KONFRONTASI MENCARI DASAR
SITOR SITUMORANG
KOLOFON
KONFRONTASI MENCARI DASAR
oleh
SITOR SITUMORANG
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 37 • Th. VII • 11 September 1954
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Tetrahedral Planetoid (1954), karya M.C. Escher
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
KONFRONTASI MENCARI DASAR
PUJANGGA BARU telah dikubur sesudah kematian yang dilur, hal mana diberitakan pada khayak dengan kalimat pendek-lucu yang tidak seimbang dengan artinya dengan menyebut usia ya sampai ada 20 tahun. Di balik alasan menghentikan penerbitannya dapat dibaca peribahasa populer zaman sekarang: Nafsu banyak tenaga kurang.
Rupanya hak hidup majalalah penggantinya, KONFRONTASI, diharap akan diperoleh dengan penambahan tenaga baru serta dasar yang lain (?) dan lebih luas.
Dari tokoh lamanya tinggal S. Takdir Alisyahbana, sedang yang se lainnya baik yang mati Maupun yang masih hidup belum ditulis riwayatnya. Akhdiat Kartamiharja yang juga disebut semacam tokoh “peralihan” ikut duduk dalam dewan redaksinya yang rupanya ditambah dengan tenaga Hazil Tansil, nama yang seperti banyak nama dimajalalah kebudayaan lain menimbulkan pertanyaan kapan dan dengan cara bagaimana mereka itu sebenarnya memberi bantuannya pada majalalah yang membawa nama mereka itu? Jadi sekiranya pun nama itu dihilangkan peminat tak akan bertanya kenapa mengapanya seperti hilangnya nama S. Udin.
Memang hal itu gejala khas Indonesia di mana seorang intelektuial atau pendukung kebudayaan belum sanggup menjadikan kegiatan “kebudayaan” semacam full-time yob, mela inkan hanya sambil-sambilan atau mungkin sebagai “hobby”, seperti orang suka bikin pesta untuk mempertahankan suatu gensl sosial, di sini di lapangan kebudayaan. Dalam hal ini salahnya tidak kita cari pada orangnya saja, tapi kita juga insyaf bahwa itu adalah akibat keadaan “umumi”. Pertama kegiatan demikian tak akan cukup memberi nafkah. Sebabnya yang lain yang berbagai itu dan bersangkut paut dengan “krisis” yang sejak berdirinya Pujangga Baru tak habisnya menjadi persoalan, bahkan yang menjadi sebab terbitnya Pujangga Baru ditinjau secara historis. Mencampuri hidup kebudayaan di Indonesia selalu masih terbentur pada soal Barat-Timur yang dibuat-dibuat akan sungguh?
Dalam kata pengantar nyia redaksi Konfrontasi membeberkan acaranya, sebab majalahnya lahir dari suatu Studieclub yang senama, disertai semacam diagnose, yang Sekalipun tidak disebut nama penculisnya disangka adalah buahfikiran Sujatmoko yang dimaksud sebagai suara redaksi. Kandungan serta gaung suaraini lah yang akan kita sintuh seterusnya yang nadanya khas bagi suasana keintelektuilan “Indonesia” yang menurut istilah dunia asalnya dapat dirumuskan sebagai keintelektuilan yang liberal-progressip, dengan tidak terlalu menekankan arti politik yang sering dihubungkan dengan perkataan progressip.
Suasana itu diberi aksen rasanya oleh macam-macam hal antaranya turutnya Beb Vuyk, yang di samping sebagai pengarang “melulu” kita anggap sebagai intelektuul yang sebahasa dan senafas dengan kata pengantarnya majalah Konfrontasi.
Sebenarnya dalam kata pengantar-nya (karangan utamanya) tak ada diterakan sesuatu program yang tegas melainkan suatu acara kerja dengan mengumumkan persoalan-persoalan yang akan dikupas. Dengan penama-an persoalan-persoalan itu dan dengan demi-kian memberi arah tertentu pada nyorang agaknya meletakkan dasar yang sangat luas: Faktor Kebudaya-an dalam Pembangunan Ekonomi,
KONFRONTASI MENCARI DASAR
(Lanjutan halaman 18)
Kita dan India, Kita dan Islam, Kita dan Eropa, Kita dan Amerika, Kita dan Komunisme, Kita dan Massa Lampau kita.
