Baca EPUB: Angkatan Muda dan Kebudayaan

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. ANGKATAN MUDA DAN KEBUDAYAAN
  2. G. SIAGIAN
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. ANGKATAN MUDA DAN KEBUDAYAAN
  6. CC BY-SA 4.0

ANGKATAN MUDA DAN KEBUDAYAAN

G. SIAGIAN


KOLOFON

ANGKATAN MUDA DAN KEBUDAYAAN

oleh

G. SIAGIAN



Dimuat di majalah Siasat

No. 317 • Th. VII • 5 Juli 1953

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: The Follies of Teaching (published 1972), karya Fritz Eichenberg

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



ANGKATAN MUDA DAN KEBUDAYAAN

BARU-BARU ini seorang kawan bertanya bagaimana pendapat saya tentang kegiatan kebudayaan di kalangan angkatan muda Indonesia setelah saya kembali dari Eropa. Sebelum itu sudah ada beberapa kawan menanakkan pendapat saya tentang kegiatan dan masa-depan angkatan muda sekarang. Telapi secara rasangun dari mereka tak ada yang memaki perkataan “kebudayaan”, melainkan “kemunduran”. Dari kedua cara berfayna ini dan dari keluh-kesah yang saya batai dalam majah, saya menarik kesimpulan bahwa kebayakan orang yang menaruh perhatian pada soal dan masa-depan angkatan muda sangat pesimistis. Saya tidak termasuk golongan pessimistis tetapi saya tidak menyangkal adanya tanda dan gojala yang membeli bahan untuk pessimisme. Optimisme saya tidak lahir dari wishful-thinking atau idealisme kosong, tetapi berdasar pada kenyataan sojarah bahwa sesuatu bangsa muda yatuk mempunyai vitalite dan potensi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang sekilu pun sangat besar, tetapi bersifat sementara. Dalam sejarah manusia belum ada revolusi yang membentuk hasil positif dalam tempo 5-6 tahun, baik revolusi Russia, Maupun Tiongkok.

Tetapi baiklah kita kembali dulu pada tanya dan gojala yang saya singgung-tadi. Penentuan constatering ini perlu diadakan dulu. Sebelum kita dapat memintari “way-out” dialan keluar dari “keulitan” ini kita harus tahu dan sadar dulu dalam kenyataan apa kita berada, bagaimana sifat “keulitan” ini dan apa sebabnya. Boleh dikatakan bahwa sejak 1940 Indonesia berada dalam keadaan terasing, terasing dari dunia yang. Hubungan yang relatif normal dengan dunia luar baru mulai sejak petunyuk kebudayaan. Selama pengasigan itu keadaan dalam negeri sangat kaltau, baik dalam lapangan administrasi, politik, ekonomi, Maupun dalam lapangan pendidik dan pengajaran. Yang menjadi kerban dari keka-yuatan ini adalah terutama bunga-banga sa (leung) yang mengalami berbagai tin-tangan dalam pertumbuhan yang normal.

Pengasigan, isolatie antara kepulauan Indonesia satu sama lain sudah ada sejak semula, sebagai akibat kedudukan geografis. Kesatuan antara kepulauan Indonesia, kecual kesatuan bangsa-dalam ati ras (Austronesia) hanya terdapat dalam administrasi pemerintahan selama zaman penjadahaan. Dengan pe-makaian istilah “Indonesia” sebagai nama kesatuan untuk penduduk seluruh Nusantara sejak 25 tahun yang lalu belum berarti bahwa dengan demikian telah ada pula-pabedan umum-atau kebudayaan yang menjadi milik bersama dari penduduk Nusantara. Indonesia belum mempunyai kebudayaan sendiri seperti bangsa Jermain, Inggris, Perancis atau Italia. Bagi kaum terpelayar yang Indonesia adalah sama mudah-atau susahnya merasakan dan menerima kebudayaan Jermain atau Inggris, Perancis atau Italia, Tiongkok atau Jepang.

Hampir semuanya diterima melalui saluran Belanda. Lebih jelas lagi: Bagi seorang terpelayar Indonesia yang bersarai dari Aceh atau dari Ambon sama juga mudah atau susahnya merasakan dan menerima kebudayaan Yawa atau Jermain, Bali atau Russia. Merck tidak akan lebih tepat dapat menangkap dan merasakan tar legong dari Bali li daripada tar ballet dari Russia, musik gamelan dari Jawa atau symphonie dari Jermain. Dalam lapangan kesusasan-terapan: kita “melihat” kenyataan yang sama. Di antara “kam” terpelayar yang dibuat tanyak yang mengenal penulis Barat daripada penulis bangsa kita sendiri. Beratus-ratus kaum terpelayar yang dapat citeer W. Kloos, pemimpin bujanga-bujanga “De Takhtige”, tetapi yang dapat citeer Amir Hamzah, diago Pujangga Baru sendiri hanya beberapa orang yang mengenal beberapa sajak-nya dari luar kepala.

