“ADA KRISIS” DALAM KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
PEMBAKANGAN TERHADAP JASSIN
HS. GAZALBA
KOLOFON
“ADA KRISIS” DALAM KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
PEMBAKANGAN TERHADAP JASSIN
oleh
HS. GAZALBA
Dimuat di majalah Siasat
No. 398 • Th. IX • 23 Januari 1955
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Inner Tropical Seas (1944), karya Werner Drewes
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
“ADA KRISIS” DALAM KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
SIMPOSION SASTERA INDONESIA
Pada Dies Natalisnya tgl. 5 Desember 1954 yl. Fakultas Sastera Universitas Indonesia mengadakan simposion tentang sastera Indonesia. Pembintar-nya adalah II. B. Jassin, Sitor Situmorang dan Pramoeja Ananta Toer. Pidato Simposion Jassin berkepala “KEUSASTERAAN INDONESIA MODERN TAK ADA KRISIS”, Sitor berceraman tentang “PENGARUHI LUAR PADA SASTERA INDONESIA YANG TERBARU” dan Pramoeja mengenai “HIDUP DAN KERJASASTRAWAN INDONESIA MODERN”. Diutara ketiga acara tsb. yang menarik hati saya membahasnya sekarang ialah pidato-simposion Jassin.
PENDAPAT JASSIN
Kesimpulan pendapat Jassin, yang diuraikan kanna dalam 15 halaman tertulis, bahwa kesusasteraan Indonesia Modern tak ada krisis, tidak ada impasse, tidak ada kelesuan. Pendapat ini didasarkananya atas produktivitastastrawan kita. Ia mengemukakan penerbitan buku pengarang kita, baik yang berupa roman atau teryita pendek -Jassin berkata: “arus yang terus menerus dari tiptaan sastera yang mengisi lembaran malahan kesusasteraan dan kebudayaan kita”. Selersunya Jassin membuka taqir kepada kita tentang ‘tulisan’ yang sekarang masih berupa naskah dari pengarang‘ yang baru munyul, baik puluhan teryita pendek Maupun sajak’, nda pulu roman satu dua. Naskah‘ itu ada yang masih di tangan pengarangnya sendiri dan ada pula yang sudah beberapa lamanya pada penerbit’ yang masih ragu‘ untuk menerbitkan, karena pertimbangan’ komersil‘. Jassin menyebutkan sejumlah naskah yang belum diterbitkan itu, yang kebetulan diketahuinya, serta menegaskan bahwa banyak lagi yang belum diketahuinya.
Dalam menolak adanya impasse itu, Jassin mengaku bahwa karang‘ itu banyak kekurangannya, karena kekurangan pengalaman dan pengetahuan. Dalam kwantitet pembitra kita itu menolak adanya kelesuan, atau krisis, tapi mengenai kwalitet atau isi ia berkat: “Menolak adanya impasse bukan berarti bahwa apa yang dihasilkan sungguh’ sudah memenuhi segala syarat”. “Tentang kwalitet ini kita bisa banyak berbeda pendapat”.
“Jauh daripada memperketiy prestasi pengarang dan penyair kita, kita pun menjadi bahwa dilihat dalam rangka perkembangan seyarah dan kwalitet hasil-hasil karangan kita belum boleh berpuas hati dan memang kepuasan hati ini takpernah diyadi tujuan bagi pengarang dan seniman”. Jassin mengemukakan alasan‘ yang menyebabkan kwalitet karangan’ dari penulis‘ kita kurang atau belum tinggi (alasan’ mana berdasarkan logika pada umumnya dapat diterima).
