MENCARI SEBAB-SEBAB KEMUNDURAN KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN DEWASA INI
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
MENCARI SEBAB-SEBAB KEMUNDURAN KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN DEWASA INI
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 29 • 18 Juli 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Study for part of “Snakes” (probably 1969), karya M.C. Escher
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
MENCARI SEBAB-SEBAB KEMUNDURAN KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN DEWASA INI
(hak penyiaran 1953: Mimbar Penyiaran DUTA)
MEMBICARAKAN masalah kemunduran kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini adalah sia-sia dan terlampau terburu. Tetapi apa hendak dikata kalau sekelompok pemikir-pemikir salon telah mengayukan soal ini sebagai soal yang urgent dewasa ini. Apa yang dikemukakan tentang kemunduran ini oleh Yassin dalam Offensifnya itu ruas-ruapan jiotuh dibuat yang subur. Terutama bagi pemikir-pemikir salon yang memang sudah tidak sanggup menghasilkan lagi, maka geyala diinyai sendiri ini dianggapnya sebagai geyala umum. Dimanakan letaknya Rono Pratiko, M Ali dan sebagainya dalam kesusasteraan Indonesia modern, apabila mereka yang tetap menghasilkan itu tidak pernah turut dinitung?
Apa yang diunai kesusasteraan Indonesia telah mutu bangun kesusasteraan yang terus-menerus diisi oleh pengarang-pengarang Indonesia. Jadi Udaklah ada alasan berhicara tentang kemunduran. Sebagaimana kebyudayaan umumnya, kesusasteraan pun tidak memberi atau ditentukan rangka atau janga waktu pengisian yang menghembaki tenagayipta suatu bangsa. Keyadian yang kesusasteraan selamanya ada dalam proses, karena ia berada adalah sesuatu yang hidup selama bangsa itu masih hidup. Bahkan terlampau terburu bila orang hendak memasukkan kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini kebyudaya sejarah kesusasteraan, karena bay yang baru dilahirkan belum lagi pada tempatnya untuk menutup seluruh sejarahnya. Pendeknya, kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini belum merupakan suatu keseluruhan dari tump bagian yang telah ada, karena bagian-bagianinya belum lagi lengkap; seluruh watak dan sifat dari angkatan yang menyiptakannya belum digantikan oleh yang lain angkatan yang menyual.
Symposium tentang kesusastraan Indonesia di Amsterdam, yang diusahakan oleh Yayasan Keryasama Kebudayaan, tanggal 26 Juni 1953. Asrul Sani sedang mengucapkan pidatonya tentang “Kota, desa dan kesusastraan”.
(foto: J. M. Arsath Ro'is).
Masalah kemunduran kesusasteraan Indonesia modern ini telah menyalar pula di Amsterdam di mana pada tanggal 26-VI tahun ini telah diadakan simpohon kesusasteraan Indonesia modern di gedung dan ju-ga disahakan oleh Stiemus dan yang juga mendapat perhatian besar di kalangan yang bernicai pada kehidupan kediyawaan dan komersiarakatan bangsa Indonesia-dalam-perkembangan. Diartanya yang bernicat terdepat juga prof Werteim, Yan dan Annie Romein. Diubah pimpinan prof mr Resink berhicara antara lain prof dr Teew tentang sejarah kesusasteraan Indonesia. Kemudian muntul pemikir-pemikir salon Indonesia yang sering ngomong-ngomong demikian juga di Tugu atau di tempat-tempat lain: dr ir Sam Udin tentang kesusasteraan Indonesia dan kecinaannya dalam menyari fungsi; mr Takdir Alisyahbana tentang keyadian kediyawaan datam kesusasteraan Indonesia modern dan Asril Sani tentang Kota, Desa dan Kesusasteraan.
Titikberat simpohon ini berakhit berkisar pada mencari sebab-sebab kemunduran ke-usasteraan Indonesia modern dewasa ini. Sam Udin dengan ragu dan gagap membitcara kan bahan yang sebenarnya tidak di kuasainya, yakni tentang kenyataan bahwa talk mengenai nilai Maupun yumlah sangat sedikit yang telah dapat dihasilkan setelah revolusi sele-sai.
Atas pertanyaan seorang pemintat terapa banyankya pengarang Indonesia modern dewasa ini Sam Udin memberikan jawaban. Pertanyaan demikian bisa saja disambung dengan pertanyaan-pertanyaan lain tentang yumlah pengarang serta, buku dan ne.acanya ditipu tahun.
