Baca EPUB: Jadilah Komunis yang Baik dan Lebih Baik Lagi!

7 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. JADILAH KOMUNIS YANG BAIK DAN LEBIH BAIK LAGI!
  2. D. N. AIDIT
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KETERANGAN PENERBIT
  6. DENGAN SEMANGAT BANTENG MERAH MENGKONSOLIDASI ORGANISASI KOMUNIS YANG BESAR
  7. I Taatilah Konstitusi Partai!
  8. II Intensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri!
  9. III Jangan Dibiarkan Kontradiksi Intern Berlarut-larut!
  10. IVPerbaiki Metode Memimpin dan Perhebat Pengintegrasian!
  11. VSempurnakan Susunan Comite-Comite Partai!
  12. JADILAH KOMUNIS YANG BAIK DAN LEBIH BAIK LAGI!
  13. ISituasi Politik Nasional dan Internasional
  14. IISejarah PKI Adalah Proses Pengintegrasian Marxisme dengan Revolusi Indonesia
  15. III Masa Kanak-kanak PKI
  16. IV Masa Dewasa PKI
  17. VTeori-Teori PKI Lahir dari Praktek-Praktek Revolusioner
  18. VITeori-Teori tentang Revolusi Indonesia
  19. VIIHasil-Hasil Terpenting daripada Pengindonesiaan Marxisme-Leninisme
  20. VIIISukseskan Plan 4 Tahun Partai
  21. IX Pentingnya Pembangunan Ideologi dalam Melawan Revisionisme Modern
  22. X Terus Perkuat Front Persatuan Nasional
  23. XIPemetiahan Kesulitan Ekonomi Bagian Tak Terpisahkan dari Perjuangan Anti-Imperialisme
  24. XIIMengenai “Malaysia” Tidak Ada Jalan Mundur
  25. XIIIGanyang Terus 4 Bukit Setan di Asia Tenggara
  26. XIVIntensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri
  27. UNCOPYRIGHT

JADILAH KOMUNIS YANG BAIK DAN LEBIH BAIK LAGI!

D. N. AIDIT


KOLOFON

JADILAH KOMUNIS YANG BAIK DAN LEBIH BAIK LAGI!

oleh

D. N. AIDIT



Dengan semangat Banteng Merah mengkonsolidasi organisasi Komunis yang besar



Yayasan “Pembaharuan”

Jakarta 1964

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul: In Memoriam 1960, karya Ansei Uchima

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



KETERANGAN PENERBIT

Dalam brosur ini, Jadilah Kommis yang Balk dan Lebih Baik Lagi! , dimuat dua singkatan pidato Ketua CC PKI, DN. Aidit. Yang pertama beryudul Dengan Semangat Banteng Merah Mengkonsolidasi Organisasi Kommis Yang Besar, dan yang kedua Jadilah Kommis Yang Baik dan Lebih Baik Lagi! Pidato yang pertama diutayapkan pada tgl. 3 Yuli 1964 di depan Konfermas ke-I PKI, se- dangkan yang kedua pada tgl. 23 Mei 1964 di depan reseps; ulangtahun ke-44 PKI yang diadakan di kota Surabaya. Kedua pidato ini kami bukukan menjadi satu mengingat bahwa kedua pidato itu saling-mengisi dan takterpisahkan dalam rangka mengkonsolidasi lebih lanyut PKI dan front persatuan nasional guna menyelaskan tahap revolusi nasional-demokratis menuyu Indonesia Sosialis.


DENGAN SEMANGAT BANTENG MERAH MENGKONSOLIDASI ORGANISASI KOMUNIS YANG BESAR

Konferensi Nasional Partai yang ke-I ini kita adakan berdasarkan fasil 42 Konstitusi PKI. Berdasarkan fasil 43 Konstitusi dan berdasarkan laporan Komisi Mandat konferensi ini adalah sah. Konferensi Nasional ini kita adakan dengan tuju- an-an sbb.:

Pertama, kita harus menyesuakan CC Partai dengan perkembangan situasi dan perkembangan Partai. Se- bagaimana kita semua mengetahui, Kongres Nasional ke-VII (Luarbiasa) Partai kita tidak memilih CC baru padahal sejak Kongres itu (April 1962), apalagi jika dihitung sejak Kongres Nasional ke-VI (1959), telah terjadi perkembangan-perkembangan yang penting di dalam negeri Maupun di dalam Partai. Hal ini harus ditampung de- ngan menyemurnakan pimpinan Partai, terutama me- nyemurnakan CC Partai kita.

Kedua, kita harus menyesuakan seluruh Partai kita dengan perkembangan situasi supaya Partai lebih mam- pu memimpin perkembangan situasi. Organisasi Partai harus lebih dikonsolidasi, Comite-Comite Partai sampai ke Comite-Comite basis harus ditingkatkan kemampuan memim- pinnya, pembajaan-diri serta pendidikan-diri para anggota harus diintensifkan, gerakan awalan Plan 4 tahun harus dikontrol pelaksanaannya dan berbagai datata harus ditinjau dan disesuaikan dengan kebu- tuhan perjuangan. Peranan aktif ‘kesedaran subyektif’ seluruh Partai dan tiap-tiap anggota Partai harus dapat di- kembangkan secara maximal.

Ketiga, perkembangan kekuatan progresif harus kita ikuti dengan pekerjaaan yang lebih baik dalam meng- konsolidasi persatuan nasional revolusioner dan dalam memencikan lebih lanyut kekuatan kepalaabatu atau kekuatan kontra-revolusioner.

Untuk tujuan pertama saya akan mengusulkan ke- pada Konfernas ini peningkatan calonanggota-calonanggota CC. menjadi anggota-anggota CC dan pemilihan anggota-anggota dan calonanggota-calonanggota CC yang baru.

Untuk tujuan kedua saya akan mengadukan beberapa soal untuk lebih mengkonsolidasi Partai kita agar lebih mampu memimpin perkembangan situasi. Kawan Sudisman juga akan memberikan laporan kepada Konfernas ini tentang berbagai soal organisasi, terutama tentang pelaksanaan keputusan-keputusan dan instruksi-instruksi Partai. Kawan Joko Sujono akan memberi laporan tentang gerakan awalan Plan 4 Tahun Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi.

Mengenai tujuan ketiga Kawan M. H. Lukman akan memberikan laporan pokok tentang pekerjaan Partai dalam mengembangkan lebih lanjut front persatuan nasional, sedangkan beberapa kawan lain akan memberikan laporan-laporan tambahan mengenai soal ini.

Selain daripada itu, saya usulkan supaya Konfernas juga membahas dan menentukan sikap mengenai berbagai persoalan dalamnegeri dan luar negeri yang mendesak.

Pada kesempatan ini saya tidak akan mengadakan laporan tentang situasi dalam dan luar negeri, karena apa yang sudah dilaporkan dan diputuskan dalam Sidang Pleno ke-II CC setengah tahun yanglalu pada umumnya masih berlaku dan seluruh Partai kita sekarang sedang sibuk-sibuk melaksanakannya. Selain daripada itu, pada ulangtahun ke-44 Partai sebulan yang lalu pemimpin-pemimpin Partai kita telah mengadakan pidato-pidato yang dititikberatkan pada pengganyangan Si Tiga Jahat, iaitu “Malaysian”, setan-setan desa dan revisionisme modern. Dalam menguraikan tiga soal ini sekaligus telah diurai-kan seluruh situasi dan tugas-tugas Partai yang paling mendesak.

Saya sendiri pada ulangtahun ke-44 Partai telah mengadakan pidato di Surabaya yang saya beri yudul “Jadilah Komunis Yang Baik Dan Lebih Baik Lagi!”. Dalam pidato itu telah saya uraikan dengan singkat situasi politik dalam dan luar negeri, demikian juga tentang tugas-tugas nasional dan internasional yang mendesak. Mengenai pembangunan Partai agak luas diuraikan, terutama mengenai pengembangan peranan aktif kesedaran subyektif daripada Partai, mengenai pembangunan ideologi dalam melawan revisionisme, pengin-tensifan pembajaan-diri dan pendidikan-diri, syarat-syarat untuk menjadi Komunis yang baik dan lebih baik; dll. Kepada kawan-kawan pidato tsb. telah dibagikan dengan harapan kawan-kawan suka ikut menyemurnakkannya agar dapat dijadikan pegangan dan pedoman dalam usaha kita mengkonsolidasi Partai lebih lanjut, dalam lebih memperkuat front persatuan nasional, dalam lebih me-mengiyikan kekuatan kontra-revolutioner, dalam menjadi teladan melaksanakan tugas-tugas nasional dan internasional Rakyat Indonesia.

Sebagaimana sudah kawan-kawan ketahui, dalam rangka CC melaksanakan salahsatu keputusan terpenting dari-pada Sidang Pleno ke-II CC y.l., yaitu tentang mengintegrasikan Partai dengan kaum tani, selama bulan-bulan Februari, Maret, April dan Mei saya telah memimpin pekerjaan riset di seluruh Jawa dengan dibantu oleh beberapa puluh kader dari CC. I. k. 250 kader CDB dan kira-kira 3.000 kader Kecamatan dan desa. Desa-Desa di 124 Kecamatan, yaitu 24 Kecamatan di Jawa Barat, 70 di Jawa Timur dan 30 di Jawa Tengah, telah diriset selama 4 bulan itu. Yang diriset ialah keadaan kaum tani dan gerakan tani. Tetapi dalam meriset soal-soal ini juga bermuntuyul soal-soal lain yang juga sangat penting. Antara lain banyak sekali soal-soal kader dan soal-soal organisasi yang terungkap. Di bawah ini akan saya kemukakan beberapa soal kader dan organisasi yang perlu segera mendapat perhatian kita untuk cetap di atas.

Di sini saya tidak berbicara tentang kader-kader dan organisasi-organisasi PKI secara pada umumnya atau pada pokok-nya. Karena kalau berbicara secara pada umumnya atau pada pokoknya, kader-kader PKI adalah sangat baik. mereka suka bekerja keras, rajin belajar, bermoral baik, berdisiplin, bersemangat tinggi, berani, dsb. Selama memimpin Partai, terutama selama memimpin pekerjaan riset belakangan ini, saya dan kawan-kawan lain sering dibikin terharu oleh kesungguhan, keikhlasan, disiplin, militansi dan kecakapan para kader yang am-bilbagian dalam berbagai pekerjaan Partai, juga dalam pekerjaan riset, termasuk kader-kader dari kalangan sarjana, mahasiswa, seniman, dan terutama kader-kader wanita. Demikian pula organisasi-organisasi PKI adalah baik, jika berbicara secara pada pokoknya atau pada umumnya. Organisasi kita adalah organisasi Marxis-Leninis, senjata perjuangan proletariat yang dapat dipertayaka.

Pada kesempatan ini saya berbicara tentang kader dan organisasi dalam hubungan dengan kekurangan kongkrit yang masih terdapat dalam tubuh Partai kita. Dalam tiap membicarakan kekurangan yang terdapat dalam tubuh Partai, saya mengharap supaya kawan senantiasa memahami se-baik-nya tentang sebab daripada adanya kekurangan itu.

Sejak lahirnya Partai kita sekejap pun tidak pernah berada di luar suasana perjuangan yang berat. Partai kita senantiasa hidup dalam kepungan klas non-proletar seperti imperialis dan agen-agennya, sisa kekuatan feodal, burduyasi sedang atau burduyasi nasional, burduyasi ketiyil dan kaum tani. Klas-Klas ini, baik pada waktu mereka menentang proletariat Maupun waktu mereka bekerjasama dengan proletariat senantiasa menggunakkan elemen-elemen yang goyang di dalam Partai guna memasuki uluhati Partai dan proletariat serta terus-menerus mempengaruhi Partai dan proletariat dalam ideologi, kebiasaan hidup, teori dan aksiinya. Dalam bekerjasama dengan kita mereka suka bekerjasama dengan Komunis yang “supel”, yang “flexibel” atau yang “luwes” menurut ukuran mereka, bukan menurut ukuran kita. “Supel”, “flexibel” atau “luwes” menurut ukuran mereka sama artinya dengan tidak memegang teguh prinsip menurut ukuran kita. Kepungan klas non-proletar itu dan pengarunya terhadap proletariat dan Partai Komunis adalah sumber daripada segala macam kelemahan dan kekurangan, segala macam kecenderungan yang salah dan tak diinginkan di dalam Partai kita, dan merupakan dasar sosial daripada segala macam oportunisme di dalam Partai kita. Inilah juga yang menjadi sumber dari perjuangan intern Partai. Dan Partai kita selalu ditempa dan dibadayakan dalam perjuangan intern itu. Oleh karena itulah, perjuangan melawan segala macam kecenderungan yang salah, segala macam kelemahan dan kekurangan, adalah perjuangan yang terus-menerus di dalam Partai kita.

Tiap anggota PKI tentu harus supel, flexibel atau luwes, tetapi supel, flexibel atau luwes dalam membawa prinsip, dalam membawakan pendirian Komunis yang sesungguhnya.

I

Taatilah Konstitusi Partai!

Kongres Nasional ke-V tahun 1954 telah menyimpulkan bahwa lahirnya Konstitusi Partai adalah dorongan yang besar bagi perkembangan Partai di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan taraf kesedaran politik Partai, untuk kehidupan demokrasi, untuk kehidupan kritik-selfkritik, untuk memperkuat disiplin Partai, untuk kesatuan ideologi dan kebulatan tenaga Partai. Dengan ketaatan kepada Konstitusi kita telah dan akan lebih membesarkan dan membulatkan organisasi Partai kita.

Sayang, bahwa masih ada kader atau Comite Partai yang bekeryda dengan sering melupakan ketentuan Konstitusi, menetapkan sesuatu dengan tidak mengingat Konstitusi. Konstitusi sering hanya digunakan untuk menetapkan sah atau tidaknya persidangan, untuk menjatuhkan tindakan disiplin kepada kawan-kawan yang melakukan pelanggaran Konstitusi dan untuk keperluan-keperluan lain yang sangat terbatas sifatnya.

Fasal 46 Konstitusi Partai menetapkan keharusan Konferensi bagi CDB, CP, CK, CS dan CSS. fasal 48 menetapkan keharusan Pleno dan fasal 50 menetapkan keharusan Konferensi antar-waktu. Ketentuan-Ketentuan Konstitusi ini belum berdialan sepenuhnya. Terutama ketentuan mengenai konferensi antar-waktu masih sering dilanggar. Juga masih ada CS yang tanpa mengumumkan alasan, menunda konferensi ber-tahun-tahun, padahal dalam Konstitusi dinyatakan bahwa ketentuan konferensi-konferensi adalah merupakan bagian dari pelaksanaan sentralisme-demokratis. yaitu bahwa semua badan pimpinan yang dipilih harus memberi pertanggungyawaban kepada yang memilihnya. Malahan juga masih ada DH CSS yang lebih dari setahun tidak mengadakan sidang.

Fasal 6 dan 7 Konstitusi yang mengatur kewajiban-kewajiban dan hak-hak anggota Partai tidak cukup ditaati. Masaca-lon dibiarkan ber-larut-larut, iuran tidak masuk teratur dianggap biasa saja, pelanggaran terhadap sentralisme-demokratis tidak dikritik, demikian pula fasal 66 Konstitusi yang mengatur kedudukan keuangan anggota-anggota Partai yang mendapat kedudukan berpenghasilan atas-nama Partai belum berjalan sepenuhnya; dsb.

Sekalipun pelanggaran-pelanggaran dan keteledoran-keteledoran ini tidak merupakan gejala umum, tapi ia harus segera diakhi-ri. Membiarakannya berarti memerosotkan dayajuang Partai, berarti meliberalisasi Partai. Suatu kesatuan tentara Sekalipun besar jumlah prajuritnya, diika ti-dak berdisiplin tak akan mampu mengalahkan musuh-musuh-nya, demikian pula halnya dengan barisan proletariat. Kekuatan Rakyat progresif Indonesia terletak pada disiplin baja Partai proletarnya, pada kesetiaan semua anggota Partai melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam Konstitusi.

Tanamkanlah semangat taat kepada Konstitusi pada semua Comite, kader dan anggota Partai!

II

Intensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri!

Kalau kita pada akhir-akhir ini banyak berbicara tentang kelemahan-kelemahan ideologi, melawan rasa puas-diri, mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri, ini ti-dak berarti bahwa kader-kader kita jelek. Sebaliknya, saya berpendapat bahwa kader-kader PKI pada umumnya adalah sangat baik seperti sudah saya katakan di muka. Bisa dihitung dengan diari jumlah Partai Komunis di dunia ini yang anggota-anggota dan terutama kader-kader-nya dengan sedar dan kompak berjuang melawan revisionisme dan dogmatisme baik yang klasik Maupun yang modern. PKI adalah satu di antara Partai-Partai yang tidak banyak jumlahnya itu.

Tetapi kita tidak boleh merasa puas-diri dengan apa yang sudah kita ciapai. Semua anggota PKI tidak boleh merasa sudah ciuk berdiyasa dan tidak boleh sombong dengan sukses-sukses yang sudah dicapainya dalam mengembangkan Partai dan memajukan gerakan revolusioner. Masing-Masing harus terus-menerus merasa bahwa dirinya masih belum bekerya baik sebagaimana mestinya dan bahwa mutu kepemimpinannya masih terus-menerus harus ditingkatkan. Puas-diri dan sombong membikin Komunis menjadi bodoh, teledor, mandeg dan merosot. Kita tidak boleh mandeg dan merosot, malainkan harus maju terus menjadi Komunis-Komunis yang baik dan lebih baik lagi. Pengalaman dalam GKI menundukkan, bahwa banyak Komunis yang sudah lama dalam Partai dan bahkan ada yang sudah puluhan tahun memimpin Partai, telah menjadi birokrat-birokrat yang subyektif dan akhirnya hanyut dalam arus revisionisme, karena kurang membajakan-diri dan mendidik-diri, karena merasa dirinya sudah “matang”.