Mengenai krisis Jassin berkata: “Apa yang dilihat orang sebagai krisis saya kira hanyalah suatu pergolakan yang sewajarinya dalam masyarakat yang sedang mentari perimbangan‘ baru dan nilai’ baru dalam cara hidup baru”. Akhirnya di bagian akhir uraiannya ia mengucapkan: “Jalan buntu kesusasteraan tidak ada. Kesusasteraan Indonesia tak pernah berhenti tumbuh dan kita sama sekali tiak bisa bicara tentang impasse”. “Kita sekarang pada akhir 54. Apakah kesusasteraan kita sudah mati betul? Untuk menjawab pertanyaan ini kita tak usah mengisi diri dengan pathos untuk menyatkan dengan berapi-api masih adanya nafas kita dan berdennyutnya diantung kita. Kita hanya ingin berfanta kembali: Apakah maksud saudara dengan kesusasteraan? Kalau saudara maksud kesusasteraan itu ialah kehidupan, kami dengan tenang menjawb: Saudara, kesusasteraan kita sekarang ini sedang hidup bergolak”.
Demikianlah pendapat‘-pokok Jassin, yang kita kemukakan dengan sedapatnya mensitir kembali kata’-nya.
Setelah seya mengyadi pendapat‘ Jassin ini, maka memang tak dapat diingkari bahwa dalam satu segi ada kebenaran-nya.
SEGI KEBENARAN JASSIN
Kalau dilihat dari segi produktivitet sastera, memang benar Jassin, bahwa tidak ada impasse, tidak ada kelesuan. Dilihat dari jumlah pengarang‘ dan tunas’ pengarang serta hasil‘-nya, baik yang sudah diterbitkan atau belum, kita dapat membenarkan bahwa hasil kesusasteraan kita tidak layu, kalau tidak akan dikatakan sedang subur.
Catatian Jassin tentang penerbitan buku sastera semenjak penyerahan kedaulatan, memang tak dapat diingkari. Bahwa penga-rang-rang kita tak berhenti menyipla, dan pengarang-pengarang muda berlahir-berlahir, memang adalah kenyataan-kenyataan pula. Bahwa banyak karangan-karangan yang belum sampai ke tengah masyarakat,—karena belum diterbitkan—sudah menjadi rahasia sastrawan, ahli-sastera dan penerbit. Berdasarkan produktivitet hasil-hasil sastera Kulah, Jassin‘ mengemukakan pendapatnya bahwa tidak ada krisis dalam kesusasteraan modern Indonesia. Jassin memang benar, ............. tapi hanya dalam satu segi. Kalau dilihat dari sudut “mengarang” (menghasilkan buah sastera) kritikus Jassin dapat dibenarkan. Tetapi apakah lapangan kesusasteraan hanya mengarang, menulis dan menerbitkan buah-buah sastera saja? Apakah lapangan sastera hanya dimonopoli oleh sasterawan-sasterawan saja, dengan menulis karangan-karangannya apakah lapangan kesusasteraan hanya ditentukan oleh sasterawan saja? Apakah kesusasteraan ini berdiri tersendiri, lepas dari masyarakat yang menerima-menerima dan lepas dari segi-segi kehidupan lainnya? Sastera dicipta untuk masyarakat dan sebagai suatu cabang kesenian mempunyai hubungan yang mesra, dan saling-pengaruh dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya. Maka kalau saya menandang sastera modern dari segi kehidupan masyarakat dan kesusasteraan keseluruhannya, dilanjutkan dengan memandang kesusasteraan dari segi kebudayaan keseluruhannya, maka pendapat Jassin itu disangsikan kebenarannya. Bahkan kita akan berpendapat, bahwa sebaliknya-sebaliknya yang berar, yaitu: ADA KRISIS DALAM KESUSASTERAAN MODERN INDONESIA.
