45 DALAM SEJARAH KESUSASTERAAN INDONESIA
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
45 DALAM SEJARAH KESUSASTERAAN INDONESIA
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Pewarta
No. 5 • Th. VIII • Juni 1958
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: The Standard Bearer (c. 1516/1518), karya Albrecht Altdorfer
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
45 DALAM SEJARAH KESUSASTERAAN INDONESIA
Apabila ditinjau kembali seluruh penerbitan majalalah Pujangga Baru sejak terbit sehingga matinya pada permulaan pendudukan Jepang (benar pada tahun 1948 sampai dengan tahun 1953 majalah ini diterbitkan lagi, tetapi penerbitan ini bukan lagi beriklimkan dan berjiwakan Pujangga Baru sebelum perang dunia II, yang berarti, bahwa sebagai majalah ia tak berbeda dengan majalah-majalah kebudayaan/kesusasteraan lain-lainnya seperti Indonesia, Zenith, lampiran kebudayaan Gelanggang dari Siasat, Budaya, dsb.) maka nampaklah bahwa Pujangga Baru baru menekankan persoalan pelaksanaan teknis idee‘ insidental, kritik-kritik, yang belum lagi mengena pada pokok persoalan sebenarnya di lapangan pengajaran, bahasa, situasi sastera serta kebudayaan dsb., yang karenanya menyebabkan belum dapat ditemukan garis kontenu kesejarahan.
SAMA u. ‘GA HALNYA dengan di lapangan politik, masa 45 dapat dikatakan masa pembebasan, masa merdekaan, dan masa pembinaan kepribadian. Apabila Revolusi Politik telah mencapai klu. xanya pada Revolusi Bersenjata, yang akhirnya melahirkan negara kesatuan Indonesia, maka dalam sejarah kesusasteraan Indonesia lahir yang lazim dinamai Angkatan 45, angkatan sastera yang di samping Revolusi Bersenjata, melakukan revolusi dalam bidang yang lebih mendalam, yakni bidang spirituul-kreatif, yang juga membebaskan, merdekaan manusia Indonese'a sebagai manusia kultural daripada komplex-komplex politik dan sosial masarakat lama, komplex-komplex rasial, yang mana Pujangga Baru dalam seumur hidupnya bukan saja belum mampu melakukannya, bal'kan juga belum lagi punya idee tentang ny.
Dan sesungguhnya ialah, karena kurangnya terdapat kesedaran sejarah ini yang menyebabkan Pujangga Baru mendapatkan warnanya yang khusus.
Tentu sadia tidaklah adil menghukum Pujangga Baru sampai demikian beratnya. Tetapi pendapat ini diperoleh hanya dari memperbandingkan antara kedua angkatan tersebut. Sudah pasti bahwa Pujangga Baru pun mempunyai segi-segi yang positif, paling tidak ia telah berdiyasa dalam membuka jalan untuk Angkatan 45; tetapi diinstru dalam pokok ini hanya dibicarakan dan dibandingkan tugas angkatan-angkatan tersebut dalam membebaskan, memerdekaan manusia Indonesia secara kultural.
Pada waktu salah seorang tokoh terkemuka Pujangga Baru dari front pentimuran, yakni Amir Hamzah, tewas dalam apa yang orang namai revolusi sosial di Sumatera Utara, orang menganggap peristiwa ini sebagai perlambang, bahwa sediarah Pujangga Baru telah berakhir dengan kekerasan. Pujangga Baru yang bersifat revolusionar dalam elan evoli itu mengalami suatu onnatuurliykedood: Pujangga Baru tewas pada waktu dunia mulai mengindiaykan kakinia di alam kekerasan, dan diuga karena sejarah ternyata hanya memberikan tempat pada Revolusi bagi Indonesia. Pada masanya memang Pujangga Baru nampak revolusionar mutlak, tetani serenta Revolusi itu sendiri tiba, ternyata ia baru dalam taraf revolusionar semut, revolusionar dalam batas-batas yang bisa diberikan oleh suatu perkembangan yang evolusionar. Dan mengapa dahulu Pujangga Baru nampak revolusionar? Karena ia memperlihatkan keberanian yang seakan-akan tak kenal batas di masa damai. Toyan-toyan yang ditupukan oleh Pujangga Baru mengamuk di dalam gelasminum. Dan setelah Revolusi itu sendiri tiba dalam bentuk dan jiwania yang sebenarnya, ternyata angkatan ini terlalu lunak untuk dapat mengikutinya.
