OFFENSIF KESUSASTERAAN 1953
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
OFFENSIF KESUSASTERAAN 1953
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Pujangga Baru
No. 8 • Th. XIV • Februari 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Orator (1935), karya Donato Rico
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
OFFENSIF KESUSASTERAAN 1953
KURANG LEBIH SATU setengah tahun yang lalu, untuk mengatasi apa yang lazim dinamai ‘kelesuan dalam dunia kesusasteraan’, pemimpin lampiran kebudayaan Gelanggang telah memulai offensifnya. Beberapa pengarang diharapkan mereka akan kena todiknya: Anas Ma'ruf, Abu Hanifah, Usmar Ismail, Pramoeja Ananta Toer, Akhdiat K. Miharja dan lain-lagi. Selain Anas Ma'ruf serta beberapa orang yang mempergunakan nama samaran, tak ada lagi yang menangkis serangan-serangan yang dilemprkan itu, sehingga tantangan yang tidak berbalas ini merupakan tarian gendangpencak yang molek. Soalnya dalam hal ini harus dicari pada pertanyaan, adakah serangan-serangan itu tepat ditujukan pada sasaran, mengenai intipatinya atau tidak, dan adakah tepat pada waktunya.
Kelesuan itu sendiri bukanlah masa yang patut disesalkan, karena tiap-tiap usaha menghendaki persiapan, perjuangan dan perhitungan. Lagi pula dalam dunia seni, tiap seniman hanya diwakili oleh hasil seninya dan sama sekali bukan oleh tubuh dari darah dan daging.
Sungguh tidak buruk apabila perhitungan yang toh menjadi konsekwensi dari persiapan dan perjuangan itu dilontarkan di gelanggang kesusasteraan. Tetapi ini adalah terbatas pada parasaniman sendiri, dan tidak di luar daripadanya. Dalam tiap saat seorang seniman telah mengadakan perhitungan dengan dirinya sendiri, Sekalipun ini dianjur-kan oleh H. B. Jassin yang bukan seniman. Keritikus Jassin menghendaki agar tiap seniman tidak mengelakkan tanggung jawab pengarang dan menggeserkannya pada masarakat. Bagus sekali. Tapi Jassin tidak pernah menyadari betapa hebatnya perhitungan yang merupakan peperangan diri tiap pengarang, tiap ia sadar, tiap ia jaga. Dan apakah perhitungan yang dijelmukannya yadi buahsastera itu berhasil atau tidak, hanyalah tergantung pada dayatiiytanya dan bukan pada pergolakan di dalam. Juga dalam hai ini soal-soal kemasarakatan yang diharamkan oleh Jassin, punya pengaruh besar, karena akhir-akhirnya pengarang adalah juga makhluk masarakat. Mengarang hanya satu segi dari kehidupannya dari begitu banyak segi yang harus dikerjakanya: di rumah jadi kepala rumah tangga, jadi ayah, jadi penge-mong, jadi pembayar pajak, penelan nasi, pencinta; diuwar rumah jadi hamba undang-undang lalulintas, jadi pegawai, setter, penjilid, pem-bohong atau penipu bahkan pembunuh dan kemudian dalam hidu-hidu kemasarakatan baru ia jadi pengarang.
Rencana offensif Jassin (atau generalcombat?) sebenarnya sudah dimulainya dengan penutup pidato-radionya, jug: sebagai penutup tahun kesusasteraan ‘52, sungguh banyak mendapat perhatian. Ia tekankan soalnya pada masalah, bahwa untuk menyaga kemurnian ciptaanya seorang seniman senantiasa berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan sekelilingnya dan dengan masarakatnya. Dengan diri sendiri karena dia harus menyaga kejernihan rasa dan fikirannya dengan sekeliling dan masyarakat, supaya kekacauan dan kekeruhan dalamnya tidak memburaikan alamciptanya dan mengeruhkan ukuran nyya. Dan unuk ini diperlukan keperibadian semimrn yang kuat. Ucapan yang ditujukannya pada seniman ini tidaklah berguna, apalagi kalau scorang kritikus yang mengucapkan nyya, karena ini segera menjadi pangetahuan pengarang apabila ia telah mulai menceburkan diri dalam kesusasteraan. Orang yadi meragu adakah ucapan itu ditujukan kepada dirinya sendiri—kepada kritikus Jassin. Bahwa ia memperlihatkan goodwil-nya dengan ucapan itu ia main silat dengan membuat perhitungan dengan dirinya sendiri di Zenith no. 2. tahun 1953. Tetapi apa yang dimaksudkan nyya sebagai perhitungan dengan diri-sendiri itu tidak lebih daripada sebuah ralat kecil'an dari kesalahan kopy di atas zetsel yang sudah telanjur tercetak. Perhitungannya hanya merupakan apologie yang pengecut, Sekalipun ia bikang dengan kata-kata dramatisnya: Jassin sudah digantung. Dan dengan tahun 1953 ini kita memulai hidup baru.
