CARA BERPIKIR YANG STATIS MEMBAWA KITA KE JALAN BUNTU
SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
KOLOFON
CARA BERPIKIR YANG STATIS MEMBAWA KITA KE JALAN BUNTU
oleh
SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
Dimuat di majalah Pujangga Baru
No. 7 • Th. XII • Januari 1951
Teks ini ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Static and Revolving 1947, karya Louis Schanker
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
CARA BERPIKIR YANG STATIS MEMBAWA KITA KE JALAN BUNTU
Perkembangan masyarakat dan kebudayaan bangsa kita dalam arti yang luas dewasa ini menghadapi dua bahaya. Pada suatu pihak berdiri golongan-golongan bangsa kita yang tua yang menghendaki, supaya masyarakat dan kebudayaan kita kembali kepada nilai-nilai kehidupan bangsa kita yang lama, yang telah memberikan kepada bangsa kita (menurut keyakinan mereka) ketenteraman dan kerukunan hidup di desa, kedaiamam kehidupan rohani seperti terdapat pada ahli-ahli batin bangsa kita di masa yang silam, keindahan seperti kelihatan dalam ber-bagai-bagai seni lama kita, seperti yang sekarang sering masih dikagumi orang asing, kesusilaan yang memberikan kepada kita adat istiadat dan nilai-nilai baik buruk dalam perhubungan anak dan orang tua, suami dan isteri, dalam lingkungan keluarga Maupun dalam lingkungan orang sedesa.
Pada pihak yang lain berdiri golongan muda bangsa kita, yang oleh kekagumannya melihat kemajuan dunia Eropa dan Amerika, menetapkan segala ukuran dan pedomannya menjadi ukuran Eropa dan Amerika. Bukan saja dalam ilmu dan teknik, tetapi juga dalam kehidupan se-hari-hari seperti penyelenggaraan rumah, makanan dan pakaian, dalam cara bergaul, mereka berpegang mutlak kepada Eropa dan Amerika. Teori tentang ekonomi, politik dan kesenian ditelannya mentah-mentah. Dalam politik kita berhadapan dengan orang-orang yang sebentar-sebentar mengucapkan kata-kata Marx, Lenin dan Stalin, baik ia di tengah-di tengah kaum kiayi, Maupun ia di-tengah-tengah rakyat tani di desa atau kaum buruh di kota. Dalam ekonomi kita dapati orang yang membabuta hendak mengmekanisasi se-gala-gala, dengan tidak peduli akan struktur desa kita dan masyarakat kita dewasa ini. Dalam seni nampak kepada kita seniman-seniman yang bersumpah kepada Picasso, kepada Hemingway Ataupun kepada Sartre dll.
Salah golongan pertama ialah bukan saja mereka hendak menghentikan waktu dalam sejarah bangsa kita, tetapi mereka hendak mundur kembali kesuatu saat yang telah kita tinggalkan, oleh karena cara hidup dan berpikir yang lama itu mengakibatkan kemiskinan dan kelemahan rakyat kita di-tengah-tengah dunia dan kebekuan kehidupan kebudayaan kita. Golongan tua bangsa kita itu tidak mempunyai perspektif sejarah, malahan lebih lagi daripada itu: mereka tidak insaf, bahwa yang dinamakan hidup itu ialah perubahan yang tiada berkesudahan.
Pada hakekatnya golongan ini masih memandang dunia seperti bangsa Indonesia primitif zaman dahulu. Manusia primitif itu melihat ke belakang, ke masa yang silam. Masa yang silam itu ialah masa yang paling berbahagia, ketika dewa-dewa, masih bergaul dengan manusia di dunia, ketika nenek moyang yang mendirikan desa mendapat wahyu membuat adat istiadat yang tiada lekang oleh panas, tiada lapuk oleh hujan, yang tiada ber-ubah-ubah selama air mengalir, selama gaga-gaga hitam, dsb.