Jadi perbedaan antara Pujangga Baru dan Empatlima dapat disimpulkan demikian:
Pujangga Baru revolusionar di masa damai Empatlima revolusionar di masa Revolusi.
Perbedaan ini merupakan ciri yang khas yang membedakan kedua angkatan tsb.
Pada bulan Maret tahun 1948, sedang hebat-hebatnya Revolusi bergolak, terbitlah kembali majalah Pujangga Baru. Tetapi masa-gemilangnya, masa-dibutuhkan, baginya telah lalu.
Periode Revolusi, periode bukan hanya mengimpikan kemerdekaan dari balik meja dengan jalan melantiarakan kritik terhadap masasilam secara kelebih-lebihan, sudah lewat. Takdir sendiri di masa itu lebih banyak bergerak ke-daerah-daerah lain, daerah bahasa, menjadi ahlibahasa, menjadi pengusaha yang berhasil di lapangan percetakan dan penerbitan, menjadi promotor kuat daripada pembangunan Fakultas Sasiera, menjadi pengajar. Tetapi pada hakikanna masa ini merupakan masa Pujangga Baru bukan saja mati, tetapi pun hanya meninggalkan sisa-sisa yang telah ceraiherai daripada ikatan semangatnya, bahkan tidak tahu lagi di tempat mana ia berada.
Dalam hebatnya Revolusi itu, Idrus dan Khairil Anwar tamnil ke depan dan menterjemahkan terbangnya suatu susunan lama dengan segala sangkut-pautnya yang telah bertahan selama berabad-abad dengan megahnya: moral, religi, politik, sosial dsb. Karena mereka ini bukanlah boneka-boneka yang digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di luar dirinia, tetapi tokoh-tokoh yang telah membebaskan diri, dengan sendirinya tempat mereka hertolak dalam tiap laku sastera dan budaya adalah dirinya sendiri itu pula dalam rangkuman keseluruhan pergolakan hongsa pada mosanya. Dan inilah sebabnya mengana baniak kali orang menganggap golongan Empatlima adalah indiv idualiztis (dan dengan sendirinya, ekses yang menimpa parapengikutinya adalah nyata, yaitu: egoistis).
Dari keterangan tersebut danat disimpulkan pula perbedaan azazi antara Pujangga Baru dengan Empatlima:
Pujangga Baru bertitiktolak dari luar, karena itu lakunya terdesak. Empatlima bertitiktolak dari dalam, karena itu lakunya waji b.
. Dalam masa Revolusi itu Khairil Anwar dan Idrus ikutserta dengan aktif menghancurkan norma-norma lama tanpa mempunyai konsepsi akan norma-norma baru bagi masadepannya, tanpa suatu kearahan yang menjangkau jarak yang jauh-jauh. Mereka adalah penterjemah dan katahati daripada suatu masapendek: masa Revolusi. Namun, seperti juga halnia dengan Pujangga Baru, mereka pun telah berhasil mentiyiptakan daerah dan jarak baru, yang selama itu belum pernah nampak oleh Pujangga Baru, Sekalipun hanya dari kejauhan.
Apabila Barat dan Timur menjadi soal yang pokok dan soal yang memusingkan bagi Pujangga Baru, maka bagi Empatlima ini, mereka merasa bukan soalnya memberikan kesaksian pada adanya Barat atau Timur. Barat dan Timur bukan suatu pengertian yang tersendiri-sendiri di dalam hidup mereka. Timur dan Barat hanya sebagian-sebagian ketiyil yang bergandengan satu-sama-lain dan merupakan sebagai ketiyil dari daerah-hidup mereka sendiri. Pertemuan Ataupun bertempuran antara Barat dan Timur yang menjadi acara sensasional bagi Pujangga Baru, dan pengkiblatan ke Barat seperti dinyanyikan oleh Takdir sampai dewasa ini sebagai masalah hidup atau mati suatu bangsa, bagi Empatlima bukan soal utama atau menentukan. Karena, Timur dan Barat sudah mereka cerankan, telah menjadi sebahagian dari darah-dagingnya sendiri. (Persoalan Takdir tentang Timur dan Barat, terutama di luar negeri, memang banyak mendapat sambutan pada tahun-tahun belakangan ini, karena inilah justru yang menjadi masalah Barat sendiri dalam usahanya untuk mengerti kegagalanynya dalam hubunganyya dengan dunia Timur, dan untuk memperbaiki hubungan mereka dengan bangsa-bangsa bekas jajahannya. Jadi persoalan Timur dan Barat bukanlah persoalan bangsa Indonesia dewasa ini, bahkan boleh dikatakan tipis persoalan orang dan bangsa Barat!)
