetiaan-

Jika tidak! ...... kami terpaksa mundur! Jika kiranya antara kamu sekalian, ada orang yang segan menyertai pekerjaan melindungkan blokhuis ini...... mereka boleh mendapat idin akan menyatakan kesukaannya; orang yang tiada suka menolong kami dengan segala hati, tiada kita tahan di sini!“......

Setelah berkata demikian, diamlah kapitan, rupa-rupa panya tertenggelam dalam pikirannya....... Ta‘ ada orang yang minta idin akan keluar dari benteng. Rupa-rupa nya orang semua memutus dalam hatinya akan menyatakan kesetiaannya kepada tuan kapitan......


FASAL KESEBELAS

ORANG PELARI

Dalam pada itu pun hari sudah malamlah! Gelap gulita sekeliling rumah-rumah! Kapitan Willoughby, disertai sersan Joyce, berjalan berkeliling benteng. Sana-sini bertemulah ia dengan orang pengawal, lalu diberinya nasihat atau perintah. Tiba-tiba kelihatanlah—karena diterangi lantera—ada orang! Tetapi orang itu tiada dikenalnya! Joyce mengangkat lantera lebih tinggi...... sekarang terang lantera mengenai...... kepala seorang Indiaan: mata nyaya yang hitam dan mukanya yang merah nyata kelihatan. Kapitan berteriak, katanya: “Hai! ...... Nick! Kamu di sini? Apa maksudmu datang kemari? Betapa daya-upayamu akan menyampaikan rumah blokhuis? Bagaimana, Nick, kamu terpandang... bagaimana: sebagai sahabat atau sebagai musuh?” Jawab orang liar itu demikianlah: “Jangan tanya banyak-banyak seketika juga, kapitan! ......Segeralah! masuk ke dalam kamar buku dulu! Nick hendak mengiring kapitan ke sana akan menceriterakan sekalian pendapatannya!”

Kapitan menuju kepada Joyce, lalu ia berbisik bisik kepada telinganya: Joyce, ajaklah kiranya orang pengawal yang bertempat diluear, supaya berlaku ati-ati betull! Kemudian Willoughby pergi ke kamar buku. Di situ sudah berhim pun isterinya dan anaknya dua orang.

Demi terlihat Nick, orang yang hadir semua berteriak, katanya:

“Nick! Nick!”

Orang Indiaan mengulangkan, katanya: “Nick! Ia sungguh! Nick! Nick Besar Hati! Saha-bat tua—adakah kamu senang hati melihat kembali dia?”

Kemudian kapitan mengajak Nick, supaya beroleh keterangan, katanya: “Betapa peri kamu dapat masuk di sini, di dalam benteng. Coba, terangkan itu dulo.”

Jawab orang Indiaan: “Di mana pengawal yang dapat menahan orang Indiaan? Seorang pengawal berdiri dipintul...... Itu baik! Tetapi sekelilingnyia ta’ ada orang pengawall...... Ada sepuluh, duapoluh tempat yang dapat dipanjati orang...... Apa guna ceracak? Tatkala Nick melumpati ceracak, ser- dadu tetap di sebelah pintu! ...... Pintu...... belum sedia! Ada juga bagian ceracak yang tiada berpintu, ......terbuka juga adanya! Sudah beberapa kali kapi-tan disertai Nick, tatkala mengeluari musuh! Kami berdua keluear akan memerangi orang bangsa Perancis-

Baik! ..... Siapa menyusupi petentaraan di sebelah meriam akan memberi masuk orang kulit putih? ..... Yang berbuat demikian...... orang bangsa Tuscarora Besar!“

“Benar katamu, Nick! Kita masih teringat perbuatan mu itu yang gagah berani betul. Ia sungguh, kamu lah yang membukan kita pintu ceracak...... Apa ini...... sedollar!”

Tetapi Nick tiada perduli mata uang yang ditunjuk oleh kapitan kepadanya.

Dengan demikian menjadi nyata kepada kapitan, bahwa Nick berlaku sebagai serdadu dan sebagai kepala kaum; Nick juga ingin diperbuat seolah-olah menjadi kepala kaum. Itu sebabnya kapitan memasukkan mata uang sedollar ke dalam kantungnyaka kembali. Katanya:

“Baik! Wyandotte!”

Pada mendengar kata demikian, Nick terlalu senang hati. Hai, kapitan memberi gelar “Wyandotte” kepadanya. Tentu kapitan teringat betul lagi kelakuan Nick semetara berperang. Kemudian kapitan menyambung lagi, katanya:

“Baik! Wyandotte! Kita memberi selamat datang kepadamu; kamu terpandang sebagai kepala kaum. Selamat datang di rumah ini! Orang Indiaan yang bergelar Wyandotte tiada berlidah bercabang. Coba ceriterakan sekarang apa maksudmu datang kemari!”

Kemudian orang Indiaan memegang tangan Nyonya Willoughby seraya mengatakan:

“Nyonya ini yang amat baik mempunyai anak laki-laa ki, ...... anak itu baik betul juga......“

Pada mendengar perkataan Nick sedemikian, Nyonya Willoughby berteriak, katanya: “Anak laki-laki kita? Wyandotte? Adakah kamu mengantar kemari kabar tentang dia?” “Ada surat!”

Orang yang hadir semua bersorak akan menyatakan kesenangan hatinya. Dalam pada itu pun Nick mengeloar kan surat dari bawah bajunya, lalu surat itu diunjukkannya kepada Nyonya Willoughby.

Surat itu tiada beralamat dan juga tiada diberi bertanda tangan; serta tertelois pada secarik kertas dengan pensil juga.

Adapun isi surat demikianlah bunyinya: “Haraplah hanya akan senjatamu dan bentengmu...... jangan berharap akan lain! Antara musuh bercam purlah banyak orang bangsa kulit putih yang berpa kaian cara orang Indiaan. Biarlah hatimu tetap; teguh kanlah pintu sebelah dalam. Ingatlah: ceracak itu ku rang berguna daripada rumah blokhuis! Jangan ku atir karena hal ihwal kita; kehidupan kita tiada terserah pada bahaya...... Jika kiranya pendapatanmu Nick berhati tulus, biarlah ia disuruh memberi keterangan lebih luas lagi.”

Setelah terbaca surat itu oleh orang yang hadir semua, kapitan berpaling kepada orang Indiaan, katanya: “Menurut isi surat, kamu dapat memberi keterangan yang lebih luas. Kita berharap supaya kamu me-nyatakan sekalian pendapatanmu...... dengan tiada membohong. Tiada patut bahwa serdadu membohong! Cerrerakanlah segala sesuatu tentang tumpuk serdadu yang petentaraannya berdekatan penggilingan; betapa peri kamu bertemu dengan anak laki-laki kita dan apa maksud musuh!“

Jawab orang Indiaan: “Wyandotte bukan surat kabar, yang dapat menyatakan banyak kabar pada seketika juga. Baiklah kapitan menanyai kita seperti telah lazim antara kepala-kepala kaum bangsa Indiaan.”

“Baik! Coba terangkan dulu: banyakkah orang putih yang bercampur dengan orang bangsa Indiaan?”

“Akan mengetahui hal itu tentu-tentu, ...... baiklah orang itu disuruh masuk ke dalam sungai; air sungai akan menyatakan keadaan itu dengan sebenar-benarnyal!”

“Kalau-kalau, maksudmu begini: ada banyak orang yang berubah warna kulit, ...... kalau dicuci dengan air?”

“Wyandotte dapat menentukan hal itu! ...... Orang kulit merah tiada biasa berlaku sebagai kawan domba......Hal itu ternyata pada bekasnya di hutan!”

“Jadi: kamu sudah medapat bekas kakinya di hutan, lalu kamu menurut bekasnya itu sampai kepada pententaraannya?”

Akan menjawab pertanyaan ini, Nick berisyarat saja: “Ia!”

“Adakah kamu mengiring orang itu jauh-jauh?” “Orang itu kita ikut dari Mohawk, akan tetapi bersua dengan dia baru ketika kita sampai dipenggilingan. Orang bangsa Tuscarora tiada suka berjalan bersama-sama dengan orang bangsa Mohawk.” “Berapa banyakkah orang bangsa Mohawk yang bercam-pur dengan orang setempuk itu?” Akan menjawab pertanyaan ini, Nick menunjukkan empat kali jarinya pada satu tangan. “Jadi: ada duapeluh. Lain dari orang bangsa Mohawk, ada lain orang lagi?” Nick menyebutkan nama bangsa Indiaan dua jenis, banyaknya dinyatakan dengan menunjukkan jarinya. “Jadi: lain dari orang bangsa Mohawk itu, ada lagi orang bangsa Onecda, empat orang dan orang bangsa Opondega seorang?” Kata itu diulangkan oleh kapitan akan memberi keterangan kepada orang perempuan yang hadir. “Adakah kamu membilang juga berapa banyak orang kulit putih?” “Orang kulit putih...... empat puluh orang banyaknya! Orang Indiaan banyaknya duapeluh lima, jadi jumlahnya tujuhpuluh dua orang banyaknya!” “Hai, orang itu semua...... orang hina-dina juga! Jika kiranya kapitan berani seperti masa dulu, ...... ten-tu orang itu dapat dialahkannya!” Kemudian kapitan berpaling kepada isterinya, katanya: “Edith, pada mendengar keterangan sedemikian bunyi-nya kami boleh berharap kembali. Pada timbangan kita perkataan Nick ini sesuai dengan kebenarannya.“

Jawab isterinya: “Kita setuju juga dengan timbanganmu itu, Hugh. Tetapi kita ingin sekali beroleh keterangan yang lebih luas tentang hal ihwal Robert.” “Nick, seperti telah terdengar kepadamu, Nyonya ingin beroleh keterangan tentang anaknya Robert.”

Selama Nick berbicara dengan kapitan, sikapnya dan tingkah lakunya sebagai orang liar yang bersungguh-sungguh akan menahan diri. Tetapi demi terdengar permintaan Nyonya, lakunya berubah, suaranya menjadi manis; katanya: (kalimat kalimatnya diringkas). “Berguna juga...... anak laki-laki mempunyai ibu! Wyandotte ta’ berbini—bini sudah mati—ibu mati—saudara perempuan mati. Tiada antara lama lagi...... kepala kaum sendiri...... mati juga. Dulu sudah se- dang berjalan di jalan kematian. Kapitan mengatakan: Berhenti, Nick, belum waktu akan meninggal dunia! Dapat obat, lalu sembuh! Kepala kaum terus hidup; selalu mengasihi orang perempuan yang menolong dia, ......asal jangan menjadi galak dalam perang!”

Nyonya Willoughby tanya: “Nick, sekarang kamu belum menjadi galak karena menurut perang, bukan? Ta’ dapat tiada kamu mem- beri pertolongan kepada ibu, yaitu akan melepaskan anak laki-lakinya dari dalam genggaman musuh. Coba terang- kan, Wyandotte, betapa peri kamu mendapat anak kita?”

“Kita hendak menerangkan segala hal. Kita mendapat bekas mayoor karena ia memakai sepatu serdadu, bukan mocassin.¹ Mula-mula terbitlah persangkaan: bekas ini asal dari sepatu yang dipakai oleh kapitan. Lalu ternyata...... sepatu kecil juga, kaki mayoor kecil juga, ......serupa kaki Nyonya!”

“Baik! Kamu beroleh idin akan masuk ke dalam tempat penjaraannya?”

“Wyandotte terlalu cerdik, tiada suka berlaku sebagai orang perempuan. Tatkala Nick melihat anakmu, Nick berisyarat dengan tangan dan dengan mata—mayoor menulis surat—surat itu dibawa oleh Nick. Hai; orang bangsa Mohawk...... buta seperti burung hantu!”

Kapitan tanya lagi: “Jadi, yang kamu nyatakan itu benar juga, bolehkah kita percaya akan perkataanmu itu?” Demi terdengar perkataan bapaknya, Alice mengaru, katanya: “Kita menanggung bahwa Nick berkata benar. Nick‘ menjadi sahabat kita sejak lama; ia berjanji kepada kita, bahwa ia berbuat baik juga kepada Bob. Adakalanya Nick mengantar Bob ke sana-kemari; selalu ia mea nyatakan kesetiaannya. Jangan kuatir, Wyandotte tiada berniat menaruh khianat kepada kami!” Jawab Nick: “Nick bersahabat dengan tuan muda; itu sudah cukup! Yang dikatakan Nick, itulah kata sungguh.“

Kemudian kapitan membiarkan Nick pergi, lalu pergi keluear akan bermusyawarat dengan Joyce.

Adapun sersan Joyce menaruh syak kepada orang bangsa kulit merah, dengan tiada mengecualikan seorang pun. Kapitan dinasihatkannya, baiklah orang bangsa Tuscarora ini (Nick) ditawan, sekurang-kurangnyia sehari lamanya.

Joyce menyambung lagi, katanya: “Biarlah Nick dijagai oleh Mike! Kamar tempat tum-pangan Tuan Wood sekarang kosong!”

Jawab kapitan: “Itu baik! Tetapi sementara Nick tertawan, patutlah kami bersungguh-sungguh, supaya orang Indiaan jang ngan merasa dirinya tertawan adanya!”

Kelarian orang kolonist itu amat mengusik hati kapitan Willoughby dan sersan Joyce; mereka kuatir kalau-kalau lain orang isi kota hendak menurut teladan orang pelari itu juga. Lain dari itu...... kedatangan Nick menerbitkan syak juga!“

Pada sa’at ini Joel Strides menghadap kapitan, katanya: “Hai, banyak orang isi kota sudah lari; susah payah betul itu! Kita sendiri juga tiada senang hati, karena kedatangan orang bangsa Tuscarora itu. Heranlah kami didatanginya ketika tengah malam! Orang itu hendak bersahabat baik dengan pihak kami, baik dengan pihak musuh. Itulah yang menerbitkan syak hati kita. Pada kita punya persangkaan, orang Tuscarora itu...... berniat membalas dendam, karena kamu, kapitan, menghinakan dia dulul Kalau orang Indiaan diberi malu, tentu ia berpikirkan ikhtiar akan membahas dendam.“

“Dulu-dulu pikiran kita juga begitu, tetapi seumur hidup kita bersahabat dengan Nick. Sesungguhnya...... kita menyiksakan dia dengan memakai cemeti...... tetapi beberapa kali juga kita menghadiahkan uang dan......sopi kepadanya, sebagai pembalasan kebaikannya.”

