Baca EPUB: Dari Tanah Hindia Berkeliling Bumi

9 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. DARI TANAH HINDIA BERKELILING BUMI
  2. KITAB PENGAJARAN ILMU BUMI BAGI SEKOLAH ANAK NEGERI DI HINDIA NEDERLAND
  3. W. VAN GELDER
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. PENDAHULUAN
  7. TANAH JAWA1
  8. 1
  9. 2. Rupa dan Luas Tanah Jawa, Isi Negerinya, Batas-Batasnya, dan Bagiannya
  10. 3. Dari Hal Kelilingnya, Tanjung-Tanjungnya, Teluk-Teluknya, dan Pelabuhannya Pulau Jawa Itu
  11. 4. Pulau-Pulau
  12. 5. Gunung-Gunung, Tanah Tinggi, dan Tanah Rendah
  13. 6. Sungai-Sungai
  14. 7. Pengaliran Air atau Irigasi (Irrigatie)
  15. 8. Danau-Danau dan Paya-Paya
  16. 9. Hawa atau Iklim
  17. 10. Hasil Tambang
  18. 11. Tumbuh-Tumbuhan
  19. 12. Binatang
  20. 13. Isi Negeri dan Bahasa
  21. 14. Pencaharian
  22. 15. Jalan-Jalan
  23. 16. Pemerintahan
  24. DARI HAL SEGALA RESIDENAN
  25. 17. Banten
  26. 18. Betawi (Batavia)
  27. 19. Priyangan (Preanger Regentschappen)
  28. 20. Cirebon (Cheribon)
  29. 21. Pekalongan
  30. 22. Banyumas
  31. 23. Kedu
  32. 24. Surakarta
  33. 25. Yogyakarta
  34. 26. Semarang
  35. 27. Rembang
  36. 28. Madiun
  37. 29. Kediri
  38. 30. Surabaya
  39. 31. Madura
  40. 32. Pasuruan
  41. 33. Besuki
  42. PULAU-PULAU HINDIA NEDERLAND YANG LAIN
  43. 34. Duduknya, Batasnya, Bagiannya, Isi Negerinya
  44. 35. Laut-Laut dan Selat-Selat
  45. PULAU SUMATERA ATAU PULAU PERCA DENGAN PULAU-PULAU SEKELILINGNYA
  46. 36. Rupanya, Luasnya, Isi Negerinya, Batasnya dan Bagiannya
  47. 37. Perihal Teluk Rantau, Selat-Selat, Tanjung-Tanjung, dan Pelabuhan
  48. 38. Pulau-Pulau
  49. 39. Gunung-Gunung dan Tanah Datar
  50. 40. Sungai-Sungai dan Danau-Danau
  51. 41. Hawa
  52. 42. Hasil
  53. 43. Isi Negeri, Pencaharian, Pemerintahan, Jalan-Jalan
  54. GUBERMEN SUMATRA PESISIR BARAT
  55. 44. Residenan Padang Hilir
  56. 45. Residenan Padang Hulu
  57. 46. Residenan Tapanuli (Tapian na uli)
  58. 47. Residenan Bengkulen (Bangkahulu)
  59. 48. Residenan Lampung
  60. 49. Residenan Palembang
  61. 50. Residenan Sumatra Pesisir Timur
  62. 51. Gubermen Aceh dengan Daerah Takluknya
  63. 52. Residenan Riau (Riouw) dan Daerah Takluknya
  64. 53. Residenan Bangka
  65. PULAU BERUNAI (BORNEO)
  66. 54. Rupanya, Luasnya, Isi Negerinya, Batas-Batasnya dan Bagiannya
  67. 55. Keliling, Tanjung-Tanjung, Teluk-Teluk atau Pelabuhan dan Pulau-Pulau
  68. 56. Gunung-Gunung dan Tanah-Tanah
  69. 57. Sungai-Sungai dan Danau-Danau
  70. 58. Hawa, Hasil, Pencaharian dan Isi Negeri
  71. 59. Residenan Afdeeling Barat
  72. 60. Residenan Afdeeling Selatan dan Timur
  73. PULAU CELEBES
  74. 61. Rupa, Luas, Isi Negeri, Batas-Batas dan Bagian
  75. 62. Teluk-Teluk atau Pelabuhan, Tanjung-Tanjung, dan Pulau-Pulau
  76. 63. Gunung-Gunung, Sungai-Sungai dan Danau-Danau
  77. 64. Hawa, Hasil, Isi Negeri dan Pencaharian
  78. 65. Gubermen Celebes dan Daerah Takluknya
  79. 66. Residenan Menado
  80. PULAU-PULAU MALUKU DENGAN PULAU-PULAU PAPUA DAN TANAH NIEUW-GUINEA
  81. 67. Residenan Ambon
  82. 68. Khasiat Tanah, Hasil dan Isi Negeri
  83. 69. Residenan Ternate
  84. 70. Pulau-pulau Sunda Kecil
  85. 71. Residenan Bali dan Lombok
  86. 72. Residenan Timor
  87. NOTE
  88. Orang Jawa
  89. UNCOPYRIGHT

DARI TANAH HINDIA BERKELILING BUMI

KITAB PENGAJARAN ILMU BUMI BAGI SEKOLAH ANAK NEGERI DI HINDIA NEDERLAND

W. VAN GELDER


KOLOFON

DARI TANAH HINDIA BERKELILING BUMI

KITAB PENGAJARAN ILMU BUMI BAGI SEKOLAH ANAK NEGERI DI HINDIA NEDERLAND

oleh

W. VAN GELDER

BAHAGIAN YANG PERTAMA — HINDIA NEDERLAND

CETAKAN YANG KEEMPAT

GEDRUKT BIJ J. B. WOLTERS TE GRONINGEN, 1904

Transcriber

Fitrisia Indah

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: catatannusantara.com

Ilustrasi sampul: Orang Djawa 1904, karya Unknown

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



PENDAHULUAN

Bermula maka kita pengajaran ilmu bumi Hindia Nederland ini gunanya akan dipakai dipangkat yang ketiga di sekolah anak negeri. Maka anak-anak dipangkat itu pada sangkaku telah diajari ilmu bumi residenan dan pulau yang dikediaminya.

Maka dalam kitab ini Tanah Jawa dipekatakan lebih dahulu, sebab pulau itu pulau yang terutama antara segala pulau-pulau Hindia Nederland itu; lagi pula sebab disitu tempat kedudukan Tuan Besar dan pemerintah yang tinggi-tinggi itu.

Adapun akan jalan mempergunakan kitab yang kukarangkan ini, demikianlah: Mula-mula hendaklah guru membaca suatu pelajaran dengan murid-murid sambil ia menerangkan segala hal yang tersebut didalamnya. Setelah itu murid-murid memahamkan pelajaran itu dirumahnya dengan memakai atlas. Maka pelajaran itu haruslah dapat diceritakan pada keesokan harinya, serta pandailah mereka itu hendaknya menunjukkan segala negeri, sungai, dan sebagainya di peta besar.

Maka lain dari pada itu baiklah murid-murid membuat suatu peta pulau yang sedang diperkatakan halnya. Maka pelajaran yang pertama mereka itu disuruh menggambarkan hanya barang yang diajar dalam pelajaran itu, umpamanya batas negeri, bagiannya dan lain dari pada itu. Maka pada kedua kalinya yang digambarkan yaitu teluk-teluknya, tanjung-tanjungnya, dan sebagainya. Demikianlah juga hingga tamat pelajaran pulau itu.

Maka apabila sudah habis pengajaran pulau itu, haruslah murid-murid disuruh membuat peta pulau itu dengan ingatan saja, supaya nyatalah bahwa telah dihapalkannya dengan sepertinya.

Tondano, 1892



Adapun cetakan yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat ini, sama dengan cetakan yang pertama, kecuali beberapa perubahannya dan tambahannya, misalnya dari hal pengaliran air atau irigasi dan lain-lain.

PROBOLINGGO, Februari 1894.

PROBOLINGGO, Mei 1897.

W. v. G.



's Gravenhage, Augustus 1904.


TANAH JAWA1

1

Bermula adapun telah kamu ketahui bahwa sekolah ini dan rumahmu sebagian adanya dari pada tempat atau negeri yang kita diami; maka tempat atau negeri itu yaitu bagian residenan. Maka perhimpunan beberapa residenan menjadikan pulau yang tergambar di peta Tanah Jawa itu.

2. Rupa dan Luas Tanah Jawa, Isi Negerinya, Batas-Batasnya, dan Bagiannya

Adapun Tanah Jawa itu rupanya persegi panjang. Maka apabila kamu hendak melukiskan rupa pulau itu dengan mudah, baiknya kamu buat dibatu tulismu persegi empat panjang, maka didalamnya kamu tulis peta pulau itu serong sedikit.

Tunjuklah segala mata angin serta sebutlah namanya. Maka jikalau ada bagimu kitab peta negeri-negeri (Atlas), letakkanlah peta Tanah Jawa itu sehingga setuju dengan mata angin, yaitu pihak utara di peta itu pada pihak utara yang sebenarnya dan sebagainya.

Adapun luasnya Tanah Jawa itu bersama-sama dengan pulau-pulau sekelilingnya dan pulau Madura = 2388 Mil Jerman. [1 Mil Jerman = 25 pal kurang sedikit (24.25) dan 1 pal = 320 bau]

Dapatkah kamu hitung 1 Mil Jerman itu berapa bau?

Maka orang yang menduduki pulau itu 28 ¾ juta banyaknya.

Berapa bau luas tempatnya seseorang?

Syahdan maka Tanah Jawa itu dikelilingi laut.

Tunjuklah olehmu akan laut-laut itu. Disebelah manakah laut itu sempit, sehingga patut dinamai selat? Sebutlah namanya.

Adapun Tanah Jawa itu terbagi atas 17 residenan yaitu: Banten, Betawi (Batavia), Priyangan (Preanger-Regentschappen), Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Rembang, Madiun, Kediri, Surabaya, Pasuruan, dan Besuki

Apakah ibu negerinya residenan: Banten, Priyangan, Kedu, Besuki, dan Madura? Residenan yang manakah terlingkung oleh laut dan oleh 5 residenan yang lain?

3. Dari Hal Kelilingnya, Tanjung-Tanjungnya, Teluk-Teluknya, dan Pelabuhannya Pulau Jawa Itu

Syahdan maka Tanah Jawa itu pantainya di sebelah utara rendah dan berpaya-paya, serta Pantai itu makin lama makin ke utara oleh karena lumpur, yang dihilirkan oleh air sungai dan yang terbawa ke darat oleh air laut apabila pasang.

Sungguh pun beberapa gunung tampak dari laut, akan tetapi hanya sebuah dua buah juga yang sampai ke pantai kakinya.

Gunung-gunung yang manakah itu?

Apabila kita belajar menyusur Pantai dari Selat Sunda hingga ke Selat Bali, maka tampaklah beberapa ujung tanah yang mengunjur ke laut, yaitu yang dinamai Tanjung atau Ujung.

Maka diantara dua tanjung atau ujung itu hampir senatiasa terdapat Teluk. Adapun teluk-teluk di pantai utara itu kurang dalam airnya, serta kebanyakan baik akan tempat kapal berlabuh; maka itu dinamai Pelabuhan.

Tunjuklah pada peta Tanah Jawa segala tanjung dan ujung yang disebut di bawah ini:

T. Podjok (St. Nicolaaspunt) dan T. Pontang;

T. Untng Jawa dan O. Krawang;

O. Pamanukan dan O. Dramayu

O. Tanah dan O. Losari;

O. Brebes dan O. Pamalang;

O. Bugel, O. Pangka atau O. Sidayu dan T. Cina (Pacinan).

Carilah di peta itu teluk-teluk atau pelabuhan-pelabuhan diantara dua tanjung dan ujung yang tersebut di atas.

Tunjuklah pula T. Sedano, yaitu ujung Tanah Jawa yang sebelah timur laut dan pada Pantai sebelah timur Telung Pangpang atau Teluk Belambangan dan pada jazirah yang sebelah Tenggara O. Timur dan O. Batenan atau O. Selatan.

Syahdan pantai Tanah Jawa yang sebelah Selatan pada beberapa tempat terjal dan berbatu-batu; maka teluk-teluknya kurang banyaknya dari pada di pantai utara.

Adapun teluk-teluknya itu, inilah: Teluk Grandjangan, Teluk Panggul, Teluk Pacitan, Teluk Penju, Segara Anakan, Teluk Pananjung dan Pelabuhan Ratu (Wijnkoopsbaai).

Tunjuklah sekarang pada peta Tanah Jawa itu segala residenan sepanjang pantai Selatan yang seluruh pesisirnya datar, atau yang separuh datar separuh tiada.

Syahdan maka pantai Tanah Jawa yang sebelah barat dibasahi oleh Selat Sunda.

Maka disitu terdapat juga jazirah seperti di pantai sebelah timur; maka pada jazirah itu terdapat Tanjung Cangkuang.

Dan lagi tunjuklah pada pantai barat itu:

T. Lajar (Java’s 1e punt), Selat Panaitan (Meeuwenbaai), T. Alang-alang (Java’s 2e punt), Teluk Selamat Datang (Welkomstbaai) T. Lesung (Java’s 3e punt), Teluk Merica (Peperbaai) dan T. Cikuning (Java’s 4e punt).

Adakah kamu ketahui sebabnya, maka segala teluk atau pelabuhan dan tanjung-tanjung di selat Sunda namanya Belanda yang termasyur?

4. Pulau-Pulau

Syahdan pada keliling Tanah Jawa adalah banyak pulau, ada yang jauh dari pantai dan ada yang dekat; ada yang terpencil dan ada pula yang berhimpun-himpun jadi segugus. Adapun pulau-pulau itu kebanyakan tiada dikediami orang.

Maka namanya inilah:

P. Panjang, P. P. Seribu, P. Onrust atau P. Kapal, P. P. Menjawaka tau Boompjes-Eilanden, P. P. Karimun Jawa, P. Bawean, P. Madura, P. Sapoedi dengan beberapa pulau-pulau kecil yang makmur, yaitu yang banyak orangnya, P. P. Kangean, P. Bali, Nusa Barong, P. Sempu dan Nusa Kambangan.

Yang di selat Sunda:

P. Panaitan (Prinsen-eiland), P. Krakatua, yang masyur oleh sebab gunung apinya telah meletus pada tahun 1883, P. Sanghiang atau Dwars in den weg dan P. Merak.

Maka daripada pulau itulah telah diambil orang batu karang, tatkala diperbuatnya pangkalan di Tanjung Priuk.

Diantara pulau-pulau yang tersebut itu yang manakah yang terdekat ke pantai pulau Jawa?

5. Gunung-Gunung, Tanah Tinggi, dan Tanah Rendah

Adapun telah kau ketahui bahwa Pulau Jawa pantainya yang di sebelah utara itu rendah dan datar adanya. Lain dari pada itu, maka di daratnya pun ada juga tempat-tempat yang datar.

Lihatlah pada peta Tanah Jawa yang besar atau di atlas peta no. 2

Meskipun demikian Tanah Jawa itu disebut orang tanah gunung, sebab tanah yang datar itu hanya sepertiganya. Lagi pula tiada sebuah residenan yang tanahnya datar belaka; maka barang kemana pun kita memandang pada hari cerah, tampaklah puncak gunung; ada yang dekat, ada yang jauh. Adapun gunung-gunung yang tinggi di Tanah Jawa seolah-olah berbaris dari barat ke timur. Maka gunung-gunung di residenan Priyangan menjadi baris dua, akan tetapi di antaranya adalah pula gunung kecil-kecil dan bukit-bukit. Syahdan gunung-gunung yang tinggi-tinggi di Jawa Barat berlainan keadaannya dengan gunung-gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adapun bedanya itu yaitu gunung-gunung di Jawa Barat berhubunglah satu dengan satunya, sedang gunung di Jawa Tengah dan di Jawa Timur jarang yang berhubung-hubung; kebanyakan dikelilingi tanah datar.

Lihatlah di peta Tanah Jawa gunung-gunung dan sungai-sungainya, beda antara tanah rendah dengan tanah pegunungan.

Carilah beberapa gunung-gunung yang demikian pada peta Tanah Jawa. Residenan manakah yang tanahnya hampir datar sama sekali?

Dalam beberapa residenan adalah tanah datar yang hampir di sekelilingnya dilingkung oleh gunung. Maka tanah yang demikian dinamai Tanah datar pegunungan. Maka disitu kerap kali adalah sungai mengalirkan air yang hulunya di gunung yang berkeliling. Umpamanya di tanah datar Bandung terdapat Citarum, di tanah datar Malang sungai Brantas.

Carilah pada atlasmu gunung-gunung yang tersebut di bawah ini; setelah itu tunjukkanlah gunung-gunung itu juga di peta Tanah Jawa yang besar itu.

Kawah G. Tengger dengan G. Bromo.

Di Banten: G. Karang dan G. Pulosari.

Di batas Betawi dan Priyangan: G. Salak, G. Mandalawangi, G. Gede, G. Tangkuban Perahu, G. Burangrang dan Bukit Tunggul.

Di Priyangan: G. Patuha, G. Malabar, G. Papandayan, G. Cikuray dan G. Telaga Bodas.

Di Cirebon: G. Cereme

Maka residenan Pekalongan dan Banyumas tercerai oleh gunung barisan, maka puncak-puncaknya yang tertinggi yaitu:

G. Slamat dan G. Perahu

Di residenan Kedu: G. Sumbing dan G. Sindoro; kedua gunung itu dinamai gunung kedua bersaudara, sebab tingginya dan rupanya hampir sama; pada pihak timur:

G. Ungaran, G. Merbabu, dan G. Merapi.

Di residenan Semarang: G. Muria, yang berasing duduknya di tengah-tengah tanah datar.

Di batas Surakarta dan Madiun: G. Lawu

Di batas Pasuruan pada pihak barat: G. Kawi, G. Kelut dan pegunungan Arjuno; di Tengah residen itu: Gunung Semeru, yaitu gunung yang tertinggi di Tanah Jawa (11600 kaki), tersambung dengan pegunungan Tengger. Maka kawah gunung Tengger terlampau besar, maka dinamai Dasar. Di tengah kawahnya ada lagi gunung api, yaitu G. Bromo.

Maka di Probolinggo tiada jauh dari batas kaki Besuki: G. Lamongan.

Di batas Besuki pada pihak barat: pegunungan Yang dengan puncaknya yaitu G. Argopuro; pada pihak timur: G. Raung.

Adapun segala gunung yang tersebut itu sekaliannya gunung api; ada yang lagi berapi, dan ada yang sudah padam apinya.

Maka yang berapi berlubang pada puncaknya atau pada pinggangnya; maka lubang itu dinamai Kawah. Maka dari pada kawah itu keluarlah asap dan nyala api dan abu dan batu-batu dan sebagainya, bila gunung itu meletus. Kerap kali gunung api yang lagi berapi itu mendatangkan celaka dan kerugian atas manusia dan terkadang seluruh tanah dan kampung-kampung sekelilingnya habis binasa.

Maka gunung-gunung yang sudah padam apinya, kebanyakan masih kelihatan kawahnya, tetapi ada juga yang sudah bertumbuh-tumbuhan belaka.

Di antara gunung-gunung api yang lagi berapi yang termasyur inilah:

G. Gede, G. Tangkuban Perahu, G. Papandayan, G. Guntur, G. Merapi, G. Kelut, G. Bromo, yaitu di kawah G. Tengger, G. Lamongan, dan G. Raung.

Maka pada tahun Masehi 1883, pada masa letusnya gunung-gunung api di pulau Krakatau, maka binasalah negeri-negeri dan dusun-dusun di pantai selatan selat Sunda, oleh sebab laut pasang besar sekali dan oleh lumpur dan abu yang keluardari gunung api Krakatau itu. Maka tatkala itu 34,000 orang yang mati tenggelam dan terbenam lumpur dan abu itu. Dan lagi tahun 1885, pada masa letusnya G. Semeru, maka kebun kopi yang ada dipendakian gunung itu binasa, serta banyak orang mati.

Lihatlah di peta Tanah Jawa atlasmu gunung manakah tingginya 2,000 dan 3,000 meter dan lebih dari pada itu.

6. Sungai-Sungai

Maka tadi sudah dikatakan, bahwa Tanah Jawa itu dikelilingi laut dan tanahnya bergunung-gunung; maka antara gunung-gunung itu banyak yang berhutan lebat-lebat. Oleh karena itu, maka di Tanah Jawa banyak hujan. Maka itulah juga sebabnya, maka di sana banyaklah mata air dan sungai.

Adapun sungai-sungai itu kurang berguna bagi pelayaran, sebab airnya terlalu deras, terlebih pada musim hujan. Adapun pada masa itu sungai-sungai itu kebanyakan besar airnya, hingga ampuh atau kebanjiran tanah di sebelah menyebelah sungai itu dan kerap kali mendatangkan banyak kerugian atas manusia.

Akan tetai bagi pengusahaan tanah, meski kecil sekalipun, sungai itu berguna besar.

Apabila hendak dihilirkan air sungai itu ke sawah, maka dibuat orang parit atau selokan. Maka di sawah air itu dialirkan orang pula kemana-mana. Kemudian maka air itu pun mengalir pula ke sungai.

Adapun air sungai itu melainkan di tempat tinggi jernih adanya; apabila sampai ke tanah rendah, maka warnanya menjadi merah tua, kuning atau kelabu, oleh berjenis-jenis tanah yang dihilirkannya. Maka tanah itulah yang menjadi kukup dan beting di laut, maka sebab itulah darat itu makin bertambah-tambah.

Syahdan di Tanah Jawa tiada ada sungai yang besar-besar. Adapun sebabnya itu, sebab Tanah Jawa itu panjang serta bergunung-gunung pada sama tengahnya.

Maka barang dimana tempat yang terlebar, maka di sanalah terdapat sungai yang terpanjang; akan tetapi panjangnya sungai itu dan dalamnya pun kurang banyak dari pada panjangnya dan dalamnya sungai-sungai di P. Perca (Sumatera) dan di P. Kalimantan (Borneo).