Di masa kaum politisi di waktu Revolusi itu masih ada yang dalam taraf mengimpikan kemerdekaan politik, dan sisa-sisa golongan Pujangga Baru telah menduduki tempat-tempat penting sebagai petugas pada pemerintah (di antaranya pemerintah pendudukan Belanda, yakni pemerintah Federal (seorang bahkan menjadi menteri dalam negara bagian ‘boneka’). kedua tokoh Empatlima ssedang dan malah giat membangunkan suatu hasil baru dengan jiwa dan keliling yang sudah merdeka dan dibebaskan, sedang kemerdekaan dan kebebasan itu adalah hasil daripada pekerjaan mereka sendiri. Tanpa kemerdekaan ini tidak mungkin keduanya bisa menjadi perombak totol (dari bukan membuat kebudayaan baru atas dasar-dasar baru seperti diimpikan oleh golongan Pujangga Baru) di lapangan prosa dan puisi. Benar bahwa dalam prosa Idrus Sura - b a ya, misalnya, terdapat ejekan terhadap kaum pejuang, tetapi ini adalah ‘pandangan pribadinya yang mungkin hanya bersifat insidental. Tetapi suatu hasilsastera adalah pula suatu hasil sikapdunia, sikaphidup sekaligus. Keseluruhan hasilsastera adalah manifestasi adanya hidup itu sendiri, menjadi katahati jaman dan manusianya.
Barangkali akan menimbulkan keragu-raguan arti pembebasan yang dilakukan oleh kedua tokoh Empatlima tersebut. Sebab, bukankah Revolusi digerakkan oleh seluruh angkatan perang dan seluruh bangsa Indonesia yang tidak berkhianat dan bukan oleh mereka berdua? Ini memang benar, tetapi Revolusi yang dilakukan oleh angkatan perang dan seluruh bangsa Indonesia yang tidak berkhianat adalah Revolusi Fhisk, Revolusi Alami, revolusi yang berubah bangun dan wajh bangsa. Khairil dan Idrus melancarkan revolusi di'daerah yang lebih rumit, yaitu Revolusi Spiritual, revolusi batin, revolusi jiwa.
Dua bidang Revolusi tersebut bukan saja dibutuhkan, tetapi berlaku secara isi-mengisi. Karena pada lahirnya yang populer adalah kemenangan Revolusi ‘Alani’, maka hasil yang telah dicapai oleh kedua orang itu hanya sayup-sayup terdengar dan antara nyata dan tiada saja nampak oleh mata umum. Hasil yang telah mereka cpai merupakan katahati atau keinsafan budi (geweten) yang terdesak oleh kegiatan-kegiatan lahiriah.
Memang, angkatan Empatlima juga mempunyai kelemahan-kelemahannya. Dan tidaklah adil memperbtncangkan kebesaran mereka tanpa juga memperbincangkan kelenahannya. Kekurangan-kekurangannya ini pertama-tama tama—dalam masahidupnya yang amat pendek dan gelisah itu—ialah bahwa mereka baru sampai pada taraf penterjemahan dan pelukisan. Angkatan ini belum mampu memberi yawabana paa: tantangan yang dilontarkan oleh kebalianan jamannya. Dia baru sampai pada taraf berkonstatai terhadap jamannya beserta gejala-gejala yang dilahirkannya. Dapatlah dilukiskan demikian, angkatan ini memang mempunyai tenaga, tetapi tangannya terlampaui pendek, enersinya terlampaui banyak terbuang sia-sia dalam usahanya untuk memanjangkan tangannya yang pendek ini. Karena itu kita dapat mengerti, mengapa dalam perkembangan selanyutnya Khairil harus melakukan perbuatan-perbuatan gegabah yang merupakan kesalahan mutlak di dalam dunia kesusasteraan. Jinga karena itu pula kita dapat mengerti, mengapa Idrus terus membungkam seribu bahasa, dan selanyutnya mengapa Khairil meninggal karena kehabisan enersi. Idrus bungkam karena memane tidak ada sesuatu pun yang harus dikatakannya lagi dalam mana lingkungan tidak lagi manghirip udara kekerasan. (Secara individual memang ia bisa menulis lagi, tetapi bukanlah dalam nilai Idrus sebagai pelopor Angkatan Empatlima). Besok atau lusa memang mungkin sekali Idrus kembali tampil ke depan, tetapi ia akan dapat berlaku apabila ia telah dapat memindahkan pool kekerasan masa Revolusi Bersenjata itu pada pool baru sekarang ini dengan persoalan-persoalanannya. Sebagai pentrojenah jamar, tempat dan manusianya dia takkan dapat berhasil menterjemahkan jaman, tempat dan manusia yang sudah bersgeser ke tempat lain bila ia tidak ikut bergeser dengan semuanya. Barangkali ada yang mendakwa bahwa persgeseran demikian adalah pengkhianatan, tetapi sesungguhnya hal ini hanyalah suatu ciri daripada kekenyalan jiwa manusia. Pengukuhana pada suatu kurun mava yang sudah lewat adalah tanda berhentinya jiwa itu.
