DAYA KHAYAL & DAYA CIPTA DALAM KESUSASTERAAN
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
DAYA KHAYAL & DAYA CIPTA DALAM KESUSASTERAAN
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Siasat
No. 295 • Th. VII • Januari 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Dream in the Grass (1932), karya Werner Drewes
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
DAYA KHAYAL & DAYA CIPTA DALAM KESUSASTERAAN
IWAN TURGENEV, salah seorang pujangga besar Rusia pernah mengatakan dalam salah satu buku yeritanya dengan kata-kata demikian: “Itulah kebagusany yang hebat dari puli; ia mengatakan pada kita sesuatu yang tidak ada, tetapi yang bukan saja lebih baik; bahkan juga yang lebih mendekati kebenaran.” Salah seorang harjana sastera lainnya bilang bahwa kesusasteraan adalah lebih daripada kenyataan seharian.
Ucapan yang lucu itu sungguh tak masuk di akal bila diterima dengan sepintas-lalu belaka. Tetapi lambat-laun dalam pergaulan rapat dengan dunia-sastera ucapan-ucapan tersebut klan lama kian menyata dan akhirinya merupakan hukum apabila dengan ini dipergunakan ukuran-ukuran yg pada tempatnya. Terlampau banyak kolimit zastera mengharukan seseorang, bahkan mengucurukan air matanya; lebih benar daripada kenyataan yang terjadi dan yang sedang dihadapinya didunie dan waktunya sendiri. Demikian pula tidaklah kurang-kurang debaran jantung menjadi cepat dan berahi datang meluap menghadapi kekasih yang dihidangkan oleh seorang pujangga pada pembacanya, lebih benar daripada bila kekasih itu dihadapi sendiri dengan darah dan dagingnya.
Kesusasteraan membawa manusia pada perkenalan dengan dirinya sendiri, dalam bentuk, sifat dan watak-wataknya. Dan soal Ataupun obyek yang dikemukakan adalah jalan dan lorong yang menuju kediri kembali.
Setelah membaca Gunther Weisenborn dalam bukunya Dokter in de Gran Khaco, kisah seorang dokter yang mencari penyelesaian tentang masalah sakit, kemudian terlibat dalam revolusi Mexico—dibacanya pula Albert Halaman dalam bukunya De Rankho der X Mysteries, kisah seorang asing yang tertarik pada cerita Mexico dan pergi ke sana serta berhadapan dengan bangsa Mexico bersama keajaiban, kelemahan dan kekuatan-kekuatannya—dibacanya Laurence E. Skhmeckebier dalam bukunya yang indah Modern Mexican Art yang hampir separoh dari buku itu berisi reproduksi fresco-fresco masyhur dari Mexico—ditontonnya beberapa-film Mexico: the torkh, the pearl dan lain-lain lagi—orang ini dengan terharu, haruan yg membuat hatinya demikian sakitnya, la jatuh cinta pada Mexico. Mexico yang hanya ia ketahui dari musik, film, sastera dan ovarrubias-nya. Dan apabila orang ini datang sendiri ke Mexico dengan tubuhnya maka kenyataan-kenyataan dari buku yang dibacanya, tentang gairat-gairat yang diterimanya dari film dan sasteranya adalah lebih be-
Kekuasaan apakah sebenarnya yang tersembunyi di dalam buku-buku dan film serta musik dan lukisan itu—pendeknya dalam seninya itu. Di sinilah letaknya rahasia dari dunia seni umumnya dan kesusasteraan khususnya. Rahasia yang mana tiap pengarang mau mengetahui dan memilikinya sebagai senjata, dari yang kerdil hingga raksasanya sekali. Inilah yang bisa menyulap seorang menjadi jeni, yg menyentuh kejadian-kejadian mati menjadi hidup, bergerak, bernafas, berduyang dan abadi. Tiap pengarang dengan mempetaruhkan hidupnya mau memiliki, dan tiap pujangga dengan penuh sayangnya mempertahankan ini buat ketentuan sejarah hidupnya sendiri—buat menyumbangkan kemampuannya untuk meringankan penderitaan manusia, manusia seluruhnya di atas dunia dan di dalam sejarahnya.