Sangat mengyolok mata juga “eenzigheid” dari pengelautan dan perbaikan kaum terpelayar dan “mahasiswa” kita. Di antara mereka yang “bergerak” dalam lapangan kebudayaan hanya satu-dua yang di samping kesusteraan mempunyai pengelautan dalam perhatian-tehapan seni musik, seni lukis, seni film dsb. Berapa orang yang mengenal nama pentipey lagu seperti Simanjuntak, Pasaribu, Coh Sinsu, pelukis seperti Sujoyono, Afandi dll; dibanding dengan yang mengenal nama Khairil Anwar sekaliup manfaat prestasi Khairil Anwar juga lebih kurang daripada manfaat Prestasi seumian-seumian yang tersebut lebih dulu. Dan di antara orang yang bergerak dalam lapangan kesusteraan banyak pula yang menyangka bahwa meteka sudah menjadi susteranw diyaka sudah dapat citeer “AKU” dari Khairil Anwar. Saya teringat pada hari peringatan meninggalya

Khairil Anwar yang diadakan di Balai Prajurit Diponegoro Jakarta beberapa waktu yang yalu. Sembilan puluh lima persen dari hadirin terdiri dari pemuda-pemudi. Dengan sendirinya suasana lain pula di mana begitu “banyak pemuda-pemudi” berkumpul. Peringatan kematiannya yang sedikit-banyaknya harus diadakan dalam suasana khidmat dan tenteram menjadi terlalu meriah seperti “suif”. Sitor Situmorang berpidato; suasana masih tenteram. Tetapi sesudah perlombaan declamatie dan pertunyukan mulai, kayualah segala-galanya. Jelas juga nampak bahwa seorang-pien dari calon sasterawan itu tidak ada yang mengerti apa artinya declamatie. Sebab yang kita lihat hantalah adu suara dan adu aksi. Tetapi hadirin ramai bertepuk tangan.

Dari Yury yang terdiri dari sasterawan dan ai'i kritik yang muda dan terkenal memberikan hadiah ju'a. En-tah anggauta yury itu memandang prestasi declamator itu baik, atau karena hadiah yang telah disediakan itu memang harus dibagikan? “Megurut hemat saya—dan saya rasa umum juga berpendapat begitu hadiah hanya diberikan pada orang yang layak mendapatnya. Dengan memberikan hadiah juga pada orang yang tak pantas mendapatnya, yury memberikan harapan palyu pada yang bersangkutan dan memupuk epigon* dan snoblist”.

Ke arah mana kira perhatian pemuda* sekarang tertuju dapat kita lihat umpamanya dari ruangan “Penfriends” malahan “Aneka”, sebuah malahan yang luas tersebar di Indonesia dan Malaya.

Dari isi-surat-menyurat itu dapat kita buat semacam enquete mengenai perhatian (interesse), kegemaran dan kecer dasan pemuda-pemudi kita. Kebanyakan pemuda-pemudi yang menjadi anggauta penfriends-berumur antara 18—25 tahun. Dari 10 pemuda-pemudi yang siya ambil sembarangan saja, 10 yang me-nyebut sebagai kegemaran pertama: tu-kar-menutak foto sendiri. Kegemaran kedua: menonton film. Selanjutnya picnic, “nembeca” malahan(y De Lakh, Picolo, Pin Up?) dsb. Seorang gadis berumur 19 tahun menyebut sebagai kegemarannya: olah raga, musik, film, ngobrol, omong kosong, dongeng dan cerita. Seorang pemuda berumur 21 tahun lebih suka pada picnic ke gunung dan ke laut dan......... manjat kelapa.

Enquite ini sudah cukup jelas untuk mendorong orang* P. P. K. dan orang tua berfikir dalam*.

Pembaca cukup sekali-dua kali lewat Pinu Air Jakarta pada pagi hari. 95% dari orang yang berjedel-jedel di depan bioskop adalah murid sekolah. Perhatikan juga film apa yang mereka tonton. Dengar apa yang mereka bicarkan.

