Baca EPUB: Kegiatan Tanpa Essay

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KEGIATAN TANPA ESSAY
  2. S. M. ARDAN
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KEGIATAN TANPA ESSAY
  6. CC BY-SA 4.0

KEGIATAN TANPA ESSAY

S. M. ARDAN


KOLOFON

KEGIATAN TANPA ESSAY

oleh

S. M. ARDAN



Dimuat di majalah Mimbar Indonesia

No. 8 • Th. X • 4 Februari 1956

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Unfinished woodblock carving for Self-Portrait with Naila as Circus Performers Holding Masks and Reclining on a Sea Monster (c. 1923), karya Max Beckmann

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KEGIATAN TANPA ESSAY

KETIKA menolak mythe krisis, di-simposion 1954 H. B. Jassin bersu “terus bekerja” sebagai tangan, tapi ucapan ini oleh angkatan sesudah 1950 seakan ditafsirkan dengan terus mencipta berupa cerita/sajak saja, sebab baik sesudah Maupun sebelum simposion itu kegiatan dari mercka yang disebut angkatan terbaharu hanyalah berupa cerita/sajak melulu. Padahal an-juran Jassin itu tentulah terus bekerja di segala lapangan untuk lebih lanjut membuktikan bahwa krisis itu betul-betul cuma suatu mythe bedaka. Biarpun kegiatan belakangan ini berhasil memaksa orang buat mengakui adanya suatu kegiatan, tapi mereka dengan penuh kebaikan hati tidak juga bisa menyimpulkan apa dan betapa serta mengapa angkatan tenbaharu ini. Karena angkatan terbaharu di samping kegiatan mereka di lapangan cerita/sajak tidaklah di samping itu disertai suatu kegiatan lain yang penting: kritik. Penulisan di lapangan ini kurang sekali, atau setidak-setidaknya tidak seimbang dengan kegiatan di lapangan cerita/sajak. Angkatan terbaharu tidak menyertai kegiatannya di lapangan cipta dengan suatu kegiatan penulisan essay dan kritik.

Jika pada kaum sebelum 1950 seringkali dihebohkan karena cu ma ada seorang saja kritikus, hingga mereka mengkhawatirkan adanya semacam kediktatoran di lapangan seni (sastra); tapi angkatan terbaharu ini telah mulai mempersoalkannya seca ra diam-diam tentang tidak adanya satu pun kritikus (yang aktip!), sehingga pada dasarnya hasil-hasil mereka yang begitu membanjir scolah dalu begitu saja. Padahal kehidupan cipta atau “hidup”-nya lapangan mencipta kentara sekali dapat sekali lewat di lihat melalui polemik-polemik, atau setidak-setidaknya lewat essay-essay, resensi-resensi, kri tik-tik. Selama ini selain simposion yg sekali setahun boleh dibilang tak adalah sesuatu yang bikin “raimai” kehidupan seni. Barangkali keadaan inilah dulu yang menimbulkan mythc krisis itu. Penulisan essay amatlah insidentil sekali dan hilang tengge lam demikian saja dalam arus ke giatan cipta dalam bentuk cerita/sajak. Kegiatan yang besar di lapangan ini tidak diimbangi dengan suatu kegiatan penulisan essay yang besar pula.

Bukan waktunya lagi angkatan ter baharu bangga dengan hasil-hasilnya yg begitu banyak, sudah bukan masanya lagi angkatan terbaharu berpuas diri dengan hanya cerita/sajak. Ke-banggaan ini tiada beralasan; apalagi jika mereka menyadari bahwa cipta doang sonder essay sama dengan tak ada kegiatan sama sekali. Gelar “sastra majalah” pada angkatan terbaharu bukanlah suatu kehormatan, dan pula bukan zaman nyalagi..buat..mengalihkan kesalahan pada para penerbit yang sebagai tukang dagang adalah wajar takut rugi. Dan bila tahu sastra akhi-akhi ini “sastra majalah” adanya, mengapa tebaran begitu dibiarkan bertambah unggukannya, hingga makin menyulitkan bagi masyarakat untuk mengetahui apa yang telah dicapai angkatan terbaharu. Atau apa kemungkinannya di masa depan di samping kelebihan/kekurangan yang biasa sesuatu apa pun. Tapi bukanlah memperdebatkan kenapa jaman kini tidak menghasilkan roman, yang pokok adalah apa yang dihasilkan sekarang ini, saat ini; berupa apa pun dia.