Dengan sengaja hanya Khairil dan Idrus yang dikemukakan di sini sebagai bentuk dan jiwa Angkatan Empatlima, yakni apabila ini dipandang dari yurusan titiktolak mereka, yang kemudian memberikan suasana seperti yang dikatakan oleh H. B. Yassin: humanismeuniversal, suatu pandangan yang mana manusianyalah yang jadi pusat segala persoalan, dan melalui persoalanannya orang menuyu ke arah, manusianya, menuyu menjadi ukuran mutlak, dibebaskan daripada warna politik, sosial, ekonomi dan lain-lainna, sehingga dengan demikian manusia yang pada lahirnya berada di Indonesia, dapat juga diterima di-delapan penjur dunia dan dilima benua.
Saya sendiri cenderung untuk menggolongkan Rivai Apin, Sitor Situmorang, Asrul Sani dll. dalam suatu kurun masa tertentu, sebagai penegas dan penjelas saja. Empatlima manghimpunkan pelopor dan penegas karena sebab yang sama, yaitu pengalaman yang sama dalam Revolusi Alami yang baru lalu dan dalam taraf tertentu daripada Revolusi Jiwa. Angkatar Empatlima yang sesungguhnya pada hakikatnya hanya Khairil dan Idrus.
Jumliah tokoh yang sesediki! itu bukanlah menjadi sebab gagahnya penamaan Angkatan. Karena, satu orang pun dapat dinamai Angkatan. Yang penting bukanlah jumlah, tapi pengaruh yang diudikannya, serta tenaga yang diudikannya pula, yang terjadi karena suatu sikap terhadap hasil budaya yang lama dan sedang menjadi. Semangat mereka ini kemudian menjadi semangat umum, sedang ide-ide mereka menjadi ide-ide umum.
Sampai di sini terasa perlunya diterangkan tentang perdiyalan dan usaha Angkatan ini dalam mengembangkan dirinya serta usahanya dalam mempertahankan hasil-hasil kerjanya. Tanpa ini mungkin kurang jelas sejarah kegiatanya sebagai Angkatan, yang di masa sekarang dan di tahun-tahun belakangan ini mendapat perhatian begitu besarnya, baik di kalangan umum; pengajar dan pelajar serta masarakat pembaca khusunsya, di dalam dan di luar negeri.
Yang melantiskan nama Angkatan Empatlima ini pada mulanya adalah Rosihan Anwar, penyair yang mengembangkan kegiatanya pada masa pendudukan Jepang, wartawan dan redaktur harian Pedoman. Rupa-rupaan pelantisan nama itu mendapat bumi yang subur, sesuai dengan adanya keinginan yang hidup di bawah-sadar untuk membedakan satu kegiatan daripada yang lain atau yang sudah-sudah.
Sebenarnya semangat yang termaktub di dalam Angkatan Empatlima sudah lama sebelum runtuhnya penjajahan Jepang telah berlaku dengan diam*. Tentu, dalam hal ini orang tak mungkin dapat memberikan detik permulaannya secara tepat dan pasti, karena juga Angkatan ini lahir karena suatu pergantian iklim sosial dan karena kekurangan-kekurangan yang didapat-kannya pada masa-masa yang lalu, sedang pergantian iklim sosial pun tidak pernah meninggalkan bekas-bekas yang pasti kapan mulainya. Ia merambat dengan diam-diam, untuk kemudian menyatakan diri dengan megahnya. Proses penjadian Angkatan ini tidak bisa dikontrol dengan seteliti-telitinya. Hanya dapat dikatakan, bahwa Idrus dan Khairil terpaksa tak menyiarkan sebahagian dari karangan-karangannya di masa pendudukan Jepang, bukan saja hal itu akan bertentangan dengan sifat dan laku pemerintahan Jepang, juga karena instansi-instansi “kultural” waktu itu tidak mengerti, tidak bisa menerima tulisan-tulisan mereka.