Jassin tidak berani mergakui, bahwa ia pernah jadi seniman, jadi pengarang yang telah mati sebelum dilahirkan. Ah. kalau saja ia mau melihat Pancaran Citaya. Jadi proklamasi bahwa ia telah menggantung dirinya sendiri tidak ada gunanya. Karena nyg telah lama mati sebelum menggantung-diri. Inilah jadinya kalau mau dramatis-dramatisan. Dan yang selama ini terdengar dari Jassin hanya rohnya yang mengembara kehabisan tempat, baik di dunia Maupun di akhirat.
Dan sungguh tak dapat difahami oleh siapa pun mengapa Jassin tak suka apabila seorang pengarang mencari penghidapan (uang) di luar jabatannya sebagai pengarang. Apakah buruknya mencatut! Mencatut di waktu revolusi sudah habis! Khairil juga moncatut. Berdagang adalah pula tabu. (Tentu saja ini dipandang dari jumlah uang masuk!) Tetapi Jassin pun tidak keberatan kalau seniman jadi tukang roti, tukangsepatu, tukangset dipercetakan. Seniman yang menjadi besar dalam kemelaratan. (Tentu ini dipandang dari jumlah uang masuk juga). Orang pun tak boleh mencemarkan dirinya sebagai pegarang dengan menulis buku pemeliharaan baca-tulis, Sekalipun mengandung nilai sastera. Tetapi sungguh aneh mengapa Jassin sendiri mencari duit dengan mengumpulkan dan menerbitkan karangan dari pengarang-pengarang yang mulai tahun 1953 ini dicatiyimakinya. Tentu saja tepat penamaan nyari duit ini, karena i toh akan marah bila tak terima honorarium dari bungarampainya Gema Tanahair? Ya, Sekalipun dengan senyum-mulia ia dengan mati-matian akan membujuk dirinya: ini adalah untuk kepentingan kesusasteraan, dan orang boleh membuktikannya.
Keuangan yang menyenangkan adalah baik bagi tiap orang. Dan pengarang adalah juga orang biasa. Mengapakah Jassin tidak mengutuki Voltair yang bukan saja pengarang tetapi juga punya kegiatan-kegiatan lain?—filosof, pengusaha berbagai pabrik dan berhasil pula dan juga menjadi kayaraya karenanya? Apakah yang diharapkannya dari seorang pengarang Indonesia? Sejenis dengan Khairil, dengan keuangan yang buruk. sebentar dilahirkan sebagai pengarang kemudian sebagai manusia? Sejenis dengan Haudelair? Sungguh menjadi lelucon bagi Jassin untuk menentukan kehidupan seseorang menjadi simpel sebagaimana ia hendakkan. Kehidupan ini besar—mahabesar malah. Dan bila kehidupan ini seekor beruang yang gesit, Jassin hanya menangkap sehelai bulu-buntutnya. Alangkah janggal bagi seorang kritikus yang menyakin-kan bahwa bulu-buntut yang sehelai adalah beruang. Tetapi ini dapat dimaafkan kalau diingat bahwa daerah perjalanan Jassin sangat terbatas: kantor, rumahnya sendiri, rumah Balfas dan rumah-rumah mereka yang ia tidak kenal tetapi yang ia suka mampir sebentar untuk membuktikan bahwa ia pun punya jenis sebagai makhluk.
