KOBARKAN SEMANGAT BANTENG!
MAJU TERUS, PANTANG MUNDUR!
D. N. AIDIT
KOLOFON
KOBARKAN SEMANGAT BANTENG!
MAJU TERUS, PANTANG MUNDUR!
oleh
D. N. AIDIT
(Laporan Politik kepada Sidang Pleno ke-II CCPKI yang diperluas dengan Komisi Verifikasi dan Komisi Kontrol Central,
di Jakarta tanggal 23-26 Desember 1963)
Yayasan “Pembaruan”
Jakarta 1964
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
D. N. AIDIT
KOBARKAN SEMANGAT BANTENG!
Kawan-Kawan yang tercinta!
Sepuluh bukan sudah berselang sejak Sidang Pleno ke-I CC (Februari 1963) dari Kongres Nasional ke-VII (April 1962) Partai kita.
Selama 10 bulan itu Rakyat pekerya Indonesia dengan Partai kita di barisan terdepan telah melakukan perjuangan yang hebat di bawah semboyan Sidang Pleno ke-I CC yang sangat menjiwai dan memobilisasi: Berani, berani, sekali lagi berani!
Partai kita bersama dengan Presiden Sukarno telah berhasil mengobarkan semangat keberanian di kalangan massa Rakyat Indonesia yang luas. Tahun 1963 benar-benar telah menjadi “tahun keberanian”, dan satu kali keberanian sudah dibangkitkan serta sudah menjadi milik Rakyat, semua rintangan dan penghalang pasti akan dapat diganyang.
Bagi orang-orang revolusioner, terutama sekali bagi kaum Komunis, tempatnya adalah di barisan depan dari massa yang terus meningkat kesedaran politik dan keberaniannya itu. Jika tidak demikian mereka berhenti menjadi orang revolusioner, menjadi tidak berguna atau menjadi penghalang gerakan massa revolusioner.
Di bawah semboyan Berani, berani, sekali lagi berani, anggota-anggota Partai kita telah mengadakan kegiatan-kegiatan besar dan dalam kegiatan-kegiatan ini telah lebih tertempa kebulatan ideologi, politik dan organisasi Partai kita dan ormas-ormas revolusioner sehingga Partai dan ormas-ormas kita telah lebih bebas lagi melangkahkan kaki, mengayunkan tangan dan tinjunya kepada musuh-musuh Rakyat.
Berkat keberanian yang telah tumbuh, kita juga telah lebih tinggi mengibarkan Tripanji Bangsa: panji Demokrasi, panji Persatuan dan panji Mobilisasi. Perjuangan gagahberani daripada Rakyat dan anggota¹ Partai kita telah menyebabkan bebasnya Irian Barat dan dicabutnya SOB yang terkutuk itu pada tanggal 1 Mei 1963, telah mendatangkan sedikit kelonggaran demokratis, dan persatuan nasional serta mobilisasi massa dalam mengganyang musuh-musuh Rakyat dan dalam membela kepentingan-kepentingan vitalnya telah menjadi lebih berkembang. Usaha-Usaha kaum reaksioner untuk menciptakan suasana “SOB tanpa SOB” dan untuk “men-SOB-kan” kembali keadaan, mendapat perlawanan-perlawanan keras dari massa yang sudah mencicipi kembali demokrasi. Kaum reaksioner tentu akan meneruskan usaha-usaha mereka, seperti halnya mereka telah mengadakan gerakan rasialis “10 Mei” tahun ini, tapi dapat dipastikan bahwa perlawanan Rakyat juga akan lebih hebat lagi.
Berkat semangat keberanian yang telah menjiwai seluruh barisan kita, kita juga telah lebih tinggi mengibarkan Tri-panji Partai: panji front nasional, panji pembangunan Partai dan panji Revolusi Agustus 1945. Pada dewasa ini organisasi Front Nasional sudah berkembang luas dan keryasama Nasakom pada umumnya bertambah baik. Perseku-tuan buruh dan tani sebagai basis front nasional sudah makin terkonsolidasi. Pengintegrasian warganegara keturunan asing, khususnya Tionghoa, dengan gerakan revolu-sioner sedang berjalan dengan pesat. Gerakan tani revolu-sioner mendapat kemayuan-kemayuan yang membesarkan hati.
Usaha memperhebat pembangunan Partai ditandai oleh sukses Gerakan Akhiran Plan 3 Tahun ke-2 dan sejak sekarang sudah dapat dipastikan bahwa Gerakan Awalan Plan 4 Tahun tentang Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi juga berjalan baik. Perpaduan antara semangat keberanian yang ber-kobar-kobar dengan pekerjaan tekun melaksanakan Plan telah merupakan faktor utama dalam melanjutkan pembangunan Partai kita, dalam mengubah imbangan kekuatan dalam negeri dan dalam usaha kita ikut menegakkan panji GKI yang Marxis-Leninis.
Kehangatan bara Revolusi Agustus 1945 mulai dirasakan kembali dan pelajaran1 dari revolusi itu, terutama tentang peranan menentukan dari kaum tani dalam revolusi, makin dirasakan manfaatnya.
Kesimpulan Sidang Pleno ke-I CC bahwa imperialisme AS adalah musuh nomor satu dan paling berbahaya dari Rakyat Indonesia sepenuhnya dibenarkan dan diperkuat oleh peristiwa-peristiwa selama sepuluh bulan ini. Diperluasnya daerah operasi Armada ke-VII AS ke Samudera Indonesia merupakan pemberan lebih jauh atas kesimpulan tersebut.
Berkat semangat keberanian yang makin meningkat, Rakyat Indonesia telah bertekad bulat untuk mengganyang sampai habis apa yang dinamakan “Malaysia”, untuk menjalan-kan politik konfrontasi di segala bidang terhadap konsep imperialis sekarat ini. Kenyataan bahwa Rakyat Indonesia sekarang berduyang mengganyang “Malaysia” merupakan bukti bahwa Rakyat Indonesia di samping menyedari bahwa musuhnya yang nomor satu dan paling berbahaya adalah imperialisme Amerika Serikat, tetapi sekejap pun tidak lengah terhadap imperialisme lain. Dalam mengganyang “Malaysias” kita menghadapi imperialisme Inggris yang disokong AS. Kenyataan ini juga membuktikan, bahwa selama kaum imperialis masih ada disekeylling Indonesia, selama itu tekad harus tetap: satu tangan pegang bedil dan satu tangan lagi pegang pacul. Kita harus senantiasa siap memukul kembali serangan musuh bersenjata dengan senjata, dan bersamaan dengan itu siap membanting tufang untuk menanggulangi kesulitan ekonomi, khususnya sandangpangan, dengan berdiri di atas kaki sendiri.
Dalam bulan November yang lalu telah dilaksanakan Ganefo dengan sukses besar. Tanpa semangat keberanian dari Rakyat dan Pemerintah Indonesia dalam melawan imperialisme dan revisionisme, Ganefo tidak mungkin sukses. Suksesnya Ganefo sekali lagi membuktikan keunggulan mutlak Kekuatan-Kekuatan Baru yang Sedang Tumbuh (KBST, the NEFO) atas Kekuatan-Kekuatan Lama yang Masih Bercokol (KLMB, the OLDEFO), keunggulan mutlak kekuatan-kekuatan antiimperialisme atas imperialisme dan kakitangan-kakitangannya, membuktikan bahwa angin Timur berhembus lebih keras dari angin Barat, bahwa angin Timur memang telah mengatasi angin Barat. Kita menyebut Barat dan Timur tidak dalam pengertian geografis atau mataangin tetapi dalam pengertian politik yang lumrah.
Dalam Sidang Pleno ke-I CC kita telah menetapkan Tri-tugas praktis Partai: (1) mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan; (2) menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi; dan (3) melawan neo-kolonialisme. Tugas-Tugas ini masih tetap berlaku. Kemenangan-Kemenangan yang sudah dicapai, seperti pembebasan Irian Barat, makin pulihnya keamanan, mulai pulihnya hak-hak demokrasi, pemutusan hubungan ekonomi dengan Malaya dan Singapura, Ganefo, meningkatnya rasa solidaritet internasional di kalangan Rakyat, makin berkembangnya front nasional dan kerjasama Nasakom, berhasilnya tuntutan pembatalan peraturan “26 Mei 1963” yang telah diakui kegagallannya oleh Pemerintah, meningkatnya tuntutan Kabinet Gotong Royong berporos Nasakom, pembangunan Partai, pembangunan ormas-ormas dll. harus kita konsolidasi. Kesulitan-Kesulitan ekonomi harus terus ditanggulangi, terutama sandangpangan, dan lebih utama lagi pangan. Neo-kolonialisme harus terus kita lawan, terutama “Malaysia” dan infiltrasi-infiltrasi politik, ekonomi dan kulturil kaum imperialis yang dilapelai oleh Amerika Serikat.
Tugas menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi, melawan terus “Malaysia” dan segala macam infiltrasi serta intrik-intrik kaum imperialis hanya dapat ditunalkan secara baik jika segenap kekuatan Rakyat dapat dimobilisasi secara maximal. Untuk itu kuncinya ialah adanya kebebasan demokratis yang lebih luas bagi Rakyat. Tindakan-Tindakan antidemokratis dan antiRakyat, antara lain berupa tindakan mempersuut pelaksanaan perlusian kegiatan politik berdasarkan Penpres No. 5/63, merupakan penceriman dari sisa-sisa penyakit Komunisto-phobi, Nasakomo-phobi, Rakyat-phobi dsb. yang masih menjangkit! sementara alat kekuasaan Negara, dan harus dilawan. Ini perlu ditekankan, karena praktek-praktek semacam itu disementara daerah amat merugikan bagi pelaksanaan “social-support” dan “social-control” seperti diharapkan oleh Pemerintah.
Berdasarkan pelaksanaan Tritugas praktis tsb. kita dapat menyokong program baru Kabinet Kerja yang belum lama berselang disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri I, Dr. Subandrio, kepada DPR-GR yaitu: (1) Sandangpangan; (2) pengganyangan “Malaysia”; dan (3) meneruskan pembangunan. Program Kabinet Kerja ini sesuai dengan Tritugas praktis Partai kita.
Melaksanakan program baru Kabinet Kerja berarti melaksanakan bagian-bagian terpenting dari Tritugas praktis Partai dan melaksanakan bagian-bagian terpenting dari Panca Program Front Nasional. Tapi, pelaksanaan dari semuanya ini hanya mungkin jika dilaksanakan keputusan-keputusan Sidang Pleno Pengurus Besar Front Nasional tanggal 5-6 September 1963, yang intinya ialah: mengakhiri penyelewengan “26 Mei 1963” dengan konsekuwen melaksanakan Deklarasi Ekonomi (Dekon) dan membentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Naskom. Khusus mengenai sandangpangan, juga menuntut syarat dilaksanakannya landreform dengan konsekuwen, tidak seperti selama ini.
Dalam rangka mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai, perlu sekali mendapat penekanan masalah meng-konsolidasi keamanan, terutama mengingat bahwa kesulitan-kesulitan ekonomi sekarang sudah dan akan terus digunakan oleh kaum kontra-revolusioner untuk membululkan kembali gerombolan-gerombolan bersenjata, mula-mula bersifat kriminil, tapi kemudian diubah menjadi gerombolan politik kontra-revolutioner. Kaum imperialis tentu ingin memetik hasil lebih banyak dari peraturan-peraturan “26 Mei 1963” dalam rangka politik imperialis AS lewat DMI (Dana Moneter Internasional, IMF). Hasil sementara sudah mereka petik, yaitu makin membobroknya keadaan ekonomi Indonesia. Hasil lebih lanjut masih mereka tunggu, yaitu timbulnya gerombolan-gerombolan politik bersenjata kontra-revolutioner. Oleh karena itu, masalah sandangpangan adalah masalah keamanan, dan masalah keamanan adalah masalah sandangpangan. Masalah sandangpangan ini merupakan kunci pelaksanaan program Pemerintah mengenai pengganyangan “Malaysia” dan meneruskan pembangunan.
Sidang Pleno ke-I CC telah menegaskan bahwa dalam mengkonsolidasi keamanan, kaum progresif, terutama kaum Komunis, harus menganggap soal keamanan sebagai soalanya sendiri. Sesuai dengan ini, maka sesudah SOB dicabut Partai mengaduyukan semboyan “Untuk Tertib Sivil Bantu Polisi”. Dengan semboyan ini kerjasama Rakyat dengan Angkatan Bersenjata, khususnya Angkatan Kepolisian, telah diperkuat lebih lanjut atas dasar Manipol. Rakyat kita telah memperlihatkan tanggungjawab dan kemampuannya dalam turut menjaga keamanan.
Pengalaman akhir ini, terutama pengalaman pelaksanaan Ganefo, membuktikan bahwa soal mengganyang revisionisme modern bukan hanya soal kaum Komunis, tetapi soal semua patriot yang melawan imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme. Kaum revisionis adalah serdadu politik dan ideologi sukarelawan dari kaum imperialis. Sebagaimana juga halnya dengan kaum imperialis, kaum revisionis mundur jika dilawan. Sebagai contoh, kaum revisionis modern Yugoslavia mencoba meremehkan dan menghina Ganefo dengan mengirim hanya beberapa gelintir atlit, padahal Yugoslavia termasuk apa yang dinamakan “sponsoring country”. Tetapi akhirnya, setelah dilawan, mereka buru‘ mengirimkan rombongan keseniannya, dan akhir daripada akhirnya terpaksa duduk menjadi anggota Komite Eksekutif Federasi Ganefo.
Pengalaman akhir ini juga membuktikan, bahwa semua sukses yang kita capai adalah berkat berkobarnya semangat banteng didada kaum Komunis dan Rakyat Indonesia, semangat percaya pada kekuatan sendiri, semangat berani berdiri di atas kaki sendiri, semangat teguh mempertahankan pendirian revolusioner dan tekad “maju terus, pantang mundur”. Untuk mengembangkan semangat ini Laporan Politik ini kita beri judul: “Kobarkan Semangat Banteng! Maju Terus, Pantang Mundur!”
Dengan semangat banteng yang berkobar-kobar kita berduyang untuk pelaksanaan Triprogram Pemerintah, untuk landreform yang konsekwenn, untuk mengakhiri teror “26 Mei 1963”, untuk membasmi kontra-revolusi, untuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom, untuk mengganyang imperialisme dan revisionisme modern.
Dengan semangat banteng kita kibarkan lebih tinggi Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa serta kita laksanakan Tritugas praktis Partai dan Plan 4 Tahun Partai tentang Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi.
Demikian dengan singkat situasi yang kita hadapi sekarang dan tugas-tugas kita yang mendesak yang secara lebih luas akan diuraikan di bawah ini.
I
MAJU TERUS UNTUK LANDREFORM YANG KONSEKWEN, MENGGANYANG “MALAYSIA” DAN MEMBENTUK KABINET GOTONG-ROYONG BERPOROS NASAKOM!
Kaum buruh Indonesia merumuskan perkembangan situasi dalam negeri Indonesia sekarang dengan sederhana dan tepat sekali. Mereka katakan: “politik terus bergeser ke kiri, tapi perut terus bergeser ke kanan”. Ini kenyataan yang keras daripada perkembangan situasi negeri kita sekarang.
Tidak dapat dibantah bahwa perkembangan situasi politik Indonesia selama sepuluh tahun belakangan ini, terutama selama tahun-tahun dan bulan-bulan belakangan ini terus ke kiri. Artinya, kekuatan progresif terus meluas dan mengkonsolidasi diri, persatuan kekuatan progresif dengan kekuatan tengah atau dengan perkataan lain front nasional makin hari makin meluas dan bertambah kuat, sedangkan kekuatan reaksioner makin lama makin terisolasi. Juga sayap kiri dalam kekuatan tengah makin berkembang dan mengkonsolidasi diri. Bersamaan dengan kekalahan-kekalahan yang diderita kaum imperialis dan bersamaan dengan pukulan-pukulan kaum tani terhadap kaum feudal, kaum reaksioner dalam negeri menderita kekalahan terus-menerus. Tetapi perimbangan kekuatan pada pokoknya masih tetap, yaitu persatuan kekuatan tengah dengan kekuatan kanan masih mengungguli kekuatan progresif, dan persatuan kekuatan progresif dengan kekuatan tengah dapat mengungguli kekuatan kanan. Makin banyaknya kekuatan tengah bergeser ke kiri merupakan rintangan bagi pembentukan kabinet kanan, tetapi dewasa ini belum cukup bagi pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom.
Pembebasan Irian Barat, lahirnya Deklarasi Ekonomi (Dekon) dan resolusi-resolusi yang maju dari Sidang Pleno ke-II MPRS, hancurnya gerombolan kontra-revolusi bersenjata DL-TII Kartosuwiryo, dicabutnya SOB, dikalahkanya dan dikutuknya teror rasialis antiTionghoa “10 Mei 1963” oleh Presiden Sukarno dan massa Rakyat yang luas serta diadili dan dihukumna teroris-teroris rasialis ini, pengintegrasian warga-negara-negara keturunan Tionghoa ke dalam gerakan revolusioner, berkembangnya perlawanan-perlawanan kaum tani terhadap tuantanah dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), diputus-kannya hubungan ekonomi Indonesia dengan “Malaysia”, sukses besarnya Ganefo, bertambah eratnya hubungan ekonomi, politik dan kultural antara Indonesia dengan negeri kubu sosialis, makin mehingkatnya semangat antiimperialisme dalam rangka mengganyang “Malaysia”, makin terbukanya kejahatan imperialisme AS sehingga makin diyakini oleh massa Rakyat yang luas bahwa imperialisme AS adalah musuh nomor satu dan paling berbahaya bagi Rakyat Indonesia, makin berkembangnya organisasi Front Nasional dan keryasama Nasakom, makin terbukanya kedok kaum Manipolis-munafik, makin tertelanjinginyaka kaum kapitalis birokrat dan kaum salahduduk serta salahurus sebagai musuh Republik, makin santernya tuntutan Rakyat supaya diakhiri teror peraturan ekonomi “26 Mei 1963” dan dibentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom, dsb. dsb., merupakan tanda jelas tentang perkembangan politik yang baik, yang ke kiri. Juga susunan baru Kabinet Kerja yang diumumkan Presiden Sukarno pada tanggal 13 November yang lalu, yang sampai batas tertentu mendesak kedudukan kaum reaksioner kepala batu dari panggungpolitik Indonesia, merupakan tanda yang jelas daripada perkembangan ke kiri.
Dibekuknya Soumokil, gembong pemberontak kontra-revolutioner RMS oleh tentara dengan bantuan kaum tani di Seram adalah peristiwa besar yang menunjukkan pentingnya keryasama Angkatan Bersenjata dengan Rakyat, khususnya kaum tani, dalam menumpas pemberontakan kontra-revolutioner.
Walaupun kaum Manipolis-munafik berusaha melalui saluran indoktrinasi untuk menanam phobi dan menggerowoti persatuan nasional, namun berkat indoktrinasi Manipol yang tepat, dengan berpegangan pada 9 wejangan Bung Karno yang dilakukan secara besar'an, baik oleh partai politik dan ormas Manipolis, oleh Front Nasional, Maupun oleh instansi resmi sivil Ataupun militer, maka ide antiimperialisme, ide tentang demokrasi, tentang landreform, tentang persatuan nasional berporoskan Nasakom, tentang internasionalisme progresif, tentang Sosialisme dan ide progresif lainnya makin dalam merasuk difikiran dan dinati massa Rakyat yang luas dari segala lapisan.
Untuk mengganyang kaum Manipolis-munafik yang mempertentangkan Pancasila dengan Nasakom, Partai kita senantiasa menekankan pentingnya memegang teguh Pancasila sebagai alat pemersatu dan melawan pemeretelanannya. PKI senantiasa menekankan bahwa “setuju Pancasila harus setuju Nasakom”, dan bersamaan dengan itu PKI juga menegaskan bahwa “setuju Nasakom harus setuju Pancasila”.
Ide reaksioner seperti membagus-baguskan imperialis dan tuantahah, Komunisto-phobi, tani-phobi, Front Nasional-phobi, Rakyat-phobi, kudeta, yunta militer, SOB, rasialisme, sovinisme, penswastaan perusahaan-perusahaan negara, dsb. makin hari makin sempit pasarannya atau malahan sudah dikutuk oleh massa Rakyat sebagai antiRakyat, antiRepublik, antiper-satuan bangsa, antiManipol dan kontra-revolusioneer.
Semuanya ini menundukkan arah perkembangan lebih ke-kiri dari situasi politik negeri kita. Sekaligus ini menca-nangkan kepada kita, bahwa kaum imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri akan lebih-lebih lagi tidak dapat menguasai diri, akan mengadakan ‘intrik’ dan tindakan-tindakan yang lebih kotor dan kurangajar dari waktu yang sudah-sudah. Tetapi Rakyat sudah mendapat latihan-latihan cukup dalam menghadapi mereka, dan oleh karena itu akan lebih pandai memberikan pukulan-pukulan yang lebih jitu dan lebih hebat.
Demikian perkembangan situasi politik dalam negeri dan arah perkembangannya lebih lanjut.
Tidak demikian halnya dengan perkembangan dibidang ekonomi. Keadaan ekonomi, terutama sandangpangan, makin memburuk terutama sesudah penyelewengan “26 Mei 1963”, yaitu sesudah lahirnya peraturan-peraturan dibidang ekonomi dan ke-uangan yang linea recta bertentangan dengan, bahkan mensabot Dekon, sebagai akibat politik reaksioner dari beberapa menteri yang antiRakyat dalam Kabinet Kerja susunan lama, sebagai akibat politik budak belian yang menyual diri kepada imperialism Amerika Serikat lewat apa yang dinamakan “program stabilisasi ekonomi” dalam rangka “ban-tuan” Dana Moneter Internasional.
Sinyalemen PKI dan Rakyat luas tentang adanya hubungan langsung antara peraturan-peraturan 26 Mei dengan “bantuan” dari fihak asing akhirnya diakui kebenarannya oleh Kabinet Kerja susunan baru sebagaimana telah dinyatakan oleh WPM I Dr. Subandrio dalam keterangannya di muka DPR-GR pada tanggal 11 Desember 1963 yang lalu bahwa “peraturan-peraturan tadi (26 Mei) dikeluarkan dengan harapan akan bantuan dari luar negeri beberapa ratus juta dolar”. Rakyat makin menjadi bahwa perjuangan melawan penyelewengan 26 Mei, untuk pelaksanaan Dekon dan untuk perbaikan keadaan ekonomi sekaligus adalah perjuangan melawan neo-kolonialisme Amerika Serikat yang lewat “bantuan”nya berusaha menguasai ekonomi Indonesia.
Politik budak belian yang dituangkan dalam peraturan-peraturan ekonomi 26 Mei 1963 itu telah membikin keadaan ekonomi Indonesia yang sudah jelek menjadi lebih jelek lagi: telah meningkatkan harga barang dan tarif, termasuk harga beras dan obat-obatan, secara luarbiasa; telah memerosotkan nilai rupiah secara luarbiasa sehingga merupakan pukulan luarbiasa pula beratnya terhadap Rakyat, terutama penerima upah atau gaji-tetap seperti buruh, pegawai dan anggota angkatan bersenjata; telah mengakibatkan bangkrutnya atau tidak bisa dilanjutkannya pembangunan perusahaan-perusahaan negara dan swasta nasional; telah mengakibatkan defisit raksasa bagi Anggaran Belanya Negara dan Anggaran Keuangan Pemerintah³ Daerah; telah melumpuhkan koperasi³ dan banyak lagi akibat-akibat buruk lainnya. Total-jenderal dari akibat-akibat ini ialah membikin lumpuh potensi Republik dibidang ekonomi, yang sama saja artinya dengan mensabot pelaksanaan Manipol, Deklarasi Ekonomi dan perjuangan Rakyat Indonesia melawan imperialisme pada umumnya. Lebih daripada itu, konseptor-konseptor dan menteri-menteri yang bertanggungjawab mengenai penyelewengan “26 Mei 1963” telah memberikan pelayaran yang baik kepada imperialisme AS dalam mendevaluasi ru-piah secara besar-besaran terhadap dolar, salahsatu tuntutan mutlak dari kaum imperialis AS guna memperkuat posisi mereka dalam ekonomi Indonesia. Dengan demikian peratur-an-peraturan itu membantu imperialis AS mempertahankan nilai dolar mereka dari kemerosotan secara umum yang sedang diderita mata-uang itu.
Para konseptor dan menteri-menteri yang bertanggungjawab dalam soal penyelewengan “26 Mei 1963” harus merasa ber-untung kalau mereka tidak dihukum gantung, kalau mereka hanya dihukum badan, dan apalagi kalau hanya dicopot dari kedudukan sebagai pegawai tinggi atau menteri, atas dosa mereka yang tidak beram pun ini. Tidak hanya peraturan-peraturan 26 Mei 1963 “an sikh” jahat, tetapi mereka telah menipu Rakyat secara besar-besaran dengan mengatakan bahwa peratur-an-peraturan itu adalah dalam rangka pelaksanaan Dekon. Banyak orang jujur dan naif yang tertipu, mengira benar-benar dalam rangka pelaksanaan Dekon, sehingga setelah mengetahui akibat-akibatnya yang sangat buruk, mereka pun ikut-ikut menyalahkan Dekon. Kalau Dekon tidak menjadi diskredit karena penipuan ini, maka hal ini adalah berkat penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh partai-partai, ormas-ormas serta perseorangan yang progresif dan berpandangan jauh, bahwa peraturan-peraturan 26 Mei 1963 adalah usaha kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya dalam mensabot Dekon dan mensabot perjuangan antiimperialis Rakyat Indonesia.
Konseptor-Konseptor dan pembela-pembela penyelewengan “26 Mei 1963” masih men-coba-coba juga untuk menegakkan benang basah dengan mengatakan bahwa bertambah sulitnya keadaan ekonomi bukan oleh karena penyelewengan mereka, tetapi karena politik Presiden Sukarno mengganyang “Malaysia” dan melaksanakan Ganefo. Mereka mencoba menyerang politik pengganyang “Malaysia” dan Ganefo dari pendirian mereka sendiri, pendirian kapitalis tentang jual-beli dan untung-rugi. Tapi juga dengan ini mereka gagal.
Tidak seorang pun akan menyangkal bahwa politik meng-ganyang “Malaysia” dan pelaksanaan Ganefo membutuhkan pengeluaran banyuk uang.
Tetapi, juga tidak dapat disangkal bahwa pemutusan hubungan ekonomi dengan “Malaysia” memberikan perspektif yang baik, bagi ekonomi Indonesia, asal saja aparat dibidang ekonomi berada dalam tangan orang-orang yang revolusioner dan mampu, dan tidak di tangan orang-orang yang membela penyelewengan “26 Mei 1963” atau di tangan mereka yang hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri.
Politik antiimperialisme bukanlah politik yang bisa merugikan Indonesia. Dilihat dari segala segi, politik ini adalah menguntungkan. Politik antiimperialisme Indonesia telah membangkitkan solidaritet dan simpati serta menarik bantuan moril dan materiil dari kekuatan-kekuatan progresif di seluruh dunia kepada Indonesia.
Suksesnya Ganefo dan pengganyangan “Malaysia” tidak hanya telah sangat meningkatkan martabat Indonesia di-dunia internasional dan memperbesar kepercayaan Rakyat Indonesia pada kemampuannya sendiri, tetapi juga, telah sangat membantu dalam mengkonsolidasi persatuan NEFO dan telah memberikan pukulan yang hebat terhadap kaum imperialis, yang kesemuanya ini adalah jauh lebih besar artinya daripada nilai uang yang telah dikeluarkan untuk biaya Ganefo dan untuk mengganyang “Malaysia”.
Katakanlah situasi sekarang tidak sangat baik bagi perjuangan antiimperialisme! Makin konsekwensi Indonesia mengganyang imperialisme makin bertambah besar potensi Rakyat Indonesia, makin banyuk terbuka kemungkinan-kemungkinan baru dan baik bagi Indonesia. Situasi sekarang sangat baik bagi perjuangan antiimperialis dan sangat buruk bagi kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya.
Lagipula, kalau mau bicara tentang politik yang mana “lebih mahal”, politik antiimperialis ataukah politik pro-imperialis, tak ada seorang jujur yang akan membantah, bahwa Rakyat Indonesia telah dipaksakan membayar harga yang mahal sekali bagi sikap mengalah kepada desakan kaum imperialis yang mengakibatkan teror “26 Mei 1963”. Tidak boleh dilupakan, bahwa penyelewengan 26 Mei merupakan salahsatu syarat mutlak yang diajudkan kaum imperialis AS jika Indonesia mau bersahabat dengan mereka. Politik bersahabat dengan imperialis sangat mahal, makin besar imperialis yang diajak bersahabat, makin mahal kita harus membayar untuk persahabatan itu.
Jadi, percumalah usaha untuk menegakkan benang basah dengan meletakkan tanggungjawab kesulitan-kesulitan ekonomi dewasa ini kepada politik pengganyangan “Malaysia” dan kepada pelaksanaan Ganefo. Sudah membikin kejahatan teror “26 Mei 1963” mereka mau membikin kejahatan baru dengan mendiskreditkan politik mengganyang “Malaysia” dan pelaksanaan Ganefo. Tapi, demikian inilah watak kaum reaksioner kepalaabatu, mereka tidak akan berhenti selama Republik belum hancur atau belum berada di bawah telapak kaki kaum imperialis yang mereka abdi dengan segenap hati dan jiwanya.
Tidak diragukan, kesedaran Rakyat Indonesia, terutama klas buruh Indonesia, adalah sangat tinggi. Walaupun mereka telah menyimpulkan bahwa “perut terus ke kanan”, tetapi mereka tetap dengan antusias menyambut tiap anjuran dan politik pemerintah yang revolusioner, yang mengganyang imperialisme, mengganyang rasialisme dan kontra-revolusi, dsb., Walaupun mereka sejak semula sudah dapat membangangkan bahwa akibatnya bisa menimbulkan kesulitan sementara yang baru dibidang penghidupan mereka.
Waktu belakangan ini sering timbul pembicaraan di kalangan kaum buruh yang sangat dalam arti politiknya dan merupakan pelajaran penting bagi pemimpin revolusioner. Ada yang mengaduyukan pertanyaan: mana yang lebih baik, politik ke kiri dan perut ke kanan, atau politik ke kanan dan perut ke kiri. Tentu saja kebanyakan menjawab, bahwa yang paling baik ialah “politik ke kiri dan perut ke kiri”. Kemudian, setelah bertukar-fikiran, mereka menyimpulkan, karena belum mungkin semua ke kiri sekang, lebih baik “politik ke kiri dan perut ke kanan” daripada kebalikannya. karena hanya dengan perkembangan politik yang terus ke kiri kita akan lebih cepat sampai pada akhir penderitaan.
Perkembangan politik ke kanan, Walaupun misalnya disertai cuikup pengisi perut dan pakaian, seperti misalnya terjadi di negeri-negeri kapitalis ketika ada “boom”, hanya merupakan penundaan datangnya penderitaan yang lebih hebat.
Pendirian dan tekad kaum buruh dalam menghadapi situasi sekarang diceminkan dengan tepat dalam kata salah seorang panyai kita, bahwa “hati kita lebih keras daripada lapar”. Ini pendirian dan tekad kaum revolusioner sejati yang merupakan peluru sakti mengarah kekaum reaksioner dan revisionis. Ya, juga mengarah kepada kaum revisionis, karena kaum revisionis mengkhotbahahkan kelembeikan dan kelemahan jiwa, mengkhotbahahkan kapitulasi kepada musuh dengan dalil reaksionernya bahwa “ekonomi lebih penting” daripada politik revolusioner.
Demikianlah kesedaran dan tekad bulat Rakyat terutama kaum buruh, dalam menghadapi situasi peryuangan sekarang. Tidak hanya berbeda dengan kaum reaksioner, tetapi juga berbeda dengan kaum revisionis, kaum revolusioner gadungan, juga berbeda dengan kaum Manipolis munafik yang tidak mau memperdulikan penderitaan Rakyat, dan tahunya hanya menyalah-nyalahkan Rakyat yang melawan politik reaksioner dan ketidakadilan.
Pemimpin revolusioner sejati, terutama kaum Komunis, tidak boleh meragukan tekad Rakyat dalam perjuangannya. Sebaliknya mereka harus belajar dari Rakyat dalam hal kesedaran dan kebulatan tekad. Hanya kaum tengah dan kaum revisionis yang suka meragukan hal-hal ini, yang mengira bahwa Rakyat juga seperti mereka, berpendirian bahwa “lapar lebih keras daripada hati”, bahwa perangsang materiyal adalah jauh lebih penting daripada ideologi revolusioner.
Tetapi pemimpin revolusioner yang sejati, terutama kaum Komunis, tidak boleh hanya pandai menerima kenyataan adanya kesedaran dar, kebulatan tekad Rakyat, dan hanya sampai di situ saja. Tidak, buat apa ada pemimpin revolusioner jika tidak bisa mengubah keadaan penghidupan Rakyat yang buruk menjadi baik, jika tidak pandai membanting stir dari kanan ke kiri bagi keadaan penghidupan Rakyat. Kaum revolusioner diterima sebagai pemimpin Rakyat, di samping karena pandai membawa perkembangan politik terus ke kiri, juga karena pandai bersama Rakyat membawa “perut Rakyat” ke arah yang sama.
Oleh karena itulah, kaum revolusioner harus tidak henti-hentinya berdaya-upaya, di samping membawa perkembangan politik terus ke kiri, juga memperbaiki keadaan penghidupan Rakyat. Oleh karena itu, kaum Komunis Indonesia menyambut program baru Kabinet Kerya dengan gembira, dengan pengertian yang paling mendalam dan dengan tekad bulat untuk melaksanakan program tsb.
Tetapi sebagaimana biasa, kaum Komunis Indonesia tidak hanya pandai menerima sesuatu program yang balk, tidak hanya pandai bekerya keras untuk pelaksanaannya, tetapi juga menunjukkan syarat-syarat dan cara-cara yang tepat untuk kelancaran pelaksanaannya. Jangankan untuk melaksana-kan program Pemerintah, sedangkan untuk membikin kue apam juga ada syarat-syarat dan cara-caranya. Tanpa syarat-syarat dan cara-cara yang sesuai tidak ada sesuatu yang dapat dibikin. Jadi, kalau kita mengemukakan syarat-syarat dan cara-cara pelaksanaan sesuatu program bukanlah kita mengada-adakan yang tidak ada.
Di bawah ini kita kemukakan pandangan-pandangan kaum Komunis mengenai syarat-syarat dan cara-cara bagi pelaksanaan program Pemerintah. Pada pokoknya pelaksanaan yang baik daripada program Kabinet Kerya tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan landreform secara konsekwenn, pengakhiran penyele-wengan “26 Mei 1968”, pembasmian kontra-revolusi, pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom dan pendemokrasian sistim pemerintahan.
