Baca EPUB: Selamat Tinggal Tahun 52

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SELAMAT TINGGAL TAHUN 52
  2. H. B. JASSIN
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. SELAMAT TINGGAL TAHUN 52
  6. CC BY-SA 4.0

SELAMAT TINGGAL TAHUN 52

H. B. JASSIN


KOLOFON

SELAMAT TINGGAL TAHUN 52

oleh

H. B. JASSIN



Dimuat di majalah Zenith

No. 2 • Th. III • Januari 1953

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: The Ragman (The Wanderer) (1908-1909), karya Edvard Munch

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



SELAMAT TINGGAL TAHUN 52

Kepada Balfas.

DI DALAM sepuluh tahun kesusasteraan kita belakangan ini kita menghasilkan sebagian besar puisi dan cerita pendek. Apa yang berharga dan kurang berharga di lapangan itu telah dikumpulkan dalam dua bungarampai, “Kesusasteraan Indonesia di masa Jepang” dan “Gema Tanah Air”. Selain dari itu ada 10 a 15 gubahan drama yang tidak tahan uyi 3 roman yg kita ragu-ragu mengenukakan. Jadi sama sekali tidak begitu banyak.

Ada yang mau mencari apa yg. disebut kelesuan ini dalam kegelisahan dan kekacaunan masyarakat. Memang masa Jepang bukan satu masa yang tenang dipandang dari sudut ekonomi dan masa revolusi sesudah itu bukan satu masa yang memberikan ketenangan jiwa, kalau itu yang mau dicari sebagai syarat untuk mencipta. Tapi ketenangan jiwa tidak pernah menjadi syarat mutlak untuk teryadinya ciptaan. Hasil-hasil yang besar malah terjadi dalam jiwa yang bergolak. Pun stabilitet masyarakat belum tentu akan meninggikan hasil ciptaan, bahkan masyarakat yang tenang dan tenteram mungkin melumpuhkan sama sekali tenagacipta. Kesenangan dan keyakupan yang diberikan kepada pencipta tidak memberikan jaminan bahwa ia oleh karena itu lebih kuat tenagaciptanya dan gila sekali menghitung secara aljabar: kalau pencipta di dalam kesukaran hidup dalam satu tahun cuma bisa menghasilkan satu ciptaan, maka dalam keadaan yang sepuluh kali lebih baik, ta dalam waktu itu juga mesti sanggup membikin sepuluh ciptaan yang baik atau satu ciptaan yang sepuluh kali lebih baik. Ciptaan seperti ini biasanya hanya berupa propaganda atau reklame yang murah dan kita tidak bisa mengharapkan lebih banyak dari seniman-seniman yang telah menjadi mesin seperti ini.

Soalnya harus dikembalikan kepada seniman sendiri, sampai di mana kekuatan pribadinya sebagai pencipta sambil menghadapi soal-soal. Inilah intipati tanggungyawabnya dan penyalahan kepada masyarakat ialah penggeseren tanggungyawab kepada masyarakat untuk menutupi kelemahan sendiri. Seorang pengarang yang ditawan dalam penjara seperti Pramoeja Ananta Toer, masih bisa menulis karangan yang be.harga, Meskipun dia terpisah dari masyarakat besar dan masyarakat penjara tidak bisa dikatakan makmur. Apakah dia mempunyai jiwa yang tenang di dalam penjara? Jiwanya ialah jiwa dalam berontak dan kepribadiannyalah yang membikin dia yadi pengarang. Dan apabila dia kemudian di dalam masyarakat besar yang memberikan kemungkinan-kemungkinan lebih luas, malah mundur sebagai pengarang, ini tidak bisa disalahkan kepada masyarakat, tapi semata-semata kepada pribadinya sendiri yang tidak kuat berdiri di tengah-tengah masyarakat, mempertahankan hidup seninya.

Seniman bertanggungyawab kepada masyarakat, tapi terhadap seninyia dia hanya bertanggungyawab kepada dirinya sendiri. Terhadap seninyia pun masyarakat harus dicurigainya, kalau masyarakat itu membahayakan kemur-nian hidup seninyia dan menghendaki daripadanya hasil-hasil yang tidak bisa dipertanggungyawabkannya sebagai seninyam.

