Baca EPUB: Krisis Indonesia Dewasa Ini

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KRISIS INDONESIA DEWASA INI
  2. ANONIM
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KRISIS INDONESIA DEWASA INI
  6. CC BY-SA 4.0

KRISIS INDONESIA DEWASA INI

ANONIM


KOLOFON

KRISIS INDONESIA DEWASA INI

oleh

ANONIM



Dimuat di majalah Indonesia

No. 12 • Th. V • 11 Desember 1954

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Tlaloc (1944), karya Josef Albers

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KRISIS INDONESIA DEWASA INI

Sdr. Ketua dan Hadirin Yth!

BEBERAPA DALIL

Uraian ini ingin saya mulai dengan mengemukakan pengertian saya akan istilah-istilah-pokok, yang penting peranannya dalam pembahasan yang saya lakukan. Istilah-istilah itu adalah:

a. KRISIS: Memuncaknya keadaan yang tidak sewajaranya. Penjelasan: keadaan yang tidak sewajaranya ini merupakan penyakit dalam proses klimaksnya, yang menuju kepada suatu saat penentuan: apakah sisakit akan sembuh atau akan mati;

b. KEBUDAYAAN: Kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa yang mendoyelma dalam seluruh segi kehidupan dari sekumpulan manusia dalam suatu ruang dan suatu waktu. Penjelasan: Segi kehidupan itu dapat dibagi dalam 7 lapangan luas, yaitu: sosial, ekonomi, politik, ilmu-pengetahuan, kesenian, filsafat dan lapangan ke-7 ialah agama. Agama dilihat dari satu segi dapat dikatakan suatu bagian dari kebudayaan. Seluruh soal dalam kehidupan dapat dimasukkan ke dalam salah satu lapangan tsb., dan tiap-tiapnya merupakan unsur kebudayaan.

c. KESADARAN: Menyadari sesuatu adalah mengetahui dan merasakan sesuatu itu sepenuh-penuhnya. Meyakini kebaikan atau keburukan sesuatu itu sedemikian sungguhnya, sehingga dapat menggerakkan kemauan untuk kegiatan berbuat apa yang diketahui dan dirasa baik, dan dapat menggerakkan kemauan untuk menantang apa yang diketahui dan dirasa tidak baik.

Mengemukakan dalil-dalil ini saya anggap penting, agar hadirin dan saya mempunyai kesatuan pengertian tentang hal-hal pokok dari uraian yang akan saya bentangkan.

MENGKONSTATIR KRISIS DALAM TIAP SEGI KEHIDUPAN

Kaiau kita memperhatikan dengan seksama keadaan-keadaan di sekitar kita, akan ternyatalah bahwa tiap segi kehidupan kita dewasa ini begada dalam krisis. Mariyah kita tinjau kehidupan itu lapangan demi lapangan dan mengkonstatir proses krisis itu. Tetapi terlebih dahulu saya peringatkan kepada hadirin, bahwa saya tidak akan menganalisa krisis itu dalam keseluruhannya, melainkan hanya fragmen-fragmennya, dan dalam bentuk garis besarnya saja.

a. MASYARAKAT: Dalam masyarakat Indonesia sekarang kita lihat berlangsungnya perubahan-perubahan, pergcsenan, pertantangan dan kegoncangan. Kita melihat perombakan susunan masyarakat. Lapisan-lapisan baru iahir, la-pisan-lapisan lama ada yang membeku. Yang baru meraba-raba dalam pertum-buhannya dan tengah menyusun tradisi. Yang rendah menjadi tinggi, yang tinggi bertambah tinggi, tapi ada pula yang menjadi rendah. Lapisan masyarakat yang dipandang tinggi dahulu, ada yang jatuh martabatnya, dan sebaliknya. Ada yang menjadi kaya dan hidup mewah, tapi banyak pula kejadian yarg sebaliknya.

Batas-batas buruk-baik dalam masyarakat menjadi kabur, batas-batas susila sedang bergeser. Adat berada dalam kegoncangan, kebiasaan-kebiasaan masyarakat mengalami perubahan. Segolongan mempertahankan adat dan kebiasaan, segolongan lain mau merombak dan memperbaharuinya. Yang kuno memudii pendapat-pendapat lama serta mau mempertahankannya, yang baru mengejeknya. dan mau menukarnya dengan pendapat-pendapat modern. Yang tua-tua mengelu dan menyesalkan yang muda-muda, karena mereka tertempuh jalan sesat yang akan menghancurkannya kelak. Angkatan muda mengelu dan menyesalkan angkatan tua, karena mereka tidak sadar, ketinggalan zaman, tidak pandai menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu.

Hubungan kekeluargaan yang tadiyia amat erat-erat, sekarang sudah mulai longgar, terutama di kota-kota. “Sakit-senang sama-sama dirasa” sedang berubah ke arah individualismus. Altruismus tengah bergerak keegoismus. Sifat gotong-royong sedang berubah menjadi sifat koperasi. Penduduk kota bertambah sesak; Penduduk desa yang menetap di kota-kota belum dapat menyesuaikan diri. Kota tidak sanggup memberi penghidupan bagi mereka yang mangalir dari pedalaman. Penduduk Indonesia bertambah dengan 121​ juta dalam setahun. Kemajuan dalam segi makanan, perumahan, pendidikan dan kesehatan tidak mengimbangi pertambahan penduduk. Kegiatan transmigrasi berada diyauh di bawah tingkat yang seharusnya

Kemasyarakatan bertalian erat-erat dengan soal-soal ekonomi. Marilah kita tinjau pula lapangan ini.

b. EKONOMI Setelah kedaulatan berada di tangan kita, maka orang mau memrombak ekonomi kolonial, dan menyusun ekonomi nasional. Tetapi orang tidak tahu betapa caranya, bahkan tidak terang apa yang dimaksud dengan ekonomi nasional itu. Keseimbangan produksi dan kebutuhan tidak ada. Ekonomi yang didasarkan pada ekspor bahan mentah lumpuh. Kebutuhan yang didasarkan pada impor bahan-bahan-jadi menjadi berantakan pula. Industrialisasi tengah digiatkan, menyebabkan kehidupan ekonomi menuyu ke arah gerak yang dinamis, sedangkan gerak dan alam pikiran manusianya masih statis. Kebudayaan Barat yang menyelap masuk Indonesia, tidak memenuhi kebutuhan, melainkan meminimalkan kebutuhan. Kebutuhan yang meningkat dari masyarakat.—yang disadari atau tidak telah mengoper kebudayaan Barat itu,—tidak terpenuhi oleh keadaan ekonomi sekarang, bahkan kebutuhan-kebutuhan pokok pun belum cukup dipusaskan, Nafsu masyarakat akan bahan-bahan-kebutuhan besar, sedang tenaga untuk mengadakan atau memperolehnya kurang. Lebih-lebih karena selama perang dunia ke-II dan revolusi bahan-bahan kebutuhan itu tidak mungkin diimpor. adalah nafsu itu bertambah terasa tekanannya, setelah kemungkinan impor itu tidak ada alangan lagi, tapi tidak cukup tenaga untuk melakukannya.

