ISORAK
SORAI
VOLUME 1
Boo
LAPANGANDANSTADION
YANG LUPUTDARI SOROTAN
SORAK-SORAI Gelora Volume.1
LAPANGAN DAN STADION Yang Luput Dari Sorotan
Sebuah zine dengan rubrik sepakbola, yang mempersembahkan segala hal berkaitan dengan sepakbola baik lokal, nasional, maupun internasional. Sebagai tujuan agar semua orang dapat membaca hingga mengkritisi, guna mencintai dan merawat sepakbola yang lebih baik.
DAFTAR ISI
1 ANTARA LUMPIA LOKAL DAN HOTDOG EROPA
6 KEJAMNYA INFRASTRUKTUR, LAPANGAN HANCUR, PRESTASI MUNDUR
SIMAK SISI LAIN TIKET, KOLEKSI 11 YANG BERHARGA HINGGA BUKTI SEJARAH
ANTARA LUMPIA LOKAL DAN HOTDOG EROPA
“Mas, katanya lumpia di GBT ini terkenal enak ya?", tanyanya seorang suporter dengan memakai jersey Persib kala usainya babak pertama. Sudah kuduga sebelumnya ini pasti orang bandung, karena pada saat itu memang sedang ada match antara Persebaya vs Persib di Gelora Bung Tomo. “Oh ya jelas Ueenak mas, masnya mau? monggo dicoba dulu punyakku ini”,
jawabku sambil menggigit lumpia yang memang agak keras tetapi sangat
menggoda. Wajar memang, jika lumpia
sudah menjadi santapan arek-arek suroboyo untuk menemani jalannya pertandingan di dalam stadion. Yang awalnya lumpia merupakan makanan khas daerah Semarang yang sangat populer, nyatanya lumpia pun
menjadi kegemaran para pencinta bola, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Gorengan melegenda dari era perserikatan nampaknya tetap menjadi primadona hingga sekarang. Dari Era kejayaan Gelora 10 November atau yang sering disebut Tambaksari, cita rasanya pun masih sama. Dengan harga lima ribu rupiah saja, tiga buah lumpia sudah dapat dinikmati, biasanya sambil menunggu babak kedua dimulai. Camilan yang dibalut kulit lumpia dengan isian kecambah atau pun potongan sayur-sayuran lainnya, perpaduan antara pedasnya saos dan daun bawang yang menggigit, rasanya sangat nikmat sehingga menjadi santapan wajib
Jika bioskop dan sepakbola dapat
dikategorikan sebagai hiburan yang sama- sama ditonton, duduk, dan menikmati,
ketika menonton sepakbola ala arek
Surabaya.
Disamping kelezatan itu, secara tidak langsung penikmat lumpia telah juga membantu perekonomian para pedagang
yang berjualan di
stadion. Terciptanya lapangan pekerjaanbagi mereka penjual lumpia dirasa cukup untuk dapat menghidupi kebutuhan keluarganya dirumah. Memang, match tidak mungkin digelar setiap hari, namun ini bisa menjadi peluang untuk menambah penghasilan disamping tuntutan ekonomi di kota Surabaya. Jika kehadiran mereka sangat ditunggu-tunggu oleh para penonton di stadion, sesungguhnya kedatangan para penonton sendirilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka, para penjual lumpia.
Berangkat dari kuliner, menarik ketika kita menghubungkan dengan yang namanya jagad hiburan. Bioskop sendiri mempunyai cerita dari masa ke masa mengenai brondong jagung, camilan yang sangat mudah ditemui di dalam gedung bioskop hampir di berbagai belahan negara.
namun beda halnya dengan kuliner para penonton sepakbola. Ketika bioskop dipenjuru dunia bisa disama ratakan dengan
brondong jagung, seakan sepakbola
mempunyai cita rasa tersendiri pada lidah penikmatnya. Dan dapat diperkirakan bahwa masih ada banyak ragam kuliner di kalangan penonton bola di berbagai pelosok dunia, negara, hingga daerah.