Tanggungyawab terhadap diri sendiri dalam hal yang mengenai cipta-an seni masih kurang diperhatikan dalam kalangan seninyam kita. Seni bagi kebanyakkan mereka ialah tanggungyawab kepada publik pertama-pertama. Tanggungyawab ini jika sesuai dengan tanggungyawab kepada diri sendiri, adalah tanggungyawab yang murni luar dan dalam. Tapi kebanyakannya tanggungyawab yang dizetratkan kepada publik ialah tanggungyawab yang dipergunakan sebagai topeng untuk memaksakan pendapat-pendapat dan tanggapan-tanggapan yang tidak benar. Dengan sendirinya seni yang seperti ini ialah seni yang rendah mutunya, sebab Bagaimanapun juga bentuk yang tidak mendukung isi, ialah bentuk yang kosong, atau bentuk yang diketahui isinyia palsu.

Untuk menjaga kemurian ciptaannya seorang seninyam senantiasa ber-hadapan dengan dirinya sendiri, dengan sekellilingnya dan dengan masyarakat. Dengan dirinya sendiri karena dia harus menjaga kejernihan rasa dan pikirinya, dengan sekellilingnya dan masyarakat supaya kekacaunan dan kekeruhan dalamanya tidak membumbarkan alamiyiptanya dan mengeruhukan ukuran-ukuran-nya. Dan untuk ini diperlukan keperibadian seninyam yang kuat.

Seninyam senantiasa berada dalam kepungan masyarakat. Masyarakat dalam pengertian pergaulan ramai atau publik dan dalam pengertian sekita-tanya berupa rumahangga dan sanak keluarga. Hidup seninyam selalu dalam bahaya terdepit mati. Karena soal-soal rumah tangga, karena soal-soal sanak keluarga, karena soal-soal partai, karena soal-soal masyarakat. Seninyam yang tidak kuat pribadinya akan segela dilulur oleh masyarakat. Apakah oleh karena itu seninyam harus lari dari kewajiiban-kewajiibannya terhadap masyarakat? Tidak sama sekali. Justru soal-soal masyarakat inilah yang harus dihadapinya, harus di aturnya dan harus diselesaikannya, tapi untuk menguasai masyarakat dia harus lebih dulu kuat menguasai dirinya. Dalam perhadapan pribadi dan masyarakat inilah terjadinya ketegangan-ketegangan yang mendapat penyelesaan dalam hasil ciptaan.

Apa yang menatik kita pada Khairil Anwar ialah jiwa pemberontak dan jiwa bebas yang justru di masa Jepang dan di masa revolusi begitu kita rasakan dan peletusan-peletusan Khairil Anwar kita rasakan seperti per-nyataan jiwa kita sendiri terhadap penjadidahan dan pengepungan terha-dap diri pribadi. Tapi letusan-letusan saja tidak bisa terus memuaskan kita kalau tidak disertai dan diikuti dengan penguasaan keadaan yang berwuyud dalam pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Di dalam hal ini Khairil An-war sungguh-sungguh mempunyai fungsi seorang pelopor yang mula pertama-merombak bentuk-bentuk dan kaedah-kaedah dan dari pusat pribadinya mau memberi isi kepada hidupnyia. Pusat pribadi ini ternyata sangat kuat tapi daerahnya kurang luas dan isi yang diberikannya kepada kita belum lagi mem-berikan dasar untuk pandangan hidup yang menyeluruh. Untuk itu hasilnya masih terlalu memperlihatkan kekurangan-kekurangan diywa pemuda yang berada dalam masa Sturm und Drang.

Khairil Anwar telah dapat menciptakan suatu dunia baru dalam persajaran, tapi yang melebili dia, sekarang sesudah empat tahun ia meninggal, belum lagi kelihatan. Semuanya baru sampai pada pembikinan keping-an-an, belum bisa bikin monumen yang besar. Ini ada persamaannya dengan konstelasi negara dan masyarakat kita dewasa ini yang masih serba dalam mencoba dan membikin rencana-rencana, tapi belum sampai pada keadaan yang stabil. Apakah di sini keadaan juga yang harus kita salahkan dan kepada keadaan juga kita serahkan untuk membikin seniman-seniman? Kumpulan ‘Tiga Manguak Takdir’ yang boleh kita harap akan menjadi dasar pertumbuhan yang sehat selanyutnya, tenyata tidak mengembangkan tenaga yang diharapkan. Asrul Seni kwa intelligensi mungkin melebili Khairil Anwar. Dia mempunyai dasarpandangan yang lebih luas dan mempunyai sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan yang memungkinkan dia melihat soal-soal dalam hubungan keseluruhan yang lebih besar, tapi dia tidak mempunyai intensiteit Khairil Anwar. Dia orang yang sangat berhati-hati dan karena kehati-hatiannya ini mungkin jadi lempem sama sekali.