“Jelaslah betapa ‘kita’ dihadapkan pada begitu banyak segi dari suatu persoalan: Yakni persoalan apakah ‘kita’ itu.
Selain acara yang hebat dan luas yang menghendaki kegiatan pemikiran yang luar biasa oleh spesialis di lapangannya masing-masing, dan bukan seyaca peminat, acara ini menundukkan keruvenat permasalahan kita untuk menentukan tempat berdiri ‘kita’, sebab justeru ‘kita’ bertolak dari suatu tanda tanya.
Supaya mendapat tempat berpijak sedikit, karangan induk itu mulai membahas situasi kesusasteraan kita, dan mempergunakannnya sebagai yermim dan sebagai ukuran bagi perkembangan kebudayaan umum.
Penulisna membuat steekproef di lapangannya itu; dan mengemukakan pendapatnya tentang cerita pendek serta sajak yang ada, yang menurut pendapatnya berputar-berputar dalam kungkungan psykhologisme dari suatu kecali. Samllahu la bertauna apakah hanya soal teknik saja maka penulis Indonesia belum menulis suatu roman?
Dengan pendapat di atas dapatlah diketahui dalam hal mana penulis masih kecawa dan apa yang diharapkannya sebagai bukti dari daya cipta kita di lapangan kesenian. Memang benarlah penulis itu dalam pendapatnya di atas, artinya sepanjang kita bebas menuduhnya bahwa perhatian-nya rupanya terbatas pada cerita pendek dari orang-orang tertentu dan sajak-sajak orang tertentu, serta tidak ada tempo menobros tirai ampas hasil kesusasteraan yang dalang majahal-majahal kita sama mendapat tempat dengan hasil yang berarti, Sekalipun tidak banyak dan belum dapat digolongkan sastera “besar”, yang tidak berarti bahwa hasil itu tidak termasuk sastera yang autentik dan bukan hanya periytataan psykhologisme akan tetapi didorong oleh “penghargaan kesu-aa'an” terhadap manusia, hidup, dan lain-lain nilai yang sama? kita kenal. Dengan tidak perlu berbangga maka misalnya, bila ampanya sudah dibuang, untuk mana perlu overzikht yang sesungguhnya, yang menyadil tugas kritik yang cakap, akan tersa-sa sesuatu yang berharga. Buang sa-ja tempo menobros ampas yang ter-dapat dalam majahal Kisah misal-na. Akan kelihatannya inti.
Memang: Kalau kita bertolak dari suatu dasar pertimbangan sastera internasional, dan bilangan berarti Barat, yang kita justru barulah suk-ma-ma kecil, yang dengan bakatnya se-akan-akan masih terkurung dalam per-soalan lingkungan sendiri. Maar wat wilt gy? Orangna kebayikan “mu-da” sedang orang Pujangga Baru sudah mandul pada usia 40 tahun, justeru pada usia orang dapat di-harapkan menulis dari sukaan besar.
Logi bakat-bakat asli yang ada ngen meninggalkan tugasca, kalau ia le-pas menjelayah dunia luas yang sudah terbuka itu. Bakat-Bakat yang ads, di luar yang tenggelam dalam pery-taan mengharungi lautan luas yang terbuka, justeru mulai memperhati-kan dunia sekellingsnya secara lang-bung: jika kedesan yang keluar apakah ini bukan pertanda dari ke-nyataan sesungguhnya? Jika bakat yang melakukan avontuur keluar dan merangkak-merangkak menuyu perwuyudan dirinya sebagai asesteran, yang acirinkha akan turut menapakkan ke-dirian manusia Indonesia, masih selalu hanya menjadi gejala krisis, apakah ini bukan sudah sewayarnya? Kalau penulisna mau melihat dan menghargai kesenian (Kesusas-teraan) sebagai yang seharusnya ber-tugas sosial, maka penulis itu sendiri lah yang harus lebih dulu menghargai yang telah ada dengan menghukum mereka, yang “terlalu condong ke Barat” justeru terlibat dalam krisis yang harus ditempuh; bukan sebagai penyesualan tapi tuntutan pengatasan ke arah kesedaran baru, mematangkan dan dimatangkan kri-sis.