Eropa menjadi benua dengan
deretan negaranya yang paling banyak menyabet kejuaraan piala dunia, penyumbang pemain berkelas, serta dengan beberapa liga sepakbolanya yang paling bergengsi. Oleh karena itu sangat jelas, jika Eropa menyimpan segudang kultur mulai dari suasana, hingga detail-detail mengenai hal yang berhubungan dengan sepakbola
atau football, khususnya budaya kulinernya Asal usul sosis hotdog sendiri ada pada tahun 1852 terlahir di Amerika serikat, yang kali ini dibahas. namun tidak menutup kemungkinan jika Sejarah berbicara bahwa roti dan kepopulerannya merambah sampai Eropa. daging tidak pernah jauh sebagai santapan Jerman mempunyai ciri khas mengenai sehari-hari masyarakat disana. Kebiasaan hotdog dengan nama bratwurst sebagai
yang memang sudah ada dari nenek
sosinya, biasanya dinikmati bersama bir moyang, hingga lahirnya makanan yang dengan gelas plastik dan diperbolehkan kian populer mendunia, seperti halnya untuk dikonsumsi di tribun. Spanyol pun
burger, hotdog, sandwich dan jajanan roti
mempunyai roti isi bocadillo yang kurang daging lainnya. Terpilihnya hotdog menjadi lebih sama dengan hotdog, namun orang- salah satu jajanan idola para football lovers orang Spanyol lebih terkesan menghindari di Eropa bukan tanpa sebab. Bentuknya bir didalam stadion. Selain itu ada yang panjang dan besar dibanding burger salamella asal Italia, saucisse dari Prancis,
menjadi alternatif, karena mudah dipegang
dan mince
sebagai
ciri khas kuliner
mirip
hotdog di Inggris.
Dan ternyata
yang kini namanya hotdog pun untuk dinikmati diatas bangku tribun. Tak beragam, sehingga dapat dimodifikasi hanya dalam pertandingan sepakbola, sedemikian rupa dengan menyesuaikan sering kali hotdog hadir dalam segala lidah penikmatnya. pertandingan olahraga seperti basket, Oleh karena itu, antara lumpia lokal baseball, rugby, dan beberapa kompetisi dan hotdog Eropa sebenarnya hampir cabang atletik. memiliki kesamaan, mungkin dari segi
bentuk makanannya yang panjang, berbicara akan sejarah jajanan daerah, dan kedekatan selera lidah penikmatnya. Selain itu, yang menjadi perhatian khusunya pada lumpia maupun hotdog adalah rasa bangga ketika berada di stadion, yang mungkin rasa itu tidak bisa dinikmati diluar pertandingan. Dimana makanan tersebut bisa dibeli dan di
makan dimana saja, tetapi pasti rasanaya
berbeda dengan yang ada saat menonton pertandingan.
Jauh lebih dari itu, sepakbola yang kita tonton secara langsung di stadion merupakan suatu kelengkapan euforia, mulai dari atribut, suasana saat berangkat, menikmatipertandingan, hingga pentingnya pulang dengan rasa aman. Terlebih lagi jika kita dapat menikamati
kuliner di stadion bersama orang yang kita cinta, pacar, teman, dan keluarga, rasanya
tidak akan bosan untuk selalu berangkat ke stadion.
Karena Menonton Sepakbola
Bukan tentang Datang, Lihat, dan
Menang.
SERAK
BUSNNIS
SA
GEL0RA
FOOTB
PEPS Mcb Cola-Cola
Kejamnya Infrastruktur,
Lapangan Hancur, Prestasi Mundur.