KESUSASTERAAN TIDAK HANYA PRODUKSI KARANGAN
Kesusasteraan inalah suatu cabang dari kesenian. Kesenian adalah suatu bagian dari kebudayaan, yang bergerak dalam lapangan keterharuan pada umumnya, dan lapangan keindahan pada khususnya. Keindahan diperlukan oleh manusia dalam hidupnya, karena ia menumpuk kehalusan jiwa manusia menjadi berbahaya bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakatnya, apabila rasa keindahannya tumpul atau hilang sama sekali dari jiwanya, karena kekasaran jiwa. Dalam jiwa yang halus akan berkembang rasa-susila. Rasa-susila menyuruh hati-nurani (geweten) untuk berkata, ia menyesalkan tindakan yang salah dan mendorong-mendorong kepada laku yang benar. Kalau rasa-susila ini berkembang dengan sewajaranya, maka ia menyinggung rasa-agama, yang ada dalam tiap jiwa. Rasa-susila mempunyai potensi untuk membangunkan rasa-agama, kalau ia sebelum itu tidak bergerak, dan mengintensifkan rasa-agama,—kalau sebelum itu ia telah bergiat juga. Demikianlah rasa-seni (esthetiskhe gevoel), rasa-susila (etiskhegevoel) dan rasa-agama (relegieus-gevoel), saling mempunyai hubungan yang mesra dan saling-pengaruh. Ketiga rasa-rohanian manusia itu mempunyai bidang-bidang persinggungan.
Kalau saya berfocara tentang tugas kesenian-kesenian maka saya dapat membagi tugasnya dalam 3 bagian:
-
- bagi diri-pribadi seniman untuk melahirkan keterharuan yang berkumandang dalam jiwanya, atau keindahan yang dirasakannya dalam jiwanya, ke dalam salah satu bentuk kesenian yang nyata, pelukis dalam lukisan, komponis dalam lagu, arsitek dalam bangunan, sasterawan dalam sastra.
- ciptaan seni itu mempunyai potensi untuk melahirkan keterharuan/keindahan bagi diri-pribadi orang yang menerimanya.
bagi kehidupan masyarakat kesenian itu mempunyai potensi untuk memupuk kehalusan diyawa dan mengembangkan rasa-susila.
bagi hubungan dengan Yang Gaib, mereka yang religius, kesenian merupakan suatu yalan mosra dalam merasakan hubungan dengan Yang Gaib itu, mempunyai potensi untuk menggiatkan pandangan hidup atau rasa-agama.
Kesusasteraan sebagai suatu cabang dari kesenian mempunyai tugas yang sedajar. Bagi diri seniman sendiri ia bertugas peryantain keterharuan/keindahan, bagi diri orang yang menerima ia bertugas melahirkan keterharuan/keindahan; bagi masyarakat ia bertugas menggiatkan rasa susila; untuk hubungan dengan Yang Gaib ia bertugas menggiatkan gerak hubungan itu bagi mereka yang beryiwaukan keagaman. Jadi kesusasteraan mempunyai tugas pada sasterawan sendiri, pada diri yang membuat buah sastera itu, pada masyarakat, dan pada kehidupan diyawa yang men-dalam: ia bertugas untuk hubungan dengan Yang Gaib. Dengan demikian maka kesusastera-an itu tidaklah hanya untuk memuaskan sasterawan dengan melakukan produksi karangan-nya, tapi juga untuk orang yang menerima, bagi masyarakat sekitarannya, ditenggalkan dahulu tugasan dalam hubungan dengan Yang Gaib, yang makin tidak diaku oleh kehidupan sastera yang modern sekarang. Dan juga kesusasteraan tidak hanya bagi segelintiran manusia, angkatan sastrawan atau orang'ng sekitar sasterawan itu. Sekarang marilah saya tin-jau betapakah kesusasteraan modern melakukan tugasnya itu?