(1) SANDANGPANGAN
Sandangpangan, dan terutama sekali pangan (makanan) adalah yang paling mendesak, sesuatu yang tak dapat ditunda seperti sering dikatakan oleh Presiden Sukarno. Dalam Deklarasi Ekonomi sudah ditetapkan program jangka pendek untuk memecahkan masalah sandangpangan, terutama pangan. Tetapi teror “26 Mei 63” telah membikin berantakan samasekali apa yang sudah ditetapkan dalam Dekon itu. Politik harga peraturan ekonomi 26 Mei 1963, yaitu politik berlomba dengan harga pasar, telah membikin harga beras dipasarkan membubungtinggi sampai antara 150-180 rupiah sekilo, bahkan lebih tinggi lagi dibebberapa tempat. Harga beras sudah meningkat dengan kuranglebih 3 kali dibandingkan dengan sebelum penyelewengan “26 Mei 63”. Ini membikin Rakyat pekerya, terutama sekali yang hidup dari upah atau gayi, menjadi lebih setengah mati.
Banyak konsepsi yang sudah dicoba dan dianjurkan, seperti menyamin persediaan bahan makanan yang cuukup dengan jalan mengimport lebih banyak dari luar negeri, mengadakan apa yang dinamakan Padi Centra dan kemudian Pertani, SSB (self-supporting beras), supaya diadakan perubahan menu Walaupun umum sudah mengetahui bahwa Rakyat sudah makan apa saja yang dapat dimakan, pembangunan pabrik rabuk, pemberian kredit, membatasi kelahiran, dan macam lagi. Tetapi semuanya itu bukan hanya tidak dapat dilaksanakan, tetapi juga sengaja atau tidak sengaja merupakan usaha untuk menghindarkan jalan pemecahan yang sebenarnya, yaitu landreform yang radikal.
Burjuasi nasional Indonesia masih muda usianya dan banyak mempunyai hubungan keluarga dengan tuantanah. Satu kakinya kaki kapitalis, sedangkan yang satu lagi kaki feudal. Terutama sekali burjuasi nasional industri Indonesia sangat lemah kedudukannya. Semuanya ini menyebabkan mereka tidak berkepentingan akan peningkatan dayabeli massa kaum tani agar mampu membeli hasil industri mereka. Oleh karena itu burjuasi nasional Indonesia, Walaupun secara obyektif antifeodalisme, tidak mungkin mempunyai program agraria yang radikal. Mereka tidak mungkin menjadi semacam kaum Yakobin Revolusi Perancis 1789. Klas yang tidak mempunyai syarat untuk menjadi semacam kaum Yakobin, tentu lebih tidak mempunyai syarat lagi untuk menjadi pelaksana cita Sosialisme. Yang ada syaratnya untuk mempunyai program agraria yang radikal hanyalah proletariat, bukan klas lain. Proletariatlah yang secara obyektif mampu menarik kaum tani kefihaknya, kefihak revolusi, dan ini pun memang sudah dibuktikan oleh kenyataan perjuangan Rakyat Indonesia.
Kaum Komunis Indonesia sudah lama berpendirian, bahwa juga dalam memecahkan masalah sandangpangan Rakyat Indonesia harus berdiri di atas kakinya sendiri. Untuk ini, untuk memecahkan buat se-lama-nya masalah sandangpangan, jadi bukan pemetahan secara tambasulam, hanya ada satu jalan, yaitu langkah pertama yang harus diayunkan ialah pelaksanaan landreform yang radikal dan bukan memperbanyak import, mengubah menu, mendirikan pabrik rabuk, dsb, karena semuanya ini merupakan tindakan- yang tidak memecahkan soal atau merupakan tindakan- lanjutan.
Melaksanakan landreform secara radikal berarti melaksanakan pensitaan atas tanah tuantanah, pembagian tanah sitaan itu dengan cuma- kepada tani penggarap dan anggota keluarganya seorang- sebagai milik perseorangan. Hanya dengan demikian tenaga produktif di desa dapat sungguh dibebaskan, dan barulah sesudah itu dapat berbicara tentang pengolahan tanah se-baik-nya, karena sipenggarap tahu bahwa hasil produksi tanahnya yang tinggi akan dimilikinya sendiri. Dengan seluruh hasil produksi tanah yang dimiliki-nya sendiri keadaan penghidupan kaum tani akan menjadi agak baik dan sebagian yang patut dari penghasilannya dapat digunakan untuk membikin tanahnya lebih subur sehingga produksinya dapat ditingkatkan. Sesudah landreform dilaksanakan barulah masalah import beras benar- menjadi sesuatu yang bersifat sementara, dan barulah besar artinya pembangunan pabrik rabuk, pemberian kredit dsb. Selama landreform radikal belum selesai dijalankan, semuanya itu merupakan sumber korupsi, spekulasi dan manipulasi, sedangkan kaum tani tetap menderita.
Tetapi, program agraria PKI yang radikal tidak bisa diterima oleh burjuasi nasional. Untuk menolaknya mereka bersekutu dengan unsur- tuantanah. Desakan kuat massa kaum tani membuat burjuasi nasional dan unsur- tuantanah tidak bisa menolak samasekali, Setapak demi setapak mereka mundur, mula- mereka terpaksa menerima Undang‘ Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH) dan kemudian Undang’ Pokok Agraria (UUPA), yaitu undang- yang membatasi miliktanah tuantanah. Sambil mundur mereka mengadakan perlawanan, terutama supaya tidak ada tindakan- yang bersifat radikal terhadap tuantanah dan supaya banyak lubang yang dapat digunakan tuantanah untuk menghindarkan diri dari kerugian. Untuk ini, yang paling penting bagi mereka, ialah mereka berhasil menempatkan kepala‘ daerah dari semua tingkat menjadi Ketua Panitia Landreform. Dengan kepala’ daerah sebagai ketua, yang*umumnyna berkepentingan mempertahankan sistim tuantanah, maka dengan sendirinya aparat utama, yaitu Panitia Landreform, menjadi macet. Belum lagi ditambah dengan peranan pegawai‘ tertentu dari Ja-watan Agraria; ada yang reaksioner atau ada yang tidak menyukai, ragu‘ atau paling kurang tidak berkepentingan akan terlaksananya landreform yang konsekwen. Bahkan sudah mulai terdengar bahwa di kalangan Jawatan Agraria banyak yang mencari keuntungan untuk diri sendiri dengan adanya landreform, pengkonversian tanah garapan dan pembagian tanah di kota-kota.
PKI menyetuji UUPBH dan UUPA, karena kedua undang-undang ini dapat dijadikan landasan untuk aksi‘ kaum tani, untuk lebih mengenal musuh'nya dan untuk mendapatkan sekedar perbalkan nasib bagi kaum tani Meskipun bersifat sementara.
Sekarang kaum tani Indonesia sudah berpengalaman mengenai apa yang dinamakan landreform menurut UUPA. Bayangkanlah: menurut taksiran fihak resmi saja tanah-lebih yang harus dibagikan kepada kaum tani berdasarkan UUPA sebanyak 1 juta HA. Tetapi yang terdaftar baru kira‘ seperlima dan dari yang seperlima ini baru dibagikan kira’ 9%, dan dari yang 9% ini lebih separoh jatuh ke tangan yang tidak berhak, ke tangan yang bukan penggarap. Padahal sudah pernah fihak resmi mengatakan bahwa dalam tahun 1963 ini, landreform berdasarkan UUPA harus sudah selesai. Jika pelaksanaan terus seperti sekarang, puluhan tahun lagi belum tentu tanah kelebihan dari tuantanah akan selesai dibagikan kepada kaum tani yang berhak, lebih‘ lagi jika harus dihitung waktu untuk membongkar penggelapan tanah oleh tuantanah dan kemudian juga mem-bagi'kan tanah-lebih yang digelapkan itu.
Pada dewasa ini pelaksanaan UUPA bukan saja berjalan sangat lambat, malah boleh dikatakan macet. Berdasarkan perhitungan jumlah tanah-lebih yang rata‘ tiap tahun dibagikan hingga kini dari tanah-lebih yang sudah tercatat resmi, maka tanah-lebih itu baru akan selesai dibagi paling cept pada tahun 2000. Gambarannya sama mengenai pelaksanaan UUPBH. Menurut angka’ yang dikumpulkan di Jawa Barat, jika temponya terus seperti sekarang, maka diperlu-kan 36 tahun lagi agar antara semua penggarap dengan pemilik tanah di daerah ini diadakan perjanjian bagi hasil sesuai dengan UUPBH.
Lebih jelek lagi keadaan para nelayan pekerja. Di kalangan kaum nelayan hingga sekarang belum ada undang‘ yang mengatur bagi-hasil yang agak adil antara langgan atau juragan dengan kaum nelayan. Pada pokoknya masih berlaku penetapan bagi-hasil secara sefihak oleh langgan atau juragan dan yang sangat memberatkan kaum nelayan pekerja.
Tidak mengherankan bahwa kesedaran kaum tani akan perlunya landreform yang radikal makin meningkat, dan dalam situasi sekarang kaum tani paling kurang me-nuntut supaya UUPA dilaksanakan dengan konsekwensi dan mengutamakan kepentingan kaum tani. Untuk ini PKI menyokong sepenuhnya tuntutan‘ kaum tani sbb.:
(1) Panitia landreform dari semua tingkat supaya tidak ada kecualinya berporoskan Nasakom, supaya diaktifkan dan supaya anggota serta ketua panitia, yaitu kepala daerah, yang tidak aktif diritul.
(2) Rituling personalia Jawatan Agraria, jawatan yang paling erat-erat hubungannya dengan soal landreform, agar dari pusat sampai ke-daerah-daerah terdiri dari orang-orang yang benar-benar mengutamakan kepentingan kaum tani penggarap dan sungguh-sungguh menginginkan terlaksanannya UUPA dalam waktu singkat.
(3) Supaya dibentuk Pengadilan Landreform dengan mengikutsertakan wakil-wakil kaum tani untuk mengadili tuantanan¹ dan petugas-petugas Pemerintah yang tidak sungguh¹ melaksanakan UUPA.
Pendeknya, jika belum berani melaksanakan landreform yang radikal seperti yang dimaksudkan oleh Program PKI, paling kurang harus dilaksanakan tiga tuntutan kaum tani ini. Jika baru tiga tuntutan kaum tani ini dan UUPA dilaksanakan, belumlah lagi pada tempatnya untuk menepuk dada dan berkata bahwa landreform telah dilaksanakan secara revolusioner. Memang belum seharusnya demikian, karena pelaksanaan UUPA barulah berarti membatasi milik tanah tuantanan dan samasekali belum menghapuskan milik feudal atas tanah, belumlah berarti melaksanakan semboyan “tanah hanya untuk kaum tani yang menggarap tanah”. UUPA masih menjamin pemilikan tanah pertanian oleh mereka yang tidak menggarap tanah dan ini membuka kemungkinan¹ besar untuk manipulasi-manipulasi tanah sehingga dapat meniadakan arti-penting UUPA.
Kelambatan¹ dalam melaksanakan UUPBH dan UUPA tidak bisa berakibat lain kecual timbulinya dan meratanya aksi-aksi sefihak oleh kaum tani. Jika ini terjadi, dan memang sudah terjadi di berbagai tempat, kaum tani samasekali tidak bisa dipersalahkan dilihat dari segi mana pun. Yang harus disalahkan dan diritul adalah pejabat-pejabat yang bertanggungjawab, yang sengaja atau tidak sengaja telah memperlambat atau se-kurang'nya tidak mempunyai kemauan dan kemampuan melaksanakan Undang-Undang negara.
Kaum revolusioner harus menyambut hangat dan mendorong aksi¹ sefihak kaum tani, dan harus menganggapnya sebagai swadaya massa Rakyat dalam usaha menanggulangi kesulitan sandangpangan dan melaksanakan Undang-Undang negara yang telah diterima secara demokratis.
Seandainya tiga tuntutan kaum tani tsb. dan UUPA dilaksanakan, ini samasekali tidak berarti bahwa tenaga produktif di desa sudah benar3 dibebaskan. Pelaksanaan UUPA tidak menghapuskan hubungan kerja antara pemilik dengan penggarap tanah, berhubung masih dijamininya tanah pertanian dimiliki oleh bukan penggarap tanah. Oleh karena itu, baik sebelum Maupun sesudah pelaksanaan UUPA, masalah pembagian hasil antara penggarap dengan penyemukan tanah, baik tuantahan Maupun penyemukan tanah keciil, masih tetap akan ada. Undang-Undang Pokok Agraria bukan landasan untuk menghapuskan penghisapan atas kaum tani oleh tuantanan, yaitu bentuk yang utama daripada penghisapan atas manusia oleh manusia di desa. Oleh karena itu pula pengalaman-pengalaman kaum tani dalam perjuangan menghadapi pemilik tanah dalam rangka pelaksanaan UUPBH adalah sangat penting untuk memperhebat perjuangan baik sebelum mau-pun sesudah pelaksanaan UUPA.
Hubungan feudal antara penggarap dan pemilik tanah hanya akan lenyap samasekali jika program agraria PKI sudah dilaksanakan. Karena itu program landreform yang komplit ini harus terus-menerus dijadikan mercusuar kaum tani, karena ia satu-satunya penunjuk jalan untuk menghapuskan penghisapan atas kaum tani oleh tuantananah.
Bereda dengan kaum Komunis, burjuasi nasional Indonesia merasa dirinya sudah jempol kalau sudah berusaha secara plintat-plintut membatasi milik tanah tuantananah. Sebaliknya merasa dirinya berdosa besar kalau sampai berbuat menghapuskan pemilikan tanah pertanian dari mereka yang tidak menggarap tanah. Selama pemilikan tanah semacam ini masih dipertahankan, landreform macam apa saja mesti disertai oleh manipulasi-manipulasi dan penipuan-penipuan yang keji.
Berbicara tentang mengatasi kesulitan bahan makanan, tetapi tidak berani melaksanakan landreform yang radikal, atau dalam situasi sekarang tidak berani se-kurang-kurangnya melaksanakan UUPA dengan konsekwens dan mementingkan kaum tani penggarap, adalah omongkosong, menipu diri sendiri dan menipu Rakyat.
Juga usaha mengatasi kesulitan sandang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan landreform yang radikal, karena hanya sesudah Indonesia dapat mengatasi kesulitan bahan makanan, barulah terbuka kemungkinan bagi Indonesia untuk mengatasi kesulitan bahan pakaian. Masalah sandang tidak mungkin dipecahkan selagi banyak jumlah devisen harus dipergunakan untuk mengimport bahan makanan.
Berbicara tentang memodernisasi Indonesia dan tentang menyeleksian revolusi adalah juga omongkosong, selama tidak berani mengadakan landreform yang radikal. Indonesia adalah negeri yang masih agraris di mana masih bercokol sis-sis feodalisme. Oleh karena itulah pada hakekatnya revolusi
Indonesia adalah revolusi agraria, revolusi kaum tani. Selama sistem tuantahan masih bercokol dan semboyan “tanah hanya untuk kaum tani yang menggarap tanah” belum dilaksanakan secara konsekwensi, selama itu kita tidak bisa berbicara tentang sudah modernnya Indonesia dan sudah selesainya revolusi Indonesia yang bersifat nasional-demokratis.
Jadi, baik untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka mengatasi kesulitan bahan makanan dan untuk mengatasi kesulitan bahan pakaian serta untuk memmodernisasi Indonesia, Maupun untuk menyeleksaian revolusi nasional-demokratis Indonesia, landreform yang radikal merupakan syarat mutlak dan langkah pertama yang harus diayunkan. Tentu saja bukan hanya radikal dalam kata, tetapi radikal dalam perbuatan, perbuatan yang menghendaki keberanian dalam mengakhiri pemilikan tuantahan atas tanah dan dalam melaksanakan semboyan “tanah hanya untuk mereka yang menggarap tanah”. Tindakan semacam ini tidak mempunya akibat lain kecuali menguntungkan Rakyat dan akan sangat memperkuat perjuangan antiimperialisme dan pembangunan ekonomi negeri karena sebagian yang sangat besar dari Rakyat, yaitu kaum tani, dapat dijadikan partisipan yang aktif.
Pembangunan Koperasi Rakyat Pekerja, khususnya di kalangan kaum buruh dan kaum tani, yang dapat ambil bagian dalam melancarkan distribusi sandangpangan dan meningkatkan produksi pangan tidak pesat perkembangan nya. Koperasi yang ada sekarang pada umumnya tidak berwatak Koperasi Rakyat Pekerja dan menjadi bagian dari lapangan kegiatan kaum penghisap, kaum kapitalis, bahkan kaum kapitalis birokrat. Ini adialah bukti sejelas-jelasnya bahwa koperasi tunduk pada sistim ekonomi yang berlaku dan terdesak oleh kepentingan‘ klas yang berdominasi.
Dari uraian di atas jelaslah, mengapa kita harus mendasarkan perekonomian negeri kita pada pertanian dan perkebunan. Hanya kalau kita mempunyai perekonomian yang dasarnya kuat, yaitu pertanian dan perkebunan yang maju dan berkembang, barulah kita bisa membangun dan memperkuat sektor industri sebagai tulangpunggung perekonomian kita. Seperti sudah diuraikan di atas, langkah pertama yang harus diayunkan untuk mendapatkan dasar perekonomian yang kuat ialah landreform yang radikal. Juga Sosialisme yang akan kita bangun di kemudian hari, hanya bisa berdiri tegak jika mempunyai dasar pertanian yang kuat. Oleh karena itu, kaum Komunis Indonesia, baik sekarang Maupun di kemudian hari setelah membangun Sosialisme, harus memberikan perhatian yang se-besar'nya pada masalah pertani-an dan perkebunan, pada masalah kaum tani dan pekerja kebun, pada masalan desa.
Di masa yang lampau pentingnya peranan kaum tani atau desa juga sudah dibuktikan. Walaupun tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai sekarang belum dapat kita rampungkan, tetapi Revolusi ini telah memberi pelajaran yang sangat penting tentang mutlaknya peranan kaum tani dalam revolusi. Kita sekarang menyedari se-dalam'nya, bahwa terutama karena dalam Revolusi Agustus 1945 kita kurang mementingkan kaum tani, sampai kini Revolusi nasional-demokratis kita belum selesai.
Baik sejarah, kenyataan sekarang Maupun haridepan Revolusi Indonesia mengharuskan kaum Komunis dan kaum revolusioner Indonesia lainnya mengintegrasikan diri secara total dengan gerakan kaum tani Indonesia, harus memberi perhatian se-besar'nya kepada soal desa, soal‘ kaum tani dan buruh perkebunan.
Pengintegrasian diri kaum revolusioner dengan gerakan tani pada waktu sekarang, pertama-tama ialah pengintegrasian dalam fikiran dengan menerima sepenuhnya program agraria yang radikal serta kesediaan melaksanakan program itu dengan sepenuh hati. Tentang ini sudah sering kita katakan. Tetapi karena masalah ini penting, dan karena masih sering dilupakan, juga oleh sementara Komunis, apalagi karena banyak orang yang sengaja mau me-lupa'kan tentang peranan penting kaum tani di masa lampau dan krena di antara orang-orang Manipolis munafik ada pula yang ingin nieng-injak- kaum tani di waktu sekarang, maka berapa ratus kai pun kita ingatkan tentang pentingnya masalah tani dan pertanian, tidaklah akan melebihi keperluan.
(2) MENGGANYANG “MALAYSIA”
PKI adalah Partai yang pertama-tama mensinyallr tentang berbahayanya gagasan “Malaysia” bagi Indonesia dan bagi perdamaian di Asia Tenggara. Malahan sebelum ada gagasan “Malaysia”, ketika negara Malaya didirikan oleh kaum kolonialis Inggris, PKI sudah menyatakan pendiriannya bahwa kerajaan baru itu adalah perwujudan dari neokolonialisme, hasil kompromi imperialisme Inggris dengan kaum reaksioner Malaya dalam membasmi gerakan progresif di Malaya. Jadi, kerajaan Malaya bukan dibentuk sebagai hasil peryuangan revolusioner melawan kolonialisme. Dengan dibentuknya “Malaysia” maka Malaya yang neo-kolonial diberi baju baru dan diperluas daerahnya. Proyek neokolonial ini bukan dimulai dengan “Malaysia”, tetapi sudah sejak dibentuknya kerajaan Malaya yang bertujuan menghancurkan gerakan progresif Rakyat Malaya dan membela kepentingan politik, ekonomi dan militer kaum imperialis Inggris di daerah itu.
Sebelum “Malaysia” berdiri, kaum Komunis Indonesia senantiasa mengingatkan seluruh nasion tentang bahaya‘ yang dapat ditimbulkan oleh permainan mata dengan Tengku Abdul Rakhman, komprador Inggris nomor satu di Asia Tenggara. Oleh karena itu PKI tidak pernah menyetujul dilangsungkannya Konferensi Manila antara Indonesia, Filipina dan Malaya, karena konferensi yang demikian itu tidak ada dasarnya mengingat politik dalam dan luar negeri dari kedua negara asing itu samasekali tidak ada miripnya dengan politik dalam dan luar negeri Indonesia. Kaum Komunis Indonesia tidak menyetujui konferensi demikian itu demi menyaga keselamatan politik dalam dan luar negeri Indonesia yang pada pokoknya disokong oleh kaum Komunis.
Tetapi, di luar kehendak kaum Komunis Indonesia Konferensi Manila berlangaugng juga dalam bulan Agustus 1963. Kita menghargai tinggi posisi Presiden Sukarno yang memperyuangkan ide‘ yang maju dalam konferensi ini. Konferensi Manila telah melahirkan beberapa keputusan, antara lain mengenai “Konfederasi Mafilindo” dan “Federasi Malaysia”.
Tentang Mafilindo kaum Komunis Indonesia sudah menyatakan sikapnya yang tegas, bahwa sesuatu konfederasi antar negara hanya dapat dibentuk jika ada persamaan tertentu dibidang politik. Atas dasar ras (Melayu) saja tidak mungkin dibentuk sesuatu konfederasi antar negara. Antara Indonesia, Filipina dan Malaya tidak ada persamaan politik, baik politik dalam Maupun luar negeri. Politik dalam negeri Indonesia ialah mempersatukan seluruh Rakyat dengan poros Nasakom guna menyelesaikan Revolusi antiimperialis dan antifeodal, sedangkan politik luar negeri Indonesia ialah menyatukan segenap kekuatan baru yang sedang tumbuh di dunia dan sebagai akibatnya Indonesia menjalankan politik kerjasama yang erat-erat dengan negeri sosialis, dengan negeri baru merdeka yang antiimperialis dan dengan gerakan progresif di-negeri kapitalis serta di mana saja kekuatan itu terdapat. Kaum imperialis AS berusaha keras untuk memasukkan Indonesia ke dalam perangkap Mafilindo, karena perangkap lain seperti Seato dan ASA (Association of South-east Asia), sudah ternyata tidak mempan.
Antara Filipina dan Malaya memang terdapat politik dalam dan luar negeri yang bersamaan, yaitu bersandar pada imperialisme, tetapi jangan dilupakan bahwa imperialis yang diabdi oleh politik masing-masing adalah berbeda. Malaya mengabdi Inggris dan Filipina mengabdi Amerika Serikat. Satu hal yang pasti mempertentangkan Malaya dengan Filipina, yaitu tuntutan Filipina atas Sabah. Amerika Serikat menyokong tuntutan Filipina ini, karena AS juga ingin mempunyai wilayah yang dapat dikuasainya yang berbatasan dengan wilayah Indonesia. Dengan sendirinya Inggris menggunakan Malaya untuk menentang tuntutan Filipina.
Berkat perjuangan Presiden Sukarno dan para pembantu nya, Konferensi Manila telah melahirkan putusan-putusan yang kalimatnya tidak begitu janggal jika dihubungkan dengan politik dalam dan luar negeri Indonesia. Tetapi paling kurang satu hal membulukan rasa prihatin, karena putusan-putusan Manila itu antara lain menerima pada prinsipnya gagasan “Malaysia”, asal dipenuhi beberapa syarat yang sebenarnya tidak begitu sulit untuk dipenuhi dengan masih tetap adanya tentara Inggris di Serawak dan Sabah. Tetapi, imperialis Inggris sekarang bukan imperialis Inggris yang dulu, yang mempunyai kepercayaan pada kekuatan sendiri. Kurang kepercayaan pada kekuatan sendiri dari imperialis Inggris ini bukan tidak beralasan. Karena kedudukannya di Hongkong dirasakan sudah tidak terjamin lagi maka Inggris mundur kepertahanannya yang terakhir di Asia Tenggara, ialah “Malaysia”. Kenyataan bahwa Inggris tidak bisa memaksai Brunei masuk “Malaysia” adalah bukti bahwa Inggris tidak berada dalam posisi yang kuat dalam memaksakan berdirinya “Malaysia”. Inggris memaksakan berdirinya “Malaysia” dengan tidak menggubris putusan-putusan Manila.
Kalau persetujuan Manila sekarang menjadi positif, artinya bisa digunakan dalam menghadapi “Malaysia” dan sampai batas tertentu dalam menarik Filipina supaya ikut menentang “Malaysia”, adalah terutama karena perbuatan Inggris sendiri yang tidak menggubris persetujuan Manila dalam merealisasi “Malaysia” Sekalipun persetujuan itu sebenarnya tidak menentang berdirinya “Malaysia”. Perse-tujuan Manila bisa menjadi negatif, merugikan perjuangan Rakyat Indonesia dan Rakyat-Rakyat di Malaya, Singapura, Serawak, Sabah dan Filipina, serta Rakyat-Rakyat di Asia Tenggara pada umumnya, jika seandainya Inggris mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan menuruti segala yang di-tetapkan dalam persetujuan Manila. Jika yang terakhir ini terjadi, maka “Malaysia” akan menjadi sesuatu yang “sah” dan inisiatif dalam persocalan “Malaysia” akan ber-pindah ke tangan Inggris dengan Tengkunya.
Ketidaksabaran dan kebodohan musuh telah membantu menyadikan “Malaysia” alat pembangkit perjuangan Rakyat-rakyat di Asia Tenggara dalam memberi pukulan-pukulan hebat kepada imperialisme di daerah ini. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa imperialisme tidak lagi dalam posisi yang kuat. Sebaliknya, Rakyat adalah kuat, Sekalipun membikin keke-liruan, ia bisa ceapat tampil lagi sebagai pengambil inisiatif.
Sekarang Indonesia berada dalam kedudukan berinisiatif dalam mengganyang “Malaysia”. Masalah “Malaysia” bukan hanya masalah Rakyat‘ di-wilayah “Malaysia” dan di Indonesia, tetapi masalah Rakyat’ di seluruh Asia Tenggara dan tidak dapat dianggap terpisah dari perjuangan Rakyat‘ sedunia dalam melawan imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme. Oleh karena itu perjuangan Rakyat Indonesia mengganyang “Malaysia” sudah sewayarnya dibantu oleh kekuatan-kekuatan antiimperialisme di seluruh dunia. Program Kabinet Kerya tentang mengganyang “Malaysia” adalah program revolusioner yang mempunyai arti nasional dan internasional sekalius.
Sekarang persoalannya, bagaimana Rakyat dan Pemerintah Indonesia dapat melaksanakan program mengganyang “Malaysia” itu se-baiknya terutama agar pelaksanaan program ini dintegrasikan secara harmonis dengan program dan tugas lain dari Rakyat dan Pemerintah Indonesia.
Ada sementara orang yang berpandangan picik, untuk tidak menyebut mereka pembawa suara kaum kontra-revolusioner, berpendapat bahwa program mengganyang “Malaysia” bertentangan dengan program sandangpangan dan pembangunan, dan juga bertentangan dengan tugas membasmi kontra-revolusi, membentuk Kabinet Gotong Royong, dll. Mereka katakan, melaksanakan program mengganyang “Malaysia” menghendaki banyak ongkos dan tenaga sehingga mau tidak mau program sandangpangan dan pembangunan terpaksa diterlantarkan. Mereka katakan juga, bahwa untuk mengganyang “Malaysia” sebanyak mungkin kekuatan “nasional” harus kita him pun, termasuk menarik sebanyak mungkin orang‘ yang selama ini dianggap kontra-revolusioner. Oleh karena itu, kata mereka, tidak tepat diteruskan politik mengganyang kaum kontra-revolusioner dalam negeri, lebih lagi tidak tepat pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom, karena jika kabinet demikian dibentuk kaum kontra-revolusioner akan lebih menjauahkan diri dari Pemerintah. Jadi, kata mereka, demi pelaksanaan program mengganyang “Malaysia” Rakyat harus lebih berani menderita dan harus “toleran” terhadap kaum kontra-revolusioner.
Nah, adakah pemutarbalikan yang lebih hebat dan lebih kurangajar daripada ini? Pemutarbalikan yang memang dibutuhkan kaum kontra-revolusioner, tetapi samasekali tidak dibutuhkan oleh Rakyat!
Di tangan menteri‘ yang berkemauan baik dan ber-sungguh’, Triprogram baru Pemerintah adalah saling mengisi dan saling memperkuat. Pelaksanaan program sandangpangan, dan sekali lagi syarat mutlaknya ialah pelaksanaan landreform yang radikal, atau se-kurangnya pelaksanaan UUPA yang sudah ada sekarang secara konsekwenn demi kepentingan kaum tani, akan memperkuat potensi nasional, dan dengan kuatnya potensi nasional pukulan lebih hebat dapat diberikan kepada “Malaysia”. Pelaksanaan program mengganyang “Malaysia”, sudah terbukti membebaskan Indonesia dari cenkeraman kapitalis monopoli dan kompradornya di Malaya dan Singapura, sehingga Indonesia dapat berhubungan langsung dengan konsumen barang exportnya dan produsen barang importnya. Terlepasnya Indonesia dari cenkeraman Malaya dan Singapura dalam soal import dan export, melahirkan kemungkinan baru bagi Indonesia untuk mengubah arah perdagangan luar negerinyanya yang selama ini terlalu berat sebelah ke-negeri kapitalis dan perubahan arah ini penting dalam usaha Indonesia mengatasi kesulitan sandangpangan dan meneruskan pembangunan. Pelaksanaan program meneruskan pembangunan mengandung arti bahwa sandangpangan, terutama pangan Rakyat, harus dijamin, karena dengan perut kosong pembangunan tidak bisa dilakukan.
Di atas se-galanya program mengganyang “Malaysia” hayna dapat dilaksanakan dengan baik jika ceapat diakhiri penyelewengan “26 Mei 63”, jika kontra-revolusi dibasmi sampai ke-akar nyia dan jika ceapat dibentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom. Penyelewengan “26 Mei 63”, masih berkeliaran nyia sisa kontra-revolusi dan belum terbentuknya Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom merupakan rintangan pokok dalam melaksanakan program mengganyang “Malaysia”, karena semuanya itu melemahkan potensi ekonomi dan politik negeri serta menyebabkan tidak terciptanya “social support”, “social participation” dan “social control” dalam pelaksanaan program Pemerintah.
Kesulitan baru tentu timbul dalam rangka konfrontasi dengan “Malaysia”. Tetapi kesulitan ini timbul dalam melahirkan sesuatu yang baru dan lebhl baik. Adakah kelahiran sesuatu yang baru tanpa kesulitan?
Politik mengganyang “Malaysia” secara resmi sudah menjadi program Pemerintah. Boleh dikatakan semua partai, semua ormas dan semua tokoh masyarakat menyatakan sikap nyia yang menentang “Malaysia”. Tetapi sudah tentu menurut kepentingan dan pendirian sendiri, sesuai dengan klas yang diwakili masing-masing. Pada pokoknyia ada tiga golongan dan tiga pendirian dalam menghadapi “Malaysia”.
Pertama, kaum reformis atau kaum moderat, yang berbicara tentang mengganyang “Malaysia”, dan tempo berbicara galak, tetapi di belakang kepalanya masih meng-harap'kan kesediaan kaum imperialis Inggris dan Tengku Abdul Rakhman supaya soal “Malaysia” diselesaikan secara “dama!”, dan untuk itu bersedia memberikan konsesi tertentu. Mereka masih tetap meng-angan'kan adanya KTT
Manila ke-II untuk “menyelesakan” soal “Malaysia”. Mereka katakan, bahwa “kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam konfrontasi”. Dengan demikian mereka menentang teori Presiden Sukarno yang mengatakan bahwa konfrontasi adalah satu'inya jalan untuk menyelaskan soal “Malaysia”. Mereka mencoba memberikan alasan untuk memperkuat pendirian mereka dengan mengatakan, bahwa pada prinsipnya kita tidak berkeberatan dengan “Malaysia”; yang tidak kita setuji ialah caran'ya “Malaysia” dibentuk, yang tidak sesual dengan persetujuan Manila. Cobahal, di manakah kurang jelasnya? Pada prinsipnya mereka menerima neo-kolonialisme, hanya caray membentuk bangunan neo-kolonial itu yang tidak mereka setuji.
Terhadap pendirian kaum reformis atau moderat, kaum revolusioner, terutama kaum Komunis, harus awas benar karena ide reformis yang diberi kedok “kebijaksanaan”, “toleransi”, “demi perbaikan ekonomi Indonesia”, bahkan “demi sandangpangan” dan “demi menyelamatkan Sosialisme Indonesia”, bisa mendapat pasaran di kalangan kaum tengah yang bimbang dan sangat luas itu.
Kedua, kaum avonturis atau petualang kontra-revolusioner. Mereka sudah lama berusaha menjatuhkan apa yang mereka namakan “rezim Sukarno”. Mereka sudah coba dengan mengadakan kudeta, dengan pemberontakan kontra-revolutioner, dengan mencoba membunuh Presiden Sukarno, dengan “mengkomunis-komuniskan” Bung Karno untuk menarik kaum agama yang masih terbelakang fikirannya kefihak mereka, dengan meng-hitam'kan nama Bung Karno tentang soal‘ pribadi baik lewat koran’ reaksioner di luar negeri (didalamnegeri mereka sudah tidak berani lagi), siaran‘ gelap Maupun dengan me-nyebar'kan bisikan’ berbisa. Tetapi semuanya ini gagal, martabat Bung Karno baik sebagai tokoh nasional Maupun sebagai tokoh internasional yang antiimperialis makin menaik bersamaan dengan menaiknya martabat Rakyat Indonesia.
