Baca EPUB: Upah, Harga dan Laba

20 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. UPAH, HARGA DAN LABA
  2. KARL MARX
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KETERANGAN PENERBIT
  6. PENDAHULUAN
  7. IPRODUKSI DAN UPAH
  8. IIPRODUKSI, UPAH, LABA
  9. IIIUPAH DAN PEREDARAN UANG
  10. IVPENAWARAN DAN PERMINTAAN
  11. VUPAH DAN HARGA
  12. VINILAI DAN KERJA
  13. VIITENAGA BEKERJA¹
  14. VIIIPRODUKSI NILAI-LEBIH
  15. IXNILAI-KERJA
  16. XLABA DIBIKIN DENGAN MENJUAL BARANG-DAGANGAN MENURUT NILAINYA
  17. XIBERBAGAI BAGIAN DALAM MANA NILAI-LEBIH TERURAIKAN
  18. XIIHUBUNGAN UMUM ANTARA LABA, UPAH DAN HARGA
  19. XIIIPERISTIWA-PERISTIWA UTAMA TENTANG USAHA MENAIKKAN UPAH ATAU MELAWAN PENURUNANNYA
  20. XIVPERJUANGAN ANTARA KAPITAL DENGAN KERJA DAN HASIL-HASILNYA
  21. CC BY-SA 4.0

UPAH, HARGA DAN LABA

KARL MARX


KOLOFON

UPAH, HARGA DAN LABA

oleh

KARL MARX





Diadaptasi dan disunting

oleh

Edi Cahyono

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul: Budget (1950), karya Leona Pierce Frasconi.

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KETERANGAN PENERBIT

Pidato K. Marx ini diterjemahkan dari edisi Inggris Wages, Price and Profit, terbitan Foreign Languages Publishing House, Moskow. Edisi Inggris itu dicetak menurut teks edisi Inggris th. 1898 dan dicocokkan dengan naskah kasar yang ditulis oleh Marx dalam bahasa Inggris, yang disimpan dalam arsip Institut Marx-Engels-Lenin-Stalin dari CC PKUS.

Penterjemah: Batubara


PENDAHULUAN

Saudara-Saudara,

Sebelum memulai dengan pokok persoalan, perkenankanlah saya mengemukakan beberapa keterangan pendahuluan.

Sekarang di Daratan Eropa sedang bersimaharaja lela wabah pemogokan dan pekikan umum untuk kenaikan upah. Soal ini akan muncul pada Kongres kita. Saudara-Saudara sebagai pimpinan dari Perhimpunan Internasional ini, seharusnya sudah menetapkan pendirian mengenai soal yang utama ini. Maka bagi saya sendiri, saya anggap adalah kewajiban saya untuk membahas persoalan ini sepenuhnya, Sekalipun dengan risiko akan membuat kesabaran saudara-saudara mengalami ujian yang berat.

Lagi suatu keterangan pendahuluan perlu saya sampaikan bertalian dengan Saudara Weston. Dia tidak saja mengusulkan pendapat-pendapat kepada saudara-saudara, akan tetapi telah membelanjakan di muka umum, pada sangkanya, demi kepentingan klas pekerja, dan yang diketahuinyaka akan sangat tidak disukai oleh klas pekerja.¹ Manifestasi keberanian moril sedemikian semestinyalah kita sekalian hormati setingginya. Saya harap bahwa, kendati gaya yang tidak dibunga-dibungai dari risalah saya ini, pada achir risalah ini Saudara Weston akan mendapatkan saya bersesuaian dengan apa yang pada hemat saya merupakan pikiran yang benar pada dasar dalil-dalil Saudara Weston itu, akan tetapi yang dalam bentuknya yang sekarang tidak boleh tidak saya anggap, dalam teori, keliru dan dalam praktek, berbahaya.

Sekarang saya akan segera mulai dengan masalah yang kita hadapi.

¹ John Weston, seorang buruh Inggris, mempertahankan dalil–dalam Dewan Umum Perhimpunan Kaum Buruh Internasional–bahwa upah-upah yang lebih tinggi tidak akan dapat memperbaiki keadaan kaum buruh dan bahwa serikatburuh-serikatburuh haruslah dianggap mempunyai pengaruh yang merusak.–Red.


I

PRODUKSI DAN UPAH

Alasan Saudara Weston sesungguhnya bersandar pada dua dalil: pertama, bahwa banyaknya produksi nasional adalah suatu hal yang tetap, suatu kwantitet atau besaran konstan, seperti yang mungkin dikatakan oleh ahli-ahli ilmu pasti; kedua, bahwa banyaknya upah riil, yaitu, upah diukur dengan banyaknya barang-barang yang dapat dibelikannya, adalah jumlah yang tetap, suatu besaran yang konstan.

Sekarang, pertanyaannya yang bertama teranglah salah. Tahun demi tahun saudara melihat, bahwa nilai dan banyaknya produksi bertambah, bahwa daya peoduktif dari kerja nasional bertambah, dan bahwa jumlah uang yang diperlukan untuk memperedarkan produksi yang bertambah ini selalu berubah. Apa yang benar pada achir tahun, dan pada berbagai tahun diperbandingkan satu sama lain, adalah benar untuk setiap hari rata-rata dalam tiap tahun. Jumlah atau besarnya produksi nasional selalu berubah. Ia bukanlah suatu besaran yang konstan akan tetapi variabel, dan selain daripada perubahan-perubahan dalam penduduk, semestinyalah begitu, oleh sebab adanya perubahan yang terus-menerus dalam akumulasi kapital dan daya produktif dari kerja. Adalah sama sekli benar, bahwa jika hari ini berlangsung kenaikan dalam tingkat umum upah, maka kenaikan tersebut, apa pun akibatnya lebih jauh, pada sendirinya, tidaklah segera mengubah jumlah produksi. Ia, pertama-tama, akan bertolak pada keadaan yang sedang berlaku. Akan tetapi jika sebelum kenaikan upah produksi nasional adalah variabel, dan tidak tetap, maka ia akan terus variabel dan tidak tetap sesudah ada kenaikan upah.

Akan tetapi misalkan jumlah produksi nasional konstan dan bukan variabel. Dalam hal ini pun, apa yang dianggap teman kita Weston sebagai kesimpulan yang logis masih tetap merupakan pernyataan yang tidak beralasan. Jika saya mempunyai jumlah tertentu, misalnya delapan, batas-batas absolut dari jumlah ini tidak menghalangi bagian-bagiannya untuk mengubah batas-batas relatif bagian-bagian itu. Jika laba enam dan upah dua, upah boleh bertambah menjadi enam dan laba berkurang menjadi dua, dan jumlah seluruhnya masih tetap delapan. Jadi jumlah tetap dari produksi sekali-kali tidak membuktikan adanya jumlah upah yang tetap. Maka bagaimana teman kita Weston membuktikan ketetapan ini? Dengan menyatakannya.

Akan tetapi Sekalipun diterima pernyataannya, ini akan melipat kedua jurusan, sedang dia hanya menekannya kesatu jurusan. Jika jumlah upah merupakan besaran yang konstan, maka ia tak dapat dinaikkan atau diturunkan. Maka, jika dalam memaksakan kenaikan upah sementara, kaum buruh berlaku tolol, kaum kapitalis, dalam memaksakan turunnya upah sementara, akan bertindak tidak kurang tololnya. Teman kita Weston tidak membantah bahwa, dalam keadaan tertentu, kaum buruh dapat memaksakan kenaikan upah, akan tetapi oleh sebab jumlahnya sudah kodratnya tetap, maka mestilah ia disusul oleh suatu reaksi. Di lain pihak, dia juga tahu bahwa kaum kapitalis dapat memaksakan turunnya upah, dan, sesungguhnya, selalu berusaha untuk memaksakannya. Sesuai dengan prinsip ketetapan upah, maka suatu reaksi seharusnya menyusul dalam hal ini, tidak kurang daripada dalam hal yang pertama. Karena itu kaum buruh yang mengadakan reaksi terhadap usaha, atau tindakan, penurunan upah, adalah bertindak tepat. Karena itu mereka akan bertindak tepat dengan memaksakan kenaikan upah, oleh sebab setiap reaksi terhadap penurunan upah adalah aksi untuk kenaikan upah. Sesuai dengan prinsip Saudara Weston sendiri tentang ketetapan upah, maka kaum buruh, dalam keadaan tertentu, seharusnyalah bergabung dan berjuang untuk kenaikan upah.

Jika dia membantah kesimpulan ini, maka dia melepaskan dalil, yang menimbulkan kesimpulan ini. Dia tidak boleh mengatakan bahwa jumlah upah adalah kwalitet konstan, akan tetapi bahwa, Meskipun upah tidak dapat dan tidak boleh meningkat, upah dapat dan boleh turun, bilamana kapital suka menurunkannya. Jika si kapitalis suka menyuruh saudara makan kentang sebagai ganti dari daging, dan haver sebagai ganti dari gandum, maka saudara harus menerima kemauannya sebagai hukum ekonomi politik, dan tunduk kepadanya. Jika di sesuatu negeri tingkat upah lebih tinggi daripada di negeri yang lain, umpamanya, di Amerika Serikat lebih tinggi daripada di Inggris, maka saudara harus menerangkan perbedaan tingkat upah ini oleh sebab adanya perbedaan antara kemauan kapitalis Amerika dan kemauan kapitalis Inggris, suatu cara yang pasti sangat menyederhanakan bukan saja studi tentang gejala-gejala ekonomi, akan tetapi tentang segala gejala lainnya.

Akan tetapi begitu pun, kita masih bisa bertonya, mengapa kemauan kapitalis Amerika berbeda dengan kemauan kapitalis Inggris? Dan untuk menjawab pertanyanya ini saudara harus melampaui wilayah kemauan. Seorang pendeta bisa menerangkan kepadaku bahwa Tuhan mau sesuatu hal di Perancis, dan hal lain di Inggris. Jika saya minta kepadanya untuk menerangkan keduaan kemauan ini, dia barangkali, dengan tiada malu, akan menjawab, bahwa Tuhan mau mempunyai satu kemauan di Perancis dan satu kemauan lain di Inggris. Akan tetapi teman kita Weston tentu bukan orang yang akan mengajudkan alasan, yang begitu mengingkari samasekali segala akal sehat.

Kemauan kapitalis sudah pasti adalah untuk mengambil sebanyak mungkin. Yang harus kita lakukan bukanlah membicarakan kemauannya, akan tetapi menyelidiki kekuasaannya, batas-batas kekuasaan itu, dan watak dari batas-batas itu.


II

PRODUKSI, UPAH, LABA

Piidato yang dibacakan Saudara Weston kepada kita bisa diringkaskan dalam beberapa kalimat.

Segala alasan-alasannya pada pokoknyna adalah sebagai berikut; Jika klas buruh memaksa klas kapitalis membayar lima shilling¹ dan bukan empat shilling dalam bentuk upah uang, maka kaum kapitalis akan membalas dengan nilai empat shilling dalam bentuk barangdagangan dan bukan nilai lima shilling. Klas buruh akan harus membayar lima shilling untuk sesuatu yang, sebelum kenaikan upah, mereka beli dengan empat shilling. Akan tetapi mengapa begitu? Mengapa kaum kapitalis hanya mengambalikan nilai empat shilling untuk lima shilling? Oleh sebab jumlah upah adalah tetap. Akan tetapi mengapa ia tetap pada barangdagangan senilai empat shilling? Mengapa tidak tiga, atau dua, atau jumlah apa saja yang lain? Jika batas jumlah upah ditetapkan dengan hukum ekonomi, terlepas baik dari kemauan kapitalis Maupun kemauan buruh, soal pertama yang harus Saudara Weston lakukan adalah menyatakan hukum itu dan membuktikannya. Dan lagi, dia harus membuktikan bahwa jumlah upah yang sesungguhnya dibayarkan pada setiap waktu senantiasa bersesuaian tepat dengan jumlah upah seharusnyna, dan tidak pernah menyimpang daripadanya. Jika, di lain pihak, batas tertentu dari jumlah upah didasarkan pada kemauan se-mata-mata dari kapitalis, atau batas-batas dari keserakahannya, maka ini adalah batas yang sewenang-wenang. Tidak ada sesuatu keharusan apa pun di dalamnya. Ia boleh diubah oleh kemauan kapitalis, dan karenanya boleh diubah bertentangan dengan kemauannya.

Saudara Weston mengilustrasikan teorinya dengan menerangkan kepada saudara bahwa jika sebuah basi berisikan sup dalam kwantitet tertentu, yang akan dimakan oleh sejumlah orang tertentu, maka bertambah lebarnya sendok-sendok tidaklah akan menghasilkan bertambah banyaknya sup. Dia harus membolehkan saya untuk menganggap gambaran ini sebagai sesuatu yang terlalu diliputi oleh alam sendok.² Ini mengingatkan saya agaknya kepada persamaan yang dipakai oleh Manenius Agrippa. Sewaktu kaum plebeyer Rumawi mogok terhadap kaum patrisia Rumawi, patrisia Agrippa mengatakan kepada mereka, bahwa perut patrisia memberi makan kepada anggota-anggota plebeyer dari tubuh politik. Agrippa tidak menunjukkan, bahwa orang memberi makan kepada anggota-anggota tubuh seseorang dengan mengisi perut orang lain. Saudara Weston sendiri melupakan, bahwa basi, darimana buruh mengambil makanan, teriti dengan seluruh hasilproduksi kerja nasional, dan bahwa apa yang menghalangi mereka untuk mengambil lebih banyak daripadanya bukanlah sempitnya basi Ataupun kurangnya isinya, akan tetapi semata-mata kecinya sendok-sendok mereka.

Dengan akal bagaimanakan kapitalis dimungkinkan mengembalikan nilai empat shilling untuk lima shilling? Dengan menaikkan harga barangdagangan yang dijualnya. Sekarang, apakah kenaikan dan pada umumnyia perubahan dalam harga barangdagangan, apakah harga barangdagangan itu sendiri, bergantung kepada kemauan melulu dari kapitalis? Ataukah, sebaiknya, ada syarat-syarat tertentu diperlukan untuk mewuyudkan kemauan itu? Jika tidak, turun-naik, pasang-surut yang tiada putusnya dari harga-harga pasar, menjadi teka-teki yang tak terpecahkan.

Karena kita misalkan, bahwa tidak ada perubahan apa pun terjadi, baik dalam daya produktif kerja, atau dalam jumlah kapital dan kerja yang dipakai, atau dalam nilai uang dalam mana nilai-nilai baranghasil-baranghasil diukur, akan tetapi hanya ada perubahan dalam tingkat upah, bagaimana kenaikan upah itu bisa mempengaruhi harga-harga barangdagangan? Hanya dengan mempengaruhi perimbangan sesungguhnya antara permintaan akan, dan penawaran dari, barangdagangan tersebut.

Adalah benar samasekali bahwa, ditinjau secara keseluruhan, klas buruh membelanjakan, dan harus membelanjakan penghasilannya untuk bahan-bahan kebutuhan. Kenaikan umum dalam tingkat upah jadinya akan menghasilkan kenaikan dalam permintaan akan, dan karenanya dalam harga-harga pasar dari, bahan-bahan kebutuhan. Kaum kapitalis yang memproduksi bahan-bahan kebutuhan ini akan terganti kerugiannya untuk kenaikan upah itu dengan naiknya harga-harga pasar dari barangdagangan mereka. Akan tetapi bagaimana dengan kapitalis-kapitalis lainnya, yang tidak menghasilkan bahan-bahan kebutuhan? Dan saudara jangan sangka, bahwa mereka merupakan golongan yang kecil. Jika saudara perhatikan, bahwa dua pertiga dari hasilproduksi nasional dihabiskan oleh seperlima dari penduduk–seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat baru-baru ini menyatakan hanya sepertujuh dari penduduk–saudara akan mengerti betapa sangat besarnya bagian dari produksi nasional yang harus dihasilkan dalam bentuk barang-barang mewah, atau ditukarkan untuk barang-barang mewah, dan betapa sangat besarnya jumlah barang-barang kebutuhan sendiri harus diboroskan untuk pelayan, kuda, kucing dan sebagainya, suatu pemborosan yang kita ketahui dari pengalaman menjadi selalu sangat terbatas dengan kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan.

Dan bagaimana jadinya dengan kedudukan itu kapitalis-kapitalis yang tidak menghasilkan bahan-bahan kebutuhan? Untuk penurunan tingkat laba, sebagai akibat dari kenaikan umum upah, mereka tidak bisa mendapat kompensasi dengan menaikkan harga barangdagangan mereka, oleh sebab permintaan akan barangdagangan tersebut tidak bertambah. Pendapatan mereka akan berkurang, dan dari pendapatan yang berkurang ini mereka akan harus membayar lebih banyak untuk jumlah yang sama bahan-bahan kebutuhan yang berharga lebih tinggi. Akan tetapi ini belumlah semuanya. Karena pendapatan mereka telah berkurang, mereka akan membelanjakan lebih sedikit untuk barang-barang mewah, dan sebab itu permintaan timbal-balik antara mereka akan barangdagangan masing-masing akan berkurang. Sebagai akibat dari permintaan yang berkurang ini, maka harga-harga barangdagangan mereka akan jatuh. Maka dalam cabang-cabang industri ini, tingkat laba akan jatuh, bukan saja dalam perbandingan sederhana terhadap kenaikan umum dari tingkat upah, akan tetapi dalam perbandingan majemuk terhadap kenaikan umum upah, kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan, dan turunnya harga barang-barang mewah.

Apakah yang jadi akibat dari perbedaan dalam tingkat-tingkat laba bagi kapital-kapital yang dipakai dalam berbagai cabang industri? Ya, akibat yang pada umumnya timbul bagaimana, dari sebab apa pun, tingkat laba rata-rata menjadi berbeda di berbagai lapangan produksi. Kapital dan kerja akan dipindahkan dari cabang-cabang yang kurang menguntungkan ke-cabang-cabang yang lebih menguntungkan; dan proses perpindahan ini akan berlangsung terus sampai penawaran dalam bagian industri yang satu telah meningkat sebanding dengan kenaikan permintaan, dan turun dalam bagian-bagian lain sesuai dengan turunnya permintaan. Dengan teryadinya perubahan ini, tingkat umum dari laba kembali merata di dalam berbagai cabang industri. Oleh karena seluruh kekoncangan pada mulanya timbul dari suatu perubahan saja dalam perbandingan permintaan akan, dan penawaran dari, berbagai barangdagangan, maka dengan berachirnya sebab, akibat akan berachir, dan harga-harga akan kembali kepada tingkat dan keseimbangan sebelumnya. Daripada dibatasi pada beberapa cabang industri, jatuhnya tingkat laba, sebagai akibat dari kenaikan upah akan menjadi umum. Sesuai dengan pengumpamaan kita, tidak akan terjadi perubahan dalam daya produktif dari kerja, juga tidak dalam keseluruhan jumlah produksi, akan tetapi jumlah produksi tertentu itu akan berubah bentuknya. Bagian terbesar dari hasilproduksi akan terdapat dalam bentuk barang-barang kebutuhan, sebagian kecil dalam bentuk barang-barang mewah, atau, apa yang pada hakekatnya sama, sebagian kecil akan ditukarkan dengan barang-barang mewah asing, dan dikonsumsikan dalam bentuk aslinya, atau, apa yang hakekatnya sama lagi, sebagian besar dari hasilproduksi dalam negeri akan ditukarkan dengan bahan-bahan kebutuhan asing sebagai ganti dari barang-barang mewah. Maka kenaikan umum dalam tingkat upah, sesudah adanya gangguan sementara terhadap harga-harga pasar, hanya berakibat turunnya tingkat laba secara umum tanpa adanya perubahan tetap dalam harga-harga barangdagangan.

