SIMPOSION FAKULTET SASTERA
JAWABAN ATAS BEBERAPA REAKSI
H. B. JASSIN
KOLOFON
SIMPOSION FAKULTET SASTERA
JAWABAN ATAS BEBERAPA REAKSI
oleh
H. B. JASSIN
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 4 • 15 Januari 1955
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Insects' Concert (1960), karya Ansei Uchima
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
SIMPOSION FAKULTET SASTERA
DI DALAM simposion yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fakultet Sastera 5 Des. y.l., pembicaraan saya tidak diikuti dgn. diskusi, tapi saya berdanji akan menyambut tulisan-tulisan dalam malahan dan surat kabar yang bersifat polemik. Kesempatan ini saya pakai untuk menjawab beberapa pembahasan'yang saya anggap serius. Oleh karena reaksi-reaksi terhadap pidato saya itu dimuat tersebar dalam berbagai malahan dan surat kabar tak mungkin bagi saya dan saya rasa tak efektif menjawa-bnba satu per satu dalam masing-masing malahan dan surat kabar yang bersangkutan dan haraplah dapat diterima saya menjawab sekalianinna sekaligus dalam malahan Mimbar Indonesia.
Saya mulai pidato saya dengan permintaan maaf karena saya tak bersedia berdiskusi karena segala syarat yang harus ada pada sesorang pembicara di muka umum, saya tak punya. Syarat-Syarat itu ialah ketekatan bicara, dan seperti halnya dalam diskusi, ketepatan berpikir, ketepatan merumuskan, daya reproduksi dan daya reaktif terhadap ucapan dan pendapat yang berlainan dari pendapat sendiri, jika perlu dengan tegas dan cetap melontarkan kembali pikiran-pikiran yang telah dirumuskan dengan baik.
Meskipun demikian komentator soal-soal kebudayaan RRI Buyung Saleh yang kita kenal sebagai jago bicara merasa perlu memberi nasihat via comong radio supaya saya toh mau berdiskusi di simposion karena bukan satu rintangan kalau tak bisa bicara (?), yang penting yalan is1 pembicaraan.¹ Ini satu nasihat yang tidak saya perluikan karena saya terlalu kenal diri saya.
Perlu saya terangkan bahwa sebelum simposion saya telah berkali-kali menolak permintaan untuk berbicara sambil mengemukakan kekurangan saya dalam bertukar pikiran secara lisam di depan umum, tapi kegiatan panitia simposion berhasil memaks saya pada akhiurnya menerima permintaan bicara, -tapi dengan syarat tanpa diskusi.
Jadi jikalau ada penyesalan bahwa ‘simposion itu bukan simposion’, maka ini adalah penyesalan yang mengenai kebijaksanaan pengurus simposion dalam memilih para pembicara. Supaya ramai seharusnyalah panitia memilih pembicara yang memang ahli bicara dan ahli berdebat. Saya sendiri bersangka bahwa kompromi yang toh bisa tercapal antara saya dengan panitia, mungkin juga karena pertimbangan bahwa apa yang diminta dari saya adalah suatu balans yang tak begitu perlu diper-debatkan.
Pidato simposion saya sebut pidato saya, karena diucapkan di depan simposion, tapi kalau ada orang yang hendak menyebutnya pidato saja, saya pun tidak keberatan.
Dalam pada itu ingin juga saya menyelidiki apakah yang disebut simposion itu. Simposion lahal nama salah satu buku Plato dalam mana diceritakannya percakapan antara Sokrates dengan kawan-kawannya menge-nai Eros, dewa cnta dan hakekat cnta dalam segala penjelmaan, dsyamaniah dan rohaniah. Beberapa orang ahli filasfat bicara bergilir mengemukakan pendapatnya, yudiyudiyan kepada Eros, masing-masing dengan bicara yang se-bagus-bagusnya. Simposion ini diteryemahkan kebahasaan Jer-man dengan Gastmihl (terj. Rudolf Kassner) yang ‘berarti feestmaal, banket, pertemuan makan-makan dan minum-minum dan kebahasaan Belanda dengan Drinkgelag (terj. P. C. Boutens) yang berarti herbergvertering, dron-kemanspartiy (Koenen Hw), ber-mabuk-mabuk. Percakapan-Percakapan Yunani itu memang dilakukan sambil makan-makan dan minum-minum, jadi agak lain juga dengan simposion yang kita kenal sekarang di mana kita hanya dapat minum satu gelas orange crush d'n kadang-kadang juga tidak mendapat apa-apa sama sekalii. Dan kalau kita hendak menyac-menyac persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan lain lagi dengan artinya semula, simposion dulu ’ak ada penonton dan supporters, hanya pidato-pidato yang tidak pula diikuti oleh diskusi atau debat.