Patung “Menuju Bintang-Bintang” ciptaan Postnikov menarik perhatian pengunyung-pengunyung waktu dipertunyukkan di Gedung Pusat Pertunjukan di Moscow dalam rangka peringatan Revolusi Oktober.
Setelah proklamasi segala halangan dan rintangan tumpas. Bukan saja Khairil dengan leluasa dapat menerbitkan karangan-karangannya, bahkan juga Idrus seakan berada dalam demam-penulisan. Tetapi pengertian umum atas hasil kedua orang itu masih tipis, karena orang sedang sibuk melakukan Revolusi Bersenjata. (Surabaya Idrus pada mulanya tidak diterbitkan oleh Balai Pustaka, Sekalipun ia sendiri seorang redaktur di situ pada kala itu, tetapi oleh Merdeka Press, 1947, yang juga menerbitkan harian dan majalah Merdeka, Jakarta). Juga himpunan-himpunan sajak Khairil pada instansi pertama tidaklah diterbitkan oleh Balai Pustaka, tetapi oleh Pustaka Rakyat dan Pembangunan. Kejajan-kejajan ketiyil ini pada hakikatnya merupakan suatu gambaran yang agak tegas daripada pengertian orang atas gerakan sastera baharu itu. Tetapi di luar kalangan-kalangan resmi pengaruh kedua orang itu mulai meluas. Pada waktu penguburan Khairil, Sutan Syahir yang pada waktu itu merupakan tokoh politik utama, telah membatakan salahsebuah sajak mendiang, sehingga peristiwa unik ini dengan sekali pukul dapat membantu H. B. Yassin dalam meluaskan pengertian umum atas hasil-hasil sastera yang terbaru pada waktu itu.
Kematian Khairil pada tahun 1949 seakan menjadi peringatan pada kita, bahwa sudah selesaiabab babak baru dalam perkembangan kesusasteraan Indonesia. Tetapi karena kurangnya pengertian sejarah, beberapa bulan setelah penyerahan keadautan, berhasil pun para-pengarang Asrul Sani, Rivai Apin, Sitor Situmorang, Pramoeja Ananta Toer, beberapa orang pelukis dan komposis, yang maksudnya mendukung diywa Angkatan Empatlima. (Karena loncernya penamaan Empatlima bagi masing-masing mereka ini, dipergunakanlah nama Gelanggangin untuk mengganti nama Empatlima, dan dari musawarah itu dihasilkanya Surat Kepercaian Gelanggang. yang diyuga karena kurangenya kesedaran sejarah, ternyata tidak mempunyai arti azai (Ataupun praktis).
Musawarah ini mendapat katasepakat dan berhasil merumuskan kehendak dan sikapnya dalam sebuah manifestasi atau surat keperca-yaan, yang menyatakan akan lepasnia ikatan dengan pengulangan-pengulangan hasil-hasil lama, dan menerima kebudayaan dunia serta melontarkannya kembali dalam bentuk suara sendiri sebagai kebudayaannya. Salahsebuah kalimatnya yang terkenal adalah: “Kami adalah ahliwaris dunia yang syah....”
Manifestasi yang mentereng itu sejak semula sudah memperlihatkan kurangnya kesedaran sejarah dan logika sosiologis, serta kurangnya pengertian tentang dominasi tradisi sebagai hasil daripada culturele overdrakht dari zaman ke zaman, serta memperlihatkan tendensi tierabutan (ontworteling) yang lebih menantang daripa yang pernah diperlihatkan oleh Pujangga Baru. Kurangnya kesedaran sediarah seperti sering disebut-sebut di atas, adalah sesungguhnya kurangnya pengertian mereka bahwa sejarah selamanya merupakan garis persambungan yang tiada habis-habis, di mana tiap mata rantai mewakili jaman tertentu, dan di mana hanya dengan suatu sikap atau suatu manifestasi tak mungkin orang dapat meretas putus salah-satu matarantai daripadanya. Tiap rantai dari padanya adalah akibat daripada matranta sebelumnya. Hanya dengan pengertian sejarah orang dapat membantu meneguhkan pemasangan matarantai ini, dan bukan mereka-reka suatu matarantai baru yang belum tentu bentuk, macam dan kekuatannya. Sedang kesedaran kebudayaan menghendaki agar pencipta lebih dahulu menggali buminya sendiri untuk kemudian baru mengembangkan diri ke dunia mana pun ia kehendaki. Karena akhir-nya bumi sendiri adalah tempat tiap orang bertolak dan diyuga tempat tiap orang kembali, tempat di mana ia menerima, dan tempat di mana ia harus memberi.