Dalam pidato-radionya yang juga dimuatkannya di harian MIMBAR INDONESIA (ia mendapat ruangan tertentu untuk melontarkan offensifnya di situ) hanya bisa diambil pertentangan-pertentangan antori satu dan lain alinea. Ini bukan disebabkan karena pertentangan yang timbul dalam batinnya dan kemudian tulisan itu merupakan prhitungan yang bulat, tetapi mendekati reportase alam pikirannya yang belum selesai. Dan apa yang dinamainya perhitungan adalah selembar sobekan ujung picisan di dalam kantong belaka. Mula-Mula ia bilang bahwa Penyelidikan kesusasteraan dan sejarah kesusasteraan hanya terbatas pada penilaian isi kesusasteraan dan penyelidikan menge-nai tumbuh dan berkembangnya seperti kelihatan dalam hasil-hasilnya. Memanglah sangat tepatnya bahwa kesusasteraan hanya dinilai dari hasilnya, dan bukan penciptanya. Tetapi mengapa kemudian Jassin mengecam pengarang-pengarang yang dinamainya pelarian dan mati atau mati per-lahan-lahan? Bukankah seniman diwakili oleh hasilnya? Dan hasilnya yang terbesar pula? Tolstoi tidak akan cemar namanya dan juga tidak mati setelah menerbitkan buku-buku nya Masa Kanak-Kanak dan Sevastopol. Steinbeck tidak oleh Wayward Bus-nya. Abdul Muis tidak oleh Surapati-nya (bahkan naskahnya Anak Surapati pun tidak). Dan sungguh tidak pada tempatnya kata-kata lari dan mati dibuat kudalumping di tengah gelanggang. Dalam revolusi Indonesia yang baru lalu tidak ada scorang Indonesia pun yang melarikan diri. Memang banyak orang yang padam harapannya sebagai republikan dan ikut Belanda, tetapi mereka ini hanya sampah-sampahnya belaka. Juga mati terlampau terburu, justru kita baru menerima kelahiran kita sebagai suara kewajiiban yang harus dijalani dan bukan kewajiiban yang harus dikutuki.
Dan apabila seorang pengarang mati, hanyalah tubuhnya, atau bila citanya tida dapat didukung oleh penduduk dunia selingkungannya, untuk se-lama-lamanya. Atau ia jadi pengkhianat citanya sendiri, bukan pengkhianatan sebagai proses kelanjutan cita, tetapi belokan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Bicara tentang lari, adalul. H. B. Jassin sendiri yang pertama-tama seorang pelarian. Orang takkan lupa akan Jassin sebagai suatu tokoh (Sekalipun tidak penting) dari Pujangga Baru, bahkan sebagai sekretaris redaksi malahan itu pula. Ia telah berkhianat terhadap angkatannya apabila ini tidak dilihat dari jurusan ikelanjutan cita. Soalna sebenarnya bagaimana kita memandang, dari yang buruk atau baik. Dan apabila dengan perhitungannya untuk tahun 1953 Jassin lebih banyak cenderung pada yang buruk maka tidak ada salahnya tentangannya disambut dari yang buruk pula.
Bagaimana sikap Jassin terhadap Rivai Apin yang dianggapnya mempunyai pahlawan plagiat Iwan Si: natupang, adalah terlampau overbodig. Jassin sendiri, adakah sudah mempertimbangkan puji-annya pada Jalan Tak Ada Ujung dari Mokhtar Lubis yang mana telah ada orang yang menganjurkannya untuk memperbandingkan dengan film This Land Is Mine yang dimainkan Kharles Laughton da Maureen O'Hara? Tukasannya terhadap Asrul Sani sebagai pengarang melempem, adakah sudah ia menukas dirinya sebagai pengarang melempem didiyaman Pujangga Baru dahulu?
Dan se-akan-akan ada penghinaan yang langsung ditujukannya pada Utuy T. Sontani, bahwa ia sebenarnya melindungi kekurangan-kekurangan Tambera. Kemudian dengan kata-kata gagah mengakui pendapat Teeuw tentang buku tersebut. Da: am hatinya ia membenarkan (Teeuw), katanya. Kalau apa yang dikatakannya terhadap Sontani itu benar dan jujur, maka nyatalah betapa sikap Jassin terhadap parapengarang sesungguhnya. Ia membela mereka, memupuk mereka dan akhirnya menungganginya. Kata yang tepat untuk ini ialah fokken parapengarang muda. Sungguh tidak enak untuk menerima kata tersebut, tidak untuk roh Jassin sendiri Maupun untuk para pengarang. Dan waktu ternyata bahwa binatang-binatang ternak itu tidak lain daripada kuda bagal, maka ya maklumkan perang terhadap mereka dengan kata-kata yang romantis membuat perhitungan.
