Baca EPUB (OCR): Perkembangan dan Gejala dalam Kesusasteraan

5 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 26 ms

Daftar isi
  1. PERKEMBANGAN DAN GEJALA DALAM KESUSASTERAAN
  2. LUTHFIE RACHMAN
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. PERKEMBANGAN DAN GEJALA DALAM KESUSASTERAAN
  6. CC BY-SA 4.0

PERKEMBANGAN DAN GEJALA DALAM KESUSASTERAAN

LUTHFIE RACHMAN


Logo Penerbit MasasilaM

PERKEMBANGAN DAN GEJALA DALAM KESUSASTERAAN

oleh

LUTHFIE RACHMAN



Dimuat di majalah Pujangga Baru

No. 8 • Th. XIV • Februari 1953

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Newsboys (1943), karya Leopoldo Méndez

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



PERKEMBANGAN DAN GEJALA DALAM KESUSASTERAAN

Kepada, Ulick Rooswithako Langkai,

Kekasih waktu itu ...

KEMBALI kita temukan perjalan pertumbuhan hidup kesusasteraan pada hidup kehidupan dan penghidupan pada kekinian, manusia organisatie, manusia pencakngorak, adalah tong kosong!

Perfumahan alun dasar kesusasteraan bukan organisatie minta pendapat, bukan politik lontong minta joitos, maka timbulah bersama pertumbuhan ini anasir dalam kesusasteraan akhi-akhi ini.

Revolusi membawakan hasrat kandungan meletus dengan timbulnya tunas-tunas lagi sasterawan-sasterawan, maka pada hasilnya sasterawan itu mencobo memberikan gambaran carok tentang ke-HAL yang maha penting, manusia yang ditirik yang langkah gerak dan atau digerakkan ke arah tuyuan-tuyuan yang baru.

Bukan murid yang menentukan, tapi gurulah memastikan, inilah seyarah bangsai! Yang demikian membawakan debaran hati kekecewana menunggu puisian di hari besok.

Demikian revolusi Indonesia mewuyudkan gejal-gejal yang tak sedikit hasilinya, manusia banyak tinggal, manusia banyak mencur, manusia banyak doyan perempuan, dan perempuan senang keluar malam: Kita teropong sejenak sembari makan pisang gorene, masalah ini minta dibahas, dan kalau revolusi Mexiko yang mengamuk dalam tahun 1920 itu, pun meninggalkan kesaninya dalam kehidupan kesusasteraan Mexico. Bertambah tertiyant pertumpuran-pertumpuran dan keyadian-keyadian sosial itu dalam ingatan, pada perasaan manusia agung tersas keperluannya bagi segolongan pengarang-pengarang yang tertentu guna mengiakkan dan menutur katakan ciir-ciir kejadian itu atas dasar sejarah dan hukum estetika.

Demikianlah maka sejalan dengan ini kita kenali siapa Idrus dan Surabayana, kita kenali Pramdian Keluarga Gerilyanya, penuh ciati, umpanan yang tak minat pendapat. Bukan murid mencatatkan garis-garis ini, tapi gurulah yang menyadituhukan paigondam tak terbantah, adalah sejarah!

Memang tiap peraturangan dalam revolusi, tiap perobahan yang ditimbulkan oleh alam piejakan kasih, selalu membawakan hidup kesusasteraan masing-masing, ke kejadian yang dibentuk menurut garis-garis dan atau pengalaman si-penyiptanya, sendu tangis bukan gads minta dirayu, adlah gads minta dijotos!—Tiap perobahan membawakan bentuk persoalan, yang demikian makanya pada sekarang ini masih dibaca orang dengan sanang hati, karena ia selalu meninggalkan rasabuah yang p-hit dan yang keburu dipetik de- ngan kekerasan, buah yang dicuri oleh hasrat, dan bungamekar menyembur bauwangi, memberikan gairat manusia hidup jan nafsu, tapi tangkai bunga yang berdui, adalah satu kesombongan! gadis diam ayu, apijinak, tapi mahal bicara, akhiraya membawa keruntuhan diri, pandangan dan keinginan masih bisa kita ciagah, tapi gadis diam dan bunga apiik bertangkai diri kita birakan beberapa malam, akhiraya layu kesendirian, adalah gejala kesombongan! yang dibuatnya sendiri.

Kini timbulah jaman romantik dalam kesusasteraan, yang terkuat dengan kiakkan yang disebabkan oleh aliran-aliran politik masa organisatie yang beranca bentuk dan mengancian di kanan keiling! Adula4 momok besar minta derita lebih lama. Tidaklah mengherankan bahwa peyuang-peyuang serta gads-gads sering menyari semangat peryuangan pada buku-buku revolusi. Dengan ini orang sempat mendengarkan lagu desingan peluru, tapi sering pulu lagu-lagu ini dihentikan oleh kecuanyan dan kemtian. Waktu berbagai tingkat revolusi mulai terjaian ke dalam kesadaran, sebagai akibat daripada nafsu yang timbul dari bawah sadar untuk melihat seyarah menjadi kenyataan. Sebagai keinginan untuk menjeigaskan arti kenyataan itu, sebagai usaha untuk mengemukakan gambaran yang dibikin tentang kehidupan yang pahit dan berlumuran darah. Keinginan telah terpeguhi oleh pengarang-pengarang roman sekarang. Tiadalah semua pengarang-pengarang ini mempunyai pandangan yang kritis terhadap keyadian dalam revolusi, malahan menyocokkan dirinya kepada diywa golongan yang dihormati. Tapi mereka dapat mengharyai bahah-bahah manusia hidup dan gejala-gejala nyia. Untuk suatu gambaran dalam ke-HAL ini dengan baik, adalah suatu pekerjaan yang berat. Pengarang-Pengarang sekarang tidak saja harus mengatasi alat-alat nyia yang sukar didiekati, bahah-bahah dgeral, pemandangan liar, manusia-manusia yang belum dikenal lahir bathininya, adalah kesukaran tempat di mana manusia belum punya pengertian siapa sasterawan itu, siapa-siapa mengapa dan untuk siapa, ini adalah suatu ke-HAL minta derita lebih lama. Tapi kita harus berani mengatasi perlawanan bathininya, adalah kesukaran tempat di mana manusia belum punya pengertian siapa sasterawan itu, siapa-apa mengapa dan untuk siapa, ini adalah suatu ke-HAL minta derita lebih lama. Tapi kita harus berani mengatasi perlawanan bathininya yang berupa pengalaman kata kesusasteraan. Kesusasteraan yang timbul baru atau bersamaan juga memenuhi syarat-syarat dalam ke-HAL kepentingan pertama dan sikap keyiwaaan yang estetis. Kalau roman yang mutuyel bersamaan sejalan engan alani tersebut, memberikan can atau menguraikan sebuah soal, ke-HAL yang seperti keadaannya di mana drama-drama Pirandello banyak menyinggung perasaan semua orang. Kita kenali yang tanpa pendapat membawa perkenalan. Kepada HAI, siapa-apa-mengapa dan untuk siapa minta senyuman manis.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.