Jawab Strides: “Kapitan! Ati-atilah! Barangkali persangkaanmu itu...... seolah-olah salah hitung! ...... Jika perasaan malu timbul di dalam hatinya, ...... tentu ia berpikirkan pula ikhtiar akan membahas dendam.”

Kapitan tanya: “Barangkali benar perkataanmu ini; adakah kamu memperhatikan suatu alamat yang menerbitkan syakmu?” “Kapitan! ...... Kalau-kalau orang Indiaan itu...... me-ngajak orang isi kota ini akan lari!”

Demi terdengar keterangan ini, kapitan tertenggelam dalam pikiran: perkataan Strides makan dalam hatinya. Sebab itu kapitan memutus, beginilah: Nick herus ditawan serta dipenjarakan! Setelah memutus begitu, ia ke-luar akan mendapatkan orang Indiaan; pada akhirnya kapitan bertemu dengan Nick, yang berdiri dekat pintu ceracak: ia sedang mengamat-amati perbuatan pintu yang belum dipasang, yang masih tersokong dengan balok besar.

Kapitan mulai berkata, demikian katanya:

“Hai, Nick, tentu telah ternyata kepadamu, bahwa tempat masuk diceracak ini diteguhkan benar-benar... Sekarang sudah jauh malam! Sebelum kita masuk ti dur, patutlah kamu kita beri tempat bermalam yang senang. Kamu beroleh suatu tempat yang dapat menyangan hatimu! Coba, ikut saja, Nick!”

Orang Indiaan sudah mengerti maksud tuan Wil loughby, akan tetapi ia tiada melawan; ia terus mengi kut kapitan kepada kamar tidur yang biasa ditumpang oleh Tuan Wood. Kamar itu letaknya di atas kamar bu ku; kamar itu berjendela yang pemandangannya arah kepada hutan.

Jendela itu tinggi sekali, sehingga orang yang ter penjara di dalam kamar tiada dapat keluear dengan meli wat jendela. Mike beserta seorang bangsa neger akan disuruh berkawal dalam kamar bergantiganti seseorang empat jam lamanya.

Tuan kapitan berbicara kepada Wyandotte cara ber hormat, seolah-olah yang ditumpangkannya ialah seorang mulia, katanya:

“Sudah nyata bahwa kamu segan tidur dalam tem pat tidur cara orang putih, tetapi ada juga perma dani itu kamu gunakan sebagai tempat tidur!”

Nick menoleh arah kepada segala pihak, hendak menen tukan keadaan kamar tempat penjaraannya.

Pada akhirnya Nick mengatakan: “Kamar ini baik! Kepala kaum Tuscarora tiada per duli tidur—serdadu harus jaga-jaga juga...... Ta-bik, kapitan, sampai besuk pagi!“ ”Selamat tidur, Wyandotte! Mike (orang bangsa Ier) kita suruh menemani kamu. Kamu bersahabat dengan dia, bukan?“ Akal ini sudah terang juga kepada orang Indiaan, tetapi ia berlaku seolah-olah tiada memperhatikan mus lihat itu. Mike sudah diajar oleh kapitan, supaya orang Indiaan itu dijagainya dengan sepertinya. Lalu kapitan turun dari kamar. Sesampainya di bawah, orang pengawal semua disuruhnya berhim pun. Kemudian ia masuk tidur dengan tiada mengeluarkan pakaian nyu dulu. Kapitan sudah berjanji dengan Joyce akan menggantikan dia akan berkawal pukul dua malam. Baru lonceng berbunyi pukul dua, baru Joyce masuk ke kamar tidur tuan Willoughby hendak menjagakan tu annya daripada tidur. Kata kapitan: ”Hai, Joyce, pendapatanmu bagaimana tadi malam?“ ”Amat senang, kapitan! Orang pengawal mengamat-amati daerah dengan tiada berkeputusan, karena sesungguh nya mereka kuatir akan pisau pengayau orang Indiaan punya; mereka tiada berani mengantuk atau tidur.“ Kemudian kedua orang turun pula akan menantikan Jamie Allen, yang disuruh menghim pun serdadu lain. Sementara menuju ke tempat kapitan, Jamie mengatakan cara berbisik-bisik:

“Astaga! Kami kena bahaya kembali! Ketiga orang yang asal dari Connecticut—yang gilirannya berkawal sekarang—tiada ada di tempatnya.”

Joyce tanya: “Jadi: orang itu lari belut juga?” “Ta‘ berguna hal itu disebut dengan lain nama: orang itu tiada ada lagi pada tempatnya; mereka membawa sen- jatanya dan barang lain lagi yang bukan kepunyaannya.” Jawab sersan Joyce: “Nyatalah mereka lari belut. Dalam perang ini banyak kali orang lari dari sepiahk kepada pihak lain.” Kapitan Willoughby susah hati betul karena mende- ngar kabar ini: pekerjaan melindungkan isterinya dan anaknya bertambah sukar! Katanya: “Yul Strides harus disuruh berkawal bergantiganti dengan kita.” Setelah berkata demikian, kapitan menujui kamar penjenangnya (Strides); ia diiring ke sana oleh Jamie Allen dan Joyce...... Didapatinya...... kamar itu kosong! Laki-bini beserta anaknya telah berangkat...... nyatalah mereka membawa perkakas rumah dan senjata! Barang kepunyaan tuan kapitan dirampasnya semua. Ta’ dapat tiada kapitan salah...... tatkala percaya akan orang yang jahat begitu. Rupa-rupanya kapitan putus asa! Ka- tanya: “Marilah, kami memeriksakan segenap rumah blokhuis, supaya kami dapat mengetahui dengan semporna kece- lakaan yang sudah mendatangi kami!”

Kata Joyce: “Hai, inilah teladan yang amat buruk! Seorang yang berpangkat sersan...... menghinakan dirinya karena kela- kuan sedemikian.”

Setelah rumah blokhuis diperiksaan oleh kapitan, di- dapatnya ada beberapa orang lain lagi yang tiada ada lagi. Orang lain yang lari itu, membawa juga senjata dan perbekalan. Anak-anak dan orang perempuan menurut kelarian; dengan demikian menjadi nyata kelarian itu disediakan lebih dulu dengan saksama.

Sekarang ketinggalan hanya delapan orang isi kota, yai- tu: Joyce, Jamie Allen, Mike, orang muda bangsa Amerika seorang, bernama Blodget, kedua orang bangsa neger, bernama “Plin”, seorang bangsa neger lagi dan kapitan Willoughby.

Kata kapitan kepada Joyce: “Yang perlu sekali, yaitu pintu halaman ditutup dan diteguhkan! Adapun ceracak itu tiada dapat dilin- dungkan lagi sebab kekurangan serdadu. Biarlah kami mencoba melindungkan rumah blokhuis sendiri juga. Kita masih berharap akan pertolongan orang Tuscarora: jika orang itu kepercayaan ia dapat melakukan peker- jaan suruhan, penghintai, d.s.b. Lain dari itu ia dapat disuruh menembak musuh dari jauh, sebab ia amat pandai menembak bedil. Marilah kita berbicara dengan dia, Joyce, ikutlah kita, sertai kita sementara berbicara de- ngan Nick.”

Sesudah pintu di halaman diperiksainya, mereka menaiki tangga yang menuju ke kamar tuan pendeta. Pintu kamar itu terpalang dari sebelah luar: palang itu masih ada pada tempatnya.

Palang pintu dilepaskannya, lalu kapitan beserta sersan Joyce masuk ke kamar...... Hai, tatkala kapitan masuk ke kamar, bersoraklah ia, karena tersemui betul: kamar sudah kosong. Baik orang Indiaan, baik Mike sudah keluar! Belum nyata kepada kapitan, betapa peri kedua orang itu dapat keluar. Yang memedihkan hatinya lebih-lebih, yaitu bahwa Mike menaruh khianat juga.

Kata kapitan, sedang suaranya menyatakan susah hatinya:

“Hai, jadi Mike juga orang yang tiada setia; kita tiada pernah bersangka begitu; jika kiranya kita ditanyai tentang kesetiaan Mike, niscaya kita berani bersumpah bahwa ia orang yang kepercayaan betul. Pada persangkaan kita ialah orang yang amat amat setia...... Timbangan itu tiada beruna! Orang itu sudah lari...... Marilah kami memeriksakan betapa peri dayaupayanya.”

Tiba-tiba Joyce memperhatikan, bahwa kelambu tempat tidur separuhnya tersorong ke sebelah! Joyce menujui tempat tidur...... pendapatannya kehilangan seprenya! Lain dari itu hilang juga permadani sehelai. Ternyatalah: orang dapat keluar dengan memakai sepre dan permadani yang diperbuatnya tali dulu. Dengan demikian orang dapat turun dari serambi yang mengelilingi atap rumah.

Kapitan beserta Joyce terus bergopoh-gopoh menujui atap rumah; di situ didapatnya sepre dan perma-dani: sebetulnya diperbuat tali. Dengan memakai “tali” itu orang pelari dapat turun ke tanah. Joyce mengangkat “tali” sebentar juga, supaya jangan dipergunakan musuh akan masuk ke dalam rumah blokhuis.

Kemudian kedua orang turun! Sedang turun kapitan tanya kepada sersan Joyce: “Hai, Joyce, bolehkah kita berharap sungguh-sungguh akan pertolonganmu dan akan pertolongan orang kulit hitam?” Jawab Joyce: “Pada pemandangan kita, biarlah kita dibenuh oleh musuh, ...... asal dibenuh bersama-sama kamu, kapitan; dibenuh saja sementara melindungkan kamu dengan sanak-saudaramu! Kematian cara demikian...... itulah kematian yang terlebih mulia!” Orang yang masih ketinggalan itu, lalu disuruh berhim pun oleh kapitan; maksudnya orang itu ditegursapa olehnya; katanya: “Maksud perbicaraan ini kita hendak menyatakan keadaan isi kota pada masa kini. Ta’ beruna kita menyembunyikan hal itu. Lain dari itu: dengan menurut perangai kita juga, kita seakan-akan terpaksa menyatakan terus terang hal kami kepada kamu sekalian, ...... Yang mengadakan sekarang orang isi kota ini, tiada lain dari kamu juga...... Mike beserta orang Indiaan...... lari jugal! Keputusan kita sudah selesai, ta’ boleh diubah lagi. Adapun musuh, ialah harus disebut orang jahat betul. Jauh lebih jahat daripada orang asli; orang

Indiaan itu tiada terlalu buruk: banyaklah orang dian taranya yang baik perangainya...... Pintu rumah blokhuis ini...... tiada kita buka akan membiarkan musuh ma suk kedalamnya. Kita lebih suka dibunuh olehnya ser ta dikubower di bawah robohan rumah ini, ...... Tetapi kewajiibanmu...... bukan akan meniru teladan kita ini. Jika antaramu masih ada orang yang suka meninggal kan benteng ini, biarlah ia minta idin juga! Akan tetapi kita berharap...... ta’ ada lagi orang yang berniat lari be lut. Barang siapa suka keluear, biarlah ia menyatakan niatnya sekarang. Sesudah lalu sejam permintaan sedemikian tiada kita luluskan lagi. Jika kiranya penda patan kita ada orang yang sedang menaruh khianat, ia terus dibunuh...... sebagai anjing yang berpenyakit kudis!“

Setelah berkata demikian, kapitan diam, sedang menantikan jawab orang...... Ta’ ada orang yang menyatakan permintaannya.

Sesudah beberapa detik, kapitan berpaling kepada Blodget, katanya:

“Blodget, kamu belum lama menjadi serdadu di dalam rumah blokhuis ini. Kamu, orang bangsa Amerika. Ta’ dapat tiada kita tiada boleh berharap akan kesetiama mu kepada sanak-saudara kita sebagai orang yang sudah lama mengiring kita. Kamu tiada boleh dipaksa akan tinggal di sini! Jika suka, ambillah senjatamu dan perbekalan seberapa beruna, lalu kamu boleh mencoba meninggalkan blokhuis akan mendapatkan orang sebang-samu.“

Orang bangsa Amerika diam saja; nyatalah ia bis ngung; siku bedilnya dipindahnya dari kaki sebelah ke pada kaki lain bergantiganti.

Pada akhirnya ia menjawab, katanya demikian:

“Kita sudah mengetahui, kapitan Willoughby, bahwa kamu—orang yang berasal di benua Eropa—biasa menghinakan orang putih bangsa Amerika yang lahir di sini, di Tanah Amerika. Tetapi...... antara orang Amerika itu ada juga orang yang teguh dengan janjinya. Kita tiada suka bermegahkan diri karena bersifat demikian juga, ...... biarlah kita menyatakan kesetiaan karena per buatan pada yang akan datang!”

Kata sersan Joyce: “Jawabmu baik benar.”

Sedang berkata begitu, Joyce memandang kapitannya, seolah-olah hendak menyatakan kesenangannya karena kapitan Willoughby beroleh raiat baru yang kepercayaan betul-betul. Lalu disambungnyia lagi perkataannya, demikian katanya:

“Orang ini mesti setia benar; perintahmu tentu akan dibenarkannya dengan sungguh-sungguh. Orang ini tiada perduli siapakah menjadi rajanya, atau wakilnya; yang diindahkannya, yaitu kapitannya juga.”