Kata pengantar itu justeru bertolak dari dasar3 ukuran Barat itu kau-lau beryantana mengapa belum ada roman (maksudnya roman besar, bar-rangkal) dalam tradisi Stendhal, no-vel Balzoa, dsb). Janganlah dilupa-kan bahwa roman menurut ukuran demikian pun sudah menjadi perma-salahanan di dunia Barat dan memang sejalan dengan krisis kebudayaan umum di sana dan bersangkutan de-ngan kenyataan atomising dan ver-cenzanng daripada individu, hing-ga jatuh dalam durang psykholo-gisme, dari durang mana mervka sementara itu telah berusaha meng-ikut-ikut “jalan kembali”, bersamaan dengan ‘kita’, dalam perspektif per-kembangan yang dipersingkat. Susa-sana deea dan susana krisis umum di dunia berdampingan dalam dunia kesusasteraan kita.
Apakah bahan roman Stendhal, Balzac? Tentu “tokoh”nya, hasil m-syarakat tertentu, dan “kepercayaan” pengarangnya.
Tokoh dan pengarang adalah hasil fase kebudayaan tertentu.; yang me-ngenal gayi hidup tertentu. Levens-stiyl daripada sang individualis se-bagai hasil dari gerak kebudayaan yang dikenal sejak Renaissance.
Buat kita di Indonesia perkembanga-nan manusia modern itu tidak be-gitu lurus jalannya, melainkan ber-belit. Tak ada rasanya orang Indo-nesia kalau riwayatna diteliti yang menunjukkan garis-garis perkenbangan individualis hingga dapat diyadi bahan roman menurut ukuran di atas. Da-man perkembangan yang akan kelih-atan garis terputus-terputus dan garis-garis yang silangmenyilang atau parallel: terpe-cahi-cahi tertarik oleh berbagai kutub dan bukan dalam satu macam kete-gangan dari satu kebudayaan. Orang Indonesia sekarang bahkan manusia di Barat sekarang sebagai tokoh ro-man hanya dapat ditangkap secara skhematig dan fragmentaris seperti gambaran hidepnya yang tidak kenal kesatuan gayi lagi. Tak ada suatu stiyl hidup yang mengikat kita dan mengikat mereka lagi. Sega-Sega ga-rgati dan kecemasan hati kita jus-teru diskhabkan keadaan satu stiyl, satul-satul “kepercayaan bersama”.
Tuntutan akan yang “nasional” yang Indonesia, sebenarnya berarti menuntut suatu stiyl hidup bunst selu-ruh bangsa. Di Barat (termasuk Amerika dan Sovyet Rusia) justeru in yang dicari atau dinyatkan ada pada mereka. Dilihat dari pusatnya, Eropa, atau lebih tegas Eropa Barat, maka Amerika dan Sovyet hanya semacam aspek yang dimulatkan.
Jika bangsa Indonesia itu berha-nil menemukan stiyl hidupnya di zaman ini, ini berarti bahwa la juga pada dasarnya telah menjumpai stiyl hi-dup bagi seluruh dunia yang sudah terikat erat-erat. Demikian eratnya per-masalahan ini.
Jika kita mengharapkan suatu re-naisance, timbul pertanyaan naisan-ce dari ibu dan bapak mana? Pada hemat kita mengharapkan, “kelah-ran” atau “kelahiran kembali” itu menandakan masih adanya keperca-yaan akan arti manusia dan arti hi-dupnya, sebagai pokok minimum dari tiap tindak budaya. Dan kalau kita melihat sejarah itu sebagai kemay-duaan dalam arti mutlak atau relatif maka kita tentu dapat melakukan “pilihan” daripada cipta-cipta yang dil-la-hirkan sejarah itu yang kita anggap sebagai kemay-duaan. Soal: cipta mana yang dapat kita sebut “kemay-duaan” dalam sofaryah? A priori kita meng-kesimpangkan pendangan agama, yang tokh mengundurkan segala “pengharapan” kecakarit, sehingga selalu bersikap dualitis dalam meng-hadapi soal dunia, soal budaya.