KESUSASTERAAN MODERN BELUM MELAKUKAN TUGASNAYA
Bagi sasterawan sendiri kesusasteraan modern tidak ada impasse. Pengarang kita sampai sekarang masih terus melahirkan karangan-nya, memahami desakan diywana dan suruhan hatinya. Banyak karangan mereka yang berhasil diterbitkan, banyak pulayang masih berupakan nekah. Telapi kenyataan adalah produksi sastera tidak berhenti. Tetapi bagaimana pendapat masyarakat atas hasil sasterawan? Ia tidak dapat dingkari, bahwa hasil sastera ini, ini ada berbiyi-yara ter-hadap orang, yang angkalan dengan sasterawan modern. Yadi, seperti telah di-nyatakan—, kesusasteraan tidak hanya untuk segelintiran manusia/saja. Bagi rakyat banyak karangan sasterawan modern ini tidak berkata apa‘, ia membisu. Jangan akan semimbulkan keterharuan kadang“ mengerti pun mereka tidak. Coba balyakan kepada mereka sajak’ modern, dan tanyakan kepada mereka: ”Apakah saudara merasa keindahannya, apakah saudara mengerti?“ Terpaksa saya mengatakan kepada Jassin, bahwa rakyat banyak tidak terharu, mereka tidak mengerti. Dengan demikian kesusasteraan modern tidak melaku-kan tugasnya yang utama, bagi masyarakat banyak, untuk memupuk kehalusan diyawa dan nilai susila serta mempertayam hati-nurani. Putuslah hubungan antara sasterawan dengan masyarakat (rakyat banyak). Maka di sini lah krisisnya kesusasteraan modern. Krisis dalam pengertian: memuncakna keadaan yang ti-dak sewayarnya. Sasterawan kita makin ma-du dalam yatra borpikirnya, makin berbeda yatra merasaanya dari rakyat banyak, sehingga masyarekatnya makin tidak mengerti, makin tidak terasa keindahan me-ghiraukan keting. galan masyarakatnya. Ia berjalan torus, maju, maju, meninggalkan merca jau di-belakang. Sasterawan kita tidak melakukan tugasanya pada masyarakatnya. Di sini lah saya melihat krisis dalam kesusasteraan modern.
Kalau saya melihat kesusasteraan modern dari segi kehidupan keseluruhannya, dengan perkataan lain memandang kesusasteraan dari sudut kebudayaan, makin nyatalah krisisnya.
Rakyat banyak masih hidup dalam dunia hikayat, pantun dan syair. Mereka masih hidup dalam dunia khayal dengan yterya‘. yang ajaib’, dalam mana raja‘, putera’ dan serta dewa‘ dan raksasa’ memainkan peranan-nya. Mereka masih hidup dalam dunia rasa, rasa membunta... yang tidak dipimpin oleh pikiran yang obyektif, realitis dan rasionali—rasa yang bebas ber-kata‘ dalam diywana. Karena itu sastera modern, yang disusun berdasarkan hukum’ logika, sastera yang harus memperhatikan ber-mayam‘ limu untuk mem-peroleh kesewayaran dalam yalan ceritana, dan cara merasana, senantiasa diawasi oleh yara berpikir mereka yang logis itu, tidak ber-kata’ apa‘ kepada rakyat-banyak. Di sini lah adanya krisis kesusasteraan modern.
Hikayat, pantun dan syair adalah kesusaste-raan asli dari kesenian nenek-moyang dalam rangka kebudayaan lama. Prosa modern dan puisi modern adalah kesusasteraan modern, dalam rangka kebudayaan baru Indonesia, setelah mengalami akulturasi yang makin hari makin mendalam dari kebudayaan Barat. Roman, novel dan sajak‘ modern adalah ter-unut bagi masyarakat yang hidup dalam du-nia ilmu dan teknik. Hikayat, pantun dan syair teruntuk bagi masyarakat yang hidup dalam dunia khayalain, animistis dinamitis dan po-litisis, dalam kehidupan desa’ yang tenang dan damai, tidak digelisahkan oleh ekonomi dan teknik modern. Karena itulah kesusaste-raan modern membisu terhadap rakyat ba-nyak yang masih hidup dalam dunia yang lam-pau, tapi belum berlalu. Di sini lah saya meli-hat adanya krisis dalam kehidupan kesusaste-raan modern.
Kalau saya melihat kesusasteraan modern dari segi kehidupan keseluruhannya, dengan perkataan lain memandang kesusasteraan dr-su sudut kebudayaan, maka makin nyatalah krisis ini.
