Baca EPUB: Kewajiban yang Tak Boleh Ditunda

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KEWAJIBAN YANG TAK BOLEH DITUNDA
  2. BOEJOENG SALEH
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KEWAJIBAN YANG TAK BOLEH DITUNDA
  6. CC BY-SA 4.0

KEWAJIBAN YANG TAK BOLEH DITUNDA

BOEJOENG SALEH


KOLOFON

KEWAJIBAN YANG TAK BOLEH DITUNDA

oleh

BOEJOENG SALEH



Dimuat di majalah Siasat

No. 377 • Th. VIII • 29 Agustus 1954

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Appeal (1946), karya Hans Orlowski

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KEWAJIBAN YANG TAK BOLEH DITUNDA

Berhubung dengan tulisan sdr. Sujatmoko “Mengapa Konfrontasi” (maj. “Konfrontasi” No. 1 th I Juli - Agustus ‘54).

KESIMPULAN pokok yang ditarik sdr. Sujatmoko adalah kita kini berada di dalam Krisis! Dan: Krisis itu hanya dapat diatasi dengan mengadakan penyesuaian diri secara kreatif dengan dunia modern.

Tidak diterapkannya apakah dunia modern itu. Tapi di dalam keladiyan pengertian sekarang dunia modern itu adalah dunia yang tordapat di Europa Barat dan Amerika Serikat - dunia komodalan.

Untuk selebihnya ia di dalam seluruh essai-nya yang lancar itu mengedepankan intelligenstia; rupanya saja karena ia beranggapan: hantu kutub golongan yang kulturskhopfleiskh. Rakyat tak usah dilatihkan: kita berikan pisang berkuatkan kepadanya. Maksudnya baik: dengan nilai baik dan baji hendak berbuat jasu bag‘ rakyat.

Tapi tidakkah,—jika itu dijalankan—rakyat diperlakukan sebagai bayi yang disayyang, dibual, dibelai dan disusut? Padahal rakyat telah dewasa, sanggup berkurban dan menderita untuk menyapai tiycana: mengakhiri derita berabad dan lidup selanjutnya sesuai dengan mutabat manusia, dipenuhi kebutuhannnya: material dan spiritual. Jistru karena rakyat dewasa, sumber kekuatan tak Kundung habis dan mahapencuhita, maka kaum terpelayar lang memikirkan nasib rakyat hendaklah berpikir dori, dengan—dan takut rakyat; bukan banya untuk—, tapi tanpa rakyat. Tiunta platonik seyamanya steril; jadi, tidak berguna. Kaum terpelayar lang bermaksud baik doang demikian terasing dari rakyat. Pengasihan tersebut membulan salah-paham dan lambat-lambat permusuhan. Tiunta yang berdiri dengan permusuhan bukanlah sesuatu lang baik.

Sekarang pendirian saya: adakah krisis? Adi! Krisis itu timbul sebagai akibat kita membarkari bibit virulensi dalam tubuh negera dan masarakat kita, bibit virulensi bien pengambilan sistem sosial yang tak tinyuk dengan kebutuhan coklit Indonesia gun, sistem sosial yang sedang krisis.

Sistem yang pada jamannya revolusioner menggulingkan feodalisme dan perbudakan, mengakhiri inkwisiusi dan diskriminasi sosial, memberikan demokrasi dan negera nasional, hak-hak kemerdekaan civil dan industri,—sistem itu telah membendung kemayuan, telah memusnahkan kekuatan-kekuatan produktif sosial karena kekuatan-kekuatan tersebut tak sepada lagi dengan nisbah-nisbah produksi sosial yang ada.

Suruhan kesejarahan sistem tersebut telah berakhir sejak ia tak dapat lagi menyelaskan pertentangan-pertentangan di dalam dirinya. Karena yang untuk keluar dari krisis kita mosti melepasukan diri dari sistem tersebut dan dengan demikian mengeluarkan lil-bibit-bibit ‘irulensi dari badan kita.