Di muka umum kaum petualang kontra-revolusioner suka mengeluarkan pernyataan‘ yang “galak’” terhadap “Malaysia”, sehingga peninjau‘ luar negeri yang tidak mengerti sering bingung, dan yang naif mudah tertipu, karena pernyataan mereka sama dengan pernyataan kaum Komunis, dan kaum revolusioner lainnya. Kebingungan ini segera lenyap setelah dijelaskan maksud yang tersembunyi di belakang kata’ “galak” itu, yaitu maksud memancing tindakan‘ bersenjata terbatas dari fihak Inggris untuk menimbulkan kepanikan dalamnegeri, yang dikiranya akan merupakan kesempatan baik untuk mangakhiri “rezim Sukarno” atau se-kurang'nya menjadikan Bung Karno sebagai tawanan politiknya, suka menandatangani apa saja yang mereka so-dorkan, guna akhirnya mengadakan hubungan baik dengan “Malaysia” dan Inggris serta mempersembahkan kemenangan mereka kepada AS.
Juga terhadap kaum petualang kontra-revolutioner ini kaum revolusioner, terutama kaum Komunis, harus waspada benar-benar, harus tidak henti'nya mengkonfrontasi kata-kata “galak” mereka dengan kata“ dan perbuatan-perbuatan mereka yang reaksioner, yang cuduk banyak itu. Sebagai contoh saja, sikap yang sungguh-sungguh menentang ”Malaysia“ tidak mungkin dipadukan dengan sikap antikegotongroyongan nasional berporoskan Nasakom, karena tidak mungkin konfrontasi dengan ”Malaysia“ berhasil jika tidak ada kegotongroyongan semacam itu. Sedangkan mereka antiNasakom, se-ku-rang'nya tidak pernah menyatakan mutlak-perlunya poros Nasakom seperti yang sering dinyatakan oleh Presiden Sukarno.
Ketiga, kaum revolusioner, di mana kaum Komunis termasuk di dalamnya. Kaum revolusioner berpendapat, bahwa kontradiksi antara Rakyat Indonesia dan Rakyat-Rakyat antiimperialis lainnya di dunia dengan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme, termasuk “Malaysia”, adalah kontradiksi yang tidak dapat diselesaikan di meja perundingan, tetapi harus diselesaikan dengan jalan konfrontasi di segala bidang. Kaum imperialis, kolonialis dan neo-kolonialis baru mau mundur kalau digempur hebat'an terlebih dulu, dan dalam keadaan mereka terpaksa mundur di situlah baru ada gunanya perundingan untuk menerima penyerahan mereka. Inilah pelajaran yang tidak bisa dilupakan Rakyat Indonesia dalam melaksanakan Trikora pembebasan Irian Barat.
Tentu kita tidak boleh secara mekanis menyamakan persoalan Irian Barat dengan persoalan “Malaysia”, Walaupun ke-dua'nya sama-sama melawan imperialisme. Irian Barat adalah wilayah sah kita sendiri, dan imperialisme Belanda adalah jauh lebih lemah daripade imperialisme Inggris. Kedudukan Inggris di “Malaysia” adalah lebih berbahaya bagi Republik Indonesia daripada kedudukan Belanda dulu di Irian Barat. Belanda di Irian Barat tidak begitu membahayakan perjuangan Rakyat-Rakyat dan perdamaian di Asia Tenggara, jika dibanding dengan kedudukan Inggris di “Malaysia” sekarang.
Tetapi adalah keliru sekali jika mem-besar'kan kekuatan Inggris di “Malaysia”, karena “Malaysia” tidak lain adalah proyek imperialis yang sedang sekarat, yang dilakukan secara ter-buru-buru saking kuatirnya akan kehilangan posisinya sama-sekali di Asia Tenggara. Kenyataan ini, dan kenyataan tidak mampunya Inggris memaksa Brunei masuk “Malaysia” adalah bukti di antara sekian banyak bukti tentang kelemahan imperialis Inggris. Tetapi, fikiran untuk menyecelsaikan soal
“Malaysia” secara ter-buru-buru juga tidak tepat, karena fikiran demikian bisa sejalan dengan kaum reformis dengan KTT Manila ke-IIInya dan dengan kaum petualang kontra-revolusioner dengan sikap “galak”nya sebagai tabir-asap untuk menutupi maksud jahatnya terhadap “rezim Sukarno”.
Mengganyang “Malaysia” merupakan tugas kongkrit yang terpenting dari Rakyat Indonesia dalam perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme pada saat ini. Dalam melakukan tugas ini, tidak boleh sedetik pun dilupakan, bahwa musuh Rakyat Indonesia yang paling berbahaya, musuh nomor satu, ialah imperialisme Amerika Serikat dan bahwa imperialisme AS ini juga sangat berkepentingan untuk mempertahankan “Malaysia” sebagai bentuk neo-kolonialisme. Jadi, perjuangan melawan “Malaysia” bukan hanya berarti melawan imperialis Inggris melainkan pula langsung melawan imperialisme AS. Hal ini dibenarkan oleh tindakan yang sungguh kurangajar dari kaum Imperialis AS yang secara kasar menggunakan “bantuan ekonominya” untuk menggertak dan memaksa Indonesia agar tidak melawan “Malaysia”, dan oleh perluasan daerah operasi Armada ke-VII AS sampai ke Samudera Indonesia.
Program mengganyang “Malaysia” harus dilakukan dengan semangat yang tinggi, tetapi sekaligus dipadu dengan pekerjaan tekun di segala bidang, baik di-bidang-bidang yang langsung berhubungan dengan konfrontasi terhadap “Malaysia” Maupun di-bidang-bidang dalammegeri. Konfrontasi yang sudah dimulai harus kita lanjutkan dengan lebih hebat, lebih berkokar-berkokar, tetapi juga lebih tekun.
Konfrontasi dibidang politik harus dilaksanakan dengan terus-menerus menelanjangi “Malaysia” sebagai proyek imperialisme, dengan terus-menerus menelanjangi pemimpin mereka yang tidak lain daripada budak-budak belian imperialisme, dengan terus-menerus menanamkan pengertian dan menarik perhatian sahabat-sahabat dari NEFO terhadap perjuangan ini, dengan terus mengganyang kakitangan-kakitangan “Malaysia” dan kaum kontra-revolusioner lainnya didalammegeri, dengan memperbaiki susunan Kabinet Kerya supaya mendapat “social-support” dan “social-control” yang se-hebat-hebatnya, dsb. dsb. Sudah tentu, dalam konfrontasi dibidang politik ini yang termasuk paling urgen ialah mengakui Negara Kesatuan Kalimantan Utara dengan Tentara Nasional Kalimantan Utaranya di bawah pimpinan P. M. Azahari sebagai satu-satunya kekuasaan yang sah di wilayah itu, karena ini dapat dijadikan landasan politik yang kuat untuk memberikan bantuan apa saja kepada perjuangan Rakyat di Kalimantan Utara.
Konfrontasi dibidang ekonomi merupakan senjata yang ampuh baik untuk memukul kepentingan kaum imperialisme Inggris Maupun untuk melepaskan ekonomi Indonesia sen-diri dari cenkeraman sisa imperialisme yang sudah lama meng-halang hubungan dagang kita dengan luarnegeri. Konfrontasi dibidang ekonomi hendaknya jangan dilihat sebagai sesuatu yang memukul beberapa orang pedagang di Singapura, melainkan terutama sebagai sesuatu yang langsung memukul kepentingan kaum imperialis.
Di atas segala-galanya, dalam rangka konfrontasi dibidang ekonomi terhadap “Malaysia”, aparat ekonomi dan keuangan Republik kita harus mengalami ritiling besar'an, karena aparat di-bidang ini adalah yang paling lemah jika dibanding dengan di-bidang lain, karena di sinilah bersarang “ahli” ekonomi dan keuangan kolonial, kaum soska, bekas Masyumi dan orang reaksioner lainnya yang sekarang banyak tergabung dalam organisasi majikan bernama Soksi, Perkapen dsb. Yang paling jahat ialah “ahli” soska, karena mereka pandai membungkus maksud jahat mereka dengan kata yang se-akan “progresif” dan se-akan “logis”, dan mereka ini menduduki posisi‘ penting, termasuk sebagai pegawai tinggi dan “ahli” yang duduk dalam staf menteri yang bertanggungjawab dibidang ekonomi dan keuangan. Segala peraturan ekonomi dan keuangan yang jahat, terutama sejak gembong soska Sumitro berkuasa dibidang ekonomi dan keuangan sampai kepada teror “26 Mei 1963,” adalah dibikin dan diadvokati terutama oleh kaum soska.
Aparat ekonomi dan keuangan adalah aparat yang tadi nya paling jarang dipersoalkan Rakyat, lain halnya dengan Angkatan Bersenjata, Pamong Praja, Pendidikan dan Per-guruan, dll. Oleh karena itulah aparat dibidang ekonomi dan keuangan termasuk aparat yang paling lemah dari Republik kita yang berjuang melawan imperialism. Tetapi, pada waktu‘ belakangan sudah makin banyak pemimpin dan Rakyat yang ditarik ke dalam pembicaraan tentang soal ekonomi dan keuangan, dan dengan demikian aparat dibidang ini makin mendapat sorotan dan kecaman. Ini merupakan gejala baru yang baik sehingga perlu didorong dan dikembangkan.
Dalam rangka konfrontasi terhadap “Malaysia” sudah tentu adalah juga menjadi kewajiiban mutlak Rakyat Indonesia untuk membantu perjuangan bersenjata Rakyat Kalimantan Utara, di samping Revolusi Rakyat Kalimantan Utara merupakan bantuan besar bagi Rakyat Indonesia dalam mengganyang “Malaysia”.
Indonesia sudah sering mendapat bantuan dalam perjuangan bersenjata, baik ketika Indonesia dengan kekuatan senjata menghancurkan “PRRI-Permesta” Maupun ketika Indonesia menyalankan Trikora untuk membebaskan Irlan Barat. Oleh karena itu Indonesia menyedari benar perlunya Rakyat Kalimantan Utara dibantu dalam perjuangan ber-senjata mereka. Sudah tentu, faktor yang menentukan adalah perjuangan bersenjata Rakyat Kalimantan Utara sendiri. Ini dengan tidak mengurangi arti dan perlunya bantuan dari fihak Indonesia.
Jadi, harus dipegang teguh oleh keduabelah fihak, baik oleh fihak Kalimantan Utara Maupun oleh fihak Indonesia, bahwa Rakyat Kalimantan Utaralah yang membebaskan negerinya, sedangkan peranan Indonesia hanya membantu. Oleh karena itu kita tidak menyetuji fikiran“ sementara kaum ”bonapartis“ Indonesia, yang berfikir bahwa merekaalah yang akan membebaskan Kalimantan Utara dan bahwa Kalimantan Utara tidak mungkin bebas tanpa mereka. Fikiran ini tidak sesuai dengan pengalaman Indonesia sendiri. Walaupun bagaimana banyaknya bantuan yang diterima Indonesia dari negeri sahabat, tetapi faktor yang menentukan bagi kemenangan Indonesia adalah pertama-tama perjuangan Rakyat Indonesia sendiri.
(3) MENERUSKAN PEMBANGUNAN
Dhnuka sudah kita bicarakan tentang salinghubungan dan saling mengisi antara ketiga program Kabinet Kerja. Program meneruskan pembangunan sangat erat-erat hubungan nya dengan program memecahkan masalah sandangpangan seperti yang sudah dijelaskan di muka, demikian puya sangat tergantung pada cara yang tepat, yang revolusioner dalam menyelelsai masalah “Malaysia”. Juga tidak dapat dipisahkan dari tugas mengakhiri penyelewengan “26 Mei ‘63”, membasmi kontra-revolusi sampai ke-akarnya dan membentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom.
Dalam hubungan dengan pembahasan program ketiga Kabinet Kerja, kita merasa perlu membicarakan lebih dalam beberapa segi daripada persoalan ekonomi, yang mempunyai pengaruh langsung terhadap dapat atau tidalkna pembangunan diteruskan dengan baik, yaitu tentang: (a) Peraturan ekonomi 26 Mei 1963. (b) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1963 dan 1964. (c) Konfrontasi ekonomi terhadap “Malaysia”, (d) Perembesan modal imperialis di Indonesia, dan (e) Kembali ke Dekon sebagai satu'nya dia lan diika mau meneruskan pembangunan ekonomi.
(a) Peraturan ekonomi 26 Mei 1963
Peraturan ekonomi 26 Mei 1963 atau sekarang lebih dikenal sebagai penyelewengan “26 Mei ‘63” merupakan pelaksanaan daripada teori politik ekonomi yang usang dibang moneter dan perdagangan. Dalam Gesuri, pidato Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1963, dinyatakan bahwa “Masalah ekonomi tak dapat dan tak boleh kita tanggulangi secara routine”. Politik yang diwakili oleh penyelewengan “26 Mei ’63” memang merupakan politik rutine yang sudah sering di-jalankan sejak tahun 1950, yang pada pokoknya mengorbankan segala sesuatu, terutama produksi dan tingkat hidup Rakyat pekerya, untuk menyapai apa yang dinamakan “stabilisasi moneter” dan memberi perangsang kepada kaum exportir. Politik yang demikian lebih merupakan politik yang terkutuk karena dilaksanakan justru beberapa bulan setelah diumumkannya Deklarasi Ekonomi yang menekankan pada soal produksi dan perbaikan tingkat hidup Rakyat.
Penyelewengan “26 Mei ‘63” juga merupakan penyelewengan kasar terhadap prinsip ekonomi terpimpin, terutama dibidang perdagangan. Prinsip ekonomi terpimpin seperti misalnya pengawasan yang efektif terhadap harga¹, distribusi barang-barang pokok secara merata dan di seluruh negeri, penyualan bahan³ untuk sektor industri dan pemberantasan terhadap berbagai manipulasi dan spekulasi, dilepaskan samasekali Walaupun ini bertentangan dengan tuntutan massa Rakyat yang luas. Perusahaan⁴ Dagang Negara yang sudah umum dikenal sebagai sarang⁵ manipulasi di mana kaum kapitalis birokrat memperkaya diri atas kerugian seluruh Rakyat, bukannya diritul seperti apa yang dituntut Rakyat melainkan diberi wewenang yang jaun lebih luas dengan tidak perlu mengikat diri lagi kepada kebijaksa-nan yang dijalankan oleh Pemerintah. Hutang⁶ mereka kepada negara umumnya dinyatakan batal. Yang amat mengherankan ialah berita akhir-akhir ini bahwa PDN⁷ yang seharusnya menjadi sumber keuangan bagi negara akan diberi kredit lagi sebanyak Rp. 8.9 milyard, tidak lain karena pukulan yang katanya mereka derita akibat peraturan³ “26 Mei 1963” itu, padahal justru PDN⁷ telah sangat ditolong oleh peraturan⁸ terkutuk itu.
Gelombang protes melawan penyelewengan “26 Mei ‘63” telah mulai sejak saat peraturan itu diumumkan, dan pernyataan Partai kita tgl. 3 Juni 1963 di bawah semboyan “Selamatkan Dekon! !” telah sangat membantu dalam me-ratakan pengertian massa tentang penyelewengan itu serta dalam menyegah kemungkinan Dekon didiskreditkan karena penyelewengan itu.
Entah berapa banyak perusahaan yang terpaksa ditutup atau dikurangi tingkat kegiatanya karena penyelewengan itu. Entah berapa banyak kaum buruh yang kehilangan mata pencaharian karena penyelewengan itu. Entah berapa banyak alat pengangkutan dan alat produksi yang nongkrong karena pemiliknya, baik negara Maupun swasta, sudah tidak mampu membayak HPN⁹ (Hasil Perdagangan Negara) yang ditetapkan oleh penyelewengan itu. Entah berapa banyak ke-uangan negara yang telah diinvestasi dalam proyek⁸ pembangunan yang menjadi hilang karena proyek⁸ itu ter-katung⁸ sebagai akibat penyelewengan itu. Entah berapa banyak kegiatan pemerintahan sendiri, terutama di-daerah⁸, yang terpaksa dibatalkan karena penyelewengan itu.
Gesuri dengan tegas menandaskan bahwa “mengutamakan kenaikan produksi” adalah “keharusan”, karena “secara positif harus mengembangkan tenaga produktif daripada buruh dan tani“.
Peraturan ekonomi 26 Mei bukannya melaksanakan apa yang dinyatakan oleh Gesuri tentang mengembangkan tenaga produktif daripada buruh dan tani, tetapi malahan menekan perkembangan tenaga produktif tersebut. Hal ini terbukti dari kenyataan selama ini, bahwa dayabelli Rakyat pekerjia makin lama makin merosot karena politik kenaikan harga barang dan dengan tertekannya penghasilan Rakyat pekerja. Sektor produksi mengalami kebangkrutan di banyak bilang sehingga pengangguran makin merajaletela. Pelaksanaan perubahan agraria (landreform) menurut UU Pokok Agraria boleh dibilang macet, tetapi kaum tani dipaksa menjual murah hasil produksinya dan sebaliknya harus membeli barang kebutuhan pokok se-hari dengan harga mahal.
Yang menonjol daripada peraturan ekonomi 26 Mei adalah pemberian perangsang berupa rupiah dan devisen kepada pedagang export dengan mengadakan devaluasi atau memerosotkan nilai tukar rupiah terhadap mata-uang asing dan liberalisasi dalam politik harga. Akibat daripada ini adalah hambatan sektor produksi dan tekanan berat atas dayabelli Rakyat dengan makin meningkatnya ongkos hidup se-hari.
Pernyataan Pemerintah di muka sidang DPR-GR pada tgl. 11 Desember yang layu yang mengakui bahwa peraturan 26 Mei telah mengalami kegagalan, disambut dengan perasaan lega oleh seluruh Rakyat. Pengakuan Pemerintah ini harus diikuti segera dengan peraturan yang ditujukan terutama kepada memulihkan prinsip ekonomi terpimpin, memperkuat sektor negara sebagai sektor yang memimpin, memperkuat kembali dan memperluas sistem distribusi, mengarahkan perhatian utama kepada sektor produksi, baik produksi untuk dalam negeri Maupun produksi untuk export, dan secara nyata memperbaiki kehidupan Rakyat pekerjia yang sudah sedemikian merosot itu. Hanya jika ini semua dilakukan, akan dapat dikatakan bahwa Pemerintah dengan sungguh mengakhiri penyelewengan 26 Mei dan melaksanakan Deklarasi Ekonomi.
(b) Anggaran Pendapatan dan Belanya Negara 1963 dan 1964
Bahwa peraturan ekonomi 26 Mei merupakan penghaling bagi perkembangan ekonomi dan keuangan tercermin pula dalam Anggaran Pendapatan dan Belanya Negara 1963 dan 1964, lebih setelah dipraktikkan selama beberapa bulan saja. Ciri yang khas daripada APBN 1963 dan 1964 adalah pengeluaran dan penerimaan negara yang tidak lagi mempersoalkan ratusan juta atau puluhan milyar rupiah melainkan jumlah ratusan milyar rupiah. Pengeluaran negara direncanakan akan berjumlah Rp. 305.618,2 juta untuk tahun 1963 dan Rp. 392.777,1 juta untuk tahun 1964. Jumlah ini akan lebih besar lagi karena masih banyak pos Pro
Memori yang akan ditetapkan kemudian, juga karena banyaknya tambahan subsidi-subsidi yang tidak diperhitungkan semula. Pendapatan negara direncanakan akan berjumlah Rp. 272.024 juta untuk tahun 1963 dan Rp. 391.001 juta untuk tahun 1964. Jumlah pendapatan ini dalam praktek akan berkurang karena banyaknya dispensasi yang menyusul akibat tuntutan-tuntutan perusahaan-perusahaan negara serta badan-badan Pemerintah lainnya untuk dibebaskan dari kewajiyan membayar HPN-HPN. Pemerintah sendiri telah mengakui bahwa anggaran ini memang tidak dapat dicapai hingga defisit untuk 1963 yang semula direncanakan berjumlah Rp. 33.594,2 juta akan jauh dilampaui, bahkan mungkin menjadi 2 atau 3 kali lebih besar.
Pada pokoknya angka-angka pengeluaran negara adalah sangat tinggi tetapi bukan karena meluasnya kegiatan pembangunan ekonomi sektor negara, melainkan karena kenaikan-kenaikan harga akibat politik harga dan devaluasi berdasarkan peraturan-peraturan ekonomi 26 Mei. Jadi pengeluaran-pengeluaran sangat besar tetapi tepat tidak memenuhi kebutuhan rill sektor negara untuk dapat mempertahankan daya-kerjanya yang ada, apalagi untuk mempertingginya. Pendapatan-Pendapatan negara direncanakan terlalu tinggi dengan membebankan pada konsumen yang harus membayar harga barang-barang yang tinggi. Anggaran Pendapatan Negara yang sedemikian tinggi tidak dapat dipenuhi karena kemaenan masyarakat baik sektor negara Maupun sektor swasta tidaklah sedemikian tingginya. Mak-sud untuk mengatasi defisit dengan begitu tidak akan teryapai dan memang tidak mungkin dicapai dengan satu kali pukul tetapi harus dengan rencana kenaikan produksi yang kongkrit dan rencana keuangan negara yang rill dan cer-mat dari tahun ke tahun.
Kesediaan Pemerintah untuk meninjau kembali APBN untuk tahun 1963 dan 1964 sesuai dengan maksudnya untuk mengubah peraturan-peraturan 26 Mei patut dihargaai. Kesediaan ini hanya bisa mempunyai arti jika dilakukan atas dasar prinsip-prinsip yang telah ditetapkan di dalam Dekon dan Resolusi MPRS No. 1 tahun 1963.
(c) Konfrontasi ekonomi terhadap “Malaysia”
PKI telah menyatakan sikapnya dalam menghadapi konfrontasi politik dan ekonomi terhadap “Malaysia”. Sikap tersebut telah dinyatakan dalam Saran CC PKI kepada PB Front Nasional dengan judul “Teruskan konfrontasi terhadap ‘Malaysia’ dengan mengganyang kontra-revolusi dan kembali ke Dekon”. Keputusan Presiden untuk memutuskan semua hubungan ekonomi dengan “Malaysia”, khususnya dengan Singapura dan Malaya (Penang) adalah sangat penting dalam melepaskan ketergantungan ekonomi Indonesia kepada daerah-daerah jajan Inggris itu. Ini berarti dihilangkannya sumber-sumber keuntungan-keuntungan luarbiasa dari kaum kapitalis monopolii dan komprador di Singapura dan Malaya yang selama ini secara tradisionil menjadi perantara dalam memperdagangkan hasil produksi barang-barang export Indonesia.
Tugas kita sekarang dalam hubungan dengan mengkonsolidasi tindakan ekonomi terhadap “Malaysia” pada pokoknya adalah:
(1) Melepaskan ketergantungan pada Singapura-Malaya dengan jalan memindahkan pasaran bahan export kita ke Indonesia. Pemindahan pasar ke Indonesia dikombinasikan dengan prinsip hubungan dagang langsung dengan negara pemakai barang export kita serta negara yang menghasilkan barang import kita.
(2) Untuk dapat melaksanakan garis tersebut dengan sukses harus dilaksanakan dengan segera keputusan PB Front Nasional mengenai perubahan peraturan ekonomi 26 Mei 1963 dan rituling aparatur negara, terutama yang berhubungan dengan soal ekonomi dan keuangan.
Ada orang yang mengira, bahwa demi berhasilnya konfrontasi ekonomi dengan “Malaysia” kita tidak segan bersikutu dengan siapa pun, “termasuk setan”, dan dengan semboyan itu mereka sekarang giat menunjukkan perhatian ke arah kaum imperialis Belanda untuk mulai kembali memegang peranan dalam saluran export dan import kita Kerjasama “setan Indonesia” dan “setan Belanda” ini sudah tentu tidak dapat dibenarkan Rakyat Indonesia. Adalah tidak benar pendapat, bahwa untuk melakukan konfrontasi dengan satu imperialisme, Rakyat Indonesia harus lari ke pangkuan imperialisme yang lain. Imperialisme Belanda adalah “setan” yang paling berpengalaman dalam menipu dan menguras kekayaa Rakyat Indonesia.
Sementara orang yang mempunyai kepentingan ekonomi dengan kaum kapitalis di Singapura dan Malaya berada dalam kebingungan dan mendesak dibukanya perdagangan transito di-tempat lain di luar negeri, misalnya di Kolombo, Manila, Bangkok, dsb. Sambil usaha ini terus berlangsung, juga terdapat usaha lain berupa tuntutan dibentuknya pelabuhan bebas di Indonesia dengan memindahkan peranan Singapura sebagai pusat perdagangan transito ke Indonesia. Dari ini semuanya dapat kita lihat betapa berbagai fihak sedang bekerya keras untuk menarik keuntungan bagi kepentingan mereka sendiri dari pemutusan hubungan ekonomi dengan Singapura dan Malaya.
Kepentingan kaum kapitalis nasional tertentu sangat teryalin dengan pembentukan pelabuhan bebas, free trade zone dan bonded warehouse yang merupakan liberalisasi ekonomi tidak tanggung. Liberalisasi ekonomi adalah garis Team Peninjau Ekonomi Amerika Serikat yang mengunjungi Indonesia dalam tahun 1961 dan menyusun laporannya dalam apa yang dinamakan Humphrey Report. Memindahkan pasar dari Singapura-Malaya tidak boleh berarti memindahkan peranan Singapura-Malaya sebagai pusat perdagangan transito export Indonesia ke tempat lain di luar negeri. Juga tidak boleh berarti memindahkannya ke Indonesia dengan misalnya menyilptakan bonded warehouse (gudang dan pekarangan di mana disimpan barang yang bebas dari pungutan pahean). pelabuhan bebas (lingkungan pelabuhan yang bebas dari kewajiiban terhadap pabean) dan free trade zone (daerah tertentu di sekitar pelabuhan yang bebas dari kewajiiban terhadap pabean). Pada pokoknya bonded warehouse, pelabuhan bebas dan free trade zone adalah sama, yaitu tempat yang ditunduk untuk perdagangan bebas yang tidak dikenakan kewajiiban terhadap pabean dan hanya berbeda dalam luas areal.
Liberalisasi ekonomi dalam bentuk pelabuhan bebas dan sebangsanya adalah cermin daripada kelemahan ekonomi negeri yang hanya menyandarkan diri kepada services (jas-a) terhadap fihak luar negeri. Jika ini sungguh dilaksanakan, maka tidaklah mungkin lagi dilaksanakan perencanaan export-import dan ekonomi terpimpin yang menyandarkan dirinya pada pembangunan berencana. Liberalisasi ekonomi semacam ini pasti juga akan membawa akibat semakin meningkatnya kegiatan subversif asing.
Politik Pemerintah yang menguasai perusahaan milik warganegara dari apa yang dinamakan “Malaysia” dan orang yang bertempat tinggal di wilayah tersebut seharusnya didahului dengan tindakan mengambililah semua perusahaan milik Inggris di Indonesia, karena Inggrislah yang menjadi blangkeladi “Malaysia”.
(d) Tentang perembesan modal imperialis di Indonesia
Ciri utama daripada kekuasaan atau pengaruh imperialis asing di Indonesia adalah investasi modal monopoli asing. Sejak modal milik kaum kolonialis Belanda hampir semuanya diambililah dan dikuasai negara terbukalah kemungkinan untuk memberikan dasar pada ekonomi sektor negara yang menurut Manipol harus memegang posisi komando. Tetapi kaum kapitalis birokrat, kaum komprador dan mereka yang “salahduduk” serta tukang “salahurus”, telah merusak ekonomi sektor negara dengan berbagai cara penggerowotan kekayuan negara. Dan setelah berbuat demikian, mereka mempropagandakan bahwa perusahaan yang dinegarakan itu tidak efisien, tidak bisa untung dan sebaiknya dikuasai oleh fihak swasta, katanya. Dengan demikian mereka menjadi penyambung lidah kaum imperialis Amerika Serikat yang telah menetapkan liberalisasi ekonomi Indonesia sebagai salahsatu syarat untuk memperoleh “bantuan” ekonomi dari Amerika Serikat.
Bentuk utama daripada likwidasi sisa imperialisme adalah melikwidasi sisa penanaman modal monopoli asing dan tidak membuka kesempatan untuk penanaman modal asing baru dalam bentuk apa pun. Tetapi kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah sebaliknya. Perusahaan tambang minyak modal imperialis Amerika Serikat Caltex dan Stanvac serta Shell yang bermodal Inggris-Belanda menurut kontrak lama sudah berakhir masa kerjanya pada tahun 1960. Tetapi langkah yang diambil bukannya menguasai perusahaan minyak bumi yang rata menghasilkan 25% dari seluruh ha-sil export Indonesia setahun, tetapi menciptakan kontrak baru berupa “contractorship” yang meneruskan penanaman modal monopoli asing dengan nama baru. Malahan yumlah kongsi minyak asing dari tiga buah sekarang menjadi 6 buah dengan dimasukkannya modal PANAM (Pan American), CAOC (California Asiatic Oil Company) dan TOPC (Texaco Overseas Petroleum Company). Berdasarkan “contractorship” kongsi minyak asing itu telah diberikan hak exploitasi selama 30 tahun hingga dengan maksud untuk memperoleh dolar dari kongsi minyak tersebut. Prinsip mengejar pendapatan dolar semacam ini telah menyampingkan garis production sharing berdasarkan kredit menurut ketentuan KOTOE. Dengan begitu maka ketergantungan Indonesia kepada modal monopoli asing terutama modal Amerika Serikat dalam industri minyak bumi makin besar dan sudah diberi kesempatan untuk berlangsung dalam waktu yang lama.
“Contractorship” ini mengambil contoh dari apa yang terkenal sebagai “pola Argentina”, sedangkan baru beberapa minggu yang lalu Argentina sendiri telah menetapkan “pola baru”, yaitu membatakan “contractorship” yang menurut pengalaman mereka amat merugikan kepentingan nasional mereka. Sudah seharusnya, Indonesia yang politik dalam dan luarnegerinya lebih maju dari Argentina segera membatakan “contractorship” yang merugikan dan memalukan itu.
(e) Kembali ke DEKON sebagai satu-satunya jalan jika mau meneruskan pembangunan ekonomi
Karena penyelewengan* terhadap Dekon sudah menjadi satu kenyataan maka tugas kita sekarang adalah mengakhiri penyelewengen* itu dan mendesak agar Pemerintah segera kembali ke Dekon dalam menanggulangi kesulitan ekonomi sekarang. Jalan yang harus ditempuh adalah segera mengadakan tindakan* ekonomi dengan melaksanakan keputusan* PB Front Nasional tanggal 5-6 September 1963 dan mengefektifkan serta mengkonsolidasi pemutusan hubungan ekonomi dengan apa yang dinamakan “Malaysia”.
Pada pokoknya tindakan* yang perlu segera diambil adallah sbb.: (1) Akhiri penyelewengen,26 Mei 1963“ dengan mengadakan tindakan* yang mendorong peningkatan produksi dengan mengutamakan pemberian perangsang kepada tenaga* produktif kaum buruh dan kaum tani serta pengusaha* produktif dan bukan terutama kepada exportir. Pungutan* berupa HPN supaya dihapuskan dan diadakan hanya satu pungutan berupa bea masuk yang tidak memberatkan Rakyat atas barang* pokok dan barang* untuk keperluan produksi serta pengangkutan. (2) Harus dijalankan import berencana. Penggolongan barang* import sekarang harus diombak sehingga tidak menghambat sektor produksi dan tidak memberatkan kebutuhan hidup Rakyat se-hari*.
(3) Kuasai export barang* penting oleh Pemerintah terutama export barang* produksi keras dan barang* lemah tertentu yang kini sudah dikuasai oleh negara. Export barang* lainnya dapat diselenggarakan oleh swasta dengan menghapuskan semua hambatan dalam prosedur, menyempurnakan sistim penetapan harga (kheckprice) dan melancarkan pengangkutan.
(4) Turunkan kembali tarif dan harga yang sudah dinaikkan termasuk pengangkutan darat dan laut. Cukupi persediaan beras dan spare-parts serta turunkan har-ganya. Laksanakan politik harga yang berencana sesuai dengan Resolusi MPRS No. 1 tahun 1963.
(5) Peranan memimpin dalam kegiatan ekonomi negeri harus dipegang oleh ekonomi sektor negara. Tetapi ini hanya mungkin jika PDN* dan PN* benar* efektif dan untuk ini harus diadakan rituling organisasi dan personalia serta penyesuaian tugas dan wewenang-nya. PP no. 7, 1963 tentang PDN* yang diadakan pada tgl. 26 Mei 1963, perlu segera dibatalkan.
(6) Untuk memungkinkan pelaksanaan import berencana diperlukan kordinasi import dengan export serta peredaran barang di dalam negeri. Untuk itu perlu dibentuk Dewan Import-Export Nasional dan Dewan Distribusi Nasional yang komposisinya mencerminkan kegotong-royongan nasional berporoskan Nasakom.
(7) Adakan Anggaran Belanya dan Pendapatan Negara yang riil, yaitu yang sesuai dengan maksud meningkatkan produksi dan kapasitet kerja sektor negera dan memecahkan sumber pendapatan negera dari usaha* produktif. Anggaran Pendapatan dan Belanya Negara harus mencerminkan anggaran yang realistis yang tidak bersandar pada peraturan* ekonomi 26 Mei 1963 seperti hainya dengan APBN 1963 dan 1964 sekarang.
(8) Dalam rangka konfrontasi ekonomi terhadap “Malaysia” pasaran barang* export kita harus dipindahkan ke Indonesia dengan membentuk Pusat* Perdagangan atau Trade Centres di-pelabuhan* tertentu. Untuk ini harus diciptakan fasilitet* pelabuhan yang cukup dan diadakan upgrading, sorterling, packing dan usaha* penyempurnaan lainnya. Liberalisasi ekonomi dengan mendirikan pelabuhan bebas, free trade zone dan bonded warehouse harus dicegah karena hal ini sangat bertentangan dengan Haluan Negara dan membahayakan keamanan serta kedaulatan negera.
(9) Pemindahan pasar bahan* export ke Indonesia harus dikombinasikan dengan hubungan langsung dengan pemakai* barang* export kita diluarnegeri. Kerjasama ekonomi harus dikembangkan di antara negara* the
New Emerging Forces. Harus segera dikirimkan team perdagangan ke-negeri NEFO, khususnya ke-negeri sosialis untuk mengembangkan perdagangan bilateral atas dasar samaderajiat dan saling menguntungkan. Team perdagangan itu harus terdiri dari tenaga Manipolis yang tak meragukan.
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa segala usaha untuk melaksanakan Dekon dalam rangka menanggulangi kesulitan ekonomi tidak akan berhasil baik tanpa melaksanakan keputusan PB Front Nasional tanggal 5-6 September 1963 untuk mengadakan rituling aparatur negara dan terutama sekali segera membentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom.