Tepat benar semboyan pembangunan Partai kita: “Pembangunan organisasi penting tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi”. Inti daripada pendidikan ideologi adalah pembajaan-diri dan pendidikan-diri. Hanya dengan terus-menerus mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri kita akan terhindar dari revisionisme yang mengingkari prinsip dan dogmatisme yang terpisah dari praktek dan massa.

Kita masing-masing mempunyai pengalaman, bahwa di antara kawan-kawan yang kira-kira bersamaan waktu memasuki gerakan revolusioner, menggabungkan diri ke dalam PKI dan ambilbagian dalam Revolusi Agustus 1945, setelah beberapa lama ternyata kemajuan masing-masing tidak sama, ada yang maju tumbuh menjadi kader revolusioner yang aktif dan senantiasa mengikut dengan baik ke-jadiand-jadiand penting di dalam dan di luar negeri, ada yang separo-separo dan ada yang terbelakang samasekali. Pada-hal keadaan fisik mereka sama baik dan pendidikan umum mereka bolkh dibilang tidak berbeda. Mengapa ada yang maju, ada yang separo-separo dan ada yang terbe-lakang samasekali setelah berlangsung beberapa ta-hun?

Tidak lain ialah karena golongan yang maju itu sungguh-sungguh membajakan-diri dan mendidik-diri artinya mereka senantiasa berada dalam kehangatan perju-angan, mereka merupakan elemen-elemen aktif yang ditempa oleh perjuangan, dan senantiasa mendidik-diri dalam semangat, teori dan ideologi Marxisme-Leninisne, ter-utama dalam mentrapkannya pada kondisi-kondisi Indonesia. Mereka yang separo-separo adalah mereka yang tidak bung-guh-guh membajakan-diri dan mendidik-diri, lebih-lebih lagi mereka yang terbelakang. Mereka menghindari kehangatan perjuangan, mereka pasif dan tidak ditempa oleh perjuangan, dan tidak sungguh-sungguh mempelaji teori dan praktek Marxisme-Leninisme.

Di samping itu ada lagi kader-kader yang selalu aktif dalam kegiatan revolusioner dan juga bisa ikut berbicara tentang soal-soal nasional dan internasional yang sudah dimuat dalam suratkabar-suratkabar dan malahan-malahan progresif, te-tapi dibanding dengan sementara kawan-kawan se-angkatan-nya, mereka tidak begitu ceptat majuya. Apa sebab-nya? Tidak lain ialah, karena kawan-kawan ini tidak meng-kombinasikan pembajakan-diri dengan pendidikan-diri, mereka kurang rajin belajar teori Marxisme-Leninisme dan kurang suka berfikir yang agak mendalam sehingga kurang kreatif dalam menraptkan Marxisme-Leninisme pada keadaan kongkrit. Mereka kurang konsekwensi dalam melaksanakan semboyan bekerja dan belajar “Tahu Marxisme dan kenal keadaan”. Tentu kawan-kawan ini jauh lebih baik daripada kawan-kawan yang hanya “tahu Marxisme” tetapi tidak ambilbagian aktif dalam mempraktekkannya dan karena itu tidak kenal keadaan, yang hanya “mendidik-diri” tetapi tidak membajakan-diri, sehingga pada hakekatnya kawan-kawan ini juga tidak tahu Mirxisme, yang menuntut kesatu-an teori dengan praktek.

Jadi, soalnya ialah kita harus mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri sekalusigus dan diseluruuh barisan Partai kita. Untuk ini, kawan-kawan yang sudah maju harus dikonsolidasi, yang separo-separo harus ditarik dan didorong supaya maju, yang terbelakang supaya diangkat dari rawa-rawa kepasifan dan diaktifkan. Dengan demikian, kita masing-masing akan maju terus sebagai Komunis dan Partai akan maju sebagai barisan depan yang memimpin perjuangan revolusi keseluruhannya.

Untuk menyatapi kemayuan yang demikian pulalah saya mengemukakan tentang adanya dua macam Komunis, yaitu Komunis minimum dan Komunis maximum, demikian di seluruh dunia dan demikian pula di Indonesia.

Komunis minimum adalah Komunis yang memenuhi syarat-syarat minimum yang ditentukan dalam Konstitusi Par-tai, yaitu: menyetuji Konstitusi Partai, menyetuji

Program Partai, membayar iuran Partai dan melaksakan tugas yang diberikan kepadanya oleh organisasi Partai di mana ia tergabung. Sudah tentu tiap-tiap anggota PKI pertama-tama harus menjadi Komunis yang memenu-hi semua syarat minimum ini. Tetapi, apakah sejak masuk Partai sampai mati hanya harus memenuhi sya-rat-rat minimum ini saja? Tentu tidak. Masing-Masing harus berusaha secara ber-angsur-angsur dan wajar memenuhi syarat-syarat maximum, berusaha menjadi Komunis maxim-um.

Tentu tidak mudah untuk menetapkan apakah sya-rat-rat bagi Komunis maximum. Dan sudah tentu syarat-syarat ini tidak boleh ditetapkan secara subyektif dan secara formal.

Kita semua mengakui bahwa Marx, Engels, Lenin dan Stalin adalah Komunis-Komunis teladan. Karena mereka teladan, kita harus rajin mempelaji biografi dan karya-karya mereka. Dengan berbuat demikian kita menge-nal perbuatan-perbuatan, prestasi-prestasi dan sifat-sifat Marx, Engels, Le-nin dan Stalin selama hidup mereka sebagai Komunis-Komunis teladan. Kita tidak “me-Nabi-kan” mereka, tetapi me-reka dapat kita yadikan ukuran dalam membajakan-diri dan mendidik-diri kita. Kita harus memantangkan tujuyan pembajaan-diri dan pendidikan-diri kita ma-sing-sing untuk menyatapi kwalite-kwalite yang dimiliki oleh Marx, Engels, Lenin dan Stalin. Dengan berbuat de-mikian kita pasti akan menjadi Komunis-Komunis yang lebih baik, karena kita sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi murid mereka yang terbaik, untuk menjadi Komunis maximum.

Untuk memudahkan kita semua dalam berusaha me-ningkatkan mutu Komunis kita masing-masing, dalam pidato ulangtahun ke-44 di Surabaya saya mengemukakan agar tiap-tiap anggota PKI harus berusaha untuk memenuhi syarat-syarat sbb.:

  1. melaksanakan dengan baik semua tugas yang di-berikan oleh Partai kepada kita;
  2. menjaga supaya diri kita tidak merosot menjadi pekerya politik yang berfikiran sempit, yang lupa pada tugas sejarah yang besar dan tenggelam mengurus soal-soal tetekbengek yang tidak ada hubungannya dengan revolusi;
  3. dalam memegang yabatan apa saja kita harus senantiasa menjadi tokoh politik dan tokoh negera tipe Lenin;
  4. sebagai tokoh masyarakat kita harus senantiasa bersikap tegas dan jelas, tidak plintat-plintut dalam membela kepentingan Rakyat dan revolusi;
  5. dalam keadaan Bagaimanapun tetap bersemangat banteng merah, tidak takut menghadapi pertempuran dan tidak kenal ampuh terhadap musuh-musuh Rakyat;
  6. tidak mabok karena sukses, tidak panik menghadapi segala keruwetan dan bahaya, dan tidak putus-asa kalau mengalami pukulan-pukulan dan kegagalan-kegagalan;
  7. bidaksana dan ber-hati-hati dalam memutuskan masalah-masalah yang banyak seluk-beluknya, yang menghendaki pandangan-pandangan yang dalam mengenai masalah-masalah itu;
  8. lurus dan jujur terhadap Partai dan Rakyat;
  9. cinta yang tidak ada taranya kepada Rakyat.

Pelaksanaan syarat-syarat ini harus sejalan dengan usaha kita mengintensifikan pembajaan-diri dan pendidikan diri. Dengan demikian kita pasti akan menjadi Komunis yang baik dan lebih baik.

Di samping lebih membayakan-diri dan mendidik diri serta melaksanakan 9 syarat tsb. kita juga harus melakukan pendidikan Komunis di kalangan keluarga, di kalangan isteri atau suami dan anak-anak kita. Kita tidak hanya berkewajiiban membangun keluarga Komunis yang besar baik secara nasional Maupun secara internasional, tetapi kita juga harus membangun keluarga Komunis yang ketiyil dilingkungan keluarga kita masing-masing sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari perjuangan kita yang besar. Semua anggota keluarga kita, termasuk anak-anak yang belum dewasa, harus merasakan suka-duka perjuangan, harus merasakan kehangatan perjuangan, harus merasakan perjuangan Partai sebagai perjuangannya sendiri, harus merasakan bahwa nasibnya tergantung pada perjuangan Partai dan Rakyat dan oleh karena itu akhirnya ikut ambil-bagian aktif dalam perjuangan kita yang besar.

III

Jangan Dibiarkan Kontradiksi Intern Berlarut-larut!

Apakah sebetulnya pekerjaan Komunis di dunia ini? Tidak lain ialah untuk menyelisaikan kontradiksi-kontradiksi. Kaum Komunis di seluruh dunia harus menyelisaikan kontradiksi antara kapitalisme dengan klas buruh dan sebagai hasilnya membangun Sosialisme dan Komunisme. Kaum Komunis di-negeri-negeri yang masih teryajah atau belum merdeka penuh harus menyelisaikan kontradiksi antara Rakyat dengan imperialisme, antara kaum tani dengan tuantanah dan sebagai hasilnya mendirikan negeri yang merdeka penuh tanpa imperialisme dan feudalisme untuk selanjutnya membangun Sosialisme dan Komunisme. Selain daripada kontradiksi-kontradiksi yang pokok-pokok ini masih banyak lagi kontradiksi-kontradiksi lain yang tidak pokok atau kurang pokok yang harus diselesaikan oleh kaum Komunis. Jadi, sebagai Komunis kita tidak boleh menghindari kontradiksi yang memang wajar ada, tetapi harus menghadapinya, mengurus dan menyelisaikannya. Dalam mengurus dan menyelisaikan kontradiksi-kontradiksi itu orang Komunis mendapatkan kepuasan-annya menjadi terbajakan dan menjadi lebih maju.

Juga kontradiksi intern Partai tidak boleh dihindari, tetapi harus dihadapi, diurus dan diselesaikan. Dalam berhasilaikna menyelisaikan secara tepat kontradiksi-kontradiksi intern Partai seni dan mutu kepemimpinan seseorang Komunis meningkat. Penyelesaan kontradiksi intern Partai adalah syarat mutak dalam meningkatkan kemampuan Partai mengurus dan menyelisaikan kontradiksi-kontradiksi yang ada di luar tubuhnya (extern). Tidak mungkin Partai menyelisaikan kontradiksi-kontradiksi di luar tubuhnya dengan baik jika di dalam Partai terdapat banyak kontradiksi yang tidak diselesaikan. Kebulatan Partai terletak pada penyelesaan kontradiksi-kontradiksi intern Partai secara tepat.

Sebagaimana sudah saya katakan di atas, klas-klas non-proletar terus-menerus berusaha menggunakan elemen-elemen yang tidak teguh di dalam Partai dan di kalangan proletariat untuk merongrong Partai dan proletariat. Jadi, adanya kontradiksi intern Partai yang menyebab-kan adanya perjuangan intern Partai adalah tidak terpisahkan daripada perjuangan klas di luar Partai. Peryuangan melawan musuh-musuh proletariat di luar Partai dan perjuangan melawan fikiran atau pengaruh non-proletar di dalam Partai adalah berlainan, penyelasan yang pertama harus melalui perjuangan klas sedangkan yang kedua melalui kritik dan selfkritik. Tetapi ke-dua-duanya diperlukan jika Partai kita mau bebas dari segala oportunisme baik “kiri” Maupun kanan, jika Partai kita mau mengkonsolidasi diri, mengembangkan diri dan mempertahankan kebebasannya. Tanpa melakukan perjuangan di dalam Partai terhadap ideologi dan pengaruh-pengaruh non-proletar, Partai kita bisa tanpa diserdi berubah wataknya, menjadi semacam Partai sosial-demokrat atau partai revisionis, menjadi tulangpunggung sosial daripada burjius. Partai kita telah tumbuh menjadi Partai yang bersatu dan kuat karena sejak ada “Jalan Baru” (1948) dan terutama sekali menjelang Kongres Nasional ke-V (1954) dan beberapa tahun sesudahnya, Partai kita melakukan perjuangan intern Partai yang serig, melawan opportuniisme kanan Maupun “kiri”. Oleh karena itu Partai kita tidak boleh menghindari perjuangan intern. Tidak melakukan perjuangan demikian atau men-coba-coba mencari jalan “tengah” dalam soal-soal prinsip hanyalah berarti memerosotkan ideologi Partai.

Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa ada dua macam perjuangan intern Partai, yaitu yang berprinsip dan yang tidak berprinsip. Yang dimaksudkan dengan perjuangan intern Partai yang berprinsip ialah perjuangan yang mengenai garis strategi, taktik dan politik Partai. Jika ada perbedaan pendapat mengenai soal-soal ini, maka harus diadakan perjuangan intern yang serius, dan jika tidak dicapai kata mufakat harus diselesaikan dengan pemungutan suara menurut Konstitusi, artinya minoritet harus tun-duk pada mayoritet. Terhadap anggota yang ngotot mempertahankan pandangannya yang keliru dan mempropagandakan pandangannya itu sehingga berakibat menimbulkan perpecahan di dalam Partai harus diam-bil tindakan disiplin menurut Konstitusi Partai. Jika dilakukan dengan tepat, perjuangan intern yang ber-prinsip akan memperkuat Partai kita, karena perju-angan yang demikian itu akan memperjlas persoalan-persoalan lang diperbintingkan dan akan mengakhiri menjalanya pandangan-pandangan yang keliru.

Sejak terjawabna masalah-masalah penting dan pokok daripada Revolusi Indonesia oleh Kongres Nasional ke-V Partai, dan terutama sekali setelah berjalan pendidikan kader-kader dan anggota-anggota tentang soal-soal pokok revolusi Indonesia, tentang strategi dan taktik Partai, dan tentang politik-politik pokok Partai mengenai soal nasional dan internasional, sudah tidak terdapat lagi perjuangan intern yang prinsipil dan akut di dalam Partai kita. Sekalipun demikian, karena Partai kita masih dalam kepuangan klas-klas non-proletar, kita harus senantiasa waspada dan senantiasa siap menghadapi kemungkinan timbulnya perjuangan intern yang berprin-sip.

Jika sekarang kita masih suka berbicara tentang perjuangan intern Partai, maka umumnya yang kita bicarakan ialah perjuangan intern yang tidak berprin-sip, misalnya perjuangan kawan yang satu menentang kawan lain haya karena sikapnya tidak tepat atau ti-dak simpatik, haya karena kepentingan tetekbengek perseorangan atau klik, haya untuk mempertahankan kedudukan sendiri, haya untuk menutupi kesalahan sendiri, haya untuk memuaskan perasaan sendiri, haya untuk membals dendam dsb. Peryuangan tak ber-prinsip demikian ini adalah tidak baik dan merugikan Partai. Oleh karena itu tiap anggota Partai harus berusaha keras agar dirinya tidak terperosok ke dalam perjuangan yang tidak berprinsip.

Tetapi jika perjuangan yang tidak berprinsip tokh terjadi juga, seperti halnya masih terdapat dalam Partai kita sekarang, haruslah cept-cept diurus dan dise-lasaikan, atau menurut peribahasanya “tidak boleh di-malamkan”, karena jika dibiarakan ber-larut-larut, ia bisa merintangi lancarnya pekerjaan Partai, dan bahkan bisa berkembang menjadi sangat tajam dan sampai menyinggung soal-soal prinsipil serta merusak persatuan Partai.

Mengenai perjuangan intern yang tidak berprinsip sulit sekali untuk mengambil keputusan, karena tidak ada prinsipnya, sedangkan kawan-kawan yang terperosok ke-dalam perjuangan itu adalah kawan-kawan yang mengabdi kepada Partai dan revolusi. Oleh karena itu penyelesaianya harus menempuh jalan kompromi; jalan musyawarah dan mufakat, masing-masing harus saling memberi dan menerima, tidak boleh ngotot-ngototan atau tarik urat. Jika masing-masing ngotot, masing-masing berpegang teguh pada pendapat-pendapatnya sendiri dan hanya meminta orang lain supaya melepaskan pendiriannya, maka ini hanya akan memperpanjang persoalan dan memperlambat penyelesaian, merintangi kemajuan pekerjaan, mempertajam percekcokan di dalam Partai dan merintangi persatuan di antara kawan-kawan. Oleh karena itulah, mengenai soal-soal yang tidak prinsipil, yang tidak mengenai soal-soal pokok revolusi Indonesia, tidak mengenai strategi dan taktik Partai, dan tidak mengenai politik Partai. harus ditempuh jalan kompromi, jalan musyawarah dan mufakat antara kawan. Kemudian praktek sosial dan pendidikan teori serta ideologi yang akan lebih mendekatkan kawan-kawan yang bertentangan tanpa prinsip itu.

Ada kalanya juga kontradiksi intern yang tak berprinsip itu timbul sebagai akibat ketidak-puasan anggota-anggota kolektif dengan kawan yang memimpin kolektif itu. Jika demikan halnya, maka kontradiksi itu hanya dapat diselesaikan apabila ada perbaikan-perbaikan pada pimpinan kolektif. Dalam mengurus kontradiksi yang demikian Comite atasan harus selalu berpegang teguh agar disatu fihak memberi kesempatan kepada kader ybs. untuk berkembang, dan difihak lain Comite ybs. tidak lagi terus-menerus terganggu oleh kontradiksi takberprinsip. Oleh karena itu ada kalanya penyelesaian kontradiksi itu dengan melakukan pemindahan tugas seseorang atau beberapa kader yang berkontradiksi.

