Baca EPUB: Krisis H.B. Jassin

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KRISIS H. B. JASSIN
  2. SITOR SITUMORANG
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KRISIS H. B. JASSIN
  6. CC BY-SA 4.0

KRISIS H. B. JASSIN

SITOR SITUMORANG


KOLOFON

KRISIS H. B. JASSIN

oleh

SITOR SITUMORANG



Dimuat di majalah Mimbar Indonesia

No. 12 • 15 Januari 1955

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: The Man of Sorrows Mocked by a Soldier (probably 1511), karya Albrecht Dürer

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KRISIS H. B. JASSIN

PEMAJUAN masalah serta pemakaian perikatan “krisis” dalam ceramahnya dipadan simpson fakultet sastra ygl. 5 Desember yang lalu, oleh H. B. Jassin kecilai membulukan persoalan? Ang menambah kekalutan caera berpikir, di mana soal yang ti-dik pokok dilupakan dan orang ber-defenfent tentang soal sampine.

Pertama: Bagaimana sebenarnya harus diartikan perkataan “krisis dalam kesusasteraan”? Bagaimakah menggambarkan keadaan yang demikian?

Dengan menggambarkan turun-naik, atau stabilitas produksi pada suatu ketika? Kalau demikian yang dimaksud cudukupin dikatakan produksi mandek rtau lancar. Jangan di-bawa pernyataan krisis. Lagi pula tak mungkin ada Krisis ke-sus asteraan.

Kapan dan di mana pun tidak. Sastra ada atau tidak, hadir kata Pram, dengan nilai yang rendah atau tinggi. Dapat kita memelicarakannya, bekeryai sebagai kritikus memper-soalkan yang ada tu. Dan penilaian an ini ditentukan bata-nya oleh con-toh mana yang menjadi ukuran ter-ti nggi bag kita dengan tidak melu-pakan kemungkinan timbulnya nilai lain dan belum pernah masuk perhi-tungan kita.

Di dalam daerah penghargaan dan ukuran ini li h mungkin terjadi sesuatu yang dapat disebut krisis. Dan akhirnya akan nyata, bahwa kri-sis demikian, adalah krisis pengha-ragaan, secahgan dari krisis ke-b u -jaan. yang menyata sebagai kekalutan ukuran.

Krisis penghargaan telah lama. Sejak Puyiangga Baru. Terhadap yang lama dan yang baru. Di lapangan sastra paling menyata dalam diri kritikusH. B. Jassin.

Pertama adalah H. B. Jassin se-orang kritikus yang bekeryai secara didaktis, mengajar, dengan peng-teran yang “skhools” tentang sastra. Tentu juga ada guna kritikus demi-klan dalam “dunia sastra” kita yang sedang tumbuh. Tapi di mana la ber-pretensi lebih tinggi, ia berakibat pe-ngacauan ukuran.

Dalam kritiknyna tak pernah H. B. Jassin mengemukakan sikap pri-badi-na, karena ternyata H. B. Jassin tak punya sikap terhadap sastra melain-kan sastra itu baginya hanya satu obiek pembukaan. Tak pernah ke-li-hatan H. B. Jassin mempertinggiyng-jawabkan pilihanhanya terhadap diri sendiri. Keseuakannya melalui perken-bangan yang ter-putu-putu dari waktu kewaktu.

Jika menyebut yontoh (nama ka-rangan dan nama sesorang pengar-gang/penyair) la tak pernah pula me-nyelitkan suatu pembedaan tingkat dengan togas, sehingga sering me-nimbulkan salah paham tentang n-lainya dan tempatnya, pada orang yang baru mulai.

Kegiatan kritik a la H. B. Jassin menimbulkan kesan bagi orang se-akan-akan sastra Indonesia ini sudah ada dalam pengertian matang, dan bal-ik nama-nama yang agak dikenal umum sudah orang yang berarti (dan ter-yatna banyak menganggap kerya dan dirinya sudah berwarna karena H. B. Jassin lupa (atau tidak mengunggup) membedakan. Demikianlah betapa nama sejak Khairil Anwar telah na-nya “kedudukan” di mata umum, ka-rema dilontarkan oleh H. B. Jassin“. Dan rupanya karena H. B. Jassin ta kut sekali kalau sastra Indonesia tidak menjadi besar dan diakui ia selalu lekas-lekas gembira dengan setiap penemuan dengan ciatrasa ”tukang udap segala yenis makanan“. Dok-u-mentator H. B. Jassin agakna takut juga menganggur.

Berhasil pulu H. B. Jassin memu-puk jwa kelompok yang lebih menghargai pengakuan formele dari pihak kritik (H. B. Jassin) dari para perhitungan terhadap pekerja-an-nya sendiri.