Tetapi adalah tidak adil jila kita menyalankan pemuda-pemudi, ini seluruhnya. Mereka lahir dan dibesarkan dalam keadaan dan lingkungan* yang ti-dak menguntungkan. Kekurangan sekolah* memaksanya mereka memcari “bezig-behid”: lain. Kesulitan perumahan membawa mereka ke tempat pelacuran. P. P. -K. tidak sanggup memberi gimpinan. Paling* menciptakan tarian surrogat seperti pemuda-mudi yang tidak disukai kebanyakan pemuda-pemudi, pofbrock dan kemeja gerak badan yang mengha-lang-balangi badan - bergerak dan ma-rangsang keringat dan menambah panas di negeri yang sudah lebih cukup dary panas.

Dapatkah kita mengbarap bahwa pemuda-pemudi kita akan mempunyai cita* yang murni dengan pendidikan sekarang? Banyak di antara pemuda-pemudi yang masih sekolah hanya untuk mendapat ijazah saja, bukan untuk me-noyegar pengetahuan. Di berbagai tem-pat mereka mengancum guru'na, kalau mereka tidak naik kelas. Ujian* dicuri atau dibeli supaya menang. Yang menjadi korban adalah mereka sendiri dan teman'na. Ujian yang bocor itu harus diulangi lagi. Dan, Sekalipun mereka membeli ijazah itu sejuta rupiah, dengan demikian mereka sedikit'un tidak bertambah-pandai, melainkan haona belajar korrupt. Dan bagaimana hari-de-pan Indonesia jika slswa* sudah belajar korrupt di bangku sekolah?

Sekarang kita bertonya: Kemajuan apakah yang dicapai angkatan muda dalam lapangan kebudayaan sejak fajar Revell nasional menyingying pada tahun 1945?

Yang nampak pada kita ialah bahwa elan revolusi 1945 sudah merosot sebelum esprit nasional mendapat bentuk dan arah.

Teriakan angkatan muda hanya merupakan ledakan petasan yang tidak mempunyai efek apa. Diyanganlah kita persoalkan dulu sampai di mana kebesaran Khairil Anwar sebagai penyair. Ini memerlukan ikupasan yang panjang lebar. Yang nyata ialah bahwa banyak pengikut'nya. Dia berteriak karena memang ada yang hendak dikatakannya, Sekalipun ada beberapa di antara sajak'nya yang paling banter dapat dimasukkan dalam “poezie van de anarkhistiskhe sensatie”. Epigon turut berteriak dalam koor, yang penuh “dissonan”. “Aku” adalah sajak yang paling terkenal, dari Khairil Anwar, tetapi juga yang paling tidak sehat dan yang keasliannya dari dulu sampai sekarang saya sendiri tetap sangsikan, dan yang “peling” banyak ditiru oleh epigon dalam segala macam variasi. Suatu bakti betapa kurangnya rasa kritis dan fantasi dari angkatan muda. Dinamik dari “Cerita” untuk Dicn “Tamaela” sebuah sajak lagi dari Khairil Anwar yang dalam percakapan sehari-hari lebih terkenal sebagai “Pat-jrajawane”, merangsang juga nafsu epigon untuk menjapliknya. Tetapi be-egun banyak yang mengkor Kh. Acwar. penyair pemberontak ini masih tetap se-pi-besYiri sendiri.

Pernahkah pembaca memperhatikan bahwa “99% dari sajak” yang dimuat dalam majalah‘ adalah buah pena murid* S. M. A. dan mahasiswa*? Dan bahwa antara sasterawan-sasterawan yang telah melowati umur 40 tahun hampir tidak ada lagi yang sanggup menciptakan hasil seni. Suatu keadaan yang sangat gandil yang hanya terdapat di Indonesia. Saya tidak mau mengatakan bahwa tidak ada di antara yang muda* yang tidak pandai menyair. Sebab pada akhirnya ini adalah so'al bakat, dan bakat itu tidak mengenal umur. Sebaliknya bakat memerlukan diuga pupukan, latihan dan kematangan. Tetapi rupanya masih banyak yang menyangka bahwa membuat sajak adalah hanya so'al menderetkan kata, diseling-seling dengan titik yang tidak tentu fungsinya.

Kita melihat bahwa bagi ahli* kritik masih sangat luas-daerah yang perlu digarap. Dan yang kita butuhkan adalah ahli* kritik yang sungguh* sanggup membedakan emas tulen dengan emas loyang, ahli kritik yang berani mengatakan hitam adalah hitam dan pulih adalah putih, ahli kritik yang dapat mounyukkan jalan, bukan impressario, propagandist atau kharlatan. Bagi pertumbuhan kesenian yang sehat, adanya ahli* kritik yang cakap dan mempunyai penul rasa tanggung-jawab adalah suatu condicio sine qua non.***


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.