Sebaliknya di Indonesia sendiri sudah menjadi kenyataan yang selela-lelanya, bahwa produksi kesusasteraan tambah hari bertambah banyay tetapi penyelenggaran, enerbitan yang mau tanggung risiko kuan hari kian tipis. Selugian terbesar penerbit-penerbit di Indonesia, baik asing mina-pun apa yang bisa menyuit dirinyai nasional, hany mengantungkan di-dupa pada pesanan pemerintah (terutama PPK) dan oleh sumata anggaran belandia. pemerintah dengan lataran mereka menoluki nas-ka-na-kah yang bersifat kesusasteraan. Skhalkiya, dalam phak perhatian dan inmat yang kesusasteraan sangatlah besar, bahkan dapat di-astakan satu lampau yang fantastis di Indonesia, apalagi kain inti dipbandingkan dengan masa empat puluh tahun yang telah lewat.
Sampul Ulang mengadukan kenyataan bahwa seolah-olah revolusi-padam telah diyalani dalam tahun-tahun berlalu seperti dalam peryuangan dahulu. Ah, masyarakat ini serta para pemimpin, terlampau banyak meminta dari penganggaran. Ini juga kenyataan dan kenyataan yang lain lagi bahwa mereka ini hanya meminta dan jarang memberi pada penganggaran untuk memelihara dayati-yanyian.
Nyonya Yalan dengan tenangnya mengemukakan, bahwa dinas revolusi ada terlapai kesatuan individualisme dengan satu tuyuan: merampas kemerdekaan. Tetapi apakah parapendudung di masa itu telah bersiap untuk mempergunakan kemerdekaan yang pasti akan diperolehnya? Kelesuan dewasa ini menyatakan bahwa mereka behulah mempunyai persiapan, karena harga dari kemerdekaan terletak pada apa-yang-hisa -diperhati-dengan- kemerdekaan-itu.
Pembicaraan lama-kelamaan terlepas dari kesusasteraan itu sendiri dan berbelok ke arah masalah ilmu masyarakat, yang mana antara sebenar mahaguri itu masyarakat Werteheim tampil ke muka dengan gayabitra yang ringanlanyut dan penuh humor. Ia sendiri banyak membatah hasilkesusasteran Indonesia, dan dengan sendirinya menindayumia dari yurusan kejurusan.
Sangat menarik, dan juga tangkas dalam menjawab pertanyaan atau menangkis serangan ialah Ali-syahbana, ia kemukakan tragik kasun terpelaflah Indonesia di masa sebelum perang dan yang berhubut hingga kini; apabila sekali mereka itu memusiki dunia barat yang lain daripada dunianya sendiri, mereka tidak akan kembali lagi, mereka menjadi anak hilang, mereka tidak memenuhi keinginan orangtua yang mengongkosai, tetapi hanya melahirkan kekelecewaan pada mereka yang ditenggalkan. Ini dikemukakannya setelah menyunggung masalah famili, perkawinan dan masyarakat dat'ra kesusasteraan Indonesia. Yontoh yang tepat dari anak hilang adalah buku Abdul Muis Salah Asuhan.
Takdir Alisyahbana yang hampir dalam sejarat maslahahnya memandang dari sudut pertemuan antara timur dan barat, dalam simposion ini pun mempergunakan kacamatanya yang sama putih. Kelesuan kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini, menurut pendapatnya ialah karena penganggar-penganggar Indonesia modern dewasa ini nielarat, tidak mempunyai apa-apa, karena telah menyapak dunianya yang sama dan belum mendapat dunia yang faru, tergeong-geong antara dua dunia yang tidak memberikan ketentuan apacapa. Atau dikatakan lebih pendek; mereka ini berada dalam kehampana jawa. Cara Alisyahbana mengemukakan soalnya adalah demikian simpatik sehingga di antara parahadirlan banyak terpesona.
Nampak benar, bahwa juga di negeri Belanda, Alisyahbana mempunyai daerah. Yang patut disayangkan ialah, bahwa dalam simposion ini tidak ada kesempatan berdebat selain mendalami, karena waktu sangat terbatas dan parapreseta demikian bohyak.