Hanya jika dilaksanakan semuanya ini, barulah terbuka kemungkinan untuk mengadakan sekedar perbaikan penghidupan Rakyat dan mengadakan permulaan yang berarti bagi pembangunan ekonomi negeri. Juga pembangunan di Irian Barat sangat tergantung pada dijalankan atau tidak semuanya ini.
Demikianlah secara pokok sikap PKI terhadap berbagai persoalan dalam negeri, khususnya terhadap triprogram baru Kabinet Kerya. Kaum Komunis Indonesia yakin, bahwa triprogram tersebut adalah realistis dan dapat dilaksanakan, asal saja syarat minimum dipenuhi, yaitu: pelaksanaan landreform secara konsekwensi, pengakhiran penyelewengan “26 Mei 1963” secepat mungkin, pembasmi kontra-revolusi sampai ke-akar-nya, pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom dan pendemokrasian sistim pemerintahan.
Berbicara tentang pendemokrasian sistim pemerintahan, kita tetap menuntut supaya pemilihan umum yang demokratis segera dilaksanakan untuk memilih MPR, DPR dan DPRD. Selama pemilihan umum belum dilangsungkan, DPRGR supaya lebih diaktifkan dan untuk ini perlu sering diadakan konsultasi langsung antara Presiden dengan pimpinan DPRGR serta diadakan kerjasama yang baik antara para menteri dengan DPRGR dalam menciptakan undang-revolusioner sesual dengan Manipol, Dekon dan Ketetapan serta Resolusi MPRS. Kepala dan Wakil Kepala Daerah serta pejabat-pejabat penting lainnya yang “otak dan hatinya telah berdaki-berkarat tak dapat menyesuaikan diri dengan Manipol” supaya diganti dengan mereka yang Manipolis; pimpinan semua DPRDGR, keanggotaan semua BPH dan berbagai Dewan yang ada hubungannya dengan pemerintahan, dengan perekonomian dan kultur harus dinasakomkan; jawatan dan dinas tidak boleh menjadi sarang dari mereka yang Nasakom-phobi.
Untuk membuat ide Nasakom sulit dicernakan, semetara orang jahil dan reaksioner memfitnah, bahwa kaum
Komunis menuntut supaya semua jawatan, dinas dan bahkan juga pimpinan Angkatan Bersenjata dinasakomkan.
Dalam hal Nasakomisasi semua aparatur negara kaum Komunis bukanlah “extremis”, tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Berdasarkan pertimbangan1 yang matang kaum Komunis tidak mengusulkan hal-hal yang extrim, tetapi yang masuk akal, yaitu supaya dibentuk Panitia Riting Aparatur Negara (PARAN) yang baru, yang mencemr minkan kegotong-royongan nasional berporoskan Nasakom dan dipimpin langsung oleh Presiden Sukarno sesuai dengan Dekon fasal34. PARAN gaya baru inilah yang akan mem berikan saran-saran kepada Presiden Sukarno untuk menjamin supaya pimpinan semua aparatur negara berjalan seirama dengan derap langkah kemenangan gagasan persatuan nasional berdasarkan kegotong-royongan berporoskan Nasakom.
Juga di Irian Barat kehidupan demokratis harus dilaksanakan. Ada sementara orang yang berfikiran sinting yang menginginkan satu “karantina politik”, mengimpikan suatu “pilot proyect stabilisasi politik” di Irian Barat tanpa partai politik dan tanpa suratkabar1. Orang-Orang sedemikian ini meng hina dan mencemarkan perjuangan Rakyat yang telah memberikan pengorbanan yang besar pada perjuangan me ngembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia yang ber-UUD 45, ber-MANIPOL, ber-PANCASILA dan ber-NASAKOM.
Hanya kehidupan demokratis yang sehat dapat mendorong peningkatan taraf kebudayaan dan kesedaran politik Rakyat di daerah ini agar dapat mengejar taraf yang sudah di calap Rakyat Indonesia di-daerah1 lain. Kita menyambut baik tindakan Pemerintah yang telah membubarkan semua partai politik bikinan kaum kolonialis Belanda, dan bersama an dengan itu kita mengharap dan menuntut agar apa yang dinamakan “karantina politik” dicabut, agar kehidupan ber partai dan berorganisasi dinormalkan di Irian Barat.
Semua syarat minimum untuk pelaksanaan triprogram Kabinet Kerja yang kita sebutkan di atas telah tercantum dalam banyak dokumen negara dan dalam keputusan1 Peng urus Besar Front Nasional. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang ber-lebih'an. Yang tidak aneh dan tidak ber-lebih'an inilah yang harus dipenuhi sebagai syarat pelaksanaan tri program Kabinet Kerja.
II
GANYANG TERUS IMPERIALISME DAN REVISIONISME!
1. PENGGANYANGAN TERHADAP IMPERIALISME MAJU TERUS DI SEMUA FRONT
Kawan-kawan yang tercinta!
Bukanlah tanpa alasan, kalau dalam laporan mengenai situasi internasional ini, kita tandaskan dalam kalimat pertama bahwa situasi internasional adalah sangat baik bagi pertumbuhan kekuatan revolusioner Rakyat-Rakyat di seluruh dunia dan makin memburuk bagi kekuatan imperialis, kolonialis, neo-kolonialis, kaum revisionis dan kaum reaksioner lainnya di seluruh dunia.
Kekuatan kubu sosialis terus bertambah besar. Walaupun ada kesulitan-kesulitan dalam hubungan antara negara-negara sosialis, namun persatuan antara Rakyat-Rakyat negeri-negeri sosialis tetap baik. Bagaimanapun juga, dalam menghadapi imperialisme yang merupakan musuh bersama, Rakyat-Rakyat di negeri mana pun, tidak terkecuali di-negeri-negeri sosialis, tidak bisa dibawa untuk menciderai dan meninggalkan persatuan. Semua Rakyat di seluruh dunia makin erat-erat bergandengan tangan dan makin gigih berduyang dalam satu barisan yang makin perkasa dan makin takterkalahkan.
Peryuangan Rakyat sedunia melawan politik imperialis, politik agresi, subversi dan intervensi untuk kemerdekaan nasional, demokrasi, perdamaian dunia dan Sosialisme terus berkembang dan maju. Sasaran gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia diarahkan kepada imperialisme AS yang dewasa ini merupakan pusat dari reaksi dunia, biangkeladi imperialisme, kekuatan pokok dari agresi dan perang dan karena itu telah menjadi musuh bersama yang paling jahat dan paling beroahaya bagi Rakyat-Rakyat sedunia.
Nampak jelas bahwa “global strategy” imperialis menemui kegagalan serta kekalahan-kekalahan di-mana-mana. Imbangan kekuatan dalam kubu imperialis mengalami perubahan-perubahan yang mendalam.
Negeri-Negeri Eropa kapitalis, dan terutama sekali 6 negeri Pasaran Bersama Eropa (PBE), yaitu Perancis, Jerman Barat, Italia, Belgia, Nederland dan Luxemburg makin memperkuat kedudukannya untuk membebaskan diri dari dominasi AS, baik dibidang ekonomi dan politik Maupun dibidang militer, misalnya mengenai masalah strategi nuklir. Tentu, di antara 6 negeri itu sendiri terdapat kontradiksi-kontradiksi. Sistem PBE yang tetap menolak masuknya Inggris tidak mempermudah pemasaran barang-barang AS di Eropa. Sebaliknya AS makin sulit menghadapi saingan dari barang-barang Eropa dipasaran dalam negeri AS sendiri.
Kontradiksi dibidang militer berkisar sekitar masalah pembentukan satu kekuatan nuklir multilateral Nato. Masin-Masin tetap memegang pendirian sendiri-sendiri. Terutama Perancis menolak tuntutan AS dengan terus membangun kekuatan nuklirnya sendiri. Pergulatan antar-imperialis mengenai soal komposisi, komando dan kontrol angkatan nuklir multilateral Nato ini tidak lain merupakan pencerminan‘ bidang militer dari kontradiksi antar-imperialis yang makin hari makin meruncing.
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri keadaannya tidak semudah dan sebaik yang diiklankan oleh Washington. Pengangguran tetap tidak menurun, bahkan sebaliknya. Angka-angka pengangguran yang diakui oleh pemerintah AS sendiri adalah 5,3% dalam tahun 1960-1961 dan sekarang lebih dari 6% dari seluruh tenagakerja. Jika diingat bahwa otomasi mengakibatkan hilangnya pekerjaan bagi 1½ juta kaum buruh setiap tahun dan bahwa jumlah kenaikan tenagakerja. “alah jauh melebihi jumlah kenaikan kesempatan bekerja, maka dapat dipastikan bahwa angka pengangguran ini akan terus naik.
Melalui sistim iklan yang amat luas dilakukan melalui televisi, pers dan radio dan yang amat mendorong orang-orang supayia membeli, disertai dengan sistim kredit konsumen (consumer's credit) yang amat mudah didapat dari bank-bank dan yang juga diiklankan secara luas sekali, maka pasaran dalam negeri dipelihara tinggi secara “artificial” (di-bikin-bikin).
Segala barang yang dipakai oleh konsumen untuk sebagian yang terbesar sekali bukanlah milik sipemakai, tetapi milik bank yang memberi kredit kepadaany. Kemakmuran palsu demikian itu tidak membawa perasaan aman bagi kaum konsumen, karena mereka sedar bahwa hidupnya yang nam-paknya mewah dengan memiliki rumah, mobil dan perabot-perabot rumahtangga adalah karena mereka telah menggadaikan seluruh tenaga kerjana untuk 30 tahun atau lebih kepada bank-bank kredit. Kalau sebelum itu terjadi sesuatu yang mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan dan gaji-tetapnya, maka bank akan mengambil kembali segala miliknya dan merel-¹ akan kembali hidup melarat tanpa rumah, tanpa mobil, tanpa perabot rumahtangga, tanpa sesuatu apa pun. Bank-Bank sekarang tidak hanya memiliki dan menguasai kongsi-kongsi dan pabrik-pabrik, tetapi juga sudah langsung memiliki dan menguasai massa konsumen.
Biaya hidup yang amat tinggi di AS dan yang berarti amet tingginya ongkos produksi barang AS, merupakan kesulitan pokok bagi industri AS untuk dapat bersaing dipasaran internasional. Export AS dapat dipertahankan hanyalah karena banyarknya “bantuan luarnegeri” yang diberikan, yang sebenarnya adalah bantuan bagi industri AS sendiri. Di segala cabang industri, perdagangan dan transport, sedikit pun AS tidak akan dapat bertahan dalam persaingan dipasaran bebas dengan negeri-negeri lain di dunia, tanpa adanya sistim subsidi dan bantuan dan segala macam proteksi dan preferensi yang diberikan dan dibiayi dari anggaran belanja pemerintah AS. Dalam keadaan demikian barang AS dipasaran dalam negeri sendiri makin lama makin sulit menghadapi saingan barang dari Jerman Barat, Jepang dan negeri lain yang harganya jauh lebih murah daripada barang AS sendiri.
Masalah dalam negeri AS yang utama adalah masalah kira 20 juta penduduk Negro yang makin lama makin keras dan kuat memperyuangkan tuntutan persamaan hak dengan penduduk kulit putih. Posisi penduduk Negro dalam masayarakat AS sekarang pada dasarnya tidaklah berbeda dengan di abad yang lalu. Di semua lapangan kehidupan mereka di diskriminasi, dalam kesempatan belayar, kesempatan bekerya, kesempatan menempati kedudukan pimpinan dalam pemerintahan dan perusahaan (business), dan banyak lain lagi. Jika disusut toko pelaiannia terdiri dari orang kulit putih, maka orang Negro biasanya kuli yang mengangkat barang dan membersihkan meja dan lantai. Jika tukang ckurnya orang kulit putih, maka orang Negro biasanya tukang gosok sepatu. Jika letannya orang kulit putih, maka orang Negro biasanya prajurit biasa atau paling banter kopral. Angka penganggur tetap sekarang adalah lebih dari 6% dari seluruh tenagakerja AS, tetapi pengangguran di kalangan kaum buruh Negro sadia angkanya 13.8%. Malahan di kota Khicago yang penduduk Negronia adalah 13% dari seluruh penduduk kota, angka pengangguran di kalangan kaum buruh Negro adalah 40%.
Kedudukan Negro di AS yang menyebut dirinya “jago demokrasi” itu sekarang adalah kira sama dengan kedudukan “inlander” atau “genjumin” di negeri kita dahulu. Masalah Negro pada hakekainya adalah masalah penindasan kolonial dan masalah nasional. Tidaklah mengherankan bahwa perjuangan Rakyat Negro tumbuh makin lama makin luas.
Skala pada dewasa ini daripada peryuangan antisegregasi melawan penindasan rasial dan penghisapan, untuk haksama dan kemerdekaan ini, tidak ada taranya dalam sejarah Rakyat Negro di AS. Adalah kepentingan kaum kapitalis-monopoli untuk melangsungkan rasialisme guna tetap mempertahankan Rakyat Negro sebagai Rakyat yang tertindas, sebagai wumber tenagakerja yang murah dan guna tetap memlsahkan Rakyat pekerja yang berkullit hitam dari yang berkullit putih. Pemerintah AS selalu menolak untuk mengambil langkah-langkah efektif guna menghentikan kerusuhan rasial yang berkobar di AS. Oleh karena itu perjuangan Rakyat Negro AS merupakan bagian yang takterpisahkan dari perjuangan besar melawan imperialisme AS. Apa yang dibutuhkan perjuangan Rakyat Negro AS ialah pimpinan politik yang tepat dan revolusioner, karena hanya dengan demikian sendi penghisapan dan pendudukan terhadap Rakyat Negro dalam masyarakat AS bisa diubah dan ditumbangkan.
Rakyat Indonesia mempunyai respek yang besar dan simpati yang dalam serta solider sepenuhnya dengan perjuangan yang dilakukan dengan gagahberani oleh Rakyat Negro di Amerika Serikat. Sikap ini juga dengan tandas pernah diyatakan oleh Presiden Sukarno. Propaganda seakan-akan pemerintah Kennej tempo hari dan pemerintah Lyndon Yohnson sekarang melawan diskriminasi rasial tidaklah lebih daripada ocehan kosong dan hanya orang naif yang suka mempertayai ocehan itu. Pemuda Indonesia yang mendatangi kedutaan besar AS di Jakarta membuka kedok ocehan itu ketika mereka mengatakan: kalau benar antidiskriminasi rasial, tarik semua pasukan AS dari Asia dan kaum rasialis di AS pasti bisa ditindas dengan pasukan tsb.
Di Asia, Afrika dan Amerika Latin imperialisme AS mengalami pukulan keras yang bertubi-tubi.
Di Asia Tenggara kaum imperialis AS menderita kekalahan-kekalahan yang serius.
Kaum imperialis AS dan kaum reaksioner Vietnam Selatan sedang melakukan susu “perang khusus” di Vietnam Selatan. Betapa pun bertambahna jumlah serdadu dan jen-deral yang mereka terus kirimkan dan betapa pun luasnya racun kimia yang mereka hamburkan di-pedesaan“, namun kaum imperialis AS dan kaum reaksioner Vietnam Selatan menderita kekalahan terus-menerus. Perjuangan Rakyat Vietnam Selatan sekali lagi membuktikan bahwa kekuatan militer AS bukannya tak terbatas dan bukanlah takterkalahkan, tetapi sebaliknia kekuatan Rakyat betul yatakterkalahkan. Kira tiga perempat dari wilayah Vietnam Selatan sudah di-kuasai oleh Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan. Rakyat Vietnam Selatan tidak mau ditundukkan oleh penindasan yang keras dan berdarah dari kaum imperialis AS beserta boneka'nia, baik Ngo Dinh Diem yang sudah digulingkan dan dibunuh oleh AS sendiri itu, Maupun oleh Nguyen Ngoc Tho, itu ”bekas wakil presiden“ yang sekarang mereka ”perdana menterikan“.
Kekalahan besar rezim boneka Ngo Dinh Diem sehingga akhirnya ia digulingkan oleh kaum imperialis AS sendiri menunjukkan, bahwa kekalahan terakhir dari imperialisme AS dan kaum reaksioner di Vietnam Selatan tak bisa dilakukan lagi. Nasib Ngo Dinh Diem adalah peringatan baik bagi mereka yang mau menjadi boneka imperialis. Begitu terbukti tak mampu menghadapi perlawanan Rakyat, begitu si-boneka dibuang ketong-sampah dan diganti dengan boneka baru.
Melihat kedudukannya yang makin terdesak di Vietnam Selatan, kaum imperialis AS lagi-lagi mencoba untuk menimbulkan huru-hara di-negeri-negeri lain dari semenandung Indocina. Di Laos, segera sesudah Menlu Quinim Pholsena dibunuh, Washington memperluas pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap pembesar-pembesar Laos lainnya, termasuk perwira-perwira patriotik, dan mencetuskan konflik-konflik bersenjata dengan intensif sekali.
Dengan menggunakan kaum reaksioner Laos, kaum imperialis AS berdayaupaya keras untuk menimbulkan perpe-cahan-perpecahan serta memprovokasi konflik-konflik bersenjata di kalangan pasukan1 golongan netralis di Xieng Khouang dan Dataran Tempayan. Usaha-Usaha jahat dan kurangajar ini bertujuan untuk melenyapkan selangkah demi selangkah peranan golongan netralis yang dipimpin oleh Pangeran Souvana Phouma dari kehidupan politik Laos, mengisolasi dan menyingkirkan kekuatan Neo Lao Haksat yang patriotik, menggugurkan Pemerintah Kerukunan Nasional yang telah disetujui oleh 3 Pangeran yang mewakili 3 kekuatan politik pokok, dan melenyapkan perdamaian, kedaualatan dan kemerdekaan Laos.
Rakyat Indonesia, Rakyat Asia dan Rakyat-Rakyat di seluruh dunia yang cinta kemerdekaan tidak akan bersikap acuh-tak-acuh melihat aktivitet-aktivitet yang kurangajar dari kaum imperialis AS di Laos. Mereka tak bisa berdiam diri melihat Perjanjian Jenewa di-injak-injak seenaknya oleh kaum imperialis AS.
Juga suah negeri yang wilayahnya tidak besar tapi keberanian takyatnya besar, yaitu Kamboja, tidak bebas darl subversi imperialis AS. Dengan mengerahkan kaum kontra-revolutioner Kamboja, lewat apa yang dinamakan gerakan “Khmer Serei” (“Kamboja bebas”), melalui usaha-usaha kudeta di samping “bantuan”, kaum imperialis AS berdayaupaya untuk bercokol di Kambodia. Segala usaha ini gagal.
Keberanian Kamboja utuk mengakhiri secara unilateral “bantuan” ekonomi, kebudayaan dan militer AS mulai 1 Januari 1964, adalah tepat dan sungguh mengagumkan. Tidak lain adalah seorang pangeran yang bernama Norodom Siha-nouk yang berkata, bahwa lebih baik lebih miskin tapi lebih merdeka, dan anak kecil pun tahu bahwa menolak “bantuan” AS itu menguntungkan. Ini adalah contoh, lebih-lebih bagi mereka yang bukan pangeran, bagaimana sesuatu ne-geri yang ingin tetap merdeka harus bertindak terhadap imperialis AS yang rakus lagi gila itu.
Perkembangan di Birma menarik perhatian kita. Tadinya adalah satu usaha yang baik dari Jenderal Ne Win yang mengepalai Dewan Revolusioner Birma untuk mengadakan perundingan-perundingan dengan Front Persatuan Nasional Demokratis dalam mana tergabung Partai Komunis Birma, Partai Persatuan Nasional Karen, Partai Negara Mon Baru, Partai Progresif Karen dan Organisasi Tertinggi Cin, guna memulihkan perdamaian dalamnegeri.
Sayangnya bahwa perundingan-perundingan itu ternenti. Partai Komunis Birma telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan konsesi-konsesi seperlunya tanpa mengorbankan hak-hak kepartaiannya untuk mengusahakan pulihnya perdamaian dalamnegeri. PK Birma mengharapkan agar Dewan Revolusioner Birma membuka perundingan kembali atas dasar per-setujuan-setujuan dengan partai-partai itu masing-masing Sekalipun perundingan-perundingan dengan FPND sebagai keseluruhan telah mengalami pemutusan.
Untuk memperbesar sukses perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme di Asia Tenggara adalah penting sekali untuk membuka kembali perundingan itu agar persengketaan dapat diselesaikan untuk kepuasan semua fihak. Penangkapan-Penangkapan di Birma baru-baru ini lebih menyilitkan tercapaininya perdamaian nasional dan dengan sendirinya merugikan Birma. Oleh karena itu kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia menuntut dibebaskannya kaum demokrat yang ditangkap dan mengharapkan perundingan akan dapat dibuka kembali.
Salahsatu alat penting yang digunakan kaum imperialis AS untuk kepentingan politik agresinya di Asia ialah India. Pemerintah Nehru telah mengambil langkah-langkah yang sesuai dengan kebutuhan imperialisme AS dengan menyediakan pulau-pulau pangkalan militerinya seperti kepulauan Andaman dan Nikobar, dengan memberikan wilayah-wilayah daratan, perairan dan udaranya untuk digunakan AS sebagai basis-basis militer guna operasi-operasinya di Asia. Pemerintah Nehru sekarang sudah terang-terangan menjadi cetenteng AS di Asia dan kolone ke-V dalam barisan negara-negara Asia-Afrika. Kekurangajaran pemerintah India memuncak dengan menyetuji diperluasnya daerah operasi Armada ke-VII ke Samudera Indonesia. Demikianlah “non-aligned” Nehru yang pro-AS.
Untuk menutupi persekutuan busukinya dengan imperialisme AS dan untuk menunjukkan muka “non-alignednya,” pemerintah Nehru menerima bantuan ekonomi dan militer Uni Sovyet. Dengan licik Nehru menggunakan bantuan-bantuan Sovyet untuk menutupi muka cetenteng AS-nya, untuk membersihkan tangan-tangannya yang kotor akibat agresinya terhadap Tiong-kok dan razzianya terhadap kaum Komunis sejati di India. Tetapi Rakyat‘ yang sedar tidak bisa dibikin percaya bahwa dengan ini India masih menjalankan politik non-aligned. Bantuan ekonomi dan bantuan militer Sovyet berupa helikopter-helikopter, tank-tank, pabrik pesawat tempur Mig-21, pabrik peluru kendali dsb. samasekali tidak merenggangkan persekutuan India dengan imperialisme AS, tidak bisa melepasikan India dari pelukan AS. Sebaliknya kolaborasi mereka bertambah erat-erat.
Sudah sepatutnya jika Pemerintah Indonesia memberi perhatian yang serius pada langkah yang berbahaya dari pemerintah Nehru ini. Perbuatan pemerintah Nehru yang dalam tahun‘ belakangan tidak pernah bimbang untuk mengkhianati nasion dan menindas Rakyat India tidak saja ditentang oleh Rakyat India, tetapi juga dikutuk oleh Rakyat’ Asia dan Afrika. Rakyat Indonesia tiada terkecuali.
Di Jepang di bawah pendudukan angkatan bersenjata imperialis AS, gerakan Rakyat untuk menghancurkan rencana‘ imperialis yang hendak membikin Jepang sebagai pangkalan perang nuklirnya makin hebat, meluas dan meliputi seluruh lapisan Rakyat. Partai Komunis Jepang berdiri di barisan terdepan dalam kampanye antiAS yang perkasa ini yang mendapat solidaritet kuat dari Rakyat’ di negeri‘ lain di dunia.
Kemajuan besar yang dicapai Partai Komunis Jepang dalam pemilihan umum baru‘ ini (naik suara ± 500.000) membuktikan tepatnya garis PKD dan bertambah eratnya hubungan Partai sekawan ini dengan massa Rakyat pekerya negerinya. Sementara itu percobaan pembunuhan terkutuk terhadap Ketua PKD, Kawan Sanzo Nosaka belum lama berselang lebih menundukkan kelemahan daripada kekuatan imperialis AS dan kapitalis monopolii Jepang.
Di benua Afrika di mana berbagai negeri mengalami pertumbuhan politik yang ber-beda‘, perjuangan melawan kolonialisme lama Maupun baru terus berkembang, baik dalam bentuk perjuangan politik Maupun dalam bentuk perjuangan bersenjata.
Sekarang, dari 59 negeri dan daerah Afrika, 36 buah telah mencapai kemerdekaan menurut ukuran yang berbeda‘ dan meliputi jumlah penduduk lebih dari 85% dari penduduk Afrika seluruhnya serta luas daerah lebih dari 80% luas seluruh Afrika.
Jalan Aljazair yaitu jalan perjuangan bersenjata telah membuka halaman baru dalam sejarah perjuangan Rakyat‘ Afrika melawan imperialisme dan telah mengilhami perjuangan Rakyat’ di benua ini. Jalan ini adalah berbeda dengan yang sudah ditempuh oleh banyak negeri Afrika yang hanya namanya saja merdeka tetapi pada hakekatnya masih dikuasai oleh kaum imperialis.
Jalan Aljazair ini sedang ditempuh oleh beberapa negeri Afrika, seperti Angola dan Guinea (Portugis), dll.
Dalam menyambut negeri yang baru merdeka di Afrika, kita harus dapat membedakan antara kemerdekaan yang ada isinya dengan kemerdekaan yang palsu. Jika tidak demikian maka sangat mungkin kita akan me-muji neo-kolonialisme model “Malaysia”.
Di Amerika Latin, di muka pintu AS Rakyat Kuba berulang kali telah menghancurkan percobaan serbuan agresif AS. Kejadian selama beberapa bulan belakangan ini membuktikan, bahwa bahaya agresi imperialis AS samasekali tidak mereda. Rakyat Kuba yang heroik tetap teguh membela daerah bebas yang pertama di benua Amerika. Sekalipun terus-menerus diagresi oleh AS, tetapi Pemerintah Revolusioner Kuba makin terkonsolidasi dan pengaruh revolusionernya makin lama makin meluas ke-negeri Amerika Latin lainnya. Kuba adalah salahsatu bukti yang hidup betapa jahatnya orang yang mem-bagus'kan imperialisme AS, dan betapa takterkalahkannya Rakyat jika sudah berteka bulat untuk merdeka dan membangun Sosialisme.
Situasi revolusioner di Amerika Latin sangat menguntungkan Rakyat. Karena itulah kaum imperialis AS sangat membenci Kuba yang merupakan mercusuar revolusi di Amerika Latin, yang pancaran sinarnya menerangi revolusi nasional demokratis dari Rakyat Amerika Latin yang terus mencapai puncak baru dalam perjuangan revolusionernya.
Suatu situasi baru timbul dalam gerakan nasional demokratis Rakyat Amerika Latin. Perjuangan bersenjata melawan kapital monopolii AS dan rezim serta diktatur kontra-revolusioner dalam negeri sebagaimana ditunjukkan oleh Venezuela berkembang dan mencapai kemajuan yang pesat.
Pasukan gerilya Rakyat dari Tentara Pembebasan Nasional Venezuela yang lahir dalam proses kebangkitan kaum tani merebut tanah dari kaum tuantanah besar menjalar dan bertempur tidak saja di-desa dan daerah pegunungan, tetapi juga di berbagai kota beberapa negara bagian, bahkan sudah beroperasi sekitar ibukota Venezuela, Caracas.
Perjuangan bersenjata melawan pemerintah Betancourt yang dengan lalin terus melindungi kepentingan modal monopolii AS, kaum komprador serta latifundis, tidak saja berakar kuat dalam Rakyat Venezuela, tetapi juga mendapat dukungan yang semakin luas dan kuat dari Rakyat negeri Amerika Latin lainnya.
Di Argentina, Presiden Arturo Illia, atas desakan mayoret absolut Rakyat Argentina telah menandatangani
3 dekrit yang menghapuskan kontrak-kontrak pemerintah Frondisi yang lalu dengan 13 maskapai minyak asing. Kontrak-Kontrak yang telah terbukti merugikan kedaulatan dan membahayakan keamanan negeri, berhubung maskapai-maskapai asing memiliki ren-cana dan keterangan-keterangan mengenai deposit-deposit minyak Argentina, dianggap sudah tidak sah dan tidak berlaku lagi. Betapa tepatnya langkah itu! Intimidasi-Intimidasi Presiden Kennej ketika masih hidup, Wakil Menteri Harriman, Dubes AS Mc Lintock dll. samasekali tidak menggentarkan Argentina dalam meng-ambil langkah yang berani ini. Seperti halnya “Pakta Bag-dad” mati konyol di Bagdad, demikian “Pola Argentina” dikubur di Argentina.
Sudah selayaknya pengalaman Argentina ini merupakan bahan pertimbangan bagi Pemerintah Indonesia dan peringat-an bagi kalangan-kalangan tertentu Indonesia yang senantiasa ber-main-mata dengan modal monopolii asing dan yang senantiasa menonjolkan “Pola Argentina” untuk ditiru dan dipraktikkan di Indonesia. Mereka seharusnya sedar bahwa bukan-nya “Pola Argentina” bikinan AS dibidang penguasaan mi-nyak, tapi pola Argentina bikinan Argentina sendiri, yaitu penghapusan kontrak-kontrak dengan monopolii-monopolii asing, yang harus dijadikan contoh di Indonesia, demi kedaulatan, keamanan dan kemerdekaannya.
Kemenangan-Kemenangan besar lainnya telah dicapai pula oleh NEFO dalam peryuangan melawan imperialisme dunia. Manifestasi-Manifestasi daripada kemenangan ini kita lihat pada suksesnya Kongres Solidaritet Benua Amerika dengan Kuba yang dilangsungkan di Niteroi, Brazilia, pada bulan Maret 1963, Konferensi Organisasi Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika di Moshi (Tanganyika) dan Sidang Komite Eksekutif organisasi tersebut di Nicosia (Syprus) yang dilangsungkan ma-sing-sing pada bulan Februari dan September yang lalu, dan KTT negara-negara Afrika yang berlangsung di Adis Abeba (Etiopia) dalam bulan Mei yl.
Kemenangan-Kemenangan lainnya yang telan dicapai dapat kita lihat pada suksesnya Konferensi Wartawan Asia-Afrika (KWAA), Sidang Komite Eksekutif Konferensi Pengarang Asia-Afrika (KPAA), Konferensi Buruh Pelabuhan Asia-Pasifik, Sidang Pendahuluan Konferensi Buruh Asia-Afrika (KBAA), yang kesemuanya telah dilangsungkan tahun ini di negeri kita.
Kawan-Kawan!
Dalam Sidang Pleno CC sekarang ini kita tetap meng-garisbawahii dan mendorong dengan sekuat tenaga terse-lenggaranya Konferensi Bandung ke-II dengan se-cepat-cepatnya. Pada dewasa ini, keperluan ini lebih dirasakan daripada di-tahun-tahun yang lewat, melihat perkembangan perjuangan Rak-yat A-A melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolo-nialisme sesudah Konferensi Bandang ke-I, yang dilangsung-kan dalam bulan April 1955.
Rakyat Indonesia menolak usaha yang dijiwai oleh kaum revisionis modern dan Nehru untuk mengadakan Konferensi “Non-Blok” ke-II. Usaha ini tidak lain merupakan satu sabotase dan pentorpedoan terhadap usaha penyelenggaraan Konferensi Bandung ke-II, usaha jahat untuk membunuh semangat Bandung. Usaha ke arah apa yang dinamakan Konferensi “Non-Blok” juga merupakan pentorpedoan terhadap gagasan kerjasama NEFO.
Lewat Presiden Sukarno, Rakyat Indonesia telah melontarkan ide untuk mengadakan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), tetapi ide baik ini belum mendapat sambutan yang memuaskan dari negeri lain. Nampaknya, mengadakan Konferensi Bandung ke-II adalah lebih mendesak daripada mengadakan CONEFO, karena perjuangan antiimperialisme di Asia-Afrika perlu secara besar'an dikonsolidasi dan dikembangkan. Tetapi untuk ini harus lebih berani melawan sabotase‘ kaum imperialis dan kakitangan’-nya, terutama kaum revisionis modern dan Nehru dengan proyek konferensi “non-blok”-nya.
Demikianlah beberapa ciatatan dan sekedar kupasan yang menggambarkan bahwa pengganyangan terhadap imperialisme sedang maju terus di semua front. Rakyat Indonesia berjalan seirama dan harus lebih teguh memainkan peranannya yang positif dalam mendorong maju perkembangan revolusioner ini.
2. DI ASIA, AFRIKA DAN AMERIKA LATIN TER-DAPAT SITUASI REVOLUSIONER YANG TERUS MENANJAK DAN SEDANG MEMATANG
Dengan uraian tentang situasi internasional seperti di muka jaslaslah bahwa di dunia kita sekarang terdapat 4 kontradiksi dasar, yaitu: (1) kontradiksi antara Sosialisme dengan imperialisme (kapitalisme monopolii); (2) kontradiksi antara proletariat dengan burjuasi di-negeri kapitalis; (3) kontradiksi antara nasion tertindas dengan kaum imperialis; dan (4) kontradiksi antara kaum imperialis.
Kontradiksi (1), (2) dan (3) adalah perjuangan klas untuk menggulingkan kekuasaan imperialis dan sistim kapitalis. Kontradiksi (3) adalah kontradiksi antar nasion, te-tapi jika dikaji sampai ke-akar'nya perjuangan sesuatu nasion tertindas baru akan selesai samasekali jika nasion tsb. sudah samasekali membebaskan diri dari imperialisme dan ini hanya mungkin jika nasion itu sudah melepaskan diri dari sistim politik dan ekonomi kapitalis, artinya menempuh jalan sosialis. Perjungan nasion tertindas yang konsekwens, yang sampai ke-akar'nya, pasti akan sampai ke Sosialisme. Hal ini sudah dibuktikan oleh revolusi di Asia dan revolusi
Kuba di Amerika Latin yang sekarang sudah membangun Sosialisme. Sosialisme di negeri itu adalah kelanjutan yang wajar daripada perjuangan nasion‘ tertindas melawan imperialisme.
Memang ada perbedaan tingkat antara perjuangan nasion‘ tertindas untuk kemerdekaan nasional dengan perjuangan untuk Sosialisme, tetapi bagi perjuangan yang konsekwen tidak ada tembok Tiongkok yang memisahkan kedua tingkat perjuangan itu. Hanya mereka yang berfikiran “status quo”, yang tidak berfikiran bahwa perjuangan itu adalah satu proses, entah pendek entah panjang, yang membangun tembok Tiongkok antara perjuangan nasion’ tertindas dengan perjuangan untuk Sosialisme.