Bahwa sungai yang besar di Tanah Jawa yaitu Kali Solo atau Bengawan. Maka sungai itulah saja yang melalui empat residenan. Adapun hulu sungai itu di residenan Surakarta pada pihak selatan; maka anak-anaknya pun banyak, yang turun dari G. Merapi dan dari G. Lawu. Mula-mula jalannya ke utara melalui Surakarta, kemudian melengkung ke timur melalui Ngawi; maka di situlah menjadi satu dengan sungai Madiun; maka dari situ jalannya berlengkak-lengkok selalu tujuannya ke timur, hingga itu bermuara dua di selat Madura. Sungai itu dapat dijalani dengan perahu dari kualanya hingga sampai Padangan di residenan Rembang.

Carilah pada atlasmu sungais-sungai yang tersebut di bawah ini:

Yang mengalir ke utara:

Ci Ujung di Banteng.

Ci Kande atau Ci Durian di batas Banten dan Betawi.

Ci Sedane atau Ci Liwung di Betawi.

Ci Tarum dan Ci Manuk, yaitu sungai-sungai yang terbesar di Jawa Barat. Keduanya itu hulunya berdekatan, akan tetapi makin jauh makin bertambah jaraknya sungai itu.

Maka Ci Tarum melalui tanah datar Bandung, maka jeramnya sungai itu pun banyak. Apabila keluar dari tanah datar Bandung itu, maka bertemulah dengan Ci Sokan; maka jalannya terus ke utara hingga bermuara ke laut di ujung Krawang; maka sungai itu dapat dijalani dengan perahu dari Cikao hingga ke kualanya.

Adapun Ci Manuk itu melalui tanah datar Garut lalu menjadi satu dengan Ci Lutung; maka sungai itu dari pada tempat pertemuannya itu hingga sampai ke kualanya yaitu di dekat ujung Dramayu, dapat dijalani dengan perahu.

Ci Ponagara dibatas Betawi dan Cirebon

Kali Brantas, dekat Malang.

Ci Losari atau Ci Sanggarung di Cirebon dan di batasnya Pekalongan dan Cirebon.

Kali Pamali dan Kali Comal di Pekalongan

Kali Bodri dan Kali Tuntang atau Kali Demak dan Kali Juwana dan Kali Tanggul Angin di Semarang.

Yang mengalir ke selat Madura:

Kali Solo, yang sudah tersebut di atas.

Di pulau Madura: Sungai Balega, Sungai Sampang, dan Sarokka.

Kali Brantas, hulunya di Residenan Surabaya, jalannya melalui pegunungan Arjuno; maka dekat Mojokerto sungai itu bercabang dua, yang sebatang namanya Kali Surabaya dan yang sebatang Kali Porong; sungai itu dapat dijalani perahu dari ibu negerinya residenan Kediri hingga sampai kekualanya.

Pada musim kemarau air kali Brantas itu lebih besar dan lebih mudah dijalani perahu-perahu dari pada Bengawan Solo2 sebab pada masa itu dijajahan kali Brantas lebih banyak hujan daripada Bengawan Solo itu.

Tambahan lagi pada musim kemarau itupun anak-anak sungai kali Brantas yang hulunya di pendakian G. Semeru dan di G. Kelut masih megandung atau menyimpan air banyak juga; sebab tanah di pendakian kedua buah gunung itu berpasir. Dengan hal yang demikian itu, maka air hujan turun disitu, tidak ada mengalir kemana-mana lagi, hanya terus saja masuk ke dalam tanah, yang tiada boleh diteruskan lagi maka menjadilah disitu beberapa mata air dan pada musim kemarau airnya mengalir ke anak-anak sungai kali Brantas tadi.

Kali Panarukan atau Kali Sampeyan di Besuki.

Yang mengalir ke laut Hindia:

Kali Mayang dan Kali Pugar atau Bedadung di Besuki.

Kali Bondojudo di Pasuruan dan di batas residenan ini dan Besuki.

Kali Opak di Yogykarta.

Kali Progo dengan cabangnya Kali Elo di Kedu dan di Yogyakarta.

Kali Bogowonto di Kedu

Kali Serayu di Kedu dan Banyumas

Ci Tanduy dibatas Banyumas dan Priyangan; maka sungai itu dapat dijalani dengan perahu dari Bandar hingga sampai kekualanya.

Ci Bumi dan Ci Mandiri di Priyangan.

Yang mengalir ke selat Sunda:

Ci Liman di Banten.

Carilah pada atlasmu anak-anak sungai Kali Solo dan Kali Brantas

7. Pengaliran Air atau Irigasi (Irrigatie)

Bermula yang disebut orang pengaliran air atau irigasi yaitu pekerjaan mengalirkan air ke tanah perusahaan, membagi air itu ke sawah dan ladang-ladang, lagi pula membuang air yang telah dipergunakan itu dengan sepatutnya.

Maka pengaliran air itu tiada berguna melainkan akan tanaman padi saja, akan tetapi berfaedah juga akan tanaman-tanaman (palawija) yang ditanam sesudahnya mengetam padi, lagi pula perlu juga akan tanaman tebu.

Adapun pekerjaan pengaliran air itu seperti di bawah ini:

Dimana tempat dalam sungai, yang airnya boleh dialirkan, maka kerap kali dibuat orang sebuah bendungan. Oleh karena itu, maka naiklah muka air itu lebih tinggi. Demikianlah dengan mudah orang dapat mengalirkan air sungai itu ke sawah dan ladang-ladang.

Maka air yang mengalir dari pada sungai itu melalui sepanjang parit (kanal), yang terbagi atas beberapa selokan, maka selokan itu bercabang-cabang pula. Maka di dalam parit dan cabang-cabangnya itu, dibuat orang lagi beberapa saluran dan pintu air. Dengan hal yang demikian itu, maka adalah air yang mengalir sepanjang saluran yang di bawah jalan-jalan, dan ada juga yang melintang di atas selokan atau saluran yang lain. Demikianlah sehingga air itu boleh menggenangi tanah-tanah yang lebih jauh letaknya. Adapun sisa air yang sudah dipergunakan itu berkumpul-kumpul pula di dalam beberapa selokan, yang mengalir ke parit-parit pembuangan.

Maka adalah lagi parit pembuangan, yang gunanya apabila air dalam sungai atau selokan itupun banjir adanya.

Adapun banyaknya air akan menggenangi sebuah sawah cukup 1 ½ liter dalam sesekon; maka akan tanaman palawija dan tebu cukuplah 1/3 atau ¼ liter saja dalam sesekon.

Syahdan guna pengaliran air di tanah Jawa itu tiada melainkan menggenangi tanam-tanaman saja, akan tetapi berguna juga akan menegah bahaya air bah atau banjir.

Adapun akan menjelaskan maksud perkara kedua perkara itu, harus berjuta rupiahlah biayanya. Maka belanja mengerjakan pengaliran air di Demak, yang dikerjakan sesudahnya afdeeling3 itu kedatangan bala kelaparan pada tahun 1873, hampir 8 juta rupiah banyaknya. Adapun dalam pekerjaan itu, orang membuat sebuah bendungan batu di Kali Serangm dan lagi beberapa parit dan selokan, supaya menengahkan bahaya banjir, lagi pula dapat menggenangi sawah 24000 bau banyaknya.

Kali Brantas, sebelum hilir Mojokerto.

Maka pekerjaan pengaliran air yang terbesar, itulah Bengawan Solo, yang mulai dikerjakan tahun 1894. Adapun dalam pekerjaan itu hendak diadakan sebuah bendungan batu akan menaikkan air 8 meter tingginya, letaknya tiada jauh arah ke hilir sedikit dari Ngawi; dan lagi dari tempat itu hendak digali sabatang parit, yang befaedah juga akan dijalani perahu-perahu. Lagi pula dari kewedanan Weinginanom Bengawan Solo itu hendak dibelokkan ke utara sehingga kemudiannya bermuara di laut Jawa. Maka itupun gunanya akan memelihara jalan kapal-kapal di selat Madura dan juga akan membuang air dari paya-paya di afdeeling Gresik, Sidayu, dan Lamongan. Adapun pekerjaan itu pada akhirnya dapat menggenangi sawah-sawah keresideanan Rembang dan Surabaya kurang lebih 20,000 bau luasnya.

Maka dihentikan pada tahun 1898 dari sebab terlalu besar biayanya.

Syahdan pekerjaan pengaliran air kali Porong di Lengkong masuk bilangan terutama juga di tanah Jawa ini. Maka Lengkong itu letaknya ke arah hilir sedikit dari tempat di mana kali Brantas bercabang menjadi kali Porong dan kali Surabaya4. Maka perbuatan di Lengkong itu menjadi pertambatan dengan perbuatan di Melirip, hulu kali Surabaya yang jauhnya kira-kira hanya perjalanan 5 menit saja arah ke udik dari Lengkong itu.

Bendungan di Lengkong.

Adapun perbuatan di Lengkong itu, uaitu sebuah bendungan batu dengan 10 pintu airnya, yang disebut oleh orang disitu: lak songo. Maka gunanya perbuatan itu, apabila air kali Brantas terlalu besar, maka dibukalah segala pintu itu, sehingga air yang kebanyakan terus mengalir ke kali Porong. Pada musim kemarau, maka ditutuplah pintu itu semuanya, sehingga kali Porong itu mati, sedang air kali Brantas itu boleh dibagikan ke kali Surabaya dan kepengaliran air di afdeeling Sidoarjo., akan menggenangi sawah hampir 50,000 bau banyaknya.

Maka perbuatan di Melirip itu demikianlah:

Sebagian kali Surabaya di Melirip itu kira-kira panjangnya 15 meter, tebingnya kanan dan kiri di dinding batu yang tebalnya 2 metar; dan di tengah-tengah kali itu dibuat orang seleret dinding batu lagi, yang sama tebalnya dan panjangnya dan lagi sama jalannya dengan dinding pada tebing tasi; menjadi lebar kali di tempat itu seolah-olah terbagi atas dua bagian.

Bagian yang sebelah timur gunanya akan jalan air saja, yang senantiasa mengalir amat derasnya dari kali Brantas ke kali Surabaya itu.

Adapun bagian yang sebelha barat gunannya jalan perahu-perahu. Maka bagian ini seolah-olah kolam rupanya, dan pada kelilingnya berdinding batu. Maka dinding sebelah udik dan hilir masing-masing berpintu dengan disertai sebuah saluran air maka gunanya pintu-pintu dan saluran air itu, supaya air dalam kolam itu boleh disamakan tingginya dengan muka air kali di sebelah mudik atau hilirnya; demikian itupun akan memudahkan perahu-perahu dari hulu atau dari hilir masuk keluar di dalam kolam itu.

Syahdan isi negeri tanah Jawa boleh menggunakan air dari pengaliran air itupun dengan sesukanya, serta tiada usah membayar satu apapun. Maka di tanah Eropa yang sebelah selatan, tiada demikianlah halnya.

Adapun sesungguhnya sudah banyaklah yang yang dikeluarkan akan biaya mengerjakan perbuatan yang tersebut itu, akan terapi pekerjaan itupun tiada sia-sia, karena dalam beberapa tempat hasil sawh lipat dua kali dari pada yang sudah. Lagi pula adalah beberapa tanah, yang dahulu tiada sekali-kali boleh diusahakan, maka sekarang banyaklah yang sudah menjadi sawah dan ladang belaka. Dengan hal yang demikian itupun, maka pajak sawah makin bertambah-tambah banyak juga.

Lain dari pada yang tersebut di atas itu, maka adalah beberapa pengaliran air lain lagi, yang masih dikerjakan Ingenieur Waterstaat.

8. Danau-Danau dan Paya-Paya

Apabila sebatang sungai telah sampai kepada suatu Lembah, maka airnya baru dapat mengalir terus, apabila sudah penuh Lembah itu. Adapun Lembah yang penuh air itu, kalau luas serta dalam dinamai Danau, sedang yang tohor itu atau kadang-kadang kering airnya, dinamai orang Paya atau Rawa.

Terkadang-kadang di kawah gunung api yang sudah padam apunya, terdapat danau; aka airnya itu asalnya air hujan yang turun dari pada segenap tepinya, yang bertumbuh-tumbuhan belaka. Akan tetapi danau yang begitu, kebanyakan kecil saja; maka yang terbesar pun luasnya tiada lebih dari satu pal empat persegi, seperti danau Grati atau Kelindungan di Pasuruan dan Telaga Patenggang di Priyangan.

Syahdan di gunung-gunung dan di dalam hutan adalah juga terdapat paya atau rawa; akan tetapi di Tanah Jawa yang terbanyak di pantai sebelah selatan.

Adapun paya-paya atau rawa-rawa yang patutu disebut namanya inilah:

Rawa Dano di Banten; Rawa Wawar di Bagelen; Rawa Besar, yaitu hulunya Kali Juana; Rawa Pening di Semarang pada pihak selatan G. Ungaran; dan Rawa Besek di Besuki.

9. Hawa atau Iklim

Adapun Tanah Jawa itu duduknya dibagian bumi yang hawanya panas.

Akan tetapi di tempat-tempat yang tinggi, yaitu di gunung, haw aitu kurang panas dari pada di tempat-tempat yang rendah; makin tinggi orang naik, makin sejuklah hawanya.

Adapun iklimnya Tanah Jawa itu boleh disebut baik adanya; tandanya isi negerinya bertambah-tambah saja. Dan orang putih, meskipun asalnya dari bagian bumi yang hawanya sedang, bolehlah ia diam di Tanah Jawa itu dengan kesenangannya, istimewa pula kalau kadang-kadang ia sempat diam beberapa lamanya di tempat tinggi, yaitu yang hawanya sejuk. Maka adalah hawa di situ terlalu baik bagi orang yang sakit demam dan sakit limpa dan sebagainya, yang banyak terdapat di segenap pesisir itu.

Dan lagi ketahui olehmu, sungguhpun hawanya Tanah Jawa itu panas, akan tetapi oleh karena angin selalu bertiup dan hujan pun banyak turun di situ, maka kuranglah panasnya hawa itu.

Maka adalah di pulau itu dari bulan April sehingga bulan Oktober bertiup angin tenggara (musim kemarau); dari bulan Oktober sehingga bulan April bertiup angin barat laut, yaitu angin yang membawa banyak hujan (musim hujan). Dan lagi di pesisir pulau itu adalah angin laut dan angin darat berganti-ganti; maka angin laut itu bertiup pada siang hari dan angin darat itu bertiup pada malam hari.

10. Hasil Tambang

Syahdan di Tanah Jawa itu adalah terlalu sedikit didapati orang logam.

Adapun besi, tembaga, dan sebagainya yang dipakai orang di situ asalnya dari tanah asing. Akan tetapi adalah didapati orang di Tanah Jawa itu beberapa barang tambang yang berguna kepada manusia, umpamanya: tanah liat, yang akan diperbuat batu tembok, genting, dan ubin, yaitu apabila telah bercampur dengan sejenis tanah yang lain; batu kapur dan bunga karang dan kuli kerang yang akan diperbuat kapur; batu pualam atau marmer, yang didapati orang di Pacitan; sejenis batu karang yang dipergunakan orang membuat pangkalan dan sebagainya.

Dan adalah pula barang tambang yang dapat dibakar umpamanya: belerang (kebanyakan didapati orang di kawah gunung api) dan minyak tanah seperti di Wonokromo.

Maka garam diperbuat orang di pulau Madura dari pada air laut, dan sendawa didapati orang di bukit kapur pada pihak selatan Gresi.

Lain dair pada yang tersebut itu terdapat lagi mata air pada beberapa tempat, ada yang sejuk, ada yang panas airnya, serta bercampur dengan barang tambang; maka air itu menjadi obat bagi orang yang sakit kudis. Adapun mata air panas yang termasyir tempatnya dekat Pelantungan diresidenan Semarang.

11. Tumbuh-Tumbuhan

Bermula maka Tanah Jawa itu Makmur; adapun sebabnya itu, sebab tanah baik danair pun banyak dan hawanya panas. Maka oleh karena terlalu banyak tumbuh-tumbuhannya berjenis-jenis maka masyurlah namanya. Adapun hutan di tanah Jawa, baik yang ada di tanah rendah, baik yang ada di pendakian gunung-gunung, kebanyakan telah dibuka akan dijadikan tanah perusahaan. Maka adalah tiga residenan di Jawa Tengah, yang sedikit pun tiada kedapatan hutan lagi, jangankan hutan lebat, hutan jati pun tiada. Maka Jawa Barat masih banyaklah hutan yang luas serta lebat, di mana banyak pohon-pohonan yang besar-besar, misalnya: pohon jati, pohon rasamala, dan beberapa jenis pohon yang lain, yang kayunya baik akan diperbuat rumah, perkakas rumah dan sebagainya.

Maka kayu jati yang terutama dan terbanyak kedapatan di residenan Rembang; dan pada tempat itu senantiasa ditanami pohon jati yang teratur dengan sepatutnya.

Pada segenap tempat di pesisir dan di kampung-kampung adalah pohon nyiur, pohon enau, atau aren, buluh, dan berjenis-jenis pohon buah-buahan, yang sedap rasa buahnya.

Syahdan ada pula beberapa hasil tanah yang ditanamkan orang, seperti: padi, yaitu makanan anak negeri yang terutama, jagung, berjenis-jenis ubi dan beberapa tanaman yang menghasilkan cat.

Maka hasil tanam-tanaman yang dibawa orang ke tanah Eropa inilah terutama:

Kawa (kopi), teh, tebu, padi, kina, tembakau, anggrek (vanielje), lada, halia, dan sebagainya.

Kahwa.

Teh.

Halia.

Lada.

Buluh di tepi kali Brantas di Malang.

12. Binatang

Bermula, sudahlah kita ketahui, bahwa Tanah Jawa itu terlampau banyak tumbuh-tumbuhannya. Adapun makanan binatang yang memakan tumbuh-tumbuhan saja tidak kurang. Sungguhpun Tanah Jawa itu makmur (banyak isi negerinya), akan tetapi binatang yang buas banyak juga, belum habis dibunuh orang.

Adapun binatang yang buas seperti beberapa jenis harimau, anjing hutan (adjag), musang dan beberapa jenis binatang yang kecil-kecil, mendatangkan bahaya dan kerugian atas manusia, oleh sebab itu kadang-kadang ia menerkam serta membunuh orang dan binatang yang jinak.

Maka diantara Binatang bersusu yang terdapat di Tanah Jawa badak yang terbesar. Maka Binatang itu diam di hutan rimba dan di gunung yang tinggi-tinggi; maka tempat kediamannya Jawa Barat. Lain dari pada itu ada pula Binatang yang diam di hutan yaitu: babi hutan, beberapa jenis kera, rusa, kijang, dan sebagainya.

Adapun binatang yang terlalu amat berguna kepada isi negeri yaitu: kerbau, kuda, lembu, biri-bi, kambing, ayam, itik dan angsa. Lagi berjenis-jenis ikan, yaitu ikan laut (bandeng, kakap, kembung) dan ikan yang hidup di dalam sungai atau telaga (ikan mas, gurami), yang dimakan orang tiap-tiap hari, baik basah baik sudah dikeringkan.

Bermula diantara binatang yang melata adalah yang memberi bahaya kepada manusia, umpamanya beberapa jenis ular dan buaya; akan tetapi penyu berguna sekali, karena ada yang dagingnya dan telurnya dimakan orang dan kulitnya diperbuat berbagai-bagai perkakas.

Hatta maka diantara binatang yang tiada bertulang itu adalah beberapa yang menganggu manusia, umpananya nyamuk dan anai-anai, dan ada banyak yang berguna umpamanya lebah, lintah, udang, dan sebagainya.

Bagian tanah Jawa yang manakah kerbaunya banyak dan lembunya sedikit?

Cikar kasar di Jawa Timur.

13. Isi Negeri dan Bahasa

Adapun tanah Jawa itu di bawah perintah orang Belanda. Maka mereka itu telah diam di pulau itu hampir tiga ratus tahun lamanya. Maka datangnya dari bagian benua Eropa, yang hawanya sedang. Maka sebab itulah pencahariannya dan pekerjaannya dan adatnya berlainan sekali dengan orang yang berasal dari Tanah Jawa itu.

Orang Jawa.

Adapun orang isi negeri Tanah Jawa itu termasuk bangsa orang Melayu, Maka mereka itu dibedakan atas orang Jawa, orang Sunda, dan orang Madura, yaitu menurut bahasanya, bangunnya dan adatnya masing-masing. Maka orang Jawa itu mendiami Jawa Tengah dan sebagian dari Jawa Timur, orang Sunda diam di Jawa Barat dan orang Madura di pulau Madura dan sebagian dari beberapa residenan Jawa Timur. Adapun bahasa orang yang diam di residenan Betawi sebelah utara, yaitu bahasa Melayu.

Sungguhpun orang Jawa itu sebagaimana dengan orang melayu, akan tetapi pada zaman dahulu kala tercampur dengan orang Hindu; dari sebab itu tentang rumahnya, jalan kehidupannya dan adatnya berlainan juga ia dengan orang Melayu.

Syahdan di Tanah Jawa itu, lain dari pada orang putih, ada pula orang Cina, orang Arab dan orang di bawah angin yang lain. Maka mereka itu pun berbeda sekali dengan anak negeri, tentang roman mukanya dan pakaiannya dan adatnya.

Apakah bedanya itu?

Maka telah tersebug dalam pelajaran yang kedua, bahwa Tanah Jawa itu pada mulai tahun 1901 terbagi atas 16 residenan, dengan pulau Masura jadi 16 residenan, dan isi negerinya ada 28 ¾ banyaknya, maka isi negeri residenan Surabaya saja lebih dari 2 juta banyaknya.

Lihatlah di peta No. 2 di atlasmu kerapnya orang pada tiap-tiap residenan.

Maka teranglah disitu, bahwa Kedu teramat kerap, dan Besuki dan Banten jarang orangnya.

Pengantin.

Tukang batik.