Terus digembar-gemborkan bahwa bumi Indonesia paling kaya, tapi manfaatnya bagi rakyat tidak kelihatan. Rakyat dianjurkan, disuruh bekerja kuat, tapi pimpinan dan bagaimana caranya tidak diberikan. Orang disuruh bekerja keras, sedang yang menyuruh‘ berpangku tangan. Rakyat disuruh sadar, bekerja untuk bangsa dan negara, tapi mereka melihat kenyataan, bahwa yang untung dan yang senang adalah segelintiran manusia yang hanya pandai “ngomong” saja.

Pemerintah mentransmigrir penduduk keluar Jawa, tapi orang luar Jawa yuist mengalir ke Jawa, karena keadaan ekonomi di-daerahnya, atau tindakan-tindakan pusat terhadap daerah.

Pembangunan raksasa yang sedang diusahakan, tidak seimbang dengan kekaaan dan tenaga nasional.

Daripada menyatukan tenaga dan sungguh-sungguh mencari jalan yang efektif, car yang efisien untuk mengatasi kelemahan itu, orang berpecah-pecah dan mengelakkan ketekunan.

Ulang dan energie yang dihamburkan tidak seimbang dengan pengalaman yang diperdapat.

Perusahaan tumbuh di mana-mana. Masing-masing beranggapan bahwa Pemerintah wajib menolongnya dengan modal. Betapa pun keinginan Pemerintah untuk menolong, namun hal itu sedikit sekali kemungkinannya, karena tenaganya amat terbatas. Pengusahapengusaha itu tidak menginsyafi, bahwa kewadiyiban terutama dari Pemerintah adalah membingin mereka, bukan memberi modal. Tujuan perusahaan itu bukanlah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan perhitungan untuk jarak waktu yang panjang, tapi persoalaninya ialah apakah perusahaan itu dapat segera menghasilkn untung banyak dengan kerja sedikit. Apakah mereka dapa. cept mempunyai mob'l dan rumah mewah. Ketegangan-ketegangan di-perusahaan menjadi keadaan yang biasa. Buruh dan organisasinya tidak menjadi kewayibannya, di sebelah tuntutan-tuntutan haknya. Hak-hak mereka yang dijamin oleh undang-undang di-salah-gunakan atau kurang perhitungan dalam memakainya. Serikat-serikat buruh menjadi perebutan partai politik, sehingga tujuannya yang skharusnya memperjuangkan nasib dan penghidupan anggotanya. tidak murni lagi. Majikan asing masih belum dapat menyesuiskan dirinya dalam menghadapi buruh, yang telah dijamin hak-haknya oleh Indonesia merdeka. Majikan nasional yang baru-baru kurang pengetahuan dan pengalaman menghadapi buruhnya. Dalam lapangan keuangan kelihatan pula krisis itu. Pemerintah sendiri kekurangan uang. Inflasi makin nyata. Nilai rupiah menurun, menimbulkan ketegangan-ketegangan dalam rumah tangga, perusahaan, kepagawainan dll.

Kalau kita telah memperkatakan krisis dalam kehidupan ekonomi, seharusnya pembicaran kita lanjutkan kelapangan politik, yang menjadi alat ekonomi. Pada hal-ratnya politiklah yang menyusun dan memimpin perkembangan ekonomi itu.

c. POLITIK: Dalam lapangan politik krisis itu amat menonjolkan diri, sungguh-sungguh kita rasakan sekarang, karena ia mempengaruhi lapangan sosial dan ekonomi, bahkan tampak tendens, bahwa pengaruhnya itu tengah menjalar kedalan hampir setiap segi kehidupan.

Perjungan partai tidak lagi untuk memperoleh kesempatan menjalankan keyakinan politiknya dalam kehidupan pemerintahan tapi untuk nafsu kebendaan dan nafsu kekuasaan. Partai-partai Politik bukan lagi alat Negara, melainkan Negara alat partai. Anggota partai bukan alat partai, melainkan partailah yang menjadi alat perseorangan sekangkaran. Krisis kepartaian ini memetih persatuan yang telah diikat oleh revolusi, menyuburkan perasaan kedaerahan yang terkenal dengan nama provinsialisme, mensejahterakan “sistem-keluarga” dan “sistem-teman” dalam administrasi negara. Untuk menduduki korsi yang berarti dalam pemerintahan tidak ditinjau kesanggupan, pengetahuan dan pengalaman seseorang, melainkan: “dari partai mana dia, siapa temannya”. Maka teryadilah kepala-kepala yang “the wrong man on the wrong place” memaksakan kemauannya yang salah dalam kedinasan kepada pegawainya yang lebih berpengalaman dan ahli daripadanya, tapi menduduki tempat di bawahnya karena tidak ada tulang-punggung. Promosi tidak ditentukan oleh kesungguhan dan kesanggupan kerja, melainkan oleh hal-hal yang tidak bersangkut-paut dengan dinas. Kalau tidak pandai mengambil muka, atau mencari jan-janlayannya, promosi itu tidak akan datang. Anggota Dewan-Dewan Perwakilan Daerah tidak membatahi dirinya di-dalam lapangan politik, melainkan memasuki lapangan teknis yang berada di bawah kekuasaan kepala-kepala jawatan daerah, serta memaksakan kemauannya yang salah, karena tidak mempunyai pengertian.—kepada mereka, yang lebih ahli, berpengetahuan dan berpengalaman lama, dalam soal-soal teknis yang dikerjakan. Kemauan politisi-salon ini harus dilakukan, kalau kepala jawatan itu tidak “ngin cigeser keudukannya” atau dipecat. Dan kalau kemauan yang disebut “wakil-wakil rakyat” itu dijalankan, s.dah terang akan membulukan keka“cauan, sehingga kembali uang, energie, waktu dibuang-buang yang seharusnya tidak perlu. Tiap partai mempunyai purbasanga terhadap tiap-tiap partai lain yang dianggapnya tidak sejalan dengan kemauannya. Sebelum partai lain anckst bicara, maka pembicaran yang belum diucapkan itu telah diyap salah. Orang-orang partai suyah tuli akan ucapan-ucapan yang mengandung kebenaran dari lawannya, dan sudah buta terhadap kenyataan-kenyataan diseikitarnya. Beta-pa pun salah partai sendiri tetap dibenarkan, dan Bagaimanapun benarnya partai lawan, ia tetap disalahkan.

Jabtar-jabatan diperlat untuk kepentingan diri sendiri, atau merupakan sumber pencarian tambahan. Alat-alat Negara tidak efektif kerjana, dan cara dan susunan administrasi negara tidak efisien. Orang enggan belajar dari pengalaman, dan mengoper saja teori-teori yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu.