Jika dikatakan kepada saya, bahwa dalam alasan sebelumnya saya menganggap seluruh upah-lebih dibelanjakan untuk bahan-bahan kebutuhan, saya menjawab, bahwa saya telah membuat pengumpamaan yang paling menguntungkan bagi pendapat Saudara Weston. Jika upah-lebih dibelanjakan untuk barang-barang yang sebelumnya tidak termasuk dalam konsumsi kaum pekerja, kenaikan riil dari dayabeli mereka tidaklah membutuhkan pembuktian. Akan tetapi karena ini hanya diperdapat dari adanya kemajuan dari upah, kenaikan dayabeli mereka itu harus tepat bersesuaian dengan penurunan dayabeli kaum kapitalis. Keseluruhan permintaan akan barangdagangan karenanya tidak akan meningkat, akan tetapi bagian-bagian dari permintaan itu akan berubah. Permintaan yang menaik disatu pihak akan diimbangi oleh permintaan yang menurun di lain pihak. Jadi dengan tinggal tetapnya keseluruhan permintaan, maka tidak ada perubahan sedikit pun akan berlangsung dalam harga-harga pasar barangdagangan.

Maka saudara sampai kepada kemusiklan ini: Atau upah-lebih dibelanjakan secara rata pada semua barang-barang konsumsi–dan peluasan permintaan di pihak klas buruh harus dikompensasi oleh merosotnya permintaan di pihak kaum kapitalis–atau upah-lebih hanya dibelanjakan kepada beberapa barang yang harga-harga pasarnya akan naik untuk sementara. Maka sebagai akibatnya, kenaikan dalam tingkat laba dalam beberapa cabang industri, dan kemerosotan tingkat laba dalam cabang-cabang industri lainnya akan menghasilkan perubahan dalam pembagian kapital dan kerja, yang berlangsung terus sampai persediaan dinaikkan sesuai dengan kenaikan permintaan dalam suatu bagian industri, dan diturunkan sesuai dengan berkurganyna permintaan dalam bagian-bagian industri lainnya. Atas pengumpamaan yang satu tidak akan terjadi perubahan dalam harga-harga barangdagangan. Atas pengumpamaan lainnya, sesudah beberapa kegoyangan harga-harga pasar, nilai-nilai-penukaran barang-dagangan akan merosot ke tingkat sebelumnya. Atas kedua pengumpamaan tersebut kenaikan umum dalam tingkat upah akan berkesudahan dengan tiada lain daripada penurunan umum tingkat laba.

Untuk membangkitkan daya chayal saudara, Saudara Weston meminta saudara untuk memikirkan kesukaran-kesukaran yang akan dihasilkan oleh kenaikan umum dari upah pertanian Inggris dari sembilan shilling menjadi delapanbelas shilling. Coba pikirkan, dia serukan, kenaikan hebat dalam permintaan akan bahan-bahan kebutuhan, dan sebagai akibatnya, kenaikan yang menakutkan dalam harga-harga mereka. Sekarang, saudara sekalian tahu, bahwa upah rata-rata dari buruh pertanian Amerika berjumlah lebih dari dua lipat daripada buruh pertanian Inggris, Sekalipun harga-harga hasil pertanian lebih rendah di Amerika Serikat daripada di Inggris, Sekalipun hubungan-hubungan umum dari kapital dan kerja sama di Amerika Serikat dengan di Inggris, dan Sekalipun jumlah produksi tahunan jauh lebih ketil di Amerika Serikat daripada di Inggris. Jadi, mengapa teman kita itu membunyikan leonceng-tanda-bahaya ini? Semata-mata untuk menyingkirkan persoalan sebenarnya yang di hadapan kita. Kenaikan tiba-tiba upah dari sembilan shilling menjadi delapanbelas shilling akan merupakan kenaikan tiba-tiba sebanyak 100 persen. Sekarang, kita samasekali tidak membicarakan soal apakah tingkat umum dari upah di Inggris dapat tiba-tiba dinaikkan dengan 100 persen. Kita samasekali tidak berurusan dengan besarnya kenaikan, yang dalam setiap hal praktis mesti tergantung pada, dan sesuai dengan, keadaan-keadaan tertentu. Kita hanya harus memeriksa bagaimana kenaikan umum dalam tingkat upah, Sekalipun jika terbatas pada satu persen, akan berpengaruh.

Dengan mengabaikan kenaikan chayalan sebanyak 100 persen dari teman Weston, saya akan meminta perhatian saudara kepada kenaikan upah sesungguhnya yang berlangsung di Britania Raya dari tahun 1849 sampai 1859.

Saudara sekalian mengetahui Undang-Undang Sepuluh Jam, atau jelasnya Undang-Undang Sepuluh Setengah Jam, yang diberlakukan sejak tahun 1848. Ini adalah salahsatu dari perubahan-perubahan ekonomi terbesar yang telah kita saksikan. Ini merupakan kenaikan tiba-tiba dan terpaksa dari upah, tidak dalam beberapa cabang industri lokal, akan tetapi dalam cabang-cabang industri yang terutama, dengan mana Inggris menguasai pasar-pasar dunia. Ini adalah kenaikan upah dalam keadaan yang samasekali tidak baik. Dr. Ure, Profesor Senior, dan semua jurubicara ekonomi resmi lainnya dari klas tengah membuktikan, dan saya harus berkata atas dasar-dasar yang lebih kuat daripada teman kita Weston, bahwa ini akan membunyikan lonceng tanda mati bagi industri Inggris. Mereka membuktikan, bahwa ini bukan saja berarti kenaikan sederhana dari upah, akan tetapi kenikan upah yang dimulai oleh, dan didasarkan pada, berkurangnya jumlah kerja yang dipakai. Mereka menyatakan, bahwa jam duabelas yang saudara mau ambil dari kapitalis adalah justru jam satu-satunya darimana ia mempereoleh laba. Mereka mengancam, bahwa akan ada pengurangan akumulasi, kenaikan harga-harga, hilangnya pasar-pasar, pembatasan produksi, reaksi sebagai akibatnya terhadap upah, dan achirnya keruntuhan. Sesungguhnya, mereka menyatakan Undang-Undang Maksimum³ Maksimilian Robespierre merupakan soal ketiyl dibandingkan dengannya; dan mereka benar dalam suatu artian tertentu. Dan, bagaimana hasilnya? Ialah: Kenaikan upah uang dari pekerja-pekerja pabrik, kendeti pun ada pembatasan harikerja, pertambahan besar dalam jumlah tenaga pabrik yang dipekerjakan, penurunan terus-menerus dalam harga-harga hasil produksi mereka, perkembangan yang menakjubkan dalam daya produktif dari kerja mereka, perluasan progresif yang luarbiasa dari pasar-pasar untuk barangdagangan mereka. Di Manchester, dalam tahun 1860, pada rapat dari Perhimpunan untuk Memajukan Ilmu, saya dengan sendiri Tn. Newman mengakui, bahwa dia, Dr. Ure, Senior, dan semua pemuka resmi ilmu ekonomi lainnya adalah salah, sedang naluri rakyat adalah benar. Saya sebut Tn. W. Newman,⁴ bukan Profesor Francis Newman, karena dia menempati kedudukan mulia dalam ilmu ekonomi, sebagai penyokong, dan penerbit dari, buku Tn. Thomas Tooke Sejarah Harga-Harga, karya yang bagus itu yang mengusut sejarah harga-harga dari tahun 1793 sampai 1856. Jika pikiran tetap dari teman kita Weston tentang jumlah tetap upah, jumlah tetap produksi, tingkat tetap daya produktif dari kerja, kemauan tetap dan permanen dari kaum kapitalis, dan semua hal-hal tetap dan pasti lainnya adalah benar, maka ramalan yang muram dari Prosor Senior adalah benar, dan, Robert Owen–yang sudah dalam tahun 1816 mengumumkan pembatasan umum dari harikerja sebagai langkah persiapan pertama menuyu emansipasi klas buruh dan nyatanya, berlawanan dengan purbasangka umum, melaksanakannya atas resiko sendiri dipabrik kapasnya di New Lanark–adalah salah.

Dalam masa yang sama, selama mana pemberlakuan Undang-Undang Sepuluh Jam, dan kenaikan upah sebagai akibatnya, berlangsung, maka teryadilah di Britania Raya, oleh karena sebab-sebab yang tidaklah pada tempatnya untuk disebutkan di sini, kenaikan umum upah-upah pertanian.

Sesungguh pun tidak diperlukan untuk tujuan saya yang terdekat, namun untuk tidak menyesatkan saudara, saya akan memberikan beberapa keterangan pendahuluan.

Jika seseorang mendapat upah mingguan dua shilling, dan jika upahnya naik menjadi empat shilling, tingkat upah akan naik dengan 100 persen. Ini nampaknya merupakan suatu hal yang sangat bagus jika dinyatakan sebagai kenaikan tingkat upah, Sekalipun yumlah upah sesungguhnya, empat shilling seminggu, masih akan tetap merupakan upah yang membikin orang sengsara, upah yang membikin orang mati kelaparan. Karenanya, saudara janganlah membiarkan diri saudara terseret oleh yumlah persen yang kedengaran hebat mengenai tingkat upah. Saudara harus selalu bertanya, Berapa yumlah semula?

Dan lagi, saudara akan mengerti, bahwa jika ada sepuluh orang masing-masing menerima 2s. seminggu, lima orang masing-masing menerima 5s., dan lima orang menerima 11s. seminggu, keduapuluh orang itu ber-sama-sama akan menerima 100s., atau £5, seminggu. Maka jika suatu kenaikan, umpamanya, 20 persen dari yumlah keseluruhan upah-upah mingguan mereka teryaji, maka akan ada kenaikan dari £5 menjadi £6. Secara pukul rata, kita dapat berkata, bahwa tingkat umum upah telah naik dengan 20 persen, Sekalipun, sesungguhnya, upah dari sepuluh orang tetap tidak berubah, upah dari sekumpulan lima orang meningkat dari 5s sampai 6s saja, dan upah dari kumpulan lima orang lainnya dari 55s. menjadi 70s. Separuh dari orang-orang itu samasekali tidak akan memperbaiki kedudukannya, seperempat akan memperbaikinya dengan tingkat yang tipis sekali, dan hanya seperempat akan sungguh-sungguh mengalami perbaikan. Namun, dihitung secara pukul rata, yumlah keseluruhan upah dari keduapuluh orang itu akan bertambah dengan 20 persen, dan mengenai soal kapital keseluruhannya yang mempekerjakan mereka, dan harga-harga barangdagangan yang mereka produksikan, itu akan persis sama seperti dalam hal jika semua mempunyai bagian yang sama dalam kenaikan rata-rata dari upah. Berkenaan dengan kerjia pertanian, karena tingkat upah sangat berbeda di berbagai kabupaten di Inggris dan Skotlandia, kenaikan itu mengenai mereka dengan sangat berbeda.

Achirnya, selama masa berlangsungnya kenaikan upah itu, pengaruh-pengaruh yang berlawanan bekerja, seperti pajak-pajak baru sebagai akibat dari perang Rusia, pengrusakan secara luas dari perumahan buruh pertanian, dan sebagainya.

Setelah pendahuluan sebanyak itu, saya lalu menyatakan, bahwa dari tahun 1849 sampai 1859, telah berlangsung kenaikan sebanyak kira-kira 40 persen dalam tingkat rata-rata dari upah pertanian di Britania Raya. Saya dapat memberikan detail secara luas sebagai bukti daripada pernyataan saya, akan tetapi untuk maksud sekarang saya rasa cukuplah menunduk pada karangan yang teliti dan kritis yang dibaryakan dalam tahun 1860 oleh mendiang Tn. John C. Morton pada Perhimpunan Kebudayaan London mengenai Tenaga-Tenaga Yang Dipakai dalam Pertanian. Tn. Morton memberikan angka-angka, dan rekening-rekening dan dokumen-dokumen asli lainnya, yang dikumpulkannya dari kira-kira seratus orang petani, yang berdiam diduabelas kabupaten Skotlandia dan tigapuluhlima kabupaten Inggris.

Sesuai dengan pendapat teman kita Weston, dan diambil ber-sama-sama dengan kenaikan serentak dalam upah pekerja-pekerja pabrik, seharusnya berlangsung kenaikan hebat dalam harga-harga hasil pertanian selama masa 1849 sampai 1859. Akan tetapi apa kenyataan? Kendati ada perang Rusia, dan panenan tak baik secara ber-turut-turut dari tahun 1854 sampai 1856, harga rata-rata dari gandum yang merupakan hasil pertanian utama dari Inggris, jatuh dari kira-kira £3 per quarter⁶ untuk tahun-tahun 1838 sampai 1848 menjadi kira-kira £2 10s. per quarter untuk tahun-tahun 1849 sampai 1859. Ini merupakan penurunan harga gandung sebanyak lebih dari 16 persen, bersamaan dengan kenaikan rata-rata upah pertanian sebanyak 40 persen. Selama masa yang sama, jika kita bandingkan achirnya dengan awalnya, tahun 1859 dengan 1849, tampak berkurgangnya fakir-miskin tercatat resmi dari angka 934.419 menjadi 860.470, yaitu dengan perbedaan sebanyak 73.949; saya akui, suatu pengurangan yang sangat kecil, dan yang kembali lenyap dalam tahun-tahun berikutnya, namun tetap suatu pengurangan.

Kiranya dapat dikatakan, bahwa menyusul penghapusan Undang-Undang Gandum, impor gandum luar negeri lebih daripada lipat dua selama masa tahun 1849 sampai 1859, dibandingkan dengan masa tahun 1838 sampai 1848. Dan bagaimana kalau memang begitu? Dari pendirian saudara Weston orang kiranya akan mengharapkan, bahwa permintaan yang tiba-tiba, besar dan terus bertambah ini, pada pasar-pasar luar negeri, semestinya melonjakkan harga-harga hasil pertanian di sana sampai ke tingkat yang menakutkan, oleh karena pengaruh kenaikan permintaan tetap tinggal sama, biar datangnya dari luar atau dari dalam. Apa kenyataannya? Selain dari selama beberapa tahun yang panennya gagal, selama seluruh masa itu kejatuhan yang sangat cetlaka dari harga gandum selalu merupakan pokok pembicaraan di Perancis; orang-orang Amerika ber-kali-kali terpaksa membakar kelebihan hasilproduksi mereka; dan Rusia, jika kita harus mempercayai Tn. Urquhart, mendorong pechahna Perang Dalamnegeri di Amerika Serikat oleh sebab ekspor hasil-hasil pertaniannya dilumpuhkan oleh persaingan orang-orang Amerika di-pasar-pasar Eropa.

Dikembalikan pada bentuk abstrak, alasan-alasan Saudara Weston akan menjadi sbb.: Setiap kenaikan permintaan selalu terjadi atas dasar jumlah produksi tertentu. Karenanya, ia tak pernah dapat memperbanyak persediaan barang-barang yang diminta, akan tetapi hanya dapat meninggikan harga-harga-nya dalam mata-uang. Sekarang tinjauan yang paling umum menunjukkan, bahwa pertambahan permintaan, dalam beberapa hal, akan membiarkan harga-harga pasar dari barangdagangan samasekali tak berubah, dan, dalam hal-hal lain, akan menyebabkan kenaikan sementara harga-harga pasar diikuti oleh pertambahan persediaan, diikuti oleh pengurangan harga-harga sampai kepada tingkatnya yang semula, dan dalam banyak hal di bawah tingkatnya yang semula. Apakah kenaikan permintaan bersumber pada upah-lebih, atau sesuatu sebab lain, ini samasekali tidak mengubah syarat-syarat persoalan. Dari sudut pendirian Saudara Weston gejala umum sama sukarnya untuk dijelaskan seperti gejala yang terjadi, dalam keadaan istimewa dengan adanya kenaikan upah. Karenanya, alasannya tidak mempunyai hubungan chusus apa pun dengan soal yang kita perbincangkan. Ini hanya menyatakan kebingungannya untuk menjelaskan hukum-hukum dengan mana pertambahan permintaan menghasilkan pertambahan persediaan, dan bukan achrnya kenaikan harga-harga pasar.

¹ Mata-uang Inggris ialah: pound sterling (£), shilling (s) dan pence (d) £1 = 20 s dan 1s = 12d–Red. JP.

² Dalam bahsa Inggris terdapat permainan kata: spoon = sendok; spoony = pandir, tolol—Red. JP.

³ Undang-Undang Maksimum: Diberlakukan dalam tahun 1793, sewaktu revolusi burduyis Perancis, oleh Konvensi Yakobin. Di dalamnya ditetapkan batas-batas harga tertentu untuk barangdagangan dan upah maksimum.–Red.

⁴ Suatu kesilapan di pihak Marx. Ia maksudkan ahli-ekonomi Inggris Newmarch–Red.

⁵ 1 quarter = 2,908 H. L.—Red. JP.


III

UPAH DAN PEREDARAN UANG

Pada hari kedua dari perdebatan, teman kita Weston, membungkus pernyataan-pernyataannya yang lama dalam bentuk-bentuk baru. Dia berkata: Sebagai akibat kenaikan umum upah uang, akan dibutuhkan lebih banyak mata-uang untuk membayar upah yang sama. Karena mata-uang sudah tetap, bagaimana saudara dapat membayarkan pertambahan upah uang itu, dengan mata-uang yang tetap ini? Pertama kali, kesukaran timbul dari jumlah tetap barangdagangan yang tersedia bagi pekerja, kendati adanya kenaikan upahnya dalam uang; sekarang ia timbul dari pertambahan upah uang, kendati adanya jumlah tertentu dari barangdagangan. Sudah barang tentu, jika saudara menolak dogmanya yang semula, kesulitan-kesulitannya yang timbul dari situ akan lenyap.

Tetapi, saya akan menunjukkan, bahwa soal mata-uang ini samasekali tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan yang kita hadapi.

Di negeri saudara mekanisme pembayaran adalah jauh lebih sempurna daripada disetiap negeri Eropa lainnya. Berkat luasnya dan terpusatnya sistim bank, jauh lebih sedikit mata-uang dibutuhkan untuk mengedarkan jumlah nilai yang sama, dan untuk melaksanakan perdagangan dengan jumlah yang sama atau lebih banyak. Umpamanya, mengenai upah, pekerja pabrik Inggris membayarkan upahnya secara mingguan kepada pemilik toko, yang mengirimkannya secara mingguan kepada bankir, yang mengembalikannya secara mingguan kepada pengusaha, yang kembali membnaayarkannya kepada pekerja, dan seterusnya. Dengan cara ini upah tahunan seorang pekerja, umpamanya £52, bisa dibayarkan dengan satu mata-uang ponsterling yang berputar setiap minggu dalam lingkaran yang sama. Dan di Inggris pun mekanisme pembayaran kurang sempurna daripada di Skotlandia, dan tidak sama sempurnanya di mana-mana; maka itu, umpamanya, kita dapati, bahwa dalam beberapa daerah pertanian, dibandingkan dengan daerah-daerah pabrik semata-mata, jauh lebih banyak mata-uang dibutuhkan untuk mengedarkan jumlah nilai yang jauh lebih kecil.

Jika saudara menyeberangi Selat Inggris, saudara akan melihat, bahwa upah uang adalah jauh lebih rendah daripada di Inggris, akan tetapi bahwa upah ini diedarkan di Jerman, Italia, Swis, dan Perancis dengan jumlah mata-uang yang jauh lebih banyak. Mata-uang pon sterling yang sama tidaklah akan begitu cepat tertampung oleh bankir atau dikembalikan kepada kapitalis industri; dan, karenanya, bukan satu mata-uang pon sterling yang mengedarkan uang sebanyak £52 setahun, tapi saudara, barangkali, membutuhkan tiga mata-uang pon sterling untuk mengedarkan upah tahunan sebanyak £25. Jadi, dengan membandingkan negara-negara daratan Eropa dengan Inggris, saudara akan segera melihat, bahwa upah uang yang rendah bisa membutuhkan mata-uang yang jauh lebih banyak untuk pengedarannya daripada upah uang yang tinggi, dan bahwa ini sesungguhnya hanyalah suatu soal teknis, yang asing samasekali dari persoalan kita.