Maka menurut nama negeri masing-masing bangsa (dikecualikan bala tentara, yaitu tiga puluh ribu orang), di Tanah Jawa adalah:

Orang putih 62,000

Orang Cina 277,000

Orang Arab 18,000

Maka anak negeri, yang 28 ½ juta banyaknya itu, menurut bahasanya dibagi demikian:

Orang Jawa 19 ½ juta

Orang Sunda 5 ½ juta

Orang Madura 3 ½ juta

Lihatlah pertunjukan bahasa-bahasa di peta no. 2 di atlas.

14. Pencaharian

Syahdan adapun setengah orang Belanda dan orang putih yang lain, yang diam di pulau Jawa dan di pulau lain-lain di Hindia Nederland ini, jadi pegawai (ambtenarr); maka yang kebanyakan pekerjaannya berniaga, mempunyai pabrik atau menanamkan kahwa, teh tebu, tembakau, dan kina.

Adapun orang Cina, orang Arab dan orang di bawah angin yang lain, kebanyakan berniaga atau menjadi tukang-tukang.

Maka pencaharian anak negari yang terutama, yaitu memperusahakan tanah: bertanam padi di sawah dan bertanam jagung dan beberapa tanam-tanaman yang lain di ladang. Ada pula yang berjual beli di pasar atau berkedai, ada pula yang menagkap ikan, berlayar dan memelihara binatang.

Padi.

Maka adalah pula anak negeri yang menjadi tukang-tukang, seperti tukang tenun, tukang batik, pandai emas, pandai besi, tukang kayu, dan sebagainya. Tiada dapat dikatakan pekerjaan segala tukang-tukang itu. Maka orang dusun itu perkakas rumahnya terlalu sedikit dan tiadalah banyak hajatnya. Sungguhpun demikia, banyaklah barang-barang yang dipakainya dibawa orang dari negeri lain, misalnya: kain-kain, pinggan mangkuk, kayu api, barang-barang dari pada logam dan sebagainya.

Adapun orang yang pencahariannya menangkap ikan banyak juga, akan tetapi banyak lagi ikan asin dibawa orang dari seberang.

Adapun orang yang menjadi kelasi atau matros kebanyakan orang Madura. Adapun kelasinya kapan Belanda dan kapal Cina di Hindia Nederland ini, kebanyakan anak negeri yang telah masyur pandainya dan beraninya.

Hal pemeliharaan binatang tiadalah diusahakan oleh anak negeri dengan sepatutnya.

Hanya di residenan Surakarta, Surabaya dan Madura ada banyak juga orang yang memperhatikan pencaharian itu. Meskipun kuda dan kerbau terlalu amat dikasihnya, tiadalah ia mau menyusahkan dirinya akan mendapat keuntungan dari pada pemeliharaan binatang. Maka tiap-tiap tahun adalah banyak kuda dibawa orang dari pada pulau-pulai lain di Tanah Jawa.

15. Jalan-Jalan

Adapun jalan-jalan di Tanah Jawa selalu bertambah-tambah banyaknya. Segala tempat atau negeri yang ramai dan makmur sudah terhubung oleh jalan yang baik. Dan diantara negeri yang kurang ramai adalah juga jalan, yang dapat dijalani dengan kereta atau kahar.

Maka jalan-jalan yang pertama inilah:

  1. Jalan raya atau jalan pos yang dibuka oleh Tuan Besar Gubernur Jendral Daendels. Adapu jalan itu lebar adanya. Maka jalan itu dari Anyar terus sampai ke Banyuwangi melalui negeri Betwai, Bandung, dan Cirebon, lalu menyusur pantai utara dan pantai timur.
  2. Jalan raja pada pihak Selatan. Jalan itu pangkalnya di Surabaya, ujungnya di Telacap; jalan itu melalui segala negeri Jawa Tengah yang pada pihak selatan.

Adapun jalan pos dari Anyar ke Banyuwangi itu, diantara Bogor dan Cianjur melalui puncak gunung Megamendung, yang tingginya 4,700 kaki di atas muka air laut; oleh sebab itu dibuat orang pula satu jalan yang kurang mendakinya atau tunggangnya; akan tetapi jalan itu lebih panjang. Adapun jalan itu melewati kaki G. Gede sebelah selatan, melalui Sukabumi, terus ke Cianjur.

Lain dari pada jalan-jalan yang tersebut itu, maka di pulau Jawa ada pula jalan kereta api besar dan jalan kereta api kecil (tram).

Adapun jalan kereta api yang pertama dibuka (pada tahun 1862), yaitu jalan dari Semarang ke Yogyakarta; maka jalan itu melalui negeri Surakarta, ada lagi simpangnya dari Kedong Jati ke Willem I, dan ada pula jalan kereta api dari Betawi ke Bogor. Maka jalan-jalan itu yang tersebut milik satu kongsi juga.

Syahdan semenjak tahun 1877 oleh Gubermen telah dibuka jalan-jalan kereta api yang tersebut di bawah ini:

Dari Surabaya melalui Sidoarjo atau Tarik dan Jawa Tengah terus ke Jawa Barat; maka di Bogor terhubung dengan jalan sepur atau jalan kereta api dari Bogor ke Betawi. Adapun perjalanan dari Surabaya ke Betawi itu disampaikan dalam dua hari. Jikalau pada pagi-pagi hari baik berangkat dari Surabaya, baik dari Betawi, maka pada petang harinya kira-kira jam pukul 6 sampailah ke Maos, yang letaknya arah ke timur laut dan Telacap. Maka dari Maos ke Pelabuhan Telacap itu adalah jalan simpangnya juga. Maka jalan sepur dari Surabaya ke Tarik, gunanya akan memendekkan perjalanan dari Surabaya dan ke Betawi itu.

Di Sidoarjo adalah jalan sepur simpangan ke Panarukan, melalui Bangil, Probolinggo, Klakah, Jember, Kalisat, dan Bondowoso. Dari Klakah adalah simpangannya lagi ke Pasirian, yaitu satu tempat, yang pada kelilingnya ada banyak persil kopi.

Maka jalan sepur dari Kalisat ke Banyuwangi itu baru dibuka.

Dari Bangil adalah jalan sepur pula, yang mengelilingi G. Kawi, G. Kelut dan pegunungan Arjuno, serta melaui Malang, Blitar, Kediri sehingga ke Kertosono; maka di sini terhbung lagi dengan jalan sepur dari Surabaya ke Bogor itu.

Maka dari jalan sepur yang pertama tersebut adalah jalan simpangan lagi yang belum disebutkan, yaitu:

dari halte Cibat uke Garut dalam residenan Priyangan.

dari Kutoarjo ke Purworejo, yaitu bekas ibu negeri residenan Bagelen.

dari Betawi ke Tangerang dan dari Betawi ke Anjar.

Maka Betawi dengan pelabuhan Priuk telah terhubung dengan jalan sepur juga.

Hatta maka dari Betawi ke Purwakarta adalah pula jalan kereta api, yang akan diteruskan sampai ke Cipadalarang. Maka disitulah terhubung lagi dengan jalan sepur Betawi-Bandung.

Bermula jalan kereta api kecil (tram) di pulai Jawa pada masa ini yang sudah dibuka, yaitu:

  1. Dari Betawi ke Meester-Cornelis
  2. Dari Semarang ke Lasem dengan simpangannya dari Kudus ke Jepara, dari Juana ke Tayu, dan dari Demak ke Blora melalui Purwodadi; dari Purwodadi ada simpangannya lagi ke Gundih dan dari Wirosari ke Kradenan.
  3. Dari Mojokerto ke Ngoro
  4. Dari Surabaya ke Krian
  5. Dari Yogyakarta ke Brosot dan ke Magelang
  6. Dari Gundih ke Surabaya
  7. Dari Mojokerto ke Bangil
  8. Dari Surakarta ke Boyolali
  9. Dari Maos ke Banjarnegara
  10. Dari Semarang ke Cirebon, dengan jalan simpangannya dari Tegal ke Balapulang
  11. Dari Kediri ke Jombang dengan jalan simpangannya
  12. Dari Malang ke Dampit dengan jalan simpangannya
  13. Dari Probolinggo ke Paiton
  14. Dari Kamal ke Kalianget di pulau Madura
  15. Dari Babat ke Jombang dan
  16. Dari Pasuruan ke Sengon dengan jalan simpangnya

Carilah pada peta Tanah Jawa di atlas tempat-tempat atau negeri-negeri yang terutama, yang duduknya di tepi jalan pos dan jalan kereta api kecil yang tersebut di atas itu.

Maka diantara jembatan-jembatan kereta api beberapa yang patut disebutkan, umpamanya jembatan Ci Tarum dekat Rajamandala, tingginya 60 ; jembatan Ci Sokan, jembatan sungai Serayu dekat kualanya, panjangnya 280 M dan tingginya lima; jembatan sungai Bogowonto pada pihak selatan Purworejo; jembatan sungai Progo dekat Sentolo; jembatan sungai Solo pada pihak timur Surakarta, panjangnya 272 M; jembatan sungai Brantas dekat Kertosono dan lain-lain. Maka jembatan sungai kereta api yang melintangi sungai Serayu dan sungai Bogowonto adalah jalan orang boleh lalu berjalan kaki. Maka diantara Cianjur dan Sukabumi dan pada pihak barat Gombong adalah bukit yang ditembus, di dalamnya tempat kereta api lalu (tunnel), maka panjangnya masing-masing 600 M.

Syahdanm aka segala tempat-tempat atau negeri-negeri yang ramai di Tanah Jawa itu sudah terhubung oleh tali kawat. Maka dari Betawi ke Singapura, dari Anjarlor ke Teluk Betung dan dari Banyuwangi ke Port Darwin (Australie). Dari Surabaya ke Mangkasar dan ke Bankarmasin adalah tali kawat yang direntang di dalam laut.

16. Pemerintahan

Adapun pulau Jawa dan seluruh Tanah Hindia Nederland ini diperintahkan oleh Tuan Besar Gubernur Jenderal atas nama Baginda Maharaja Belanda. Maka tentang beberapa perkara, pemerintahan negeri dan sebagainya, Tuan Besar bermusyawarat dengan Raad van Indie. Maka Raad van Indiee itu suatu majelis lima orang, yaitu ambtenaar yang terbesar di Hindia Nederland.

Syahdan adalah pula kepala bala tentara darat, yaitu Luitenant Jenderal dan kepala kelengkapan di laut, yaitu Schout bij Nacht atau Vice Admiraal dan 5 Directeur, masing-masing dengan pekerjaannya.

Maka tiap-tiap residenan di pulau Jawa diperintahkan oleh Resident.

Adapun segala residenan itu masing-masing dibagi at beberapa bagian (afdeeling). Maka yang memegang perintah dalam tiap-tiap afdeeling, yaitu Assistent Resident. Maka afdeeling tempat kedudukan Resident diperintahkan oleh Resident sendiri, lain dair pada afeeling Betawi, Semarang, Surabaya, Bandung dan Pasuruan; maka di afdeeling itu ada juga seorang assistent resident yang memegang perintah.

Maka assistent resident itu dibantu oleh Regent. Maka controleur-controleur di bawah perintah assistent resident akan melihati pekerjaan Wedana dan kapala district, yaitu bagian afdeeling.

Maka tiap-tiap district terbagi pula atas onderdistrict yang diperintahkan oleh Assistant Wedono, dan onderdistrict itu terbagi pula atas desa-desa atau kampung-kampung, yang diperintahkan oleh lurah atau kepala kampung.

Adapun hal pemerintahan residenan Surakarta dan Yogyakarta berlainan sedikit dengan Tanah Gubermen (lihatlah pelajaran 26 dan 27).

DARI HAL SEGALA RESIDENAN

17. Banten

Afdeelingnya 5, yaitu: Serang, Anyar (ibu negerinya Cilegon), Caringin (ibu negerinya Menes), Pandeglang dan Lebak (ibu negerinya Rangkasbitung) 5.

Adapun negeri Serang, yaitu ibu negeri residenan Banten, tempatnya beberapa pal jauhnya dari pelabuhan Banten pada pihak selatan. Maka negeri Banten, yaitu ibu negeri yang lama itu, pada zaman dahulu bandar besar lagi ramai. Maka semenjak bandar Betawi telah didirikan orang dan pelabuhan Banten itu jadi dangkal, maka negeri Banten itu makin lama makin sunyi. Maka pada masa ini didapati orang di sana hanya sebuah dusun yang sunyi, serta kurang senang akan didiami orang, karena kurang baik hawanya.

Adapun negeri Anyar-lor, tempatnya di bekas negeri Anyar yang binasa. Maka orang isi negeri itu berjual beli ke kapal yang singgal di situ, maka mengambil air minum. Maka mercusuar (menara) di Anyar dibinasakan pada tahun 1883 oleh letusnya gunung Krakatau; maka telah dibangunkan orang pula suatu mercusuar yang lain di Anyar Kidul.

Di negeri Caringin banyak orang yang pencahariannya menangkap ikan. Setelah negeri itu binasa, maka Menes jadi ibu negeri afdeeling itu.

Negeri Pandeglang pemandangan daerahnya amat permai.

Syahdan maka di afdeeling Lebak pada pihak selatan, adalah dua tiga buah desa yang didiami oleh bangsa Baduy Adapun mereka itu, tentang agamanya dan pakaiannya dan adatnya, berbeda dengan anak negeri yang lain; banyaknya tiada lebih daripada 1000 orang.

Maka diantara orang Banten itu banyak yang keluar dari negerinya, berniaga atau berkuli di Betawi. Maka disitu mereka diam di kampungnya sendiri.

Maka orang Banten ada yang berbahasa Jawa dan ada yang berbahasa Sunda; bahasa Jawa terpakai di afdeeling Serang dan Anyar dan bahasa Sunda di bagian yang lain.

18. Betawi (Batavia)

Afdeelingnya 4, yaitu: Betawi, Meester Cornelis, Tangerang, Bogor (Buitenzorg) dan Krawang.

Adapun negeri Betawi itu bukan saja menjadi ibu negeri residenan itu, akan tetapi Betawi itu ibu negeri seluruh Tanah Hindia Nederland juga. Maka isi negeri itu adalah 116,000 jiwa banyaknya6.

Maka negeri itulah tempat kedudukan kepala pemerintahan dan orang besar-besar (yang tersebut dalam Bab 16). Maka negeri itu terbagi atas negeri lama dan negeri baru.

Maka dalam negeri lama itu adalah banyak rumah orang putih yang ditinggalkannya, maka sekarang dipergunakan orang dijadikan kedai, gudang, dan kantor atau dipakai orang Cina, orang Arab dan anak negeri; lagi pula di negeri lama itu adalah pebian (uitkijk), yaitu menara tempat menengok kapal di laut, pasar ikan dan pasar buah-buahan, rumah bicara dan banyak pula rumah-rumah yang lama.

Maka jikalau kita melihat kapal di pelabuhan lama dan gudang di pelabuhan Tanjung Priuk itu terlalu banyak, maka nyatalah, bahwa negeri Betawi itu bandar yang terlalu ramai.

Adapun negeri lama itu terhubung dengan negeri baru oleh jalan raya, jalan kereta api dan jalan kereta api kecil (tram).

Maka rumah-rumah di negeri baru itu besar-besar dan indah-indah perabotannya. Maka yang termasyur yaitu istana Tuan Besar, benteng Prins Frederik, istana yang di Weltevreden, yang sekarang dipergunakan orang akan tempat majelis Raad van Indie dan kantor-kantor Directeur-Directeur; maka dihadapannya ada patung J.P Coen dan bertentangan dengan istana itu ada tanda peringatan Jenderal Michiels.

Lain dari pada itu ada pula tempat percetakan Gubermen, berhampiran dengan istana di Weltevreden itu; gereja masehi dan museum, yaitu Gedung tempat menyimpan beda yang ajaib-ajaib dari zaman dahulu kala dan segala rupa pakaian, senjata, contoh rumah dan sebagainya, dari seluruh Tanah Hindia Nederland.

Adapun negeri Meester Cornelis adalah beberapa pal jauhnya dari negeri Betawi pada pihak selatan. Maka di negeri itu ada sebuah sekolah militer dan sekolah raja (Gymnasium Willem III).

Pelabuhan Tanjung Periuk.

Negeri Tangerang, duduknya di tepi sungai Ci Sedane; maka negeri itu bandar yang ramai juga.

Bogor atau Buitenzorg (25,000 jiwa); maka di negeri itu ada istana Tuan Besar bersemayam dengan sebuah taman, uaitu tempat pemeliharaan segala tanaman yang berguna, dan lagi rumah sakit orang gila. Maka tiada berapa jauh dari negeri itu ada sebuah negeri, Batu Tulis namanya; maka di situlah terdapat sebuah batu yang telah ditulisi orang pada zaman dahulu kala, lagi bekas-bekas kota kerajaan Pajajaran.

Negeri Purwakarta di tepi Ci Kao, yaitu anak sungai Ci Tarum. Negeri Krawang, bandar yang ramai, duduknya di tepi Ci Tarum.

Adapun tanah residenan Betawi itu kebanyakan tanah partikulir, yaitu milik orang putih, orang Arab dan orang Cina, misalnya tanah Pamanukan dan Ciasem, Tegalwaru, Campea, dan lain-lain.

Di paya-paya dan kolam sepanjang pantai utara terlampau banyak ikan ditangkap orang.

Maka dalam kota Betawi dan kelilingnya, bahasa orang negeri itu bahasa Melayu dan di afdeeling-afdeeling banyak yang berbahasa Sunda.

Pohon buah yang manakah yang amat banyak terdapat di daerah negeri Betawi?

19. Priyangan (Preanger Regentschappen)

Afdeelingnya 6, yaitu: Bandung, Cianjur, Sukabumi, Sumedang, Limbangan (ibu negerinya Garut), Sukapura (ibu negerinya Tasikmalaya).

Negeri Bandung (29,000 jiwa), yaitu ibu negeri residenan itu, tempatnya di tanah datar, tingginya di atas muka air laut 2,200 kaki; maka dari pada segala ibu negeri residenan di Tanah Jawa negeri Bandung yang tertinggi; hawanya sejuk.

Adapun di negeri itu adalah sebuah sekolah guru (kweekschool) dinamai orang sekolah raja, tempat mengajar orang yang akan menjadi pengajar (guru) dan ada lagi sebuah sekolah, sekolah menak namanya (hoofdenschool), gunanya akan orang yang hendak menjadi pegawai Gubermen. Lagi pula di situ adalah kantor-kantor dan pabrik kereta api Gubermen dan sebuah pabrik kinine.

Maka dekat negeri itu di Dago adalah air sungai terjun dari tempat yang tinggi, dan gunung api Tangkuban Perahu yang masyur, oleh sebab itu kerap kali gunung itu didaki orang, hendak melihat kawahnya. Cimahi, tempat bala tentara (kampement atau tangsi).

Negeri Cianjur, yaitu ibu negeri residenan Priyangan yang lama, masyur oleh gempa bumi pada tahun 1878. Maka pada pihak utara itu di tepi jalan raya terdapat Sindanglaya; maka disitu ada rumah sakit; adapun tingginya di atas muka air laut 3,500 kaki. Berhampiran dengan negeri Sindanglaya adalah Cipanas, disitu adalah istana Tuan Besar serta sebuah taman dan mata air panas.

Negeri Sukabumi, tempatnya dan hawanya pun terlampua baik. Negeri Garut, tempatnya di tanah datar yang indah. Maka sekelilingnya negeri itu ada kebun kawa seperti di negeri Bandung. Tasikmalaya, maka disitu banyak orang menenun kain. Singaparna, masyur oleh sebab anyam-anyaman rotan yang keluar dari sana.

Sawah dekat Cipanas.

Mesjid di Kuta Raja, diperbuat oleh Gupermen (Lihatlah kaca 94.)

Adapun residenan Priyangan itu banyak menghasilkan kahwa dan kulit kina, yang dibawa ke Tanah Eropa, dan gula enau (aren). Maka kuda Priyangan pun masyur juga. Maka kebun the dan kina terlalu banyak di residenan Priyangan itu.

20. Cirebon (Cheribon)

Afdeeling 5, yaitu Cirebon (Cheribon), Dramayu (Indramayu), Majalengka, Kuningan, dan Galuh (ibu negerinya Ciamis).

Negeri Cirebon (21,000 jiwa), didirikan oleh Sunan Gunung Jati, bandar yang ramai. Pada masa ini ada air sumur bor disitu. Maka dekat negeri itu adalah candi-candi, perbuatan orang dahulu kala.

Negeri Dramayu itu ramai, sebab perahu pun banyak belajar di sungai Ci Manuk dan padi pun banyak keluar dari situ.

Maka dalam afeeling Tjirebon banyaklah pabrik gula dan pada pihak timur Ci Manuk ada banyak kebun jati.

Adapun tanah pada pihak barat Ci Manuk itu, yaitu tanah partikulir, yaitu Dramayu Barat dan Kandanghaur.

21. Pekalongan

Afdeelingnya 5, yaitu: Pekalongan, Batang, Tegal, Brebes, dan Pamalang.

Adapun ibu negeri Pekalongan (38,000 jiwa) masyur dari sebab kain Pekalongan, tembakau, telur asin, dan itik yang tersalai. Batang (22,000 jiwa).

Negeri Tegal, tempatnya di tepi laut. Maka paya-paya yang ada di sekeliling negeri itu, sudah lama dikeringkan; oleh sebab itu maka hawa di situ lebih baik daripada dahulu. Maka ramai negeri itu, sebab gula dari segenap residenan dibawa ke orang Tegal, lalu dimuatkan ke dalam kapal. Maka tanaman padi di bekas residenan Tegal itu terlalu baik jadinya.

Pada pihak tenggara residenan itu terdapat bekas tangga batu, yang terus kecandi di puncak G. Dieng.

Adapun residenan Pekalongan sebelah timur itu terlalu banyak hutannya.

Maka orang isi negeri yang mengediami dua buah district pada pihak barat daya berbahasa Sunda; dan yang lain dari pada itu berbahasa Jawa.

22. Banyumas

Afdeelingnya 5, yaitu: Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Telacap (Cilacap), dan Purwakerta.

Adapun ibu negeri Banyumas itu duduknya di tepi sungai Serayu; maka sungai itu, dari kualanya hingga beberapa pal jauhnya dari negeri itu ke hulu, dapay dijalani perahu.