KRISIS KEBUDAYAAN INDONESIA DEWASA INI
Dalam simposian Universitas Nasional dalam rangka peragaan lustrumnya (10 Okt. 1954), saya telah mempersoalkan Krisis Kebudayaan Indonesia Dewasa ini. Kebudayaan dalam pengertian: cara berpikir dan cara merasa yang menyatkan diri dalam seluruh segi kehidupan dari sekumpulan manusia dalam suatu ruang dan suatu waktu, berada dalam krisis yang integral.
Cara berpikir dan cara merasa manusia Indonesia berada sekarang dalam krisis. Ber-pikir dan merasa, ke-dua'nya menimbulkan kemauan, ke-tiga'nya merupakan fungsi dari diyawa. Karena itu krisis kebudayaan itu se-stingguhan adalah penjelmaan dari diyawa manusia Indonesia yang krisis. Kebudayaan da-pat dibagi dalam lapangan: ekonomi, politik-kemasyarekat, ilmu-pengetahuan, kesenian, filosaf dan agama. Kesemua ini bersum-lapangan ini berada dalam krisis. Krisis ini digerakkan oleh kebudayaan Barat, yang mem-hawa cara berpikir dan cara merasa baru yang seluruhnya bertantangan dengan cara berpikir dan cara merasa yang hidup dalam masyarakat. Demikianlah kesenian baru, yang tumbuh dalam pengaruh kesenian Barat (sc. sungguhnya kesenian dunia), menjadi tidak lagi ciolyok dengan diywa rakyat banyak (ha- nya sesuai dengan segelintiran manusia Indonesia yang telah mengalami pendidikan Barat), belum serum dengan rakyat yang masih hidup dengan cara berpikir/mesra lama dalam kesenian nenek-mayong. Kesenian modern menjadi asing bagi rakyat banyak, bersama dengan itu maka kesusasteraan modern menjadi osing pula bagi mereka.
Cemikianlah kalau dilihat dari segi kebudayaan Indonesia yang tengah mengalami krisis dewasa ini, maka kesusasteraan modern berada pula dalam krisis.
Mengatasi kesusasteraan modern berada dalam krisis, bukanlah berarti saya menghukum krisis itu. Tidaklah tiap* krisis itu salah. Memang ada krisis yang menghantarkan me- rupakan keadaan dalam masa peralihan dari kebudayaan lama kekebudayaan baru yang berdasarkan ilmu, dari kesusasteraan lama ke-kesusasteraan modern. Krisis kesusasteraan modern dewasa ini adalah krisis yang semestinya, krisis yang perlu dalam perkembangan kesusasteraan Indonesia.
KRISIS YANG SEWAJARNYA
Semenjak kebudayaan Barat berpenga- ruh dalam masyarakat kita, maka semen- jak itu pulalah lahirnya krisis dalam kebu- dayaan Indonesia. Juga krisis ini tidak saya hukum, sebab ia adalah krisis yang yang sc- mestinya, krisis yang perlu dalam perkemba- ngan kebudayaan lama ke-kebudayaan baru. Masyarakat lama yang bersahabat kehidupan- nya, mau dibawa ke-kemajuan, mau dibawa ke dunia hnu dan teknik, mau diberi kehidu- pan ekonomi modern, mau diajar kenal de- ngan dunia luar, mau disuruh mengerti ke- budayaan dunia. Timbulah pertantangan dua kekuasaan dalam masyarakat Indonesia, yang satu mau bertahan dalam kehidupan lama dalam rangka kebudayaan lama, yang lain men- nyaga yang lama itu dengan kehidupan ba- ru dan kebudayaan baru. Krisis yang tahir yang pergolakan dua kekuasaan yang bertan- tangan ini, membulatkan ketegangan* dalam diywa manusia Indonesia dan ‘ketegangan* dalam kehidupan masyarakat. Dalam ini da- pallah saya meminjam ucapan Jassin: “Ap- aya lang dilihat orang sebagai krisis, siya kira ha- nyalai suatu pergolakan yang sewajarinya da- lam masyarakat yang sedang mencari perlim- bangan baru dan nilai baru dalam cara hi- dup baru“. Masa krisis ini adalah masa gerai- lihan dari kehidupan lama ke-kehidupan baru. Karena itulah krisis ini krisis yang skharus- nya, yang sewajarinya, proses yang perlu.