Seniman dengan rahasia ini menciptakan dunia baru, dunia tersendiri, yang lebih benar daripada dunia yang dapat diraba—dunia yang mutlak dan tak dapat dipertengkarkan. Pikiran atau filsafat seniman bisa bersalah dan bodoh, tetapi rahasia ini akan tetap hidup, juga dunia yang diciptakannya, berkat adanya dia takkan rusak, terlepas dari segala hukum di atas yang sudah ditemukan dan diakui. Dan rahasia ini adalah pula suatu sebab mengapa seni lebih dari kecakapan-kecakapan yang dapat dipelajaryi. Dan sudah menjadi anggapan umum di masa-masa dahulu, bahkan kadang-kadang juga kini, bahwa seorang pujangga adalah lebih dari orang biasa. Di mana kini anggapan demikian memang bukanlah pada tempat nyna. Kelebihan tiap orang adalah kekuatan yang melindunginya dari ba haya kelaparan.. Dan kelebihan ini boleh dikata ada pada tiap orang—dalam tingkat-tingkatnya—dari petani, pemimpin-pemimpin pemerintahan. Dan pujangga-pujangga pun punya kelebihihannya;—dalam tingkat-tingkatnya masing-masing. Ini orang dapatiyuga dalam dunia binatang. Apabila kelebihan dari binatang itu dilenyap kan, mati atau lumpuhlah ia sebagai makhluk yang bebas.
Dan dunia yang lebih benar yang diciptakan oleh para seniman itu pula yang menyebabkan mengapa senilukis tak dapat dikalahkan oleh kcakapan memotret, aktir-aktir tak dapat diganti oleh kartoon, senisastera tak dapat diusir oleh reportase obyektif, senipahat tidak oleh kemahiran mencetak belaka.
Rahasia yang memungkinkan adanya seni ini-ialah daya khayal. Adalah suatu kekhilafan bila orang mencampur-adukkan khayal dengan lamunan. Lamunan biasanya adalah suatu gejala adanya kekacauan pikiran. Dan, khayal—orang mengosongkan diri dari perasaan dan pikirannya, otak dan hatinya, kemudian khayal datang berkunjung dan menyentuh benda-benda atau pikiran-pikiran Ataupun perasaan-perasaan beku menjadi hidup. Dan kalau pada permulaan tahun 1952 Lembaga Kebudayaan Indonesia dalam kongresnya di Bandung menegaskan suatu kesimpulan, bahwa kesusasteraan bukan diciptakan tetapi “menciptakan dirinya sendiri ini tidaklah begitu salah bila batu loncatan pikiran diletakkan pada khayal dengan manusia sebagai mediumnya—sebagai perantara.
Soalnya sekarang berpindah pada pandangan seseorang tentang khayal. Adakah khayal itu dipandang sebagai kejadian psykhologis atau mystis. Kalau ia dipandang sebagai kejadian mystis, maka ia adalah sesuatu yang luhur, suatu pemberian atau ilham, yang mana manusia hanya memiliki sebagai penerimaan belaka. Dan di masa ini bersama dengan perkembangan apa yang disebut kritis materialisme, kata-kata luhur adalah buah tertawaan yang menyenangkan. Tetapi apabila kejadian itu dipandang sebagai barang psykhologis semata maka kesimpulan yang telah disahkan oleh Kongres Lembaga Kebudayaan Indonesia di Bandung itu sungguh-sungguh berbau dupa dan setanggi.