Menurut perkiraan terbaik yang saya ketahui, pendapatan tahunan kaum buruh negeri ini boleh ditaksir sejumlah £250.000.000. Jumlah yang sangat banyak ini diedarkan dengan kira-kira £3.000.000. Umpamakanlah terjadi kenaikan upah sebanyak 50 persen. Maka, bukan £3.000.000 mata-uang, tapi £4.500.000 yang akan dibutuhkan. Oleh karena sebagian yang sangat besar dari perbelanjaan se-hari-hari dari pekerja dilunasi dengan uang perak dan tembaga, artinya, hanya dengan tanda uang saja, yang nilai relativfnya terhadap emas ditentukan semau-maunya oleh undang-undang, seperti halnya uang kertas yang tak-datap-ditukarkan, maka kenaikan upah uang dengan 50 persen, dalam keadaan ekstrim, akan membutuhkan tambahan peredaran mata-uang pon sterling, umpamanya, sebanyak satu juta. Satu juta, yang kini diam, dalam bentuk logam murni atau mata-uang, dalam tempat penyiimpanan Bank Inggris, atau bankir-bankir perseorangan, akan beredar. Akan tetapi juga pengeluaran kecil yang disebabkan oleh penambahan pembuatan mata-uang atau penambahan aus dari sejuta itu dapat dihindarkan, dan sesungguhnya akan dihindarkan, jika sesuatu geseran sampai terjadi karena kekurangan mata-uang tambahan. Saudara sekalian mengetahui, bahwa uang negeri ini terbagi atas dua bagian yang besar. Satu macam, terdiri atas uang-kertas-bank dari berbagai ukuran, dipakai dalam transaksi-transaksi antara pedagang dengan pedagang, dan dalam pembayaran-pembayaran besar dari konsumen-konsumen kepada pedagang, sedang macam uang lainnya, mata-uang logam, beredar juga dalam pembayaran-pembayaran yang lebih besar untuk segala jumlah-jumlah di bawah £5. Jika besok uang kertas £4, atau uang-kertas £3, atau uang-kertas £2 dikeluarkan, maka emas yang mengisi saluran-saluran peredaran ini akan segera terhalau daripadanya, dan mengalir ke-saluran-saluran di mana ia dibutuhkan karena adanya kenaikan upah uang. Jadi, tambahan sejuta yang dibutuhkan oleh karena adanya kenaikan upah dengan 50 persen akan disediakan tanpa penambahan satu mata-uang pon sterling pun. Hasil yang sama dapat diwujudkan, tanpa penambahan selembat uang-kertas-bank pun, dengan penambahan peredaran wesel, seperti terjadi di Lancashire untuk waktu yang sangat lama.

Jika kenaikan umum dalam tingkat upah, umpamanya, sebanyak 100 persen, seperti yang diumpamakan oleh Saudara Weston terjadi pada upah-upah pertanian, akan menghasilkan kenaikan besar dalam harga-harga barang-barang kebutuhan, dan, menurut pandangannya, membutuhkan tambahan jumlah uang yang tak dapat diperoleh, maka penurunan umum dari upah mestilah menghasilkan akibat yang sama, dalam ukuran yang sama, dalam jurusan yang berlawanan. Nah, saudara sekalian tahu, bahwa tahun-tahun 1858 sampai 1860 merupakan tahun-tahun yang paling makmur untuk industri kapas, dan bahwa chususnyia tahun 1860 berdiri, dalam hal ini, sebagai tahun yang tak ada bandingannya dalam riwayat perdagangan, sedang sementara itu semua cabang-cabang industri lainnya sangat berkembang. Upah pekerya-pekerya kapas dan semua pekerja lainnya yang berhubungan dengan lapangan-kerja mereka, pada tahun 1960, adalah lebih tinggi daripada waktu kapan pun sebelumnya. Krisis Amerika muncul, dan upah-upah itu keseluruhannya tiba-tiba diturunkan sampai kepada seperempat jumlahna yang semula. Ini akan merupakan kenaikan 300 persen jika berlaku dalam jurusan yang berlawanan. Jika upah naik dari lima menjadi duapuluh, kita mengatakan, bahwa ia naik dengan 300 persen; jika ia jatuh dari duapuluh menjadi lima, kita katakan, bahwa ia jatuh dengan 75 persen, akan tetapi jumlah kenaikan dalam hal yang satu dan jumlah penurunan dalam hal yang lain akan sama, yaitu, limabelas shilling. Pada waktu itu, ini merupakan perubahan se-konyong-konyong dalam tingkat upah yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan bersamaan dengan itu meluas meliputi sejumlah pekerja yang, jika kita hitung semua pekerja yang bukan saja langsung bekerja dalam, akan tetapi secara tak langsung tergantung kepada industri kapas, adalah lebih besar dengan separuh daripada jumlah buruh pertanian. Apakah harga gandum jatuh? Ia naik, dari angka rata-rata tahunan sebanyak 47s.8d. per quarter selama tiga tahun 1858-‘60, sampai keangka rata-rata tahunan sebanyak 55s.10d. per quarter selama tiga tahun 1861-1863. Mengenai uang, dibuat mata-uang dalam tahun 1861, sebanyak £8.673.232 berlainan dengan £3.378.102 dalam tahun 1860. Adalah benar, bahwa peredaran uang-kertas-bank dalam tahun 1861 kurang sebanyak £1.319.000 daripada di tahun 1860. Potonglah ini. Maka akan tinggal kelebihan uang untuk tahun 1861, dibandingkan dengan tahun kemakmuran, 1860, sebanyak £3.976.130, atau kira-kira £4.000.000; akan tetapi cadangan emas dalam Bank Inggris bersamaan dengan itu berkurang, tidak dalam perbandingan yang sama benar, akan tetapi dalam ukuran yang berdekatan.

Bandangkanlah tahun 1862 dengan 1842. Selain daripada kenaikan yang sangat besar dalam nilai dan jumlah barangdagangan yang diedarkan, dalam tahun 1862 kapital yang dibayarkan dalam transaksi-transaksi teratur untuk saham-saham, pinjaman-pinjaman, dsb., untuk kereta-api di Inggris dan Wales saja berjumlah £320.000.000, suatu jumlah yang nampaknya akan menakjubkan dalam tahun 1842. Namun, jumlah keseluruhan dari mata-uang dalam tahun 1862 dan 1842 hampir-hampir sama saja, dan umumnyia saudara akan mendapatkan kecenderungan akan pengurangan mata-uang secara progresif di hadapan nilai yang bertambah dengan sangat besar, bukan saja dari barangdagangan, akan tetapi dari transaksi-transaksi moneter umumnya. Dari pendirian teman kita Wetson, ini merupakan teka-teki yang tak terpecahkan.

Dengan memandang ke dalam masalah ini agak lebih dalam, ia akan mendapatkan bahwa, terpisah samasekali dari upah, dan mengumpamakan upah itu sebagai hal yang tetap, nilai dan massa barangdagangan yang diedarkan, dan umumnyia jumlah transaksi-transaksi moneter yang dilaksanakan, berbeda saban hari; bahwa jumlah pembayaran-pembayaran yang direalisasi tanpa perantaraan uang, dengan pemakaian wesel, cek, buku kredit, lembaga clearing, berbeda se-hari-hari; bahwa, mengenai uang logam yang sesungguhnya dibutuhkan, perimbangan antara mata-uang dalam peredaran dengan mata-uang dan logam murni dalam cadangan atau yang menggeletak dalam tempat-tempat penyimpanan bank berbeda saban hari; bahwa jumlah logam murni yang diserap oleh peredaran nasional dan jumlah yang dikirim keluarnegeri untuk peredaran internasional berbeda saban hari. Ia akan mendapatkan, bahwa dogma-dogmanya tentang uang yang tetap adalah kekeliruan yang sangat besar, bertentangan dengan gerakan se-hari-hari. Ia akan menyelidiki hukum-hukum yang memungkinkan mata-uang menyesuaikan diri kepada keadaan yang begitu berubah terus-menerus, dan bukan menjadikan salahpengertiannya tentang hukum-hukum mata-uang sebagai alasan untuk menentang kenaikan upah.


IV

PENAWARAN DAN PERMINTAAN

Teman kita Weston menerima peribahasa Latin, bahwa repetitio est mater studiorum, yang berarti, bahwa pengulangan adalah ibu dari studi, dan karenanya ia mengulangi dogmanya yang semula kembali dalam bentuk baru bahwa penyusutan uang, yang diakibatkan oleh kenaikan upah, akan menyebabkan berkurangnya kapital, dan sebagainya. Sesudah mengupas pikirannya yang aneh tentang uang itu, saya anggap samasekali tidak perlu untuk membahas akibat-akibat chayalan yang dichayalkannya sebagai hal-hal yang muncul dari kecelakaan mata-uang yang dichayalkannya. Saya segera akan terus mengembalikan dogmanya yang satu dan itu juga, yang diulangi dalam begitu banyak bentuk yang ber-beda-beda, pada bentuk teorinya yang paling sederhana.

Caranya yang tidak kritis dengan mana ia memperlakukan masalahnya akan menjadi jelas dari satu ciatatn saja. Ia mengemukakan pendirian, melawan kenaikan upah, atau melawan upah yang tinggi sebagai akibat dari kenaikan itu. Sekarang, saya tanya kepadanya, Apa itu upah yang tinggi dan apa upah rendah? Mengapa, umpamanya, lima shilling seminggu upah yang tinggi? Jika lima adalah rendah dibandingkan dengan duapuluh, duapuluh adalah lebih rendah lagi dibandingkan dengan duaratus. Jika seseorang akan mengajarkan tentang termometer, dan mulai dengan berpidato tentang derajat tinggi dan rendah, ia tidak akan memberi pengetahuan apa pun. Ia harus pertama-tama menerangkan kepadaku bagaimana titik-beku didapat, dan bagaimana titik-didih, dan bagaimana titik-titik standar ini ditetapkan oleh hukum-hukum alam, bukan oleh chayal pedagang atau pembuat termometer. Sekarang, mengenai upah dan laba, Saudara Weston bukan saja gagal untuk menyimpulkan titik-titik standar seperti itu dan hukum-hukum ekonomi, akan tetapi ia malahan tidak merasa kebutuhan untuk memperhatikannya. Dia memuaskan dirinya dengan penerimaan istilah-istilah pasaran populer tentang rendah dan tinggi sebagai sesuatu yang mempunyai arti tetap, Sekalipun adalah terang-benderang, bahwa upah hanya dapat dikatakan tinggi atau rendah jika dibandingkan dengan suatu standar dengan mana dapat diukur besarnya.

Ia tidak akan sanggup menerangkan kepadaku mengapa jumlah uang tertentu diberikan untuk jumlah kerja tertentu. Jika dia sekiranya menjawab saya, “Ini ditetapkan oleh hukum penawaran dan permintaan”, saya akan tanyakan kepadanya, pertama-tama, dengan hukum apa penawaran dan permintaan itu sendiri diatur. Dan, jawaban sedemikian akan segera membuatnya tak berdaya. Hubungan antara penawaran dan permintaan kerja senantiasa mengalami perubahan, dan beserta itu harga-harga pasar kerja. Jika permintaan melampaui permintaan upah jatuh, Meskipun dalam keadaan seperti itu mungkin perlu untuk menguji keadaan sebenarnya dari permintaan dan penawaran, umpamanya, dengan suatu pemogokan atau dengan cara lain. Aka tetapi jika saudara menerima penawaran dan permintaan sebagai hukum yang mengatur upah, adalah sama kanak-kanaknya dan sia-sianya untuk mengangkat suara menentang kenaikan upah, oleh sebab, menurut hukum tertinggi yang saudara jadikan sandaran, kenaikan upah periodik adalah sama perlunya dan sahnya seperti penurunan upah periodik. Jika saudara tidak menerima penawaran dan permintaan sebagai hukum yang mengatur upah, saya kembali mengulangi pertanyanya, mengapa jumlah uang tertentu diberikan untuk jumlah kerja tertentu?

Akan tetapi untuk meninjau persoalan secara lebih luas: Saudara akan samasekali keliru mengirakan, bahwa nilai kerja atau barangdagangan apa pun lainnya pada achirnya ditetapkan oleh penawaran dan permintaan. Penawaran dan permintaan tidak mengatur apa-apa kecuali turun-naikenya sementara harga-harga pasar. Ia akan menjelaskan kepada saudara mengapa harga pasar sesuatu barangdagangan naik di atas atau turun di bawah nilaiinya“ akan tetapi ia tidak akan pernah dapat menjelaskan nilai itu sendiri. Umpamakan bahwa penawaran dan permintaan seimbang, atau, seperti dikatakan oleh para ahli-ekonomi saling menutupi satu sama lain. Nah, pada saat kekuatan-kekuatan yang bertentangan ini menjadi sama, keduanya melumpuhkan satu sama lain, dan berhenti bekerja dalam jurusan yang sama atau lainnya. Pada ketika penawaran dan permintaan mengimbangi satu sama lain, dan karenanya berhenti bekerja, harga pasar sesuatu barangdagangan bertepatan dengan nilai sebenarnya, dengan harga standar di sekitar mana harga-harga pasarnya bergoyang. Maka dalam menyelidiki sifat dari nilai itu, kita samasekali tidak ada keperluan dengan akibat-akibat sementara dari penawaran dan permintaan atas harga-harga pasar. Hal yang sama berlaku bagi upah dan harga semua barangdagangan lainnya.


V

UPAH DAN HARGA

Dikembalikan pada pertanyaan teoritisnya yang paling sederhana, semua alasan teman kita itu tersimpul dalam satu dogma ini: “Harga barangdagangan ditentukan atau diatur oleh upah.”

Saya bisa minta sokongan dari pengamatan praktis untuk memberi penyaksian terhadap pandangan keliru yang sudah kuno dan hancur itu. Saya bisa menerangkan kepada saudara, bahwa pekerya-pekerya pabrik, buruh tambang, buruh pembuatan kapal Inggris, dan sebagainya, yang kerjanya diharga agak tinggi, oleh karena murahnya hasilproduksi maka mereka menjual di bawah harga semua bangsa lain; sedang buruh pertanian Inggris, umpamanya, yang kerjanya agak diharga rendah, menjual di atas harga pada hampir setiap bangsa lainnya oleh sebab mahalnya hasilproduksinya. Dengan membandingkan barang demi barang di dalam negeri yang sama, dan barangdagangan dari berbagai negeri, saya bisa menunjukkan, selain dari beberapa pengecualian yang lebih banyak nampknya saja daripada sesungguhnya begitu, bahwa rata-rata kerja yang berharga-tinggi menghasilkan barangdagangan berharga-rendah, dan kerja berharga-rendah menghasilkan barangdagangan berharga-tinggi. Ini, sudah barang tentu tidak akan membuktikan bahwa harga tinggi kerja dalam contoh yang pertama dan harganya yang rendah dalam contoh yang lain, masing-masing merupakan sebab-sebab dari akibat-akibat yang bertentangan diametral itu, akan tetapi biar Bagaimanapun juga ia akan membuktikan bahwa harga barangdagangan tidak ditetapkan oleh harga kerja. Namun, adalah samasekali berlebihan bagi kita untuk memaki cara empiris ini.

Barangkali bisa disangkal bahwa Saudara Weston pernah mengadukkan dogma: “Harga barangdagangan ditetapkan atau diatur oleh upah.” Sesungguhnya, ia tak pernah merumuskannya demikian. Sebaliknya ia berkata, bahwa laba dan sewa juga merupakan bagian-bagian-penyusun dari harga-harga barangdagangan, oleh karena dari harga-harga barangdaganganlah harus dibayarkan tidak saja upah pekerjia, akan tetapi juga laba kapitalis dan sewa bagi tuantanah. Tetapi, bagaimana pada pendapatnya harga-harga dibentuk? Pertama-tama dengan upah. Kemudian suatu tambahan presentase digabungkan kepada harga atas nama kapitalis, dan suatu tambahan presentase lagi atas nama tuantanah. Umpamakan upah kerja yang dipekerjakan dalam produksi barangdagangan adalah sepuluh. Jika tingkat lama 100 persen, maka kepada upah yang dibayarkan, sikapitalis akan menambahkan sepuluh, dan jika tingkat sewa adalah juga 100 persen dari upah, maka akan ditambahkan sepuluh lagi, dan harga keseluruhan dari barangdagangan itu akan beryumlah tigapuluh. Akan tetapi penetapan harga sedemikian hanyalah merupakan penetapannya se-mata-mata dengan upah. Jika upah dalam contoh tersebut naik menjadi duapuluh, harga barangdagangan itu akan naik menjadi enampuluh, dan begitu seterusnya. Karenanya semua penulis yang semestinya sudah diberi pensiun, tentang ekonomi politik, yang mengemukakan dogma, bahwa upah mengatur harga, telah mencoba membuktikannya dengan memperlakukan laba dan sewa hanya sebagai tambahan presentase atas upah. Sudah barang tentu, seorang pun dari mereka tidak sanggup mengembalikan batas-batas persentase-persentase itu pada sesuatu hukum ekonomi. Sebaliknya, mereka nampaknya mengira bahwa laba ditentukan oleh tradisi, kebiasaan, kemauan dari sikapitalis, atau se-wenang-wenang. Jika mereka menyatakan, bahwa ia ditentukan oleh persaingan antara kaum kapitalis, mereka tidak menerangkan apa-apa. Persaingan itu niscaya menyama-ratakan berbagai tingkat laba dalam berbagai lapangan pekerjaan, atau mengembalikannya pada satu tingkat rata-rata, akan tetapi ia tidak akan dapat menentukan tingkat itu sendiri, atau tingkat umum dari laba.

Apa yang kita maksudkan dengan mengatakan bahwa harga barangdagangan ditetapkan oleh upah? Karena upah hanya merupakan nama bagi harga kerja, kita maksudkan bahwa harga barangdagangan ditentukan oleh harga kerja. Oleh karena “harga” adalah nilai-penukaran–dan dalam berbicara tentang nilai saya selalu berbicara tentang nilai-penukaran–adalah nilai-penukaran dinyatakan dalam uang, soalnya berujud seperti ini, bahwa “nilai barangdagangan ditetapkan oleh nilai kerja”, atau bahwa, “nilai kerja adalah ukuran umum bagi nilai”.

Akan tetapi bagaimana “nilai kerja” itu sendiri ditetapkan? Di sini kita tiba pada jalan buntu. Sudah barang tentu, jalan buntu jika kita berusaha berpikir secara logis. Tetapi para pengusul doktrin itu berbuat gampang saja terhadap keberatan-keberatan logis. Ambillah umpamanya teman kita Weston. Pertama-tama ia terangkan kepada kita, bahwa upah menentukan harga barangdagangan dan bahwa karenanya bila upah naik harga mesti naik. Kemudian ia berputar untuk menunjukkan kepada kita, bahwa kenaikan upah tidak akan baik oleh sebab harga barangdagangan telah meningkat, dan oleh sebab upah memang diukur oleh harga barangdagangan-barangdagangan untuk mana ia dibelanjakan. Jadi kita mulai dengan mengatakan, bahwa nilai barangdagangan menentukan nilai kerja. Jadi kita bergerak kian kemari dalam lingkaran yang tak berujung pangkal, dan samasekali tidak mencapai kesimpulan apa-apa.