Bandar Telacap itu tempatnya terlalu tampan, akan tetapi kurang baik hawanya yaitu disebabkan oleh paya-paya pada keliling negeri itu. Maka di tanah menanjung dekat Nusa Kambangan adalah sebuah kubu dan dua buah benteng yaitu penjaga musuh yang hendak masuk ke pelabuhan negeri itu.

Maka adalah disitu sebatang parit, Kali Asa namanya, yang menghubungkan pelabuhan Telacap itu dengan sungai Serayu.

Tiada jauh dari Batur, yaitu dekat batas Pekalongan, adalah sebuah gua dalamnya 50 kaki. Maka dari dalam gua itu pada dua tempat keluar uap, yang boleh mematikan orang atau binatang. Oleh sebab itu dinamai oleh orang Jawa akan gua itu gua upas, artinya gua bisa atau gue racun.

Maka dibagian sebelah barat laut residenan ini bahasa orang negeri bahasa Sunda; maka di lain-lain negeri bahasa Jawa yang dipakai orang.

23. Kedu

Afdeelingnya 5, yaitu: Magelang, Temanggung, Purwokerto, Karanganyar, dan Ledok (ibu negerinya Wonosobo).

Ibu negeri Magelang (26,000 jiwa) itu tempatnya senang, yaitu di tepi sungai Progo; maka gunung-gunung yang tampak dari sana pun terlalu indah-indah rupanya.

Maka di situ adalah sekolah bagi orang yang akan dijadikan pegawai Gubermen (ambtenaar). Parakan; di daerah negeri ini tembakau Kedu yang ternama ditanamkan orang.

Adapun ibu negeri Purworejo tempatnya di tepi kiri sungai Bogowonto; maka di situ, yaitu di Kedongkebo, adalah sebuah gedung tangsi (kampement).

Negeri Wonosobo, ibu negeri afdeeling yang tertinggi di Tanah Jawa (2,600 kaki). Maka pihak utaranya adalah tangga batu terus ke tanah datar di puncak gunung Dieng; adapun panjangnya tangga itu lebih dari 14 pal. Maka pada tanah datar gunung Dieng itu terdapat bekas arca (reca) dan candi terlalu banyak, perbuatan orang Hindu, yaitu candi Arjuno, candi Semar, dan lain-lain.

Perhiasan candi Borobudur.

Candi Mendut.

Reca d idalam Candi Mendut.

Gombong, tempatnya dekat batas sebelah barat residenan ini; maka di situ adalah sebuah sekolah budak-budak yang akan dijadikan serdadu (laskar). Arah ke selatan dari situ adalah sebuah tempat, Karangbolong namanya; maka di situlah tempat orang mengumpulkan sarang burung.

Syahdan makan di afdeeling Magelang itu ada banyak candi dan reca, perbuatan orang Hindu. Maka yang termasyur diantara itu yaitu candi Borobudur dan candi Mendut, tempatnya dekat pertemuan sungai Progo dengan sungai Elo. Bahwa Borobudur itu candi yang terlampau amat besar, panjangnya dan lebarnya masing-masing 150 meter, dan tingginya 40 meter. Serta berlapir tujuh, terhias dengan beratus-ratus patung dan ukuran.

Adapun candi Mendut masyur juga namanya oleh sebab tiga reca besar yang terdapat di dalamnya; maka candi itu digali orang dari dalam tanah sudah 60 tahun lalu. Lain dari pada itu maka residenan Kedu itu masyur juga oleh hawanya baik dan pemandangan yang indah-indah.

Hatta diantara residenan Tanah Jawa Kedu pun yang termakmur. Maka tembakau gunung Dieng itu termasyur. Di afdeeling Ledok banyak sapi dipeliharakan orang.

24. Surakarta

Afdeelingnya 5, yaitu: Surakarta, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Adapun ibu negeri Solo atau Surakarta itu isi negerinya 109,000 jiawa. Maka di negeri itu adalah istana Susuhunan, rumah Resident, benteng Vastenburg, dan rumah-rumah orang-orang besar-besar. Maka di negeri itu dan di negeri Yogyakarta kebanyakan adat negeri masih terpakai, yaitu seperti hal berjaga-jaga, mengadu harimau dan sebagainya.

Adapun hal pemerintahan negeri itu dilakukan oleh Susuhunan dengan menteri-menterinya. Akan tetapi tanah Pangeran Mangku Negoro tiada di bawah perintah Susuhunan. Maka pada masa perang, bala tentaranya Pangeran itu haruslah mengikut perang, jikalau diminta oleh Seri Paduka Gubermen. Adapun tuan Resident menjaga, supaya segala perjanjian yang terbuat antara Gubermen dan Susuhunan jangan dilalui. Syahdan assistent-assistant, baik yang di ibu negeri, baik yang di afdeeling, menolong resident dalam pekerjaannya, terlebih tentang perkara politis.

Maka dalam residenan itu banyak orang berkebun di tanah sewaan. Pada kaki dan sisi gunung Merbabu banyak orang yang memelihara kerbau dan sapi.

25. Yogyakarta

Afdeelingnya 3, yaitu Mataram (ibu negerinya Yogyakarta), Kulon Progo (ibu negerinya Pengasih) dan Gunung Kidul (ibu negerinya Wonosari).

Adapun hal pemerintahan sama dengan di Surakarta.

Maka sebagian yang kecil dari pada residenan ini diperintahkan oleh Pangeran Paku Alam, yang tiada di bawah perintah Sultan.

Maka bala tentara Pangeran itu senantiasa sedia akan menolong Sri Paduka Gubermen.

Ibu negeri Yogyakarta (72,000 jiwa), tempatnya pada penghabisan jalan kereta api dari Semarang. Maka di negeri itu adalah istana Sultan, rumah Resident dan sebuag benteg, lagi pula sekolah guru (kweekschool) seperti di Bandung.

Pasargede dan Imogiri, tempat pekuburan raja-raja Jawa.

Maka di residenan Yogyakarta tanah pun banyak yang di sewakan oleh orang besar-besar kepada orang Eropa. Maka tanah-tanah itu kebanyakan ditanami tarum. Maka di residenan ini, seperti di residenan Kedu, banyak bekas candi orang dahulu. Maka yang termasyur diantara itu yaitu Candi Sewu (candi Seribu) di Brambanan. Akan tetapi candi-candi itu kebanyakan sudah terlampau rusak.

Maka hutan rimba di residenan Kedu, Surakarta, dan Yogyakarta habis dipotong orang. Lihatlah peta n. 2 di atlas.

Akan tetapi oleh Gubermen ditanam lagi pokok kayu pada banyak tempat.

26. Semarang

Afdeelingnya 8, yaitu: Semarang, Kendal, Salatiga, Demak, Grobogan (ibu negerinya Purwodadi), Pati, Jepara, dan Kudus.

Bermula ibu negeri Semarang itu, bandar yang terlebih ramai di Jawa Tengah; maka isi negerinya 89,000 orang banyaknya. Adapun rumah-rumah dalam kota itu, sebagai rumah-rumah di kota Betawi lama, yaitu tersambung-sambung. Maka tempat menengok kapal (Uitkijk) dan rumah bicara (kantor Resident) yang bertingkat tiga, lagi gereja masehi yang bercembung, sekaliannya kelihatan dari pelabuhan.

Maka orang isi negeri itu: orang putih, orang Cina, orang Keling, orang Melayu, dan orang Arab.

Adapun rumah-rumah orang putih yang besar-besar tempatnya di luar kota pada pihak barat, yaitu sepanjang jalan ke Bojong. Maka rumah Resident tempatnya pada ujung jalan itulah, dan dekat rumah Resident adalah penggilingan obat bedil yang dijalankan oleh air. Lain dari pada itu ada lagi ayang harus disebutkan, yaitu: benteng Prins Van Oranje, rumah sakit orang gila, gedung alat peperangan, rumah piatu dua buah, rumah miskin, tempat memeliharakan orang laki-laki yang sudah tua, sekolah besar (Hoogere Burgerschool), gedung tempat menyimpan uang orang kecil (spaarbank) dan sebagainya.

Jalan dari Semarang ke Ungaran.

Maka negeri Semarang itu terlalu ramai, terutama di pasar-pasar dan sepanjang tepi parit yang bar uterus ke laut dan di kampung Cina. Maka pesisir residenan itulah berpaya dan tiada didiami orang, seperti pesisir residenan Betawi.

Kendal, sekelilingnya banyak pabrik gula. Pelantungan, tempatnya dekat batas Pekalongan; di situlah ada rumah sakit. Di Ungaran ada rumah sakit serdadu. Di Ambarawa adalah benteng namanya Willem I. Salatiga, tangsi laskar yang berkuda. Demak, masjid yang sudah lama termasyur. Desa Kuwu, duduknya pada pihak timur Purwodadi, masyur sebab di sana terdapat mata air lumpur; maka di situ keluarlah hawa belerang dan air asin. Tiada jauh dari pada Gubuk (ibu negeri district) adalah hawa yang dapat dinyalakan keluar dari tanah; maka tempatnya disebut orang Moro Api. Adapun hawa itu, apabila sudah dinyalakan, senantiasa bernyala juga.

Di afdeeling Grobogan adalah banyak kapas ditanamkan orang.

Pati, tempatnya tiada jauh dari pada sungai Juwana. Maka negeri Jepara pada zaman dahulu bandar yang ramai; akan tetapi pada masa ini telah menjadi rusak perniagan di situ, oleh sebab ada banyak bunga karang tinbul di pelabuhannya. Kudus, (31,000) hiwa) ibu negeri afdeeling yang berselamat, ramai perniagaan; pandai emas pun banyak di sana dan lagi banyak orang Cina yang membuat mercun (petasan). Juwana, bandar yang ramai. Maka sepanjang tepi laut di sana adalah kolam, tempat memeliharakan ikan laut.

Syahdan maka kehasilan tanaman padi bagian residenan Semarang sebelah utara itu sedikit saja; meskipun begitu harganya padi murah juga, sebab padi itu mudah dapat dibawa ke situ baik dari sebelah laut, baik dari sebelah darat. Di residenan Semarang ada banyak pabrik gula dan kebun kapuk.

27. Rembang

Afdeelingnya 4, yaitu: Rembang, Tuban, Bojonegoro, dan Blora.

Adapun ibu negeri Rembang (30,000 jiwa) tempatnya di pantai; di situlah orang membuat kapal. Demikian juga di negeri Lasem. Maka di negeri Lasem itu banyak orang yang bertenun (kain Lasem) dan menganyam sambaing (tempat rokok), yaitu dari bulu merak, lagi banyak kain batik dibuat orang sana. Di daerah Tuban (26,000 jiwa) adalah mata air di dalam laut dan minyak tanah yang membuaal dari dalam tanah dan dari gua batu penapis. Bojonegoro, tempatnya di tepi kali Solo; maka dari situlah banyak kayu jati dikirimkan kemana-mana.

Syahdan di residenan Rembang itu terlampau banyak hutan jati, terutama di afdeeling Blora. Hutan jati itu dibagi perceel-perceel7 dan ada di bawah perintah houtvester8. Maka perceel-perceel itu dipak. Maka di Panolan, afd. Blora dan Tinawun afd. Bojonegoro, adalah minyak tanah membual dari dalam tanah; maka minyak tanah itu dibersihkan di Ngareng, dekat Padangan, di tepi kali Solo, lalu dihilirkan ke Surabaya atau dikirimkan ke Semarang.

Adapun tanaman padi di Rembang kurang elok jadinya daripada di residenan lain-lain di Tanah Jawa, karena tanahnya kurus dan lagi kekurangan air. Maka pengaliran air Bengawan Solo, yang baru dikerjakan seperti yang tersebut dalam Bab 7 itu, kemudiannya dapat menggenangi beberapa bau sawah dalam residenan ini.

28. Madiun

Afdeelingnya 5, yaitu: Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, dan Pacitan.

Ibu negeri Madiun (21,000) jiwa), tempatny di tepi sungai Madiun dan di tepi jalan kereta api antara Kediri dengan Surakarta; di sini ada pabrik-pabrik kereta api Gubermen. Ngawi, pabrik obat bedil dan benteng. Ponorogo, tempat pengajian yang banyak muridnya (pesantren). Maka buatan kertas dari kulit pohon glugu oleh anak negeri pada zaman ini hampir tiada dilakukan lagi. Pacitan, di tepi teluk yang senama dengan negeri itu, jarang adalah kapal berlabuh di situ.

Banyak orang yang pencahariannya menangkap ikan di residenan ini.

29. Kediri

Afdeelingnya 5, yaitu: Kediri, Brebek (ibu negerinya Nganjuk), Blitar, Ngrowo (ibu negerinya Tulungagung), dan Trenggalek.

Adapun ibu negeri Kediri, tempatnya di tepi sungai Brantas dan disisi jalan kereta api ke Surabaya. Maka jembatan besi pada sungai itu panjang adanya; dari negeri itu sampai ke kualanya orang boleh berperahu. Pada musim hujan ramailah pelayaran di sungai itu, tetapi pada musim kemarau airnya sedikit. Maka tamannya tuan Resident adalah terhias dengan reca-reca perbuatan orang Hindu, yang dibawa orang dari daerah negeri itu. Maka dalam (rumah Regent) dan masjid di negeri ini terbuat dari pada batu-batu, yang asalnya dari pada candi-candi perbuatan orang Hindu. Di negeri Kediri ada banyak orang Cina.

Tukang dagang soto (orang Madura) di-Surabaya.

Brebek, di sanalah banyak tembakau ditanam orang negeri.

Blitar, pada simpangan jalan kereta api; maka di situ banyak kebun tembakau, dan pada pendakian gunung Kelut sebelah selatan adalah Candi Panataran. Maka pada tahun 1875 negeri itu binasa oleh letusnya gunung kelut itu. Tulungagung, ramai. Trenggalek, pembakaran bata dan kendi. Panggul, di tepi teluk Panggul, di sana terdapat batu pualam di dalam tanah, tetapi belum digali orang.

Maka district Lodoyo (ibu negerinya Kalipang) yang masyur oleh sebab hutan rimba masih luas dan harimau banyak di situ.

Lain dari pada candi yang tersebut itu, maka di residenan Kediri ada pula banyak candi-candi perbuatan orang Hindu.

Di residenan-residenan di Jawa Tengah yang manakah banyak candi dan reca perbuatan orang Hindu?

30. Surabaya

Afdeelingnya ada 6, yaitu: Surabaya, Gresik, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, dan Lamongan.

Adapun ibu negeri Surabaya (14,700 jiwa), duduknya di tepi kali Mas. Maka dalam Surabaya itu ramai orang berniaga dan ada banyak pabrik. Adalah tempat orang membuat alat peperangan (artillerie-constructiewinkel) dan lagi ada pula sebuah pabrik besar (Marine-etablissement), tempat orang membuat pesawat asap dan berbagai-bagai perkakas yang lain; lagi pula di dalamnya adalah dok, yaitu tempat membuat atau membetulkan kapal-kapal; maka sekalian pekerjaan dalam pabrik besar itu dikerjakan oleh anak negeri, tetapi dikepalai oleh orang putih.

Rumah sakit bagi orang Jawa di Mojowarno.

Lain dari pada itu ada pula gereja-gereja, mesjid dua buah dan menaranya yang indah-indah, rumah Resident dengan sebuah reca besar dihadapannya, rumah sakit militer, sekolah besar (Hoogere Burgerschool) dan sebagainya. Maka dari kota adalah jalan terus ke pelabuhan. Adapun pelabuhan Surabaya itu pada barang musim pun tiada berbahaya, jadi lebih baik daripada pelabuhan Betawi dan Semarang. Belum lama diperbuat di Surabaya oleh Guberment suatu pengaliran air minum yang amat berfaedah akan isi negeri.

Syahdan adapun kota lama, pada pihak utara, bangunnya serupa negeri di benua Eropa. Adapun kota baru, pada pada pihak selatan, makin lama makin luas; maka di situlah tempatnya rumah orang putih yang indah-indah perbuatannya. Maka dekat halte Wonokromo, 4 pal sebelah selatan kota Surabaya adalah pabrik besar tempat orang membersihkan minyak tanah, yang membual dari beberapa tempat pada keliling pabrik itu, didapati orang minyak tanah. Negeri Gresik, (25,400 jiwa) itu bandar yang ramai dan di sini ada pandai tembaga. Maka pada tahun 1510, yaitu masa orang Portugis mula-mula singgah di pulau Jawa, maka negeri itu sudah ramai dan saudagar pun banyak pada masa itu. Maka dalam Gresik itu banyak orang Arab diam. Dekat negeri itu ada orang yang pencahariannya mengumpul sendawa, dan lagi tiada jauh dari negeri Gresik terdapat jirat Syekh Malik Ibrahim, yang mula-mula mengajar Islam di Tanah Jawa.

Negeri Sidoarjo, dibagian (afdeeling) yang terlampau Makmur, maka di daerahnya banyak pabrik gula. Di Mojokerto terdapat rubuhan kota Mojopait dan tiada jauh dari situ, yaitu di Melirip, ada pintu air yang besar, pada hulu kali Surabaya, akan mengalirkan air ke Kali Mas, supaya kali itu dapat dijalani perahu. (Lihatlah peta muka 15).

Keramaian orang Cina di Surabaya.

Trawas, tempatnya di pegunungan Arjuno; maka hawa di situ terlampau baik bagi orang sakit. Di Mojowarno, tempat pendeta Nasrani, ada sebuah gereja yang besar, karena di desa itu dan di desa-desa pada kelilingnya, banyak anak negeri yang beragama Nasrani, dan lagi adalah sebuah sekolah dengan 600 muridnya, sebuah sekolah tukang-tukang dan sebuah rumah sakit yang besar akan anak negeri.

Bahwa residenan Surabaya itu terbanyak isi negerinya dari pada residenan yang lain di Tanah Jawa, dan terhitung residenan yang terlebih ramai serta selamat. Di tepi pantai ada banyak orang memelihara ikan.

Maka pulau Bawean masuk bilangan residenan ini.

31. Madura

Afdeelingnya 4, yaitu: Pamekasan, Sampang, Madura (ibu negerinya Bangkalan) dan Sumenep.

Bermula hal pemerintahan residenan itu dalam sekalian bagiannya semenjak tahun 1885 telah diatur seperti di tanah-tanah Gubermen di pulau Jawa.

Adapun pulau Madura itu banyak kekurangan air akan memperusahakan tanah, sebab itu orang Madura, telah beberapa tahun lamanya menyeberang ke pulau Jawa akan mengkuli. Lain dari pada itu pencaharian orang Madura bertanam pagi dan jagung, berjual beli, berlayar, menangkap ikan dan memeliharakan sapi. Adapun pulau yang masuk barisam, atau menjadi kelasi dan matros di kapal Belanda dan Cina.

Di beberapa tempat tiada jauh dari pantai sebelah utara, diperbuat orang batu dari pada tanah kapur.

Adapun ibu negeri residenan, yaitu Pamekasan, semenjak diperintahkan oleh Belanda bertambah-tambah ramainya.

Kuburan Asta, di Sumenep.

Negeri Bangkalan, dekat selat Madura, di situlah terdapat tempat perkuburan anak negeri yang indah-indah; maka tiada jauh dari negeri itu keluarlah minyak tanah dari dalam tanah. Di Bunder ada tempat orang membuat garam. Branta, tempat berlabuh kapal. Negeri Sumenep; yaitu negeri yang terbesar di pulau Madura, lagi ramai; maka adalah di situ tempat orang membuat kapal, dan ada pula istana Panembahan dan tempat perkuburan raja-raja dahulu; dan lagi banyak garam dan sapi dan ayam di bawa keluar ke Panarukan; maka terutama di negeri itulah orang membuat garam. Kamal, tempat penyeberangan ke Surabaya.

Syahdan pulau-pulau pada pihak timur pulau Madura itu terlampau ramai; maka pulau-pulau itu juga bilangn residenan itu. Diantara orang Madura ada juga yang suka merompak.

Banyak sapi buah-buahan dan kapek dibawa keluar dari sini ke Surabaya.

32. Pasuruan

Afdeeling 6, yaitu Pasuruan, Malang, Bangil, Probolinggo, Krakasaan, dan Lumajang.

Pasuruan (27,000 jiwa), ibu negeri residenan itu, tempatnya di pantai tepi laut; maka dari negeri itu dibawa orang keluar kahwa dan gula. Dekat ibu negeri district Grati adalah danau yang disebut ranu Kelindungan, besarnya paya itu satu pal empat persegi atau 320 bau. Dari Grati telur itik asin masih dibawa keluar, tetapi tiada begitu banyak seperti dahulu.

Raksasa di Singosari.

Malang (53,000 jiwa) negeri ini senantiasa makin bertambah-tambah besarnya, maka sekarang sudah lebih besar dari pada negeri residenan. Di daerahnya banyak persil kopi; maka hawa di situ sejuk. Di daerah district Singosari banyak bekas perbuatan orang Hindu dan ada air panas. Bangil, pasar negeri itu ramai. Lawang, hawanya sejuk; tempat kediaman orang pensiun. Tosari, di pegunungan Tengger; hawa di situ terlampau baik bagi orang sakit. Maka di pegunungan Tengger itu ada bangsa orang Tengger, banyaknya kira-kira 7,000 orang; maka desa-desa orang itu 6,000 kaki tingginya di atas muka air laut.

Adapun agama dan adat mereka itu berbeda dengan orang Jawa yang lain.

Syahdan adapun residenan Pasuruan itu masuk bilangan residenan di Tanah Jawa yang teramat baik tanahnya.

Kehasilannya khwa lebih banyak dari pada residenan lain-lain, begitu juga tanaman padi.