Dayakhayal atau dayafantasi adalah soal hidup atau matinya seorang pengarang. Bagi seorang seniman, kenyataan telanjang adalah tidak penuh dan terserak, tercerai satu sama-lainnya, dan tidak mempunyai hubungan, apabila semua itu tidak dirangkumkan serta diperdiyelas oleh dayakhayalnya. Kejadian sehari-hari dan benda dikekiling kita adalah mati, tidak kuasa memberi kekayaan batin, apabila dayakhayal itu tidak ada. Dan apakah lagi harganya dunia bila manusia hidup dikekiling dunia dengan isinya yang mati. Justru karena itulah tiap seniman hidup dalam dua dunia: dunia kenyataan yang lebih baik dan benar, yaitu khayalnya, dan dunia kenyataan yakni bumi dan alamnya yang dapat diraba dan dirasai.
Kebijaksanaan dan kecerdasan saja, tidak cukup bagi seseorang. Dan apabila ia tidak mempunyai daya fantasi, maka dunia tidak menarik hati lagi, dan hiduunya menjadi kering dan dangkal.
Sebaliknya, dayakhayal yang tidak didukung oleh dayacipta bukan saja tidak menaikkan harga manusia bahkan melumpuhkannya. Ia hanya tenggelam di alam khayal. Tiap orang dalam masyarakatanya adalah berlaku sebagai produsen dan juga sekali-gus sebagai konsumen. Sebagai konsumen sudahlah pasti. Dan bila tidak sebagai produsen maka kata sampah untuknya tidaklah begitu menyakit-kan hati. Dayakhayal pun memainkan peran yang amat penting dalam seyarah kemanusiaan-n. Penemuan-Penemuan mesin baru atau pendapatan baru sebagian terbesar adalah berkah adanya dayakhayal ~ dan bukan pemikiran atau kebetulan semata. Bahkan sebagus-bagus idee bila sonder khayal adalah seperti pasir ditiup angin. Dan setelah idee, khayal dan bahasa ini didukung oleh dayaytipta, maka lahirlah kesusasteraan. Idee dan khayal selamanya merupakan kebulatan yang penuh, berisi ketegas-ketegasan mutlak dan karenanya pula hilanglah berbagai details serta embel-embel yang biasanya lebih banyak terdapat dalam penghidupan sehari-hari daripada di dunia khayal dengan segala kemur-nian dan ketegasannya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang ilmu dan pengetahuan tidak menghargai adanya dayakhayal ini. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak tergolong didalamnya pun tak kurang-kurangnya bersikap demikian. Peristiwa ini adalah disebabkan oleh kenyataan, bahwa ilmu dan pengetahuan yang ada padanya itu belum merupakan bagian dari hidupnya sendiri, tetapi masih merupakan barang men-tah yang ada di luar dirinya, tidak ubahnya dengan seberkas buku dile-mari. Apakah mungkin seseorang beranjak dari tempatnya, dengan rlang, dengan bersemangat dan dengan keyakinan hanya karena telah mengetahui soalnya belaka dan tidak dengan campur tangan khayalnya? Bahkan kejayaan, kemerdekaan dan kebesaran sesuatu bangsa tidaklah dimulai dengan perhitungan yang ke-ring, tetapi dimulai dengan fantasi nya.
Kemudian dayacipta membawa hasil khayalan atas benda-benda dan keja-dian-dian mati itu kepada masyarakat. Dengan tiada dayacipta maka khayal itu tidak punya jalan keluar. Dan apa yang benar dan lebih besar daripada kenyataan sehari-hari tidaklah dapat diperalami oleh tiap orang, khusus hanya untuk seorang saja.