Berlagai pembicara dan pentuan menyatakan pendapatnya setelah mendahului mesebab kemunduran kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini melalui kacamatanya ma-ingang-ang. Tetapi dapat dikatakan tidak ada yang mau memanggalkan kacamatanya yang berwarna-warna itu. Di antara begitu banyak pembicara, pendebat atau pelanya, tidak ada yang memandang seut itu dari sudut kejwaan—sauber yang terdekat untu k mengenalai keadaan penganggaran itu sendiri dalam fungsiannya sebagai penyata. Sungguhlah tepot kata seorang pembicara, bahwa kesusasteraan suatu bangsa adalah pulo kecemasan yang bisa diberikan oleh yang-ag-rangnya. Tetapi anehnya kehadiran atau kecemasan dari penganggar tidak pernah disoroti secana selayaknya. Padahal inilah modal pertama yang melahirkan hasil kesusasteraan, sebagaimana publik adalah suatu kehadiran dari produsen.
Simposion yang dimulai dari yam 11.00 hingga yam 18.00 dengan sekhangan makansiang, minum teh dan ditutup dengan nukam nasi ini rupa-rupa yang tidak sempat menyoroti masalah yang sewajarya, yang naing dekat dan paling dominan yang ni; bagaimana situasi kejwaan parapenganggar Indonesia modern dewasa ini. Bila ada sekali ini disinggung maka besar kemungkinan simposion ini akan berbeda daripada yang telah terjadi. Namun sebagaimana di Indonesia sering terdengar, omong-omong demikian adalah obrolan kosong dan memperkutkan barisan intelligensi salon yang terlepas dari kehubungan yang sewajarya dan terangkat terus ke atas sampai di puncak merata-gadingnya.
Revolusi telah merubah bangsa-inhuder menjadi bangsa Indonesia yang bangga karena telah dapat merampas kemerdekaan untuk diri dan keturunannya. Revolusi diperyatai oleh adanya kesatuan individualisme untuk merampas dan memiliki kekemerdekaan itu. Dan kepentingan individuisme itu beratul meminta sehingga individuisme itu yang Indonesia yang kini beryaya dalam langganan-masing-masing. Tetapi secara revolusi berhenti tatan politis biasa dikatakan; revolusi lemah lagi sesuatu kesatuan ini terurai dan kembali teryerat menjadi milik perseorangan. Bahkan dapat dikatakan bahwa ada terjadi stagnasi individualisme semasa revolusi itu, dan dikala kemerdekaan terjadi, guna-dan itu yang terkumpul pentu pecih. Kini sudah menjadi kenyataan telanyung betapa bangsa Indonesia terlampau banyak meminta dan tidak banyak kesangsungan untuk membiar. Permintaan yang demikian banyak dan yang juga demikian tak tersusun akhinya mengacukan keadaan jawa, kedamaian menyipta, kedamaian segala-galanya.
Hidup dalam masyarakat yang demikian rupa golongan penganggar, yang juga anggota dari bangsa itu, tidak terurat dari ‘senyak’ ini. Rangkalon konflik, besar dan kecil, tererak dalam jawa, tidak mendaftarkan cuduk waktu dan tenaga untuk mengendapkan. Akhinya konflik yang kharusanya i.elahbirkan idee hanya mengacukan jawa dan tenaga, dan dayati-yata, lumphu karenanya. Dari jurusin ini pula orang dapat mengerti mengapa korupsi lahirlah dan rohaniah menguak di Indonesia, terlepas dari pertemuan timur dan barat dari Takdir Alisyahbana. Dan apabila produk hasil kesusasteraan mengalami kemunduran, mi adalah sepatahnya saja, karena dalam hubungan orang pun membutuhkan istirahat, mempersiap diri dan menggunakan tenaga serta menyualnya. Dalam keadaan demikian orang ini tidak pada tempatnya di-namai tidak bekerya lagi. Dengan atau tanpa d'cari-cari sebabnya mengapa dia tidak bekerja, besok atau lusa orang ini berangkat juga kepekerjaannya—karena itu sudah menjadi kewajiabannya. Dan dalam hal ini kematian adalah bencana yang sebesar-besarnya.
Dalam symposium itu Prof. Teuwu menguraikan tentang kesusasteraan Indonesia Modern.
(foto: J. M. Arsath Ro'is).
Bukanlah mustahil apabila masalah timur dan barat Takdir Alisyahbana dan masalah kesatuan-segala dari Sam Udin seyog'anya dimasukkan kotak dahulu, dan dikemukakan satu masalah baru, yakni penyusunan jiwa kembali, menciptakan organisasi kerja baik kejiwaan Maupun lahiriah.
Dengan ini dapatlah dikatakar, bahwa in'siatif Sticusa Amsterdam dengan mengadakan simposion semacam ini hanya menyuburkan tumbuhnya intelligents'a salon yang terlcpas dari kehidupannya sendiri.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.