Pada keseluruhannya nyatalah, bahwa dengan membuat nilai sesuatu barangdagangan, misalnya kerja, gandum, atau barangdagangan lainnya, menjadi ukuran umum dan pengatur nilai, kita hanya menggeserkan kesulitan, oleh karena kita menetapkan suatu nilai dagangan dengan yang lain, yang dirinya sendiri perlu ditetapkan.

Dogma bahwa “upah menentukan harga barangdagangan”, dinyatakan dalam pengertian paling abstrak, berhakekat demikian bahwa “nilai ditentukan oleh nilai”, dan pengulangan yang tak berguna ini berarti bahwa, sesungguhnya, kita sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang nilai. Dengan menerima dalil ini, segala pembicaraan mengenai hukum-hukum umum ekonomi politik menjadi obrolan belaka. Maka adalah jasa besar dari Ricardo bahwa dalam karyanya Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik, diterbitkan dalam tahun 1817, ia secara fundamentil menghancurkan pikiran keliru yang tua, umum dan usang bahwa “upah menentukan harga”, suatu pikiran keliru yang ditolak oleh Adam Smith dan pendahulu-pendahulunya di Perancis dalam bagian-bagian yang sungguh ilmiah dari penyelidikan-penyelidikan mereka, akan tetapi yang mereka reproduksikan dalam bab-bab mereka yang lebih bersifat populer dan vulger.


VI

NILAI DAN KERJA

Saudara-Saudara, saya sekarang tiba pada titik di mana saya harus membahas perkembangan sesungguhnya dari persoalan. Saya tidak dapat menjanjikan akan melakukannya dengan cara yang sangat memuaskan, sebab itu akan mengharuskan saya untuk menjelajah seluruh lapangan ekonomi politik. Saya hanya dapat, seperti kata orang Perancis, effleurer la questio, menyentuh soal-soal pokok.

Pertanyaan pertama yang harus kita ajukan adalah: Apa nilai barangdagangan? Bagaimana ia menentukan?

Selayang-pandang nampaknya, bahwa nilai sesuatu barangdagangan adalah sesuatu yang sama sekali relatif; dan tidak akan terpecahkan tanpa mempertimbangkan sesuatu barangdagangan dalam hubungannya dengan segala barangdagangan lainnya. Sesungguhnya, berbicara tentang nilai, nilai penukaran sesuatu barangdagangan, kita maksudkan kwantitet-kwantitet proporsionil dalam mana ia ditukarkan dengan segala barangdagangan lainnya. Akan tetapi kini timbul pertanyaan: Bagaimana perbandingan dalam mana barangdagangan ditukarkan satu sama lain diatur?

Kita mengetahui dari pengalaman, bahwa perbandingan-perbandingan ini berbeda-berbeda dengan tiada batasnya. Dengan mengambil satu barangdagangan, umpamanya gandum, kita akan melihat, bahwa satu quarter gandum dapat ditukarkan dengan berbagai barangdagangan dalam variasi perbandingan yang hampir tidak terbilang. Tetapi, karena nilainya selalu tetap tinggal sama, baik dinyatakan dalam sutera, emas, atau tiap barangdagangan lainnya, ia mesti merupakan sesuatu yang lain daripada, dan terlepas daripada berbagai ukuran pertukaran ini dengan berbagai barang. Haruslah mungkin untuk menyatakan, dalam bentuk yang sangat berbeda, berbagai persamaan ini dengan berbagai barangdagangan.

Tambahan pula, jika saya mengatakan bahwa satu quarter gandum ditukarkan dengan besi dalam perbandingan tertentu, atau nilai satu quarter gandum dinyatakan dalam jumlah tertentu besi, saya mengatakan bahwa nilai gandum dan ekivalennya dalam besi adalah sama dengan suatu yang ketiga, yang bukan gandum Ataupun besi, oleh sebab saya menganggap barang-barang tsb. Menyatakan besaran yang sama dalam dua bentuk yang berlainan. Salah satu daripadanya, gandum atau besi, karenanya harus, terlepas dari yang lain, dapat dikembalikan pada sesuatu yang ketiga ini yang merupakan ukuran bersama dari keduanya.

Untuk menjelaskan hal ini saya akan mengingatkan kepada suatu ilustrasi yang sangat sederhana dari ilmu ukur. Dalam membandingkan luas dari segitiga-segitiga dari segala macam bentuk dan besarnya, atau membandingkan segitiga-segitiga dengan segiempat, atau lukisan-bergaris-lurus lainnya, bagaimana kita bertindak? Kita mengembalikan luas setiap segitiga pada sesuatu pernyataan yang samasekali berbeda dengan bentuknya yang nyata. Sesudah mendapatkan dari sifat segitiga bahwa luasnya adalah sama dengan separuh dari hasilkali alas dengan tingginya, maka kita dapat membandingkan berbagai nilai dari segala macam segitiga, dan dari segala lukisan-bergaris-lurus mana pun, oleh sebab semuanya dapat diuraikan dalam sejumlah segitiga tertentu.

Cara yang sama mesti berlaku dengan nilai-nilai dari barangdagangan. Kita mesti sanggup mengembalikan semuanya pada suatu pernyataan yang umum bagi semuanya, dan membedakannya hanya dengan perbandingan-perbandingan dalam mana barang-barang tersebut mengandung ukuran yang sama itu.

Karena nilai-nilai penukaran dari barangdagangan hanya merupakan fungsi sosial dari barang-barang itu, dan samasekali tidak punya hubungan apa-apa dengan sifat-sifat alamiahnya, kita pertama-tama harus bertanya, Apakah zat sosial umum dari segala barangdagangan? Ia adalah Kerdea. Untuk memproduksi sesuatu barangdagangan sejumlah kerja tertentu harus dikenakan kepadanya, atau diolah kedalamnya.

Dan saya mengatakan bukan saja Kerja, akan tetati kerja Kemasyarakatan. Seseorang yang memproduksi barang untuk keperluan segera bagi dirinya sendiri, untuk mengkonsumiskannya sendiri, menciptakan baranghasil, akan tetapi bukan barangdagangan. Sebagai produsen yang memenuhi kebutuhan sendiri ia tidak punya urusan apa-apa dengan masyarakat.

Akan tetapi untuk memproduksi barangdagangan, seseorang bukan saja mesti memproduksi barang yang memenuhi sesuatu kebutuhan kemasyarakatan, tetapi kerjanya sendiri mesti merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jumlah keseluruhan kerja yang dihasilkan oleh masyarakat. Ia mesti tunduk kepada Pembagian Kerja di dalam Masyarakat. Ia tidak merupakan apa-apa tanpa pembagian kerja lainnya, dan pada pihak dia sendiri diperlukan untuk melengkapi yang lain itu.

Jika kita memandang barangdagangan sebagai nilai, kita memandangnya semata-mata dari satu sudut sebagai kerja kemasyarakatan yang diwujudkan, ditetapkan, atau, jika saudara menghendaki, yang terkristalisasi. Dari segi ini barang-barang tersebut hanya dapat berbeda oleh karena mewakili kwantitet kerja yang lebih besar atau lebih ketiyil, seperti, umpamanya, jumlah kerja yang lebih besar bisa terkandung dalam suatu saputangan sutera daripada dalam sepotong batubata. Akan tetapi bagaimana orang mengukur kwantitet-kwantitet kerja? Dengan waktu yang kerja itu berlangsung, dengan mengukur kerja dengan jam, hasil dan sebagainya. Sudah barang tentu, untuk mempergunakan ukuran ini, segala macam kerja dikembalikan pada kerja rata-rata atau sederhana sebagai satuannya.

Maka kita tiba pada kesimpulan ini. Barangdagangan mempunyai nilai, oleh sebab ia merupakan suatu kristalisasi kerja kemasyarakatan. Besarnya nilai barang itu, besarnya nilai relatifnya, tergantung pada besar-ketiylnya kwantitet zat kemasyarakatan itu yang terkandung didalamny; artinya, pada massa relatif kerja yang dubutuhkan untuk produksinya. Nilai-Nilai relatif barangdagangan-barangdagangan, karenanya, ditentukan oleh kwantitet-kwantitet atau jumlah-jumlah kerja, yang masing-masing terolah, terwujudkan, tertetapkan didalamnyia. Kwantitet-Kwantitet bandingan dari barangdagangan-barangdagangan yang dapat diproduksi dalam waktu kerja yang sama adalah sama. Atau nilai sesuatu barangdagangan berbanding dengan nilai barangdagangan lainnya sebagai kwantitet kerja yang tertetapkan dalam yang satu terhadap kwantitet kerja yang tertetapkan dalam lainnya.

Saya menduga, bahwa banyak di antara saudara akan bertanya, Maka sesungguhnya, adakah perbedaan yang begitu besar, atau sesuatu perbedaan apa pun, antara penetapan nilai barangdagangan oleh upah, dengan penetapannya oleh kwantitet relatif kerja yang diperlukan untuk memproduksinya? Tetapi saudara mesti menyadari, bahwa ganjaran untuk kerja, dan kwantitet kerja, adalah hal-hal yang samasekali berlainan. Coba umpamakan, bahwa kwantitet-kwantitet kerja yang sama ditetapkan dalam satu quarter gandum dan dalam satu ons emas. Saya mengambil contoh ini oleh sebab ia dipergunakan oleh Benyamin Franklin dalam Risalahnya yang pertama, yang diterbitkan dalam tahun 1729 dan berkepala, Penyelidikan Sederhana terhadap Sifat dan Keharusan Uang Kertas, di mana ia, satu dari yang pertama, menemukan sifat sebenarnya dari nilai. Nah. Kita umpamakanlah, bahwa satu quarter gandum dan satu ons emas adalah nilai-nilai yang sama atau ekivalen, oleh sebab keduanya merupakan kristalisasi dari jumlah yang sama kerja rata-rata, dari sekian hari atau sekian minggu kerja yang masing-masing diwujudkan didalamna. Dengan demikian menentukan nilai-nilai relatif dari emas dan gandum, apakah kita ada sedikit pun menyinggung upah dari buruh pertanian dan buruh tambang? Samasekali tidak. Kita samasekali membiarkan tak-tentu bagaimana kerja harian atau mingguan mereka dibayar, atau malahan apakah ada dipergunakan kerja-upahan samasekali. Jika ya, upah-upah akan sangatlah tak-samanya. Buruh yang kerjanya diwujudkan dalam satu quarter gandum itu mungkin hanya akan menerima dua bushel¹ saja, dan buruh yang bekerja dalam tambang mungkin menerima setengah dari satu ons emas itu. Atau, umpamakan upah mereka sama, upah ini bisa menyimpang dalam segala macam perbandingan dari nilai-nilai barangdagangan yang mereka hasilkan. Ia bisa berjumlah setengah, sepertiga, seperempat, seperlima, atau bagian perbandingan lainnya dari satu quarter gandum atau satu ons emas itu. Upah mereka, sudah barang tentu, tidak dapat melampauin, tidak dapat melebihii nilai-nilai barangdagangan yang mereka hasilkan, akan tetapi upah-upah tersebut dapat kurang pada segala macam tingkat. Upah-Upah mereka akan dibatasi oleh nilai-nilai hasilproduksi, akan tetapi nilai-nilai hasilproduksi mereka tidak akan dibatasi oleh upah. Dan di atas segalanya, nilai-nilai, nilai-nilai relatif dari gandum dan emas, umpamanya, akan terbentuk tanpa perhatian apa pun terhadap nilai kerja yang dipakai, artinya, upah. Maka untuk menentukan nilai-nilai barangdagangan dengan Kwantitet relatif dari kerja yang diwujudkan di dalamnya, adalah sesuatu hal yang berlainan sekali dengan cara pengulangan untuk menentukan nilai-nilai barangdagangan dengan nilai kerja, atau dengan upah. Tetapi hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam kelanjutan penyelidikan kita ini.

Dalam menghitung nilai-penukaran barangdagangan kita mesti menambahkan kepada kwantitet kerja yang dipakai terachir kwantitet kerja yang sebelumnya diolah ke dalam bahan mentah barangdagangan itu, dan kerja yang dikenakan kepada alat-alat, perkakas, mesin-mesin, dan gedung-gedung, dengan mana kerja itu dibantu. Umpamanya, nilai dari sejumlah benang-kapas adalah kristalisasi dari kwantitet kerja yang ditambahkan kepada kapas selama proses pemintalan, kwantitet kerja yang sebelumnya diwujudkan dalam kapas itu sendiri, kwantitet kerja yang diwujudkan dalam batubara, minyak, dan zat-zat tambahan lainnya yang terpakai, kwantitet kerja yang tertetapkan dalam mesin-uap, gelendong-gelendong, gedung pabrik, dan sebagainya. Perkakas-Perkakas produksi yang sebetulnya disebut begitu, seperti alat-alat, mesin-mesin, gedung-gedung, berulang-ulang dipakai untuk masa yang lebih panjang atau lebih pendek selama proses-proses yang ber-ulang-ulang dalam produksi. Jika mereka terpakai habis sekaligus, seperti halnya dengan bahan mentah, nilai seluruhnya akan segera dipindahkan kebarangdagangan yang dibantunya dalam memproduksikannya. Akan tetapi karena misalnya gelendong hanya aus dengan berangsur-angsur, perhitungan rata-rata diadakan, yang didasarkan kepada waktu rata-rata ia tahan, dan ausnya rata-rata selama masa tertentu, katakanlah sehari. Dengan demikian kita memperhitungkan berapa banyak nilai gelendong itu dipindahkan kebenang yang dipintal se-hari-hari, dan karenanya berapa banyak daripada jumlah seluruh kerja yang diwujudkan dalam satu pon benang adalah berkat kwantitet kerja yang sebelumnya diwujudkan dalam gelendong itu. Untuk tujuan kita yang sekarang tidaklah perlu untuk lebih lama berkisar pada soal ini.

Mungkin kelihatannya bahwa jika nilai barangdagangan ditentukan oleh kwantitet kerja yang dicurahkan kepada produksinya, maka semakin malas orang, atau semakin kaku orang, semakin bernilai barangdagangannya, oleh sebab semakin banyak waktu kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan barangdagangan itu. Tetapi ini akan merupakan kekeliruan yang menyedihkan. Saudara akan mengingat, bahwa saya menggunakan perkataan “kerja Kemasyarakatan”, dan banyak soal terpaut dalam kwalifikasi “Kemasyarakatan” ini. Dalam mengatakan, bahwa nilai barangdagangan ditentukan oleh kwantitet kerja yang tercurah atau terkristalisasi di dalamnya, kita maksudkan kwantitet kerja yang diperlukan untuk memproduksinya dalam keadaan masyarakat tertentu, di bawah syarat-syarat rata-rata kemasyarakatan tertentu dari produksi, dengan intensitet rata-rata kemasyarakatan tertentu, dan kecakapan rata-rata dari kerja yang digunakan. Sewaktu, di Inggris, perkakas-tenun mesin mulai bersaing dengan perkakas-tenun tangan, hanya separuh dari waktu kerja sebelumnya dibutuhkan untuk mengubah sejumlah benang tertentu menjadi satu yard katun atau kain. Penenun perkakas-tangan yang kasihan itu kini bekerja tujuhbelas atau delapanbelas jam sehari, bukan lagi sembilan atau sepuluh jam kerja yang ia lakukan sebelumnya. Namun hasil dari duapuluh jam kerjanya kini hanya mewakili sepuluh jam kerja kemasyarakatan, atau sepuluh jam kerja yang diperlukan secara kemasyarakatan untuk pengubahan sejumlah benang tertentu menjadi bahan tekstil. Hasil dia dari duapuluh jam itu karenanya tidak mempunyai nilai lebih daripada hasil dia dahulu dari sepuluh jam.

Maka jika kwantitet kerja, yang diperlukan secara kemasyarakatan, yang diwujudkan dalam barangdagangan mengatur nilai-penukarannya, setiap kenaikan kwantitet kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu barangdagangan mesti memperbesar nilainya, seperti setiap pengurangan mesti memperkecilnya.

Jika masing-masing kwantitet kerja yang diperlukan untuk memproduksi masing-masing barangdagangan itu tinggal konstan, maka nilai-nilai relatifnya juga akan konstan. Akan tetapi tidak demikianlah halnya. Kwantitet kerja yang diperlukan untuk memproduksi sesuatu barangdagangan terus-menerus berubah dengan adanya perubahan dalam daya produktif dari kerya yang digunakan.

Semakin besar daya produktif kerja, semakin banyak hasilproduksi yang diselesaikan dalam waktu kerja tertentu, dan semakin kecil daya produktif kerja, semakin sedikit hasilproduksi yang diselesaikan dalam waktu yang sama. Jika, umpamanya, dengan pertambahan penduduk telah menjadi perlu untuk mengerjakan tanah yang kurang subur, maka jumlah hasilproduksi yang sama hanya akan dapat dicapai dengan penggunaan kerja yang lebih besar, dan nilai hasilproduksi pertanian jadinya akan naik. Di lain pihak, jika dengan alat-alat produksi modern, seorang pemintal mengubah menjadi benang, selama sehari kerja, berapa ribu kali daripada jumlah kapas yang ia dapat pintal selama waktu yang sama dengan jentera pemintal, maka teranglah bahwa tiap pon katun akan menyerap beberapa ribu kali lebih sedikit kerja pemintalan daripada sebelumnya, dan karenanya nilai yang ditambahkan oleh pemintalan kepada setiap pon katun akan menjadi beribu kali lebih sedikit daripada sebelumnya. Nilai benang akan merosot sesuai dengan itu.

Selain daripada perbedaan kekuatan-kekuatan alamiah, dan kemampuan bekerja yang telah diperoleh pada berbagai bangsa, daya produktif kerja terutama mesti tergantung pada hal-hal sebagai berikut:

Pertama. Pada syarat-syarat alamiah dari kerja, seperti kesuburan tanah, tambang, dan sebagainya;

Kedua. Pada perbaikan maju Kekuatan-Kekuatan Kemasyarakatan dari Kerja, seperti yang diperoleh dari produksi secara besar-besaran, konsentrasi kapital dan kombinasi kerja, pembagian lebih kecil dari kerja, mesin-mesin, perbaikan cara-cara, penggunaan alat-alat kimia dan alat-alat alamiah lainnya, perpendekan waktu dan jarak dengan jalan perhubungan dan pengangkutan, dan tiap pendapatan lainnya dengan mana ilmu mendesak alat-alat alamiah untuk melayani kebutuhan kerja, dan dengan mana watak kemasyarakatan atau koperatif dari kerja dikembangkan. Semakin besar daya produktif dari kerja, semakin sedikit kerja yang dicurahkan pada sejumlah hasil produksi tertentu; oleh karena itu semakin kecil nilai hasilproduksi ini. Semakin kecil daya produktif dari kerja, semakin banyak kerja yang dicurahkan pada jumlah hasilproduksi yang sama; oleh karena itu semakin besar nilainya. Maka sebagai hukum umum dapat ditetapkan, bahwa:

Nilai-Nilai barangdagangan berbanding langsung dengan waktu kerja yang terpakai dalam memproduksinya, dan berbanding-balik dengan daya produktif dari kerja yang terpakai.

Sesudah hingga kini hanya berbicara tentang Nilai, maka saya akan menambahkan beberapa kata tentang Harga, yang merupakan bentuk istimewa dari nilai.