Sidang Pleno ke-II CC, Desember 1963, telah menggariskan bahwa penyelesaian kontradiksi intern “tidak boleh dimalamkan” atau dibiarakan ber-larut-larut. Tiap kontradiksi intern harus diselesaikan dengan prinsip cept, tepat jelas, teliti dan bijaksana. Garis ini masih belum dilaksanakan dengan baik. Di banyak Comite penyelesaian kontradiksi intern masih ber-larut-larut sehingga akhihrna berkembang ‘carah yang lebih serius dan sukar diselesaikan. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan kontradiksi-intern ber-larut-larut menyebabkan bahwa sentralisme-demokratis, kritik dan selfkritik serta disiplin tidak bisa berjalan normal. Dengan perkataan lain, ini berarti membiarkan liberalisme tumbuh di dalam Partai. Karena itu prinsip cept, tepat, jelas, teliti dan bijaksana harus dipegang teguh dalam menyelesaikan tiap kontradiksi intern Partai.

Dalam menyelesaikan persoalan dengan kader yang membuat kesalahan harus diusahakan se-dapat-dapatnya “penyelesaian 4 mata”, jadi tidak cept-cept dibawa ke-kolektif. Dalam mengkritik kelemahan kader, pimpinan harus bertitik-tolak dari pendirian bahwa semua kader mesti mempunyai segi-segi positif dan kader ybs. harus merasakan bahwa pimpinan menghargai segi-segi positifnya itu, tetapi pimpinan tidak bisa membiarkan kesalahan-kesalahannya demi kepentingan Partai dan demi kemajuan kader ybs. itu sendiri. selfkritik serta disiplin tidak bisa berjalan normal. Dengan perkataan lain, ini berarti membiarkan liberalisme tumbuh di dalam Partai. Karena itu prinsip cept, tepat, jelas, teliti dan bijaksana harus dipegang teguh dalam menyelesaikan tiap kontradiksi intern Partai.

Dalam menyelesaikan persoalan dengan kader yang membuat kesalahan harus diusahakan se-dapat-dapatnya “penyelesaian 4 mata”, jadi tidak cept-cept dibawa ke-kolektif. Dalam mengkritik kelemahan kader, pimpinan harus bertitik-tolak dari pendirian bahwa semua kader mesti mempunyai segi-segi positif dan kader ybs. harus merasakan bahwa pimpinan menghargai segi-segi positifnya itu, tetapi pimpinan tidak bisa membiarkan kesalahan-kesalahannya demi kepentingan Partai dan demi kemajuan kader ybs. itu sendiri.

IV

Perbaiki Metode Memimpin dan Perhebat Pengintegrasian!

Sesuai dengan putusan Sidang Pleno ke-II CC, pekerjaan terpenting organisasi dewasa ini harus dituyukan untuk mengkonsolidasi pengintegrasian Partai dengan kaum tani. Pengintegrasian hanya akan dapat terwuyud jika Partai terus-menerus dan konsekwensi memimpin perjuangan kaum tani menggayang setan-setan desa terutama melalui bentuk perjuangan aksi sefihak.

Sebagai bagian yang takterpisahkan dari perjuangan untuk pengintegrasian ialah pelaksanaan Gerakan Kebudayaan Baru, yaitu gerakan melawan kemaksiatan, terutama melawan 5 M (lima Maksiat: Main, Minum, Melacur, Maling dan Madat), melawan keterbelakangan kultural dan untuk memajukan kesehatan Rakyat.

Untuk mensukseskan tugas-tugas tsb. perlu ditinjau pelaksanaan metode memimpin sesuai dengan keputusan Sidang Pleno ke-I CC daripada Kongres Nasional ke-VII. Menurut pengalaman belakangan ini, dalam rangka memperbaiki pelaksanaan metode memimpin yang disesuaikan dengan tugas-tugas pekerjaan organisasi yang urgen dewasa ini, hal-hal sbb. harus mendapat perhatian:

  1. Memperbaiki pengertian kader

Dalam rangka pelaksanaan metode memimpin, pada banyak kader terdapat kecenderungan untuk lebih memberatkan perhatiannya kepada segi “memadukan seruan umum dengan tuntutan kongkrit” daripada kepada segi “memadukan pimpinan dengan massa”. Kecenderungan demikian itu mengakibatkan Comite-Comite yang bersangkutan tidak dapat membebaskan diri dari sifat-sifat birokratis dan subyektif dalam melakukan pimpinan. Betapa pun kawan yang mempunyai kecenderungan demikian itu berusaha untuk dapat memberikan petunduk-petunduk ke bawah secara kongkrit atas dasar seruan umum, tetapi diyika segi “memadukan pimpinan dengan massa” tidak menjiwai seluruh kebijaksanaan memimpinnya, tak akan mungkin mencapai banyak sukses. Petunduk-Petunduk banyak tapi tidak didasarkan pada penyimpulan pengalaman-pengalaman praktek dari bawah, tidak berdasarkan garis-massa. Dengan demikan petunduk-petunduk itu tidak hidup.

Memadukan pimpinan dengan massa hanya mungkin diyika dengan konsekwensi dilaksanakan prinsip “atasan membantu bawahan” dan “atasan memberi conoh kepada bawahan”. Sebagian besar dari tenaga, fikiran dan waktu dari atasan harus dicu-rahkan untuk membantu bawahan.

  1. Memperbaiki pengintegrasian setiap politik dan putusan Partai dengan seluruh anggota dan kemudian dengan seluruh Rakyat

Soal ini, yang dalam rangka memperbaiki pelaksanaan metode memimpin harus lebih mendapat perhatian (putusan Pleno ke-I CC), menjadi lebih penting lagi dalam hubungan dengan perlunya meratakan aksi, khususnya aksi sefihak. Dewasa ini sebagai akibat dari perkembangan yang tidak sama dari Partai kita di berbagai tempat, pengintegrasian politik Partai dengan massa Rakyat disatu tempat atau di berbagai tempat sudah intensif, tetapi di tempat lain belum. Akibatnya disatu atau beberapa tempat telah berkembang aksi-aksi pelaksanaan politik Partai, sedangkan di tempat lain belum. Untuk memperbaiki keadaan, daerah-daerah lemah harus lebih mendapat perhatian dalam setiap gerakan melaksanakan politik Partai. Pekerjaan ini memang tidak semata-semata pekerjaan organisasi, melainkan meliputi juga pekerjaan agitasi-propaganda. Jadi kedua bidang pekerjaan harus dikordinasi se-baik-baiknya.

  1. Peranan pekerjaan riset

Pelaksanaan garis massa Partai, demikian juga pelaksanaan apa yang telah diputuskan oleh Kongres Nasional ke-VI Partai tentang melakukan pekerjaan secara ilmiah, tidak mungkin tanpa melakukan riset yang baik untuk mengenal keadaan. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa Comite yang tidak melakukan riset secara baik, tidak dapat melaksanakan politik Partai secara baik. Hai ini menjadi lebih jelas dalam pekerjaan di kalangan kaum tani akhir-akhir ini. Oleh karena itu, melakukan riset merupakan keharusan untuk memperbaiki pelaksanaan metode memimpin. Oleh karena itu kita harus melaksanakan semboyan “Perhebat pengintegrasian dengan penelitian” dan menamankan pengertian secara mendalam, bahwa Partai Komunis yang tidak melakukan riset harus diragukan watak Marxis-Leninisnya.

  1. Memperkuat grup pimpinan

Tugas ini harus dilaksanakan dalam hubungan dengan menciptakan Comite-Comite daerah pertanian yang bersih dari elemen-elemen klas penghisap, untuk mengembangkan lebih lanjut gerakan revolusioner kaum tani. Tetapi pelaksanaan tugas ini tidak mungkin tanpa dipadukan dengan pekerjaan membangkitkan aksi-aksi kaum tani melawan setan-setan desa. Dalam keadaan kaum tani tidak melakukan perjuangan melawan tuantah, tidak akan terasa sebagai keperluan yang mutlak membersihkan elemen-elemen penghisap dari Comite-Comite Partai, dan tidak akan ada pertumbuhan pekerjaan ini CS-CS harus dijadikan modal utama untuk memperbaiki CSS-CSS yang komposisinya belum sesuai dengan keperluan mengobarkan peryuangan tani melawan setan-setan desa. Hanya dengan CSS yang berfungsi normal CR-CR, Grup-Grup, massa anggota dan massa Rakyat dapat diaktifkan dan dimobilisasi.

Kecuali mempersoalkan perbaikan pelaksanaan metode memimpin, pekerjaan organisasi perlu diperhati: berdasarkan tugas-tugas tsb. di muka sbb.:

  1. Mengkonsolidasi pengintegrasian dengan kaum tani

a. mengembangkan pekerjaan riset untuk memperdalam pengetahuan tentang desa, terutama ditujukan untuk meluaskan aksi-aksi kaum tani khususnya untuk membantu aksi sefihak kaum tani. b. melaksanakan dengan konsekwensi putusan yang pernah kita ambil untuk memperkuat pimpinan BTI dengan memberikan kader-kader yang sesual dengan keperluannya. Mengikutsertakan secara terpimpin tenaga-tenaga ahli untuk membantu pekerjaan produksi di-desa-desa, terutama untuk desa³ Manipol atau desa-desa mutlak dan desa-desa kelas I dan II. c. sejalan dengan memperkuat grup pimpinan Partai di daerah pertanian, dengan melalui metode yang sama yaitu memadukannya dengan pekerjaan membangkitkan massa, mempertepat proses memburuhtani dan mentanimiskrinkan pimpinan BTI di-desa-desa. d. gerakan meningkatkan desa-desa satu kelas lebih tinggi dengan menyadikan soal ini mataplan daripada Plan 4 Tahun. e. mengorganisasi ceramah-ceramah, seminar-seminar, kursus-kursus untuk mengintegrasikan fikiran kader-kader yang bekerja di luar gerakan tani dengan kaum tani, misalnya tentang UUPBH, UUIPA dan tentang aksi sefihak oleh kawan-kawan pemimpin-pemimpin BTI.

  1. Mengkonsolidasi daerah mutlak dan daerah kelas I dan II

a. untuk memperkuat disiplin Partai perlu diambil tindakan-tindakan secara tepat terhadap setiap pelang-garan yang dilakukan oleh kader-kader Partai, khususnya kader-kader yang bertugas dalam lembaga-lembaga resmi. Hal ini dilakukan bersamaan dengan gerakan memperbaiki fikiran atau gerakan membadayakan-diri dan mendidik-diri dengan mene- kankan bahwa masing-masing harus bersikir: “tanpa diriku Partai mungkin akan berkembang lebih baik”. b. segera meningkatkan taraf kesedaran politik massa Rakyat, dan meningkatkan taraf teori, ideologi dan kebudayaan daripada anggota-anggota Partai di-daerah-daerah mutlak atau daerah-daerah kelas I dan II. c. melaksanakan gerakan Kebudayaan Baru dengan menetapkan tempat-tempat yang dijadikan model un- tuk penyemputan pelaksanaan selanyutnya. Untuk ini oleh CR dan CSS perlu dibentuk Panitia gerakan yang mengintegrasikan ke dalam- nya aktivis ormasrev-ormasrev.

V

Sempurnakan Susunan Comite-Comite Partai!

Dalam rangka menyesuaikan organisasi dengan situ- asi saya juga ingin mengusulkan supaya kita menyem- purnakan susunan Comite-Comite Partai di semua tingkat, baik keanggotaan plenonya, Dewan Harian dan Comite Ker- jia Dewan Harian, Sekretariat, Komisi-Komisi Kontrol dan Verifikasi, Departemen-Departemen dan Bagian-Bagian serta Biro-Biro Par- tai.

Pertimbangan-Pertimbangannya ialah, mengingat makin besar dan makin meluasnya organisasi dan keanggotaan Partai, agar persatuan Partai menjadi lebih kuat dan Comite-Comite lebih mampu melaksanakan tugas-tugas dan menyelesaikan segala persoalan yang dihadapinya.

Dalam pada itu juga harus dipertimbangkan bahwa badan-badan pimpinan Partai kita harus tetap tangkas dalam geraknya dan tidak dirintangi oleh keanggotaannya yang terlalu besar.

Dalam menetapkan perluasan keanggotaan badan-badan pimpinan Partai, juga harus dipegang prinsip perban-dingan yumlah organisasi dan keanggotaan Partai antara Comite satu dengan lainnya sebagai patokan perluasan itu. Juga masalah sukubangsa dan warga negara keturunan asing harus mendapat perhatian.

Saya berpendapat, bahwa perluasan keanggotaan badan-badan pimpinan Partai kita adalah sesuai dengan tun-tutan situasi dan tugas-tugas Partai dewasa ini yang mengharuskan kita untuk menghim pun dan meningkatkan tugas dan tanggungyawab kader-kader yang aktif dan maju, untuk terus memperkuat, memperbaharui dan mengkonsolidasi Comite-Comite Partai kita di semua tingkat.

Kawan-Kawan yang tercinta,

Demikanlah beberapa masalah organisasi yang menurut pendapat saya perlu kita bahas dalam Konferensi Nasional ini.

Saya ingin menambahkan, bahwa sebagaimana judul daripada pidato saya ini “Dengan Semangat Ban-teng Merah Mengkonsolidasi Organisasi Komunis Yang Besar”, Partai kita bukan lagi hanya satu gerakan Komunis yang besar, tetapi sudah merupakan organisasi Komunis yang besar. Sebagai organisasi Komunis, Partai kita secara mutlak tidak dapat dipisahkan dari strategi dan taktik memimpin perjuangan revolusioner proletariat. Inilah sistim teori pembangunan Partai kita.

Sebagai Partai yang terus-menerus dikepung oleh klas-klas non-proletar, dan yang harus mengintegrasikan diri secara total dengan massa Rakyat, khususnya dengan kaum tani, dan sekarang berada dalam perjuangan sengit melawan revisionisme modern dan dogmatisme modern dalam skala dunia, Partai kita harus dengan gagahberani, dengan semangat banteng merah, melawan segala opportunisme di lapangan ideologi, politik dan organisasi.

Partai kita harus terus-menerus memperkuat persatuannya dalam ideologi, politik dan organisasi.

Jadilah Komunis yang baik dan lebih baik lagi!

(Singkatan pidato

di Konferensi Nasional ke-I PKI

tgl. 3 Ju1 1964)


JADILAH KOMUNIS YANG BAIK DAN LEBIH BAIK LAGI!

Pada hari ini, tgl. 23 Mei 1964, genaplah 44 tahun usia Partai Komunis Indonesia.

Saya mengucapkan banyak terimakasih, bahwa peringatan ulangtahun PKI ini mendapat perhatian besar, tidak hanya dari kaum buruh dan Rakyat pekerya kota Surabaya, tapi juga dari para otoritet sivil dan militer, dari partai-partai politik dan organisasi-organisasi massa sesama keluarga Front Nasional, dan dari Front Nasional sendiri.

Saya merasa sangat gembira dan berbahagia, bahwa dalam menyambut dan merayakan hari ulangtahun PKI kali ini saya berada di kota Surabaya—Kota Pahlawan—, berada di-tengah-tengah para saudara dan kawan-kawan sekalian, di-tengah-tengah Arek-Arek Suroboyo dan Rakyat Jawa Timur yang terkenal sebagai pejuang-pejuang revolusioner yang militant.

Saya merasa lebih gembira lagi, bahwa dalam menjang hari bersedarah ini saya telah menyelesaikan pekerjaan riset (researkh) tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani di Jawa Timur. Sejumah 134 petugas riset langsung di bawah pimpinan saya sendiri dengan dibantu oleh kira-kira 1500 petugas-petugas riset di-kecamatan-kecamatan dan desa-desa selama lebikhkurang 5 minggu pada umumnya telah menunaikan tugasnya dengan baik. 70 kecamatan daerah pertanian di Jawa Timur telah kami riset, baik mengenai keadaan kaum tani Maupun mengenai gerakan taninya. Pekerjaan besar-besaran ini telah kami lakukan dengan penuh kesungguhan dalam rangka mengintegrasikan diri dengan kaum tani, sokoguru revolusi Indonesia, dan dalam rangka memperhebat ketahanan nasional, khususnya dalam hubungan dengan memperhebat gerakan tani dan produksi pertanian.

Bukanlah waktunya sekarang ini untuk melaporkan hasil-hasil riset tersebut. Tapi perlu saya jelaskan, bahwa tidak ada yang misterius di sekitar pekerjaan riset ini.

Semuanya akan saya umumkan, sebagaimana halnya dengan hasil riset saya di Jawa Barat yang sudah diumumkan itu. Saya berpendapat, setiap Manipolis harus mengenal dengan baik tenaga pokok dan sokoguru revolusinya, yaitu kuam tani. Oleh karena itu, adalah sangat menyedihkan bahwa sekarang ini sedang berbebaran surat “rahasia” dari instansi resmi yang satu keinstansi resmi yang lain, yang berisi fitnahan-fitnahan yang keji terhadap riset yang telah saya lakukan. Antara lain dalam surat-surat resmi itu ada fitnahan dan insinuasi, bahwa PKI “telah memulai startinya”. Mereka mau memberikan interpretasi yang bukan-bukan menurut selera mereka sendiri. Oleh karena itu perlu saya terangkan, bahwa satu-satuinya interpretasi yang benar saya, bahwa memang kaum Komunis Indonesia telah mengadakan start untuk mengenal lebih baik lagi daripada yang sudah-sudah keadaan kaum tani dan gerakan tani dengan memperhebat pekerjaan riset.