Dalam rangka inilah siya melihat krisis ke- susasteraan modern. Ya adalah pertantangan* kekuasaan, yang satu mau bertahan dalam kesusasteraan lamanya, yang lain menyag- nya dengan cara baru. Teryadialah ketegang- an dalam kehidupan kesusasteraan Indonesia. Sasterawan* modern melontarkan karangan* modern-nya kepada rakyat banyak, yang cienderung bertahan dalam hiyakat, pantun dan syaip. Kesusasteraan modern ditang- oleh rakyat banyak, karena meyra belum me- ngerti, belum merasa kehdinahana dan man- faatnya. Demikianlah krisis ini merupakan ma- sa pratiha dari kesusasteraan lama ke kesusasteraan baru. Yang me- nrima sastera modern ini hanya segelintiran manusia Indonesia diperbandingkan dengan masyarakat Indonesia yang lebih banyak dan luas.
Kita mau membawa masyarakat kita keja- lan kemajuan, untuk perbaikan yang integral dari kehidupannya. Untuk itu ia harus melalu proses, proses mana yang sesungguhnya adalah keadaan yang krisis. Karena itulah siya katakan, bahwa krisis ini adalah krisis yang sewajarinya, krisis yang kita perlutkan.
Setelah siya menyatakan adanya krisis ke- susasteraan modern ini, maka sewajarinya lah bir pertanyian: “Bagaimakah mengatasi krisis ini, apa diyan keluar dari krisis ini?” Kalau kita sudah tahu sebab yang melahir- kan krisis ini, telah dapat pula menganalisa krisis itu, maka lahirlah pengertian tentang krisis tsb. Dengan demikian tidaklah sukar menentukan diyan untuk mengatasinyya. Se- bab rakyat banyak tidak mengerti dan merasa keindahan sastera modern ialah karena me- reka masih hidup dalam cara berpikir/merasa lama. Hal ini disebabkan lagi, karena be- lum berkembang kecerdasanya, dipandang dari segi kemajuan dan kebudayaan baru. Sasterawan* modern dan segelintiran orang yang mengerti dan merasakan sastera modern itu, mereka sampai kepada cara* modernnya, karena cara berpikir/merasa baru. Cara ber- pikir/merasa modern ini diperolehnya dari pendidikan dan pengajaran, baik dalam se- kolah atau di luarnya, banyak yang dengan bimbingan guru, tapi ada pula yang dengan usaha sendiri.
Agar rakyat banyak dapat pula mengerti dan merasakan sastera modern ini, haruslah mereka* mempunyai* pula cara berpikir/merasa modern. Betapakah diyalan*? Cara/yan seperti yang telah dilakukan oleh sasterawan* modern dan orang yang telah hidup dalam ke- hidupan modern. Hal ini ditlayi dengan pen- didikan* dan pengajaran. Nah, pendidikan dan pengajaran modern yang dapat mem- bawa rakyat banyak kecara berpikir/merasa baru, sehingga mereka mengerti dan merasa- kan sastera modern itu.
Dengan demikian siya berkata: “Berilah rakyat banyak pendidikan dan pengajaran, berilah mereka sekolah banyak*, adakanlah kursus* pengetahuan umum sederetan ba- nyaknya, sehingga dapat menampung kebutu- han dari seluruh rakyat banyak itu. Berilah mereka perlengkapan, sehingga memperoleh kehidupan modern, yang memperbaiki kehi- dupan lama secara integral.”
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.