Sebab itu akan mengatakan bahwa simposion yang diadakan oleh Fakultet Sastera bukan simposion, hanya karena salah seorang dari tiga pembicara tidak berdiskusi, saya kira tidak benar. Apalagi orang yang toh mau mendengarkan debat telah datat mengikuti perkelahian Sitor Situmorang yang seru dan Pramoeja Ananta Toer menghadapi lawan-lawannya para pendebat.
Memang simposion yang lazim sekarang di Eropa selalu dilikut oleh diskusi-diskusi, tapi apakah kita hendak mengambil pengertian simposion dalam artiya yang lama atau dalam artiya yang berlaku di Eropa seka-rang, simpsonon cara lain, yatuh simpsonon di mana tidak semua pembiyara- ra disusul pembiyaraanannya dengan diskusi; hal itu akan kehilangan dalam tradisi yang akan datang, dan ter- ranglah bahwa tradisi bisa berubah-ubah.
Rosihan Anwar dalam tajuken- caan/Pedoman 7 Desember 1954 me- ngatakan bahwa saya, “memudahkan pengarang-pengarang baru yang banyak mem- beri harapan” dan dengan demikian—begitu Rosihan—“menarik batas pemisah antara pengarang-pengarang baru itu dengan angkatan pengarang sebe- lumnya”.
Perlu saya terangkan bahwa pem- bagian 45—50 dan 50—54 bukan dari saya tapi dari Nugroho dalam maja- lah Kompas². Saya meneropong tahun-tahun 50—51—52 karena tahun-tahun itu- lang yang menurut dugaan saya di- maksud oleh Simposion di Amster- dam ditandai oleh krisis, tahun-tahun yang menurut saya toh ada melahirkan hasil-hasil, juga tahun-tahun sesudahnya, balk- yang berupa buku Maupun yang ter- muat dalam malahan-malahan. Saya malah tidak membandingkan tahun-tahun sesu- dah 50 dan sebelum 50, suatu hal yang disesalkan oleh Beb Vuyk. Ka- rena itu saya agak heran dengan ke- heranan Rosihan apabila dia menga- takan “alangkah cetapnya peralihan dari satu angkatan ke angkatan ber- ikut”, se-olah-olah saya yang membikin angkatan. Baik angkatan maya pun pengarang perseorangan menyatkan dirinya sendiri dan kalau terjadi yang demikian, saya akan mencatat- nya.
Rosihan menundukkan adanya ke- tegangan-tegangan dalam masyarakat karena “kita baru sampai pada kultiya sa- ja dari Barat, belum sampai pada intinya dan menjadikannya darah daging milik kita sendiri”. Ketegangan-Ketegangan itu yang menurut Rosihan yang di- sebut juga krisis, “krisis yang ter- datap di segala lapangan, termasuk juga krisis di lapangan kesusastera- an”. Penyaman ketegangan dengan krisis buat saya tidak begitu meya- klakan. Ada ketegangan-ketegangan tapi keteg- gangan-gangan itu timbul karena pergolal- an sewajaryana dalam suatu masya- rakat yang sedang mencari perim- bangan-bangan baru dan nilai-nilai baru dalam cara hidup baru. Saya menganggap kita masih terus dalam revolusi. Apa- ka ketegangan-ketegangan revolusi disebut kri- sis? Apakah revolusi kita tempohari melawan Belanda kita selubu krisis? Sebagai orang yang mengalaminya dari dalam tak sesaat pun kita ter- ingat kita berada dalam krisis, entah orang yang menonton dari luar.
Apakah di masa revolusi tempohari ada krisis kesusasteraan? Di masa Jepang? Mengapa sekarang harus ada krisis kesusasteraan oleh karena menurut Rosihan Anwar ada keteg- gangan-gangan dalam masyarakat yang di- masa: revolusi dan di masa Jepang- toh juga ada? Saya berpendapat bahwa tak Ya krisis kesusasteraan. Ketegangan-Ketegangan (menurut Rosihan = krisis) yang ada malah bisa tambah menyuburkan kesusasteraan, karena kesusasteraan adalah bentuk dari pa- da pengalaman dalam ketegangan-ketegangan menghadapi persoalan-persoalan. Dan dengan ini saya tegaskan pulia sulali satu dalli saya bahwa kesusasteraan mem- punyai kehidupannya sendiri, mempu- nyai kedudukan yang otonom, seperti juga filsafat dan limpuengetahuan. Seperti saya katakan dalam pidato saya, dalami menghadapi kehidupan Ini pengarang tidak secura mutlit- tergantung pada ada tak adane kri- sis di kalangan pemimpin, krisis di- masyarakat, krisis di Eropa, krisis di Ameika atau di mana saja, se- perti embel-embelan yang tak punya ke- kuatan sendiri.