Jawab Blodget: “Persangkaanmu salah, sersan! Tentu kita hendak meninggalkan rumah ini, jika kiranya sudah ternyata, kapitan Willoughby ialah hanya orang sepakat maharaja

Inggris. Kita menjadi pengiring orang yang melindung-kan tanah air kita. Sejak kita mengiring kapitan Willough-by, sudah menjadi nyata bahwa kapitan ini mengaku da'wa orang Amerika itulah da'wa yang patut. Tentu kapitan tiada setuju dengan kekerasan Pemerintah Ing-geris.“

Jawab kapitan: “Blodget, kita amat senang hati pada mendengar perka-taanmu ini!”

Kata Joyce: “Kapitan, sebetulnya orang muda ini patut naik pangkat! Sesudah Strides keluear, ta‘ ada korporaal yang mengepalai orang pengawal!”

Baik sekali, Joycel! Pada yang akan datang ada korpo-raal dua orang, ...... yaitu korporaal Jamie Allen dan korporaal Blodget!“

Lalu Joyce berpaling kepada orang isi kota lain, kas-tanya: “Perintah kapitan ini tentu sudah nyata kepada kamu sekalian, bukan?”

¹ Sepatu cara orang Indiaan.


FASAL KEDUABELAS

MIKE PERGI, TETAPI DATANG KEMBALI DI RUMAH BLOKHUIS

Kapitan bersama-sama dengan Blodget berkawal sambang; lalu mereka menaiki atap rumah hendak memandangi daerah.

Sebab bulan terang, daerah nyata kelihatan; dengan demikian Blodget dapat menentukan keadaan ceracak. Jis kalau ada orang yang berniat memanjati ceracak, tentu orang itu terlihat oleh orang yang bertempat di atas atap rumah, tetapi menurut pikiran tuan kapitan, berbahaya sekali orang berjalan diserambi sekeliling atap rumah itu, karena kepala dan dada orang itu tampak kepada musuh, sehingga mudah ditembakinya. Kapitan mengajak Blodget, supaya hal itu diperhatikannya dengan sungguh=sungguh.

Tiba-tiba Blodget menyediakan bedilnya. Pada melihat itu, kapitan tanya: “Ada apa? Kamu lihat apa?” “Kapitan, ada orang sedang memanjati ceracak, yaitu di sebelah kanan pintu besar.” Willoughby dapat melihat juga orang itu, akan te-tapi tiada dapat membedakan orang itu bangsa kulit putih atau bangsa kulit merah.

“Blodget, coba tembakilah orang itu dengan tiada berlambat! Kita hendak menuju kesisi serambi di sebelah. Setelah orang itu ditembak olehmu, baiklah kamu mengikut kita! Jika berbuat demikian, musuh tiada dapat menentukan dari pihak mana asal das itu.”

Kapitan pergi, Blodget menembak bedilinya. Lalu kedengaran bunyi das serta kelihatan terangnya yang menyerupai halilintar kecil, disebabkan api obat bedil.

Orang yang sedang memanjati ceracak itu kena, lalu jatuh, rupanya sebagai bola besar, karena badannya berketuk. Ta’ kedengaran bunyi apa-apa, ta’ kedengaran bunyi orang berteriak karena kena peluru. Sesudah sekejap mata Blodget berdiri disisi kapitan; Willoughby berjabat tangan dengan dia. Karena sesungguhnyia perbuatan orang muda itu boleh dipandang sebagai tanda ke-setiaannya.

Ta’ kedengaran juga bunyi yang asal dari pententaraan musuh; ta’ ada orang yang berteriak, ta’ ada tanda menyatakan musuh hendak menyerang. Tetapi bunyi das menjaga-jagakan orang isi kota; mereka terkejut. Kapitan menuju kepada isterinya dan anaknya akan mempertetapkan hatinya; lalu Joyce disuruhnyia berkawal sambang bersama-sama dua orang.

Joyce dinasihatkan supaya ati-ati betul; baiklah musuh yang kena das itu terus diamat-amati dan diaram. Kalau-kalau ada orang lain yang berniat mengambil mayat.

Kapitan dan Joyce mengamat-amati petentaraan.

Jika kiranya orang yang kena peluru itu seorang bangsa Indiaan, tentu temannya bersungguh-sungguh akan mengambil mayat. Orang Indiaan malu benar, kalau tubuh seorang temannya yang mati, dikenakan oleh musuh.

Pada akhirnya terbitlah fajar. Kata kapitan: “Pada persangkaan kita musuh belum sedia akan menerang blokhuis hari ini jugal Ta’ kelihatan musuh!” Jawab sersan Joyce: “Biarlah kita mengamat-amati daerah sekali lagi, arah kesegala pihak.” Setelah berkata demikian, Joyce naik keserambi di atas atap.

Adapun Joyce ialah seorang yang bersikap tinggi, kira-kira enam kaki tingginya; jadi badannya menjongkah di atas dinding serambi. Tiada antara lama berbunyilah das; Joyce hampir kena peluru. Rupa-rupanya orang yang menembak itu bertempat jaauh dari rumah blokhuis; ada awan asap sedikit yang menyatakan musuh bertemapat di dalam hutan.

Joyce terus berdiri tetap pada tempatnya sementara beberapa detik lamanya akan memandangi daerah, tetapi tiada kelihatan musuh; itu sebabnya Joyce turun saja dari atas serambi.

Kemudian kapitan beserta Jamie Allen dan Joyce ke-luar dari rumah akan melihat orang yang kena peluru tadi.

Benteng

Setelah dekat-dekat, dilihatnya...... ada boneka besar; badannya diisi merang! Kata Jamie Allen: “Coba lihat! inilah batang kayu yang terpakai akan mengangkat boneka setinggi-tingginya; inilah bekas kaki di tanah yang ketinggalan dari orang melakukan muslihat itu. Inilah muslihat akan menentukan kalau orang isi kota sebenar-benarnya jaga-jaga. Kapitan memeriksakan bekas di tanah, pendapatannya... bekas itu asal bukan daripada seorang juga, melainkan daripada beberapa orang. Ketiga orang masuk ke rumah dengan membawa boneka. Kapitan Willoughby syak betul, kalau blokhuis dapat dilindungkannya, karena sesungguhnyra orang isi kota yang ketinggalan sedikit orang saja. Ia pergi ke kamar buku, hendak bermusyawarat dengan sersan Joyce. Kata kapitan: ”Joyce, kamu sudah lama sekali berjawatan sersan, kamu sudah tahu apa kewajiban seorang opsir dalam hal ia tiada dapat melindungkan bentengnyra; jika kira-nya ternyata perlawanan nyra tiada boleh berhasil.“ Jawab Joycee: ”Dalam hal itu ia terpaksa menimbang akan mundur......Akan tetapi yang perlu dulue, yaitu ia mencoba sekali akan menahan musuh. Ingatlah: benteng ini te-guh dan lagi ada perbekalan seberapa berguna! Tentu kami dalam kesusahan besar, karena kehilangan banyak orang isi kota...... tetapi perjalanan di hutan rimba— lebih-lebih sebab kami disertai orang perempuan—itu sukar juga. Kalau-kalau orang perempuan tiada menderita susah payah; barangkali matilah mereka sebelum sampai di-Mohawk.“

“Hai, Joyce, kita tiada berniat begitu...... kalau-kalau kamu masih teringat: ada sebuah kemah yang kami dirikan di kaki gunung; itu sudah lalu kira-kira tiga tahun. Kemah itu bertempat di tengah-tengah padang rumput...... Jika kiranya kami berpindah ke sana, ten-tu kami dapat menumpangi kemah itu sementara se-bulan lamanya.”

Pada mendengar perkataan kapitan ini, muka sersan Joyce berseri kembali, katanya: “Itulah ikhtiar bagus!”

Lalu kapitan memberi keterangan lebih luas lagi, katanya: “Ikhtiar kita beginilah: sementara siang hari kami menye-diakan segala sesuatu tentang perjalanan mundur; sementara malam yang berikut kami akan mundur, menyusur tepi sungai......”

Sedang kapitan berkata demikian, tiba-tiba datanglah Jamie. Kapitan tanya: “Hai, Jamie! Ada apa? Rupa-rupanya ada kabar penting!”

“Benar persangkaanmu, kapitan; sebetulnya ada kabar yang amat amat ajaib...... orang pelari sudah pulang kemari...... ke rumahnya.”

“Itu tiada terang, Jamie! Kita tiada mengerti!”

“Orang pelari, Muller, Yul, ringkasnya: orang pelari semua sudah menumpang kemahnya kembali; mereka sedang memegang pekerjaannya sebagai sediakala, seolah-olah ta‘ ada peperangan, ada damai juga disegenap lembah.”

Demi didengarnya kabar ini, kapitan bangun, hendak memberi yakin kepada diri sendiri; hendak melihat keadaan dengan matanya sendiri. Tiada antara lama ketiga orang berdiri diserambi di atas atap rumah.

Kata Allen: “Coba lihat! Di situ...... rumah Yul; ada asap keluear dari dapur; di sana juga ada asap di atas kemah yang di-diami oleh kemanakannya. Di halaman rumah berjalan-lah bini Yul!”

Kapitan menujukan teropongnyra arah kepada rumah Yul, lalu ia mengatakan: “Sebenarnyalah, itulah bini Yul! Joel ada juga di situ. Hai, itu heran sekali!”

Lain dari itu kapitan mendapat lagi banyak orang pelari lain; mereka sedang bekerja bersama-sama bininya dan anaknya...... hanya Mike tiada ada.

Sementara setengah jam lamanya orang tetap berdiri diserambi. Pada akhirnya kapitan mengatakan: “Itu tiada terang! Itu heran sekali! Kita tiada mengerti itu! Orang semua bekerja seolah-olah ta‘ kejadian apa-apa! Hai, mereka bekerja dengan amat rajin! ...... Itu...... tanda burukl”

Joyce mengarue, katanya:

“Ta’ ada orang yang berani mendekat, kalau kalau ta’ kut ditembak oleh kami.” Jawab kapitan: “Nyatalah…… orang itu ada berniat! Rupa-rupanya maksudnya hendak menyemui kami; hendak berbuat se-olah-olah orang liar telah berangkat, seraya mencoba mem-bujuk kami jatuh dalam pengadangannya.” Kata Joyce: “Jika tuan kapitan memberi idin, kita—disertai beberapa orang—keluar akan menawan orang pelari beberapa orang. Barangkali dengan demikian kami dapat menentukan maksudnya.” “Jangan kira itu perkara mudah saja, Joyce. Ta’ dapat tiada orang itu sudah bersedia akan melawan kami. Ingatlah: Strides dan orang seketunya harus ter-pandang sebagai ”bangsat“.” Baru kapitan habis berkata, maka kedengaran suara ……Mike; katanya: “Benar katamu, kapitan; tentu orang itu patut ter-pandang sebagai bangsat!” Sedang berkata demikian, Mike sedang menaiki tangga yang menujui serambi, hanya kepalanya tampak di atas serambi. Mike meneruskan perkataannya: “O, jika kiranya orang jahat itu ada dalam geng-gaman kita…… tentu kita talikan dia pada lengannya dan pada kakinya, lalu diletakkan di bawah…… air ter-jun, sehingga terhapuslah sekalian dosanya.” Dalam pada itu pun Mike sudah sampai diserambi, lalu menghadap kapitan. Ketiga orang yang memang bertempat diserambi tersemui benar: mereka tiada dapat berkata sementara beberapa detik lamanya, disebabkan biangungnya.

Kemudian kapitan mengatakan kepada Mike, beginilah katanya:

“Mike, kami tersemui benar karena kelakuanmu ini. Tetapi ingatlah: kamu...... lari...... lain daripada itu kamu membiarkan orang tawanan lari juga...... Pa-tutlah kamu menerangkan kelakuanmu dulu! Betapa peri kamu dapat menyampaikan blokhuis?”

Jawab Mike: “Maksud kita, hendak menerangkan segala kejadian; yang kita berniat itu...... hanya perbucatan baik!” “Coba, terangkanlah kejadian itu semua! Jangan berlambat!”

“Tatkala kita duduk di dalam kamar tuan Wood, bersama-sama Nick, tiba-tiba orang liar itu mengatakan: Jika kiranya kamu mengasihi kapitan, isterinya dan anak-nya...... patutlah kamu menuruti Nick akan bertemu dengan mayoor...... lalu kamu membawa kabar tentang hal ihwal kepada bundanya! ...... Tentu Nick boleh pergi diri sendiri. Tetapi kapitan tiada percaya akan Nick. Jadi kamu harus menuruti kita; dengan demikian kapitan akan percaya.” Sesudah Nick mengajak kita cara begitu, kami berdua berangkat. Kami turun dari atas serambi, lalu menyusupi ceracak.“

“Menyusupi ceracak? Jadi ceracak berlubang?” “Ada lubang di dalam ceracak! Sesungguhnya lubang itu kecil juga, tetapi dapat kami susupi juga. Cara datang kembali di sini...... begitu juga, yaitu menyusupi lubang diceracak. O, Nick punya penglihat tajam sekali...... Sementara ceracak didirikan, Joel membiarkan suatu lubang di dalamnya. Kalau-kalau Joel berbuat demikian dengan sengaja!” Kapitan mengarau, katanya: “Nanti dulu! Marilah kami memeriksakan keadaan ceracak. Mike! biarlah kamu berdiyalan di hadapan, tun juklah tempat lubang itu kepada kami!” Orang bangsa Ier lalu membenarkan perintah kapitan. Pada akhirnya sampai kepada bagian ceracak yang berbatas dengan bukit batu. Kelihatanlah: ceracak setangkai terpotong, yaitu bagian sebelah bawah. Akan menyembunyikan tempat itu, kerat gergaji ditutup dengan tanah bata. Paku-paku sambungan tiang dapat dicabut dengan tangan saja. Sesudah paku itu dikeluarkan, tiang ceracak dapat diangkat dengan mudah. Sesudah tiang itu dijauhkan, terjadailah lubang sesuai dengan besar badan orang. Sudah ternyata orang pelari bersama-sama bininya dan anaknya dapat lari dengan melalui lubang ini. Akan tepati belum nyata...... betapa peri Nick mendapat ketahuan ada lubang diceracak...... Mike juga tiada tahu itu! Maksud sersan Joyce, hendak membetulkan ceracak kembali. Tetapi kapitan menyatakan niatnya hendak mempergunakan lubang ini juga, sebagai tempat masuk, tatkala pulang dari perjalanan di luar blokhuis kelak. Sebab itu lubang tetap begitu juga.