Selain itu sudahlah wajar pula kalau untuk ini janganlah angkatan terbaharu terlalu mengharapkan dari luar lingkungannya. Karena adalah wajar bahwa di kalangan sendiri lebih mengenal tentang sejarah, daerah perhatian, kehidupan, sikap hidup dll.—daripada orang di luar golongan. Bicara tentang rumah sendiri lebih tepat-lengkap oleh si penghuni daripada olkh tetangga. betapa dekat pun dia, betapa teliti pun dia. Angkatan terbaharu tidaklah boleh tetap dan terus berbangga dengan kepandaian mereka melulu menghasilkan, karena hal ini bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, di samping adalah suatu keadzan yang sebenarnya membahayakan. Karena-nyalah dari mereka sendiri musti ditulis tentang apa yang mereka kandung, tentang betapa mereka dengan hasil mereka, tentang mengapa mereka dan kemungkinan di masa datang.

Soal krisis pencerbitan sastra janganlah dijadikan alasan tempat berlari dan sebaliknya—dan memar—hal itu tidak menjadi halanga Yang penting adalah penyimputa apa yang dihasilkan selama ini. Dayika Kirjomulyo menembus kris penerbitan dengan menerbitkan se diri buku kumpulan sajaknya, adaklah diharapkan semua pencip angkatan terbaharu ini berbuat n kat seperti Kirjo itu yang tera: menanggung rugi. Tapi menulis es say tentang apa yang ada pada k giatan sekarang teranglah tidak besar itu risikonya. Atau mauk “orang luar” membahas masalah/angkatan terbaharu? Apalagi k pasan yang tidak didahului per kunan yang sungguh-sungguh sebagai dil kukan Pramuja Ananta Toer dala majalah “Star Weekly” 21 Janu 1956 dengan tulisannya berkepa “Tendensi Kerakyatan dalam kes sasteraan Indonesia terbaharu”.

Benarkah sastra terbaharu berte densi kerakyatan? Betulkah seur kegiatan belakangan ini bertende kerakyatan? Kalau sebagian at ada beberapa yang begitu mungkin lah benar. Namun Pramuja men markan secara membabi buta. d berusaha menyeret yang tidak bert densi kerakyatan masuk ke dalam Penyimputan Pramuja bukanlah: atau penyimputan yang benar dah keseluruhanhannya, karena tulisan dalam majalah “Star Weekly” lebih merupakan penyodoran-pem saan sesuatu faham yang tidak (lum tentu) sesuai dengan apa ya betul-betul dikandung sastra terbah

Yang penting bukanlah lantas nyangkal Pramuja, tapi membak kan apa yang sebenarnya hidup. Kandungan ini hanya lebih bisa katakan oleh mereka yang ben adalah memang tergolong dalam lingkungan apa yang disebut akatan terbaharu. Tendensi keryalan sama sekali tidaklah bur tapi tentang definisi itu sendiri pa diperdebatkan lagi, sebab yang berikan Pramuja adalah def yang hanya berlaku dan dibenari oleh angannya sendiri tentang ben sastra di masa yang bakal lahir, ni ti! Meskipun apa yang dibilang Pr muja itu ada benarnya, tapi buk lah satu-satunya dan mutlak, karena pa pun tentunya tidak percaya ba isastra sesuatu masa tiuma berco satu.

Lebih karena in: semoga sele lagi akan terbit tulisan-tulisan yang mar pas setiap segi kegiatan yang st rang ini; yang kita sangat harap tulisan di luar kertas/sajak k aju bukanaya tulisan tentang s cetak sesuatu buku kumpulan jek; tapi apa yang umum dis esay, kritik, dan yang semalyar bisahe diraba Peg.amanan. Yua:


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.