CATATAN ANTARA POLEMIK
SITOR SITUMORANG
KOLOFON
CATATAN ANTARA POLEMIK
oleh
SITOR SITUMORANG
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 5 • Th. VIII • 30 Januari 1954
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Saint Jerome Writing (1522), karya Hans Springinklee
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
CATATAN ANTARA POLEMIK
MENCERITAKAN pengalaman sebagai pembaca, sekaligus akan menyelaskan tugas kesusasteraan. Kebutuhan akan hiburan tidak termasuk di dalamnya, juga hilburan dalam arti troost tidak.
Penyaksian akan derita sebagai cihi hidup dan pemberian nilai padaanya, dalam kesedaran akan lya-ut manusia, itulah tugas kepu-janggaan dalam hidup pengarang sendiri, dan tugasan dalam hubu-ngan bermasyarakat, jadi kepada pembaca, suatu tugas kehidupan.
Berurut: pengalaman, pengakuan dan penyaksian. Pengikucanya: Da-yakhayai. Kesanggupan menghubungkan peristiwa* hingga menjadi di keseluruhan pengalaman, hingga pembaca (seperti pengarang sendiri) dapat menempatkan diri dalam pengalamananya dan mempaktai pengalaman dalam hi-dupeya dan demikian memberi nilai padaanya. Mencapai taraf kemataan dalam pertumbuhan.
Ketidakmataan adalah soal ketiaktahtangan menempatkan dan tak mengenal nilai. Dangkal.
Kesusasteraan yang mengandung pengalaman, pengakuan dan penyak-sian dalam bandingan yang sewa-jarinya, itulah kesusasteraan yang besar. Mungkin terdapat dalam satu sajak, tapi mungkin baru keli-hatan dalam keseluruhan kerja se-umur hidup seorang pengarang.
Berkata tentang nilai, harus dini-ngat kenisbian yang terjadi dari pengalaman manusia, sebagaimana telah sepenjang kesusasteraan, yang dalam kenisbiannya merasakan pada kita bahwa ada batas yang tak dapat dilampaui dalam acgala nu-cem perasaan manusia, dalam hal setia dan khianat, cinta dan pendurhakaan dsb.
Mengenai batas ini, batas kesang-gupan setia dan khianat, itulah pe nggalan batas manusia, yang tak dapat dirasakan apalagi dirumuskan langsung oleh sebarang orang. Dan hal tidak mengerti, ialah kemiskinan jiva, kehilangan martabat, kesanggupan mengenal diri sampai batas tertentu, yang membedakan-nya dari hewan.
Dengan tidak perlu menyebutnya kemajuan, sungguh ada perluasan mengenai pengalaman manusia, yg mungkin juga penyemputan terha-dep soal* inti.
Kesusasteraan memberi kesang-gupan menjadi perluasan yang te-lah tercapai pada suatu ketika dan membuka pandangan kesoal* inti.
Tanggapan kesusasteraan demiki-an memang berdasar pandangan re-latip terhadap kemajuan da lam kebudayaan. Mungkin juga da-pat disebut pessimistis. Suatu pen-a-maan yang harus diterima hal ma-na tidak berarti menutup jalan pa-da usaha pemikiran positivitis dan kepertayakan akan rahmat.
Tanggapan kesusasteraan demiki-an tiada lain dari penegasan daripada kesanggupan manusia meng-hadapi hidup dalam segala keada-an, dan justeru itulah yang menen-tukan martabatnya. Penjernahan diri dari sogaia yang memberati, mengalami kutarsis dengan menger-ti, melampau pengalaman pada su-atu ketika hingga sanggup hidup terus, lahirlah nilai baru atau pe-nilaian yang baru pada peristiwa dalam perhubungan antara manusia. Perhubungan: sesunguhnya kesus-asteraan itu tak akan ditulis dihar sesuatu hubungan kemanusiaan. Se-dang membisua pun bisa juga suatu ada dalam keadaan tertentu, tapi dan hanka konsekwensi dari “telah berkata”, jadi hanka lanjutan daripada penyaksian yang berkata-kata.
Matang atau tidak matang dalam hal kebudayaan itulah soal ada tidak-nya pemberian nilai seperti yang menjadi tugas kesusasteraan, se-bagai perintahana hidup kebatinan, kecerubusan, moral dsb dari manusia. Walaupun harus dibedakan ca-ra kesusasteraan, dari p en entu-a n nilai secara kefilisafatan. De-ngan penilaian ini bukan dimaksud bahwa kesusasteraan itu asing sa-ma sekali dari ca-ra kefilisafatan. Filisafat menyari perumusan sedang kesusasteraan setiap kali melebur perumusan dengan menempatkan-nya ditilik pertenturan tenaga-tenaga dan pengalaman hidup.
