Baca EPUB: Situasi 1954: Mythe Kelesuan

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SITUASI 1954
  2. MYTHE KELESUAN
  3. NUGROHO NOTOSUSANTO
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. SITUASI 1954
  7. II.Mythe Kelesuan
  8. CC BY-SA 4.0

SITUASI 1954

MYTHE KELESUAN

NUGROHO NOTOSUSANTO


KOLOFON

SITUASI 1954

MYTHE KELESUAN

oleh

NUGROHO NOTOSUSANTO



Dimuat di majalah Kompas

No. 7 • Th. IV • Juli 1954

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Composition X - Dynamic Rhythm (1934), karya Werner Drewes

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



SITUASI 1954

II.

Mythe Kelesuan

Atun!

Kira-Kira dua tahun setelah Pemulihan Kedaulatan, mulai terdengar suara-suara yang meryebut adanya kelesuan di lapangan sastra Indonesia. Suara-Suara itu makin lama makin kuat dan akhirnya memuncak pada “Symposion Kesusasteraan Indonesia Modern” Sticusa di Amsterdam dan “Symposion Kesusastraan” mahasiswa Fakultet Sastra UI di Jakarta. Maka dengan demikian pada 1953, bercokoliah mythe kelesuan ini dengan segala kemegahannya dalam pikiran orang-orang. Hingga pertengahan 1954 ini, mythe itu masih hidup terus dengan tak ada yang menelitinya.

Kelesuan itu aku namakan mythe, karena tidak benar. Pada kalimat-kalimat berikut akan kucoba menganalysa mythe itu dan kemudian akan kuajukan beberapa kemungkinan tentang bagaimana mythe itu timbul. Mari sekarang mythe itu kita kupas seobyektif mungkin.

Di dalam mythe itu diceritakan tentang elan revolusioner yang meniuupkan api pembaruan di lapangan sastra Indonesia modern pada dan beberapa tahun sesudah 1945. Tapi, ketika cita-cita politik sebagian besar telah tercapai, elan revolusioner itu lenyap, dan timbullah kelesuan. Kelesuan itu ada sebabnya. Ada yang mengatakan, bahwa setelah Pemulihan Kedaulatan funksi sastrawan di dalam masyaraat—yang di dalam revolusi didapatkan kembali—menjadi hilang. Ada yang mencari seabnya pada kerenggangan antara para pengarang yang telah mencapai niveau peradaban yang paling berpengaruh di dunia—yaitu peradaban Barat—dan masyaraat mereka yang pada banyak hal masih ketinggalan. Ada pula yang mencari seabnya di dalam khaos yang katanya kini tergah lienguasai masyaraat. Di dalam khaos itu sastrawan belum menemukan tempatnya. Itulah beberapa pendapat yang terpenting yang diucapkan di Amsterdam. Di Jakarta pendapat-pendapat kurang tegas dikemukakan. Tetapi dikatakan, bahwa kelesuan itu berhubungan dengan soal sastra, agama.

Di sini mau tidak mau kita harus menyinggung soal, apakah revolusi sudah atau belum berhenti setelah Pemulihan Kedaulatan. Sayang sekali aku belum punya pandangan yang tegas tentang hal ini. Karena itu kita tinggalkan saja dulu. Tapi, tak pernah suatu revolusi itu berhenti dengan sekonyong-konyong; seperti mobil kehabisan bensin. Tak mudah masa revolusi dzn masa sesudah revolusi dibatasi dengan tajam, apalagi oleh orang-orang yang hidupnya masih berdekatan dengan masa itu. Untuk menetapkan itu di butuhkan jarak historis yang agak besar. Sebaliknya revolusi tak mau berputar terus hanya karena idealisme beberapa individu yang tak didukung oleh bebrayan atau masyaraatnya. Revolusi itu suatu proces social. Yang tegas aku terima ialah, bahwa peralihan tahun 1949—1950 membawa perubahan suasana. Keadaan periode 1945—1949 dan periode 1950 kini, berbeda, dan makin lama semakin berbeda. Mungkin periode 1950 kini itu bisa didapatkan kategori di dalam sejarah Indonesia. Tapi itu kita serahkan saja kepada historici kita. Pendeknya aku adakan pembagian atas dua periode tersebut di atas. Untuk mudahnya dan singkatnya, baiklah periode pertama kita sebut periode 45, dan periode yang lain periode 50. Tapi penamaan ini tinggal penamaan di sini. Untuk sementara waktu yangan digantungkan pelbagai konsekwensi kepadanya. Dengan penamaan itu kita punya titik pangkal yang sama dengan mereka yang percaya kepada mythe kelesuan. Mereka pun selalu membandingkan “zaman revolusi” dan “zaman sekarang”. Hanya titik pangkal kita lebih jelas.