Kaum Komunis Indonesia menyambut baik bahwa pada waktu-waktu belakangan ini kaum wartawan, para sarjana, mahasiswa dan pelajar-pelajar sekolah-sekolah menengah telah memberikan perhatian yang besar pada keadaan kaum tani dengan jalan mengadakan “gerakan turun ke desa”. Hanya kaum Komunisto-phobi, kaum kontra-revolusioner dan “setan-setan desa”, yaitu: tuantahan ja-hat, lintahdarat, tukang ijon, kapitalis birokrat, teng-kulak jahat, penguasa jahat dan bandit-bandit desa yang ketakutan setengah mati pada pengenalan dan pembongkaran-pembongkaran perbuatan-perbuatan jahat mereka terhadap kaum tani dan terhadap Republik Indonesia.

Dengan dalih “memperkuat home-front” dalam rangka mengganyang “Malaysia”, kaum kontra-revolusioner dan “setan-setan desa” berusaha menutupi kejahatan-kejahatan mereka terhadap kaum tani, terhadap Republik Indonesia dan terhadap Pemerintah Sukarno. Padahal, justru untuk memperkuat home-front, kontradiksi-kontradiksi yang ter-dapat di-desa-desa kita harus ceapat-ceapat dan secara tepat di-selesaikan, undang-undang negara yang menjalankan garis-garis Manipol, dalam hal ini terutama Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), harus dilaksanakan. Inilah jalan untuk membuktikan loyalitet terhadap Republik Indonesia dan untuk menarik ber-puluh-puluh juta kaum tani ke dalam kegiatan revolusioner dan memperhebat produksi pertanian.

Masalah pangan hanya mungkin dipecahkan jika pemecahannya dikombinasikan dengan pengganyangan dan penaklukan setan-setan desa. Hanya dengan demikian per-juangan mengganyang “Malaysia”, memperhebat ke-tahanan nasional dan melaksanakan Manipol serta pedoman-pedoman pelaksanaannya dapat terus-menerus diper-kuat. Tanpa melakukan ini segala omongan tentang revolusi Indonesia, tentang loyalitet terhadap Republik Indonesia dan tentang pengganyangan “Malaysia” adal-hah kosong dan munafik.

Dalam hubungan dengan riset ini saya juga ingin mengemukakan bahwa pekerjaan besar-besaran ini dapat saya lakukan dan selesaikan menurut rencana dengan sukses, pertama-tama dan terutama oleh karena bantuan yang besar dari kaum tani Jawa Timur di mana riset itu dilakukan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya menyatakan terimakasih yang se-besar-besarnya kepada mereka yang telah membantu pekerjaan ini, tidak hanya dalam memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan, tetapi juga dalam memberikan pendidikan yang tak ternilai kepada PKI, terutama kepada saya dan semua kader PKI yang membantu saya dalam melakukan tugas riset tsb.

I

Situasi Politik Nasional dan Internasional

Adalah sangat menggembirakan lagi, bahwa dalam menyambut dan merayakan hari ulangtahun PKI ini, kita ber-sama-sama menyaksikan perkembangan situasi politik, baik nasional Maupun internasional, yang sangat menguntungkan Rakyat-Rakyat revolusioner dalam usaha-usaha revolusionernya. Betapa tidak! Cobalah lihat! Kaum imperialis, terutama imperialis Amerika Serikat, dan semua kaum reaksioner lainnya sedang mengalami huyan pukulan dan kekalahan di-mana-mana, sedangkan persatuan dan perjuangan Rakyat-Rakyat revolusioner di seluruh dunia, terutama Rakyat-Rakyat Asia, Afrika dan Amerika

Latin, semakin tumbuh kuat dan terus berkembang maju dari satu kemenangan kekemenangan yang lain. Juga musuh-musuh Marxisme-Leninisme, terutama sekali revisionisme modern, semakin tertelanyangi dan terpukul kesudut, sedangkan barisan kaum Marxis-Lenin- is sejati di seluruh dunia semakin membaja dan membesar.

Di Indonesia kita dapat melihat sendiri bahwa kaum Komunisto-phobi makin terbuka kedoknya sebagai musuh-musuh Rakyat dan bahwa persatuan dan perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia melawan imperialisme kini semakin ditempa lagi dalam melaksanakan Dwikora, dalam mengganyang proyek neo-kolonialis “Malaysia”, dalam menggempur usaha-usaha subversif dan intervensi kaum imperialis dan kontra-revolutioner di segala bidang. Peryuangan mengganyang “peace corps” Amerika Serikat makin meningkat, dan Rakyat Kediri telah berhasil mengusir “peace corps” yang terkutuk itu. Penelanjangan terhadap apa yang dinamakan “bantuan” imperialis AS, pemboikotan terhadap film-film AS, pengambilalihan perusahaan-perusahaan Inggris telah menjadi kenyataan di negeri kita. Kemayuan-Kemayuan telah tercapai dalam menggulung segala tipu muslihat kaum reaksioner dalamnegeri yang akhir-akhir ini suka ber-teriak-teriak tentang Pancasila dan Manipol seperti Soksi, Manikebuis, dsb., dalam mengaduyukan konsepsi-konsepsi ekonomi yang progresif, dalam membmasmi koruptor-koruptor dan setan-setan desa. Gagasan Nasakom semakin membulatkan persatuan dan tekal Rakyat untuk pembentukan kabinet Gotong Royong yang berporoskan Nasakom. Pendek kata, situasi politik sedang menempuh jalan Manipol, keadaan makin revolusioner!

Dengan mengemukakan penilaian perkembangan situasi politik yang baik itu bukanlah maksud saya semata-semata untuk menambah meriahnya suasana perayaan hari ulangtahun PKI, melainkan untuk menyapai maksud-maksud sbb.:

Pertama: Untuk membantah desas-desus yang di-sebar-sebarkan oleh kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya didalamnegeri yang antara lain mengatakan se-akan-akan situasi Indonesia, terutama dibidang ekonomi dan keuangan, kian hari kian memburuk karena Indonesia menjalankan politik konfrontasi mengganyang “Malaysia”. Dan, kata mereka, jika politik konfrontasi diteruskan maka ini akan mengakibatkan kehancuran bagi Republik Indonesia.

Memang, situasi Indonesia sungguh makin memburuk. Tetapi bagi siapa? Yang terang ialah bagi kaum imperialis dan kaum reaksioner dalamnegeri, dan bukan bagi RI dan Rakyat Indonesia yang revolusioner! Keadaan ekonomi Indonesia kini memang tidak baik, tetapi ini bukan disebabkan oleh konfrontasi melawan imperialis, melainkan justru karena belum cukup hebat mengganyang imperialisme. Oleh karena itulah Rakyat Indonesia terus melanytarkan perjuangan politik revolusioner yang makin hari makin meningkat.

Politik adalah pernyataan terpusat daripada ekonomi, demikian pendirian kaum Marxis. Oleh karena itu situasi politik yang baik bagi Rakyat Indonesia sekarang ini justru adalah pernyataan pembelaan terhadap kepentingan ekonomi Rakyat Indonesia. Adanya situasi politik yang baik sekarang ini adalah pertanda adanya harapan dan terbukanya kemungkinan akan perubahan dan perbaikan dibidang ekonomi. Alangkah celakanya jika situasi politik negeri kita sama tidak baikaya dengan situasi ekonominya. Jika demikian keadaannya, akan berarti bahwa Rakyat tidak mempunyi senjata yang mutlak diperlukan, yaitu situasi politik yang revolusioner, sebagai syarat utama untuk memperbaiki keadaan ekonomi negerinya. Pendekna, makin revolusioner situasi politik, makin terbuka kemungkinan untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Oleh karena itulah, sesuai dengan Dwikora, penanggulangan kesultanan ekonomi hanya benar jika dilakukan dalam rangka memperhebat ketahanan nasional dalam melawan imperialisme, dan tidak di luar rangka itu. Bagi mereka yang sungguh-sungguh revolusioner, pemecahan masalah ekonomi bukan terletak dibidang ekonomi, tetapi dibidang politik, politik yang konsekwens antiimperialisme dan antifeodalisme sesuai dengan Manipol dan Dekon.

Kedua: Supaya kita semua lebih mempertayam lagi kewaspadaan politik, supaya jangan lengah sedetik-pun, jangan merasa sombong atau puas-diri dalam menghadapi situasi politik yang baik ini. Sebab, kaum kontra-revolutioner yang dirugikan oleh perkembangan situasi ini akan lebih giat lagi mengincer kelemahan-kelemahan atau kealpaan-kealpaan kita, dan secara matagelap melakukan serangan mendadak kepada kekuatan revolusioner keseluruhannya, Walaupun mungkin sekali dengan dalih “menyerang Komunis”. Kita harus senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan itu, dan untuk inilah kita harus senantiasa mempertajam kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita. Oleh karena itu, sesuai dengan Dwikora, ketahanan nasional harus terus kita perhebat, dan di atas se-gala-galanya persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom harus terus-menerus kita perkuat.

Ketiga: Supaya kita kaum revolusioner Indonesia lebih baik dan lebih cermat lagi mengikutiti, memperhatikan dan menilai perkembangan situasi. Mengapa? Sebabnya ialah bahwa dalam tahun-tahun akhir ini perkembangan situasi cept sekali, dan selanyutnya mungkia akan lebih cept lagi. Jika kita tidak mengikutinya secara seksama, kita akan ketinggalan zaman, dan jika demikian berarti kita bukan orang revolusioner lagi. Lenin sering mengatakan bahwa kaum revolusioner harus selalu mempunyai pandangan ke depan, harus selalu dapat melihat perkembangan keadaan yang menda-tang. Sudah barang tentu, ini tak berarti bahwa kita harus menjadi dukun atau tuang-nujum yang “bisa meramalkan” nasib sesorang. Yang dimaksudkan ialah supaya kita dapat meramalkan perkembangan keadaan secara ilmiah. Ini berarti bahwa kita harus selalu berusaha keras untuk mengintegrasikan dunia subyektif kita dengan perkembangan dunia obyektif di sekitar kita, agar tindakan-tindakan kita dapat selalu sesuai dengan hukum-hukum perkembangan keadaan di sekitar kita. Untuk ini kaum Komunis Indonesia harus senantiasa memperhatikan dan menganalisa perkembangan situasi dalamnegeri dan situasi luar negeri dengan senjata teori Marxisme-Leninisme. Ini adalah bentuk peng-Indonesiaan Marxisme-Leninisme, bentuk pengintegrasian kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia. Arah perkembangan situasi selanyutnya banyak tergantung pada usaha-usaha kaum Komunis Indonesia dalam hal ini.

Berhubung dengan itu, maka pidato saya untuk menyambut hari ulangtahun PKI kali ini akan dititikberat-kan pada perjuangan PKI dalam meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme. Dengan mengemukakan soal ini saya mengharap agar kaum Komunis Indonesia berusaha lebih keras dan lebih baik lagi dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip umum atau kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia. Kita adalah kaum Marxis kreatif, oleh karena itu kita harus mentrakpan Marxisme-Leninisme di Indonesia dengan gaya Indonesia dan sesuai dengan kondisi-kondisi Indonesia. Ini juga berarti bahwa kita anggota-anggota PKI harus berusaha keras untuk menjadi Komunis yang baik dan lebih baik.

II

Sejarah PKI Adalah Proses Pengintegrasian Marxisme dengan Revolusi Indonesia

. Sebagaimana kita semua telah mengetahui, klas buruh Indonesia dilahirkan pada akhir abad ke-19 oleh imperialisme atau kapitalisme monopolii. Sejak lahirnya, ia telah mengemban suatu tugas sejarah, yaitu, sebagaimana telah dikemukakan oleh Marx dan Engels dalam “Manifest Partai Komunis”, menjadi “penggali-penggali liangkubur” kapitalisme itu sendiri.

Akan tetapi, tidaklah sejak semula tugas sejarahnya disedari oleh klas buruh Indonesia. Kesedaran itu baru ada pada klas buruh Indonesia ketika wakil-wakilnya yang maju sudah menyedari bahwa dirinya berada dalam satu kesatuan klas buruh, apabila perjuangan klas buruh Indonesia sudah tidak lagi ditiduyukan kepada kaum kapitalis sebagai perseorangan, apabila perjuangan kaum buruh Indonesia tidak lagi terbatas hingga dibidang ekonomi saja, melainkan sudah meluas kebidang politik, dengan tujuan untuk menggulingkan kekuasaan politik kaum kapitalis dan mendirikan kekuasaan politik yang mampu mewuyudkan penghapusan hakmilik perseorangan atas alat-alat produksi dan menggantinya dengan hakmilik sosial, untuk mewuyudka masyarakat sosialis yang bebas dari segala bentuk peng-hisapan dan penindasan atas manusia oleh manusia, bebas dari kemiskinan dan ketakutan. Pendeknya, apabila gerakan kaum buruh itu sudah dipadu dengan Marxisme-Leninisme barulah klas buruh itu menjadi dan melaksanakan tugas sejarahnya, barulah klas buruh itu berubah dari “klas yang spontan” menjadi “klas yang sedar-diri”, barulah peryuangan klas buruh itu menjadi peryuangan klas yang sesungguhnya. Dan untuk itu, syarat mutlak baginya ialah adanya partai politik klas buruh sebagai alat peryuangan untuk mencapai tita-titanya.

Pada bulan Mei 1914, tepat pada setengah abad yang lalu, di Kota Pahlawan ini, telah dibentuk sebuah organisasi politik klas buruh Indonesia yang bernama Perhimpunan Sosial Demokrasi Hindia (PSDH) atau Indiskhe Sociaal Democratiskhe Vereniging (ISDV). PSDH adalah organisasi kaum Marxis dengan tujuan untuk menyebarkan Marxisme dikalanyang kaum buruh dan Rakyat Indonesia pada umumnya dan untuk memperyuangkan pembebasan nasional Indonesia. Dengan demikian, klas buruh Indonesia telah mulai berkembang dari “klas yang spontan” menjadi “klas yang sedar-diri”, dan mulai melaksanakan tugas sejarahnya untuk menggulingkan imperialisme dan mewuyudkan sosialisme di Indonesia. Dengan demikian mulailah juga proses pengintegrasian Marxisme dengan Revolusi Indonesia.

Selanjutnya, salvo Revolusi Sosialis Oktober Besar 1917 makin memperkokoh keyakinan klas buruh Indonesia akan kebenaran Marxisme, akan pastinya kemenangan Sosialisme. Kaum buruh Indonesia menjadi sedar akan mutlak perlunya Partai klas buruh tipe baru, tipe Lenin. Maka sejak itu teryadilah peryuangan yang sengit di dalam PSDH melawan anasir-anasir Internasionale ke-II seperti Stokvis, Hartogh, dkk. Stokvis dkk. tak lama kemudian keluar dari PSDH dan membentuk organisasi sendiri yang menjadi cabang Partai Sosial-Demokrat Belanda yang reformis dan revisionis.

Pembentukan Internasionale ke-III dalam tahun 1919 dan seruan Lenin agar setiap Partai klas buruh memaki nama Partai Komunis, disambut baik oleh PSDH. Dalam Kongres ke-VII-nya yang dilangsungkan di Semarang dalam bulan Mei 1920, PSDH cabang Semarang telah mengusulkan penggantian nama PSDH dengan Partai Komunis. Usul ini ditentang keras oleh anasir-anasir revisionis Internasionale ke-II yang masih ada di dalam PSDH. Setelah terjadi peryuangan yang seengit akhirnya Kongres menyetuji usul tersebut. Dengan demikian, tepat pada tgl. 23 Mei 1920 lahirlah Partai klas buruh Indonesia tipe Lenin, Partai Komunis Indonesia. Pada tahun berikutnya PKI menggabungkan diri kepada Internasionale ke-III, ikut memperkuat Gerakan Komunis Internasional yang Marxis-Leninis.

Dari kenyataan-kenyataan sejarah seperti tersebut di atas, nampak dengan jelas bahwa kaum Komunis Indonesia sudah sejak semula bertekad untuk menjadi kaum Marxis-Leninis yang revolusioner, sudah sejak semula melakukan peryuangan melawan revisionisme Internasionale ke-II dan dengan gigih membela kemurnian Marxisme-Leninisme. Ini berarti bahwa sejak dilahirkannya PKI sudah berduyang untuk pengintegrasian Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia dan untuk internasionalisme proletar.

Kini PKI sudah berusia 44 tahun. Proses sejarah PKI merupakan proses pengintegrasian kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia. Proses ini adalah panjang, telah menempuh jalan yang ber-liku-liku yang penuh onak dan duri, telah dimahkotai oleh sukses-sukses dan digembeng oleh kegagalan-kegagalan, telah memakan banyak korban, seyangkau di hadapannya masih terbentang jalan panjang pengintegrasian yang masih harus dilalunya.

Seluruh proses sejarah PKI pada pokoknya dapat dibagi dalam dua tingkat, yaitu tingkat pertama, ialah masa kanak-kanak yang dimulai sejak lahirnya sampai pada awal tahun 1951; dan tingkat kedua ialah masa dewasa yang dimulai dari tahun 1951 dan yang berlangsung terus. Sebagai tonggak sejarah yang memisahkan kedua tingkatan itu adalah pembentukan Politbiro baru dari CC Kongres Nasional ke-IV yang bertekad bulat untuk melaksanakan Marxisme-Leninisme secara konsekwens dan kreatif dan penyusunan serta pengsahan Konstitusi baru Partai oleh CC yang kemudian diterima dan disempurnakan dalam Kongres Nasional ke-V PKI tahun 1954.