Memang sudah banyak di antara karya para-penegas Angkatan Empatlima ini diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa modern serta bahasa-bahasa asing lainnya yang termasuk bahasa besar, tetapi ini bukanlah satu kemestian untuk tidak meninjau kembali kesalahan yang sudah-sudah apabila orang tidak mau harus bungkam untuk selama-lamanya di gelanggang penciptaan. Pada umumnya penterjemahan* ke dalam bahasa-bahasa asing itu disebabkan karena beberapa hal, yakni: a. gayubasa parapengarang tsb. yang hampir-hampir mendekati tamriniahbaru (nieuw zakeliykheid) yang lazim di dunia modern umumnya, b. hasrat hendak mengenal bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa baru merdeka, termasuk di dalamnya aspirasi* nasionalinya, c. menarik simpati dari bangsa-bangsa yang karyanya diterjemahkan. Seperti dikatakan sebelumnya penterjemahan* ini saja belum cukup. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk dapat mengerti tentang pentingnya kontinuitas sejarah yang sehat, dan ini hanya mungkin apabila ada modal yang diperolehnya dari buminya sendiri, rakyat dan bangsa-nya sendiri.
Kini iklim kekerasan berangsur-angsur telah padam dari bumi tanahair, baik yang berupa Revolusi Bersenjata Maupun Antirevolusi Bersenjata. Iklim kekerasan ini dalam hidupna Angkatan Empatlima dan Penegasnya ini begitu berpengaruh atas jiwa mereka. Kenyataan tinggal kenyataan. Tetapi ini tidaklah perlu menjadi suatu hal yang menentukan dalam perkembanga*, penciptaan sastera Angkatan Empatlima dan Penegasnya untuk selama-lamanya. Karena tanpa mempergunakan dayanyal jiwa, mereka akan tercecer jaun dari alam pikiran nasional lang telah bergeser lebih maju lagi. Iklim kekerasan sudah berkisar dan berangsur-berangsur menjelma iklim baru. Orang mulai menyusun kembali diri sebagai warga yang harus memenuhi banyak tanggungjawab: terhadap negara, lingkungan, sesama dan rumah-tangga. Perubahan iklim itu bagi mereka yang tak kuasa menyusun diri kembali terasa begitu mengacaukan dan terlalu ceput, sehingga kehilangan keseimbangan. Revolusi yang pada masa yang lalu telah membuat mereka menjadi satu dan bergerak ke arah tujuan yang satu pula telah bergeser. Tiap-tiap di antara mereka yang dahulu dirangkum menjadi satu dalam mempergunakan hidup dan menuju ketijuan bersuma (gemeenskhappeliyke doel en middel) kini terlepas dan terserak tak berikatan. Kini, dalam kehidupan sosial orang harus bertanggung-jawab pada dirinya sendiri, kesulitan*nya harus diselesaikannya sendiri. Pergeseran sosial ini menimbulkan semangat penciptaan baru yang tidak sama kondisinya dengan di masa Revolusi Bersenjata dahulu.
Tak lama setelah pemulihan kedaulatan timbul golongan baru dalam masarakat sastera Indonesia, golongan Lekra. Dengan gencarnya golongan ini menuduh bahwa Angkatan Empatlima telah mati. Takdir pun menyatakan, bahwa dengan kemati Khairil mati pulalah Angkatan Empatlima. Sebetulnya tuduhan Lekra dan pernyataan Takdir itu tak perlu benar. Dengan konstataasi yang-jernih tanpa prasangka telah cukup jelas, bahwa Angkatan Empatlima sebenarnya sudah tidak ada lagi sejalan dengan bergesernya iklim kekerasan dalam Revolusi Bersenjata ke arah iklim pergaulan hidup yang normal.
Pernah seorang guru sastera bertanya dalam hubungan ini. “Jadi kalau demikian Angkatan Empatlima pernah ada atau tidak?” Jawabannya sudah jelas: Angkatan Empatlima pernah ada, tetapi sekarang tidak, selain daripada karya-karya peninggalannya. Periode hidup, tumbuh dan kembangnya sudah lewat dengan baik Sekalipun dengan hasil yang kurang banyak.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.