Perjuangan nasion‘ tertindas untuk kemerdekaan nasional pada hakekatnya adalah juga melawan sistim kapitalisme, yaitu kapitalisme monopolii, dan oleh karenanya hanya mungkin berhasil sepenuhnya jika dipimpin oleh proletariat. Lenin pernah menegaskan bahwa “revolusi sosialis tidak akan se-mata’, atau terutama, merupakan perjuangan kaum proleter revolusioner di-masing negeri melawan burjuasi mereka—bukan, ia akan merupakan perjuangan dari semua jajahian dan negeri‘ yang ditindas imperialisme, dari semua negeri tergantung melawan imperialisme internasional.” (W. I. Lenin, The National Liberation Movement in the East, penerbitan FLPH, hal 232).
Kontradaksi (4) adalah kontradiksi dalam satu klas, bukan perjuangan antara klas yang satu dengan yang lain. Sudah terbukti bahwa kaum imperialis atau burjuasi tidak mampu menyelasaikan kontradiksi dikalangannya sendiri, sehingga terus-menerus terdapat kontradiksi dikalangannya mereka. Walau-pun sudah 2 kali perang dunia mereka lancarkan, tetapi ternyata bahwa mereka juga tidak bisa menyelasaikan kontradiksi dikalangannya. Kontradiksi di antara kaum imperialis atau burjuasi itu baru dapat diselesaikan kalau klas buruh dan Rakyat pekerjia sudah bangkit di seluruh dunia dan menggulingkan kekuasaan mereka.
Antara ke-empat kontradiksi itu ada salinghubungan dan saling pengaruhnya. Penyelesaian ke-empat kontradiksi itu hanya dapat dicapai jika Rakyat bangkit di bawah pimpinan kaum revolusioner menggulingkan kekuasaan burjuasi sampai keakar-akarnya. Pokoknya, penyelesaian kontradiksi‘ hanya mungkin dengan jalan revolusioner.
Proses menggulingkan burjuasi bukanlah proses yang sederhana, sama tidak sederhananya seperti proses penggulingan kaum feudal oleh burjuasi; sesudah kapitalisme berkuasa di berbagai negeri ber-wali‘ terjadi restorasi feudalisme. Oleh karena itu keliru sekali jika berfikir bahwa di negeri sosialis tidak bisa terjadi restorasi kapitalisme. Berfikiran demikian berarti melemahkan kewaspadaan dan sama halnya seperti orang yang percaya pada takhyul, yang pada hakekatnya berfikir metafisis, karena memutlakkan sesuatu. Contoh sudah ada: Yugoslavia yang tadinya sosialis sekarang sudah menjadi kapitalis, sekaliup ke mana-mana masih menyangking papannama “sosialis”. Syarat materiil untuk kapitalisme bisa tidak ada di negeri sosialis, tetapi kalau pimpinan Partai klas buruh di negeri ybs. me-yeleweng, bisa saja terjadi restorasi kapitalisme. Dise-suatu negeri sosialis bisa ber-angsur-angsur tumbuh unsur-unsur kapitalis baru yang kemudian menyadikan negeri itu kapitalis se-penuhnya seperti halnya dengan Yugoslavia sekarang. Peng-alaman Yugoslavia memberi pelajaran yang sangat ber-harga. Pengalaman itu menundukkan bahwa restorasi ka-pitalisme di sesuatu negeri sosialis bisa dimulai dengan de-generasi sistim politiknya; Partai Komunis merosot men-jadi partai berideologi burjuis, diktatur proletariat merosot menjadi diktatur burjuis.
Empat kontradiksi tsb. di atas adalah kontradiksi-kontradiksi dasar, yaitu kontradiksi-kontradiksi yang memberi ciri pada dunia kita se-karang. Di antara kontradiksi-kontradiksi dasar selalu ada yang meru-pakan kontradiksi pokok, yaitu kontradiksi yang menentu-kan keadaan dan perkembangan kontradiksi-kontradiksi lain. Mana yang merupakan kontradiksi pokok dan bagaimana bentuk-bentuk-nya, hal ini bisa ber-ubah-ubah menurut masanya dan tingkat perkembangannya.
Ketika perang dunia kedua misalnya, kontradiksi pokok adalah antara kekuatan antifasis dengan kekuatan fasis. Kekuatan antifasis mencakup kekuatan negeri sosialis, ge-rakan proletariat, nasion-nasion tertindas dan sebagian negeri-negeri kapitalis.
Pada dewasa yni dalam skala dunia terdapat dua arus besar kontradiksi, yaitu kontradiksi Sosialisme dengan im-perialisme (kapitalisme monopolii) dan antara nasion-nasion tertindas dengan imperialisme. Dua arus perkasa ini bersatu dalam arus revolusi besar melawan imperialisme. Dua kon-tradiksi ini adalah kontradiksi-kontradiksi pokok dalam dunia kita dewasa ini.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa kontradiksi antara Sosialisme dengan imperialisme bukan kontradiksi pokok, karena di antara negeri-negeri sosialis ada yang dengan sengit ber-juang di segala bidang menentang imperialisme. Adalah satu kebenaran bahwa tujuan terakhir imperialis AS ialah menghancurkan negara sosialis yang terkuat dan pemilik senjata-senjata nuklir, yaitu Uni Sovyet. Kaum imperialis AS tidak akan sudi ada negara besar nuklir lain di sampingnya. Tetapi kita tidak dapat menutup mata, bahwa juga ada negeri-negeri sosialis yang pemimpin-pemimpin negaranya berusaha menghilangkan atau se-kurang-kurangnya mengaburkan kontradiksi antara Sosialisme dengan imperialisme dengan mem-bagus-baguskan imperialis-me AS dengan cara me-muji-muji tokoh-tokoh negara gembong imperialis ini atau dengan cara-cara lain. Mereka misalnya mengatakan, bahwa soal-soal dunia dapat diselesaikan jika ada kerjasama antara dua negara besar, negara sosialis tertentu dengan AS, mereka mengatakan bahwa Eisenhower adalah cinta damai, lebih-lebih lagi Kennej yang sesudah meninggal diangkat menjadi pahlawan perdamaian dan kematiannya begitu dirisaukan dengan cucuryan airmata. Dan sekarang Yohnson dianggap penerus politik Kennej yang katanya cinta damai itu.
Kita harus berbicara tentang ini, karena politik membagus-membaguskan imperialis AS antara lain dengan cara me-muji-muji tokoh-tokoh negara imperialis ini oleh pemimpin-pemimpin Partai-Partai Komunis tertentu di luar negeri menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat antara Partai kita dengan sementara pimpinan Partai-Partai Komunis itu. Kita kaum Komunis Indonesia, dan bersama kita semua Partai Komunis di Asia Tenggara dan banyak lagi Partai-Partai Komunis dan kaum revolusioner lainnya di Asia, Afrika dan Amerika Latin saban saat menghadapi agresi, intervensi dan subversi AS secara langsung atau tidak langsung. Di berbagai negeri kaum imperialis AS tidak pernah berhenti membunuh manusia, tidak perduli anak-anak atau orang-orang tua. Dalam keadaan demikian ini pemimpin-pemimpin semetara Partai Komunis di luar negeri mengatakan bahwa tokoh-tokoh negara yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu “berfikiran sehat” dan “cinta damai”. Kita bisa memahami kalau ada negarawan-negarawan yang mengucapkan selamat ketika Kennej diangkat menjadi Presiden AS dan berbelasungkawa ketika ia meninggal dunia sebagai sopansantun politik, tetapi tidak masuk di akal sehat kita kalau ada orang Komunis yang menganggap tokoh daripada negara yang merupakan gendarme reaksi internasional sebagai orang-orang yang “berfikiran sehat” dan “cinta damai”. Bagaimana bisa jadi, bahwa tokoh-tokoh negara yang sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua tidak pernah berhenti mengagresi, mengintervensi dan mensubversi negeri-negeri lain dianggap sebagai orang yang “berfikiran sehat” dan “cinta damai”. Rakyat pekerja Indonesia yang berkedaran politik akan meludahi kita kalau kita kaum Komunis Indonesia berkata demikian; entah apa yang akan diperbuat oleh Rakyat pekerja di Vietnam Selatan, Venezuela, Angola, Guinea (Portugis) dll. jika kaum Komunis atau orang revolusioner di negeri mereka berkata demikian, sebab mereka memegang senjata di tangan. Adanya rasa perikemanusiaan seseorang Komunis ditentukan oleh kutukannya terhadap imperialisisme dan terhadap tokoh-tokoh imperialis, terutama tokoh-tokoh imperialis AS, dan oleh simpatinya yang tidak habis-habisnya terhadap nasion-nasion tertindas yang melawan kaum imperialis, terutama mereka yang saban hari mengalami an-camann-camann agresi dan pembunuhan oleh kaum imperialis ini. Kehampaan rasa perikemanusiaanlah serta melemahnya kesedaran klas yang terdapat pada mereka yang me-muji tokoh imperialisme AS. Humanisme tidak pernah “univer-sil”—humanisme selalu humanisme klas.
Jadi, tidak bisa disangkal bahwa kontradiksi antara Sosialisme dengan imperialisme adalah kontradiksi pokok, Walaupun pemimpin sementara negara sosialis berusaha menghilangkan atau se-kurang-nya mengaburkan kontradiksi itu. Justru karena terdapat usaha dalam GKI untuk menghilangkan atau mengaburkan kontradiksi itu, maka kita harus lebih giat lagi menelandangi kejahatan imperialisme, terutama imperialisme AS.
Kontradiksi antara nasion tertindas dengan imperialisme tidak diragukan lagi adalah kontradiksi pokok. Kontradiksi pokok ini terdapat di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Di-daerah ini sekarak terdapat situasi revolusioner yang terus menanjak dan sedang mematang. Sudah tentu ketajaman kontradiksi itu berbeda disatu benua dengan benua lain dan disatu negeri dengan negeri lain. Pun di Asia, Afrika dan Amerika Latin terdapat pula negara yang menjadi satelit dari AS. Tetapi pada umumnya ditiga benua ini terdapat situasi revolusioner seperti itu. Yang berkontradiksi dengan imperialis di negeri-negeri ditiga benua ini ada kalanya hanya Rakyatnya saja, tapi ada kalanya Rakyat dan pemerintah ber-sama berkontradiksi dengan imperialisme.
Oleh karena di Asia, Afrika dan Amerika Latin pada dewasa ini terdapat situasi revolusioner yang terus menanjak dan sedang mematang, maka yang terpokok di antara dua kontradiksi pokok pada dewasa ini adalah kontradiksi antara nasion tertindas dengan imperialisme. Peryuangan Rakyat AAA menggontangkan dan sangat melemahkan imperialisme.
Kontradiksi pokok juga bisa terdapat di Eropa dan Amerika Utara jika di-daerah itu bangkit gelombang pasang revolusi. Sekarang kenyataannya belum demikian, baik oleh karena masing imperialis masih kuat di negerinya sendiri Maupun oleh karena pengaruh sosial-demokrasi dan revisionisme modern dalam gerakan buruh di-negeri itu. Ada sementara orang berpendapat bahwa dewasa ini kontradiksi pokok ada di Eropa kapitalis karena di bagian dunia inilah yang paling mungkin meletus revolusi proletar. Ini adalah manifestasi pandangan “Eropa centris”, suatu variasi dari pandangan dogmatis mengenai revolusi proletar yang menghinggapi Partai oportunis dari Internasionale ke-II. Adalah Lenin sendiri yang secara kreatif memperkembangkan Marxisme di zaman imperialisme, yang membuktikan baik secara teoritis Maupun melalui praktek Revolusi Oktober Besar, bahwa revolusi tidak harus pecah lebih dahulu di negeri kapitalis yang maju, tetapi di mana terdapat mata-ranta; imperialisme yang paling lemah. Revolusi Sosialis Oktober Besar 1917 membuktikan kesalahan kaum dogmatis itu. Revolusi-Revolusi Sosialis di Tiongkok, Korea dan Vietnam yang agraris terjadi lebih dulu daripada revolusi sosialis di Eropa kapitalis yang maju. Demikian pula di Kuba. Semuanya ini adalah bukti kebenaran Lenin dan bukti kesalahan kaum dogmatis.
Pada dewasa ini mataraantai imperialisme yang paling lemah bukannya di Eropa atau di Amerika Utara, atau di Australia, tetapi di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Oleh karena itulah proletariat di seluruh dunia harus memusatkan perhatiannya pada revolusi ditiga benua ini. Oleh karena itulah, demi memperkokoh sistem Sosialisme, tugas terpenting dari semua negeri sosialis ialah menyokong perjuangan Rakyat3 AAA. Oleh karena itulah proletariat Eropa dan Amerika Utara, demikian pula proletariat Australia seharusnya berkepentingan akan kemenangan revolusi4 Rakyat5 AAA. Kemenangan‘ revolusi Rakyat’ AAA akan sangat membantu proletariat Eropa, Amerika Utara dan Australia dalam menggulingkan kaum kapitalis di negerinya masing‘.
Di-negeri6 jajan dan setengah-jajan, yaitu negeri‘ daripada nasion7 tertundas yang terletak di AAA, sebagian terbesar pendudukna terdiri dari kaum tani. Ada sementara Komunis berpendapat bahwa jika yang dianggap kontradiksi pokok adalah antara negeri’ jajan dan setengah-jajan dengan imperialisme, maka ini berarti menempatkan kaum tani sebagai pimpinan revolusi. Jadi, ada kekuatiran terhadap perkembangan kekuatan kaum tani dan ada kekuatiran kalau8 kekuatan kaum tani mengungguli kekuatan kaum buruh. Orang9 ini sepantas lalu nampakna mempertahankan peranan pimpinan klas buruh. Tetapi sebenarnya mereka ragu akan mutlakna pimpinan klas buruh. Orang Komunis tidak perlu ragu akan mutlakna peranan pimpinan klas buruh dalam revolusi, karena dalam seyarah belum pernah dan tidak akan pernah terjadi bahwa sesuatu revolusi kaum tani bisa menang tanpa pimpinan klas buruh. Tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi bahwa kekuatan kaum tani mengungguli kekuatan kaum buruh sehingga tidak menguntungkan revolusi.
Marx dan Engels memberi perhatian sangat besar kepada desa dan negeri‘ jajan, artinya kepada kaum tani. Dalam tulisananya Masalah Tani di Perancis dan Jerman, Engels a.l. mengatakan bahwa untuk menang partai proletariat “harus menjadi satu kekuatan di desa” (Cursif DNA).
Demikian juga ajaran Lenin. Revolusi sosialis adalah penipuan belaka jika tidak menggerakkan kaum tani. Tanpa menggerakkan kaum tani tidaklah mungkin mempersatukan mayoritet penduduk, dan hanya dengan mempersatukan ma-yoritet penduduk barulah ada kemungkinan mencapai Sosialisme, demikian Lenin mengajar kita. Jadi, kalau takut terhadap perkembangan kekuatan kaum tani dan menganggap kekuatan kaum tani akan mengungguli kekuatan kaum buruh sehingga tidak menguntungkan, maka janganlah mengharap revolusi akan menang dan hegemoni proletariat akan terwuyud. Berbicara tentang hegemoni proletariat dalam revolusi sosialis dunia adalah omongkosong jika takut pada perkembangan kekuatan kaum tani di dunia.
Peribahasa Indonesia mengatakan: “Kalau takut dilimbur pasang jangan berumah di tepi pantai”. Kalau takut dengan kebangkitan kaum tani jangan coba-coba memikirkan revolusi.
Dalam skala dunia Asia, Afrika dan Amerika Latin adalah desanya dunia, sedangkan Eropa dan Amerika Utara adalah kotanya dunia. Untuk memenangkan revolusi dunia tidak ada jalan lain kecuak proletariat dunia harus mementingkan revolusi-revolusi di Asia, Afrika dan Amerika Latin, artinya revolusi-revolusi didesanya dunia. Untuk memenangkan revolusi dunia, proletariat dunia “harus pergi ketiga benua ini”.
Kaum imperialis bukannya lemah dikotanya dunia, di Eropa dan Amerika Utara, tetapi mereka lemah didesanya dunia, di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Di tempat yang lemah milah kaum imperialis harus dan sedang diganyang sehebat-sehebatnya dan proletariat di seluruh dunia baik yang sudah menang Maupun yang belum menang harus memberikan sokongan yang se-besar-besarnya pada pengganyangan imperialis di ketiga benua ini. Kemenangan revolusi-revolusi diketiga benua ini akan memudahkan proletariat dikotanya dunia, yaitu di Eropa dan Amerika Utara, untuk menggulingkan kekuasaan imperialis. Garis ini: sesual dengan dalil Marxis yang mengatakan, bahwa sesuatu nasion tidaklah merdeka jika nasion itu masih menindas nasion lain.
Pandangan “Eropa centris”, variasi baru dari pandangan dogmatis Internasionale II, seharusnya sudah lama dikubur, karena sejarah sudah membuktikan kekeliruanannya baik se-lagi Lenin masih hidup Maupun sesudah Lenin wafat. Oleh karena itu kita membantah dengan keras segala macam tuduhan dan fitnahan, bahwa mementingkan perjuangan Rakyat-Rakyat Asia atau Asia-Afrika Ataupun Asia-Afrika-Amerika Latin merupakan sesuatu penyangkalan terhadap Marxisme-Leninisme, sesuatu yang nasionalis-sovinis, sebagai separatis, sebagai rasialis dan entah kata-kata fitnah apa lagi.
Meng-agung-agungkan perjuangan Rakyat-Rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin tidak lebih dan tidak kurang adalah pelaksanaan daripada Marxisme-Leninisme yang se-murni-murninya, seujung rambut tidak menyalahi internasionalisme proletar dan malahan inilah perwujudan kongkrit daripada internasionalisme proletar. Tidak lain adalah proletariat di Eropa dan Amerika Utara yang juga diuntungkan jika revolusi-revolusi menang di benua AAA. Proletariat di berbagai negeri di benua AAA membela dengan darah dan jiwanya internasionalisme proletar, jadi tidak hanya berbicara tentang ini dan sama-sekali tidak dalam nada ketakutan kepada kaum tani, tetapi dengan penuh keyakinan akan tugas sejarahnya. Kaum tani bukan harus ditakuti tetapi harus dijadikan sekutu, dan mereka memang sekutu yang terpercaya daripada proletariat.
Peryuangan klas yang dilakukan kaum buruh di-negeri-negeri kapitalis yang maju melawan burjuasi negerinya merupakan sumber kekuatan revolusioner yang besar dan vital bagi kemenangan revolusi sosialis dunia. Oleh sebab itu, kontradiksi dasar antara klas buruh dengan burjuasi di-negeri-negeri kapitalis yang maju itu pasti akan menjadi kontradiksi pokok dunia. Satu faktor penting yang memungkinkan kaum kapitalis mempertahankan kekuasaannya di-negeri-negeri kapitalis yang maju ialah bahwa sosial-demokrasi dan revisionisme modern masih mempunyai pengaruh besar atas kaum buruh dan menyadikan klas buruh secara ideologis tawanan dari kapitalisme. Hanya dengan menghancurkan sosial-demokrasi dan revisionisme modern, mengusirnya dari kalangan gerakan klas buruh, Partai-Partai Komunis di negeri negeri kapitalis dapat menyatukan klas buruh di bawah panji revolusioner Marxisme-Leninisme, menghim pun semua kekuatan revolusioner di-negeri-negeri itu dalam front persatuan yang kuat untuk mengalahkan kapitalisme. Kita yakin se-yakin-yakinnya, bahwa saat itu pasti datang dan gelombang revolusi-revolusi proletar di-negeri-negeri kapitalis yang maju akan menghabisi riwayat kapitalisme untuk se-lama-lamanya di seluruh dunia.
Proletariat di seluruh dunia seharusnya menyambut dengan sorak gembira terus menanjaknya dan sedang mematangnya situasi revolusioner di Asia, Afrika dan Amerika Latin; meraka seharusnya menyambut dengan gembira kenyataan bahwa tiga benua ini telah menjadi gelanggang daripada kontradiksi terpokok di dunia, kontradiksi antara nasion-nasion ter-tindas dengan imperialisme. Kaum tani ditiga benua ini bukan ingin mengambil pimpinan dari tangan proletariat, tetapi meminta dipimpin oleh proletariat. Tetapi dalam kesengitan mengganyang imperialisme pimpinan revisionis tentu ditolak mentah-mentah di daerah ini. Kaum tani di daerah ini lebih baik dipimpin oleh kaum nasionalis revolusioner daripada di-“pimpin” oleh kaum revisionis yang mengaku “Marxis-Leninis”. Jika ini terjadi bukanlah kesalahan kaum tani, tetapi kesalahan kaum “Marxis-Leninis” yang menyeleweng itu.
Dalam hubungan dengan perjuangan kemerdekaan nasional ada sementara orang yang me-nandas'kan bahwa perjuangan kemerdekaan nasional tidak bisa berhasil tanpa bantuan negeri sosialis. Maksud me-nandas'kan ini ialah agar kaum Komunis yang sedang beryuang untuk ‘kemerdekaan nasional tidak berani menyatakan pendapat yang berbeda dengan pendapat resmi negeri sosialis tertentu, sebab kalau berani berbuat demikian akan tidak mendapat bantuan dan tidak akan menang. Oleh karena ada politik santase semacam inilah, Partai kita perlu lebih kuat menekankan suatu kebenaran menurut filsafat materialisme dialektik dan apa yang sudah dibuktikan oleh Lenin.
Kita harus menekankan bahwa faktor internlah yang menyebabkan perubahan kwalitet halikhwal, sedangkan faktor extern perananyna hanya membantu. Meletusnya revolusi Indonesia dalam bulan Agustus 1945 bukan pertama-tama karena bantuan atau dorongan dari luar, tetapi pertama-tama karena sudah matangnya faktor intern, yaitu perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia. Seorang sahabat kita di Eropa, Kawan Paul de Groot pernah berkata: “Rakyat Indonesia beryuang ber-tahun-tahun untuk kemerdekaan nasionalnya. Tetapi ini baru tercapai sesudah kekalahan Jerman di Eropa, yang juga menetapkan nasib Jepang, karena perjuangan klas buruh Nederland untuk ‘Indonesia lepas dari negeri Belanda sekarang juga’, oleh bantuan Uni Sovyet kepada Indonesia, oleh pertentangan antara imperialisme Amerika dan Belanda terhadap Indonesia”. (pidato Paul de Groot, CPN over geskhillen in de communistische wereldbeweging, halaman 8-9). Jadi, samasekali tidak dinilai faktor intern, faktor perjuangan Rakyat Indonesia sendiri sebagai jaminan utama bagi kemenangan perjuangan kemerdekaan nasional Indonesia. Dengan segala penghargaan dan terima kasih kita kepada proletariat Nederland yang selalu membantu revolusi Indonesia, kita harus menyatakan bahwa pandangan demikian ini tidak sesuai dengan materialisme dialektik, pandangan ini subyektif.
Tidak lain adalah Lenin dan Revolusi Sosialis Oktober Besar yang mengajar kita, bahwa kalau Rakyat sudah bersatu dan bertekad bulat untuk beryuang dan untuk menang, bukan hanya imperialisme dapat diusir tetapi juga sistim kapitalis dapat ditumbangkan. Uni Sovyet didirikan oleh Lenin dan proletariat dengan tanpa bantuan negeri sosialis, karena Uni Sovyet adalah negeri sosialis yang pertama.
Partai kita senantiasa menekankan, sesuai dengan ajaran Lenin, bahwa perjuangan revolusioner untuk pembebasan nasional tidak terpisah dari perjuangan revolusioner di seluruh dunia melawan imperialisme dan kapital. Tetapi bersamaan dengan itu, Partai kita juga menekankan bahwa faktor yang menentukan kemenangan perjuangan pembebasan nasional adalah kekuatan Rakyat di-masing‘ negeri yang beryuang untuk pembebasan. Oleh karena itulah Partai kita mendidik anggota'nya dan Rakyat Indonesia supaya berani berdiri di atas kaki sendiri, percaya pada kekuatan sendiri, bertekad “maju terus, pantang mundur”, mendidik Rakyat dalam semangat banteng merah.
Kubu sosialis adalah hasil perjuangan proletariat dan Rakyat pekerya sedunia. Sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan nasion-nasion tertindas melawan imperialisme telah memberikan sokongan dan kekuatan pada berdirinya negeri-negeri sosialis dan pembentukan kubu sosialis. Seharusnya bantuan negeri-negeri sosialis kepada perjuangan kemerdekaan nasional tidak perlu dipersoalkan, karena seharusnya hal ini merupakan sesuatu yang sudah dengan sendirinya. Bukanlah negeri sosialis yang sejati jika tidak membantu dengan sungguh-sungguh perjuangan kemerdekaan nasional. Lenin mene-gaskan bahwa bantuan ini merupakan ‘kewayiban, bahwa salahsatu tuntutan internasionalisme proletar ialah supaya “nasion yang mencapai kemenangan atas burjuasi sanggup dan rela memberikan pengorbanan nasional se-besar'nya demi kepentingan menggulingkan kapital internasional” (W. I. Lenin, The National Liberation Movement in the East, hal 254). Bantuan negeri sosialis kepada perjuangan kemerdekaan nasional dan melawan kapital hakekatnya adalah bantuan pada diri-sendiri, karena makin hebat perjuangan-perjuangan tsb, makin terkonsolidasi kubu sosialis.
Ada sementara orang mengatakan, banwa yang dibutuh-kan oleh negeri-negeri yang baru merdeka agar sampai ke Sosialisme ialah bantuan ekonomi. Kata mereka, negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika dengan bantuan ekonomi kubu sosialis bisa beralih ke Sosialisme. Oleh karena itu, di atas se-gala'nya dunia harus “damai” agar negeri-negeri sosialis bisa menang dalam berkompetisi dibidang ekonomi dengan negeri-negeri kapitalis. Mereka berbicara tentang “peralihan ke Sosialisme” lewat “bantuan ekonomi” dan tidak lewat perubahan sistim politik yang mendalam yang dilakukan secara revolusioner di negeri yang baru merdeka ibu. Ini adalah pandangan ekonomisme modern dalam GKI, pandangan yang berpokok pangkal bahwa ekonomi dan bukan politik yang menentukan se-gala'nya, pandangan yang mengebirl dan mengecilkan peranan gerakan revolusioner Rakyat.
Pandangan ekonomisme modern juga mendapat manifestasinya dalam fikiran sementara orang, bahwa negeri-negeri yang baru merdeka akan melakukan peralihannya ke Sosialisme karena terdorong oleh contoh-contoh pembangunan Sosialisme di negeri-negeri sosialis. Menurut pandangan ini, Sekalipun sesuatu negara dipimpin oleh burjuasi besar, seperti misalnya
India dewasa ini, Sosialisme akan bisa dibangun. Dengan dalih ini, pada hakekatnya kaum ekonomis modern menyuruh Rakyat negeri yang baru merdeka menghentikan perjuangan revolusionernya dan menggantungkan segala sesuatunya pada bantuan ekonomi dari negeri sosialis serta duduk sambil mengagumi pembangunan ekonomi di-negeri itu. Bahkan pandangan ekonomisme modern sudah sedemikian jauhnya sehingga “bantuan” ekonomi dari negeri imperialis pun dianjurkan, misalnya “bantuan” yang katanya akan bisa disediakan sebagai akibat perlucutan senjata.
Ekonomisme klasik adalah pandangan yang menyangkai keharusan adanya partai politik proletariat yang berdiri sendiri, suatu pandangan yang membikin proletariat membuntut secara politik pada burjuasi. Ekonomisme modern timbul sesudah ada partai proletariat yang berdiri sendiri dan ada yang sudah memegang kekuasaan. Dalam keadaan demikian ini perannanyia ialah memerosotkan partai politik proletariat di-negeri sosialis menjadi “pengurus ekonomi” dan di negeri kapitalis menjadi pelayan burjuasi seperti misalnya Klik Dange dalam Partai Komunis India dan Partai Komunis lain yang sudah kejangkitan sosial-demokrasi dan revisionisme.
Dalam rangka melawan revisionisme, kita harus melawan ekonomisme modern ini dengan politik yang mengutamakan politik, dengan dasar politik adalah jenderal.
Mengenai bantuan negeri sosialis kepada sesuatu negara yang baru merdeka seharusnya tidak boleh memperkuat kedudukan burjuasi yang menindas proletariat dan gerakan revolusioner, karena bantuan semacam itu tidak sesuai dengan internasionalisme proletar, tetapi hanya sesuai dengan internasionalisme burjuis.
Kita ajukan semuanya ini dengan maksud agar tertanam pengertian yang baik, agar solidaritet menjadi lebih kuat antara proletariat dan Partai Marxis-Leninisnya di Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan proletariat dan Partai Marxis-Leninisnya di-negeri kapitalis serta Rakyat dan Partai Marxis-Leninis di-negeri sosialis.
3. ASIA TENGGARA MERUPAKAN SALAHSATU TITIKPUSAT DI DAERAH KONTRADIKSI POKOK
Sebagaimana sudah diterangkan di atas, Asia, Afrika dan Amerika Latin merupakan daerah kontradiksi pokok atau terpokok. Asia Tenggara berada dalam daerah ini. Indonesia letaknya di Asia Tenggara, oleh karena itu kaum Komunis dan kaum revolusioner Indonesia lainnya harus memberi perhatian besar pada perjuangan revolusioner Rakyat‘ Asia Tenggara.
Kaum imperialis berusaha menjadikan Asia Tenggara sebagai daerah neo-kolonialisme, sebagai pangkalan militer untuk menyerang Sosialisme dan untuk menyegal merembesnya pengaruh revolusi sosialis dari Utara ke Selatan.
Tetapi difikah lain di Asia Tenggara terdapat daerah luas di mana sistim kapitalis sudah dikalahkan dan sistim sosialis sudah berdiri tegak dan terus dikonsolidasi (RRT dan RDV). Di daerah ini juga terdapat situasi revolusioner yang terus menanjik dan sedang mematang, di mana sejak Perang Dunia Kedua revolusi kemerdekaan nasional dan revolusi sosialis berlangsung tanpa henti-hentinya dengan disertai letupan senyata pejuang revolusioner, dan di mana Partai Komunis mendapat kemenangan. Burjuasi nasional di Asia Tenggara sedang dalam taraf pertumbuhan baik dibidang politik, ekonomi Maupun kebudayaan, tidak seperti di Eropa, dan oleh karena itu mereka bisa menyatukan diri dengan gerakan revolusioner. Bahkan pangeran yang patriotik seperti Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja dapat ambilbagian aktif menentang imperialisme AS secara terbuka.
Karena tidak terkena penyakit revisionisme, Partai Komunis di Asia Tenggara mempunyai syarat untuk dapat memimpin kaum buruh, kaum tani dan intelligensia revolusioner sehingga dapat mengibarkan tinggi panji antiimperialisme, panji demokrasi dan panji perdamaian yang sejati.
Di Asia Tenggara terdapat kepentingan banyak imperialis atau kaum kapitalis monopoli, mulai yang besar seperti AS, Inggris, Jerman Barat dan Jepang sampai kepada yang keci12 seperti Portugal, Belanda dll, sehingga di daerah ini terdapat banyak kontradiksi di kalangan kaum imperialis sendiri dan terdapat penindasan imperialis yang kejam. Di daerah ini juga terdapat kekuasaan reaksioner yang lemah, terdapat burjuasi nasional yang bermuka dua dan lemah, terdapat Rakyat yang mempunyai kewaspadaan politik yang tinggi dan pengalaman perjuangan revolusioner yang banyak, termasuk perjuangan bersenjata.
Perjuangan klas di Asia Tenggara sangat sengit, di beberapa negeri ada kebebasan politik, tetapi bersamaan dengan itu juga ada bahaya teror, kudeta kontra-revolusioner dan fasisme. Rakyat dan Partai Komunis di Asia Tenggara harus menggunakan segala macam bentuk perjuangan, bersenjata dan tidak bersenjata, parlementer dan tidak parlementer, dsb. Semua pengalaman perjuangan klas terdapat di Asia Tenggara. Semua Partai Komunis harus mampu menggunakan tiap bentuk perjuangan yang terdapat di Asia Tenggara sesuai dengan kebutuhan perjuangan di negeri masing-masing.
Asia Tenggara merupakan salahsatu titikpusat di daerah kontradiksi pokok di dunia.
Faktor obyektif Maupun subyektif baik sekali di daerah ini. Untuk memenangkan perjuangan nasional tertindas di Asia Tenggara, guna menjebol benteng imperialisme yang sudah brengsek dan rapuh itu, perjuangan nasional tertindas yang satu harus erat-erat berhubungan dengan yang lainnya. Solidaritet revolusioner antara nasional ini harus diperkuat.
Dalam perjuangan untuk pembebasan nasional di Asia Tenggara rol Indonesia adalah sangat penting. Ini harus disedari dan difahami, karena ini meletakkan tanggungyawab yang besar di pundak tiap orang revolusioner Indonesia, terutama kaum Komunis. Dewasa ini di Indonesia tidak terdapat perjuangan bersenjata sebagaimana misalnya terdapat di Vietnam Selatan. Tetapi adalah keliru untuk berfikir bahwa karena itu peranan Indonesia menjadi kurang penting di Asia Tenggara. Di Indonesia tidak saja Rakyat, tetapi juga pemerintah berjuang melawan imperialisme dan kalau perlu juga dengan bersenjata. Yang belakangan ini telah dibuktikan oleh perjuangan melawan kontra-revolusi “PRRI-Permesta”, menumpas kontra-revolusi DITII, pembebasan Irian Barat dari imperialisme Belanda dan sekarang dalam konfrontasi mengganyang “Malaysia”.
Dengan pasangnya gelombang revolusi di Asia Tenggara kehantiran total imperialisme yang dilkepalai AS di Asia Tenggara tidak bisa dihindari. Gerakan pembebasan nasional di daerah ini pasti akan mencapai kemenangan dan pasti akan berkembang menjadi perjuangan massa melawan kapital. Bobolinya benteng imperialisme di daerah ini akan merupakan banjir besar melanda imperialisme, merupakan bantuan yang sangat besar bagi perkembangan revolusi sosialis dunia.
Partai Komunis di Asia Tenggara yang masih berjuang untuk pembebasan nasional mempunyai tugas pokok yang sama, yaitu: (1) menarik massa Rakyat seluas mungkin dan mengorganisasinyanya dalam front persatuan nasional; (2) masuk sejauh mungkin ke dalam desa menggalang persekutunan buruh dan tani; (3) memperkuat pimpinan Partai atas massa Rakyat yang luas dan pandai menggunakan segala bentuk perjuangan; dan (4) memperkuat keryasama Rakyat‘ dan Partai Komunis di As'a Tenggara. Inilah 4 jimat untuk menggulungkan 4 bukit setan di Asia Tenggara, yaitu bukti imperialisme, feudalisme, kapitalisme komprador dan kapitalisme birokrat.