Dalam tanggapan kesusasteraan dan kebudayaan demiliahlan tim-bu pengertian martabat manusia. Sebutlah heidens dan individualis. Dan dalam hubungan inilah akan jelas arti keberyanyan dan ke-agungan. Keagungan yang lebih da-lulu diketahui kesiasaannya dan ti-dak melupakan tanggung jawab akan perbuatan itu.
Tokoh kesusasteraan yang demiki-kan akan berkata: “Manusia itu bisa berobah demikian rupa karena pengalaman, hingga ia tak dapat di-minta pertanggungan jawaban atas perbuatannya sebelumnya. Tapi di mana aku kini terserah di tangan tuan jalankantah hukum tuan, se-bab saya telah melanggar batasku sendiri dan demikian melanggar ba-tas tuan sendiri”1.
Tapi banyir di antara buku yang kita baca, yang terlalu lekas sam-pai di tangan kita, tidak sesuai de-ngan pengalaman kita. Dan dima-na tepi langit telah kita rasa ber-geser telah masonya membayia kesusasteraan yang sesuai. Tak di-pat ditentukan kapan, pada usia mana dan dengan pengalaman yang bagaimana. Tapi setiap orang pen-kus dalam segala lapangan seni, bila ia berlagak memukul; kelahiran seni seakan-seakan ini peristiwa menanam kol; bila ia tidak tinggal dalam patokan: berusaha memperkenalkan seni kepada sebanyak mungkin orang, desnoods dengan membicarakannnya dengan te- gak sok tahu segala, tapi jangan lebih daripada itu. Menimbulkan ter- tawaan sikap Yassin yang kegurun- gunaan dalam pidatonya itu dan ge- baarnya hendak mengangkat orang dari kubang. Dalam betoognya ia sampai lebih sepuluh kali barangkali menyebut nama epigon (Iwan Simu- tupang namanya) yang menerbitkan satu dua sajak. Ini soal rasa-per- bandingan. Entah berapa kali ia me- nyebut-nyebut Canus dalam suratnya kepada Asrul seolah-seolah absurditit itu ba:“i lahir dengan Canus, dan seolah-seolah ia mengerti dan Rivai tidak dst. dst. Untunglah ia tetap jujur naief membiarkan penanya menggoreskaa minderwaardigheidscomplex dalam huruf-huruf Uw. dw. Dia perlu menjadi- kan orang yang pergi ke- atau datang dari ”luar negeri“ kapstok complex- nya. Dia belum sampai pada kenyata- an bahwa keluar dari atau masuk ke- kanan tidur kita sendiri bisa meru- pakan pelarian. Demikianlah banyak istilah-istilah yang kandunganya tak sama lagi bagi Yassin dan saya. Apakah ki- ta hanya melancong melulu sebagai toeris atau hanya alat propaganda itu soal orang seorang, sebagaimana juga ketololan yang dipertontonkan oleh beberapa kawan-kawan dieneeri orang. Tapi ke Eropa Barat, ke Amerika atau ke belakang tirai besi, saya rela meninjau, tapi supaya tuan rumah jangan salah sangka saya tetap akan memajuikan ”pilihan“ saya, dan bukan hanya secara opportunis. Merah kalau perlu ke Peking, liberal kalau hendak ke Washington. Pili- han saya iatih Eropa-Barat dari dulu hingga sekarang. Andai kata karena itu saya takkan ada kemungkinan masuk ke belakang tirai besi (bila ada kesempatan) itu saya terima, sekali- pun saya tetap akan ingin meninjau seluruh pelosok dunia, andai kata cuduk uang dan tempo pada saya, dan andai kata ditizinkan. Pilihan sa- ya itulah satu-satunya yang membenarkan bagi diriku pergi ke Eropa, dan siapa pulalah orang lain yang akan meri-butkan hal itu? Pilihan ini pulalah yang merasa terdorong meninjau si- kap Asrul terhadap “milieu” Ero/4 sebagai yang tersimpul dalam kal- mat-mat: Saudara pernah merasakan di- ri seorang raja di antara kaum re- publikein? dan: Ia ada punya sat: perbandingan yaitu perbandingan air bah yang tidak pernah memperhati- kan orang seorang etc. dan dibagai lain suratnya (pada permulaan), “ki- ta yang lebih yakin kepada yang irreeel. ”Ucapan-Ucapan seperti “Orang di sini kuat menulis, tapi semata ku- rena orang adalah penulis. Lain ti- dak! Di Jerman saya rasanya lebii betah. etc. etc.” Catatannya tentang keedanan Rustandi Kartakusumah mau jadi komponis bolehlah diang- gap sebagai lehcon. Tapi berlagak sebagai pengukur kecerdikan orang (Ucapanya tentang Akhdiat yang katanya tak tambah “cerdik” sesu- dah perjalanannya ke Amerika-Amerika me- nunjukkan ketidakcerdikan. Tapi tentang soal-soal ini dalam surat berikut. Saya sudah cape dan musih pening karena aspirine. Besok saya sarn- bung.
Sitor Situmorang
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.