Rivai Apin tidak pernah memberikan keyakinan kepada kita. Kita ter-lalu banyak melihat padanya pengaruh-pengaruh yang tidak dicernakan menjadi lumat sehingga masuk ke dalam darah dan menjadi nyawa dan nafas-nya sendiri. Sesudah mengalami masa Beleggu Armiyn Pane, Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu Amir Hamzah, binatang jalan Khairil Anwar dengan serang-terjang-merah-merah-kuning-kuning, dia sekarang jalan-jalan dengan alampikiran Albert Camus dan mengira sendiri sudah Albert Camus dengan menganggap dunia ini absurd.

Rivai Apin mempunyai pendapat yang aneh tentang persajaran. Bagi-nya tidak apa-apa kalau ada persamaan penggunaan bahasa antara penyair yang satu dengan penyair yang lain. Malah kombinasi perkataan, perbandingan, isipikiran yang sama, tidak dianggap apa-apa. Ini dibuktikannya dalam sajak-sajaknya sendiri, dalammana kita bisa tunjukkan dengan gam-pang pengaruh-pengaruh orang lain, dalam bentuk dan isipikiran. Dia mempertahankan bahwa kalau dia terambil perbandingan atau perkataan orang lain, maka itu haya untuk memperkuat dan menjelaskan apa yang hendak dikatakannya sendiri, sebagai pendukung alampikiranannya. Kita tidak akan memaksanya untuk mengubah pendapatna yang dipertahankannya dengan keras kepala ini, tapi kita wajib menyeruk ‘Awas! !’ terhadap pendapat yang menyesatkan ini. Lebih-Lebih karena Rivai Apin sebagai pemimpin lampiran kebudayaan dan kesusasteraan suatu majallah dengan ukuran-nya ini mempuk suatu epigonisme yang alas dasarnya, bahan-bahannya dan bataspandangannya sukar akan dapat melebili Tiga Manguak Takdir.

Menunjukkan ukuran yitarasanya pilihan Rivai Apin terhadap sajak Iwan Simatupang yang dianggapanya sebagai sajak yang baik. Sajak yang dengan sekali lihat kita bisa katakan bahwa bentukna ciaplokna sinisana, penuli bunga-bunga yang layu, isinya romantik kosong.

Dua kali Simatupang mencoba membikin sajak, mula-mula dinamainya ‘Apa kata Bintang di laut’, kemudian ‘Ada Tengkorak terdampar ke pulau Karang’, keduanya mempunyai tema yang sama. Di dalam sajak yang pertama Rivai rupanya erpesona oleh suara gurunya Khairil Anwar yang dikenalnya dalam kuptet ini:

‘Siapa dekat siapa rapat tujuh kali tirap ditimbaruang siapa lupa siapa alpa nakhoda, pala dan janda-janda kena anginpusaran atau pitam’ Dan lukisan sahabat kentalnya Asrul Sani: ‘Ya panglima dari suatu pasukan’ ‘Ya berasal dari pegunungan’ ‘Sejak itu—ia telah tinggalkan puncak kelabu dan pergi ke laut lepas’.

Dan ‘Panji hitam berkebar-kebar’ tidakkah dasi fantasi Rivai Apin yang dipinjam dari kelana pengembara Yohn Masefield ‘.......ikutkan irama layar yang telah terasa-rasa berkebar-kebar’

Ada draagkrakht? Tenaga-dukung bahasania ataukah isinya? Dengan bahasa Simatupang yang penuh klise dan ulang'an yang tidak perlu dise-babkan kekurangan kata-kata, dengan sendirinya isi yang mau dilontarkan, tinggal berputar-putar tidak merupa. Perhatikan ulangan-ulangan klise yang tidak bertenga; ‘suatu selat tak berbatas tak bertepi, tak bernama tak ber-sebut’, ‘suatu kisah tak berawal tak berakhir’, ‘suatu pasukan tak berbilang tak bernegeri’. Ini mengingatkan gaibahasa ‘Sabai nan Aluih’. Dan siapa masih akan melihat keaslian plastik dalam penggunaan kombinasi kata seperti ‘tinggi menjulang’, ‘tebing menghunjam’. Belum lagi kita melihat perbandingan yang tidak mendukung isi, karena isinya tidak ada! Kepala sajak ‘Apa kata Bintang di laut’ begitu dicari-cari dan kwasi kepenyairan ditenpelkan begitu saja. Mengapa tidak langsung ‘Cerita Bintang di laut’ atau ‘Dongeng Bintang di laut’, mengapa harus diambil jarak kepada orang ketiga? Dan mengapa bintang di laut? Apa hanya satu bintang di laut? Dan apa hubungan bintang dengan dongeng lanun ini?