Kemenangan revolusi Indonesia akan mempunyai arti kebobolan besar dalam benteng imperialisme, berarti satu kemayuan melompat dalam perjuangan antiimperialisme dan sinarnya akan memancar jauh, juga sampai keluar batas-batas Asia Tenggara. Inilah sebabnya mengapa kaum imperialis terutama AS, memberikan perhatian yang sangat besar pada perkembangan di Indonesia dan menyadikan Indonesia sasaran intervensi dan subversinya yang pokok di Asia Tenggara.
4. PERJANJIAN TRINEGARA MOSKOW LEBIH BAIK TIDAK ADA SAMASEKALI
Bulan3 belakangan ini orang ramai membicarakan perjanjian trinegara (tri-partite) mengenai larangan perco-baan nukllr terbatas yang ditandatangani pada tanggal 5 Agustus 1963 di Moskow. Kalangan-Kalangan imperialis yang dikepalai oleh AS di seluruh dunia gembira dan lega bahwa pada akhirnya konsep mereka diterima oleh Uni Sovyet, dan kemudian didukung oleh sebagian negeri-negeri sosialis dan sebagian Partai8 Komunis.
Kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia tak meragukan kesungguhan Uni Sovyet dalam mencintai perdamaian. Tetapi kita, berdasarkan fakta-fakta sejarah dan kenyataan-kenyataan hidup dalam situasi dunia dewasa ini, tidak bisa percaya samasekali bahwa ‘kaum imperialis mengingini perdamaian yang didasarkan atas kemerdekaan dan kebebasan umatmanusia sedunia. Kita gila kalau kita percaya bahwa AS dan negara-negara imperialis lainnya mencintai perdamaian.
Untuk membela perjanjian trinegara ini dari kritik-kritik beralasan, sering dikemukakan fikiran “lebih baik ada daripada tidak ada samasekali”. Bertentangan dengan pendapat itu, kaum Komunis Indonesia berdasarkan hasratnya akan perdamaian yang kongkrit dan bukan yang abstrak, berpendirian bahwa lebih baik perjanjian itu tidak ada sama-sekali. Mengapa?
Kaum Komunis Indonesia membedakan antara senjata nukllr di tangan negeri sosialis dengan yang di tangan negeri kapitalis, percobaan nukllr oleh negeri sosialis dengan percobaan nukllr oleh negeri kapitalis. Yang pertama memperkuat perdamaian, sedang yang kedua memperbesar bahaya perang agresi.
Kaum Komunis Indonesia memperjuangkan perdamaian kongkrit, yaitu perdamaian sebagai usaha bersama antara negeri-negeri hubu sosialis, perjuangan pembebasan nasional, klas buruh di-negeri-negeri kapitalis dan kekuatan-kekuatan progresif lainnya melawan imperialisme, jadi bukan perdamaian yang abstrak, yang hanya ada dalam angan-angan sebagai hasil mem-bagus-baguskan kaum imperialis.
Sesudah adanya perjanjian ini gerakan perdamaian dunia mengalami kelumpuhan, percobaan nuklir di bawah tanah yang terus-menerus dilakukan AS tidak mendapat perlawanan samasekali karena dibolehkan oleh perjanjian tersebut di atas.
Karena perjanjian ini hanya tegas-tegas melarang percobaan nuklir diatmosfir, diangkasaluar dan di bawah air, maka hal-hal lainnya seperti percobaan-percobaan nuklir dibawahtanah, pembikinan, penimbunan, penyebaran dan penggunaan senjata-senjata nuklir menjadi sesuatu yang tidak terlarang. Ini berarti memberi senjata baru bagi imperialis dan kakitangan-kakitangannya untuk melumpuhkan gerakan perdamaian.
Jika tidak dikatakan antiperdamalan, se-kurang-kurangnya perjanjian tsb. telah menyulitkan gerakan perdamaian. Oleh karena itulah kita berpendapat lebih baik perjanjian tersebut tidak ada samasekali.
Lebih-Lebih lagi tidak tepatnya perjanjian tersebut, karena ia telah menambah tajam pertentangan dalam GKI dan antara negeri-negeri sosialis. Tidak seorang pun yang berfikiran sehat bisa membantah bahwa hal ini melemahkan perdamai-an. Kita sangat menyesalkan, bahwa tidak diadakan konsultasi dan sikap bersama terlebih dulu antara semua negeri sosialis sebelum perjanjian yang begitu penting diadakan antara Uni Sovyet dengan AS dan Inggris.
Setia pada Seruan Stockholm dan pada Program PKI sendiri kaum Komunis Indonesia tetap menuntut agar semua senjata nuklir dibuang ke laut dan diadakan pelarangan total yang disertai kontrol efektif atas segala percobaan senjata nuklir, atas pembuatan, penimbunan dan penggunaan senjata-senjata nuklir.
Pernyataan Moskow 1960 telah menegaskan bahwa imperialisme AS adalah “kekuatan pokok dari agresi dan perang”, bahwa ia adalah agresor dan provokator perang. Dengan perjanjian trinegara nuklir ini dicobalah untuk menghilangkan tampang jelek AS. Perjanjian trinegara nuklir tanggal 5 Agustus 1963 itu memberi wajah baru kepada AS, wajah “cinta damai”, “bukan agresor”, “bukan intervensionis”, dsb. Ini tidak cocok dengan kenyataan-kenyataan dimana pun di dunia, di AAA, di Asia Tenggara dan di Indonesia sendiri. Ini merupakan hambatan besar dalam usaha meningkatkan kesedaran politik massa Rakyat.
Dalam hubungan dengan persoalan nuklir ini kita ingin menegaskan sikap kaum Komunis Indonesia terhadap senjata nuklir. Kita berpendirian bahwa hukum perkembangan masyarakat tidak berubah. Walaupun penemuan tenaga nuklir dapat mempengaruhi perkembangan tenaga produktif masyaraat, namun masyaraat tetap berkembang berdasarkan hukum penyesuaian hubungan produksi dengan watak tenaga produktif yang dinyatakan dalam perjuangan klas. Yang melakukan perjuangan klas adalah manusia, yang menciptalkan, menggunakan dan mengembangkan perakas produksi dan senjata adalah manusia, oleh karena itu manusialah yang menentukan dalam perkembangan masyaraat.
Kita semua tahu akan dayarusak senjata nuklir. Dengan alasan dayarusak yang besar inilah kaum imperialis dan kaum revisionis menggunakan senyata nuklir untuk menakut-nakuti Rakyat yang berduyang untuk membebasan diri dari peindasanan kolonial dan penghisapan. Mereka melakukan santase atau gertak nuklir. Mereka yang lemah jiwa telah menjadi mangsa gertak nuklir dan akhirnya menyerah diri kepada imperialis.
Rakyat revolusioner tidak mau berkapitulasi terhadap gertak nuklir kaum imperialis dan menolak pendewaan atas senjata nuklir, mereka mengutuk kultus nuklir. Perjuangan bersenjata yang sudah ditempuh oleh Rakyat berbagai negeri untuk merebut kemerdekaan nasional dari tangan imperialis harus didorong dan tidak boleh dikendorkan dengan alasan bahwa perjuangan bersenjata itu akan bisa membulkan perang lokal yang “bisa berkembang menjadi perang nuklir”. Penelanjangan imperialisme AS sampai bulat sebulatnya oleh kaum revolusioner yang berduyang melawan imperialisme tidak seharusnya dikendorkan dengan alasan bahwa kecaman terhadap AS akan “memperuncing hubungan yang bisa mengakibatkan tercetusnya perang nuklir” yang akan “menghancur-luluhkan dunia dan membikin manusia menjadi cacat”. Kultus nuklir ini adalah berbahaya sekali, apalagi jika ditambah dengan “kultus Kennej” atau sebangsanya. Ia melumpuhkan daya-duyang melawan imperialisme dan sangat memperlemah peryuangan untuk kemerdekaan nasional dar perdamaian. Kultus nuklir ini menjadi lebih dipupuk lagi oleh perjanjian trinegara nuklir.
Untuk menolong diri sendiri dan sistimnya dari desakan kuat dan membadi daripada perjuangan Rakyat di seluruh dunia untuk kemerdekaan nasional dan pembebasan dari penghisapan, pemerintah AS dewasa ini memainkan politik muka dua, muka perang dan muka “damai”. Kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia tidak sudi ikut memulas-putihkan, mempoles dan memvernis muka jahat kaum imperialis.
Rakyat Indonesia telah mengibarkan tinggi panji m tan nya: “Kita cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan.”
Siapa sadia yang ikut menggambarkan AS dan tokoh negera ini sebagai pencinta damai melakukan penghinaan kasar terhadap Rakyat Vietnam Selatan, Kuba, Korea, Je pang, Kamboyya dan Rakyat dimanapur di dunia ini. Lewat perjanjian trinagara nuklir di Moskow imperialis AS berhasil, Walaupun hanya untuk waktu sangat singkat, menampakkan muka “damai”nya.
Oleh karena itulah, sekali lagi, perjanjian trinagara Moskow lebih baik tidak ada samasekali. Adanya perjanjian tsb telah membantu menyelamalkan muka buruk imperialis AS, Walaupun hanya untuk waktu yang sangat semetara.
Rakyat‘ yang cint-cint kemerdekaan dan perdamaian sejati tidak bisa dikelabui matanya dengan politik muka “damai” imperialis, dan akan terus membenci dan mengganyang imperialis. Ini pendirian lebih dari 90% Rakyat sedunia, Sekalipun masih banyak pemerintah-pemerintah di dunia yang tidak berpendirian demikian. Ini tidak mengheirankan karena begian yang sangat terbesar dari pemerintah-pemerintah dunia dewasa ni adalah pemerintah kapitalis. Kaum Komunis Indonesia menyatukan diri dengan lebih dari 90% Rakyat’ sedunia ini.
5. MASYARAKAT KOMUNIS HANYA DAPAT DIWUJUDKAN JIKA IMPERIALISME SUDAH LENYAP DALI MUKA BUMI
Di atas sudah ditegaskan betpa salinghubungannya perjuangan revolusioner Rakyat disatu negeri dengan Rakyat di-negeri-negeri lain, juga betapa salinghubungannya pembangunan Sosialisme di-negeri-negeri sosialis dengan perjuangan revolusioner Rakyat‘ untuk kemerdekaan nasional dan menentang kapital dimana pun di dunia ini.
Dari segi intern negeri-negeri kubu sosialis mempunyai segala syarat untuk membangun Sosialisme dan Komunisme. Tetapi dari segi extern, selama masih ada kepungan imperialisme, apalagi kepungan yang intensif dan agresif sifatnya seperti dewasa ini, maka usaha: untuk menjamin keamanan Sosialisme disatu negeri, apalagi di semua negeri kubu sosialis, memerlukan suatu perjuangan klas yang ulet, baik dalam melawan musuh-musuh extern Maupun dalam melawan gejala-gejala burjuis di dalam masyarakat sosialis sendiri yang timbul baik dari sisa-sisa masyarakat lama Maupun dari pengaruh atau usaha-usaha dari luar. Jika tidak dilawan secara teguh, gejala‘ itu bisa menyebabkan timbulnya antagonisme kias yang membahaya-kan pembangunan sosialis. Negeri sosialis mana pun tidak berada di luar dunia yang masih ada imperialisme.
Antara kemenangan Sosialisme disatu negeri dengan kemenangan revolusi sosialis sedunia ada hubungan takterpisahkan. Revolusi sosialis yang sudah menang disatu negeri tidak boleh dijadikan sebagai kesatuan yang sudah menyukupi diri dan terpisah, tetapi harus dijadikan pembantu atau alat untuk mempercepat kemenangan-kemenangan revolusi-revolusi di negeri-negeri lain. Lenin menegaskan hal ini dengan se-terang-terangnya ketika ia mengatakan bahwa revolusi yang sudah menang harus “melakukan segala yang mungkin dengan se-kuat-kuatnya disatu negeri guna mengembangkan, menyokong dan membangkitkan revolusi di semua negeri.” (W. I. Lenin, Revolusi Proletar dan Renegat Kautsky, Selected Works, Vol. II, Part 2, penerbitan FLPH 1952 hal. 105). Revolusi yang sudah menang harus membantu memenangkan revolusi-revolusi lain untuk menyamin langgengnya kemenangan revolusi itu. Tentang ini sekali lagi kita meminjam kata-kata Lenin: “Kepentingan-Kepentingan peryuangan proletar disatu negeri harus disubordinasikan kepada kepentingan-kepentingan peryuangan itu pada skala dunia”. (W. I. Lenin The National Liberation Movement in the East, halaman 254).
Revolusi sosialis sudah menang di berbagai negeri dan sudah terbentuk kubu sosialis yang kuat. Dalam hubungan dengan hal-hal tersebut di atas, dalam keadaan dunia dewasa ini di mana imperialisme dalam sekaratnya menundukkan sifat-sifat agresif yang kuat dan melakukan usaha-usaha yang terusmenerus untuk menggerowoti kekuasaan sosialis dan mendorong restorasi kapitalisme melalui apa yang mereka namakan “evolusi damai”, maka timbulah persoalan apakah masyarakat Komunis yang sungguh-sungguh, jadi bukan yang palsu, bisa diwuyudkan di sesuatu negeri selama masih ada imperialisme di dunia. Persoalan ini kita ajukan dalam rangka perjuangan universil guna memenangkan revolusi-revolusi Rakyat untuk kemerdekaan nasional dan revolusi-revolusi sosialis serta juga untuk mempercepat sampainya umatmanusia kepada masyarakat Komunis. Pangkal pendirian kita mengajudkan soal ini samasekali berbeda dari kaum trotskis yang menentang Lenin tentang kemungkinan memenangkan Sosialisme disatu negeri selagi masih ada kapitalisme. Bagi kita mengenai Sosialisme disatu negeri tidak ada persoalan. Yang kita persoalkan ialah masyarakat Komunis disatu negeri atau dibberapa negeri selama masih ada imperialisme.
Dilihat dari segi intern, sudah barang tentu Rakyat di negeri-negeri sosialis mempunyai kewayibian untuk terus mengembangkan dan memperkokoh ekonomi sosialisna, terus me-ningkatkan taraf hidup dan taraf kebudayaan Rakyat masing-masing negeri. Difiha'k lain, segi externnya masih tetap ada dan tidak boleh diabaikan.
Masyarakat Komunis hanya dapat diwuyudkan dengan tingkat perkembangan tenaga produktif yang tinggi sekali, yang dapat memproduksi barang-barang keperluan hidup ber-limpah-limpah supaya dapat “sungguh-sungguh melaksanakan prinsip: ”setiap orang bekerja menurut kemampuan, setiap orang menerima menurut kebutuhan“. Untuk ini diperlukan kegiatan-kegiatan, tenaga-tenaga dan dana-dana yang sungguh amat besar.
Adanya ancaman-ancaman imperialis dibidang militer dan ideologi mengharuskan Rakyat-Rakyat semua negeri sosialis memperkuat se-kuat-kuatnya negara proletariat sebagai alat terpenting untuk menjalankan perjuangan megganyang imperialisme dalam skala dunia dan untuk menindas sisa-sisa pengaruh klas burjuis di dalam negeri. Ini berarti bahwa tidaklah mungkin, tidaklah bertanggungjawab dan tidaklah sesuai dengan semangat internasionalisme proletr untuk sudah mempersoalkan secara praktis tentang masyarakat Komunis disatu atau dibebberapa negeri selama masih ada imperialisme di dunia. Bangkanlah, disatu atau beberapa negeri manusia berusaha mau-mauan supaya mereka sendiri bisa tidup dengan produksi materil yang ber-limpah-limpah, masing-masing bekerja menurut kemampuannya dan menerima menurut kebutuhannya—dan dalam masyarakat modern kebutuhan manusia luarbiasa banyaknya—sedangkan di bagian yang sangat besar dari negeri-negeri di dunia masih terdapat bangsa-bangsa yang dijajan dan mayoritet daripada Rakyat masih hidup tertindas serta papa dan sengsara. Seandainya yang demikian itu bisa dicapai, maka kita berta'na: di manakah pengsubordinasian peryuangan proletr yang sudah menang kepada kepentingan-kepentingan perjuangan proletr pada skala dunia, di manakah kesanggupan dan kerelaan memberikan pengorbanan nasional yang sebesar-sebesarnya daripada nasion-nasion yang sudah mencapai kemenangan atas burjuasi guna kepentingan menggunakan kapital internasional?
Adanya negara sosialis menunjukkan masih adanya, klas-klas yang bermusuhan dan masin adanya peryuangan klas. Lenin menjelaskan bahwa “Sosialisme berarti penghapusan klas-klas” dan untuk menghapuskan klas-klas maka tugas yang paling sukar bukannya menggulingkan tuantanah dan kapitalis, tapi “menghapuskan perbedaan antara buruh dengan petani, yaitu menyadikan mereka semuanya buruh”. Tugas terakhir ini memerlukan waktu yang sangat lama. Lenin kemudian menandaskan: “Bila klas-klas lenyap diktatur akan menjadi tidak perlu. Tanpa diktatur proletariat klas-klas tidak akan le-nyap“. (W. I. Lenin, Ekonomi dan Politik Selama Masa Diktatur Proletariat, penerbitan ”Pembaruan“, halaman 17-18 dan 23). Mengabaikan hal ini berarti mengabaikan ajaran Lenin yang terpenting mengenai negara.
Tidak dapat dibantah bahwa masih adanya ancaman‘ agresi, intervensi dan subversi imperialis—dan ancaman’ ini tidak akan berhenti selama masih ada imperialisme betapa pun imperialisme dan tokoh'nya di-bagus'kan oleh kaum revisionis—sangat membatasi negeri sosialis dalam membangun ekonominya, karena:
Pertama, bagian yang sangat besar dari pendapatan nasional harus‘ digunakan untuk keamanan negara, untuk membangun dan memelihara pertahanan nasional yang kuat dan paling modern. Ini sangat membatasi dana’ untuk membangun proyek‘ raksasa guna mengembangkan tenaga-tenaga produktif se-tinggi'nya yang mutlak diperlukan guna memproduksi barang‘ yang me-limpah’ banyak'nya. Juga karena pertimbangan‘ keamanan, misalnya kemungkinan akan teryadinya bombardemen oleh imperialis, keleluasaan membangun proyek’ raksasa menjadi terbatas. Apalagi kalau diingat bahwa negeri sosialis yang sudah maju harus membantu tanpa pamrih negeri‘ sosialis yang belum maju guna memodernisasi pertahanan negeri mereka, karena yang harus diselamatkan ialah seluruh kubu sosialis.
Kedua, keharusan membantu dan menyokong sepenuh'nya peryuangan untuk memenangkan revolusi‘ negeri’ lain baik demi kepentingan mengkonsolidasi kemenangan‘ revolusi negeri sosialis sendiri Maupun dalam rangka tugas harus “sanggup dan rela memberikan pengorbanan nasional sebesar'nya demi kepentingan menggulingkan kapital internasional”. Negeri’ sosialis harus membantu tanpa cadangan dan tanpa pamrih perjuangan revolusioner Rakyat‘ di negeri’ lain, termasuk perjuangan pembebasan nasional Rakyat AAA.
Ketiga, pengaruh ideologi yang datang'nya dari negeri‘ imperialis. Hal ini tentu hanya dapat diatasi apabila ada Partai Marxis-Leninis yang sejati, yang terusmenerus melakukan pendidikan revolusioner di kalangan massa Rakyat.
Kenyataan dewasa ini menundukkan bahwa karena kelengahan, kurang kewaspadaan, kurang kesedaran terhadap ancaman‘ imperialisme, dan kurang teguh berpegang pada motor revolusi dunia—yaitu perjuangan klas—karena fikiran’ revisionis modern, maka Sosialisme yang sudah dicapai bisa dibahayakan, dirongrong oleh sisa‘ kapitalisme atau oleh benih’ baru daripada kapitalisme.
Oleh karena itu, tugas pokok pembangunan ekonomi di-negeri-negeri sosialis seharusnya ialah mengkonsolidasi ekonomi sosialis lebih lanjut dan memperkuat negara proletariat. Inilah program yang obyektif. Kaum imperialis tentu tidak senang diperkuatnya negara proletariat, tetapi kaum Komunis tidak memerlukan pujian dari kaum imperialis.
Program pembangunan masyarakat Komunis dalam keadaan dunia dewasa ini, di mana masih terdapat imperialisme di dunia, adalah program yang subyektif dan program demikian melemahkan gerakan revolusioner dalam skala dunia. Apa sebabnya? Pra-syarat bagi pembangunan masyarakat Komunis adalah perdamaian, sedangkan kenyataan dunia sekarang masih menghadapi dua kemungkinan, kemungkinan damai dan kemungkinan perang. Akibat daripada program subyektif tentang pembangunan Komunisme ialah mengidelalisasi situasi internasional sekarang. Kaum imperialis dan tokoh-tokohnya yang haus perang dan agresif, yang di-manap mengadakan intervensi, subversi dan agresi di-bagusikan sc-olah mereka “lyinta damai” dan “berfikiran sehat”. Mengdealisasi kaum imperialis secara begini satu dan takterpisahkan dari program subyektif pembangunan Komunisme, karena kalau kaum imperialis tidak mau “damai” maka lenyaplah dasar untuk adanya program semacam itu. Program yang subyektif mengakibatkan penilaian-penilaian mengenai situasi dan tindakan-tindakan yang subyektif pula, sehingga wajarlah timbulnya keruwetan, demoralisasi dan kekacaunan-kekacaunan dalam barisan-barisan tertentu daripada GKI, dalam gerakan revolusioner klas buruh dan Rakyat-Rakyat sedunia.
Dengan program subyektif ini kontra-kontraksi antara Sosialisme dengan imperialisme menjadi dikaburkan dan ilusi ditimbulkan bahwa imperialisme akan mati dengan sendirinya apabila ekonominya sudah diungguli oleh negeri-negeri sosialis. Dengan demikian nasib umat manusia menjadi dipermainkan.
Program pembangunan masyarakat Komunis di sesuatu negeri sosialis tidak hanya bersifat merintangi perkembangan gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia, tetapi juga merintangi pembangunan sosialis yang baik di negeri sosialis itu, sebab program demikian juga melemahkan ideologi Rakyat pekerya di negeri sosialis ybs. Kesedaran politik Rakyat menjadi merosot dan semangat beryuangnya menjadi kendor, karena mereka dididik hidup dalam fatamorgana, kepada mereka dibayangkan yang tidak benar mengenai imperialisme dan perjuangan klas dalam skala dunia. Sudah tentu program yang subyektif itu juga sangat mengendorkan solidaritet internasional dari Rakyat pekerya di negeri sosialis yang “membangun Komunisme” itu, karena mereka sengaja atau tidak disengaja dididik dalam semangat untuk hidup memisahkan diri dari kesengitan perjuangan klas dan membangun “masyarakat Komunis” untuk sendiri. Mereka bisa menyesali perjuangan revolusioner di-negeri lain dengan alasan bisa “membahayakan” usaha mereka “membangun Komunisme”. Kelemahan ideologi dan kemerosotan kesedaran politik lebih men-jadi lagi jika ditambah dengan sikap tidak kritis terhadap pernyataan dekaden kebudayaan burjuasi dan dengan semangat egoisme negara besar.
Berhubung dengan hal ini pula perlu diperhatikan bahwa pun pembangunan sosialis di berbagai negeri sosialis sedang mengalami berbagai ujian. Pembangunan sosialis di mana-pun sampai sekarang ini masih dalam experimen. Semua negeri sosialis, balk yang sudah ada Maupun yang akan ada, menghadapi tantangan restorasi kapitalisme. Pengalaman semua negeri sosialis membuktikan tepatnya peringatan Lenin yang mengandung kewaspadaan yang tinggi bahwa “Peralihan dari kapitalisme ke Komunisme merupakan suatu zaman sejarah yang lengkap. Selama zaman ini belum berakhir, kaum penghisap dengan tiada terelakkan terus-menerus mengharapkan restorasi dan harapan ini diubah menjadi percobaan-percobaan untuk mengadakan restorasi”. (W. I. Lenin, Revolusi Proletar dan Renegat Kautsky, Selected Works, Vol. II, Part 2, hal. 61). Gejala seperti adanya tanda restorasi kapitalisme, disproporsi antara produksi dengan pasar, antara industri dengan pertanian, antara industri nuklir dengan industri biasa dan antara perkembangan ekonomi di negeri sosialis yang satu dengan negeri sosialis yang lain membutuhkan perhatian penuh agar bisa segera diatasi. Tak dapat disangkal, bahwa kekuasaan sosialis dengan alatnya yang paling ampuh, yaitu diktatur proletariat, sepenuhnya mampu untuk mengatasi gejala itu, lain halnya dengan krisis yang timbul secara periodik dalam ekonomi kapitalis yang merupakan aspek integral dari sistim kapitalis itu sendiri. Tetapi kalau sesuatu negeri sosialis sudah berbicara tentang pembangunan Komunisme, sedangkan gejala yang demikian itu ternyata belum teratasi, sikap itu tak lain adalah sikap subyektif dan berarti memperlemah kemampuan untuk lulus dalam ujian yang sedang dialami itu.
Kita ajukan hal-hal di atas bukan karena ingin mencampuri program Partai-Partai Komunis sekawan. Juga bukan karena kita tidak ingin cepat ada masyarakat Komunis di dunia, sebaliknya justru karena kita ingin melihat diwujudkannya masyarakat Komunis dalam masa yang paling cepat menurut ukuran sejarah masyarakat. Tetapi jalan yang paling dekat untuk sampai kemasyarakat demikian, bukannya dengan membuat dan melaksanakan program pembangunan Komunisme yang subyektif sekarang ini, tapi justru dengan meninggalkannya dan mengerahkan segenap tenaga untuk membangun Sosialisme yang baik dan mengganyang imperialisme dengan kokuatan maximal.
Jalan yang lebih dekat untuk sampai kemasyarakat Komunis tidak ada, kecuali samasekali menghancurkan lebih dahulu imperialisme di seluruh permukaan bumi.
Dengan mengaduyukan fikiran di atas, sekaligus kita mengoreksi fikiran yang pernah ada di kalangan kaum Komunis Indonesia tentang adanya kemungkinan terbentuknya masyarakat Komunis disatu atau dibberapa negeri selagi imperialisme masih bercokol. Kita tidak ingin memaksakan pendapat kita pada Partai Komunis lain, tetapi kita hanya minta difahami mengapa kita menganggap tidak tepat program membangun masyarakat Komunis dalam dunia yang masih ada imperialisme.
6. GERAKAN KOMUNIS INTERNASIONAL
Kawan-kawan yang tercinta!
Bebberapa bulan yang lampau Partai kita telah mengirimkan sebuah delegasi persahabatan kebeberapa negeri sosialis, yaitu ke Uni Sovyet, Kuba, Republik Demokrasi Jer- man, RRT dan Republik Rakyat Demokratis Korea dan telah mengadakan pembicaraan bersahabat dengan pimpinan Partai‘ Komunis di-negeri’ tsb. Mengenai pembicaraan itu, yang titikberatnya mengenai GKI, saya atasnama delegasi telah memberi laporan‘ kepada Politbiro dan kepada rapat kader tgl. 29 September 1963. Saya tidak akan mengulangi segala apa yang sudah saya laporkan itu.
Pada kesempatan ini saya hanya menekankan beberapa hal, terutama mengenai perlunya kita lebih teguh lagi mempertahankan sikap bebas dan samaderajat atau haksama dalam hubungan dengan Partai‘ Komunis dan Buruh negeri’ lain. Sikap ini bukan hanya telah membantu kita dalam menentukan sikap yang tepat terhadap berbagai persoalan GKI, tetapi juga telah membikin Partai kita lebih mudah difahami oleh massa Rakyat Indonesia. Dengan sikap bebas dan samaderajat ini kita telah menjadi lebih kritis terhadap persoalan‘ GKI dan telah mendorong kita untuk lebih menyatupadukan barisan Partai dengan persoalan’ kongkrit revolusi Indonesia dan dengan massa Rakyat Indonesia. Beri- kat sikap yang tepat ini pengaruh buruk daripada perten- tangan dalam GKI tidak merembes ke dalam Partai kita, dan malahan pertentangan itu telah menjadi “Universitas Marxisme-Leninisme” bagi barisan Partai kita. Kita bukan hanya tidak mlarang tapi malahan menganjurkan kepada anggota-anggota Partai kita supaya mempelajari pendirian-pendirian yang bertentangan dari Partai-Partai Komunis dan Buruh, sudah tentu mempelajarinya dengan kritis dan dengan tujuan untuk mempercepat kemenangan Revolusi Indonesia dan Revolusi Dunia.
Selain daripada itu, kita telah menyimpulkan bahwa GKI sekarang sedang mengalami seleksi, kristalisasi dan kon- solidasi, dan bahwa dalam GKI sekarang terdapat 4 tipe Partai Komunis dan Buruh, yaitu: (1) yang Marxis-Leninis; (2) yang pimpinannya dikuasai oleh kaum revisionis, tetapi di dalamnya terdapat oposisi Marxis-Leninis; (3) yang susah sepenuhnya dikuasai kaum revisionis, dan orang-orang Marxis- Leninis yang sudah dipecat telah membentuk lingkaran-lingkaran Marxis-Leninis; (4) yang sepenuhnya dikuasai kaum revi- sionis dan sudah didampingi oleh Partai Komunis yang baru.
Partai kita termasuk tipe pertama.
Partai kita tidak boleh mencampuri kehidupan intern Partai lain. Tetapi Partai kita tidak mungkin berdiam diri jika Partai-Partai Komunis di banyak negeri sudah main pecat, di banyak negeri sudah berdiri lingkaran-lingkaran Marxis-Leninis dan malahan di berbagai negeri sudah berdiri Partai-partai Marxis-Leninis yang baru, karena kita dalam pergaulan antar Partai-Partai Komunis sedunia akan berhubungan dengan macam-macam yingkaran dan Partai-Partai itu.
Kita kaum Komunis Indonesia akan terus bersikap se- obyektif mungkin terhadap diferensiasi dan seleksi yang se- dang terjadi di dalam Partai-Partai Komunis di banyak negeri de- wasa ini, dan dalam hal ini pegangan kita ialah Marxisme-Leninisme, internasionalisme proletar dan prinsip-prinsip revolusl- oner dari Deklarasi Moskow 1957 dan Pernyataan Moskow 1960.
Partai kita akan bersikap seobyektif mungkin dan sesa- bar mungkin dalam menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat yang timbul dalam GKI dan dalam mengurus hubungan bilateral kita dengan Partai-Partai sekawan. Bersamaan dengan itu kita akan menjelaskan se-jelas'nya pendirian-pendirian kita.
Kebenaran sikap bebas dan samaderajat kita sudah ter- uji dalam praktek. Tetapi, Walaupun demikian kita harus terusmenerus me-negas'kan sikap ini, baik di dalam Partai dan kepada massa Rakyat di dalam negeri Maupun kepada Partai-Partai dan klas buruh sedunia. Di dalam Partai harus di-tegas'kan untuk membangkitkan dayakreatif massa anggota Partai dalam mentrapkan kebenaran universal Marxisme-Leninisme pada praktek kongkrit revolusi Indonesia. Ke-pada massa Rakyat di luar Partai perlu di-tegas'kan supaya jelas bagi mereka posisi kita dalam soal GKI dan bahwa persoalan GKI adalah juga soal massa Rakyat Indonesia, khususnya bahwa melawan revisionisme bukan hanya soal kaum Komunis, tetapi soal semua patriot yang beryuang melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Kepada Partai-Partai sekawan dan klas buruh sedunia harus kita jelaskan sikap ini guna memudahkan salimgengerti dan kalau ada perbedaan pendapat, tidaklah disebabkan oleh ka-rona salahfaham, tetapi memang berdasar perbedaan pen-dapat yang sungguh-sungguh.
Kaum reaksioner dalam negeri, muh'anasir-anasir DI sampai kaum kapitalis birokrat, dalam percobaan ny “menyangkal” sikap bebas PKI suka mengatakan bahwa “PKI bersikap tidak kritis terhadap Moskow”, “PKI mengekor Peking”, tetapi bersamaan dengan itu mereka juga berkata bahwa PKI sudah menjadi “nasionalis”, dsb. Mereka menjadi kacau sendiri!
Tetapi sikap bebas PKI berbicara sendiri, makin lama ia makin dibenarkan oleh massa Komunis, dan oleh kaum revolutioner non-Komunis pun makin diharga! dan dihormati.
Setelah kaum reaksioner, seperti terbangun dari tidurnya sewaktu matahari sudah tinggi, menyedari bahwa PKI memang bersikap bebas dan kritis dalam mengambil pengalaman-pengalaman Partai-Partai Komunis dan Buruh negeri-negeri lain, dan lebih¹ setelah me-reka menyedari bahwa sikap bebas dan kritis PKI itu meng-untungkan Revolusi dan Rakyat dan sebaliknya merugikan kontra-revolusi dan musuh-musuh Rakyat lainnya, maka setiap per-bedaan sikap antara PKI dan PKUS (misalnya dalam hal mengritik atau tidak mengritik revisionisme Yugoslavia, membantu atau tidak memtantu pemerintah Nehru, menyokong atau tidak menyokong perjanjian trinegara tentang la-rangan terbatas percobaan senjata-senjata nuklir) digunakan oleh musuh-musuh Rakyat dengan tujuan supaya PKI bersikap yang sebaliknya, yaitu supaya PKI bersikap tidak kritis dan tidak bebas. Lihatlah—sekarang musuh-musuh Rakyat itu yang meng-hasut-hasut PKI supaya mengekor.............! Sekali lagi, mereka menjadi bingung sendiri. Demikian ampuhnya sikap bebas PKI.
Tidak. PKI tidak akan melepaskan sikap bebasnya, sekarang tidak dan kapan pun tidak. Seperti sudah ber-kali kita terangkan dan buktikan dengan kenyataan, sikap ini bukan hanya menguntungkan gerakan kiri di Indonesia, tetapi juga menguntungkan seluruh nasion yang kini sedang dalam perjuangan hidupmati melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme.
Di antara kaum Komunis diluarnegeri pun ada yang tidak begitu gembira dengan sikap bebas PKI. Bahkan—balklah tidak saya sembunyikan—ada kawan-kawan diluarnegeri yang menuduh PKI “nasionalistis”. Mereka menganggap semboyan “meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme” itu sebagai semboyan yang bertentangan dengan Marxisme-Leninisme. Saya tidak suka kepada cara-cara otoriter yang sedikit-sedikit mengatakan “kalau Lenin masih hidup tentu Lenin membenarkan kami”, dsb., tetapi karena yang kami Indonesiakan itu Marxisme-Leninisme dan bukan yang lain, dan karena praktek membuktikan bahwa hal ini hal yang baik dan berguna, kami pun bertonya-bertonya Seandainya Marx, Engels dan Lenin masih hidup, apakah mereka bersedih atau berbahagia jika Partai-Partai Komunis mentrapkan-mentrapkan ajaran-ajaran mereka secara setia dan kreatif? Untuk diapakan itu Marxisme-Leninisme jika ia di Indonesia tidak di-Indonesiakan, di India tidak di-Indiakan, di Australia tidak di-Australiakan? Lalu apa yang dimaksudkan Lenin bahwa ajaran Marxisme harus “diteryemahkan”, kalau bukan justru pemaduan kebenaran-kebenaran umumnya dengan praktek-praktek kongkrit revolusi sesuatu negeri? Dengan meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme kaum Komunis Indonesia sekaligus melawan revisionisme, baik modern Maupun klasik, dan melawan dogmatisme, baik modern Maupun klasik.