Selanyutnya marilah kita memasuki lapangan kesenian, dan mengkonfrontir pula krisis dalam segi kehidupan inti. Kesenian yang dapat meredakan ketegangan-ketegangan dalam kejiwaan kehilangan potensinya.

d. KESENIAN: Dalam memperkatakan krisis kesusasteraan, saya tidak akan membiyarkan hasil atau isi ciptaan pujangga-pujangga Indonesia. Hal ini telah dipersoalkan oleh Sujatmoko dalam majallah Konfrontasi no. 1. Artikel Sujatmoko ini mengenai krisis kesusasteraan telah dikritik oleh Boeyoeng Saleh dalam salah satu siaran R. R. I. Krisis kesusasteraan ini saya lihat dari segi hubungan sasterawan dan rakyat. Pujangga-pujangga kita dengan ciptaanciptaannya meninggalkan rakyat jauh dibclakangnya. Ciptaan-ciptaan mereka sesungguhnya baru teruntuk bagi sebagian ketilyi masyarakat. Ambillah contoh calam lapangan poesi. Rakyat banyak tidak mengerti sajak-sajak modern yang mereka baca. Jiaa mereka belum lagi sanggup menerima. Ada sajak-sajak yang hanya pengarangnya saja yang mengerti apa isi dan ujud puesinya. Sebagian besar rakyat masih hidup dalam dunia pantun dan syaier. Dalam lapangan prosa kita lihat keadaan yang sejajar. Realismus, psykhologismus serta thema novel dan atau roman Angkatan 45 baru diterima oleh sebagian dari angkatan baru. Realismus a la Ananta Tur masih dianggap oleh rakyat-banyak pelanggaran susila, bahkan ada pujangga yang dapat digolongkan dalam Pujangga Baru masih berpendapat seperti itu.

Rakyat kita masih hidup dalam dunia hikayat. Pertanyanya yang dikemukakan Sujatmoko dalam artikelnya dalam Konfrontasi itu: “mungkin bentuk roman bukanlah alat-perantara yang paling cocok bagi pengarang Indonesia” ada mengandung unsur-unsur kebenaran. Tetapi sesungguhnya pendapat saya agak berbeda dengan Sujatmoko; bukanlah roman tidak cocok sebagai alat perantara pengarang, melainkan bentuk roman belum cocok dengan jiwa rakyat yang menerima. Sebab rakyat kita masih hidup dalam dunia hikayat. Hubungan antara pujangga dengan rakyat banyak terputus.

Kalau kita masuk ke dalam lapangan seni-tari, ternyata bahwa orang berusaha ke arah kemajuan, tapi mengikat dirinya dengan tradisi. Orang mau mempertahankan keaslian, tapi tidak jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan keaslian. Orang bercita-cita untuk menciptakan seni-tari kesatuan Indonesia, tapi tidak tahu diayan apa yang harus ditempuh. Orang meraba-raba. Satu pihak mau menonjolkan seni daerahnya menjadi seni-tari Indonesia, yang segera mendapat tantangan dari pihak lain. Kaum terpelajar berduyun-duyun mempelaji dansa Barat, merasa ketinggalan atau malu kalau tidak pandai berdansa. Tapi orang tidak malu kalau tidak-tahu atau tidak pandai tarina sendiri.

Dalam seni musik hampir terdapat keadaan yang sejalan. Persoalannya juga bagaimana agar mempunyai seni-bunyi kesatuan. Orang juga masih meraba-raba. Kenyataan memperlihatkan, bahwa alat alat musik dan nada Barat akan menjadi unsur utama dari seni musik itu.

Di sebelah itu orang bangga akan alat-alat musik yang sederhana, karena dianggap asli. Pertanyanya yang akan dihadapi oleh 50 juta suku Jawa dan Sunda ialah: bagaimana kedudukan gameian dan nadanya dalam seni musik kesatuan ini.

Menoleh kita keseni-lukis, terlihat bahwa naturalismus telah dianggap kuno ceh pelukis-pelukis kita. Tetapi rakyat banyak belum sampai ke tingkat aliran-aliran baru seperti ekspressionismus, impressionismus, kubismus dll. Juga di sini kelihatan putusnya hubungan antara rakyat banyak dengan senimannya.

Sesungguhnya aliran-aliran baru seperti ekspres-sionismus, impres-sionismus dll itu merupakan gerak surut dari perkembangan seni lukis Indonesia. Perhatikanlah seni wayang, seni lukis Bali dan seni primitif Indonesia. Wayang merupakan aliran ekspressionismus yang telah, berabad-abad kita punyal. seni lukis Bali menarik dunia-seni Barat. Wayang, boneka, topeng-topeng dan patung-patung kerajinan seni Indonesia memberi inspirasi pada seniman-seniman luar negeri, sedang seniman kita berlaku sebaliknya; mencari inspirasi atau contoh dari luar-negeri. Seterusnya kalau kita perhatikan pula seni-drama pada lapisan menengah keata3, akan ternyatalah bahwa perkembangannya macet. Sedang sandiwara-sandiwara rakyat, masih hidup di tengah-tengah rakyat tanpa menuju ke arah kemajuan. Juga dalam segi ini terlihat putusnya hubungan antara seniman-seniman-drama yang memegang peranan penting dalam perkembangan drama Indonesia dengan rakyat banyak.

Seni-film sebagai salah satu unsur kebudayaan Barat menarik hati kita pula untuk menyinggungnya. Selain dari satu-dua, perusahaan-perusahaan film di Indonesia bekerja tanpa ideaal. Persoalan mereka sejajar dengan perusahaan-perusahaan nasional dalam lapangan ekonomi, yaitu bagaimana mendapat untung sebanyak-banyaknya, sudah tentu dengan film berkwalitet rendah, dengan tidak mer-nsa bertinggung ja“ab untuk menyelinapkan pendidikan-massa dalam produksinya.

Pengusaha-pengusaha itu menurutkan saja keinginan rakyat yang kosong, dengan tidak berusaha meninggikan nilai filmnya satu derayat dari tingkat kejiwaan rakyat, sehingga dengan begitu sedikit demi sedikit mengangkat tingkat alam pikiran dan kecerdasan mereka. Thema film dikembalikan lagi ke-thema hikayat, sedang rakyat makin hari makin dihadapi pada dunia-ilmu. Film-film asing sesungguhnya teruntuk bagi segelintiran r-enua Indonesia, sedang jiwa rakyat belum lagi sanggup menerima. Karena itu film itu tidak memberi manfaat atau ia menumbuhkan kecenderungan-kecenderungan yang tidak sewajarinya.