Kemudian Mike menceriterakan bahwa Nick mengantar dia kepenggilingan dengan menurut jalan-jalan simpangan. Pada akhiirnya mereka sampai pada kamar tempat penjaraan Robert. Didinding kamar itu ada jendela kecil; sebab amat-amat kecil, orang tiada keluar dengan melalui jendela ini, itulah sebabnya ta‘ ada orang pe-ngawal di hadapan kamar. Dengan demikian Mike dan Nick kesempatan berbicara dengan mayoor Robert. Ma-yoor memalumkan kepadanya, bahwa ia dipandang se-bagai penghintai musuh; ia diperbuat demikian juga.

Adapun pasukan musuh itu tiada boleh disebut pasukan yang menurut aturan biasa dan undang-un-dang negeri. Orangnya tiada mengindahkan undang-un-dang perang; itu sebabnya mayoor hendak menasihatkan bapaknya: jangan serahkan dirinya; patutlah melawan musuh ini seboleh-bolehnya...... Mayoor tiada beroleh kabar tentang tuan Wood.

Inilah kabar yang dimalumkan oleh Mike. Itu sebab-nya kapitan menolak niatnya akan mundur. Ia tertang-gelam dalam pikirannya. Sesudah liwat beberapa menit, ia bermusyawarat dengan Joyce: yang ditimbangnya: daya-upaya akan menyampaikan maksudnya.


FASAL KETIGABELAS

ORANG ISI KOTA MENGELUARI MUSUH

Tatkala kapitan Willoughby masuk ke rumah, nyonya memperhatikan dengan sebentar juga ada suatu hal yang penting. Katanya: “Hugh, adakah kejadian suatu hal yang luar biasa?” Kapitan duduk di sebelah isiterinya seraya memegang tangannya, lalu ia mengatakan: “Kabar yang baru kita terima itu tiada buruk, bung-guh pun demikian kabar itu menerbitkan dalam hati kita suatu niat, yaitu hendak melepaskan Robert dari dalam genggaman musuh.” Kemudian kapitan meriwayat hal ihwal Mike—baru pulang kemari—kepada isterinya dan kedua anaknya; serta hal ihwal pertemuan Mike dengan Robert. Lalu ia menyambung lagi, katanya: “Kita sudah memutus dalam hati, hendak mencoba melepaskan Robert. Jadi: kamu terpaksa tinggal di sini di dalam rumah blokhuis. Yang menyertai kamu di sini, yaitu orang bangsa neger tiga orang dan babu-babu, tatkala kita mengeluari musuh diiring oleh serdadu semua. Kalau kalau kita tiada boleh pulang kemari dalam enam, tujuh jam. Tetapi pada persangkaan kita musuh belum berniat akan menyerang blokhuis. Rupa-rupanya sekarang orang itu bermaksud lain dulu.“

Jawab Nyonya Willoughby: “Jangan susah hati karena hal kami di sini. Kami terus bersembahyang juga, supaya perbuatanmu itu berhasil dan supaya kamu dapat pulang kemari dengan selamat.”

Kemudian kapitan menyatakan lebar-panjang niatnya yang telah dibicarakannya dulu dengan sersan Joyce.

Serdadu semua diajiari tentang perbuatan yang dimaksudkan oleh kapitan. Kapitan sudah memerintah orang semua harus bersedia, supaya boleh berangkat sesudah liwat setengah jam.

Nyonya mendengarkan keterangan suami dengan sama; ia tiada melawan juga. Rupa-rupanya Harriet dan Alice tiada tetap hati; akan tetapi ada suatu hal yang dapat mempertetapkan hatinya sedikit, yaitu pengharapannya: Robert akan dilepaskan dari dalam genggaman musuh!

Tatkala kapitan menuju ke tempat perhimpunan serdadu, mereka sudah sedia akan berangkat. Yang me-nurut kapitan, yaitu hanya empat orang: Jamie Allen, Joyce, Blodget dan Mike.

Yang penting sekali, yaitu tumpuk orang ini meninggalkan benteng cara curi-curi, supaya jangan tampak pada musuh.

Sebab itu orang keluear dari sebelah belakang, berde- katan bukit batu; nyatalah di situ ta‘ ada musuh, ka- rena sesunggguhnya Mike tiada bersua dengan mu- suh, tatkala datang kembali dibenteng. Pada persangkaan kapitan pasukan musuh bertempat dekat penggilingan.

Aturan perjalanann begini: Mula-mula orang me- nujui tepi sungai, lalu menyusur tepinya arah ke- pada hutan. Lubang ceracak dipergunakannya sebagai tempat keluear. Blodget, Joyce, Allen dan Mike menyu- supi lubang, kemudian mereka menuju ke tepi su- ngai dengan meliwat lereng bukit batu. Kapitan bermo- hon kepada isterinya dan anaknya serta memberi perintah kepada orang bangsa neger akan menjagai sanak-saudara kapitan dengan sungguh-sungguh.

Kata nyonya Willoughby, seraya menangis: “Kita berharap, akan satu alamat kemenangan juga, yaitu...... Robert diantar kemari olehmu!”

“Baik, Edith! Katamu baik! Jangan kuatir, ja- ngan bersusah hati, jika kiranya kami berlambat se- dikit akan pulang kemari. Kita berharap akan pulang di sini sebelum matahari terbenam; tetapi boleh jadi ka- mi baru pulang ketika tengah malam.”

Kapitan sudah menanggalkan pakaian opsir; pakaiaannya itu diganti pakaian biasa saja; ia berpakaian cara pem- buru bangsa Amerika. Lalu ia menyertai serdadunya. Setelah berhim pun, kelima orang menyusur tepi su- ngai sampai kepada hutan. Mereka tiada bertemu de- ngan orang sementara perjalanannya ke sana.

Tiba-tiba terdengarlah bunyi orang yang sedang menebang pohon kayu.

Kata Joyce: “Kita ingin sekali mengetahui apa sebabnya orang itu bekerja sekian rajin.”

Jawab kapitan: “Kita heran juga apa mulanya orang itu bekerja dengan rajin. Apatah keterangan nyia. Kita tiada mengerti!”

Dalam pada itu pun orang mendekati tempat orang sedang bekerja; supaya jangan tampak, mereka bersembunyi di belakang daun-daun dan ranting-ranting kayu yang sudah tertebang. Kapitan diiring oleh Joyce, keduanya menyelinap arah kepada padang. Setelah sampai kepada puncak boakit, kelihatanlah...... petentaraan musuh, jauhnya beberapa ratus meter saja dari tempat nyia.

Di tengah-tengah petentaraan ada sebuah perigi; perigi itu diberi berpagar tiang. Di situlah berhim pun setumpuk orang, kira-kira limapuluh orang banyknya. Ada juga beberapa orang lain, sedang bekerja menebang pohon.

Kapitan dan Joyce mengamat-amati petentaraan dengan saksama. Joyce berbisik-bisik, katanya: “Hai, alangkah bodoh orang itu! Mereka mendirikan kota, ...... tetapi tiada menempatkan orang pengawal disi-tu. Pada timbangan kita, orang itu mudah dikejar, asal...... dikejutkan dulul”

“Apa guna mengejar orang itu? Ta‘ dapat tiada orang itu akan berkumpul kembali setelah didapatinya kami hanya berlima juga. Ikhtiamu itu ta‘ berguna. Yang penting, ...... yaitu melepaskan Robert!“

Sekarang kita boleh berharap sungguh=sungguh kembali—sebab kami sudah mendapat petentaraan serta mengetahui aturannya.

Kemudian kapitan mengamat-amati sikap orang dipetentaraan. Nyatalah ada banyak orang yang tangannya dan mukanya dicat merah, supaya menyerupai orang kulit merah. Akan tetapi pada memandang tingkah lakunya sudah menjadi nyata itu tipu=daya saja!

Lain daripada bunyi asal dari orang yang bekerja menebang pohon kayu, ta‘ kedengaran bunyi apa-apa!

......Tiba-tiba kedengaran bunyi serupa kerepis yang diadakan oleh bajing yang berlumpat di dalam semak-semak.

Kapitan menoleh...... kelihatanlah...... muka orang bangsa Indiaan, tetapi orang Indiaan jati, bukan orang Amerika yang sudah menyamarkan diri.

Kapitan terus mengangkat kerisnya, hendak membunuh orang Indiaan itu, tetapi pada sa'at yang berguna tangannya tertahan oleh Joyce, sebab ia sudah mengenal orang Indiaan, katanya:

“Jangan, kapitan! Ialah...... Nick!”


FASAL KEEMPATBELAS

ORANG SEKUTU

Orang Indiaan berdiri di antara kapitan Willoughby dan sersan Joyce; ia sama sekali tiada terkejut, ia tiada menakuti apa-apa. Pada mukanya ternyata, besar hatinya juga: dan lagi sudah nyata pada mukanya ia amat marah. Tentu ada sebabnya, yaitu karena dihinakan oleh kapitan ketika diperbuatnya sebagai orang tawanan.

Kapitan tanya: “Hai, Wyandotte. Katakan terus terang: kamu...... terpandang bagaimana? Sebagai sahabat atau sebagai musuh?”

Pada mendengar pertanyaan ini orang Indiaan bimbang hati, ia belum suka menjawab. Sesudah beberapa detik mukanya berubah, hilanglah tanda kemarahannya. Mukanya sekarang menyatkan kesukaan hatinya. Nick menunjuk arah kepada blokhuis seraya mengatakan: “Nyonya tinggal di rumah! Nyonya orang yang baik hatinya...... Tatkala Wyandotte sakit, ialah memberi obat, sehingga Wyandotte sembuh kembali...... Wyandotte tiada melupakan perbuatan baik...... tiada juga melua pakan perbuatan buruk! ...... Mengapa kapitan datang kemari?“ ”Bolehkah kita percaya akan kata-kata Wyandotte sebagai percaya akan sahabat?“ Jawab orang liar: ”Mengapa tiada percaya? Nick...... ialah orang minta-minta...... sudah lari...... tiada mau kembali lagi...... Wyandotte orang berani...... siapatah segan percaya akan kata kepala kaum yang mulia?“ ”Nick, perkataanmu ini kita perhatikan benar-benar, biarlah kita memberi keterangan yang luas kepadamu! ... Coba katakan dulu...... apa sebab kamu lari dari blok-huis?“ ”Mengapa? ...... Wyandotte datang sesukanya saja...... dan pergi sesukanya jugal!“ ”Baik! Itu baik, Nick! Adakah kamu mengetahui kalau Joel beserta sahabatnya bersekutu dengan mu-suh?“ ”Mengapa menanyakan itu? ...... Itu sudah nyata: ...... orang Indiaan menolong orang kulit putih...... Itukah menyatakan perseteruan?“ ”Perkataanmu ini memberi yakin kepada kita, bahwa orang...... di situ bukan semuanya...... orang kulit me-rah!“ ”Tidak! ...... Kata kapitan benar! Hal itu sudah dinyatakan oleh Nick, tatkala Nick ada di rumah blokhuis...... orang yang bertempat di situ (Nick menunjuk arah kepetentaraan) ialah orang Indiaan kaum Mohawk...... anjing...... bangsat...... berseteru dengan Nick! Orang itu hina-dina juga...... terlalu hina-dina, ...... tiada pa-tut dikenai orang bangsa Wyandotte...... Mengapa kapitan datang kemari? ...... Adakah kapitan berniat ber-musyawarat dengan Wyandotte?“

Demi terdengar perkataan ini, kapitan bersangka, bahwa Nick suka menolong dia. Sebab itu Joyce disuruhnyia memberi perintah kepada serdadu lain, supaya mereka bersedia......

“Tentu niat kita akan dimalumkan kepadamu, Wyandotte. Tetapi katakanlah dulu betapa peri kamu mendapat kami di sini.”

“O, kita menuruti bekas kakimu: nyatalah ada kaki banyak!”

“Sekarang kita percaya akan katamu: kami keluear akan melepaskan mayoor Robert; dan lagi akan menentukan maksud musuh.”

Demi terdengar perkataan ini, mata orang Indiaan berseri; rupa-rupanya ia senang hati, karena memperhatikan, bahwa kapitan berbicara terus terang kepadanya. Ja-wab Nick:

“Wyandotte, kamu kesempatan menolong kami. Su-kakah kamu mengiring kita sekali lagi?”

“Kapitan menurut pihak mana? Pihak Maharaja George? Atau Congres?”

“Tiada satu dari keduanya. Dalam peperangan ini kita harus disebut: tiada turut sebelah-menyebelah!”

“Itu tiada terang kepada orang bangsa Indiaan. Orang

Indiaan melemparkan tomahawk nyia kepada “musuhnyia”. Tiada menimbang dulu baik atau tiada baik! Cukup- lah ditentukan dulu sungguh=sungguh...... pihak mana yang menjadi musuhnyia!“

“Hai, Nick, itu cara berperang orang bangsa Indiaan, tetapi kita punya cara berlainan! Yang kita tentukan du- lu, beginilah: siapakah yang berhak; siapakah menuntut keadilan; baru itu ditentukan, baru kita merasai diri berwajib membunuh orang!”

“Hm, Kapitan selalu berkata demikian. Tatkala kapitan masih berpangkat serdadu juga, kata jenderal kepada- nya: Bunuhlah orang Perancis sepuluh orang, seratus orang, seribu orang. Tetapi kapitan menjawab: Nanti dulu, jenderall...... Biarlah kita berpikir dulu...... O. O. !”