III

Masa Kanak-kanak PKI

Ciri utama masa kanak-kanak PKI ialah, bahwa taraf teorinya masih rendah. Para kader dan anggota Partai masih belum menguasai dasar-dasar teori Marxisme-Leninisme yang diperlukan. Dan ini telah mengakibatkan tidak adanya garis politik dan garis organisasi yang tepat dan jelas sehingga mengakibatkan banyak kesalahan-kesalahan. misalnya, dalam memimpin pemberontakan bersenjata 1926-1927 telah digunakan semboyan-semboyan “anti semua kapitalisme”, “”sosialisme sekarang juga“, ”“sovyet Indonesia”, “”diktatur proletariat“, dsb. Misal yang lain, Pemerintah Amir Syarifuddin telah menyerahkan kekuasaannya dalam tahun 1948 secara sukarela. Misal yang lain lagi, pada masa itu PKI tidak mempunyai program agraria yang tepat. Akan tetapi, secara menyeluruh, yang terpenting sebagai akibat dari rendahnya taraf teori Partai pada masa itu, ialah tidak adanya kesatuan dan persatuan di dalam Partai di lapangan ideologi, politik dan organisasi sehingga mudah terkena penyakit faksionalisme, bapakisne, serta juga mudah termakan oleh intrik-intrik adudomba dari musuh.

Walaupun Partai pada masa itu rendah taraf teorinya, tetapi Partai telah memiliki tradisi revolusioner dari klas buruh dan Rakyat pekerja kita. Para kader dan anggota Partai umumnya gagahberani dan memiliki semangat dan watak revolusioner yang sangat tinggi dan kuat. Semangat dan watak kader-kader dan anggota-anggota PKI ketika itu antara lain dinyatakan sbb.:

  1. Melawan imperialism dengan konsekwenn, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan patriotisme yang tinggi.
  2. Menyokong perjuangan Rakyat-Rakyat tertindas tanpa ragu-ragu, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan internasionalisme proletar yang tinggi.
  3. Setia membela kepentingan Rakyat pekerja, sehingga dengan demikian berhubungan erat-erat dengan massa Rakyat pekerja.
  4. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah dalam menghadapi musuh, rela berkorban, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan keberanian dan heroisme revolusioner yang tinggi.
  5. Tak kenal putus-asaa dalam menghadapi situasi betapa pun sulitnya, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan keuletan yang luarbiasa.
  6. Sederhana dan selalu siap membantu kawan yang kesusahan, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan kesetiakawanan yang besar.

Semangat dan watak revolusioner yang luhur seperti tersebut di atas telah menjadi ciri utama PKI, sehingga mereka yang tidak memiliki yanggal berada dalam barisan PKI apalagi dalam pimpinan PKI. Semangat dan watak revolusioner itu telah membikin harum nama Partai dan selalu hidup di dalam hati Rakyat pekerja. Kelemahan atau kekurangan PKI dibidang teori banyak tertutup oleh semangat dan watak yang mulia ini.

Pengalaman Partai selama masa kanak-kanaknya kaya sekali. Berbagai macam bentuk perjuangan telah dialami, baik legal Maupun ilegal, baik bersenjata Maupun tak-bersenjata. Berbagai macam musuh telah dihada-pinya pula, baik imperialism Belanda, fasisme Jeyang, Maupun kaum reaksioner dalamnegeri.

Pelajaran-Pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman-pengalaman PKI selama masa itu sudah tentu banyak sekali. Bagian-Bagian yang terpenting daripadanya sudah kita gali dan kita simpulkan, tetapi masih banyak lagi yang harus kita kerjakan dalam hal ini. Pelajaran-Pelajaran terpenting yang telah kita simpulkan itu antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama: Pengalaman selama masa ini membikin kita memahami lebih mendalam dan meresap tentang apa yang sering dikemukakan oleh Lenin, bahwa tanpa teori revolusioner tak mungkin ada partai-partai revolusioner, tak mungkin ada aksi atau gerakan revolusioner. Kita telah mengetahui, bahwa teori adalah kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari pengalaman praktek, dan bahwa di samping itu, teori juga memainkan peranan aktif terhadap praktek selanyutnya, yaitu memimpin praktek. Tugas kaum Komunis ialah memimpin praktek revolusioner klas buruh dan Rakyat pekerja untuk mengubah dunia. Tanpa memiliki teori revolusioner, tak mungkin dapat memimpin praktek revolusioner massa Rakyat pekerja itu, tak mungkin dapat memainkan peranan sebagai pemimpin.

Rendahnya taraf teori Partai pada masa itu adalah wajar. Sungguhpuhn PSDH sudah pernah melakukan kegiatan menyebarkan Marxisme dengan misalnya penerbitan suratkabar-suratkabar dan majalah-majalah, dan kemudian usaha-usaha itu juga diteruskan oleh PKI selama belum dinyatakan ilegal oleh pemerintah kolonial Belanda, akan tetapi semuanya ini dilakukan tidak secara sistimatis dan juga kurang efektif. Ini disebabkan karena pada ketika itu massa anggota dan sebagian kader-kader Partai butahuruf. Selain daripada itu juga karena penghasilan kaum buruh dan massa pekerya-pekerya pada umumnya sangat rendah, sehingga tidak mungkin berlangganan suratkabar atau majalah. Oleh karenanya pengaruh penerbitan-penerbitan itu sangat terbatas. Penerbitan-Penerbitan berbahasa Belanda ketika itu, misalnya “Het Vriye Woord” beredar juga di kalangan pegawai negeri dan kaum intelektuil, dan ini merupakan salah satu sebab mengapa para pegawai negeri dan intelektuil Indonesia banyak yang ambilbagian dalam gerakan revolusioner, di samping karena mereka sering mengalami perlakuan diskriminasi dan penghinaan dari pemerintah kolonial Belanda. Hal lain yang menyebabkan sangat terbatasnya pengaruh dari bahan-bahan bacan pada waktu itu ialah karena literatur klasik Marxisme-Leninisme, di samping yumlahnya sangat sedikit karena terlarrang, semuanya dalam bahasa asing, sehingga hanya beberapa gelintir kawan saja yang dapat membantayna.

Berhubung tidak meratanya dan sangat kurangnya pengetahuan teori Marxisme-Leninisme, dengan sendirinya adalah sulit untuk dapat melaksanakan dengan baik prinsip organisasi Leninis, seperti sentralisme-demokratis, kritik dan selfkritik, dsb. Sering terjadi dalam perdebatan-perdebatan atau diskusi, bahwa kawan-kawan yang lebih mempunyai pengetahuan teori sering menggunakan kedok “Marx” dan “Lenin” untuk me-nakut-nakut atau menundukkan kawan-kawan lainnya yang kurang atau tiada pengetahuan teori (sebagaimana halnya kaum revisionis modern sekarang sering juga menggunakan ucapan-ucapan atau dalil-dalil Lenin untuk membenarkan pandangan revisionisnya di hadapan orang-orang Komunis yang dianggapnya masih “ijo”). Dengan demikian bagi kawan-kawan yang sudah memiliki sekedar pengetahuan teori itu tidak bisa meningkatkannya lebih lanjut, bahkan diantaranya ada yang dengan tidak sengaja mengajarykan pandangan-pandangan anti Marxisme-Leninisme kepada kawan-kawan lainnya. Ji-ka mereka mengajarykan filsafat materialisme, misalnya, sering yang mereka ajarkan bukannya materialisme dialektika dan histori (MDH), melainkan materialisme vulgar. Sampai sekarang akibat pelajaran yang keliru ini masih terasa dalam gerakan revolusioner kita. Sekarang ini masih sering terjadi orang menyerang “materialisme” dengan maksud menyerang PKI dan Marxisme-Leninisme, tetapi yang mereka serang sebenarnya ialah materialisme vulgar yang tidak ada miripnya de-agam PKI dan dengan Marxisme-Leninisme.

Baru pada akhir masa kanak-kanak ini, dalam gejolaknya Revolusi Agustus selama tahun-tahun 1945-1948, Partai mengusahakan pendidikn teori dengan mengadakan kursus-kursus dan sekolah-sekolah Partai, misalnya dengan mengadakan “Marx House”. Pada ketika itu pun sudah agak banyak buku-buku klasik Marxisme-Leninisme yang dibawa oleh kawan-kawan dari luar negeri, terutama dari Nederland dan Australia. Akan tetapi cara belajaryna tidak tepat, tidak atau kurang sekali dihubungkan dengan masalah-masalah kongkrit revolusi Indonesia. Belajar Marxisme-Leninisme ketika itu boleh dikatakan tanpa tujuan, tanpa sasarun. Siswa diajar menghafalkan dalil-dalil tetapi tidak dididik untuk memahami jiwa atau semangat Marxisme-Leninisme serta pengabdiannya kepada revolusi Indonesia. Bahkan sekarang masih ada kawan-kawan; yang oleh karena salah asuhan di-waktu-waktu dulu, berpandangan salah terhadap teori. Misalnya, ada anggapan bahwa teori Marxisme-Leninisme itu adalah ilmu yang begitu tinggi sehingga tidak dapat dimengerti oleh orang biasa, dan oleh karena itu hanya untuk kawan-kawan pimpinan saja, sedangkan bagi anggota biasa dan para kader bawahian dianggap sudah cukup menerima instruksi-instruksi saja dan melaksanakannya. Padahal, Marx menciptakan teorinya bukanlah untuk dimiliki oleh beberapa gelintir pemimpin atau orang-orang istimewa, melainkan untuk massa Rakyat pekerya-pekerya, dan ajaran-ajarannya pun didasarkan atas pengalaman-pengalaman praktek Rakyat pekerja sepajang sejarah manusia. Oleh karena itulah, mereka yang ingin “memonopoli” pengetahuan teori Marxisme-Le- ninisme, baik dengan tujuan untuk mempertahankan kedudukannya Maupun karena beranggapan bahwa ba-wahannya atau massa anggota umumnya tidak akan mampu memahaminya, bukanlah Marxis yang baik.

Kaum Marxis berduyang untuk membebaskan Rakyat pekerja tidak hanya dari perbudakan jasmaniah, tepati juga dari perbudakan rokhaniah. Kaum Marxis tidak mungkin bertindak sendiri selaku pendekar untuk membebaskan massa Rakyat pekerja tanpa mengembangkan kesedaran dan kecerdasan massa, tanpa membangkitkan aksi-aksi massa. Hanya dengan memadukan Marxisme-Leninisme dengan massa, Rakyat pekerja dapat membebaskan dirinya, baik dari perbudakan jasmaniah Maupun rokhaniah. Marxisme-Leninisme baru bisa menjadi kekuatan materiil yang takterkalahkan apabila sudah dimiliki oleh massa Rakyat pekerja. Jadi, soalna bukanlah Marxisme-Leninisme itu sulit difahami oleh massa Rakyat pekerja, melainkan terletak pada cara menjelaskan Marxisme-Leninisme kepada massa Rakyat pekerja.

Marxisme-Leninisme adalah penyimpulan dari praktek kongkrit perjuangan klas sepanyang sejarah, terutama perjuangan klas proletar dalam mayasarakat kapitalis, karenanya bersifat umum dan abstrak. Oleh karena itu, dalam menjelaskan teori Marxisme-Leninisme yang bersifat umum dan abstrak harus ditempuh cara deduktif, yaitu dikembalikan dengan mengemukakan pengalaman-pengalaman yang kongkrit, terutama sekali pengalaman-pengalaman kongkrit yang dihadapi oleh massa Rakyat karena mereka adalah pekerja-pekerja jasmaniah, dan umumnya tingkat kebudayaannya belum tinggi sehingga dayabayangnya kurang. Hanya dengan demikian, Marxisme-Leninisme itu bisa dengan mudah diterima dan difahami oleh Rakyat. Jika Marxisme-Leninisme diyadarkan secara abstrak, maka akan sulitlah difahami oleh Rakyat pekerja. Dan biasanya orang yang menjelaskan Marxisme secara abstrak, sebenarnya ia sendiri belum mengerti betul-betul Marxisme.

Sebagai ilustrasi, baiklah di sini saya kemukakan suatu pengalaman. Pernah ada seorang kawan guru filsafat Marxis di suatu sekolah Partai. Dalam menerangkan tentang apa itu kontradiksi pokok ia mengambil contoh-contoh yang abstrak yang hanya ada dalam dunia fikiran atau contoh-contoh dari ilmu alam yang belum pernah dipelajaryi oleh para siswa yang umumnya terdiri dari kader-kader yang berasal dari kaum tani. Sudah tentu saja, contoh-contoh semacan itu tidak membikin jelas persoalan. Siswa-Siswanya tidak menjadi makin mengerti. Tetapi, pada kesempatan yang lain, setelah guru itu lebih banyak pengalamannya, dalam mengajarikan filsafat, berbeda sudah cara menerangkanannya. Ia mengemukakan kehidupan desa sebagai contoh. Dijelaskannya bahwa di desa terdapat banyak kontradiksi, seperti kontradiksi antara tuantanah dengan tani penggarap, antara lin-tahadarat dengan kaum tani, antara pengusa jahat dengan kaum tani, antara tanimiskin dengan tankayaka, antara tanisedang dengan tankayaka, antara tuantanah yang satu dengan tuantanah yang lain........ dsb. Di antara kontradiksi-kontradiksi semudikian banyaknya itu, kontradiksi antara tuantanah dengan kaum tani penggarap merupakan persoalan yang paling hangat di desa, karena ia merupakan sebab pokok daripada kemiskinan kaum tani. Dari sebab itu, kontradiksi ini adalah kontradiksi pokok dalam masalah agraria pada dewasa ini. Selama kontradiksi ini belum terpecahkan, dan ini hanya mungkin dengan landreform yang radikal, selama itu kontradiksi-kontradiksi lain tidak akan atau sulit terpecahkan. Tapi, dika masalah ini terpecahkan, maka banyak kontradiksi lain di desa akan ikut terpecahkan atau mudah terpecahkan. Dengan penjelasan demikian ini, para siswa yang banyak terdiri dari kader tani itu mudah menerima.

Dari contoh tersebut di atas, penting sekali bagi setiap guru sekolah Partai senantiasa mengintegrasikan dirinya dengan praktek perjuangan revolusioner Rakyat, mengintegrasikan dirinya dengan massa Rakyat, karena di situlah sumber pengetahuan. Maka perlu sekali setiap guru sekolah Partai turun ke bawah untuk suatu waktu tertentu. Teori yang abstrak dan yang diperoleh dari buku-buku saja, artinya melalui praktek tidak langsung, tidak bisa mendalam dan meresap; ia harus diperkuat dan diperkaya dengan pengalaman prakteknya sendiri. Di sinilah arti penting praktek langsung dan pengetahuan sensasionil dalam proses perkembangan pengetahuan. Inilah pula arti penting daripada gerakan turun ke bawah dan gerakan “3 sama” dalam mengintegrasikan diri dengan praktek perjuangan massa Rakyat, mengintegrasikan pimpinan dengan massa.

Kedua: Pengalaman selama masa ini juga mengajar kan kepada kita betapa pentingnya pendirian klas atau watak-watak klas bagi seseorang Komunis dan kaum revolutioner pada umumnya. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Partai Komunis Indonesia dalam masa kanak-kanaknya telah memperlihatkan semangat dan watak-watak yang revolutioner, sehingga menjadi ciri-ciri tipikal bagi nya. Semuanya itu sebenarnya adalah perwuyudan dari pendirian klas atau watak klasnya yang kuat. Ini justru adalah ciri-ciri moral Komunis yang luhur. Walaupun pada masa kanak-kanaknya pengetahuan teori PKI tak seberapaa, tetapi oleh karena anggota-anggota PKI pada umumnya berasal dari kalangan Rakyat pekerya yang papa-sengsara akibat penindasan dan penghisapan yang kejam dari imperialisme, PKI memiliki watak dan semangat yang memang seharusnya dimilikinya. Kehidupannya yang tertindas dan terhina itu telah menempa watak klas yang kuat padanya. Adanya watak klas yang kuat itulah yang membikin semangat juang kaum Komunis Indonesia tak kundung padam. Dan dari praktek perjungan yang makn banyak itu lambatlaun tumbuhlah kecerdasaannya dan pengetahuannya tentang teori sehingga mampu menyimpulkan pengalaman-pengalamannya sendiri secara tepat.

Dengan adanya pendirian klas dan moral Komunis yang kuat itu tak gampang ia dibinggapi penyak revisionisme, kapitalisasiisme dan oportunisme kanan umumnya. Bisa saja orang-orang Komunis Indonesia membikin kesalahan-kesalahan yang bersifat “kiri” sebagai akibat tiada atau kurang memilik pengetahuan teori, tetapi asal sanggup mengoreksi kesalahan-kesalahan itu masih jaun lebih baik jika dibandingkan dengan orang-orang Komunis yang mempunyai pengetahuan teori cukup banyak, tetapi lemah pendirian klasnya karena memisahkan diri dari kehidupan massa kaum buruh dan Rakyat pekerya umumnya, memisahkan dirinya dari gerakan revolusioner massa Rakyat pekerya. Orang-Orang semacam ini adalah calon-calon atau bibit-bibit revisionisme yang dapat merusak Partai dari dalam sebagai sukarelawan-sukarelawan kaum imperialis. Pelajaran ini makn penting artinya bagi kita sekarang, dalam perkembangan keadaan yang relatif damai, di mana sudah ada kawan-kawan yang mempunyai kedudukan resmi dan kedudukan di-dewan-dewan perwakilan, kehidupannya sudah berbeda dengan Rakyat pekerya. mereka sudah mendapat fasilitet-fasilitet yang sama dengan yang didapat oleh orang-orang burjuis. Semuanya ini merupakan syarat-syarat atau lobang-lobang yang mudah kemasukan angin opportunisme kanan terutama revisionisme. Oleh karenanya, mahapentinglah arti kontrol massa dan kontrol Partai terhadap kawan-kawan yang demikian itu. Kontrol massa harus dibangkitkan, kontrol Partai harus terus-menerus dipertajam.