Dan kalau kita memasuki lapangan bahasa.—alat perhubungan mutlak masyarakat.—maka akan ternyata pula bahwa prosesna juga dalam keadaan tidak-sewajarinya.

e. BAHASA: Kalau kita masuki lapangan bahasa, maka krisis dalam hal ini kita lihat dalam kecaburan pengertian kata-kata dan tidak adanya usaha untuk patokan kesatuan tata-bahasa, dan belum seimbangnya tenaga bahasa Indonesia ditumbuhkan dengan sadar dengan kebutuhan kita sekarang menghadapi dunia ilmu dan memakainya sebagai bahasa Kebudayaan nasional Indonesia. Murid-Murid sekolah tidak tahu tata-bahasa mana yang harus diambilinya menjadi pegangan. Ahli-Ahli bahasa-lama mau mempertahankan kemurnian tata-bahasa Melayu, dan yang baru mau merombak, memperbaharui, menambah sehingga dapat menjadi tata-bahasa dari bahasa ilmu. Orang mengucapkan kata-kata yang lain daripada tujuan atau perbuattannya. Misalnya orang menyorakkan “oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat”, tapi dalam prakteknya “oleh partai dari teman dan untuk saya”. Orang-orang yang memperkatakan atau bekerja dalam organisasi-organisasi kebudayaan, tak tahu memberi pengertian kebudayaan. Orang mau menyiptakan kebudayaan nasional, tapi tidak tahu apa yang dimaksudnya dengan kebudayaan nasional itu. Orang menantang kebudayaan Barat, tapi dalam praktek sehari-hari ia hidup dalam kebudayaan itu, dan merasa sukar sekali untuk hidup tanpa unsur-unsur kebudayaan Barat. Orang menyorakkan perdamaian, tapi perbuattannya menuju kepada peperangan: menganjurkan perdamaian nasional, tapi perbuattannya melahirkan pertantangan-pertantangan nasional. Demokrasi digembar-gemborkan, diktatur dilakukan.

Tidak ada kelihatan usaha yang sungguh-sungguh untuk memiiapin perkembangan bahasa Indonesia. Orang-orang yang dengan kata ber-api-api menganjurkan pemakaian bahasa Indonesia, masih mengikat dirinya dengan bahasa Belanda. Orang berteriak-teriak mencati kenyataan pemakaian bahasa Belanda di sekolah-sekolah, tapi orang tidak bekerja menterjemahkan buku-buku dalam bahasa itu ke dalam bahasa sendiri.

Pemuda-pemuda mengakui bahwa bahasa Indonesia penting untuk pradidikan-pengajaran, untuk menjadi bahasa ilmu, menjadi bahasa dari kebudayaan Indonesia, tapi mereka “moh” masuk fakultas-fakultas sastera Indonesia.

Selanjutnya dalam bentuk apakah penjelmaan krisis itu dalam lapangan ilmu-pengetahuan?

f. ILMU-PENGETAHUAN. Indonesia modern, yang tengah kita industrialisasi, adalah Indonesia yang secara aktif ikut dalam dunia ilmu dan teknik.. Sarjana-sarjana dan fakultas-fakultas kita baru pandai mengoper ilmu-ilmu yang diperdapat oleh luar-negeri, tingkat penciptaan belum terlihat. Kecenderungan untuk researkh belum tumbuh. Kegiatan ilmu tidak seimbang dengan usaha pembangunan yang dihadapi atau yang dilaksanakan. Ilmu-ilmu yang ada dioper mentah-mentah, tanpa menyesuaikannya dengan ruang dan waktu di Indonesia.

g. PENDIDIKAN. Kalau kita menoleh kelapangan pendidikan-pengajaran maka ternyata, bahwa pendidikan-pengajaran yang dapat memberikan persiapan-persiapan bagi angkatan yang tengah tumbuh, sehingga mereka berkesanggupan mengatasi krisis yang tengah berjalanan sekarang, tidak dihadapi dengan sungguh-sungguh. Orang tenggelam oleh slogan muluk “pendidikan nasional”, tapi manakah prakteknya? Kwantitet sekolah dan murid bertambah, kwalitetenya menurun. Sistem sekolah kolonial yang tidak mementingkan pendidikan kejiwaan, di sebelah menonjolkan pengajaarn untuk intelek (otak) masih belum diubah.

h. FILSAFAT. Dalam satu segi dapat kita lihat bahwa pokok-pokok krisis itu berakar dalam filsafat. Marilah kita masuki dunia filsafat Indonesia dan melihat pula adanya krisis di sini. Pemimpin-pemimpin tidak mau atau tidak pandai berpikir secara filsafat. Nafsu-nafsu telah mengalahkan kecenderungan untuk berpikir ke arah hakikat dan kebenaran. Pemimpin-pemimpin kita sudah menjadi politisi semuana. Dan sejajar dengan ucapan Sokrates, yang mengatakan bahwa kalau tidak filosof-filosof yang memegang pimpinan negara, peperangan tidak akan henti-hentinya, maka sekarang kenyataan: pimpinan politisi kita melahirkan pertantangan dan kekacuhan dalam masyarakat. Orang tidak berpikir dengan akal, melainkan dengan perasaan. Atau pikiran mereka sudah takluk ke bawah kekuasaan perasaan, sehingga, tidak ada objektivitet, tidak realistis, tidak rasionil. Tetapi di mana perasaan-perasaan yang harus memainkan peranan, orang yuist mempergunakan-akal yang tegang. Hati-nurani (gewetan) sudah membisu. Campur aduk antara pikiran dan perasaan ini menyatakan diri dalam cara memandang. Pembagian warna hanya dua saja, putih atau hitam. Yang pada kita tiap-tiapnya betul, yang pada orang lain salah semuanya. Orang hanya memandang dari satu segi, dan tidak berusaha untuk melihat sesuatu objek dari jurusan lain. Karena itu tiap-tiap pandangan itu berat sebelah, timpang. Pandangan yang korup ini diambil sebagai pegangan, dikatakan benar, karena ia adalah pandangan sendiri. Bermacam-macam objek yang tidak hitam dikatakan hitam, karena orang berkataymatamatakan gelas hitam. Objeektivitet dan logika yang diabaikan, serta perasaan yang diutamakan ini menyebabkan: yang tidak penting dipentingkan, yang penting diabaikan. Demikianlah dalam pemikiran sesuatu, orang lebih banyuk dipengaruhi oleh perasaan-nya daripada pimpinan akalnya yang waras. Hati-nurani tidak mengontrol lagi tiap laku yang sudah atau akan dijalankan.

i. AGAMA. Dan akhirnya sampailah kita kepada pelukisan krisis dalam lapangan agama. Agama Islam yang tadinya dianut tanpa kritik oleh pemeluknya, sekarang diayudik oleh pikiran yang berdasarkan hukum logika dan ilmu. Kata-kata ulama yang tadinya amat berpengaruh dan berkuasa, sekarang tidak mempan lagi bagi mereka yang telah mulai memperdewa akal atau bagi mereka yang sudah diperbudak oleh nafsu dan menginjak-injak kebenaran. Perjuation antara golongan progressif atau wetenschappelijk dengan golongan kuno atau tradisionil, makin meningkat. Menurut statistik lebih dari 90% rakyat Indonesia memeluk agama Islam, tapi berapa %-kah yang menjalankannya dan berapa yang hanya merek saja? Pemuda-pemuda yang dididik dalam keluarga Islam, membelakangi Islam, menjadi ateis, dan ada pula, menantang terang-terangan. Orang menyorakkkan Islam itu akal, tapi ulama-ulama tidak mau menghadapi persolan akal. Pemuda-pemuda masih mengakui Islam, karena orang tuanya Islam, atau untuk tidak mengecilkan hati familinya. Agama tidak lagi menjadi keyakinan bagi mereka, tapi dilakukan karena tradisi, atau agar jiangan berten-tangan dengan anggapan umum. Dan, yang pokok ialah: filsafat agama Islam telah membeku, tidak sanggup menampung pikiran angkatan baru Islam yang tengah tumbuh. Golongan Islam-wetenschappelijk terlalu sedikit jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan kaum terpelajar yang masih menamakan dirinya Islam.