Nyatalah maksud orang Indiaan akan menyatakan, bahwa perkataan kapitan pasa masa sekarang berlawanan dengan perkataannya masa dulu. Itulah sebab kapitan menjadi marah; ia hampir tiada dapat menahan diri. Berte- riaklah ia, katanya:

“Nick, ingatlah: pada waktu itu kamu dihantam de- ngan cemeti sebagai hukuaman!”

Sedang berkata demikian, kapitan bermuka merah pa- dam, cara berkatanya mengugut; sebetulnya cara itu tiada dengan bijaksana!

Demi terdengar perkataan ini, muka orang Indiaan men- jadi suram. Rupa-rupanya dirasainya kembali badannya kena sebat cemeti. Sementara semenit lamanya orang In-diaan diam saja, tiada mau berkata; matanya buntang saja.

Pada akhirnya Nick mengatakan: “Mengapa kapitan meriwayat hal cemeti sekarang? ...... Wyandotte tiada dipukul oleh kapitan...... Tiada ada orang—baik orang kulit putih, baik orang kulit me rah—dapat memukul Wyandotte...... tentu kalau kiranya berani begitu, ia tiada dapat melihat sekali lagi...... matahari terbenam!” “Nick, kita masih mempunyai cemeti itu!” Sedang berkata begitu, kapitan terlalu bingung, dibabkan orang Indiaan berani mengacu dia. Kapitan menyambung, katanya: Untunglah! cemeti itu tiada kita bawa sekarang; te tapi ingatlah: kita belum lupa cara memakai cemeti! Kamu sudah mengetahui perangai kita, Nick!“ Muka orang Indiaan menjadi sial rupanya. Tetapi Nick dapat menahan diri juga. Rupa-rupanya hatinya tetap; lalu ia mengatakan: ”Kapitan mengenakan jari pada bekas luka, sehingga terbit pula perasaan malu dan susah hati. Kapitan orang tua! Meski demikian kapitan tiada berbudi sekadar ram-butnya yang kelabu warnanya. Kalau kiranya berbudi, tentu tangannya yang kasar tiada diletakkan pada bekas badan kita yang kena sebat cemeti.“ Pada mendengar perkataan orang Indiaan, kapitan menjadi malu; kemaraham sudah teduh. Lalu ia berkata dengan bersuara manis, katanya:

“Hai, Wyandotte, barangkali lebih baik kita menyatakan kemurahan hati kepada kamu; lebih baik barangkali kata-kata tadi itu kita tahan saja. Biarlah perkara ini selesai sama sekali; katakanlah kalau kamu suka menu-rut kami ini!”

Mula-mula orang Indiaan seolah-olah tiada dapat me-mutus, pada akhirnya ia berisyarat: baik! marilah kami turun dari bukit ini!

Nick diantar kepada serdadu yang menyertai kapitan. Serdadu itu senang hati betul karena kedatangan Nick; orang Indiaan ini kenamaan karena kepandaian nyia menem-bak bedil dan karena kepandaian nyia mencari bekas orang di hutan rimba.

Orang Indiaan tanya: “Siapakah memerintah tumpuk ini, kapitan atau orang Tuscarora?”

Keputusan kapitan beginilah: “Yang memerintah tumpuk serdadu ini, ...... kitalah! Wyandotte patut berjalan di sebelah kita!”

Kapitan memberi perintah demikian, sebab belum per-caya betul akan kesetiaan orang Indiaan.

Tatkala serdadu berjalan di hutan, biasanya berjalan berturut-turut; seorang menginjaki bekas kaki orang yang mendahuluinya. Itulah muslihat akan menipu musuh; supaya jangan musuh dapat membedakan berapa banyak orang.

Perintah kapitan beginilah: Nick berjalan disisi kapitan. Itulah aturan yang berlawanan dengan aturan biasa.

Orang Indiaan sudah mengerti salah itu, akan tetapi pi- kirannya tiada juga dimalumkannya.

Orang terus berjalan, mereka tiada bertemu dengan orang lain. Pada akhirnya tumpuk sampai dibatu-batu, tempat asal air terjun. Orang turun ke lembah; pada ujung lembah ini terdapatlah penggilingan. Tatkala penggilingan sudah tampak, orang berhenti. Niat kapitan maju sedikit lagi, disertai hanya oleh Nick, sebab hendak memeriksakan keadaan daerah. Joyce beserta serdadu lain disuruh tunggu di situ juga. Kapitan menjanjikan suatu alamat. Tatkala ternyata alamat itu, Joyce beridin akan mengikut kapitan.

Adapun tempat penjara mayoor Robert sebetulnya sebuah rumah kecil, yang dindingnya bersandar pada penggilingan. Rumah itu sejenis gudang, tempat me- nyimpan susu dan mentega. Supaya jangan barang sim- panan itu lekas binasa, dengan sengaja dipilih orang tempat yang sejuk serta bernaung.

Ada hanya jendela kecil sebuah yang diberi berkisis kisi kayu; gunanya akan menahan kucing yang ingin masuk mencuri perbekalan yang tersimpan di dalam gu- dang.

Rumah kecil itu diperbuat daripada tiang kayu yang amat teguh; ceyhscelah di antara tiang-tiang itu di- tutup dengan kapur. Dengan demikian gudang kecil menjadi rumah penjara yang sederhana teguhnya!

Kapitan memperhatikan betul-betul sekalian pendapa- tannya tentang perbuatan gudang ini.

Niatnya melubangi dinding gudang, supaya dapat berbicara dengan anaknya, mayoor Robert. Akan itu dipergunakannya beberapa buah perkakas, yaitu gergaji, gurdi, d.s.b. Perkakas itu semua dibawanya juga.

Nick disuruhnya berjalan di hadapan, menujui jendela kecil, lalu menghintai musuh; kemudian kapitan sendiri berbuat yang perlu pada halnya.

Tatkala hendak berangkat, kapitan berjabat tangan dengan Joyce, katanya:

“Mugimugi Allah memeliharakan kamu! Jika kiranya kita kena bahaya...... jangan lupa, bahwa kebaikan sanaksaudara kita terserah hanya kepada pemeliharaanmu, Joyce.”

Jawab Joyce: “Kapitan, perintahmu ini kita pandang seakan-akan perintahmu akhir kali!”

Lalu kapitan—disertai Nick—berangkat. Orang yang ketinggalan itu mendengar-dengarkan kalau ada bunyi......tetapi sementara beberapa waktu lamanya ta‘ kedengaran bunyi apa-apa pun.


FASAL KELIMABELAS

KEHILANGAN YANG MENGADAKAN SUSAH BESAR

Tempat tinggal Joyce dengan temannya letaknya di atas jurang gunung, tingginya limapuluh kaki, yaitu di atas tempat penjara mayoor Robert. Akan tetapi rumah penjara itu tiada tampak daripada tempatnya itu, disebabkan semak-semak, belukar dan pohon kayu me-ngalang pemandangan.

Sudah liwat setengah jam sejak kapitan berangkat. Tiba-tiba kedengaran teriak orang, tetapi orang pengawal tiada dapat menentuukan dari mana asal bunyi itu. Mereka menyediakan bedilnya karena kuatir ada musuh mendekat...... Tetapi tiada kejadian apa-apa.

Sersan Joyce sudah menjadi gundah...... tiba-tiba terdengar kepadanya bunyi orang berlangkah di lorong. Bedilnya disediakannya kembali, tetapi...... tiada perlu memakai bedil: yang mendekat, ...... ialah Nick!

Ia tanya: “Di mana kapitan?” Jawab Joyce: “Lebih baik kami bertanya begitu kepada kamulah,

Nick. Kami tiada melihat dia sejak kami berdua bersangkat dari sini.“ Nick memberi nasihat, demikian bunyinya: ”Biarlah kami pergi mencari dial!“ ”Adakah kamu beroleh kabar tentang mayoor Robert, Nick?“ ”Kita sudah melihat mayoor...... dijendela...... diha-dapan pintu...... banyak orang pengawal; ...... di mana kapitan?“ ”Kamu di mana tatkala kamu meninggalkan dia, Nick?“ ”Kapitan pergi arah kepada gudang susu, di antara belukar...... berdekatan bukit batu itu.“ Kata Joyce: ”Patutlah kami memeriksakan keadaannya. Biarlah kami—Nick beserta kita—menuju ke sana!“ Orang Indiaan setuju, ia mengiring sersan Joyce; mereka pergi berdua. Sesudah berjalan beberapa menit lamanya, sampailah kedua orang kepada bukit batu. La-lu Joyce menyelinap di dalam hutan belukar. Tiada antara lama dilihatnya...... kemeja perburuan yang dipakai oleh tuannya. Kapitan duduk dibatu sedang bersandar kepada pohon kayu. Mula-mula Joyce kuatir tuannya didatangi penyakit sawan bangkai. Joyce menum-buk dia dengan tangannya pada lengannya, tetapi kapitan tiada bergerak, ta‘ ada tanda menyatakan kapitan masih hidup. Kemudian badannya ditegakkan sedikit...... hai, Joyce terkejut amat sangat demi terlihat...... muka kapitan yang amat pucat. Nyatalah di sini kejadian per-buatan buruk! perbuatan gagah! Sersan Joyce gemetar pada segenap tubuhnya...... te- tapi tiada antara lama hatinya tetap pula. Setelah tubuh kapitan diperiksakannya, nyata kepada Joyce, bahwa Willoughby kena tikaman pisau; kena pada jantungnyya; ta‘ syak lagi: kapitan Willoughby sudah mangkat! Beliau meninggal dunia sedang bertempat tiada jauh dari tempat anaknya yang sekian gagah berani itu! Anak- nya itu tiada beragak-agak tentang kematian bapaknya! Joyce mengangkat mayat, lalu dibawanya keluar dari hutan belukar; dalam pekerjaannya itu ia ditolong oleh Nick. Setelah sampai kepada tempat tinggal serdadu, badan marhum kapitan diletakkanya di tanah, lalu diperik- sainya pula oleh sersan Joyce. Pada pendapatannya tuan kapitan telah meninggal sejak sejam lamanya. Serdadu semua bersusah hati, karena memperhatikan tuannya sudah mangkat. Diantaranya tiada seorang yang menanya- kan keterangan tentang pembunuhan ini. Sekarang Joyce mengganti kapitan Willoughby; ialah memerintah tum- puk serdadu. Bedil empat bilah diperbuat tangga-tangga mayat; lalu mayat diletakkan di atasnya serta diangkat oleh empat orang; demikianlah orang pulang kebenteng. Nick berjalan di hadapan; dipilihnyya lorong-lorong yang hanya ketahuan kepada Nick sendiri. Yang diindahkannya lebih-lebih, yaitu mengantar mayat ke rumahnya dengan selamat; takutlah ia, kalau-kalau orang bangsa Mohawk hendak mengayau mayat akan mengambil tengkoraknya.

Setelah berjalan dua jam lamanya, sampailah tum-puk ke tepi sungai. Akan menyampaikan lembah, harus-lah orang turun dari lereng bukit; boleh juga orang melalui sebuah padang luas, yang tiada berpohon atau berbelukar. Jika kiranya orang melalui padang itu, tentu mereka tampak kepada musuh sementara berjalan kebenteng.

Kata Joyce: “Biarlah kami berhenti di sini sebentar akan bermusya-warat!”

Orang memutus akan menyuruh seorang suruhan mendahului dia akan memberi kabar kepada nyonya Willoughby dan anaknya dua orang. Tetapi tiada ada orang yang berani membenarkan suruhan demikian rupa. Pada akhirnya orang Indiaan mengatakan: “Nick pergi mendahului kamu juga. Nick sudah biasa melakukan suruhan sedemikan rupa...... kita pergi sekali lagi!” Kata Joyce: “Baik, Nick, kamu boleh pergi. Tetapi ingatlah: suruhan ini halus benar! Ati>atilah!” Jawab Nick: “Ia sungguh...... nyonya...... hatinya lemahlembut.... Nick sudah tahu...... Nikh juga ada ibunya dulu......ada juga bininya dulu...... dan juga ada anaknya dulu!” Joyce masih berbicara sedikit dengan orang Indiaan, kemudian Nick turun dari lereng bukit batu. Tiada antara lama lenyaplah ia di tengah-tengah belukar.

Makin Nick mendekati blokhuis, makin berkurang deras langkahnya. Tatkala dilihatnya ceracak dekat blok huis, ia berhenti, lalu duduk di atas batu, hendak berpikirkan betapa peri membenarkan suruhannya.

Pada mukanya nyatalah rupa-rupa perasaan: mula-mula mukanya menyatakan “besar hati”, lalu “galaknya”, “kemenangannya”...... pada akhirnya mukanya menyatakan sesalnya.

Tiba-tiba pisaunya dihunusnya dari dalam sarungnya; pisau diamat-amatinya—sedang matanya menyatakan bi-ngungnya—...... Didapatnya...... pada hulu pisau ada tahi darah yang sudah kering...... Bersegeralah ia akan menggosok hulu pisau akan menghilangkan tahi darah itu! Lalu pakaianinya diperiksainya juga, kalau-kalau bertahi darah juga, ...... yang dapat menyatakan perbu-atannya yang buruk! ...... Sesudah itu Nick tetap hati kembali.

Ia bersungut-sungut, katanya: “Sekarang...... Nick punya belakang tiada sakit lagi! Luka yang lama sudah sembuh! Mengapa kapitan men-genai luka itu sekali lagi? Adakah ia bersangka, demikian: orang Indiaan tiada berperasaan? Kapitan......... ialah adakalanya orang baik...... adakalanya orang buruk! Mengapa kita diacunya dengan cemeti? ketika Wyan dotte berniat menolong dia akan melawan musuh? ...... Tidak. Belakang tiada pernah sakit lagi!”

Sesudah berkata dalam hatinya cara demikian, orang Indiaan memandangi matahari akan menentukan pukuI berapa...... kemudian ia berangkat menujui blokhuis akan melihat isteri dan anak kapitan, yang tadi dibunuhnya...... dengan tangannya sendiri!

