PENGARANG DAN INTELEKTUIL DI INDONESIA
SITOR SITUMORANG
KOLOFON
PENGARANG DAN INTELEKTUIL DI INDONESIA
oleh
SITOR SITUMORANG
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 50 • 12 Desember 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Sitting without Seat (1961), karya Lee Hang Sung
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
PENGARANG DAN INTELEKTUIL DI INDONESIA
MENGOTOT kawan: di mana kesusasteraan besar, kenapa terhenti. Kujelaskan: pertama: pengertian kesusasteraan (Indonesia) belum pengertian yang organis, belum terpakai sebagai alat penjelas, melainkan hanya penunduk keinginan dan kebutuhan. Kita sama yakin: manusia butuh seni, butuh sastera, butuh kebudayaan. Kita balasi dulu percakapan hingga sastera saja: Apa yang kita harapkan, lantas tak ada? Roman besar? Belum waktunya lain mungkin zaman-nya, sebagai bentuk sastera, sudah lewat. Prosayang balk? Sabarah dengan yang telah ada dan ingat: prosayang balk tak gampang lahir dari banaga yg. tidak kita pergunkan se-hari-hari dan yang belum dapat digeryakan buat segalakeperluan. Sembonyan: “kita sedang membangun” mungkin hanya berlaku buat hal ini. Lagi mana tokoh buat roman? Tokoh yang bisa tumbuh di hadapan kita dengan hidup yang bercil individualitet, sedang kehidupan sekarang dan terutama di Indonesia tidak lupa dari atomisering abad bintang dan teknik film ini, dan itu di atas dasar hidup kebudayaan yang guyah dan retak? , ya, amorphie, terumbangumbang antara pengertian budaya dan seni, antara salah pengertian malam kesenian dan pesta ramai-ramai dsb. dsb.
Tokoh roman klassik adalah hasil sikap hidup yang utuh, dan kita baru pada tingkatkan merumuskan situasi kita. Kalau adu pun roman nanti ro- man orang demikianlah Rt: kacu, amorphie, synectistic (a la prof Resink), tapi pengarangnya sudah harus menyatapi keutuhannya sendiri. Ini meminta waktu dan kemata- tangan...... kebudayaan.
Matang dalam hal budaya, dalam keadaan dunia sekarang (suagguh Indonesia bahagian dari dunia dan bukan hanya dari Hollywood atau ideologi politik, internasional atau tidak) berarti menjadi manusia me- nurut corak, sebagaimana tumbuh dari segala kebudayaan yang pernah ada dan berpengaruh kepada kita melalui segala barang impor dalam arti badani Maupun rohani. Pengaru- ruh gambar bintang, film, pengaruh brosur yang diseduhupkan, sampai kepada pengaruh yang dicari dengan sedar. Gevoromdeh manusia abadi ini (tidak kusebut manusia “brat”) + pengertian akan situasi kita sendiri ditempati di “tanahair” masings.
Pada tingkatan sekarang sifat pro- sa dan puisi Indonesia pada hebat saya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Prosa: Bila diambil masa permulaan Pramuja Ananta Tur sebagai puncsakuya, maka kehilatan garis, memurni ke arah populisme, melukis- kan nasib si-keci, kadangkali idiilisikh, kadangkali mengundang sentimen so- sial, tapi dengan nada suara underdog. Tentu saja pengarang kita tidak luput dari perobahan sikap menghadapi soal hidup setelah “revolusi”.
Puisi: Setelah Khairil Anwar, yang dari sudut penglihatan dunia kesusasteraan lain, dipandang sebagai “een late loot op een oude stam” timbul salah paham akan penggunaan segala ime yang meresap dari pembayakan sana-sini, salah paham yang makin meluas karena pembabasan yang dibawa oleh puisi Khairil Anwar. Dan kebebasannya. Belum tentu penyair di sekitar dan di masa sesudahnya mempunyai peralatan in- teligensia dan kemantangan kebudayaan untuk begitu anda sanggup me- “nyajak”-kan emosiin dengan logat kepemiyaran dunia, dengan mana du- nia pengalaman Khairil Anwar belubugan. Dengan hasil yang dapat dibuat vertraagd. Sewayarnya, sebab yarak antara Rimbaud dan se- orang Khairil Anwar, dayau lebih be- sar daripada dengan scorang pe- nyair Belgi, ini sebagai misal. Tapi puisi yang kini laku dipasaran teru- tanya bercil: ketidadaan disiplin, pengaruh yang belum menjadi ver- worvenheid. Bahasa puisi Indonesia, seperti bahasa Indonesia sendiri, masih memerlukan penentu ukuran.