Negeri Probolinggo, tempatnya di tepi laut. Maka negeri itu ramai, sebab gula dari seluruh residenan dibawa orang ke bandar Probolinggo, lalu dimuatkan ke dalam kapal Eropa. Maka di negeri itu adalah dua buah sekolah bumi Putera, seperti di Bandung. Lumajang, di daerahnya banyak kebun tembakau dan pabrik gula. Di Klakah, ada danau yang disebut orang ranu Klakaha tau ranu Lamongan. Pasirian, tempatnya pada ujung jalan kereta api dari Surabaya, dan pada kelilingnya banyak persil kopi. Maka orang isi negeri afdeeling-afdeeling Probolinggo, Kraksaan dan Lumajang itu 4 bagian orang Madua dan sebagian orang Jawa.

33. Besuki

Afdeelingnya 4, yaitu: Bondowoso, Panarukan (ibu negerinya Situbondo), Jember dan Banyuwangi.

Cikar per di Jawa Timur.

Bondowoso, ibu negeri residenan di tepi kali Sampeyan, hawanya sejuk dan di daerahnya kebun tembakau dan pabrik gula.

Negeri Besuki, duduknya dekat paya; karena demikian banyak penyakit di sana. Maka negeri itu ramai, sebab banyak perahu ke Madura pergi datang.

Negeri Panarukan, dahulu jadi ibu kota afdeeling; pelabuhan negeri itu baik; maka dari situ dikirim banyak beras, tembakau, gula dan kahwa dengan kapal. Maka pada tahun 1510 negeri itu sudah masyur padak kepada orang Portugis, Maka jalan raja dari Sumberwaru ke Bajulmati jauhnya 15 pal, uaitu melalui kaki G. Baluran yang pihak selatan; maka sepanjang jalan itu tiada kedapatan sebuah rumah jua pun, melainkan hutan rimba belaka. Jember, di daerahnya banyak kebun tembakau. Banyuwangi, ada sebuah benteng di sana, duduknya di tempat yang kurang baik hawanya.

Adapun orang isi negeri residenan Besuki itu 9 bagian orang Madura dan sebagian orang Jawa; maka orang yang mendiami afdeeling Banyuwangi orang Jawa.

Barang apa yang diperbuat orang Singaparna, di Pekalongan, di Kudus, di Lasem dan di Trenggalek?




PULAU-PULAU HINDIA NEDERLAND YANG LAIN

34. Duduknya, Batasnya, Bagiannya, Isi Negerinya

Adapun pulau-pulau yang letaknya diantara benua Asia dan benua Australia, dibatasi oleh Samudra Hindia dan Samudra Besar, dinamai pulau-pulau Hindia Timur.

Maka pulau-pulau itu duduknya di sebelah utara dan di sebelah selatan khatulistiwa.

Coba tunjukkan batasnya.

Hampir seluruh Hindia-Timur itu dibawah perintah Maharaja Belanda, misalnya:

  1. Pulau-pulau Sundah Besar (p. Jawa, p. Sumatera, atau p. Perca, p. Borneo dan p. Celebes serta dengan pulau-pulau sekelilingnya)
  2. Pulau Maluku
  3. Pulau-pulau Sunda Kecil

Maka ketiga perhimpunan pulau itulah dinamai Hindia Nederland

Adapun bagian Hindia Timur yang lain ada beberapa raja-raja di benua Eropa yang memerintahkan dia, yaitu:

Amerika memerintahkan pulau-pulau Filipina;

Raja Inggris memerintahkan p. Singapura, p. Pinang dan p. Labuhan;

Raja Portugis memerintahkan bagian pulau Timur yang sebelah timur.

Adapun pulau-pulau Hindia Timur yang di bawah perintah Maharaja Belanda itu luasnya 32,000 mil Jerman dan isi negerinya adalah 34.6 juta banyaknya. Adapun isi negeri daerah Hindia Timur dibedakan dua bangsa, yaitu bangsa Melayu dan bangsa Papuan.

Adapun bangsa Melayu mengediami pulau-pulau Sunda Besar dan pulau-pulau Sundah Kecil sebelah darat; orang Jawa dan orang Suda ada di pulai Jawa, orang Madura di pulau Madura, orang Melayu dan orang Batuk di pulau Perca, orang Dayak di Berunai, atau Borneo; orang Makasar, orang Bugis dan orang Alifuru di Celebes; semuanya terhitung bangsa Melayu. Bangsa Papua mendiami pulau New Guinea atau tanah Papua dan pulau-pulau yang ada sebelah darat tanah Papua. Maka orang isi negeri di pulau-pulau Maluku, di Flores dan di Timur tercampur bangsa Melayu dan Papua. Bangsa Papua kulitnya hampir hitam, rambutnya hitam dan keriting, tingginya pukul rata sama dengan tingginya orang Eropa. Maka tingkah lakunya ramai.

Berapa jiwa mendiami tanah-tanah di luar pulau Jawa.

35. Laut-Laut dan Selat-Selat

Adapun Lautan Hindia dan Samudra Besar masuk ke tengah-tengah pulau-pulau Hindia itu, menjadilah beberapa selat dan laut.

Maka nama laut-laut dan selat-selat itu menurut tanah atau pulau yang dibasahinya, misalnya:

  1. Laut Cina, di antara benua Cina, Hindia, Melaka, Sumatera, Borneo, dan pulau-pulau Filipina;
  2. Laut Jawa, di antara Tanah Jawa, Borneo, Belitung, Bangka dan Sumatera;
  3. Laut Flores, di sebelah utara pulau itu;
  4. Laut Sawu, di sebelah utara pulau Sawu
  5. Laut Timur, di sebelah timur pulau Timur
  6. Laut Banda, di antara pulau Ambon, p. p. Tenggara, p. p. Barat Daya dan pulau Celebes;
  7. Laut Curam (Serang), di antara pulau-pulau Ceram, pulau Buru dan pulau Obi;
  8. Laut Maluku, di antara pulau Halmahera, p. p. Sula dan pulau Celebes;
  9. Laut Sulu atau Laut Celebes, dibatasi oleh pulau-pulau Sulu, pulau Borno dan Celebes bagian utara;
  10. Laut Mindoro, di antara pulau Borneo bagian timur laut p. p. Sulu dan pulau-pulau Filipina.

Adapun selat-selat yang terus ke Lautan Hindia yang terutama inilah:

Selat Melaka, Selat Sunda, Selat Bali, Selat Lombo, Selat Alas, Selat Sapi, Selat Sumba, dan Selat Rote.

Maka selat yang ke Samudra Besar lebih besar adanya, yaitu Selat Jailolo atau Selat Halmahera.

Syahdan selat-selat yang kedapatan di antara pulau-pulau Hindia inilah: Selat Singapura, Selat Riau, Selat Bangka, Selat Gaspar, Selat Karimata, Selat Madura, Selat Makasar, Selat Silayara, Selat Butung (Buton), Selatn Tioro, Selat Wetar, Selat Buru, Seltan Patientie (Pasiensi), Selat Ombai, dan Selat Balabak.

Carilah laut-laut dan selat-selat yang tersebut itu dalam kitab peta-peta, maksudnya supaya kamu dapat menunjukkan dia di peta besar.

Hatta akan gunanya kapal layar dan kapa api itu telah dibangunkan orang menara (mercusuar) pada beberapa tempat dalam pulau-pulau Hindia.

Menara (mercusuar) yang terutama nyatakanlah baik di atlas, baik di peta besar.

Adapun pulau Jawa dengan Madura telah kami ceritakan halnya Bab 1 - 33; sekarang kami hendak menceritakan perihal bagian Hindia Nederland yang lain.

PULAU SUMATERA ATAU PULAU PERCA DENGAN PULAU-PULAU SEKELILINGNYA

36. Rupanya, Luasnya, Isi Negerinya, Batasnya dan Bagiannya

Adapun pulau Sumatera itu rupanya hampir sama dengan pulau Jawa, yaitu panjang, akan tetapi kedudukan kedua buah pulau itu berlainan, yaitu pulau Sumatera itu memanjang dari barat laut ke tenggara.

Syahdan luasnya pulau Sumatra itu tiga kali lebih besar daripada pulau Jawa, akan tetapi isi negerinya tiada sampai sepersembilan isi negeri Tanah Jawa itu,yaitu 3 juta banyaknya.

Bermula batas pulau Sumatra itu pada pihak utara dan barat: Samudra Hindia; pada pihak timur: Selat Melaka, pulau-pulau Riau dan Lingga, laut Cina, Selat Bangka dan laut Jawa dan pada pihak selatan: Selat Sunda.

Maka pulau-pulau pada pihak baratnya masuk bilangan beberapa residenan di pesisir barat P. Sumatra.

Adapun pulau-pulau Sumatra itu terbagi atas:

  1. Tanah-tanah Gubermen
  2. Tanah-tanah yang belum takluk
  1. Tanah-tanah Gubermen inilah:
  1. Gubermen Sumatra Pesisir Barat, terbagia atas 3 residenan, yaitu:

Residenan Padang Hilir, ibu negerinya Padang;

Residenan Padang Hulu, ibu negerinya Bukittinggi atau Fort de Kuk;

Residenan Tapanuli, ibu negerinya Padang Sidempuan

  1. Residenan Bangkahulu (Bengkulen), ibu negerinya Bangkahulu (Bengkulen)
  2. Residenan Lampung, ibu negerinya Teluk Betung
  3. Residenan Palembang, ibu negerinya Palembang
  4. Residenan Sumatra Pesisir Timur, ibu negerinya Medan
  5. Gubermen Aceh dengan daerah takluknya, ibu negerinya Kutaraja

Residenan yang manakah dicerai dua bagian? Carilah pada peta di atlasmu.

  1. Tanah-tanah yang belum takluk

Tanah Gayu di Aceh, tanah Batak dan tanah-tanah pada pihak timur, yang sebelah timur Gubermen Sumatera Pesisir Barat, di hulu sungai Kampar, Kuantan dan Batang Hari.

Adapun pulau-pulai pada pihak timur itu ada yang masuk bilangan residenan Sumatera Pesisir Timur dan ada yang jadi residenan sendiri, misalnya:

Residenan Riau dengan daerah takluknya, ibu negerinya Tanjung Pinang.

Residenan Bangka dengan daerah takluknya, ibu negerinya Mentuk (Muntok)

Assistant-Residenan Belitung, ibu negerinya Tanjung Pandan.

37. Perihal Teluk Rantau, Selat-Selat, Tanjung-Tanjung, dan Pelabuhan

Adapun pantai pulau Sumatera yang sebelah timur itu keadannya sama dengan pantai Tanah Jawa yang sebelah utara, yaiktu datar belaka dan sebagiannya terjadi dari pada lumpur.

Maka lautnya pun kurang dalam hanya adalah beberapa tempat yang dalam juga dan baik akan tempat kapal yang besar berlabuh.

Syahdan pantai yang sebelah utara, barat, dan selatan itu sifatnya terjal dan berkarang dan di sana laut dalam airnya; serta pada beberapa tempat kapal dapat berlabuh.

Bermula selat-selat yang ternama telah tersebut di atas ini.

Maka tanjung-tanjung dan teluk-teluk atau pelabuhan yang terutama inilah:

Pada pantai utara dan timur: Tg. Jambu Air, yang jadi batas timur Teluk Samawe; Tg. Jabung, yang jadi batas utara Teluk Amphitrite; Tg. Jabung di delta sungai Jambi.

Pada pantai selatan: Tg. Tua (di selat Sunda), Tg. Tikur dan Tg. Cina, yang jadi batas Teluk Lampung dan Teluk Semangka.

Pada pantai barat: Tg. Rata; Tg. Siabung, yang jadi batas selatan Pelabuhan Bangkahulu atau Teluk Pulau; Teluk Air Bangis, Teluk Tapanuli, atau Siboga dan Ujung Singkil.

38. Pulau-Pulau

Sepanjang pantai timur pulau Sumatera adalah beberapa buah pulau; lain dari pada Bangka maka sekalian pulau-pulau itu terjadi dari pada kukup dan lumpur. Maka sekalian pulau-pulau itu duduknya dekat-dekat tepi pantai. Maka yang termasyur di antara pulau-pulau itu, yaitu Pulau Bengkalis.

Syahdan residenan Riau itu berdiri atas beberapa pulau-pulau, misalnya: pulau-pulau Riau (yang terbesar di p. Bintan), pulau-pulau Lingga, pulau-pulau Tambelan, pulau-pulau Anambas dan pulau-pulau Natuna.

Hatta maka sepanjang pantai barat pun terlampau banyak pulau: ada yang amat kecil dan ada yang besar-besar juga.

Adapun yang kecil-kecil itu duduknya berdekatan dengan tepi pantai dan yang besar-besar lebih jauh, menjadikan satu baris yang sejalan dengan tepi laut.

Adapun pulau-pulau itu inilah: Pulau Beras (mercusuar), P. Babi, atau Simeulu, sekalipun masuk bilangan Tanah Aceh; P.P. Banyak, P. Nias, P.P Batu, P.P Mentawai dan P.P Pagai atau Nassau, sekaliannya masuk bilangan Gubermen Sumatera Pesisir Barat. Maka pulau-pulau yang terbesar di antara pulau-pulau itu sekaliannya didiami orang; maka pulau Nia situ ramai juga; P. Enggano (P. Telanjang) masuk jajahan residenan Bangkahulu.

39. Gunung-Gunung dan Tanah Datar

Bermula tanah hal pulau Sumatera itu sebagai tanah pulau Jawa, yaitu bergunung-gung. Maka gunung-gunung yang tinggi itu semua gunung yang berapi, akan tetapi diantara gunung api itu melainkan 8 buah yang belum padam apinya.

Maka di Sumatera adalah sebaris gunung dari barat laut menuju ke tenggara, serta mercusuar pantai barat, sehingga pantai itu pada beberapa tempat curam adanya.

Adapun baris gunung itu di batas Bangkahulu disebut orang Bukit Barisan.

Maka pada beberapa tempat, seperti Air Bangis dan Singkil, pantai itu berpaya adanya.

Adapun baris gunung yang tersebut itu beberapa tempat terjadi oleh beberapa baris gunung yang lain, yang sama jalannya (seperti di Padang Hulu); maka diantara baris-baris gunung itu terdapat lembah-lembah. Dan ada pula sebarus gunung, yang keluar dari pada baris yang tersebut tadi, itu jalannya ke timur.

Maka di Tanah Aceh dan di Tanah Batak demikian juga keadaan gunung yang bercabang-cabang, sehingga pegunungan itu sampai ke pantai sebelah timur. Syahdan pantai pulau Sumatera yang sebelah timur sama dengan pantai Tanah Jawa yang sebelah utara, yaitu datar dan berpaya-paya. Akan tetapi pantai itu di pulau Sumatera hutan rimba belaka dan sedikit amat orang yang diam di sana.

Adapun gunung-gunung yang terutama di pulau Sumatera inilah:

Di Tanah Aceh: G. Seulawaih Agam dan G. Loser. Di tanah Batak: Dolok Sinabung.

Di Tapanuli: Dolok Saut, G. Lubuk Raja dan G. Sorik Marapi*

Di residenan Padang Hulu: G. Paseman atau G. Ophir*, G. Singgalang*, G. Merapi*, G. Sago*, dan G. Talang atau G. Sulasih*.

G. Indrapura* pada batas selatan residenan Padang Hulu. Maka itulah gunung yang tertinggi di pulau Sumatra; maka tingginya itu hampir sama dengan G. Semeru di pulau Jawa.

Di residenan Palembang pada pihak barat: G. Sebelat, G. Kaba*, dan G. Dempo.

Di residenan Lampung: G. Tanggamus atau Keizerspiek dan G. Rajabasa.

Gunung-gunung yang lagi berapi dibedakan dengan tanda*

40. Sungai-Sungai dan Danau-Danau

Adapun pulau Sumatra itu terlalu banyak airnya, betul sebagai Tanah Jawa; dari gunung-gunung yang berhutan adalah terlampau banyak sungai mengalir ke barat dan ke timur.

Adapun sungai-sungai yang mengalir ke timur itu besar-besar adanya, sebab panjang dan banyak anaknya. Maka beberapa diantaranya itu dapat dijalani kapal jauh ke darat.

Maka sungai-sungai yang terutama di pulau Sumatra itu, inilah:

Di residenan Sumatra Pesisir Timur:

S. Tamiang, dijadikan oleh pertemuan Simpang kiri dan Simpang Kanan, datangnya dari Gubermen Aceh.

S. Asahan, yang mengalirkan air danau Toba.

S. Barumun, di sebelah hilirnya disebut S. Pane; S. Rokan, S. Siak dan S. Kampar.

Di Indragiri:

Batang Kuantan atau Indragiri, hulunya di Padang Hulu dan menjadi satu dengan S. Ombilin, kemudian mengalir ke teluk Amphitrite. Maka sungai itu dapat dijalani perahu dari kualanya sampai ke Lubuk Ambacang.

Di Palembang:

S. Batang Hari, sungai yang terbesar di pulau Sumatera, hulunya di Padang Hulu, menjadi satu dengan Batang Gumanti, kemudian mengalir ke timur menerima air dari Batang Tabo dan Batang Tambesi, lalu disebut orang Batang Jambi sampai ke laut. Di residenan Padang Hulu telah dapat dijalani perahu kecil; dari Jambi sampai ke laut oleh kapal besar.

S. Banyuasin, mengalir ke selat Bangka; S. Musi, hulunya di Palembang pada pihak barat laut. Maka anaknya adalah sebatang yang mengalir dari sebelah kiri, yaitu Batang Rawas, dan tiga bayang, yang mengalir dari sebelah kanan, yaitu: S. Lematang, S. Ogan, dan S. Komering.

Sekoci api di sungai Jambi.

Adapun Sungai Musi itu dekat kota Palembang lebarnya ½ kilometer, lagi sampai dalamnya, sehingga dapatlah dijlani kapal-kapal besar.

Di residenan Lampung: S. Mesuji (s. batas), S. Tulang Bawang, S. Seputih dan S. Sekampung; maka sungai-sungai itu semuanya dapat dijalani perahu, selain daripada Sungai Sekampung.

Pada pantai barat: Di Bangkahulu: Sungai Ketahun.

Di residenan Tapanuli: Batang Gadis, Batang Toru dan Batang Singkil.

Di Gubermen Atjeh: S. Aceh.

Adapun danau-danau di Pulau Sumatera pun lebih besar daripada di Tanah Jawa.

Danau-danau di pegunungan itu bekas kawah-kawah yang sudah padam apinya, lalu terisi air hujan. Maka tebing-tebing danau itu, kerap kali seperti jurang, dari muka air terus ke atas. Maka danau yang demikian yaitu:

Di Tanah Batak;

Danau Toba, tingginya 600 m atau 1900 kaki di atas muka laut. Air danau dialirkan ke timur oleh Sungai Asahan.

Di tengah-tengah danau ini adalah Pulau Samosir yang terhubung dengan tepi danau sebelah barat.

Di residenan Padang Hulu:

Danau Maninjau, airnya dialirkan ke barat oleh Sungai Masang atau Antokan.

Danau Singkarak, airnya dialirkan ke timur oleh Sungai Ombilin.

Danau Kerinci, airnya dialirkan oleh Sungai Merangin (anak Sungai Batang Hari).

Di residenan Palembang: Danau Ranau dan Danau Lebak Deling.

41. Hawa

Sedangkan Pulau Sumatera melintangi khatulistiwa, yaitu setengahnya di sebelah utara dan setengahnya di sebelah selatan garis itu. Maka musim pada kedua bagian itu tidak sama. Apabila pada bagian utara musim hujan, yaitu dari bulan April hingga bulan Oktober, maka pada bagian selatan musim kemarau; maka musim hujan di bagian selatan, yaitu dari bulan Oktober hingga bulan April. Adapun musim di bagian selatan itu sama waktunya dengan musim di Tanah Jawa, karena Tanah Jawa itu pun letaknya di sebelah selatan khatulistiwa juga.

Maka di tengah-tengah pulau, yang dilalui oleh khatulistiwa, angin pun selalu tidak tetap, yaitu hanya di pesisir. Maka hawa di Pulau Sumatera itu pada pesisir barat, dengan mengecualikan tempat-tempat yang berpaya, baik adanya.

42. Hasil

Adapun hasil logam di Pulau Sumatera lebih banyak daripada di Tanah Jawa. Maka didapati orang di sana emas, yaitu di Padang Hilir, di Mandailing dan di Palembang; timah putih, timah hitam dan tembaga di Padang Hulu; batu arang yang terlampau baik dekat Sungai Ombilin dan lagi minyak tanah di Langkat dan di Keresidenan Palembang; batu pualam, batu lei dan lain-lain barang tambang, yang terdapat di Tanah Jawa (yang manakah?), didapati orang juga di Pulau Sumatera. Maka tanahnya Pulau Sumatera itu sama baiknya dengan Tanah Jawa. Lebih dari setengah pulau ini masih berhutan lebat, menghasilkan berjenis-jenis kayu yang terlampau baik akan diperbuat rumah dan berbagai-bagai perkakas, umpamanya: kayu arang, kayu besi atau kayu pindis dan sebagainya. Dan lagi adalah beberapa pohon dan tumbuh-tumbuhan di situ, yang menghasilkan kapur Barus, kemenyan, getah perca, jati, rotan dan sebagainya. Lain daripada itu ada pula segala tanaman di Tanah Jawa, yang hasilnya dibawa keluar ke Tanah Eropa (sebutkanlah), dan lagi gambir, buah pala, bunga pala dan cengkih. Maka terutama lada, yang terlalu banyak dibawa ke luar, yaitu hampir seperempatnya dari sekalian lada yang jadi di seluruh bumi.

Gajah.

Syahdan binatang-binatang, yang didapati orang di Tanah Jawa, kebanyakan ada juga di Pulau Sumatera. Lain daripada itu adalah pula gajah, badak yang bertulang dua, tenuk (tapir), beruang dan sebangsa kera, dinamai beruk, yang dipergunakan orang memetik nyiur.

Hatta maka di sungai-sungainya dan di laut terlampau banyak ikan ditangkap orang.