Harga, pada dirinya sendiri, tiada lain daripada pernyataan nilai dalam uang. Nilai segala barangdagangan negeri ini, misalnya, dinyatakan dalam harga emas, sedang di Daratan Eropa terutama dinyatakan dalam harga perak. Nilai emas atau perak, seperti halnya dengan segala barangdagangan lainnya, ditentukan oleh kwantitet kerja yang perlu untuk menperdapatnya. Saudara-Saudara menukarkan jumlah tertentu dari hasilproduksi nasional saudara, dalam mana jumlah tertentu kerja nasional saudara-saudara terkristalisasi, dengan hasilproduksi dari negara-negara penghasil emas dan perak, dalam mana jumlah tertentu dari kerja mereka terkristalisasi. Adalah dengan jalan ini, memang dengan tukar-menukar, bahwa orang belajar menyatakan dalam emas dan perak nilai-nilai dari segala barangdagangan, yaitu masing-masing kwantitet kerja yang dicurahkan kedalamnya. Dengan memeriksa pernyataan nilai dalam uang secara agak lebih dekat, atau apa yang sesungguhnya sama, yaitu pengubahan nilai menjadi harga, orang akan mendapatkan, bahwa ini adalah suatu proses dengan mana orang memberi suatu bentuk yang berdiri-sendiri dan homogen kepada nilai segala barangdagangan, atau dengan mana orang menyatakannya sebagai kwantitet-kwantitet kerja kemasyarakatan yang sama. Sejauh ia hanya merupakan pernyataan nilai dalam uang, harga telah dinamakan “natural price” (harga wayar) oleh Adam Smith, “prix necessaire” (harga perlu) oleh kaum fisiokrat Perancis.

Maka apakah hubungan antara nilai dengan harga pasar, atau antara harga wajar dengan harga pasar? Saudara semua mengetahui, bahwa harga pasar adalah sama untuk segala barangdagangan yang sejenis, betapa pun syarat-syarat produksi mungkin berbeda bagi produsen secara seorang-seorang. Harga pasar hanya menyatakan jumlah rata-rata kerja kemasyarakatan yang diperlukan, di bawah syarat rata-rata dari produksi, untuk menyedikan massa tertentu dari barang tertentu bagi pasar. Ia diperhitungkan pada seluruh jumlah barangdagangan dari jenis tertentu.

Hingga di sini harga pasar barangdagangan bertepatan dengan nilaiannya. Di lain pihak, goyangan harga-harga pasar, kadang-kadang melampaui, kadang-kadang merosot di bawah nilai atau harga wajar, tergantung pada pasang-surut dari penawaran dan permintaan. Penyimpangan harga pasar daripada nilai berlangsung tiada putusnya, akan tetapi seperti Adam Smith berkata: “Harga wajar …. Adalah harga sentral, terhadap mana harga segala barangdagangan senantiasa cenderung. Berbagai peristiwa bisa kadang-kadang membikin harga berangdagangan menggantung jauh di atas harga wajar, dan kadang-kadang memaksanya malahan agak di bawah harga wajar. Akan tetapi apa pun yang menjadi rintangan yang menghalangnya menetap pada pusat ketenangan dan kediaman itu harga barangdagangan itu senantiasa cenderung kepadanya.”²

Saya sekarang tidak dapat meneliti hal ini. Cukuplah dikatakan bahwa jika penawaran dan permintaan berimbang, harga pasar dari barangdagangan-barangdagangan akan bersesuaian dengan harga wajarnya, artinya, dengan nilainya, seperti yang ditentukan oleh masing-masing kwantitet kerja yang dibutuhkan untuk memproduksikannya. Akan tetapi penawaran dan permintaan mestii senantiasa cenderung kepada mengimbangi satu sama lain, Sekalipun keduanya melakukannya hanya dengan membalas pergoyangan yang satu dengan yang lain, suatu kenaikan dengan suatu penurunan, dan sebaliknya. Jika daripada hanya memperhatikan gelombang sehari? , saudara menganalisa gerakan harga-harga pasar selama masa yang lebih panjang, seperti misalnya Tn. Tooke lakukan dalam karangannya Sejarah Harga-Harga, saudara akan melihat, bahwa pergoyangan harga-harga pasar, penyimpangannya dari nilai, naik-turunnya, saling melumpuhkan dan balas-membalas; sehingga terlepas dari akibat monopoli-monopoli dan beberapa hal pembatas lainnya yang harus saya lewati sekarang, segala jenis barangdagangan, pukul rata, dijual menurut nilai atau harga wajar masing-masing. Masa rata-rata selama mana pergoyangan harga-harga pasar saling balas-membalas adalah berbeda untuk berbagai macam barangdagangan, oleh sebab dengan jenis yang satu adalah lebih mudah untuk menyesuaikan penawaran kepada permintaan daripada dengan jenis yang lain.

Jika, berbicara secara luas, dan meliputi masa yang agak lebih lama, segala jenis barangdagangan terjual menurut nilainya masing-masing, maka adalah omong-kosong untuk menganggap bahwa laba, bukan dalam hal-hal ter-sendiri-sendiri, akan tetapi laba konstan dan yang biasa dari berbagai lapangan-kerja, berasal dari penambahan pada harga-harga barangdagangan, atau dari menjualnya menurut harga yang melampau dan mengatasi nilainya. Ketidakmasukakalan pengertian ini akan nyata jika ia digeneralisasi. Apa yang senantiasa diperoleh sebagai untung oleh seseorang sebagai penjual akan senantiasa pula terlepas sebagai rugi baginya sebagai pembeli. Tidak ada gunanya untuk mengatakan, bahwa ada orang yang merupakan pembeli tanpa menjadi penjual, atau konsumen tanpa menjadi produsen. Apa yang orang-orang seperti ini bayarkan kepada kaum produsen, harus mereka perdapat pertama-tama dari produsen-produsen itu dengan cuma-cuma. Jika seseorang pertama-tama mengambil uang saudara dan kemudian mengembalikan uang itu sewaktu membeli barangdagangan saudara, saudara tidak akan memperkaya diri saudara dengan menjual barangdagangan saudara terlalu mahal kepada orang yang itu juga. Jual-beli semacam ini bisa mengurangi kerugian, akan tetapi tidak pernah akan membantu dalam mewuyudkan laba.

Maka untuk menjelaskan sifat umum dari laba, saudara harus bertolak dari dalil bahwa, rata-rata, barangdagangan dijual menurut nilai sebenarnya, dan bahwa laba diperoleh dari penjualannya menurut nilainya, yaitu, sebanding dengan kwantitet kerja yang diwuyudkan di dalamnya. Jika saudara tidak dapat menjelaskan laba atas dasar persangkaan ini, saudara tidak akan dapat menjelaskannya sama sekali. Ini kelihatannya suatu paradoks dan bertentangan dengan pengamatan se-hari-hari. Adalah juga paradoks, bahwa dunia bergerak sekitar matahari, dan bahwa air terdiri dari dua macam gas yang sangat mudah menyala. Kebenaran ilmiah selalu merupakan paradoks, jika dipandang dari pengalaman sehari-sehari, yang hanya menangkap wujud yang mengicu dari hal-ihwal.

¹ 1 bushel = 36.368 liter–Red. JP.

² Adam Smith, The Wealth of Nation, Jilid I, Bab VII, hlm. 57, New York 1931–Red.


VII

TENAGA BEKERJA¹

Sesudah kini, sejauh apa yang dapat dilakukan secara sepintas lalu, menganalisa sifat dari Nilai, dari Nilai barangdagangan apa pun, kita harus mengalihkan perhatian kita kepada, Nilai chusus dari Kerya. Dan di sini kembali saya harus mengejutkan saudara dengan sesuatu yang nampak sebagai paradoks. Saudara sekalian merasa pasti, bahwa apa yang mereka jual se-hari-hari adalah Kerja mereka; bahwa, karenanya, Kerja mempunyai Harga, dan bahwa, karena harga barangdagangan hanya merupakan pernyataan nilainya dengan uang, maka haruslah pasti ada sesuatu hal seperti Nilai Kerja. Tetapi, tidak ada sesuatu apa semacam Nilai Kerja dalam penerimaan umum dari perkataan itu. Kita telah melihat, bahwa jumlah kerja-perlu yang terkristalisasi dalam barangdagangan merupakan nilainya. Sekarang, dalam mempraktekkan pengertian tentang nilai ini, bagaimanakah kita dapat menentukan, katakanlah, nilai dari hari-kerja sepuluh-jam? Berapa banyak kerja yang terkandung dalam hari itu? Kerja sepuluh jam. Mengatakan bahwa nilai sehari-kerja sepuluh-jam adalah sama dengan kerja sepuluh jam, atau dengan kwantitet kerja yang terkandung di dalamnya, akan merupakan pernyataan pengulangan yang tak berguna dan; tambahan pula, pernyataan omongkosong. Sudah barang tentu, sesudah sekali mendapatkan arti sebenarnya, tetapi yang tersembunyi, daripada perkataan “Nilai Kerja” kita akan sanggup menafsirkan pentrapan nilai yang irrasionil, dan yang kelihatannya mustahil itu, dengan cara yang sama seperti, sesudah sekali memastikan gerakan sebenarnya dari benda-benda langit, kita akan sanggup menjelaskan gerakan-gerakannya yang nampak atau yang hanya merupakan penglihatan pancaindera.

Apa yang dijual buruh bukanlah langsung Kerjanya, tetapi Tenaga Bekerjanya, yang pemakaiannya sementara diserahkannnya kepada sikapitalis. Ini adalah sedemikian rupa sehingga, saya tidak mengetahui apakah oleh undang-undang Inggris akan tetapi pasti oleh beberapa undang-undang di Daratan Eropa, waktu maksimum ditetapkan untuk mana seseorang dibolehkan menjual tenaga bekerjanya. Jika diperbolehkan untuk berbuat demikian untuk masa yang tak terbatas, maka perbudakan akan segera dipulihkan. Pendualan sedemikian, jika misalnya meliputi seumur hidupnya, akan segera membikinnya budak seumur hidup dari majikannya.

Salah seorang ahli-ekonomi yang tertua dan ahli-filsafat yang paling orisinil dari negeri Inggris–Thomas Hobbes–telah secara naluri mendapati hal ini, dalam karangannya Leviathan, hal mana tiada terlihat oleh semua penggantipenggantinya. Ia berkata: “Nilai atau harkat seseorang adalah, seperti dengan semua hal lainnya, harganya: yaitu, sebanyak apa yang akan diberikan untuk Penggunaan Tenaganya”.

Dengan bertolak dari dasar ini, kita akan sanggup menentukan Nilai Kerja seperti halnya dengan segala barangdagangan lainnya.

Akan tetapi sebelum berbuat demikian, kita bisa bertanya, bagaimana gejala yang ganjil ini muncul, bahwa kita mendapatkan di pasar segolongan pembeli, yang memiliki tanah, mesin-mesin, bahan-bahan mentah, dan alat-alat penghidupan, yang kesemuanya, kecuali tanah dalam keadaan liar, merupakan hasil kerja, dan di lain pihak, segolongan penjual yang tidak mempunyai apa-apa untuk dijual kecuali tenaga bekerja mereka, tangan dan otak mereka yang bekerja? Bahwa golongan yang satu terus-menerus membeli untuk membikin laba dan memperkaya mereka, sedang golongan lainnya terus-menerus menjual untuk memperoleh nafkah hidup? Penyelidikan ke dalam soal ini akan merupakan penyelidikan ke dalam apa yang oleh ahli-ahli-ekonomi disebut “Akumulasi Sebelumnya atau Mula-Mula” akan tetapi yang seharusnya disebut Perampasan Mula-Mula. Kita akan mendapatkan bahwa apa yang dinamakan Akumulasi Mula-Mula ini tiada lain berarti daripada suatu rangkaian proses-proses historis, yang mengakibatkan Peruraian Persatuan Mula-Mula yang ada antara Manusia Bekeerja dengan Perkakas Kerjanya. Tetapi penyelidikan seperti itu berada di luar pagar pokok-persoalan saya yang sekarang. Pemisahan antara Manusia Kerja dengan Perkakas Kerja sekali ditetapkan, maka keadaan seperti itu akan memelihara diri dan memproduksi diri sendiri dalam ukuran yang senantiasa bertambah, sampai suatu revolusi baru dan asasi dalam cara produksi akan menumbangkannya lagi, dan memulihkan persatuan mula-mula dalam bentuk historis yang baru.

Maka apakah itu Nilai Tenaga Bekeerja?

Seperti halnya dengan tiap barangdagangan lainnya, nilainya ditentukan oleh kwantitet Kerja yang perlu untuk memproduksinya. Tenaga bekerja seseorang hanya ada dalam kepribadiannya yang hidup. Suatu jumlah tertentu bahan-bahan kebutuhan hidup harus dikonsumsikan oleh seseorang supaya tumbuh dan memelihara hidupnya. Akan tetapi manusia, seperti mesin, akan aus, dan harus digantikan oleh orang lain. Di samping jumlah bahan-bahan kebutuhan hidup yang diperlukan untuk pemeliharaan dirinya sendiri, ia menghendaki sejumlah bahan-bahan kebutuhan lainnya untuk mengasuh sejumlah anak-anak tertentu yang akan menggantikannya di pasar kerja dan untuk mengekalkan ras kaum buruh. Tambahan pula, untuk mengembangkan tenaga bekerjanya, dan memperoleh kecakapan tertentu, sejumlah nilai-nilai lainnya harus dibelanjakan. Untuk tujuan kita ckuplah untuk hanya mempertimbangkan kerja rata-rata, yang ongkos-ongkos pendidikan dan perkembangannya merupakan besaran-besaran yang tiada tetap. Namun saya harus mempergunakan kesempatan ini untuk menyatakan bahwa, oleh karena ongkos memproduksi tenaga-tenaga bekerja dari berbagai kwalitet berbeda, nilai-nilai tenaga bekerja yang dipakai dalam berbagai lapangan-kerja haruslah berbeda. Teriakan untuk persamaan upah, karenanya, beralas pada suatu kekeliruan dan merupakan suatu keinginan yang gila yang tidak akan pernah terkabulkan. Ia adalah buah dari radikalisme yang palsu dan dangkal yang menerima dalil-dalil dan berusaha menghindari kesimpulan-kesimpulan. Atas dasar sistim upah nilai tenaga bekerja ditentukan seperti halnya dengan tiap barangdagangan lainnya; dan oleh karena jenis berlainan dari tenaga bekerja mempunyai nilai yang berlainan, atau membutuhkan kwantitet-kwantitet yang berlainan dari keja untuk memproduksinya, jenis-jenis itu harus memperoleh harga-harga yang berlainan di pasar kerja. Berteriak untuk ganjaran yang sama atau adil atas dasar sistim upah adalah seperti berteriak untuk kemerdekaan atas dasar sistim perbudakan. Apa yang saudara anggap benar atau adil adalah di luar persoalan. Soalnya adalah: Apa yang perlu dan tak terhindarkan dengan sistim produksi tertentu?

Sesudah apa yang telah dikatakan, akan terlihatlah, bahwa nilai tenaga bekerja adalah ditentukan oleh nilai bahan-bahan kebutuhan yang diperlukan untuk memproduksi, mengembangkan, memelihara, dan mengekalkan tenaga bekerja.

¹ “Labouring Power”–dalam terjemahan Kapital dalam bahasa Inggris yang diakui sah, dipergunakan perkataan “Labour Power” (tenagakerja),–Red. JP.


VIII

PRODUKSI NILAI-LEBIH

Sekarang misalkan, bahwa jumlah rata-rata bahan-bahan kebutuhan sehari-sehari bagi seorang buruh memerlukan enam jam kerja rata-rata untuk memproduksinya. Tambahan pula, misalkan, bahwa enam jam kerja rata-rata juga diwyujudkan dalam kwantitet emas yang sama dengan 3 s. Maka 3 s. akan merupakan Harga, atau pernyataan secara uang dari Nilai Sehari daripada Tenaga Bekerja orang itu. Jika ia bekerja enam jam sehari ia akan menghasilkan sehari suatu nilai yang cukup untuk membeli jumlah rata-rata bahan-bahan kebutuhannya se-hari-hari, atau untuk memelihara dirinya sebagai manusia pekerja.

Akan tetapi orang kita ini adalah buruh-upahan. Karenanya, ia harus menjual tenaga bekerjanya kepada seorang kapitalis. Jika ia menjualnya untuk 3 s. sehari, atau 18 s. seminggu, ia menjualnya menurut nilainya. Misalkanlah ia seorang pemintal. Jika ia bekerja enam jam sehari ia akan menambahkan nilai sebanyak 3 s. sehari kepada kapas. Nilai ini, yang saban hari ditambahkannya, akan merupakan ekivalen yang persis untuk upah, atau harga tenaga bekerjanya, yang diterima saban hari. Akan tetapi dalam hal itu tidak ada nilai-lebih atau hasil-lebih apa pun akan pergi kekapitalis. Dan di sinilah kita tersandung kepada batunya.

Dalam membeli tenaga bekerja dari buruh, dan mebayar nilainya, sikapitalis, seperti tiap pembeli lainnya, telah mendapatkan hak untuk mengkonsumsi atau menggunakan barangdagangan yang telah dibeli. Orang mengkonsumsi atau menggunakan sesuatu mesin dengan menjalankannya. Dengan membayar nilai harian atau mingguan dari tenaga bekerja buruh, maka sikapitalis memperoleh hak untuk menggunakan atau menyuruh tenaga bekerja itu bekerja selama seluruh hari atau minggu. Hari kerja atau minggu kerja tentu saja mempunyai batas-batas tertentu, akan tetapi ini akan kita periksa lebih teliti kemudian.

Untuk waktu sekarang saya hendak mengalihkan perhatian saudara kepada satu hal yang menentukan.

Nilai tenaga bekerja ditentukan oleh kwantitet kerja yang perlu untuk memelihara atau mereproduksinya, akan tetapi penggunaan tenaga bekerja itu hanya dibatasi oleh daya aktif dan kekuatan jasmaniah buruh. Nilai harian atau mingguan dari tenaga bekerja adalah samasekali berbeda daripada pemakaian tenaga itu untuk sehari atau seminggu, seperti halnyia makanan yang dibutuhkan oleh kuda dan lamanya ia dapat mengangkut penaik kuda berbeda samasekali. Kwantitet kerja dengan mana nilai tenaga bekerja buruh dibatasi, samasekali bukan merupakan batas kepada kwantitet kerja yang bisa dilakukan oleh tenaga bekerjanya.

Ambillah contoh pemintal kita itu. Kita telah melihat bahwa, untuk mereproduksi tenaga bekerjanya se-hari-hari, ia harus se-hari-hari mereproduksi nilai dari tiga shilling, yang akan dilakukannya dengan bekerja enam jam sehari. Akan tetapi ini bukan tidak memungkinkan untuk bekerja sepuluh atau duabelas jam atau lebih sehari. Akan tetapi dengan membayar nilai harian atau mingguan dari tenaga bekerja pemintal itu, sikapitalis telah mendapatkan hak untuk menggunakan tenaga bekerja itu selama seluruh hari atau minggu. Maka ia akan menyuruhnya bekerja, katakanlah, duabelas jam sehari. Di atas dan melampaui enam jam yang diperlukan untuk menggantikan upahnya, atau nilai tenaga bekerjanya, karenanya, ia akan mesti bekerja enam jam lagi, yang akan siya sebut jam-jam kerja-lebih, kerja-lebih mana akan merealisasi diri dalam nilai-lebih dan hasil-lebih. Jika misalnya pemintal kita itu, dengan kerjanya selama enam jam sehari, menambahkan nilai tiga shilling kepada kapas, suatu nilai yang merupakan ekivalen yang persis sama dengan upahnya, ia akan menambahkan nilai enam shilling kepada kapas selama duabelas jam, dan memproduksi kelebihan benang secara sebanding. Oleh karena ia telah menjual tenaga bekerjanya kepada sikapitalis, seluruh nilai-hasilproduksi yang diciptakannya adalah kepunyaan sikapitalis, pemilik sementara dari tenaga bekerjanya. Dengan membayar terlebih dahulu tiga shilling, sikapitalis, karenanya, akan merealisasi nilai sebanyak enam shilling, oleh sebab, dengan membayar terlebih dahulu suatu nilai dalam mana terkristalisasi enam jam kerja, ia akan menerima kembali suatu nilai dalam mana terkristalisasi duabelas jam kerja. Dengan mengulangi proses yang sama saban hari, sikapitalis saban hari, sikapitalis saban hari akan membayar terlebih dahulu tiga shilling dan saban hari mengantongi enam shilling, separuh daripadanya akan keluar lagi untuk membayar upah baru, dan yang separuh lagi akan merupakan nilai-lebih, untuk mana sikapitalis tidak membayar pengimbang apa-apa. Pertukaran antara kapital dengan kerja semacam inilah yang menjadi dasar dari produksi kapitalis, atau sistim upah, dan yang selalu harus berakibat dengan pe-reproduksi-an buruh sebagai buruh, dan kapitalis sebagai kapitalis.

