LESU; KELESUAN; KRISIS; IMPASSE
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
LESU; KELESUAN; KRISIS; IMPASSE
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Siasat
No. 515 • Th. XI • 1 Mei 1957
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Small Worlds VIII (1922), karya Wassily Kandinsky
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
LESU; KELESUAN; KRISIS; IMPASSE
LESU; kelesuan; krisis; impasse kesusasteraan Indonesia modern adalah suatu mythe situasi cipta dilapang kesusasteraan, yang timbul setelah meninggalkan Khairil Anwar pada tgl. 28 April 1949, yang merupakan masa lumak yang tidak menghasilkan buah-buah sastra balk secara kwalitatif Maupun secara kwantitatif. Dalam mencarai asal-usul mythe ini Nugroho¹ mengemukakan tiga kemungkinin, yaltu: 1. Mungkin mythe interlahir dari pessimisme umum. Artinya pes-sisme itu disatu phak dikandung oleh mereka yang hidupnya pada zaman federal lebih enak, dan di lain pihak dikandung oleh mereka yang pada waktu hidup sulit pada zaman Revolusi punya impian-impian yang indah dan muluk tentang zaman sesudah perang kolonial; II. Kemungkinan yang kedua ialah, bahwa golongan “old cracks” di kalangan sasterawan yang pada periode 45 mengalami zaman keemasan pada hal pada periode 50 mulai mundur, berpegangan erat-erat-erat-erat kepada zaman silam yang indah itu dengan mengagung-agungkan zaman gemilangnya dan menjelek-jelekkan zaman ini, di mana muncul banyak tokoh-tokoh baru. III. Kemungkinan ketiga ialah bahwa sasterawan 45 sangat berorientasi ke sastera Belanda, dan oleh karena di negeri Belanda sehabis Perang Dunia II kesusasteraan mengalami kelesuan, karena matinya pemimpin-pemimpin gerakan pembaruan, maka angkatan sasterawan Indonesia yang menjajarkan diri dengan angkatan Marsman cs pun, sekarang juga mau tiru memproklamasikan kelesuan di Indonesia.
Bagi H. B. Yassin² penemuan sajak kecil yang baik selalu menggembirakan dan mungkin karena itu ia tak pernah mendapat kesan adanya kelesuan, impasse, krisis.
Tentang ada-tidaknya mythe terjadi pertentangan pendapat antara beberapa golongan sasrawan yang berlangsung antara permulaan tahun 1950 dan permulaan tahun 1955. Riwayat: Mythe ini mula-mula sekali dilantunkan oleh Rosihan Anwar³ karena dalam 7 bulan setelah pemulihan kedaulatan hasil kreasi di lapangan sastera dan seni pada umumnya amat mengecewak-mengecewakn hatinya, dan bahwa “dunia seniman nampaknya dikuasai oleh perasaan lesu dan oleh semangat yang bersifat lebih banyak melihatkan saja daripada mengerjakan apa-apa”.
Dalam hubungan ini ia mengemukakan con toh, bahwa di lapangan persajakan hasil-hasilnya sangat kerdil, itu pun lebih banyak bersifat memamah serta mengulang-ulang Khairil An war. Dan dibandingkan dengan periode permulaan 1948 (mungkin yang dimaksudkannya ialah banjirnya produksi Balai Pustaka, Pus taka Rakyat dan Pembangunan sampai per tengahan 1949, ketika dari berbagai sudut tanah-air dengan teratur penyair baru dan muda memperdengarkan suaranya; pada de wsa ini segala sesuatunya se-akan-akan membi su“, sedang ”keyakinan tiada mengesan lagi, pribadi yang kuat tiada mendesak, dan ta ngan penyair tiada kokoh terasanya“.
Di lapangan prosa keadaan banyak-sedikitnya serupa. Yang kelihatana hanya fragmen da lam persiapan di-majalalah-majalalah. Dalam hubung an ini dikutipny pembicaraan lisian yang ter jadi antara dirinya dengan Idrus bahwa “Idrus mengakui baru-baru ini, bahwa dia tidak menulis apa-apa lagi Katanya, suasana jamam tidak mengijinkan dan menekan jiwanya”.
Di lapangan sandiwara diajukannya matinya sandiwara-penggemar Maya, Ganesha sedang sandiwara professional Pancawarna mundur 10 tahun ke belakang. Ha sil-sil drama selama itu hanya ber kisar pada tokoh Utuy T Sonta ni dengan Bunga Rumah Makan nya yang telah berusia 3 tahun itu.