Hadirin Yth,

KRISIS KEBUDAYAAN

Lukisan yang bersifat sepintas lalu dari bermacam-macam krisis yang tengah kita alami sekarang, memperlihatkan betapa integraalinya sifat krisis itu. Dalam menyatakan diri. Kalau orang mencoba menyelesaikan krisis itu unsur demi unsur, maka akan ternyata bahwa hal itu hampir tidak mungkin, karena unsur yang satu bertalian dengan yang lain. Kita masuk ke dalam suatu lingkaran yang tidak kelibatan ujung-pangkalnya. Krisis itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah, sehingga tidak mungkin diselesaikan satu demi satu. Ambillah salah satu lapangan krisis; Kalau kita mau menyelesaikan kan keruwatan sosial, maka ternyata bahwa serentak dengan itu harus pula diselesaikan soal-soal ekonomi. Tapi krisis ekonomi itu tidak pula berdiri sendiri. Krisis politik harus pula diselesaikan terlebih dahulu. Pemberantasan gerombolan umpananya bukanlah soal ketentaraan saya. Gerombolan itu dilahirkan oleh soal-soal politik, sosial, ekonomi. Begitu juga korupsi dalam berbagai-bagai bentuknya: korupsi-korupsi uang-dinas-waktu-pimpinan-pengertian dll. Tiap-tiap penyakit masyarakat sekarang ini tidak berdiri sendiri-sendiri.

Menyelesaikan semua krisis itu sekali gus juga tidak mungkin. Karena itu soal yang harus ditentukan terlebih dahulu, yaitu mencari pokok, menetapkan sumber, yang melahirkan krisis itu dalam cerak dan bentuk yang beraneka warna. Pusat dari lingkaran harus ditentukan lebih dahulu. Kalau sudah diketahui sumbernya, dan ditiadakaan sumber itu, maka penjelmaan-penjelmaannya aka: terhenti.

Kalau telah diakui bahwa krisis ini bersifat integral, merupakan kesatuan yang dilahirkan oleh suatu sumber, maka tidaklah sukar menentukan pokok krisis itu. Berpegang pada dalil kebudayaan tadi, ternyata bahwa tiap segi, tiap unsur krisis itu, merupakan tiap segi dan tiap unsur dari apa yang dikatakan kebudayaan. Dengan begitu kita dapat berkata, bahwa krisis sekarang sesungguhnya adalah krisis kebudayaan. Karena kebudayaan itu penjelmaan cara berpikir dan cara merasa, maka krisis ini adalah krisis pikiran dan perasaan. Kedua-duanya adalah fungsi dari jiwa, maka dengan begitu krisis kita ini adalah krisis ke-jiwaan., krisis manusia Indonesia sendiri. Kita sendirilah yang sumber, pokok krisis itu. Seluruh segi-segi kehidupan yang krisis itu adalah penjelmaan dari perbuatan manusia yang dalam krisis.

SEBABNYA KRISIS.

Kalau telah kita ketahui apa sumber krisis, maka pertanyaan yang segera timbul ialah: apa sebabnya krisis itu? Sebabnya menurut pendapat saya adalah 2 bagi:

  1. sejarah Indonesia.
  2. ke-tidaksanggupan manusia Indonesia dewasa ini. Marilah kita tinyau segi sejarah yang sebagian bertanggung jawab atas krisis dewasa ini. Dalam abad ke-2 orang Hindu datang ke Indonesia bersama-sama dengan kebudayaan dan agama-agamannya. Waktu itu Indonesia masih berada dalam tingkat primitif, baik dalam kebudayaan Ataupun keagamaan. Dengan mudah kebudayaan dan agama Hindu mendesak kebudayaan dan agama-agama asli. dan berkuasa di sebagian besar pulau-pulau: Sumatera-Jawa-Kalimantan dan Bali. Kebudayaan Indonesia asli pada asasnya sama dengan kebudayaan Hindu. perbedaanya hanya terletak dalam kelanyutan perkembangan kebudayaan Hindu (akibat akulturasi Kebudayaan Drawida-Aria). Karena iu kebudayaan Hindu itu menguntungkan sekali kebudayaan asli. Orang-orang Indonesia aktif dan kreatif dalam akulturasi antara kebudayaan asing itu dan kebudayaan sendiri, akulturasi mana tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan dalam badan kebudayaan Indonesia sendiri. Dan begitu pula agama-agama Hindu sesungguhnya adalah lanjutan dari agama-agama Indonesia asli. Jarak antara agama-agama Indonesia asli serbaroh, serbatenaga, serba-alam (naturismus), spiritismus,—dan agama-agama Hindu dan Budha, tidak seberapa. Sebab itulah sinkretismus yang terjadi dengan datangnya agama-agama asing itu, adalah sinkretismus yang sewajiarnya, menguntungkan perkembangan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli.

Dalam abad ke13 saudagar-saudagar Islam memasuki pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Dengan barang-barang dagangannya masuklah pula agama dan kebudayaan Islam. Agama Islam bertentangan cajam dengan agama-agama Indone-sia-Hindu, sedang kebudayaan Islam berlauanan dengan kebudayaan Indonesia-Hindu. Namun begitu akulturasi kebudayaan yang pada asasnya bertantangan ini, juga tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan dalam kehidupan kebudayaan Indonesia, yang dalam satu segi bertambah kaya dan berkembang dengan sewajaryna, tapi dalam segi lain Islam membekukan perkembangan kebudayaan Indonesia-Hindu. Orang-orang Indonesia masih aktif dan kreatif dalam akulturasi ini, hal mana disebabkan karena kebudayaan Islam masuk dengan terpimpin dan secara damai. Begitu pula dengan agama Islam. Islam tidak merubah dengan radikal kebudayaan dan agama yang telah ada. Ia banyak memperlhatikan toleransi dan mudah, serta pandai menyesuaikan diri. Laku yang seperti ini menyebabkan banyak unsur-unsur agama dan kebudayaan Indonesia-Hindu masuk, menyelinap dalam praktek umat Islam Indonesia. Politik penganjur-penganjur Islam ialah bagaimana mendapat penganut sebanyak mungkin, tidaklah bagaimana penganut yang masuk, memahami Islam sedalam mungkin. Kwantitit lebih diutamakan daripada kwalitet. Karena itu secara formil, kebudayaan dan agama-agama Hindu terdesak dan akhirnya dikalahkan, ia hanya bertahan di Bali. Dalam prakteknya mereka yang mengakui dirinya Islam, tidak melakukan Islam itu dengan sungguh-sungguh, kebanyakan hanya Islam merek saja. Mereka memahami Islam tidak sampai kehakikatnya. Sesungguhnya dalam praktek umat Islam di Indonesia terselip kepercayaan-kepercayaan primitif dan kehinduan.