Dari sudut penyumunan kemay-du-an Itulah kita meminang nada suara-ka kata pengantar Konfrontasi itu sebagai nada suara: arrive Seakan-Seakan suara itu percaya akan kenyataan revolusi! yang disebut telah ada. Pada hal hanya suatu flirtation dengan mythe umum. Suara kata pengantar itu kehaur dari kepercayaan lama akan arti keinteletukitan, suara yang tidak memundukkan telah menempuh kegemasan dan kebhinbangan, hanya weldenkendheid, yang tidak jauh dari paham stgril. Ke mana revolusi? Apakah yang terjadi di Indonesia itu dapat disebut revolusi?
Pada hemat kita tidak, sekalli pun telah berhasil “memenangkan politik Dan kemenangan politik yang justeru rus bersifat politik; hasil ”kebe-tulan“ dari perimbangan politik du-nia, yang didorongkan oleh kemarna-an serta harapan yang belum jers dirumuskan dari rakat umum pada keputusan politik. Pimpinan resmi dari revolusi itu adalah orang yang berrevolusi dengan otak tapi tidak berrevolusi dengan hati.
Satu dan lain hal dapat dibenarkan dengan analisa yang jujur dari se-jarah revolusi itu. Jika la masah disebut revolusi, maka itu hanya lahir dari keinginan flirtation, dan dalam kata pengantar itu dibuat “dalan demagogie. Memang demagogie inte-lektual, dan bukan demagogie kasai yang hingga kini masih dihamburkan dirapis-dirapis umum dengan tiada meng-hargai pengukiran sebagai manusia berpikir tapi sebagai stomee.
Kata pengantar itu kehaur dari nasu-intellectualisep yang tidak tida konseknern dalam berpikir, lebih be-nyak menurun keperiytayana yang ber-cari-cari pada kehidupanyana serta ukuran linvanya dalam perfaringan tenaga yang ada, dalam hal manu-sektor Revolusi hanya daerah keyihi Walaupun penting.
Pertayakah penulis pengantarnya bahwa tenaga kerakyatan berdiri di belakang revolusi tadinya? Kala kita menuduh pimpinan harus kita tarik kesimpulan bahwa ia pertayah akan adanya tenaga itu. Di manakah itu dan bentuk apa? Middenstand yang skhat, pamongpraya diywa baru?
Captains of industry? Tentulah hars kita ciari kejurusan ini kalau mengikutiy jalun pikiran penulisnya, dengan melampau tenaga sosial lain seperti kaum buruh dan tani, dalam arti golongan sedar “kelas”, setidak-tidaknya sedar akan kedudukannya yang hakiki dalam persoalan baru. Tenaga itu ada, tar‘ justeru lepas dari pimpinan yang dituduh oleh penulisnya dan lepas dari suasana karrangannya. Kalau Alidit, dari PKI berkata bahwa revolusi dulu hanya suatu repetisi, kita tafirkan bahwa revolusi sesungguhnya tak ada terjadi. Ucapan inilah tantangan yang paling tegas pada jiwa kata pengantar itu; pada pimpinan yang dituduh dan pada myth revolusi kita.
Tak ada rasaan tantangan yang lebih serius. Yang selainnya hanya akan berputar dari analisa keanalisa saja tentang “penyesualan creative sepanjang kemungkinan” yang diberikan keadaan di Indonesia“. Suatu ucapan yang menyerah. Seakan menyera dalam suatu sudut yang diperkenankan oleh pergolakan tenaga-tenaga di dunia.
Menuduh pimpinan yang berkusa (baik resmi dalam pemerintahan atau yang diluarans) tidak kenal nilai-nilai adalah suatu tuduhan yang terlalu umum sifatnya hingga tidak nie ngena. Nilai mana? Dan dari dasar apakah tuduhan itu bertolak? Sisa-Sisa dari nilai-nilai lama tentu masih dianut sebagai dekor.
Juga intelektuall model lama, yang mempunyai hak-hak lama dengan tidak memenuhi uyian hidup baru, juga berpegang pada ukuran3 lamanya, dan dengan tiada gewelensawroeging pula, menyapai atau mempertahankan kedudukan yang sudah “settled” dari dulu.
