IMPASSE DALAM KESUSASTERAAN KITA CARA SEKARANG
IRWIN DAULAY
KOLOFON
IMPASSE DALAM KESUSASTERAAN KITA CARA SEKARANG
oleh
IRWIN DAULAY
Dimuat di majalah Siasat
No. 319 • Th. VII • Juli 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Stairway, karya Edwin Headley Holgate
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
IMPASSE DALAM KESUSASTERAAN KITA CARA SEKARANG
MAKSUD “kesusasteraan kita cara sekarang”, ialah kesusasteraan yang berjalan dengan cara sekarang. Kesusasteraan kita yang berputar di sekitar majalah: Zenith, Mimbar Indonesia, Siasat, Pujangga Baru dan Kompas. Hasil-Hasilnya mengecewakan.
Selang dihinggapi penyakit epigonisme dan snobisme yang membawanya kesatu impasse. Telah sampai di jalan buatu. Pujangga-Pujangga terkemuka jarrang Ledengaran, sedang asik mengatang buku kanak-kanak. Membatiya tulisan-tulisan dari beberapa sasterawan memperkuat pendapat ini. Ciita mereka telah bobrok. Contoh yang jelas terlihat pada tulisan-tulisan Aoh Kartahadimaja “Pameran Berempat” (Zenith) dan “Nilai Sastera” (Kompas).
Juga kepunyaan El Hakim yang berkepala “Lagu-Lagu C. Simanjuntak” (surat pada H. B. Yassin dari Dr. Abu Hanishah—Mimbar Indonesia 25-4-53). Kita kenal El Hakim karena cerita tonilnya Insan Kamil dan Taufan di atas Asia.
Motif-Motif yang dikemukakan sangat naief. Suatu kesalahan besar kalau kata naief ini digakai. Bukan naief, tapi “kedangkalan” dari ciita yang telah bobrok. Pengatuh kedangkalan ini mungkin disebabkan gurunya kritikus H. B. Yassin.
H. B. Yassin besar pengaruhnya di kalangan sasterawan kita. Lebih-Lebih lagi ia anggota redaksi majalah ‘Mimbar Indonesia dan Zenith. Buku-Bukunya mempengaruhi sekolah-sekolah menengah dan Perguruan Tinggi. Sedikitnya dia mempunyai rasa tanggung jawab terhadap Sasterawan-Sasterawan, lancarnya jalan kemajuan sastera kita. Tinggi rendahnya nilai ’sastera‘ diukur oleh kompetensi kritikus-kritikus. Bicara tentang Yassin perlu membolak balik Zenith—Pebruari 1953, di mana terdapat confessionnya “Selamat tinggal tahun 1952,” yang menunjukkan kedangkalan ini. Di bawah ini terpetik potongan dari confession Yassin:
—Untung Khairil Anwar meninggal dunia. Dan Yassin tulis lagi kata-kata peringatan yang enak buat orang mati. Taktau nama Angkatan 45 jadi pertikaian. Yassin muncul lagi mempertahankan. Angkatan 45 adn. Angkatan 45 lain dari Pujangga Baru. Kesusasteraan sesudah perang lain dari kesusasteraan sebelum perang. Dan Khairil Anwar diambung-ambungkan lagi sebagai pelopor angkatan 45. Idrus, Asrul Sani, Rivai Apin, Nuraini, Pramuja Ananta Toer, pahlawan-pahlawan kesusasteraan. Meskipun masing-masing mereka tidak suka penamaan angkatan 45, kecuali Rosihan Anwar, Sitor Situmorang, Mokhtar Lubis dan Khairil Anwar masa byudunya.
Mereka tidak suka penggolongan karena mereka takut akan menjadi tua dengan angkatan yang pasti akan berlalu. Mereka mau hidup terus sebagai pri-badi pengarang scorang-scorang dan pembagian dalam angkatan ialah pembagian kesejarahan yang perlu buat ahli kesusasteraan. Buat Yassin sendiri di samping itu apakah tidak ada kompleks terhadap Takdir Alisyahbana yang dikiranya telah mempermain-mainkan waktu membayar honorarium penteryemahan “Renungan Indonesia” karangan Syabrazad? Tahulah kita sekarang bagaimana ukurao Yassin.