Sekarang pun yang dikatakan Islam-Jawa itu lebuh dari 50% mengandung unsur-unsur kehinduan. Di Minangkabau semenjak Islam masuk (abad ke-15) sampai sekarang ini, masih belum selesai pertantangan faham kebudayaan Islam dengan patriarkhaatstelselnya dan kebudayaan Minangkabau dengan matriarkhaatstelselnya, sedang Minangkabau dikatakan salah satu benteng yang terkuat dari Islam di Indonesia. Peryuangan agama dan adat itu sampai sekarang masih dilakukan.

Dalam abad ke-16 bangsa-bangsa Barat masuk ke Indonesia, mula-mula untuk berdagang. Untuk menjamin dan memperoleh untung sebanyak-banyaknya dari perdagangan itu, mereka berusaha menguasai wilayah Indonesia. Mereka berhasil, maka tertanamlah penjadahyan Belanda di Indonesia. Belanda membawa bersamaanya kebudayaan Barat dan agama Kristen. Kebudayaan Barat ini sesungguhnya dekat sekali dengan kebudayaan Islam. Renesans kebudayaan Barat, tumbuh berkat bahan-bahan kebudayaan Islam yang diperolehnya dalam zaman Perang Salib. Kebudayaan Barat berkembang terus, sedang kebudayaan Islam sesudah itu membeku, seringga negara-negara Islam dikuasai oleh Barat.

PERMULAAN GERAK KRISIS.

Kalau kita ingin menentukan saat permulaan gerak krisis Indonesia, dapatlah dikatakan bahwa waktu itu ialah dengan masuknya kebudayaan Barat. Kebudayaan Barat bertantangan seluruhnya dengan kebudayaan asli dan kebudayaan Indonesia-Hindu, bahkan juga tampak berbeda dengan kebudayaan Indonesia-Islam Sebagai telah dinyatkan kebudayaan dan agama Islam di Indonesia tidak murni lagi, di sebelah itu kebudayaan Islam pada sumbernya (negeri-negeri Arab) telah membeku, sehingga Indonesia tidak memperoleh unsur-unsurnya untuk kesegaran hidup kebudayaannya.

Dar, hakikat perbedaan itu adalah perbedaan cara berpikir dan cara merasa. Peranan pikiran yang objektif, rasionil dan realitis menguasai kebudayaan Barat. Kebudayaan Barat adalah kebudayaan ilmu* Dalam ilmu satu-satunya yang berkuasa adalah pikiran yang logis dan berdisiplin. Sedangkan dalam kebudayaan Indonesia yang telah tiga kali berakulturasi itu, perasaanlah yang lebih banyak memainkan peranan.

Kebudayaan Islam yang seharusnya akan memberikan kebebasan berpikir dan pikiran secara ilmu, telah membeku atau tidak murni lagi. Demikianlah ketiga kebudayaan sebelum datangnya Barat tidak banyak menumbuhkan cara berpikir Indonesia secara ilmu, sedang cara berpikir-ilmu Barat sudah amat jauh berkembangnya. Pertantangan dasar antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Barat, tidak akan menjadi soal kalau akulturasinya berjalan dengan sewajaryna.

Hal ini tidak kejadian. Indonesia tidak aktif dan kreatif dalam akulturasi kebudayaan Barat ini. Indonesia tidak berkenalan dengan seluruh kebudayaan Barat itu, melainkan dengan unsur yang terpetah-petah. Dan i-banyaka-unsur unsur itu tidak pula bagian yang baik-baiknya. Unsur-unsur kebudayaan Barat itu dioper tanpa olahan, tanpa disesuaikan dengan ruang dan waktu di Indonesia. Hal ini semua adalah disebabkan masuknya kebudayaan itu via penjajaahan. Kebudayaan Barat diperalat oleh penjajaahan untuk memenuhi nafsu kolonialismus dan imprealismus, sehingga menekan gerak perkembangan yang sewajarya dari kebudayaan Indonesia, di sebelah menekan gerak bangsa Indonesia untuk menyatapi ketiggingan martabatnya. Jadi kebudayaan Barat itu tidak terpimpin masuknya, ia menginfiltrasi masyarakat Indonesia, yang mau tidak mau harus menerima, karena dipaksakan oleh yang-dipertuan si-penjajaah. Tidak ada aktivitet dari Indonesia dalam akulturasi ini, melainkan pasifitet. Akulturasi berjalanan tidak sewajaryarnya. Pertantangan jwa antara kebudayaan yang datang dan yang didatangi, menyebabkan lahirnya krisis dalam kebudayaan Indonesia. Usaha penyesuaian tidak ada, karena dalam akulturasi itu Indonesia bersifat pasif saja.

Demikianlah di Indonesia bertemu 4 kebudayaan dunia: primitif, Hindu, Islam dan Barat. Di sebelah masing-masing mempunyai perbedaan-perbedaan besar, juga yang dua pertama bertantangan tajam dengan kedua yang penghabisan. Selain dari itu juga berjumpa 5 agama dunia disiri, yaitu: agama-agama primitif, Hindu, Budha, Islam dan Kristen.

Juga agama-agama ini mempunyai perbedaan-perbedaan besar. Jarak antara kebudayaan primitif dengan kebudayaan-Barat adalah 2000 tahun. Coya Sdr.2 pergi kepedalaman Kalimantan. Irian atau ke pulau Mentawai. Sdr.2 akan berjumpa dengan kebudayaan primitif, kebudayaan asli. berasal dari nenek-moyang kita 2000 tahun yl. Sesudah itu berkundungyiah ke Bali, maka Sdr. akan mengalami kebudayaan Indonesia-Hindu. Kalau kita melanytong ke Minangkabau atau Aceh, maka akan kita persaksikan bahwa rakyat diccesa-desa masih hidup dalam kebudayaan Indonesia Islam. Dan kalau Sdr.2 kembali ke Jakarta dengan mesin-mesin, listerik, pesawat-udarn. dan sekarang ini dengan simposion-simposion-nya, maka tiba-tiba kita berada di tengah-tengah kebudayaan Barat.