Olehkarenanya sangatlah penting tugas pekerja-pekerja kebudayaan Komunis, terutama sekali para sastrawan kita, untuk menggali dari pengalaman sejarah Partai: kisah-kisah pahlawan-pahlawan partai yang mendemonstrasikan moral Komunis yang tinggi, dalam mengamalkan diywa raganya kepada Partai dan Rakyat. Cerita-Cerita ini akan selalu mengingatkan pada kita semua bahwa ‘adanya keadaan Partai sekarang ini adanya kawan-kawan kita sekarang bisa hidup dalam keadaan yang lebih baik, terhormat dan bermartabat adalah berkat pengorbanan dan perjungan yang susah-payah dari be-ribu-ribu kawan-kawan yang sudah mendahului kita dan berkat Rakyat pekerya yang memberi kepertiyakaan kepada kita. Ceritera-Ceritera ini dapat selalu memberikan inspirasi revolutioner kepada kita. Pendek kata, ciri-ciri moral Komunis yang telah diperhatikan oleh kawan-kawan kita dalam masa kanak-kanak Partai kita harus kita warisi dan kembangkan terus-menerus sebagai tradisi Partai kita.

Di samping itu, sangat penting sekali artinya, terutama dalam keadaan relatif damai ini, bagi semua kader PKI untuk melaksanakan gerakan turun ke bawah dan melakukan pekerjaan riset seperti yang sudah kita lakukan, untuk mengintegrasikan diri kita dengan praktek perjungan massa dengan kehidupan massa Rakyat. Hanya dengan selalu mengintegrasikan diri dengan praktek revolutioner dengan massa Rakyat revolutioner, akan dapatlah kita memperkokoh watak klas kita, memperteguh moral Komunis kita.

IV

Masa Dewasa PKI

Sebagai ciri utama daripada masa dewasa PKI ialah bahwa segala pekerjaan dan aktivitet Partai dilaku-kan secara teratur dan sistimatis, di samping kelincah-an dan ketangkasannya dalam menghadapi perkembangan situasi politik yang ada kalanya ber-ubah-ubah dengan ceapat. Ini, pertama-tama karena adanya pimpinan kolktif Partai yang kompak dan bijaksana serta adanya garis politik yang tepat semenjak tahun 1951, yang kemudian diperkuat dan disempurnakan dalam bentuk Konstitusi dan Program Partai oleh beberapa kali si-dang CC dan oleh Kongres Nasional ke-V Partai pada tahun 1954.

Selama masa ini Partai mencurahkan segala perhatian dan tenaganya pada dua tugas pokok, yaitu pembangunan Partai yang Marxis-Leninis dan penggalangan front persatuan nasional revolusioner antiimperialisme dan antifeodalisme.

Mengenai pembangunan Partai, pertama-tama diambil langkah-langkah yang tegas untuk menempatkan kembali PKI sebagai satu-satunya Partai klas buruh yang Marxis-Leninis guna mengakhiri keruwetan organisasi yang mengaburkan massa kaum buruh dan Rakyat pekerya pada umumnya akan peranan PKI sebagai pemimpinnya. Selanjutnya dilakukan pembangunan kembali dan perlusasan organisasi dan keanggotaan Partai di seluruh negeri secara-berencana. Mula-Mula rencana-rencana pembangunan Partai itu bersifat jangka pendek dengan yumlah mataplan yang sangat terbatas, misalnya plan 3 atau 6 bulan. Kemudian dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman itu disusunlah Plan 3 Tahun Pertama dengan yumlah mataplan yang banyak dan bersifat menyeluruh yang dititikberatkan pada bidang organisasi, pada perlusasan organisasi dan keanggotaan. Selanjutnya disusul dengan Plan 3 Tahun Kedua dengan penekanan pada pembangunan ideologi untuk mengkonsolidasi hasil-hasil yang sudah dicapai selama Plan 3 Tahun Pertama dan mengembangkannya lebih lanjut. Setelah melalui dua kali Plan 3 Tahun tsb., maka organisasi dan anggota Partai pada pokoknya telah tersebar di seluruh tanahair kita dan sudah terkonsolidasi dibidang ideologi, politik dan organisasi. Kini kita telah memasuki Plan 4 Tahun Pembangunan Partai yang meliputi bidang-bidang kebudayaan, ideologi dan organisasi.

Pekerjaan pendidikan Partai selama masa ini memainkan peranan yang penting sekali dalam pembangunan ideologi. Dengan dilakukannya pekerjaan pendidikan Partai secara intensif dan sistimatis, tidak saja kita sudah dapat mempertinggi taraf teori partai, memperkuat watak Partai, tetapi, terutama sekali, da-pat membubatkan Partai sehingga bersatu dalam fikiran, dalam hati dan dalam tindakan.

Mengenai penggalangan front persatuan nasional, Partai pertama-tama memperkuat front persatuan buruh, sementara itu juga mengintensifkan pekerjaannya di kalangan kaum tani untuk memperkokoh persekutuan buruh dan tani, serta mengkonsolidasi pimpinan klas buruh dalam persekutuan ini. Di samping itu Partai ber-usaha keras untuk mengadakan persatuan dengan burjuasi nasional. Dalam hubungan dengan ini PKI telah melakukan perjuangan melawan dua kecenderungan, yaitu: kecenderungan kanan yang memberi arti ber-lebih-lebihan kepada persatuan dengan burjuasi nasional dan mengecilkan arti persekutuan buruh dan tani di bawah pimpinan klas buruh; dan kecenderungan “kiri” yang meremehkan arti persatuan dengan burjuasi nasional—suatu bentuk dari penyakit sektarisme. Kini usaha-usaha Partai telah mencapai hasil-hasil yang baik. Gagasan-Gagasan Bung Karno seperti Pancasila, Nasakom dan mengikis Komunisto-phobi, telah memainkan peranan yang besar dalam menggalang persatuan nasional revolusio-ner, dan dengan demikian juga membantu dalam pembangunan Partai.

Pelajaran penting yang dapat kita tarik dari pengalaman selama masa dewasa PKI selama ini ialah be-tapa penting artinya peranan aktif kesedaran subyektif. Pengalaman sepanjang masa ini telah menunjukkan usaha Partai untuk mengembangkan sepenuhnya peran-an aktif kesedaran subyektif, atau dengan perkataan lain, mengembangkan sepenuhnya peranan aktif subiek (Partai) untuk mengubah keadaan, mengubah masay-rakat, mengubah dunia, baik dunia obyektif Maupun dunia subyektif.

Sebagaimana kita semua telah mengetahui, perbedaan hakiki antara tindakan kita manusia dengan mahluk alam lainnya ialah, manusia bertindak dengan kesedaran, sedangkan mahluk alam lainnya tanpa kesedaran. Kese-daran manusia ditentukan oleh keadaan dunia obyektif diseikitarnya; ia tidak hanya dapat mencerminkan hu-kum-kum perkembangan dunia obyektif, tetapi juga dapat memainkan peranan aktifnya mempengaruhi dunia obyektif lewat tindakannya. Ini justru merupakan ci'ri khas daripada manusia. Tanpa mengembangkan sepenuhnya usaha-usaha atau tindakan-tindakan subyektif yang sedar-diri atau yang berdasarkan fikiran yang tepat, berarti kita sudah mati sebelum mati, berarti kita sudah mati sebagai orang revolusioner, sebagai manusia, sebelum kita mati sebagai mahluk alam.

Bekerja menurut rencana (plan) justru merupakan suatu bentuk daripada pengembangan sepenuhnya peranan aktif kesedaran subyektif itu.

Ada sementara orang mengejek kita, karena kita bekerja berencana baik dalam membangun organisasi Partai Maupun dalam membangun ideologinyga. Mereka mengatakan bahwa PKI sedang ngelamun, karena merencanakan jadwal revolusi, katanya.

Kalau PKI benar-benar merencanakan suatu jadwal untuk menentukan waktu pecahnya revolusi, maka usaha itu benar-benar nonsens, dan PKI benar-benar ngelamun. Perbuan ini sama nonsensnya dengan perbuatan orang yang menyusun jadwal waktu untuk lahirnya masyarak Komunis selagi ada imperialisme. Nonsens, karena tidak ada orang yang mengetahui kapan imperialisme akan lenyap samasekali dari permukaan bumi.

Sekarang ini ada orang-orang jihayyang menyebarkan “dokumen” provokatif, yang mengatakan bahwa PKI akan merebut kekuasaan dalam tahun 1970“. Mereka kira PKI sama giliran seperti mereka yang tidak henti-henti nya membikin rencana untuk merebut kekuasaan, untuk melakukan kudeta, termasuk melalui pembunuhan terhadap Bung Karno.

Kapan pecahnya suatu revolusi tak dapat direncana-kan. Sudah banyak revolusi terjadi di dunia, tetapi ti- dak ada satu pun yang terjadi menurut jadwal waktu yang direncanakan lebih dahulu. Berdasarkan pengalaman praktek revolusioner, kita memang dapat mengetahui syarat-syarat yang diperlukan bagi suatu revolusi. Adalah tugas Partai revolusioner untuk tidak hanya menge-nenal syarat-syarat revolusi itu, tetapi juga harus menciptakan atau mempercepat kematanygan syarat-syarat yang di-perlukan itu. Dalam hubungan dengan ini, kita menge-nenal teori Bung Karno tentang “makhtsvorming” dan “makhtssaanwending”, tentang pembentukan kekuatan dan penggunaan kekuatan.

Bekerja secara berencana untuk pembangunan Partai justru adalah suatu usaha untuk menyiyptakan syarat-syarat yang penting bagi revolusi. Dan cara kerja sedemikian itu sepenuhnya mungkin dan dapat dilaku-kan, bahkan, menurut pengalaman kita selama ini, adlah merupakan cara yang sangat efektif. Dengan ber-buat demikian sekaligus kita dapat mengembangkan daya kreatif massa anggota Partai, dapat melatih semua kader dan anggota Partai untuk bekerja secara sedar dan mengakhiri cara kerja yang spontan. Ini diperlu-kan dalam rangka penyelesaian revolusi nasional-de-mokratis dan dalam rangka bekerja untuk perspektif revolusi Indonesia, yaatu Sosialisme Indonesia.

V

Teori-Teori PKI Lahir dari Praktek-Praktek Revolusioner

Dari seluruh proses pengintegrasian kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia selama 44 tahun ini, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa kunyi pengintegrasian adalah praktek. Sejarah PKI telah menundukkan bahwa da-i am masa kanak-kanaknyna PKI tidak mempunyai pengetahuan teori Marxisme-Leninisme yang cuyur baik. Akan te-tapi, oleh karena sejak lahirnya ia selalu mengintegra-sikan dirinya dengan praktek gerakan revolusioner Rakyat Indonesia, maka dari pengalaman praktek itu timbulah kebutuhan akan teori untuk membimbing prakteknya lebih lanjut. Dengan demikian mulailah kaum Komunis Indonesia belayar teori Marxisme-Le-ninisme dengan sungguh-sungguh dan mulailah pula kaum Ko-munis Indonesia menyimpulkan pengalaman-pengalaman prakteknya secara teori. Dengan teorinya itu PKI dapat lebih baik lagi mengenal keadaan masyarakat dan revolusi Indone-sia serta lebih baik lagi dalam meneruskan praktek revolusionernya. Melalui praktek ini pengertian PKI menjadi lebih dalam tentang prinsip-prinsip Marxisme-Le-ninisme dan tentang masyarakat dan revolusi Indone-sia. Dari proses ini lahirlah teori PKI tentang revolusi Indonesia. Dengan pengetahuan teori yang makin dalam dan kaya itu makin baik lagi praktek revolusioner-nya; dari pengalaman praktek yang makin baik ini, makin kaya dan mendalam lagi pengetahuan teorinya baik mengenai prinsip-prinsip umum Marxisme-Leninisme Maupun mengenai pentrapannya pada masyarakat dan revolusi Indonesia. Demikianlah proses itu berlangsung secara berulang terus-menerus, dan setiap kali pengulangan itu berada di atas dasar yang lebih tinggi. Dengan demikian proses pengintegrasian itu berlangsung kian hari kian baik dan temponya kian tinggi pula. Pendeknya, proses pengintegrasian itu adalah juga proses perkembangan pengetahuan dan perkembangan praktek sekaligus.

Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Kawan Mao Ce-tung, dengan praktek kita dapat mengubah dunia subyektif dan dunia obyektif, atau dengan perkataan lain, seiring dengan perkembangan praktek, maka pengetahuan teori kita juga berkembang maju, sementara itu keadaan dunia di sekitar kita pun berkembang atau berubah lebih baik lagi berkat praktek itu.

Demikianlah, sejarah praktek revolusioner PKI selain telah mengubah keadaan masyarakat Indonesia, juga telah mengubah PKI sendiri.

Praktek tak lain tak bukan adalah perpaduan atau pengintegrasian antara dunia subyektif kita dengan dunia obyektif sekitar kita. Oleh karenanya, kita semua (dunia subyektif) harus selalu mengintegrasikan diri dengan gerakan revolusioner Rakyat Indonesia atau revolusi Indonesia (dunia obyektif), harus selalu men-gembangkan pengetahuan teori kita dan praktek revolusioner kita. Dalam hubungan dengan ini penting artinya bagi kaum revolusioner untuk belajar dan menguasai teori epistemologi Marxis, atau teori tentang praktek.

VI

Teori-Teori tentang Revolusi Indonesia

Revolusi Indonesia pada tingkat sekarang pada hakkatnya adalah revolusi agraria, adalah revolusi un-tuk membebaskan massa kaum tani yang merupakan bagian yang sangat terbesar dari Rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pengintegrasian haruslah pertama-tama berarti pengintegrasian kaum Komunis dengan kaum tani dan revolusi tani. Riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani yang sudah kita lakukan baru-baru ini merupakan suatu usaha, bahkan usaha yang terpen-ting, untuk melaksanakan pengintegrasian tsb.

Dari uraian di atas jelaslah pula, bahwa dalam pro-ses pengintegrasian kebenaran umum Marenisme-Le-ninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia kita menjadi tahu dan sedar, makin dalam dan kaya pengertian kita mengenai prinsip-prinsip Marxisme-Leninis-me. makin mendalam dan makn jelas pula pengenal-an kita mengenai keadaan masyarakat dan revolusi Indo-nesia. Ini berarti kita makn mengenal hukum-hukum perkem-bangan masyarakat dan revolusi Indonesia, makin me-nguasai teori-teori tentang perkembangan masyarakat dan revolusi Indonesia.

Selama ini kaum Komunis Indonesia telah menemukan teori-teori revolusi Indonesia antara lain sebagai beri-kut:

  1. bahwa untuk dapat memimpin perkembangan revolusi Indonesia, PKI harus menyalankan garis umum: meneruskan penggalangan front persatuan nasional revolusioner antiimperialisme dan antifeodalisme dan meneruskan pembangunan Partai yang Marxis-Leninis untuk menyelaskan tuntutan-tuntutan Revolusi Agus-tus 1945 sampai ke-akar-akarnya; garis umum untuk peng-galangan front persatuan ialah menggalang front persatuan nasional antiimperialisme antara klas buruh, kaum tani, burjuasi kecil dan burjuasi nasional, yang berbasiskan persekutuan buruh dan tani antifeodalisme di bawah pimpinan klas buruh; garis umum pembangunan Partai ialah membangun Partai di seluruh negeri yang mempunyai karakter massa yang luas, yang sepenuhnya terkonsolidasi dibidang ideologi, politik dan organisasi;
  2. bahwa revolusi Indonesia di samping bersifat nasional-demokratis, juga merupakan bagian daripada revolusi Rakyat-Rakyat sedunia untuk kemerdekaan nasional, demokrasi, sosialisme dan perdamaian dunia; oleh karenanya, untuk memenangkan revolusi Indonesia, di samping kita harus menggalang front persatuan nasional, juga harus menggalang front persatuan internasional antiimperialisme, harus memadukan patriotisme dengan internasionalisme proletar;
  3. bahwa di Indonesia kini ada tiga kekuatan: kekuatan progresif, kekuatan tengah dan kekuatan kepala batu; dan untuk mengembangkan lebih lanyut kekuatan revolusi Indonesia Partai harus berusaha keras terus mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan memencilkan lebih lanyut kekuatan kepala batu;
  4. bahwa berdasarkan pengalaman selama revolusi 1945-1948, maka untuk dapat memenangkan revolusi Indonesia kita harus melakukan metode mengkombinasikan tiga bentuk perjuangan, yaitu perjuangan di kalangan kaum tani, kaum buruh di-kota-kota, dan mengintegrasikan alat-alat negara yang pokok dengan perjuangan revolusioner Rakyat.