Sekarang soal pertama: apakah criterium untuk mengukur adanya kelesuan pada periode terakhir ini? Menurut mythe itu, kini terdapat kelesuan dibandingkan dengan zaman revolusi, zaman sebelum Pemulihan Kedaulatan, dsb. Jadi yang dijadikan cermin perbandingan adalah periode 45. Untuk mengekheck bewering itu kita tinggal membandingkan saja kegiatan kesatuan periode 45 dengan kegiatan kesatuan periode 50. Kwantitatif dah kwalitatif. Untuk mempunyai gambaran yang mendekati kenyataan, sesungguhnya kita harus punya dokumentasi yang lengkap, tapi kalau kita ambil pokok-pokoknya saja, aku kira tidak akan menyalai realitet.

Mari kita lihat dulu penerbitan-penerbitan yang berupa buku. Maka kita lihat, bahwa di dalam periode 45 Khairil Anwar menguasai sama sekali pulsi zaman itu. Pada tahun kematiannya diterbitkan orang dua berkasnya “Deru campur Debu” dan “Kerikil Tajam dan Yang terampas dan Yang putus”. Idrus, raja prosa zaman itu, menyapai puncaknya dengan berkasteritana; “Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma” dan novellenya “Aki”. (H. B. Yassin, raja kritik dan essay, sudah pula kasi stoom, tetapi buah tangannya yang terbaik ditulis pada periode 50. Tetapi sebagai anthologc di dalam periode ini dia amat maju dengan dua bungarampainya “Resoesasteraan Indonesia di masa Jepang” dan “Gema Tanah Air” (yang dicetak kembali pada periode 50). Utuy T. Sontani muncul dengan “Suling” dan “Tambera” serta lakon “Bunga Rumahmakan”, yang kini telah yadi pengertian di kalangan pemintas sastra dan senidrama. Amal Hamzah tampil ke muka dengan “Pembesanan Pertama”, yang tidak begitu “remarkable”. Usmar (“Krisis”) Ismail waktu itu keluar dengan seberkas lakon-lakon “Sedih dan Gembira”. (Pada periode 50 ia telah tumbuh jadi seorang cineas yang boleh dibanggakan). Pramoeja Ananta Toer pada waktu itu baru mulai. Kalau tidak salah dia baru me-nerbitkan sebuah buku ketil yang kertas dan opmraknya sangat sederhana “Di tepi Kali Bekasi”.

Kini tiba giliran kepada majallah-majallah kebudayaan. Yang terkenal dari zaman ini adalah “Gema Suasana” (kemudian “Gema”). Lebih dulu terbit adalah “Arena” dan Seniman“ (nipedalaman). Kemudian terbit majallah-majallah umum yang punya lembaran kebudayaan atau memberi tempat kepada produksi-produksi sastra seperti ”Mimbar Indonesia“, ”Siasat“ dan ”Gelombang Zaman“. Yang paling dulu terbit adalah ”Panca Raya“ yang kini sudah ”mati, seperti juga “Pembangunan”. Pada akhir periode 45 ini masih terbit “Indonesia”.

