Baca EPUB: Kegiatan Melahirkan Angkatan serta Menentukan Usianya

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KEGIATAN MELAHIRKAN ANGKATAN SERTA MENENTUKAN USIANYA
  2. S. M. ARDAN
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KEGIATAN MELAHIRKAN ANGKATAN SERTA MENENTUKAN USIANYA
  6. CC BY-SA 4.0

KEGIATAN MELAHIRKAN ANGKATAN SERTA MENENTUKAN USIANYA

S. M. ARDAN


KOLOFON

KEGIATAN MELAHIRKAN ANGKATAN SERTA MENENTUKAN USIANYA

oleh

S. M. ARDAN



Dimuat di majalah Merdeka

No. 10 • Th. X • 12 Maret 1956

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Woodchopper (c.1926), karya Rufino Tamayo

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KEGIATAN MELAHIRKAN ANGKATAN SERTA MENENTUKAN USIANYA

TIUPAN kelesuan/krisis (pada tahun 1954) dalam sastra mendapat reaksi hebat; puncak suara yang menontang hal itu merupakan salah satu acara simposion sastra 1954. Setelah ini tiupan kelesuan/krisis itu demi sedikit mengendur untuk lalu hilaing sama sekali. Itu menunjukkan, bahwa sudah ada suatu angkatan baru yang lain di luar Angkatan 45 atau setidak tidaknya suratu kegiatan dari suatu kelompok di luar golongan Angkatan 45. Kami bukan hendak membangkitkan soal angkatan—masalah Angkatan 45 sendiri belum selesai!—tapi kami mau menunjukkan apa itu angkatan apa itu kegiatan dan hubungan antara keduanya.

Satu di antara tiga persoalan yang dibahas dalam simplosion sastra 1955 belum lama berselang, “Puisi sesudah Khairil Anwar”, sebenarnya tidak lain hanyalah suatu kehendak lucu (?) dari pelopor-penyelenggara simplosion sastra tersebut, Nugroho Notosusanto, untuk mengesyahkan (!) lahirnya satu angkatan sesudah—se-kurang-kurangnya di luar—Khairil Anwar; tapi jika kita hubungkan dan mengingat acara simplosion 1954 (Kesusastaan Indonesia Modern—Tidak ada krisis) maka mengertilah kita mengapa. Bahwa Nugroho mau meyakinkan masyarakat (karena tentang adanya sudah tak tersangkal lagi) bahwa memang telah ada satu angkatan baru, atau lebih tepat: adanya kegiatan dari segerombolan manusia yang lain dan di luar orang-orang Angkatan 45, bukan saja di luar bahkan juga lepas tiada sangkut pautnya. Jadi, sebetulnya bukanlah soal mau memperbanyak angkatan, tapi cuma mau meyakinkan umum (lebih kena: sebagian kecil masyarakat) akan adanya kegiatan dari suatu kelompok baru.

Memang angkatan itu mengandung suatu cara yang ditemui, dipupuk dan diperjuangkan/dipertahankan oleh para pendukungnya. Ditemui dari dan dida'am suatu kegiatan, dipupuk-dipertahankan dengan kegiatan. Dengan lain kata: Angkatan didahului dan seterusnya dihidupi dengan suatu kegiatan. Juga penymaan/pengakuan atas angkatan berdasarkan dan hak hidup sclangyutnya ditentukan oleh kegiatan. Jadi, bukanlah “Surat Kepercayaan Gelanggang” atau yang semacamnya yang memblkin angkatan. Surat kepercayaan hanyalah akibat belaka dari adanya suatu kegiatan dan surat tadi akan makin bertambah artin ya juga oleh dan karena kegiatan. Sebaliknya surat kepercayaan itu akan hilang harganya tanna kegiatan sebagai ternyata kemudian—yaitu sekarang ini!—atas..Surat Kepercayaan Gelanggang“ tersebut dintas. Sama halnya seperti program ikabiact tang tak disertai pelaksanaannya.

Maka betapa muluk pun—atau walau ditambah kata mentereng baru Sekalipun—“Surat Kepercayaan Gelanggang” itu tidak lebih cuma secarik kertas saja. Seperti umpamanya teks proklamasi kemerdekaan yang tidak diser-tai perjuangan senjata, atau yang tidak diikuti pembangunan atas negara yang baru sna-ja direbut dengan darah dan air mata.

Nyata sekali, bahwa kegiatan jauh lebih penting artinya dari angkatan, berikut kementerian namanya. Carikan kertas “Surat Kepercayaan Gelanggang” barulah punya arti dan berlanjut serta tergantunglah usianya oleh/pada kegiatan. Bukanlah surat kepercayaan tersebut pernah diterima dan diharga! karena dilahirkan dari suatu kegiatan karena kelahirannya didahului oleh suatu kegiatan? Adanya kegiatan dan dukungan ialah yang menentukan sampai ke mana surat secarik itu punya harga. Angkatan dan surat kepercayaan akibat belaka dari suatu kegiatan. (Penanaman Angkatan 45 baru pada tahun 1949 dan “Surat Kepercayaan Gelanggang” ditulis pada 18 Februari 1950 sedangkan kegiatan dari para pendukungnya sudah dimulai tahun 1942! !! !) Bagaimanakah halnia Angkatan 45 belakangan ini—sekarang ini? Adakah mereka masih aktip, baik berupa hasil maumun cipta bentuk lainnya? Prof. dr. Teeuw dalam bukunya “Pokok dan tokoh” tektakan ketiga jilid II menulis: “Rupanya Idrus yang dulu sudah hilang untuk kesusastraan Indonesia, dia sudah masuk sejarah”. Sedang Khatril Anwar lebih dikenang hanya sebagai seorang pelopor yang sanggup mengguncangkan segala.