Sajak ‘Ada Tengkorak terdampar ke pulau Karang’ tidak lebih baik dari yang pertama, Meskipun sudah lebih ditapis dan disusun lebih teratur. Kuptet yang pertama sudah membikin kita geleng kepala, karena kepan-jangan nafasnya dan ketiadaan spontaniteit:

‘Di bawah suatu langit merah jingga ada datang terdampar pada suatu senja suatu tengkorak jauh ke pulau karang’.

Di mana sebenarnya terpusat perhatian penyair dalam melukiskan gambaran ini? Dia mau menyelitakan terdamparnya suatu tengkorak ke pulau karang. Suatu kedadian yang hebat memang. Tapi dia perlukan dulu menatap ke ‘langit merah jingga’ dengan keterangan ‘ula bawha kejadian ini, pada suatu senja’—untuk menimbulkan suasana indah?—tapi dengan demikian kejadian yang harusnya menjadi pokok terdesak kesudut uyung. Semua dijejalkan dalam satu kalimat dan oleh susunan kalimat yang mendahulukan keterangan-keterangan dari soal yang pokok, jadi tidak timbul lukisan yang hidup. Lebih jelas kejelekkan kalimat ini apabila ditulis secara prosa: ‘Di bawah suatu langit merah jingga, ada datang terdampar pada suatu senja, suatu tengkorak jauh ke pulau karang’.

Tentang isi sajak ini seluruhnya? Saya tidak tahu apakah ini hasil bacaan Simatupang oleh banyak membata buku-buku cerita tentang pe-rampok atau apakah ini lukisan kiasan kepada masyarakat atau pengalamannya sendiri? Dunianya dunia pelaut konon. Apakah dia seorang pelaut?

Tentang ini pun kita harus berhati-hati. Melihat tempat tinggal Simatupang yang sekarang di Surabaya dan namanya yang berasal dari Sumatra boleh kita duga bahwa dia sudah pernah naik kapal dan melihat laut. Semenjak Khairil Anwar menyanyikan laut, dan Asrul Sani menyanyikan laut, dan Rivai Apin menyanyikan laut, persadayakan Indonesia penuh dengan laut dengan kapal-kapal layar yang berkebar-kebar, juga dari penyair-penyair yang belum pernah melihat laut dan belum pernah menginjak kapal.

Untuk mengurangi penyakit laut baiklah penyair-penyair memaksak diri untuk lebih bergiat mencari dan menyeladiah daerah-daerah lain dari kehidupan. Udara agaknya masih ditakuti oleh penyair-penyair kita. Dalam dua tahun hayatna majallah Auri ‘Angkasa’ tidak pernah memuat sajak pengalaman seorang penerbang, Meskipun direaksi itu bekerya tiga orang penyair: Dodong Jiwaprada, Toto Sudarto Bakhtiar dan tadinya Hariyadi S. Hartowardoyo.

Keadaannya sekarang bahwa orang gampang sekali jadi penyair, karena sajak yang tidak ada keaslian sama sekali gampang saja dinuat dalam berpuluh majallah dan surat kabar yang sekarang tersebar di Indonesia.

Aku bertanya: sampai dinara perbendaharaan kata penyair dan pengarang kita satu-satu sekarang ini. Bagaimana luas daerahnya, mengenai pengalaman dan pengetahuaninya, yang diiletakkan dalam hasilinya. Di-kumpulkan segala tulisan penyair dan pengarang seorang demi seorang, dibikin statistik penggunaan kata-katanya, berapa banyak macaminya, berapa kali dipergunakannya masing-masing perkataan itu dan dibagi-bagi menurut daerah ilmupengetahuan. Sebab bagi kta perkembangan kesusasteraan adalah juga perkembangan bahasa yang mendukung kebudayaan. Pencipta sastera adalah juga pencipta bahasa.. Aku kira di sini ternyata miskinnya mereka seorang demi seorang, baik tentang yumlah ciptaan, Maupun tentang perbendaharaan katanya, yang akan menunjukkan pu'la betapa mis-kinnya dalam pengalaman dan ilmupengetahuan. Bagaimana dalam keadaan ini mereka mau menciptakan suatu yang monumental?