Di lapangan musik, keadaan tidak yauh berbeda, karena meninggalkannya Cornel Simanjuntak. Dan hanya di lapangan senilukis nampak tanda-tanda yang agak menggirangkan. Demikian Rosihan Anwar.
Sementara itu dimulai pada permulaan tahun 1949 sehingga permulaan tahun 1955, majalah &kebudayaan yang sudah sedikit itu, serta lampiran-lampiran kebudayaan pada majalah-majalah umum yang sudah sempit itu, dibanjiri oleh karangan-karangan yang disebarakan oleh Sticusa Pusat di Amsterdam. Karangan-Karangan dari Sticusa ini boleh di terbitkan tanpa harus memba yar honoraria, sehingga dipandang dari jurusan finansialmajalah itu akan menghemat kalau memuatnya, sedang karangan-karangan dari Sticusa yang ditulis oleh pengarang-pengarang Belanda yang sudah mengalami skhooling itu dengan sendirinyia lebih jelas daripada yang bisa dibuat oleh pengarang Indonesia waktu yg baru saja menyelesaikan R pertama. Akibatnya ialah, bahwa untuk mendapat ruangan bagi Indonesia sendiri menjadi leh.
Dengan melupakan kenyataan lan Pebruari 1951 dimulallah pergu yang diusahakan oleh Prof dlr Alisyahbana, di mana hadik untuk memperbintangkan manu an pada umumnya pada dewan sempatan, inilah lesu, kelesuan se ini mulai mendapat dukun dari tokoh-tokoh sebelum Revolusi lahkan⁴ bahwa bangsa Indon parasenimannya terlalu banyak ke Barat dan kurang dalam salah-salah sendiri. Dalam hubungan suatu masalah pessimisme dan kianlah dalam pertemuan-pertemuan Tug pessimisme ini mendapat teka namaan lain daripada lesu, ke impasse. Dan sejak itu mul bar berbagai macam essay dan tera yang berada mineur.
Prof. mr. St. Takdir Alisyahbun muka Angkatan Pujangga Br ma itu mendapat tentangan ngan ‘45, dengan tiada langsung membenarkan dan men mythe ini, yang memberikan semua ini adalah kelanjutan lauan di lapangan politik dan mana banyak ditulis oleh kaum pada waktu itu berdiri dipihar ti ditulis oleh Dr. Sumitro Do mo⁵.
Pada tgl. 20 Juni 1953 ob dam diadakan Simposion kesu s onesia modern, yang merupakan s tera Indonesia yang pertama-pertama, menitikberatkan persoalan p an, krisis dan impasse ini. Se A. Teeuw memperkenalkan se kesusasteraan Indonesia mo St. Takdir Alisyahbana dalam mengatakan antara lain, bahwa tigapuluh tahun ini bandul steraan Indonesia terpelanting tradisional pada ujung yg indivdualisme pada ujung yang menyedilkan alah, bah- besar lompatan yang dilaku lebih jauh daripada jarak mpuh oleh manusia Barat se empat abad terakhir dalam se bahkan kita dapat mengatakan, eraan Indonesia baru di dalam rnya sebesarnya tidak meng- yang baru. Ia tidak lain dari apitulasi yang menarik daripa edhkan bagi orang Indonesia menginsafi, bahwa kemerdeka uangkannya dengan begitu ber
Semangat pada hakikatnya hanya membuatnya sendiri menjadi miskin, karena ia telah kehilangan semuamuanya yang di masa dahulu membuat hidup begitu pasti, aman dan terlindung. Sebagaimana halnya dengan manusia Barat, ia harus belayar menjadi yatimplatu, yang kehilangan orangtuanya yakni religi, moral, nilai-nilai dan ukuran-ukuran tradisional dan yang kini dengan tenaganya sendiri harus membangunkan dunya kepastian-kepastian“.⁶
Ketua simposion, Prof. mr. G. Y. Resink menyatakan dalam kata pembukaannya, bahwa simposion ini adalah suatu pertemuan antara humanisme Eropa dengan synkretisme Indonesia, yang dalam perdebatan yang terjadi kemudian, ditekankan oleh St. Takdir Alisyahbana, bahwa kesusasteraan Indonesia baru “melakukan pembebasan ke arah humanisme Eropa dengan individualismenya”. Dalam hal ini Khairil Anwar merupakan puncaknya, te tapi setelah revolusi mendapat kemenangan dan juga dengan meninggalkan Khairil, sejak itu berkuasalah malaise atau impasse dalam kesusasteraan Indonesia, sedang Asrul Sani, yang juga memberikan referatnya dalam simposion tsb menyatakan, bahwa para sasterawan yang berasal dari pedalaman itu, di kota dengan politik dan pangaruh-pangaruhnya yang asing baginyia telah merusakkannya, sehingga mereka menjadi cerpen (pengarang cerita pendek) dan pamphlettist.⁷
Dr. ir. S. Udin dalam referatnya menyatakan, bahwa “Dahulu paraseniman mempunyai funksi yang umum menerima nyaya. Dengan angan-angan Baratnya ia terlepas daripada kehidupan bersama, yang menyebabkan mereka terpenci dan berakibatkan tercerabut (ontwor-teld). Dan paraseniman ini dengan se-penuh-penuh nya ikut dengan Revolusi dan di dalam kurun Revolusi ini mereka menghasilkan karya-karya yg paling baik. Revolusi telah memberi kepada mereka arti pada hidup dan karya mereka. Dalam waktu yang singkat itu mereka menemukan kembali funksinya dan merasa kemba li bersatu dengan masyarakatnya”.