Dia tidak selalu bisa mempertahankan kemurnian pendasaran pertimbangannya. Yassin harus diganyang.
Nah, saudara pembatlu, Yassin sudah dinyontung. Dan 1953 adalah permulaan hi-up baru.
H. B. Yassin.
Di bagian lain tentang plagiat Khairil ia menulis:
—Dia plagiat sajak Hsu Khi Moh ketika perlu nang buat injeksi salvarsan pada scorang dokter yang menganggap nang lebih penting dari seniman—Suatu cafe-humor belaka. Pun taksiran sajak-sajak Khairil oleh Yassin dalam buku-bukunya banyak yang meleset. Mengapa Khairil berbuat demikian? Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Khairil hendak mengaji kritikus-kritikus sampai di mana kekuatan mereka. Dia mau mengelabui mata kritikus-kritikus ketika itu. Periyis apa yang telah dilakukan pelukis Van Meegeren terhadap kritikus-kritikus Belanda dengan meniru beberapa lukisan Vermeer.
Kalan tidak salah matinya Van Meegeren tahun 1948, berita kematiannya membanjiri surat-surat kabar Belanda ketika itu. Khairil mungkin juga baca atau telah lebih dahulu. Yassin agak terlambat membaca buku-buku. Juga ketika itu terlambat membaca “A Contemporary of Khinese poetry”, mungkin disebabkan kamulasi pekerjaan. Kita kenal Khairil anak nakal. Ini suatu obsceneit Khairil. Mystificatie ini lekas diketahui. Pendapat yang demikian jarah lebih menlelavi kebenaran, karena kelihatan dicari-cari. Sastera berlainan dengan seni lukis. I autan sastera tak mudah diselami, buah cipta tak semua dikenal kritikus-kritikus.
Kemungkinan yang kedua psykhologis disebabkan jiwa muda Khairil yang karena kena sanjungan dan lambungan mau lebih tinggi, tapi dayaciptaanya buat sementara tak mengizinkan.
Pendapat ini mendekati kebenaran, Walaupun kita kenal visinya tentang seni (Pidato Radio Khairil 1943).
Dikuatkan oleh sajak lain “Kepada Pemintaminta” (Elsskhot-Pot den Arine). Kesusasteraan di lahirkan oleh kesusasteraan molraux). Kesusasteraan tercipta sendiri.
Juga tentang Idrus di dalam confessionnya ya menulis:
—Kemudian Idrus menulis “Surabaya” yang menghukum revolusi dan perjuangan dan mengapa Yassin masih juga memajudkannya dengan pleideoi hangat supaya ditebitkan oleh Balai Pustaka, scdang Yassin tidak setuju-den-an tendensi cerita itu? Yassin tidak jujur terhadap dirinya sendiri apabila dia mempertahankan karangan Idrus ylu dengan memajukan pertanyaan unik mendiamkan hatinya sendiri: “Apakah scorang dengan mengeritik kekurangan bangsanya sudah berarti membenci dan memusuhi bangsanya?” Yassin tidak berterus terang terhadap Idrus yang berterus terang dan dia menggantungkan ukurannya pada harapan-harapan.
‘Open hartigheid Yassin mengingatkan saya novel Idrus “Jalan Yain ke Roma”. Tentang Rivai Apin ada juga dibicarakan Yassin dalam “Omong-omong Kesusasteraan”—Zenith, Pebruari 1953.
Diantaranya.