Tentang perhimpunan sastrawan sepanjang pengetahuanku “hanya Gelanggang”. Di pedalaman para sastrawan bersama para seniman lainnya mempunyai “Seniman Indonesia Muda”. Dan pada akhir periode ini para sastrawan marxis mendirikan “Lembaga Kebudayaan Rakyat”.

Mari kita tinjau sekarang periode 50.

Pramoeja Ananta Toer pada permulaan periode ini dengan agak tiba-tiba tampil ke muka dengan sebagian besar daripada oeuvre nyia hingga sekarang: “Perburuan”, “Keluarga Gerilia”, “Subuh”, “Periyikan Revolusi”, semuanya terbit pada tahun 1950. Pada tahun-tahun kemudian menyusul “Mereka yang dilumpuhkan” jilid I, II dan “Cerita-Cerita dari Biora”. Mokhtar Lubis keluar dengan “Tak ada Esok” dan “Jalan tak ada ujung”. Usmar Ismail hanya meneriikan berkassadayak “Puntung berasap” yang amat sederhana. M. Balfas menyaksikan terb.inya “Lingkaran-Lingkaran Retak”-nyi. Trisno Soemarjo tampil ke muka dengan “Katahati dan Perbuatan”, S. Rukiah dengan “Tandus” dan Barus Siregar dengan “Busa di laut hidup”. Sitor Situmorang, penyair yang dominant pada zaman ini keluar dengan berkassadayak “Surat-Surat Kertas Hijau” dan lakon “Jalan Mutiara”. Bakri Siregar melihat terbitnya “Jejak Langkah”-nya, dan Riyono Pratikto, “the coming man” dari zaman ini membuat langkah pertamanya dengan “Api”. H. B. Yassin, dalam periode ini membuat 2 buah essay yang magnifique: “Angkatan 45” dan “Khairil Anwar”, pelopor Angkatan 45“, yang kedua-duanya dimuat di dalam kumpulan kritik dan essaynya ”Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay“ yang terbit pada tahun ini. Dari jago-jago periode 45, Khairil Anwar, Apin dan Asrul Sani menerbitkan ”Tiga Menguak Takdir“. Utuy mempertahankan mutunya sebagai dramaturg dengan ”Awal dan Mira“ dan ”Manusia Isang“. Pada periode ini pula ditulis ”Surat Kepercayaan Gelanggang“ yang terkenal itu. Akan tetapi ada pula kejadian yang menyedihkan di dalam periode ini. Yaitu likwidasi Balai Pustaka. Sehingga sastra Indonesia betul-betul diyadi sastra-majallah, seperti seorang mahasiswa-sastra pernah berkata kepadaaku.

Majallah? Kecuali majallah-majallah “tua” dari periode 45 seperti “Mimbar Indonesia”, “Siasat” dan “Indonesia”, telah terbit pula (Zenith), yang tambah mendunyung mutu majallah kebudayaan Indonesia yang hingga saat itu didukung oleh majallah-majallah tsb. duluun. Lain daripada itu telah terbit “Basis” dari kaum Katholik, “Budaya” dari Jawatan Kebudayaan PPK dan “Bahasa dan Budaya” dari Lembaga Bahasa dan Budaya. Yang beikangan ini lebih bersifat keilmuan. Pada bulan ini telah terbit pula “Konfrontasi”. Generasi muda juga sangat giat, Meskipun penerbitan-penerbitannya kerapkali masih memperlihatkan sifat-sifat puter. Para mahasiswa punya “Gajah Mada”/Pelangi dan kita punya “Kompas”/Persada. Di Yogya terbit “Medan Sastera” yang kemudian pindah nama jadi “Seriosa”, di Solo suratkabar “Dwiwarna” sekali seminggu mengadakan ruangan “Simposium”, dan masih banyak lagi.