Ketika Amerika dahulu (1774-1783) mempaskari diri dari penjadilan Inggris masih mununkin melakukan revolusi nasional demokrati yang bernahr dengan perkembangan kapitalisme secara damai, sehingga setelah perangdunia kedua Amerika Serikat mendiya di negeri kapitalist nomor wahid.

Tapi revolusi nasional demokrati Indonesia berlaku di dalam tingkat sejarah dunia yang lain dan kerenanya dikonfrontasikan dengan masalah-masalah yang berlainan sama sekali. Revolusi Indonesia mesti diteruskan setelah teryapainya kemerdekaan nasional yang terbatas dan membumbukan keadaan-keadaan yang ditanggalkan oleh penjadilan berupa keterbelakangan industri dan teknik, ketergantungan kepada export bahan-bahan mentah dan import barang-barang-fabrikat, singkatan: keterbelakangan ekonomi, politik, militer, sosial dan kultural. Pembangunan Indonesia Barn mesti berspat sadar dan programmatik, didukung oleh kekuatan seluruh rakyat.

Tapi sejak semula revolusi kita telah keluar dari rel dengan adanya Manifesto Politik 1 November 1945 yang menzandung asas-kompromi beruna diuhterbahanku hakikat penyadijah beruna kekuatan finanskapitalistik untuk mengesploritasikan Indonesia. Dari Manifesto tersebut Fe Linggardi, Rumville dan Den Haag yanghah bhebera langkah saja lagi. Dari sana melalui lorong-lorong menyesatkan sampai kenaraka diyuga banya beberapa pa langkah.

Kita mendapat cadeate Panca Silla dan pasal 33 U. D. R. I. (Asli) yang poly-interpretable sebagai penguntung programma konyukt yang mesi ditempuh oleh revolusi kita. Dan jika poly-interpretabiliti seyumun Mona Lisa ada leh sebab kecaman dan keabadian, mesi ditempuh poly-interpretabiliti pasal 33 U. D. R. I. (kini: pasal 33 U. D. R. L. T. Yang Baru) dan Panca Silla menyelakakan. Bergantung kepada golongan sosial mana yang memegang kendali kenegaraan keduaan akan diputus belikan dan diguna(salehkan). Belum lagi kita bicara tentang kelemahan kontraktoris dalam dirinya-sendiri beripada Panca Silla sebagai edisi Indonesia daripada Sa Min Khui I Sun Yat Sen itu.

Bagi sala krisis ini pada pokoknya ditimbulkan oleh yarak (barangkali yuring lebih tepat!) antara rebutuhan obiectif rakyat Indonesia dan kenialan sosial yang (sejarn) kita. Jarak tersebut ditimbulkan diatu pihak oleh ketidakkperya'an kepada yengah dan dayatiyaya rakyat serta di pihak lain oleh si kap parasiter daripara skhagan bekur peyuang dan pembonceng revolusi Bourgeoisie baru yang keluar mujur dari arena revolusi berusaha dengan tempo yang teguh yang tok memperkais jasu-jasu. Dalam pada itu kedudukan finanskapital bukan bertambah buruk, melainkan semakin bertambah baik. Berita-berita bursa dan catat-catat yang dividend yang meningkat obyektif membuktikan itu. Dalam pada itu didalami persaingan antara kaum-tengah baru (Indonesia “asli”) dan kaum-tengah lama (kebaitukan keturunan Tianghoas) membuktin yang terakhit seba... gai buffersstang menjadi penangkalpetir. Kepada gerakan koperasi terlampau digantungkan manfaat besar yang illusoir.