Dengan teori-teori revolusi Indonesia itu, kita telah memperkaya dan memperdalam prinsip-prinsip umum Marxisme-Leninisme, juga telah mengembangkan praktek revolusi Indonesia. Dari sini tampak jelas betapa pentingnya bagi kita untuk selalu dapat memadukan atau mengintegrasikan antara keumuman dengan kekhususan. Ini berarti bahwa kita harus senantiasa dapat dengan keumuman sebagai pedoman untuk mengenal kekhususan, dan dari kekhususan-kekhususan sebagai dasar untuk menemukan keumumannya. Demikianlah, prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme itu adalah keumuman hukum perkembangan masyarakat dan hukum revolusi, dan dengan ini sebagai pedoman kita dapat menemukan kekhususan hukum-hukum perkembangan masyarakat dan revolusi Indonesia yang kongkrit; dan dari kekhususan hukum-hukum revolusi Indonesia kita dapat memperkaya dan memperkuat keumuman hukum-hukum perkembangan masyarakat dan revolusi pada umumnya. Demikian juga cara kita memberikan pimpinan kepada gerakan revolusioner di negeri kita. Kita harus dapat menyimpulkan dari kekhususan-kekhususan keadaan dan pengalaman daerah-daerah menjadi program umum untuk seluruh nasion dan Rakyat, dan berdasarkan garis umum nasional itu Comite-Comite daerah harus dapat menyimpulkan garis khusus yang sesuai dengan keadaan kongkrit atau kekhususan daerahnya; demikian seterusnya. Ini adalah gerak dari atas ke bawah, suatu gerak yang mendelmakan keumuman menjadi kekhususan. Sebaliknya, ada juga gerak dari bawah ke atas, yaitu menyimpulkan pengalaman-pengalaman khusus Comite-Comite bawahannya dijadikan garis umum, dari kekhususan-kekhususan ditingkatkan menjadi keumuman. Demikianlah terus-menerus proses itu berlangsung secara berulang, dan setiap ulangan itu berada di atas dasar yang lebih tinggi. Pendekna kita harus dapat memadukan secara dialektik antara keumuman dengan kekhususan, antara pimpinan dengan massa. Dengan berbuat demikian kekreatifan kita akan terjammin dan dogmatisme akan menjadi yang asing samasekali dalam Partai kita. Dan untuk itu kita harus secara konsekwon melaksanakan garis massa.

VII

Hasil-Hasil Terpenting daripada Pengindonesiaan Marxisme-Leninisme

Kini proses sejarah PKI telah berlangsung 44 tahun. Ini berarti bahwa proses pengintegrasian kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia telah berlangsung 44 tahun. Apakah hasil yang sudah dicapai selama proses itu? Hasil-Hasilnya yang terpenting antara lain ialah:

  1. Sudah adanya Partai Marxis-Leninis yang besar dan monolit, dengan ciri-cirinya antara lain sbb.: (a) memadukan patriotisme dengan internasionalisme proletar; (b) memegang teguh pendirian bahwa pembangunan organisasi penting, tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi; (c) memegang teguh prinsip, tetapi luwes dalam membawakannya, yang berarti juga dapat menggunakan segala macam bentuk perjuangan sesuai dengan kebutuhan keadaan;

(d) Partai massa dan Partai kader sekaligus, banyak anggota dan berhubungan erat-erat dengan massa; (e) mengintegrasikan diri secara total dengan kaum tani.

PKI kini telah merupakan kekuatan politik yang tak dapat diabaikan, baik di dalam negeri Maupun dalam dunia internasional. Ini adalah bukti betapa keliru yah pendapat sementara orang yang mengatakan, bahwa Marxisme sukar diterima oleh Rakyat Indonesia. Dibanding dengan “isme” lain, Marxisme adalah yang termuda usianya di negeri kita. Sekalipun demikian Marxisme sudah merupakan faktor yang menentukan bagi perkembangan politik di Indonesia. Marxisme memang tidak bisa diterima oleh klas-klas penghisap, yang jumlahnya hanya sangat sedikit, tetapi sangat mudah diterima oleh Rakyat pekerja, golongan yang sangat terbesar dari Rakyat Indonesia.

  1. Sudah adanya Program PKI yang tepat dan mendapatkan dukungan massa luas Rakyat pekerja Indonesia. Program itu telah menjawab semua soal pokok revolusi Indonesia secara tepat, sesuai dengan syarat-syarat sejarah Indonesia, dan pokoknya-pokoknya dicerminikan juga di dalam Manipol. Dengan disahkannya Manipol sebagai garis besar haluan negara Republik Indonesia oleh MPRS, berarti Manipol merupakan program bersama seluruh Rakyat Indonesia yang resmi dan sah, maka berarti pula pokok-pokok Program PKI telah dibenarkan dan diterima oleh semua golongan Rakyat Indonesia. Diyustru oleh karena itu, Partai telah menyerukan agar semua Komunis Indonesia melaksanakan Manipol secara konsekwensi dan menyadikan diri masing-masing sebagai teladan pelaksana Manipol, karena dengan berbuat demikian berarti melaksanakan program PKI sendiri.

  2. Sudah adanya front persatuan nasional revolusioner antiimperialis dan antifeodal, yang makin lama makin meluas dan kuat, berbasiskan persekutuan buruh dan tani yang antifeodal di bawah pimpinan klas buruh dan Partainya. Front persatuan nasional ini sekarang sudah mendapatkan bentuk-bentuk seperti Front Nasional, yang merupakan badan semi-pemerintah, dan bentuk kerjasama antara aliran-aliran politik yang terkenal dengan Nasakom. Dengan demikian, pekerjaan penggalangan front persatuan nasional mendapat landasan atau syarat-syarat yang baik untuk dikembangkan lebih lanyut.

  3. Sudah adanya kenyataan PKI sebagai teladan dalam melaksanakan tugas-tugas nasional dan internasional Rakyat Indonesia.

Dengan adanya hasil-hasil pengintegrasian seperti tersebut di atas berarti terwuyudnya pimpinan klas buruh atas gerakan revolusioner Rakyat Indonesia. Dan inilah salahsatu faktor, bahkan faktor yang terpenting, yang dapat menyiptapkan dan mendorong maju terus/menerus situasi revolusioner ditanahair kita selama beberapa tahun akhir-akhir ini.

Sudah tentu, dengan hasil-hasil tersebut di atas kita sedikit pun tak ada alasan untuk merasa puas-diri, lebih-lebih lagi untuk merasa sombong. Sebab, puas-diri dan sombong bukanlah sifat Komunis. Selain daripada itu, apa yang akan dipuaskan dan disombongkan, tujuan Revolusi Agustus 1945 belum tercapai, Rakyat kita masih menderita, sedangkan musuh-musuh revolusi Indonesia masih bisa berkelarian di atas bumi Indonesia, memeras darah dan keringat Rakyat kita. Dalam keadaan demikian ini, makin besarnya Partai kita berarti makin besarnya tanggungyawab kita kepada Rakyat Indonesia dan terhadap nasib revolusi Indonesia.

Di samping itu, makin besarnya pengaruh Partai di dunia internasional berarti pula makin besarnya tanggungyawab kita terhadap Gerakan Komunis Internasional dan terhadap gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat ter-tindas di seluruh dunia untuk kemerdekaan nasional, demokrasi, sosialisme dan perdamaian dunia.

Dari sebab itu, dalam kesempatan ini saya mengayak semua anggota Partai dan Rakyat pekerja Indonesia agar kita semua ber-sama-sama memperbarui tekad untuk beryuang lebih keras lagi agar lebih baik lagi mengkonsolidasi hasil-hasil perjuangan yang sudah kita capai dan mengembangkan lebih lanyut pengintegrasian kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia!

Langkah-Langkah kongkrit yang harus kita ambil untuk itu tak lain ialah, sebagaimana telah dikemukakan dalam Sidang Pleno ke-II CC PKI pada akhir tahun yanglalu, beryuang lebih keras lagi melaksanakan Tritugas praktis: 1) mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai; 2) menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi; 3) melawan neo-kolonialisme. Dengan melaksanakan Tritugas praktis ini sekaliugus kita melaksanakan Panca Program Front Nasional dan Tri Program Pemerintah, yang ke-dua-duanya disokong penuh oleh PKI.

Dalam rangka mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai, yang terpenting ialah mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai dalam pembangunan Partai dan penggalangan front persatuan nasional.

VIII

Sukseskan Plan 4 Tahun Partai

Dalam rangka mengkonsolidasi pembangunan Partai, semua Komunis Indonesia harus ber-lomba-lomba dengan sekuat tenaga untuk melaksanakan dan mensukseskan Plan 4 Tahun Partai—Plan Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi. Sebagaimana telah saya kemukakan di bagian atas tadi, Plan 4 Tahun kali ini menojolkan pembangunan dibidang kebudayaan, tetapi diywa dan isi daripada Plan 4 Tahun itu secara keseluruhannya adalah tetap mengutamakan pembangunan ideologi.

Mengapa?

Pertama, dengan meningkatkan taraf kebudayaan anggota-anggota Partai dan Rakyat pekerja akan dapatlah dikonsolidasi dan dikembangkan lebih lanjut pekerjaan pendidikan ideologi dan teori Marxisme-Leninisme, dapat dipertinggi daya belajar-sendiri dari para kader dan anggota Partai, dan dengan demikian dapat secara berdiri sendiri mengembangkan lebih lanjut pengetahuan teorinya dan watak kepertaianinya.

Kedua, sebagaimana kita semua mengetahui, pada waktu akhi-akhi ini, musuh-musuh kita, kaum imperialis, terutama imperialis AS, kaum revisionis modern dan semua kaum reaksioner dalam negeri, sering sekali melancar-kan serangan-serangannya di medan kebudayaan dengan segala macam alat-alatnya, seperti film, sastra, nyanyian, tarian, dsb. untuk meracuni atau meninabobokkan semangat juang Rakyat kita. Mereka pun kini sedang sibuk me-masang kuda-kudanya di negeri kita. Mereka me-nyebar-nyebarkan fikiran-fikiran humanisme-universil, kosmopolitanisme, nihilisme nasional, pasifisme, dsb. untuk memupuri dan menghiasi kaum imperialis, untuk melutuci senjata moral Rakyat revolucioner. Ini sedang dilakukan misalnya oleh kaum Manikebus, yang sudah ditelandangi bulat-bulat oleh kaum progresif dan Rakyat Indonesia, bahkan Manikebu itu juga sudah dikutuk dan dilarang oleh Presiden Sukarno. Akan tetapi, harus disesalkan bahwa masih ada saja pejabat-pejabat Pemerintah yang dengan satu atau lain diyalan membela kaum Manikebus atau berusaha keras mebela orang-orang kontra-revolusio-ner itu.

Saya mengharan KOTRAR (Komando Tertinggi Rituling Aparatur Revolusi) tidak akan mengecewakan Rakyat dan akan memenuhi tugasa-tugasanya dalam meritul pejabat-pejabat kontra-revolutioner dan yang melindungi elemen-elemen kontra-revolutioner demikian itu, dan tidak mengikuti diediai PARAN yang sudah dikubur itu. Hendaknya KOTRAR tidak menjadi jerangkongnyia PARAN.

Tetapi, Bagaimanapun juga, yang terpenting ialah supaya kita dapat terus-menerus meningkatkan taraf kebudayaan anggota-anggota Partai dan Rakyat pekerja Indonesia, untuk senantiasa mempertinggi daya kritik massa Rakyat dan memperbesar daiadiyang Rakyat di medan kebudayaan. Sudah tiba waktunya bagi kebudayaan Rakyat untuk membuka serangan-serangan balasan guna menyapu bersih kebudayaan imperialis dan feodal, terutama sekali kebudayaan imperialis AS yang cukup besar pengaruhnya di tanah air kita sehingga tidak sedikit orang yang teryangkit penyakit gila-AS, puja-AS dan takut-AS.

Ketiga, mempertinggi taraf kebudayaan dan pengetahuan anggota-anggota Partai dan Rakyat pekerja pertama-tama adalah untuk membebaskan massa anggota Partai dan massa Rakyat pekerja dari segala bentuk perbudakan spirituil, untuk mengembangkan sepenuhnya dayakre-sinya. Dan untuk itu pelaksanaan Plan Kebudayaan Partai harus kita integrasikan dengan pendidikan dan pelajaran teori Marxisme-Leninisme, terutama sekali filsafat Marterialisme Dialektika dan Histori (MDH). Filsafat Marxis harus kita usahakan benar-benar supaya-da-pat dimiliki oleh Rakyat pekerja. Dengan demikian Partai akan selalu bisa mendapatkan tambahan darah baru yang segar dan tak kundung kering dari massa anggota dan massa Rakyat akan menyala makin besar dan akhirnya membakar habis alang-alang kontra-revolusi.

Selain daripada itu, perlu saya tambahnya, bahwa makin besar Partai, makin banyak lapangan pekerjaan yang harus digarapnya. Keadaan demikian ini makin menuntut kepada kaum Komunis untuk memiliki pengetahuan yang luas dan kemampuan bekerya bersegi-banyak. Oleh karena itu harus diusahakan peningkatan taraf kebudayaan dan pengetahuan anggota-anggota Partai setepat mungkin. revisionisme jika kita tidak waspada dan tidak senantiasa memerangi fikiran-fikiran non-proletar yang ada pada diri kita, pendeknya jika kita tidak terus-menerus mendidik diri. Dan tidak cukup hanya mendidik diri, juga kita harus mendidik keluarga kita, terutama bagi kawan-kawan yang kini bertugas di-lembaga-lembaga negara, dewan-dewan perwakilan, pemerintah-pemerintah daerah sampai kepada lurah-lurah dan pamong-pamong desa lainnya, pendeknya semua kawan yang sifat pekerjaannna mengharuskan mereka banyak bergaul dengan klas-klas penghisap. Jika tidak ada pendidikan Komunis di kalangan keluarga, maka isteri atau anak Komunis itu bisa menjadi mangsa kebiasaan burjuis dan revisionisme. Kita harus senantiasa ingat apa yang pernah dikemukakan oleh Lenin, bahwa perjuangan klas dibidang ideologi selalu melonyol ke depan dalam keadaan relatif damai.

Akhir-Akhir ini sering saya menerima laporan, dan juga terbukti dari hasil-hasil riset di-desa-desa di Jawa, bahwa ada sementara kawan setelah berhasil diperjuangkan oleh Partai dan Rakyat menjadi lurah, tak lama kemudian nampak ada kecenderungan pada silurah untuk memisahkan dirinya dari Rakyat dan menyadikan dirinya sebagai raja kecil, sesuai sepenuhnya dengan IGO, peraturan perdesaan kolonial yang hingga sekarang belum dihapuskan. Terhadap kawan-kawan ini asya ingin menasehatkan supaya kembali ke jalan yang benar, yaitu jadih lurah Rakyat, janganan ikut-ikut menjadi setan desa karena semua setan desa akan tidak selamat.

Ada pula sementara kawan, oleh karena dirinya menjadi fungsionaris Partai, honorarium yang didapatnya dari Partai tak cukup, maka isterinya disuruh berdagang, sehingga segala keperluan rumahtanggana, bahkan juga kebutuhan dirinya sendiri, dipenuhi dengan penghasilan isterinya. Dan jika dalam keluarga kawan ini tidak dilakukan pendidikan Komunis, anak dan isterinya akan makin jauh dari gerakan revolusioner, dan nasib kawan tsb. pasti akan menjadi “ka-cung” isterinya, karena penghidupannna tergantung pada sang isteri. Hal-Hal semacam ini harus mendapat perhatian kawan-kawan pimpinan Partai semua tingkat untuk dapat diatasi tepat pada waktunya.

Ada pula semacam kecenderungan yang harus kita

IX

Pentingnya Pembangunan Ideologi dalam Melawan Revisionisme Modern

Dalam hubungan dengan pembangunan ideologi, ingin saya tekankan sekali lagi bahwa semangat dan isi pembangunan ideologi kini ialah membela Marxisme-Leninisme dan melawan revisionisme modern. Perjungan ideologi ini tidak saja harus kita lakukan di gelanggang internasional, tetapi juga di dalam negeri, karena kaum revisionis modern pada waktu-waktu akhir ini aktif melakukan intrik-intrik untuk memecah-belah gerakan buruh Indonesia, untuk menyerang Partai dengan memasang kuda-kudanya terdiri dari anasin-anasin yang sudah merosot dan makansuap terutama kaum trotskis. Juga kita harus melakukan perjuangan ideologi di dalam Partai, Sekalipun oleh Sidang Pleno ke-II CC PKI yang baru lalu dikemukakan bahwa bahaya revisionisme bagi Partai kita bukanlah sesuatu yang akut, tetapi latent. Dan tidak kalah pentingnya, perjuangan ideologi harus kita lakukan pula terhadap diri kita masing-masing tanpa perkecualian.

Sebagaimana telah saya kemukakan di atas tadi, dalam keadaan relatif damai ini, dan lagi dalam situasi yang relatif juga menguntungkan gerakan revolusioner ini, kita akan mudah terjerembab ke dalam rawa-rawa berantas, yaitu adanya sementara kawan yang mudah merasa puas-diri dan menyombongkan dirinya karena sukses-sukses atau jasa-jasanya kepada Partai, sehingga ada fikiran bahwa Partai tanpa dia akan berantakan. Akuisisme semacam ini justru merupakan tunas daripada revisionisme. Oleh karena itu semua pemimpin Komunis dari semua tingkat harus senantiasa berfikir, bahwa Partai mungkin akan lebih baik perkeembanganya seandainya kawan lain yang memimpinnya. Artinya, kita masing-masing harus terus-menerus dipertinggi mutu kepe-mimpinan kita, dan Sekalipun sudah demikian pimpinan kita tidak mungkin sempurna se-sempurna-sempurnanya.

X

Terus Perkuat Front Persatuan Nasional

Dalam rangka mengkonsolidasi penggalangan front persatuan nasional di samping kita harus terus-menerus memperkuat front persatuan buruh, yang terpenting ialah bekerjia lebih keras lagi untuk memperkokoh persekutuan buruh dan tani. Dan untuk ini kita kaum Komunis harus benar4 dapat mengintegrasikan dirinya dengan kaum tani. Dalam hal ini harus ditegah dua kecenderungan: 1) menempatkan diri sebagai guru kaum tani sehingga kaum tani segan membukaan isihati-nya dan segan mendekatinya; 2) melorotkan diri menjadi kaum tani sehingga melepaskan peranan pimpinan klas buruh.