“Apa kau tau tempat menendang bola dimana kawan?", sontak ia bertanya kepadaku menggunakan bahasa asing yang kurang lebih dapat kupahami artinya seperti itu. Lalu kutunjukkan tanganku mengarah ketengah-tengah tempat pembuangan akhir dimana biasa aku dan teman-temanku bermain bola, ia pun sangat terkejut. Opsi kedua kuarahkan lirikan mataku tepat pada
dimana ia berdiri, yaitu dipinggiran jalan
raya, ketika tiada tempat lain dan harus
terpaksa memilih dijalanan, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan aku pun tertawa. Memang menarik, dan kelihatan sangat mustahil. Alih-alih menyehatkan jasmani malah harus menghirup udara segar dari tumpukan sampah. Mana mungkin juga anak-anak itu harus berlarian diatas panasnya aspal, demi mengejar sebuah bola
yang bisa jadi merupakan cita-citanya
kelak, tetapi dekat ini faktanya hampir seperti itu. Dan pada akhirnya satu persatu
bibit-bibit pemain hebat memilih untuk diam dirumah atau lebih cenderung menjadi patung dengan menggenggam sebuah kotak layar yang merusak mata.
Sangat disayangkan, Padahal yang
kita tahu anak-anak, bola, dan lapangan merupakan serangkaian ekosistem penghasil prestasi sepak bola dimasa depan, yang ketiganya sudah tidak mungkin dapat Kini tempat atau lahan dipisahkan. berbentuk persegi panjang dengan ukuran paling buruk tak lebih dari 100x50 meter, aroma ditambah dengan hijaunya
rerumputan yang empuk ketika kaki ini
harus bergesekan saat menggiring bola, ternyata yang namanya lapangan sudah asing dan menjadi tempat yang langka. Yang dulunya lapangan sepak bola sendiri merupakan suatu tempat yang lumrah dan tidak dapat dipungkiri bahwa lapangan sepak bola pasti ada dan mudah untuk ditemui diberbagai belahan negara di dunia.
Sebut saja di negara dingin bersalju Eropa mampu melahirkan banyak pemain hebat dan mahal. Tak kalah dataran sabana yang cukup panas terik sehingga mampu melahirkan pemain dengan fisik yang kuat ,dimana lagi bukan kalau Afrika. Berbicara mengenai Amerika Selatan pun demikian, Brazil, Argentina tak luput dari kebiasaan anak-anak mereka mengunjungilapangan hijau. Karena tidak lain, jika dikatakan berperan seperti apa sebuah lapangan sepak bola dimanapun itu berbeda-beda, namun tujuannya satu yaitu sebagai tempat atau ajang berlatih untuk memoles, mengasah, sekaligus menempa potensi dan talenta pemain dari ia masih anak-anak hingga sejatinya dapat melahirkan para pemain berkelas. Tetapibagaimana tentang indonesia saat ini?.
membahas Menarik ketika mengenai Indonesia, jika kita mengorek- ngorek prestasi yang ada saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia belum pernah menyentuh bola world cup sama sekali. Mengingat Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-4 dalam urutan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yaitu sekitar 260.580.739 jiwa dan menempati urutan pertama di Asia Tenggara. Secara
bertahap Indonesia tumbuh dari negara berkembang menuju ke negara maju, walaupun tidak lepas pertumbuhannya masih beriringan dengan minimnya prestasi dalam hal sepak bola. Sebenarnya dari ratusan juta jiwa tersebut pastinya berpeluang lebih besar untuk menghasilkan pemain-pemain dengan talenta yang lebih bagus. Secara historis Indonesia mampu mencatatkan sebuah sejarah besar
persepakbolaan disaat masih terjajah kala
itu. NIVB beranggotakan pemain pribumi berhasil menaklukan klub asal bentukan jepang dengan skor telak 4-0, tentu menjadi
kabar yang mengguncang dunia, ketika
klub sepakbola dari jepang ini belum pernah terkalahkan sebelumnya. Wajar apabila hasil perjuangan merebut kembali tanah kelahiran tak luput dari semangat nasionalisme yang digambarkan melalui sepakbola. Namun sayang, tanah ini tak lagi seindah jaman itu. Tanah yang seharusnya dapat dimanfaatkan menjadi syarat pengembangan sepak bola semestinya, malah kini beralih fungsi menjadi lahan
yang sama sekali menjadi faktor
penghambat kemajuan sepak bola tanah air.