Sebetulnya Nick melakukan perbuatan buruk itu......Pada tampa orang liar...... perbuatan membalas dendam, itulah kebajikan!

Lalu tiga puluh tahun, pertama kali, kapitan mena buh Nick dengan memakai cemeti. Sejak ketika itu terbitlah niat dalam hatinya akan membalas perbuatan kapitan itu. Akan tetapi Nick berpikirkan niatnya itu juga; belum pernah dicobakan membenarkan niatnya...... Tetapi kapitan menabuh dia pula beberapa kali, sehingga niat Nick timbul kembali. Kalau kalau niatnya itu dapat ditidakkannya; tetapi kapitan sendiri menerbitkan pula perasaan dalam hati orang Indiaan, tatkala ia mengingatkan perbuatan buruk itu yang dilakukan kepada Nick......Itulah mengadakan nasib tuan kapitan.

Adapun kapitan Willoughby boleh disebut orang yang berperangai baik dan lagi adil. Akan tetapi sebagai opsir dilakukannya sejenis adat yang lazim pada ketika itu dibalatentera Inggris. Demikianlah adatnya: serdadu bangsa Indiaan makin bertambah gagah berani, sekadar ditabuh dengan cemeti.

Nyatalah kapitan Willoughby bersalah karena hendak melakukan aturan itu pada seorang bangsa Indiaan, istimewa pula kepada seorang bangsa Indiaan yang be kas kepala kaum.

Lain dari itu Nick merasa diri dihinakan sebab kapitan selalu menaruh syak kepadanya; yang memedihkan ha- tinya lebih-lebih, inilah: kapitan pura-pura menumpang- kan dia di dalam rumahnya, tetapi sebenarnyalah Nick di- perbuat sebagai orang tawanan.

Kapitan mengingatkan Nick kepada siasat yang dila- kukan kepadanya...... kebetulan pada sa’at kapitan ber- hajat akan jasa Nick.

Nick menikamkan pisaunya betul kepada jantung ka- pitan Willoughby, sehingga ia mati dengan sebentar juga.

Sekarang Nick berdiri di hadapan ceracak. Setelah dili- watnya ceracak, ia menuju ke pintu halaman; pintu itu terkunci.

Plin (budak bangsa neger) tanya: “Siapa itu?” “Nick, ada suruhan dari kapitan...... bukalah pintu!” Orang neger bimbang hati; tiada ia berani memberi idin kepada orang Indiaan, katanya: “Tunggu sebentar!” Plin kembali akan memberi tahu kepada nona Alice, bahwa Nick sudah berdiri di hadapan pintu. Tiada antara lama Alice bersama-sama Plin berdiri kembali di belakang pintu halaman. Alice tanya: “Kamu di situ, Nick?” Orang Indiaan gemetar pada segenap tubuhnyia demi terdengar suara yang manis itu. Jawabnya: “Hai, Bunga hutan rimba! ...... inilah Wyandotte. Nick membawa kabar tentang kapitan. Nick sudah bertemu dengan dia bersama-sama serdadunya.” Pintu terus dibuka, Nick menghadap Alice, lalu Nick diantar oleh Alice kepada kamar buku. Nick diam saja, sudah nyata kepada nona Alice, bahwa kabar yang dibawanya itu...... kurang baik. Nona Alice tanya: “Wyandotte, adakah kamu menaruh kasihan sedikit? Coba katakan terus terang: Adakah musuh menyiksakan mayoor Robert?” Jawab orang Indiaan: “Mayoor masih terpenjara...... tengkoraknya belum dikenai orang...... mayoor masih amat baik!” “Akan tetapi pada memandang mukamu...... kita mesti bersangka...... ada...... clakal” Orang Indiaan tanya: “Namamu siapa?” “Nick, memang kamu sudah tahu...... kita punya nama: Alice.” “Orang putih biasa memakai nama dua. Bapakmu bernama Maredith...... Wyandotte sudah melihat dengan matanya sendiri, bahwa bapakmu mati tengah perang! Ialah panglima yang berperangai baik! Tiada pernah ia menabuh orang bangsa Indiaan dengan memakai cemeti......Nick mengenal dia...... Nick mengenal juga...... bundamu...... mengenal juga ”Bunga hutan rimba“ masa kecilinya!“

“Mengapakah meriwayat hal itu masa kini, Nick?” “Alice Maredith...... bukan anak kapitan Willoughby. Mengapakah bersusah hati karena kematian kapitan?” Demi terdengar perkataan ini Nona Alice hampir rebah pingsan. Terbitlah dengan sekonyong-konyong suatu persangkaan di hatinya! Persangkaan yang...... setuju dengan kebenarannya! ...... Nona Alice menjadi pucat se kali, hatinya berdebar-debar dengan deras. Tangannya di letakkannya pada dadanya, seolah-olah hendak menahan jantung yang berdebar-debar terlalu keras...... Pada akhiirnya Alice dapat menahan akan dirinya pula; dengan suara yang gemetar, Alice tanya: “Jadi...... bapak mati sedang mengeluari musuh?” Nick menjadi kurang sabar; katanya: “Kapitan bukan bapakmu! ...... Bapakmu sudah ma ti sejak duapuloh tahun!” Nona Alice dikasihi amat sangat oleh orang Indiaan: sebab itu Nick bersungguh-sungguh akan meringankan kesusahannya. Pada timbangan Nick, baiklah ia te rus menimbulkan hal, bahwa kapitan Willoughby bukan bapak Nona Alice. “Wyandotte, jangan permainkan kita lagi! Coba ri wayat kejadian semua! Benarkah, kapitan Willoughby sudah mati?” Orang Indiaan merenung Nona Alice dengan tiada ber kepotusan beberapa detik lamanya; lalu ia berisyarat: Ia!

Alice diam saja, tiada dapat berkata. Mukanya disembunyikan dalam tangannya; pada akhirnya ia menangis: air matanya berceceran pada mukanya. Dengan demikian susah hatinya diringankan sedikit.

Tatkala tetap hati sedikit kembali, Alice mulai menanyakan keterangan tentang claka yang mendatangi kapitan Willoughby.

Nick memberi keterangan juga, yang diminta oleh Alice, akan tetapi riwayatnya berbeda dengan kebenaran nyai!

Sesudah selesai riwayat Nick, terbitlah niat dalam hati Nona Alice: hendak menentukan dengan matanya sendiri kalau betul riwayat orang Indiaan. Alice masih syak hati: benarkah atau tidakkah bapaknya mati!

Sebelum menyediakan diri akan membenarkan niatnya itu, Alice menuju kepada saudaranya Harriet akan memalumkan kabar ini kepadanya. Alice tiada berani memalumkan kabar claka ini kepada ibunya!

Akan itu seorang perempuan bangsa neger disuruh nya memanggil nona Harriet.

Harriet tanya:

“Alice, apa yang terjadi? Apa kabar menyebabkan mukamu pucat sebegitu...... Hai, Nick ada di sini? Adakah ia membawa kabar dari penggilingan?”

“Peristiwa yang baru jadi...... itulah kejadian yang sangat betul, Harriet! Bapak kami kena luka! Serdadu pihak kami mengantar dia sampai kepada pinggir hutan; di situ mereka tunggu, ...... supaya jangan kami terkejut terlalu sangat. Maksud kita, hendak menemui tumpuk serdadu...... Dalam pada itu pun—sepeninggal kita—patutlah kamu mengeledar bunda! ...... O, Harriet...... kalaukalau bapak sudah...... matil!“ ”Alice, inilah suatu pesanan yang memedihkan hati kita...... Kasihan! Bagaimana hal ibu! Bagaimana hal kami karena kehilangan suami dan bapak?“ ”Haraplah akan pertolongan Allah saja; jangan ka- mu berhati lembut! Ingatlah: duka-cita bunda lebih sangat lagi daripada duka-cita kami!“ ”Ia sungguh, Alice, kita bersungguh-sungguh akan menahan diri......“ Kalimatnya tiada dapat diselesaikannya...... Harriet rebah pingsan! Kehendaknya kuat sekali, ...... akan tetapi kekuatan badan tiada berkadar dengan kekuatan kehendaknya.

............ Demi terlihat itu, Alice memanggil orang perempuan bangsa neger. Kata Alice: “Sudah nyata kepadamu apa yang terjadi di sini.” (Sedang berkata begitu Alice menujuk arah kepada Harriet). Bukalah jendela dulu, supaya udara bersih dapat masuk! Di sini ada air minum dan...... obat beberapa titik...... Ta‘ dapat tiada dalam beberapa detik Harriet akan sedar pula daripada pingsannya!“

Lalu Alice berpaling kepada Nick, katanya: “Hai, Nick, marilah, kamu memandukan kita.......... Jangan berlambat-lambat!” Orang Indiaan bingung benar, karena teringat akan kesusahan yang didatangkannya kepada sanak-saudara kapitan ini...... Dalam hatinya seolah-olah berbantahlah dua jenis perasaan: yaitu perasaan besar hati dengan perasaan sesal! Kemudian Nick beserta Alice keluear. Tiada antara lama kedua orang dapat melihat tum-puk serdadu yang memikul tangga-tangga mayat. Sesama painya di situ, Nona Alice berlutut disisi mayat, lalu menangis pula! Katanya: “Hai, Joyce! Betulkah...... bapak sudah mangkat? Ta‘ ada pengharapan lagi?” Sersan Joyce menjawab dengan bersuara gemetar, demikianlah katanya: “Ia sungguh, sudah mangkat! ...... Kamu hekilangan bapak yang dermawan dan mulia; ...... kami kehilangan seorang komandan yang baik dan adill!” Nick mengaru, katanya: Bukan bapak! ...... Kita sendiri menyertai bapak Alice, tatkala ia dibunuh oleh musuh, yaitu orang bangsa Indiaan, kaum Irokal“ Alice menangis tersedu-sedu, katanya: ”Bapak...... ialah orang baik benar! Ialah orang yang adil, yang hatinya lemah-lembut!“ Joyce menyambung lagi, katanya:

“Lain dari itu...... beliau gagah berani. Gagah beraniny a tiada dilampaui oleh opsir lain dalam balatentera Inggris!”

Alice berseru-seru: “O, bapak! Bapak! ...... Mugi-mugi kitalah mati juga, asal kamu hidup kembali!”

Sampai ketika itu Joyce dapat menahan diri; seganlah ia akan menyatakan susah hatinya, sehingga tampak kepada orang yang hadir itu. Tetapi demi dilihatnya alamat duka-cita Nona Alice, Joyce hendak menangis rupanya; tiada dapat menahan diri lagi! Ia berbalik, supaya jangan tampak kepada orang lain bahwa ia menangis juga.

Pada akhiirnya Jamie Allen mengingatkan orang bahwa perlu mereka pulang ke rumah blokhuis.

Alice tegak pula, lalu tumpuk orang berangkat. Orang yang memikul tangga-tangga mayat itu turun ke dalam tubir sungai. Nick beserta Alice tiada turun, melainkan tinggal ke belakang sedikit.

Orang Indiaan berbisik-bisik kepada telinga Alice, demikian katanya:

“Jangan menuju ke rumah blokhuis. Turutlah kiranya Wyandotte saja! Kapitan sudah mati! ...... Apatah daya-upaya...... kalau ta’ ada komandan yang merintah serdadu dibenteng? ...... Marilah, turutlah kita akan mengambil tuan mayoor.”

Kata Alice: “Mengambil mayoor? ...... Mustahil, Nick! Bapak kita mati sementara mencari mayoor; percobaan orang yang gagah berani—bapak—tiada berhasil! Mustahil kitalah...... orang perempuan yang lemah badannya—boleh mencari mayoor!“

“Kita berharap dengan sungguh-sungguh! Wyandotte...... ialah kepala kaum yang mulia...... Wyandotte menunjukkan tempat penjara mayoor!”

Demi terdengar perkataan ini, Alice seakan-akan ditempuh oleh perasaan rupa-rupa! Terbitlah pula pengharapannya: kalau-kalau Robert dapat dipulangkam ke pada ibunya dan saudaranya; kalau-kalau orang isi kota beroleh kembali komandan yang gagah berani; yang dapat melindungkan benteng tatkala diserang musuh! ...... Se- dang menimbang demikian, pulanglah hati! Pengharapan itu membaiki hatinya.

“Benarkah, bolehkah kamu mengantar kita kepada tempat penjara mayoor Robert, Nick? Bolehkah kita berharap pula akan kelepasan Robert daripada genggaman musuh?”

“Ia sungguh! Kamu datang...... Tentu ia menuruti kamu! ...... Mayoor tiada percaya akan orang Indiaan! ...... Kapitan juga tiada percaya akan Nick! Kamu—perempuan muda—mengiring Wyandotte juga!”

Perkataan ini cukup akan membawa hati Alice! Sebab berharap akan melepaskan saudaranya Robert, ...... Alice tiada perduli bahaya. Dalam hal ini Alice tiada berpikir kan hal pandu, yang tiada kepercayaan.

Alice berisyarat kepada Nick, supaya Nick berjalan di hadapan. Tiada antara lama lagi mereka sedang berjalan, menuruti lorong-lorong kecil-kecil yang menu-jui penggilingan.


FASAL KEENAMBELAS

ROBERT DILEPASKAN!

Tatkala kapitan Willoughby menyediakan diri akan berjalan di hutan rimba, perlulah ia berbicara dulu dengan serdadu dan sersannya. Akan tetapi Nick mengetahui sekalian lorong-lorong di hutan dan lagi sekalian muslihat yang biasa dilakukan orang Indiaan akan menyemui orang. Lain dari itu...... Nick sudah mengetahui dengan tentu sekali keadaan petentaraan musuh.