Setelah itu terjadi kemerosotan, yang hingga kini belum juga dapat diatasi, sedang kemerosotan ini diakibatkan oleh kekece-waan umum, yang timbul sesudah pemulihan kedaulatan seluruh lapisan oleh karena di milikinya “kemerdekaan”.⁸. Dan bahwa, sekarang nampak, paraseniman Indonesia tak mempunyai tujuan yang tegas“.⁹.
Simposion tentang kesusasteraan Indonesia modern yang pertama-tama ini adalah bersifat international, dihadiri oleh penyain Afrika Selatan Uys Krige (sajaknya pernah diteryemahkan oleh Taslim Ali, Jalan Putih, Indonesia. Th. II 8-9/Augustus-September 1951, 114-116; dicetak kembali dalam Puisi Dunia II, (187-191), penyair Amerika Yames S. Holmes, para pengarang Indonesia yang pada waktu itu berada di Nederland dan Jerman, parasarjana dan pengarang Belanda prof. dr. N. A. Donkersloot; dr. Annie-Romein-Vershoor, prof. dr. Y. Romein, prof WF Wertheim, Adriaan Morrien, Ed Hoornik (sajaknya pernah diteryemahkan Sitor Situmorang. Pengkhianatan, Siasat V 218/3 Juni 1951, 12); Alfred Kossman, H A, Comperts, Albert Besnard, dan Manuel van Loggum¹⁰ dan di samping itu terdapat pula parapengarang dari Australia, Jerman dan Inggris.
Yang cpis Pujangga Baru dalam simposion pertama ini adalah ucapan St. Takdir Ali Syahbana di dalam diskusi yang menyusul, bahwa “paraseniman muda tak mempunyai iyu-kup perhatian terhadap masarakatnya serta masalah-masalahnya dan di samping itu belum lagi cuukup duduknya di dalam sikap hidup Barat”.¹¹
Perkenalan dunia kesusasteraan Indonesia modern yang pertama-pertama secara resmi dengan dunia internasional ini mengesankan suatu tangisan karena diperolehnya kemerdekaan oleh Revolusi.
SETELAH mythe ini mencap-mencapi puncaknya d'dalam simposion Amsterdam, suara-suara di Indonesia menjadi makin kuat lagi.
Sujatmoko membayangkan adanya mythe ini karena kurangnya roman yang dapat diha silkan¹² dan bahwa “mungkin bentuk roman bukanlah alat perantara yang paling cocok bagi parapengarang Indonesia”. Hal ini men dapat bantuan yang langsung dari Bozyoeng Saleh dalam siaran RRI yang tak mengakui edanya “krisis sastera”, dan yang ada hanyi lah “jarak atau jurang antara kabutuan obyektif rakyat Indonesia dan kenyataan sosial yang terdapat kini“.¹³
Atas dasar kata-kata Sujatmoko, Gazali HSB memberikan prasarannya pada simposion Universitas Nasional pada tgl. 18 Oktober 1954, yang dalam hubungan ini merumuskan karena “Rakyat kita masih hidup dalam dunia hi kayat” dan karenanya “Hubungan antara pu jangga dengan rakyat banyak terputus”. Dan dilemparkannya kesalahan ini pada “Krisis yang bertambah cepat geraknya setelah pe nyerahan kedaulatan. Realiteit menyatakan, bahwa Indonesia makin hari makin intensif hidup dalam kebudayaan Barat, sedang jiwa manusia? Indonesia masih belum coycok de ngan jiwa kebudayaan Barat. Semangat pri mitif, Indonesia-Hindu, Indonesia-Islam, yang masing-masing berbeda di sebelah bertentangan pu la dengan semangat Barat memputi jiwa manusia-manusia Indonesia. Menurut pendapat saya starting-point untuk menyelaskan krisis ke budayaan kita ni ialah: KESADARAN¹⁴. Pe nyanggah prasaran ini; Zuber Usman, tidak memberikan penjelasan soal yang menjer nthkan persoalan.