Tingkat nilai-lebih, bilamana semua keadaan lainnya tetap tinggal sama, akan bergantung pada perbandingan antara bagian hari kerja yang perlu untuk mereproduksi nilai tenaga bekerja dengan waktu-lebih atau kerja-lebih yang dilakukan untuk sikapitalis. Maka ia akan tergantung pada perbandingan dalam mana hari kerja diperpanjang di atas dan melebihi ukuran, dengan mengerjakan mana buruh hanya akan memproduksi nilai tenaga bekerjanya, atau mengganti upahnya.


IX

NILAI-KERJA

Kita sekarang harus kembali kepada pernyataan, “Nilai atau Harga Kerja”.

Kita telah melihat bahwa, sesungguhnya, ia hanya merupakan nilai dari tenaga bekerja, diukur dengan nilai-nilai barangdagangan yang perlu untuk pemeliharaannya. Akan tetapi oleh karena buruh menerima upahnya sesudah kerjanya dilaksanakan, dan tambahan pula mengetahui, bahwa apa yang sesungguhnya ia berikan kepada sikapitalis adalah kerjanya, nilai atau harga tenaga bekerjanya mestilah nampak baginya sebagai harga atau nilai dari kerjanya sendiri. Jika harga tenaga bekerjanya tiga shilling, dalam mana diwujudkan enam jam kerja, dan jika ia bekerja duabelas jam, ia mestilah menganggap tiga shilling ini sebagai nilai atau harga duabelas jam kerja, Meskipun duabelas jam kerja ini mewujudkan dirinya dalam nilai enam shilling. Dua macam akibat yang timbul dari sini.

Pertama. Nilai atau harga dari tenaga bekerja memaki rupa sebagai harga atau nilai dari kerja itu sendiri, Meskipun, bicara secara teliti, nilai dan harga kerja adalah istilah-istilah tanpa arti.

Kedua. Meskipun sebagian saja dari kerja harian buruh itu dibayar, sedang bagian lainnya tidak dibayar, dan sedangkan kerja yang tidak dibayar atau kerja-lebih itu justru merupakan dana dari mana nilai-lebih atau laba dibentuk, nampaknya seolah-olah kerja kesemuanya adalah kerja yang dibayar.

Rupa yang palsu ini membedakan kerja-upahan dari bentuk-bentuk kerja historis lainnya. Atas dasar sistim upah kerja tiada berbayar pun nampak sebagai kerja berbayar. Sebaliknya, dengan budak, bagian dari kerjanya yang dibayar pun kelihatannya sebagai tiada berbayar. Sudah barang tentu, supaya dapat bekerja budak harus hidup, dan sebagian dari hari kerjanya dipakai untuk menggantikan nilai dari pemeliharaan dirinya sendiri. Akan tetapi oleh karena tidak ada dilakukan tawar-menawar antara dia dan tuannya, dan tidak ada tindakan-tindakan jual-beli berlangsung antara kedua pihak, maka seluruh kerjanya nampaknya seperti diberikan begitu saja dengan cuma-cuma.

Di lain pihak, ambillah tani hamba, seperti yang bisa saya katakan, sampai hari kemarin terdapat di seluruh bagian Timur dari Eropa. Petani ini bekerja, misalnya, tiga hari untuk dirinya atas tanahnya sendiri atau tanah yang dibagikan kepadanya, dan tiga hari berikutnya ia melakukan kerja paksa dan percuma di atas tanah tuannya. Jadi, di sini, bagian-bagian kerja yang berbayar dan tidak berbayar dipisah secara nyata, terpisah dalam waktu dan ruang; dan kaum Liberal kita meluap dengan keberangan moril terhadap faham yang mustahil ini untuk menyuruh orang bekerja dengan cuma-cuma.

Tetapi, sesungguhnya, apakah seseorang bekerja tiga hari seminggu untuk dirinya atas tanahnya sendiri dan tiga hari dengan cuma-cuma atas tanah tuannya, atau apakah ia bekerja dalam pabrik atau bengkel enam jam sehari untuk dirinya dan enam jam untuk majikannya, pada hakekatnya sama saja, Meskipun dalam hal belakangan bagian-bagian kerja yang berbayar dan tidak berbayar satu sama lain bercampur tak-terpisahkan, dan hakekat seluruh transaksi sepenuhnya diselubungi oleh adanya perantaraan sesuatu perjanjian kerja dan bayaran yang diterima pada achir minggu. Kerja cuma-cuma kelihatannya seperti diberikan secara sukarela dalam contoh yang satu, dan secara paksaan di dalam contoh lainnya. Inilah yang menjadi segala perbedaan.

Dalam menggunakan perkataan “nilai-kerja”, saya hanya akan menggunakankannya sebagai istilah pasaran populer untuk “nilai tenaga bekerja”.


X

LABA DIBIKIN DENGAN MENJUAL BARANG-DAGANGAN MENURUT NILAINYA

Misalkanlah satu jam kerja rata-rata terwujudkan dalam suatu nilai yang sama dengan enam pence, atau duabelas jam kerja rata-rata dapat diwujudkan dalam enam shilling. Selanjutnya, misalkanlah, bahwa nilai kerja sama dengan tiga shilling atau hasil enam jam kerja. Dan, jika, dalam bahan mentah, mesin, dan sebagainya, yang terhabiskan dalam sesuatu barangdagangan, duapuluhempat jam kerja rata-rata terwujud, maka nilainya akan beryumlah duabelas shilling. Jika, tambahan pula, buruh yang dipekerjakan oleh sikapitalis menambahkan duabelas jam kerja kepada alat-alat produksi itu, duabelas jam kerja ini akan diwujudkan dalam nilai tambahan sebanyak enam shilling. Maka, nilai total baranghasil itu, akan sebesar tigapuluhenam jam kerja terlaksana, dan akan sama dengan delapanbelas shilling. Akan tetapi oleh karena nilai kerja, atau upah yang dibayarkan kepada buruh, hanya akan beryumlah tiga shilling, tidak ada ekivalen akan dibayarkan oleh sikapitalis untuk enam jam kerja lebih yang dilakukan oleh buruh, dan yang diwujudkan dalam nilai barangdagangan itu. Dengan menjual barangdagangan ini menurut nilainya sebesar delapanbelas shilling, sikapitalis, karenanya, akan merealisasi nilai sebesar tiga shilling, untuk mana ia tak membayarkan ekivalen. Tiga shilling ini akan merupakan nilai-lebih atau laba yang dikantonginya. Jadi sikapitalis akan mewujudkan laba sebanyak tiga shilling, bukan dengan menjual barangdagangannya dengan harga yang melebihi dan mengatasi nilainya, akan tetapi dengan menjualnya menurut nilai sebenarnya.

Nilai barangdagangan ditentukan oleh kwantitet total dari kerja yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi sebagian dari kwantitet kerja itu diwujudkan dalam nilai, untuk mana suatu ekivalen telah dibayarkan dalam bentuk upah; sebagian daripadanya diwujudkan dalam nilai untuk mana tidak ada dibayarkan suatu ekivalen. Sebagian dari kerja yang terkandung di dalam barangdagangan adalah kerja berbayar; sebagian adalah kerja tidak berbayar. Maka, dengan menjual barangdagangan itu menurut nilainya, yaitu, sebagai kristalisasi kwantitet total kerja yang dicurahkan kepadanya, sikapitalis mestilah menjualnya dengan mendapat laba. Ia bukan saja menjual apa yang dibayarnya dengan suatu ekivalen, tetapi ia juga menjual sesuatu untuk mana ia tidak membayar apa-apa, Meskipun ini berarti ada pengeluaran kerja bagi buruhnya. Ongkos barangdagangan bagi sikapitalis dan ongkosnya yang sebenarnya adalah hal-hal yang berlainan. Makaitu, saya ulangi, bahwa laba biasa dan rata-rata diwujudkan dengan menjual barangdagangan tidak di atas, tetapi menurut


XI

BERBAGAI BAGIAN DALAM MANA NILAI-LEBIH TERURAIKAN

Nilai-lebih, atau bagian dari nilai total barangdagangan dalam mana kerja-lebih atau kerja tiada berbayar dari buruh diwujudkan, saya sebut Laba. Seluruh laba itu tidak dikantongi oleh sikapitalis-pengusaha. Monopoli tanah memungkinkan tuantanah untuk mengambil sebagian dari nilai-lebih, dengan nama sewa, apakah tanah dipakai untuk pertanian, bangunan-bangunan atau jalan kereta-api, atau untuk maksud produktif lainnya. Di lain pihak, kenyataan bahwa pemilikan perkakas kerja memungkinkan kapitalis-pengusaha untuk memproduksi nilai-lebih, atau, apa yang pada hakekatnya sama, untuk merampas baginyia jumlah tertentu dari kerja tidak berbayar, memungkinkan pemilik dari alat-alat kerja, yang ia pinjamkan seluruhnya atau sebagian kepada kapitalis-pengusaha–memungkinkan, ringkasnya, kapitalis pelepas-uang, untuk menuntut bagi dirinya dengan nama bunga sebagian lain dari nilai-lebih itu, sehingga akan tertinggal bagi kapitalis-pengusaha hanya bagian itu saja yang dinamakan laba industri atau perdagangan.

Dengan hukum-hukum apa pembagian jumlah total nilai-lebih di antara ketiga golongan orang itu diatur adalah soal yang samasekali asing bagi pokok persoalan kita. Tetapi sebanyak ini adalah akibat daripada apa yang telah dikatakan.

Sewa, Bunga, dan Laba Industri hanya merupakan nama-nama berlainan untuk bagian-bagian berlainan dari nilai-lebih barangdagangan, atau kerja tidak berbayar yang terkandung di dalamnya dan kesemuanya sama-sama diperoleh dari sumber ini, dan hanya dari sumber ini saja. Hal tsb. Tidak diperoleh dari tanah seperti itu atau dari kapital seperti itu, akan tetapi tanah dan kapital memungkinkan para pemiliknya untuk mendapatkan bagian masing-masing dari nilai-lebih yang diperas oleh kapitalis-pengusaha dari buruh. Bagi buruh sendiri adalah soal yang bukan-pokok apakah nilai-lebih itu, hasil daripada kerja-lebihnya, atau kerja tidak berbayar, seluruhnya dikantongi oleh kapitalis-pengusaha, atau apakah yang belakangan terpaksa membayarkan bagian-bagian daripadanya, dengan nama sewa dan bunga, kepada pihak-pihak ketiga. Misalkan kapitalis-pengusaha hanya memaki kapitalnya sendiri dan menjadi tuantanahnya sendiri, maka seluruh nilai-lebih akan masuk dalam kantongnya.

Adalah kapitalis-pengusaha yang langsung memeras dari buruh nilai-lebih ini, biar bagian apa pun daripadanya achirnya ia dapat menahan untuk dirinya sendiri. Maka, atas hubungan inilah, hubungan antara kapitalis-pengusaha dengan buruh-upahan, tergantung seluruh sistim upah dan seluruh sistim produksi yang sekarang. Karenanya, beberapa dari saudara-saudara yang mengambil bagian dalam perdebatan kita, adalah keliru ketika mereka berusaha memaniskan soal-soal dan memperlakukan hubungan asasi ini antara kapitalis-pengusaha dengan buruh sebagai soal nomor dua, Meskipun mereka benar dalam menyatakan bahwa, dalam keadaan tertentu, kenaikan harga bisa jadi mengenai kapitalis-pengusaha, tuantanah, kapitalis beruang, dan, jika saudara menghendaki, pemungut pajak, dalam ukuran yang sangat ber-beda-beda.

Konsekwensi yang lain tumbuh daripada apa yang telah dinyatakan.

Bagian dari nilai barangdagangan yang hanya mewakili nilai dari bahan-bahan mentah, mesin-mesin, singkatnya, nilai dari alat-alat produksi yang terpakai, samasekali bukan merupakan penghasilan, akan tetapi hanya menggantikan kapital. Akan tetapi, lain daripada itu, adalah keliru mengatakan bahwa bagian lain dari nilai barangdagangan yang merupakan penghasilan, atau boleh dibayarkan dalam bentuk upah, laba, sewa, bunga, adalah dibentuk oleh nilai upah, nilai sewa, nilai laba, dan sebagainya. Pada tingkat pertama, kita akan mengesampingkan upah, dan hanya membahas laba industri, bunga dan sewa.

Kita baru saja melihat, bahwa nilai-lebih yang terkandung di dalam barangdagangan atau bagian dari nilai barangdagangan dalam mana kerja tidak berbayar diwujudkan, memisah diri dalam berbagai pecahan, dengan memaki tiga nama yang berlainan. Akan tetapi adalah samasekali kebalikan dari kebenaran untuk mengatakan, bahwa nilainya tersusun atau terbentuk dengan penjumlahan dari nilai-nilai yang berdiri sendiri dari ketiga unsur ini.

Jika sejam kerja mewujudkan diri dalam nilai enam pence, jika hari kerja buruh meliputi duabelas jam, jika separuh dari waktu ini merupakan kerja tidak berbayar, maka kerja-lebih itu akan menambahkan kepada barangdagangan nilai-lebih sebanyak tiga shilling, yaitu, nilai untuk mana tidak dibayar suatu ekivalen. Nilai-lebih sebanyak tiga shilling ini merupakan seluruh dana yang oleh kapitalis-pengusaha bisa dibagikan, dalam perbandingan apa pun, dengan tuantanah dan pelepas-uang. Nilai tiga shilling ini merupakan batas dari nilai yang mereka harus bagikan di antara mereka. Akan tetapi bukanlah kapitalis-pengusaha yang menambahkan kepada nilai barangdagangan suatu nilai semau-maunya sebagai labanya, yang padanya ditambahkan nilai yang lain bagi tuantanah, dan seterusnya, sehingga penjumllahan nilai-nilai yang ditetapkan secara semau-maunya ini akan merupakan nilai total. Maka saudara melihat kekeliruan pikiran umum, yang mencampur-adukkan peruraian nilai tertentu menjadi tiga bagian, dengan pembentukan nilai itu dari penjumllahan tiga nilai yang berdiri sendiri, dengan demikian mengubah nilai keseluruhan itu, dari mana sewa, laba, dan bungan diperoleh, menjadi jumlah yang sekehendak hati.

Jika laba total yang direalisasi oleh seorang kapitalis sama dengan £100, kita namakan jumlah ini, dipandang sebagai besaran mutlak, banyakna laba. Akan tetapi jika kita menghitung perbandingan dengan mana jumlah £100 itu berbanding dengan kapital yang dibayarkan terlebih dahulu, kita namakan besaran relatif ini, tingkat laba. Adalah jelas bahwa tingkat laba ini bisa dinyatakan dengan cara dua.

Misalkanlah £100 itu kapital yang dibayarkan terlebih dahulu dalam upah. Jika nilai-lebih yang diciptakan adalah juga £100–dan ini akan menunjukkan kepada kita bahwa separuh dari hari kerja buruh terdiri atas kerja tidak berbayar–dan jika kita mengukur laba ini dengan nilai kapital yang dibayarkan terlebih dahulu dalam upah, kita seharusnya mengatakan bahwa tingkat laba berjumlah seratus persen, oleh sebab nilai yang dibayarkan terdahulu akan sama dengan seratus dan nilai yang direalisasi akan sebesar duaratus.

Jika, di lain pihak, kita bukan saja mempertimbangkan kapital yang dibayarkan terlebih dahulu dalam upah, akan tetapi kapital total yang dibayarkan terlebih dahulu, katakanlah, umpamanya, £500, dari mana £400 mewakili nilai bahan-bahan mentah, mesin-mesin, dan sebagainya, kita haruslah mengatakan, bahwa tingkat laba hanya sebesar duapuluh persen, oleh sebab laba seratus hanya akan merupakan bagian seperlima dari kapital total yang dibayarkan terlebih dahulu.

Cara pertama untuk menyatakan tingkat laba hanya satu-satunya yang menunjukkan kepada saudara perbandingan sesungguhnya antara kerja berbayar dan tidak berbayar, derajat sesungguhnya dari exploitation (saudara haruslah membolehkan saya menggunakan perkataan Perancis ini) kerja. Cara menyatakan yang lainnya adalah apa yang sudah umum terpakai, dan adalah, memang, sesuai untuk tujuan-tujuan tertentu. Se-tidak-tidaknya, ia adalah sangat berguna untuk menutupi derajat sikapitalis memeras kerja cuma-cuma dari buruh.

Dalam keterangan-keterangan yang masih harus saya berikan, saya akan memaki perkataan Laba untuk seluruh jumlah nilai-lebih yang diperas oleh kapitalis tanpa mengindahkan pembagian nilai-lebih itu di antara berbagai pihak, dan dalam memaki perkataan-perkataan Tingkat Laba, saya akan selalu mengukur laba dengan nilai kapital yang dibayarkan terlebih dahulu dalam upah.


XII

HUBUNGAN UMUM ANTARA LABA, UPAH DAN HARGA

Kurangkanlah dari nilai barangdagangan nilai yang menggantikan nilai dari bahan-bahan mentah dan alat-alat produksi lainnya yang terpakai di dalamnya, artinya, kurangkanlah nilai yang mewakili kerja terdahulu yang terkandung di dalamnya, dan sisa dari nilainya akan memisah ydadi kwantitet kerja yang ditambahkan oleh buruh yang dipekerjakan terachir. Jika buruh itu bekerja duabelas jam sehari, jika duabelas jam kerja rata-rata mengkristalisasi diri dalam sejumlah emas sebesar enam shilling, nilai tambahan sebesar enam shilling ini adalah nilai satu-satunya yang diciptakan oleh kerjanya. Nilai tertentu ini, yang ditentukan oleh masa kerjanya, adalah dana satu-satunya dari mana baik ia dan sikapitalis harus menarik bagian atau dividen masing-masing, nilai satu-satunya untuk dibagikan ke dalam upah dan laba. Adalah jelas bahwa nilai ini sendiri tidak akan berubah oleh perbandingan yang ber-ubah-ubah dalam mana ia bisa dibagikan antara kedua belah pihak. Juga tidak akan ada yang berubah jika di tempat seorang buruh ditempatkan seluruh penduduk pekerja, duabelas juta hari kerja, umpamanya, dan bukan satu hari kerja.