Faktor-faktor tersebut meliputi pembangunan berskala, infrastruktur, industri, bahkan pengalih fungsian lahan
yang menjadi momok bagi masyarakat.
Bila manisnya gula dapat mengundang
kerumunan semut, sama halnya dengan industri yang menggiurkan manusia untuk membangun rentetan perumahan dan sebagainya. Demikian alasan lapangan sepakbola teralihkan sebelah mata. Tak penolakan dan kurang-kurangnya perlawanan masyarakat kepada pemerintah yang malah menimbulkan reaksi represif aparat dan terkadang tidak berbuah hasil atau keputusan yang saling menguntungkan.
Seperti contoh kasus alih fungsi Lapangan Supratman yang berlokasi di Jalan Supratman pada tahun 2013 di Bandung. Lahan seluas itu awalnya telah dibangun fondasi namun setelah itu tak terlihat ada tukang sama sekali dilokasi tersebut, dalam artian kondisinya masih belum jelas. Sehingga warga menolak alih fungsi lapangan tersebut dengan memasang spanduk-spanduk penolakandisertai beberapa tandatangan dari sejumlah elemen yakni PKBM,
Cikaso,
Warga
Ikatan Seniman
Sunda dan lainnya.
Menurut Ketua TOLAK ALIH Nasional Dewan Walhi, warga merasa tidak diajak berdialog
terkait rencana Pemkot Bandung yang akan menjadikan lapangan tersebut menjadi lapangan futsal. “Warga baru diundang setelah ada protes dari warga."
Dari salah satu contoh diatas dapat kita simpulkan bahwa perebutan lahan masih sering terjadi di Indonesia, bahkan lebih dari itu pemerintah pun masih kebebasan menghiraukan akan bersepakbola bagi masyarakat umum. Hadirnya lapangan futsal pun dirasa belum bisa menjadi solusi dalam mengembangkan skill sepakbola bagi semua khalayak, terlebih masyarakat dengan ekonomi kebawah. Padahal tidak semua pemain hebat lahir dari lapangan futsal dan sekolah sepakbola, masih ada talenta-talenta yang sekiranya tertanam pada kaki anak-anak kampung, yang mereka belum tentu bisa menjangkau atau mengikuti seleksi untuk bisa menjadi pemain berkelas.
SUPRATMA
TAK SEHARGA
LETSFLY HIGH!
TVASC
jika sepak bola lebih mahal dari pada nyawa, maka kami memilih hidup tanpa sepakbola. -TriHandoko
VIP DAN UTAMA
HAI-H |JAM 900WIB
SIMAK SISI LAIN TIKET, KOLEKSI YANG
BERHARGA HINGGA BUKTI SEJARAH
Adanya sebuah tiket pada setiap
pertandingan sepakbola hingga
saat ini dirasa sangat penting kehadirannya. Mungkin sangat sering kita mengenal adanya slogan “No ticket
no game" yang sering dikampanyekan oleh
berbagai klub di Indonesia agar para suporter membeli tiket saat datang ke stadion ketika menyaksikan klub kebangaan mereka bertanding. Menerjemahkan slogan tersebut
yang kurang lebih jika tidak bertiket maka
tidak akan berlangsung sebuah pertandingan sepakbola, maka ada harapan besar dari klub untuk para suporternya.