Tapi di atas segala ini ialah soal gevoromdeh, corak manusia-nya yg terdapat pada semian Indonesia: Campuraduk pengalaman kojatuja- an dan dusun. Pedusunan dan metro- poli menjadi tetangga di negeri ini, dalam dunia pemikiran, juga dalam kesusasteraan. Memang sulit menya- pai keutamaan di atas dasar demiki- an, sebab pengarang/yang harus atau menjadi-orang “kota diyutan atau orang desa, itu pun jangan disertai kekecewaan pada yang lain melain- kan keseimbangan: tahu menempat- kan nilai masings.
Tak ada yang boleh diyad mythie bagi pengarang/penyair sebab jika demikian ia tidah perlu lagi niemula, melainkan memboe saja. Juga re- volusi tidak. Dalam lingkungan kita mungkin disebut revolusioner puisi seperti yang diberi oleh Khairil An- war. Tapi apa sebenarnya lingkungan, atau yang seharusnya menjadi ling- kungan sasterawan Indonesia? Sa- tera dunia yang telah ada. Dan Khai- ril sama sekali tidak revolusioner lagi dilingkungan ini. Lantas bila Wertheim/Pramuja menyangkut- kan kegagalan revolusi pada perkem- bangan kesusasteraan kita, apakah mereka tidak hendak meminta dari pengarang Indonesia, sebagai perc- orangan, mengayui mang revolusi bersama massa dan untuk massa?
Mundur lagi dari perkembangan- nyt yang berlengkang, mang sendiri, walau- pun persatuanya diberi tekanan, di- perkeras dsb. oleh pergeseran sosil, ia harus memisah revolusi perseor- ngan dengan kegagalan kaum politik, jang menyangkutkan nasib pada phrasologic yang berlaku din, praktek politik. Memang ta sebagai inte- lektuial harus bercil pada akurasi- nya, apalagi sebagai geniman. Das- hal ini menjelaskan kesejawaan tu- gas intelektuial dan tugas seminas. Tentu saja ia bermesyarak akan tetapi ia tak dapat lagi ber-tanahari keculai buat tujhan social-paedago- gis.... tapi ini sudah daerah di luar dari ujud kesemianan.
Anakyak sastera besar itu? Yang sastera yang merasakan “batas” manusia pada kita, condition-nya, din memang bahwa ini bergerce, meluas atau menyenipit, tergantung pada taraf munayat, tapi selalu bersama per- kembangan manusia yang menyata dalam kebudayaannya dasar yang 22- man. Dan terserah pada masyien menjadi anak dusun, menjadi anak sesatu negeri, menjadi anak dewa, tapi pujangga besar telah membuk- tikan bahwa manusia itu tidak terba- tas kemungkinan perkembangannya, oleh batas tempatnya, kalau ia telah memenuhi manusia dinama saja, terutama dalam hati manusia k. sendiri, tanpa bunca: peradaban di- lami segala torayah.
Tugas terlilngu pada sastera lain daripada menyeru kondisi manusia sehingga terasa batas-nya, lepas dari segala kepentingan yang ed- waris, sekaliu pun tugasan lehuh dat pada meng-analis. Sastera yang ter- balki kualiti analisis yang terbaik. Do- bunt menganalis manusia sekarang, kita harus mempunyai segala alat-alat yang tersedia.
Analisis, essay sajaun sudah mem- nutut perlengkapan intelektuell yg seharusnya melingkupi seluruh dunia pemikiran. Dan hampir belum ada essay oleh orang Indonesia tentang situasi apa pun dari manusia Indone- sia. Hal itu tidak perlu menghera- kah. Hal ini soal khusus dari lahirnya intelektuall yang sesungguhnya di In- donesia, yang hingga kini masih ter- tegun, dan bisa dikatakan revolusi gagal, maka disiniial ia berlaku. Penghianatan, kompromi, tergulai ke dalam pemikiran amorphie, yang tak mengenal permasuan dan enggak merumuskan karena tutuk akan ke- nyatannya. Keadaan yang hanya dapat dilaksanakan dalam essay bisa kita ci- kup menggunakan: dunia pemikiran ka- rat dan meto-lanya, alami pemikir- Hindu-Jawa dengan synectistic, psykhology orang teorih dan psiko- logi orang dijayah atau bebas-jayah. Siapakah sang cipta-nt ngusais ini semua? Hingga dar- manganalisa situasi kita? Atau akan harus mempergunakan satu meto- Dua pengertian net in branya sa-
Dan di sini lah kita melangkah pada soni kedudukan intelektui di Indonesia. Memang metoda itu pernah dipelajarai, karena sampai tingkat tertentu memang dapat dijadiikan kecakapan. Tapi dilaksanakan te hooi en te gras-di dunia yang amorphie, dunia yang kalau dilihat dari sudut metoda tadi anarkhistis, tapi dari sudut lain dianggap biasa, sewajarinya, kecimbangan alam. Orang Indonesia itu berfilsafat senang! Dan mereka yang pernah mempelajarai metoda lantas leluasa mengexploitasi filsafat senang itu, terutama dilanangan politik.