Timbulah keadaan di mana nama-nama yang pernah dilontarkan Jassin su-dah lama disangsikan oleh pemilik nama itu sendiri, sedang pembaca Jassin masih menganggappnya peng-halang bagi pengakuan namanya.

Kumpulan “Gema Tanah Air” menjadi bukti. Kumpulan itu me-nundukkan ketiadaan ukuran pada-nya.

Memanglah misalna 90% isi “Ge-ma Tanah Air” dapat dibuang dan diganti dengan hasil-hasil sesuatu masa pengumpulan itu, yang memberikan perspektif lain (belum tentu lebih tinggi) dari Khairil Anwar, Idrus, Pramoja Ananta Toer. Setidak-tidknaya untuk menjernihkan ukur-an. Benar pula bahwa sejak “Gema Tanah Air” ada dua tiga penyair, dua tiga pengarang prosa balkna dapat kesempatan terbit dalam kum-pulan. Suatu hal yang sangat tak terjadi-terjadi karena kesempatan yang berkurang atau tertutup sama sekali.

Di lapangan puisi misalna kumpu-lan A. Rosikhy, Kirjomulyo, Toto Sudarto Bakhtiar, Sobron Adit dsb., sekadar mendapat gambaran untuk penilaian.

Tapi kesan yang hendak ditlimbul-kan bahwa se-akn-akn ada penyair atau pengarang yang ti-dik dibirga, se-mesinyna hayya membulukan ke-ca-kinan bahwa rupanya penyair dan pe-ngarang kita menganggapp kerjanya semaymat urusan club dan pengini-waktu anak sekolah yang ber-ciat-ciat jadi pengarang karena “berjiva seni”, dan dalam percakapan dan tu-lisan royal skali dengan perkataan “liptaan”. Jwa kelompok yang meminta pengakuan..

Yang benar ialah bahwa sejak Khairil Anwar dan Idrus pengarang dan penyair kita dihargai terlalu tinggi. Suatu keadaan yang dapat dimengerti karena belum adanya yontoh yang lebih tinggi daripada yang ada.

Sebenarnya tak ada negeri seperti Indonesia di mana pengarang dan pe-nyair mendapat kesempatan begitu luas untuk menyarikan buah pena-nya, yaitu dalam malahan. MaIahan dapat dikatakan bahwa justeru ka-rema adanya kesempatan yang terlalu luas itulah orang lupa akan ukuran sewajaryna.

Penulis cerita pendek yang telah menyarikan tiya empat cerita pendek yang berhasil, dalam jenis tertentu pulu, sudah mulai mengki-sahkan bagaimana ia tadinya menga-rang cerita pendeknya seperti se-orang maestro yang terlalu kenes.

Tapi dapat puya dimengerti bahwa orang yang menulis cerita pendek yang sungguh bernilai sastra merasa “ada sesuatu yang tak bers” kalau banyak cerita pendek yang tak ber-harga masih beredar sebagai hasil sastra resmi dalam kumpulan seperti “Gema Tanah Air”? Dan ukuranyna yang tak berkes, ukuran yang sebagian besar bagi orang itu masih ditentu-kan oleh H. B. Jassin.

Kalau orang dapat melupakan ukuran H. B. Jassin nama seperti Asril Sani tak usah menjadi mo-mok bagi penyair yang sungguh lebih berarti dari padanya.

Penamaan-Penamaan “verlate Indonesiskhe versie” dan “old cracks” pun tidak perlu kalau orang sungguh mengerti apa itu misalna sastra Belanda. Khairil Anwar sebagai penyair auten-tik (bukan epigon) adalah suatu per-istiwa baru, kapan dan dimana pun.

Analai kata scorang Sobron Aidit seorang penyair yang lebih berarti dari seorang Asril Sari, janganlah hanya karena Sobron Aidit menyari-kan sajaknya sekangkar dan bukan dulu. Dan lagi besar kemungkinan Asril Sani tidak lagi menganggip diri scorang pengarang atau pe-nyair yang memenoh ukuran yang telah digrapahin sendiri dengan pe-ngalaman yang bertambah.

Rupanya segala kejengkelan hen-dak ditumpahkan pada nama-nama dari timbul bersama Khairil Anwar, Idrus dsb. Kalau im timbul yang kecadaran bahwa banyak nama terlalu dihargai daripada lang semestinya itu datat disuctijati. Tapi yang yang hendak berkata bahwa dalam tahun belaka-ngan ini telah timbul pengarang dan penyair yang memberi perspektif ba-ru dan lebih besar (dan bukan hanya lain dan berupa janji) tak ada alasan untuk itu.

Juga scorang Pramoja terlalu dihargai pada suatu ketika tapi pasti juga bahwa pengarang dan pe-nyair yang kemalang (se-tidknaya oleh komentar-komentarnya) yadi lopas dari pandangan pengarang/penyair itu sendiri terlalu, dihargai pulu.

Krisis ukuran, saudara...


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.