Dalam golongan ini bukan saja terdapat mereka yang memuja ketenteraman desa dengan gotong royongnya, Ataupun mereka yang kagum akan mistik Hindu Jawa, tetapi juga golongan Islam, yang sangat sempit mentafsirkan hadis dan kuran, sehingga mereka hendak kembali hidup dan berbuat persis seperti nabi dahulu dan kalau mungkin hendak mengembalikan dunia kepada zaman nabi.
Salah golongan kedua agak lebih sukar melihatnya, oleh karena mereka sendiri mengaku tidak kolot, malahan seperti kata mereka, melihat ke masa yang akan datang. Mereka tidak mau dikatakan statis, sebab bagi mereka bertambah ceptat masyarakat kita sekarang berubah, bertambah baik.
Salah mereka yang terbesar di sini letaknya, oleh karena pengertian kemajuan itu mereka identikkan dengan keadaan di Eropa dan Amerika sekarang. Pada hakekatnya kemajuan itu mereka bekukan, Meskipun dalam suatu keadaan yang belum ada di negeri kita, Meskipun dalam suatu masa yang akan datang bagi kita. Mereka tiada insaf, bahwa kemajuan seperti yang mereka lihat di Eropa dan Amerika itu ialah hasil suatu pertumbuhan sejarah, yang masih terus dalam pertumbuhan. Pada hakekatnya tentang soal ini salah mereka sama dengan golongan yang pertama, yaitu ke-dua-duanya sama-sama menghentikan waktu pada suatu saat: golongan pertama di masa yang silam, golongan yang kedua di masa Eropa Amerika sekarang. Tetapi selain daripada itu golongan kedua mempunyai salah yang lain pula, mereka bukan saja tidak mempunyai perspekatif sejarah, tetapi disisi itu mereka pun tidak mempunyai pengertian tentang arti alam dan masyarakat sekitar seperti terjelma dalami kehidupan ekonomi, politik, agama, seni, pendek-nya kebudayaan sesuatu bangsa pada suatu ketika. Mereka lupa melihat Marx, Lenin dan Stalin sebagai ekponen dari zamannya dan masyarakatnya. mereka lupa melihat Picasso, melihat Hemingway, Satre atau siapa pun sebagai ekponen daripada tingkat sejarah dan keadaan alam dan masyarakatnya. Dalam politik kelihatan golongan manusia yang tidak tahu hujan atau panas, di desa atau di kota, di hadapan kiyayi atau kaum terpelajar, diliadapan sitani atau siburuh mencuci maki imperialismus dan kapitalismus, mencuci maki kaum burjuis dan mengucapkan kata-kata Marx, Lenin dan Stalin sebagai kebenaran mutlak yang tiada terikat kepada tempat dan waktu. Dalam ekonomi kita menghadapi ber-bagai-bagai kegagalan, oleh karena kurang memperhatikan keadaan alam kita dan mentalitet bangsa kita, oleh karena orang hendak mengadakan dengan sekali gus ber-macam-macam aturan dengan tidak ber-sama-sama dengan itu mendidik bangsa kita. Dalam seni pada pikiran saya, inilah sebabnya maka setelah membuat kemayuan yang sangat ceapat dan mengagumkan dalam lapangan seni sastera dan seni lukis, sekarang kesenian kita tiba di jalan buntu. Setelah menyapai cara melihat, teknik dan soal-soal Picasso, Hemingway, Sartre dll., se-tinggi-tingginya mereka dapat menjadi peniru, menjadi epigon dari Picasso, Hemingway, Sartre dll.
Selain daripada itu hal ini mempunyai suatu bahaya yang lebih besar lagi: Sedangkan Picasso, Hemingway, Sartre dll., mereaksi atas alam dan masyarakat sekitarnya, kaum seniman kita mereaksi tiru-tiruan, atas suatu alam dan masyarakat yang ada di dalam khayal. Tidakkah mengherankan, bahwa meski sekaya itu negeri kita akan tragik dan humor, akan soal-soal masyarakat dan jiwa oleh krisis kebudayaan kita, oleh kekacauan revolusi masyarakat kita, kaum seniman kita menjadi steril, menjadi asing bagi masyarakat. Sedangkan masyarakat kita sebagai masyarakat yang muda penuh kemungkinan dan harapan, kaum penyair kita menjadi pesimis dan lesu dan sajak-sajaknya bertambah lama bertambah kosong dan ter-awang-awang.