43. Isi Negeri, Pencaharian, Pemerintahan, Jalan-Jalan

Bermula anak negeri pulau Sumatra itu dua bangsanya yaitu bangsa orang Melayu dan bangsa orang Batak. Adapun orang Melayu asalnya dahulu kala di Padang Hulu; maka dari situ cerai berailah ke pulau Sumatra dan ke pantai-pantai pulau Borneo dan ke tepi pantai di pulau-pulau Hindia Nederland yang lain. Oleh sebab itu maka bahasanya cerai berailah, hingga sekarang bahasa Melayu ketahuan di mana-mana dan terpakai oleh segala saudagar dan oleh orang Eropa dan orang Cina jikalau hendak berkata dengan orang negeri. Adapun bangsa Batak itu kurang beradat dari pada bangsa Melayu. Maka ia mengediami Tanah Batak dan pulau-pulau pada pihk Sumatra.

Rumah dan rangkiang orang Melayu.

Adapun pulau Sumatra itu sesungguhnya kurang ramainya; maka hal itu atas banyak sebabnya, seperti: peperangan pada zaman dahulu (orang negeri dengan samanya), penyakit ketumbuhan dan penyakit yang lain-lain; sebab harimau dan buaya pun banyak di sana.

Syahdan semenjak pulau itu diperintahkan oleh orang Belanda, maka isi negerinya itu bertambah-tambah banyaknya. Maka bagiannya yang terbanyak orangnya, yaitu di pesisir barat.

Bermula jalan kehidupan isi negeri pulau Sumatra itu sama dengan di Tanah Jawa.

Sebutkanlah.

Sungguhpun hal pengesahan tanah pada beberap tempat di pulau itu masih kurang elok dikerjakan orang, akan tetapi adalah pula jalan kehidupan yang lain yaitu mencari emas dan bekerja di tambang.

Syahdan yang diberi kuasa memerintahkan pulau itu, yaitu Gubernur dan Resident. Di afdeeling-afdeeling adalah Assistent-resident, yang memegang perintah seperti di Tanah Jawa, dan ada juga afdeeling-afdeeling yang diperintahkan oleh Controleur.

Di pulau Bangka adalah Administrateur yang di bawah Resident, yang memegang perintah di district-district yaitu di bagian pulau itu.

Adapun residenan Sumatra Pesisir Timur, residenan Riau dengan daerah takluknya dan Gubermen Aceh itu dibagi-bagi atas beberapa kerajaan kecil-kecil, yang diperintahkan oleh rajanya sendiri; akan tetapi ada ambtenaar Belanda yang menjaga, supaya perjanjian yang terbuat olehnya dengan Gubermen dilakukannya dengan sungguh-sungguh.

Syahdan pulau Sumatera itu jalan-jalannya kurang dipergunakan orang dari pada jalan-jalan di Tanah Jawa; maka hal itu atas dua sebabnya: pertama, sebab sungai-sungai di Sumatra kebanyakan dapat dijalani perahu; kedua, sebab pulau itu kurang banyak orangnya. Maka adalah di sana sedikit saja jalan, yang dapat dijalani dengan kereta atau kahar.

Maka jalan-jalan itu, inilah: Jalan-jalan yang menghubungkan Kota Padang dengan Fort de Kock dan dengan segala kota afdeeling di Padang Hulu; jalan dari Palembang ke Bangkahulu melalui Lahat dan Tebing Tinggi dan jalan dari Teluk Betung ke Menggala. Maka ada pula suatu jalan menyusur pantai, dari Tiku ke Bangkahulu, maka orang dapat berkuda di jalan itu, begitu juga dari Bukittinggi ke Singkil.

Syahdan dari Medan ada jalan kereta api ke pantai laut dan ke tempat-tempat sekelilingnya. Dan dari Kutaraja ada jalan trem ke Ulee Lheue dan ke Seulimeum terus ke Sigli.

Ada pula jalan kereta api dari Padang ke Bukittinggi dan dari situ ke Solok terus ke Sawahlunto dan lagi dari Bukittinggi ke Payakumbuh.

Hatta dari Teluk Betung adalah tali kawat ke Singkil, melalui Palembang, Bangkahulu dan Padang. Maka tali kawat yang menghubungkan Padang Sidempuan dengan Medan, melalui Tanah Batak, sudah dipasang juga. Dari Medan tali kawat itu masuk ke dalam laut terus ke Aceh.

Maka dari Betawi ke Singapura ada juga tali kawat di dalam laut.

GUBERMEN SUMATRA PESISIR BARAT

44. Residenan Padang Hilir

Adapun Residenan itu diperintahkan oleh Gubernur; maka afdeeling-afdeelingnya 5, yaitu:

Padang, Air Bangis, Priaman (Pariaman.) dan Painan.

Bermula maka negeri Padang (39000 jiwa) itu ibu negeri Gubermen Sumatra Pesisir Barat dan Residenan Padang Hilir.

Maka negeri itu tempat duduk Gubernur dan Regent. Maka negeri itu bandar yang ramai, pasar kahwa dan emas Sumatra. Maka rumah-rumah di negeri itu kebanyakan diperbuat orang dari pada kayu, akan menolak bahaya gempa.

Maka pada tanah menganjur di tepi kiri sungai terdapat gunung Kera. Sungguhpun di pesisir negeri itu pada siang hari sangat panasnya, tetapi pada malam hari lebih sejuk daripada negeri di pantai yang lain-lain; maka hawa negeri itu baik adanya.

Maka negeri Air Bangis duduknya pada pelabuhan yang baik. Maka di Salida ada tambang emas; maka tambang itu pada zaman Kompeni pun dikerjakan orang juga, akan tetapi tiada banyak kehasilannya. Negeri Inderapura duduknya di tepi sungai yang bernama demikian; maka negeri itu tempat duduk Controleur dan Regent.

Negeri Kerinci (Kurinci) sekarang masuk daerah gubermen, jadi seperti afdeeling diperintah oleh asisten residen, tempatnya duduk: Sandaran Agung di tepi danau Kerinci.

45. Residenan Padang Hulu

afdeelingnya 6.

Agam ibu negerinya Fort de Kock (Bukit Tinggi)
Tanah Datar ,, Fort van der Capellen (Batu Sangkar)
L Kota ,, Payakombo (Payo kumbuh)
XIII dan IX Kota ,, Solok
Batipu dan X Kota ,, Padangpanjang
Lubuksikaping ,, Lubuk Sikaping

Adapun Fort de Kock atau Bukittinggi itu, yaitu ibu negeri residenan, duduknya 3000 kaki di atas muka air laut. Maka dari negeri itu tampak gunung Merapi dan gunung Singgalang terlampau indah rupanya. Maka di negeri itu ada sebuah sekolah, maka muridnya akan dijadikan pengajar dan lagi rumah yang besar tempat serdadu diam (kampemen). Negeri Bonjol, masyhur sebab perang Paderi. Negeri Umbilin, di tepi sungai yang bernama demikian, yang keluar dari danau Singkarak; maka di situ terdapat batu arang yang baik, maka telah banyaklah digali orang. Negeri Payakumbuh, tempatnya indah dan pasarnya ramai; pada tiap-tiap hari Ahad adalah kira-kira 10000 orang yang datang berkumpul di pasar itu. Negeri Padangpanjang tempatnya dekat jurang sungai Anai; maka di daerah tanah itu terdapat banyak tanah besi. Bua, di tepi sungai Sinamar, di situ ada gua, indah rupanya.

Adapun residenan Padang Hulu itu tanahnya bergunung-gunung belaka.

Maka residenan itulah bagian pulau Sumatra yang terlebih indah dan terlebih makmur. Maka hasil yang keluar dari residenan itu, yaitu: padi, kahwa, kayu manis, pala, bunga pala dan nila. Seperti di residenan Tapanuli, maka di situ pun ada juga ditanamkan orang pokok kina. Syahdan isi negeri itu berbahasa Melayu Minangkabau; maka bahasa itu berbeda juga dengan bahasa Melayu Riau.

46. Residenan Tapanuli (Tapian na uli)

afdeelingnya 5, yaitu:

Mandailing dan Angkola, ibu negerinya Padang Si Dempuan.
Natal ,, Natal (contr.)
Padang Lawas ,, Gunung Tua (contr.)
Siboga ,, Siboga (Ass. res.)
Toba dan Silindung ,, Tarutung (Ass. res.)

Adapun Padang Si Dempuan itu ibu negeri residenan. Maka negeri itu tempatnya di tanah yang bergunung-gunung.

Negeri Siboga, duduknya dekat pelabuhan itu, indah dan tiada berbahaya, karena ia terlekung oleh tanah yang menganjur ke laut dua buah dan terlindung oleh sebuah pulau di mulutnya; maka sebab itu negeri Siboga itu menjadi bandar yang ramai.

Negeri Barus, tempatnya di tepi laut; negeri itu ramai, kapur Barus dan kemenyan dibawa keluar dari situ. Maka negeri Singkil duduknya di tepi kuala sungai yang bernama demikian; maka kuala sungai itu dapat dijalani perahu. Lagu Boti, tempatnya dekat danau Toba, ialah tempat duduk controleur.

47. Residenan Bengkulen (Bangkahulu)

Adapun residenan itu terbagi atas 7 afdeeling, yang diperintahkan oleh controleur, lain dari pada afd. Bengkulu dan Krui, yang di bawah perintah assitent-resident.

Maka residenan itu tiada berapa lebarnya, tetapi amat panjang.

Syahdan ibu negeri bandar Bengkulen(Bangkahulu); dibawa keluar dari situ: lada dan mas dari Rejang Lebong.

Hal pengusahaan tanah di residenan ini belum sampai diperhatikan orang negeri; pada baliknya hal memeliharakan kerbau amat dipedulikan, hingga banyak dibawa keluar ke Palembang.

48. Residenan Lampung

Lain dari pada ibu negerinya, maka residenan itu dibagi atas 6 afdeeling, yang diperintahkan oleh controleur.

Maka ibu negeri, yaitu bandar Teluk Betung.

Maka hasil yang keluar dari situ, yaitu: lada, gading, lilin, getah, damar dan rotan.

Maka adalah negeri itu dan pesisir sepanjang teluk Semangka dan teluk Lampung telah binasa oleh air pasang besar, ketika letusnya gunung Krakatau.

Bahwa zaman dahulu residenan Lampung itu jadi jajahan kerajaan Banten; adapun akan Banten itu, pada permulaan abad ini jadi tanah Gubermen, maka oleh karena itu tanah Lampung itu pun takluk juga kepada Gubermen.

Maka di situ pun hal pengusahaan tanah masih kurang elok. Kebanyakan tanahnya tanah mati, dari sebab isi negeri terlampau sedikit.

49. Residenan Palembang

Adapun residenan itu lain dari pada ibu negerinya dibagi 7 afdeeling. Maka empat buah masing-masing diperintahkan oleh assistant-resident, yaitu:

Batang Rawas dekat Bintin Teluk.

Tebing Tinggi, ibu negerinya Tebing Tinggi.

Lematang Hulu dan Hilir dengan Tanah Pasemah, ibu negerinya Lahat.

Komering, Ogan Hulu dan Inim dengan distrik Ranau, ibu negerinya Muara Dua.

Jambi, ibu negerinya Jambi, di tepi sungai yang bernama demikian.

Adapun Palembang (57000 jiwa) yaitu ibu negeri residenan itu, bandar yang amat ramai; maka dari sana banyak kapal dan perahu pergi datang ke Singapura. Maka negeri itu masjidnya indah dan pasarnya ramai. Maka pada zaman dahulu ada sebuah keraton di negeri itu. Maka keraton itu sudah diperbuat benteng besar.

Syahdan rumah-rumah di negeri itu ada beberapa buah yang didirikan di atas rakit di dalam sungai. Maka orang Cina pun banyak di negeri itu; perkakas rumah (dari kayu tembesi) perbuatan Palembang masyhur, maka yang pandai mengecat perkakas itu orang Cina lah. Syahdan ada pula jalan kehidupan isi negeri yang lain, misalnya: menyulam, membuat berbagai-bagai perhiasan dari pada emas dan perak dan menyelam emas.

Maka hasil keluaran residenan itu, inilah: kahwa, rotan, kayu tembesi, tembakau (tembakau Ranau) dan kapuk.

Muara Kumpai, tempat ramai orang berniaga. Oleh sebab kebanyakan sungai-sungai di residenan itu dapat dijalani perahu, maka jika orang hendak berjalan, kebanyakan berperahu saja.

50. Residenan Sumatra Pesisir Timur

Adapun residenan ini dibagi 10 afdeeling. Maka empat buah masing-masing diperintah oleh asisten residen, yaitu:

Afd. Deli ibu negerinya Medan
,, Langkat ,, ,, Tanjung Pura
,, Asahan ,, ,, Tanjung Balai
,, Bengkalis ,, ,, Bengkalis

Maka residenan ini masyur dan ramai dari sebab semenjak tahun 1870 banyak orang Eropa datang di sini akan membuka tanah, terutama akan ditanami tembakau.

Medan, ibu negeri residenan, didirikan pada tahun 1869; sekarang jiwanya 13000. Maka di negeri ini ada benteng, dan istana Sultan Deli, lagi pula menjadi pangkalan beberapa jalan kereta api yang pendek. Labuhan Deli, ibu negeri yang lama kerajaan Deli. Belawan, di muara sungai yang bernama demikian; banyak tembakau dan lada dibawa keluar dari sini. Tanjung Pura, di tepi sungai Wampu atau Langkat, mengeluarkan tembakau dan minyak tanah. Siak Seri Inderapura, tempat kedudukan Sultan Siak dan controleur. Di persil-persil tembakau di residenan ini, kira-kira 70,000 orang Cina dan banyak orang Jawa mendapat pekerjaan.

Negeri Bengkalis, tempatnya di pulau yang bernama demikian, dekat selat Panjang; maka pulau itu sudah jadi tanah Gubermen.

Hatta maka di selat Panjang itu banyak ditangkap orang ikan terubuk. Dari Bengkalis banyak kayu yang sudah digergaji dibawa keluar ke Singapura dan ke tanah Jawa.

51. Gubermen Aceh dengan Daerah Takluknya

Adapun Gubermen Aceh itu dibagi 2 afdeeling:

1. Aceh Besar, ibu negerinya Kutaraja

2. Daerah takluknya, ibu negerinya Kutaraja

Maka kedua buah afdeeling diperintah oleh assistent-resident, tempatnya duduk Kutaraja juga. Lagi pula di beberapa tempat ada controleur atau gezaghebber, yaitu seorang officier (opsir) yang memegang pemerintahan, seperti di Ulee Lheue, di Seulimeum, di Sigli, di Lhokseumawe, di Idi dan di tempat yang lain.

Bermula maka Kutaraja itu tempat duduk Gubernur, tempatnya pada bekas Keraton.

Maka ada sebuah masjid terlalu indah perbuatannya diteguhkan oleh Gubermen pada tempat bekas masjid yang dialahkan pada tahun 1874. Adapun Kutaraja itu seumpama terkepung oleh benteng. Syahdan negeri Ulee Lheue, tempatnya di tepi laut, terhubung dengan Kutaraja oleh jalan trem (kereta api kecil). Ada lagi jalan trem dari Kutaraja ke Seulimeum yang terus ke Sigli. Maka di negeri itu adalah suatu pangkalan atau jembatan dari pada besi, yang menganjur ke laut. Maka di pulau Beras, yaitu sebuah pulau yang tiada berapa jauhnya dari Aceh, adalah sebuah suar. Maka adalah pula sebuah pulau, yang bernama We dengan teluk Sabang, yaitu pelabuhan kapal api dari negeri Belanda. Di tepi teluk Sabang ada gudang batu arang yang amat besar; maka pulau inilah batas Tanah Gubermen Hindia Nederland yang di sebelah utara.

Syahdan dari pada segenap tempat atau negeri di Aceh, yang duduknya di tepi laut, banyaklah lada dibawa keluar.

Bermula Tanah Batak yang belum takluk itu tempatnya jauh dari laut. Maka bangsa yang mendiami tanah itu pandai juga dalam beberapa ilmu, umpamanya membuat perkakas dan perhiasan dari pada logam, mengukir kayu dan gading, menggantih dan menenun. Dan lagi adalah ia menaruh kitab undang-undang dan surat lain-lain, yang tertulis dalam bahasanya dan dengan hurufnya sendiri. Akan tetapi hal perhambaan lagi terpakai juga di Tanah Batak dan ada pula beberapa bangsa yang lagi suka memakan orang musuhnya, yang tertangkap di peperangan.

Syahdan Tanah Batak yang belum takluk makin lama makin kecil, oleh karena bagiannya yang sebelah selatan ditambahkan pada residenan Tapanuli, dan yang sebelah timur pada residenan Sumatra Pesisir Timur. Maka isi residenan itu kebanyakan berbahasa Batak.

Adapun Tanah Batak itu kudanya masyhur, maka banyaklah yang dibawa keluar dari sana.

Hatta maka tanah-tanah yang belum takluk, yang duduknya pada timur residenan Padang Hulu, kurang diketahui orang keadaannya.

52. Residenan Riau (Riouw) dan Daerah Takluknya

Dengan mengecualikan ibu negerinya, maka residenan itu dibagi 5 bagian, yaitu: Tanjung Pinang, Lingga, Karimun, Batam, Indragiri dan Pulau Tujuh.

Adapun ibu negeri residenan itu, yaitu Tanjungpinang, duduknya di ujung tanah yang bernama demikian. Syahdan maka di pelabuhan negeri itu tiada dipungut bia (cukai). Adapun akan ujung tanah itu, yaitu Tanjung Pinang, pada masa ini hampir tersambung dengan pulau Bintan. Maka di negeri itu banyak orang Cina.

Syahdan di pulau Batam ada banyak kebun gambir dan kebun lada. Maka tempat duduknya Sultan di pulau Lingga; tanah-tanah yang diampukan Sultan itu, yaitu pulau-pulau Riau dan Lingga. Sesungguhnya Gubermen yang kuasa atas segala pulau-pulau Riau dan Lingga, akan tetapi kuasanya telah diserahkan kepada Sultan Lingga.

Syahdan pada pulau-pulau Karimun dan pulau Singkep itu banyak terdapat timah putih.

Maka pulau-pulau Tambelan, pulau Anambas dan pulau Natuna kuranglah pentingnya. Maka jalan kehidupan orang isi pulau-pulau itu, yaitu: mencari teripang, agar-agar dan terkadang-kadang merompak. Hatta tanah yang masuk juga bilangan residenan Riau itu, yaitu Tanah Indragiri, di pantai timur pulau Sumatra. Maka Rengat di tepi sungai Kuantan atau Indragiri, yaitu tempat kedudukan asisten residen.

53. Residenan Bangka

Adapun residenan itu dibagi 9 distrik.

Maka pulau itu tanahnya pada pihak barat rendah dan berpaya-paya, akan tetapi di daratnya berbukit-bukit. Maka di antara bukit-bukit itu, G. Maras 700 M. tingginya. Di sebelah utara ada teluk Kelabat. Syahdan di Bangka itu kuda lebih banyak dari dahulu sebab rumput yang baik dari seberang ditanam di situ. Akan tetapi, jika orang berjalan di pulau itu, biasanya bertandu atau berjalan kaki. Maka tanah pulau itu pun kurus; padi pun sedikit saja ditanamkan orang, sehingga beras dan lain-lain rezeki orang yang bekerja di tambang timah putih, dibawa dari seberang. Adapun timah itu terlampau banyak di pulau itu; maka pada tiap-tiap tahun adalah 80,000 hingga 100,000 pikul ditambang orang. Maka timah itu hampir tiada ada bangsa lain yang menggali dia, hanya orang Cina saja, yang menurut perintah insinyur tambang Gubermen.

Adapun timah itu diserupakan dengan jongkong, maka beratnya timah sejongkong itu setengah pikul, maka sekalian timah itu harus dijual oleh orang Cina kepada Gubermen dengan harga yang sudah ditentukan.

Syahdan maka negeri Mentok (Muntok), yaitu ibu negeri residenan Bangka itu, bandar yang ramai juga.

Adapun pulau Belitung itu asisten residenan yang berdiri atas sendirinya. Maka pulau itu pun berbukit-bukit seperti pulau Bangka, serta banyak mengeluarkan hasil timah putih, hampir setengah keluaran pulau Bangka dan lagi banyak besi, yang dicebak oleh anak negeri. Maka besi itu dijualnya bilang tuntung.

Tanjung Pandan, tempat duduk assistent-resident.

PULAU BERUNAI (BORNEO)

54. Rupanya, Luasnya, Isi Negerinya, Batas-Batasnya dan Bagiannya

Syahdan maka duduknya pulau Berunai itu sama dengan pulau Sumatra, yaitu dilintangi oleh khatulistiwa; maka sebagiannya di sebelah utara dan sebagiannya pula di sebelah selatan garis itu. Akan tetapi bangunnya berlainan dengan pulau Sumatra dan pulau Jawa. Adapun bangunnya itu, yaitu lebih bundar dan tiada banyak teluknya.

Pulau itu dengan pulau-pulau pada kelilingnya 13,000 mil Jerman luasnya.

Berapa kali lebih besar dari pada Tanah Jawa?

Maka isi negerinya yang di bawah perintah orang Belanda kira-kira 1 juta banyaknya.

Maka pulau itu dibatasi: di sebelah utara laut Cina dan laut Mindoro, di sebelah timur laut Celebes dan selat Makassar, di sebelah selatan laut Jawa dan di sebelah barat selat Karimata dan laut Cina.

Syahdan pulau Berunai itu tiada seluruhnya di bawah perintah Belanda, hanya 3/4 nya, yaitu:

residenan afdeeling Barat, ibu negerinya Pontianak;

residenan afdeeling Selatan dan Timur, ibu negerinya Banjarmasin.

Maka bagian pulau Berunai yang tiada di bawah perintah Belanda, inilah:

1. Tanah Serawak, ibu negeri Serawak atau Kucing.

Maka yang memerintahkan tanah itu seorang Inggris, Raja Brooke namanya.

2. Tanah Berunai, ibu negeri Berunai, di bawah perintah Sultan.

3. Tanah Berunai sebelah Utara, di dalam tangan suatu kompeni atau Kongsi Inggris, ibu negeri Sandakan.

Maka tanah yang tersebut di atas ini ketiganya di bawah perlindungan Raja Inggris dan jumlah isi negerinya kira-kira 1/2 juta banyaknya.