Ketidakamanan dalam negeri dan urbanisasi yang antara lain timbul karenanya memperparah krisis itu. Harapan-harapan pemuda-pemuda, bekas pejuang-pejuang dan kaum terpelajar dapat jawaban mengecewakan menimbulkan suasana frustrasi dan tertekan. Pessimisme dan C3risme timbul di kalangan ini, dari mana banyak kaum sasterawan berasal. Di dalam memikir-mikirkan krisis itu sebagian daripada yang tanpa lisensi mengimport Camus'ansione ke Indonesia

Saya kira terapi segalanya itu bukanya “penyesuaian yang kreatif dengan dunia modern” seperti dikemukakan sdr. Sujatmoko yang merupakan “wissenskhaftlikhe” Obskurantismus, melainkan melanjutkan revolusi untuk memberikan kemerdekaan penuh kepada Indonesia di lapangan-lapangan politik, ekonomi, militer, sosial dan kulturel. Membayar semua golongan pendukung revolusi yang merasa terkecoh, merasa di-frustrasi, sekarang dengan pembagian kemakmuran merata kepada sekalian mereka, bukan sebagai bonbon pembujuk budak merajuduk, melainkan sebagai hak sah.

SEKARANG mengenai soal lain yang dikemukakan sdr. Soejatmoko, ialah mengenai (krisis kesusasteraan).

Perlama-tama hendak saya sampaikan kabar gembira kepada yang ialah, bahwa berupa inedita banyak terdapat roman-roman yang dikarang oleh sasterawan-sasterawan kita. Ti-tak benar jika dikatakanyaa tak ada ditulis roman. Lebih tidak benar lagi jika ia menguatirkan kalau-kalau roman tak ciocok sebagai bentuk-kesusasteraan bagi kita. Demikian pula tidak benar jika kaum sasterawan kita tidak liukup merasakan dramatik besar yang dikandung oleh revolusi kita. Di dalam beberapa roman karangan beberapa orang teman,—baik yang telah, Maupun yang belum selesai dikerjakan—ada diusahakan melukiskan berbagai segi daripada revolusi. Di dalam “Keluarga Gerilya” Pramoejo Ananta Toer, di dalam (novel) “Jalan tak ada ujung” Mocthar Lubis, di dalam “Antara cinta dan cita-cita” kapten T. N. I. Moham-mad Sapiya (Ambon, 1954) ada dicoba menggambarkan dramatik yang menurut sdr. Soejatmoko tak dirasakan oleh pengarang-pengarang kita. Berhasil tidaknya usaha mereka, akan saya dibicarakan pada kesempatan lain.

Saya kira lepas daripada meminta perma-an yang murah hendaklah secara teliti kita cari di jurusan lain sebab-sebab sedikitnya terlahir roman. Penyorotan dari sudut ke-masyarakat dan keekonomian saya kira akan banyak menolong. Yang terang adalah perbedaan syarat-syarat kerya romanciers kita pada masa sebelum perang dan sekarang. Ke-banyakan roman dan novel pada masa sebelum perang dihasilkan oleh mereka yang be-kerja sebagai guru, wartawan atau redaktur Balai Pustaka yang ada berpenghasilan tetap, sehingga dapat menganggap mengarang roman sebagai usaha kesenian dan sumber napkah tambahan.

Kini banyak penulis-penulis,—kerapkali dengan amat merugikan bakatnya!—terpaksa banyak bergantung kepada imbalan yang akan mereka terima dari karangannya. Dan kendaan adalah sedemikian, sehingga roman-roman yang telah ada tidak atau amat sukar diterbitkan, sehingga samasekali tidak merangsang timbulnya roman-roman baru. Penerbitan fragmenta-fragmenta yang di surat-suratkabar dan/atau majalah amat sendat. Keadaan demikian mendorong mereka untuk mengarang cerita-cerita-pendek yang cenat dapat dimuat cislah satu majalah atau suratkabar. Itu pun mulunya tidak selalu dapat diper-tahanka dan di sana-sini kentara maakwerk yang dikerjakkan dgn gegabah dan amat tergesa-gesa. Pekerjaan lain sebagai penterdiymah, guru, penulis features, wartawan dan sebagainya, yang lebih menjawab keperluan keperluan keekonomian yang mendesak, lebih memecet (mempesona) mereka.