Pekerjaan bikin statistik bukan pekerjaan seniman sastera, ini bisa diserahkan kepada pekerja-pekerja administrasi bahasa dan kesusasteraan. Tapi gunanya besar sekali buat mengetahui kemampuan sastrawan-sastrawan kita yang terlalu malas buat mencari pengalaman dan ilmupengetahuan yang menjadi bahan buat pandangan hidupnya. Kekuatiran Sitor Situmorang sekembalinya dari Eropa bahwa dia akan biyara dengan istilah-istilah yang orang Indonesia tidak mengerti adalah suatu kesombongan dan penghinaan pada otak manusia-manusia di Indonesia. Tapi kekuatirannya itu beralasan kalau pun pengarang-pengarang Indonesia sudah tidak mau berusana lagi.

Sampai ke11nna Utuy Sontani mempelajiari sejarah Indonesia buat membikin romannya, Tambera? Sampai ke mana studinya tentang ilmu jwa, ekonomi, filsafat untuk membikin hidup tokoh-tokohnya, suasana daerah, suasana zaman, sehingga bisa meyakinkan dan diterima pembaca? Pengetahuan kehidupan Senen saja tidak cuuk buat menulis roman sebesar ini, Meskipun Jassin telah memuji roman iu dengan mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman Tambera dan Kawista di waktu kedatangan VOC tahun 1600 tidak beda dengan apa yang diperduyuangkan di waktu revolusi tahun 1945 dan Jassin secara melindungi mengatakan bahwa Sontani tidak suka baca buku dan bacaannya adalah masyarakat. Di dalam revolusi yang hangat melawan Belanda ketika itu Jassin tidak jernih ukurannya memakaikan sentimen dan sudah pada tempatinya ketokan Dr. Tecuw yang dalam hatinya dibenarkannya. Dengen teliti memakaikan logika dan pengetahuan ilau alam Sontani tidak usah membikin kesalahan pengarang primitif bahwa buah appel tidak busuk dibawa dari negeri Belanda dalam perjalan yang berbulan-bulan lamanya dengan tidak ada kamar es di kapal layar waktu itu dan bacaan Pim en Mien tidak mungkin di zaman itu, karena buku itu buku pelajaran diseokolah H. I. S. tahun 1927.

Kita sekarang sudah boleh menuntut pertanggunganjawab pengetahuan modern dari pengarang-pengarang Indonesia. Kita tidak bisa lagi cuuna tunggu-tunggu ilhum dari siliran angin lalu. Masyarakat Indonesia harus dibikin masak dengan hasil-hasil yang berat, hasil-hasil pengalaman yang sungguh, dikarang dengan penguasaan tehnik dan studi keilmuan satu estetika.

Saya positif tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Balfas bahwa seniman tidak perlu punya perbendaharaan ilmupengetahuan buat menyiptakan hasil-hasilinya dan menghukum essay-essay yang seperti ilmupengetahuan mempergunakan kutipan-kutipan penulis lain. Essay, pun essay kesasteraan harus mempunyai dasar ilmupengetahuan dan perlu punya dokususasteraan harus cuukup. Essay adalah studi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan dinyawai oleh pengaranginya sendiri. Pembatasan pengertian seperti di Perancis dan lain-lain negeri di Eropa, bahwa essay harus mempunyai gaya yang tingan bermain-main dan tidak memberi sesuatu kesimpulan saya mau terima sebagai salah satu macam essay tapi tidak satunya. Pembatasan seperti itu tidak memberi kesempatan pada orang yang karena pembawaannya sungguh-sungguh menjadi penyelasan tentang soal-soal hidup dan membatasi kebebasan individu penulis essay. Lagi pula di Eropa sendiri kita lihat essay-essay berupa studi yang mau memecahkan persoalan-persoalan dan ternyata bahwa individu lebih kuat dari definisi. Bagi saya essay ialah: Karangan yang membicarakan soal-soal manusia dan hidup, dinyawai oleh subyektiviteit pengarang, dalam mencari arti hidup dan penjelmaannya. Apakah gayanya seperti gaya Asrul Sani yang mau membikin essay jadi sajak ataukah gaya Camus yang dari roman membikin essay, di sini tidak menjadi soal.