Kawan-Kawan diluarnegeri yang tidak begitu gembira dengan sikap bebas PKI sering mengatakan bahwa “PKI dalam soal-soal dalamnegeri luwes, tetapi dalam soal-soal internasional ketat”. Kawan-Kawan itu mengacaukan antara dua macam kontradiksi. Terhadap siapa PKI bersikap luwes dan terhadap siapa PKI bersikap ketat? PKI bersikap luwes terhadap sekutu-sekutu PKI dalam front nasional—apakah ini salah? PKI bersikap ketat terhadap musuh-musuh Rakyat yaitu kaum imperialis Amerika Serikat dan kaum imperialis lainnya—apakah ini salah? Ya, PKI-juga bersikap ketat terhadap musuh-musuh Rakyat didalamnegeri, seperti terhadap tuan Hatta, Sukiman, Syahriar, Natsir, Kartosuwiryo dll.—apakah ini juga salah? Ataukah kawan-kawan itu barangkali menghendaki supaya PKI “berbalik-kanan-diyalan”, bersikap ketat terhadap sekutu-sekutu dalam front nasional, dan bersikap luwea terhadap musuh-musuh Rakyat di dalam negeri dan terhadap kaum imperialis? Kalau memang ini yang dikehendaki, maka PKI, maaf saja, tidak bersedia mengikut nasehat demikian, karena nasehat itu akan menjerumuskan revolusi Indonesia, karena nasehat itu menganjurkan aventurisme dalam front persatuan nasional dan menganjurkan kapitulasi terhadap musuh-musuh Rakyat di dalam negeri dan terhadap imperialisme!
Dalam menghadapi soal-soal dalam GKI, PKI dari semula sampai sekarang dan seterusnya bersikap konsekwenn. PKY berpegangteguh pada Marxisme-Leninisme, pada internasionalisme proletar, pada prinsip-prinsip revolusioner Deklarasi Moskow 1957 dan Pernyataan Moskow 1960.
Dari polemik GKI belakangan ini dapat diketahui, bahwa diskusi di antara Partai-Partai Komunis dan Buruh tidak hanya terjadi di Moskow di tahun 1957 dan 1960, tetapi juga di tempat-tempat lain, misalnya di Bukares, juga di tahun 1960. Orang dapat meneliti sikap-sikap yang diambil utusan-utusan PKI dalam pertemuan-pertemuan itu, dan tidak dalam satu hal pun PKI bersikap tidak konsekwenn. PKI konsekwenn dalam penilaianannya terhadap Stalin, yaitu bahwa Walaupun Stalin telah melakukan kesalahan-kesalahan tertentu, tetapi ia tetap seorang Marxis-Le-ninis yang besar, yang jasanya terhadap pembangunan Sosialisme di Uni Sovyet, penglikwidasion trotskisme, peng-hancuran fasisme dalam Perang Dunia II, pembelaan dan pengembangan teori Marxisme-Leninisme secara krealif, dan terhadap gerakan klas buruh internasional umumnya tidak ternilai besarnya. PKI konsekwenn dalam sikapnya terhadap Albania, yaitu menganggap Albania sebagai negara sosialis dan Partai Buruh Albania sebagai Partai Marxis-Leninis dan maka itu setiap pengecaman, apalagi yang terbuka, terhadap Albania dan PBA adalah tidak tepat. PKI juga konsekwenn dalam sikapnya terhadap revisionisme Yugoslavia, yaitu bahwa seperti dikatakan Pernyataan Moskow 1960 Liga Komunis Yugoslavia itu adalah pengkhiarat terhadap Marxisme-Leninisme yang melakukan kegiatan-kegiatan subversif terhadap kubu sosialis dan GKI dan maka itu perlawanan terhadapnya merupakan tugas wajib bagi setiap Partai Marxis-Leninis. Dan dalam semua hal lainnya PKI bersikap konsekwenn.
Baru-Baru ini kita merayakan ulangtahun ke-III dimaklum-kannya Pernyataan Moskow, tepatnya pada hari 11 Desember yang lalu. Kita hanya bisa bergembira bahwa praktek revolusioner selama 3 tahun ini, di Asia, Afrika, Amerika Latin dan dipenjuru dunia yang mana pun, membuktikan bahwa Pernyataan itu benar-benar tahan uji, tepat dan mengilhami. Jika kita benar-benar berpegangteguh pada Pernyataan itu, berpegangteguh pada isi dan semangatnya yang revolusioner, berpegangteguh dalam kata-kata dan perbuatan, dan tidak secara liberal dan anarkis merevisi sendiri-sendiri bagian ini atau bagian itu daripadanya, maka persatuan Marxis-Leninis dalam GKI bisa ditegakkan dan GKI sebagai gerakan yang paling perkasa di zaman kita ini bisa dipimpin maju merebut satu kemenangan demi satu kemenangan.
Keadaan GKI sekarang tidak gelap dan kapan pun tidak akan gelap. Dewasa ini, Walaupun ada perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dalam GKI, tapi di semua negeri bersinar cahaya Marxisme-Leninisme. Ada cahaya yang besar dan ada cahaya yang kecil; gelap se-mata-mata tidak ada. Biarpun betapa kecilnya cahaya Marxisme-Leninisme disesuati negeri, ia adalah satu-satunya cahaya bagi seluruh Rakyat pekerya di negeri itu. Oleh karena itulah tidak ada alasan samasekali untuk pesimis. Alasan penuh bagi kita untuk mengibarkan tinggi-tinggi panji optimisme revolusioner dalam GKI sekarang ini.
Bagaimana tentang kemungkinan-kemungkinan pertemuan internasional Partai-Partai Komunis dan Buruh? Tentang ini kita tetap berpendapat bahwa pada satu waktu yang tepat setelah melalui persiapan yang cukup, pertemuan demikian pasti akan dilangsungkan.
Dalam keadaan di mana pada dewasa ini perundingan-perundingan bilateral belum cukup dilakukan untuk mencapai penielesalan mengenai perbedaan-perbedaan pendapat antara sementara Partai-Partai Komunis, misalnya antara PKUS dan PKT, maka kita berpendapat perundingan-perundingan bilateral harus diteruskan sehelim melangsungkan pertemuan internasional semua Partai.
Kita ingin supaya pertemuan internasional Partai-Partai Komunis dan Buruh memperkuat gerakan Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, dan memperkuat serta memperkembangkan prinsip-prinsip revolusioner dari Deklarasi dan Pernyataan Moskow. Kita tidak ingin pertemuan internasional memperlemah semuanya ini.
Sambil menunggu tibanya waktu yang baik untuk mengadakan pertemuan internasional Partai-Partai Komunis dan Buruh, Partai Komunis Indonesia akan terus mengganyang revisi-onisme dengan mengibarkan tinggi-tinggi 6 panji, yaitu: (1) panji Marxisme-Leninisme melawan revisionisme; (2) panji revolusi melawan kapitulasi; (3) panji perdamaian kongkrit melawan perdamaian abstrak; (4) panji interna-sionalisme proletar melawan egoisme negara besar; (5) panji persatuan melawan perpecahan; dan (6) panji optimisme revolusioner melawan pesimisme.
Mengibarkan 6 panji ini berarti: (1) kita setia dalam kata‘ dan perbuatan pada Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, pada prinsip-prinsip revolusioner Deklarasi dan Pernyataan; (2) kita ber-sungguh-sungguh terhadap tugas me-nyelesaikan revolusi dunia sampai ke-akar-akarnya menuju masyarakat dunia tanpa klas; (3) kita menggabungkan semua kekuatan progresif sebagai inti daripada satu gerakan perdamaian yang perkasa menentang ’kaum imperialis, terutama kaum imperialis AS yang merupakan kekuatan pokok dari agresi dan perang; (4) kita menoiak tongkat komando dari negara atau Partai mana saja dan mempertahankan prinsip bebas dan samaderajat dalam GKI; (5) kita memelihara persatuan dalam GKI dengan mengutamakan persatuan riil yang berprinsip Marxisme-Leninisme; dan (6) kita melawan demoralisasi dalam GKI sebagai akibat perpecahan yang ditimbulkan oleh revisionisme.
Dengan mengibarkan 6 panji ini kita maju terus meng-ganyang imperialisme dan revisionisme serta memperkuat GKI.
III
KONSOLIDASI PENGINTEGRASIAN PKI YANG MARXIS-LENINIS DENGAN KAUM TANI!
Kawan-kawan yang tercinta!
Dalam bulan April tahun ini kita telah mengakhiri Plan 3 Tahun ke-II dengan sukses. Apakah hasil terpenting yang dicapai oleh Partai kita dengan berakhirnya Plan 3 Tahun ke-II, artinya sesudah kita dua kali menyelesaikan Plan 3 Tahun?
Setelah menyelesaikan dua kali Plan 3 Tahun tentang pembangunan ideologi dan organisasi Partai, dua hal yang terpenting yang sudah kita capai, yaitu:
(1) Partai kita telah menjadi Partai Marxis-Leninis yang banyak anggotanya, yaitu lebih dari duasetengah juta, yang pada umumnya terdidik dalam pandangan, pendirian, metode dan semangat Marxisme-Leninisme, sudah tersebar di seluruh negeri dan terkonsolidasi dibidang politik, organisasi dan ideologi. Dengan perkataan lain kita telah berhasil menciptakan Partai massa dan Partai kader sekaligus, seperti yang kita angan'kan dan kita perjuangkan sejak lebinkurang 10 tahun yang lalu.
(2) Di bawah pimpinan kaum Komunis Indonesia telah terorganisasi lebih dari 7 juta kaum tani dewasa. BTI sekarang sudah beranggota 7.099.100 atau lebih dari 25% tanidewasa. Dari lebihkurang 42.575 desa pertanian (diyumlah desa semuanya 47.305) sudah terbentuk 21.263 ranting ormas tanl revolusioner (hampir 50%), dari 2.587 Kecamatan pertanian (seluruh Kecamatan 2.874) sudah terbentuk 2.186 Anak Cabang (lebih dari 84%), dan dari 259 Daswati II telah terbentuk 262 Cabang yang meliputi 251 Daswati II (hampir 97%): karena berbagai pertimbangan, ada Daswati II di mana dibentuk lebih dari satu Cabang.
Kesimpulan‘ apakah yang dapat kita tarik dari dua fakta ini? Pertama, Partai kita yang Marxis-Leninis pada pokoknyia telah mengintegrasikan diri dengan kaum tani, dan ini berarti pada pokoknyia telah tercipta dan makin terkonsolidasi persekutuan klas buruh (yang diwakili oleh kaum Komunis) dengan kaum tani.
Kedua, dengan makin terkonsolidasinya persekutuan klas buruh dan kaum tani, front persatuan nasional di negeri kita mendapat landasan yang kuat dan militant, dan karenanya ber-angsur‘ menjadi makin takterkalahkan.
Ketiga, dengan makin luasnya jumlah kaum tani dipimpin kaum Komunis maka bertambah besarlah jaminan untuk mematahkan tiap usaha pecahbelah dari kaum soska, sayap kanan kaum agama, naska (nasionalis kanan) dan kaum reaksioner lainnya yang mempertentangkan suku dengan suku, daerah dengan pusat (separatisme) dan kekuatan‘ dalam front nasional.
Juga dapat disimpulkan, bahwa pada pokoknya PKI telah berhasil meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme, yang pada hakekatnya berarti mengintegrasikan PKI yang Marxie-Leninis dengan kaum tani.
Pada tempatnialah jika Sidang Pleno ke-II CC kita ini menyampaikan penghargaan dan salut yang tinggi kepada segenap anggota dan kader Partai kita yang dengan semangat keberanian dan ketekunan yang besar telah bekerja keras untuk mencapai hasil‘ yang gemilang ini. Khusus keada kader’ yang bekerja di kalangan kaum tani kita menyampaikan salut yang se-tinggi'nya. Hati dan fikiran CC Partai kita serta segenap anggota dan kader Partai yang bekerja di-kota‘ akan senantiasa bersama mereka.
Sudah tentu soal meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme bukan hanya soal mengintegrasikan Partai kita dengan kaum tani, tetapi lebih luas lagi, yaitu mengintegrasikan Partai dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan praktek kongkrit revolusi negeri kita, dengan kaum buruh, pemuda intelligensia, wanita, sastrawan dan seniman, penduduk miskin kota, dll.; dengan persoalan‘ politik, ekonomi, kebudayaan, ilmu, dsb. Tetapi kunci daripada semuanya ialah mengintegrasikan Partai kita yang Marxis-Leninis secara total dengan kaum tani, karena revolusi kita pada taraf sekarang pada hakekatnya ialah revolusi agraria, revolusi kaum tani. Oleh karena itulah kita katakan, bahwa hakekatnya dan praktek utama se-hari'nya daripada meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme ialah mengintegrasikan Partai kita dengan kaum tani.
Kita akan beromongkosong tentang pemecahan masalah sandangpangan yang syarat mutlaknya ialah pelaksanaan program agraria yang radikal, kalau kita tidak mengintegra-sikan Partai kita secara total dengan kaum tani. Jika kita tidak melakukan pengintegrasian tsb, kita juga beromongkosong tentang menyelesaikan revolusi nasional dan demokratis, tentang mengubah sistim masyarakat melalui jalan mengganyang penghisap besar desa dan kota, tentang mengindustrialisasi dan memodernisasi Indonesia, dan lebih-lebih lag‘ tentang Sosialisme.
Tetapi hasil‘ yang sudah kita capai seperti diterangkan di atas adalah bukti’ bahwa kita tidak beromongkosong, anggota‘ dan kader’ serta segenap barisan Partai kita bersungguh‘. Kita ingin orang’ revolusioner di luar barisan Komunis juga ber-sungguh‘, dan kita mendorong mereka supaya menjadi demikian.
Tetapi apa mau dikata kalau banyak di antara mereka hanya mau beromongkosong tentang menyelesaikan kesulitan zandangpangan, menyelesaikan revolusi, melawan penghisap‘ besar, mengindustrialisasi dan memodernisasi negeri, tentang Sosialisme dsb. Kita tidak bisa melarang mereka beromongkosong. Tapi yang penting ialah, bahwa kita tidak beromongkosong, bahwa kita kaum Komunis sungguh’ mengamalkan segala yang baik yang kita katakan. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi pengemban sejati Amanat Panderitaan Rakyat, pengabdi sejati dan juruselamat sejati daripada Rakyat. Menjadi juruselamat Rakyat bukan monopoli Komunis, ini terang. Tapi juga terang, bahwa kalau mau menjadi juruselamat Rakyat haruslah sungguh‘ dan kalau sungguh’ tidak akan bisa lain kecual sampai kepada kesimpulan bahwa langkah pertama ke arah ini ialah mengutamakan perduyuangan revolusioner kaum tani, melaksanakan program agraria yang radikal agar zemboyan “tanah hanya untuk kaum tani yang menggarap tanah” dapat dilaksanakan.
Kita belum puas dan tidak mungkin puas dengan apa yang sudah kita capai dengan pekerjaan kita di kalangan kaum tani. Kita harus memperhebat pekerjaan ideologi, politik dan organisasi agar Partai kita lebih dalam lagi berakar di desa, agar persatuan Partai kita dengan kaum tani seperti kuku dengan daging. Untuk ini kader‘ PKI harus “ke-ranjingan gerakan tani”.
Teori revolusi yang waktu‘ belakangan ini kita rumuskan dengan sangat sederhana, yaitu: 1, 1, 2, 3, 4, atau do, do, re, mi, fa, menekankan tentang mahapentingnya pekerjaan di kalangan kaum tani. 1 (yang pertama) berarti satu pelopor, yaitu klas buruh; 1 (yang kedua) berarti satu ke-kuatan pokok, yaitu kaum tani; 2 berarti dua kekuatan yang menjadi basis front persatuan nasional, yaitu kaum buruh dan kaum tani yang bersekutu erat-erat; 3 berarti tiga kekuatan pendorong revolusi, yaitu kaum buruh, kaum tani dan burduiasi kecil, jadi semua Rakyat pekerya; dan 4 berarti empat kekuatan front nasional, yaitu kaum buruh, kaum tani, burduiasi kecil dan burduiasi nasional. Jadi, kaum tani merupakan kekuatan pokok, salahsatu daripada dua kekuatan yang menjadi basis front persatuan nasional, salahsatu daripada tiga kekuatan pendorong revolusi, dan salahsatu dari empat kekuatan front persatuan nasional. Begitu pentingnya kedudukan kaum tani dalam revolusi kita, sehingga tidak mungkin revolusi kita menang tanpa mengorganisasi dan memobilisasi ber-puluh* juta kaum tani. Massa kaum tani tidak hanya merupakan kekuatan yang menentukan dalam melaksanakan tahap pertama, tahap nasional dan demokratis dari revolusi kita, tetapi juga untuk tahap kedua, tahap sosialis, karena kaum tani adalah massa Rakyat yang sangat luas yang berkepentingan akan dibangunnya masyarakat sosialis, dan karena kaum tani akan menjadi sokoguru daripada basis perekonomian sosialis kita nanti. Jadi, bekerja di kalangan kaum tani sekarang tidak hanya untuk menyelaskan revolusi nasional-demokratis, tetapi juga bekerja untuk kepentingan hari depan revolusi. Semakin baik pekerjaan kita sekarang di kalangan kaum tani, maka akan semakin lebih tepat selesainya revolusi nasional-demokratis dan akan lebih baiklah Sosialisme yang kita bangun di kemudian hari.
Sebagian dari anggota* dan kader* Partai kita bekerja dan bertempattinggal di-kota*. Banyak di antara mereka yang masih berfikir bahwa soal pekerjaan di kalangan kaum tani bukan soal mereka. Dengan berfikiran demikian sebenarnya mereka melepaskan diri dari kegiatan pokok Partai kita. Tanpa menyatukan diri dengan kegiatan pokok Partai kita adalah tidak mungkin menjadi seorang anggota Partai yang baik.
Apakah dengan demikian berarti Partai menuntut supaya kader* kota kita semua boyongan desa dan menterlantarkan pekerjaan di kalangan kaum buruh, inteligensia dan golongan* lainnya dari penduduk kota? Sudah tentu tidak demikian, kita tidak mungkin menterlantarkan pekerjaan di kota, apalagi pekerjaan di kalangan kaum buruh. Partai kita adalah Partai klas buruh, oleh karena itu tidak mungkin menterlantarkan pekerjaan di kalangan klasnya sendiri.
Yang kita harapkan dari anggota dan kader Partai di kota ialah supaya mereka menyatukan diri dengan kegiatan pokok Partai, kegiatan di kalangan kaum tani, supaya menyedari se-dalam'nya tentang peranan menentukan dari kaum tani dalam memenangkan revolusi Indonesia. Untuk ini pertama mereka harus mengintegrasikan fikirannya dengan gerakan revolusioner kaum tani, dan untuk ini mutlak mereka harus menerima tanpa cadangan program agraria Partai, memahami program ini se-baik'nya, memahami seluk-beluk hubungan klas di desa, memahami perjuangan kaum tani dan secara kreatif serta wajar menghubungkan kegiatan mereka di kota dengan perjuangan kaum tani. Mereka harus menyatukan fikirannya dengan fikiran penduduk desa yang paling miskin, yaitu buruh tani dan tanimiskin. Fikiran mereka harus “fikiran revolusi tani”, fikiran bahwa kunci revolusi kita adalah desa, bahwa pelaksanaan secara konsekwenn dariipada UUPBH dan UUPA merupakan syarai yang menguntungkan untuk selanyutnya melaksanakan program agraria yang radikal.
Masih banyak kader kota kita yang acuh-tak-acuh terhadap persoalan yang dihadapi kaum tani, yang tidak berusaha untuk mengetahui isi UUPBH dan UUPA. Padahal kedua undang itu adalah hasil perjuangan sengit kaum tani di bawah pimpinan Partai. Mereka tidak ambil perduli terhadap perjuangan dan kesultana‘ kaum tani dalam merealisasi kedua undang tsb. Jika dibiarkan begini, banyak kader kota kita hanya akan menjadi orang revolusioner amatir, orang-orang yang tidak mampu ambilbagian dalam revolusi secara sungguh. Mempunyai kader kota yang demikian tentulah bukan maksud kita. Oih karena itulah Partai kita di masa datang harus menyadikan mereka orang revolusioner sejati lewat gerakan turun ke bawah, lewat sekolah’ Partai, seminar‘ dan diskusi’ agar mereka mengintegrasikan fikirannya dengan perjuangan kaum tani, menghubungkan kegiatannya di kota secara kreatif dan wajar dengan perjuangan kaum tani dan membantu perjuangan itu. Dalam hal membantu gerakan tani adalah sangat penting peranan kader serikatburuh revolusioner yang bekerja disektor-sektor transport dan komunikasi, agraria dan lain'nya yang banyak hubungannya dengan desa.
Kader‘ kota kita pada umumnyia adalah kader’ baik, mereka mudah mengerti halikhwal, mereka adalah pekerja‘ sosial dan politik yang cekatan, cinta dan percaya pada
Partai, dan umumnya tanu mendasarkan kepentingan Partai dan revolusi.
Kader-kader kita menyedari bahwa semua revolusi nasional-demokratis di Asia menang dan dapat disusul dengan pembangunan sosialis yang ceptat adalah terutama berkat adanya pengintegrasian Partai-Partai Marxis-Leninis dengan kaum tani di-negeri-negeri yang bersangkutan. Revolusi Kuba menang juga karena itu. Ya, pengalaman kita sendiri pun menunjukkan hal yang sama tentang pentingnya peranan kaum tani. Kita berhasil membasmi pemberontakan “PRRI-Permesta” karena Angkatan Bersenjata Republik mendapat bantuan dari massa kaum tani. Gerombolan bersenjata kontra-revolusioner DI-TII dan RMS baru dapat ditumpas setelah kaum tani bangkit menumpasnya bersama dengan Angkatan Bersenjata Republik. Di mana kaum tani belum bangkit, misalnya di Sulawesi Selatan, kaum pemberontak kontra-revolusioner belum bisa dibasmi. Selama kaum tani belum bangkit di Sulawesi Selatan tidak mungkin ada harapan gerombolan kontra-revolusioner Kahar Muzakar dapat dibasmi sampai ke-akarnya. Kekuatan militer saja tidak mungkin membasminya.
Pengalaman Revolusi Agustus 1945 juga menunjukkan hal yang sama mengenai maha pentingnya peranan kaum tani. Walaupun tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus sampai sekarang belum dirampungkan, tetapi revolusi ini telah mencapai hasil-hasil penting tertentu dan telah memberi pelajaran yang sangat penting tentang mutlaknya peranan kaum tani dalam revolusi. Revolusi Agustus 1945 mengajarikan bahwa: (1) kaum tani atau desa merupakan sumber bahan makanan, sedangkan tanpa makanan revolusi tidak bisa berlangsung; (2) kaum tani atau desa merupakan sumber prajurit, sedangkan tanpa prajurit revolusioner revolusi tidak bisa berlangsung; (3) kaum tani atau desa merupakan tempat revolusi mundur jika terpukul di-kota-kota, sedangkan tanpo ada tempat mundur kekuatan revolusioner dapat dihancurkan di-kota-kota dan (4) kaum tani atau desa merupakan pangkalan untuk menyerang musuh dan merebut kembali kota‘ yang tadinya terpaksa ditinggalkan, sedangkan tanpo pangkalan untuk menyerang berupa desa-desa tidak mungkin kota’ direbut kembali. Pendeknya, soal kaum tani atau desa adalah soal menang atau kalahnya revolusi, dan bahkan soal hidup matinya kader-kader revolusioner. Juga keselamatan kader-kader revolusioner di-kota-kota dan pemecahan masalah nasional yang penting-penting banyak tergantung pada pekerjaan revolusioner di-desa-desa di kalangan kaum tani
Sekarang seluruh Partai dengan semangat banteng yang ber-kobar*, dengan tekad bulat “maju terus, pantang muncur”, sedang melaksanakan “Gerakan Awalan” dari Plan 4 Tahun tentang Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi. Sudah tentu semua jatah dari Plan yang bersegi banyak itu harus kita laksanakan. Tetapi sekejap pun tidak boleh kita lupakan bahwa pelaksanaan Plan ini harus dihubungkan secara erat-erat dengan garis mengkonsolidasi pengintegrasian Partai kita dengan kaum tani. Apa artinya ini? Artinya ialah, bahwa pekerjaan kebudayaan kita harus terutama ditujukan untuk meningkatkan taraf kebudayaan kaum tani dan membangkitkan semangat serta kegembiraan berjuang kaum tani. Artinya ialah, bahwa pekerjaan ideologi kita harus terutama ditujukan untuk mengintegrasikan lebih lanjut fikiran semua kader Partai dengan kaum tani dan untuk memperkuat ideologi proletar dari kader* yang bekerja di kalangan kaum tani. Artinya ialah bahwa pekerjaan organisasi kita harus terutama ditujukan untuk lebih memperluas dan lebih mengkonsolidasi organisasi Partai dan organisasi massa revolusioner tani kita, supaya terjamin kebulatan fikiran di dalamnya, disiplinnya dan dayajuangnya. Pekerjaan Partai di kalangan pemuda harus terutama ditujukan kepada pemuda tani, di kalangan wanita harus terutama di kalangan wanita tani, di kalangan seniman harus terutama di kalangan seniman* desa, di kalangan guru harus terutama guru* desa, di kalangan anak* harus terutama anak* kaum tani, dst.
Tuntutan politik kita yang terpenting sekarang ialah Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom. Sebagaimana sudah pernah kita simpulkan, soal ini bukanlah soal kebenaran ilmiah, soal obyektivitet, soal keadilan menurut azas demokrasi dan patriotisme, karena tuntutan ini jelas ilmiah, obyektif, demokratis dan patriotik. Soalinya ialah, bahwa klas* lain tidak mau secara sukarela memberi kekuasaan kepada proletariat, Walaupun hanya sebagian.
Dengan demikian kelirulah sementara kawan* kita yang hanya pandai me-nyalah*kan Presiden Sukarno berhubung dengan belum terbentuknya Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom. Mereka katakan, bahwa Presiden Sukarno hanya omong saja karena bultinya sampai sekarang belum terbentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom. Dilihat dari segi perjuangan klas, dan kita tidak bisa lain kecual melihatnya dari segi ini, berbicara saja Presiden Sukarno tentang keharusan adanya Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom, artinya tentang ikutsertanya kaum Komunis dalam kekuasaan negara, adalah sudah baik. Ini lebih baik daripada kalau Presiden tidak berbicara tentang itu, dan jauh lebih baik lagi jika dibandingkan dengan kaum nasaka (nasionalis kanan), sayap kanan kaum agama, bekas-bekas Masyumi-PSI yang bersembunyi dalam SOKSI dan orang³ reaksioner lainnya yang menentangnya. Kawan⁴ kita yang hanya pandai menyalakan nyalahkan Presiden Sukarno berhubung dengan belum terbentuknya Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom, membuat tiga kesalahan yaitu: (1) menganggap soal kekuasaan negara sebagai sesuatu yang ajaib dan bersifat filantropis; (2) tidak konsekwen berdiri di atas kaki sendiri; dan (3) salah sasaran, karena dengan hanya pandai me-nyalah'kan Presiden Sukarno, kaum reaksioner dan kekuatan³ gelap yang menjadi penghalang pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom menjadi kurang ditelanjangi dan diganyang.
Sudah tentu Presiden Sukarno bisa berbuat banyak dalam soal pembentukan Kabinet. Oleh karena itu Partai kita se-nantiasa mengadayak Rakyat untuk terus-menerus mengaju-kan tuntutan yang benar, adil dan perlu ini kepada Presiden Sukarno. Tetapi, kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang ajaib atau sesuatu yang bersifat filantropis dalam soal ke-kuasaan negara. Seperti sudah sering dikatakan, soal ke-kuasaan adalah soal perimbangan kekuatan dan tidak ada satu klas yang secara sukarela mau membagi kekuasaan dengan klas lain. Oleh karena itulah, untuk pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom kita harus tidak henti-hentinya dengan semangat ber-kobar³ dan kerja te-kuin melaksanakan garis: mengkonsolidasi kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan terus memen-cilkan kekuatan kepala batu. Dengan perkataan lain, be-kerja lebih baik lagi di kalangan massa Rakyat, terutama bekerja dari bawah, baik di kalangan Rakyat yang sudah terorganisasi Maupun yang belum. Inilah syaratnuya untuk mendobrak tembok yang memisahkan proletariat dari ke-kuasaan negara. Kunci daripada pelaksanaan garis ini, se-perti sudah sering kita katakan, ialah pekerjaan kaum Komunis di kalangan massa, terutama di kalangan kaum tani.
Gerakan tani revolusioner kita sekarang menghadapi 4 tugas utama, yaitu: (1) melaksanakan gerakan “6 baik”; (2) meluaskan dan menyempurnakan penelitian di desa; (3) mengintensifikan kegiatan menyadikan BTI sebagai ormas buruh tani dan tanimiskin dengan tidak menolak masuknya tanisedang serta mengkoperasikan tanisedang; dan (4) mengintensifikan dan meluaskan pendidikan Marxisme-Leninisme di kalangan kader yang bekeryda di kalangan kaum tani. Poros dari 4 tugas ini ialah gerakan “6 baik”, yaitu gerakan (1) menurunkan sewa, terutama dalam rangka pelaksanaan UUPBH; (2) menurunkan bunga pinjam-an; (3) menaikkan upah buruh-tani; (4) menaikkan produksi pertanian, termasuk gerakan 1001 dan mengganyang tikus; (5) menaikkan tingkat kebudayaan kaum tani; dan (6) menaikkan tingkat kesedaran politik kaum tani. Pelaksanaan 4 tugas ini mendapat kemajuan-kemajuan penting pada waktu-waktu belakangan ini.
Macetnya pelaksanaan UUPBH dan UUPA telah mendorong kaum tani untuk melaksanakan aksi-aksi sefihak agar UUPBH dan UUPA benar-benar terlaksana. Aksi-Aksi sefihak makin hari makin bertambah luas, oleh karena itu kegiatan gerakan tani di hari-hari yad. akan ditirii oleh aksi-aksi sefihak. Aksi-Aksi yang tak dapat dihindarkan ini tentu akan mendapat rintangan-rintangan.
Berdasarkan pengalaman kaum tani sendiri aksi sefihak hanya akan sukses jika dipenuhi paling kurang 3 syarat: (1) organisasi yang kompak, terutama kebulatan pendirian dan tekad pimpinan aksi di Kabupaten, Kecamatan dan Desa; dan kongkritnya atau hidupnya organisasi revolusioner tani di-kelompok-kelompok tempat kerya (KTK); (2) pendidikan berdiyalan, yaitu KK (Kursus Kilat) yang khusus mengenai soal-soal praktis tentang aksi untuk kader-kader desa; dan (3) aksi berdiyalan secara terpimpin dengan mencegah “aksi pimpinan” tanpa massa dan “aksi massa” tanpa pimpinan serta konsekwensi bersandar pada kekuatan buruh-tani dan tanumiskin.
Aksi-Aksi sefihak adalah sangat adil dan sangat sah, karena tujuannya tidak lain daripada untuk melaksanakan Undang-Undang negara (UUPBH dan UUPA) dengan sungguh-sungguh. Aksi-Aksi sefihak menguntungkan baik Pemerintah Maupun penduduk desa yang sangat luas, dan karena itu aksi-aksi ini harus mampu menarik simpati dan sokongan dari lebih dari 90% penduduk desa dan dari pejabat-pejabat negara yang tidak reaksioner. Juga penduduk kota yang berkepentingan akan peningkatan produksi pertanian harus memberikan dukungan sepenuhnya kepada aksi-aksi sefihak. Hanya dengan aksi-aksi sefihak sabotase‘ yang keterleluan selama ini dalam pelaksanaan UUPBH dan UUPA dapat diakhiri dan Undang-Undang tsb. dapat dilaksanakan.
Jika di muka telah dikatakan bahwa pelaksanaan 4 tugas mendapat kemajuan¹ penting pada waktu-waktu belakangan ini, tidaklah berarti bahwa sudah tidak ada kekurangan penting yang harus diperbaiki. Kenyataan menundukkan bahwa belum semua aksi kaum tani berputar di sekitar poros “6 baik”, terutama aksi-aksi tani yang langsung menghadapi tuantanan seperti menurunkan sewa, menurunkan bunga pinjaman dan menaikkan upah. Dapat dikatakan bahwa meluas dan mendalamnya aksi-aksi kaum tani melawan tuantanan dewasa ini masih belum seperti keharusannya. Karena belum luas dan intensifnya pekerjaan penelitian di desa, maka masih agak banyak Comite di daerah pertanian yang belum berhasil membangkitkan dan memperbaiki pimpinan terhadap kaum tani untuk berduyang langsung melawan penghisapan tuantanan. Dengan demikian masih terdapat Comite-Comite Partai di daerah pertanian yang belum mendapatkan pengalaman langsung melawan tuantanan, mulai dari pekerjaan penelitian untuk mengetahui siapa-siapa tuantanan, bagaimana carat penghisapan yang mereka lakukan, sampai pekerjaan membangkitkan kaum buruhtani dan tanimiskin guna melakukan aksi-aksi mulai yang paling ringan sampai yang berat.
Ditinjau dari segi metode memimpin sudahlah jelas, bahwa tanpa pengalaman langsung, Comite-Comite Partai tak akan berhasil baik memadukan seruan-seruan umum dengan tuntunan-tuntunan kongkrit. Oleh karena itu, pekerjaan meluaskan dan menyempurnakan penelitian di desa harus dilakukan sungguh sampai di CS-CS dan CSS-CSS daerah pertanian. Selain itu, jika kita mempersoalkan memperbaiki pimpinan terhadap kaum tani, maka kita harus memeriksa aparat kita untuk tugas tsb. Aparat-Aparat Partai untuk melaksanakan tugas ini harus terus diperbaiki. Harus diteruskan langkah-langkah untuk menumbuhkan kader-kader dari kalangan buruhtani dan tanimiskin dan menempatkan mereka itu dalam pimpinan, baik di dalam Comite-Comite Partai di daerah pertanian Maupun dalam ormas tani revolusioner.