Perkumpulan-Perkumpulan sastrawan ada pula yang didi'ikan, yang terkenal di antara-nya “Lembaga Seni Sastera” yang punya cabang dipelbagai kota. Lain-Lainna tergabung pada perkumpulan-perkumpulan seniman seumumnya seperti “Masyarakat Seniman Jakarta Raya”, “Himpunan Budaya Surakarta”, dll. Di Yogya dan Solo kegiatan kebudayaan bukan main. Aku sebagai orang Jakarta terpaksa menagakui, bahwa Jakarta bukan satu-satuna kota budaya di Indonesia, seperti yang dikemukakan oleh Aoh di dalam salah satu essaynya. Tapi di sini pemlicaraan akan tubatasi pada-sastra saja.

Di Jakarta, Sujati SA sejik setahun telah menerbitkan sebuah majallah yang unik di dalam cejarah-pers kita: “Kisah”, majallah khusus untuk ceritapendek.

Demikian tadi dengan global kedua periode itu kita perbandingkan. Adakah kaulihat curve turun pada periode 50? Jangan memberatkan penerbitan-penerbitan pada tahun ini! Tahun 1954 terletak di bawah likwidasi Balai Pustaka. Untuk masa terakhir periode 50 engkau harus meletakkan trikberat kepada majallah-majallah dan pekumpulan-pekumpulan kesastraan. Misalnya saja untuk menilai Riyono Pratikto, kita harus membaca karangan-karangannya ‘di dalam “Siasat”, “Zenith”, “Kisah”, “Kompas”, dll. Novelle Pramoeja yang terbaru juga dimasukkan ke dalam majallah: “Indonesia”. Penyair-Penyair terkemuka seperti Hariyadi S. Hartowardoyo dan Toto Sudarto Bakhtiar harus dicari di-dalam majallah-majallah juga.

Kini tiba saatnya aku kemukakan kemungkinan-kemungkinan mengapa mythe itu sampai terkahir; latarbelakangnya.

Pertama. Mungkin mythe ini terlahir dari pessimisme umum. Artinya pessimisme orang-orang tentang zaman sesudah Pemulihan Kedaulatan ini. Pesimisme itu disatu pihak dikandung oleh mereka yang hidupnya pada zaman federal lebih enak, dan di lain pihak dikandung oleh mereka yang pada waktu hidup suyit pada zaman revolusi punya impian-impian yang indah dan muluk tentang zaman sesudah perang kolonial. (Jangan tuduh aku menghidup-hidupkan soal non-co, Atun! Ini ayuma suatu keharusan untuk meneliti sebab dan wuyud daripada pessimisme itu. Suatu konstataasi gejalal-gejalal masyarakat belaka).

Tentang pessimisme ‘di pihak pertama tadi, aku tak akan berpanjang-panjang. Tapi pessimisme pada pihak kedua aku namakan nonsense. Nonsense kalau periode 50 lebih gelap, lebih kacau, lebih payah daripada periode 45. Aku nyatakan, bahwa zaman 50 paling sedikit acalah sama dengan zaman 45, kalau tidak lebih baik. Apalagi penamaan zaman 45 sebagai “zaman idealisme” dan zaman 50 sebagai “zaman materialisme” (dalam artian tak filosofis), aku tolak sungguh-sungguh.

Payah dan enaknya kedua periode itu seimbang, ada ups dan ada downsnya. Untuk membuktikan itu secara historis dan bertanggungyawab secara keilmuan, dapat seorang sarjana membuat dissertation. Dalam bingkai karangan ini cukup kita ambil beberapa facts saja.