Oleh karena kapitalis dan buruh hanya dapat membagikan nilai terbatas ini, artinya, yang diukur dengan kerja total dari buruh, maka semakin banyak yang satu mendapat akan semakin kurang lainnya mendapat, dan sebaliknya. Bilamana ada suatu jumlah tertentu, sebagian daripadanya akan bertambah dalam perbandingan sebaliknya dengan berkurangnya bagian lainnya. Jika upah berubah, laba akan berubah dalam jurusana yang bertentangan. Jika upah jatuh, laba akan naik; dan jika upah naik, laba akan jatuh. Jika buruh, pada contoh kita yang pertama, mendapat tiga shilling, sama dengan separuh nilai yang ia ciptakan, atau jika seluruh hari kerja kerjanya terdiri atas kerja yang separuh berbayar, separuh tidak berbayar, maka tingkat laba akan sebesar 100 persen, oleh sebab sikapitalis juga akan mendapat tiga shilling. Jika buruh hanya menerima dua shilling, atau hanya bekerja sepertiga dari seluruh hari kerja untuk dirinya, sikapitalis akan mendapat empat shilling, dan tingkat laba akan menjadi 200 persen. Jika buruh menerima empat shilling, sikapitalis hanya akan menerima dua, dan tingkat laba akan merosot jadi 50 persen, akan tetapi segala variasi ini tidak akan mengenai nilai barangdagangan. Kenaikan umum upah, karenanya, akan berakibat jatuhnya tingkat umum dari laba, akan tetapi tidak mempengaruhi nilai.

Akan tetapi Meskipun nilai-nilai barangdagangan, yang pada achirnya mesti mengatur harga-harga pasarnya, semata-mata ditentukan oleh kwantitet total kerja yang tertetapkan di dalamnya, dan tidak oleh pembagian kwantitet itu menjadi kerja berbayar dan tidak berbayar, ini se-kali-kali tidak berarti, bahwa nilai-nilai barangdagangan itu satu per satu, atau dari banyak barangdagangan, yang diproduksi selama duabelas jam, misalnya, akan tetap konstan. Jumlah atau massa barangdagangan yang diproduksi dalam waktu kerja tertentu, atau dengan kwantitet kerja tertentu, tergantung pada daya produktif dari kerja yang dipakai, dan tidak pada lama atau panjangnya. Dengan suatu derajat daya produktif dari kerja pemintalan, umpamanya, hari kerja dari duabelas jam bisa memproduksi duabelas pon benang, dengan derajat daya produktif yang lebih ketil hanya dua pon. Maka jika duabelas jam kerja rata-rata terwujud dalam nilai enam shilling, dalam hal yang satu, benang duabelas pon akan berharga enam shilling, dalam hal yang lain benang yang dua pon juga akan berharga enam shilling. Maka satu pon benang akan berharga enam pence dalam hal yang satu, dan tiga shilling dalam hal lainnya. Perbedaan harga ini berasal dari perbedaan dalam daya produktif dari kerja yang dipakai. Satu jam kerja akan terwujud dalam satu pon benang dengan daya produktif yang lebih besar itu, sedang dengan daya produktif yang lebih kecil, enam jam kerja akan terwujud dalam satu pon benang. Harga satu pon benang dalam hal yang satu hanya enam pence, Meskipun upah adalah relatif tinggi dan tingkat laba rendah; ia akan berjumlah tiga shilling dalam hal lainnya, Meskipun upah adalah rendah dan tingkat laba tinggi. Ini akan demikian, oleh sebab harga se-pon benang diatur oleh yumlah total dari kerja yang terolahkan di dalamnya, dan tidak oleh pembagian proporsionil dari yumlah total itu dalam kerja yang berbayar dan tidak berbayar. Kenyataan yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa kerja berharga-tinggi bisa memproduksi barangdagangan murah dan kerja berharga-rendah bisa memproduksi barangdagangan yang mahal, karenanya, kehilangan rupanya yang paradoksal. Ia hanya merupakan pernyataan dari hukum umum, bahwa nilai barangdagangan ditentukan oleh kwantitet kerja yang terolahkan di dalamnya, dan bahwa kwantitet untuk pemeliharaannya sehari-hari. Jika seluruh hari kerja berlangsung duabelas jam, sikapitalis akan membayar nilai kerjanya kepadanya dengan membayarkan tiga shilling kepadanya. Separuh dari hari kerja akan merupakan kerja tidak berbayar, dan tingkat laba akan sama dengan 100 persen. Akan tetapi sekarang misalkan bahwa, sebagai akibat dari pengurangan produktivitet, lebih banyak kerja dibutuhkan untuk memproduksi, katakanlah, jumlah hasilproduksi pertanian yang sama, sehingga harga dari bahan-bahan kebutuhan se-hari-hari rata-rata naik dari tiga menjadi empat shilling. Dalam hal itu nilai kerja akan naik dengan sepertiga, atau 33½ persen. Delapan jam dari hari kerja akan diperlukan untuk memproduksi ekivalen untuk pemeliharaan se-hari-hari dari buruh, menurut tingkat hidupnya yang lama. Maka kerja-lebih akan merosot dari enam jam menjadi empat jam, dan tingkat laba dari 100 menjadi 50 persen. Akan tetapi dalam menuntut kenaikan upah, buruh hanya akan menuntut untuk mendapatkan tambahan nilai kerjanya, seperti halnya dengan setiap penjual barangdagangan lainnya, yang, oleh karena bertambahna ongkos barangdagangannya, berusaha mendapatkan pembayaran untuk tambahan nilainya itu. Jika upah tidak naik, atau tidak cukup naik, untuk mengimbangi pertambahan nilai-nilai bahan kebutuhan, harga kerja akan merosot di bawah nilai kerja, dan tingkat hidup buruh akan bertambah buruk.

Akan tetapi suatu perubahan dapat juga berlangsung dalam jurusna yang berlawanan. Berkat pertambahan produktivitet kerja, jumlah yang sama dari bahan-bahan kebutuhan se-hari-hari rata-rata bisa merosot dari tiga menjadi dua shilling, atau hanya empat jam dari hari kerja, dan bukan enam jam, diperlukan untuk memproduksi ekivalen untuk nilai dari bahan-bahan kebutuhan se-hari-hari. Buruh kini akan sanggup membeli dengan dua shilling bahan-bahan kebutuhan sebanyak seperti dilakukannya sebelumnya dengan tiga shilling. Memang, nilai kerja akan merosot, akan tetapi nilai yang berkurang itu akan menguasai jumlah barangdagangan yang sama seperti sebelumnya. Maka laba akan naik dari tiga menjadi empat shilling, dan, tingkat laba dari 100 menjadi 200 persen. Meskipun tingkat hidup mutlak dari buruh akan tetap tinggal sama, upah relativifiya, dan dengan itu kedudukan sosial relatif daripadanya, akan menurun jika dibandingkan dengan sikapitalis. Jika buruh menentang pengurangan upah relatif itu, ia hanya berusaha untuk mendapatkan sekedar bagian dalam pertambahan daya produktif dari kerjanya sendiri, dan untuk memelihara kedudukan relatif sebelumnya dalam tangga masyarakat. Demikianlah, sesudah penghapusan Undang-Undang Gandum, dan dengan pelanggaran yang menyolokmata atas janji-janji yang paling chidmat yang diberikan selama agitasi antiundang-undang-gandum, tuan-tuan pabrik Inggris pada umumnya menurunkan upah dengan sepuluh persen. Perlawanan kaum buruh pada mulanya digagalkan, akan tetapi, sebagai akibat dari keadaan yang sekarang tidak dapat saya bahas, sepuluh persen yang hilang itu kemudian diperdapat kembali.

  1. Nilai-Nilai bahan kebutuhan dan karenanya nilai kerja, bisa tetap tinggal sama, akan tetapi suatu perubahan bisa terjadi dalam harga-harga uang bahan-bahan tersebut, sebagai akibat dari perubahan terdahulu dari nilai uang.

Dengan penemuan tambang-tambang yang lebih kaya dan sebagainya, dua ons emas bisa, misalnya, membutuhkan tidak lebih banyak kerja untuk memproduksinya daripada satu ons sebelumnya. Nilai emas karena itu akan berkurang dengan separuh, atau limapuluh persen. Oleh karena nilai dari segala barangdagangan lainnya akan dinyatakan dalam harga yang dua kali sebesar harga-harga uang sebelumnya, demikian jugalah halnya dengan nilai kerja. Duabelas jam kerja, yang sebelumnya dinyatakan dalam enam shilling, kini akan dinyatakan dalam duabelas shilling. Jika upah buruh tetap tinggal tiga shilling, harga uang dari kerjanya hanya merupakan separuh dari nilai kerjanya, dan tingkat hidupnya akan sangat merosot. Ini juga akan terjadi dalam ukuran yang lebih besar atau ketiyl, jika upahnya naik tetapi tidak sebanding dengan jatuhnya nilai emas. Dalam hal yang demikian tidak ada yang akan berubah, baik dalam daya produktif dari kerja, Maupun dalam penawaran dan permintaan, atau dalam nilai-nilai. Tidak ada yang akan berubah kecuali nama-nama uang dari nilai-nilai itu. Mengatakan bahwa dalam hal yang begitu buruh semestinya jangan menuntut kenaikan proporsionil dari upah, adalah seperti mengatakan bahwa ia harus merasa puas dengan mendapat bayaran dengan nama, sebagai ganti daripada barang-barang. Segala sejarah yang lampau membuktikan, bahwa bilamana saja terjadi kemerosotan uang semacam itu, maka kaum kapitalis berjaga-jaga untuk mempergunakan kesempatan ini untuk menipu buruh. Suatu mazhab yang sangat besar dari ahli-ahli-ekonomi politik menyatakan bahwa, sebagai akibat dari penemuan-penemuan tambang-tambang emas yang baru, perbaikan pengusahaan tambang-tambang perak, dan penyediaan airraksa yang lebih murah, maka nilai dari logam-logam berharga telah berkurang lagi. Ini menjelaskan usaha-usaha umum dan yang serentak di Daratan Eropa untuk kenaikan upah.

  1. Kita hingga sekarang memisalkan, bahwa hari kerja mempunyai batas-batas tertentu. Tetapi, hari kerja, pada dirinya sendiri, tak mempunyai batas-batas yang tetap. Adalah kecenderungan yang tetap dari kapital untuk meluaskannya sampai kepada batas kemungkinan jasmaniah, oleh sebab, dalam derajat yang sama, kerja-lebih, dan, sebagai akibatnya, laba yang timbul daripadanya, akan bertambah. Semakin berhasil kapital untuk memperpanjang hari kerja, semakin besar jumlah kerja orang-orang lain yang akan dirampasnya. Selama abad ketujuhbelas dan malahan juga selama bagian duapertiga yang pertama dari abad kedelapanbelas, hari kerja sepuluh jam adalah hari kerja yang lazim di seluruh Inggris. Selama perang antiYakobin, yang sesungguhnya merupakan perang yang dilakukan oleh baron-baron Inggris terhadap massa pekerja Inggris, kapital berpesta pora, dan memperpanjang hari kerja dari sepuluh menjadi duabelas, empatbelas, delapanbelas jam. Malthus, yang samasekali tidak akan dicurigai sebagai seorang yang gampang terharu, menyatakan dalam suatu selebaran, yang diterbitkan kira-kira tahun 1815, bahwa jika hal semacam ini akan berlangsung terus, kehidupan nasion akan terserang pada sumbernya sendiri. Beberapa tahun sebelum pemakaian umum dari mesin-mesin pendapatan-baru, kira-kira tahun 1765, suatu risalah terbit di Inggris dengan nama, Risalah tentang Perusahaan. Penulisnya, yang memaki nama samaran, dan yang merupakan musuh yang nyata dari klas buruh, menyerukan perlunya memperluas batas-batas dari hari kerja. Di antara cara-cara lain untuk maksud ini, ia usulkan adanya rumah-rumah kerja, yang, katanya, semestinya merupakan “Rumah-Rumah Teror.” Dan berapa lamanya hari kerja yang ia ajukan untuk “Rumah-Rumah Teror” ini? Duabelas jam, waktu yang persis sama dengan apa yang dinyatakan dalam tahun 1832 oleh kaum kapitalis, ahli-ahli-ekonomi politik, dan menteri-menteri sebagai waktu kerja yang tidak saja sedang berlaku akan tetapi yang perlu untuk anak di bawah duabelas tahun.

Dengan menjual tenaga bekerjanya, dan ia harus berbuat demikian dalam sistim yang sekarang, buruh menyerahkan kepada kapitalis pemakaian dari tenaga itu, akan tetapi dalam batas-batas rasional tertentu. Ia menjual tenaga bekerjanya untuk memeliharannya, terlepas daripada ausnya yang wajar, akan tetapi tidak untuk menghancurkannya. Dalam menjual tenaga bekerjanya menurut nilai harian atau mingguannya, diartikan bahwa dalam satu hari atau satu minggu tenaga bekerja itu tidak akan dikenakan pemborosan atau pengausan dua hari atau dua minggu. Ambillah suatu mesin seharga £1.000. Jika ia habis terpakai dalam sepuluh tahun ia akan menambahkan £100 setahun kepada nilai barangdagangan yang dalam memproduksinya ia turut membantu. Jika ia terpakai habis dalam lima tahun ia akan menambahkan £200 setahun, atau nilai dari ausnya sadalah berbanding balik dengan waktu dalam mana ia terpakai. Akan tetapi ini memperbedakan manusia pekerja dengan mesin. Mesin tidak mengaus dalam perbandingan yang persis sama dengan waktu dalam mana ia dipergunakan. Sebaliknyia, manusia merosot dalam perbandingan yang lebih besar daripada apa yang nampak dengan penambahan kerja dengan angka kerja.

Dalam usaha-usaha mereka untuk mengurangi hari kerja sampai kepada ukuran rasionil sebelumnya, atau, di mana mereka tidak dapat memaksakan penetapan hukum tentang hari kerja normal, dengan mencegah kerja lembur dengan kenaikan upah, yaitu suatu kenaikan yang bukan hanya sebanding dengan waktu-lebih yang diperas, akan tetapi dalam proporsi yang lebih besar, manusia-manusia pekerja hanya melakukan kewajiiban kepada diri mereka dan kepada ras mereka. Mereka hanya memberi batas kepada penghisapan sewenang-wenang dari kapital. Waktu adalah ruang untuk perkembangan manusua. Seseorang yang tidak mempunyai waktu yang terluang bagi dirinya sendiri, yang seluruh hidupnya, kecuali penyelangan jasmaniah semata-mata oleh tidur, makan, dan sebagainya, adalah terserap oleh kerjanyanya untuk sikapitalis, adalah kurang daripada kuda beban. Ia merupakan mesin semata-mata untuk memproduksi Kekayaan Asing, remuk dalam badan dan kasar dalam jiwa. Sekalipun demikian seluruh sejarah industri modern menunjukkan, bahwa kapital, jika tidak dicegah, secara nekad dan kejam berusaha melemparkan klas buruh ke dalam keadaan yang se-hina-hinanya ini.

Dalam memperpanjang hari kerja sikapitalis bisa membayar upah yang lebih tinggi namun masih menurunkan nilai kerja, jika kenaikan upah tidak bersesuaian dengan bertambah banyaknya kerja yang diperas, dan bertambah cepatnya kemerosotan tenaga bekerja yang diakibatkannya. Ini bisa dilakukan dengan jalan lain. Ahli-Ahli-statistik klas tengah akan menerangkan kepada saudara, umpamanya, bahwa upah rata-rata keluarga pekerja pabrik di Lancashire telah meningkat. Mereka lupakan, bahwa sebagai ganti dari kerja laki-laki, kepala keluarga, isterinya dan mungkin tiga atau empat orang anak kini dilemparkan ke bawah roda Jagatnath dari kapital, dan bahwa keseluruhan kerja-lebih yang diperas dari keluarga itu.

Malahan juga dengan batas-batas tertentu dari hari kerja, seperti yang sekarang terdapat dalam segala cabang industri yang tunduk kepada undang-undang pabrik, kenaikan upah bisa menjadi perlu, Sekalipun hanya untuk memelihara standar nilai kerja yang lama. Dengan meninggikan intensitet kerja, seseorang bisa disuruh mengeluarkan tenaga vital dalam satu jam sebanyak dalam dua jam dahulu. Sampai batas tertentu, ini telah dilakukan dalam cabang-cabang industri, yang ditempatkan di bawah Undang-Undang Pabrik, dengan mempercepat mesin-mesin, dan dengan semakin besarnya jumlah mesin-mesin yang berjalan yang kini harus diawasi oleh seseorang. Jika penambahan intensitet kerja atau massa kerja yang dikeluarkan dalam sejam masih berada dalam perbandingan yang agak baik dengan pengurangan panjangnya hari kerja, buruh masih akan merupakan pemenang. Jika batas ini dilampauii, ia kehilangan dalam satu bentuk apa yang telah ia capai dalam bentuk lain, dan sepuluh jam kerja bisa jadinya sama merusaknya seperti duabelas jam sebelumnya. Dalam mencegah kecenderungan kapital ini, dengan berduyuang untuk kenaikan upah yang bersesuaian dengan kenaikan intensitet kerja, buruh hanya melawan pemerosotan kerjanya dan pemerosotan rasnya.

  1. Saudara sekalian tahu bahwa, karena sebab-sebab yang sekarang tidak perlu saya terangkan, produksi kapitalis bergerak melalui cyclus periodik tertentu. Ia bergerak melalui keadaan tenang, bertambahnya kegesitan, kemakmuran, perdagangan berlebihan, krisis, dan kemandekan. Harga-Harga pasar dari barangdagangan, dan tingkat laba di pasar, mengikuti fase-fase ini, kini merosot di bawah

tingkat rata-rata, nanti naik di atasnya. Dengan memperhatikan seluruh cyclus, saudara akan mendapatkan bahwa suatu penyimpangan dari harga pasar dikompensasikan oleh yang lain, dan bahwa, dengan mengambil rata-rata dari cyclus, harga-harga pasar dari barangdagangan adalah ditentukan oleh nilainya. Baik! Selama fase kemerosotan harga-harga pasar dan fase-fase krisis dan kemandekan, buruh, jika tidak terlempar samasekali dari pekerjaan, akan pasti mengalami penurunan upah. Supaya jiangan tertipu, ia harus, Biarpun dengan adanya kejatuhan harga-harga pasar itu, memperdebatkan dengan kapitalis dalam derajat perbandingan yang bagaimana penurunan upah menjadi perlu. Jika, selama fase kemakmuran, sewaktu laba berlebihan diperoleh, ia tidak memperduyuangkan kenaikan upah, ia, dengan mengambil rata-rata dari satu cyclus industri, malahan tidak akan menerima upah rata-rata, atau nilai kerjanya. Adalah puncak ketololan untuk menuntut, bahwa sedang upahnya mestilah terkena oleh fase-fase jelek dari cyclus, ia harus mengasingkan diri daripada kompensasi selama fase-fase makmur dari cyclus itu. Pada umumnya, nilai-nilai dari segala barangdagangan hanya direalisasi dengan kompensasi dari harga-harga pasar yang terusmenerus berubah, yang timbul dari naik turun terusmenerus dari permintaan dan penawaran. Atas dasar sistim yang sekarang, kerja hanya merupakan suatu barangdagangan seperti lainnya. Makaitu ia harus melalui naik-turun yang sama untuk mendapatkan harga rata-rata yang bersesuaian dengan nilainya. Adalah gila memperlakukannya sebagai barangdagangan disatu pihak, dan di lain pihak menghendaki supaya ia dibebaskan dari hukum-hukum yang mengatur harga barangdagangan. Budak menerima jumlah perbekalan hidup secara permanen dan tertentu; tidak demikianlah halnya dengan buruh-upahan. Ia harus berusaha mendapatkan kenaikan upah dalam hal yang satu, Kalaupun hanya untuk mendapat kompensasi untuk jatuhnyia upah dalam hal yang lain. Jika ia bersabar untuk menerima kemauan, perintah-perintah sikapitalis sebagai hukum ekonomi yang permanen, ia akan mengambil bagian dalam segala kesengsaraan dari budak, tanpa keamanan dari budak.