Tiap orang sebenarnya punya daya fantasi yang cukup untuk memungkinkan dirinya tidak bosan pada hidup dan dunianya sendiri. Dan apabila dayakhayal itu datang dari luar dirinya, maka dayacipta adalah ada di dalam diri tiap orang. Dayacipta se-sungguhnya dapat diperbesar dan dipernyata oleh latihan sehari-hari: latihan mempergunakanniya. Sebagai juga halnya dengan otot-otot yang ada pada kita ia lemah atau kian menjadi kuat bila tidak atau bila terus menerus dipergunakan. Hasil ciptaan sesungguhnya tergantung pada besar kecilnya dayakhayal dan khayal itu sendiri. Sedang dayacipta dapat menyulap dari yang tiada ke yang ada baik yang dijadikan ada itu ke cil Maupun besar.
Nyatalah bahwa juga di dalam du nia kesusasteraan, latihan mencipta itu perlu, untuk menyiapkan diri dan juga untuk memperbesar tenaga kerja apabila khayal datang padanya. Dan bila demikian halnya maka karangan yang bagus lahirlah.
Usaha parausawan dalam memasukkan sistim lopende band Taylor dalam penyelenggaraan dan pembuatan film di Hollywood menyebabkan kematian senifilm di sana. Kemunduran ini terus-menerus terasa. Kesusasteraan tidak menduduki tempat pertama sebagai dahulu. Jiwadang telah menentukan segala-galanya. Cerita boleh di otak-atik semua-nya: kasih sedikit romance, sedikit perkelahian dan nyanyian, kadang rian dan banyolan, dan film pun ja-dilah Ahli-Ahli perkelahian, cium; badut, nyanyi dan tari sudah sedia untuk memasak adegan-adegan. Denganlopende band demikian dapat dihasilkan beratus film dalam sekwartal, dan akibatnya: kematian film sebagai hasil seni tidak dapat dihindarkan.
Adalah suatu keanehan bahwa seorang usawan film Indonesia mau meniru-niru carakerja Hollywood ini. Dengan tiada sadar ia telah menyebut keris untuk menikam dadanya sendiri dalam masa Indonesia baru memperoleh kelahirannya sebagai makhluk seni-bebas. Dan bila usawan tersebut kini merupakan exponent di dunia film Indonesia, dapatlah dimengerti mengapa hingga ki-ni tidak ada dari puncak kesusas teraan Indonesia sebelum dan sesudah perang difilmkan, bahkan juga tidak oleh Perusahaan Film Negara. Keadan pincang ini dikuatkan pula oleh adanya dua gerombolan dalam pertumbuhanya yang tersendiri-sendi, yakhi gerombolan budaya resmi yang dipersatukan oleh jeritan De wantoro hendak mempersatukan puncak kebudayaan daerah sebagai kebudayaan Indonesia suatu pikiran yang gilang-gemilang dalam keseli pannya dan golonganya lam yang mempergunakan kehadiran hidupnyai Gerombolan pertama adalah mereka yang berkuasa di badan-badan penyeenggaraan hasil seni dan golongan kedua adalah yang sesungguhnya mereka yang dikuasai tetapi menghasilkan. Dan dalam hal ini apabila Balai Pustaka dibandingkan dengan Perusahaan Film Negara maka yang per tama adalah jauh lebih maju, kan yang termaju di saat ini.
Dayacipta ini—dan ini yang sangat sangat disesalkan ada da daerah pengaruh penyelenggai dan keuangan diuga Manakah harus dikerjakan terlebih dal mengisi perut yang lapar, men muti tubuh yang dingin, ataukah kecimpung di alam abstrak den khayal dan cintanya! Tidaklah be salah adabila dikatakan bahwa dudukan gerombolan pertama te but yang memegang kekuasaan pangan penyelenggaraan mengant akan makin lemahnya daya cipta pangan kesusasteraan dan seni da umumnya.
Jalan satu-satunya yang terdekat lah suafu keharusan bagi golon kedur untuk mempunyai penyel garaan tsendiri, bahkan sed mungkin terlepas dari geromb yang pertama.
Dayafantasi adalah kekuatan tak dapat terancam oleh apa pun ga. Tetapi dayacipta adalah sarapuhnya
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.