Tiket pertandingan saat ini bukan lagi sekedar sebuah tiket masuk ke stadion saat ada sebuah pertandingan sepakbola. Lebih jauh
lagi menjadi pemasukan dana bagi sebuah klub yang sedang berkompetisi. Sejak muncul larangan terhadap penggunaan dana APBD (Anggaran Pembangunan Belanja Daerah) dalam sepakbola, tiket pertandingan adalah komponenpaling penting menjaga keberlangsungan klub dalam mengikuti kompetisi, hingga menggelar sebuah pertandingan. Berkaca pada kondisi klub-klub Eropa yang sudah profesional, tiket
pertandingan menjadi sumber pemasukan
paling utama bagi mereka disamping penjualan merchandise klub, menggandeng sponsor, serta pendapatan hak siar televisi. Banyak dari klub-klub di Eropa yang sukses mengelola keuangan mereka tanpa bantuan
sedikit-pun dari pemerintah karena mampu mendapat pemasukan dari tiket pertandingan.
Diluar pentingnya tiket pertandingan bagi sebuah klub sepakbola, tentu ada hal tidak menarik yang banyak diketahui oleh para suporter sepakbola. Dalam sepakbola, tentu banyak hal yang akan kita dapatkan selain rasa senang, sedih, bangga setelah menonton sebuah pertandingan. Tidak menutup kemungkinan jika rasa bangga terhadap sebuah klub membuat seorang suporter melakukan apa saja demi menunjukkan rasa cinta terhadap klub kebangaan. Salah satunya dengan mengoleksi segala hal yang berhubungan dengan klub yang dibanggakan. Mengoleksi jersey, scarf, dan atribut klub merupakan sesuatu yang sering dilakukan oleh para suporter untuk menujukkan rasa bangga mereka. Begitupula dengan tiket pertandingan yang sebenarnya juga bisa menjadi sebuah koleksi menarik bagi seorang suporter sepakbola. Banyak suporter yang salah persepsi setelah membeli tiket dan masuk ke stadion, maka tiket pertandingan itu tidak berguna lagi dan lantas dibuang begitu saja. Seringkali saat menyaksikan sebuah pertandingan, tertinggal tiket-tiket beberapa
pertandingan yang telah terlaksana
sebelumnya. Tiket pertandingan itu banyak bercerean dibawah tribun bahkan terkumpul dengan sampah sisa pertandingan sebelumnya
seperti botol plastik, kresek, dan lain-lain.
Padahal, sebuah tiket pertandingan akan menjadi sebuah momen berharga lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, serta menjadi
cerita tersendiri yang
akan diturunkan pada generasi berikutnya ketika menonton sebuah pertandingan sepakbola.
Selama ini, sebuah tiket pertandingan sepakbola di berbagai daerah di Indonesia sangat beragam bentuk maupun ukurannya. Bahan dasar yang digunakan dalam mencetak tiket-pun berbeda-beda. Ada yang berbahan dasar kertas hvs, kertas karton, hingga kertas mengkilap yang dapat menjadi gelang ditangan. Terdapat pula barcode pada setiap
tiket pertandingan guna mengurangi
beredarnya tiket palsu yang kerap kali terjadi di Indonesia. Diperlukan kesadaran bagi banyak pihak seperti manajemen klub dengan pihak pencetak tiket dalam membuat atau mencetak sebuah tiket pertandingan. Dengan bahan dasar yang bagus, tentunya akan menimbulkan rasa unik dan kesenangan tersendiri bagi para suporter untuk menjadikan tiket pertandingan sebagai salah satu koleksi
harus yang berharga dari sebuah olahraga sepakbola. pertandingan sepakbola, tentu Bagi para suporter, dengan mengoleksi sebuah mengeluarkan uang untuk dapat membeli tiket pertandingan sepakbola tentu menjadi sebuah tiket pertandingan yang tentunya akan penyadaran tersendiri bagi mereka jika menjadi penyadaran bagi mereka jika sangat keberadaaan tiket adalah sesuatu yang sayang ketika tiket pertandingan itu kemudian berharga. Selain menjadi penanda masuk dibuang secara sia-sia. kedalam stadionguna menyaksikan
NO TICKET
NOGAME!
CELTICS
TEAMA KASH
◎@SORAKSORAI.ZINE