  1. Dalam semua peristiwa yang telah saya tinjau, dan ini perupakan sembilanpuluh sembilan daripada seratus, saudara-saudara telah melihat, bahwa perjuangan untuk kenaikan upah hanya mengikuti jejak dari perubahan-perubahan terdahulu, dan merupakan buah semestinya dari perubahan-perubahan terdahulu dalam jumlah produksi, daya produktif

dari kerja, nilai kerja, nilai uang, banyaknya atau intensitet kerja yang diperas, naik-turun harga-harga pasar, yang tergantung pada naik-turun permintaan dan penawaran, dan sesuai dengan berbagai fase dari cyclus industri, ringkasnya, sebagai reaksi dari kerja terhadap tindakan sebelumnya dari kapital. Dengan memperlakukan perjuangan untuk kenaikan upah terlepas dari segala keadaan ini, dengan hanya memandang kepada perubahan upah, dan tidak melihat segala perubahan lainnya darimana ia timbul, saudara bertolak dari dalil yang salah untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang salah.


XIII

PERISTIWA-PERISTIWA UTAMA TENTANG USAHA MENAIKKAN UPAH ATAU MELAWAN PENURUNANNYA

*) Tidak terdapat isi bab pada file sumber.


XIV

PERJUANGAN ANTARA KAPITAL DENGAN KERJA DAN HASIL-HASILNYA

Sesudah menunjukkan bahwa perlawan periodik di pihak kaum buruh menentang penurunan upah, dan usaha-usaha mereka secara periodik untuk mendapatkan kenaikan upah, adalah tiada terpisahkan dari sistim upah, dan ditetapkan oleh kenyataan disamakannya kerja dengan barangdagangan, dan karenanya tunduk kepada hukum-hukum yang mengatur gerakan umum dari harga-harga; sesudah, selanjutnya, menunjukkan, bahwa kenaikan umum dari laba, akan tetapi tidak mempengaruhi harga rata-rata dari barangdagangan, atau nilai-nilainya, maka soal yang kini pada achirnya timbul adalah, betapa jauh, dalam perjuangan yang tiada henti-hentinya ini antara kapital dengan kerja, yang belakangan ini mempunyai kemungkinan untuk berhasil.

Saya bisa menjawab dengan suatu generalisasi, dan mengatakan bahwa, seperti halnya dengan segala barangdagangan lainnya, begitu juga dengan kerja, harga pasarnya, lama-kelamaan, akan menyesuaikan diri dengan nilainya; bahwa, karenanya, kendati segala gerak naik-turun, dan apa pun yang diperbuatnya, buruh secara rata-rata hanya akan menerima nilai dari kerjanya, yang terwuyud dalam nilai tenaga bekerjanya, yang ditentukan oleh nilai bahan-bahan kebutuhan yang diperlukan untuk pemeliharaan dirinya dan untuk reproduksi dirinya, nilai bahan-bahan kebutuhan mana pada achirnya ditentukan oleh kwantitet kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya.

Akan tetapi ada beberapa ciri chusus yang memperbedakan nilai tenaga bekerja, atau nilai kerja, dengan nilai segala barangdagangan lainnya. Nilai tenaga bekerja dibentuk oleh dua unsur–yang satu hanya jasmaniah, yang lain historis atau sosial. Batasnya terachir ditentukan oleh unsur jasmaniah, artinya, untuk memelihara dan me-reproduksi diri, untuk melangsungkan kehidupan jasmaniahnya, klas buruh harus menerima bahan-bahan kebutuhan yang tidak boleh tidak diperlukan untuk hidup dan berkembangbiak. Nilai bahan-bahan kebutuhan itu, karenanya, merupakan batas terachir dari nilai kerja. Di lain pihak, lamanya hari kerja juga dibatasi oleh batas-batas terachir, Kendatipun yang sangat elastis. Batasnya yang terchir ditentukan oleh kekuatan jasmaniah dari buruh. Jika penghabisan kekuatan-kekuatan vitalnya sehari-sehari melampau ukuran tertentu, ia tidak dapat dikerahkan lagi, hari demi hari. Tetapi, seperti telah saya katakan, batas ini adalah sangat elastis. Susul-menyusul yang cepat daripada angkatan-angkatan yang tidak sehat dan berumur pendek akan memenuhi kebutuhan pasar kerja sama baiknya seperti serangkaian angkatan yang kuat dan berumur panjang.

Kecuali unsur jasmaniah se-mata-mata ini, nilai kerja di-tiap-tiap negeri ditentukan oleh tingkat hidup tradisionil. Ini bukan hanya kehidupan jasmaniah, akan tetapi adalah pemuasan dari kebutuhan-kebutuhan tertentu yang timbul dari keadaan masyarakat dalam mana manusia ditempatkan dan dibesarkan. Tingkat hidup Inggris bisa dikembalikan kepada tingkat hidup Irlandia; tingkat hidup petani Jermaan kepada tingkat petani Livonia. Bagian penting yang dimainkan dalam hal ini oleh tradisi historis dan kebiasaan kemasyarakatan, dapat saudara pelajari dari karya Tn. Thornton tentang Penduduk-lebih, di mana ia menunjukkan bahwa upah rata-rata di berbagai daerah pertanian Inggris masa kini masih berbeda sedikit banyaknya sesuai dengan keadaan yang sedikit banyaknya menguntungkan dalam mana daerah-daerah tersebut muncul dari keadaan perhambaan.

Unsur historis atau sosial ini, yang masuk ke dalam nilai kerja, bisa diperluas, atau disusutkan, atau ditiadakan samasekali, sehingga tidak ada lagi yang tinggal kecuali batas jasmaniah. Selama masa perang antiYakobin, yang dilangsungkan, seperti yang lazimna dikatakan situa George Rose, itu tukang makan pajak dan tukang luntang-lantung yang tak dapat diperbaiki lagi, untuk menyelamatkan keenakan-keenakan agama kita yang suci daripada serbuan orang-orang Perancis yang tak beriman, maka petani Inggris yang jujur, yang diperlakukan dengan begitu lembut dalam suatu bab kita yang terdahulu, menekan upah buruh pertanian malahan sampai di bawah minimum jasmaniah se-mata-mata itu, akan tetapi megembalikan melalui Undang-Undang Miskin selebihnya yang diperlukan untuk kelangsungan jasmaniah dari rasnya. Ini adalah jalan yang agung untuk mengubah buruh-upahan menjadi budak, dan tokoh pemilik tanah yang angkuh dari Shakespeare menjadi fakir miskin.

Dengan membandingkan tingkat upah atau nilai kerja di berbagai negeri dan dengan membandingkannya pada berbagai zaman sejarah dalam negeri yang sama, saudara akan mendapatkan bahwa nilai kerja itu sendiri bukanlah suatu besaran yang tetap, akan tetapi yang variabel, Sekalipun dengan memisalkan nilai-nilai segala barangdagangan lainnya sebagai yang tetap tinggal konstan.

Perbandingan yang sama akan membuktikan, bahwa bukan saja tingkat pasar dari laba berubah, akan tetapi tingkat rata-ratanya.

Akan tetapi mengenai soal laba, tidaklah ada hukum yang menetapkan minimumnya. Kita tidak dapat mengatakan apa batas terachir dari pengurangannya. Dan mengapa kita tidak dapat menetapkan batas itu? Oleh sebab, Meskipun kita dapat menetapkan minimum dari upah, kita tidak dapat menetapkan maksimumnya. Kita hanya dapat mengatakan bahwa, bila ada suatu penentuan dari batas-batas hari kerja, maksimum laba bersesuaian dengan minimum jasmaniah dari upah; dan bahwa bila ada suatu penentuan dari upah, maksimum laba bersesuaian dengan perpanjangan hari kerja dalam suatu ukuran yang dapat dipersesuaikan dengan kekuatan-kekuatan jasmaniah dari buruh. Maka, maksimum laba, dibatasi oleh minimum jasmaniah dari upah dan maksimum jasmaniah dari hari kerja. Adalah nyata, bahwa antara kedua batas dari tingkat laba maksimum variasi dalam jumlah yang sangat besar adalah mungkin. Penentuan tingkat sesungguhnya hanya diselesaikan oleh perjuangan yang terus-menerus antara kapital dengan kerja, di mana sikapitalis senantiasa cenderung kepada penurunan upah sampai kepada minimum jasmaniah, dan memperpanjang hari kerja sampai kepada maksimum jasmaniah, sedang buruh senantiasa mendesak ke arah yang bertentangan.

Masalah ini jadinya adalah soal kekuatan masing-masing dari pihak-pihak yang berlawanan itu.

  1. Mengenai soal pembatasan hari kerja di Inggris, seperti halnya di semua negeri lainnya, ini tidak pernah diselesaikan kecuali dengan campurtangan perundang-undangan. Tanpa tekanan terus-menerus kaum buruh dari luar campurtangan itu tidak akan pernah berlangsung. Akan tetapi biar Bagaimanapun, hasil tidak akan tercapai dengan penyelesaian sendiri-sendiri antara buruh dengan kapitalis. Justru kebutuhan akan adanya aksi politik umum ini memberi bukti, bahwa dalam aksinya ekonomi se-mata-mata kapital adalah pihak yang lebih kuat.

Mengenai batas-batas dari nilai kerja, penyelesaian sesungguhnya selalu tergantung pada penawaran dan permintaan, saya maksud permintaan akan kerja dari pihak kapital, dan penawaran kerja oleh buruh. Di-negeri-negeri kolonial hukum penawaran dan permintaan menguntungkan buruh. Makaitu terdapat tngkat upah yang relatif tinggi di Amerika Serikat. Kapital bisa di sana berusaha sekeras-kerasnya. Ia tidak dapat menghindarkan pasar kerja daripada pengosongan terus-menerus oleh perusahaan terus-menerus dari buruh-upahan menjadi petani yang merdeka dan berdiri sendiri. Kedudukan buruh-upahan untuk bagian yang sangat besar dari orang Amerika hanya merupakan masa percobaan, yang pasti mereka tinggalkan dalam jangka-waktu yang lebih lama atau lebih pendek.¹⁰ Untuk memperbaiki keadaan kolonial ini, Pemerintah Inggris, sebagai bapak, menerima untuk beberapa waktu apa yang dinamakan teori kolonisasi modern, yang terdiri atas penetapan harga tinggi buatan atas tanah koloni, untuk menghindarkan pengubahan yang terlalu cepat dari buruh-upahan menjadi petani merdeka.

Akan tetapi sekarang marilah kita perhatikan negeri-negeri beradab tua, di mana kapital menguasai seluruh proses produksi. Ambillah, misalnya, kenaikan upah pertanian di Inggris dari tahun 1849 sampai tahun 1859. Apa akibatnya? Kaum petani tidak dapat, seperti teman kita Weston mungkin akan menasehatkan kepada mereka, menaikkan nilai gandum, malahan juga tidak harga-harga pasarnya. Sebaliknya, mereka harus mengalah kepada penurunannya.

Akan tetapi selama sebelas tahun ini mereka memasukkan mesin-mesin dari segala jenis, menggunakan cara-cara yang lebih ilmiah, mengubah sebagian dari tanah garapan menjadi padang rumput, menambah besarnya perusahaan pertanian, dan beserta ini ukuran dari produksi, dan dengan proses ini dan yang lain mengurangi permintaan akan kerja dengan memperbesar daya produktifnya, membuat penduduk agraria kembali berlebihan secara relatif. Ini adalah cara umum dengan mana berlangsung, dengan lebih cepat atau lebih lambat, reaksi kapital terhadap kenaikan upah di-negeri-negeri yang tua, dan menetap. Ricardo dengan tepat menyatakan, bahwa mesin-mesin senantiasa bersaing dengan kerja, dan kadang-kadang hanya dapat mulai dipergunakan bilamana harga kerja telah mencapai suatu puncak tertentu, akan tetapi pemakaian mesin-mesin hanya merupakan salah satu tindakan daripada banyak cara untuk menambah daya produktif dari kerja. Perkembangan yang sama ini juga, yang membuat kerja biasa berlebihan secara relatif, menyederhanakan di lain pihak kerja terlatih, dan dengan demikian menyusutkan harganya.

Hukum yang sama terdapat dalam bentuk yang lain. Dengan perkembangan daya produktif dari kerja akumulasi kapital akan dipercepat, malahan Sekalipun ada tingkat upah yang relatif tinggi. Dari sini, orang bisa menarik kesimpulan, seperti Adam Smith, yang pada zamannya industri modern masih berada dalam masa kanak-kanaknya, memang menyimpulkan, bahwa percepatan akumulasi kapital mesti mengubah imbangan untuk keuntungan buruh, dengan menimbulkan pertambahan permintaan akan kerja. Dari pokok pendirian yang sama ini banyak penulis, yang hidup dalam waktu yang sama, merasa heran bahwa, mengingat pertumbuhan kapital Inggris selama duapuluh tahun belakangan ini yang begitu jauh lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk Inggris, upah

10 Lihat Kapital, D. I, Bab XXXIII, hlm. 765, catatan 1):

“Kita di sini membicarakan Koloni-Koloni sebenarnya, tanah-tanah yang belum dijamah, yang dikolonisasi oleh pendatang-pendatang yang bebas. Amerika Serikat, secara ekonomi, masih saja merupakan suatu Koloni dari Eropa. Tambahan pula, ke dalam golongan ini termasuk juga sebangsa perkebunan-perkebunan tua di mana penghapusan perbudakan telah mengubah samasekali keadaan sebelumnya.” Semenjak tanah di-negeri-negeri kolonial di mana-mana telah diubah dengan kekerasan menjadi milik perseorangan, buruh-upahan di sana telah dirampas kemungkinan untuk menjadi produsen-produsen yang berdiri sendiri.–Red. tidak menjadi lebih dipertinggi. Akan tetapi bersamaan dengan kemajuan akumulasi suatu perubahan progresif berlangsung dalam komposisi kapital. Bagian dari keseluruhan kapital yang terdiri dari kapital-tetap, mesin-mesin, bahan-bahan mentah, alat-alat produksi dalam segala macam bentuk, bertambah secara progresif jika dibandingkan dengan bagian lain dari kapital, yang diperuntukkan untuk upah atau untuk pembelian kerja. Hukum ini telah dikemukakan dengan cara yang agak tepat oleh Tuan Barton, Ricardo, Sismondi, Profesor Richard Yones, Profesor Ramsay, Vherbuliez, dan lain-lainnya.

Jika perbandingan dari kedua unsur kapital ini mulanya adalah satu lawan satu, ia akan menjadi lima lawan satu, dan seterusnya, dalam kemajuan industri. Jika dari keseluruhan kapital sebanyak 600, 300 adalah diperuntukkan untuk perkakas-perkakas, bahan-bahan mentah, dan sebagainya, dan 300 untuk upah, keseluruhan kapital hanya perlu dilipat-duakan untuk menciptakan permintaan akan 600 orang pekerja sebagai ganti dari 300. Akan tetapi jika dari suatu kapital sebanyak 600, 500 adalah diperuntukkan untuk mesin-mesin, bahan-bahan, dan sebagainya, dan hanya 100 untuk upah, kapital yang sama harus bertambah dari 600 menjadi 3.600 untuk menciptakan permintaan akan 600 orang pekerja sebagai ganti dari 300. Maka dalam kemajuan industri permintaan akan kerja tidak sejajar dengan akumulasi kapital. Ia akan masih bertambah, akan tetapi bertambah dalam perbandingan yang senantiasa berkurang jika dibandingkan dengan pertambahan kapital.

Beberapa cetatan ini cukup untuk menunjukkan, bahwa perkembangan ini sendiri dari industri modern mestilah mengubah nerata secara progresif untuk keuntungan kapitalis melawan buruh, dan bahwa sebagai akibatnya kecenderungan umum dari produksi kapitalis bukanlah untuk menaikkan, akan tetapi untuk menjatuhkan tingkat rata-rata dari upah, atau untuk mendesak nilai kerja sedikit banyaknya kepada batas minimumnya. Dengan adanya kecenderungan hal-hal seperti itu dalam sistim ini, apakah ini berarti bahwa klas buruh seharusna melepaskan perlawanan nyya terhadap pelanggaran-pelanggaran dari kapital, dan meniadakan usaha-usaha mereka untuk mempergunakan se-baik-baiknya kesempatan-kesempatan sewaktu-waktu untuk perbaikan sementara bagi mereka? Jika mereka berbuat demikian, mereka akan merosot menjadi satu massa tubuh-tubuh rosokan yang rata yang tak dapat diselamatkan lagi. Saya kira, bahwa saya telah menunjukkan, bahwa perjuangan mereka untuk tingkat upah adalah kejadian yang tak terpisahkan daripada seluruh sistim upah, bahwa dalam 99 hal dari 100, usaha-usaha mereka untuk kenaikan upah, hanya merupakan usaha-usaha untuk mempertahankan nilai kerja tertentu, dan bahwa keharusan memperdebatkan harganya dengan kapitalis adalah terkandung dalam keadaan mereka yang seharusnya menjual diri karena terpaksa, sebagai barangdagangan. Dengan secara pengecut menyerah dalam bentrokan mereka se-hari-hari melawan kapital, mereka pastilah akan membikin diri mereka tidak cakap untuk memulai gerakan apa pun yang lebih besar.

Bersamaan dengan itu, dan samasekali terlepas dari perhambaan umum yang terpaut dalam sistim upah, klas buruh seharusnya jangan membesar-besarkan bagi diri mereka kesudahan dari perjuangan se-hari-hari ini. Mereka seharusnya jangan melupakan, bahwa mereka adalah berjuang melawan akibat, akan tetapi tidak melawan sebab dari akibat itu; bahwa mereka memperlambat gerakan menurun, akan tetapi tidak mengubah arahnya; bahwa mereka menggunakan obat untuk meringankan penyakit, dan bukan untuk menyembuhkan penyakit. Maka mereka seharusnya jangan se-mata-mata tenggelam dalam perlawanan-perlawanan geriya yang tak terhindarkan ini, yang tiada putus-putusnya timbul dari pelanggaran-pelanggaran yang tiada henti-hentinya dari kapital atau perubahan-perubahan dari pasar. Mereka seharusnya memahami bahwa, dengan segala kesengsaraan yang ditimpakkannya kepada mereka, sistim yang sekarang, bersamaan waktu, melahirkan syarat-syarat materiil dan bentuk-bentuk sosial yang diperlukan untuk pembangunan kembali ekonomi masyarakat. Sebagai ganti dari semboyan kolot, “Upah harian yang layak untuk kerja harian yang layak!” mereka seharusnya melukiskan semboyan revolusioner, “Penghapusan sistim upah!” pada panji mereka.

Sesudah uraian yang sangat panjang dan, saya chawatir, menjemukan ini yang terpaksa saya lakukan untuk memberi penghargaan sekedarnya kepada pokok pembicaraan, saya akan menyudahi uraian saya ini dengan mengusulkan resolusi-resolusi sebagai berikut:

Pertama. Kenaikan umum dalam tingkat upah akan berakibat penurunan dari tingkat umum dari laba, akan tetapi, berbicara secara luas, tidak mempengaruhi harga-harga barangdagangan.

Kedua. Kecenderungan umum dari produksi kapitalis bukanlah untuk menaikkan, tetapi untuk menjatuhkan tingkat rata-rata dari upah.

Ketiga. Serikatburuh-Serikatburuh bekerjba baik sebagai pusat-pusat perlawanan terhadap pelanggaran-pelanggaran dari kapital. Mereka gagal sebagian karena penggunaan yang tak bijaksana dari tenaga mereka. Mereka gagal pada umumnya karena pembatasan diri mereka pada perang gerilya melawan akibat-akibat dari sistim yang ada, dan bukan, bersamaan dengan itu, berusaha untuk mengubahnya, dan menggunakan kekuatan-kekuatan mereka yang terorganisasi sebagai pengungkit guna emansipasi terachir dari klas buruh, yaitu, penghapusan terachir daripada sistim upah.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.