Perhatikanlah orang-orang membawa pikulan, yang dapat Sdr.2 jumpai di-jalan-jalan di Jakarta. Sementara itu melihatlah ke atas, maka akan keli-hatanlah pesawat-udara menderu-deru. Pikulan adalah alat transport dari kebudayaan primitif, dan pesawat udara adalah alat pengangkutan kebudayaan Barat. Dan jarak perkembangan dari kebudayaan primitif ke-kebudayaan Barat adalah 2000 tahun. Jarak yang 2000 tahun itu serentak dialami Indonesia dewasa ini, ia hidup 2000 tahun sekali gus. Inilah ke-unik-an Indonesia, yang tak ada daerah lain dipermukaan bumi menandinginya. Cara berpikir dan cara merasa dari 4 kebudayaan dunia bercampur-aduk dialami oleh penduduk Indonesia. Dan keper-cayaar dari 5 agama dunia bersimpang sirr pula dialami oleh orang Indonesia. Hal ini sudah tentu menimbulkan ketegangan-ke'egangan ‘dalam jiv'i bangsa Indonesia. Akulturasi dari 4 kebudayaan itu tidak ckupuk masak, sehingga kita tidak mendapat satu cara berpikir dan cara merasa yang, seragam atau yang umum di Indonesia, melainkan yang bersimpang sirr. Tidak saja antara manusia Indonesia yang seorang dengan yang lain, tapi juga dalam diri masing-masing orang Indonesia tidak terdapat kesragaman cara berpikir dan cara merasa ini. Jiva primitif, jiva Indonesia-Hindu, Indonesia-Islam dan jiva Barat hidup berdampingan dan/atau bercampur aduk. Dan masing-masing saling berebut, me-nguasai cara berpikir dan cara merasa manusia Indonesia.

Sebelah sejarah kebudayaan itu, juga sejarah politik memainkan peranan dalam timbulnya krisis. Penjajaahan Belanda dengan segala macam cara dan alatnya, membentuk jiva manusia Indonesia sedemikian rupa, sehingga akhirnya menjadi krisis. Kegiatan politik bangsa Indonesia lahir untuk menantang penjajaahan itu. Jepang datang untuk menggantikan kedudukan Belanda. Indonesia terpaksa melahirkan revolusi untuk merebut kembali kemerdekaannya.

Kedua penjajaahan serta revolusi itu merupakan pula sebab dari krisis dewasa ini.

Sejarah kebudayaan adalah sejarah perkembangan cara berpikir dan cara merasa, sejarah politik yang telah kita lalui adalah sejarah pembentukan mentalitet. Kedua-duanya ini bermuara kepada krisis.

KETIDAK-SANGGUPAN MANUSIA INDONESIA DEWASA INI.

Setelah kita merdeka maka terbukalah kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas untuk menggiatkan usaha yang intensif dalam memperbaiki segala segi kehidupan yang krisis itu; utuk melakukan perkembangan kebudayaan sewajaryna; menghadapi akulturasi dengan kebudayaan Barat dengan sadar. Tetapi alangan yang terbesar ialah akibat sejarah yang kita pusakai. Akibat ini tidak bisa kita tiadakan. Tetapi sebagai manusia yang keistimewaanyna dari makhluk lain terletak dalam tenaga pikiran, perasaan dan kemauannya, kita mempunyai potensi untuk mengatasi akibat sejarah itu.

Kenyataa menundukkan bahwa potensi yang lahir dengan kemerdekaan; semenjak selesainya agresi Belanda ke-II tidak digerakkan Kesempatan yang amat berharga itu kita biarkan lalu, Kenapa?

Diaawabna hanya pendek: Tidak ada kesadaran pemimpin-pemimpin Indonesia sehingga tidak terbentuk suatu tenaga diwya bangsa yang kuat, untuk mengatasi akibat sejarah itu. Pertanyanya dapat kita lanjutkan: Mengapa kesadaran yang lahir pada proklamasi kemerdekaan, yang berhasil mengikat persatuan bangsa yang amat kokohnya; membulukan semangat kepahlawan yang mengagumkan; kemaun yang keras laksana baja, memupuk tekat yang termateri dalam “Sekali merdeka, tetap ‘merdeka’. ”Satu kali terbilang, sudah itu hilang“, mengapa kesadaran,—yang telah berhasil merubah Indonesia—teryajadah menjadi Indonesia-merdeka—, menjadi hilang? Diaawabna menurut pendapat saya, karena pemimpin-pemimpin kita melakukan suatu kesalahan strategi yang agaknya terbesar dalam revolusi kita. Setelah kedaulatan diberikan kepada kita, pemimpin-pemimpin kita mengatakan bahwa kita telah menang, menimbulkan kesan dan suasana se-olah revolusi kita telah selesai dengan kemenangan. Apakah menang namanya, kalau kedaulatan diberikan kepada kita, kita harus membayar utang sebanyak 4 milyard rupiah, dan dikat oleh perjanjian-perjanjian K. M. B. Yang dkatakan menang, kalau kita tidak harus membayar hutang, yang menurut pendapat saya adalah pembayaran upeti. Menurut cerita-cerita lama pembayaran upeti dilakukan oleh pihak yang kalah. Menang berarti: kita yang mendiktekkan syarat-syarat perdamaian, dan tidak diditekan dengan syarat-syarat K. M. B. Setinggi-tingginya kita hanya dapat berkata sepertiga jalan yang baru kita tempuh dalam menuyu kemenangan nasional, dan jalan masih jauh. Dengan mengatakan menang ini, maka sudah sewajaryna kalau mereka yang ikut dalam menyalai kemenangan itu, meminta ”aandeel“ kemenangan. Mereka yang telah memberikan korban dan mengalami penderitaan, meminta ganjaran.

Indonesia telah menang, tentu “saya dapat menerima hak-hak-saya, setelah selama ini menunaikan kewajiiban-kewajiiban saya, yang ikut menghasilkan kemenangan ini”. Iniiah konsekwensi yang ditimbulkan dengan mengatakan kita telah menang dan menimbulkan suasana menang itu. Teryajahil perubahan psykhe rakiat (psykhiskhe omwenteling) dari memberi menjadi meminta, dari menunaikan kewajiiban menjadi menuntut hak. Negara yang dikatakan telah menang itu belum sanggup memenuhi tuntutan, dan keinginan mereka yag telah berjasa dalam perjuangan yang telah dimenangi itu. Orang kecewa, orang mencati-maki, menjadi lesu dan masa-bodo. Kalau negara tidak sanggup memberi kepuasan, mereka sendiri-lah yang akan menciptakan kepuasan itu. Kalau negara tidak memberi ongkos hidup yang cukup, crang mencari pencaharian tambahan dengan korupsi, Kalau negara tak memberi keadilan, maka orang membuat keadilan sendiri, maka lahirlah gerombolan, penggedor dll.

Orang ber-duga-duga membanggakan jasanya, atau membohongi sejarah untuk menutup lakunya yang salah selama perjuangan yang sudah. Makin kurang jasanya, kian kuat teriaknya.

Orang ber-duga-duga menumpuk kekayaan, sebagai ganti kekayaan yang telah hilang akibat perjuangan, “perjuangan yang telah berhasil dengan kemenangan itu.”