Mengenai kwantitet pada umum- nya orang sama sepandapat bahwa ada kegiatan tahun-tahun 5Y dan sesu- dahnya, kecuali Beb Vuyk dalam Indonesia Raya³ yang hendak mena- dakkannya dengan mengatakan bahwa karangan-karangan Pram Yg. saya kemukakan terbit dalam tahun-tahun itu sebagian be- sar sebenarnya ditulis tahun-tahun sebe- lumnya, begitu juga karangan-karangan pe- ngarang lain yang terbit di masa itu menurut Beb Vuyk ditulis sebelum 1950. Dengan demikian ia se-olah-olah hendak mengatakan bahwa tahun-tahun 50—51—52 memang tahun-tahun yang ko- song sama sekali. Dalam hal ini Beb Vuyk teliti sekuli. Dia mengadakan perbedaan antara tahun terbit suatu buku dan kapan selesainya ditulis oleh pengarang, dan kalau dia hen- hak lebih teliti lagi dia bisa meng- adakan perbedaan pulia mengenal kapan bermainnya eyerita, apakah bermain di masa revolusi, di waktu Jepang atau dijamkan kolonial dan uisalnya hany menghitung apa yang bermain di masa revolusi. Mengikut ytiara berpikir Beb Vuyk yang spe- kulatif bakalih dia menunggu dengan sabar beberapa tahun lagi diterbit- kannya kumpulan prosa dan puisi yang sungguh-sungguh ditulis dalam tahun-tahun 50—51—52 yang sampai sekarang belum mendapat penerbit dan secara iseng-iseng bolehlah ia mem-balkik-balkik ma- jalah-jalah yang agak bernilai yang terbit di masa itu, barangkali dengan seleksi yang tidak terlalu keras ia berkenan menerima kumpulan beberapa pe- nyair seperti Toto Sudarto Bakhtiar, Harlyadi S. Hartowardoyo Muh. Ali, Hr. Bandaharo, dan beberapa penga- rang teryati pendek. Yang masih saya sayangkan juga belum terbit kum- pulannya masing-masing sekarang ini ialah Asrul Sani, Nuraini dan Rivai Apin, orang-orang yang dalam janlan pikiran Beb Vuyk akan memperkuat-barsian pengarang sebelum 1950. Barangkali direksi Pembangunan dan Pustaka Rakyat bisa membantu?
Berkata Beb Vuyk:
Dengan memaki hasil-hasil Pramoed- ya Ananta Toer, Jassin mencoba membuktikan, bahwa tidak ada krisis kesusasteraan. Dia menghitung hasil-hasil Pram dari tahun ke tahun. Dalam tahun 1949 diterbitkan tidak kurang dari 7 hasil-hasil karangannya, satu pro- duksi yang hebat dan dapat dime- ngerti sebagai reaksi seorang semi- man terhadap revolusi dan perang.
Interupsi dari saya: Bukan tahun 1949 tapi tahun 1950 (ini jelas tersebut dalam stensil). Jumlah 7 diperoleh pembinaas karena ada yang tercecer dalam stensil pidato yang disebarkan panitia Sim- posion. Yang sebenarnya studara bisa lihat dalam Mimbar Indonesia Th.
VIII no. 50, 11 Des. 54, hal. 22, yaitu: tahun 50 terbit 5 buku Pram dan th. 51, 3 buku.
Selanyutnya berkata Beb Vuyk: Beberapa bulan sebelum penyerahan kedudukan, Pram dibebaskan dan ketika itu sesuai padayan manusript beberapa novel dan dalam bulan ke-2 mudian dia menulis sekalain dalam satu “demam pencatan”.—Maaf. Penyerahan kedudukan tgl. 27 Desember 1949, Pram disimpan di Bukitdui sampai 31 Desember.
—Juga Cerita dari Blora yang terbit dalam tahun 1952 ditulis dalam masa ini.—Buku ini seharusnya dihitung bukan sebagai hasil kesuaseraan tahun 1952, akan tetapi sebagai hasil tahun 1950.—Demikian Beb Vuyk. Jadi Cerita dari Blora masih masuk hasil jangka-waktu 50—51—52 yang saya hendak buktikan bahwa tak ada kelesuan dalamnya.