Zaman ini kita semua amat kenal. Korupsi, rebutan pangkat, rebutan kekayaan, cakar-cakaran, daulat-daulatan, kemesuman, adalah kata-kata yang terdengar saban hari. Di dalam lingkungan demikian, memang orang cenderung untuk mengidealisisasikan masalampau, zaman revolusi. Engkau tahu, bahwa aku cimta kepada revolusi kita. Tapi aku tak ragu-ragu untuk melihat “...the reverse of the medal”. Dan pada zaman revolusi itu hal-hal yang disebutkan dengan kata-kata yang kini jadi buahbibir harian, telah ada belaka. Aku saksikan korupsi bahan-bahan makanan dan pakaian, penggedoran gudang-gudang pemerintah. Bahkan sampai banyak kesatuan-kesatuan TNI kocar.kacir karena kekurangan supply yang habis dimakan “tikus.tikus” digarisbelakang dan di tengah jalan. Di front-front prajurit-prajurit kurang makan, sehingga gevekhtswaardenya kurang, dsb. Tembak menembak dan lucut_melucuti antara pelbagai barisan (tidak atau dengan dukungan partai-partai) terjadi di mana-mana, daulat-daulatan pimpinan, rebutan pangkat, pemerkosaan, juga ada. Itu semua bersamaan dengan korban yang suci dari pahlawan-pahlawan sejati digarisdepan dan digarisbelakang. Sebaliknya pada periode 50 ini pun banyak terdapat idealis-idealis, Meskipun mereka itu tak banyak bersuara.

Tidak, Atun, dilihat secara obyektif, zaman ini tidak lebih dielek daripada zaman yang baru lampau. Kita harus lebih banyak memperhatikan ke-jadian-jadian seperti kemayuan koperasi, selesainya pelabuhan Bitung dan la-panganterbang di Kalimantan Barat, turuninya import beras, munculinya sar-jana-jana baru dari pelbagai fakultet dan akademi. Itu semua berarti kemayuan, Meskipun masih kurang cepat. There is always hope. Pessimisme seperti yang dijadikan mode zaman sekarang, adalah “aanstelleriy” yang merusak “ar-beidsvreugde”. Dan aanstelleriy yang demikian tidak saja suatu luxe, tapi juga merugikan.

Kemungkinan kedua ialah, bahwa golongan “old cracks” di kalangan sastrawan yang pada periode 45 mengalami zaman keemasan pada hal pada periode 50 mulai mundur, berpegangan erat-erat-erat-erat kepada kenangan zaman silam yang indah itu dengan mengagung-agungkan zaman gemilangnya dan men-jelek.jelekkan zaman ini, di mana muncul banyak tokoh-tokoh baru.

Kemungkinan ketiga juga terletak pada dunia sastra; pada khusunya. Sudah diketahui oleh umum, bahwa sastra Indonesia modern sejak timbulny hingga permulaan periode ini, sangat berorientasi kepada sastra Belanda. Sehingga sastra Indonesia modern seolah-olah cuma “erlate Indonesiskhe versie“ daripada sastra Belanda. Juga golongan ”Gelanggang“ yang zaman keemasannya terletak pada periode 45, dan terkenal dengan predikat ”universil“, ternyata universaliteta sebagian besar cuma sampai kenegri Belanda saja. Kalau perhatian ditujuhkan kepada wilayah-wilayah lain (misalnya Paris), maka hal itu dilakukan juga via Nederland.

Maka sebagaimana tentunya juga kauketahui selama engkau di sana, sastra Belanda sehabis Perang Dunia II mengalami kelesuan, mengalami “dode punt” menurut istilah sana. Yaitu karena matinya pemimpin-pemimpin gerakan pembaruan sastra dari angkatan “antara dua perangdunia” Marsman, Slauerhoff, Ter Braak dan Du Perron. Tinggal Vestdiyk dan Gerrit Akhterberg.

Rupa-rupanya angkatan sastrawan Indonesia yang menyajarikan dirinya dengan angkatan Marsman cs, sekarang juga mau tiru memproklamasikan kelesuan di Indonesia. (Khairil Anwar sudah mati). Tapi itu tak boleh jadi, seandainya kemungkinan ketiga ini betul. Generasi baru tak punya alasan untuk terutama berorientasi ke sastra Belanda. Kita ciak akan tiru-tiru membentuk golongan-golongan Podium, Woord dan Libertinage. Kita akan berusaha sekeras-sekerasnya untuk memberikan individualitet kepada sastra Indonesia modern.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.