** Seniman yang hanya mencari ketenangan alam, belum mengenal se-luruh hidup dan hasilnya hanya merupakan salah satu daerah pengalaman. Seniman yang mempunyai pribadi tidak tenggelam dalam kehidupan kota yang bergolak. Dalam sejarah kesenian tidak kurang contoh seniman yang menjadi besar dalam kemelaratan. Dan apakah menjadi soal apa pekerjaan seniman yang sungguh? untuk menjadi besar? Dia boleh tukang roti, tukang sol sepatu, tukang set dipercetakan, kalau besar bakat seninya di-sertai dengan usaha yang keras, dia musti timbul sebagai seniman besar. Jangankan lagi kalau dia memang bekerjia di tempat yang memberikan kemungkinan³ yang sesuai dengan bakatnya, misalnya apabila seorang pengarang bekerjia pada suatu penerbitan, suatu mayallah atau pada suatu surat kabar sekaliun, atau seorang musikus bekerjia diradio. Maka tidak bisa kita menerima pengakuan yang lesu, aku tidak bisa menulis karena kamarku sempit‘ atau, aku tidak ada tempo untuk melukis karena pekerjaan lain terlalu banyak’. Ini adalah penyerahan kepada keadaan dan bukan menandakan pribadi keseniman yang besar, yang mau mempeta-ruhkan segalanya buat seninya. Ukuran kita kepada seniman ialah: sampai ke mana ia sudah berusaha, kemudian: bagaimana kwaliteit yang sudah di-capainya? Ukuran yang kita pakai selama ini biasanya hanya ukuran yang kedua, dengan tidak mengindahkan yang pertama. Jika kita pakai ukuran yang pertama, mungkin kita tidak bisa mengharga lagi apa yang kita anggap masih bernilai, karena ternyata hanya hasil main-main dengan usaha yang minim. Sebab itu ukuran kita harus satu kebulatan usaha dan hasil untuk bisa mengharga sesuatu tiptaan sewajarya.

Kekuatan Khairil Anwar sebagai penyair disiniIah letakna. Dalam usianya yang hanya 27 tahun, 7 tahun yang akhir merupakan hidup yang intensif dalam segalanya, dalam mencari pengalaman dan menambah pe-ngetahtuan. Di dalam 7 tahun itu dia membuat 75 sajak, antaranya yang cukup baik dirasanya 13 biji. Ini menundukkan bagaimana sungguh-sungguh Khairil Anwar dalam pertanggunganjawab mengenai kesenian (Antara tanda Kurung: Dia plagiat sajak Hsu Khih Mo ketika perlu uang buat injeksi salvarsan pada seorang dokter yang menganggap uang lebih penting dari seniman).

Mungkin seni yang paling sedikit memerlukan alat-alat ialah kesusas-teraan. Alat-alat yang diperlukan hanya kertas dan pena. Tidak ada pena cukup potlot. Kertas yang kosong tiba-tiba jadi berharga sesudah di-tulisi. Tentu saja kalau cukup bakat dan persediaan bahan seniman be-rupe pengetahtuan dan pengalaman. Bakat bisa dipertinggi dan disempur-nakan. Pengetahtuan dan pengalaman bisa dicari. Dengan adanya perpus-takaan-takaan dan museum-museum kalau perlu bisa dengan gratis atau dengan pengeluaran uang sedikit. Yang utama: kesungguhan hati. Uang yang cukup buat mengongkosi sekolah sampai habis sekolah tinggi, membeli buku-buku berlemari-lemari dan buat ongkos ciari pengalaman mengelilingi dunia, tidak menjamin seseorang menjadi pengarang yang besar. Dengan ini tidak dikatakan bahwa uang yang banyak akan mematikan diywa pengarang yang sungguh-sungguh insaf akan kepengarangamyaya.

Lebih banyak keperluan seniman-seniman lapangan lain. Seniman pelukis akan memerlukan cet dan kanpas, seniman pemusik salah satu atau beberapa alat musik dan di sini di samping pengalaman syarat mutak ialah pengetahuan dasar mengenai kesenian itu. Tapi pun di sini yang menentukan ialah kesungguhan pribadi seniman sampai ke mana ia sanggup berusaha untuk menyapai seni yang tinggi.