Selanyutnya pula Beb Vuyk:—dari 12 hasil-hasil kerya Pram yang disebut Jassin dalam pidotanya, delapan ditulis dalam tahun 1949 dan 1950 dan hingga tiga buah dalam tahun yang berikutnya, sedang satu kumpulan lagi belum dikeluarkan oleh Balai Pustaka.
Saya tegaskan bahwa tahun 1949 tak ada karangan Pram yang terbit sebagai buku. Untuk memenuhi keinginan Beb Vuyk menempatkan hasil-hasil karangan Pram sesuai dengan tanggal selesainya ditulis, saya akan bantu Beb Vuyk dengan balan-balan dokumentasi. Saya catatkan kapan selesai ditulis dan kapan terbit sebagai buku.
Yang solesai tahun 1949 ialah: Keluarga Gerilya, selesai di Penjara Bukit Duri bulan Oktober ‘49. Terbit di Pembangunan 1950. Subuh, kumpulan tiga cerita pendek, yang terbaik “Blora” ditulis di Bukit Duri Mei 1949, terbit di Pembangunan 1950. Perburuan, selesai di Penjara Bukit Duri 23 Mei 1949, terbit di Balai Pustaka 1950. Percukan Revolusi, kumpulan 10 cerita, satu ditulis di Cikampel th. 46, yang lain ditulis selama 47—48—49 dalam tawanan di Bukit Duri antarana satu di Pulau Edam September 47. Terbit di Gapura. Empat inilah yang saya relakan dimasukkan Beb Vuyk dalam periode jaman federal yang subu dan tak ada krisis (?) menurut dia, Udin dan Takdir Alisyahbana. Dan boleh ambil dua lagi, yaitu Di tepi Kali Bekasi dan Kranji Bekasi jatuh. Kedua-dua sebenarnya merupakan bagian dari satu roman besar yang hilang disita Belanda tahun 1947, menurut Pram ditulisnya juga di tahun itu. Kranji Bekasi jatuh terbit sebagai buku tahun 1947 dan Di tepi Kali Bekasi diterbitkan oleh Gapura tahun 1951. Yang selebihnya ditulis tahun 50 dan sesudah itu. Buat yang punya perhatian dokumentasi saya catatkan juga apa yang selesai ditulis oleh Pram tahun 1950:
Dia yang menyerah, ditulis sesudah keluar dari tahanan, mula-mula dimuat dalam satu nomor Pujangga Baru Th. XI no. 11—12, Mei—Juni 1950. Kemudian dimuat dalam Cerita dari Blora, BP 1952.
Bukan Pasar Malam, selesai ditulis bulan Juli 1950, diterbitkan oleh BP 1952.
Mereka yang dilumpuhkan, dua jlid, selesai ditulis bulan Maret 50, diterbitkan BP 1951.
Cerita dari Blora, dari 11 yerita yang dimuat dalam kumpulan ini hayat satu ditulis tahun 49, selainnya ditulis 1950 dan (satu) 1951.
Hasil-Hasil Pram yang ditulis sesudah itu cuukup terang dan tidak menjadi perubatan, saya tak merasa perlu menyebukan satu persatu tanggal selesainya dan tahun diterbitkannya.
Terbit percanyan: apakah bisa di-terima cava pencatan Beb Vuyk? Bahwa kita mengetahui kapan sele-sainya suatu karangan ditulis, kapan terbitnya dan kapan pula cerita bermain, adalah keterangan-keterangan yang perlu diketahui oleh ahli sejarah kesuaseraan. Tapi mengembalikan segala kepada kapan selesainya ditulis tidak cava pencatan satun-satunya. Bagi saya lebih praktis mencatat suatu hasil penerbitan dari tahun terbitnya dan di samping itu juga mencatat kapan selesainya, asal kedua kedadian itu jangan terlalu beryauhan seperti hainya contoh yang dikemukakan oleh Beb Vuyk mengenai hasil-hasil Ambrose Bierce dan Yane Austin. Apa lagi mencatat kapan selesainya suatu karangan tak selalu bisa dilakukan karena biasanya pengarang tak me-nyebutkannya, juga dalam karangan aslinya. Dan ke mana mau dimasukkan karangan yang selesai ditulis pada yam 00.00 peralihan tahun lama ke tahun baru?
¹ RRI progr. III tgl. 9 Des. 1954, j. 20.45—21.00.
² Kompas Th. IV no. 7, Juli 1954.
³ Indonesia Raya 22 Desember 1954.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.