—Buku Hans Redeker, “Existentialisme” memocrikan ikhtisar yang jelas dan menimbulkan keinginan yang tidak bisa ditahan-tahan untuk mendatangi semua sumber-sumber silsafal existensi, yang belakangan ini juga banyak mempengaruhi kesusseraan kita, mulai dengan Khairil Anwar. Juga Rivai Apin saya lihat sangat terpengaruh. Begitu terpengaruh sehingga dia tenggelam dalam Camus. Seperti biasa dia tak kuat menguasai pengaruh dan int enya ajangkan saca. Sekarang dia jalan-jalan dengan alampikitan “de wanhop van het bestaan” dan “het absunde van het leven”. Mana akau-akaunya sendiri? Milien, alam pikiran moyangnya turun-menurun? Camus sendiri tidak seperti kilat sampai pada het absurdisme. Juga dalam tokoh-tokoh romannya kita masih melihat suatu perkembangan. Lukisan tokoh-tokoh yang berdifferensiasi karena agama, karena pembawaan, karena ilmu pengetahuan, karena pengalaman dalam berbagai mitos. Rivai tidak mau hanya jadi salah satu tokoh, dia minu Camus himself. Dia tidak punya weerstand sedikit juga. Rivai = Camus—
Kalimat-Kalimat di atas sangat dilebih-dilebihkan. Adakah Khairil dipengaruhi existentialisme? Tak ada absen para-nya menyamankan Rivai = Camus. Rivai pernah menulis di Siasat tentang Camus, tapi belum dapat dikatakan Rivai terpengaruh Camus. Kalau kira di-kaar bicara tentang Camus ini tidak masuk “literaire critices”. Kita tahu Yassin sedang sibuk dengan filsafat existentialisme. Se-olah-olah Yassin memperkosa filsafatnya dengan menarik prilbadi Rivai. menyamak-kan dengan Camus Camus sendiri adalah phenomeen beberapa phenomeen. Dualisme pada Camus masih ada. Ia ‘sedang hendak mengatasi dualisme iai. Di Eropa sekarang Camus menarik perhatian. Rivai karena c.uditie dan ke-universilannya ia sampai ke-pada Camus.
Manienya akan pelbagai ilmu pengetahuan sedang berjalan. Tulisannya mengenai: seni lukis, filsafat, film dan ekonomi. Rupanya kombinasi se aura ini bahaya bagi Rivai. Belakangan kelihatan Rivai niz-rosot. Dia sekarang menulis karena harus menulis. Tensionnya berkurang. Mengenai Iwan Simatupang sajaknya. “Apa kata bintang di laut.” Yassin ada di-pihuk yang benar. Yassin kritikus yang komplet. Juga tulisannya “Khairil Anwar in memorium”—Zenith, Mei ‘53, Kelihatan sedikit hoogdoeneiy.
Dia mau bicara dengan istilah-istilah matematika:—Dan baan yang isf tinggalkan inilah yang harus kita nilai, bukan struktur dan unsur-unsur Khairil Anwar. Baan-Baannya ini zigzag, simpang siur, merupakan kogelbanen, yang satu menjadi asymptoot dari yang lain.
Tidak mengerti. Matematis tak ada kogelban yang zigzag.
Belakangan ini Sitor Sitomorang menarik perha-tian. Buah tangannya mengalir di atas kertas. Bahwa essay dan kritik-kritiknya melebihi Yassin su-dah jelas.
‘Yeale critiek hanya dapat diharapkan dari Sitor dan Asul. Kritik yang bertumnu pada berbagai ilmu pengetahuan memuat intelecensi yang unik, bersifat obyektif.
Dramanya “Jalan Mutiara,” baik buknya telah dibicarakan oleh Sujatmoko dan Rosihan Anwar dalam Siasat.
Satu kebagusan dari drama ini, Sitor telah men-perlihatkan kita lukisan dasar orang-orang yang telah bobrok akhlaknya. di mana di-tengah-tengahnya terdapat scorang seniman yang berlaku sebagai dalang. Drama ini bersifat pessimistis. Pessimisme ini ju-ga terasa dalam suratnya kepada Mokhtar Apin “Pertemuan digaris iseng”—Mimbar Indonesia, Pebruari, Maart—1953.
Di dalam talisanuya “Lahirnya manusia penyair” ada kalimat-kalimat:—Khairil Anwar adaiah aksi dan reaksi daripada rasa hidup yang menyintuli kahidu-pan sekelompokan manusia perasa dan pemikir ‘di Indonesia ini. Individualisme dan akhiurnya nihilisme—Sitor perlu menguraikan pendapatnya dalam suatu majalalah tentang ini. Ini sesuatu yang baru: Khairil belum lagi sampai pada nihilisme.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.