Demikianlah nafsu-nafsu dilepaskan dari ikatannya. perasaan buta diberi kemerdekaan, sedang kesewajaran dan akal yang waras diperkosa. Kesadaran makin kabur, akhirnya hilang. Kesadaran yang akan dapat mengalirkan cara berpikir dan cara merasa dalam saluran sendiri-sendiri yang sewajaryna, tidak dipunyai lagi. Mentayapi atau mempertahankan kesadaran itu berada dalam batas kesanggupan tiap-tiap manusia Indonesia, tapi manusia Indonesia itu tidak mau sadar. Kemauan mereka sudah tumpul, karena nafsu telah mengalahkan pikiran yang waras.

Karena itu krisis yang pada hakikatnya telah mulai dengan masuknya kebudayaan Barat itu, berada dalam proses klimaksnya sesudah kemerdekaan Indonesia diakui, dan sekarang rasanya tidak lama lagi kita akan sampai pada saat yang menentukan. Yaitu apakah krisis ini akan membawa Indonesia kekehancuran, atau penyakit ini akan sembuh, sehingga pembangunan tidak lagi mendapat alangan untuk menciptakan Indonesia yang jaya.

PERJUYANGAN ANTARA 2 TENAGA.

Pada saat-saat yang akan menentukan ini makin terasalah perjuangan yang hebat dalam masyarakat kita, antara 2 tenaga, tenaga integrasi dan tenaga desintegrasi, tenaga yang membangun dan tenaga yang merusak, tenaga pikiran yang waras dan tenaga nafsu serta perasaan yang membuta. Malapetaka yang seram akan kita alami, kalau tenaga desintegrasi menang dalam perjuangan ini. Kita akan menghadapi kehancuran bangsa kalau tenaga integrasi alah, yang berarti nafsu dan perasaan buta mengalahkan pikiran yang waras.

Hilangnya kesadaran menyebabkan tidak-kesanggupan manusia Indonesia dewasa ini untuk mengatasi akibat sejarah itu.

Sesungguhnya krisis ini tidak perlu kita hadapi dengan terlalu pessimis. Kalau sakit merupakan gajala hidup dari sesorang, maka adalah krisis ini merupakan gajala hidup kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan yang telah mati atau membeku tidak akan krisis. Kita baru akan cemas dan penuh pessimis, kalau kita tak dapat mengakhiri krisis itu, kalau kita kehabisan tenaga untuk mengatasinya.

Maka persoalan yang amat mendesak sekarang, bagaimana cara, jalan keluar dari krisis ini, bagaimana mengatasi akibat sejarah yang telah kita lalui, menyelesaikan akulturasi dengan kebudayaan Barat.

JALAN KELUAR DARI KRISIS.

Krisis yang mulai bergerak dengan masuknya kebudayaan Barat, menjadi krisis yang continue, yang bertambah tepat geraknya setelah penyerahan kedaulatan. Realitet menyaakkan, bahwa Indonesia makin hari makin intensif hidup dalam kebudayaan Barat, sedang jiwa manusia-manusia Indonesia masih belum coytok dengan jiwa kebudayaan Barat. Semangat primitif, Indonesia-Hindu, Indonesia-Islam, yang masing-masing berbeda di sebelah bertantangan pula dengan semangat Barat meliputi jiwa manusia-manusia Indonesia. Menurut pendapat saya starting-point untuk menyelesaikan krisis ketudayaan kita ini ialah:

KESADARAN. Gerak pertama dalam usaha menyelesaikan krisis Indonesia dewasa ini ialah: kesadaran. Melahirkan dan menumpuk kembali kesadaran dalam jiwa manusia Indonesia, terutama sekali dalam jiwa pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab di seluruh segi kehidupan, kesadaran itu akan melahirkan cara berpikir yang berasaskan hukum-hukum logika, objectif, rasional dan realitis serta cara merasa yang sewajaryna. Hati nurani akan lincah berbicara memperdebatkan tiap laku. Kesadaran akan merasakan orang kembali bertanggung-jawab kepada dirinya sendiri, kepada masyarakatnya dan kepada Tuhaninya. Nafsu dan perasaan dialirkkan pada saluran-salurannya yang sewajaryna, menyebabkan susila kembali kepada batas-batasnya yang terang.

Dalam cara memandang orang tidak akan mencampur-adukkan objeck dan subyek, sehingga orang dapat meenghadapi tiap soal dengan penuh pengertian, dan berusaha merandanginya tidak hanya dari satu arah. Yang penting akan didahulukan, yang kurang penting dikemudiankan. Kata-kata tidak lagi diobral-kan tanpa kefahaman, tidak lagi menjadi slogan-slogan penuh kekosongan, melainkan diucapkan dengan penuh pengertian. Kesungguhan dan ketekunan akan tumbuh lagi. Kesadaran akan menyeimbangkan tiap soal dengan ruang dan waktunya.

Dari 4 kebudayaan yang simpang siur dan campur aduk itu akan lahirlah kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan Indonesia itu akan tersusun dari unsur bernilai dari 4 kebudayaan itu, yang sesuai dengan ruang dan waktu. Unsur-unsur yang membentuk kebudayaan Indonesia itu merupakan satu kesatuan yang harmonis, karena pilihan itu dilakukan oleh kesadaran. Keseragaman cara berpikir dan cara merasa dalam salurrannya sendiri-sendiri, seimbang dengan ruang dan waktu, akan mengakhiri krisis yang sekarang tengah b.rgera‘ ke-puncak penentuannya. Apabila gerak jiwa manusia Indonesia sudah seimbang dan stabil, dalam mana 4 cara berpikir dan 4 cara merasa tidak lagi hidup berdampingan dan berebut kuasa dalam jiwa manusia Indonesia, maka akan terdapatlah keseragaman cara berpikir dan cara merasa yang dapat menghadapi kenyataan-kenyataan sekarang dengan sadar, kesadaran mana sebagai permulaan jalan mengatasi krisis Indonesia dewasa ini. Kebudayaan Indonesia yang dapat memahami 4 kebudayaan dunia itu, akan dapat pula mengerti pertantangan-pertantangan dan ketegangan-ketegangan di dunia sekarang ini. Sebab hakikat dari krisis dunia dewasa ini adalah krisis kebudayaan pula. Dan pihak yang penuh pengertianlah yang tidak terikat oleh cara memandang satu arah, yang dapat mendekatkan pihak-pihak yang bertantangan di dunia sekarang, dengan begitu meredakan krisis dunia. Demikianlah kesadaranalah yang dapat mengakhiri krisis Indonesia, dan kesadaran pulalah yang sanggup mengatasi krisis dunia.

Krisis Indonesia dewasa ini, yang menyatakan diri dalam tiap segi kehidupan, disebabkan oleh sejarah dan tidak-kesanggupan kita, akan menuju ke arah kehancuran bangsa dan kehancuran apa yang kita tuju dengan kemerdekaan, apabila kita tidak cepat sampai kekesadaran. Tetapi dengan kesadaran, krisis Indonesia dewasa ini akan berakhir, dan dapatlah kita mengharapkan suatu bangsa yang jaya dan suatu Negara yang jaya. Dan seterusnya meredakan krisis dunia.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.