Terdadinya hasil kesusasteraan yang berarti ialah di mana ada pertikaian antara pengarang dan dunia sekelilingnya. Di dalam pertikaian ini pengarang memberikan penyelesaianyna dan penyelesaian ini berupe sajak, cerita pendek, roman atau essay. Di dalam penyelesaian inilah kelihatan pribadi pengarang, ketumbuhan pikiran dan dayatiptanya, dan berapa umurnya sebagai pencipta. Sebab umur pencipta sebagai pencipta—keciual yang masuk golongan istimewa—biasanya tidak sama dengan umur hidupnya. Mengetahui ini sungguh tidak enak bagi pengarang yang bersangkutan dan biasanya dicarinya jalan bagaimana supaya matinya tidak kentara. Dan untuk membuktika nbahwa ia masih hidup, ia terus memberikan apa? , Meskipun minainya diketahuinyna sudah tidak ada. Jadi di sini kita harus hati-hati. Tidak semua aktiviteit berarti kreativiteit. Aktiviteit di sini mungkin hanya bukti yang nyata bahwa seniman sudah mati sebagai seniman. Tanda-Tanda kegelisahan naut seperti ini misalnya berupa pelarian keluar negeri dengan semboyan: mau belayar. Atau: ganti lapangan pekerjaan, dengan janji: nanti kembali lagi kelapangan kesenian. Kalau sudah cukup ciari uang buat persediaan untuk hidup sebagai seniman lagi. Biasanya seniman pelarian seperti ini tidak usah diharapkan lagi. Dia akan tenggelam dalam uangnya dan kalau ia kembali dia sudah betul-betul jadi orang tua yang matang buat pensiun. Ada pula yang mencari jalan lain, yakni berdagang, men-catut serta terus jadi seniman. Jadi semacam pekerjaan rangkap untuk menambah penghasilan. Ya, ya, masyarakat yang salah. Ticak mau menciptakan kedudukan yang enak buat seniman supaya bisa saban hari menyelorkan ciptaan. Dan karena masyarakat ini tidak mengindahkan kehidupan seniman, mengapa seniman akan mengindahkan masyarakat? Lalu timbul filsafat: Seniman boleh korupsi. Demi Kesenian! Kalau bisa ciari uang 100.000 rupiah dalam sekejap dengan menulis buku baiyaan untuk pem-berantasan butahuruf, mengapa kita tidak bikin dalam tiga hari kerya satu buku buat pemberantasan butahuruf? Biar kita jual nama kita, biar buku itu diterbitkan atas nama orang lain yang punya hubungan dengan komisi pemeriksa supaya bisa gel diambil oleh Kementerian PPK. Bukan kita ikut berjasa? Dan kita bisa bikin rumah seharga 90.000 rupiah, supaya sejahteraialah hidup kita anak beranak buat selama-lamanya. nuhnya isi apa yang diukurnya dan lebih merupakan impian keinginan bagaimana harusnya kesusasteraan Indonesia.

Dinasa Jepang dia bertemu Idrus dan Khairil Anwar. Corat-coret Idrus yang anti semangat Jepang diuli: oleh Idrus atas anuyuran Jassin yang selalu menggembirakannya bahwa tulisan'nya itu sangat berharga, sebagai dokumentasi sejarah masa Jepang dan dia menyimpamnya dengan membahayakan dirinya sendiri. Jassin juga yang sebagai redaktur kesusasteraan ‘Panca Raya’ mengumumkan Corat-coret Idrus di bawah Tanah dan mempertahankanya terhadap serangan seorang bekas Heiho yang merasa terhina dengan corat-coretinya yang bernama ‘Heiho’. Di dalam pertahanannya itu ia mengemukakan karangan-karangan Idrus sebagai aliran bercorak Kesederhanaan Baru yang memerlukan dinamik berpikir untuk bisa mengikutinya. Kemudian Idrus menulis ‘Surabaya’ yang menghukum revolusi dan perjuangan dan mengapa Jassin masih juga memajudkanya dengan pleidooi yang hangat supaya diterbitkan oleh Balai Pustaka, sedang Jassin tidak setduyu dengan tendensi cerita itu? Jassin tidak jujur terhadap dirinya sendiri apabila dia mempertahankan karangan Idrus itu dengan memajudkan pertanyaan untuk mendiamkan hatinya sendiri: ‘Apakah sesorang dengan mengeritik kekurangan bangsanya sudah berarti membenyi dan memusuhi bangsanya?’ Jassin tidak bererus terang terhadap Idrus yang bererus terang dan dia menggantungkan ukurannya pada harapan-harapan.

Ada orang mengatakan Khairil Anwar dibesarkan oleh Jassin. Ini bohong. Baik Idrus Maupun Khairil Anwar besar sendirinya. Mereka hanya kebetulan bertemu dengan Jassin yang kebetulan punya kedudukan sebagai redaktur yang berkusa mengumumkan hasil ciptaan mereka. Jassin hanya tukang kumpul, sampai sekarang dia hanya tukang kumpul, tenaga administrasi yang rajin. Mana hasilyiptaaninya sendiri? Kritik dan essaynya belum mencapai tingkat seni. Caranya seperti guru. Banyak mengutip dan menerang jelaskan. Dia tidak keluar dengan pribadinya sendiri.