Teringat usaha para pelopor Angkatan Pujangga Baru yang pada tahun 1948 menerbitkan kembali majalah mereka. Ini maksudnya mau menunjukkan, bahwa kaum Pujangga Baru masih bisa bertahan dan masih hidup, dan bahwa apa yang disebut Angkatan Khairil Anwar itu omong kosong cuma. Tapi sudah semenjak terbitnya kembali itu telah nampak ketimpangan padanya. Baik susunan dewan redaksinya Maupun terutama tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya, bahkan membuktikan, bahwa Kaum Pujangga Baru telah lampau masanya. Akhirnya dikubur jugalah majalah “Pujangga Baru” itu pada tahun 1952, yang memang ternyata bahwa majalah itu tinggal nama saja lagi, sedang isinyia sudah lepas dari namanya dan lepas pula dari idee yang dikandung namanya.

Begitulah pula nasibnya ruangan kebudayaan “Gelanggang” saat ini yang sejak bulan September 1955 malah hanya keluar sekali sebulan. Bahkan diawal 1954—menurut Rival Apin salah seorang pendukung Gelanggang—lembaran kebudayaan “Gelanggang” sudah tidak lagi (hanya) memuat tulisan-tulisan yang sesuai atau bersamaan dengan idee Gelanggang. Yn., karena scalnia memang kegiatan dari orang-orang Gelanggang sendiri hampir sama sekali hilang. Sedang se-mentara itu kegiatan baru dari lain golongan yang—untuk kesekian kali!—di luar dan lepas dari Angkatan 45, mulai mengembang dan menyata.

Tadi disebutkan bahwa kegiatan lebih berarti dari (na-ma) angkatan dan surat kepercayaan, artinya suatu angkatan ditentukan hidup matinya oleh para pendukungnya, masihkah aktip dia atau sudah impotentkah? Di samping itu memang musti diakui, bahwa belum ada tulisan-tulisan yang menyimpulkan kegiatan kini (yang belakangan ini); penguraian tentang apa yang betapa angkatan paling baru ini; pembahasan mengenal sejarah, latar belakang dan lingkungan; dasar-dasar pokok dan tokoh-tokohnya dari gerombolan baru yang muncul semenjak 1950 ini; punyakah mereka kesadaran, adakah pada mereka program tertentu yang baru atau yang sama sekali lain dari angkatan yang sebelumnya?

Dalam ha: itulah letaknya kekurangan mereka, artinya kegiatan yang begitu hebat tidaklah mereka serta dengan suatu (rangkaian) bahasan yang merumuskan apa-apa yang telah/sedang/bakal mereka ca pai. Di samping itu (sebagai dikatakan prof. Teeuw dalam bukunya di atas tadi) “........ rupanya seluruh soal tentang krisis dalam kwalitet kesusastraan itu dapat disimpulkan pada soal tak adanya tokoh istimewa yang menguasai suasana seperti Khairil Anwar dahulu”. Jadi, bertambah dibutuhkanlah pengupasan masalah-masalah sebagai disebut di atas, yai tu mengenai: latar belakang, sejarah, lingkungan, dasar-dasar pikiran, kesadaran berikut tokoh-tokohnya dari kegiatan sekolompok manusia-yang notabene lepas dan di luar Angkatan 45-suatu kelanjutan saja atau tersendirikah dalam se-gala-gala nya?

“Yang sudah tak terelakkan lagi, bahwa pembaharuan itu ada” demikian A. T. Effenj dalam simposion sastra 1955 baru-baru ini: Pertanyaan se'anjut nya: Sudah lair.kah kegiatan kini dengan Angkatan 45? Kalau “ya” di mana bedanya, jika “tidak” apa pu'a buktinya? Rentetan tanya sejak permulaan tulisan ini tidak cukup diyawab dengan hanya teriakan “tidak ada krisls”, “sudah ada angkatan baru“, kami lain, lain, lain!”, dsb.; tapi harus ada penguraian yang luas dan mendalam tetang apa, betapa dan bagaimana, sehingga bagi siapa pun bisa betul-betul meyakin-kan dan serta membentarkan. Sebab akan adanya kegiatan yang lepas dan di luar Angkatan 45 serta punya se-gala-gala yang tersendiri, sebetulnya sudahlah lama dibenarkan orang; yang belum hanyalah perumusan tentang semua itu.

Kegiatan yang sekarang ini memang tak ada mempunyai surat kepercayaan Ataupun penamaan angkatan, tapi lebih baiklah kegiatan ini tidak padam kalau dilahirkannya suatu surat kepercayaan cuma akan mematikan kegiatan itu. Lebih baik kegiatan tanpa nama/surat kepercayaan daripada nama/surat kepercayaan yg tanpa kegiatan sebagai Angkatan 45 masa ini. Kegiatan sekarang ini sayangnya tak disertai pembahasan-pembahasan yang merumuskan sekitar dasar pokok dan tokoh-tokohnya, yang karenanya jadi tidak/kurang jelas bagi orang lain, Walaupun mereka percaya, bahwa tentunya kegiatan kini ini bukannya tidak mempunyai dasar pikiran/tokoh-tokoh. Di samping mereka puas dengan kegiatan dan tokoh-tokohnya yang aktip (!) mercka pun menagih-karena memang perlu! -adanya tulisan yang merumuskan tentang apa yang dikan-bung kegiatan ini serta serba segala daripadanya. (Dipetik dari “Mimbar Indonesia” 4 Februari 1956 - No 5 Th. X, dengan perobahan sckedarnya).


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.