55. Keliling, Tanjung-Tanjung, Teluk-Teluk atau Pelabuhan dan Pulau-Pulau

Adapun pantai pulau Berunai itu rendah dan berpaya-paya, terlebih lagi pantai barat dan selatan.

Maka lautan yang membasahi pantai itu tohor, di situlah banyak gosong dan lanjau.

Maka teluk-teluknya pun tiadalah banyak dan kurang perlu disebutkan namanya, karena tiada barang suatupun yang melindungi dia. Bila kita berjalan menyusur pantai dari Tanjung Datu (Batas Tanah Gubermen pada pantai Barat) menuju ke utara, maka kita melalui berturut-turut:

Tg. Datu, Teluk Datu, Teluk Berunai, Tg. Simpang Mengayau, Teluk Maludu, Teluk Labuk, Teluk Sandakan, Tg. Unsang, Teluk Giong, Tg. Kaniungan, Tg. Mangkaliat, Teluk Pasir, Tg. Selatan, Pelabuhan Banjarmasin, Teluk Sampit dan Teluk Kumai, Tg. Sambar, Teluk Kelumpang, Pelabuhan Pontianak, Pelabuhan Sambas dan Tg. Batu Belah.

Maka pulau-pulau yang dekat pulau Berunai itu, inilah: pada pihak timur pp. Sulu (tiada di bawah perintah orang Belanda), p.p. Balabalagan, p. Laut, p. Sabuku dan pada pihak barat pp. Karimata. Maka segala pulau-pulau itu sekaliannya didiami orang.

56. Gunung-Gunung dan Tanah-Tanah

Bahwa keadaan pulau Berunai menurut kabarnya orang Eropa yang memeriksa pulau ini di tengah-tengah, sedikit tahun lalu, demikian: Beberapa barisan gunung (menuju) berjalan dari barat ke timur berganti-ganti dengan bukit-bukit dan tanah datar. Maka tanah datar itu dekat muara sungai-sungai terkadang berpaya adanya.

Maka gunung barisan yang menjadi batas antara Serawak dan residenan afdeeling Barat, Barisan Kapuas di atas namanya. Maka gunung-gunung di antara residenan afdeeling Barat dan residenan afdeeling Selatan dan Timur dinamai gunung Muller dan gunung Schwaner, menurut nama orang Eropa yang memeriksa gunung ini. Di kedua barisan gunung yang tersebut di atas ada beberapa puncak gunung bekas gunung api yang sudah padam apinya. Gunung yang amat tinggi, yaitu gunung Raya, di batas kedua residenan, tingginya 2278 M. di atas muka laut.

Di antara sungai Kapuas dan sungai Melawi ada tanah datar pegunungan, gunung Madi namanya.

Gunung-gunung di residenan afdeeling Selatan dan Timur belum sampai ketahuan; barisan gunung-gunung itu kebanyakan menuju ke timur.

Di Tanah Berunai sebelah utara (Inggris) ada gunung Kinibalu, tingginya 4300 M. di atas muka laut, yaitu hampir 700 M. lebih tinggi dari pada gunung Semeru di pulau Jawa.

57. Sungai-Sungai dan Danau-Danau

Adapun di antara pulau-pulau yang masuk bilangan Hindia Nederland, maka pulau Berunailah yang terbesar sungai-sungainya.

Tahukah engkau apa sebabnya?

Maka dari pada baris-baris gunung, yang disebutkan tadi, mengalirlah batang air terlampau banyak kepada segenap pihak, menuju ke laut. Maka jalan sungai-sungai itu melalui tanah datar yang luas itu; maka di sanalah airnya bertambah oleh air anak-anak sungai yang terlampau banyak, sehingga jadilah sungai yang besar.

Maka sungai-sungai itu, inilah:

Yang bermuara di sebelah barat: S. Sambas dan S. Kapuas atau S. Pontianak. Maka S. Pontianak itu datangnya dari timur laut, melalui antero residenan, menerima anak sungai Melawi di Sintang, lalu mengalir ke laut; maka kualanya yang dua itu melingkungi tanah delta. Maka tanah delta itu berpaya-paya keadaannya dan terbagi atas beberapa pulau. Maka sungai Kapuas itu di musim hujan dapat dijalani perahu sampai Bungut.

Yang bermuara di laut Jawa: S. Kotaringin, S. Pembuang, S. Sampit, S. Mendawai atau Katingan, S. Kahayan atau Dayak Kecil, S. Kapuas Murung atau Dayak Besar, dan S. Barito atau S. Banjarmasin, yaitu sungai yang terbesar di pulau Berunai.

Sungai Kween di Banjarmasin (Borneo).

Maka sungai itu pun dua kualanya yang melingkungi sebuah tanah delta; di kualanya lebarnya hampir satu Kilometer; maka sungai itu dapat dijalani kapal yang besar-besar jauh ke darat hingga Muara Tewe. Maka anak S. Barito yang terutama, yaitu: S. Tewe, S. Negara dan S. Martapura; maka sekalian anak sungai itu dapat dijalani perahu.

Yang bermuara di pantai timur:

S. Pasir, S. Kutai atau Makaham, S. Kuran atau Berau dan S. Kayau atau Bulungan.

Yang bermuara di pantai barat laut :

S. Rejang dan Batang Lupar.

Syahdan di pulau Berunai itu dekat-dekat sungai-sungai adalah parit, yaitu seolah-olah jalan pintas, yang memintas suatu beliku. Maka parit-parit itu ada yang diperbuat orang dan ada yang jadi sendiri. Maka namanya dengan bahasa orang di situ Antasan atau Putasan. Adapun akan beliku, yang seolah-olah tercerai dari pada sungai itu oleh parit-parit yang tersebut, kadang-kadang menjadi paya atau danau. Maka danau-danau yang begitu jadinya, inilah :

D. Semayang, dekat S. Kutai; D. Luar di Tanah Batang Lupar dan lain-lain.

58. Hawa, Hasil, Pencaharian dan Isi Negeri

Adapun keadaan hawa di pulau Berunai itu sama dengan di Sumatra; di tempat-tempat yang rendah, yaitu di pantai laut, hawa itu basah dan tiada berapa panasnya, karena senantiasa ada angin laut dan angin darat bertiup berganti-ganti.

Bermula di tanah pulau Berunai itu banyak terdapat barang tambang, umpamanya : emas dan tembaga terdapat di afdeeling Barat; batu arang di afdeeling Selatan dan Timur dan di Labuhan; dan lagi emas putih, air raksa, timah putih, besi dan lain-lain logam dan garam batu.

Pandai besi.

Adapun tanah pulau Berunai itu baik adanya; akan tetapi hal pengusahaan tanah di situ belum jadi, sebab isi negerinya pulau itu terlampau sedikit dan hutan rimbanya terlalu banyak. Maka barang perniagaan yang terutama yang keluar dari pulau itu, inilah : kajang, pedang dan keris dari Negara, kahwa, kapas, kayu besi atau kayu pindis, getah perca, damar, rotan, minyak pohon, lilin dan sebagainya.

Perkelahian orang Dayak dengan orang hutan.

Maka binatang buas yang besar-besar jarang terdapat di pulau Berunai itu, yang terdapat hanya gajah di teluk Giyong dan badak di hulu sungai Kutai dan Rejang, beruang bangsanya seperti yang ada di Sumatra, banteng, orang hutan (mawas) dan berjenis-jenis kera yang lain-lain, rusa, lebah, burung yang sarangnya dimakan orang, ikan berjenis-jenis dan sebagainya.

Adapun anak negeri di pulau Berunai itu, yaitu bangsa Dayak: maka mereka itu banyak bersamaan dengan bangsa Batak di pulau Sumatra; kedua bangsa itu pun lebih putih kulitnya dari pada orang Melayu dan orang Jawa. Adapun bangsa Dayak itu terbagi atas beberapa bangsa. Sesungguhnya ia lagi biadab; kebanyakan dari padanya suka mengayau dan ada juga yang suka memakan orang. Maka bangsa Dayak di afdeeling Barat mendiami rumah besar-besar, yang didirikan di atas beberapa pancang; dan pada keliling rumah itu kebanyakan yang dipagari cerucuk kayu besi. Maka adalah juga beberapa bangsa Dayak, yang pandai melebur besi dan menempa rupa-rupa senjata. Maka isi negeri yang mendiami pesisir pulau itu, yaitu asalnya keturunan orang Melayu, orang Hindu dari Tanah Jawa dan orang Bugis. Maka oleh mereka itu ditaklukkannya anak negeri yang diam sepanjang pesisir itu, serta dibangunnya beberapa kerajaan kecil-kecil.

Hatta telah beberapa lamanya di pulau Berunai itu banyak orang Cina, yang diam di afdeeling Sambas dan Montrado; kebanyakan berusaha mencari atau menggali emas.

59. Residenan Afdeeling Barat

Adapun residenan itu terbagi atas 9 afdeeling. Maka tiga buah masing-masing diperintahkan oleh asisten residen, yaitu:

Pontianak, Sambas dan Sintang.

Kampung orang Dayak.

Jambatan orang Dayak.

Maka ibu negeri residenan itu, yaitu Pontianak (21,000 jiwa), tempatnya indah, duduknya sebelah menyebelah sungai Kapuas, di khatulistiwa. Maka negeri itu bandar yang ramai juga, di situ ada benteng sebuah dan istana Sultan, yang terbuat dari pada besi. Maka istana itu dikelilingi dengan tembok. Maka rumah ambtenaar-ambtenaar terbuat dari pada kayu beratapkan sirap. Sambas, di tepi sungai yang bernama demikian, tempat duduk Sultan.

Negeri Sintang, tempatnya di tepi sungai Kapuas juga, akan tetapi di sebelah udik. Maka kebanyakan rumah didirikan orang di atas rakit dalam sungai.

60. Residenan Afdeeling Selatan dan Timur

Adapun residenan itu terbagi atas 8 afdeeling, yaitu: Banjarmasin dan tanah-tanah sekelilingnya, Amuntai, Martapura, Tanah-Tanah Dusun (ibu negerinya Muara Tewe), Tanah-Tanah Dayak (ibu negerinya Kuala Kapuas), Sampit (Contr.), Tanah Bumbu (ibu negerinya Kotabaru, Contr.) dan Kutai dengan pantai timur (ibu negerinya Samarinda).

Adapun Banjarmasin (jiwanya 52,000), yaitu ibu negeri residenan, bandar yang ramai letaknya pada S. Martapura; di pulau Tatas adalah sebuah tangsi serupa benteng. Oleh karena tanah negeri itu sama dengan tanah negeri Pontianak, yaitu berlumpur dan air sungai pun naik turun, maka rumah-rumah di negeri itu pun rumah panggung belaka, kebanyakan diperbuat dari pada kayu besi, beratapkan sirap. Jika orang hendak berjalan di negeri itu, kebanyakan berperahu saja, karena di situ hampir tiada ada kereta atau kahar. Negeri Martapura duduknya pada tepi S. Martapura juga, maka di situ adalah tempat orang menyerudi intan. Negeri Marabahan di muara sungai Bahan, bandar yang ramai.

Negeri Amuntai, pasarnya ramai. Maka orang isi negeri afdeeling Amuntai itu berbagai-bagai bangsa. Adalah ia lebih beradab dari pada isi afdeeling yang lain-lain. Maka jalan kehidupan mereka itu, yaitu berniaga dan mengusahakan tanah. Maka adalah ia terlampau pandai membuat bedil, lela dan sebagainya, perahu, piring, mangkuk dan lain-lain. Negara, yaitu tempat orang membuat kapal dan perkakas dari pada besi dan tembaga.

Negeri Samarinda; maka tempat itu baik akan didiami, karena tiada banyak penyakit.

Maka barang-barang yang dibawa keluar dari negeri itu, yaitu rotan, getah dan lilin. Maka dekat negeri itu terdapat tambang batu arang dan minyak tanah. Tenggarong, tempat kedudukan Sultan.

PULAU CELEBES

61. Rupa, Luas, Isi Negeri, Batas-Batas dan Bagian

Adapun pulau Celebes itu berdiri atas empat buah jazirah, yang menganjur dari pusat pulau itu. Maka jazirah yang sebelah utara serupa busur; hanya jazirah itulah duduknya di sebelah utara khatulistiwa. Adapun pulau Celebes itu 3,300 mil Jerman luasnya, dan isi negerinya kira-kira 1 1/2 juta banyaknya.

Adapun pulau Celebes itu berbatasan di sebelah utara dengan laut Celebes, di sebelah timur dengan laut Maluku, di sebelah selatan dengan laut Flores, dan di sebelah barat dengan selat Makassar. Maka sekalian laut itu amat dalam.

Bermula maka pulau itu terbagi seperti tersebut di bawah ini:

1. Gubermen Celebes dengan daerah takluknya, yang terbagi pula atas:

a. Tanah-tanah Gubermen.

b. Kerajaan yang di bawah perintah Gubermen.

c. Kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen.

d. Tanah Toraja, yang belum ketahuan keadaannya.

Maka tanah-tanah yang masuk juga bilangan Tanah Gubermen yang tersebut itu, yaitu pulau Sumbawa dan bagian pulau Flores yang sebelah barat.

2. Residenan Menado.

3. Pesisir Teluk Tomaiki, yaitu jajahan residenan Ternate.

62. Teluk-Teluk atau Pelabuhan, Tanjung-Tanjung, dan Pulau-Pulau

Adapun empat buah jazirah, yang menjadikan pulau Celebes itu, melingkung pada pihak barat tiga buah teluk yang besar, yaitu:

Teluk Tomini atau Gorontalo.

Teluk Tomaiki atau Tolo.

Teluk Bone

Dari ujung utara ke barat terdapatlah berturut-turut: Tg. Torawitan, Tel. Menado, Tel. Amurang, Tg. Dondo, Tel. Tontoli, Tel. Palu, Tg. William, Tel. Mandar dan Pelabuhan Pare-pare.

Dan lagi di pantai Selatan:

Tel. Laikang, Tel. Malasoro, dan Tg. Lasowa atau Bulukumba.

Maka pulau-pulau yang terutama yang dekat-dekat pulau Celebes itu, inilah:

Di sebelah utara: Pp. Sangi dan Talaur.

Di sebelah timur: Pp. Togian di teluk Tomini, Pp. Banggai dan Sula, (yaitu yang masuk bilangan jajahan Ternate).

Di sebelah Selatan: P. Butung, P. Muna, P. Kabaena dan P. Selayar atau Silaraya.

Di sebelah barat: Pp. Spermonde.

63. Gunung-Gunung, Sungai-Sungai dan Danau-Danau

Adapun tengahnya pulau Celebes dan jazirah empat buah yang tersebut tadi itu sekaliannya bergunung-gunung keadaannya. Sungguhpun keadaan gunung-gunung di Celebes itu belum diketahui orang dengan sebenarnya, tetapi telah diketahui juga bahwa di tengah-tengah pulau itu tiada gunung yang berapi, akan tetapi gunung-gunung di sebelah selatan dan di tanah Minahasa berapi adanya, tandanya di kelilingnya danau Tondano banyak gunung yang ada kawahnya, lagi pula air panas dan mata air yang mengeluarkan air lumpur.

Kalau dibandingkan dengan gunung-gunung di Tanah Jawa, maka gunung-gunung di pulau Celebes kurang tinggi adanya.

Maka puncak-puncaknya yang tertinggi inilah:

Di bagian Tanah Minahasa yang sebelah utara:

G. Klabat (6000 kaki), G. Lokon, G. Soputan (lagi berapi keduanya) dan G. Dua Sudara.

Di sebelah selatan: G. Bantaeng atau Lompo Batang (tingginya 9,700 kaki) dan G. Maros atau Bulu Sarung.

Adapun pegunungan di Celebes itu kebanyakan berhutan belaka, akan tetapi hutan-hutan itu tiada selebat hutan-hutan di pulau Jawa dan di pulau Sumatra.

Syahdan sungai-sungai di pulau itu pun tiada banyak, lagi pendek-pendek, dari sebab pulau itu sempit adanya.

Maka sungai-sungai yang terbesar inilah:

Pada jazirah yang sebelah utara: S. Ranoyapo, yang mengalir ke teluk Amurang; S. Menado yang keluar dari danau Tondano. Maka sungai itu sebagiannya dapat dijalani perahu. Danau Tondano yang indah rupanya, tingginya 700 M. di atas muka laut, panjangnya 10 pal dan lebarnya 2 pal, maka ikan banyak di dalam danau itu.

Pada pantai Barat: S. Sadang, kira-kira sama besarnya dengan S. Solo di Tanah Jawa. Maka hulu sungai itu di tengah-tengah pulau Celebes dan mengalir ke sebelah utara teluk Parepare, di selat Makassar. Maka S. Palu, pada pihak utara S. Sadang itu, mengalir ke teluk yang bernama demikian. S. Gowa, di sebelah barat daya.

Pada pantai timur: S. Cenrana dan Bahu Solo.

Hatta maka danau-danau di pulau Celebes itu besar juga. Lain dari pada danau Tondano dan Limboto di residenan Menado dan danau Tempe atau Tamparang Labaya, masyhurlah lagi danau Poso, danau Matano dan danau Towuti. Sekalian danau itu pun tingginya 300 M di atas muka laut dan amat dalam airnya.

64. Hawa, Hasil, Isi Negeri dan Pencaharian

Adapun hawa di pulau itu dapat dikatakan baik adanya, sebab pantai pulau itu tiada berpaya-paya. Maka hawa pulau itu panas adanya dari pada hawa pulau-pulau yang sebelah barat pulau Celebes itu. Maka bagian yang sebelah selatan pulau itu musim kemaraunya 7 atau 8 bulan lamanya.

Babi rusa.

Bermula hasil tambang yang terdapat di pulau Celebes itu kurang banyak dari pada hasil tambang di pulau Berunai; maka yang didapati orang di sana hanya emas pada jazirah yang sebelah utara. Maka adalah di sana berjenis-jenis pohon kayu; kayunya amat baik akan diperbuat rumah dan berbagai-bagai perkakas, umpamanya: kayu cendana, kayu sepang dan kayu besi atau kayu pindis. Dan lagi di pulau itu adalah berjenis-jenis pohon yang ditanam orang, umpamanya pohon nyiur, pohon enau, pohon rumbia terlalu banyak; maka daun pohon itu dipakai akan atap rumah. Lagi pula kahwa, padi, kapas, cokelat dan pala.

Syahdan di antara binatang yang terdapat di pulau Celebes itu maka kudalah, yaitu kuda Makassar, yang dibawa orang ke Tanah Jawa. Maka binatang yang buas dan binatang yang besar tiadalah terdapat di pulau itu. Hanya didapati orang di pulau itu babi rusa dan sebangsa sapi hutan, tanduknya serupa kambing. Maka lautan sekeliling pulau itu menghasilkan terlampau banyak ikan, penyu, indung mutiara dan teripang.

Adapun anak negeri pulau Celebes bangsa Melayu, terbagi lagi tiga bangsa yaitu: bangsa Alifuru, bangsa Bugis dan bangsa Makassar. Maka tiap-tiap bangsa itu adalah bahasanya sendiri.

Maka bangsa Alifuru itu mendiami jazirah-jazirah yang sebelah utara dan timur, bangsa Bugis atau orang Bone dan bangsa Makassar menduduki sebagian pantai barat dan selatan.

Adapun bangsa Alifuru itu banyak bersamaan dengan bangsa Batak. Maka bangsa Alifuru yang diam di Tanah Minahasa, yaitu sebagian residenan Menado, hampir semuanya telah mengaku agama nasrani (serani) dan pada masa ini adalah ia lebih beradab dari pada bangsa-bangsa yang lain.

Hatta jalan kehidupan bangsa Alifuru yang terutama, yaitu pekerjaan tanam menanam. Lain dari pada pencahariannya itu menenun, bekerja di tambang, menjadi pandai emas dan pandai besi.

Adapun bangsa Bugis dan bangsa Makassar banyak bersamaan dengan orang Melayu; maka mereka itu terlalu pandai memakai bedil dan tabiatnya suka berperang. Maka mereka itu lebih suka berniaga, menangkap ikan dan berlayar dari pada berladang dan berkebun. Hatta maka adalah pula suatu bangsa orang, yang disebut orang Wajo, yaitu orang pelayaran yang terlampau berani; senantiasa ia berkeliling pulau-pulau Maluku itu dengan perahu yang kecil dan terkadang-kadang ia sampai juga ke Australia dan Singapura.

65. Gubermen Celebes dan Daerah Takluknya

Adapun Tanah-Tanah Gubermen itu terbagi atas 9 afdeeling, yaitu:

1. Makassar (ibu negerinya Makassar atau Makasser) dan onderafd. Tallo, ibu negerinya Parangloe.

2. Distrik-distrik Utara, ibu negerinya Maros (Ass. res.)

3. Distrik-distrik Timur, ibu negerinya Sinjai (Ass. res.).

4. Distrik-distrik Selatan, ibu negerinya Bantaeng (Ass. resident).

5. Takalar ibu negerinya Takalar (contr.).

6. Selayar (Silaraya)ibu negerinya Selayar (contr.).

7. Bima (Sumbawa) ibu negerinya Bima (Civ. gez.).

8. Tontoli ibu negerinya Labuhan Dedeh (Civ. gez.).

9. Teluk Palu ibu negerinya Donggala (Civ. gez.).

Maka bandar Makassar itu tempat duduk Gubernur. Isi negeri itu 21,000 banyaknya.

Maka sebagian negeri itu bangunnya cara negeri Betawi lama. Maka di situlah kebanyakan orang putih diam. Maka negeri itu, baik dari pada sebelah laut, baik dari pada sebelah darat, terlindung oleh benteng-benteng.

Adapun isi negeri itu pencahariannya menangkap ikan, menjadi kelasi, membuat kapal dan membuat senjata. Maka minyak Makassar itu masyhurlah.

Bantaeng dan Bulukumba, bandar yang ramai.

Maka kerajaan yang di bawah perintah Gubermen, inilah; Bone dengan Lamuru dan Tanette.

Maka di antara kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen: kerajaan Gowa, Sopeng dan Aja Taparang, itulah yang terutama.