Hendak kamana Jassin ini sebenarnya? Barangkali ia sendiri tidak tahu. Barangkali ini juga gerak sekarat (kalau roh pun bisa sekarat) karena tentangan dari kiri dan kanan. Ia selalu meneriakkan individu (undivided) aliteit, keperibadian. dengan tiada cukup menunjukkan individualiteitnya sendiri. Bahan-Bahan yang dipungut nya dari percakapan-percakapan lisan sudah cukup baginya untuk kemudian menghantam pengarang yang bercerita tentang dirinya. Apakah faedahnya menjadi nenek-comel, kalau Jassin sendiri tahu bahwa penilaian sesungguhnya hanya terletak pada hasilastera itu. Tidak kurang dan tidak lebih? Jassin sesungguhnya bukanlah wartawan bukang-intervieuw. Ia pun bukan wartawan-kesusasteraan. Apakah ia sudah menggeserkan apa yang dinamainya kewajiбанnya ke arah kewartawanan? Tiap orang yang mengikuti perkembangan kesusasteraan Indonesia dewasa ini tahu benar bagaimana Jassin sebagai hobby mengemplangi Idrus dan Akhdiat. Jassin membuat arca lempung yang dinamainya musuhnyia, kemudian arca itu diletakkannya baik-baik dan diberinyia nama, dan akhinyia kepala arca-arca itu dipukulinya sambil ber-teriak-teriak: beginilah nasibmu Idrus, Akhdiat, Khairil, Rivai! Rasai olehmu. Apakah cukup bagi Jassin melontarkan tantangan yang tiada berjawab? Cara Jassin menghantam lawan-lawannya (yang dianggapnya sederajat dengannya pasti!) tiada ubahnya dengan cara Hariadi S. Hartowardoyo dengan Peningnya menghantami komunisme. Keduanya hanya memukuli arca-arca buatan nyia sendiri. Kehilangan proporsi ini membuat peperangan menghasilkan Don Kisot. Dan Kisot Indonesia adalah Joko Dolok.
Barangkali maksud Jassin memang baik dengan offensifnya untuk tahun 1953. Dengan offensif ini dapat dipastikan akan terpecahbelah groepgeest pengarang-pengarang Indonesia. Tiap pengarang dipaksa berdiri di atas kakinya sendiri (Walaupun hanya punya kaki sebelah). Dan kemudian mereka ini tersebar seperti pasir di atas bumi, bersinggungan tapi tak berhubungan. Keadaan demikian memang mencepatkan proses baik ke arah kehancuran Ataupun untuk menyekrupkan mereka pada mesin keinginannya. Mesin konsolidasi individu, dan Jassin kehilangan kekuasaannya sendiri keinganan Jassin ini dalam sikapnya keluar menjadi norma-norma dengan mana ia mengukur hasil-hasil kesusasteraan Indonesia selama ini.
Dalam hubungan offensif Jassin ini Sitor Situmorang pernah menyatakan, bahwa tidak ada gunanya melontarkan offensif dewasa ini. Menurut dia orang-orang yang akan jadi sasaran telah bercokol jadi jenderal-jenderal besar: Usmar Ismail, Anjar Asmara, Nasrun, Jamaludin Malik. Gempuran pada mereka adalah selayak air didaun talas, karena seni bukanlah satu-satunya nafas mereka. Sungguh Sayang bahwa Sitor yang dianggap Teeuw akan mengambil kedudukan Jassin ini punya titik-loncatan yang meleset: bukan soalnya tapi orangnya yang harus digempur. Dalam hubungan ini pula setahun yang lalu setelah kena serangan Utuy T. Sontani menjawab lisn dengan lenggang-kangkung: soalnya, aku bukan kau dan kau bukan aku (ini diuga gompaian dari diamanya Awal dan Mira. Kita harus terima hidup ini sebagai kewajiiban sebenarnya, tidak kurang dan tidak lebih, dan bukan sebagai barangtontonaen yang aneh sebagai sikap paramistikus yang salahwessel. Alam ragu sudah sepantasnia kita lemparkan. Kita bangsa muda dan tidak perlu meragu dahulu sebagai orang tua, sebagaimana yang sekarang meliputi peradaban Eropa. Bahkan Belanda yang sudah begitu tua belum juga mau menanggalkan Yai Mein-Tien-Drai-nya.
Sekarang Jassin telah memulai offensifnya atau perhitungan menurut penamaannya sendiri. Masing-Masing memang punya reaksi atau pendapatnya sendiri-sendiri. Dan salah sebuah pendapat yang menyatakan bahwa offensif Jassin ini hanya gigitan nyamuk dan bukan nyamuk malaria pula, akan melemahkan ketentuan kehidupan kesusasteraan tahun 1953 ini.
Dan dengan ini offensif Jassin dijawab, disambut.
Dan dengan ini fokkeriy kesusasteraan Jassin telah bubar.
Dan dengan ini, adieu kritikus H. B. Jassin!
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.