Jassin hanya memperkenalkan Khairil Anvar di waktu Jepang. Sajak-sajak Khairil Anwar yang dibawanya ke Panji Pustaka tapi tidak bisa diterima oleh redaksi karena takut kepada sensur, disuruh tik oleh Jassin rangkap-6, lalu dibagi'kan kepada kawan-kawan yang berminat kepada kesusasteraan. Dengan demikian ‘Kerikil Tajam’ Khairil Anwar sampai ke tangan Sujoyono, Syahri, Sanusi Pane, Takdir Alisyahbana. Satu buat Khairil, satu buat Jassin beserta kopy tulisan tangan buat dokumentasi kesusasteraan Jassin. Jassin kagum dengan sajak-sajak Khairil Anwar dan dia dengan genibrya berkata kepada Takdir: ‘Sudah lahir aliran baru dalam kesusasteraan Indonesia!’, yang disangkal oleh Takdir: ‘Ah, ini sama sekali tidak baru’. Yakin akan kebaruaninya Jassin mencoba menggolkan sajak-sajak Khairil Anwar dengan menulis satu karangan yang lolos dari sensur dan kemudian dimuat dalam Panji Pustaka. Karangan itu be: nama: ‘Bebberapa sajak expressions’ dengan beberapa sajak Khairil Anwar sebagai contoh.

Sesudah proklamasi sajak-sajak Khairil Anwar dimuat dalam Panca Raya, majallah yang seperti tadi dikatakan kebetulan H. B. Jassin redaktur

SELAMAT TINGGAL, TAHUN ‘52 kesusasteraanya dan kemudian dalam Mimbar Indonesia, yang terbit bulan November 1947, lima bulan sesudah aksi militer yang pertama yang mengakhiri hidupnya Panca Raya dan kebetulan H. B. Yessin pula yang memegang bagian kesusasteraanya.

Di waktu inilah Khairil Anwar ketahuan plagiat dan Jassin mensinyalirinya dalam Mimbar Indonesia. Tapi caranya mengumumkan kesalahan Khairil Anwar begitu samar-samar dan malah diserahkan nyra kepada pembaca untuk mengambil kesimpulan apakah Khairil betul-betul plagiat dan supayya publik menjatuhihukuman. Jassin tidak tegas. Orang yang salah musti dihukum. Dia wasit. Sebagai wasit dia tidak boleh menyeraikan hukuman kepada publik. Ini kesalahan Jassin yang besar. Dia terlalu sayang kepada Khairil Anwar dan terialu banyak memperhitungkan sebab'nya Khairil Anwar plagiat. Khairil perlu uang. Dia punya terjemahan. Tapi terjemahannya tidak ada harapan akan diterima. Karena itu dia bubuh namanya. Tapi ini tetap satu kesalahan.

Untung Khairil Anwar meninggal dunia. Dan Jassin tulis lagi-kata? peringatan yang enak buat orang mati. Takala nama Angkatan 45 jadi pertikalan, Jassin munci! lagi mempertahankan. Angkatan 45 ada. Angkatan 45 lain dari Pujangga Baru. Kesusasteraan sesudah perang lain dari kesusasteraan sebelum perang. Dan Khairil Anwar diambung-ambungkan lagi sebagai pelopor angkatan 45. Idrus, Asru! Sani, Rivai Apin, Nuraini, Pramoeja Ananta Toer, pahlawan-pahlawan kesusasteraan. Meskipun masing-masing mereka tidak suka penamaan angkatan 45, kecuali Rosihan Anwar, Sitor Situmorang, Mokhtar Lubis dan Khairil Anwar masa hidupnya. Mereka tidak suka pengolongan karena mereka takut akan menjadi tua dengan angkatan yang pasti akan berlalu. Mereka mau tetap hidup terus sebagai pribadi pengarang seorang-seorang dan pembagian dalam angkatan ialah pembagian kesejarahan yang perlu buat ahli kesusasteraan. Buat Jassin sendiri di samping itu apakah tidak ada kompleks terhadap Takdir Alisyahbana yang dikiranya telah mempermain-mainkannya waku membayar honorarium pentejemahan ‘Renungan Indonesia’ karangan Syahrazad? Tabulah kita sekarang bagaimana ukuran Jassin. Dia tidak selalu bisa mempertahankan kemurnian pendisarana pertimbangannya. Jassin harus digantung.

Nah, saudara pembaca. Jassin sudah digantung. Dan 1953 adalah permulaan hidup baru.

H. B. Jassin

Jakarta, 31 Desember 1952


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.