Gerakan tani kita menghadapi gelombang pasang yang lebih besar. Menghadapi ini ada 3 sikap yang dapat diambil oleh partai-partai politik, golongan-golongan dan tokoh-tokoh perseorangan, yaitu: pertama, berdiri di depan kaum tani dan memimpinnya; kedua, berdiri di belakang atau di samping kaum tani sambil mencela dan mengejeknya; dan ketiga, berdiri berhadapan dengan sangkur terhunus melawan kaum tani. Kita kaum Komunis sudah lama memproklamasikan pendirian kita, yaitu berdiri di depan dan memimpin peryuangan revolusioner kaum tani, bersama kaum tani menyedarkan dan menarik mereka yang mengejek, dan melawan dengan teguh siapa saja yang menentang perjuangan kaum tani ini. Pendirian ini akan kita bela mati'an, dengan semangat banteng yang lebih berani dan dengan tekad “maju terus, pantang mundur”. Dengan berbuat demikian berarti kita melawan sabotase‘ terhadap pelaksanaan UUPBH dan UUPA serta mendorong pelaksanaan landreform sesuai dengan Ketetapan’ MPRS, Dekon dan dokumen‘ negara lainnya.
Pada akhi April tahun ini kita telah menutup Plan 3 Tahun Kedua dengan sukses yang cukup besar, baik dalam yumlah anggota Maupun dalam yumlah organisasi Partai; sedangkan para kader dan mayoritet anggota Partai menjadi lebih terdidik dalam politik dan teori Marxisme-Leninisme. Keanggotaan Partai sekarang telah menyapai yumlah lebih dari duasetengah juta, dan Partai telah menjadi Partai massa dan Partai kader sekaligus. Tetapi kebesaran Partai kita sekarang masih jauh daripada cukup jika dibandingkan dengan besarnya tugas‘ yang kita hadapi, baik tugas’ nasional Maupun internasional.
Walaupun Plan 3 Tahun Kedua selama masa kerjana berada di atas ranjau SOB sehingga di banyak daerah kawan‘ kita mengalami kesulitan’ besar dalam melaksanakan Plan, tetapi matapan yang penting‘ dapat dipenuhi semua dengan 100% atau mendekati 100%. Di antara 11 jatah terpenting hampir separohnya menyapai angka lebih dari 100%, sedang lainnya mendekati angka 100% dan hanya 1 yang kurang dari 50%, yaitu jatah mengenai yuran.
Sekarang hanya Irian Barat yang belum ada Comite Daerah Besar PKI berhubung di daerah ini Demokrasi Terpimpin belum berjalan dan partai‘ masih dilarang berdiri. Tapi kapan saja larangan itu dicabut, PKI sudah siap membangun CDB’ dan Comite‘ bawah.
Di 93% dari Daswati II di seluruh negeri sudah ada Comite Seksi PKI, di 83% dari semua Kecamatan atau settingkat Kecamatan sudah ada Comite Subseksi PKI, dan di 62% dari semua desa atau settingkat desa sudah ada Comite Resort PKI.
Dari pengalaman Plan 3 Tahun Kedua dapat ditarik kesimpulan, bahwa pelaksanaan Plan banyak tergantung pada kebulatan dan kegiatan Comite basis. Oleh karena itu masalah menghidupkan semua Comite basis adalah masalah pokok dalam kehidupan organisasi Partai kita. Ini merupakan kunci daripada kegiatan politik massa dan kegiatan basis ormas‘ revolusioner. Kunci untuk memblokin Comite basis berfungsi sebagaimana mestinya pada umumnya ialah CSS. Oleh ka-rena itu konsentrasi daripada pembangunan organisasi Partai kita harus diletakkan pada memperkembangkan CSS* yang bulat dalam ideologi dan politik, yang menguasai metode memimpin dan langgam kerja yang balk. Kerjasama dalam CSS harus harmonis, dan untuk ini terutama kontradiksi* intern harus ceapat diselesaikan, “tidak boleh dimalumkan” atau dibarkan ber-larut*.
Adanya Gerakan Akhiran Plan 3 Tahun Kedua selama 6 bulan telah menimbulkan kegiatan luarbiasa. Semangat mengejar jatah* yang ketinggalan telah mendorong kader* Partai mempelajari kembali dokumen* Kongres, Sidang* Pleno CC dan Konferensi* Kontrol Plan, dan telah mendorong mereka memperbaiki pelaksanaan metode memimpin dan langgam kerja.
Plan 4 Tahun tentang Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi telah kita mulai pada tgl. 17 Agustus tahun ini. Poros dari Plan 4 Tahun kita ialah “10 meningkat”, yaitu: (1) Meningkat kebudayaan massa anggota Partai dan Rakyat (PBH, Panti Pengetahuan Rakyat dan Balai Pengetahuan Rakyat); (2) Meningkat ideologi anggota Partai dan Rakyat (Sekolah Politik dan Kursus Rakyat); (3) Meningkat keanggotaan Partai dan ormas; (4) Meningkat calonanggota menjadi anggota; (5) Meningkat penggrupan anggota dan calon-anggota Partai; (6) Meningkat kehidupan CR, CSS, Bagian* dan Fraksi*; (7) Meningkat pemasukan iuran; (8) Meningkat pemindahan dan penempatan kader yang lebih sesuai; (9) Meningkat gerakan turun ke bawah; dan (10) Meningkat pelaksanaan metode memimpin dan langgam kerja.
Dalam pelaksanaan Plan 4 Tahun, kita sudah mulai dengan Gerakan Awalan yang memakan waktu 3 sampai dengan 6 bulan, yaitu gerakan meratakan pengertian tentang hakekat Plan, bahwa melaksanakan Plan berarti mengubah imbangan kekuatan, mengkonsolidasi kekuatan progresif dan memperkuat front persatuan, semuanya ini untuk revolusi. Gerakan Awalan adalah persiapan ideologis dan teknis-administratif agar plan berjalan dengan lancar.
Comite* yang belum mempunyai aparat Plan supaya selama Gerakan Awalan membentuk aparat Plan, dan yang sudah mempunyai aparat Plan supaya menghidupkannya antara lain dengan jalan mewajiibkan Biro Plan atau Petugas Plan sekali sebulan memberikan laporan tentang pekerjaannya kepada Dewan Harlan atau Sekretariat Comite. Selama Gerakan Awalan, perincilan plan harus sampai kesemua CR, agar CR tahu presis apa yang harus dikerjakannya dalam rangka Plan 4 Tahun.
Dalam Plan 4 Tahun ini pendidikan filsafat materialisme dialektik dan histori merupakan tugas penting yang tidak boleh sekejap pun dilengahkan. Tugas besar yang dihadapi oleh kaum Komunis Indonesia akan dapat dilaksanakan hanya dengan persatuan bulat seluruh barisan kita. Sedangkan kekalahan yang terus diderita kaum reaksioner pasti akan menimbulkan serangan mereka yang lebih hebat, juga dibidang ideologi. Hanya jika kita menguasai filsafat materialisme dialektik dan histori kita akan dapat menghan-curkan semua serangan itu, menyaga keutuhan kita dan ber-angsur menyadikan MDH milik seluruh nasion kita.
Dalam hubungan dengan tugas mengkonsolidasi pengintegrasian Partai dengan kaum tani perlu ditekankan bahwa semua sekolah Partai dari semua tingkat pada hakekatnya adalah “sekolah revolusi tani”.
Kunci daripada pelaksanaan Plan 4 Tahun dibidang kebudayaan dan ideologi adalah guru. Oleh karena itu kegiatan mengadakan Sekolah Guru dan Kursus Aplikasi Guru harus mendapat perhatian yang se-besar'nya.
Pekerjaan Partai di kalangan guru desa, guru sekolah dasar dan sekolah menengah harus diperhebat, karena mereka dapat membantu dalam meningkatkan taraf kebudaya-an massa Rakyat. Partai kita harus mengadakan kerjasama yang se-baik'nya dengan Jawatan Pendidikan Masyarakat dari Departemen PDK.
Guna memenuhi keperluan akan guru yang amat banyak untuk UNRA, Akademi Marxis dan Universitas progresif, harus dipergiat pekerjaan Partai di kalangan intelligensia, menarik mereka lebih banyak ke dalam Partai dan mendidik mereka dalam semangat dan teori Marxisme-Leninisme. Di-samping masih ada sementara kawan dari kalangan intelligensia yang sudah merasa puas diri dan kendor aktiviteta, pada umumnya intelligensia Komunis sudah bekerja keras. Sekarang, dalam rangka pelaksanaan Plan 4 Tahun, pekerja-an untuk mereka lebih banyak. Juga dalam rangka meng-Indonesiakan Marxisme-Leninisme, agar kebenaran umum Marxisme-Leninisme lebih diintegrasikan dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia, Partai mengharapkan kreativitet yang lebih besar dari kader Partai dari kalangan intelligensia. Untuk ini para intelektuil Komunis harus lebih teguh melaksanakan semboyan belajar dan bekerja kita, yaitu “Tahu Marxisme-Leninisme dan kenal keadaan”, artinya mereka harus lebih banyak pelajar teori Marxisme-Leninisme dan harus lebih baik mengenal praktek sosial massa Rakyat, khususnya mengenal seluk-beluk perjuangan klas di negeri kita.
Pekerjaan Partai di kalangan inteligensia mempunyai perspektif yang baik. Kesedaran politik intelligensia Indonesia dewasa ini adalah tinggi. Dalam rangka perjuangan melawan imperialisme, dalam mengganyang “Malaysia” dan segala manifestasi neo-kolonialisme dibidang politik, ekonomi dan kebudayaan, seperti “peace corps” Amerika Serikat, semakin banyak pelajar dan mahasiswa yang ambilbagian. Kesedaran politik yang semakin meningkat ini nampak juga dari aksi yang terus-menerus dilakukan untuk menyingkirkan orang yang antiManipol dari Universitas-Universitas.
Dalam rangka pelaksanaan Plan 4 Tahun dan mengembangkan situasi revolusioner pada umumnya, kita meletakkan banyak harapan kepada para sastrawan, seniman dan pekerya kebudayaan lainnya. Kita mengharap agar supaya mereka menitikberatkan kerja pada kreasi, dan untuk ini di samping terus memperdalam teori dan politik Marxisme-Leninisme mereka harus lebih banyak turun ke bawah dan banyak menghasilkan tulisan3 dan kreasi4 lain yang artistik, realistik dan revolusioner yang mengandung kekuatan menggugah sehingga mendorong dan menggerakkan aksi5 massa. Sampai sekarang kebanyakan kreasi sastra dan seni kita belum sepenuhnya merupakan jawaban (response) terhadap sesuatu tantangan (khallenge) politik, ekonomi Maupun kebudayaan, tapi pada umumnya masih pada taraf pemfiyataan setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu situasi, mencela atau memuji. Sebab pokok ialah, karena masih banyak di antara para sastrawan, seniman dan pekerya6 kebudayaan kita lainnya yang belum mengintegrasikan diri sepenuhnya dengan massa Rakyat pekerya. Tetapi bahwa pengintegrasian ini sudah dimulai, adalah sesuatu yang menggembirakan.
Aspek yang menentukan dalam masalah pengintegrasian sastrawan dan seniman dengan massa Rakyat ialah pengintegrasian dalam fikiran, sedangkan turun ke bawah untuk menyelami kehidupan dan seluk-beluk perjuangan massa Rakyat dan mendengarkan kritik massa atas ‘karya’ mereka, adalah bentuk mutlak untuk menguji sampai ke mana sudah teryadinya pengintegrasian dalam fikiran itu. Karena kegiatan kebudayaan kita harus lebih dalam lagi masuk ketengah7 Rakyat pekerya, khususnya kaum tani, maka dalam kreasi harus diperhebat penulisan dan pementasan drama, yang sekaligus berarti peningkatan kegiatan dalam menyipta lagu‘ perjuangan dan lagu’ populasi lainnya yang sehat, membuat dekorasi, poster, karikatur, dsb.
Revisionisme bukanlah bahaya yang akut dalam Partai kita. Tetapi tidak dapat disangkal, ia merupakan bahaya yang latent, karena Partai kita bukan sesuatu yang terpisah dari masyaraat Indonesia dan masyaraat dunia yang mengandung revisionisme. Bidang seni dan sastra adalah sangat perasa, oleh karena itu bidang ini paling mudah menerima dan mengembangkan revisionisme. Para sastrawan dan seniman Komunis harus awas agar dirinya dan lapangannya tidak kena racun revisionisme. Mereka harus berduyang militant melawan gejala‘ revisionisme dibidang sastra dan seni. Dengan demikian mereka memberi bantuan besar pada Partai dan perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia.
Untuk memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaan Partai dibidang sastra dan seni, pada bagian pertama tahun depan Comite Central akan menyelenggarakan Konferensi Nasional Sastrawan dan Seniman Progresif terutama sastrawan dan seniman Komunis, Sastrawan dan seniman progresif non-Komunis juga kita persilahkan untuk ambil-bagian dalam konferensi ini.
Berdasarkan pengalaman Partai kita bekerja dengan Plan, pekerjaan dengan Plan harus selalu berpadu dengan memperhebat pekerjaan massa, terutama kaum tani. Oleh karena itulah, salahsatu jaminan utama bagi suksesnya pelaksanaan Plan 4 Tahun ialah diperhebatnya pekerjaan men-serempakkan kegiatan melaksanakan Plan dengan kegiatan Partai di kalangan massa kaum tani, massa kaum buruh, massa pemuda, wanita, intelligensia, sastrawan dan seniman, penduduk miskin kota dll.
Di-tengah‘ situasi revolusioner yang makdn menanjak di mana kaum Komunis umumnya makdn dibadayakan dalam perjuangan revolusioner ini, terdapat beberapa geyintir kawan kita yang tidak maju seirama dengan perkembangan situasi. Mereka adalah terutama sebagian ketil dari kawan’ yang duduk dalam Badan‘ Pemerintahan dan Dewan’ Perwakilan, pendeknya kawan‘ yang mendapat fasilitet’ dalam penghidupan berhubung dengan kedudukannya. Mereka adalah kawan‘ yang baik sebelum mempunyai kedudukan itu, dan sekarang pun kebanyakan di antara mereka tetap baik, tetapi kemudian mereka terpengaruh oleh lingkungan kegiatan di mana terdapat banyak orang’ yang ma-laz, korup, penjudi dan tanpa moral. Mereka bu dukaunya menggunakan kedudukannya untuk mengkonsolidasi gerakan revolusioner, tetapi untuk “mengkonsolidasi diri”. Mereka lupa bahwa mereka adalah pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, bahwa mereka mendapat kedudukan berkat mandat Partai dan Rakyat. Pada umumnya yang mereka perbuat tidak sejahat perbuatan orang-orang jahat dari golongan lain, tetapi ini samasekali bukan alasan untuk membenarkan perbuatan tercela dari orang-orang Komunis. Terhadap kawan-kawan yang lemah ini Comite-Comite Partai yang bersangkutan harus bertindak ceapat, mengkritik mereka dan di mana perlu mengambil tindakan-tindakan disiplin. Tetapi yang lebih penting lagi ialah mengambil tindakan-tindakan untuk mencegah teryadinya penyelewengan-penyelewengan dan untuk membikin agar kawan-kawan yang berkedudukan itu benar-benar melakukan tugasnya sesuai dengan mandat Partai dan mandat Rakyat, agar mereka maju menjadi kader-kader yang ahli dibidang pekerjaaannya masing-masing. Untuk ini semua Comite yang di bawah pimpinannya terdapat anggota-anggota Badan-Badan Pemerintahan dan Dewan-Dewan Perwakilan harus membentuk komisi khusus, yaitu Komisi Pemerintahan dan Perwakilan (KPP) untuk membantu pekerjaan dan mengawasi kegiatan serta jika perlu mengkritik tepat pada waktunya (tidak terlambat) kawan-kawan yang menjadi anggota badan-badan tersebut. Bersamaan dengan itu Komisi-Komisi Kontrol dari semua Comite harus diaktifkan. Tiap pelanggaran harus diselesaikan dengan ceapat, tepat, teiti, bijaksana dan jelas. Harus dilawan penyelessian yang ber-larut-larut, yang tidak tepat, yang serampangan, yang tidak bijaksana dan kabur.
Apskah kawan-kawan yang duduk dalam Badan-Badan Pemerintahan dan Dewan-Dewan Perwakilan itu tidak boleh menggunakan fasilitet-fasilitet yang didapatnya berhubung dengan kedudukannya? Tidak. Mereka harus menggunakan se-baik-baiknya segala fasilitet dan kesempatan yang mereka dapat untuk memperbesar pengabdian kepada Rakyat dan revolusi, dan bukan untuk “mengkonsolidasi diri”.
Partai kita menghadapi pekerjaan yang makin besar, baik dalam rangka pelaksanaan Plan 4 Tahun, dalam menanggulangi perkembangan situasi revolusioner yang makin menanjak Maupun daim menanggulangi soal-soal internasional, termasuk soal GKI. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi bagi kita orang Komunis daripada menjadi partisipan yang aktif dan baik dalam pekerjaan besar ini. Partai kita bukan hanya makin mendapat pengakuan massa Rakyat Indonesia sebagai pelopor gerakan revolusioner di-negeri kita, tetapi juga merupakan barisan yang terhormat di dalam GKI.
Kita harus mengkonsolidasi dan mengembangkan semua ciri yang baik dari Partai kita, yang kita simpulkan dari pengalaman perjuangan revolusioner dan pengalaman pembangunan Partai kita sendiri. Ciri‘ itu antara lain ialah: (1) memadukan patriotisme dengan internasionalisme proletar; (2) memegang teguh pendirian bahwa pembangunan organisasi penting, tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi; (3) teguh memegang prinsip, tapi luwes dalam membawakannya; (4) menjadi Partai massa dan Partai kader sekaligus; dan (5) mengintegrasikan diri secar total dengan kaum tani.
Jundunglah tinggi nama baik Partai ini dengan memberikan diri kita sepenuhnya kepada urusan Rakyat kita dan kepada urusan Komunisme.
Kawan‘ yang tercinta!
Sekarang sampai saya pada akhir Laporan Politik ini. Kita telah meninjau, menilai dan menetapkan tugas baru kita dibidang politik dalam dan luar negeri serta dibidang pemtanganan Partai. Juga berbagai persoalan GKI telah kita bahas dan kita tetapkan tugas baru kita.
Untuk melaksanakan tugas baru, kita akan terus mengobarkan semangat banteng di kalangan Rakyat dan anggota Partai, semangat berdiri di atas kaki sendiri, percaya kepada kekuatan sendiri dan berani, berani, sekali lagi berani. Kita harus bertekad “maju terus, pantang mundur” dalam melaksanakan semua tugas.
Dengan semangat dan tekad itu kita maju untuk landreform yang konsekwien, mengganyang “Malaysia” dan untuk Kabinet Gotong Royong berporoskan Nasakom.
Dengan semangat dan tekad itu kita maju mengganyang imperialisme dan revisionisme.
Dengan semangat dan tekad itu kita maju mengkonsolidasi pengintegrasian PKI yang Marxis-Leninis dengan kaum tani.
Kita serukan kepada anggota dan kader Partai supaya terus membaydakan diri, menyadikan diri kader Partai yang pandai, berani, dan berkebudayaan!
Maju terus dengan semangat Lima Lebin: lebih berani, lebih pandai, lebih waspada, lebih gigih dan lebih tekun!
Maju terus dengan mengibarkan tinggi-tinggi panji Tiga Baik kita: baik bekerja, baik belajar dan baik moral.
Kobarkan semangat banteng! Maju terus, pantang mundur!
KETERANGAN KATA-KATA ASING
amatir. orang yang mengerjakan sesuatu sebagai kegemaran saja.
antisegregasi. segregasi, pemisahan, pengasingan. antisegregasi, penentangan terhadap pemisahan, pengasingan antara manusia yang satu dengan yang lain karena perbedaan warna-kulit, asal-usul, agama, dll. Misalnya menentang tindakan segregasi yang dijalankan oleh pemerintah AS terhadap orang-orang Negro di Amerika Serikat.
antusias. gairah.
aspek. segi.
atmosfir. lapisan udara yang mengellilingi bumi dan yang tebalnya beberapa ratus kilometer dan terdiri dar gas-gas.
avonturisme. petualangan.
berdominasi. berkuasa.
bilateral. antara dua fihak.
bonapartis. penganut Bonaparte, orang yang bernafsu menaklukkan negeri-negeri lain. Kiasan ini diambil dari sejarah Napoleon Bonaparte I (1769-1822), yang menyelewengkan revolusi antifeodal di Perancis menjadi perang agresif untuk menaklukkan seluruh Eropa.
boom. konyungtur tinggi, tahap dalam perkembangan ekonomi kapitalis di mana terdapat kemakmuran semu Ta hap itu biasanya disusul dengan krisis.
contractorship. contractor, pemborong. contractorship, suatu sistim keryasama yang menyerahkan pengerjaan sesuatu usaha kepada contractor. Misalnya, dibidang perminyakan di Indonesia, sumber’ minyak adalah milik negara, tetapi lewat sistim contractorship pengerjaannya diserahkan kepada fihak contractor asing. Hasilnya dibagi sesuai dengan syarat‘ yang ditetapkan di dalam contractorship itu. Dalam prakteknya contractorlah yang berkuasa atas perusahaan itu
cursif. huruf miring.
defisit. kekurangan, ketekoran.
degenerasi. kemerosotan.
dekaden. kemerosotan, keruntuhan.
dekorasi. hiasan, payangan.
demoralisasi. kebejatan akhlak.
deposit. endapan.
diferensiasi. memilah-milahkan. membenda-beda.
dunvestasi. ditanam. diskriminasi. pembedaan, misalnya berdasarkan agama, ras, dsbnya.
dispensasi. pembebasan dari sesuatu tugas/kewajiban.
disproporsi. ketidakseimbangan.
disubordinasikan. ditundukkan.
egoisme. mementingkan kepentingan diri sendiri.
Eropa centris. yang berpusat pada atau bertitiktolak dari Eropa.
expervmen. percobaan untuk mencapai hasil tertentu.
exploitasi. penghisapan.
fasilitet. kesempatan, kelonggaran, kemungkinan, kemudahan.
fatamorgana. penglihatan semu, sehingga tampak pemandangan-pemandangan indah, dsbnya yang sebenarnya tidak ada. Sering terjadi di-padang-padang pasir sebagai akibat peman-tulan sinar-sinar cahaya dalam lapisan-lapisan udara.
federasi. perserikatan, persekutuan.
filantropis. filantropi, kedermawanan, kemurahan hati, belaskasihan. Filantropis, bersifat kedermawanan, kemurahan hati, dan belaskasihan.
gendarme. polisi militer dengan tugas-tugas khusus; digunakan untuk menggambarkan kekuatan-kekuatan bersenjata kaum imperialis yang ditempatkan di-mana-mana di dunia ini untuk melindungi kepentingan-kepentingan kaum imperialis dari serangan gerakan revolusioner.
geografis. geografi, ilmu bumi.
geografis. yang berkenaan dengan ilmu bumi.
global strategy. siasat yang diatur meliputi seluruh dunia; misalnya. AS menetapkan global strategy untuk meng-hancurkan kubu sosialis dan seluruh gerakan revolusi-oner sedunia dengan menempatkan pangkalan-pangkalan militer-nya, dengan mendirikan pemerintah-pemerintah boneka di mana-mana, dsbnya.
harmonis. selaras, seimbang, sesuai.
humanisme. aliran yang mengutamakan kemanusiaan, yang ingin mengembangkan sifat-sifat luhr yang dianggap khas bagi semua manusia. Humanisme mula-mula lahir di Itali sebagai gerakan kebudayaan dalam abad ke-XIV dan kemudian meluas ke Jerman, Nederland, Perancis dan Inggris. Sebagai suatu gerakan sosial ia mempunyai pengaruh terhadap usaha untuk melepaskan umatmanusia dari belenggu pandangan-pandangan keagamaan zaman tengah beserta segala ke-pincangannya. Dalam masa melawan segalasesuatu yang bersifat feudal humanisme burjuis memainkan peranan progresif, tetapi setelah sistim kapitalisme itu berada dalam sekaratnya maka humanisme menjadi senjata untuk mempertahankan sistim kapitalis dengan menyebar-nyebarkan pandangan bahwa jika seluruh umat-manusia yang berkemauan baik mau bekerjasama, maka semua masalah politik dan ekonomi di dunia ini akan dapat dipecahkan. Humanisme berkembang menjadi apa yang disebut humanisme universal terutama dalam masa krisis umum kapitalisme. Humanisme dengan begitu melemahkan perjuangan klas, mendorong kolaborasi klas dan meletakkan harapannya pada maksud baik pemimpin-pemimpin. Dewasa ini humanisme telah menjadi alat kaum revisionis modern untuk mengaburkan perjuangan klas. ilusi. khayalan.
indoctrinasi. doktrin, ajaran, faham.
indoctrinasi. memasukkan ajaran atau faham tertentu kepada seseorang.
infiltresi. penyusupan ke dalam organisasi atau barisan lawan untuk dapat mempengaruhi, memperoleh bahan-bahan keterangan, dsbnya tentang lawan itu.
integral. suatu keutuhan, menyeluruh.
integrasi. penyataan diri dengan sesuatu, menyadikan se suatu bagian yang takterpisahkan dari yang lain.
intimidasi. gertakan, usaha menakut-nakuti.
intrik. tipu-daya, menghasut ke sana-kemari.
kapitulasi. menyerah kepada lawan; tidak melakukan per juangan.
karantina. tempat yang dipisahkan dari umum di mana orang‘ yang terkena penyakit menular diasingkan supaya penyakitnya tidak menular keorang lain atau supaya orang’ yang tinggal di tempat itu tidak dipengaruhi oleh hal‘ di luarnya.
kaum Yakobin. golongan yang konsekwenn revolusioner dalam Revolusi besar Perancis (1789-1794) dengan politik “demokrasinya yang takterbatas”, penghancuran terhadap belenggu-belenggu feudal, dan pengorganisasian perang Rakyat revolusioner untuk mempertahankan tanahair terhadap tentara-tentara intervensionis dari kontra-revolusi di Eropa.
kolaborasi. kerjasama dalam arti menyerah mengenai ke pentingan pokok.
kolone ke-V. kolone, barisan. Kolone ke-V, barisan kaum reaksioner, musuh-musuh Rakyat, yang menyusup ke dalam gerakan progresif untuk mengacau, memecah-belah, melakukan sabotase, pembunuhan, pekerjaaan mata-mata, dsbnya. Istilah ini berasal dari Perang Dalamnegeri di Spanyol. Sewaktu Franco siap untuk melancarkan serangan terhadap Madrid yang dibela oleh kaum Republikein, dia berkata: “Saya memiliki 4 kolone di luar Madrid, siap untuk menyerang, dan di samping itu, kolone ke-V di dalam Madrid”.
komplit, lengkap, paripurna. tidak ada sesuatu yang keting galan. konyederasi. perserikatan di antara negara yang masing-masing berdaulat.
konfrontasi. hadap-hadapan, perlawanan.
konsepsi. fikiran, pengertian, faham, pendapat.
konseptor. yang punya atau membuat konsep.
konsesi. apa yang diberikan atau didapat dari sikap mengalah atau mengalah sebagian.
konsulasi. meminta pendapat, bertukar fikiran.
konsumen. sipemakai bahan mentah atau barangjadi.
kontrol. pengawasan.
kordinasi. penyelurasan.
kreasi. yang bersifat ciptaan.
kriminal. bersifat pidana.
krystalisasi. menjadikan sesuatu padat dan keras, bersih dari noda seperti habur.
kulturil. kebudayaan.
latent. diam, tersambunyi, tidak aktif. Bahaya yang latent. bahaya yang terusmenerus.
latifundis. tuantanan atau penguasa tanah yang luasnya sampai beribu-ribu hektar. Latifundis sekarang ini banyak terdapat di Amerika Latin.
linea recta. samasekali/langsung berlawanan.
logis. masukakal.
manifestasi. pernyataan, perwujudan.
manipulasi. penipuan; perbuatan curang seperti menggelapkan. menimbun barang untuk spekulasi, dsbuyia.
mayortiet. bagian terbesar, jumlah terbanyak.
maximal. yang se-banyak'nya.
memodernisasi. modern, hal baru yang sesuai dengan zaman yang sudah maju. Memodernisasi, membikin segala sesuatu modern sesuai dengan tingkat perkembangan terakhir. Terutama yang dimaksud di sini ialah membikin tenaga-tenaga produktif Indonesia modern.
mendevaluasi. menurunkan nilai-uang terhadap emas.
mendiskredit. mencemarkan sesuatu/seseorang agar tidak disukai. mengidealisisi. menjadikan sesuatu menurut keinginan atau cita-cita yang lepas dari kenyataan obyektif.
mengkonsolidasi. memperkuuh, memperteguh.
menu. daftar makanan.
metafisis. metode yang bukan dialektis.
multilateral. meliputi berbagai fihak.
non-aligned. tidak bersekutu dengan salahsatu blok di dunia ini.
otomasi. menggunakan lebih banyak mesin yang mengerjakan berbagai tingkat dari suatu proses produksi dengan hanya sedikit memerlukan tenaga manusia.
otoriter. yang berkuasa, yang resmi, yang berwibawa. pakingg. pembungkusan, pengepakah.
partisipan. peserta, seseorang yang ambilbagian di dalam sesuatu peristiwa.
pengkonversian. konversi. izin yang diberikan oleh raja‘ di Jawa kepada onderneming asing untuk mengusahakan separo tanah garapan Rakyat selama 50 tahun. Tanah konversi adalah tanah yang sedemikian itu. Pengkonversian, menyadikan tanah Rakyat tanah konversi.
penglikwidasian. peniadaan, pembubaran.
pentorpedoan. penggagalan.
perdagangan transito. perdagangan yang sifatnya menyalurkan. jadi bukan untuk dipakai di negeri yang bersangkutan. tetapi untuk diteruskan/disalurkan ke negeri lain.
phobi. ketakutan yang amat sangat akan sesuatu.
pilot proyek. proyek yang dibangun untuk dijadikan contoh dan teladan.
polemik. pertengkaran, perbantahan, perdebatan.
posisi komando. kedudukan memimpin.
potensi. kekuatan, tenaga.
preferensi. hak pengistimewaan. memberikan perlakuan yang utama dan lebih baik kepada fihak tertentu. Misalnya dalam hal import, memberikan preferensi kepada negeri tertentu dengan menetapkan beamasuk yang lebih rendah, harga yang tinggi untuk baranghasilnya, dsbnya.
production-sharing. bagi-hasil produksi.
produsen. sipenghasil. pembuat bahan’ mentah atau barang-jadi.
pro memori. untuk diingat; istilah ini digunakan dalam anggaran belanya terutama anggaran belanya negara menganai pengeluaran‘ yang pada saat anggaran itu dibikin belum dapat dipastikan jumlahnya.
proteksi. perlindungan. Dalam ekonomi memberikan proteksi kepada industri nasional yang masih lemah dengan menganakan beamasuk yang tinggi terhadap yenis barang hasil yang bisa dibuat oleh industri nasional tadi. Lewat carai itu industri nasional akan mampu bersaing dengan industri luar negeri.
proprikator. orang yang memancing sesuatu kejadian dengan maksud yang jahat.
radikal. yang bersifat mengadakan perubahan sampai keakarnya, dengan sempurna.
rasialisme. ras, induk bangsa. Kesatuan umatmanusia yang mempunyai ’jiriy‘ jasmani yang sama seperti kulit, rambut, mata, dsbnya. Rasialisme, faham yang didasarkan pada membeda-bedakan, mengunggulkan sesuatu ras.
respek. rasahormat dan penghargaan.
restorasi. memulihkan kembali rezim. kekuasaan negara.
biasanya digunakan dengan maksud mencela kekuasaan yang bersangkutan. routine/rutine. yang dilakukan berulang-ulang, sehari‘.
santase. gertakan.
satelit. pengikut yang mengekor saja.
seleksi. pemisahan antara yang baik dengan yang jelek. antara yang sejati dengan yang palsu.
self-supporting. mencukupi sendiri; self-supporting beras artinya bahwa beras yang dihasilkan di dalam negeri bisa mencukupi kebutuhan negeri yang bersangkutan sehingga ga tidak perlu mengimport lagi.
simpati. minat, rasa setuju, rasa suka, kecenderungan sinyalemen. isyarat, pertanda.
mensinyalir. memberi isyarat, pertanda.
separatis. yang bersifat memisahkan diri.
skala. ukuran, taraf.
social-control. pengawasan oleh masyarakat.
social-participation. pengikutsertaan masyarakat.
social-support. dukungan atau sokongan masyarakat.
solidaritet. setiakawan.
sorting. memisah-misahkan dan meng-golong'kan barang-dagangan (bahanmentah Maupun barangjadi) menurut mutunya.
sovinsisme. salahsatu bentuk nasionalisme burjuis—khususnya dari kaum penjajah dan imperialis—yang membangkitkan penghinaan dan kebencian terhadap Rakyat, ras“ dan nasion” lain di kalangan massa. Cara terpenting untuk mencapai tujuan itu ialah membela lewat propaganda resmi, film, kesusasteraan, dsbnya. “teori ras” yang mencirikan bangsa“ lain—mereka yang berada di bawah penindasan atau yang direncanakan untuk di-jajah—”rendah“, ”tidak mampu memerintah sendiri“, dsbnya.
spekulasi. perbuatan’ nekad (di lapangan ekonomi Maupun politik) untuk mencapai tujuan tertentu yang diharap-harapkan.
sponsoring country. negeri yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan sesuatu peristiwa/kejadian internasional.
stabilisasi. kemantapan, membikin sesuatu keadaan berlangsung terus. Stabilisasi politik bisa merupakan usaha reaksi untuk mempertahaukan kekuasaannya tanpa ”gugatan“ kekuatan progresif.
status quo. keadaan sekarang sebagai sesuatu yang tidak mengalami perubahan dan tetap sebagaimana adanya.
subsidi. sokongan yang umumnya diberikan oleh pemerintah kepada badan‘ partikelir, misalnya kepada perguruan’, badan‘ sosial, dsbnya.
tarif. daftar harga atau sewa
terisolasi. terpisah, terasing.
toleran. sifat tenggang-menenggang, sifat saling-memberi.
unilateral. sefihak.
universil. berlaku untuk seluruh dunia, untuk seluruh umat manusia.
upgrading. memperbaiki mutu bahanmentah, barangjadi dengan mengadakan proses pengolahan tertentu. Misalnya. di masa yang lalu karet Indonesia harus melalui upgrading di Singapura.
vital. yang memberi hidup, syarat mutlak untuk hidup; dengan demikian yang vital adalah sesuatu yang amat penting. bersifat hayati.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.