Tak banyak yang dapat dilakukan pengarang, sceniman, di lapangan ini, karena sifat tugasnya berlainan mala han bertentangan dgn. optimisme yang selalu harus ada pada pekerja-masyarakat: pretensi yg. paling perlu bagi kaum politik dan rasulnya kaum sosiolog.
Soal hakekat, yang menjadi pokok bagi pengarang, berdiri di luarnya. Tapi ada semacam jembatan antara‘ tugas demikian dengan praktek hidup, ialah tugas intelektuil.
Penjernih dalam arti yang semurni-ni-murninya. Menguji tiap program dan kaidah dan mendobrak segala mythe.
Intelektuall
Situasi intelektuall di sini sering situasi yang kunstmatig, ya, merupakan gejala asing. Meminta tanggungjawab dari padanya, berarti menyodorkan ukuran-ukuran yang dalam praktek masih tak lebih daripada barang impor, kecuali dalam diri perseorangan, yang karena itu terdesak pada suatu kedudukan terpulau. Ini harus diterima, bukan saja harus diterima, tapi sifat istimewa yang melekat pada kedudukan itu—selalu akan diberi etiket asing, a-nasional dsb.,—mestii diperhitungkan, tapi jangan sampai menjadi alasan berkompromi.
Daerah kompromi yang lazim ialah daerah kehidupan politik, daayapenarik sesuatu ideologi dan/atau partai sebagai alat untuk tokh mendapat hubungan, keamanan rasa “kita bernasyarakat”, Walaupun mungkin sudah tak bertanahair lagi. Apalagi kalau kompromi itu perlu supaya bisa dapat nafkah! Kehidupan sehari-hari makin membuktikan bahwa segalagalanya dan setiap orang, setiap kedudukan dan ucapan, setiap perasaan telah dipolitikkan. Orang herteriak (tidak banyak) meminta tanggungjawab intelektuall! Tapi intelektuall di negeri ini baru berarti: orangnya punya titel. Orang disebut akhli filsafat, guru besar, pada hal baru sampai pada pemakaian gramatika bagaimana mengumpul sitat. Iti pun tidak sempurna, karena masih tahan memengarkan, malahan mengagumi demagogie tukang jual obat pada saban rapat.
Apakah intelektuall itu? Bukan guru, bukan data, bukan tukang khatbah. Ya, ia sering menjadi nasuh golongan ini: karena tugasanya ialah lebarh, memperamakan segala pe-nye, khua yang ada, untuk mendapat pendapat yang selepat-tepatnya, meruyuk kebenaran. Bukan keim-bukan pun kebenaran nasional, tapi kebenaran 2 × 2 = 4. ditambah kosci van relativitet kebenaran angka 4 sebagai simbol. Tugasnya bukan hanya mengerti simbol, tapi meneropanginya, menguji relativitet tiap simbol. Kalau tugas ini diyumpai, atau tak ada yang mendiyelankannya, diyadi tak ada lagi intelektual (bersembunyi, bungkem), maka, simbol, phrase, kata lalu merebut dan menguasai kehidupan kita dan hanya, nafsu buta, nalurilah, yg akan berkuasa, karena ia tidak pun memerlukan simbol, sebagai simbol, melainkan ia perlu alat.
Tapi...... intelektuil itu harus punya hubungan dengan hidup, dan peleksanan hubungan yang terpenting adalah kesusasteraan dan seni pada umumnya. penunjuk condition tadi, supaya in jangan pula me-lebihikan arti akal dan analisa, membuat kesalahan manusia-program dan manusia-kaidah dan manusia-mythe.
Dan ke-intelektuil-annya sebenarnya hanya satu aspek dari yang diperlukan. Suatu fungsi yang harus berdiy.an baik, seperti fungsi lain, sedang seni dan kesusasteraan itu memelihara hubungan dan pengertian sehingga sang intelektuil tidak menjadi mandul, berwarna dan kenal nuanse, sanggup sekali-sekali.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.