Tiada antara lama sampailah ia kepada hutan belukar, tempat ketinggalan serdadu dulu, tatkala Nick beserta kapitan berangkat akan memeriksakan tempat penjara mayoor Robert. Di situ Nick berhenti akan mendengarkan bunyi-bunyi di hutan. Katanya: “Kamu harus tinggal di sini, menantikan kita kembali di sini.”

Lalu ia lenyap di hutan belukar, serta menuju kepada tempat di mana Joyce mendapat kapitannya dulu.

Nick meletakkan telinganya didinding rumah penjara, hendak menentukan, kalau mayoor Robert masih ada di- dalamnya. Setelah mendapat tahu, bahwa mayoor masih ada di dalam, tanah yang masih bertahi darah ditutupinya dengan tanah sedikit. Kemudian dikumpulkannya perkakas-perkakas yang ditinggalkan di situ oleh kapitan Wila loughby dulu, sesudah itu ia pulang kepada tempat Alice, hendak mengambil dia. Lalu Alice diantarnya ke pada tempat tadi yang berdekatan rumah penjara. Ia berisyarat kepada Alice, supaya ia duduk pada tempat bekas bapaknya dulu itu. Alice membenarkan isiya ratnya.

Orang Indiaan mengambil linggis kecil akan mengeluar kan kapur yang dipakai akan menutup celah-celah di antara tiang ceracak. Setelah sedia lubang kecil, Nick memandang dilubang itu ke sebelah dalam. Katanya: Baik!

Kemudian Nick berisyarat kepada Alice akan memandang juga dilubang itu.

Alice berbuat demikian. Kelihatanlah: Robert yang sedang duduk di sebuah bangku. Robert sedang membaca dalam buku. Nyata pada mukanya, Robert sama sekali tiada mengetahui hal ihwal bapaknya.

Nick membesarakan lubang sedikit, lalu ia menyisipkan sebuah pahat ke sebelah dalam akan mengali Robert. Sebetulnya Robert melihat alamat itu.

Mayoor mendekati lubang, lalu ia menghintai keluear, lalu tampak kepadanya ada seorang Indiaan...... Robert sudah mengenal orang Indiaan. Tetapi Robert berbuat atiati benar: ia tiada berkata; ia berisyarat akan menunjukkan arah ke pintu, artinya: ingatlah di situ ada orang pengawal.

Nick berbisik-bisik, katanya: “Kami datang kemari akan melepaskan mayoor.” “Bolehkah kita percaya akan perkataanmu ini, Tus carora?” Itu ditanyakan oleh Robert. Lalu Robert menyambung lagi, katanya: “Kita suka memandang kamu sebagai sahabat, ...... te tapi boleh jadi kamu menjadi seteru kita! Sepanjang pengetahuan kita, kamu berbaik dengan orang yang ber kawal di hadapan pintu.” “Perkataanmu baik sekali...... Panglima besar harus pandai: kalau perlu, ia harus menunjukkan muka dua rupa.” “Betapa daya upayamu akan menyatakan kepada kita bahwa kamu setia kepada kita, Nick?” “Ada daya upaya, coba lihat saja!” Sedang berkata demikian (cara bersungut-sungut) dipegangnya tangan Alice, lalu dimasukkan ke dalam lubang. Robert mengenal tangan itu dengan sebentar, yaitu karena bercincin. Cincin dipakai oleh Alice tanda per ingatan bundanya yang telah mengkat. Orang penjara lalu berbisik-bisik, katanya: “Hai, kamu, Alice? Kamu ada di sini?” Jawab Nona Alice: “Ta‘ dapat tiada kamu percaya akan kita, bukan, Bob?” Alice melepaskan tangannya dari dalam lubang, lalu ia menghintai dilubang seraya mengatakan: “Nick datang kemari sebagai sehabatmu, Bob! Mak-sudnya melepaskan kamu!“

Mayoor berisyarat: sudah mengerti, lalu ia mundur jauhnya selangkah, hendak menantikan perbuatan orang Indiaan itu. Nick memberi pahat kepada Robert serta menasihatkan dia akan memasukkan pahat itu ke dalam kayu dinding. Dalam pada itu pun Nick mulai bekerja di sebelah luar bertentangan dengan tempat Robert. Dengan demikian lubang dibesarkan supaya bagian ding ini dapat digergaji.

Nick memasukkan gergaji ke dalam lubang, mayoor Robert memegang gergaji, lalu tiang ceracak digergajinya dengan rajin sekali. Mula-mula Robert bekerja dengan ati-ati sekali, tetapi makin lama makin bertambah rajinnya, sebab terlalu ingin akan terlepas dari dalam penjaranya.

Tiba-tiba kedengaran bunyi: orang sedang membuka pintu dengan kunci.

Robert terkejut sekali, tetapi ia dapat menahan dirinya; dengan segera diambilnya bukunya yang tadi dibacanya, lalu ia duduk dibangkunya kembali, seraya membaca terus di dalam bukunya. Pada sa'at itu juga ma-suklah seorang pengawal bangsa Amerika yang tersamar cara orang Indiaan. Kata orang itu:

“Kita bersangka ada bunyi sebagai orang bekerja menggergaji, mayoor!”

“Bunyi sedemikian tiada terdengar kepada kita; barangkali ada orang yang menjalankan penggilingan gergaji!”

Sesudah berkata begitu, Robert meneruskan pemba-caan dalam bukunya.

Jawab orang Amerika: “Patutlah kami memeriksakan hal itu!” Setelah sampai di luar kembali, dipanggilnya seorang teman, lalu mereka berdua menuju kepada penggi=lingan.

Robert bergopoh-gopoh akan meneruskan pekerjaan menggergaji balok. Setelah terpotong, kayunya diangkat=anya, lalu disusupinya lubang yang terjadi itu, sehing=ga dapat keluar. Alice dipegangnya pada tangannya, ke=mudian orang bersaudara mengikut pandunya, yaitu Nick. Setibanya di puncak boakit batu, orang berhenti sebentar. Nick mendengar=dengarkan...... tiba=tiba kedea=ngaranlah suara orang yang bertempat dekat rumah pen= jara. Demikianlah perkataannya: “Coba lihat! Inilah...... gergaji! ...... itulah..... lu=bang!”

Ada orang lain bercampur perbicaraan, katanya: “Di sini ada tahi darah! Coba lihat, berdekatan batu=batu ini!”

Alice terkejut, Nick juga tiada tetap hati. Robert mengajak temannya akan lari selekas=lekasnya...... Seke=lilingnya,—di mana=mana juga—kedengaran suara orang yang sedang mengejar orang pelari. Tiada antara lama ketiga orang sampai kepada hutan; lalu mereka menurut rupa=rupa lorong kecil. Pada akhirnya Nick mengatakan: Sekarang kami terpelihara!

Lalu orang berhenti sebentar pula; Robert dan Alice berdua duduk di tanah, belakangnya bersandar dengan batang pohon kayu; dalam pada itu pun Nick maju sedikit lagi akan memeriksakan jalan di hadapan.

Sepeninggal Nick, Alice menceriterakan kepada saudaranya hal ihwal kematian bapaknya. Tatkala mendengar kabar itu, Robert seolah-olah kena halilintar, tetapi ia dapat menahan diri juga. Mula-mula ia tiada dapat berkata lagi; pada akhirnya kembalilah tahan akan dirinya pula. Kemudian Alice ditanyainya tentang hal ihwal pembunuhan itu! Alice memberi keterangananya menurut kabar, yang diperolehnya dari Nick.

Orang Indiaan sudah kembali! Pada memandang muka Robert, sudah nyata kepada Nick, bahwa kematian kapitan sudah malum kepadanya. Mula-mula Nick terkejut karena memperhatikan itu...... Kata Nick:

“Marilah. Lekas berangkat kembali! Majulah! ...... Orang kaum Mohawk terlalu amat marah, sebab kehialangan tengkorak sebuah!”

Lalu Robert memegang pula tangan Alice, seraya mengikut Nick.

“Adakah kamu melihat orang yang berniat menyerang rumah blokhuis, Nick?”

Nick berisyarat: Ia sungguh!

“Dalam hal itu baiklah kami bergopoh-gopoh, supaya kita kesempatan melindungkan ibu dan saudara kita yang masih ada di rumah blokhuis.”

Dalam pada itu pun mulailah kabober hari; dalam sejam matahari akan terbenam. Orang pelari sudah sampai kepada jembatan yang letaknya di atas sungai. Setelah terliwat jembatan, sampailah mereka di luar hutan. Pada sa’at itu kedengaranlah tempik-sorak musuh, asalnya dari penggilingan. Tentu orang Indiaan bersedia akan penyerangan.

Kelihatan juga, …… sersan Joyce yang bertempat di serambi di atas atap.

Sersan berseru: “Orang semua bersedialah! Ada orang jahat datang!”

Orang pelari terus bergopoh-gopoh. Pada akhirnya mereka sampai kepada kaki bukit batu. Orang berjalan berkeliling ceracak, menujui pintu besar. Sekarang orang pelari terserah kepada bahaya besar, sebab sejak ketika itu mereka tampak kepada musuh.

Sekarang kedengaran bunyi das; tetapi peluru-peluru kena rumah dan ceracak saja, orang isi kota tiada kena.

Robert berdiri di hadapan pintu halaman; sesudah terdengar teriaknya—orang isi benteng mengenal suaranya—pintu dibuka; setelah masuk, ketiga orang pelari sudah terpelihara!

Sersan Joyce telah turun dari atas serambi akan memberi selamat datang kepada Robert dan Alice. Orang bangsa neger senang hati juga pada melihat Robert dan Alice kembali di rumah.

Kata Joyce: “Mayoor, musuh sekarang sudah sampai di hadapan ceracak; sepanjang pikiran kita, ta‘ boleh berlambat lagi akan melawan dia.“ Jawab Robert: ”Rumah ini harus dilindungkan seboleh-bolehnya. Joyce, suruh orang pengawal dan serdadu lain berkawal pada tempat yang sudah kamu tentukan dulu. Ambilkan kita senjata-senjata!“ Dalam pada itu pun Alice masuk ke dalam rumah akan bertemu dengan ibunya dan saudaranya; Robert tiada sempat bertemu dengan sanak-saudaranya dulu, sebab pekerjaannya terlalu banyak! Kemudian Robert naik ke atas serambi disertai oleh sersan Joyce. Jamie Allen, Blodget beserta orang bangsa neger tiga orang menembaki musuh dengan tiada berkeputusan. Nick sedang berkawal dekat pintu besar. Di hadapan ceracak berkerumunlah musuh. Ada beberapa orang diantaranya menaiki ceracak, lalu duduk di atas tiang, supaya dapat menembaki rumah blokhuis. Ada seorang Indiaan kena peluru yang asal dari bedil Blodget punya. Lalu orang Indiaan itu jatuh dari atas ceracak. Demikianlah orang isi kota dapat membunuh banyak orang Indiaan............. Adapun orang kolonist, yang lari belut itu, berhenti dari pekerjaannya di sawah-ladang sejak permulaan perang; bersama-sama dengan anaknya dan bininya mereka masuk ke dalam kemahnya. Hanya Joel Strides sedang bermusyawarat dengan se-orang panglima, katanya: “Kapitan Willoughby, ialah seorang opsir yang amat pandai dalam perkara perang (Yul dan temannya belum mendapat ketahuan tentang kematian kapitan). Rumah blokhuis ini amat teguh dan komandannya terlalu pandai melindungkan benteng jadi: benteng ini hanya dapat dikalahkan dengan susah payah. Tetapi ada suatu akan akan mengalahkan benteng ini, Walaupun hanya ada dua puluh hingga tigapuluh orang yang menyertai penye- rangannya.” Ada seorang kepala kaum Mohawk mengaru, katanya: “Bagaimana akalmu itu?” Jawab Strides: “Ada sebuah tempat masuk diceracak yang belum diberi berpintu! Pintu itu belum terpasang dalam ibu pintunya, pintu hanya tersokong dengan balok-balok. Balok itu mudah dibongkar...... Jika kiranya ada orang yang berani pergi ke sana akan membongkar balok itu...... pintu itu dapat ditolak, sehingga kami dapat masuk ke dalam ceracak.” Kata orang Mohawk kepada orang khianat (Yul): “Baiklah kemolah pergi sendiri juga!” Sedang berkata demikian orang Mohawk memandangi Joel dengan menyatakan cemuruan dan kehinaan. Kata si penakut: “Tidak! Kepala kaum, tidak! Kita punya perkara...... itulah damai, perkara pemerintahan negeri dan perkara kemerdekaan! Kamu punya perkara...... yaitu perkara perang. Meskipun demikian, kita hendak menyatakan ke- padamu, betapa peri membongkar pintu itu...... Coba lihat, orang isi kota terus menembak saja arah ke bawah l“

Yul Strides dipaksa oleh orang Mohawk akan mengantar orang kepada ceracak. Ada tujuh orang Indiaan menyusupi lubang, yang dibuat oleh Joel Strides dulu. Tatkala seorang Indiaan—nomor delapan—hendak masuk, ia ditembak oleh Blodget, mati. Demi terlihat itu, orang Indiaan lari kesegala pihak.

Penyerangan dihentikan ketika malam sudah turun. Antara orang yang menyerang benteng, ada yang kena luka duabelas orang, ada yang mati lima orang.

Mayoor berdiri diserambi disertai sersannya. Kata mayoor: “Hari sudah malamlah. Sekarang tiada usah kuatir bahaya lagi, sebab gelap gulita, Joyce. Sekarang kita berwajib melihat ibu. Joyce, ..... mayat bapak sudah diperlihatkan kepada ibu?”

“......Mayat tersimpan di dalam kamarnya!”

“Baiklah kita turun sekarang juga. Barangkali nanti malam kami diserangi pula oleh musuh; dalam hal itu kita tiada sempat akan melihat ibu.”

Robert turun, lalu masuk ke kamar, tempat simpanan mayat...... Mayoor mendekati mayat...... demi terlihat bapknya, Mayoor menangis tersedu-sedu...... Robert tiada bergerak, rupa-rupanya kakinya terpaku pada dasar.