Sesuatu pembicaran kalau hars jak berbaut sekarang haruslah bertolak dari keperiyasang yang tegas. Boleh misalnya keperiyasang individualis. Boleh yang lain. Tapi tak guna lagi pembeberan yang agenmene, kalau keinteletkuall kita berpretensi sosial, disaman ini, di saat ini. Atau diam seja.
Kata pengantar itu berbaut pula kesalah yang umum, yaitu mengurkur perkembangan kebudayaan umum atau krisianya dengan kejadian di lapangan sastera. Memang terkadang ada jenis sastera (kesenian) menundukkan tendens kebudayaan umum. Terutama senibangun, seni pahat, seni rupa umumnya. Tapi da lam sejarah cukup dikenal kenyataan bahwa kesenianyana justeru berkembang disaman runtuh kebudayaannya. Jika seratus tahun terakhir dari Eropa kita lihat sebagai fase “ketuan” akan terlihat kenyataan bahwa banyak dari hasil kesenianyana yang kita hargai sebagai kesenian, justeru lahir di dalam yang seratus tahun itu. Denikian disaman Socrates, Aeskhylus, Sophokles, Aristophanes dsb. di Yunani. Demikian disaman Li Tai Po, Tu Fu di Tiongkok, disaman Confucius disaman Lao Tze.
Tidak dapat dimutlakkan hasil kesenian sebagai gejala yang mendampingi kebudayaan umum. Kesenian itu sendiri harus dihargai an sikh. Komentar yang dihubungkan dengan kebudayaan umum adalah soal kemudian.
Justeru verwerkeliking dalam kesenian dari hasrat suatu levensstiyl menandakan akhirnya, seperti tertiyip tanya Borobudur misainya buat gaya hidup yang melahirkannya. Tapi kita iantas harus hitung berhad.
Memang suasana dunia pemikiran Indonesia memerlukan perangsang yang hebat4, dan bukan perangsang sekadar perintang waktu.
Hal ini meminta “amal”, amal keseniman atau keinteletkuall.
Jika kita menolak Barat sebagai masalah yang seharusnya yang sudah diatasi atau sudah dilampau, haruslah pula kita keuwar dary/peryetilanah keinteletkuall Barat itu/kalau tidak baiklah kita jangan terlalu membroskan perkataan tentang revolusi (yang dimythekan supaya tak usah berpikir lagi di luar garis-garis pemikiran yang telah diguriskan kian).
Ada segolongan seniman misainya di Indonesia yang sudah melakukan pilihan tegas, seperti mereka yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat. Artinya kalau kita hendak menganjurkan seni yang engagec. Dengan tidak perlu menyedui teori kesenian dan paham masyarakat mereka, harus disedari bahwa ini suatu gejala yang penting. Dalam kata pengantar Konfrontasi hal demikian lepas dari perhatian persoalan seperti juga sektor-sektor lain.
Dan berkenaan dengan zeniman: Sepanjang seniman itu tidak pertama-pertama melihat atau belum merasakan kebutuhan akan “pengerahan diri buat masyarakat“, tugasnya tiada lain daripada menyedari perkembangannya sendiri sebagai seniman, berkenaan dengan keakhlian dan tentu juga dengan ”sukmanya“. Ada keadaan di mana orientasi kemasyarkatan itu akan merupakan dorongan ke arah pendalaman dan perluasan jangkauan sukmanya, tapi tidak perlu dalam acuan sesuatu programma, melainkan hanya sebagai sesuatu yang dirasakan ”individuul“. Dengan denikian ia setidak-setidaknya turut memataangkan krisis itu hingga memungkinkan kelahiran baru. Bicara tentang krisis dan mengalami krisis adalah dua soal. Dan menurut ujud nya memanglah seniman dan intelektuil yang bukan hobbyhobbyan itulayang akan mengalaminya dan akse mengatasinya dalam kelahiran bar atau kehancuran menjadi pupuk Pengalaman krisis tidak kelihata: dalam isi pertama dari Konfrontas: Kelemahan Pujangga Baru teru melanjut dalam Konfrontasi.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.