Maka kerajaan-kerajaan yang belum beperjanjian atau bersahabatan dengan Gubermen, yaitu: Tanah orang Toraja, di tengah-tengah pulau itu.

Adapun pulau Sumbawa masuk bilangan kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen. Pulau ini tanahnya bergunung-gunung, maka di antara gunung-gunung itu adalah yang berapi. Maka dari pada gunung-gunung itu yang tertinggi G. Tambora, yang masyhur oleh letusnya pada tahun 1815. Pulau Sumbawa itu mengeluarkan kuda dan kayu sepang. Di Bima, yaitu kerajaan yang bernama demikian, negeri duduknya di pantai timur, adalah seorang Controleur.

Syahdan raja-raja di kerajaan yang di bawah perintah Gubermen diangkat dengan musyawarat Gubermen Hindia Nederland. Di kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen tiadalah demikian; maka raja-raja di situ pada masa ia baru naik takhta kerajaan, menaruh tanda tangannya di bawah surat perjanjiannya dengan Gubermen.

Ada juga yang menghadap Gubernur di Makassar akan ditetapkan kerajaannya.

Hatta kerajaan yang belum beperjanjian dengan Gubermen itu terpandang seperti tanah yang belum takluk adanya.

66. Residenan Menado

Adapun residenan ini terbagi demikian: Tanah Minahasa, afdeeling Gorontalo, Buol, (ibu negeri Palele, Teluk Tomini (ibu negeri Poso), dan pp. Sangi dan pp. Talaud.

Adapun Tanah Minahasa itu, yaitu bagian residenan Menado yang terutama, terbagi atas 3 afdeeling: Menado, Tondano dan Amurang; maka tiap-tiap afdeeling itu di bawah perintah seorang Controleur.

Menado, bandar yang ramai, dengan benteng Nieuw-Amsterdam. Maka barang perniagaan yang keluar dari negeri itu, yaitu: kahwa Menado yang termasyhur, kopra dan pala.

Amurang dan Kema, bandar yang ramai juga. Tondano, tempat hawanya segar, pada pihak utara danau yang bernama demikian. Maka di situ ada sebuah sekolah bumiputra, murid sekolah itu akan jadi ambtenaar (pegawai Gubermen). Taruna, di pulau Sangi besar, tempat kediaman Controleur yang memerintahkan p.p. Sangi dan Talaud. Maka isi negeri pulau-pulau itu jumlahnya kurang lebih 100,000 dan yang kebanyakan beragama Nasrani.

Maka pada tahun masehi 1892 pulau Sangi besar itu binasalah oleh sebab letus Gunung Awu di pulau itu. Maka tatkala itu hampir 2,000 orang mati oleh abu panas.

Adapun di Minahasa dan di pulau-pulau Sangi dan Talaud itu adalah lebih dari pada 200 buah sekolah, yang didirikan oleh tuan-tuan pendeta dan paderi dan oleh Gubermen.

Rumah-rumah orang isi negeri di tanah Minahasa dari pada kayu dan berpanggung dan lebih baik dari pada rumah di tanah Jawa. Ibu negeri distrik-distrik sekalian terhubung oleh jalan-jalan yang baik, yang dapat dijalani kereta.

Maka di bandar-bandar di residenan ini bea pun tiada dipungut. Adapun rezeki orang Minahasa yang terutama, yaitu padi dan jagung. Maka jikalau kurang makanan itu, baru dimakannya sagu. Maka yang diminum orang sehari-hari di residenan ini dan di pulau-pulau Maluku, yaitu tuak (saguer), baik yang manis, baik yang keras.

Gorontalo, bandar yang ramai; barang yang keluar dari situ, yaitu: kain Gorontalo, damar dan rotan. Poso, di sebelah utara danau yang demikian namanya, tempat kediaman Controleur dan pendeta Nasrani.

PULAU-PULAU MALUKU DENGAN PULAU-PULAU PAPUA DAN TANAH NIEUW-GUINEA

YAITU YANG MENJADIKAN RESIDENAN AMBON DAN RESIDENAN TERNATE

67. Residenan Ambon

Duduknya, Pulau-Pulaunya, Luasnya dan Bagiannya

Adapun residenan itu berbatasan di sebelah utara dengan res. Ternate, di sebelah timur dengan tanah Nieuw-Guinea, di sebelah selatan dengan p. Timor dan laut Timor, di sebelah barat dengan laut Maluku.

Maka pulau-pulau yang terutama inilah:

P. Ambon, p. Haruku, p. Saparua, Nusalaut, p. Buru, p. Seram atau Serang, pp. Banda, pp. Barat Daya (maka di antaranya pp. Wetar dan Babar yang terutama), pp. Tenggara (yaitu: pp. Aru, pp. Kei dan pp. Tanimbar atau Timor Laut).

Sekolah anak bangsa di Tondano, dahulu rumah kepala district.

Maka adalah luas pulau-pulau itu sekaliannya 890 mil Jerman dan isi negerinya hampir 300,000 jiwa banyaknya.

Hatta maka residenan Ambon itu terbagi atas 9 afdeeling; maka yang terutama inilah:

Ambon, Saparua, Wahai (di pulau Seram), pp. Aru-, Kei-, Tanimbar, Barat Daya, (ibu negerinya Tual di pp. Kei) dan Banda.

Maka yang memegang perintah di afdeeling Banda itu, yaitu seorang Asisten Residen.

68. Khasiat Tanah, Hasil dan Isi Negeri

Bermula segala pulau-pulau itu kebanyakan tanahnya bergunung-gunung; maka di antara gunung-gunung itu ada yang berapi dan ada yang berapi pada masa dahulu, akan tetapi sekarang sudah padam atau mati. Sungguhpun gunung-gunung itu tiada berapa tingginya, akan tetapi di antara gunung itu ada sebuah yang sampai 7,000 kaki, yaitu: G. Tomahu di pulau Buru.

Cengkih.

Buah pala.

Syahdan sungai-sungai di pulau-pulau itu sekaliannya pendek-pendek dan pada musim kemarau airnya kering; maka oleh sebab itu kuranglah gunanya bagi perusahaan tanah.

Memukul sagu.

Sesungguhnya pulau-pulau Maluku itu tanahnya kurang gemuk dari pada pulau-pulau Sunda Besar, serta kurang baik akan ditanami padi. Maka hasil yang keluar dari pulau-pulau itu terutama inilah: sagu, yaitu makanan isi negeri yang terutama, nyiur, bunga lawang atau cengkih, bunga pala, buah pala, cokelat, kapas, minyak kayu putih dan kayu besi atau kayu pindis.

Maka ikan di laut pun banyak, lagi pula penyu, teripang dan ikan paus.

Adapun anak negeri pulau-pulau itu, asalnya bangsa Alifuru tercampur dengan bangsa Papua. Maka bahasa orang Ambon itu, yaitu bahasa Melayu kacukan.

Maka pulau itu terjadi oleh dua jazirah, Hitu dan Leitimur. Maka kedua jazirah itu terhubung oleh genting tanah Baguala, yang lebarnya hanya perjalanan 10 menit sahaja. Pulau Ambon itu bergunung-gunung; puncak-puncak yang tertinggi itu gunung Salhutu (1200 kaki) dan gunung Wanani (1,100 kaki). Maka isi negeri pulau itu 30,000 banyaknya; kebanyakan dari pada mereka itu beragama masehi.

Maka negeri Ambon, yaitu ibu negeri, duduknya pada pelabuhan di jazirah Leitimur. Pada masa tahun 1898 maka negeri Ambon binasalah oleh gempa bumi. Adapun di pelabuhan Ambon itu, bea dan cukai tiada dipungut; maka banyaklah orang datang berniaga dari pulau-pulau sekeliling pulau Ambon itu ke situ. Maka di negeri itu ada sebuah benteng dan sekolah, muridnya akan jadi guru. Pulau Ceram atau Serang bergunung-gunung juga; ada barisan gunung dari barat menuju ke timur. Di sebelah barat teluk Tanuno atau Piru yang masuk jauh dalam tanah. Negeri Amahei, di tepi teluk Elpaputih, pada tahun 1899 binasalah oleh gempa bumi. Di pulau Buru ada gunung Tomahu tingginya 2,500 M atau 7,800 kaki lebih. Tiada jauh dari gunung ini ada danau Wahakolo 1,100 M di atas muka laut. Maka kehasilan terutama dibawa keluar dari pulau Buru, yaitu minyak kayu putih.

Hatta ada sebuah negeri di pulau-pulau Aru bernama Dobo; maka di tempat itu pada musim kemarau terlalu ramai orang berniaga. Apabila musim hujan datanglah beberapa saudagar dari Seram, Celebes dan juga dari tanah Jawa ke tempat itu akan membeli barang-barang perniagaan tadi, misalnya: mutiara, teripang dan kulit burung Dewata atau Cenderawasih.

Maka pulau-pulau Banda, hasil keluarannya tiada lain hanya pala. Maka pohon pala itu ditanam orang di pulau Neira, di pulau Lontor dan di pulau Ai. Adapun pulau Gunung Api itu tiada lain melainkan gunung api sebuah. Maka pulau ini tiada didiami orang, hanya kadang-kadang ada juga orang yang singgah di sana.

Maka di pulau Rosengein ada kebun jati Gubermen. Maka pulau Pisang pada masa dahulu menjadi tempat orang yang sakit kusta dari pada beberapa tempat di residenan Ambon itu. Maka isi negeri sekalian pulau-pulau yang tersebut itu tiada lebih dari pada 3,000 orang. Maka di antara itu adalah kira-kira 800 orang Eropa dan yang lain yaitu orang Cina dan orang negeri dari pada berbagai-bagai bangsa.

Ibu negeri Banda Neira atau Nera, duduknya di pulau yang bernama demikian.

69. Residenan Ternate

Duduknya, Pulau-Pulaunya, Luasnya, dan Isi Negerinya

Adapun residenan ini dibagi dua bagian:

Tanah-Tanah Gubermen dan kerajaan Ternate, Tidore dan Bacan yang di bawah perintah Gubermen.

Adapun Tanah Gubermen itu, yaitu: beberapa jajahan kecil di pesisir pulau Ternate dan Bacan, dan pp. Obi.

Maka jajahan Sultan Ternate, yaitu: pp. Ternate, bagian p. Halmahera yang sebelah utara dan selatan, p. Morotai, pp. Sula, pp. Banggai dan Pesisir pulau Celebes yang sebelah timur.

Maka jajahan Sultan Tidore, yaitu: p. Tidore, sebagian p. Halmahera yaitu di tengah-tengah, pp. Waigeo dan pp. Misool, bagian Tanah Nieuw-Guinea yang sebelah barat laut (hingga 141° B.T.), dan pulau-pulau di teluk Geelvink dan p. Prins Frederik Hendrik.

Maka jajahan Sultan Bacan, yaitu: p. Bacan dan beberapa perhimpunan pulau kecil-kecil.

Adapun residenan Ternate itu tentang luasnya menjadi residenan yang terbesar di Hindia Nederland ini; maka luasnya itu, yaitu 8,300 mil Jerman; isi negerinya hanya kira-kira 100,000 banyaknya kecuali Nieuw-Guinea, yang tiada ketahuan banyaknya isi negeri.

Maka hasil yang keluar dari residenan itu sama saja dengan hasil pulau-pulau, yang masuk bilangan residenan Ambon. Maka di antara isi negerinya, jika pada bangsa terlebih biadab sekalipun, terdapat pandai besi dan penjunan dan lain-lain tukang-tukang yang pandai.

Hatta pulau Ternate itu tiada lain hanya sebuah gunung api sahaja. Maka pulau itu kerap kali binasa oleh gempa bumi.

Adapun Ternate, yaitu ibu negeri di sebelah timur pulau itu, pada kaki gunung berapi yang tersebut. Maka negeri itu tempat duduk Residen dan Sultan dan ada sebuah benteng. Maka orang Ternate perbuatannya barang-barang dari pada kulit mutiara indah juga.

Maka pulau Tidore itu pun tanahnya yang kebanyakan bergunung-gunung. Maka pulau itu tempat duduk Sultan. Maka adalah pulau itu makmur dari pada pulau Ternate.

Syahdan pulau Bacan itu lebih besar dari pada p. Ternate dan p. Tidore dan tanahnya pun lebih gemuk.

Maka di pulau itu terdapat juga batu arang, emas dan tembaga.

Syahdan pulau-pulau Papua duduknya di antara p. Halmahera, p. Seram dan Tanah Nieuw-Guinea.

Adapun Tanah Nieuw-Guinea itu tentang keadaannya banyak juga yang belum diketahui orang.

Maka di Tanah Nieuw-Guinea itu adalah gunung barisan, maka tingginya lebih dari pada sekalian gunung di Hindia Nederland ini dan beberapa dari pada puncaknya dikira 16,000 kaki tingginya.

Maka bagiannya yang tertinggi itu dinamai orang Pegunungan Salju. Maka sungai yang terbesar di T. Nieuw-Guinea yang di bawah perintah Gubermen itu, yaitu sungai Mamberamo. Maka sungai itu hulunya di pegunungan yang tersebut tadi itu dan kualanya di pantai utara. Maka T. Nieuw-Guinea itu mengeluarkan hasil: kulit burung Dewata, Sopu Raja atau Cenderawasih, masoi (kulit tija, yaitu kayu manis), indung mutiara dan teripang.

Hatta maka anak negeri T. Nieuw-Guinea itu, yaitu bangsa Papua; rambutnya keriting dan kulitnya hitam seperti orang Afrika. Maka mereka itu terlampau biadab sekali. Adalah beberapa bangsa dari padanya, yang kulit tubuhnya ditulisnya atau disapukannya tanah merah, lagi pula kebanyakan mereka itu pun masih suka memakan orang. Pada beberapa tempat mayat orang ditaruhnya diasap supaya tiada busuk. Maka sebagian sebelah timur laut Tanah Nieuw-Guinea itu di bawah perlindungan kerajaan Jerman, dan sebagian sebelah tenggara itu di bawah perintah orang Inggris.

Beberapa tahun lalu pulau Nieuw-Guinea (bagian Hindia Nederland) dibagi 3 asisten residenan yaitu:

Nieuw-Guinea sebelah Utara, ibu negeri Manokwari,

Nieuw-Guinea sebelah Barat, ibu negeri Fakfak, dan

Nieuw-Guinea sebelah Selatan, ibu negeri Merauke,

di tepi sungai yang bernama demikian. Maka Nieuw-Guinea sebelah selatan menjadi asisten residenan sendiri, seperti pulau Belitung; batasnya asisten residenan ini di sebelah utara Tanjung Steenboom dan di sebelah selatan sungai Bensbach, yang menjadi juga batas antara tanah Hindia Nederland dan tanah Inggris di Nieuw-Guinea.

70. Pulau-pulau Sunda Kecil

Adapun pulau-pulau Sunda Kecil itu, yaitu pulau-pulau yang duduk di antara Tanah Jawa dan pulau-pulau Barat Daya, serta tercerai dari pulau Celebes oleh laut Sunda. Maka namanya inilah:

P. Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, pp. Solor, pp. Alor, p. Timor, Rote, Sabu dan Sumba.

Selat-selat yang manakah menceraikan segala pulau-pulau itu?

Maka pulau-pulau itu masuk bilangan jajahan tiga buah residenan. Semenjak tahun 1882 maka kedua buah pulau yang tersebut pertama itu menjadikan Residenan Bali dan Lombok.

Pulau Sumbawa dan bagian pulau Flores yang sebelah barat masuk bilangan Gubermen Celebes dengan daerah takluknya, dan pulau-pulau yang lain itu menjadikan residenan Timor.

71. Residenan Bali dan Lombok

Adapun pulau Bali itu tentang isi negerinya sama dengan pulau Lombok, yaitu banyak juga. Maka kedua buah pulau itu tanahnya bergunung-gunung; maka di antara gunung-gunung itu ada juga yang berapi seperti di Tanah Jawa. Maka gunung Agung di pulau Bali tingginya 11,000 kaki. Dan di pulau Lombok pun ada gunung yang tingginya sampai 12,000 kaki, yaitu G. Rinjani, yang sudah padam apinya.

Hatta maka sungai-sungai di pulau Bali itu kecil-kecil, akan tetapi amat berguna bagi pengusahaan tanah. Maka pulau itu gemuk tanahnya; hasilnya padi terlampau banyak sehingga separuhnya dari pada itu, yaitu yang tiada berhajat lagi kepada isi negeri, dijual ke seberang.

Lain dari pada padi itu ada pula perniagaan yang keluar, yaitu terutama, kuda, lembu, kahwa dan minyak nyiur. Syahdan kebanyakan orang Bali mengaku agama Hindu, yaitu agama orang Jawa masa dahulu.

Maka orang Bali itu terbagi beberapa pangkat, seperti orang Jawa pada masa dahulu.

Residenan ini dibagi tanah-tanah Gubermen dan kerajaan-kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen.

Tanah Gubermen dibagi 3 afdeeling, yaitu:

Buleleng, ibu negeri Singaraja,

Jembrana, ibu negeri Negara, dan

Lombok, ibu negeri Mataram (ass.-res.).

Kerajaan Karangasem dan Gianyar diperintah oleh wakil raja di atas nama Gubermen.

Kerajaan-kerajaan yang beperjanjian dengan Gubermen yaitu:

Klungkung, Bangli, Badung (ibu negeri Denpasar) dan Tabanan.

Rumah dewa (pura) di Bali.

Kampung dekat Singaraja.

Adapun tuan Residen bersemayam di Singaraja, yang jauhnya dua pal arah ke selatan dari Buleleng. Negeri Buleleng itu tempat ramai orang berniaga, dan letaknya dekat pantai laut. Maka rumah orang Bali itu dibangunkan dari pada tanah liat, dan pada keliling halamannya berdinding tanah liat juga. Di Negara, yaitu ibu negeri Afdeeling Jembrana, tempat duduk Controleur.

Adapun pulau Lombok itu tanahnya gemuk. Maka tiap-tiap tahun adalah 16,000 pikul padi yang keluar dari pulau itu. Maka setelah kerajaan Lombok ditaklukkan dan diperintahkan oleh Gubermen, maka lebih dahulu Ampenan dan sekarang Mataram dijadikan tempat kedudukan Asisstent Resident.

72. Residenan Timor

Adapun pulau-pulau yang menjadikan residenan Timor itu, yaitu: p. Timor, pp. Alor, p. Flores sebelah timur, p. Sumba, p. Sabu dan p. Rote. Laut yang sebelah barat pulau Timor itu dinamai Laut Sabu; yang sebelah timur dinamai Laut Timor. Maka batas bagian pulau Timor yang sebelah barat daya atau bagian yang di bawah hukum Maharaja Belanda dan bagiannya yang sebelah timur laut atau bagian yang di bawah hukum orang Portugis, jalannya pada sama tengah pulau itu.

Hatta di pulau Timor itu adalah gunung barisan; maka puncaknya yang tertinggi itu, yaitu Gunung Alas atau Atapupu namanya.

Maka di pulau Timor itu pada musim kemarau beberapa bulan lamanya tiada turun-turun hujan, sehingga pokok kayu dan tumbuh-tumbuhan dan rumput sekalian seperti mati rupanya; akan tetapi pada musim hujan sekaliannya itu dengan cepat menjadi subur pula. Maka hasil pulau-pulau yang masuk bilangan residenan Timor itu, yaitu: padi yang banyak ditanam di pulau Rote, kayu yang baik

Orang Timor.

berjenis-jenis, umpamanya kayu besi dan kayu cendana, yang banyak di pulau Sumba. Dan lagi kuda Sumba yang masyur, banyak dibawa orang ke Tanah Jawa.

Maka kuda Bima, kuda Flores dan kuda Rote baik juga.

Lain dari pada hasil yang tersebut itu, maka di pulau Timor itu ada juga didapati orang: tembaga, emas dan batu arang, akan tetapi sampai sekarang belum ditambang orang.

Maka isi negeri pulau itu, lain dari pada anak negeri ada juga peranakan Portugis dan peranakan Cina. Maka isi negerinya itu banyak juga, dan ada samanya juga dengan orang Papua; akan tetapi belumlah diketahui orang akan bilangannya.

Syahdan negeri Kupang, yaitu ibu negeri bagian yang di bawah perintah Belanda, maka letaknya pada teluk yang bernama demikian. Maka gereja dan sekolah terdapat di beberapa negeri di sisi laut. Di negeri Atapupu itu tempat duduk Controleur. Maka ibu negeri bagian pulau Timor, yang di bawah perintah Portugis, yaitu Deli namanya.

Maka di pulau Rote itu pun ada beberapa buah sekolah. Akan hasil keluaran pulau Sumba sudahlah disebutkan. Maka di Waingapu, yaitu sebuah tempat di pantai utara pulau Sumba dan di pulau Flores sebelah Timur, yaitu di Larantuka, adalah ambtenaar bangsa Belanda, yang disebut Gezaghebber.


NOTE


  1. Adapun Pulau Jawa biasanya disebut orang Tanah Jawa. Van Gelder, Ilmu Bumi, 4e druk.↩︎
  2. Pada musim kemarau kali Brantas itu mengalirkan sekurang-kurangnya 57 m3 dalam detik, sedang Bengawan Solo hanya 12 m3 saja dalam detik↩︎
  3. Afdeeling: pembagian wilayah administratif pada masa Hindia Belanda↩︎
  4. Adapun cabang kali Brantas dari Melirip ke Surabaya itu, sesungguhnya kurang baiklah disebut kali Mas. Maka Surabaya itu setelah sampai ke kota Surabaya bercabang dua; yang sebatang disebut kali Mas dan yang lain kali Pegirian.↩︎
  5. Ibu negeri yang senama dengan afdeelingnya tiada disebut namanya.↩︎
  6. Negeri-negeri yang cacah jiwanya pada penghabisan tahun 1900 kurang dari 20,000 tiada tersbeut cacah jiwannya↩︎
  7. Perceel: sebidang tanah yang diakui secara hukum↩︎
  8. Houtvester: kepala dinas kehutanan tingkat wilayah↩︎

Orang Jawa


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.