Pada akhirnya Robert menoleh di kamar. Saudaranya Harriet dan Alice Maredith duduk di situ juga.

Robert menghampiri ibunya, yang duduk di kursinya di hadapan tempat mayat...... dengan tiada bergerak...... sedang merenungi mayat. Ibu duduk cara demikian tetap juga sementara beberapa jam lamanya...... hatinya tiada terhibur, berapa dicobakan oleh Harriet dan Alice.

Tatkala Bob—ialah kekasihnya—berlutut disisinya, rupa-rupanya ibu tiada melihat anaknya.

Kata Robert: “O, Bunda. Bunda tiada mengenal kita? Inilah Robert, yang sekarang berkata kepada Bunda...... Sesungguhnyia Bunda kehilangan suaminya, tetapi masih ada...... anak laki-laki ini akan melindungkan Bundal!”

Ibu tiada memandang Robert, katanya: (cara berbisik-bisik)

“Jangan berkata sekian nyaring, supaya jangan menjaga-jagakan bapak. Bapakmu berjanji kepada kita akan melepaskan kamu. Ia berjalan jauh-jauh. Sekarang ia lelah: lihatlah, sekarang ia sudah lelap!”

Robert mengamat-amati muka ibunya, nyata kepadanya......ibunya kehilangan akal-budinya. Tiba-tiba ibu merenung arah kepada pintu...... di situ berdiri...... Nick......Orang yang hadir terkejut semua. Kulit tubuhnyia segenapnya dicacahnya! Nick menemui mayat...... lalu matanya ditujukannya kepada muka kapitan Willoughby. Tetapi ia tiada berani mengenai tubuhnyia, Walaupun rupa-rupanya maksudnya begitu! Tangannya sudah diangkatnya...... tetapi diturunkannya pula...... kalau-ka lau ia bersesal.

Perbuatan Nick yang heran itu ternyata kepada Robert: terbitlah persangkaan dalam hatinya: kalau kalau...... Nick telah membunuh bapaknya...... Tetapi persangkaan itu ditolaknya. Mustahil! Nick—yang baru menolong Ro bert—tiada dapat berbuat kejahatan sedemikian!

Nick berkata kepada Harriet, demikian katanya: “Mengapa menangis? Wyandotte hendak memeliharakan kamu sekalian...... kemudian hari kamu boleh pulang ke negerimu!”

Lalu Nick berpaling kepada janda, seraya memegang tangannya. Katanya: “Perempuan...... selalu baik, amat baik! Mengapa ber duka-cita? ...... kapitan sudah berangkat ke padang per buruan yang selamat...... Di situ hal semua baik...... waktunya sudah sampai...... perlulah ia berangkat.”

Rupa-rupanya suara Nick mengingatkan nyonya Wil loughby akan kejadian pada waktu yang sudah lalu serta menyedarkan dia. Kata Nyonya: (inilah pertama kali nyonya berkata sejak kematian suaminya) “Nick, kamu bersahabat dengan kita! Coba bicara dengan kapitan! Cobakan menyedarkan dia. O, terlalu jahat perbuatan membunuh seorang yang menjadi suami dan bapak! Katamu apa, Nick? Baiklah kamu diberi obat lagi? ...... Hai, kalau obat ini tiada kamu minum, tentu kamu akan mati!”

Pada mendengar perkataan ini, Nick mundur beberapa langkah; korban pembalasannya dipandanginya beberapa detik lamanya; nyata pada mukanya ia bersesal betul.

Kata Nick: “Jangan sedarkan! Marilah kami semua tidur bersama-sama dengan dia! Nick hendak jaga-jaga, ialah nanti memberi tahu kepada kamu kalau waktu sudah sampai akan bangun kembali.” Tiba-tiba kedengaran tempik-sorak. Mayoor berlumpat dari dalam kamar, Alice berdiri akan menutup pintu, sesudah Robert keluear. Tetapi pada sa'at itu Alice diangkat, lalu dibawa oleh Nick: Alice hampir rebah pingsan. Setelah sampai di kamar gudang, Alice sedar pula dari pingsannya! Wyandotte sudah keluear kembali akan mengantar Harriet dan Nyonya Willoughby juga ke kamar gudang...... akan tetapi maksudnya tiada dapat dibenar-kannya. Terdengarlah kepada Nick suara mayoor Robert yang sedang memberi perintah kepada serdadunya. Lalu Nick bertempik-sorak cara kaumnyia sendiri; seolah-olah akan membalas tempik-sorak orang Indiaan kaum Mohawk. Sedang menyerang musuhnyia, Nick berlaku sebagai iblis.


FASAL KETUJUHBELAS

BLOKHUIS DITEMPUH

Sementara Robert ada di dalam kamar dengan ibunya, Joel Strides sudah menyusupi lubang diceracak. Strides dipaksakan berbuat demikian oleh kepala-kepala kauem. Orang Indiaan sudah meliwati lubang lebih dulu. Pintu ceracak sudah dirobohkannya.

Mike sedang berkawal dekat pintu, ia terkejut! Te tapi ia melawan musuh dengan gagah berani; orang itu ditabuhnya dengan siku bedil. Orang Indiaan menembak bedilnya; pada sa’at itu Robert keluear, diiring oleh Nick.

Hiru-hara besar! Orang mulai berkelahi seorang dengan seorang. Serdadu yang bertempat diserambi sudah’ turun akan bercampur perkelahian ini.

Tiba-tiba kedengaran bunyi…… genderang, asalnya dari luar! Kedua pihak perkelahian berhenti berkelahi. Blod-get bergopoh-gopoh menuju ke pintu besar. Pintu itu dibockanya…… Ada setempuk serdadu masuk! …… Di sebelah panglimanya berjalanlah…… tuan Wood!

Tumpuk itu limapeluh orang banyaknya. Sebab ge* lap gulita orang itu tiada dapat dikenal. Robert tanya: “Siapa kamu?” Jawabnya: “Kita...... obrus Beekman! Kita mengepalai setumpuk orang Amerika...... Jika kiranya kamu...... Robert Willoughby...... nyatalah kamu tiada usah kuatir apa# apa!” Sekarang perkelahian sudah selesai! Kedua tuan (ipar) berjebat tangan. Kata Robert: “Hai, Beekman...... kamu seolah-olah diutus dari Surgal!” Jawab Beekman: “Menurut kabar, ada setumpuk orang jahat sedang menuju kemari. Lalu kita minta idin akan berangkat kemari juga. Di tengah jalan kita bersua dengan tu# an Wood. Jika kiranya tiada bertemu dengan dia, ten# tu kami datang kemari liwat waktu. Tatkala orang Indiaan bertemu dengan tuan Wood, disangkakannya ialah orang gila (sebab berpakaian cara pendeta jati)...... ia tiada diusik olehnya! Tun Wood meneruskan perjalanannya hendak meminta pertolongan kepada tuan Beekman...... Sesungguhny Beekman ingin bertemu dengan isterinya Harriet, ...... tetapi pemandangannya: ada perkara yang lebih penting...... Mula-mula dipasangny api besar akan menerangi da# erah; lalu ditempatkannya serdadu akan berkawal.

Pendapatannya ada musuh duabelas orang mati. An- taranya ada Joel Strides dan temannya Muller. Kedua orang itu mati karena ditabuh oleh Mike dengan siku bedil.

Tatkala Beekman bersedia akan melihat isterinya dan sanak-saudaranya lain, ia tertahan oleh Robert. Kata Robert: “Patutlah kita memalumkan suatu kabar yang ten- tu akan memedihkan hatimu...... bapak sudah mening- gal! betapa peri...... entah bagaimana.” Beekman terkejut...... kedua orang bergopoh-gopoh ke kamar dengan membawa pelita.

Hai, pendapatannya terlalu ajaibl dekat pintu ada tahi darah...... ada seorang Indiaan terhampar dilantai... dekat kepadanya ada seorang Indiaan lain yang berdarah, banyaklah lukanya...... Robert mengangkat bedilinya...... tetapi diturunkannya pula...... yang berdiri di situ, ...... ialah Wyandotte!

Orang perempuan tua sedang duduk di kursinya...... ia sudah meninggal...... hatinya diterusi peluru...... Harriet berlutut disisinya!

Ada orang kaum Mohawk enam orang banyaknya. Se- dang orang itu masuk ke kamar, mereka terlihat oleh Nick yang terus mengikut orang itu. Maksud orang liar itu hendak mengambil tengkorak. Yang seorang se- dang menganjur tangannya arah kepada kepala orang mati (kapitan Willoughby)...... kebetulan pada sa’at itu dibunuh oleh Wyandotte.

Lalu Nick memadam lampu. Terjadilah hiruhara yang tiada terkata. Seorang Mohawk lain dibunuoh juga oleh Nick, lalu orang yang sisa lagi, terus lari. Sedang larinya, orang itu menembak bedlnya: nyonya Willoughby kena peluru, yaitu pada jantungnya!

Tiba-tiba mayoor bertanya: “Tuscaroroa, di mana Alice Maredith?” Orang Indiaan berisyarat: ikutlah kita juga! Lalu opsir diantarnya kepada kamar gudang. Di situ duduk Alice, ada berselamat.

Keesukan harinya ta‘ ada ada lagi musuh di lembah; penyerangan ini diatur oleh Joel Strides. Orang putih pengiring Joel berniat merampas barang kepunyaan kapitan Willoughby.

Kapitan dan isterinya dikuburkan dekat gereja kecil; tiada jauh dari situ dikuburkan Jamie Allen dan Plin tua.

Robert berdiri di hadapan kuburan orang tuanya. Tiba-tiba ada orang yang meletakkan tangannya pada bahunna. Ialah Nick! Kata Nick: “Mengapa berduka-jita, mayoor? Serdadu semua mesti...... mati pada suatu hari!” “Nick, inilah...... bapak kita dan ibu kita. Itukah celaka besar atau tidakkah? Kamu mengenal dia semen-tara masih hidup.” “Nyonya baik! Orang lain dikasihinya lebih daripada diri sendiri.” “Terima kasih, Nick. Bagaimana...... bapak?”

“Baiknya tiada sama dengan kebajikan nyonya! ...... Ba- pak suka menabuoh orang dengan cemeti...... Ia tiada membedakan orang biasa dengan kepala kaum...... Bekas luka...... dikenakannya lagi.”

“Nick, ini bukan tempat baik akan meriwayat hal ih- wal itu...... Kamu melawan musuh dengan gagah bera- ni akan melindungkan kami. Perbuatanmu yang baik itu dibalas!”

Kata Nick lagi: “Nick sudah pergil” Sedang berkata demikian, mukanya menyatakan besar hatinya.

“Yang mengganti dia...... ialah Wyandotte. Wyandotte berpangkat kepala kaum...... Kepala kaum tiada suka mendapat pembalasan.”

Sesudah selesai perkataan ini, mayoor berjebat tangan dengan orang Indiaan, lalu Wyandotte pergi...... lenyap- lah ia dalam hutan belukar.

Sepanjang timbangan Robert dan Beekman rumah blokhuis tiada beruna lagi akan menahan penyerangan...

Orang bangsa negeri dimerdekakan oleh Robert. Mike mengiring Robert, Joyce beroleh uang jasa. Blodget masuk balatentera Amerika; pada akhiurnya ia naik pang- kat, menjadi kapitan. Obrus Beekman tetap mengiring balatentera Amerika sampai tahun 1783. Pada tahun itu kerajaan Inggris terpaksa memerdekakan kolonie=kolo- nie di-Tanah Amerika.

Robert berangkat ke-Tanah Inggris. Pada tahun 1795 ia diangkat jenderal. Pada tahun itu juga Robert—bersama-sama isterinya, Alice Maredith—kembali di-Tanah Amerika sebab ingin melihat sekali lagi tanah airnya dan kuburan orang tuanya.

Tatkala sampai kepada kuburan, mereka bertemu dengan Wyandotte; umurnya pada masa itu tujuhpu-luh tahun; rambutnya putih belaka. Matanya masih berseri, tetapi tiada menyatakan lagi peri liar.

“Tiba-tiba kelihatan di situ juga...... tuan Wood. Katanya: ”Sejak kematian orang tuamu, kita hidup di sini cara orang bertapa...... Kita amat senang setiap-tiap kali me-nerima surat-suratmu.“

Kemudian orang tua itu berisyarat kepada Bob, su-paya mengiring dia.

Robert mengikut tuan Wood; sementara itu Alice tinggal dikuburan.

Nick berdiri di situ, rupanya sebagai patung perbu-atan batu. Kalau-kalau ia malu, karena bersangka tuan Wood berniat memalumkan kepada mayoor Robert, bahwa bapaknya dibunuh oleh Nick!

Sesudah beberapa detik kedua orang tuan sudah kembali. Kata tuan Wood: “Nick, perbuatanmu...... sudah kita malumkan ke-pada tuan jenderall!”

Robert menambah lagi, katanya: “Ia sungguh. Kita sudah tahu semua!” Nick termangu-mangu...... Pada akhirnya ia menemui

Robert seraya mengunjuk tomahawknya (kapak) kepada jenderal. Sedang tunduk kepala, Nick mengatakan: “Nick membunuh kapitan...... Mayoor harus membunuh Nick!” “Tidak! Tidak, Nick. Salahmu kita ampuni. Mugimogi Allah menganugerah am pun juga kepada Wyandotte!” Pada mendengar perkataan Robert, muka Nick berseri pula; tangan Robert dicapainya, seraya berkata: “Diampuni, ...... diampuni!” Lalu ia terjatuh ke tanah, matil! Ketiga orang yang hadir berdiri sekeliling mayat orang Indiaan! Tuan Wood memalumkan kepada Robert dan Alice, bahwa Nick—sebab terganggu oleh salahnya—mengaku salahnya. Menurut permintaan Robert dan Alice Nick dikuburkan dalam hutan kecil di sebelah kuburan orang tuanya.

TAMMAT.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.