Persekutuan buruh dan tani bukan hanya masalah mewujudkan pimpinan klas buruh kepada kaum tani, tetapi juga merupakan faktor yang menentukan akan terwuyud atau tidaknya pimpinan klas buruh dalam front nasional, atau atas Revolusi keseluruhannya. Hasil-Hasil riset di Jawa telah menundukkan, bahwa di mana kaum Komunis dapat mengintegrasikan diri secara tepat dan baik dengan kaum tani, maka setan-setan desa kian hari kian goncang kedudukannya. Tetapi, di mana kaum Komunis belum berhasil mengintegrasikan dirinya dengan kaum tani, maka mereka malah ‘kesurupan setan-setan desa itu.

Selanjutna, dalam hubungan dengan penggalangan front persatuan nasional ini saya ingin menekankan sekali lagi bahwa Sekalipun persatuan dengan burjuasi nasional tidak sepenting persatuan dengan kaum tani, tetapi hasil atau tidaknya, lengkap atau tidaknya pimpinan klas buruh atas revolusi akan ditentukan oleh hasil atau tidaknya persatuan kaum buruh dengan burjuasi nasional. Oleh karenanya kaum Komunis harus berusaha dengan sekuat tenaga memelihara dan mengembangkan lebuh lanjut persatuanya dengan burjuasi nasional.

Dalam waktu akhir-akhir ini, kaum imperialis dan kaum kontra-revolutioner dalamnegeri memang selalu berusaha menarik kaum burjuis nasional kefihaknya untuk ber-sama-sama melakukan politik antiKomunis. Dan dian-tara mereka, yaitu tokoh-tokoh sayap kanannya, ada juga yang terbuduk. Mengenai hal ini ingin saya mengingatkan mereka, bahwa menjalankan politik antiKomunis berarti menjalankan politik bunuh diri. Pengalaman sejarah, baik di luar negeri Maupun di negeri kita sendiri sudah banyak yang membuktikan hal tersebut. Dr. Sun Yat-sen yang menjalankan politik bekerjasama dengan kaum Komunis, telah membikin kedudukan kaum tengah atau burjuasi nasional makin terbaa dan makin kuat. Sebaliknya Ciang Kai-shek yang menjalankan politik antiKomunis, apa kesudahannya? Tidak lebih daripada menjadi “boy”nya imperialisme AS! Sejarah RI sendiri pun telah memberikan bukti. Selama kaum burjuis nasional bekerjasama dengan kaum kanan dan menjalankan politik antiKomunis, maka yang diuntungkan bukanlah kaum burjuis nasional; di dalam tubuhnya sendiri kaum burjuis nasional mengalami perpetiyahan, sedangkan terhadap kaum kanan mereka hanya “boy” atau “kacung” saja. Tentang ini kita dapat belajar dari sejarah yang terbaru, misalnya dari kabinet-kabinet Hatta-Natsir, kabinet Sukiman, dsb.

Selain daripada itu haruslah dipertimbangkan benar bahwa jika 16 tahun yang lalu politik antiKomunis itu sudah tidak berhasih, apalagi sekarang, di mana kesedaran Rakyat sudah makin tinggi! Politik antiKomunis adalah politik kaum imperialis dan kaum kontra-revolutioner. Kaum burjuis nasional hanya mempunyi jalan yang terang apabila mereka bersatu dengan ka-um Komunis, ber-sama-sama melaksanakan gagasan Nasa-kom Bung Karno di segala bidang dan ber-sama-sama pula melawan Komunisto-phobi.

Kepada mereka yang sekarang ini ke sana-kemari membawa gagasan mau mencetuskan provokasi Madin kedua, saya peringatkan supaya mereka berkepala dingin, dan mempertimbangkanya masak-masak. Jika 16 tahun yang lalu PKI tak bisa dihancurkan, padahal anggota PKI pada waktu itu kurang dari 10.000 orang, lebih-lebih sekarang ini di mana PKI sudah mempunyai banyak pengalaman, anggotanya sudah lebih dari 2.5 juta, para kadernya sudah tergembenglen dalam teori dan praktek perjuangan revolusioner. Baik pula disedari oleh mereka yang hausdarah Komunis itu, bahwa PKI tidak lagi sendirian, baik di dalam negeri Maupun di dunia internasional.

XI

Pemetiahan Kesulitan Ekonomi Bagian Tak Terpisahkan dari Perjuangan Anti-Imperialisme

Dalam rangka menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi, perlu senantiasa diingat bahwa pemecahan soal ini tak dapat dipisahkan dari perjuangan antiimperialis. Problem ekonomi Indonesia hanya bisa dipecahkan secara revolusioner, tak dapat dipecahkan secara tambal-sulam, apalagi dengan mengantungkan diri pada “bantuan” kaum imperialis. Sumber dari segala kesulitan ekonomi dan keuangan negeri kita bukanlah kekurangan modal imperialis tetapi diyustru karena masih besar dan bahkan masih berdominasinya pengaruh kaum imperialis dibidang ekonomi serta masih tergantungnya Indonesia pada pasaran dunia imperialis. Problem-Problem ekonomi Indonesia hanya bisa dipecahkan atas dasar prinsip berdiri di atas kaki sendiri, di atas kekuatan Rakyat Indonesia sendiri.

Selanjutnya kesulitan dibidang ekonomi tak dapat diatasi secara fundamental selama kaum tani kita yang merupakan bagian yang sangat terbesar dari Rakyat Indonesia belum dibebaskan dari belenggu-belenggu feudalisme.

Maka penting sekali dipercepatna pelaksanaan UU-PA, UUPBH dan pelaksanaan semboyan-semboyan “Tanah hanya untuk kaum tani yang menggarap tanah”.

Di samping itu dalam rangka mengatasi kesulitan ekonomi dan keuangan selama perusahaan-perusahaan negara tak dapat melaksanakan tugasnya sebagai sektor ekonomi yang memegang pimpinan dalam kehidupan ekonomi negeri kita, dan selama perusahaan-perusahaan itu masih menjadi sarangnya kaum kapitalis birokrat, selama itu perusahaan-perusahaan negara tak akan dapat membantu meringankan keuangan negera, malah memberatkannya. Oleh karenanya perlu diadakan rituling personalla terhadap unsur-unsur kapitalis birokrat dan koruptor-koruptor, di samping membentuk dan mengaktifkan Dewan-Dewan Perusahaan di mana ikutserta kaum buruh untuk melaksanakan kontrol-Rakyat. Tuntutan-Tuntutan Rakyat supaya koruptor-koruptor besar dihukum mati di muka umum, dan supaya KOTRAR tidak menjadi jerangkong PARAN, tetapi menjadi alat rituling yang sungguh-sungguh revolusioner, harus dilaksanakan.

XII

Mengenai “Malaysia” Tidak Ada Jalan Mundur

Dalam rangka melawan neo-kolonialisme, kewaspadaan harus senantiasa dipertaydam dan perjuangan harus terus diperhebat dalam menggangyang “Malaysia” dengan titikpusat membantu perjuangan pembebasan Kalimantan Utara. Mengingat perjuangan melawan neo-kolonialisme “Malaysia” sudah demikian memuncaknya, maka sudah tidak ada jalan lain kecuali maju terus. Mundur setapak akan berarti hancur. Ada sementara orang kuatir, bahwa dalam melaksanakan politik konfrontasi RI akan bangkrut karena kesulitan-kesulitan-nya dibidang ekonomi. RI tidak akan bangkrut karena kesulitan ekonomi selama Rakyat Indonesia bersatu. Dan Rakyat bisa bersatu dalam perjuangan yang sungguh-sungguh melawan imperialisme, dan tidak dalam berkompromi dengan imperialisme! Oleh karena itu kaum Komunis Indonesia bertekad bulat: sekali Dwikora, tetap

Dwikora, sampai “Malaysia” bubar dan Kalimantan Utara bebas!

Di samping itu patut menjadi perhatian kita akan tipumuslihat imperialis AS yang menaruh minat demikian besar terhadap “Malaysia”. Bukan tidak mungkin pada suatu waktu Amerika Serikat menyetuji penghapusan “Malaysia”, dan sebagai gantinya didirikan “Malaya merdeka”, “Singapura merdeka”, “Serawak merdeka”, “Brunei merdeka” dan “Sabah merdeka”, dan semuanya ini dengan Filipina dan Indonesia membentuk “Greater Maphilindo” atau “Maphilindo Gaya Baru”. Tapi apakah artinya ini? Tidak lain akan lebih banyak lagi negara-negara boneka yang akan menindas gerakan revolusioner Rakyat di-negeri-negeri itu. Dan bagi Indonesia berarti akan dikepung oleh banyak lagi negera boneka imperialis Inggris yang disokong oleh imperialis AS.

XIII

Ganyang Terus 4 Bukit Setan di Asia Tenggara

Sebagaimana telah saya katakan di muka, situasi dalam negeri Maupun internasional sangat menguntungkan gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat di dunia. Imperialis AS kian hari kian kalangkabut di Vietnam Selatan; di Laos usaha-usaha agresif yang jahat mendapat tentangan keras dari Rakyat; semangat Rakyat Filipina melawan imperialis AS makin hari makin meningkat; boneka AS di Korea Selatan pun dalam keadaan makin terdesak. Situasi Asia, terutama Asia Tenggara sangat menguntungkan bagi Rakyat yang sedang berjuang melawan imperialis. Kesempatan ini harus dapat digunakan secara se-baik-baiknya oleh Rakyat-Rakyat Asia Tenggara pada khususnya, dan Rakyat-Rakyat revolusioner di seluruh dunia pada umumnya. Adalah kewajiiban kaum Komunis di-tiap negeri Asia Tenggara untuk bekerya lebih keras lagi mendorong maju situasi revolusioner ini dan mendorong maju gerakan revolusioner di negeri masing-masing.

Di Asia, Afrika dan Amerika Latin dewasa ini terdapat situasi revolusioner yang terus menanjik dan sedang mematang. Di-daerah-daerah inilah dewasa ini terdapat kontradiksi pokok dalam perjuangan Rakyat-Rakyat se-dunia melawan imperialisme, Asia Tenggara merupakan salahsatu titikpusat di daerah kontradiksi pokok ini.

Rakyat-Rakyat dan Partai-Partai Komunis di Asia Tenggara sedang berjuang mati-matian: dengan menempuh 1001 bentuk, legal dan illegal, bersenjata dan tidak bersenjata untuk menggulingkan 4 bukit setan, yaitu imperialism, feodalisme, kapitalisme komprador dan kapitalisme birokrat, 4 bukit setan ini pasti akan dapat digulingkan asal Partai-Partai Komunis di-tiap-tiap negeri Asia Tenggara menggunakan 4 jimat, yaitu: (1) menarik massa Rakyat seluas mungkin dan mengorganisasinyanya dalam front persatuan nasional; (2) masuk sedayau mungkin ke dalam desa-desa menggalang persekutuan buruh dan tani; (3) memperkuat pimpinan Partai atas massa Rakyat yang luas dan pandai menggunakan segala bentuk perjuangan; dan (4) memperkuat keryasama Rakyat-Rakyat dan Partai-Partai Komunis di Asia Tenggara.

Rakyat Indonesia dan Partai Komunis Indonesia harus memainkan peranan yang se-besar-besarnya dalam menggulingkan 4 bukit setan di Asia Tenggara itu dengan memperhebat pengganyangannya terhadap 4 bukit setan di Indonesia sendiri dan dengan memberikan solidari-tet yang se-besar-besarnya kepada Rakyat-Rakyat Asia Tenggara dalam melaksanakan tugas-tugasnya yang pada pokoknya sama.

Politik konfrontasi Indonesia terhadap proyek neokolonialis “Malaysia”, yang berarti konfrontasi terhadap imperialism Inggris dan Amerika Serikat, merupakan sumbangan Rakyat Indonesia yang penting kepada perjuangan bersama Rakyat-Rakyat Asia Tenggara. Oleh karena itulah, kaum Komunis Indonesia dengan sepenuh hati mendukung Dwikora yang dikomandokan oleh Bung Karno pada tgl. 3 Mei y.l. Dengan semboyan “Satu tangan pegang bedil dan satu tangan lagi pegang tangkul”. Kaum Komunis Indonesia berusaha keras meracialisasi Dwikora dan mentegah agar politik revolusioner ini tidak kemasukan angin oportunisme yang bisa memerosotkan peranan Indonesia dalam pergolak-an revolusioner Rakyat-Rakyat Asia Tenggara.

XIV

Intensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri

Untuk memperbesar peranan kaum Komunis Indonesia dalam melaksanakan Dwikora, dalam gerakan revolusioner di Asia Tenggara, dan di dunia pada umumnya, kaum Komunis Indonesia harus terus-menerus menyaga supaya dirinya tidak merosot baik karena sukses-sukses Maupun karena kesulitan-kesulitan yang besar, tetapi sebaliknya harus terus-menerus meningkatkan mutu dirinya sebagai Komunis, supaya menjadi Komunis yang baik dan lebih baik.

Bagaimana caranya?

Berdasarkan pengalaman Partai kita sendiri, kalau tidak mau merosot dan kalau mau terus meningkatkan mutu diri sebagai Komunis, tiap Komunis Indonesia harus terus-menerus mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri, artinya harus terus-menerus dan dengan rasa gembira berada di dalam api peryuangan revolusioner Rakyat, harus memperdalam peladayaran Marxisme-Leninisme dan aktif ambilbagian dalam pentrapannya di Indonesia, dan harus meningkatkan taraf kebudayaan.

Selain daripada itu, perlu disedari bahwa ada dua macam Komunis yaitu Komunis minimum dan Komunis maximum, demikian di seluruh dunia dan demikian pula di Indonesia. Demi pelaksanaan tugas-tugasnya yang berat, tiap-tiap Komunis Indonesia, terutama sekali kader-kadernya tidak boleh puas hanya menjadi Komunis minimum saja.

Apakah Komunis minimum itu?

Komunis minimum adalah Komunis yang memenuhi syarat minimum yang ditentukan dalam Konstitusi Partai. yaitu: menyetuji Konstitusi Partai, menyetuji Program Partai, membayar iuran Partai dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadaanda oleh organisasi Partai di mana ia tergabung. Semua orang revolusioner bisa menjadi Komunis minimum.

Setiap anggota Partai, terutama kader-kader Partai dari yang paling atas sampai yang paling bawah tidak seharusnya hanya memenuhi syarat-syarat minimum saja, tapi ha-rus tidak henti-hentinya mencapai kemajuan, mempertinggi kesedaran dan pengertian tentang Marxisme-Leninis- me. Untuk ini anggota-anggota Partai harus mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri.

Tujuan anggota-anggota Partai dalam mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri seharusnya bukanlah hanya untuk mencapai ketentuan-ketentuan minimum, mela- inkan ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat maximum.

Tentu tidak mudah untuk menetapkan apakah syarat-syarat bagi Komunis maximum.

Tetapi kita mengenal perbuatan-perbuatan, prestasi-prestasi dan sifat-sifat Marx, Engels, Lenin dan Stalin selama hidup mereka sebagai Komunis-Komunis teladan. Dapat kita jadikan mereka sebagai ukuran dalam membajaan-diri dan mendidik-diri kita. Kita harus memancangkan tujuan pembajaan-diri dan pendidikan-diri kita masing-masing untuk mencapai kwalitet-kwalitet yang dimiliki oleh Marx, Engels, Lenin dan Stalin. Dengan berbuat demikian kita sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi murid-murid mereka yang terbaik.

Untuk memudahkan kita semua dalam berusaha me- ningkatkan mutu Komunis kita masing-masing, tiap-tiap anggota PKI harus berusaha untuk memenuhi syarat-syarat sbb.:

  1. melaksanakan dengan baik semua tugas yang di- berikan oleh Partai kepada kita;
  2. menyaga supaya diri kita tidak merosot menjadi pekerya politik yang berfikiran sempit, yang lupa pada tugas sejarah yang besar dan tenggelam mengurusii soal-soal tetekbgengk yang tidak ada hubunganya dengan revolusi;
  3. dalam memegang jabatan apa saja kita harus senantiasa menjadi tokoh politik dan tokoh negara tipe Lenin;
  4. sebagai tokoh masyarakat kita harus senantiasa bersikap tegas dan jelas, tidak plintat-plintut da- lam membela kepentingan Rakyat dan revolusi;
  5. dalam keadaan Bagaimanapun tetap bersemapang banteng merah, tidak takut menghadapi pertem- puran dan tidak kenal am pun terhadap musuh-musuh Rakyat;
  6. tidak mabok karena sukses, tidak panik mengha- dapi segala keruwetan dan bahaya, dan tidak putus-asaa kalau mengalami pukulan-pukulan dan kegagalan-kegagalan;
  7. bijaksana dan ber-hati-hati dalam memutuskan masalah-masalah yang banyak seluk-beluknya, yang menghendaki pandangan-pandangan yang dalam mengenai masalah-masalah itu;
  8. lurus dan jujur terhadap Partai dan Rakyat;
  9. cinta yang tidak ada taranya kepada Rakyat.

Syarat-Syarat ini tentu saja dapat ditambah lagi. Tapi marilah kita kaum Komunis Indonesia dalam rangka memperingati ulangtahun ke-44 PKI ini berusaha dengan sekuat tenaga mengintensifkan pembajaan-diri dan pendidikan-diri dan melaksanakan sembilan syarat untuk menjadi Komunis yang baik dan lebih baik lagi. Dengan berbuat demikian, pengabdiyan kita kepada revolusi dan Rakyat Indonesia, kepada gerakan Komunis Internasional dan kepada revolusi dunia akan dapat kita lipatgandakan.

Hidup Partai Komunis dan Rakyat Indonesia!

Hidup Marxisme-Leninisme dan Revolusi Rakyat se-dunia!

Hidup Revolusi Indonesia!

(singkatan pidato pada

resepsi ulangtahun ke-44 PKI

di kota Surabaya

pada tgl. 23 Mei 1964)


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.