Demikianlah sesungguhnya kita di segala lapangan sekarang tiba dalam impasse, Meskipun baru setahun kita mendapat kemerdekaan kita. Kemungkinan-Kemungkinan dan harapan-harapan kita yang-sebanyak itu se-olah-olah lenyap sendiri seperti embun lenyap disinari oleh matahari.
Pokok segala kesukaran kita sekarang ini ialah cara berpikir yang statis, yang tidak diinsafi sungguh-sungguh oleh rakyat kita Maupun oleh pemimpin-pemimpin kita. Contoh yang lucu bunyinya, tetapi jelas menunjukkan cara berpikir sebagian besar rakyat kita, ialah jawab seorang.bekas tawanan Pemerintah Belanda, karena tertangkap dalam menyelundupkan barang-barang dengan setahu pembesar-pembesar republik, atas pertanyanan waktu hendak dilepaskan oleh pembesar kita: “Apakah yang hendak engkau kerjakan sekarang, kalau engkau sudah lepas?” Jawabnya: “Terus menyelundupkan barang-barang, Pak!”
Pada hakekatnya bukan saja orang yang di zaman perjuangan dahulu menyelundupkan barang-barang untuk menembus blokkade Be-landa, yang belum menyesuaikan dirinya akan perubahan zaman, tetapi banyak sekali golongan-golongan perjuangan, pegawai negeri, golongan kebudayaan, saudagar, pertanian, yang masih belum menyesuaikan diri akan keadaan yang baru. Suatu misal pula: orang yang sekarang masih di-mana-mana mencari kesalahan Belanda, mencuci maki kebudayaan dan bahasa Be-landa dan ber-bagi-bagi hal yang lain, sama saja keadaannya dengan tukang penyelundup atau orang perjuangan gerilya yang belum menyesuaikan dirinya, sehingga seluruh masyarakat kita mendapat pimpinan dan penerangan yang salah sekali.
Sekalian kesulitan ini hanya mungkin diatasi apabila kita hendak belajar berpikir kembali dan mengubah cara kita berpikir. Dari berpikir statis, hendaklah kita berpikir dinamis, yaitu melihat segala sesuatu dalam perubahan, dalam tumbuh, dalam hidup dan berdasarkan itu menyesuaikan tiap-tiap usaha dan perbuatan kita sesuai dengan perubahan, dengan tumbuh, dengan hidup di sekitar kita dan di dunia yang luas. Tiap-Tiap pikiran dan tiap-tiap perbuatan itu hanya baik dalam hubungan waktu dan tempatnya.
Hal ini bukan berarti, bahwa kita tidak usah mempelajari kehidupan dan kebudayaan bangsa kita di masa yang silam, hal ini bukan berarti, bahwa kita tidak dengan segala daya upaya kita mesti berusaha mengetahui dan menguasai kehidupan dan kebudayaan bangsa-bangsa yang modern sekarang.
Jauh sekali daripada itu.
Yang pertama memberikan kepada kita kemungkinan mengetahui sifat-sifat dan struktur masyarakat dan kebudayaan bangsa kita, yang hendak kita bawa maju itu. Sesungguhnya ini sering dilupakan oleh angkatan muda kita, sehingga usaha dan perjuangan mereka terlaku di-awang-awang, jauh dari masyarakat kita yang tinggal tetap tiada bergerak. Yang kedua memperlihatkan kepada kita ber-macam-macam kemungkinan kemajuan untuk masa yang akan datang dan selanjutnya. Hal ini sering dilupakan oleh kaum tua kita, yang aman tenteram hidup di alam pikirannya, seperti katak hidup dilumpur dengan tiada insaf akan kemajuan dan kemakmuran yang dicapai manusia di bagian dunia yang lain.
