INILAH KESUSASTERAAN INDONESIA
ZAIN LUWIS
KOLOFON
INILAH KESUSASTERAAN INDONESIA
oleh
ZAIN LUWIS
Dimuat di majalah Siasat
No. 308 • Th. VII • 26 April 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Masks (1913), karya Fritz Baumann
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
INILAH KESUSASTERAAN INDONESIA
SAYA hanyalah seorang tukang agenda, tetapi oleh pekerjaan saya itu saya tahu juga sedikit tentang keadaan di dalam lingkungan P. P. dan K. Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Mana pendidikan, mana pengajaran dan mana kebudayaan sebenarnya suyit juga dipisah-pisahkan. Tetapi menurut perumusan nama itu yang di belakang se-akan-akan tidak berapa penting. Maka tiada salah, kalau ada orang yang menyangka bahwa kebudayaan itu ialah kesenian saja, karena jawatan kebudayaan itu nampaknya rajin benar mengurus makam-makam dan peninggalan-peninggalan purba, ditambah pula dengan urusan tari-tari. Dalam urusan tari-tari ini saudara jangan lupa bahwa tari muda-mudi termasuk juga dalam perhatiannya. Mungkin berkat perhatian ini sebentar lagi akan mutuul pula tari tua-lui, selanyutuoa tari tua-nudi pun mungkin pula sudah ada dalam impi-an.
Tetapi bagi saya, karena saya hanya scorang tukang agenda saja; saya hanya mempunyai skhema atau bagan dari kementerian itu, lengkap dengan personalianya yang kebanyakan nama akhirnya berbunyi vokal O, antara lain Sudarsono sebagai kepala bagian jawatan Kebudayaan—dalam almanak Gapura 1953 ditulis Mr. Kuncoro—satu-satunya jawatan yang setia di kota Yogyakarta, yang tidak mau pindah ke Jakarta, karena Jakarta masih ibu-kota sementara.
Sdr. barangkali bertanya-tanya, mengapa saya hanya membicarakan kebudayaan saja dan tidak me-nyinggung-nyinggung cabang lain-lainnya seperti Pendidikan Masyarakat yang rajin membanteras butahuruf, Pendidikan Jasmani yang setiap tahun siap sedia mengadakan P. O. N. , P. O. R. A. P. , P. O. S. L. A. dsb. Saya tidak bicarakan bagian-bagian ini karena pokok acara surat saya hanya mengenai kesusasteraan.
Begini sdr.! Kira-Kira setahun dua yang lampau, melayang sebuah surat dari UNESCO ke Jakarta, ibukota R. I. sementara. Seperti sdr. ketahui UNESCO adalah badan kebudayaan dari U. N. O. dan sudah semestinya surat terscbut dialamatkan pada kementerian P. P. dan K. Demikianlah saya sebagai tukang agenda harus mengagendanya. Bagi saya biasanya isi-isi surat tak seberapa saya perhatikan. Tetapi sekali ini sepandang lalu saya baca juga, lebih-lebih karena datangnya dari luar negeri. Maksud surat itu ialah untuk saling tukar menukar kebudayaan seuruh bangsa di dunia, maka diharap supaya Indonesia juga ikut mengirimkan hasil-hasil kesusteraan lama/baru yang maia-maia bersifat representatif, unipersil dsb., guna diterjemabkan ke dalam balasa-balasa lainnia atas anjuranz dan Usalah UNESCO sendiri.
Sebagai sdr., ketahui semua surat-surat teruntuk sesuatu kementerian harus terlebih dahulu singgah pada Sekjen dari kementerian itu, begitu pun surat ini. Lalu surat ini disampaikan pada Biro Unesco, satu badan dari kementerian P. P. dan K. Badan itu yang tentu sebagai penghubung saja, terpaksa pusing kepala memikirkan ke mana surat itu harus disampaikan. Sebenarnya bagi orang yang kurang tahu Sekalipun seluk-beluk kementerian P. P. dan K. itu, kalau disebut kesusasteraan sudah termasuk bagian K. -nya. Dan memang di bagian K. ini ada satu badan Bagian Bahasa (kabarnya bagian sosial Kulturil), yang sebelum kabinet Wilopo berdiri masih bernama Balai Bahasa. Konon kabarnya dulu sudah hendak digabungkan dengan I. T. C. O. , suatu instelling universitet Indonesia fakultet Kesusasteraan Jakarta, karena boleh dikatakan hampir bersamaan tugasnya. Tetapi apa yang sdr. lihat kenyataannya, ialah Balai Bahasa menjelma jadi Bagian Bahasa dan I. T. C. O. menjadi Lem-baga dan Budaya.
Selain dari ada lagi di bagian P1-nya bagian yang mengurus kesusasteraan, yaitu yang masuk bagian Pendidikan Masyarakat. Di P-P-nya juga ada, yaitu urusan naskah dan majalalah. Lain daripada itu pula yang bebas berdiri sendiri; Balai Pustaka, tetapi ini sudah terang hanya sebagai perlengkapan saja, karena urusan kesusasteraannya sudah dicopet dan sudah dimasukkan ke dalam Pendidikan Masyarakat. Sungguh bingung pimpinan Biro itu ke mana harus disampaikannya. Tetapi kesudahannya untung biro tsb. tahu juga sedikit soal-soal kebudayaan. Lantas membualatkan hati: “dikirim saja pada Jawatan Kebudayaan, karena sudah semestinya jawatan itu yang mengurus kesusasteraan”, pikirnya serta memberikan surat itu pada tukang ekspedisi.
Surat terpaksa melayang ke Yogya, karena di sanalah kantor pusat Jawatan Kebudayaan. Ada juga cabangnya di Jakarta, tetapi menurut yaburan cabang ini urusannya hanya sekedar terima tamu-tamu kebudayaan.
Pendek kata surat dari Jakarta sampai di Yogya.
Kira-Kira tiga bulan kemudian, pendeknya setelah motor-motor dinas pakai tanda segitiga merah dalam lingkaran, surat yang akan diagenda bertimbun-timbul di atas meja saya. Sebuah surat tiba gilirannya. Sipengirim Cabang bagian Bahasa Yogyakarta (cuma bagian itu yang selalu saya catat dalam buku agenda). Seketika itu juga teringat saya pada surat dari Unesco dulu. Saya periksa sebentar: “Membalas surat Tuan nomor.........” saya balik-balik buku agenda: Cocok! tidak salah lagi. Surat itu memang membalas surat yang terscbut dahulu.
Aduh! “ada yang untung nanti sasterawan-sasterawan Indonesia, tentu dibayar Unesco”, pikirku dalam hati sambil mengingat nama Sasterawan-Sasterawan, Khairil Anwar, Ananta Toer, Idrus, Suman H. S. Takdir, Armijn Pane dll. Lalu ku-baca sepintas lalu nama-nama buku-buku yang dicatat dalam surat itu, catah siapa yang beruntung nanti.
Cuma empat buah sdr. Sayang Ananta Toer tidak kebagian. Juga Armijn Pane atau Suman H. S. buat kali ini belum beruntung rupanya. Tetapi kemudian saya terkejut: pengarangnya tidak ada.
Akan saya sebut keempa: buku-buku itu satu persatu? Baik. Dan saya harap sdr. Akhdiat dengan Atheismya jangan mengomel, karen. tidak dimasukkan. Tetapi pula kesudahannya, apa gunanya saya sebut nama buku-buku itu, karena keempat-keempatnya banyalah mengenai wayang dan pedalangan.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.