Di samping faktor-faktor keekonomian dan kemasarakatan tidak menyuburkan lahirnya roman-roman yang penting, kesempitan perumahan dan kebisingan yang terus menutuskan pemusatan pikiran besar pula pengaruhnya yg fatal. Betapa pun juga roman menghendaki-penguasaan bentuk dan pengolahan tematis yang berat lebih yang menghendaki kontinuitite pengerjaannya. Pengalaman banyak membuktikan, bahwa emosi yang terpenggal karena ditunda pengungkapananya ke atas kertas, setelah terbengkalai akan ke-luron (abortif) samasekali. Betapa banyakna naskah roman yang tak siap yang tergeletak dilemari! Betapa muluk pun teori yang menganjurkan orang harus bekerja satu atau dua jam setiap hari dengan keteraturan sebuah automat, di dalam praktik hanyalah akan dihasilkan yournalistiek maakwerk tanpa mutan emosional yang menghidupi sebuah roman sejati.

Dengan gampang orang doyan menuaduk kepada De Balzac, Dostoyevsky dan Dickens yang juga bekerja di bawah syarat sosial yang tidak amat baik, tapi namun mereka dapat menyiptakan roman-roman abadi.

Orang lupa kepada kenyataan, bahwa keseimbangan kompositoris di dalam roman-roman Tolstoy dan Flaubert dapat mereka taypai berkat syarat-syarat-kerja yang lebih baik, jika dibandingkan dengan De Balzac dan Dostoyevsky yang bekerja tergesa-gesa selyara sistem ijon, sehingga banyak terdapat kelemahan kompositoris di dalam roman-romannya. Tapi di atas segala itu, betapa pun juga, bagi De Balzac dan Dostoyevsky d'Europa (masa itu Sekalipun) ada kemungkinan hidup dari roman-romannya semata-mata. (Iri di-kemukakan dengan tak melupakan kaliber gigantik mereka!) Tapi adakah kemungkinan untuk hidup layak (masa menjadi bohemien telah lampau!) dari roman-romannya melulu bagi seorang pengarang Indonesia yang baik dan produktif di bawah syarat-syarat sosial yg sekarang? Sedangkan di Nederland yang banyak lebih maju daripada Indonesia kemungkinan demikian paling banter hanya ada untuk empat atau lima orang romanciers terbesar dewasa-ini.

Tidak, dengan ini saya tidak hendak mengangkat diri-saya menjadi pokcer-bambu daripada sasterawan-sasterawan Indonesia dan mengeluhkan suatu yeremiade. Saya tak herbak berbuat demikian itu saya insafi. Ti-dak pula dengan demikian saya liendak mensimplifikasikan persoalan dengan mengembalikan tiadana panen roman kepada sebab-sebab sosial dan ekonomi semata-mata. Tapi mendakwakan itu semata-mata kepada ketak-mampuan kaum sasterawan-sasterawan kita pun akan lunyas belaka. Baiklah teman-teman yang lembi mempunyai kesempatan mengadakan pe-nyelidikan yang lebih teliti tentang soal itu.

Demikian puya tidak dapat kekurangan itu kita kembaliakan kepada kelemahan (“kelema-han”) basa Indonesia kita yang terang mem-beri banyak kemungkinan. asalkan orang pandai menggali daripadanya.

APAKAH yang hendak saya simyulikan ten-tang ada atau tidiana krisis kesusaste-raan?

Bagi saya—dan banyak yang sepandapat dengan saya—tak ada kini krisis kesusaste-raan Ataupun-kebudayaan. Kita baru mulai; belum jauh jarak yang kita tempuh di dalam perjalan sejarah 100.000 mil.

Untuk lebili memajukan kesusasteraan, supaya agak lebii mendekati keinginan-ke-inginan kita (yang akan selalu bertambah besar) perlu ditlagakin krisis ekonomi-politik sosial yang terdapat kini. Dan krisis itu hanya dapat diatasi dengan jalan meniadakan jarak antara kebutuhan obyektif seluruh rakyat dan masarakat dengan kenyataan-kenyataan yang buruk kini, ialah dengan mengembali-kan revolusi nasional demokratis kita ke tujuannya yang sebenarnya: menyempurnakan kemerdekaan kita dan memberikan kemakmuran merata kepada seluruh rakyat


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.