Yang pertama memberikan kepada kita uitgangspunt dan soal-soal yang harus kita selesaikan, sedangkan yang kedua seharusnya memberikan kepada kita arah tujuan dan alat-alat untuk menyelesaikan soal-soal kita untuk mengangkat rakyat kita ke tingkat manusia yang lebih tinggi, dalam zaman modern ini.
Tetapi kombinasi yang hidup antara keduanya itu hanya dapat dicapai dengan berpikir dinamis.
Kalau kita tidak dinamis berpikir menghadapi masyarakat dan kebudayaan kita yang lama, sebaliknya daripada keluar dari rawa scal-scal dan kesukaran-kesukarannya yang membuat kita lemah di-tengah-tengah dunia, kita akan lebih dalam terbenam kedalamnya. Maka lenyaplah segala harapan akan kemajuan, sedangkan dunia yang besar akan berjalan terus.
Demikian juga kalau kita tidak dinamis berpikir menghadapi dunia Eropa dan Amerika, maka kita akan menjadi Don Quikhot, seperti orang-orang yang mati-matian menyerang materialismus dan intelektualismus dalam masyarakat kita, pada hal soal materialismus dan intelektualismus itu soal Eropa dan Amerika, dan soal bangsa kita ialah, bagaimana memberikan materi dan intelek kepada bangsa kita se-cepat-cepatnya, supaya kehidupannya agak lebih manusia di-tengah-tengah dunia. Di lapangan ekonomi dan politik, bahaya ini tak kurang besarnya. Sebaliknya dari manusia yang hidup, yang dengan-dengan sadar menghadapi soal-soal dimasyarakatnya, kita menjadi seperti golongan Komunis di negeri kita, yaitu beo dan atau Pak Turut belaka. Dan dalam seni bahaya statis menghadapi Eropa dan Amerika itu telah kelihatan. Penyair kita demikian terpesona olkh soal-soal krisis Eropa dan berhubung dengan itu dengan pesimismus Eropa, sehingga krisis Eropa dan pesimismus Eropa itu dibawanya pula ke dalam masyarakat kita.
Pada hal krisis bangsa kita sekarang lain tingkatnya dari krisis bangsa-bangsa Eropa dan Amerika dan karenanya lain pula soal-soalnya. Suatu contoh yang nyata, orang di Eropa sekarang sering benar menyerang anggapan abad kesembilan belas di Eropa, sebagai anggapan yang telah lampau zamannya. Bagi kita barangkali banyak sekali soal-soal kita, yang menyerupai soal-soal di Eropa dalam abad kesembilan belas; soal-soal perindustrian, perburuhan, soal pelajaran, soal pembebasan wanita, soal-soal perubahan desa dar, timbulnya kota. Dalam beberapa hal kita dapat kembali menyelami pengalaman Aufklarung, malahan kepada renaissance, bahkan saya mau kembali lebih jauh lagi: Alangkah baiknya, kalau kita dapat membawa suasana dan sikap hidup filsuf Yunani ke dalam kehidupan di desa kita.
Kita harus merebut Eropa dan Amerika dalam kebesaran usaha dan jiwanya, dalam vitalitetnya, bukan dalam putus asanya dan kepicikannya, bukan dalam dekadensinya.
Demikianlah dengan garis besar saya kemukakan salah satu sebab impasse pertumbuhan dan perkembangan masyarakat dan kebudayaan kita terletak dalam cara berpikir yang statis. Tentu soal ini masih banyak seluk beluknya dan tiap-tiap bagian uraian yang singkat ini pasti dapat didalamkan dan diluaskan.
Mudah-Mudahan ada yang tertarik akan soal ini dan di Pujangga Baru ini mudah-mudahan di kemudian hari akan dapat dibuat analisis yang lebih dalam tentang ber-bagai-bagai aspek dari soal ini.
S. T. A.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.