Di samping itu masih terdapat tulisan-tulisan yg ma lah membuat keruh persoalan misalnya tulisan Sarwedi Sosrowidigdo dalam karangannya Me rosotnya kesenian rakyct dan susila yang sa masekali tak kuasa mencakup persoalan. Yg sebenarnya, dan tak dapat memisahkan seni, dan manusia di luar seninya serta membeda kannya pula sebagai pencari nafkah, dengan mengemukakan doger sebagai salah-satunya contoh yang tunggal, yang mana sebenarliya bukan pada tempatnya diumumkan dimaja lah kebudayaan. Sambutan M. Masyhudi atas tulisan tsb.¹⁵ pun tidak mengakibatkan ter rangnya persoalan.
Baru pada tgl. 4 Desember 1954, dida pat langkah-langkah penyelesaian dalam hal ini. Yg dilakukan oleh H. B. Yassin dalam Simposion pada Dies Natalis Fakultas Sastera Universi tas Indonesia dengan referat yang berkepala Kesusasteraan Indonesia Tak Ada Krisis. Ia tak melibatkan persoalan itu dengan peno ropongan Ataupun abstraherio tapi dengan sederhananya mendes sastera yang diterbitkan dalam lah pemulihan kedaulatan. yang bantah, suara-suara yang silangsul nya lesu, kelesuan, krisis. Akhirnya HLB. Yassin menyi mythe itu ia “kira hanyalah yang sewajarnya dalam suah yang sedang mencari perimbangan nilai-nilai baru dalam cara, hidup di dalam pergolakan ini tiap-tiap punyil tanggapan sendiri titu bagaimana susunan yang sebaik anggap penyelesaian golongan li tak berharga; sudah pula sev ga-ga yang kuat sedang bertempur orang boleh bertanya apakah tu sini berguna atau malah memin kinan-kinan inisiatif-inisiatif baru yang kuat dan spontan”. Dan ia memb cannya, bahwa “Jalan buntu tidak ada. Kesusasteraan Indon nah berhenti tumbuh dan tak bisa bicara tentang impa tu Jepang, tatkala sensur J kerasnya, kesusasteraan tumbuh regitras keadaan dan kejad dan cita-cita, kakecewean dan ke
Karena dalam simposion, mendapatkan kesempatan dari Htuk berdiskusi. Reaksi hanya majalalah-majalalah. Antara lain Beb-Y tah referat Yassin¹⁶ dengan bahwa hasil-hasil yang ditunjukkan sin tidak cu'kup membantah ad susasteraan Indonesia modern dibuat sebelum tahun 1950, bantah o: zh H. B. Yassin yang dan berbahah bahwa bantahan lah tidak benar¹⁷.
Setelah ini mythe lesu, keles passe ini tidak dikenakan lagi raannya; segolongan mengesah penerbitan¹⁸ sedang Sitor pada ukuran. Tetapi sejak Ro terbongkar dan padam oleh mil-mil yang dibuktikan oleh para muda-muda.
Bacaan:
¹ NUGROHO TO dalam Kompas, Th. IV.
² H.B. JASSIN, Referat Sump. 1954.
³ ROSHAN ANWAR, Siasat, Th. IV 179-180/20. Agu.
⁴ ACHDIAT KARTAMIHARDJA, Raya/21 Peb '51.
⁵ Dr SUMITRO KUSUMO, Economic Review.
⁶ Cultureel Nieuws, Amsterdammer 30, 1953.
⁷ 810.881 BESNARD dalam Algemeen Handelsblad, Amsterdam, 27 Djuni 1953.
⁸ L. MAEKERS dalam Het Parool, Djuni 1953.
⁹ Trouw, Amsterdam, 1953.
¹⁰ Nieuws Rotterdam, 27 Djuni 1953.
¹¹ W.A. BIJLOO, Het Vaderland, 's Gravenhage.
¹² SOEDJATMOKO dalam Kompas, Djuli-Agustus 1954.
¹³ BOEI, Siasat VIII 377/29 Agustus.
¹⁴ Indonesia Th IV/6, 335-337.
¹⁵ IV/8, 9, 504-506.
¹⁶ Indonesia, September 1954 (?).
¹⁷ Mimbar Indonesia, Djanuari 1955.
¹⁸ S.M. ARI, II/1, 1955.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.